"Naruto."
Anak berumur empat tahun, yang sedang menatap matahari terbenam di suatu taman. Menoleh dan melihat wanita yang disayanginya datang mendekat.
"Tia." Katanya dengan senyum lebar.
'Tia' menggelengkan kepalanya, senyum kecil tercetak diwajahnya. "Seperti yang aku pikirkan, kau akan selalu ada disini setiap sore maupun pagi; hanya untuk melihat matahari terbit atau terbenam." Dia mengapit tangan si anak kecil. "Ayo pulang." Naruto cemberut.
"T-tapi, mataharinya kan belum—"
"Hari sudah hampir malam, tidak baik anak kecil sepertimu berada diluar."
"T-tia—"
"My little fish cake, ayo pulang." Air terkumpul di pelupuk mata.
"Maelstrom, TIA."
Sambil berjalan menuju rumah mereka, 'Tia' bertanya pada Naruto.
"Apa kau sudah mendapatkan teman, Naruto?"
"Belum."
'Tia' menatapnya bingung. "Kenapa belum?"
"Berteman itu menyusahkan," Kata Naruto jujur. "Lebih baik sendirian. Tidak akan dikhianati dan tidak pernah terkena masalah."
'Tia' tertawa mendengarnya. "Naruto, Naruto. Kau sepertinya sudah salah paham dengan arti pertemanan sesungguhnya."
"Apa maksudmu, Tia?"
"Ketika kau punya teman," Naruto menatapnya penasaran. "kau akan punya seseorang yang akan selalu menolong dan membantumu ketika kau dalam kesusahan. Tidak peduli seberapa besar kesusahan yang kau hadapi, teman-temanmu akan selalu membantumu dari belakang."
"Wow, Tia. Hanya wow. Itu adalah pidato terbagus yang pernah aku dengar. Mungkin akan aku tulis itu di kertas dan kupamerkan di depan publik."
"Naruto... "
"Ehehehe."
Chapter 5
DemiGod of Chaos
Summary: Setelah pertarungan melawan Pain. Naruto bertemu dengan seseorang yang membawanya pergi ke dunia asing. Sesampainya dia di dunia tersebut, kekuatan, penampilan, dan ingatannya, telah diganti dengan yang baru. Membuatnya menjadi berkepribadian yang sedikit berbeda dengan yang dulu.
Disclaimer: Naruto dan Percy Jackson and the Olympians dimiliki oleh pemiliknya masing-masing( Masashi Kishimoto-sensei dengan Riordan). Saya hanya meminjam karakter dan ceritanya saja.
Warning: Halfcold!Naruto
Keep Calm and Enjoy Reading!
.
.
.
Chapter 5: Nine Head
"Hati-hati, Will. Sepertinya cuaca sedang tidak bersahabat saat ini." Kata Naruto, sambil melihat awan hitam menutupi langit.
Will menarik tali pengikat kereta kuat-kuat, dia menatap para pegasus, yang tampak ketakutan. "Sial, gara-gara awan hitam itu. Kuda-kuda kesayanganku jadi ketakutan." Ujarnya geram.
Naruto mengangkat tangan kanannya keatas. "Kalau begitu, kita lenyapkan awan-awan itu." Gelang kepunyaannya berubah menjadi Risemear.
"Charge: Wind Green"
Angin hijau terbentuk di sekeliling Risemear, lalu ia arah ayunan pedangnya ke badai tersebut.
"Cyclone Drill"
Risemear melepas sejumlah angin seperti tornado, membuat awan tersebut menghilang seketika.
"Discharge"
Will dan Clarisse bernafas lega. "Mungkin kita bisa turun ke daratan sekarang," Ujar Will, melirik matahari tampak hampir terbenam.
Naruto, yang menyadari apa yang dimaksud sang supir kereta, mengangguk. "Kita tidak bisa bergerak di malam hari, terlalu beresiko karna kita mengikuti arah yang ditentukan matahari."
"Naruto, boleh aku tanya sesuatu?" Tanya Clarisse.
Naruto mengubah Risemear menjadi bentuk asalnya.
"Ajukan."
"Pedangmu itu... Apakah terbuat dari perunggu surgawi?"
Naruto meliriknya dengan sudut mata. "Entahlah."
