List ability Naruto:

Sense of Living: Salah satu indra milik Naruto peka dalam menyangkut kehidupan. Dengan indra ini, dia bisa merasakan nyawa seseorang yang masih hidup (Baik di dalam keadaan sekarat maupun koma).

Natural Swordmanship.

Hand-to-Hand Combat Master.

Smart Set Up Strategy: Naruto pintar dalam mengatur strategi, kepintarannya melebihi keturunan Athena, dan dewi kebijaksanaan itu sendiri.

Element of Power: Seperti namanya, kekuatan ini fokus ke pada elemen yang ada di bumi. Kekuatan ini hanya bisa di gunakan menggunakan Risemear ( pedang kepunyaan Naruto) sebagai perantara, dengan syarat Naruto HARUS mengatakan kata kunci untuk mengaktifkannya.

Ada beberapa cabang di dalam Element of Power, di antaranya:

-Charge: Untuk mengisi kekuatan elemen.

-Discharge: Untuk mematikan kekuatan elemen.

-Switch: Untuk mengganti elemen yang lain.

-Combine: Untuk menggabungkan dua elemen dan menghasilkan elemen baru.

Speed Force: Naruto memiliki kecepatan secepat cahaya, kecepatannya melebihi keturunan Hermes dan dewa pejalan itu sendiri.

Natural Pyshical Strength: Kekuatan fisik Naruto melebihi Hercules.


Chapter 3

DemiGod of Chaos

Summary: Setelah pertarungan melawan Pain. Naruto bertemu dengan seseorang yang membawanya pergi ke dunia asing. Sesampainya dia di dunia tersebut, kekuatan, penampilan, dan ingatannya, telah diganti dengan yang baru. Membuatnya menjadi berkepribadian yang sedikit berbeda dengan yang dulu.

Disclaimer: Naruto dan Percy Jackson and the Olympians dimiliki oleh pemiliknya masing-masing( Masashi Kishimoto-sensei dengan Riordan). Saya hanya meminjam karakter dan ceritanya saja.

Warning: Halfcold!Naruto

Keep Calm and Enjoy Reading!

.

.

.


Chapter 3: The Revealed


Paviliun makan dipenuhi banyak anak-anak setengah-dewa, yang istilah resminya adalah demigod atau biasa dikenal dengan nama blasteran.

Naruto saat ini duduk di meja sebelas; Chiron memberitahunya bahwa dia harus duduk disana sampai ia ditentukan oleh orangtua dewanya.

Pada awalnya Naruto menerima keputusannya dan duduk dengan nyaman.

Tapi beberapa saat kemudian dia menyesal dan kesal bukan main.

Dan semua itu karena...

"Naruto, namamu terdengar Jepang di mulut Amerika. Apa kau lahir dan berasal dari negara itu?"

Luke Castellan. Si konselor sebelas dan putra Hermes yang paling tua. Selalu mengajak Naruto berbicara kapanpun ada kesempatan.

"Tidak."

Luke tampak tidak kehabisan akal dan memberi pertanyaan yang lain.

"Apa pendapatmu mengenai perkemahan blasteran?"

"Bagus, tempatnya nyaman."

"Bagaimana dengan orang-orangnya?"

"Baik."

Namun bodohnya, pertanyaan terakhir yang dia tanyakan merupakan pertanyaan paling sensitif.

"Lalu arti dari namamu itu fish cake benar? Maaf jika aku menyinggung perasaanmu."

"Maelstrom lebih tepatnya." Koreksi Naruto.

Entah karena angin apa, Luke tiba-tiba menyeringai jail, dan matanya berbinar-binar layaknya ia mendapatkan pohon natal paling besar abad ini.

"Fish cake jauh lebih baik."

"Maelstrom Castellan."

Oke fix. Naruto benar-benar benar, kesal dengan lelaki berambut pasir dan punya codet diwajahnya ini.

"Fish cake."

"Maelstrom."

"Fish cake."

"Maelstrom."

"Fish-"

"CUKUP!"

