nythine present
'For me?'
Winkdeep
Park Jihoon
Bae Jinyoung
with Park Woojin
WANNA ONE
.
.
.
Park Jihoon sampai dirumahnya dengan keadaan menyedihkan. Rambutnya berantakan, bajunya basah, mata dan hidungnya memerah. Ia segera melesat ke lantai 2 tempat kamarnya berada. Ia tidak mau ibunya melihat keadaannya yang seperti ini.
Jihoon membukakan pintu kamarnya dan mendapati adik sepupunya tengah bermain play station. Jihoon ingin menangis lagi jika melihat Woojin—adik sepupu Jihoon.
"Woojin-ah." panggilnya setengah bergetar. Yang terpanggil menoleh kemudian terkejut.
"astaga, Jihoon. Kau kenapa?!" lelaki itu panik dan segera mendekati Jihoon.
Setelah menutup pintu Jihoon langsung memeluk erat adik sepupunya itu. Ia kembali menangis, kali ini lebih lepas lagi.
Woojin dapat merasakan tubuh Jihoon basah dan agak dingin. Woojin sudah berpikir sepupunya ini kehujanan.
"uljima.." desis Woojin sembari mengelus punggung Jihoon.
"bajumu basah, kau kehujanan?" tanyanya dengan nada rendah. sementara yang dipelukannya hanya menggeleng tanpa memberhentikan tangisannya.
Jihoon menarik tubuhnya untuk menatap Woojin. Wajahnya sudah basah dan memerah. "apa ibu dirumah?" tanyanya sedikit terbata.
Woojin menggeleng. "imo bilang ada urusan di rumah tetangga, sepuluh menit yang lalu."
Jihoon menundukkan kepalanya dan menggigit bawah bibirnya.
"sebenarnya apa yang terjadi?"
Yang lebih tua hanya menggelengkan kepalanya dan mengusap jejak air matanya.
"mandilah dengan air panas, nanti kau sakit."
Jihoon menuruti usul sepupunya itu. Ia menyimpan tasnya dan menuju kamar mandi yang berada dikamarnya. Hanya sekitar 5 menit Jihoon kembali dengan keadaan lebih segar.
Jihoon duduk disamping Woojin yang duduk diatas karpet berbulu.
"ada masalah dengan Jinyoung?"
Jihoon langsung menoleh pada Woojin. ia menatap sepupunya dengan sayu—matanya lelah menangis.
"hng.. Sebelum aku pulang Daehwi datang ke rumah Baejin. Aku langsung pergi saja dari situ." Jihoon mendesah berat dan mengusap wajahnya. "ia tega sekali."
Woojin hanya menganggukan kepalanya. sebelumnya ia di telpon Jinyoung agar ia menjaganya selagi Jihoon ingin sendiri. Tanpa Jinyoung minta pun Woojin akan menjaga sepupunya itu dengan baik. Ia tidak ingin Jihoon hancur terlalu lama. Mereka sudah menjadi sepupu yang dekat seperti sahabat.
Lelaki bergingsul itu menyerahkan satu stick play station yang menganggur pada Jihoon. Yeah dia hanya mencoba Jihoon lebih baik.
Jihoon menoleh dan melirik lelaki disampingnya. Lalu menerima stick ps-nya dan mulai bermain bersama. Bermain PS tidak buruk juga—meskipun ia banyak kalah dari Woojin.
Woojin memilih permainan battle kick. Ia berpikir jika ia memilih game ini Jihoon akan melampiaskan rasa kecewanya pada game dilayar televisinya.
Baru menit kedua Jihoon sudah berteriak heboh karena berkali-kali jagoan Woojin memukul jagoannya. Tapi Jihoon malah mendorong-dorong bahu Woojin secara langsung. Ini lah yang membuat Woojin kelelahan jika bermain PS dengan Jihoon. Jihoon malah melampiaskan kekesalannya pada bahu malang Woojin. Poor Park Woojin.