[ Camp Half-Blood: In Camp Eleven ]
Luke menghampiri Percy, yang menghempaskan diri di lantai. "Ini kantung tidur untukmu," Katanya. "Dan ini, kucurikan juga alat mandi dari toko perkemahan." Percy tidak tahu si rambut pasir bercanda atau tidak.
"Terima kasih."
Luke terkekeh sedikit. "Sama-sama." Dia duduk dan bersandar di dinding. "Bagaimana hari pertamamu, berat?"
"Tidak terlalu sih." Jawab Percy. "Tapi dipikir-pikir lagi, aku tidak terlalu cocok tinggal disini."
"Aku tahu perasaanmu," Kata Luke. "Terpaksa mempercayai dewa-dewi itu nyata, para monster dari legenda ternyata hidup, dan hidup kita para demigod terancam karena kehadiran mereka." Dia mengangkat bahu. "Itu memang terdengar gila, meskipun kita semua terpaksa menelan fakta itu bulat-bulat."
Kegetiran dalam suaranya membuat Percy agak heran, karena kelihatannya Luke itu orang yang mampu mengatasi apa saja.
Setidaknya itu yang dia pikirkan.
"Kau sudah bertemu Naruto?" Tanya Luke tiba-tiba.
Percy mengerutkan kening, dia tidak suka membahas topik itu. "Sudah."
"Apa pendapatmu?"
"Dia orang brengsek."
"Percy, Percy." Luke menggeleng tak setuju. "Jangan menilai dia dengan kepribadiannya, itu tidak boleh. Dia orang baik kok, hanya tidak suka keramaian dan aktivitas yang menyangkut orang banyak."
"Jadi, ayahmu Hermes?" Tanya Percy, berusaha mengganti pembicaraan.
Raut wajah Luke sedikit berbeda, dia mengambil pisau lipat dari saku, dan mengerik lumpur yang menempel di sandalnya.
"Ya. Hermes."
"Si utusan yang kakinya bersayap."
"Utusan. Pengobatan. Pengembara. Pedagang. Pencuri. Itu semua adalah kekuasaannya. Ayahku, merupakan dewa pejalan. Alasan kau berada disini, karena Hermes menerima semua pendatang baru yang tidak punya tempat singgah." Jelas Luke.
"Kau pernah bertemu dengan ayahmu?"
"Sekali."
Situasi canggung mengalir dalam percakapan mereka.
Percy memutuskan mengajukam pertanyaan yang mengusiknya sepanjang sore. "Mark, dari pondok lima. Memberitahuku tentang 'Tiga Besar'. Lalu Annabeth ... Dua kali, dia bilang aku mungkin 'orangnya' meskipun dia selalu mengomel seperti 'Misi... Harus membuat rencana ... Sial' lalu memaksaku untuk menanyai sang Oracle. Apa kau tahu maksudnya?"
Luke melipat pisaunya. "Aku benci ramalan."
"Huh?"
Dia menatap Percy, memaksakan diri untuk tersenyum. "Ringkasnya, aku pernah merugikan semua orang dan gagal dalam suatu misi. Sudah dua tahun semenjak misi pertamaku, Chiron tidak pernah lagi memberikan misi dan Annabeth sudah gatal ingin pergi ke dunia luar. Kecuali Naruto, tampaknya dia adalah demigod kedua yang telah mendapatkan misi, entah bagaimana caranya akupun tidak tahu." Dia menambahkan. "Chiron. Kalau tidak salah, pernah mendapatkan ramalan dari sang Oracle. Dia bilang itu menyangkut Annabeth, dan seseorang yang istimewa... "
"Seseorang yang istimewa?"
"Ya. Tapi jangan khawatir, nak." Kata Luke. "Annabeth menganggap semua pekemah yang datang adalah seseorang yang istimewa." Dia melihat jam dinding sudah pukul delapan. "Nah, sudah waktunya makan malam."
Begitu dia mengatakannya, suara terompet terdengar dari kejauhan.
"Sebelas, berbaris."
With Naruto Group
Mereka mendarat di Los Angeles pada malam hari. Kereta yang mereka tumpangi kabur dan menghilang dari penglihatan.
"Ini bukan salahku," Protes Will. Clarisse memandangnya tajam. "Aku sumpah."
"Kau pemilik kereta itu, seharusnya kau—"
"Salahkan awan aneh itu."
