Game On

.

Characters belong to Masashi Kishimoto.

.

This Is SasuHina Story!

Alternative Universe! Out Of Character! Unbetaed! Grammatical Errors! Typical Errors! Plot lambat!

You've been warned!

.

And please note that I already got you warned that anything can happen.

.

Inspired by an romance-action novel yang saya lupa judulnya T.T

.

.

.

"Diam!" suara Konan adalah hal pertama yang merenggut atensi Hinata saat ia memasuki koridor. "Kubilang berhenti, Yahiko!"

"Tapi rambutmu ini lembut sekali," berikutnya suara Yahiko menyahut.

"Oh ayolah, Yahiko, berhenti mengganggunya," dan yang barusan ini Hinata kenali merupakan suara Tenten.

Sesungguhnya, Hinata sama sekali tak ingin bertatap muka dengan Yahiko mengingat sikap pria itu yang sama sekali tak ada ramah-ramahnya, tapi memang tak ada jalan lain yang bisa ia lewati untuk masuk ke area latihan. Oh ada, tapi Hinata perlu memutari separuh area agensi untuk mencapai pintu itu. Dan Hinata tak mau repot-repot memilih pilihan kedua.

Disana ia melihat Sasuke, netra pria itu begitu menyelidik memandang mesin penjual otomatis yang disediakan, terlihat sangat serius seakan ia tengah mencoba mengambil keputusan terbaik untuk hidupnya.

Dan Hinata lagi-lagi menemukan bahwa Sasuke adalah jenis manusia yang aneh. Hinata bahkan sering kali melihat Sasuke—yang notabene merupakan agen terbaik itu—merobek lebar kemasan wafer cokelat hanya untuk mendapatkan remah-remah yang tersisa dan lelehan cokelat yang menempel pada kemasan itu.

Sasuke adalah partner kerja Hinata. Namun sampai sekarang mereka belum pernah berbagi dialog dalam suasana yang baik. Hinata sendiri tidak masalah jika mereka mulai saling bertegur sapa. Tapi masalahnya ada di Sasuke. Pria itu sangat tidak peduli akan relasinya dengan yang lain, seperti memang tak membutuhkan orang lain. Sasuke sudah terlihat sangat bahagia atas hidupnya hanya dengan membunuh dan memakan cemilan dari mesin penjual otomatis.

"Hei, Hinata," Tenten menyapa sambil melambaikan tangannya. Hinata membalas memandang dan tersenyum kecil. Sedetik kemudian matanya melirik Sasuke yang ternyata masih berdiri di depan mesin penjual otomatis merenungi keputusan hidup-matinya.

"Rupanya kau sudah berteman dengannya, ya?" Yahiko berkata kemudian meletakkan satu lengannya ringan di sekeliling bahu Hinata. Hinata mencoba menarik diri, namun Yahiko mengencangkan lingkaran lengannya, kuat untuk menahan Hinata namun tak cukup kuat untuk menyakiti wanita itu. "Mau kemana, Bunny?"

"Yahiko! Berhenti bertingkah kekanakan!" seru Konan, di sisi lain Tenten melirik Sasuke yang kini sudah selesai dengan pilihannya dan hendak mengambil cemilannya.

"Sudahlah. Ayo pergi," Tenten membujuk tajam namun Yahiko masih merangkul Hinata erat.

"Kenapa? Aku hanya ingin mengakrabkan diri dengannya dan mungkin kami bisa menghabiskan waktu bersama untuk bersenang-senang nanti," racau Yahiko dengan seringai lebar. "Aku penasaran tipe seperti apa yang bisa memuaskan nona kita yang satu ini," lanjutnya dengan nada melecehkan.

"Yang pasti bukan tipe sepertimu karena milikmu itu terlalu kecil," Sasuke mengintrupsi saat melewati mereka tanpa melirik ataupun menghentikan langkahnya. Sambil terus berjalan, Sasuke membuka bungkus protein bar yang baru ia beli dan mulai menggigit isinya.

Seketika Yahiko merenggangkan rangkulannya pada Hinata, seringainya pun runtuh. Satu kalimat dari Sasuke seakan sudah lebih dari cukup untuk menjungkir balikkan suasana hatinya. Ia kemudian berlalu.

"Wow," Konan yang ternyata sudah berdiri di samping Hinata, berkomentar singkat.

"Kenapa?"

"Sepertinya tadi itu pertama kalinya Thunder berbicara untuk membela orang lain."

Hinata mengangkat satu alis. "Itu tidak bisa disebut pembelaan. Dia sama saja dengan Yahiko, atau mungkin lebih parah," protesnya.

"Tapi dia sungguh unik, bukan?" tanya Konan.

"Maksudmu agen Thunder?" Hinata mengangkat sebelah alis.

