Game On
.
Characters belong to Masashi Kishimoto.
.
This Is SasuHina Story!
Alternative Universe! Out Of Character! Unbetaed! Grammatical Errors! Typical Errors! Plot lambat!
You've been warned!
.
And please note that I already got you warned that anything can happen.
.
Inspired by an romance-action novel yang saya lupa judulnya T.T
.
.
.
"Di mana dia?" Naruto bertanya tepat setelah Hinata muncul di lobby.
"Masih di kamarnya," jawab Hinata secukupnya, ia masih agak lelah namun berharap tak terlalu terlihat lesu.
Naruto menghela napas panjang sebelum melirik Sakura. "Kalau begitu kurasa dia tidak akan makan malam bersama kita," gumamnya. "Ayo, Hinata... uh tidak masalah kan kalau kau kupanggil Hinata saja? Kau juga cukup memanggilku Naruto," tanpa menunggu Hinata menjawab, pria bersurai pirang itu melanjutkan kata-katanya. "Kita pesan pizza dan beberapa gelas bir. Keduanya benar-benar perpaduan yang sempurna," Naruto tertawa saat mengatakannya, dan saat itulah Hinata sadar bahwa pria itu hanya terlihat kaku saat ada Sasuke.
Mereka berjalan ke restoran terdekat, percakapan ringan beberapa kali tersisip.
"Jadi, Hinata... kudengar ayahmu sudah memberikan perintah untuk kita," ujar Sakura setelah pelayan mengantarkan pesanan mereka.
Hinata mengedikkan bahu pelan. "Dia memberikan perintah kepada semua orang."
Sakura tertawa kecil. "Benar, tapi mungkin tidak untuk Thunder."
"Kalianberpikir ayahku takut padanya?" tanya Hinata serius.
Naruto mendengus, mulutnya masih menggerogoti pizza di tangan. "Bukan takut, dia bisa kapan saja membuat Thunder tertunduk dengan mudah. Lebih seperti dia membutuhkan Thunder," sambungnya.
"Tunduk?" Hinata menyesap birnya. "Apa maksudnya?"
Sakura berdeham sebelum menjawab. "Jika ada hal yang ditakuti Thunder, itu adalah saat dia ditinggal sendirian."
"Tapi bukankah dia selalu sendirian setiap waktu?" Hinata semakin tak mengerti.
"Ya. Tapi tidak dengan dikurung di ruang kecil untuk beberapa minggu atau bahkan bulan. Itu adalah salah satu hukuman di p-shard untuk para pelanggar aturan," Sakura menjelaskan secara singkat. "Thunder sudah pernah merasakannya sebanyak tujuh kali dan dia tetap tidak bisa mencegah dirinya sendiri untuk melanggar aturan," kepala Sakura menggeleng ringan.
"Kau tahu, dia membunuh semua partnernya, dalam dua minggu paling lama. Kenapa? Karena mereka membuatnya marah. Setidaknya itu alasan Thunder," Naruto mulai bergabung mengeluarkan pemikirannya. "Tapi menurutku, itu karena dia tidak ingin orang lain mendekati zona pribadinya, entah atas alasan apa."
Hinata berkedip, benaknya memikirkan apa yang Naruto katakan. Ia membenarkan posisi duduknya sebelum membuka bibir. "Apa kau pikir dia melakukannya secara sengaja?"
"Ya," jawab Naruto. "Aku tahu aku terdengar kejam. Tapi seseorang sepertinya memang lebih baik tanpa teman. Apapun yang kau lakukan, dia akan tetap mendorongmu menjauh hingga akhirnya kesabaranmu meledak. Dan saat itulah dia akan menghabisimu," Naruto mengosongkan gelas bir yang isinya memang sudah tak seberapa. "Setidaknya itu yang kualami. Aku pernah mencoba berteman dengannya. Namun kami berakhir hampir saling membunuh hanya karena aku menepuk punggungnya untuk mengajaknya makan siang."
Hinata mengangguk, berdeham samar. "Apa kau tahu... bagaimana dia bisa berakhir disini? Di Anbu maksudku," tanya Hinata.
"Kehidupan yang keras. Tapi lagi kita semua merasakan fase itu, bukan? Hanya saja Thunder memilih untuk membentengi dirinya sendiri dari orang lain sebagai penyelesaian atas masalahnya," Naruto mengedikkan bahu ringan. "Setidaknya itu menurutku."
"Kau tahu, Hinata? Naruto juga pernah menjadi partner Thunder," tambah Sakura.
"Aku pernah mendengarnya," akunya jujur, dalam hati Hinata merasa Naruto memang pilihan yang lebih baik untuk bekerja sama daripada Sasuke.
"Sejak insiden perkelahian kami, agensi memutuskan untuk mengganti partner kami karena mungkin mereka tahu kami akan mencoba membunuh satu sama lain bahkan sebelum membunuh target," Naruto tertawa lepas.
..
...
..