Naruto terdiam. Dia mengedarkan pandangan dan memfokuskan pandangannya pada suatu pabrik, yang kelihatan tua dan telah tertinggal.
Dia memicingkan mata. 'Disana... '
"Baik," Will angkat tangan. Pertanda kalah debat. "Aku yang salah oke, aku yang salah." Clarisse tampak puas. Dia menyilangkan kedua lengan, sebagai tanda kemenangannya.
"Naruto, kita harus—" Ucapannya tertelan di kerongkongan, dia melihat sang putra Chaos, sudah menghilang dari lokasinya berpijak.
"Clarisse, jaket Naruto yang kau pakai sudah hilang."
"Apa?"
With Naruto
[ Inside The Old Factory ]
Naruto, dengan hoodie yang menutupi kepala bagian atas. Berjalan mengendap-ngendap menuju ruangan utama.
Di sampingnya, sebuah logam bergeser sendirinya, membuatnya menoleh ke sumbernya.
Dia rileks begitu melihat, seekor tikus yang penyebab geseran tersebut.
Naruto melanjutkan perjalanannya, dia hampir dekat, dan mendengar beberapa suara.
"Yeah. Kita akan menjadi kaya." Suara lain mengikutinya. "Ini lebih mudah dari yang aku bayangkan. Menculik anak bintang film dan mendapat tebusan berupa uang. Hahahaha."
Naruto membungkuk dan menyelinap ke sisi dinding bata. Dengan bantuan cahaya lampu, dia mengintip melalui lubang dinding, dan melihat tiga orang berpakaian polisi disana.
Darahnya mendidih melihat apa yang mereka lakukan.
"Hey, Rex. Sampai kapan kita harus menunggu si ayah anak itu datang?" Tanya salah satu pria, menunjuk seorang anak perempuan yang tidak lebih dari dua belas tahun, memiliki rambut coklat sampai ke pundak dan kulit kecoklatan gelap.
Perempuan tersebut di ikat di salah satu tiang, dengan perban di mulut, dan kain hitam di mata.
Rex melirik pada temannya. "Berapa lama pun tidak masalah Billy," dia mengeluarkan sebatang rokok dari kantung bajunya. "Asal apa yang kita inginkan bisa kita dapat." Ia memandang temannya yang terakhir. "Chris, mana zippo punyamu?"
Chris, mengambil sebuah korek api berbahan besi dari kantung celananya. "Nih." Dia melempar asal dan ditangkap oleh Rex.
Dalam kedipan mata, Naruto telah membuat sebuah rencana di otaknya.
Dia mengambil batu bata yang sudah hancur setengah. Pelan-pelan, ia melompat ke tepi dinding di atasnya.
Naruto menunggu salah satu pria menjauhi lampu, sebelum melempar bata di genggamannya dan menghancurkan lampu dalam proses.
Ketiga polisi penculik itu berteriak dalam kegelapan, sedangkan Naruto memutar kedua bola matanya. 'Dasar mental bayi.'
Rex menarik pistol dari pinggangnya. "Tunjukkan dirimu!" Paksanya. Berusaha berani, tapi badannya bergetar.
Naruto melompat ke atap dinding yang lain, dan gerakannya membuat jatuhnya batu bata. Para polisi penculik gelisah dan mengarahkan pistolnya ke arah jatuhnya batu bata.
Tanpa suara, Naruto mendarat di belakang mereka.
Dia mencengkram bagian kepala Billy, lalu menariknya hingga lepas dari raganya.
*Crack!*
"S-suara a-apa i-itu?" Tanya Chris.
*Bruk!"
Rex merasakan suatu benda di kakinya. Dia menggunakan zippo untuk mendapat penerangan.
Dia mengangkat benda tersebut, sedetik kemudian ia berteriak histeris.
"AAAAAAAAAAAAA"
Yang dia pegang, adalah kepala temannya dengan mata melotot dan rahang terbuka.
Memanfaatkan momen, Naruto menusuk leher Chris dengan Risemear, tidak memberikan kesempatan untuk bergerak; dia akhiri hidupnya dengan membelah kepalanya menjadi dua bagian.
Rex menembak asal ke seluruh ruangan. "Fuck you! *Bang!" *Bang!" *Bang!" "Bang!" "Bang!" "Bang!" "Click!" *Click!*"
Pelurunya habis bersamaan dengan kegiatannya yang terhenti, dia memandang ke bawah dan melihat pedang hitam menancap di dadanya.
