Game On

.

Characters belong to Masashi Kishimoto.

.

This Is SasuHina Story!

Alternative Universe! Out Of Character! Plot Rush! Unbetaed! Grammatical Errors! Typical Errors!

You've been warned!

.

And please note that I already got you warned for possibility of big ass twist in the future.

.

Inspired by an romance action-romance yang saya lupa judulnya T.T

.

.

.

"Hey, Hinata," Hinata mengentikan langkahnya dan berbalik untuk bertatap muka dengan si penyapa yang tak lain adalah Tenten. Gadis yang selalu mencepol dua rambutnya itu tersenyum kecil ke arah Hinata. "Aku baru saja kembali dari misi," ujarnya singkat setelah menyadari lavender Hinata melirik pistol di pinggangnya.

"Ohh," Hinata mengangguk, bergumam sambil membalas dengan senyum tipis. "Aku... harus bergegas. Untuk rapat pengarahan."

"Benarkah? Kalau begitu, kita kesana bersama."

Hinata kembali tersenyum. Di satu sisi, Hinata senang menemukan seseorang seperti Tenten disini yang sepertinya merupakan satu-satunya orang yang tak menginginkan Hinata dikubur hidup-hidup. Tapi di sisi lain, Hinata merasa agak aneh karena beberapa tahun belakangan ini ia tak terbiasa memiliki seseorang yang bisa disebut teman.

Selama langkah mereka menuju ruang rapat, Hinata mendapati beberapa agen yang dilewatinya berbisik—namun terlalu keras sehingga ia dapat mendengarnya. Kebanyakan menggunjing betapa menyedihkannya Hinata yang mendapatkan posisi di agensi ini dengan mudah karena ayahnya.

"Bagaimana latihan militermu dengan sang iblis?" Tenten bersuara, membuat Hinata menarik kembali perhatiannya dari bisik-bisik murah itu.

"Iblis?"

"Ya," Tenten mengangguk. "Maksudku, kau memang baru mengenalnya satu hari. Tapi aku yakin kau bisa menarik kesimpulan bahwa Thunder bukanlah tipikal orang pada umumnya, bukan?"

"Ya, benar sekali," Hinata bergumam mengiyakan, namun ekspresinya ia tahan tetap datar. Sudah lama sekali sejak ia berkomunikasi secara kasual seperti ini, rasanya agak kikuk. "Tapi sebenarnya, kemarin kami tidak bertemu dalam waktu yang lama," Hinata ingat kemarin Agen Thunder Yang Agung itu pergi dari area pelatihan bahkan sebelum sepuluh menit setelah ia memerintahkan Hinata.

Mereka memindai lencana masing-masing untuk mengakses lantai empat belas.

"Jadi... menurut pendapatmu, bagaimana dia?"

Hinata hanya mengedikkan bahu.

"Sayang sekali dia merupakan agen terbaik disini," Tenten malah mengutarakan opininya. "Dan dia tahu tentang itu, jadi mungkin itu yang membuatnya besar kepala. Tapi harus kuakui sih, melihat hasil kerjanya selama ini, dia punya hak untuk pamer," kekehnya.

Hinata tertawa kecil.

"Dia itu benar-benar tidap peduli dengan apapun, bahkan dirinya sendiri."

"Apa maksudnya itu?" Hinata akhirnya buka suara.

"Yah, dia tidak takut apapun yang akan terjadi meski pada dirinya sendiri. Kurasa itulah mengapa dia menjadi begitu... tak terkalahkan," ujar Tenten setelah menemukan kata yang tepat. "Tidak seperti kebanyakan dari kita yang masih menyayangi nyawa sendiri, dia seperti bajingan ceroboh yang hampir tak pernah mempertimbangkan akibat dari apa yang dilakukannya."

Hinata berkedip sekali kemudian meluruskan pandangannya kembali. "Jadi dia orang yang seperti itu, ya?" gumam Hinata. Pikirannya menerawang, jika ya, kenapa ayahnya mengambil resiko untuk membuatnya bekerja sama dengan partner seperti itu?

