Main Cast : Chanyeol (25 years old ) X Baekhyun (9 years old)
Other Cast : Kejutan...temukan di dalam nyaa :)
Disclaimer : ChanBaek Version, fic ini pure milik Gloomy Rosemarry & Cupid KM
Previous Chapter
"Pastikan semua berjalan sesuai rencana...kita akan menyerang tepat di saat acara pernikahan itu berlangsung" Desis Chanyeol , sambil memainkan belati dan persik di tangannya.
"Dan pastikan pula...anak itu—
JLEBBB
Percikan ranum nan manis, mengucur dari buah persik yang terkoyak mata pisau belati.
"Menjadi milikku"
.
.
.
(ChanBaek Version)
Love Of Fallen Leaves
Chapter 2
Selamat Membaca
.
.
Pagi itu... Goryeo tengah disibukkan dengan hiruk pikuk rakyatnya, bahkan lonceng pun tak pernah senyap berdentang di setiap penjurunya. Bukan—
Bukan karena terlarut dalam rasa panik atau bahkan cekam, melainkan mereka tengah berbahagia karna kabar akan pernikahan Sang Raja semakin santar terdengar. Ya...hari yang dinanti itu telah tiba, hati rakyat mana yang tak berbinar dengan kabar ini, tentu semua itu akan disambut dengan penuh suka cita.
Mereka tentu merasa semakin aman, pernikahan sekaligus penyatuan dua sekutu itu akan membuat pertahanan Goryeo semakin kuat.
"Hwajangninm~ lihat di sana" Ucap Sooyoung seraya menunjuk ke danau, membuat bocah mungil yang sedari tadi menggenggam gaunnya, tampak mengerjap melihat puluhan perahu dan ornamen kertas mengapung indah di atasnya.
Oh sungguh, Georyeo benar-benar bersorai hari ini, dan semua suasana cerah itu, membuat Sooyoung tergiur untuk membawa pangeran mungilnya berkeliling, melihat pusat keramaian negri Goryeo, yang mungkin lebih terlihat seprti pasar besar penuh dengan festival rakyat.
Sooyoung semakin antusias menggenggam dan menarik tangan Baekhyun, berbaur dengan keramaian itu. Mengingat...namja mungil itu mendadak murung selepas perbuatan yang telah Ratu lakukan terhadapnya. Bahkan...celoteh rusuh yang kerap kali Baekhyun ucapkan, kini seakan-akan lenyap begitu saja. Ia sepenuhnya tau, bocah mungil itu tentu memendam trauma yang luar biasa.
"Apa kau menyukainya?" Tanya Sooyoung, seraya merunduk barang kali mendengar jawaban dari namja kecil itu. Namun rasanya Ia hanya menelan harapannya,karna Baekhyun sama sekali tak menjawab selain menggelengkan kepala lesu.
"Manisan persik...Manisan persik"
Terdengar sahutan beriringan dari para penjaja makanan di tengah keramaian itu, membuat perhatian dayang pengasuh itu mulai tersita.
"Manisan persik nona?" Ujar pria paruh baya itu, seraya tersenyum ramah kala Sooyoung menghampirinya dan tentu saja Baekhyun masih mengekor tanpa melepas pegangan di gaun pengasuhnya.
"Memakan manisan persik di hari yang bahagia ini, akan membawa keberuntungan untuk hari anda nona" Rayu penjual itu, seraya menunjukkan manisan persik yang tertata apik. "Dan Oh! anak menggemaskan ini pasti akan sangat menyukainya" imbuhnya lagi begitu melihat Baekhyun.
Membuat Sooyoung terkikik kecil seraya menutup bibirnya. nampaknya penjual itu tak menyadari bahwa bocah yang bersamanya itu adalah Pangeran mahkota negri ini. ...karna Baekhyun tak mengenakan pakaian kebesarannya dan hanya berbekalkan pakaian selayaknya namja kecil biasa.
Ah baguslah! dengan seperti ini Baekhyun akan tetap aman dan leluasa berkeliling di tempat ini, tanpa takut seseorang mengincarnya.
"Uhum Baekhyun... aku tau kau pasti menginginkannya bukan? geurrae aku akan membelikan banyak u—
"Tidak mau!" Sergah Baekhyun cepat, membuat Sooyoung terbelalak. Sejak kapan Baekhyun menolak makanan manis?
"Mengapa semua buah persik itu sangat jelek? Bentuknya sangat aneh!" Protesnya lagi, seraya menunjuk semua manisan persik yang terlihat berkerut, kering menyusut dan berwarna coklat pekat. Jauh sekali dengan buah persik yang kerap di makannya saat di istana, Baekhyun sangat menyukainya...penuh dengan semburat merah yang segar bahkan tercecap sari yang begitu manis walau dalam sekali gigit.
Sooyoung dan penjual itu hanya tersenyum mendengarnya, sepertinya memang Baekhyun belum pernah melihat bahkan mencicipi manisan persik.
"Aigoo, tentu saja bentuknya seperti itu...karena semua buah persik ini memang sengaja di buat layu dan kering Baekhyun~ah" Jelas Sooyoung memanggil pangeran kecil itu dengan namanya, karena tentu saja ia tak mungkin membuka jati diri Baekhyun di keramaian seperti ini.