"Kalian semua sudah siap?" Sakura masuk ke dalam suite Hinata dan Sasuke.
Wanita dengan surai merah muda itu kini tampil anggun dengan sleeveless dress berwarna merah marun, heels sepuluh senti juga, beberapa aksesoris juga polesan make-up yang sesuai. Naruto sendiri tak nampak, mungkin menunggu di koridor depan.
"Wow," ujarnya dalam satu hembusan napas, matanya berbinar saat melihat Hinata yang terbungkus gaun hitam dengan lengan tiga per empat dan wedges delapan senti dengan warna senada. Begitu cocok mengimbangi kulit putih juga surai gelapnya. "Jika kau termasuk dalam 'barang' pelelangan malam ini. Aku yakin kau akan mendapatkan penawaran tertinggi, Hinata," ceplosnya yang kemudian di respon tawa kecil Hinata.
"Kau sendiri terlihat luar biasa, Sakura," Hinata merapikan ujung dress-nya. Rasanya agak aneh mengingat sudah cukup lama sejak terakhir kali ia memakai gaun formal seperti ini.
"Terima kasih," Sakura tersenyum lebar. "Dimana Agen Thunder?"
Belum sempat Hinata membuka mulut untuk menjawab, salah satu pintu kamar terbuka hingga menimbulkan suara bedebam, menandakan bahwa siapapun yang membukanya menggunakan tenaga yang lebih dari cukup.
Sasuke kemudian muncul dari sana dengan kemeja hitam yang dikancing dengan sangat tidak rapi dan dasi biru gelap yang masih lemas di genggaman kanannya. Tiga kancing teratas kemejanya pun masih tanggal, memperlihatkan leher dan sebagian dada bidangnya. Meski pakaiannya agak berantakan, pria itu terlihat menawan dengan rambut yang lebih tertata walau tanpa mengubah gaya awalnya.
"Aku tidak bisa memasang benda bodoh ini!" Sasuke mengumpat, tangannya mengacungkan dasi yang ia genggam.
"Aku bisa membantu," Sakura menawarkan namun dibalas tatapan tajam dan tak suka dari Sasuke. Sasuke kemudian memandang Hinata dengan tatapan yang sama.
"Kau," tujunya pada Hinata. "Pasangkan!" Sasuke menyodorkan tangannnya yang menggenggam dasi ke arah Hinata.
Satu alis Hinata menukik halus, namun ia tetap menuruti Sasuke dengan melangkah mendekatinya dan mengambil alih dasi itu. Detik berikutnya, Hinata sedikit membenarkan kemeja Sasuke dan mengancingkannya hingga tuntas.
"Kau mencoba membunuhku, ya?" Sasuke memprotes saat Hinata mengaitkan kancing paling atas.
Hinata memutar bola mata. "Memang seperti ini caranya," balasnya singkat.
Dengan cekatan, Hinata memasangkan dasi di kerah pria itu. Pandangannya fokus, tak sedikitpun terangkat untuk memandang wajah Sasuke hingga ia selesai memasangkan dan memastikan kerapihan dasi itu.
"Kita bisa pergi sekarang," ujar Hinata setelah ia selesai.
..
...
..
"Velkommen. Ma jeg se dine identifikation?*"
Setelah memperlihatkan kartu identitas dan undangan—yang tentu juga palsu—kepada resepsionis, mereka dipersilahkan masuk ke sebuah aula yang sudah didekor sedemikian rupa. Ratusan pria dan wanita hadir dengan penampilan terbaik mereka, beberapa sudah berkawankan segelas sampanye di tangan.
"Oh, lihat ini. Kau pasti akan merasa terusik berlama-lama di sini," Naruto menyeringai ke arah Sasuke. "Bukan jenis pesta yang kau suka, huh?"
Sasuke berdecih namun kemudian melempar balik sebuar seringaian. "Akan menjadi pesta ang sempurna untukku jika aku bisa meledakkan tempat ini."
"Pelankan suara kalian," Sakura segera menyela sebelum keduanya menarik perhatian atas cekcok kekanakan mereka. "Cukup banyak orang Jepang dan yang mengerti bahasa Jepang di sini."
Dekorasi aula sangat kental dengan suasana Prancis, begitu elegan dan mewah. Namun sayang orang-orang yang menghadirinya merupakan manusia berpikiran pendek pendukung gerakan reformis ilegal untuk melawan pemerintahan. Setidaknya begitu yang Hinata pikirkan.
"Vil du gerne have nogle champagne?*" seorang pelayan muncul membawa baki yang mengangkut beberapa gelas sampanye, Hinata tersenyum mengangguk kemudian mengambil satu gelas.
"Jo, tak,*" ujarnya pendek.
"Pastikan mata dan telingamu terbuka lebar setiap saat," Naruto berbisik rendah. "Yugaku Hidan akan segera tiba. Kita mungkin tidak akan berkesempatan bicara dengannya, tapi kita harus mengusahakan mendengar apa yang dia bicarakan dengan orang lain malam ini."
