[Chamber of Emptiness] merupakan tempat dimana tiga dewa generasi awal terlahir, dan hidup untuk mengawasi keadaan dunia dan juga alam semesta.
Chaos: Sang dewa pencipta. Memiliki penampilan seorang pria dengan rambut hitam runcing, kulit putih sedikit pucat, dan mata berwarna abu-abu. Tinggi 6'7 ( ukuran manusia normal, bukan ukuran asli ) mengenakan satu set pakaian formal warna biru gelap, terakhir, sepasang sepatu coklat.
Order: Sang dewa keseimbangan. Memiliki penampilan seorang pria dengan rambut setengah hitam dan setengah putih, kulit putih sedikit tan, dan mata biru di kanan dan mata merah di kiri. Tinggi 6'0 ( ukuran manusia normal, bukan ukuran aslinya ) mengenakan satu set pakaian formal warna putih terang, terakhir, sepasang sepatu merah gelap.
Arch: Sang dewa penghancur. Memiliki penampilan seorang pria dengan rambut hitam sisir ke samping kanan, kulit putih sedikit pucat, dan mata berwarna silver. Tinggi badan 6'5 ( ukuran manusia normal, bukan ukuran aslinya ) mengenakan satu set pakaian formal warna coklat gelap, terakhir, sepasang sepatu hitam.
Saat ini, Chaos sedang memandang serius papan permainan catur di tengah meja, di seberangnya, Order, juga punya pandangan yang sama.
"Ayo mulai, Arch." Kata Order bergembira ria. Chaos memandang tajam ke arahnya.
"Aku dan Arch memiliki fisik yang yang berbeda; Kau, aku, dan dia, kita ini lahir bersama, tapi kita ini tidak punya hubungan darah."
"Nu-uh, tapi penampilanmu hampir mirip dengan Arch. Aku bahkan tidak bisa membedakan kalian."
"Kalau kau serius, kau bisa membedakanku dengan Arch, 'bukan?"
"Nah, pintar juga kau."
Chaos memutar kedua bola matanya, sebelum menggerakkan bidak pionnya ke depan. "Dari yang kudengar, Arch pergi ke dimensi lain?"
Order memajukan bidak pionnya ke depan. "Ya, dimensi ninja kalau tidak salah." Dia mengerang, menatap rook milik Chaos memakan pionnya dengan mudah.
Order menggerakkan queennya, dan dimakan bishop punya Chaos.
"Sial."
Order menggerakkan knightnya, dan dimakan pion punya Chaos.
"Ingatkan aku kenapa kita memainkan permainan mortal ini, Chaos?"
Order menggerakkan asal pionnya, dan dimakan knight punya Chaos.
"Kau yang ingin."
Order menggerakkan bishopnya, dan memakan queen milik Chaos.
"Rasakan."
Chaos memajukan salah satu bishopnya, "Check."
Order pundung sesaat.
Chaos berdiri dari kursi, dan meregangkan kedua lengannya yang keram.
"Sepertinya Order, tidak akan pernah menang bermain catur, melawan Chaos." Suara seseorang terdengar, membuat sang dewa keseimbangan dan sang dewa pencipta melirik ke asal suara.
Mereka melihat Arch; datang menggendong seorang remaja berambut pirang, yang tampak tidak sadar.
"Siapa dia?" Tanya Order.
Arch berseri. "Cucuku, Naruto Uzumaki." Ujarnya bangga.
Pandangan Order menajam pada sang dewa penghancur tersebut, "Cucumu atau bukan, kau tidak boleh seenaknya membawa dia ke dimensi kita." Katanya serius. "Apalagi jika kau berniat membuatnya menetap, itu melanggar aturan keseimbangan telah yang aku buat."
Arch membalas tatapan tersebut. "Sentuh Naruto, aku bersumpah aku akan menghancurkanmu dan kubuang jasadmu itu hingga ke bagian terdalam Tartarus." Ancamnya, dengan tangan dialiri aura hitam.
Chaos melihat Naruto dengan tatapan shock di wajahnya.
