DemiGod of Chaos
Summary: Setelah pertarungan melawan Pain. Naruto bertemu dengan seseorang yang membawanya pergi ke dunia asing. Sesampainya dia di dunia tersebut, kekuatan, penampilan, dan ingatannya, telah diganti dengan yang baru. Membuatnya menjadi berkepribadian yang sedikit berbeda dengan yang dulu.
Disclaimer: Naruto dan Percy Jackson and the Olympians dimiliki oleh pemiliknya masing-masing ( Masashi Kishimoto-sensei dengan Riordan ) Saya hanya meminjam karakter dan ceritanya saja.
Warning: Halfcold!Naruto
Keep Calm and Enjoy Reading!
.
.
.
Chapter 8: Kicking Ass The Traveler God
"Thalia. Mekar." kata Naruto, dengan nada kagum. "Nama yang bagus."
"Naruto. Kue ikan." kata Thalia, dengan seringai. "Nama yang bagus."
'Aku sangat yakin Thalia baru saja mengejek namaku.' Pikir Naruto.
"Kenapa namamu Naruto?" tanya Thalia, penasaran. "Maksudku, kau tidak terlihat seperti orang jepang."
Naruto mengangkat bahu. "Entahlah. Nama itu sudah melekat sejak aku lahir, Tia bilang nama Naruto diberi oleh ayahku."
"Tia?"
"Ibu tiriku, dia yang mengurus aku hingga umurku dua belas tahun." kata Naruto. "Ketika umurku bertambah, aku memutuskan kabur dari rumah."
"Kedengarannya Tia adalah orang baik," Ucap Thalia, dia menaikkan alisnya. "Lalu, mengapa kau kabur?"
Naruto menoleh ke sisi lain. Thalia yang sadar, kelihatan panik. "Naruto, aku—"
Naruto menggeleng, dia menatap sang putri Zeus, dengan tersenyum tipis. "Tidak masalah, Thalia, apa yang kau bicarakan tidak menyinggungku sama sekali." katanya.
Thalia merasa bersalah, dia hampir mengoreksi informasi yang tidak boleh diketahui olehnya.
"Thalia, boleh kutanyakan sesuatu?" tanya Naruto.
"Menanyakan apa?"
"Apa kau seorang demigod?"
Thalia mendengus sedikit. "Yah, putri Zeus." katanya.
Naruto mengangguk, sama sekali tidak tertarik dengan fakta bahwa keturunan sang raja Olympus berada di hadapannya. "Putra Chaos."
"Chaos?" Thalia kebingungan. "Nama dewa apa itu?"
'Sudah kuduga.' Pikir Naruto. 'Dalam sejarah, tidak pernah disebutkan bahwa ada seorang dewa, yang memiliki derajat lebih tinggi dari para Olympian.'
"Hey, Naruto." Thalia menggoyang-goyangkan tangannya di depan wajah Naruto. "Yuhuu. Thalia pada Naruto. Harap masuk."
Naruto sweatdrop. "Lucu sekali kau ini." balasnya dengan nada getir. "Cobalah mendaftar di sirkus. Mereka akan senang hati menerimamu."
Thalia mengiriminya tatapan lucu, sebelum memukul lengannya. "Ha! Sampai mati pun aku tidak akan mau."
Dia melihat wujud Naruto, perlahan menghilang. Thalia tersenyum sedih. "Sudah, waktunya kau pergi yah."
Naruto hanya diam, tidak mampu melakukan apa-apa.
Thalia memberi jari kelingkingnya pada Naruto. "Berjanjilah kau tidak akan melupakanku."
Naruto melakukan hal yang sama, sambil tersenyum miring. "Ya."
Tubuhnya lalu menghilang seketika dari sana, meninggalkan Thalia, yang memiliki ekspresi murung di mukanya.
Back To Normal World
Naruto menguap, dan melemaskan tangannya.
Dia melirik ke para penumpang lain, mereka sedang berantri di pintu keluar.
Naruto bangkit. Lalu menunggu giliran.
Ada seorang pria dibelakang Naruto, tampak mengawasi gerak-gerik Naruto.