"Jadi ini buah persik yang sudah layu?" Baekhyun mengerjap polos.
"Ya...Buah Persik akan layu jika dibuang sarinya. Meskipun begitu, buah ini tetap terasa manis jika dimakan dengan sangat baik" Tukas Sooyoung lagi, kali ini dengan memberi isyarat pada paman penjual untuk mengemas semua manisan persik itu. yakin, Baekhyun akan menyukainya.
"..." Namja mungil itu hanya diam dengan bibir terpout. Ia tau, Sooyoung tak akan mendengarnya jika sudah berbicara sepanjang itu. Baekhyun lebih memilih memalingkan wajah, ke tengah keramaian yang lain...barang kali ada mainan yang diinginkannya. Namun kedua carameleyes itu mengerjap cepat, begitu melihat sosok yang berdiri di tengah hiruk pikuk rakyat, meski banyak lalu lalang di sekitarnya tapi Baekhyun mengenali sosok itu.
Ya...sosok yang memang sedari tadi memandang dan mengawasi Baekhyun dari jauh.
"A-ahjjusii?" Gumam Baekhyun seraya melepas pegangannya di gaun Sooyoung, kala sosok pria tinggi itu mulai melambaikan tangan, seolah tengah membujuknya untuk mendekat.
.
.
.
Pria itu –Park Chanyeol - menyeringai tipis, menyadari namja kecil yang sedari tadi memang diincarnya kini benar-benar melangkah mendekatinya. "Bagus...mendekatlah" Gumamnya masih dengan memasang senyum palsu. dan lihat...bocah itu begitu riang berlari ke arahnya.
Sementara Sooyoung dan penjual itu masih disibukkan dengan tawar menawar harga,hingga sama sekali tak menyadari Pangeran mungilnya tak lagi bersamanya.
"Aisshh...aku membeli sangat banyak,seharusnya anda memberi kami potongan harga, benar kan Baek—
Sooyoung mendadak membulatkan lebar kedua matanya begitu melihat ke samping, tapi tak melihat Baekhyun. Hanya bekas remasan tangan Baekhyun yang meninggalkan garis kusut di gaunnya. Dimana Baekhyun?"
"B-Baekhyun! Baekhyun Hwangja!" Panggil Sooyoung panik, sembari berlari kacau ke tengah keramaian tak peduli manisan persik yang telah dibelinya jatuh dan terinjak.
.
.
.
"Ahjusiii" Panggil Baekhyun antusias, seraya melompat-lompat kecil, begitu tiba di hadapan Chanyeol . Entahlah...Baekhyun merasa sangat senang, dapat kembali bertemu dengan pria itu. seolah perasaan takut dan ingatan kelamnya sirna begitu saja dengan hanya melihat 'Ahjussi' itu.
Chanyeol berdehem, menyembunyikan seringai itu dari simpul senyumnya. Ia menepuk-nepuk kepala Baekhyun pelan. Tingkah bocah itu memang terlalu menggemaskan, tapi sayang...dia telah terjebak dalam permainannya.
"Kita bertemu lagi" Ujar Chanyeol sembari merunduk. "Hwangjanim" Bisik Chanyeol lalu terkekeh pelan.
masih larut dalam rasa antusiasnya, Baekhyun mengangguk cepat dan terlihat tak pernah jemu memandangi wajah Chanyeol . lebih lagi, Baekhyun merasa takjub dengan jubah hitam yang tersemat di pakaian Chanyeol . Ia tak pernah melihat yang seperti itu di sini, mungkinkah Ahjjusi itu seorang ksatria pengembara?
"Ah...tapi aku belum mengetahui namamu Hwangjanim"
"Baekhyun!...Byun Baekhyun" Sahut Baekhyun cepat seraya mengeja namanya.
Chanyeol kembali tersenyum mendengarnya, dan beralih mengelus pipi chubby Baekhyun. "Jadi apa yang kau lakukan di tempat ini Baekhyun, bukankah tak baik meninggalkan istana?"
Baekhyun hanya mempoutkan bibir, lalu menggeleng pelan. "Aku takut di istana"
Chanyeol mengernyit "Wae?"
Namja kecil itu beralih memandang Chanyeol . Rasanya Ia bisa menceritakan banyak hal pada Ahjjusi itu. Baekhyun yakin, dia pria yang sangat baik. karna tentu saja, telah menyelamatkan hidupnya.
"Eomma ingin menusuk perutku" Ucap Baekhyun sambil menepuk-nepuk perutnya sendiri
Sontak Chanyeol makin dibuat mengernyit mendengarnya. 'Eomma' yang dimaksud Baekhyun pastilah Ratu Georyo –Seohyun- bukan?
Wanita itu mustahil ingin membunuh putranya sendiri, tapi...rasanya tak mungkin juga bocah sekecil dan sepolos Baekhyun berbohong. Apa penyebabny?
"M-musseowo (Aku takut) Ahjjusi" Gumam Baekhyun lagi sambil menarik ujung lengan pakaian Chanyeol , membuat Raja Silla itu tersadar dan beralih, bersimpuh menyamakan tingginya dengan Baekhyun lalu memegang kedua bahu mungil itu.
