Chapter 6

DemiGod of Chaos

Summary: Setelah pertarungan melawan Pain. Naruto bertemu dengan seseorang yang membawanya pergi ke dunia asing. Sesampainya dia di dunia tersebut, kekuatan, penampilan, dan ingatannya telah diganti dengan yang baru. Membuatnya menjadi berkepribadian yang sedikit berbeda dengan yang.

Disclaimer: Naruto dan Percy Jackson and the Olympians dimiliki oleh pemiliknya masing-masing ( Masashi Kishimoto-sensei dengan Riordan )

Warning: Halfcold!Naruto

Keep Calm and Enjoy Reading!

.

.

.


Chapter 6: What?


Percy, dengan ransel yang berisi satu set pakaian ganti dan sikat gigi, sedang berada di Toko perkemahan untuk mengambil seratus dolar dan dua puluh drachma emas, yang kata Chiron telah dia titipkan di sini.

"Ini, Percy." Kata si kasir berkelamin wanita, memberikan dua benda yang dimaksud pada sang putra laut. "Semoga sukses." Lanjutnya.

"Terima kasih."

Annabeth membawa topi Yankee ajaibnya, topi yang bisa membuat pemakainya jadi tembus pandang. Dia juga membawa buku tentang arsitektur klasik modern, yang ditulis dalam bahasa yunani kuno, serta sebilah pisau perunggu, yang ia sembunyikan di lengan bajunya.

Grover mengenakan kaki palsu dan celana agar dianggap manusia. Dia mengenakan topi hijau rasta, untuk menutupi tanduknya. Ransel jingga cerahnya dia selipkan punggungnya, yang dia isi penuh serpih logam dan buah apel.

Setelah siap, mereka melambaikan tangan kepada para pekemah, lalu melangkah melewati Rumah Besar, ladang stroberi, dan pohon pinus tinggi yang dulunya adalah Thalia, putri Zeus.

Chiron menanti mereka di ujung bukit, dengan menduduki sebuah kursi roda. Di sebelahnya, seorang pria seperti peselancar, mengenakan pakaian ala supir.

Ada yang mencolok dari pria itu; Di bagian tangan, leher, dan dahinya, terdapat mata ekstra.

Eww.

"Dia Argus," Kata Chiron. "Dia akan mengantar kalian sampai ke kota, dan yah, pasang mata keadaan sekitar."

Suara langkah kaki terdengar di belakang mereka.

Mereka menoleh, dan melihat Luke; datang sambil membawa sepasang sepatu basket.

"Hai!" Katanya sambil terengah-engah. "Beruntungnya aku, masih sempat bertemu kalian."

Annabeth merona, hal yang biasa terjadi ketika Luke berada di dekatnya.

"Cuma ingin bilang semoga sukses." Ucap Luke. "Dan kupikir, ini mungkin bisa bermanfaat."

Dia menyerahkan sepatu itu kepada Percy, lalu berseru. "Maia!"

Sayap burung putih menyembul dari tumit sepatu itu, Percy yang kaget, melepas sepatu tersebut dari tangannya.

Luke mengambil sepatu itu sebelum jatuh, dan melipat sayapnya, yang menghilang kemudian. "Sepatu itu sangat bermanfaat semasa aku menjalankan misi dahulu. Hadiah dari Ayah." Katanya, sebelum memberikan sepatu itu kepada Percy. "Meskipun, aku jarang menggunakannya selama ini." Raut wajahnya sedih setelahnya.

Jika Percy perempuan, dia pasti sudah merona saat ini.

"Luke," Katanya. "Makasih."

"Dengar, Percy," Luke tampak rikuh. "Banyak harapan bertumpu dibahumu, jadi, bunuh beberapa monster untukku, oke?"

Mereka berdua berjabat tangan, Luke menepuk kepala Grover, lalu memeluk Annabeth, yang kelihatan mau pingsan.

Setelah Luke Pergi, Chiron menyuruh Annabeth untuk mendekat kearahnya.

"Ini," Dia memberikan bola seukuran bola tennis berwarna hitam dengan bulatan merah di atasnya.

"Apa ini?" Tanya Annabeth. "Benda ajaib?"