Naruto melangkahkan kakinya ke jalan, dia memandang gedung-gedung pencakar langit, yang berjejeran satu sama lain.
Beberapa menit berlalu, sang putra pencipta memasuki sebuah gedung kosong.
"Ah, sepertinya aku salah masuk." gumamnya.
"Tidak juga."
Sebuah pukulan melayang dari arah belakang, Naruto menahannnya dengan sikutnya.
Gelombang kejut terjadi diantara mereka, Naruto belum selesai, melayangkan kakinya dalam posisi putaran.
*Buak!*
Tendangan tersebut sukses memukul mundur sang penyerang.
Naruto membersihkan debu yang menempel di bajunya, sebelum menghadap pada penyerangnya.
Dia melihat seorang pria berambut pasir, memiliki mata biru langit. Dia mengenakan pakaian seperti pengantar surat full-hitam.
Ia adalah Hermes. Sang dewa pejalan. Anak dari Zeus dan Maia sang Titan wanita.
"Kau rupanya," ujar Naruto. "Yang mengawasiku di kereta."
Hermes tak menyangkal hal itu. Sebaliknya, dia menunjukkan sebuah cengiran di wajah awet mudanya tersebut. "Tepat sekali!"
Naruto bergidik ngeri. "Kau... Bukan seorang stalker 'kan? Maksudku, kau bukan Hades."
"..."
"..."
"Tidak! Kau salah paham!"
"..."
"Hentikan tatapan itu dammit!"
"Kenapa kau mengawasiku?" tanya Naruto.
Hermes menyeringai. "Bukan hanya Artemis yang disuruh oleh pops untuk membawamu ke Olympus. Aku, Ares. Beserta beberapa dewa minor, juga disuruh olehnya."
"Apollo memang cerdik. Dia meminta bantuan Aphrodite untuk memberikanmu parfum penghilang bau. Sehingga Artemis kesusahan untuk melacakmu. Namun, dia melupakanku. Bahwa aku, Hermes. Mampu mengetahui dimana letak seseorang, selama orang tersebut telah menggunakan jalan atau alat transportasi."
"Kesimpulanku adalah, menyerahlah dengan tangan terbuka, lil uncle. Mungkin, pops tidak jadi membunuhmu. Jika kau jinak padanya."
Hermes menyelesaikan perkataannya, dia menunggu reaksi dari Naruto.
Bukan reaksi ketakutan, gelisah, atau pun kekhawatiran yang tampak di wajah Naruto. Melainkan, reaksi sedang menahan tawa yang ia dapat.
"Sepertinya, julukan Jack-of-all-trades memang cocok untukmu." kata Naruto, kemudian terkekeh, lalu tertawa.
"A-apa?" Hermes terkejut. "Kau, mengapa kau tertawa? Apa ada hal yang lucu?"
"Banyak." Naruto mengusap air mata tawanya. "Kau pikir, aku yidak tahu akan kemungkinan kau dapat menemukanku dengan mudah? Maaf saja, tapi aku terlalu pintar untuk tidak mengetahui hal sekecil itu."
Hermes marah.
"Oh ya, Utusan juga merupakan salah satu daerah kekuasaanmu 'kan?" tanya Naruto.
Hermes menjawabnya dengan anggukan, dia terlalu marah sampai tidak bisa berbicara.
"Beritahu Zeus." ucap Naruto, kilatan menyambar di langit. "Dia boleh mengirim siapa pun untuk mengejarku, membunuhku, atau memutilasiku." Pandangannya berubah menjadi datar. "Namun, dia melupai satu hal."
Hermes merasa tidak suka dengan apa yang akan dikatakan Naruto selanjutnya, tapi, karna penasaran dia mencoba mendengarkan.
"Apa dia tahu," Naruto mengeluarkan aura yang menginginkan kehancuran, aura yang membuat Hermes panas dingin.
"Seberapa kuat aku ini?"
*BOOM!*
*BOOM!*
*BOOM!*
*BOOM!*
*BOOM!*
Hermes bersusah payah menghindari serangan blaze blue dari Risemear. Dia tidak dapat pergi kemana-mana, karna setiap dia berlari, Naruto akan muncul di depannya.