"Apa yang kau takutkan jika aku sudah di sini bersamamu hn?" Ujar Chanyeol , menatap lebih lekat mata bulat di depannya.
"Seperti saat itu, aku akan menyelamatkanmu jika kau merasa takut" Chanyeo lberalih menyingkirkan anak rambut yang menjuntai di pipi Baekhyun lalu menyisipkannya di belakang telinga anak itu, membuat Baekhyun mengerjap akan sikap dan ucapan yang menenangkan tersebut, tapi setelahnya tersenyum sangat manis. seakan itu adalah senyum termanis yang pernah Baekhyun tunjukkan.
"Benar...tersenyumlah seperti itu Byun Baekhyun" Chanyeol beranjak berdiri dan kembali menepuk kepala Baekhyun. Masih menyimpan rapat, seringai tajamnya. Sepertinya akan sangat mudah mendekati Baekhyun dengan cara seperti ini, sebelum menuai rencana matangnya.
"Ku lihat, kau sedang membeli sesuatu bersama seorang wanita"
Baekhyun menghela nafas, membenarkan ucapan Chanyeol lalu setelahnya menghentak kaki. "Ne! Sooyoung mengajakku kemari hanya untuk membeli buah busuk!" Gerutunya kesal.
'Sooyoung? dari pakaiannya wanita itu sepertinya seorang dayang' Batin Chanyeol
Pria tampan itu terkekeh. "Buah busuk? mustahil seorang dayang istana membeli buah busuk" sangkal Chanyeol .
"Ahjjussi tak percaya? Buah itu sangat jelek! kering! buah persik itu sudah busuk, tapi Sooyoung mengatakan jika itu manis! aku tak menyukainya!" Sungut Baekhyun masih dengan bibir terpout dan kaki yang menghentak kesal. Yang entah mengapa, itu terlihat sangat menggoda di mata Chanyeol .
"Kau tak menyukai sesuatu yang manis?"
"Tentu saja aku menyukainya! tapi bukan persik layu atau busuk itu!"
Chanyeol menyeringai, sebelum akhirnya kembali merunduk mengikis jarak dengan wajah menggemaskan itu. "Berhenti menghentak kaki, aku akan memberimu sesuatu yang manis" Bisik Chanyeol . dan Baekhyun hanya mengangguk polos mengiyakannya.
Dan...detik itu pula Chanyeol mendorong tubuh mungil itu, menjauhi keramaian...menyudutkannya di sebuah dinding, lalu mengangkat tubuh mungil itu untuk berpijak di sebuah papan kayu yang membuat Baekhyun semakin tinggi.
Namja tampan itu menaikkan dagu Baekhyun sebelum akhirnya membentang jubah hitamnya memerangkap keduanya, hingga dipastikan tak ada satupun yang tau apa yang tengah mereka lakukan.
"A-ahjjusi?" Baekhyun begitu tergagap melihat Chanyeol yang berada cukup dekat dengan wajahnya, apa yang diinginkan pria itu?
Chanyeol menyeringai, dan lebih memlilih memiringkan wajahnya siap meraup bibir pouty di depannya.
"Ahjjusi ingin menghisap bibirku?" Tanya Baekhyun polos, dan sukses menginterupsi namja yang begitu bernafsu mencicipi bibir mungilnya. Oh ayolah, tentu Baekhyun tak bisa melupakan apa yang Chanyeol lakukan terhadapnya di hutan itu.
"Hn...diamlah dan biarkan aku memberimu sesuatu yang manis" Bisik Chanyeol tepat di depan bibir Baekhyun. Membuat bocah mungil itu mengerjap dan mendadak meremang begitu Chanyeol memberinya jilatan pelan di sela bibirnya, membuka akses lebih untuk mengklaim belahan ranum itu.
"Uhmph~ Mmhh" lenguh Baekhyun, begitu Chanyeol menghisap penuh bibirnya. Memainkan lapisan bawahnya begitu intens, sesekali menghisapnya dan menggigitnya pelan. Hingga membuat namja mungil itu spontan meremas pakaian depan Chanyeol .
"Anghh~" Baekhyun mengernyit di tengah lumatan basah itu, perutnya menengang begitu merasakan sesuatu yang kenyal tiba-tiba menerobos masuk mulutnya dan menekan-nekan lidahnya. Baekhyun tau, itu lidah Chanyeol .
Ciuman Raja Silla itu terlalu menuntut, membuat hidungnya menempel rapat di pipi Chanyeol hingga membuatnya susah bernafas.
"Mnnh~"
Chanyeol yang menyadarinya, melepas cepat pagutannya. Tak ayal Baekhyun begitu terengah...dan berusaha keras menghirup udara sebanyak-banyaknya. Membuat Chanyeol terkekeh geli melihatnya.
"Bernafaslah perlahan" Kekeh Chanyeol seraya menyeka lelehan saliva di sudut bibir Baekhyun.
"A—ahjjussi~ "
"Hn.."
Baekhyun masih terengah "Ah—jussi juga menghisap nafasku?"
Chanyeol reflek memalingkan wajah, nyaris tersedak tawa karan pertanyaan polos itu. Oh sungguh, bagaimana mungkin Ia melakukan hal semacam ini pada bocah semurni itu. Tapi..Ia terlalu menikmati semua ini.