Konan mengangguk. "Di sini dia digadang-gadang sebagai agen terbaik, namun kepribadiannya agak... konyol," ujarnya hati-hati. "Kau lihat sendiri caranya memilih cemilan. Dan kau tahu apa? Dia juga tak tahu apa-apa tentang Spongebob Squarepants. Dan saat mengetahuinya bulan lalu, dia dengan persistennya memprotes tentang konsep laut di bawah laut pada kartun itu seperti anak kecil yang tidak terima jika ada yang mengatakan bahwa superhero tidaklah nyata."

Hinata diam sejenak. "Itu... aneh," responnya, meskipun ia sendiri tak mengerti kenapa Konan menceritakan hal itu.

"Benar, kan!" Konan mengangguk semangat. "Omong-omong, selamat berjuang untuk latihan hari ini. Thunder terlihat sedang dalam suasana hati yang baik tadi, mungkin itu akan menguntungkan untukmu."

Hinata terkekeh pelan. "Ya, terima kasih."

..

...

..

Setelah mengganti pakaiannya, Hinata memasuki area latihan dan menemukan Sasuke bermain dengan sebuah senjata api.

"Kau terlambat," ujar Sasuke tanpa mengalihkan pandangannya dari benda di tangannya.

"Aku datang lima menit lebih awal," sanggah Hinata.

Sasuke menegakkan posisi duduknya namun masih belum mau mengangkat pandangannya. "Kau terlambat. Lima putaran segera," titahnya mutlak.

Hinata menghela nafas panjang kemudian berbalik. Namun, belum jauh ia melangkah, suara Sasuke kembali menghentikannya.

"Siapa itu Neji?"

Mendengar nama itu kembali sudah lebih dari cukup untuk memblokade jalan nafasnya. Sugesti jelek yang tiba-tiba datang membuat kepalanya pening dan tenggorokannya kering.

"Bagaimana kau..."

"Tercantum di berkas informasi tentangmu," jawab Sasuke tanpa menunggu Hinata menyelesaikan pertanyaannya.

Hinata menarik nafas pelan sebelum menjawab. "Bukan urusanmu."

"Baiklah," Sasuke mengedikkan bahu ringan. "Informasi kecil mungkin bisa menyelamatkamu dari petaka saat dalam misi, tapi itu juga terserah dirimu sendiri," Sasuke memberi tahu tanpa nada berminat. "Oh ya, buka jaketmu," sambungnya.

"Huh?"

"Kubilang buka jaketmu."

"Kenapa harus?"

"Kenapa tidak?" Sasuke berjalan mendekati Hinata.

"Memangnya apa yang kau ingin aku lakukan?" tanya Hinata setelah Sasuke berhenti selangkah di depannya. Kedua netranya saling terhubung.

"Semacam salsa atau tari perut, mungkin?" jawab Sasuke nyeleneh sambil menempelkan moncong pistol di tangannya pada bagian perut Hinata.

Untuk beberapa detik Hinata membeku karena terlalu terkejut. Bukan karena ancaman senjata yang mengarah padanya. Tapi lebih karena siapa yang mengarahkannya padanya.

"Aku suka saat kau melakukan itu," Sasuke tiba-tiba tertawa kemudian mundur, menarik senjatanya.

Hinata berkedip dua kali sebelum merespon. "Melakukan apa?" yang Hinata tahu, ia tak melakukan apapun tadi.

"Ekspresi tadi. Saat kau terlihat kebingungan atau sejenis itulah."

Kening Hinata berkerut ringan. Kebingungan?

"Omong-omong, lima putaran. Sekarang juga," Sasuke mengingatkan.

..

...

..

"Kita mulai dengan tahap yang mudah," Konan mempresentasikan beberapa detail setelah memberikan Sasuke dan Hinata masing-masing sebuah tablet.

"Misi macam apa ini?!" Sasuke memprotes keras setelah membaca singkat detail misinya kali ini.

Hinata sendiri begitu gelisah mengetahui ia akan menghabiskan beberapa hari bersama Sasuke diluar area Anbu. Pria itu bisa jadi akan mengubah harinya menjadi lebih seperti neraka nanti.

"Agen Hinata belum pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya, Thunder. Kita harus memperhitungkan itu," Kakashi menjelaskan singkat. "Jadi besok, kalian akan mulai dengan memburu Big Daddy."

"Big Daddy? Siapa itu?" Hinata menanyakan untuk kemudian mendengar gumaman cerca dari Sasuke.

"Seorang jembatan," singkat Kakashi.

"Jembatan?"

Konan terkekeh rendah sebelum menjelaskan. "Hanya seorang suruhan. Biasanya bertindak untuk menghubungan dua pihak utama. Tim pelacak kita menginformasikan bahwa Big Daddy ini juga menerima suap dan uang ilegal lainnya."