"Hmm," Tenten mengangguk. "Dia seperti lebih suka bekerja sendiri. Itulah kenapa dia... menembak mati enam partner kerja sebelumnya."

"Dia membunuh semuanya?" mata Hinata melebar.

"Semua kecuali Agen Wind. Kurasa itu karena mereka sama-sama gilanya," Tenten tertawa kecil. "Sekarang kau tahu kan kenapa beberapa orang kasian padamu karena dipartnerkan dengan Thunder?"

Kening Hinata berkerut. "Jika tahu begitu, kenapa dia tidak dipecat?"

"Sudah kubilang, karena dia yang terbaik, hampir tidak ada yang menyamai kemampuan serangnya. Tubuhnya memang tidak terlihat seperti tubuh mesin pembunuh, tapi percayalah, dia bisa dengan mudahnya membuatmu memohon untuk berhenti saat latihan tanding."

Hinata kehilangan kata-kata. Ia baru saja menyadari telah dipartnerkan dengan seorang monster.

"Tapi kupikir kau berbeda," tambah Tenten lagi, kali ini sambil menepuk bahu Hinata pelan tanpa menghentikan langkah mereka.

"Bagaimana bisa?"

"Kau tidak seperti seorang agen, kau tidak terlihat mengancam," jawab Tenten dengan senyum. Dan Hinata setuju tentang itu.

Detik itu juga Hinata mengingat apa yang ayahnya katakan. 'Kau ceroboh dan tak pernah menyentuh bidang ini.'

"Kita berpisah disini, sampai jumpa," Tenten melambaikan tangannya saat mereka menemukan koridor yang menyimpang tiga. "Semoga sukses, Hinata."

Hinata mengucapkan terima kasih kepada Tenten yang sudah bergerak ke arah yang berlawanan dengannya. Ia kemudian meraih salah satu pintu dan membukanya. Di dalam ruangan itu ada sebuah meja kaca yang kursinya sudah terisi oleh beberapa orang yang menurutnya masih asing.

Hingga ia melangkah lebih dalam mendekati meja, Hinata dapat melihat partnernya, mengenakan jaket hitam dengan tudung yang menyembunyikan sebagian wajahnya. Dua lainnya yang memakai pakaian yang terlihat kasual.

"Agen Hyuuga, Aku Jendral Hatake," lelaki dengan masker yang menutupi mulut dan hidungnya itu menyapa seketika Hinata tiba. Karena jarak mereka yang terpisahkan meja kaca, Hinata hanya mengangguk dan membungkuk sebagai respon. "Aku ketua unit ini," tambah lelaki bernama lengkap Hatake Kakashi itu.

"Ketua?"

"Ya. Jika kau sulit mengartikan kata itu, cukup pahami bahwa Kakashi adalah induk ayam, dan kita anak-anaknya, jelas?" Thunder menyela dengan kasar. Untuk beberapa saat Hinata memikirkan tentang adakah kemungkinan untuk mengerjai seniornya yang satu itu.

"Jaga sikapmu, Thunder," Kakashi menengahi dengan nada bicara yang masih luar biasa tenang.

"Itu hal yang sulit kulakukan," jawab Thunder.

"Duduklah, Agen Hyuuga."

"Anda bisa memanggil saya Hinata," ujar Hinata sebelum mengambil tempat di salah satu kursi yang tersedia.

Kakashi mengangguk pelan. "Kau pasti sudah bertemu dengan Thunder, jadi tidak perlu kuperkenalkan. Dan yang satu ini, kau bisa memanggilnya Konan," Kakashi menunjuk ke arah seorang wanita dengan surai biru pendek. "Katakan saja dia adalah otak dari tim kita."

"IT-freak lebih tepatnya," simpul Thunder.

"Terima kasih banyak, Troll," Konan menyerang balik kemudian mengirim senyum ke arah Hinata. "Aku senang akhirnya mendapatkan rekan cantik lagi di tim ini," ujarnya.

