Game On
.
Characters belong to Masashi Kishimoto.
.
This Is SasuHina Story!
Alternative Universe! Out Of Character! Unbetaed! Grammatical Errors! Typical Errors! Plot lambat!
You've been warned!
.
And please note that I already got you warned that anything can happen.
.
Inspired by an romance-action novel yang saya lupa judulnya T.T
.
.
.
"Hinata!"
Hinata memutar kepalanya untuk kemudian melihat Konan berlari kecil ke arahnya. "Hai," sapa Hinata.
Konan tersenyum lebar sebagai respon. "Kau mau ke kantin?" tanyanya.
"Ya."
"Ayo kesana bersama," ajak Konan sebelum melangkah kemudian diikuti Hinata. "Ada jadwal untuk hari ini? Harusnya kau saja istirahat untuk misi besok," ujar Konan kembali membuka pembicaraan.
Hinata mengangguk. "Hanya latihan tembak lalu aku harus berlatih lagi dengan Sasuke," jelasnya.
"Wow," Konan tergelak, namun senyumnya masih berseri.
"Kenapa?" Hinata melirik Konan.
"Kalian sudah saling memanggil nama kecil, huh?"
"Tidak juga," Hinata memandang langkah kakinya. "Dia bahkan tidak pernah memanggilku namaku dengan benar."
"Tenang saja, itu bukan hal ganjil. Dia memang seperti itu," balas Konan. "Kupikir dia juga tidak mengingat namaku walaupun kami berada di tim yang sama selama hampir tiga tahun ini."
"Terdengar agak berlebihan," Hinata menyanggah.
"Sungguh. Satu-satunya agen yang menurut Thunder cukup penting untuk diingat mungkin hanya Agen Wind."
Hinata sudah beberapa kali mendengar tentang agen Wind selama berada di Anbu. Dan dari apa yang ia dengar, sepertinya agen tingkat lima yang satu ini juga tidak begitu akrab dengan Sasuke.
"Apa hubungan mereka tidak begitu baik?" tanya Hinata.
"Maksudmu Thunder dan Wind?" Konan bertanya hanya sekedar memastikan. "Sama sekali tidak. Mereka seperti banteng yang saling beradu tanduk. Wind mungkin sebelas-dua belas dengan Thunder soal kewarasan. Tapi untuk beberapa alasan, para agen akan lebih memilih Wind sebagai partner. Tapi..." Konan menggantung penjelasannya sebentar. "Aku pribadi mungkin lebih memilih Thunder. Dia sangat..." kalimatnya ia gantungkan lagi, seringai kecil muncul di wajahnya. "Sangat sangat seksi, bukan?"
Hinata menggeleng menahan kekehan mendengar pengakuan kecil Konan. Mereka terus berjalan dan Konan terus bercerita tentang apapun. Hingga mereka memasuki area kantin, wanita itu seketika diam. Hinata yang penasaran melirik rekan satu timnya itu dan mendapati pandangan wanita itu mengarah pada Yahiko yang tengah terbahak bersama beberapa rekannya.
"Dia masuk tim mana?" Hinata berucap, memecah atensi Konan.
"Huh? Siapa?"
"Yahiko."
"Oh... dia ada di tim Jendral Maito," jawab Konan datar kemudian segera menarik Hinata ke bagian menu sarapan.
"Kau menyukainya?" tanya Hinata langsung ke inti.
"A-apa?!" mata Konan membelalak. "Diam, Hinata!" desisnya rendah, ia sedikit mencuri tatap Yahiko dari ujung matanya.
"Dia menyebalkan. Tapi sepertinya dia hanya tipikal yang suka merendahkan secara verbal," komentar Hinata.
"Entahlah," Konan menghela nafas kemudian hendak menuju meja kosong setelah tangan mereka masing-masing telah mengangkat nampan berisi menu sarapan pilihan mereka sendiri.
"Oy, Konan!" suara keras Yahiko memenuhi ruangan. "Keberatan jika kau perkenalkan teman manjamu itu?" lanjut Yahiko, memaksudkan pada Hinata.
"Biarkan mereka, bodoh! Atau kau akan mendapat masalah," Tenten menasihati tajam.
"Tidak apa-apa, Tenten," Yahiko tak mengindahkan. "Duduk disini, Nona Manis," jarinya bergeliut seakan mencoba memancing Hinata mendekat.
Hinata memicing tajam tak suka, namun sebelum menentukan langkah yang akan ia ambil, ujung matanya menangkap sosok Sasuke masuk ke area kantin dan berjalan lurus ke bagian makanan penutup. Hinata berkedip melihat pria itu lagi-lagi begitu serius dalam memilih croissant-nya. Namun kali ini sepertinya tidak selama saat ia memilih cemilan di mesin penjual otomatis.