"Jadi itu pekerjaan kita? Mengeksekusi kriminal?"

"Jadi selama ini kau tidak tahu di bidang apa agensi ini bergerak?" cibir Sasuke tak percaya.

Well, Hinata hanya tahu Anbu Holding sebagai wadah agen pembunuh. Ia tak tahu menahu tentang target yang diburu agen Anbu sebelumnya.

"Ya," Kakashi menjawab pertanyaan Hinata. "Tapi kali ini kita memburunya karena dia berhubungan dengan beberapa relasi kelompok Akatsuki di Manila."

"Obat terlarang telah diselundupkan dari wilayah Asia Tenggara ke Amerika. Akatsuki ini merupakan salah satu pemegang indurstri narkotika dengan pemasokan terbesar. Mereka menjalankan bisnis itu dengan menerima penanaman modal dari berbagai pihak sebagai sumber dana. Beberapa tahun ini, kami telah mengintai Akatsuki yang ternyata juga memiliki misi untuk menurunkan daulat kepemerintahan. Prosesnya akan lamban jika hanya terus mengandalkan pengintaian cyber. Jadi kami memutuskan untuk menurunkan Agen Thunder dalam misi lapangan karena kita perlu menemukan Capo Di Tutti Capi dari Akatsuki secepat mungkin," jelas Konan secara mendetail.

Hinata berkedip menatap Konan.

"Itu semacam pemimpin dari para pemimpin Akatsuki," tambah Konan seakan mengerti arti tatapan Hinata tadi. "Masalah terbesarnya adalah banyaknya pihak yang menyokong Akatsuki. Tapi untuk kali ini, kita harus memutuskan pemasokan obat terlarang mereka terlebih dahulu. Sebelumnya, Agen Thunder sudah menjalani misi menyelidiki koneksi Akatsuki di Eropa Barat selama sekitar tiga minggu."

Hinata mengangguk mendengar semua penjelasan itu, ia kemudian melirik Sasuke yang sangat terlihat tak menaruh minat pada misi ini. "Jadi kita perlu menangkap Big Daddy ini untuk mendapatkan informasi darinya?"

"Tidak," jawab Kakasih. "Pekerjaan kalian sekarang adalah menyingkirkan orang-orang yang tidak berpengaruh tapi masih bisa menimbulkan ancaman, seperti dia."

"Oh, sialan!" Sasuke mengerang ringan, melempar ringan tablet di tangannya ke atas meja. "Kau serius menyuruhku membunuh badut ini?" protesnya tajam kepada Kakashi. "Kenapa? Karena aku harus menyejajarkan diriku dengannya?" telunjuknya terangkat ke arah Hinata, namun pandangannya masih di Kakashi. "Ini benar-benar pekerjaan balita!"

"Jangan menyombong, Thunder," sela Kakashi.

"Dan berhenti merengek," sambung Konan. "Pikirkan saja seperti ini. Lebih mudah misinya, lebih cepat kau menyelesaikannya. Dengan begitu lebih cepat pula untukmu bisa kembali bersantai di dalam kandang tercintamu."

"Ini semua omong kosong!" umpat Sasuke sebelum berdiri dari kursinya.

"Duduk kembali, Thunder!" titah Kakashi, namun yang Sasuke lakukan malah menanamkan kedua tangan di saku jaketnya kemudian berjalan santai keluar ruangan. Dengan helaan nafas panjang, Kakashi menyandarkan dirinya di kursi. "Anak itu sering kali membuatku naik darah," gumamnya. "Jangan cemas, Hinata. Aku pastikan dia akan membimbingmu besok. Tapi jangan membiarkannya menyelesaikan segalanya. Kau adalah bagian dari tim dan kau memiliki hak untuk melakukan apapun yang kau anggap benar."

Hinata mengangguk kemudian melirik pintu tertutup yang tadi dilewati Sasuke. Beberapa minggu terakhir, latihannya agak semakin berat dari biasanya. Tapi Hinata sempat memiliki pemikiran bahwa mungkin Sasuke sudah mulai terbiasa dengannya.

Tapi sekarang, melihat reaksi pria itu, Hinata sadar bahwa dirinya masihlah beban dan penghambat bagi pria itu. Hinata tidak mempedulikannya juga. Bukan inginnya berada di agensi ini. Ia memiliki banyak permasalahan yang harus ia selesaikan dan tidak memiliki waktu untuk peduli dengan apa yang Sasuke atau orang lain rasakan tentangnya.

"Apa aku diperbolehkan untuk menyusun rencana kali ini, Jendral?" tanya Hinata setelah atensinya kembali ke Kakashi.

"Tentu. Jika kalian sudah sepakat, lakukalah. Dan jangan lupa berhati-hati agar tidak menimbulkan kerugian atau korban dari penduduk sipil," Kakashi tersenyum di balik maskernya.