"Woojin-ah, apa kau lapar? Ibu masak tidak?" Tanya Jihoon yang masih berkonsentrasi dengan game.
"tiga jam yang lalu aku makan. Sepertinya ibumu belum masak, ini kan belum masuk jam makan malam."
Jihoon memencet tombol pause dan mengambil ponselnya. "bagaimana kita makan pizza dan ayam goreng? Atau mungkin jajangmyeon?"
Woojin melirik Jihoon dengan malas. anak ini sedang patah hati kok jadi nafsu makan? Apa ketika mandi dia menelan sabun? Karena sebelumnya Jihoon sangat anti dengan makanan pizza dan ayam goreng. Apalagi ditambah cola. Ia bilang ia takut gemuk—pipinya juga bulat nan menggemaskan.
"Sudah tidak takut makan itu lagi? Nanti kau malah menyalahkanku kalau kau gemuk."
Sebenarnya tidak ada yang mempermasalahkan jika Jihoon gemuk atau semakin chubby. Woojin tidak masalah, Ibunya tidak merasa, Hyungseob—sahabatnya juga, Jinyoung juga tidak, malah lelaki itu bilang Jihoon akan semakin menggemaskan. Tapi Jihoon berkaca jika dirinya tidak cocok gemuk.
Ah, Jinyoung ya? Lelaki yang dulu sulit didekati. Yang sejak middle school Jihoon sukai, hingga high school sekarang. Beruntung Jihoon akhirnya dapat menjadi kekasih Jinyoung. Jika Jihoon ingat ketika Jinyoung menyatakan perasaannya, ia akan merona. Jika boleh kembali mengulang, kita lihat bagaimana 1 tahun lalu dikehidupan sekolah Jihoon dan Jiyoung.
siang hari ketika jam istirahat Jihoon dan seorang sahabatnya Ahn Hyungseob tengah duduk dibangku taman sekolah dibawah rimbunnya pepohonan. Keduanya langsung menghadap pada lapangan yang mana disana ada segerombol lelaki yang lumayan terkenal disekolah. Terkecuali seorang lelaki tingkat dua yang tanpa ekspresi duduk dipaling ujung, lelaki itu yang tengah Jihoon perhatikan. Lelaki itu tidak banyak dikenal disekolah. Tapi Jihoon mengenalnya karena Jihoon pernah sekolah yang sama di middle school.
Sesekali lelaki itu tertawa bersama teman-temannya. Membuat Jihoon ikut tersenyum. Rasanya manis melihatnya tertawa.
"kapan kau mulai mendekatinya? Sudah hampir musim panas, ingat?" Hyungseob bersuara ketika sahabatnya hanya tersenyum melihat gerombolan laki-laki dilapangan.
"tenang saja, aku sudah memikirkannya." Jawabnya tanpa menoleh sedikitpun. Hyungseob hanya menangguk kemudian meneguk colanya.
"omo, Daniel sunbae tampan juga ya, Ji." Hyungseob menyenggol lengan Jihoon.
"tidak, Bae Jinyoung lah yang tampan." Senyum Jihoon mengembang dan pipinya bersemu.
Hyungseob memutar bola matanya malas. "Ya ya. Dipikiranmu hanya Bae Jinyoung seorang."
"seob-ie, hari ini aku pulang telat. Kau pulanglah duluan."
Hyungseob mengangguk mengerti.
.
kelas 2-2 telah membubarkan diri sejak 10 menit yang lalu. Terkecuali seorang Park Jihoon yang tengah membereskan buku-buku tugas temannya yang akan dikumpulkan ke ruang guru. Jika bukan karena kelas tambahan Jinyoung, Jihoon tidak mau melakukannya.
Jihoon tau kelas Jinyoung mendapat kelas tambahan dari seorang temannya yang sekelas dengan Jinyoung. Ia sangat berterimakasih pada Lee Euiwoong yang telah memberinya informasi kelas 2-4 mendapat tambahan belajar.