"Aku penasaran sekali," Yahiko kembali bersuara, membuat Hinata memecah atensinya lagi. "Hanya karena ayahmu punya jabatan, kau bisa masuk dengan mudah, sedangkan kami para jelatah harus kerja keras merangkak untuk menjadi diri kami yang sekarang ini. Sangat tidak adil sampai rasanya aku ingin sekali menebas waj—" kalimat Yahiko seketika terputus saat Sasuke mendorong kepala bersurai jingga itu ke depan hingga wajah pemiliknya tercelup secara paksa ke dalam mangkuk sereal di atas meja.
Setelah membuat wajah Yahiko berlumuran susu dan sereal, Sasuke tanpa kata apapun berlalu keluar kantin dengan wajah datar. Suasana kantin tiba-tiba berubah hening dengan beberapa pasang mata melirik wajah Yahiko sambil menahan tawa.
"Sudah kuperingatkan, bukan?" ujar Tenten meremehkan.
..
...
..
Setelah sesi latihan tembaknya selesai, Hinata menuju area latihan dengan hati berat. Kejadian di kantin tadi agak membuatnya sedikit memikirkan Sasuke, dan itu menganggunya.
Tiba di area latihan, Hinata disuguhkan dengan pemandangan Sasuke yang lagi-lagi bertelanjang dada. Jangan lupa tambahkan permukaan kulitnaya yang berkilap karena keringat. Memutuskan untuk tak mengganggu, Hinata memilih berdiri di ambang pintu, merasa Sasuke tak akan menyadari kehadirannya di sana.
Dalam hati Hinata berdecak kagum melihat setiap pergerakan Sasuke. Selalu sempurna, terlihat lembut namun begitu kuat. Untuk benar-benar mengusasi gerakan seperti itu, Hinata pikir ia perlu berlatih lebih lama dari masa sisa hidupnya. Butuh motivasi kuat dan tentu saja bakat alami yang sama sekali tak Hinata miliki.
Besok mereka akan kembali melaksanakan misi, namun Hinata berpikir rasanya kali ini ia tak perlu menyusun rencana apapun untuk mereka. Sasuke tentu ahli, tapi pria itu hanya akan melindungi dirinya sendiri. Dan jika Hinata ingin tetap bertahan, ia hanya perlu memikirkan rencana untuk dirinya sendiri.
Hinata menatap punggung Sasuke yang basah, sejujurnya pemandangan itu agak menganggunya sebagai seorang wanita. Namun ia tak menyuarakan protes apapun, hingga akhirnya punggung yang semula bergerak liar itu berhenti. Suara hantaman kepalan dengan sandbag juga berhenti.
"Jika suatu saat kau kehilangan senjatamu, yang merupakan tidakan super bodoh. Ini adalah hal terakhir yang bisa membuatmu bertahan hidup," Sasuke tiba-tiba berujar tanpa membalikkan tubuhnya, membuat Hinata agak terkejut.
"Kau tahu aku disini?" Hinata melangkah lebih mendekat saat Sasuke memutar tubuh membuat mereka berhadapan.
"Tubuhmu memang kecil. Tapi tidak sekecil semut untukku tidak menyadarinya," Sasuke mengedikkan bahu, tanpa sadar Hinata menatap satu butir keringat yang mengalir melewati leher pria itu. "Jadi... kau siap untuk mati besok?" Sasuke menyeringai.
"Kenapa kau pikir kita akan mati besok?" Hinata berhenti setelah jaraknya sekitar lima langkah dari tempat Sasuke berdiri.
"Aku tidak bilang kita. Hanya kau," ejeknya.
"Tugas kita besok hanya mencuri informasi dari pusat."
Sasuke terkekeh. "Kau pikir mereka akan memberimu akses bebas untuk mencuri data vital tentang informasi perkumpulan ilegal mereka?"Sasuke melempar senyum mengejek, hanya sesaat sebelum raut seriusnya kembali muncul. "Aku tidak menyangka kau sebodoh itu, Manis. Dan sepertinya sekarang aku tahu jenis orang seperti apa kau ini," Sasuke mengambil tiga langkah mendekati Hinata. "Cerdas di atas kertas, tapi dungu di jalanan."
Hinata mencoba untuk tak mengerutkan kening mendengarnya. Ia pikir setelah lama mereka kenal, ia akan terbiasa dengan hinaan Sasuke. Namun sepertinya pria itu semakin meningkatkan level ejekannya setiap kali Hinata mulai terbiasa.
