Game On

.

Characters belong to Masashi Kishimoto.

.

This Is SasuHina Story!

Alternative Universe! Out Of Character! Unbetaed! Grammatical Errors! Typical Errors! Plot lambat!

You've been warned!

.

And please note that I already got you warned that anything can happen.

.

Inspired by an romance-action novel yang saya lupa judulnya T.T

.

.

.

"Selamat datang kembali, semuanya," Kakashi mengangguk pelan dengan ekspresi yang terlampau datar.

"Dia merindukan kalian, lho," Konan berdeham mengguyon sebelum Kakashi memicingkan mata padanya. "Kenapa? Memang kenyataannya kau seperti hilang arah saat hampir seluruh anak buahmu pergi, bukan?"

Kakashi memutar bola matanya kemudian kembali memberikan perhatian pada empat anak buahnya yang baru saja tiba. "Aku sudah melihat seluruh laporan kalian, dan selain Hinata, tidak ada dari kalian yang berhasil mencuri informasi. Bagaimana bisa begitu?" tuntutnya.

Pujian kecil itu tak lantas membuat Hinata mengangkat kepalanya yang tertunduk. Meskipun begitu, dari ujung matanya ia masih dapat melihat Sasuke duduk terdiam dengan ekspresi kerasnya. Meskipun raut wajahnya terkesan dingin, namun api seakan berkobar dari manik kelamnya.

Sasuke sama sekali belum berinteraksi kembali dengan Hinata. Ia mengabaikan Hinata sejak kepulangan mereka ke Jepang dua hari yang lalu. Hinata sendiri belum berani bertanya tetang apapun yang mengganggu pikirannya terhadap pria itu.

"Itu karena jelas kita tidak bisa barang mendekati Hidan bahkan dalam radius dua meter, sedangkan Hinata dengan tidak disangka malah menarik lelaki itu," Naruto beralasan dengan nada datar.

"Baiklah, baiklah," Kakashi menerima saja alasan itu, mengetahui bahwa berdebat dengan pria pirang itu hanya akan membuang waktu.

"Benar," Sakura menambahkan. "Kami sudah melakukan apa yang bisa kami lakukan."

Kakashi mengangguk. "Dari laporanmu, diketahui bahwa tidak banyak anggota tetap Akatsuki yang hadir saat itu?"

"Ya. Naruto dan aku mengintari seluruh sudut ruang kongres dan tidak ada satupun yang mengetahui soal markas Akatsuki. Beberapa bahkan tak memahami prinsip kerja Akatsuki yang sebenarnya. Kebanyakan dari mereka hanyalah pihak pendukung."

"Hmm. Dan sepertinya prediksi kita bahwa Hidan memiliki informasi yang menguntungkan sangat meleset," gumam Kakashi lagi setelah menghela napas. "Agen Thunder," panggilnya. "Kau seharusnya langsung mengeksekusi Hidan setelah kongres. Apa kau sengaja mengulur waktu untuk Agen Hyuuga?"

Jeda beberapa detik sebelum Sasuke membuka mulut. "Tentu saja. Dia begitu yakin akan mendapat hal penting dari keparat itu," ujarnya tajam, Hinata bahkan tak berani melirik ke arahnya.

"Misi ini sia-sia, namun setidaknya Agen Thunder mengambil bagiannya dengan baik," entah karena alasan apa, Kakashi terdengar begitu bangga saat mengatakannya. "Selebihnya, kerja bagus untuk kalian semua. Dan, Hinata, jika bukan karenamu kita mungkin tidak akan mengetahui bahwa anggota penting pun tidak memiliki kontak langsung dengan pusat Akatsuki," Kakashi tersenyum di balik maskernya. "Omong-omong, Agen Wind dan Agen Haruno. Ini detail misi kalian selanjutnya di Beijing," ia menyodorkan tablet ke dua agen dengan warna rambut terang itu. "Kalian bisa kembali sekarang."