"Tekan bulatan merah ini," Kata Chiron, menghiraukan pertanyaan si gadis blonde. "Dalam kasus, kalian bertemu makhluk yang sangat kuat."

"Jelaskan dulu apa—"

"Percy, kemarilah."

Annabeth cemberut. Dia berjalan menuruni bukit, menuju ke van putih yang parkir di baju jalan. Argus mengikuti, sambil membukakan pintu mobil.

"Semestinya aku melatihmu lebih baik," Kata Chiron. "Andai aku punya lebih banyak waktu, Hercules, Jason— Mereka, mereka semua berlatih lebih lama darimu."

Percy tidak marah soal itu. "Tidak apa-apa. Aku hanya ingin—" Dia menggerem bibirnya.

Ia tidak ingin didengar seperti anak manja, tapi, bolehkah Percy berharap? Kalau ayahnya juga memberikan sebuah benda ajaib untuknya.

"Aku in payah!" Chiron tiba-tiba berseru. "Aku tak mungkin membiarkanmu pergi tanpa ini." Dia mengeluarkan sebuah pena dari saku jas, dan menyerahkannya kepada Percy.

Doa Percy terkabulkan. "Wah," Katanya takjub. "Terima kasih, Chiron."

"Percy, pena itu adalah hadiah dari ayahmu. Aku sudah bertahun-tahun menyimpannya, tanpa tahu kaulah pemilik aslinya. Semua sudah jelas sekarang, kau salah satu yang diramalkan, Percy. Kau salah satunya." Ujar Chiron, berbahagia layaknya anak kecil mendapat mainan.

Percy mencopot penutup pena, dan pena itu semakin memanjang dan berat di tangan kanannya. Dalam setengah detik, dia memegang pedang perunggu bermata dua yang berkilauan, gagangnya berbalut kulit, dihiasi jendul-jendul berwarna emas.

"Pedang ini memiliki sejarah panjang dan tragis yang tak perlu kita bahas." Jelas Chiron. "Dan nama pedangnya, adalah Anaklusmos."

"Riptide— Air Surut." Percy menerjemahkan, sedikit kaget karna bahasa Yunani Kuno, tampak mudah dia baca.

"Sekarang tutup lagi pena itu."

Percy menyentuhkan tutup pena itu pada ujung pedang, yang menyusut menjadi pena kembali. Dia selipkan pena tersebut ke saku dengan gugup.

Chiron tersenyum geli. "Jangan khawatir, Percy." Katanya.

"Jangan khawatir apa?"

"Kau kehilangan pena," Percy malu berat.

"Pena itu sudah disihir," Kata Chiron. "Dan akan selalu muncul di saku manapun. Coba saja." Percy awalnya tidak percaya, tapi karna penasaran, dia melempar pena tersebut sejauh-jauhnya.

"Perlu waktu," Kata Chiron. "Nah, coba lihat saku jaketmu sekarang."

Percy melihat saku jaketnya, dan pena itu ada disana.

"Oke, yang ini cool banget," Percy mengakui. "Tapi, bagaimana jika ada manusia melihatku menghunus pedang."

"Kabut itu hal yang ampuh Percy." Jawab Chiron.

"Oh."

Dia melirik sepatu basket di tangan kirinya. "Ini bagaimana?"

Raut wajah sang pelatih pahlawan sedikit gelap. "Luke berniat baik, Percy." Katanya. "Tetapi, terbang ke udara," Dia menggeleng. "Itu hal yang terlarang, untuk seorang yang terlahir dari laut."

Percy mengangguk, kecewa, lalu mendapat ide. "Hey, Grover. Mau benda ajaib?"

Grover memiliki binar di matanya. "Sungguh?"

Beberapa menit kemudian, Percy telah mengikat sepatu tersebut di kaki palsu Grover.

"Maia!" Teriak Grover.

Dia terbang dengan cukup baik, tetapi kemudian terjatuh ke tanah, sehingga tubuhnya terseret menuruni bukit.

"Aaaaaa!"

"Berlatihlah," Seru Chiron kepadanya. "Hanya masalah waktu, sebelum kau bisa menguasainya."