"Jika kau tertangkap, itu urusanmu sendiri," ujar Sasuke menambahkan, tangan kanannya menyapu surai kelamnya yang basah karena keringat.
"Tidakkah seharusnya kau mengajarkanku agar tidak tertangkap?"
"Tidak, Manis. Aku hanya mengajarimu bagaimana caranya menghindari tembakan yang terarah padamu," oniks itu menatap ametis lekat. "Soal bagaimana kau melarikan diri tergantung pada level kecerdikanmu yang mungkin tidak sebanding dengan penampilan mewahmu ini."
Hinata membatu saat Sasuke kembali melangkah ke arahnya hanya untuk berhenti di sampingnya. Nafasnya tercekat di tenggorokan ketika pria itu mendekatkan wajah ke telinga kirinya.
"Jangan mati saat misi besok," bisik Sasuke.
Sumpah Hinata tak dapat merasakan apapun lagi kecuali hela nafas dan suara berat yang begitu mengintimidasinya itu. Ia berusaha melawan gemetar di kakinya agar tak muncul.
"Karena aku sendiri lah yang akan membunuhmu," lanjutnya sebelum berlalu meninggalkan Hinata.
Dengan nafas berat, Hinata mencoba bersuara. "Kenapa kau seperti begitu membenciku?" tanyanya rendah, masih di posisi berdirinya semula.
Sasuke mendengarnya namun tak menjawab. Ia hanya menyeringai tanpa menghentikan langkah keluar dari area latihan.
..
...
..
Hinata memainkan jemarinya di atas layar tablet. Ia menghela nafas panjang. Ia harus menjelaskan detailnya pada Sasuke, namun mengingat terakhir kali ia bicara tentang rencana, Sasuke sama sekali tak mendengarnya. Dan ia yakin kali ini pun takkan jauh berbeda.
"Biar aku perjelas," Hinata akhirnya memilih untuk tetap menjelaskannya. "Basis data mereka dikumpulkan di ruangan ini. Aku akan masuk pintu utama tapi kita hanya bisa keluar lewat pintu belakang. Dalam tiga menit aku kesana dan kau harus memastikan jalur belakang bersih. Kita bertemu di ruang basis data di menit ke-empat. Butuh sekitar empat puluh detik untuk menerobos jaringan dan meretas sistem. Setelah itu kita keluar. Ingat, kau hanya perlu membersihkan jalur belakang."
"Dan kau akan menyelinap sebagai petugas kebersihan?" Sasuke bertanya dengan nada merendahkan.
"Ini bukan ideku. Aku mengikuti apa yang Konan susun, terlebih agensi memang sudah memberi kita tanda identitas petugas gedung ini."
Sasuke tidak membalas lebih lanjut, ia merebahkan kepalanya dan tangannya di stir mobil.
Hinata menghela nafas lagi. "Aku tahu kau memiliki caramu sendiri untuk menyelesaikan misi ini. Tapi rencana ini lebih efektif daripada membunuh banyak orang," Hinata menyadari rahang Sasuke yang mengeras sebelum keluar dari mobil. "Pastikan terus perhatikan waktunya," ujar Hinata lagi sebelum berlalu.
Hinata dapat melewati pintu utama dengan mudah tanpa pemeriksaan terlalu ketat. Ia berjalan, mencoba terlihat tetap santai menuju tujuan utama. Surai panjang yang tergerai juga topi yang ia kenakan sebisa mungkin ia manfaatkan untuk menyembunyikan wajah dari kemungkinan kamera pengawas.
"Tunggu," seorang penjaga menghentikannya saat ia handak memasuki gedung bagian selatan. "Petugas baru?"
"Pindahan dari kantor cabang di Kyoto," jawab Hinata tenang sembari menunjukkan tanda pengenal palsunya. Penjaga itu mengambil tanda pengenal Hinata kemudian memindainya sebelum memperbolehkan Hinata masuk.
Hinata telah berada di depan ruang data basis namun belum menemukan Sasuke dimana pun. Pasti pria itu juga belum di dalam melihat seseorang masih berjaga tepat di depan pintu ruangan itu. Hinata bersiap dengan pistol kedap suara di balik pakaiannya, matanya sedikit melirik kamera pengawas yang bergerak ke berbagai arah. Dan ketika dirasa kamera itu takkan menangkap aksinya, Hinata mengangkat senjata kemudian meloloskan satu peluru tepat ke kepala penjaga itu.
Hinata menggigit bibir keras-keras. Bagaimanapun, itu adalah pertama kalinya ia membunuh seseorang.