Teriakan membahana Chiron sukses membuat kegaduhan dan kebisingan di semua meja berhenti dan tertib.

Dia lalu mengangkat gelas. "Demi para dewa!"

Semuanya mengikuti. "Demi para dewa!"

Para peri pohon maju dan membawa piring-piring makanan; buah anggur, apel, stroberi, keju, roti hangat, daging panggang, dan lain-lain.

"Apa ada spaghetti?" Tanya Naruto. Salah satu peri hutan yang mendengar permintaannya menjentikkan jari, dan sepiring spaghetti hangat muncul.

Dia tersenyum ke peri hutan itu. "Terima kasih." Peri hutan merona, kemudian mengatakan permisi.

Naruto menyadari gelas miliknya masih kosong dan berkata. "Susu vanilla." Gelasnya terisi penuh dengan cairan putih kental.

Para pekemah berdiri dan mendekati api di tengah-tengah paviliun.

Mereka semua menjatuhkan sebagian makanan kepunyaan mereka ke dalam api; Stroberi yang paling ranum, irisan daging yang berair dan punya bau yang menggoda perut, roti yang paling hangat dan bermentega paling banyak.

"Naruto, kau tahu kan, kita harus memberikan sesajen-"

"Aku sudah diberitahu oleh Chiron," Naruto memotong perkataan Luke. "Suka atau tidak suka, ku harus mengikuti tradisi wajib di tempat ini."

"Pintar. Mr. fish cake. Lima puluh poin untuk Ravenclaw."

"Ha! Ha! Dasar maniak Harry Potter."

Setelah percakapan (ejekan) mereka selesai, Luke menghampiri api.

Dia menundukkan kepala, dan melempar anggur merah yang besar-besar. "Hermes."

Naruto selanjutnya.

Dia menjatuhkan setengah piring spaghetti ke dalam api, lalu memikirkan nama dewa yang ingin ia sebut.

'Chaos.'

"Chaos." Kata Naruto lirih, kedua matanya melebar ketika mulutnya mengucapkan nama dewa yang tidak dia kenali.

'Dan lagi, suara siapa dikepalaku tadi?' Pikir si remaja penyuka hoodie.

Ketika semua sudah kembali ke tempat duduk masing-masing, dan selesai makan. Chiron mengetukkan kaki untuk mendapatkan perhatian dari para pekemah.

"Mr.D, silahkan." Mr.D memberi tatapan hormat pada si pelatih pahlawan. Berdiri, dan menghadap ke semua pekemah.

Dia baru saja ingin mengeluarkan sepatah kata, sebelum bunyi kenikmatan keluar dari bokongnya.

*PREEEEETT. PRET. PRET. PRET. PREEEEETT!*

Dengan sigap para pekemah – ditambah tawa tertahan; takut kena marah atau kena kutuk oleh sang dewa wine – mengenakan dua butir kapas untuk melindungi lubang hidung masing-masing dari gas mematikan yang bisa membunuh demigod, monster, bahkan para dewa dengan satu kali letusan.

Benar-benar menakutkan.

Tapi disisi lain menggelikan.

Naruto berterima kasih pada Clarisse karena telah memberikan kapas cuma-cuma kepadanya. Yang dibalas dengan pukulan keras di pundak dan memalingkan wajah.

'Aku tidak habis pikir,' Pikir Naruto. "Direktur perkemahanku ini benar-benar santai mengeluarkan angin di aula yang kita gunakan sebagai tempat makan malam.'

'Ayah. Kau membuat malu dirimu sendiri.' Pikir Castor dan Pollux; Sepasang anak berambut pirang dan berbadan gemuk.

'Dan aku pikir bau gasku jauh lebih bau dari yang lain.' Pikir Chiron.

'Oh, sukacita.' Pikir Annabeth. Raut wajahnya menandakan dia ingin muntah saat itu juga.

Mr.D berdehem untuk menahan malu sambil menghela nafas panjang. "Aku harus mengucap salam kepada kalian semua anak manja, yah? Yah. Salam. Selain itu juga aku akan mengumumkan bahwa kita mendapatkan tambahan pekemah baru hari ini. Hurrah atau hurray jika kalian ingin. Nama pekemah kita yang baru adalah Narnia Hinorita."