"Chaos, apa pendapat—" Perkataan Order terhenti, dia menatap wajah Chaos, yang tampak shock dan juga... Rindu?
Chaos membuka mulut. "Naruto, itu namanya benar?" Tanyanya.
Arch mengangguk, mengabaikan perseteruannya dengan Order. "Ya, memangnya kenapa?" Dia memberikan pertanyaan lain.
"Tidak. Aku hanya bertanya saja." Balas Chaos, lalu dia tersenyum. "Jika kau ingin cucumu menetap di dimensi ini, aku bisa melakukan sebuah reingkarnasi untuknya." Katanya menawarkan bantuan.
Arch berdengung. "Ide yang bagus." Ujarnya senang.
"Dan kau ingin menjadikannya apa? Dewa? Titan? Manusia biasa? Demi-titan? Atau mungkin... Demi-god?" Tanya Order antusias.
Arch memandangnya bingung. "Aku pikir kau tidak suka dengan—"
"Jangan salah paham," Potong Order. "Kalau dia menetap dengan tubuh lamanya, aku tidak setuju dan mungkin membunuhnya." Arch memicingkan mata. "Tapi, jika dia direinkarnasi. Aku setuju dan akan kuberikan juga pedang berbahan Chaotic Platinum untuk hadiah kelahirannya."
"Baiklah, bisa kalian berdua menyingkir sebentar? Aku akan melakukan proses reinkarnasinya sekarang juga." Kata Chaos, yang kelihatan tidak sabar dari nada bicaranya.
"...Perasaanku saja atau kau sedikit bersemangat dalam hal ini, Chaos?" Tanya Arch, penasaran.
Order melihat muka Naruto dengan intens, sebelum dia menyeringai. "Wajah anak ini. Mengingatkanku dengan wajah demi-god pertamamu itu, yang telah mati beberapa abad yang lalu." Masih menyeringai, dia menoleh pada sang dewa pertama. "Aku mengerti kenapa kau sangat tertarik padanya."
Chaos menatap balik dengan pandangan datar. "Kalau kau sudah tahu, bisa kau tutup mulut?"
Arch merasakan dilema, di satu sisi dia ingin membiarkan Naruto hidup tanpa melakukan reinkarnasi atau apapun yang membuat dia lupa dengan masa lalunya. Tapi di sisi lain; apa yang dikatakan Order benar adanya. Meskipun Naruto memiliki darahnya, dia telah lama tinggal di dimensi yang bukan asalnya, membuat Order berpikir bahwa kehadiran cucunya adalah sebuah kesalahan.
"Jadiiii, kau akan mereinkarnasikan dia menjadi apa?"
"Menjadi avatar pencipta, sekaligus demigod keduaku."
Chapter 4
DemiGod of Chaos
Summary: Setelah pertarungan melawan Pain. Naruto bertemu dengan seseorang yang membawanya pergi ke dunia asing. Sesampainya dia di dunia tersebut, kekuatan, penampilan, dan ingatannya, telah diganti dengan yang baru. Membuatnya menjadi berkepribadian yang sedikit berbeda dengan yang dulu.
Disclaimer: Naruto dan Percy Jackson and the Olympians dimiliki oleh pemiliknya masing-masing( Masashi Kishimoto-sensei dengan Riordan). Saya hanya meminjam karakter dan ceritanya saja.
Warning: Halfcold!Naruto
Keep Calm and Enjoy Reading!
.
.
.
Chapter 4: The Hater. The Oracle. The Mission.
Naruto memandangi pondok berwarna hitam metalik di depannya, dia masuk dan melihat langit-langitnya diterangi banyak bintang yang bersinar terang.
Setelah kejadian ditentukan yang dialami Naruto, secara misterius, pondok ini muncul dari ketiadaan.
Sesuai peraturan yang ada; Naruto akhirnya pindah ke tempat ini sambil mengangkut barang-barang pribadinya.
Meskipun dia tidak punya barang yang harus ia bawa ke dalam rumah barunya itu.