Hinata segera bergegas masuk ke ruangan itu. Ada sekitar tiga puluh komputer disana. Ia melirik cepat ke arah pintu namun belum ada tanda-tanda Sasuke akan muncul. Tak ingin menghabiskan lebih banyak waktu, Hinata mulai mencoba meretas data dari sana.
Belum lima detik setelah ia memasukkan USB-nya, alarm peringatan nyaring terdengar. Dua detik berikutnya, dua penjaga masuk dengan cepat. Sambil menunggu perpindahan data selesai, Hinata kembali mengangkat senjatanya dan menembak kedua penjaga itu. Satu mengenai dada dan satu hanya mengenai bahu.
Mengetahui data yang diperlukan sudah ia dapatkan. Hinata dengan cepat mencabut USB kemudian berlari ke dinding kaca. Saat itulah ia merasakan sesuatu menembus lengan kirinya, namun tentu bukan saatnya untuk berhenti. Hinata mengarahkan mulut pistolnya ke dinding kaca itu dan menembakkan timah panasnya beberapa kali hingga membuat kaca itu pecah dan runtuh.
"Tangkap dia!" teriakan itu terdengar saat Hinata melompat keluar dari celah pecahan kaca yang ia buat.
Untungnya, area pendaratannya sudah di luar gerbang utama. Hinata berlari seperti orang gila dengan beberapa orang mengejarnya. Baru saat ia akan berbelok ke gang sempit, satu peluru kembali berhasil menembus bahunya. Fokus Hinata pecah karena rasa sakit yang tiba-tiba dan itu membuatnya tersandung-sandung dan terjatuh.
Hari ini benar-benar kegagalan besar, pikirnya. Dan semua terjadi karena Sasuke lagi-lagi tak mengikuti prosedur awal.
"Tangkap!" Hinata seperti tak lagi memiliki cadangan nafas di paru-parunya saat menyadari beberapa dari pengejarnya sudah ssangat dekat. "Jalang! Kau akan membuat kami berada dalam masalah besar!" umpat salah satunya.
Detik selanjutnya, yang dapat Hinata dengar adalah teriakan, erangan dan suara tembakan. Dari ujung matanya, Hinata dapat melihat Sasuke tanpa ragu melepaskan tembakan demi tembakan dari senjata di kedua tangannya langsung ke kepala para penjaga itu. Dengan nafas terengah, Hinata melirik tiap tubuh kaku yang tergeletak di sekelilingnya.
Dengan mata berkilap, Sasuke melangkah cepat ke arahnya dan menariknya untuk berdiri. "Itu tadi terakhir kalinya kau memerintahku, kau dengar?!" umpatnya di hadapan Hinata, tangannya masih mencengkeram lengan kanan Hinata.
"Brengsek!" Hinata meledak, mendorong Sasuke dengan tangan kirinya yang terluka. "Kupikir aku bisa mempercayaimu! Kupikir kau akan ada disana, bajingan!" Sasuke masih menatap Hinata tajam, namun ia melepaskan cengkeramannya.
Dengan nafas yang masih terputus-putus karena lelah juga amarah, Hinata kembali menatap tubuh tanpa nyawa para penjaga yang Sasuke bunuh dalam waktu kurang dari sepuluh detik itu. Ia menggeleng pelan sambil mengatur nafas.
"Cepat bergerak," Sasuke mendesis. "Akan lebih banyak penjaga yang datang," lanjutnya kemudian berlalu.
Hinata merasa dadanya sesak saking marahnya. Sangat sesak sampai ia seperti ingin manangis. Saat itu rasanya tak ada kata yang bisa menggambarkan betapa ia membenci Sasuke. Namun pada akhirnya ia mengikuti langkah Sasuke dan masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil, Hinata menyingsing lengan dan membuka satu kancing paling atas kemeja yang ia kenakan untuk melihat luka yang ia dapatkan.
"Terima kasih banyak karena telah begitu membantu," ujar Hinata tajam, nada bicaranya sama sekali tak menunjukkan bahwa ia berterima kasih kepada Sasuke. Katakanlah hanya semacam sindirian.
"Berhenti merengek. Setidaknya kau tidak mati. Pada akhirnya pun aku menyelamatkanmu, bukan?" balas Sasuke.
Hinata membuka dashboard dengan gerakan terburu-buru untuk mengambil kotak pertolongan pertama. Sebisa mungkin ia menekan rasa murka dan air matanya. Jika ia menangis sekarang, itu hanya akan menjadi bahan baru untuk Sasuke menghinanya.
"Kenapa?" ujar Hinata.