Chiron membisikkan sesuatu di telinganya.

"Eh, Naruto Hikaryuu." Mr.D membetulkan. "Dan anak manja seperti kalian bertambah lagi di perkemahan ini, kalian itu suka sekali menambah kerjaan lebih untukku, huh?"

Chiron berdehem. Mr.D melambai-lambaikan tangan. "Baik. Baik. Geez, kau ini tidak punya selera humor, Chiron." dia mulai berkata.

"Baik para anak manja, sekarang waktunya pergi ke api unggun konyol itu. Ayo."

Semua pekemah bersorak-sorai, dan turun menuju amfiteater. Naruto mengikuti mereka dari belakang, dan memasukkan kedua tangannya ke dalam kantung celana.

"Naruto."

Suara seseorang memanggil namanya, membuatnya menoleh ke pemanggil.

Dia melihat seorang lelaki berambut pirang kusut, mata warna biru, membawa tas pinggang, dan memiliki badan atletis. Ia mengenakan kemeja hijau terbuka, daleman kaos jingga perkemahan, dan celana pendek biru cerah.

"Maaf, ada perlu apa kau denganku?" Tanya Naruto sopan.

Lelaki itu tersenyum dan berjalan di sampingnya. "Aku hanya ingin berbicara denganmu, kau tidak merasa terganggu 'kan?"

Naruto terdiam, sebelum mengangguk. "Tidak juga."

"Bagus." Lelaki itu berseri. "Karena aku sudah mengetahui namamu. Sekarang giliranku memberitahu namaku padamu."

Indra pendengaran Naruto berfungsi semestinya, mendengar setiap kalimat yang dia utarakan.

"Namaku Will Solace. Putra Apollo dan pekemah pondok tujuh."


Naruto dan Will, saat ini berbicara satu sama lain sambil berjalan bersama.

Pada awalnya hanya Will yang berbicara, sedangkan Naruto mendengar dan membalas seadanya.

Tapi lambat laun Naruto juga berbicara sedikit demi sedikit, sehingga mereka terlibat percakapan dua sisi.

"Aku tidak terlalu pandai dalam memanah," Kata Will jujur. "Itu bukan keahlianku, aku hanya pandal dalam musik dan pengobatan."

Dia melirik ke Naruto. "Bagaimana denganmu? Apa keahlianmu?"

"Aku ahli dalam ilmu seni pedang, strategi bertarung, hand-to-hand combat, dan memilikil pengetahuan mengenai mitologi yunani." Kata Naruto.

Dia sebenarnya punya lebih dari yang dia sebut, tapi ia berpikir tidak perlu untuk memberitahu semuanya.

Bukan berarti Naruto tidak mempercayai Will, pemuda yang baru saja menjadi temannya beberapa menit yang lalu itu oke di bukunya.

Hanya waktunya saja belum tepat.

Yah, belum tepat.

"Dengan kata lain; kau bisa semuanya."

"Tidak, Will. Ada beberapa hal yang tidak aku bisa tapi kau bisa melakukannya." Will tampak bingung.

"Dan apa itu?"

"Pengobatan dengan musik."

"Naruto, aku serius."

"Akupun sama." Naruto memandang balik kearah Will. "Pengobatan memang dipandang rendah bagi setiap ksatria, karena tidak ada manfaat, ketika di gunakan dalam pertarungan atau pertempuran sesungguhnya. Sama halnya dengan musik." Will mengangguk, dia tidak dapat menyangkal kebenaran tersebut. "Tapi pikirkan baik-baik. Tanpa adanya pengobatan dengan musik; Banyak nyawa tidak terselamatkan. Seorang anak kecil kehilangan keluarga dan gadis memiliki mental broken. Karena dua hal itu mereka akan menghabiskan seluruh hidupnya di dalam ketakutan yang melebihi batas."

Will terdiam. Dia tidak pernah berpikir hal seperti itu sebelumnya.