Naruto melihat jendela yang menghadap ke arah bulan, dinding dalam pondok dicat seperti kerangka alam semesta, lantainya terbuat dari kaca sehingga terlihat bening, di ruang tengah terdapat ranjang tidur dengan ukuran king size. Naruto masuk lebih dalam, dan menemukan kamar mandi dengan shower, westafel, dan bath tube. Beserta perlengkapan mandi lainnya.
Naruto kembali ke ruang tengah, dan lompat ke atas kasur.
Dia menepuk kedua lengan, sebelum kegelapan menutupi matanya.
-Tomorrow-
Naruto berjalan mendekati beranda depan Rumah Besar.
Dia ingin memberi tahu sesuatu pada Chiron, mengenai mimpi aneh yang ia impikan semalam.
"Kau? Seorang dewa?"
Naruto memicingkan matanya. Dia melihat seorang remaja berambut hitam pucat acak-acakan, umurnya sama dengan Annabeth, warna mata hijau cerah. Remaja itu mengenakan jaket zip abu-abu, daleman kaos hitam, celana jeans biru tua. Terakhir, sepasang sepatu hitam.
"Kau mau mengujiku, bocah?" Kata Dionysus lirih.
Percy Jackson meneguk ludahnya. Dia menyesali apa yang dia katakan. "Tidak. Tidak, sir." Mr.D kembali ke permainan kartunya. "Sepertinya aku yang menang."
"Belum tentu, Mr.D." Kata Chiron. Dia meletakkan kartu straight, sambil menghitung nilai. Mulutnya menambahkan. "Permainan ini aku yang menangkan."
Mr.D menghembuskan nafas melalui hidung. Dia berdiri, dan diikuti seorang satir bernama Grover Underwood.
Dia menyadari kehadiran Naruto. "Wah, wah, wah. Lihat siapa yang datang. Si Narnia rupanya." Naruto tidak ambil pusing dengan namanya yang salah diejah.
Chiron tersenyum kecil ke Naruto, sedangkan Annabeth melambaikan tangan ke padanya.
Percy kebingungan dengan kedatangannya. "Siapa kau?" Tanyanya.
Naruto mengernyitkan dahi. "Apakah ibu manusiamu atau ayah manusiamu tidak pernah mengajarimu sopan santun? Tanyakan dulu nama orang yang ingin kau ajak bicara, sebelum dua belah pihak memulai suatu pembicaraan."
Percy menggertakkan giginya, memori kematian ibunya yang berubah menjadi kilauan cahaya emas muncul kembail dan membangkitkan amarahnya yang terpendam.
Dia menggenggam kerah jaket Naruto, lalu menariknya, hingga menghadap lurus wajahnya. "Aku tidak peduli kau itu siapa, tapi jika kau berani berkata seperti itu lagi. Aku tidak akan segan-segan membuat hidup indahmu menjadi menderita." Ancamnya.
"Percy."
"Lepaskan Naruto, Percy. Apa yang kau lakukan." Grover dan Chiron berusaha memisahkan mereka, sebelum Naruto menghilang dan muncul di dekat si pelatih pahlawan.
Mengabaikan pandangan tidak suka ( dari Percy ) dan sweat drop dari beberapa orang, Naruto mulai berbicara. "Chiron, aku ingin berbicara denganmu. Empat mata."
"Aku terkejut si jengkot teritip tidak marah padamu, Nathalia." Kata Mr.D. "Mengingat, apa yang telah kau perbuat padanya."
"Chiron?"
Chiron melirik Annabeth dengan senyuman di wajah.
"Annabeth. Bisa kau tunjukkan sekeliling perkemahan pada Percy? Aku punya urusan dengan Naruto." Katanya.
Annabeth mengangguk. "Baiklah, Chiron."
"Aku capek," Kata Mr.D tiba-tiba. Dia merasa diacuhkan di tempat favoritnya tersebut. "Aku mau tidur siang dulu, sebelum acara nyanyi dimulai lagi malam ini. Tetapi Grover," Dia menoleh pada si satyr. "Pertama-tama kita harus bicara, lagi, tentang kinerjamu yang kurang sempurna pada tugas ini."