"Apanya yang kenapa?" Sasuke mulai menyalakan mesin.
"Kenapa kau tidak masuk kesana? Apa karena kau pikir ini juga rencanaku?"
Sasuke diam untuk beberapa saat sebelum menjawab. "Karena kupikir kau tidak akan tertangkap," ujarnya dengan suara rendah.
"Apa?"
Sasuke menghela nafas kemudian bersandar di kursi kemudi. "Aku menjalani misi pertamaku saat berusia empat belas tahun. Dan aku tidak bergantung pada siapapun jika kau mau tahu."
"Jadi menurutmu ini semua bagian dari latihan yang kau berikan padaku?! Maaf mengecewakanmu, aku hampir saja tertangkap tadi," Hinata membuka dua kancing kemejanya lagi untuk meneliti bahunya. Namun ketika ia menyadari pandangan Sasuke ke arahnya, ia memutuskan akan mengurus lukanya nanti saat mereka sampai di Anbu.
"Kau berdarah," gumam Sasuke.
"Ya, terima kasih sudah memperjelasnya," Hinata memutar bola mata.
"Aku tidak berniat membiarkanmu tertangkap," Sasuke membela diri.
Hinata menghela nafas, pandangannya menembus kaca depan mobil. "Akan lebih mudah jika kau mengikuti prosedurnya."
"Aku tidak mau mengikuti rencana bodoh yang kau jelaskan!"
"Lalu untuk apa kita berpartner?"
"Jika aku diberi pilihan, percayalah, aku juga tidak ingin berpartner denganmu," Sasuke berdecih.
"Itu dia! Kita sama-sama tidak diberi pilihan. Kau terjebak bersamaku seperti aku terjebak bersamamu!" balas Hinata tajam.
"Kau sudah mulai berani menantang belakangan ini," Sasuke bergumam tajam, oniksnya juga berkilap meski tak menatap objek yang dituju.
"Karena aku tidak lagi takut padamu."
"Pilihan yang salah," belasutnya rendah.
Sasuke mengatupkan bibir, rahangnya mengeras sambil matanya melirik tajam ke arah Hinata meski kepalanya tak menengok. Untuk durasi yang cukup lama, mereka saling menatap dengan kedengkian yang kental. Hingga akhirnya Hinata mengalihkan pandangan, menyadari bahwa berdebat dengan Sasuke sama halnya seperti berbicara dengan dinding. Tak akan berhasil.
Sasuke kembali mematikan mesin mobil bahkan sebelum mereka beranjak dari tempat awal. "Harusnya ku biarkan saja kau mati tadi."
"Yah, mungkin sebaiknya begitu," Hinata mengeryitkan kening merasakan perih pada lukanya yang dibiarkan terus mengalirkan darah yang akhirnya menodai kemeja yang ia kenakan. "Kau benar-benar orang yang buruk, Sasuke," Hinata kali ini menggunakan nama asli pria itu. "Tapi untuk beberapa alasan, kupikir aku masih bisa menemukan sisi baik darimu."
Sasuke menggertakkan gigi. "Kau tidak akan pernah menemukannya."
Hinata memandang Sasuke dalam saat pria itu hanya meluruskan pandangannya ke depan. Balasan Sasuke tadi seperti menyadarkannya akan sesuatu. Semua orang yang mengenal Sasuke termasuk Hinata menganggap pria itu begitu kejam. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa Sasuke bisa merasakan sesuatu, bukan?
"Kau dikirim untuk misi pertamamu saat berusia empat belas tahun?" gumam Hinata.
Sasuke tetap diam dengan ekspresi kerasnya. Matanya melirik luka Hinata kemudian kembali ke depan. "Lebih baik kita bergegas kembali," hanya itu respon Sasuke.
Hinata juga melemparkan pandangannya menembus kaca jendela mobil. Hening tercipta beberapa saat hingga ia kembali bersuara. "Aku merupakan ketua murid di sekolahku saat berusia empat belas tahun," gumamnya lagi.
Sejujurnya, Hinata merasa bersalah karena terlalu meluapkan amarahnya kepada Sasuke tadi. Tentunya Sasuke sendiri tak meminta untuk terlibat dalam dunia kelam yang kini mereka jejaki, bukan? Keadaan terkadang merenggut pilihan seseorang.
"Saat itu aku sama sekali tidak pernah berpikir akan membunuh seseorang," tapi nyatanya, malam ini Hinata secara resmi menodai tangannya sendiri.
"Baguslah," respon Sasuke yang juga berupa gumaman. "Setidaknya kau pernah merasakannya."
"Merasakan apa?"
"Kemudahan, bersekolah dan kehidupan normal lainnya."