"Pedang dapat membunuh lawan, tapi tidak bisa menyembuhkan teman. Pengobatan dapat menyembuhkan teman, tapi tidak bisa melukai musuh. Musik tidak bisa keduanya, tapi bisa membuat orang gembira dan melupakan ketakutannya untuk sementara."

"...Kau tahu Naruto, aku mulai berpikir kau ini adalah pembicara halus yang alami." Kata Will dengan nada getir. Wajahnya menunjukkan senyum geli. "Kau tidak sedingin yang dikatakan pekemah lain; tampaknya peribahasa 'jangan menilai buku dari sampulnya' telah menunjukkan kebenaran yang tersembunyi."

"Sepertinya saudara-saudaramu telah menaiki amfiteater," Kata Naruto mengalihkan pembicaraan. "Kalau tidak salah pondok delapan yang memimpin acara menyanyi bersama 'bukan?"

Will berkedip. "Oh, kau benar." Dia kemudian mengeluarkan sekantung plastik dari tas pinggangnya. "Ini untukmu."

Naruto menaikkan alis, sebelum menerima kantung tersebut. "Apa ini?" Tanyanya.

Will tersenyum. "S'more." Hanya itu jawabannya.

Dia kemudian menaiki amfiteater dan mulai bernyanyi, meninggalkan Naruto yang kebingungan.

Penasaran. Naruto membuka kantung itu lalu mengeluarkan isinya.

"...Biskuit?"


Annabeth mendekati Naruto, dan duduk disampingnya.

"Naruto, aku ingin bicara."

Naruto berhenti mengunyah biskuitnya. "Ajukan." Dia memandang para pekemah, yang menyanyikan lagu tentang dewa-dewa perkemahan, dengan sukacita.

"Kenapa kau mengacuhkanku tadi? Kenapa perkataan terakhirmu padaku terdengar kau membenciku." Kata Annabeth.

Naruto hampir tersedak air liurnya sendiri.

Dia mengalihkan pandangan kearahnya.

"Jawab pertanyaanku, Naruto."

Annabeth melihat bibir remaja kulit putih sedikit naik—

Tunggu, apa?

"K-kenapa kau menertawaiku, ice face." Naruto menggigit bibirnya dalam-dalam.

"Aku tidak menertawaimu, Chase."

"Lalu kenapa bibirmu kau naikkan tadi?"

"Oh ya? Aku tidak tahu kau punya fetish seperti itu."

Muka Annabeth memerah(malu). "Jawab saja kedua pertanyaanku tadi." Katanya setengah berteriak.

"Baiklah," Naruto menghela nafas. "Pertama, aku tidak mengacuhkanmu, aku punya alasan tersendiri untuk itu. Kedua, apa yang kukatakan terakhir kali padamu murni dari pikiranku, aku minta maaf jika kau tersinggung."

Annabeth terdiam. Otak jeniusnya memproses apakah ada tanda-tanda kebohongan di setiap kata yang dikeluarkan Naruto.

Kemudian, dia mendapatkan jawabannya.

"Aku memaafkanmu." Kata Annabeth. "Tapi berjanjilah satu hal padaku; kalau kau punya masalah, datangi aku dan beritahukan semuanya. Aku tidak suka mempunyai teman yang menanggung semua masalahnya sendirian."

"Akan kupikirkan Chase."

"Dan jangan memanggilku lagi dengan nama belakangku." Sela Annabeth, dia memicingkan mata. "Panggil saja nama depanku. Mendengar sahabatku memanggilku seperti itu, membuatku tidak nyaman untuk beberapa alasan."

"Cukup adil."

Mereka berdua terdiam untuk beberapa saat, sebagai Annabeth mengistirahatkan kepalanya di bahu Naruto.

"Apa yang kau lakukan?" Tanya Naruto. Dia tidak risih, tetapi heran, karena jarang ada perempuan yang mau melakukan hal yang dilakukan si putri Athena.

"Tubuhmu hangat." Gumam Annabeth pelan. "seperti es yang didalamnya terdapat penghangat kelas atas."