"Dasar wanita," Thunder mendecih.

"Bicara saja kau dengan bokongku!" sela Konan lagi atas cibiran Thunder.

"Tidak di tempat umum, Sayang," balas Thunder enteng berbonus seringai ringan di bibirnya.

"Cukup sudah! Kita tidak memiliki waktu untuk mendengarkan gombalan primitifmu, Thunder," lagi-lagi Kakashi bertindak sebagai penengah. "Ini, Hinata. Semua informasi tentang misi pertamamu ada disitu," Kakashi mendorong sebuah tablet di atas meja kaca ke arah tempat Hinata duduk. "Dimulai delapan minggu kedepan. Jadi kuharap, Thunder bisa membuatmu siap untuk misi ini."

"Mustahil!" protes Thunder. "Aku butuh setidaknya dua ratus tujuh puluh tujuh tahun untuk membuat marmut ini siap secara mental dan fisikal," lanjutnya menghiperbola.

Hinata memilih untuk mengabaikan kata-kata pedas Thunder. "Aku akan mencoba sebisaku, Jendral."

"Ya, kau harus!" itu masih Thunder yang menyahut. "Aku masih tidak mengerti kenapa dia bisa ada disini," protesnya entah ditunjukkan kepada siapa. "Aku yakin dia akan terbunuh di misi pertamanya, itupun jika aku memutuskan untuk tidak membunuhnya terlebih dahulu."

"Kau tidak akan melakukannya, Thunder. Aku yakin kau tahu konsekuensinya jika kau membahayakan partnermu lagi," Kakashi memperingatkan Thunder dengan nada rendah yang serius dan Thunder mengeraskan rahangnya, namun tak membalas lebih lanjut. "Kau tidak diberi pilihan. Hinata adalah partnermu. Latih dia sesuai perintah dan jangan menentang itu. Dan akan lebih baik jika kau bisa belajar menahan amarahmu kapanpun."

Untuk beberapa saat, Hinata mencoba memposisikan dirinya di tempat Thunder. Dan ia menyadari mungkin mereka memiliki kesamaan. Mereka sama-sama ingin memberontak, namun tak memiliki pilihan untuk itu.

"Setelah latihanmu selesai..." Kakashi kembali bersuara. "Kita akan mengadakan pertemuan lagi tentang misi. Aku rasa Wind dan Agen Haruno akan hadir. Mereka juga bagian dari tim namun tidak secara aktif menangani misi yang sama denganmu. Jadi Hinata... kuharap kau mengerti bahwa apa yang kita lakukan bukanlah hal main-main."

Meskipun begitu serius dan disiplin, Kakashi terlihat lebih ramah daripada ayahnya. "Aku punya pertanyaan yang sebelumnya tak benar-benar terjawab oleh Jendral Hyuuga," ujar Hinata dengan nada datar. "Ini menyedihkan, tapi Thunder benar, aku mungkin tidak akan bertahan di misi pertamaku. Dan banyak agen yang sudah berpengalaman, jadi kenapa aku?"

Meski bibirnya tertutup masker, senyum Kakashi tetap dapat terlihat hanya dengan memandang matanya. "Kau belum mencobanya. Thunder akan menjadi penyokong untukmu. Kau adalah tanggung jawabnya, begitu juga sebaliknya. Itulah gunanya rekan, bukan?"

"Jangan seret aku ke dalam percakapan tolol kalian," cibir Thunder yang ternyata mendengar dialog Kakashi dan Hinata. "Berpartner dengannya sudah menjadi bualan untukku."

Kakashi menatap malas anak buahnya itu. "Jadi kau lebih senang bekerja bersama Wind? Mungkin aku bisa mengaturnya."

"Daripada itu, aku lebih memilih menjadi pakan beruang."

"Kalau begitu diam dan lakukan apa yang harus kau kerjakan," ujar Kakashi sebagai final sambil menyodorkan berkas kepada Thunder. "Baca dan cermati itu," ujarnya final.