Rencananya Jihoon akan melancarkan aksinya mendekati sang incaran hati. Biasanya guru Shim—wali kelas 2-4—akan meminta bantuan pada siswa yang kebetulan ada didekatnya. Jadi jika ada kesempatan itu Jihoon bisa ke kelas Jinyoung yang notabene-nya adalah ketua kelas dikelas 2-4. Sebenarnya hanya ada kemungkinan kecil, sih, tapi semoga saja itu terjadi pada Jihoon.
Jihoon menyukai Jinyoung yang setahun lebih muda darinya sejak tingkat pertama di middle school. Dulu ia sama sekali tidak mengenal Jinyoung siapa. Sampai diwaktu yang mempertemukan mereka ketika Jihoon selesai dari pelajaran Olahraganya. Ia melihat lelaki kurus yang sibuk dengan buku ditangannya. Jinyoung tidak menyadari eksistensi pot bunga didepannya yang kebetulan seorang pengurus taman sekolah tengah membersihkan pot-pot disana. Jihoon yang kebetulan berjalan menghadap Jinyoung melihat lelaki kurus itu tersandung pot bunga.
Jihoon yang didekatnya panik melihat Jinyoung jatuh tersungkur tepat didepannya. Jihoon berlari kecil mendekati Jinyoung. Ia bertanya 'apa kau baik?' kala itu.
Jinyoung menoleh dan menatap Jihoon. Siapa sangka, Jihoon malah terpaku pada manik kelam Jinyoung. Dada kirinya pun berdesir seperti sehabis berlari marathon. Rasanya berbeda ketika tenggelam dalam manik Jinyoung. Jihoon telah tertarik oleh pesona Jinyoung. Sejak saat itu Jihoon selalu mencari tau tentang Jinyoung pada temannya. Tidak terlalu mencolok, tapi Jihoon hampir mengetahui segala tentang Jinyoung.
Jihoon tidak hanya menyukai Jinyoung dalam diam. Beberapa kali ia pernah menyelipkan surat diloker pemuda kurus itu. Lalu ia pernah melakukan skinship ketika ada event yang mengangkat tema hiphop dan Jihoon dance di event itu. Yang itu Jihoon tidak menyadarinya langsung jika ia menarik tangan Jinyoung.
Jihoon membawa setumpukan buku tugas biologi teman sekelasnya menuju ruang guru. Ia memasuki ruang guru yang cukup sepi. Beberapa meja guru termasuk meja guru biologi yang Jihoon caripun kosong penghuni. Ia meletakan setumpuk buku itu diatas meja.
"Park Jihoon!"
Jihoon menoleh kala seorang wanita muda memanggilnya dibelakang. Ia menoleh kemudian membukukan tubuhnya singkat. Yang Jihoon cari rupanya.
"kau bisa membantuku? Kelasku ada tambahan belajar. Kau tidak sibuk, kan?" ujar guru Shim.
Jihoon menggeleng. "tidak ssaem, jam belajarku sudah selesai. Sini kubantu." Dengan senang hati Jihoon membawa setumpuk buku yang lebih berat dari sebelumnya.
"terimakasih ya, Jihoon-ie." Guru Shim menggosok punggung Jihoon sebelum Jihoon pamit meninggalkan ruang guru menuju kelas 2-4.
Disepanjang koridor Jihoon tidak dapat menahan senyumnya. Dadanya berdegup kencang mengingat ia akan ke kelas 2-4, kelas Jinyoung berada. Beberapa kali ia menggumamkan 'apa aku terlihat baik?' 'apa aku jelek?' sembari sesekali melirik kaca jendela untuk bercermin.
Saking sibuk dengan dirinya sendiri ia tidak menyadari dari seberang seorang lelaki tinggi tengah berjalan gontai mendekatinya. Sampai hampir dekat Jihoon baru menyadari Jinyoung diseberangnya. Jantungnya semakin berdegup kencang.