Setelah Naruto dan Sakura meninggalkan ruangan, Konan meringsut mendekati Hinata. "Ingat, Hinata. Kalian juga akan terbang ke Singapura minggu depan. Kali ini benar-benar misi penyamaran," jelasnya.

"Menurut informan dalam, Akatsuki akan mengadakan pertemuan lagi dua bulan ke depan. Kalian harus bisa menyusup dalam pertemuan itu bagaimanapun caranya," tambah Kakashi.

"Menurutku kalian bisa mencoba menjadi pengawal, yah meskipun itu sama sekali tidak cocok untuk Hinata, sih," ujar Konan. "Tapi yang paling utama, keberadaan kalian tidak boleh mencolok, membaurlah dengan masyarakat biasa. Dan karena kalian akan berperan sebagai masyarakat biasa, kami juga akan memberikan akomodasi standar."

"Standar?" kening Hinata berkerut ringan menuntut penjelasan dari Konan.

"Ya, kami tidak akan memberikan kemewahan seperti yang kalian dapat di Denmark," jelasnya singkat yang direspon anggukan oleh Hinata. "Dan satu lagi, kalian akan tinggal satu atap. Agensi memutuskan hal itu agar penyamaran kalian cukup meyakinkan," lanjutnya sambil menahan senyum kecil.

Napas Hinata tertahan di tenggorokan barang sesaat. "Untuk... dua bulan?" tanyanya memastikan, ametisnya melirik sosok Sasuke yang kini duduk santai dengan satu tangan memangku dagunya dan tatapan malas yang menembus dinding kaca gedung.

Konan mengangguk. "Ini termasuk misi besar, Hinata. Dan untuk seminggu kedepan, kau dan Thunder akan diperkenalkan dan mempelajari tentang hukum juga regulasi yang berlaku di Singapura."

Selanjutnya Kakashi sedikit menerangkan gambaran misi baru mereka. Namun sejujurnya, Hinata tidak bisa benar-benar memfokuskan diri terhadap setiap kata yang diucapkan kapten timnya itu. Hingga mereka semua diperbolehkan keluar, Hinata mencoba memanggil Sasuke.

"Sasuke," dan rasanya sekarang Hinata sudah terlalu terbiasa memanggil pria itu dengan nama kecilnya.

Sasuke sendiri tak mengambil tindakan untuk mengacuhkan panggilan itu. Ia tetap melangkah keluar dengan kedua tangan ia sisipkan di saku celananya. Hinata yang merasa diabaikan hanya menghela nafas tanpa berniat untuk mencoba memanggil pria itu lagi.

"Hinata," Konan menepuk lengan atas Hinata ringan. "Mau makan siang bersama?"

Hinata menggeleng, netranya mengirimkan sinyal permintaan maaf. "Aku mau keluar sebentar," alasannya.

"Ke mana? Ayolah, aku tidak mau ke kantin sendirian," rajuk Konan.

"Maaf," ujar Hinata lirih.

Konan menghela nafas, menyerah. "Tapi omong-omong, kau tidak apa-apa, kan? Kau agak terlihat... tak bersemangat sejak kembali."

"Aku masih merasa agak lelah. Belum terbiasa, kurasa," jawab Hinata singkat.

Konan kembali mengangguk. "Baiklah. Kau mungkin memang perlu istirahat. Sampai jumpa, kalau begitu," senyum kecil terbentuk di bibirnya.

Hinata membalas senyum itu sebelum berjalan menuju elevator. Di dalam ruang besi yang tak luas itu, Hinata menghela napas panjang, tangan kanannya memijit ringan pelipisnya. Pikirannya terasa tersumbat. Emosinya tak karuan. Terima kasih kepada partner kerjanya yang telah menyebabkan semua kebingungan ini menyerang jiwanya.