"Memang kehidupan seperti apa yang kau jalani?"
"Ibu seorang jalang. Dan ayah pemabuk yang kejam," Sasuke menyeringai pahit.
Hinata menelan salivanya sendiri, ada pikiran untuk menghibur Sasuke namun tak menemukan kalimat yang tepat. "Sepertinya memang setiap orang memiliki masalah masing-masing," itulah yang akhirnya keluar dari mulut Hinata sebagai respon.
"Oh, benarkah?" Sasuke tersenyum mencerca. "Apa masalahmu? Dugaanku itu sesuatu yang behubungan dengan Hyuuga Neji, bukan?"
Hinata sama sekali tak menunjukkan tanda untuk melanjutkan percakapan.
"Darahmu menganggu pandanganku!" Sasuke berujar tiba-tiba, memecah jeda yang terjadi. Ia melepas kaus yang dikenakannya kemudian melemparkannya ke arah Hinata untuk menutupi lukanya.
Ametis Hinata semakin terlihat membesar melihat tindakan spontan Sasuke. "Kau harus mencoba menahan diri untuk melepas pakaianmu semudah itu, apalagi di tempat umum," protesnya.
"Aku tidak peduli. Aku bisa saja berlari keliling kota dengan keadaan telanjang jika itu tidak ilegal," balasnya.
Hinata menahan senyuman mendengar jawaban nyeleneh itu. Ia kemudian membenarkan letak kaus Sasuke di bahunya. Beberapa detik terlewat sampai Hinata bersuara kembali.
"Bisakah... kau tidak membicarakannya lagi?" gumamnya dengan mata menerawang.
"Siapa? Neji? Dari namanya, kutebak dia masih keluargamu. Kakak?" tebak Sasuke.
Hinata menyandarkan punggung dan kepalanya di kursi penumpang kemudian menutup matanya ringan. "Sepupu. Dan jangan tanya apapun lagi."
"Aku juga tidak tertarik untuk bertanya," gumam Sasuke sambil kembali menyalakan mesin mobil.
..
...
..
"Sembilan korban," Kakashi bergumam. "Setidaknya misi berhasil, kita mendapat apa yang kita perlukan," ia menghela nafas malas.
"Well, kita tidak bisa mengharapkan tidak ada yang terbunuh jika Thunder terlibat, bukan?" Konan memperjelas dengan seringaian.
"Kalau begitu... kalian bisa melanjutkan ke misi tahap selanjutnya," Kakashi mengambil tempat duduk, jarinya menunjuk ke tablet di atas meja. "Kalian akan pergi ke Denmark minggu depan dan bergabung bersama Agen Wind dan Agen Haruno. Setelah kalian kembali, kalian akan langsung pergi menuju Singapura."
"Maksudmu setelah ini kami memiliki misi di luar negeri?" tanya Hinata, agak tak menyangka Kakashi akan mengirimnya keluar mengingat dia masih sangat pemula.
"Ya."
"Untuk berapa lama?"
"Di Denmark, hanya sampai pertemuan formal berakhir. Dan di Singapura, sekitar dua bulan."
..
...
..
Rasanya aneh melihat Sasuke benar-benar berubah menjadi pendiam sejak mereka menaiki pesawat. Membuat Hinata berpikir beberapa kemungkinan. Satu pria itu tak suka misi luar negeri ini bersamanya. Dua pria itu tak suka terlalu jauh dari sarangnya. Atau tiga memang pria itu agak ngeri dengan ketinggian. Entahlah.
Satu hal lagi yang membuat Hinata beberapa kali melirik, memindai penanmpilan Sasuke hari ini adalah karena Hinata untuk pertama kalinya melihat pria itu memakan setelah jas yang cukup rapih. Hinata mengakui Sasuke terlihat lebih tampan dengan pakaian formal seperti ini meskipun jelas pria itu terlihat sangat tidak nyaman, apalagi dengan dasi yang melilit lehernya.
Menjelang lepas landas, seorang pramugari mendekati Sasuke dan mengatakan padanya untuk mengencangkan sabuk. Dan Sasuke membalas dengan tatapan risih, membuat pramugari itu agak mundur. Hinata tertawa kikuk melihatnya dan meminta maaf kepada si pramugari.
"Dia tidak bermaksud kasar. Dia hanya sedang sakit kepala," Hinata beralasan.
"Oh, mohon maaf kalau begitu," balas si pramugari sebelum berlalu.
Sasuke memutar bola matanya mendengar percakapan pendek itu. Ia melempar tatapan ke luar jendela pesawat dengan raut wajah yang masih sama masamnya.