"Jangan heran, hal ini selalu terjadi," bisik Konan kepada Hinata, merujuk pada percekcokan tak berbobot yang sedang terjadi.

"Biodata? Kau menyuruhku membaca biodata? Kau pikir aku tidak punya hal lain yang lebih penting untik dikerjakan?" Thunder kembali melempar protes kepada sang ketua tim.

"Kau tinggal di area ini, Thunder. Kau makan cemilan dari mesin penjual otomatis di kantin. Kau tidak memiliki kekasih, dan aku yakin belum pernah. Kau tidak keluar dari apartemenmu kecuali untuk membeli makanan siap saji dan kau tidur seperti beruang dalam masa hibernasi. Jadi ya, kusimpulkan kau tidak memiliki hal penting apapun untuk dilakukan," penjabaran Kakashi membuat Thunder menyipit kesal. "Lagipula itu bukan hanya biodata, semua informasi tentang rekan dan targetmu ada disana. Jadi pelajarilah," ujarnya sebelum berdiri, tanda pertemuan kali ini telah cukup.

"Hei, Hinata," panggil Konan setelah Kakashi menghilang di balik pintu. "Sepertinya kita perlu menghabiskan waktu bersama kapan-kapan."

"Untuk apa? Bermain tik-tak-toe?" cibir Thunder angin-anginan sambil membolak-balik berkas tanpa minat.

"Bisa tidak kau sehari saja tidak berbicara seperti bajingan?"

"Maaf saja, tapi sepertinya itu bakat alamiku."

"Menyebalkan!" Konan bersungut.

"Kalau sudah kau bisa pergi. Aku perlu memberitahukan marmut disana itu tentang beberapa hal," kalimat itu ditunjukkan untuk Konan, namun Thunder menggesturkan gerakan yang mengarah ke Hinata.

Selama mereka bercekcok hingga Konan merapikan barang-barangnya, Hinata masih mencermati berkas yang tadi diberikan, yang termasuk pula tentang informasi Agen Thunder di dalamnya.

Uchiha Sasuke (Thunder)
27 tahun.
Progres: Tingkat 3 (saat 16 tahun); Tingkat 4 (saat 18 tahun); Tingkat 5 (saat 21 tahun)
Jumlah misi sukses: 483 (294 berturut)
Jumlah misi gagal: 0
Terdesak: 31
Menang mudah: 106
Jumlah terbunuh: 562 (termasuk 73 penduduk sipil)
Penahanan: 7 kali (6 karena melanggar aturan)

"Kau!" suara berat itu menghancurkan konsentrasi Hinata seketika.

Thunder... Uchiha Sasuke. Sedikit informasi tadi sepertinya cukup untuk membuat Hinata kesulitan bernafas. Bagaimanapun, dirinya menyadari bahwa ia tengah duduk satu ruangan dengan seorang pembunuh masal.

"Aku tidak peduli siapa kau atau siapa ayahmu. Yang harus kau pahami adalah apa yang harus kau lakukan disini. Dan aku memiliki beberapa aturan mudah yang harus kau patuhi jika kau masih ingin bernafas," oniks kelamnya menatap tajam Hinata. "Jangan bicara padaku tanpa kepentingan. Jangan memancingku ke dalam percakapan. Jangan menantangku. Jangan mendekatiku saat aku tidur. Jangan sentuh makananku. Jangan menghambatku. Jangan membuatku marah. Dan jangan sok pintar di hadapanku. Jelas?"

Bibir Hinata masih terkatup rapat, namun matanya balas menatap Thunder. "Sasuke," gumamnya tanpa sadar.

Thunder—Sasuke— yang mendengar gumaman rendah itu berkedip sekali sebelum memalingkan wajahnya.

"Maaf," tambah Hinata.