Ironis.
"Discharge"
Naruto mengayunkan Risemear pada Hermes, Hermes membalasnya dengan sword of Hermes.
Gesekan masing-masing senjata terjadi, mereka berdua saling mengadu tenaga untuk menjatuhkan musuhnya.
Hermes dan Naruto saling melompat menjauh. Hermes menghilang dalam blur putih.
Naruto melihat banyak sekali copy dari kecepatan yang dibuat Hermes.
"Combine : Wind and Water"
Ujung Risemear tertutupi dengan kedua elemen yang disebutkan, menyatu, dan membentuk sub-element.
Wajah Naruto dihantamkan dengan beribu-ribu pukulan, membuatnya terbang hingga terjatuh.
Hermes menatap sang putra dewa pertama tidak menggerakkan tubuhnya, dia mengambil cadeceus dari kantung celananya, lalu mengubahnya menjadi sebuah handphone.
Dia berniat untuk menelepon Ares.
"Ice White : Blizzard Pursued"
Niatannya terhenti ketika, sebuah es merambat ke kakinya, kemudian menuju tangannya.
"... Kau licik."
Naruto berjalan mendekati tak-bisa-bergerak Hermes. Risemear dia selipkan di punggungnya.
"Kau menganggap pukulanmu itu lebih dari cukup untuk menjatuhkanku," ucap Naruto, dia mendengus. "Terkadang, biarkanlah musuhmu mencicipi kemenangan untuk sebentar, lalu keluarkan kekuatanmu yang sebenarnya di akhir."
Hermes mengulas senyum tips. "Ternyata benar apa yang dikatakan olehnya, kau memang penuh dengan kejutan, lil uncle."
Naruto mengerutkan dahinya, dia tidak mengharapkan Hermes tersenyum padanya. "Ini perasaanku saja, atau kau memang sedang bersandiwara denganku."
Es yang menyelimuti Hermes meleleh kemudian, Naruto bersiaga dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Setelah ini selesai, mungkin aku akan berterima kasih pada Heph."
Naruto melemaskan badannya sedikit, Risemear dia ubah kembali menjadi gelang.
"Lidah perak," kata Naruto. "Dari awal hingga akhir, aksi-aksi yang kau tunjukkan tidak lebih dari sekedar tipuan."
Hermes menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal, dia hanya bisa berseri seperti anak innocent. "Tidak semuanya palsu sih," katanya. "Pops memberi perintah untuk membawamu. Namun, aku menjalankan perintahnya hanya untuk menemuimu. Aku terpaksa bertarung melawanmu, meskipun keberuntunganku sedang buruk."
"Kau ingin menemuiku?"
"Yah, untuk memberikanmu surat dari bibi Hestia."
Dari hembusan angin, terbentuklah sebuah amplop di tangan sang dewa pencuri.
"Aku masih tidak mengerti, kenapa dia sangat antusias menuliskan surat ini untukmu."
Naruto membeku dalam diam.
Hermes memberikan amplop itu pada Naruto, yang menerimanya dengan tatapan kosong.
"Aku harus pergi ke Olympus, aku harus memberitahu pada pops bahwa aku gagal membawamu." Kata Hermes, dia memberi senyum lebar. "Jaga dirimu, lil uncle. Semoga sang dewi keberuntungan selalu bersamamu."
Hermes menghilang dalam blur putih, meninggalkan Naruto yang termenung.
Naruto melirik ke amplop di lengannya, sambil tersenyum miris.
'Aku tidak pantas menerima surat ini. Menyimpannya saja sudah cukup.'
Siang hari telah dimulai, banyak penduduk di San Francisco melakukan kesibukannya masing-masing.
Naruto saat ini sedang berada di KFC, sedang mengantri dalam memesan makanan.
Setelah memesan, dia mencari tempat yang masih kosong.
'Penuh juga,' pikirnya. Melihat-lihat semua meja yang penuh. 'Mungkin, aku harus membungkus—'
"Hooooooi! Kakak yang disana. Duduklah bersama kami, jika kau tidak punya tempat."