..

...

..

"Kita bisa mengatasi ini," gumam Hinata lebih pada dirinya sendiri. Mereka kini barada di dalam mobil yang terparkir di suatu gang minim pencahayaan di dekat sebuah klub malam. "Akan mencurigakan jika kita keluar bersamaan," Hinata mengutak-atik tablet untuk menngambarkan arah yang akan mereka gunakan. "Jadi sebaiknya kita berpencar."

Sasuke masih dalam mode aku-tak-berminat-nya. Pria itu benar-benar menolak melakukan apapun sejak tadi, bahkan Hinata lah yang mengemudikan mobil hingga kemari. Mata hitamnya masih memandang malas menembus kaca depan mobil. Meski dalam keremangan, Hinata dapat melihat dengan jelas ketajaman mata itu.

Setiap bagian dari Sasuke seperti menghantarkan arus kejut, itulah yang membuat Hinata beberapa kali terintimidasi jika ia melihat pria itu bergerak. Memang, Sasuke tipikal yang jarang bergerak, namun saat ia melakukannya ia sering membuat Hinata terdiam takjub. Sasuke selalu mampu membuat gerakan yang sulit terlihat begitu mudah.

"Kita harus bisa meyakinkan petugas jaga klub agar bisa masuk. Kau ingin keluar terlebih dahulu?" tanya Hinata.

"Lalu apa? Kau menyuruhku merayu kerbau dungu itu hanya untuk mendapatkan izin masuk? Seperti aku mau saja," cibir Sasuke.

Hinata menghela nafas. "Baiklah, aku duluan. Mungkin butuh sekitar tiga menit. Dan jika dilihat dari informasinya..." Hinata menggeser layar tablet yang masih di tangannya. "Klub ini juga merangkap sebagai rumah prostitusi dan Big Daddy biasa bermain dengan salah satu wanita yang bernama Liu. Jadi aku butuh waktu tambahan untuk memastikan di kamar mana mereka berada. Dua menit mungkin."

Sasuke masih seperti tak mendengarkan apapun yang dikatakan Hinata sampai wanita itu menyodorkan transmiter dan in-ear padanya.

"Kau harus segera bergerak setelah aku menginformasikan lokasinya. Dan jika kau tidak menerima sinyal apapun dariku selama lebih dari tujuh menit... kau tahu apa yang harus kau lakukan," ujar Hinata final.

Alis Sasuke menukik saat menatap Hinata yang bersiap keluar mobil. "Apa kau seorang ketua saat ikut pramuka dulu? Kau terdengar senang sekali memerintah," cercanya.

Hinata memutar bola matanya. "Aku keluar sekarang," gumamnya kemudian membuka pintu mobil.

Hinata merapatkan parka yang ia kenakan sambil berjalan menuju pintu masuk klub malam itu. Tempat itu cukup terang dengan segala gemerlap lampu berbagai warna yang tak cukup menyilaukan.

Kedatangan Hinata cukup cepat menarik perhatian. Salah satu penjaga berbadan kekar di sana mendekatinya dengan senyum lebar. Secara kasat mata, Hinata bisa memprediksi lelaki ini berusia sekitar akhir tiga puluhan.

"Ada yang bisa kubantu, Nona?" ujarnya sambil mempersilahkan Hinata lebih mendekati pintu masuk.

"Ya, aku mencari seseorang sebenarnya," ujar Hinata jujur.

"Siapa?"

"Namanya Liu."

Mereka sempat terlibat percakapan pendek berisi basa-basi sebelum akhirnya penjaga itu mempersilahkan Hinata masuk. Hinata berhasil memancing penjaga itu untuk memberikan informasi tentang apa yang dicarinya. Dan dari apa yang penjaga itu katakan, dugaan awal bahwa target mereka ada disini memang akurat.

Hinata berjalan cepat melewati kerumunan hingga masuk ke sebuah koridor yang lebih sepi. Ia kemudian memeriksa in-ear-nya, memastikan benda itu berfungsi sempurna sebelum bergumam.

"Thunder?" gumamnya tanpa menghentikan langkah melewati koridor itu menuju kamar yang diduga tempat target mereka sekarang berada. Hinata mengabaikan tatapan yang dlemparkan para pelacur yang berada disana. "Thunder? Aku menemukannya," ujarnya lagi setelah tak mendapat respon.

Hinata menggeleng di depan sebuah pintu, dengan cekatan ia mencoba membukanya. Hinata sudah siap dengan senjata api di saku parkanya untuk berjaga-jaga. Namun apa yang ia lihat setelah membuka pintu cukup membuatnya membeku. Jalan nafasnya seakan tesumbat melihat Sasuke bersandar di kerangka jendela tengah memainkan pistolnya di tangan. Dua tubuh tak bernyawa pun tergeletak di kamar itu.