Hinata bukanlah anak gadis yang tak peka akan apa yang terjadi di sekitarnya. Otaknya tak tumpul untuk memunculkan kemungkinan-kemungkinan alasan atas tindakan Sasuke malam itu. Dan itu membuatnya ingin sekali menghadang Sasuke dan menuntut penjelasan langsung dari pria itu.

Hinata menyandarkan tubuh di dinding elevator. Kelopak matanya menutup ringan, kepalanya kembali memutar momen saat Sasuke menyentuhnya malam itu.

..

...

..

"Saat kubilang jangan lakukan, jangan lakukan itu, kau mengerti!" Sasuke berdesis tajam, satu tangannya melepaskan lengan Hinata hanya untuk ia kembali lekatkan di pinggang wanita itu.

"Sasu—ahhh," Hinata memekik tertahan karena kejut saat hangat telapak tangan Sasuke terasa menyapu ringan permukaan kulit bagian pinggangnya. "Apa yang kau..." kalimat Hinata kembali tak rampung saat tangan besar itu mulai bergerak pelan.

"Dia menyentuhmu?"dua kata tajam itu terdengar seperti pernyataan meskipun aslinya ditunjukkan sebagai pertanyaan. Namun Hinata tak bisa mengendalikan dirinya barang untuk menjawab apalagi dengan hembusan nafas pria yang merupakan partner kerjanya itu menerpa lehernya. "Sial! Aku benar-benar membencimu," desis Sasuke di leher Hinata.

"S-Sasuke... hentikan," Hinata berusaha mendorong tubuh kekar itu ketika merasakan bibir pria itu menyapu ringan permukaan kulit lehernya.

Sasuke seperti tak mendengarnya, ia terus mengusakkan wajahnya di leher Hinata, tangan kanannya pun kini mencengkeram pinggul bawah wanita itu. "Kenapa kau selalu membuatku jengkel?" gumamnya.

"Apa maksudm—akh," Hinata kembali memekik saat pria itu menggigit cuping daun telinganya. "Sasuke..." suara Hinata terdengar terengah, akibat dari napas dan kerja jantungnya yang terlalu tak beraturan.

Tangan Sasuke menyingkap blus bagian bawah Hinata, hanya sedikit namun cukup membuat tangannya menelusup lebih dalam untuk menjamah sampai ke rusuk wanita itu. Bibirnya terus bergerak tapi tak pernah meninggalkan kulit putih wanita yang tengah ditindihnya itu.

Hinata merasa suhu tubuhnya meningkat. Ia menggigit bibir kuat-kuat agar tak melepaskan erangan tak pantas. Ini buruk. Ia merasa hampir kehilangan kewarasannya dengan membiarkan setiap perlakuan Sasuke saat pria itu mulai menggigit dan menghisap bagian tulang selangkanya.

Apa yang Sasuke lakukan? Apa yang mereka lakukan? Hinata tak memiliki kesempatan untuk memikirkan jawabannya. Yang jelas ia tahu ini semua salah. Hinata tidak seharusnya membiarkan hal seperti ini terjadi, terlebih dengan partner kerjanya. Hal ini bisa menciptakan skandal, dan jika sampai sang ayah tahu, Hinata tak dapat membayangkan akan bertambah seberapa berat lagi kekecewaan sang ayah padanya.

"Sasuke, berhenti!" seru Hinata, sekuat mungkin mendorong tubuh Sasuke agar tak lagi menindihnya. "Kubilang hentikan!" butuh beberapa kali mencoba hingga akhirnya Hinata berhasil menjaraki diri dengan pria itu.

Hinata menatap wajah Sasuke di tengah keremangan, pria itu tertunduk sama sekali tak membalas tatapan Hinata. Sasuke tak bergerak, hanya pundaknya yang terlihat naik turun agak tak teratur mengikuti irama napasnya. Hinata tak jauh berbeda, ia berdiam diri mengatur napas dan jantungnya hingga lebih tenang sebelum membuka mulut.