Naruto mengedarkan pandangan, menatap seorang remaja berambut hitam, yang Naruto kira-kira berusia dua belas tahun.
Remaja itu memiliki kulit putih mulus, kedua mata berwarna hitam. Dia mengenakan kaos hitam, celana jeans biru, serta jaket wol.
"Nico! Jangan berteriak-teriak di tempat umum. Berapa kali aku harus memberitahumu?"
Si remaja bernama Nico, dibentak oleh seorang gadis, yang Naruto asumsikan adalah saudarinya.
"Oh ayolah, Bianca, kau bukan ibu."
"Awasi mulutmu itu, Nico Di Angelo. Aku lebih tua darimu."
Naruto berdehem, mendapat perhatian dari mereka berdua. "Kalau tidak keberatan, bolehkah aku duduk bersama kalian?"
Nico mengangguk-angguk. "Tentu."
Naruto duduk di sebelah Bianca, karna Nico bilang ada orang yang menempati kursi di sebelahnya.
"Salam, namaku Naruto Hikaryuu."
"Nico Di Angelo."
"Bianca Di Angelo."
Percy, Annabeth, lalu Grover berjalan tanpa tujuan di hutan, di tepi Sungai Hudson. Mereka sudah sehari melangkah, dengan perut yang keroncongan.
"Tas kita berada di bus, semua uang kita ada di sana." kata Annabeth, dia memandang Percy dengan amarah. "Jika kau memutuskan untuk tidak terjun ke pertempuran—"
Percy membalas dengan nada yang sama. "Dan membiarkan kalian terbunuh?"
"Aku tidak perlu kau lindungi Percy!" Annabeth membentak. "Tanpa kau turun tangan pun, aku akan baik-baik saja."
"Oh, jadi ini semua salahku?"
"Benar sekali."
"Hampir diiris seperti roti lapis," celetuk Grover. "bilang baik-baik saja."
"Tutup mulutmu, goat boy."
Grover pundung. "Kaleng timah... Kaleng timah yang enak."
Mereka menapaki jalanan becek bekas hujan kemarin, dengan mencium aroma busuk di pakaian mereka.
Setelah beberapa menit, Annabeth sejajar dengan Percy. "Dengar, aku... " Dia tampak bingung mau memulai dari mana. "Aku berterima kasih. Tindakanmu kemarin di bus, benar-benar sangat pemberani."
"Aku tidak suka meninggalkan temanku di belakang. Kita ini satu tim 'bukan?" kata Percy.
Annabeth terdiam selama beberapa langkah. "Hanya saja, kalau kau mati... Selain tidak enak untukmu. Itu berarti misi ini akan berakhir. Aku berpikir, ini satu-satunya peluangku untuk melihat dunia luar."
"Waktu itu, kau bilang kau belum pernah meninggalkan Perkemahan Blasteran sejak umur tujuh tahun?" tanya Percy.
"Belum. Hanya untuk karya wisata pendek. Ayahku—"
"Dosen sejarah itu."
"Ya. Tinggal di rumah ternyata tidak cocok untukku. Maksudku, Perkemahan Blasteranlah rumahku." Kata-katanya berhamburan keluar sekarang, seolah-olah dia takut dihentikan oleh orang. "Di Perkemahan kita terus-menerus berlatih, hal itu keren. Karna itu, aku ingin pergi ke dunia luar, agar aku bisa tahu apakah aku sudah lihai atau tidak."
Annabeth menghela nafas. "Dingin sekali tubuhku ini, andai kak Naru ada disini." bisiknya pelan.
"Kau cukup berbakat dalam memegang pisau." kata Percy.
"Benarkah?"
"Siapapun yang bisa main kuda-kudaan dengan Erinyes. Cukup berbakat menurutku." canda Percy.
Dia melihat Annabeth tersenyum, senyum imut yang membuat Percy merona sedikit.
"Terima kasih."
*Tut!* *Tut!* *Tut!*
"Grover," kata Percy. "Sulingmu—"
"Hey, sulingku tidak rusak." seru Grover, tersinggung. "Aku hanya sedang mencoba mempraktekkan lagu yang aku latih kemarin."