"Apa yang kau..." Hinata menggantungkan pertanyaannya.

"Apa?" Sasuke bertanya balik dengan nada terganggu. "Misi selesai. Ayo pergi," lanjutnya masa bodoh.

"Bagaimana..." Hinata menatap tubuh separuh telanjang di atas kasur dengan darah segar mengalir keluar dari kepala mereka.

Sasuke tidak ambil pusing untuk menjelaskan. Ia dengan cepat melompat keluar jendela, tak menghiraukan Hinata. Hinata menghela nafas kasar sebelum mengikuti gerakan Sasuke, keluar lewat pintu bukanlah pilihan bijak, dia jelas akan dicurigai sebagai orang terakhir yang memasuki kamar itu.

Sasuke telah memijak tanah kembali dan berjalan cepat ke arah mobil mereka terparkir saat Hinata berusaha turun dengan hati-hati menggunakan pipa-pipa yang ada sebagai pijakannya untuk meraih lantai dasar.

"Tunggu!" Hinata mengejar Sasuke setelah sampai di bawah dan akhirnya dapat meraih tangan pria itu. Sasuke berhenti mendadak merasakan lengannya ditarik, matanya memicing tajam tak suka pada tangan Hinata yang menyentuhnya. "Apa itu tadi?! Kupikir kita punya rencana!" seru Hinata tajam.

"Tidak. Itu rencanamu. Aku tidak bilang akan mengikuti omong kosongmu," balas Sasuke.

Mulut Hinata sedikit terbuka, menampilkan ekspresi tak percaya. "Jika begitu, seharusnya kau katakan lebih awal! Kita rekan disini, jadi jika kau hanya ingin bertindak semau—"

"Rekan?" Sasuke mencibir rendah, memotong kalimat Hinata. "Aku tidak peduli apa yang kau ingin lakukan, hanya jangan menghalangiku! Aku tidak menerima perintah apapun dari gadis tolol sepertimu, mengerti?!" umpatnya.

"Tolol? Di antara kita, kau lah orang tolol itu. Apa yang kau pikirkan?! Kau secara gegabah bergerak, membunuh dua orang di dalam sana, belum lagi beberapa sipil yang sempat berpapasan denganmu!" sebelum Hinata sempat mengeluarkan protesnya lebih jauh, cengkraman kuat tangan kanan Sasuke di kerahnya membuatnya berhenti. "Ugghh..." Hinata mengerang saat tengkorak belakangnya menghantam dinding bata. Hal lain yang Hinata kemudian sadari adalah mulut pistol Sasuke yang kini menempel tepat di keningnya.

"Jangan menceramahiku! Kau pikir siapa dirimu? Kau hanya cacing tidak berguna, keparat!" Sasuke mendesis rendah sebelum kembali menarik senjatanya. "Lakukan itu lagi dan aku akan meledakkan kepalamu," didorongnya Hinata menjauh sebelum ia beranjak cepat ke arah mobil.

..

...

..

"Maaf," ucap Hinata pelan di sela nafasnya, lavendernya tetap ia arahkan ke luar jendela mobil.

"Kau bilang apa?"Sasuke bertanya dengan nada tak percaya. Hinata perlahan menengokkan kepalanya untuk menghadap Sasuke. Sasuke sendiri membagi pandangannya antara untuk jalan dan Hinata.

"Aku bilang maaf. Maaf karena kau harus terjebak bersama amatir sepertiku."

"Kamu memang harus minta maaf untuk itu," Sasuke masih memasang tampang tak pedulinya, satu tangannya menjaga kemudi dan yang lainnya memindahkan persneling. Dan ya, kali ini Sasuke yang mengemudi.

"Tapi..."

Decakan keluar dari mulut Sasuke. "Kenapa selalu ada tapi, sih?"

Hinata tak mengindahkan komentar Sasuke dan tetap melanjutkan apa yang ingin ia utarakan. "Suka atau tidak, aku adalah rekanmu. Dan aku akan tetap melaporkan setiap sikapmu."

"Seperti aku peduli saja."

Kening Hinata mengernyit menatap Sasuke. "Kenapa kau begitu... keras kepala dan tidak acuh?"

"Kenapa kau harus peduli?" balas Sasuke tanpa mengalihkan perhatiaannya dari jalanan.

Hinata menghela nafas menyerah kemudian kembali mengalihkan pandangannya ke luar jendela. "Kau tidak takut terhadap apapun atau siapapun. Kuharap aku bisa sepertimu," gumam Hinata dengan pandangan menerawang, melewatkan ekspresi keras yang Sasuke tunjukkan setelah mendengar hal itu.

"Jangan pernah berharap untuk menjadi sepertiku, bodoh," responnya.