Wajah Grover bertaburan peluh. "B-baik, Mr.D."
Mr.D menoleh kepada Percy. "Pondok sebelas, Percy Jackson. Dan jaga kelakuanmu." Dia masuk ke dalam rumah pertanian, Grover mengikuti dengan wajah yang merana.
Percy melihat Annabeth melirik ke tanduk minotaurus di tangannya, lalu beralih kepadanya.
Percy membayangkan kalau dia akan berkata seperti, Kau membunuh minotaurus! Atau, Wah, kau hebat! Dan semacamnya seperti itu.
Sayangnya, kenyataan lebih menyakitkan dibanding apa yang dia bayangkan. "Kau ngiler kalau lagi tidur." Kata Annabeth, kemudian dia melangkah ke pekarangan.
Percy berkedip, rasa malu menelan harga dirinya. "Hei, tunggu aku." Dia berlari mengejar Annabeth.
"Jadi, Chiron," Mulai Naruto. "Aku mendapat mimpi aneh kemarin malam."
Raut wajah sang centaurus berubah menjadi serius. "Ceritakan semuanya padaku."
Naruto melihat seorang pria berbaju hijau dan pria berbaju biru. Pria berbaju hijau berseru pada pria berbaju biru. Dia bukanlah orang yang telah mengambil ******* milikku! Saudaraku.
Pria berbaju biru membalas. Dia adalah putra dari dia, ********! Siapa lagi kalau bukan ia?
Secara tiba-tiba muncul wanita dengan mata seperti terbakar, datang di tengah perdebatan mereka.
****. Jika kau berani menyentuh ******. Aku bersumpah, aku akan berperang seumur hidup denganmu!, wanita itu mengancam.
Pria berbaju biru menggeram. ******, apa-apaan perlawananmu ini kepadaku? ****** ******** adalah pencuri ******* milik ********. Tanpa ******* itu, semua lautan di dunia mortal tidak akan terkendali dan menjadi liar karena tidak ada pengendalinya.
Jauh di belakang mereka bertiga. Terlihat seorang pria berpakaian ala ***** **** tertawa jahat. Dia tampak senang menonton perseteruan pria berbaju biru, berbaju hijau, dan wanita dengan mata seperti terbakar.
Sebentar lagi! Pria itu menyeringai kejam. Sebentar lagi, dan kalian semua akan hancur di tanganku!
Naruto terbangun dari tidurnya.
-Back To Present-
"Kau bisa mendengar percakapan mereka, tetapi di sisi lain kau tidak bisa mendengar nama mereka. Benar begitu?" Tanya Chiron.
"Ya." Jawab Naruto. "Apa kau tahu mimpi apa itu?" Tanyanya.
Chiron mengangguk. "Itu adalah mimpi demigod, jika kau memimpikan itu, itu adalah tanda kau telah mendapatkan misi; misi yang sangat. Sangat penting." Jawabnya serius.
"Jadi," Naruto memandang lurus kearah Chiron. "dari mana aku harus memulai?"
Chiron tersenyum. Ekspresi seriusnya melembut. "Sebelum kau pergi. Kau harus mendapatkan petunjuk terlebih dahulu, agar misi mu bisa berhasil tanpa ada kesusahan di kemudian hari."
"Dan kepada siapa aku harus meminta petunjuk?"
Senyuman Chiron makin melebar.
"Oracle."
With Percy and Annabeth
"Jackson, kau harus berusaha lebih keras daripada itu."
"Apa?"
Keberuntungan Percy hari ini benar-benar telah habis; setelah hampir menghajar seseorang di hari pertamanya, dia mempermalukan dirinya sendiri dengan tersandung di depan pintu masuk pondok sebelas.
Percy telah bertemu dengan sang konselor, Luke Castellan. Seorang pria yang kelihatan lebih asyik dari pada si pemurung Naruto ( yang menurutnya seperti patung es berjalan dibanding manusia hidup ).