Dia meniupkan beberapa nada, tetapi lagunya tetap terdengar seperti Hilary Duff.
Percy masih mengingat senyum Annabeth, membuatnya tidak fokus, dan membentur pohon. Menumbuhkan benjol di kepalanya.
Beberapa kilometer kemudian, mereka melihat warna-warni plang neon. Mereka mencium bau sedap.
Mereka terus berjalan sampai terlihat dua jalur terbengkalai. Yang satu mengarah ke pom bensin, yang sudah rusak. Sedangkan yang satunya adalah toko buka, dengan lampu neon dan bau sedap, yang tercium di dalam sana.
Bukan toko bagus yang didapatkan, melainkan toko kuno yang menjual barang-barang tidak wajar, yang sering ditemukan di tepi jalan.
Mereka melihat patung flamingo di teras, boneka kayu indian, beruang dari semen. Serta barang-barang lainnya.
Bagian jalan menuju pintu dikelilingi berhektare-hektare patung, dengan macam-macam ekspresi.
Percy melihat sebuah neon merah terdapat tulisan di dalamnya, sayangnya, akibat disleksianya membuatnya tidak bisa membacanya.
Baginya, tulisan itu berbunyi PTSUA BJALNEA TMANA PTUANG BBII ME.
"Tulisan apa itu." tanya Percy.
"Tidak tahu." balas Annabeth.
Dia begitu senang membaca, Percy agak lupa kalau Annabeth juga pengidap disleksia.
"Biar aku lihat," kata Grover, sang penerjemah grup. "Pusat Belanja Taman Patung Bibi Em."
Di kedua sisi pintu masuk, terdapat dua patung berjenggot cebol, sedang tersenyum dan melambai, seolah-olah akan difoto.
Percy menyebrangi jalan, mengikuti bau makanan.
"Hei!" teriak Grover.
"Lampu di dalamnya menyala," kata Annabeth. "Mungkin toko itu buka."
"Toko camilan," kata Percy, penuh harap.
"Toko camilan," kata Annabeth.
"Kalian berdua sudah kehilangan akal," kata Grover. "Tempat ini aneh! Apa kalian tidak sadar?"
Si putri Athena dan putra Poseidon menghiraukannya.
Mereka masuk ke dalam, melihat ruangan di toko itu. Ruangan itu seperti hutan patung; patung hewan, patung anak, bahkan patung satir bermain suling, yang membuat Grover bergidik.
"Mbeek!" embiknya. "Kau mirip paman Ferdinand."
Mereka berhenti di pintu gudang.
"Jangan diketuk!" mohon Grover. "Aku mencium bau monster."
"Hidungmu tersumbat gara-gara Erinyes," kata Annabeth. "Aku mencium bau burger. Kau tidak lapar?"
"Daging!" kata Grover, sebal. "Aku vegetarian, tahu."
"Kau 'kan makan enchilada keju dan kaleng aluminium," Percy mengingatkan.
"Itu sayuran, Percy."
Pintu gudang tiba-tiba terbuka, oleh seorang wanita tua.
"Hello, anak-anak. Sedang apa kalian di kediamanku?"
T-B-C
A/N: Habis nonton film Annabelle : Creation di bioskop, author kagum sama yang buat tu film.
Teletubbies masih lebih serem sih :D, menurut author.
Ok guys ini chapter 8, khusus untuk reader sekalian.
bisa kalian beritahu komunitas ffn indo? saya ingin masuk, tapi gak tahu yang mana.
mungkin para reader bisa kasih tahu ke saya.
Its review time:
assasin's : Demigod pairnya :). Yah Naruto akan melawan Akira. Oh untuk oc sepertinya saya tidak jadi, tapi terima kasih atas sarannya Assasin-san.
Firman597: Gak tentu gan.
Medd Gate'z : Bisa iyah bisa engga. tapi saya fokus sama alur, bukan pairing. Tentu :) Artems v Naruto
Uzumaki Reihana: makasih udh nunggu gan :D
naru rinne: Done :D
uzuuchi007: thanks :)
Erathia Kingdom II: makasih udh nunggu gan :D
AndromaliuS: Done :D
noval: thank you :D