"B-Bae Jinyoung-sshi." panggil Jihoon yang selama ini baru ia lontarkan secara langsung pada Jinyoung.
Jinyoung berhenti dan menunggu Jihoon.
"kau mau ke ruang guru untuk Shim Sonsaengnim?" tanyanya. Ia memberanikan diri untuk menatap manik kelam Jinyoung. Ugh rasanya ia ingin pingsan.
Lelaki tinggi kurus itu hanya mengangguk tanpa menjawab pertanyaan Jihoon.
Jihoon pun ikut mengangguk disana. Eh?
Jinyoung melirik setumpuk buku yang dibawa Jihoon. "ah apa itu buku kelasku? Kenapa tidak bilang?"
Jihoon menundukkan kepalanya-menciut ketika Jinyoung mendekat untuk mengambil alih separuh buku yang dibawa Jihoon. Dapat Jihoon rasakan bagaimana menghirup harum tubuh Jinyoung sedekat ini. Sungguh memabukkan dan Jihoon sangat suka.
"ikuti aku."
Jihoon hanya mengangguk dalam tundukan kepalanya dan mengekori Jinyoung sampai ke depan kelas 2-4.
Lelaki kurus itu berhenti didepan pintu kelasnya. "Kemarikan bukunya. Kau sudah direpotkan."
Jihoon menggeleng. "tidak apa, aku simpan dimeja guru saja."
Jinyoung terdiam sejenak. "baiklah." Jinyoung membukakan pintu kelas dan memasuki kelas diikuti Jihoon dibelakangnya. Yang didapatkan Jihoon ketika memasuki kelas Jihoon adalah sorakan heboh teman-teman Jinyoung. Jihoon pikir itu karena dirinya. Ia malu setengah mati.
Jihoon tidak ingat dikelas Jinyoung masih terdapat teman-teman Jinyoung. Jihoon hanya dapat menundukkan kepalanya menyembunyikan rasa malunya setelah menyimpan tumpukan buku di meja podium guru.
"Jinyoung-ah, seleramu bagus juga!" ujar seseorang diujung kelas heboh. Kelas kembali bersorak.
"Jangan didengarkan, ayo keluar." Suara baritone Jinyoung berbisik tepat disamping telinga Jihoon. Bulu kuduk Jihoon meremang mendengar suara berat namun rendah milik Jinyoung yang melemahkan. Ah rasanya semua yang ada pada Jinyoung dapat melemahkan Jihoon.
Jihoon mengangguk dan meninggalkan kelas yang ramai riuh dibelakang Jinyoung. Mereka berhenti didepan pintu kelas. Untung saja teman-teman Jinyoung tidak mengekori mereka sampai keluar kelas.
"Siapa namamu?" tanya lelaki itu.
Bae Jinyoung menanyakan namamu Park! Jantung Jihoon semakin berdegup membuat dirinya tak nyaman. Ayolah Jinyoung bukan seorang psikopat yang sedang menodongkan sebilah pisau pada lehermu, Park Jihoon. Jinyoung hanya pelajar biasa, ia hanya menanyakan namamu.
Yang lebih pendek hanya menundukkan kepalanya tanpa menjawab pertanyaan yang Jinyoung lontarkan. Tak tau kah Jihoon, Jinyoung jarang sekali memperdulikan seseorang hanya bertanya nama saja?
Jinyoung keheranan karena pemuda dihadapannya tak kunjung menjawab. Ia sedikit mengintip wajah Jihoon yang tertutup surai brunette terang.
"hei kau baik?"
Tidak, aku tidak baik!
Jihoon sedikit mengangkat kepalanya. "a-aku.. Park Jihoon." Jawabnya yang mirip seperti gumaman tak jelas. Namun masih Jinyoung dengar.