Sasuke mengendalikan stir mobil memasuki area parkir sebuah restoran cepat saji.

"Kenapa kita kesini?" tanya Hinata.

"Aku jarang keluar area Anbu. Jadi saat aku berkesempatan, merupakan agenda mutlak untuk menikmati double cheese burger disini," Sasuke memarkirkan mobil tak jauh dari pintu masuk kemudian bergegas keluar sebelum Hinata sempat melayangkan protes lagi.

Hinata memutuskan untuk menunggu di mobil, namun setelah beberapa lama Sasuke tak juga kembali, ia memutuskan untuk keluar mengikuti Sasuke. Restoran itu seperti restoran cepat saji lainnya. Ramai, ribut dengan bau makanan berminyak melingkupi ruangannya. Sasuke terlihat duduk di meja paling pojok dan Hinata pun berjalan ke arahnya.

"Beberapa menit yang lalu, kau merupakan pria berdarah dingin yang mengancam meledakkan kepalaku. Dan sekarang, kau mengidam untuk menikmati cheese burger? Aku tidak tahu bisa jadi seberapa aneh lagi kepribadianmu itu," komentar Hinata saat mengambil tempat duduk di hadapan Sasuke.

Sasuke mengirimkan seringai ringan. "Aku tidak waras, aku tahu itu," kekehnya seolah bangga dengan apa yang baru ia ucapkan.

Hinata menahan dirinya untuk berdecih mengingat Sasuke akan selalu memiliki alasan untuk memenangkan perdebatan. Hingga kemudian ia menyadari gerik Sasuke. Pria itu kembali menaikkan tudung jaketnya, kemudian agak menunduk menutup sebagian wajahnya.

"Apa kau... tidak begitu nyaman berbaur dengan orang lain?" tanya Hinata hati-hati.

"Ya," Sasuke menggertak dengan suara rendah. "Rasanya aku ingin mematahkan leher mereka," lanjutnya.

"Tapi kau lebih terlihat seperti takut terhadap mereka," Hinata memicing, ingin membaca gerak-gerik Sasuke lebih jauh. Sekilas ia melihat Sasuke menggigit bibirnya, tak berniat memberi balasan atas apa yang Hinata katakan.

"Bisa saya catat pesanan Anda sekarang?" seorang pelayan bertubuh jangkung tiba-tiba muncul dengan senyuman lebar di wajahnya.

"Double cheese burger," jawab Sasuke singkat tanpa menaikkan tatapannya ke pelayan itu.

"Dan Anda, Nona? Ada yang bisa kubantu?" ujar pelayan itu dengan nada yang lebih lembut dari sebelumnya.

"Sama seperti pesanannya," Hinata tersenyum kecil barang untuk kesopanan.

"Baiklah. Tambah minuman?"

"Tidak, terima kasih."

Sasuke berdesis mengejek ketika pelayan itu berlalu. "Kelihatannya kau benar-benar menarik perhatian para hidung belang disini, huh?"

"Aku hanya mencoba bersikap sopan," Hinata membela diri.

"Dia tersenyum menggodamu, dan kau meladeninya. Bagian mana dari itu yang merupakan bersikap sopan? Aku lebih mengenalnya dengan sebutan jalang," Sasuke tersenyum mengejek.

Hinata memutar bola matanya malas. "Kau benar-benar berbakat dalam menyusun hinaan untukku, bukan?" tajamnya.

"Tidak juga," jawab Sasuke enteng. "Aku tidak benar-benar menyusun plot atau mengatur waktu hanya untuk menghinamu. Aku terbiasa melakukannya secara spontan. Bakat alami, kau tahu," tambahnya bangga.

Hinata menatap Sasuke tak percaya. Sungguh, apa pria di hadapannya ini benar-benar spesies manusia bumi seperti dirinya?

..

...

..

"Kau yang buat laporannya," Sasuke memerintah dengan nada acuh tak acuh saat mereka tiba di markas Anbu lewat tengah malam.

"Kenapa aku?"

"Karena aku mengantuk," Sasuse bicara pelan-pelan.

"Aku juga mengantuk," balas Hinata.

"Ya. Tapi tebak? Aku tidak peduli," Hinata berani bersumpah, senyum Sasuke adalah pemandangan paling menyebalkan yang pernah dilihatnya seumur hidup. "Dan tebak apa lagi? Kau membuatku sangat kesal malam ini. Jadi kerjakan saja, hitung-hitung permintaan maafmu padaku," lanjutnya kini dengan nada tajam kemudian berjalan menjauh.

"Sasuke."

Sasuke berhenti seketika dan memutar kepalanya dengan cepat. "Siapa yang memberimu hak untuk memanggil nama asliku?" suaranya begitu rendah, tak suka.

"Aku hanya berpikir lebih mudah memanggilmu Sasuke daripada Thunder."