"Kau baru saja melanggar peraturan pertama," desisnya, kini atensinya ia berikan pada berkas di hadapannya. "Hyuuga Hinata. Dua puluh empat tahun. Peringkat tiga teratas paralel di sekolah dasar, menengah dan atas. Enviromental and Natural Resource Science Universitas Tokyo, sarjana, satu dari enam belas lulusan terbaik. Natural Science Universitas Cambridge, tidak tuntas. Gila! Siapa sebenarnya kau ini? Cucu Einstein? Sial! Apa yang kau lakukan disini?" racau Sasuke setelah membaca dengan keras sebagian informasi Hinata.

"Menurut data, kau juga telah masuk agensi ini sejak usia lima belas tahun, atau bahkan lebih muda lagi. Apa saja yang kau lakukan disini?" balas Hinata.

Kening Sasuke mengeryit tak suka. "Dan tadi itu, kau melanggar peraturan kedua," Sasuke berdiri dari kursinya. "Terlambat dalam latihan besok dan kau akan merasakan neraka," ujarnya sebelum beranjak keluar.

..

...

..

"Uppercut."

Dengan gerakan yang masih kaku, Hinata menekuk lengannya kemudian menariknya ke belakang, sedikit membungkuk ke depan dan meninju sandbag di hadapannya dari arah bawah.

"Backfist."

Hinata menggertakkan gigi saat menghantam sandbag dengan dua pangkal buku jari terluar kepalannya.

"Spinning backfist."

Hinata berputar satu kali sebelum melakukan gerakan serupa.

"Overhand."

Setelah Hinata melakukan perintah itu, Sasuke berdiri dari kursinya. Mulutnya bergerak santai mengunyah keripik kentang yang sejak awal menemainya menonton latihan Hinata.

Sementara Hinata, berdiri disana dengan nafas tak teratur, kelelahan dan terlapisi keringat. Ia melempar tatapan tajam ke arah Sasuke namun segera mengalihkan matanya lagi sebelum sang mentor mengetahuinya.

"Hook," ujar Sasuke lagi, tangannya kembali memasok keripik kentang ke dalam mulut.

Hinata menarik nafas dalam sebelum menggerakkan tangannya lagi. Menggerakkannya secara horizontal di depan lehernya. Dan saat ujung kepalannya berbenturan dengan target, ia mendengar Sasuke berdecih. "Apa?" tanya Hinata setelah menegakkan tubuhnya.

"Sebagaimanapun kau mencobanya, kau tidak akan bisa menghancurkan satu rahangpun dengan lengan barbie-mu itu."

Hinata mengabaikan komentar kejam itu. Rasanya sekarang ia sudah terbiasa dengan sikap gila Sasuke. Lagipula, sebelum masuk dalam agensi inipun, ia sudah sering direndahkan.

Sudah lebih dari satu minggu. Dan segala yang Sasuke lakukan hanyalah duduk manis menonton dan mengomentari setiap pergerakan yang Hinata lakukan. Sasuke bahkan tak mengajari Hinata apapun, pria itu memerintahkan salah satu agen tingkat tiga untuk mengajari Hinata gerakan dasar selama empat hari pertama, dan selanjutnya Hinata mencoba mengasah stamina dan gerakannya sendiri.

Hinata tidak bisa membayangkan bagaimana dirinya akan mampu bertahan barang satu hari untuk menjalani misi dengan pria itu.

"Shovel hook," Sasuke kembali melanjutkan titahnya, telapak tangannya saling menepuk demi meruntuhkan remah-remah keripik yang menempel.

Satu hal lagi yang Hinata simpulkan tentang Sasuke. Bahwa pria itu sama sekali tidak memperhatikan penampilannya ataupun bagaimana orang lain memandangnya. Pada dasarnya pria itu adalah mesin pembunuh, seperti yang dikatakan hampir seluruh agen disini menyebutnya. Dan Hinata mulai percaya akan sebutan itu.