"A-ap—"
"Sampaikan salam dariku untuk Hades."
"T-tungg—"
*Jrrash!*
Naruto memotong semua organ dalam milik Rex, dalam satu kali tebasan.
"Apapun yang kau perbuat, apapun yang kau lakukan. 'Tia' akan selalu mendukungmu. Tidak peduli hal itu baik, maupun hal itu buruk."
Naruto melangkah ke si anak perempuan, dia berjongkok dan melepaskan ikatan, kain, dan perban; yang melekat pada wajah.
Setelah selesai, anak perempuan itu membuka mata dan berkedip beberapa kali, memperlihatkan mata yang kemerahan seperti habis menangis.
"S-siapa kau?" Tanyanya parau dan sedikit ketakutan.
Naruto tersenyum hangat, dia mengusap-ngusap rambut si anak perempuan dan berkata. "Pahlawan keadilan."
"Kau adalah simbol, Naruto. Simbol umat manusia, harapan, pelindung, lalu keadilan. Karna di akhir... Kau yang akan pertama maju melawan 'itu' dan menyelesaikannya."
"Seperti Moon Knight?" Tanya perempuan itu antusias. Melupakan hal mengerikan yang telah terjadi padanya.
Naruto mengangguk. "Sama persis, tapi tanpa jubah dan cakram berwarna perak." Dia menggendong si anak perempuan. "Kau seorang fangirl Marvel, eh?"
"Ya, dan aku bangga dengan itu."
"Siapa namamu?"
"Piper, Piper McLean."
[ Camp Half-Blood ]
-Morning-
Percy mengerang menahan sakit, dia baru saja ditendang keluar matras oleh salah satu putra Ares.
Chiron datang kepadanya, dengan membawa kotak P3K. "Bergulat bukan keahlianmu, Percy. Mungkin kita ganti pelajaran yang lain."
"Ganti dengan?"
Percy memegang busur dan sebuah panah di tangan kirinya. Dia menarik panah sekuat yang dia bisa dan melepasnya tanpa hambatan.
*Tump!*
"Ah."
Dan menancap pada bokong centaurus kita.
"MAAF!"
Percy terengah-engah dan berusaha mengatur nafas, keringat hasil olahraga larinya berjatuhan di tanah.
"Kau tak usah cemas," Kata peri-hutan, yang mengajar pelajaran olahraga lari. "Kami para peri hutan sudah berabad-abad latihan, kami berlatih lari untuk menghindar dari para dewa yang selalu kasmaran."
'Ya, tak usah cemas. Tapi aku malu berlari lebih lambat dari sebuah pohon.' Pikir Percy.
Dari semuanya, hanya berkanolah yang dia bisa. Dan itu bukan kemahiran yang orang lain harapkan dari seorang anak yang mengalahkan minotaurus.
With Naruto Group
*Brrummm!*
"Mungkin sudah beberapa kali kubilang padamu; Terima kasih karna telah menolong putriku kemarin malam."
Mereka bertiga. Naruto, Will( tertidur ), dan Clarisse( tertidur ) sedang berada di sebuah mobil warna putih kepunyaan Tristan McLean, pria keturunan asli amerika dengan tinggi 5'6 dan rambut hitam, dan mata hitam. Dia berprofesi sebagai seorang super star, dan merupakan ayah kandung dari Piper McLean.
"Sama-sama, Mr. McLean." Kata Naruto.
Tristan tersenyum. "Kalau kau mau, aku bisa memberikan uang tambahan untuk perjalananmu."
"...Diberi tumpangan sampai San Francisco sudah lebih cukup menurutku."
"Ah, kau anak baik rupanya."
'Aku, ragu.'
"Jadi, apa tujuanmu pergi ke kota itu?" Tanya Tristan, penasaran.
Karena bosan, Piper mengambil smart phonenya dan mulai memainkan game Marvel's Champions.
"Berlibur." Jawab bohong Naruto. Dia memandang kaca, dan melihat seekor pegasus terbang di sisi jembatan.
"Mr. McLean, bisa kau tepikan mobilnya sebentar?"
Naruto keluar dari mobil, dan mendekati pegasus, yang mendarat di depannya.