Grover seperti mesin pemotong rumput yang dirasuki setan, itu yang Percy pikirkan.

Dia lalu mengikuti Grover ke bawah bukit, meninggalkan Chiron dalam wujud aslinya.

Jika dilihat lebih dekat, sang centaurus memiliki keringat dingin di sekujur wajahnya.

"Aku harap... Naruto tidak marah padaku."


[ In Hospital ]

With Naruto Group


Piper menggenggam tangan Clarisse erat-erat, raut wajahnya terlihat pucat.

"Ayahmu akan baik-baik saja," Kata Clarisse, mencoba memberikan bantuan berupa kata-kata penenang. "Kata dokter, nyawanya masih bisa diselamatkan."

Jason dan Naruto berdiri di dekat pintu ruangan, yang bernomor 38.

Jason menoleh pada Naruto. "Kau baik-baik saja?" Tanyanya.

"Sedikit," Balas Naruto, suara yang dia keluarkan terdengar kasual. Dia kemudian melangkah melewati kerumunan yang berlalu-lalang di koridor.

Will menghela nafas. "Kita semua ternyata bodoh juga yah, bertarung, tanpa mengingat paman sedang berada di toilet." Gumamnya, sebelum pandangannya menjadi sedikit dingin. "Oh ya, Grace."

"Apa?"

Dia melirik pada Jason. "Ada hal yang ingin kubicarakan denganmu; Berdua, jangan disini."

Jason terdiam, instingnya mengatakan bahwa apa yang ingin dibicarakan oleh si putra Apollo bukanlah hal baik.

Si anak Romawi lalu mengangguk, tangan kanannya dia masukkan kedalam kantung celananya, tempat dimana koin emasnya ia simpan.


[ Outside of Hospital ]

With Naruto


Naruto terlihat duduk di suatu kursi panjang, dengan kedua bola matanya tertutup.

"T-tia, a-aku baru saja—"

"Itu bukan salahmu Naruto."

"S-seorang, tewas olehku Tia."

"Anggap saja itu mimpi buruk, mengerti?"

Dia membuka kedua bola matanya, nafasnya terhembus dengan tidak beraturan. 'Ingatan itu lagi.' Pikirnya. Wajahnya di hadapkan ke atas. 'Pecahan masa lalu yang membuatku menjadi sekarang.'

"Pikiran yang sibuk adalah pikiran yang berbahaya, kau tahu."

Suara seorang pria, tiba-tiba duduk di samping Naruto dengan komik di tangannya.

Naruto terdiam. "Kau bisa membaca pikiranku, berarti kau bukan manusia." Katanya.

Pria itu terkekeh sambil mengganti halaman. "Prediksi yang tepat." Pujinya. "Hmm, Moon Knight benar-benar sadis dalam membunuh lawannya."

"Apa maumu?"

Pria itu tidak menjawab, dia menutup komik tersebut, dan melemparnya ke tempat sampah. "Akhirnya, komik itu selesai aku tamatkan." Katanya sedikit senang, pandangannya difokuskan pada Naruto. "Kau penyuka Marvel? DC? Atau mungkin... Penyuka keduanya?"

"...Aku punya banyak pertanyaan." Gumam Naruto, menyadari kalau perkataannya tidak ditanggapi sama sekali.

Pria itu mengangguk. "Aku setuju, setiap orang tidak pernah puas hanya dengan satu pertanyaan." Ucapnya. "Nah, Naruto, tanyakanlah apa yang ingin kau tahu."

Naruto menatap kedua bola mata pria tersebut, memiliki warna abu-abu, yang sangat mirip dengannya.


[ In Hospital – The Bottom Parking Floor ]

With Will and Jason


"Jadi," Kata Jason. "Apa yang ingin kau bicarakan denganku?"

Will menyilangkan kedua lengannya. "Kembalikan." Katanya.

"Kembalikan apa?"

"Patung Athena."

Jason terdiam, ekspresi santainya berubah menjadi waspada. "Begitu yah, aku agak lupa kalau kita ini adalah musuh, yang sejak lama berperang." Ujarnya, dia mengedarkan pandangan, dan melihat-lihat apakah ada orang lain selain mereka. "Aku terkejut kau tidak menghampiriku, ketika pertemuan pertama kita."