Sasuke melakukan apa yang diperintahkan, meski terkadang melakukan pembangkangan. Dia tidak terlalu mempertanyakan perintah, meski menurut Hinata pria itu merupakan tipikal yang cukup cerewet. Ia juga tak mempedulikan bayaran yang ia terima. Hinata mendengar dari Tenten bahwa Sasuke telah mengumpulkan banyak uang dengan semua yang ia kerjakan selama ini, namun pria itu hampir tak pernah menggunakannya.

"Aku... tidak tahu caranya," respon Hinata dengan gumaman rendah, telapak tangannya membuka dan mengepal karena kesal.

Sasuke mengangkat satu alis mendengarnya, dia lengannya ia silangkan di dada. "Jadi?"

"Jadi? Apa maksudmu?" balas Hinata.

Sasuke memutar bola matanya malas dan melangkah mendekati Hinata yang malah mundur seiring mendekatnya Sasuke. Tangannya terangkat ketika jarak mereka sudah dirasa cukup dekat.

"H-hey!" Hinata terkejut saat tanpa aba-aba Sasuke menyentuh pergelangan tangannya. Dengan satu gerakan cepat, Sasuke memutar tubuh Hinata hingga kembali menghadap sandbag. "Apa... apa yang kau lakukan?"

"Memberimu pelajaran," Sasuke menendang satu kaki Hinata pelan hanya untuk memberi jarak terhadap kaki yang lainnya, kemudian tangannya ia letakkan di siku Hinata, sedikit menggerakkannya seolah Hinata adalah boneka.

"Mengajari apa?" Hinata mulai merasa tak nyaman dengan sentuhan ringan yang diterimanya.

"Lullaby musim semi, Manis. Datang dari gereja tua di ujung desa, ring... ring... lonceng paskah berdering," sambil kembali memutar bola mata, Sasuke melantunkan jawaban asalnya tanpa minat.

Hinata berkedip, menyadari telah menanyakan hal yang tak perlu ditanyakan. Salahkan Sasuke yang berdiri terlalu dekat dengannya, terlalu dekat hingga ia bisa merasakan hembusan nafas Sasuke mengenai ubun-ubunnya. Tanpa sadar, Hinata mengambil satu langkah kecil ke depan.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Sasuke memprotes gerakan Hinata.

"Huh? Apanya?"

Sasuke berdecih kemudian kembali meraih lengan Hinata untuk memposisikannya pada sudut yang tepat. "Seperti uppercut, dengan arah menyilang," jelas Sasuke singkat sambil mendemonstrasikannya langsung dengan menggerakkan lengan Hinata.

"Baiklah, aku mengerti," ujar Hinata cepat lalu mengambil satu langkah menjauh.

Bukan kedekatannya dengan Sasuke yang membuatnya gugup, hanya saja sudah terlalu lama rasanya sejak Hinata menjaraki diri sedekat itu dengan seorang lelaki. Dan itu sama sekali membuatnya tak nyaman.

Sasuke juga mundur selangkah. "Baiklah. Sekarang perlihatkan padaku apa saja yang kau pelajari."

Hinata menatap Sasuke beberapa detik, lalu mengalihkan pandangannya dan menghela nafas sebelum tiba-tiba mengangkat kaki kanannya tinggi-tinggi untuk menyerang Sasuke. Meski cukup tiba-tiba, Sasuke dengan sigap menghindarinya.

Hinata berkedip, mungkin gerakannya tadi cukup bagus karena ia tak mendengar komentar pedas dari mulut Sasuke. "Bagaimana, Agen Thunder?" tanya Hinata.

"Senior Thunder, Hot Chicks!" Sasuke mengoreksi.

Hinata tak pernah merasa dilecehkan secara verbal meski Sasuke sering memanggilnya dengan panggilan kurang layak saperti tadi. Malahan, Hinata tidak pernah berpikir jika Sasuke adalah tipikal yang memikirkan soal kehidupan seksualnya.