Dia melihat seorang remaja rambut pirang dan mata biru elektrik turun dari sang kuda bersayap; Berusia sekitar tiga belas tahun. Remaja itu mengenakan kaos ungu dengan celana panjang hitam. Dia memiliki sebuah tato dengan gambar seekor elang dan tulisan SPQR di lengan kanan dengan sebelas garis. Di sudut bibirnya, terdapat bekas luka kecil yang entah dapat dari mana.
"Quis pater est tibi nomen? ( Siapa nama ayahmu? )" Tanya remaja itu dengan nada menuntut.
Naruto melengkungkan alisnya, sedikit tertarik dengan bahasa yang digunakan remaja tersebut. 'Latin rupanya.'
Dia menghela nafas, sebelum membalas. "In nomine patris mea est Chaos ( Nama ayahku adalah Chaos )." Remaja itu mengangguk puas dengan balasannya.
"Aku pastikan kau sedang dalam perjalanan menuju ke utara?" Tanya remaja itu dengan nada santai dan tidak menuntut.
Naruto memicingkan matanya. "Dari mana kau tahu?" Tanyanya serius.
Bukannya menjawab, remaja itu mengulurkan tangannya ke depan.
Mengetahui hal ini, Naruto melakukan hal yang sama, dan kedua gender mirip tersebut saling berjabat satu sama lain.
"Perkenalkan namaku Jason Grace." Kata pemilik nama dengan nada monoton. "Putra Jupiter, anak Romawi."
"Kau mengikutiku dari tadi."
"Atas perintah Lord Jupiter," Ujar Jason. "Dia memberiku misi untuk mengawasimu, karna kau itu berpotensi sebagai ancaman."
'Paranoid.' Pikir Naruto.
"Sebelum kita pergi, bisa kau lakukan sumpah di Sungai Styx untuk tidak berbagi apa yang kita bicarakan disini?"
"Dari mana saja kau?" Tanya Clarisse dengan ekspresi jengkel di wajahnya. Dia menyadari kehadiran Jason. "Siapa dia?"
"Pergi mencari angin, namanya Jason Grace." Jawab Naruto. Dia menyikut Jason. "Masuklah."
"Eh, oh, ah, yah." Gagap Jason berkata. Dia tidak sengaja menatap Piper, dari balik spion depan.
Piper mengetahui tatapannya, blush muncul di kedua pipinya. "Hai." Sapanya malu-malu.
"...Hai."
Tristan, dengan headset di telinga, melirik ke putrinya. "Pipes, wajahmu seperti tomat."
"A-ayah."
"Paman, boleh aku minta chocolate barnya lagi?"
"Tentu. Letak kotaknya ada di bawah kursimu, Will."
"Kenapa, aku harus bertemu dua jeruk sih."
"Hey, aku ini normal Clarisse *Crunch!*"
"Naruto, bukannya jeruk adalah sebuah nama buah?"
"...Tolong jangan tanyai aku, aku masih ingin normal."
[ Camp Half-Blood ]
Percy berada di beranda kayu, dengan Grover, yang menemaninya.
Dia gugup bukan main, pasalnya saat dia berlatih pedang bersama pondok sebelas. Anjing neraka dari Padang Hukuman [ Field of Punishment ] datang dan hampir membunuhnya. Jika saja, Chiron, tidak memanahnya duluan.
Yang paling mengejutkan adalah; fakta dia merupakan putra Poseidon. Sang dewa laut mengklaimnya, dan itu hanyalah membuat suasana jauh lebih buruk.
"Wah, wah, wah." Kata Mr.D dengan seringai. "Peter, kau datang juga."
"Percy."
"Terserah. Oh, hai Granny."
"Grover."
"Terserah."
Setelah ini selesai, Percy harus ingat membeli obat sakit kepala.
"Aku tak sangka si tua bangka itu, sangat horny dua belas tahun yang lalu." Kata Dionysus. Badai lalu menerpa beranda, dan membuat cola dietnya lepas dari tangan.
"Bagus, ini balasanmu. Dasar maniak kumis."
Chiron, yang duduk di sebuah kursi roda palsu, hanya diam mendengar perkataan sang dewa kegilaan tersebut.
"Kau tahu, Penny."
"Percy."