"Naruto akan menghalangi jalanku," Kata Will. Busur pemberian dari ayahnya muncul. "Aku tidak bisa menyalahkannya, dia terlahir bukan dari Yunani, jadi ia tidak merasakan martabat yang terinjak-injak oleh orang yang tidak tahu diri."

Ivlivs berbentuk tombak terletak di tangan Jason.

"Singkatnya; kita akan bertempur habis-habisan 'bukan?"


[ In Hospital: Front of The Room 38 ]

With Clarisse and Piper


Piper melihat seorang wanita dengan setelan kerja abu-abu, dengan mata coklat dan rambut hitam sepunggung.

"Piper, sudah waktunya kita pulang." Kata wanita itu, menggenggam tangan Piper.

Clarisse melengkungkan alisnya. "Siapa kau?" Tanyanya.

"Jane." Kata wanita itu bernama Jane. "Manager dan Baby sitter Piper."


[ In Hospital: The Bottom Parking Floor ]

{ Will v Jason }


*Wuushh!*

*Ctaangg!*

Jason menangkis panah yang dilayangkan oleh Will, dia menusukkan tombaknya ke perut Will.

Will menghindari tusukan itu, yang sebenarnya hanyalah tipuan, yang Jason incar adalah rahang Wil.

*Bugh!*

Dia memukul rahangnya dengan keras, membuatnya terbang, dan mendarat di atas mobil.

Will mengerang, menahan sakit, di punggung.

Jason melompat kearahnya, dengan mengarahkan ujung tombaknya pada leher Will.

Will berguling ke sisi kanan, tepat sebelum Ivlivs mengenainya.

*CRASSH!*

Will menggunakan Audiokinesisnya, dan melepas teriakan ultra sonik dari mulutnya.

"AAAAAAAAAAAAAAA"

Tidak kuat menahan teriakan tersebut, tubuh Jason terpental kearah dinding pembatas.

*BRAK!*

"Gah!"

Jason terjatuh ke bawah, dia berdiri, dan melihat Will berjalan kepadanya.

"Berikan. Patung. Athena." Kata si keturunan Yunani, dengan nada memaksa.

Jason menggeram, kedua mata biru elektriknya menyala dalam emosi yang tidak dapat di tahan.

Dia mengubah Ivlivs menjadi bentuk pedang, lalu mengalirkan petir kuning dari tangan ke senjatanya.

Dengan teriakan penuh amarah, Jason mengayunkan Ivlivs kearah Will, melepas gelombang petir yang cukup besar untuk membunuh lawannya.

Will, yang tidak ingin menjadi burnman, berguling ke samping.

Serangan yang meleset tersebut, mengenai sebuah mobil.

*KABOOM!*

Bersamaan dengan ledakan itu, muncul cahaya dan kilatan di tengah mereka, yang menghilang, dan memperlihatkan dua orang pria.

"Will, berhentilah/Jason Grace. Kau telah melewati batas." Kata dua pria itu bersamaan.


[ Outside of Hospital ]

With Naruto


Naruto memandang peluit biru gelap di lehernya.

"Kalau kau butuh tumpangan di udara, tiuplah peluit ini sebanyak dua kali. Ingat, dua kali, jangan lebih."

Naruto berdiri, dia berjalan ke pintu utama rumah sakit, sebelum sebuah ledakan memancing perhatiannya.

*KABOOM!*

Naruto terkejut tentu saja, dia mengedarkan pandangan, dan merasakan kehadiran empat orang, di lantai parkir paling bawah.

Tanpa pikir panjang, Naruto berlari kearah sana.


"A-ayah." Kata Will terbata-bata, melihat seorang pria dengan rambut emas, mata berwarna biru laut, memakai kacamata hitam, jas hitam, celana jeans hitam, serta sepatu hitam.

Apollo tersenyum lebar. "Senang bertemu denganmu lagi, nak. Bagaimana keadaan Naomi?" Sapa sekaligus tanyanya.

"Dia sehat."

"Apakah badannya masih hot seperti biasa?"