"Apa kau sedang melakoni peran ketua tim ini? Dasar dungu," Sasuke mendesis.
"Oh sebenarnya kau boleh saja jadi ketuanya. Tapi sayang aku membencimu."
"Kita punya perasaan yang mutual kalau begitu," Sasuke menyeringai.
Naruto menggelengkan kepalanya pelan sebelum mengedarkan pandangan. Manik safirnya jatuh pada seorang wanita asing yang tengah menatapnya dari seberang ruangan. Ia kemudian melemparkan senyum tajam.
"Well, sepertinya aku menemukan seseorang yang bisa kupancing dalam obrolan," Naruto memberitahukan rekan-rekannya sebelum berjalan menuju wanita itu.
Mata Sakura menyipit. "Ya, mungkin memang lebih baik membaur dengan tamu lain," ujarnya tajam kemudian menjauh dari sana.
Mata Hinata menatap sosok Sakura yang berjalan santai ke sisi lain ruangan sebelum kembali memberikan perhatian terhadap satu rekannya yang masih tinggal.
"Kau... tidak minum? Bahkan sekedar sampanye?" tanya Hinata dengan suara pelan.
"Kenapa aku harus mengkonsumsi sesuatu yang hanya akan menghancurkan tubuhku?" itulah balasan Sasuke.
"Entahlah..." merasa tak menemukan balasan yang tepat, Hinata hanya menggantung satu kata itu. Kepalanya agak ia dongakkan untuk sekedar melihat wajah Sasuke namun kemudian ia rendahkan lagi pandangannya saat mendapati oniks pria itu menatapnya tajam. "Jika hanya sesekali mencoba, mungkin tidak masalah."
"Masalahnya aku tidak ingin mencoba," suara berat itu kembali didengar Hinata.
"Tapi kukira kau... tidak peduli tentang kematian."
"Memang," Sasuke mengambil satu langkah, agak lebih merapatkan dirinya dengan Hinata. Telapak tangan besarnya membungkus pergelangan tangan Hinata sembari ia mencondongkan wajah ke telinga wanita itu. "Dan aku juga tidak peduli tentang kehidupan. Yang menjadi ketakutanku adalah soal untuk apa aku hidup atau untuk apa aku mati."
Hinata diam meski agak terganggu dengan jarak yang Sasuke buat terhadapnya. Beberapa saat seperti itu hingga suara pintu utama terbuka merenggut atensi masing-masing. Sasuke menggeser tubuhnya dan melepaskan pergelangan tangan Hinata yang sebelumnya ia genggam. Selanjutnya mereka melihat seorang pria jangkung masuk bersama beberapa rekan dan pengawalnya.
"Det er en fornojelse at mode jer alle sammen,**" seru pria itu dengan nada santai namun tegas. "Tak for at komme her i dag,**" lanjutnya.
Hinata yakin inilah Yugaku Hidan yang mereka targetkan. Pria itu terihat atraktif secara postur dan gaya berpenampilannya. Usianya mungkin sekitar pertengahan tiga puluh.
Dari ujung mata Hinata, ia melihat pria itu berhenti di tengah ruangan dan mengambil segelas sampanye dengan mata yang seperti tak pernah meninggalkannya. Hinata memutuskan untuk melihat secara langsung. Ia mengangkat pandangannya ke arah Hidan dan benar saja, pria itu melempar senyum sambil mengacungkan ringan gelas sampanye ke arahnya pada detik tatapan mereka bertemu. Hinata membalas dengan etika yang sama untuk kemudian segera memindahkan pandangannya dari pria itu.
Satu jam lebih selanjutnya diisi oleh pidato dan lelang untuk mengumpulkan dana. Selama sesi itu berlangsung, Sasuke tak pernah beranjak dari sisi Hinata, dan entah sejak kapan tangannya kembali menggenggam pergelangan tangan Hinata.
Baru setelah acara telah sampai di penghujung pelelangan, Sasuke memisahkan diri, mencari apapun yang mungkin bisa memberikannya informasi. Hinata hendak melakukan hal yang sama, namun pergerakannya tertahan, agak terkejut saat melihat Hidan berjalan menghampirinya.
"Hej,***" sapanya dengan senyuman yang mencapai telinga. Hinata agak memiringkan kepalanya ke samping namun tetap merespon dengan senyuman kecil. "Er du have det sjovt?***"
"Ja, jeg nyder det godt,***" Hinata berujar santai. "Ah... jeg repraesenterer Osaka gren af Komuki Enterprise,***" tambahnya memperkenalkan.
"Ah... sa er du Japansk?***" sahut Hidan masih dengan senyum terbaiknya. Hinata mengangguk. "Kalau begitu mungkin tidak masalah jika kita bercakap menggunakan bahasa Jepang," lanjutnya.
"Jika menurut Anda begitu, baiklah."