"Aku hanya meminjamnya" Jawab Chanyeol mencoba mengimbangi pemikiran Baekhyun,
"Cha...kembalilah bersama Sooyoung, dia pasti mencari—
"Ahjjusii~" Panggil Baekhyun tiba-tiba, membuat Chanyeol menghentikan ucapannya dan mengernyit tak mengerti.
"Masukkan lidah Ahjjusi lagi" Celoteh Baekhyun sambil membuka bibirnya, bagi Baekhyun Keduanya tengah bermain lidah, sangat menyenangkan untukknya dan Baekhyun menginginkannya lagi. sontak Chanyeol membulatkan mata lebar melihatnya. Ah! sepertinya ia telah menodai bocah manis itu.
"Cukup Baekhyun~ah... kau harus kembali—
"Ash Shirreoo! hisap bibirku lagi Ahjjussi!" Rengek Baekhyun, sambil mengguncang lengan Chanyeol bahkan seolah menjadi kebiasaannya di saat kesal, namja mungil itu kembali menghentak kaki, membuat papan kayu yang dipijaknya oleng, dan Baekhyun nyaris terjatuh jika saja Chanyeol tak menahannya.
"Baiklah...hanya sekali saja, arrachi?"
"Humm" Baekhyun mengangguk cepat, sedikit mendongak agar Chanyeol segera meraup bibirnya.
"Tapi nanti masukkan lidah Ahjjusi...Ne?" Celoteh Baekhyun, menyela gerakan Chanyeol yang nyaris sedikt lagi mencium bibirnya
"Hn.."Gummamnya sebelum akhirnya kembali melumat bibir plump Baekhyun, menyesap saliva yang merembas dan menyusupkan lidahnya di dalam rongga mulut yang terasa begitu manis itu. Ah...sangat nikmat! Ia tak pernah menduga...bibir bocah kecil itu akan membuat candu seperti ini.
"Uhmph~"
.
.
.
.
.
"Baekhyun, apa kau tau kapan Ayahmu melangsungkan pernikahan itu?" Chanyeol mencoba peruntungan bertanya pada Putra mahkota, karna memang sejauh ini Ia dan semua orangnya hanya mendapat informasi yang masih simpang siur. tentu Dirinya membutuhkan kepastian untuk menyusun semuanya hingga serangan itu memang tepat sasaran.
Namja mungil itu tampak memiringkan kepala, lalu mengangguk cepat. "Sooyoung melarangku mengatakannya pada siapapun. Tapi Ahjjusi yang meminta...akan kuberi tahu"
Baekhyun berjinjit, membuat Chanyeol merunduk dan membiarkan namja mungil itu berbisik di telinganya.
"Besok malam Ahjjusi...jangan katakan pada siapapun. Karena musuh bisa menyerang jika tahu" Bisik Baekhyun meniru pesan dari dayang pengasuhnya.
Chanyeol menyeringai puas. Ini yang diharapkannya dari bocah mungil itu, senjata yang ampuh untuk menyusun serangannya.
'Ya..dan kau baru saja mengatakannya padaku Baekhyun~ah' Gumam Chanyeol dalam hati
Pria tampan itu kembali mengelus pipi Baekhyun dan menyentuh hidung mungilnya. "Algeseumnida...Hwangjanim"Canda Chanyeol setelahnya.
.
.
"Rahasiakan apa yang kita lakukan di tempat ini, dan jangan pernah mengatakan pada siapapun kau bertemu denganku" Jelas Chanyeol seraya kembali menyeka saliva di sudut bibir Baekhyun.
"Waeyo?"
Chanyeol menghela nafas, berlaga menunjukkan raut sedihnya. "Jika mereka tau, mereka pasti akan mencuriku dan mencuri permainan kita, apa kau menginginkan jika sampai seperti itu?"
Baekhyun membulatkan mata tak terima, bahkan menggeleng kasar. "Andwae! Aku tak mau siapapun mencuri permainan lidahku! Dan Ahjjusi hanya milikku!" Seru Baekhyun, dengan tatapan menghunus.
membuat Chanyeol menyeringai menang, tampaknya...Baekhyun memang pribadi yang keras kepala menjaga apa yang menjadi miliknya.
"Hn...berjanjilah tak akan mengatakannya pada siapapun"
"Aku berjanji Ahjjusii~"
"Bagus...Kau memang anak yang pintar Baekhyun~ah, Cha...kembalilah. Lihat...Sooyoung mencarimu" Ucap Chanyeol sambil menurunkan Baekhyun dari papan kayu lalu menunjuk pada wanita di tengah keramaian, begitu kalap bertanya pada siapapun yang dilaluinya untuk mencari pangeran kecilnya.
"Sooyoung menangis?" Baekhyun mengerjap sedih melihat pengasuhnya berlarian, sambil tergugu.
"Hn...Dia mencarimu. Temui Dia"
Baekhyun mengangguk, lalu berlari ke depan...namun langkahnya terhenti. Baekhyun kembali memutar tubuh ke belakang.
"Ahjjusi akan menemuiku setiap hari...ne?"
Chanyeol tersenyum, lalu mengangguk pelan...membuat bocah manis itu melompat girang lalu kembali berlari ingin menemui dayang pengasuhnya.
.