"Terserah. Kau boleh menuruti apa mauku," Kata Dionysus. "Aku ingin membakar tubuhmu itu sampai molekul-molekul terkecil hingga menjadi abu. Lalu abu itu akan kuserahkan pada ayahmu sebagai trophy Olympus. Tapi, Chiron si super-horse. Memberitahuku bahwa hal itu sangat bertentangan dengan tugasku di perkemahan terkutuk ini; Menjaga kalian anak-anak manja dari bahaya."
"Terbakar itu salah satu bentuk bahaya, Mr.D" Sela Chiron.
"Omong kosong," Kata Dionysus. "Si anak kuda tidak akan kesakitan kok. Yang pasti, aku sudah setuju untuk menahan diri. Bagaimana jika aku merubahmu menjadi anjing laut, pasti imut, setuju?"
"Mr.D—" Chiron memperingatkan.
Dionysus memutar kedua bola matanya. "Chiron save the day, yay." Dia bangkit dari kursi. "Ada rapat darurat di Olympus, para dewa harus datang ke sana secepat mungkin." Dia menatap sang centaurus. "Jika si anak kuda masih ada di sini, akan kuubah dia menjadi anjing laut dengan merek Atlantik tertulis di bagian hidung." Dia melirik Percy. "Satu hal lagi, Perseus Jackson —Percy berjengit mendengar nama aslinya—, kalau kau masih punya otak, kau akan memahami dua pilihan itu lebih baik, daripada hal yang Chiron rasa harus kau lakukan."
Dia meraih sekembar kartu remi, memuntirnya, dan kartu itu menjadi segi empat plastik.
Dionysus menjentikkan jari.
Udara tampak melipat dan membengkok di sekelilingnya. Kartu plastik yang tadi dia pegang, menghilang, bersamaan dengan tubuhnya yang lenyap.
Chiron tersenyum kepada Percy. "Duduklah, Percy. Kau juga, Grover." Mereka menuruti apa yang ia minta.
"Beri tahu aku, Percy." Kata Chiron. "Apa pendapatmu tentang anjing neraka itu?"
"Anjing itu bikin saya takut," Kata Percy. Badannya menggigil mendengar nama itu. "Andai kau tidak memanahnya, aku pasti sudah mati."
"Kau akan bertemu dengan yang lebih buruk, Percy. Jauh lebih buruk, sebelum misimu selesai."
"Misi ... Apa?"
"Misimu tentu saja. Kau mau menerimanya 'kan, Percy?"
With Naruto Group
Tristan memberhentikan mobilnya di suatu tempat pengisian bensin, dia baru sadar bensin yang ia punya hampir habis.
"Baik anak-anak, kalian tunggulah di sini. Aku ingin pergi ke toilet sebentar." Katanya, sebelum pergi menuju toilet.
"Tak mungkin, kau tidak tahu apa-apa tentang Moon Knight?" Tanya Piper tidak percaya pada Jason, yang memasang raut wajah bingung.
"Err, yah."
"Iron Man?"
"Tidak tahu."
"Apa dia bisa dipercaya?" Bisik Clarisse di telinga Naruto. "Maksudku, dia itu bukan berasal dari perkemahan kita. Bisa saja dia—"
"Aku percaya padanya," Ucap Naruto. "Berikanlah dia satu kesempatan."
Will kemudian memisahkan diri dari yang lain, dia melihat-lihat dan menyadari tidak ada pekerja lelaki di tempat itu, yang ada hanyalah pekerja wanita.
Itu pun satu orang.
"Maaf, Mrs, apa hanya kau seorang yang bekerja disini?" Tanyanya.
Mrs, tersenyum kearahnya. "Yesss, putra Apollo."
"Begitu," Will berkedip. "Putra Apollo? Apa maksudmu, Mrs?" dia melihat Mrs, tiba-tiba memiliki sisik dan tubuhnya berubah wujud seperti makhluk serpent.
"Ssss time for meal~"
"...Tolong?"
Tanah tiba-tiba bergetar sendirinya, membuat Naruto, Clarisse, lalu Jason, bersiaga.
"Gempa bumi." Kata Piper, panik.
Naruto menaruh lengan kanannya ke bawah, memastikan tidak ada sesuatu di dalamnya.
Sedetik kemudian matanya melebar.
"SEMUA MENGHINDAR!"