Hidan menyesap sedikit sampanye dari gelas yang dipegangnya. "Sejujurnya, aku agak tak menyangka akan menemukan gadis secantik dirimu di sini," ujarnya terang-terangan.
Hinata sempat bingung untuk membalas. Di hadapannya berdiri target utama mereka dan secara sukarela mau berbincang dengannya. Tentu Hinata tidak akan melewatkan kesempatan ini. "Saya merasa sangat tersanjung. Terima kasih, Tuan Yugaku."
"Oh, cukup panggil aku Hidan."
Hinata mengangguk pelan, mencoba mengabaikan ketidaknyamannya karena Hidan yang terus terusan menatapnya.
"Apa pesta ini hanya sekedar media penggalangan dana untuk Akatsuki?" Hinata akhirnya membuka obrolan.
"Ya, semacam itu. Tapi ini bukan kongres utama. Pertemuan yang lebih besar akan digelar beberapa bulan kedepan di Singapura," ia kembali menyesap sampanyenya.
"Saya agak tidak menduga akan sebanyak ini tamu yang datang."
Hidan menyeringai bangga. "Bagaimanapun ini salah satu agenda vital kami."
"Oh," Hinata hanya mengangguk.
"Omong-omong, siapa namamu, Manis?"
"Ohayashi Mayu," jawab Hinata, menyesuaikan dengan nama yang tertera di kartu identitasnya. "Anda bisa memanggil saya Mayu."
"Baiklah, Mayu," Hidan mengangguk santai. "Jadi... aku penasaran apa kau punya waktu luang sore ini. Aku akan sangat senang jika kau berkenan menerima ajakan makan malam bersamaku."
"Itu..." Hinata terlihat berpikir-pikir. "Entahlah... aku tidak memiliki jadwal yang pasti selama di sini."
"Tidak apa-apa," sergahnya lembut kemudian menyodorkan satu kertas. "Itu kartu namaku. Jika kau bisa sore ini, hubungi aku. Aku akan menjemputmu."
"Baiklah," Hinata tersenyum saat Hidan mulai mengambil langkah mundur.
"Aku akan menunggu telepon darimu, Mayu," finalnya.
Hinata berdiri terdiam menatap kartu nama di tangannya. Batinnya menimbang-nimbang. Ini merupakan sebuah peluang yang menguntungkan untuk misi ini, namun di sisi lain Hinata menyadari bahwa undangan Hidan bukan hanya sekedar ajakan pertemanan.
"Keparat!" desisan Sasuke membuat lamunannya buyar. Hinata membalik badannya untuk kemudian berhadapan dengan tatapan tajam Sasuke yang menyala.
"Apa yang terjadi?" tanya Hinata.
"Apa yang terjadi? Kau sungguh menanyakan itu padaku?" Sasuke sedang benar-benar menahan diri untuk tak berteriak. "Harusnya pertanyaan itu untukmu!"
Hinata mulai mengerti apa yang Sasuke bicarakan. "Dia mengundangku keluar," ujarnya singkat.
"Ya tentu saja. Tentu saja itu adalah siasat awalnya untuk menenggelamkan diri di antara kedua kakimu!" Sasuke menyahut rendah namun tetap membuat kening Hinata berkerut tak suka. Tentu Hinata paham, tapi apakah pria itu harus mengatakannya secara blak-blakan di tempat publik seperti sekarang?
"Kau tahu aku tidak akan membiarkannya bertindak jauh," sanggah Hinata.
"Ada apa ini?" Naruto muncul entah dari mana.
Belum ada yang menjawab pertanyaan Naruto. Sasuke sendiri masih setia dengan ekspresi kerasnya yang seakan menembus hingga jiwa Hinata. Ia kemudian membersut sebelum berpaling.
"Tanyakan padanya. Aku tidak peduli," umpatnya kemudian berlalu.
..
...
..
Hinata agak ragu untuk keluar dari kamarnya, merasa agak tak siap jika harus berhadapan dengan Sasuke. Hinata sudah membicarakan hal ini dengan Naruto dan Sakura, dan mereka mengatakan keputusan sepenuhnya milik Hinata. Mereka juga mengatakan akan membantunya atas apapun keputusan yang diambil.
Masalahnya tinggal pada partner tetapnya. Uchiha Sasuke. Tapi lagi, kenapa ia merasa harus mendapat izin dari Sasuke saat pria itu bahkan tak peduli dengan rencana apapun yang disusunnya?
Dengan hembusan napas panjang, Hinata membuka pintu dan keluar dari kamarnya. Ia mendapati Sasuke duduk di sofa, hanya menatap tajam tablet di atas meja tanpa melakukan apapun yang berarti.
Tanpa berkata-kata, Hinata mencoba keluar dari suite tanpa ketahuan. Namun belum juga langkahnya barang lebih dekat dengan pintu, geraman Sasuke menghentikannya.
"Mau kemana?" tanyanya singkat, padat , jelas dan tajam.
"Aku perlu melapor padamu?"