"Apa kau benar-benar sebegitu anti-sosialnya?" tanya Hinata rendah.
"Tidak. Aku terlahir dengan wajah seperti ini. Bukan salahku kalau orang lain takut melihat ekspresi wajahku," kilah Sasuke sambil melepas jas yang dikenakannya. "Lagipula kau juga tak berhak mengomentari soal sosialisme-ku."
Dengan berat hati, Hinata menyetujui apa yang Sasuke katakan. Jika dipikir lagi, dirinya yang sekarang juga cukup anti-sosial, hanya mungkin dengan stadium yang jauh lebih rendah dibanding Sasuke.
Selanjutnya, percakapan di antara mereka mati. Sasuke dengan gerakan gegabah memasang sabuknya kemudian menyamankan duduknya.
"Ini benar-benar mengganggu," Hinata melirikkan matanya seketika mendengar erangan Sasuke yang tiba-tiba, pria itu menyentak dasi yang dikenakannya. "Aku akan tidur agar aku bisa mengabaikanmu selama perjalanan. Jadi jangan ganggu aku, kau dengar?!" tambahnya lagi memejamkan mata erat.
Hinata tidak keberatan sama sekali. Malah di sisi lain, ia penasaran bagaimana tampang Sasuke saat tertidur.
Selama dua jam pertama, Hinata menyibukkan diri dengan meneliti deskripsi tugas mereka. Terlihat sederhana. Mereka hanya perlu menghadiri sebuah kongres di bawah penyamaran bersama Agen Haruno dan Agen Wind. Kongres ini ditargetkan karena diadakan langsung oleh Yugaku Hidan yang dikenal sebagai salah satu anggota penting Akatsuki.
Kening Hinata berkerut ringan saat membaca informasi selanjutnya. Mereka akan menyamar sebagai salah satu tamu penyumbang dana atas proyek baru Akatsuki untuk mendesak pemerintahan. Dan tugas utama mereka adalah mencari informasi sebanyak dan seakurat mungkin dari kongres ini.
"Selamat siang," seorang pramugari datang dengan troli berisi makanan namun Hinata hanya tersenyum sambil menggeleng pelan. Lalu tiba-tiba, Sasuke bangkit dari tidurnya dan mengambil satu piring croissant dari troli tersebut. "Selamat menikmati makan siang Anda, Tuan," ujar si pramugari kepada Sasuke.
Tanpa repot mengucapkan terima kasih, Sasuke mulai melahap croissant-nya setelah pramugari itu berlalu. "Sial! Rasanya lebih baik dari yang Anbu sediakan!" komentarnya rendah dengan suara khas bangun tidur, lebih kepada dirinya sendiri.
Hinata memandang pria di sampingnya dengan tatapan heran namun juga senyum kecil. Ia benar-benar tak menyangka akan mengenal manusia semacam Sasuke ini. Merasa diperhatikan, Sasuke menengok ke arah Hinata.
"Apa?!" tanyanya judes sambil mulutnya masih mengunyah roti.
Lekung tipis bibir Hinata seketika mendatar, ia menggeleng pelan sebelum kembali fokus pada tablet di tangannya.
..
...
..
"Jika ada yang bertanya, katakan kau tidak mengenalku, mengerti?" Sasuke memberengut, satu tangannya mendorong lengan atas Hinata agar berjalan agak lebih jauh darinya.
"Seperti aku ingin mengenalmu saja," Hinata memutar bola matanya.
"Masa?" Sasuke mencerca, namun sebelum ia sempat melempar hinaan pada Hinata, seseorang memanggil namanya.
"Thunder!"
Sasuke memejamkan mata sekejap merasa terganggu sebelum membalik tubuhnya menghadap si pemanggil. Matanya otomatis memicing tak suka. "Ini dia si tolol dan si super tolol," desisnya.
Dua orang berbeda gender berjalan ke arag Sasuke dan Hinata dengan senyum penuh di wajah mereka.
"Senang sekali mendapat wajah segar baru di tim," si wanita berujar sambil melingkarkan lengan di bahu Hinata. "Aku Haruno Sakura. Dan itu partnerku Namikaze Naruto atau dikenal juga sebagai Wind."
"Hyuuga Hinata," respon Hinata kepada Sakura. Selanjutnya ia melempar senyum kecil kepada Naruto. Hinata melihat Naruto tersenyum balik dan mengangkat satu tangannya sebagai sapaan kepada Hinata sebelum pria bersurai pirang itu berhadapan dengan Sasuke.