Mata Sasuke berkilat menyipit sebelum kembali memalingkan wajah. "Kau sudah terlalu banyak melanggar aturan yang kubuat, Manis," ujarnya dengan nada datar.

"Ya. Dan tidak butuh dua detik untukmu melepaskan tembakan ke arahku saat ini. Tapi kau belum juga melakukannya, dan aku yakin kau tidak akan melakukannya, Agen Sasuke."

Sasuke tak menjawab, malah mulai mengambil langkah besar yang berat untuk pergi dari sana. Meninggalkan Hinata yang masih berdiri diam menatap punggung tegap yang semakin mengecil itu.

..

...

..

"Misi berhasil, tapi benar-benar kacau!" Kakashi berseru, telapak tangannya menggebrak permukaan meja.

Sasuke, seperti biasa terlihat santai, seperti seruan geram Kakashi tak sampai menyentuh gendang telinganya. Sedangkan Hinata, sebisa mungkin menembunyikan rasa malu juga raut lelahnya.

"Mereka melihat wajahmu," ujar Kakashi kepada Hinata. "Kau bertanya tentang pelacur itu sebelum dia terbunuh dan itu membuatmu secara otomatis menjadi terduga utama, Hinata!"

Sasuke terkekeh sendiri merasa terhibur.

"Kau pikir ini lelucon, Thunder? Apa yang kau lakukan? Kau adalah senior dan kau tidak mau repot-repot memandu Hinata?!" serang Kakashi lagi tak kalah murka.

"Aku?" Sasuke menunjuk dirinya sendiri. "Astaga, Kakashi. Dia belajar di Cambridge dan merupakan sarjana di bidang keparat yang tidak aku mengerti. Dia juga pernah menjadi anggota pramuka. Apa yang membuatmu berpikir dia akan mendengarkanku, seorang bocah yang tidak lulus dari sekolah menengah? Aku bahkan tidak bisa menyelesaikan perkalian," Sasuke membela diri dengan ironi yang kental tamun terkesan santai.

Hinata menunduk, diam-dia ia memutar bola matanya. Sungguh beruntungnya ia mendapat partner seperti Sasuke.

"Tanggung jawabmu besar dalam masalah ini, Thunder!" balas Kakashi. "Kau mentornya!"

Mata Sasuke memicing tajam ke arah Kakashi., ia kemudian beranjak dari kursinya. "Pasangkan dia dengan orang yang bersedia menjadi baby sitter-nya. Tugasku meledakkan kepala orang lain, aku tidak dibayar untuk mengurus cacing tidak berguna sepertinya."

"Jendral Hatake," seorang sekertaris berdiri di ambang pintu sebelum Kakashi sempat menceramahi Sasuke lebih jauh. "Anda perlu menemui Jendral Hyuuga."

"Aku akan kesana sebentar lagi," Kakashi mengangguk ke arah sekertarisnya kemudian kembali menatap Sasuke. "Kau," Kakashi menghela nafas untuk sekedar menenangkan diri sebelum melanjutkan. "Aku hanya tidak ingin kau terpaksa masuk ke dalam p-shard* lagi, Thunder."

Ekspresi keras Sasuke melunak, namun ia masih tak terima jika disalahkan. "Ini bukan salahku," gumamnya.

"Benar, tapi kau juga harus mempertanggung jawabkannya," kali ini nada yang Kakashi gunakan juga lebih tenang. "Kalian boleh keluar sekarang," finalnya kepada Sasuke juga Hinata.

..

...

..

Pelatihan yang diterima Hinata terasa semakin berat setiap harinya. Sasuke memerintahkannya mengelilingi area biasa sebanyak enam putaran, kemudian meninju sandbag yang sama selama hampir satu jam dan saat Hinata meminta sedikit waktu untuk beristirahat, pria itu menolak.

Dalam empat jam, Hinata benar-benar kepayahan. Rasanya setiap persendian yang ia miliki tak mengizinkannya untuk bergerak sedikitpun.

"Aku seribu persen yakin kalau nenekku yang berusia seratus delapan tahun jauh lebih kuat darimu," Sasuke memberengut, di saat yang sama menahan tawa.

Hinata duduk di atas matras latihan dengan kedua tangan menopang berat tubuhnya yang condong ke belakang, peluh membasahi sekujur tubuhnya. Ia lelah, butuh lebih banyak oksigen untuk menormalkan kerja tubuhnya. Ia juga merasa ingin cepat melepas kaus yang ia kenakan yang memang sudah hampir sepenuhnya basah. Tapi tentu ia tak bisa melakukannya disini.

"Ambil pemukul itu," Sasuke membersut.