Sasuke berdiri cepat menghadap Hinata, kepalannya mengerat di sisi tubuhnya. "Kau bercanda, bukan?! Kau benar-benar berpikir akan mendapat informasi penting dari bajingan licik itu?"
"Kita tidak pernah tahu. Itulah kenapa aku mencobanya," jawab Hinata. "Setidaknya biarkan aku mencoba bergerak sesuai dengan apa yang aku rencanakan."
Sasuke terkekeh, senyumnya terlihat mengejek. "Dan rencanamu kali ini adalah melacurkan dirimu sendiri?" tanyanya sarkatis.
Hinata menggigit bibir. Tidak, tentu tidak begitu. Namun tetap saja apa yang Sasuke katakan merupakan penghinaan baginya. Hinata menghela napas pelan dengan kepala tertunduk.
"Aku tidak peduli atas apa yang kau pikirkan tentangku," gumam Hinata.
Sasuke memandang wanita di hadapannya datar. "Terserah. Pergi saja kalau begitu," nadanya kini angin-anginan, tak peduli. Ia kemudian melangkah santai menuju kamarnya.
"Kita sama-sama tahu tidak ada informasi yang lebih akurat kecuali mendengarnya langsung dari orang yang terlibat," Hinata berusaha menjelaskan.
Di depan pintu kamar Sasuke berhenti kemudian menghadap Hinata lagi. "Lakukan apapun yang kau inginkan. Hanya..." diam-diam Sasuke menggigit lidahnya ringan. "Lupakan saja," ujarnya memutuskan untuk tak melanjutkan apapun yang ingin ia utarakan sebelumnya kemudian masuk ke kamar dan menutup rapat pintunya.
..
...
..
"Masuklah," senyum menawan disajikan Hidan saat pria itu mempersilahkan Hinata masuk ke dalam Range Rover miliknya. Penampilan pria itu terlihat lebih kasual dari pertemuan mereka sebelumnya. "Aku pikir kau tidak akan menghubungiku."
Hinata memaksakan seulas senyum meski dirasanya agak sulit. Sejujurnya ia masih terganggu dengan bayangan perdebatan argumennya bersama Sasuke tadi. Hinata sendiri tak paham alasan Sasuke yang begitu menentangnya. Pria itu harusnya sadar ini adalah kesempatan bagus untuk mereka mengingat mereka belum mendapat informasi apapun saat kongres berlangsung.
Sasuke berkata seolah-olah Hinata tak mengerti tentang keputusannya sendiri. Dan itu membuat Hinata kesal. Hinata sama sekali mengerti dengan keputusannya itu, ia tidak cukup bodoh untuk tak menyadari apa yang mungkin akan menjadi resikonya.
"Kuharap kau tidak keberatan kita makan di restoran Prancis," ujar Hidan, tangannya ia letakkan di atas punggung tangan Hinata yang terpangku di atas paha wanita itu sendiri.
Hinata ingin menarik tangannya dari jangkauan pria itu, namun jika ia melakukannya, tangan besar Hidan malah akan mendarat langsung di atas pahanya, bukan?
"Tidak masalah, Tuan Yugaku," respon Hinata singkat.
"Mayu... Mayu... bukankah sudah kukatakan untuk memanggilku Hidan?" ibu jari pria itu bergerak pelan mengusap permukaan kulit di punggung tangan Hinata. "Omong-omong, malam ini indah, bukan?"
Hinata berusaha bersikap setenang mungkin, ditelannya saliva berharap kegugupannya juga ikut tertelan. "Ya," jawabnya singkat, matanya memandang lurus ke depan.
"Aku berharap malam ini aku pun mendapatkan pengalaman yang sama indahnya," lanjut Hidan penuh makna.
Hinata menggigit bibir bagian dalamnya kemudian melirik Hidan. Pria itu terlihat tampan juga berkharisma, jangan lupakan ia juga merupakan seorang jutawan. Dengan segala yang dimilikinya, pasti mudah bagi pria itu untuk menggaet wanita.
Memikirkan itu membuat Hinata memejamkan matanya untuk beberapa detik. Apapun yang terjadi, ia sama sekali tak akan memberikan kesempatan kepada pria itu untuk bertindak diluar kendali. Sasuke telah menudingkan jari padanya, mengatakan ia sedang melacurkan dirinya sendiri. Dan Hinata berusaha sebisa mungkin menjauhkan tuduhan itu dari menjadi kenyataan.
"Bagaimana penggalangan dana tadi?" Hinata pun membuka topik ringan yang mungkin bisa lebih menguntungkannya.
"Sangat baik. Aku yakin kau pasti menyadari seberapa pentingnya acara seperti ini untuk Akatsuki."
Hinata mengangguk, mengiyakan kalimat terakhir yang Hindan ucapkan. "Saya tidak tahu pasti tentang detailnya, namun saya dapat pastikan perusahaan kami akan selalu mendukungmu."