.
"Selain tahtamu...akupun ingin menerkam Putramu, Byun Yonghwa"
.
.
.
.
"Apa kau melihatnya? seorang anak setinggi ini" Sooyoung berusaha mendiskripsikan Baekhyun setinggi dadanya, namun wanita di depannya hanya mengernyit dan menggeleng pelan.
"Maaf aku tak melihatnya"
"Yya! apa maksudmu tak melihatnya?! kau pasti melihatnya!" Seru Sooyoung seraya mengguncang lengan wanita itu.
"Aish! Mengapa kau memaksaku! Aku benar-benar tak melihatnya!" Sentak wanita itu kesal, lalu berjalan menghentak meninggalkannya.
.
.
"HIKS! Baekhyun Hwangjaaaaa" Isaknya seraya menggosok kasar matanya, kemana lagi Ia harus mencari Baekhyun. sedangkan tempat ini dipenuhi puluhan ribu manusia...oh Tuhan, bagaimana jika seseorang memang sengaja menculiknya.
"Soo—young" Panggil seorang bocah dari belakang
Sontak Sooyoung membelalak lebar, cepat-cepat Ia memutar tubuh ke belakang, dan detik itu pula Sooyoung terduduk mendekap kaki Baekhyun, dan meraung sejadinya. Seolah tak menginginkan kedua kaki mungil itu melangkah meninggalkannya lagi.
"Da—ri manaa? Baekhyun Hwang—jaaaa ...apa kau ingin melihat pengasuhmu mati berdiri eohh? Haaaaa"
"Sooyoung...mengapa kau menangis?"
"Aigooya! Sempat kau bertanya seperti itu! Haaaa"
"Sooyoung.."
"Wae?!" Hiks
"Semua orang melihatmu"
Sooyoung membuka cepat kedua matanya, menyeka kasar air matanya lalu berdiri begitu saja seolah tak terjadi apapun. Benar! akan menjadi cerita lain, semua orang melihatnya memalukan seperti ini.
"Jibe kajja (Ayo pulang) " Ucapnya seketika seraya menggenggam tangan Baekhyun.
.
.
.
.
.
"Yya...ada apa dengan bibirmu?" Sooyoung mengernyit melihat bibir Baekhyun tampak memerah bahkan sedikit bengkak.
Cepat-cepat Baekhyun menutup bibir dengan kesepuluh jarinya, was-was Sooyoung mengetahui permainannya bersama Ahjjusinya. Oh demi apapun itu! Ia benar-benar tak rela jika Sooyoung sampai merebut Ahjjusinya pula.
"Yya..yya...kau menyembunyikan sesuatu dariku?" Sooyoung merunduk, menatap namja mungil itu penuh selidik, dan berusaha menurunkan tangan Baekhyun
"Umm!" Gumam Baekhyun seraya menggelengkan kepalanya
"Atau...apa kau memakan sesuatu Hwangjanim? katakan apa yang kau makan tadi?"
Baekhyun mendelik kesal dan melepas tangannya."Aku tak makan apapun!"
"Lalu mengapa bibirmu bengkak seperti itu?"
"Bibirmu juga bengkak! Aisshhh!" Jerit Baekhyun jengkel, seraya berjalan menghentak memasuki istana...meninggallan pengasuhnya di halaman luas itu.
"O-ommo..ommo, Jinjjayo? Bibirku bengkak?"
.
.
.
Beberapa Jam Kemudian
"Tuangkan lagi.." Pria itu kembali menyodorkan cangkir gioknya, dan dengan sigap dayang di sebelahnya menuangkan teh Chrysant itu penuh hati-hati.
Ia memejamkan mata. sembari menyesap perlahan minumannya lalu menghela nafas pelan. berfikir keras, apa yang seharusnya Ia lakukan untuk Seohyun, mengingat wanita itu tengah terguncang. Apa yang harus Ia lakukan untuk memulihkan istrinya?
Tapi rasanya mustahil...Seohyun akan tetap terluka dengan pernikahannya itu. lebih lagi Ia akan melangsungkannya besok malam.
segala persiapan telah Ia rencanakan dengan sangat matang, merahasiakannya dari pihak luar dan menyebar isu tak pasti.
Tentunya..untuk mencegah siapapun menggagalkan pernikahannya dengan Putri Negri Khitan.
sekali lagi, pernikahan itu hanyalah sebagai simbol penyatuan dua sekutu untuk memperkuat dua negri.
Georyo dan Khitan.
"Pheeyaa...Tabib Shin ingin menemui Anda" Terdengar seruan dari penjaga pintu. membuat Raja Goryeo –Byun Yonghwa- itu, membuka mata dan meletakkan cangkir gioknya.
"Biarkan Dia masuk" Titahnya kemudian
Dan bersamaan dengan itu pula, seorang pria tambun melangkah masuk dan menunduk penuh hormat begitu tiba di hadapan singgasana Raja.
"Apa yang ingin kau sampaikan kepadaku Shin? Apa itu berhubungan dengan Putraku?"