Hinata memandang sang mentor namun tetap tak bergerak. Sasuke berdiri kemudian melepas kaus yang dikenakannya, membuat fokus Hinata lagi-lagi terserap pada tato area samping abdominalnya. Tato itu tak terlihat memiliki makna berarti, mungkin Sasuke membuatnya saat dalam kondisi mabuk. Tapi lagi, Hinata mendengar rumor bahwa Sasuke tidak pernah mengkonsumsi alkohol ataupun rokok.

"Ambil pemukulnya dan serang aku," titah Sasuke.

"Apa?" dengan cepat, Hinata mengalihkan pandangannya dari tato itu.

"Serang aku."

Hinata menghela nafas lelah namun tak memiliki pilihan lain. Hinata meraih pemukul yang tergeletak tak jauh dari tempatnya kemudian berdiri dengan gerakan yang terlihat berat sebelum mengarahkannya ke Sasuke.

Sasuke memutar bola matanya dan dengan mudah menghindari serangan tanpa niat dari Hinata.

"Aku sangat lelah."

"Aku tidak peduli," Sasuke melangkah maju memotong jarak antara dirinya dan Hinata. Kemudian yang Hinata sadari berikutnya, betis Sasuke menghantam lengan atasnya dari samping kanan. Cukup kuat untuk membuatnya terhuyung. Hinata mengerang sambil menegakkan tubuhnya. "Lindungi dirimu sendiri atau lebih baik kau bunuh diri," lanjut Sasuke.

Hinata mengambil nafas dalam sebelum kembali menyerang Sasuke. Namun dengan cekatan tangan Sasuke menangkap pemukul yang digenggam Hinata sebelum benda itu mengenainya. Selanjutnya ia memutar tubuh Hinata menjadi membelakanginya untuk kemudian ia kunci tangan wanita itu di punggung.

"Sa-sasuke."

Panggilan itu menyulut Sasuke, ia sama sekali tak menyukai Hinata memanggil namanya. Sasuke kemudian mendorong Hinata lepas darinya sebelum melayangkan sebuah tendangan roundhouse yang langsung mengenai lengan atas kanan Hinata. Membuat wanita itu hilang keseimbangan dan jatuh berlutut.

Sasuke ikut berlutut hanya untuk mencengkeram kerah pakaian Hinata. "Kau benar-benar menganggu!" umpat Sasuke.

Sasuke memutar tubuh Hinata kemudian menariknya, membuat punggung wanita itu menghantam dadanya. Hinata sendiri sudah menyarah. Ia terlalu lelah untuk melawan. Banyak yang terjadi detik itu dan Hinata melewatkannya. Saat kesadarannya cukup terkumpul, Hinata baru menyadari Sasuke kembali mengunci tubuhnya menekan matras.

Tak lama sampai Sasuke melepas Hinata dan beranjak perlahan. Momen yang dijadikan kesempatan balas dendam oleh Hinata. Saat Sasuke sudah berdiri memunggunginya, ia mengambil pemukul itu lagi dan menghantamkannya tapat di tulang kering pria itu, membuat sang mentor berseru dan kembali berlutut.

Detik selanjutnya Hinata melemparkan tubuhnya sendiri ke arah Sasuke hingga berhasil mendarat di atas Sasuke yang terbaring. Hinata berlutut, separuh duduk di atas perut Sasuke. Nafasnya benar-benar terputus-putus, sedangkan Sasuke sebaliknya terlihat begitu tenang. Ia tak membalas serangan Hinata dan hanya menatap wanita itu dengan tatapan intens.

Butuh beberapa detik hingga Hinata menyadari posisi canggung mereka. Diam-diam ia menelan saliva sebelum menyingkir dari atas tubuh Sasuke.

"Kuharap hari ini cukup," gumam Hinata, matanya melirik Sasuke yang masih berbaring.

Sasuke masih menatap Hinata intens, namun kali ini seringai lebar menghiasi wajahnya. Ia mengubah posisi berbaringnya menjadi menyamping dengan tangan kanan menumpu tubuh. Dada bidangnya bergerak dengan tenang mengikuti irama nafas pria itu. Dan sialnya Hinata mengakui betapa tampan dan seksi mentornya itu sekarang.

Hinata berkedip beberapa kali, menggeleng pelan sebelum akhirnya keluar dari area latihan.

.

to be continued...

..

.

Deskripsinya maksa banget, agak bingung gambarinnya karena ini pertama kali nulis action. Jadi ya... begitu lah t.t

Btw, di chap 2 kemarin beberapa nanya arti 'Yoo Aeh Sho Fu Qing Dum'yang Sasuke bilang.Itu bukan Mandarin (pernyataannya di pov Hinata). Itu English yang sengaja Sasuke plesetin pelafalannya hhaha... coba lafalin dalam English, mungkin kalian bisa nemu maksudnya :3

Readers~~~ thankyou thankyou~~~ toodles :3

Keep reviewing yaa *plakk