Kali ini Hidan yang mengangguk, netranya terus menatap wanita di sampingnya yang tengah menundukan kepala. Ia kemudian terkekeh ringan. "Kau ini tipikal yang cukup pemalu, ya?" godanya.
Hinata tak menjawab ataupun sekedar mengangkat wajahnya. Beruntung baginya, mereka sudah sampai di restoran tujuan.
"Vi er her,****" si supir berujar sebelum keluar dari mobil untuk membukakan pintu untuk mereka.
"Hmm," Hidan keluar dari mobil lebih awal kemudian mempersilahkan Hinata. Mereka memasuki restoran dengan langkah santai langsung menuju meja yang sudah direservasi sebelumnya. "Jadi... ceritakan tentang dirimu, Mayu," buka Hidan setelah mereka sudah menyamankan diri di tempat duduk masing-maisng.
"Vil du gerne have noget vin?****" seorang pelayan muncul membawa sebotol anggur sebelum Hinata sempat berpikir untuk menjawab.
"Jo,****" balas Hidan.
Selanjutnya, dalam diam mereka menunggu pelayan itu mengisi gelas masing-masing. Barulah setelah pelayan pergi, Hidan mengulurkan tangannya ke depan, meraih tangan Hinata yang memang wanita itu posisikan di atas meja.
"Apa kau sering kemari? Denmark maksudku."
"Tidak, ini baru yang kedua kalinya," jawab Hinata datar.
"Ahh, begitu yah," Hidan mengusap ibu jarinya di punggung tangan Hinata.
"Anda tinggal di sini?" Hinata kembali mencoba mengendalikan obrolan mereka.
"Tidak juga," jawab Hidan tanpa mengalihkan pandangan. "Omong-omong, aku akan sangat senang jika kau berkenan bercerita tentang dirimu. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku merasa sangat tertarik padamu, Mayu. Meget tiltraekkende,****" ujarnya dengan nada rendah.
Tidak sedetikpun Hinata menikmati makan malam itu. Hidan benar-benar seperti melengketkan diri padanya dengan tangan yang tak pernah melepas kontak fisik kecil mereka sedangkan Hinata sama sekali belum mendapat informasi berarti. Keadaan semakin parah saat Hinata menyadari kesadarannya agak terusik oleh anggur yang mereka konsumsi sebelumnya.
"Kau tidak keberatan pergi ke tempat lain, bukan? Masih terlalu sore untuk pulang," bujuk Hidan.
Hinata hanya berdeham, yang mungkin diterjemahkan sebagai persetujuan oleh Hidan. Hinata sendiri tak mencoba meluruskan. Menurutnya, Hidan adalah tipikal lelaki yang sangat berhati-hati, dan mungkin butuh lebih banyak waktu untuk membuat pria itu akhirnya buka mulut.
"Kor tilbage til mit hotel,****" Hidan memerintahkan supirnya saat mereka sudah berada di dalam mobil.
Kali ini Hidan lebih merapatkan jarak duduknya dengan Hinata. Wanita itu bahkan beberapa kali merasakan helaan nafas hangat dengan samar aroma anggur menerpa kulitnya. Nafas Hinata agak tertahan melihat pria di sampingnya itu mengangkat tangan.
"Maaf," gumam Hinata, tangannya menahan pergelangan tangan Hidan yang hendak menyentuh wajahnya.
Dengan kening berkerut, Hidan menarik diri dan membenarkan posisi duduknya. Jelas sekali begitu tak menerima penolakan Hinata. Sepanjang perjalanan, tak ada yang berniat untuk bersuara. Hingga langkah mereka menuju hotel pun Hidan tak lagi buka mulut. Namun Hinata tahu tatapan pria itu masih sukar berpaling darinya.
"Duduklah," Hidan mempersilahkan Hinata duduk di ruang tengah sebuah suite yang mereka masuki. Pria itu melenggang santai, melepas mantelnya sebelum bergabung duduk di samping Hinata. "Anggur?" tawarnya.
"Tidak, terima kasih. Sepertinya saya sudah cukup banyak mengkonsumsinya tadi."
Hidan terkekeh. "Aku juga. Dan aku lebih suka jika aku masih dalam kesadaran penuh saat mencicipimu."
Tengkuk Hinata meremang mendengarnya, namun ia mencoba terlihat tak terpengaruh. "Rasanya sulit dipercaya," ujarnya.
"Tentang apa?"
"Pria seperti Anda, menginginkan seseorang sepertiku," Hinata menjawab santai sambil menatap lawan bicaranya itu. "Agak terlalu mustahil."
Hidan membalas tatapan itu kemudian menggeleng pelan. "Kau terlalu merendah. Kau tidak sadar betapa indahnya dirimu, Manis."
"Tetap tidak sebanding jika disandingkan dengan Anda," sanggah Hinata lagi. "Dan saya dengar juga, Anda merupakan anggota angkatan laut dulu."
"Ya. Dulu. Saat aku masih memiliki rasa kecintaan pada tanah airku," Hidan meletakkan kedua tangannya di pinggang Hinata.