Tabib Shin kembali menunduk penuh hormat "Benar Pheya...ini mengenai Baekhyun Hwangja"
Yonghwa mengangguk pelan, menerima dengan tangan terbuka kedatangan tabib kepercayaannya itu, tabib itu memiliki kelebihan, mampu membaca tubuh manusia walau hanya dengan titik aku puntur, bahkan segala ramuan yang diberikannya tak perlu diragukan lagi, tentu dalam kondisi apapun Yonghwa akan tetap menerima kedatangannya
"Katakan..."
"Pheya, rahim itu semakin berkembang. Ramuan yang saya berikan selama ini, sama sekali tak berpengaruh apapun" Ucap Tabib itu penuh sesal.
"Apa?! Tak adakah cara lain untuk melenyapkannya?"
"..." tabib Shin terdiam, merasa buntu untuk menjawab pertanyaan itu. rahim itu telah menyatu dengan pusat energi dan ketahanan tubuh Baekhyun, dengan kata lain Baekhyun memang ditakdirkan memiliki rahim tersebut. Dan jika harus dilenyapkan paksa, itu hanya akan memberikan kesimpulan yang tak diinginkan.
"Nyawa Baekhyun Hwangja yang akan menjadi taruhannya" Pungkas Tabib itu, seraya menghela nafas berat.
Yonghwa terperangah, namun cukup lemas mendengarnya. Tentu saja Ia tak mungkin membunuh darah dagingnya sendiri hanya untuk melenyapkan rahim itu. Tapi bagaimana jika seseorang tau akan hal ini, dan memanfaatkan situasi.
"Satu-satunya cara...adalah dengan merahasiakannya dari Rakyat Georyeo. Dan mencegah Baekhyun Hwangja berhubungan dengan namja manapun di luar istana ini"
Yonghwa memejamkan mata. Sejak mengetahui Baekhyun memiliki organ itu, Ia telah menjaga Baekhyun berhubungan dengan laki-laki manapun, bahkan untuk pengasuh dan teman sekalipun Ia telah membatasi dan mengaturnya. Melarang pengawal mendekatinya, tanpa seizin titahnya.
Semua di sekitar Baekhyun adalah yeojja, selama ini putranya hanya berteman dengan dayang dan jikapun itu namja...Ia adalah kerabat istana.
"Baik...bicara mengenai kemungkinan terburuk. apa Putraku...bisa mengandung selayaknya wanita?"
"Peluang itu sangat tinggi Pheya. Lebih pesat dibandingkan dengan rahim wanita. Baekhyun Hwangja bisa saja mengandung di usia 15 tahun bahkan mungkin kurang dari usia tersebut" Jelas Tabib Shin berusaha menjaga ucapannya.
"Maafkan hamba tak bisa memastikan permulaan usia riskan itu Pheya" Lanjutnya lagi.
"Tidak Shin, kau cukup banyak memberiku petunjuk untuk menjaga Putraku, baiklah...kau bisa kembali ke tempatmu"
Tabib Shin kembali menundukkan kepala, sebelum akhirnya memohon diri.
.
.
.
Yonghwa memijit pening pelipisnya selepas kepergian Tabib kerajaan itu. semua terasa menekannya...Seohyun, Baekhyun...dan kali ini tahtanya.
Sejak di awal Ia memang telah merencanakan mewariskan tahtanya untuk putra kesayangannya itu.
Tapi apakah mungkin akan baik-baik saja, Ia menyerahkan tahta itu untuk seorang pangeran yang memiliki rahim.
Itu hanya akan mengancam nyawa Baekhyun bukan?
.
.
.
Sementara itu di tempat lain
"Akan lebih baik, jika Negri Khitan beraih haluan bersekutu dengan kita"
"Tidak Menteri Jung! Khitan terlalu licik jika dijadikan sebagai sekutu. Lagi pula... Silla,telah menjadi Negri yang sangat kuat. Kita hanya perlu memperluas wilayah saja dengan menaklukan Goryeo."
"Tapi kita belum tau kapan tepatnya Yonghwa melangsungkan pernikahan itu, mereka bahkan merahasiakannya dari rakyatnya sendiri. Jangan salah bertindak! Meski kita kuat dalam jumlah prajurit perang" Timpal menteri yang lain.
Dan Chanyeol di atas singgasana itu hanya memangku dagu sambil terkekeh pelan melihat para menteri paruh baya itu saling timpal menimpal argumen. Semua dari mereka sama sekali tak memberi solusi, terlalu membuang waktu jika mengutus semua pak tua itu.
Sejujurnya, telah jauh hari ia menyusun rencananya sendiri tanpa bantuan para menteri. Menyamar dan menyelinap ke dalam tanah Georyeo itu sendiri.
Bahkan, kini Ia telah mendapat kunci serangan itu. tanpa sepengetahuan semua menteri kerajaan tentunya.
"Pheyaa...sepertinya Georyeo hanya menyebar isu. Tak ada pernikahan yang terjadi, mereka hanya ingin membuat kita resah saja, dan hanya ingin mengetahui seberapa besar kekuatan yang kita miliki. Ini hanya jebakkan Pheya" Seorang menteri begitu yakin dengan spekulasinya, membuat isi dalam ruangan kerajaan itu kembali gaduh karna protes menteri yang lain.
Chanyeol dibuat terkekeh geli mendengarnya. Raja Silla itu tau benar apa yang akan berlangsung di tanah Goryeo satu hari kedepan, sekali lagi...karna Ia memiliki kunci untuk serangan itu.