Jinyoung tidak ingat Jihoon. Padahal dulu mereka pernah bicara juga ketika bertemu di halte bus. Tahun lalu, sih, tapi Jihoon saja masih ingat itu. Bahkan masih mengingatnya dengan baik.
Jinyoung mengangguk kecil. "terimakasih Park Jihoon-sshi."
Jihoon memberanikan diri mengangkat wajahnya dan menatap manik Jinyoung. Perlahan ia mengembangkan senyum—setidaknya ia harus terlihat baik didepan lelaki yang ia kagumi.
Jihoon menganggukan kepalanya. "aku harus pulang." Ia melangkah meninggalkan Jinyoung yang masih berdiri didepan pintu.
"Park Jihoon-sshi."
Yang terpanggil menoleh kebelakang dan mendapati Jinyoung yang mengangkat tangan kanannya seperti lambaian tangan namun bergerak kaku.
"sampai ketemu lagi."
Jihoon tersenyum lebar dan membalas lambaian tangan Jinyoung. Lucu sekali melihat wajah datar Jinyoung yang melambaikan tangan kaku padanya. Jihoon gemas sendiri. Setelahnya Jihoon melanjutkan langkahnya kembali ke kelas untuk mengambil tasnya dan pulang.
Ia harus cerita pada Hyungseob!
.
Bonus chapt
Jihoon sampai dirumahnya ketika langit sudah hampir gelap. Ia membuka sepatunya dan menaruhnya dirak sepatu. Ia celingukan mencari seseorang di dalam rumah. Ayahnya belum pulang, dan sang ibu kemungkinan ada dikamar karena didapur tidak menunjukan adanya kehidupan disana.
"Jihoon-ie, eomma dibelakang!" teriak suara wanita yang sangat Jihoon kenali. Bagaimana bisa ibunya tau dirinya sudah pulang?
Tanpa menunggu lama ia pergi ke belakang. Disana pintu yang menghubungkan ruang keluarga dengan halaman belakang. Disana ia mendapati sang ibu dan seorang lelaki muda bersurai kemerahan yang tengah merawat tanaman kesayangan sang ibu.
"oh, Park Woojin. Kau disini?" Park Woojin, adik sepupu Jihoon dari ayahnya yang sudah ia anggap sebagai teman sekaligus sahabat sedari kecil.
"kenapa kau pulang telat? Ini sudah hampir malam—"
"Woojin merindukanmu, Jihoon-ie." Sang ibu menyahutnya dengan usil. Woojin hanya menyengir menampilkan gigi gingsulnya yang Jihoon akui Woojin tampan dengan gigi gingsulnya itu.
Jihoon hanya mendelik tajam dan sang ibu tidak mengetahuinya. "kita kan bertemu disekolah. Eomma ini bicara apa." Ia melengos meninggalkan pintu belakang dan menuju kamarnya.
"imo, aku ke dalam ya?"
Ibu Jihoon mengangguk dan mengibas-kibaskan tangannya. "masuklah, imo sudah banyak terbantu."
Lelaki bergingsul itu langsung melesat mengikuti Jihoon yang berjalan santai ke kamarnya. Sesaat Jihoon membukakan pintu kamarnya Woojin langsung menyelinap masuk ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya ke ranjang Jihoon. Sudah tidak diherankan kelakuan seenaknya Woojin. Karena ia sering ditinggal pergi kedua orang tuanya membuat ia sering dititipkan ke rumah Jihoon atau ia sendiri yang menitipkan dirinya sendiri.
"ayolah, Jin. Aku ingin bicara kau malah menyebalkan." Jihoon melemparkan tas sekolahnya ke samping Woojin.
"bicara apa? Tentang Jinyoung?"
Jihoon langsung menoleh pada Woojin. "tau dari mana kau?"
Woojin hanya mengangkat bahunya. "hanya menebak saja."
"aku akan mandi dulu. Kau keluarlah, aku tidak mau ada lelaki cabul dikamarku."