"Sebelum kau mengatakan apapun," jemari Naruto menunjuk ke arah Sasuke. "Kukatakan ini bukanlah ideku!" sambungnya sebelum berlalu. Hinata berkedip penuh rasa penasaran melihat interaksi singkat itu.
Sasuke melirik Hinata sejenak kemudian pandangannya ke arah Sakura. Sakura yang menyadarinya melepas rangkulannya di bahu Hinata dan berjalan mendekati Sasuke.
"Bagaimana kabarmu, Agen Thunder?"
"Kenapa aku harus melaporkan soal kabarku padamu, Agen Siapapun-namamu," Sasuke menjawab ketus kemudian melangkah mengikuti jejak Naruto ke area parkir bandara.
Sakura mengedikkan bahu ringan. "Dia masih tidak mengingat namaku," ujarnya kepada Hinata kemudian menggesturkan agar mereka juga bergegas mengikuti dua pria aneh itu. "Apa yang membuatmu bisa bertahan dengannya selama ini?" mereka mulai berjalan santai.
Hinata menghela nafas. "Keberuntungan, mungkin?"
Sakura tertawa kecil. "Tapi kuakui aku cukup terkejut melihatmu masih hidup sampai saat ini. Itu sebuah keajaiban," komentarnya.
..
...
..
Perjalanan menuju hotel begitu melelahkankarena Naruto mengendarai mobil secara serampangan. Sasuke sedari tadi bersikap tak acuh, cenderung memusuhi. Selain Sakura, tidak ada satupun yang berminat membuka percakapan
"Kau pernah kemari, Hinata?" tanya Sakura saat mobil memasuki area parkir.
"Ya. Beberapa kali setiap hendak berkunjung ke Jerman atau Belanda."
"Ah, artinya kau sudah cukup familiar, bukan? Kami baru berada disini selama tiga hari. Aku senang akhirnya kau tiba. Rasanya bosan sekali terjebak bersama makhluk kuning itu," cibir Sakura panjang lebar.
Hinata tersenyum kecil merespon keekspresifan Sakura. "Aku juga senang bisa bertemu dengan anggota tim yang lain."
"Maksudmu anggota tim yang waras lainnya?" Naruto menyela dengan nada mengejek.
Sasuke berdecih ogah-ogahan mengetahui Naruto tengah menyindirnya tanpa membalas. Meskipun Sasuke diam, Hinata masih dapat merasakan aura di sekelilingnya menjadi tak nyaman.
"Ini kunci kalian," Sakura memberikan Hinata sebuah kunci kamar setelah mereka memasuki lobby hotel.
"Tunggu. Satu kamar?" tanya Hinata dengan mata melebar.
"Tidak," Sakura terkekeh. "Ini sebuah suite namun kalian akan memiliki kamar masing-masing. Itu akan mempermudah kalian untuk berdiskusi. Beristirahatlah, kita akan bertemu kembali saat makan malam nanti," Sakura menepuk bahu Hinata kemudian tersenyum kecil ke arah Sasuke sebelum berjalan menuju kamarnya sendiri.
Hinata sendiri hanya mengikuti langkah Sasuke. Hingga sampai di suite yang dipesankan untuk mereka, Sasuke sama sekali tak mengatakan satu patah katapun.
"Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" tanya Hinata hati-hati. "Atau kau hanya terkena jet-lag?"
Sasuke memutar tubuh cepat menghadap Hinata. "Kau!" tudingnya. "Kaulah yang mengangguku, sangat mengangguku!" umpatnya marah.
Hinata berkedip bingung. "Memang aku melakukan apa?"
"Berhenti menatapku seperti aku spesies aneh yang bodoh!" teriaknya.
"Apa?" kening Hinata berkerut. "Kapan aku—"
"Aku melihat caramu memandang Haruno dan bedebah pirang itu!" Sasuke memotong perkataan Hinata yang bahkan belum selesai. "Menurutmu mereka manusia normal, bukan? Dan aku hanya... ahh!" Sasuke meracau tak karuan namun berhenti dan langsung masuk ke kamar.
Hinata terdiam menatap pintu kamar yang tertutup masih dengan binar bingung terpancar di matanya. Apa yang salah? Namun akhirnya ia memuturkan untuk mengabaikannya, ia menghela nafas panjang kemudian masuk ke kamar yang lain.
.
to be continued...
..
.
Lupa kasih tau... p-shard di chap kemarin itu maksudnya 'punishment shard' atau tempat hukuman.
Dan yah... alurnya ini masih lambat banget, jadi mohon lebih sabar lagi ngadepin sasu mode ngeselin wkwk
Udah yaa, thanks yo readers!
Keep review yaa... Toodleesss~~~