"Ku putuskan, hari ini kita akan bergegas...aku yakin rombongan Khitan masih menempuh perjalanan. Siapkan semua prajurit di perbatasan Goryeo. Dan gagalkan Khitan memasuki wilayahnya. Lalu setelah itu—
Chanyeol menyimpul seringai tajam " Setelah Khitan meninggalkan Goryeo. kita serang tanah tanpa sekutu itu"
Semua menteri tampak diam membisu, mereka terlalu ciut untuk menyangkal jika sang Raja sudah menentukan keputusannya. Tapi dari mana Chanyeol bisa seyakin itu dengan rencananya? itu yang kini menjadi tanda tanya besar di dalam kepala mereka. tanpa tau...Raja Silla itu selalu berjalan jauh lebih di depan.
dan siapapun tentu tau...Chanyeol adalah sosok dingin penuh dengan perhitungan.
.
.
.
"Siapkan semua prajurit"
"Nde Pheya"
.
.
.
Esoknya
Goryeo
"Apa yang terjadi? Mengapa rombongan itu belum juga tiba?" Seorang menteri istana Goryeo tampak resah mengiring waktu. sudah setengah hari terlewat, tapi kedatangan rombongan pembawa calon permaisuri dari Khitan itu belum juga terlihat. sedangkan, pernikahan itu akan dilangsungkan tepat di saat matahari terbenam.
"Yya kau! Di mana semua prajurit Panglima Han?" Kali ini menteri itu kembali melayangkan keresahannya pada pengawal di sisinya, mencari penjelasan kemana perginya prajurit yang bertugas menjemput dan mengawal sekutu dari Khitan itu.
"Sampai saat ini mereka belum kembali"
"Apa? Selama itu?!"
"Nde...dan beberapa prajurit pergi memastikannya ke Negara Khitan, tapi butuh waktu 2 sampai 3 hari"
Menteri tertinggi itu semakin meradang, "Apa?! Apa yang sebenarnya terjadi?!"
Hingga tiba-tiba saja, Ia di kejutkan dengan dentang lonceng kerajaan dan terbukanya gerbang istana. Ia berlari keluar menuju balkon istana, memastikan itu adalah pengawal yang datang membawa rombongan Khitan.
.
.
.
Namun,
Seketika itu pula Ia dan semua penghuni istana yang melihat dibuat terperanjat bukan kepalang, bukannya pengawal Khitan yang datang melainkan hanya satu kuda yang memekik keras, membawa prajurit yang telah berlumuran dengan darah.
.
.
"Kita di seraaang!" Teriak seorang pengawal yang sebelumnya berusaha keras mendengar penjelasan dari prajurit yang telah sekarat itu.
"P-Pheya! Pheyaaaa!" Panggil Menteri panik, seraya berlari kembali ke dalam untuk menemui Raja, yang saat itu masih belum mengetahui apapun.
.
.
.
.
.
.
"Dengar, jangan berulah dan jangan pergi kemanapun" Sooyoung memijit hidung Baekhyun pelan, berharap namja manis itu benar-benar mendengarnya kali ini.
"Waeyo! itu adalah pernikahan Appa! Aku ingin di sana!" Kekeuh Baekhyun memaksa
Sooyoung hanya menghela nafas, itu yang diperintahkan Yonghwa padanya. untuk tidak membawa Baekhyun keluar selama pernikahan itu berlangsung, entah apa penyebabnya...Sooyoung tak tau. Ia hanya seorang dayang yang tak berhak mengelak apapun.
"Yyaaa...Hwangjanim, kau pasti akan menghilang lagi. Aku tidak mau mencarimu"
Baekhyun bersidekap dan membuang muka. "Aku juga tak ingin bertemu denganmu Sooyoung! Kau sangat menyebalkan"
Wanita itu, berdecak gemas. "Aigoya...apa kau bersungguh-sungguh dengan ucapanmu. Hwangjanim...kau sangat manja, mana bisa tanpa diriku" Canda Sooyoung seraya berdiri dan menepuk pantatnya sendiri. seolah ingin menggoda pangeran kecilnya agar memekik kesal.
"Aku tidak manja!"
"Manja! kau selalu mengekor Dayang Sooyoung kemanapun Dia pergi Ahahaha"
"Yack! Soo—
"AAAAAHHHHHHHH!"
KLANK
"ARGTH!"
Keduanya terbelalak lebar, begitu mendengar jeritan dan mungkin suara pedang beradu. Sooyoung berdebar, menduga sesuatu yang buruk sepertinya terjadi di luar sana. Ia menangkup pipi Baekhyun "T-tunggu di sini, jangan kemanapun Arrachi?" Ucapnya sebelum akhirnya berlari keluar untuk memastikan apa yang terjadi.
Baekhyun mengangguk, dan meringkuk di sudut kamarnya. Sejujurnya Ia takut...sangat takut dengan jeritan yang tak biasa itu, bahkan semakin lama...semakin terdengar denting besi berbaur dengan kegaduhan dan jeritan memekakkan.
.
.
.
"A-apa yang—" Sooyoung tercekat hebat, begitu melihat jauh di depannya. Semua orang begitu panik melarikan diri, beberapa diantaranya menabraknya hingga membuatnya jatuh terjerembab.