"Kalau begitu, saya asumsikan sekarang semuanya berbeda, bukan?"
"Ya," jawabnya rendah. "Semua yang ada di dunia ini berubah tiap waktunya, Manis. Tapi tidak dengan prinsip hidupku."
Hinata memberanikan diri mengangkat tangannya untuk menyentuh lengan besar pria itu. "Dan prinsip Anda itu yang akhirnya menuntun Anda kepada Akatsuki," nadanya terdengar cukup rancu untuk menentukan apakah tadi itu kalimat pertanyaan atau pernyataan.
"Hmm. Pada akhirnya di sinilah aku sekarang."
Hinata tak menatap balik manik lelaki di hadapannya. Matanya memandang tangannya sendiri yang mengusap ringan lengan kekar pria itu. Ia berpikir, mungkin ini saatnya ia menanyakan tentang Akatsuki.
"Pernahkan Anda pergi langsung ke pusat Akatsuki?" Hinata berharap pertanyaannya itu tak terlalu menunjukkan niat aslinya.
Di sisi lain Hidan tertawa renyah. "Aku bahkan tidak tahu dimana letak pusatnya, Manis. Tidak ada yang tahu," satu tangannya menangkup pipi Hinata, membuat wanita itu menatapnya.
"Sungguh?" tanya Hinata agak tak percaya. "Bahkan anggota sepenting Anda tidak mengetahuinya?"
"Kau benar-benar penasaran, ya?"
"Entahlah... aku hanya penasaran tentang Anda."
"Kau benar-benar tahu caranya berbicara dengan seorang lelaki," Hidan menyeringai terhibur. "Tapi, ya. Bahkan anggota sepenting diriku tidak mengetahuinya. Katakanlah kami bergerak seperti hantu."
Hinata mengangguk, namun dalam hati merasa kecewa. Informasi yang Anbu punya tentang Yugaku Hidan meleset. Mereka tidak akan benar-benar mendapatkan informasi apapun tentang Akatsuki dari pria ini.
Cukup lama hingga Hidan berdiri mengambil sekaleng bir di pendingin kecil yang tersedia. Hinata melihat hal ini sebagai kesempatannya untuk pergi. Ia berpura-pura memeriksa ponselnya kemudian memanggil pria itu.
"Maaf."
"Ada apa?" Hidan membalikkan tubuh kembali menghadap Hinata yang masih duduk di sofa. Kaleng bir di tangannya sementara ia abaikan.
"Saya harus pulang," Hinata berdiri. "Ada beberapa laporan yang harus saya tulis," diacungkannya ponsel seolah mengatakan bahwa ada tugas mendadak untuknya.
"Buat nanti saja," singkat Hidan.
"Saya harus segera mengirimnya."
"Katakan kau terlambat karena aku," air wajah Hidan mulai menggarang.
"Mungkin lain kali kita bisa berbincang lagi. Terima kasih untuk malam ini, Tuan Hidan," Hinata mulai melangkahkan kakinya ke arah pintu, namun dengan cepat Hidan menangkap pergelangan tangannya.
"Kau tidak akan pergi kemanapun," ucapannya tajam, didukung dengan tatapan matanya yang tak kalah tajam.
"Tolong lepaskan,Tuan," Hinata mencoba menarik tangannya.
"Kau pikir kau bisa datang dan pergi semaumu?!" cengkeraman tangan di pergelangan Hinata mengerat, membuat kening Hinata mengernyit sakit. "Kau tidak bisa lari dariku begitu saja!"
Hinata menyentak tangannya keras-keras untuk melepaskan diri kemudian berlari ke arah pintu. Namun lagi, belum sempat ia membukanya, Hidan kembali menangkapnya, menarik bagian belakang pakaiannya kemudian memutar tubuh Hinata sebelum menghimpitnya ke permukaan pintu.
"Jangan bermain-main denganku, Manis. Aku bisa saja membunuhmu tanpa seorangpun tahu."
Hinata berkedip beberapa kali, jantungnya berdetak di atas kecepatan normal. Ia merasa bodoh melupakan untuk membawa senjatanya. Dan sepertinya pelatihan neraka dari Sasuke bisa ia gunakan saat ini.
Hinata meraih tangan Hidan yang menahannya untuk kemudian ia hentak kembali. Di dorongnya pria itu kemudian ia hantamkan lututnya pada pusat kelelakian pria itu tanpa memberikan jeda untuk pria itu melawan balik.
Kacau. Benar-benar kacau. Hinata telah memprovokasi salah satu anggota penting Akatsuki. Jelas ia tak bisa pergi begitu saja tanpa melakukan sesuatu pada Hidan. Namun kini ia tak memiliki pilihan lain selain berlari.
"Keparat! Kembali kau, Jalang!" teriak Hidan saat Hinata membuka pintu.