Annabeth memutar mata dan menggerutu. "Aku tidak percaya, aku pernah berpikir bahwa kau adalah orangnya."
"Kau ini kenapa?" Percy mulai marah. "Yang aku tahu, aku hanya membunuh si manusia-banteng—"
"Jangan bicara seperti itu!" Bentak Annabeth. "Apa kau tahu? Berapa banyak anak di perkemahan ini yang ingin mendapat kesempatan seperti yang kau dapatkan?"
"Kesempatan untuk dibunuh?" Tanya Percy kesal.
"Kesempatan melawan Minotaurus, tentu saja! Memangnya kau pikir, buat apa kami berlatih?"
"Bermain sirkus?"
*Smack!*
With Naruto
Saat ini, Naruto sedang berada di loteng Rumah Besar; tempat sang Oracle tinggal. Loteng ini penuh dengan rongsokan benda kepunyaan para pahlawan Yunani terdahulu: dudukan baju zirah perunggu yang diliputi sarang laba-laba, perisai berkilau yang sekarang telah berkarat, peti-peti kapal uap tua yang terbuat dari kulit, yang ditempeli dengan gambar yang berbunyi ITHAKA, PULAU CIRCE, dan NEGERI KAUM AMAZON.
Di atas sebuah meja panjang, bertumpuk botol-botol kaca yang berisi awetan aneh-aneh – cakar berbulu yang buntung, mata kuning raksasa, dan berbagai bagian monster lain. Pajangan berdebu yang tergantung di dinding mirip kepala ular raksasa, tetapi bertanduk dan bergigi lengkap seperti ikan hiu. Plakatnya bertuliskan, KEPALA HYDRA PERTAMA, WOODSTOCK, N.Y., 1969.
Di sebelah jendela, di kursi berkaki tiga dari kayu, duduklah kenang-kenangan yang paling mengerikan di antara semuanya; sebuah mumi. Mumi ini terlihat berbeda dari mumi pada umumnya, tidak berkain dan memperlihatkan tubuh perempuan manusia yang menyusut hingga kering kerontang. Dia mengenakan gaun tenun ikat, banyak kalung manik-manik, dan ikat kepala pada rambut hitam yang panjang. Matanya berupa celah putih bening, seolah-olah mata yang asli teah diganti dengan kelereng.
Oracle menegakkan tubuhnya dari kursi dan membuka mulut. Kabut hijau mengalir dari mulut mumi itu, membentuk sulur-sulur tebal yang berputar di lantai, dan berdesis seperti ular.
Di dalam kepala Naruto terdengar suatu suara, melata memasuki telinga hingga melingkari otaknya: Akulah arwah delphi, pembawa ramalan Phoebus Apollo, pembantai Python yang perkasa. Mendekatlah, wahai pencari, dan bertanyalah.
Naruto mengangguk. "Petunjuk apa yang aku butuhkan untuk perjalananku?" Tanyanya.
Mulut Oracle mengeluarkan suatu kata, tetapi hanya bisa terdengar di kepala Naruto.
Kau akan pergi mengikuti arah yang ditentukan matahari, dan bertemu dengan teman yang tidak diduga.
Kau akan kembali dengan membawa yang penting, lalu mengembalikannya pada tangan yang berhak.
Kau akan ditemani oleh sang putra cahaya, bersama dengan sang putri peperangan.
Dan diakhir, kau akan menghadapi sang dewa yang tidak nyata.
Si mumi bersandar lagi pada dinding. Mulutnya tertutup rapat-rapat.
Naruto mengingat-ingat apa yang dikatakan sang Oracle, sebelum melangkah keluar ruangan.
With Percy and Annabeth
"Wah! Ada anak baru rupanya!"
Percy dan Annabeth menoleh ke sumber suara.
Di penglihatan mereka berdua; terlihat Clarisse berjalan mendekat dengan tiga gadis lain dibelakangnya.
"Clarisse." Annabeth menghela nafas. "Asah saja tombakmu sana."