Sooyoung menatap nanar ke depan, apa yang terjadi? Banyak prajurit saling membusungkan pedang dan panah. Jeritan, erang kesakitan seakan melebur bersama darah yang mengalir.
"Baekhyun! Baekhyun Hwangja" Sooyoung merangkak kalut, hanya namja kecil itu yang berada dalam benaknya kali ini. Sooyoung berusaha bangkit, Ia harus menemuinya. namun langkahnya tersendat begitu mendengar isakkan seseorang.
"Hiikkss..."
"T-tuan muda Kyungso" Cepat-cepat, wanita itu merengkuhnya.
"Sooyoung...aku takut...hhhaaa" Namja mungil itu semakin menangis ketakutan.
"Ssshh...berhenti menangis, kajja pergi dari sini" Bisik Sooyoung, lalu berlari dengan membawa namja kecil bernama Kyungso itu di atas punggungnya. "Kau dan Baekhyun akan tetap baik-baik saja, berhenti memangis"
,
,
,
BRAKK
"Baekhyun!" Sooyoung merangsak cepat ke dalam kamar Baekhyun, dan memeluk namja mungil itu begitu erat.
"S-Sooyoung, apa yang terjadi?" Baekhyun mengerjap, dan makin tak mengerti melihat Kyungso menangis di sisinya.
"Dengar...apapun yang terjadi, kalian harus lari dari sini...lari sekencang mungkin" Ucap Sooyoung seraya membuka pintu kamar Baekhyun.
"Sooyoung..apa—
"Sssh, jangan bertanya apapun. Patuhi apa yang kukatakan kali ini...mengerti?" Lolos sudah air mata pengasuh itu, Ia membelai pelan wajah Baekhyun. Dan mengecup puncak kepalanya begitu lama...
demi apapun itu. Ia selalu menghabiskan waktunya bersama Baekhyun, menganggap Baekhyun layaknya dongsaeng atau bahkan putranya sendiri.
DUAGGHH
ARGH
"Mereka mendekat! Ppali! Ppali! Keluar dari tempat ini" Sooyoung mengangkat tubuh dua namja mungil itu, memanjat jendela hingga dipastikan keduanya benar-benar aman di luar.
"Kajja! Lari !"
"Sooyoung! kau ikut dengan kami...ayo keluar!" Baekhyun merengek, dan mulai menarik-narik tangan Pengasuhnya itu, bahkan namja kecil itu mulai menangis.
Sooyoung menggeleng, tersenyum dengan derai air matanya. Bukannya Ia tak ingin pergi, tapi jendela itu terlalu sempit untuk tubuhnya. "Berjanjilah,untuk tetap baik-baik saja Hwangjanim" Ucap Sooyoung seraya melepas pegangan tangan Baekhyun. Lalu menutup rapat jendela itu.
KLANK
"A-aahh!"
"Andwae! Sooyoung! Sooyoung!" Baekhyun meronta ingin membuka kembali jendela itu, terlebih setelah mendengar pekikan Sooyoung.
"Kajja lari!" Tapi Kyungso menahan tangannya, dan memaksanya untuk segera meninggalkan tempat itu.
"Sooyoung!"
"Yya! Mereka akan membunuh kita jika kau tetap di sini. Kau dengar apa yang dikatakan Sooyoung?
Selamatkan diri kita!" Racau nya berusaha menyadarkan sepupunya itu. Dan menariknya paksa untuk berlari. Tak peduli, Baekhyun masih menangis keras bersamanya.
Baekhyun tak mampu berpikir apapun, ia tak tau bagaimana Sooyoung, di mana Ayah dan Ibunya. Namja kecil itu tak tau harus berlari kemana. Mengapa semua berubah menjadi seperti ini?
'Ahjjusii...musseowo (aku takut) selamatkan aku Ahjjusii'
.
.
.
.
.
.
.
Te...bee...Ceeeeeee
Next Chapter
"Seharusnya aku tak pernah melahirkanmu! Seharusnya aku membunuhmu sejak pertama kali aku melihatmu!"
"E-eommaa" Baekhyun terisak, merasa ciut sekaligus terancam dengan pedang yang terhunus padanya.
"Aku akan melenyapkanmu! AKU AKAN MEMBUNUH PETAKA GORYEO!"
.
.
Greb
"Seorang Ibu yang mengerikan"Seorang pria bertopeng tiba-tiba menghadang, dan tersenyum licik pada Ratu yang tak sepantasnya mengangkat pedang. Terlebih pada keturunannya sendiri
.
.
.
"Appa! APPPAA!"
"Baek—Hyun"
"Biarkan kita buang aib itu Pheya...biarkan kita buang kutukan itu!"
.
.
.
Sosok bertopeng itu mulai menarik pelana kuda, bersamaan dengannya pula pekikikkannya meringkik keras...membawa bocah mungil itu semakin jauh meninggalkan Goryeo yang telah tumbang.
"APPAAAAA!"
.
.
.
Annyeoooooong
Gloomy kembali dengan Chap 2 nya...'
Bagaimana Chingu...masih layak dilanjutkan atau sampai Chap ini saja alur ceritanya?:)
Review nee
Saranghaeeeeeee