Lelaki kelewat imut itu menarik paksa adik sepupunya keluar dari kamarnya.
"hei jaga bicaramu!"
Jihoon hanya menjulurkan lidahnya masa bodoh. Toh Woojin tidak akan marah hanya karena cibirannya. Bahkan mereka sudah sering bertengkar lebih ekstrem dari itu. Menjenggut, menabok(?) dan menyindir sudah biasa mereka masalahkan. Ibu Jihoon yang sering menyaksikan sudah lelah menengahi. Toh mereka akan berbaikan kembali 5 menit kemudian.
Jihoon menutup rapat pintu kamarnya dan melangkah untuk pergi mandi.
15 menit setelahnya Jihoon keluar dari kamarnya dengan keadaan lebih segar dan harum. Ia mendekati ibunya didapur yang tengah memasak ditemani Woojin dimeja makan.
"heol tuan muda Park Jihoon sudah cantik." Ucap Woojin yang tidak terdengar seperti pujian, melainkan cibiran.
"Hentikan atau kusembur kau dengan sirup ini." Jihoon meneguk minuman berwarna kuning yang ia dapatkan dari lemari pendingin. Rupanya si manis ini garang juga.
Ibu Jihoon hanya terkikik mendengar berdebatan kecil kedua anaknya.
"orang jatuh cinta kok bicaranya seperti itu."
Sontak Jihoon membulatkan matanya dan menatap tajam Woojin yang dengan lempengnya bicara didepan ibunya. Ia segera menarik lengan Woojin menjauh dari dapur dan ibunya. Bisa gawat jika ibunya tau Jihoon menyukai seseorang. Yang ada ia akan menjadi bahan ejekan.
"kalau eomma mendengar bagaimana?!" protes Jihoon sedikit berbisik. Ia membawa Woojin ke kamarnya karena tempat yang tepat untuk curhat adalah kamarnya. Jika diruang tengah bisa-bisa ibunya mendengar.
"habisnya aku gemas dengan kalian."
Woojin dan Jihoon memasuki kamar Jihoon yang didominasi warna biru muda. Woojin duduk di kursi dan menyalakan komputer disana. Tidak salah dan tidak lain untuk bermain game. Sedangkan Jihoon merebahkan tubuhnya diranjang.
"Jinyoung menanyakan namaku. Tapi aku memalukan. Kyaaa" Jihoon menjerit yang teredam bantal. Namun cukup mengejutkan Woojin dan menggumamkan ia terkejut serta mengelus dadanya.
"memalukan kenapa?"
"aku disoraki teman-teman Jinyoung dikelasnya."
Woojin memutar bola matanya. "Jinyoung itu sudah tau namamu. Ia sama-sama diam dan tidak peka."
"kau bicara macam-macam ya? sudah kubilang kau diam saja. Sialan kau."
Iya, Woojin cukup akrab dengan Jinyoung karena ketika tingkat akhir dimiddle school mereka sempat dikelas yang sama. Dan ketika dihigh school pun Jinyoung dan Woojin dalam kelompok yang sama meski berbeda kelas.
"dia sendiri yang menanyakan namamu karena aku sering bersama denganmu. Itupun ketika tingkat pertama. Sudah lama, kan?"
Jihoon cemberut. Tidak mau ada orang lain yang membantunya dekat dengan Jinyoung. Ia ingin dekat dengan Jinyoung dengan caranya sendiri. Tapi meski begitu ia juga ingin diperjuangkan oleh seseorang yang ia cintai. Agar terdengar keren mungkin?
.
Bae Jinyoung sebenarnya tau siapa Park Jihoon. Tapi ia hanya sedikit peduli dan karena rencana teman-temannya ia perlahan mencintai Jihoon.
Namun tiada hubungan yang berjalan mulus. Mereka mendapat cobaan yang menguji mereka.
.
.
TBC or end?
kalo gak ada yang review aku ga update cepet ya. hehe