"Tentu, nona tuan putri." Ucap Clarisse, menyeringai menghina. "Supaya aku bisa menusukmu dengan tombak itu malam sabtu."
"Erre es korakas!" Kata Annabeth, yang entah kenapa bisa Percy pahami sebagai 'Pergi ke burung gagak sana!' "Kau tidak akan mungkin bisa."
"Kita lihat saja nanti!" Balas Clarisse cepat. Dahinya berkedut sesaat. Dia melirik kepada Percy. "Siapa si cebol ini?"
"Percy Jackson," Ujar Annabeth. "perkenalkan Clarisse, putri Ares."
Percy berkedip. "Maksudmu ... Dewa perang itu?"
"Kau punya masalah dengan itu?" Cibir Clarisse.
"Tidak," Kata Percy, dia pura-pura menutup lubang hidungnya. "itu menjelaskan bau busuk yang kucium."
Clarisse menggeram. "Ada acara inisiasi untuk anak baru, Prissy."
"Percy."
"Terserah. Ayo, kutunjukkan."
"Clarisse—" Annabeth berusaha mencegah.
"Jangan ikut campur, sok pintar."
With Naruto
[ In Front of The Cabin Seven ]
"Bagaimana," Kata Naruto. "kau ikut kan, Will?"
Will Solace. Memandang Naruto seolah-olah dia itu orang yang paling aneh di dunia. "Kau yakin mengajakku ke dalam misi ini benar-benar keputusan yang bagus, Naruto?"
"Garis putra cahaya sudah membuktikan bahwa aku harus membawa salah satu keturunan Apollo," Ujar Naruto. Dia mengangkat bahu. "Kau adalah keturunannya; jadi aku yakin 100% aku harus membawamu."
Will menghela nafas. "Kalau apa yang dikatakan sang Oracle memang seperti itu, maka aku tidak punya alasan untuk menolak ajakanmu." Katanya, sambil tersenyum pada temannya itu.
"Bagus, tinggal satu orang lagi yang harus kuajak."
With Percy
Percy menyerahkan tanduk minotaurnya kepada Annabeth dan bersiap-siap untuk berkelahi.
Tetapi tiba-tiba Clarisse mencengkram lehernya kuat-kuat, dan menyeretnya ke gedung balok semen yang diketahui adalah kamar mandi.
Percy berusaha melepaskan diri dengan meninju-ninju dan menendang-nendang.
Clarisse sama sekali tidak bergeming dengan apa yang dilakukan Percy, lalu dia menjenggut rambut Percy dan membawanya ke salah satu lubang toilet.
Semua teman Clarisse tertawa melihatnya.
"Tingkahmu ini seolah-olah kau ini anak 'Tiga Besar' saja." Dengus Clarisse. "Tapi mana mungkin, sih. Barang kali Minotaurus itu hidungnya kesumbat, jadi salah paham dengan bau darahmu."
Annabeth berdiri di sudut, menonton melalui sela-sela jari.
Percy berusaha mengangkat kepala, dia tidak ingin kepalanya masuk ke dalam situ.
Kemudian, secara tiba-tiba air di dalam toilet muncrat, dan mengenai wajah Clarisse hingga membuatnya terjengkang jauh ke belakang.
With Naruto and Will
[ In Front of The Cabin Five ]
"Mark, apa ada Clarisse di dalam?" Tanya Will, pada seorang remaja yang berpakaian ala pegulat.
Naruto mendengar musik rock membahana di pondok lima, membuatnya terheran-heran mengapa keturunan Ares bisa tahan dengan suara sebising itu.
"Tak tahu," Mark mengangkat bahu, lalu dia menatap tajam ke arah Will. "memangnya apa urusanmu dengan saudariku, sunspot."
"Itu julukan ayahku kau tahu." Kata Will, tidak tersinggung.
Mark mendengus. "Tch, terserah."
Naruto melihat para pekemah mendekati pintu kamar mandi, dan di balik celah tubuh mereka, dia melihat empat wanita yang berlumuran lumpur.
Naruto merasa familiar dengan salah satu dari empat wanita tersebut, lalu dia berjalan mendekat.