Dari apa yang didengarnya, Sasuke memang bertingkah seperti bajingan kepada siapapun tanpa peduli gender. Pria itu juga jarang keluar area agensi kecuali saat misi. Dan sepanjang karirnya, tak seorangpun pernah melihat Sasuke bersama seseorang dalam hubungan yang khusus. Bukti lain bahwa Sasuke tak peduli pada dirinya sendiri dan bahwa pria itu merupakan manusia datar jika bukan karena perilaku kasar dan mulut kejamnya.

"Cukup untuk hari ini," ujar Sasuke.

Bagi Hinata sendiri, hari ini jauh melebihi kata cukup. Sekujur tubuhnya seperti remuk, tiap sendinya ngilu. "Jika aku harus melakukan ini setiap hari, mungkin aku akan mati bahkan sebelum misi dimulai," gumam Hinata.

"Manis, pada akhirnya pun kau akan mati. Tidak perlu terlalu keras memikirkan waktunya, oke?" Sasuke menyeringai tajam.

"Aku diizinkan melayangkan komplain ke Jendral Hatake, bukan?" mata Hinata menyipit.

"Dan aku juga akan mengizinkan diriku sendiri untuk menendang bokongmu jika kau bertindak bodoh."

Hinata memalingkan wajah, agak tak nyaman dengan kata-kata Sasuke. Benar, bukan? Pria itu sungguh tidak bisa memilih kata yang lebih pantas bahkan saat berbicara dengan seorang wanita.

"Jadi begitu?" ujar Hinata. "Aku mengatakan sesuatu dan kau mengancam akan membuat sebuah peluru menembus kepalaku, begitu?" cibirnya.

"Begini..." Sasuke mengambil langkah mendekat. "Kita sama-sama tidak menginginkan hal yang tidak menyenangkan terjadi, bukan?" tanyanya dan tanpa menunggu Hinata menjawab ia meneruskan. "Aku pun tidak ingin jika nantinya ayahmu melemparku masuk ke kandang kucing itu lagi. Jadi kubilang sekali lagi, jangan memprovokasiku."

"Dia tidak akan bertindak apapun karenaku," gumam Hinata.

Sasuke menatap Hinata beberapa detik sebelum bersuara. "Masalah ayah dan anak, huh?" tebaknya enteng.

"Bukan urusanmu, Senior Thunder," Hinata membalas dengan menekankan nada bicaranya saat menyuarakan panggilan terhadap Sasuke.

"Kau tahu? Kau sudah beberapa kali membuatku jengkel hari ini."

"Ya, sepertinya aku sudah melanggar beberapa peraturan. Lalu apa? Tidakkah seharusnya kau menghukumku?"

Mata Sasuke menyipit memandang tajam. "Jangan terlalu mengharapkannya, Manis. Aku bisa saja mengabulkannya kapanpun aku inginkan."

"Kau tahu? Aku masih tidak percaya kau merupakan agen tingkat lima. Maksudku, aku memang belum pernah melihatmu beraksi, tapi kau terlihat tidak begitu menjanjikan," komentar Hinata mulus.

Senyum kecil membentuk di bibir Sasuke sebelum ia melepas kausnya sendiri, memperlihatkan tubuh kerasnya. Untuk sesaat, Hinata berdiri dengan keadaan seperti kehilangan kesadaran ketika lavendernya jatuh pada tato berukuran sedang di bagian kanan perut Sasuke.

Hinata menggigit bibir dan memalingkan wajahnya dari permukaan perut yang tercetak sempurna itu, dalam diam masih memuji tato yang sebagian masih tertutup celana. Dengan pakaian, Sasuke terlihat seperti pria biasa. Tapi kini Hinata bisa melihat betapa kokohnya raga di hadapannya itu.

"Kudengar kau bisa berbahasa Mandarin?" tanya Sasuke tenang sambil mengambil langkah mendekati sandbag yang sebelumnya digunakan Hinata.

"Ya."

"Kalau begitu kurasa kau tahu arti dari 'Yoo Aeh Sho Fu Qing Dum'?" Sasuke menyeringai.