"Orang lain akan salah paham melihat keadaan kita."

"Oh?" Annabeth menoleh ke wajah Naruto, seringai jahil tercetak di mukanya. "Apa tuan dingin kita ini malu jika menjadi pusat perhatian? Atau malu karena ada gadis imut mengajaknya berbicara?"

"Kau tidak seimut itu; lagipula dilihat dari umurmu aku hanya akan menganggapmu sebagai adik angkat dibanding wanita impianku."

"...Kalau begitu bolehkah aku memanggilmu kak Naru?" Ujar Annabeth, dia punya pandangan penuh harap dimatanya.

Naruto mengerang sesaat.

Tanpa mereka sadari, sejak awal Clarisse telah memandang kebersamaan antara Naruto dan Annabeth.

Dia menggeram, kedua tangannya ia kepalkan kuat-kuat, dan hatinya terasa panas.

Clarisse tidak tahu mengapa dia merasakan emosi ini. Yang dia tahu, ia tidak suka melihat Naruto dekat-dekat dengan perempuan lain selain dirinya.


-Time Skip-


Naruto menyadari acara menyanyi bersama telah selesai.

Dia berdiri, dan melangkah menuju pondok sebelas.

Sambil melangkah, Naruto memikirkan kegiatan apa saja yang telah dia lalui hari ini.

Kemudian, sesuatu terjadi.

Di atas kepala Naruto. Sebuah cahaya muncul, dan membentuk sebuah hologram... Galaksi.

Naruto mengernyitkan dahi, dia menaikkan kepala ke atas, dan kedua matanya melebar di balik kebingungan.

'Simbol dewa apa ini? Diantara para dewa minor dan Olympian tidak ada yang punya simbol seperti ini.'

Semua blasteran melihat hologram di kepala Naruto. Mereka kebingungan dan juga penasaran siapa dewa yang memiliki simbol tersebut. Pengecualian untuk blasteran dari pondok enam, yang membuka rahang selebar-lebar yang mereka bisa.

Mr.D memuncratkan air cola dietnya, sedangkan Chiron mangap-mangap seperti ikan kehilangan nafas.

"C-chiron, s-simbol itu... " Kata Annabeth terbata-bata, tidak mempercayai kalau dia adalah orangtua dewa kakak angkatnya.

Setelah menampar pipinya cukup keras, Chiron mulai angkat bicara. "Tidak salah lagi Annabeth, itu memang simbolnya."

"Ayah, tidak akan pernah suka mendengar berita ini." Gumam Mr.D

Chiron mengambil nafas panjang. "Chaos." Mulainya. "Sang Dewa Pertama. Sang Penguasa Pertama Cosmos. Sang Pembuat Bumi, Langit, Laut, dan Lubang Neraka. Salam, Naruto Hikaryuu. Putra Sang Dewa Pencipta."

Naruto merasa dunia di sekelilingnya berhenti berputar.


T-B-C


A/N: Oke, pasti kalian berpikir kenapa aku membuat Naruto benar-benar overpowered, karena ku punya alasan tersendiri, dan kalian akan mengetahui alasannya selama cerita berlangsung.

Oh iya, bagaimana dengan adegan interaksi Naruto dengan orang-orang sekitarnya? Apa itu bagus atau terkesan dipaksakan?

Well, jika ada yang berpikir kenapa Clarisse tidak peka dengan cinta, itu karena masa lalunya hanya dipenuhi latihan, latihan, dan latihan( menjadi keturunan dewa perang, kalian pasti tahu maksudku) jadi dia tidak memikirkan hal-hal yang disukai perempuan pada umumnya( percintaan, kecantikan, penampilan, lalu jenis pakaian) sehingga *Author tertawa ala villain* Naruto yang akan memulai gerakan pertama *Author menirukan suara kucing*

Para reader, untuk kedepannya saya akan membawa alur cerita ini berbeda dari yang aslinya( saya bosan dengan canon, tapi peran Percy tetap sama di buku,) harap-harap kalian suka dan terus beri review.

See ya next chap!