Annabeth melongo-longo menatap Percy, dia tampaknya tidak memikirkan pakaiannya yang basah kuyup.
Percy melihat ke bawah dan menyadari bahwa tempat dia berdiri, satu-satunya tempat kering di seluruh kamar mandi.
Annabeth membuka mulutnya. "Bagaimana bisa kau... "
"Jangan tanya aku." Balas Percy cepat. Dia juga sama bingungnya saat ini.
Mereka berdua berjalan ke luar pintu, dan melihat Clarisse dan teman-temannya terkapar di lumpur. Semua pekemah datang berkerumun, dan memandang keadaannya sambil terbelalak.
Clarisse melempar pandangan kebencian mutlak pada Percy. "Kau cari mati anak baru. Kau benar-benar cari mati."
Percy semestinya membiarkannya seperti itu, tapi mulut besarnya malah berkata. "Mau kumur-kumur pakai air toilet lagi, Clarisse? Tutup mulut."
"Clarisse?"
Naruto menatap sang konselor lima dengan pandangan simpati.
"Kalian tidak ingin menolongnya?" Tanyanya, matanya dia fokuskan ke para pekemah yang bisa ia lihat. "daripada hanya diam, dan menontonnya di dalam keadaan terburuknya? Tidak ada yang menjawab.
Naruto terdiam. Dia melepas jaket kepunyaannya, dan memasangkannya pada tubuh basah kuyup Clarisse, tidak mempedulikan tatapan shock dari para pekemah, dan dari teman-teman Clarisse karena aksi yang dia lakukan.
Clarisse terkejut tentu saja. "Kau—" Sebelum menyelesaikan perkataannya, Naruto melakukan hal yang membuat para pekemah sweatdrop dan mangap-mangap tidak percaya.
Dia mengangkat tubuh Clarisse, dengan gaya bridal.
"Ayo. Kita bersihkan badanmu yang kotor itu."
Muka sang gadis sangar merona pekat.
[ In Front of The Big House ]
"Will, kau sendirian? Mana Naruto?" Tanya Chiron, pada si remaja berambut pirang.
Will mendekat. "Dia sedang ada urusan, Chiron." Balasnya. Dia tidak mungkin memberitahu sang pelatih pahlawan, kalau temannya itu sedang memandikan si konselor lima.
Katakanlah dia itu bukan tukang gosip.
Chiron tampak menerima alasan tersebut. lalu ia menanyakan pertanyaan lain.
"Kau sudah diberitahu rincian misi oleh Naruto, kan?"
Will mengangguk. "Sudah."
-Several Minutes Later-
Will menatap Clarisse dan Naruto, yang berjalan mendekat.
Dia menyilangkan kedua lengannya. "Kalian berdua ini lama juga, yah. Dari mana saja?" Tanyanya dengan seringai.
Clarisse menundukkan kepalanya, dan Naruto memutar kedua bola matanya.
"Will. Aku hampir berpikir kau ini mirip seperti orang tua yang sedang memarahi anaknya pulang telat saat ini." Komentarnya pada si ahli pengobatan.
Will sweatdrop mendengar komentar tersebut.
Chiron berdehem untuk mendapat perhatian. "Karena semuanya telah berkumpul, aku asumsikan kalian sudah siap untuk mengemban misi ini?" Ketiganya menoleh padanya.
Will berseri. "Tentu."
Clarisse menyeringai sambil menyatukan tinjunya. "Kau tidak perlu menanyakan hal itu."
Naruto tersenyum. "Ya." Dia menatap Clarisse, yang merasa dipandang, memalingkan wajahnya kearah lain.
Sang putra Chaos menahan tawa melihat reaksinya, sedangkan Sang putri Ares mencoba menyembunyikan blush darinya.
'Disamping sifat kasarnya; Dia tampak manis jika seperti itu.' Pikir Naruto, sembari tersenyum.
Sang putra Apollo lalu bersiul-siul untuk menggoda Clarisse.
*Smack!*
Yang dihadiahi pukulan penuh kasih sayang di kepala.