Hinata menggertakkan gigi. Itu bukan bahasa Mandarin, tapi Hinata tahu jelas artinya. "Aku benar-benar tidak percaya kau seorang pembunuh masal di agensi ini," balas Hinata. Matanya kembali mengarah ke gambaran tato Sasuke yang panjangnya mencapai dasar tulang rusuk pria itu. Ia tak yakin bentuk apa gambaran tato itu, antara terlihat seperti seekor binatang dan juga kobaran.

Sasuke seakan tak mempedulikan apa yang Hinata katakan. Ia menggerakkan ringan tubuhnya sebagai pemanasan kecil sebelum mulai membantai sandbag di hadapannya dengan berbagai macam tinjuan.

Setelah beberapa tinjuan pada sandbag, Sasuke memutar tubuhnya cepat sebanyak dua kali dan mengangkat satu kakinya, mengarahkannya ke tempat Hinata berdiri. Hinata yang lengah tak begitu menyadari serangan itu. Ia terdiam di tempatnya dan kemudian yang ia rasakan adalah terpaan angin terhempas ke wajahnya.

"Roundhouse kick," singkat Sasuke setelah menarik kakinya kembali.

Hinata berkedip beberapa kali menelaah apa yang barusan terjadi. Sasuke terlihat hendak menyerangnya tadi, dan kemudian Hinata melihat kaki kokoh itu melayang cepat di hadapannya, hanya beberapa inci dari ujung hidungnya! Tanpa sadar Hinata menelan salivanya sendiri.

Sasuke sudah berdiri dengan postur kasualnya lagi di depan Hinata, tangannya ia letakkan di pinggang. "Sekarang, jika kau tidak ingin tendangan itu tepat mengenai wajahmu, sebaiknya kau belajar untuk menjaga agar mulutmu tetap tertutup, mengerti?"

Hinata mengangguk, dirinya kini seakan terhipnotis.

"Sudah kubilang. Jangan bertingkah sok pintar di hadapanku. Aku tidak ingin membunuhmu yang pada akhirnya hanya akan merugikan kita berdua," lanjut Sasuke. "Dan satu lagi, jika kau menggagalkan misi kali ini, kupastikan darahmu akan terserap seluruhnya dari dalam tubuhmu."

Hinata mengawali respon ancaman itu dengan senyum kecil, yang sama sekali tak diantisipasi oleh Sasuke. "Kau bukan orang pertama yang hobi merendahkan dan mengancamku, Agen Thunder. Setiap kali kau mengatakan akan membunuhku, lebih terdengar seperti alunan musik di telingaku."

Sasuke menukikkan sebelah alis menatap Hinata tertarik atas apa ang wanita itu katakan sebelumnya.

"Kau tidak peduli tentang hidup atau mati, begitu juga denganku. Kau bisa mengancamku sesering apapun dan aku tetap tidak takut akan itu. Jadi silahkan lakukan apapun yang kau inginkan, aku tidak peduli," jelas Hinata.

Masih dengan oniks yang menatap wanita di hadapannya, Sasuke menyeringai lebar tanpa menyuarakan apapun. Sejurus kemudian ia bergerak, mengambil kausnya yang tergeletak di lantai sebelum berjalan keluar tanpa repot memakai kausnya kembali.

"Kita lihat nanti, Manis," ujarnya tanpa membalikkan tubuh ataupun menghentikan langkah.

.

to be continued...

..

.

Lagi-lagi dengan ke-ooc-an yang tiada tara wkwk... enjoy guyss~~~

Thanks yang udah read, fav, follow and review fic ini, please keep kepoin seterusnya wkwk...
Maaf ngga sempet bales review satu-satu, but I say Hi buat yang review, salam kenal juga dan ya kalian bisa manggil saya sky atau ren/ran (I prefer that than thor tho wkwk)
Go check 'skyrans' on wattpad too *shameless promotion*... eh tapi beneran, disono lebih gampang kalo mau ngerumpi sama saya wkwkwk

Udah ah, toodles~~~

Still mind to review?