Hinata bergegas keluar, ia berlari menyusuri koridor hotel. Ditengokkannya kepala ke belakang dan menemukan Hidan sudah mengejarnya.
Hingga di persimpangan koridor, tubuh Hinata menghantam tubuh seseorang yang lebih besar darinya. Seakan tak membiarkan Hinata terjatuh akibat tubrukan itu, orang tersebut menahan tubuh Hinata dengan melingkarkan satu lengan di pinggang wanita itu. Hinata mendongak dan terkejut mendapati Sasuke disana.
Detik selanjutnya, Sasuke mengangkat tangan lain yang tak menahan tubuh Hinata, mengarahkan pistol berperedamnya sebelum melepaskan satu peluru tepat di kening Hidan yang tengah berlari mendekat.
Setelah Hidan ambruk, Sasuke mendorong Hinata kasar untuk menjauh darinya. Dengan ekspresi keras, ia berbalik hendak meninggalkan tempat itu. Sasuke menahan langkahnya menyadari Hinata masih menatapnya penuh tanya dan tak berniat bergerak mengikutinya.
"Ayo pergi dari sini!" umpat Sasuke sambil menarik tangan Hinata kencang tanpa memberikan satu derajat lirikanpun kepada wanita itu.
"Kenapa kau melakukan itu?" Hinata buka mulut saat mereka sudah berada di area parkir meski masih dalam keterkejutannya.
"Itu misiku."
"Apa?"
Sasuke tidak menjawab, sebagai gantinya ia membuka pintu belakang mobil dengan gerakan brutal dan mendorong Hinata ke dalam sebelum ia membiarkan dirinya sendiri masuk.
"Apa yang kau lakukan?!" tanya Hinata saat Sasuke malah ikut masuk ke bagian belakang mobil, bukan di kursi kemudi. Semakin mengejutkan ketika Sasuke tiba-tiba menindih tubuh Hinata, menghimpitnya di antara kursi jok dan tubuh pria itu sendiri.
Hinata sendiri masih dibuat bingung oleh segala yang terjadi. Sasuke bilang misinya adalah membunuh Yugaku Hidan, tapi kenapa Hinata tak pernah tahu soal itu? Kenapa Sasuke sama sekali tak mengatakan apapun padanya?
Yang ia sadari selanjutnya adalah Sasuke tak datang untuk menyelamatkannya, tapi untuk menyelesaikan misinya. Hinata memahami itu. Lalu kenapa pria itu terlihat begitu murka padanya? Kenapa pria itu mengunci pergerakan Hinata seperti ini?
"Apa yang kalian lakukan?!" tanya Sasuke rendah dan tajam di sela gemeletuk giginya. Kuku jari tangan Sasuke mencengkeram lengan atas Hinata. "Apa saja yang telah kalian lakukan?!"
"Kau menyakitiku," Hinata mencicit, tak dapat lagi menyuarakan protes lain karena Sasuke semakin menghimpit tubuhnya. Hinata menahan napas, matanya ia pejamkan. Pria itu terlalu dekat, terlalu intim. "Ti-tidak ada... yang te-terjadi," jawab Hinata akhirnya.
Helaan nafas Sasuke terdengar begitu berat. Hinata sendiri tak berada dalam kondisi yang lebih baik, ia bahkan hampir tak berani menghembuskan nafas. Kursi belakang mobil yang sempit sama sekali tak membantu meringankan suasana yang melingkupi mereka.
"Saat kubilang jangan lakukan, jangan lakukan itu, kau mengerti!" Sasuke berdesis tajam, satu tangannya melepaskan lengan Hinata hanya untuk ia kembali lekatkan di pinggang wanita itu.
.
to be continued...
..
.
Sasuhina + backseat = gw mendadak pusing wkwkwk :v
Kabur aja aahhhh... love you all, toodlesss~~~
*psstt, jangan lupa review :*
[*]
Velkommen. Ma jeg se dine identifikation? (Selamat datang. Bisa saya lihat tanda pengenal Anda?)
Vil du gerne have nogle champagne? (Mau sedikit sampanye?)
Jo, tak. (Ya, terima kasih)
[**]
Det er en fornojelse at mode jer alle sammen. (Senang bisa bertemu dengan kalian semua.)
Tak for at komme her i dag. (Terima kasih telah datang hari ini.)
[***]
Hej. (Hey.)
Er du have det sjovt? (Apa kau menikmati pestanya?)
Ja, jeg nyder det godt. (Ya, aku cukup menikmatinya.)
Ah... jeg repraesenterer Osaka gren af Komuki Enterprise. (Oh... aku perwakilan dari Komuki Enterprise cabang Osaka)
Ah... sa er du Japansk? (Oh... kau orang Jepang?)
[****]
Vi er her. (Kita sudah sampai.)
Vil du gerne have noget vin? (Mau sedikit anggur?)
Jo. (Ya.)
Meget tiltraekkende. (Begitu atraktif.)
Kor tilbage til mit hotel. (Kembali ke hotel.)