"Ouch."
Setelah berpamitan dengan sang centaurus. Naruto, Will, lalu Clarisse, berjalan menuruni bukit.
Will kemudian bersiul, dan sebuah kereta dibawai dua pegasus datang dari atas langit.
"Apa pendapat kalian?" Tanyanya, nadanya terdengar sedikit bangga dan sedikit sombong.
Naruto mangut-mangut, sedangkan Clarisse menggelengkan kepalanya. "Bagus/Jelek." Kata mereka bersamaan.
Will memberikan jempol atas untuk Naruto, lalu jempol bawah untuk Clarisse.
Clarisse tersinggung. "Kau mau aku hajar, blondie."
"Oh, aku takut sekali, cruel girl."
"Kreatiflah sedikit, sissy boy."
"Maju sini, mad woman."
Naruto menatap matahari dengan pandangan serius. "Arah yang ditentukan matahari, berarti kita akan pergi ke utara, yah." Katanya pelan.
"Ngomong-ngomong, Clarisse. Jaket yang kau pakai itu—"
"Diam!"
T-B-C
A/N: PARA READERRRRRR. KALIAN SEMUA BENAR-BENAR ROCKKKKKKKKKKK.
Saya sebagai author merasa terharu dengan review yang kalian ketik untuk fic ini *Author nangis bombay* bagaimana dengan chapter kali ini? Menarik?
Nah, nah. Kalau ada yang udh nebak siapa empat orang yang ada di mimpi Naru... No spoiler, oke?
Mohon maaf jika ada typo atau grammar yang salah, saya buru-buru soalnya.
It's review time~~:
namikaze fauzan: Sampai tamat gan :D
KuramaBin: Nice comment :D
asd: Ole :D
KidsNo TERROR13: Tentu :D
Ashuraindra64: Done :D
Sasaki Shikeguni: Agan, kenapa spoiler *Author pasang wajah seram*
afadfath03: OC lah :D. Untuk nasib dunia shinobi... Baca di akhir chap depan.
Moquesa: Amin gan.
adyp492: Nggak ingat lagi gan. Eh, ada tukang spoiler lagi :D. Flashback of course.
zackkyjr99: Siap gan :D
Firman597: Sangkyu gan udh nunggu lama :D. Salam kenal juga :D
firdaus minato: maaf tapi gak akan ada Harem dan Lemon gan.
Guest: Yeah :D
Guest: Maaf gan, saya terlalu fokus sama plot dan ceritanya.
Yayasamael: Diusahakan tapi nggak janji. Bentar lagi masuk sekolah masalahnya gan :D
Guest: MANTAFF, REVIEW TERPANJANG YANG SAYA DAPAT. TENANG GAN, FIC INI SAYA TAMATIN SAMPAI AGAN LOMPAT-LOMPAT KASUR KALAU BISA :D
Baka no Rudi: Monggo gan :D
Fahzi Luchifer: Emang single pairing gan. Saya agak sedikit gak suka sama Harem buat beberapa alasan. Keturunan Chaos: Ouranos ( Langit: putra, suami Gaea), Gaea ( Bumi: putri, istri Ouranos), Tartarus ( Lubang Neraka: putra ) Nyx ( Malam: putri, istri Erebus) Akhlys ( Kesengsaraan dan Racun: putri ) Erebus ( Kegelapan: putra, suami Nyx ) Pontus ( Laut: putra ). Hanya Naruto sama yang udah lama mati aja yang demigod, gan. Sisanya dewa/dewi semua.
D07Agares: Emang lanjut gan :D
Guest: agan membuat saya terharu *Author ngambil tisu*
Si rusuh: Err anda tidak salah baca fic kan?
Cecunguk: I'm human bro.
Irnaratna10: Maaf gak bisa sama Thalia dan Bianca gan. Clarisse udah menempati puncak pairing masalahnya. Btw, nice comment :D.
P.S: bagi reader yg udh pernah baca Heroes of Olympus series... Pasti ketawa baca chap depan :D