Bersamaan dengan teriakan tersebut, sembilan kepala besar berbentuk berlian dan seperti kadal, muncul dari bawah tanah dengan melepas sebuah raungan.
With Will
Will hampir terjengkang karena getaran tanah. GPPH(1) miliknya, memaksanya untuk melompati ludah racun yang disemburkan oleh sang drakanae.
"Ssss kau tidak akan selamat putra Apollo. Aku pastikan kau akan kubunuh."
Will melirik teman-temannya, yang sedang berhadapan dengan seekor Hydra.
"Seorang laki-laki sejati tidak akan pernah lari dari pertempuran," dia mengalihkan pandangannya kepada Drakanae. "Teman-temanku sedang bertarung sekuat tenaga. Karna itu..."
"Memangnya apa yang bisa kau lakukan tanpa senjata di kedua tanganmu itu." Kata Drakanae sambil tertawa mengejek.
Will memposisikan tangan kirinya di depan dada, sebelum mulai berbicara dengan nada yang berirama lembut.
"Ayahku, Apollo
Dewa Melambangkan Matahari.
Ayahku, Apollo
Berikanlah kekuatan pada anakmu ini."
Sinar berwarna emas menyelimuti tangan kiri Will, menghilang, dan meninggalkan sebuah busur berbahan perunggu surgawi.
Drakanae kaget. "Tidak mungkin."
"Apa yang kau harapkan?" Will menarik tali busur, lalu membidiknya pada Drakanae. "Aku tidak terlalu pandai dalam hal ini; Tapi bukan berarti aku tidak bisa melakukannya." Panah perunggu muncul dari ketiadaan.
"Membasmi ular itu, sudah menjadi kewajibanku sejak aku terlahir."
Naruto berguling saat satu kepala Hydra mencoba memakannya. 'Aku harus menahan diri.' Pikirnya.
"Apa itu badai?" Tanya Piper.
Jason diam-diam berterima kasih pada Trivia ( Dewi Sihir Romawi ) yang telah membuat kabut untuk menutupi apa, yang tidak boleh di lihat.
Dia lalu mengeluarkan koin berwarna emas dengan tulisan 'Ivlivs' dari kantung celananya, membalikkannya, dan mengubahnya menjadi sebuah pedang yang berwarna emas.
Suara geraman terdengar dari belakang mereka, membuat Clarisse dan Piper, memutar badannya ke belakang.
Mereka melihat; seekor anjing raksasa seukuran badak, dengan mata seperti genangan lava, dan gigi tajam sebesar belati.
"Anjing neraka." Kata Clarisse, tombak kebanggaannya dia pegang erat-erat.
Piper ketakutan, dia belum pernah bertemu makhluk semengerikan itu sebelumnya.
Clarisse menyadari ini, dan berucap. "Piper, mendekatlah kepadaku."
"C-Clarisse—"
"Aku sudah berhutang budi pada ayahmu, setidaknya dengan ini aku bisa membalasnya."
*Crrash*
Clarisse mendengar suara tebasan di belakangnya.
Dia menoleh sedikit, dan melihat satu kepala Hydra, terlepas dari badannya.
"Pertahanmu gampang diserang, kau benar-benar harus banyak berlatih rupanya."
Clarisse tahu siapa yang berbicara. "Memotong satu kepala, sama saja dengan menambahkan dua kepala lain. Kau harusnya tahu tentang hal ini, 'kan, Naruto?"
Tanpa melihat balik, Naruto membalas. "Kau jaga punggung, aku jaga dada."
"Baiklah, tapi berjanjilah satu hal padaku."
"Apa itu?"
Hanya dua kata yang terucap, tapi sangat bermakna untuk sang putra Chaos.
"Jangan mati."
Naruto muncul di atas Hydra, dengan Risemear setia menemaninya.
"Charge: Lightning Red"
Aliran listrik berwarna merah, terkumpul, dan menari-nari di bagian mata pedangnya.
Jason, menggunakan kemampuan Aerokinesis miliknya, terbang dan menjaga jarak dari sang kadal/naga immortal.
'Apa yang dia lakukan?" Pikir Jason, tergelitik menonton aksi yang akan Naruto lakukan. 'Aku memang tidak tahu akan adanya eksistensi listrik warna merah, tapi, melawan Hydra seperti itu—'
"Thunder Shock"
Naruto membanting Risemear, kearah sembilan kepala Hydra.