Wajah Will sedikit merah, dan Apollo menyeringai seperti idiot. "Ekspresi itu sudah membuktikan jawabannya. Aku tidak bisa menyalahkanmu, Will, ibumu memang seorang MILF di mata pria dan remaja pubertas."

"Pertanyaan yang sangat tidak berguna menurutku, Apollo."

Suara lain.

Apollo menurunkan, lalu memasukkan kacamatanya ke kantung jeans. Dia membalikkan badannya, dan menghadap ke seorang pria dengan rambut hitam panjang, dengan jenggot yang dipangkas rapi. Dia memiliki mata biru elektrik, dan mengenakan toga berwarna biru langit.

"Pops!" Kata Apollo riang, tangannya terulur ke depan. "Peluk?"

Jupiter menyilangkan kedua lengannya, tatapan datar, dingin, dan serius, tertempel di mukanya. "Aku tidak ada waktu untuk melayani candaanmu itu." Dia menoleh pada Jason. "Jason, kau sudah lalai dalam tugas yang aku berikan, sekarang, kembalilah ke perkemahan Jupiter."

Jason melotot. "Tapi, ayah—"

Mengabaikan pernyataan protes dari putranya, Jupiter menggunakan kabut untuk menghapus ingatannya mengenai misi ini.

Selesai, Dia kemudian menjentikkan jarinya, sebelum kilat menyambar Jason beserta dirinya, membawa mereka pergi dari sana.


Naruto sampai, dan melihat Will dengan Apollo sedang bercengkrama.

Dia mengalihkan pandangannya, ke sebuah mobil yang kelihatan gosong.

'Sumber ledakan tersebut ternyata itu rupanya.' Pikirnya.

"Hello paman kecil!" Seru Apollo, sambil melambaikan tangannya kearahnya.

"Hah?"


With Percy Group


Hujan telah turun.

Percy, Annabeth, dan Grover. Sedang menunggu bus di halte dengan gelisah.

Bosan, mereka memutuskan bermain sepak takraw dengan salah satu apel milik Grover.

Dari ketiganya, Annabeth tampak hebat, dia mampu memantulkan apel dari lututnya, bahunya, sikunya, bagian manapun itu. Percy juga tidak terlalu payah.

Permainan itu berakhir ketika dia melontarkan apel itu pada Grover, yang bukannya ditangkap, malah dimakan dengan mulut.

Grover berusaha meminta maaf, tetapi Percy dan Annabeth, tidak mendengar, karna sibuk terpingkal-pingkal.

Beberapa menit kemudian, bus yang mereka tunggu akhirnya datang. Mereka mengantri untuk naik, Grover memandang sekeliling, sembari mengendus-endus udara.

"Ada apa?" Tanya Percy.

"Tidak," Balas Grover. "Tidak ada apa-apa."

Percy curiga, tapi tidak mengeluarkan kata-kata.

Bus yang mereka tumpangi pun, mulai bergerak.


T-B-C


A/N: Untuk para reader setelah dipikir-pikir saya akan mengganti pairing untuk Naruto, kenapa? karna Clarisse udah punya kekasih ( Chris Rodriguez ) dan pairnya akan saya pilih sendiri, demi alur cerita.

Maaf untuk wordnya yang agak sedikit dari chap sebelumnya.

Its review time:

Jingyoxy: Makasih atas sarannya :D

bayuateng21: Kalau sama Artemis, kayanya gak bisa. dia membenci laki-laki sudah lamaaaaaaaa. jadi saya meminta maaf sebesar-besarnya.

adyp492: Saya senang jika anda suka :). Tentu, Percy akan tetap sebagai si Lightning Thief.

mike: Maaf gan sepertinya saya memang terlalu buru-buru mengenalkan karakternya ( Jason, Piper ) tapi itu demi alur cerita. Untuk Bianca, agan tenang aja saya tidak akan membunuh dia. untuk perkenalan dua anak Hades mungkin agan harus tunggu dua-lima chapter lagi.

KidsNo TERROR13: Done :D

Fahzi Luchifer: :D

naru rinne: :D

P.S: Disini ada yang sekolah di SMK Global?