*CTAR!*
Semua kepala Hydra meraung dan menggeliat kesakitan, tubuh besarnya terlihat kaku, dan, bau gosong tercium darinya.
"Kau tidak bantu aku?"
"Wuh!"
Jason hampir saja melompat, tapi dia ingat ia berada di udara sekarang.
Naruto sedikit tidak suka, padahal si putra Jupiter bisa membuat belalang kagum dengan lompatannya.
Si anak langit, menatap kesal pada si anak pencipta tersebut. "Jangan lakukan itu!" Bentaknya.
"Melakukan apa?" Naruto membalas, senyum miring tertempel di mukanya.
"Tadi!"
"Apa?"
"Teleportasi!"
Naruto memutar kedua bola matanya, sebelum dia mendarat ke tanah.
"Ada yang rabun rupanya," Gumamnya. "Itu 'kan, bukan teleportasi."
Hydra terlihat mulai bergerak, Jason, yang sadar, mengangkat pedangnya ke atas.
Guntur kuning menyambar senjatanya.
"Charge: Lightning Red"
Dan listrik merah mengelilingi Risemear.
"Putra Jupiter, kau serang Hydra dari sisi bersebrangan dengan ku, kita habisi dia secara bersamaan." Kata/Perintah Naruto.
Jason berkedip. "Aku pikir... Kau suka menyerang sendirian?"
Naruto menoleh padanya. "Ada satu hal yang telah aku pelajari dari seseorang, Jason. Kau tidak dapat mencapai apapun, jika kau sendirian terus. Lagipula," Dia tersenyum kecil. "Kau adalah teman, dan sekutuku, Jason Grace. Dan bantuan yang akan kau berikan hari ini, akan kuingat sampai akhir hayatku."
Jason tertegun mendengarnya, dia merasa aneh karna dari semua orang, orang yang ia anggap ancamanlah yang berkata seperti itu.
Naruto melihatnya sebagai Jason. Bukannya Golden Boy, ataupun Son of the King.
Jason tersenyum tulus. "Ayo kita laksanakan rencanamu itu." Ujarnya dengan penuh tekad.
Dua kepala Hydra berusaha menggapai Naruto, dia lalu menghilang, dan muncul di arah bagian timur.
Sedangkan Jason berada di bagian barat.
Sambil mengangguk, mereka berdua mengayunkan Ivlivs dan Risemear kearah sembilan kepala Hydra.
Dua serangan bertipe elemen sama, menyambar, dan menghancurkan musuhnya dalam kilatan.
*CTAR!*
*CTAR!*
With Will
Will baru saja membunuh Drakanae, dengan memanahnya sebanyak lima kali. Dia melongo melihat apa yang Naruto dan Jason lakukan.
With Clarisse and Piper
Clarisse memandang mayat anjing neraka, melepuh, dan menyatu dengan tanah.
Dia sedikit bingung dengan Piper, itu dikarenakan anjing neraka tampak menuruti apa yang dia katakan.
'Itu seperti Charmspeak.'
"...Woahhhh!" Kata Piper, terkagum-kagum dengan aksi yang diperagakan Jason dan Naruto.
Naruto memandangi badan Hydra, yang telah berubah menjadi debu berwarna emas.
"Itu tadi... Hebat." Kata Jason, merasa tidak percaya dengan efek serangan mereka.
Dia terjatuh ke tanah, dan mendekat pada Naruto.
Naruto meliriknya. "Mengagumkan, 'bukan?" Tanyanya. Jason menoleh balik.
"Ya."
Bromance telah tercip—
"Jason."
"Apa, Naruto?"
"Area pertarungan ini, telah kita porak-porandakan rupanya."
"...Itu idemu, aku tidak akan bertanggung jawab."
"Pengkhianat!"
[ Ninja World ]
-In Same Time-
Seorang pria berambut putih, dan memiliki mata merah, sedang memandang diam ke udara.
Mulutnya terbuka. "Jadi, kau sudah datang rupanya."
Lubang cacing terbentuk di atas langit.
"World-Eater."
*GROARRRGGGHHHHHHHH!*
T-B-C
A/N: Fighting scene pertama saya, maaf jika sedikit jelek ya reader :D
(1): Gangguan pemusatan dan perhatian hiperaktifitas.
P.S: apa ada typo di chap ini?