"Apa yang kau pikirkan? Apa kau benar-benar melihatku sebagai seorang pelacur?" tanya Hinata lirih, tiap katanya begitu berat untuk meluncur dari bibir tipisnya. "Kau tidak bisa bersikap seperti ini, Sasuke. Hanya karena ibumu seorang penggoda tetap tidak memberimu hak untuk menilai semua wanita sepertinya!" Hinata lepas kendali, nada bicaranya meninggi dari sebelumnya.

Sasuke sendiri masih pada posisi awalnya. Kelopak matanya semakin terbuka lebar mendengar kalimat yang dikatakan Hinata, namun tentu wanita itu tak menyadari perubahan air mukanya mengingat ia masih menundukkan kepala.

Hampir sepuluh detik berisi keheningan hingga Sasuke mengangkat wajah. Ia memandang Hinata sebentar dengan tatapan yang sama sekali tak bisa Hinata artikan, lebih karena Hinata tak pernah melihat Sasuke memperlihatkan ekspresi seperti itu sebelumnya.

"Maaf," ujarnya lirih dan singkat sebelum membuka pintu dan keluar dari mobil.

..

...

..

"Masuk."

"Anda mencariku?" Hinata berujar setelah memasuki ruang kerja Hiashi.

Sejujurnya, Hinata tak terlalu gugup saat diminta menghadap sang ayah. Mungkin karena ia sudah terlalu sering melewati hal yang sama. Namun entah apa yang membuat suasana di sekeliling mereka tetap terasa begitu tegang setiap mereka berhadapan.

"Jendral Hatake mengatakan kerjamu cukup bagus dalam misi yang lalu," Hiashi menyandarkan punggungnya ke kursi kerjanya saat Hinata baru bergerak untuk mendudukkan diri di hadapan sang ayah.

"Entahlah..." Hinata merespon dengan nada skeptis yang lirih.

Ruangan yang begitu hening membuat Hinata dapat mendengar hela napas panjang Hiashi pada detik setelahnya. "Jangan lakukan lagi," ujarnya singkat.

"A-apa?" Hinata mengangkat wajahnya tak paham.

"Dari laporan yang kalian berikan, kau pergi sepanjang sore bersama angota Akatsuki. Jangan lakukan itu lagi. Meski niatmu untuk mengumpulkan informasi."

"A-aku..."

"Jangan menyela saat aku berbicara, Hinata," suara tegas Hiashi menggema. "Itu bukan bagianmu! Ada agen khusus yang ditugaskan untuk itu! Kelakuanmu hanya akan mencoreng nama baikku," jelasnya tajam.

Dada Hinata mendadak sesak. Tentu saja, apapun yang ia lakukan pasti tak akan pernah sempurna di mata sang ayah.

"Kau tidak perlu bertindak sejauh itu. Tidak perlu menunjukkan padaku bahwa kau bisa menjadi seorang pahlawan di sini. Yang harus kau lakukan hanyalah memastikan Agen Thunder tetap dalam perannya, kau mengerti!"

"Aku tidak bermaksud begitu!" Hinata menyela lagi meski sang ayah sudah memperingatkannya. Tapi sungguh, ini hanya karena Hiashi terlalu menyakitinya dengan kata-kata.

Hiashi kembali menghela napas. "Kulihat Agen Thunder cukup menerima keberadaanmu," oktaf suara Hiashi merendah. "Tapi aku berharap ini tidak berarti apapun. Jangan membuat skandal lagi, Hinata. Cukup kau mempermalukanku dengan tidur bersama sepupumu sendiri tempo lalu, untuk sekarang jangan—"

"Izin untuk keluar, Ayah," Hinata tak membiarkan Hiashi menyelesaikan kalimatnya. Ia berdiri seketika tanpa perintah. Dengan kepala tertunduk, Hinata bekedip dengan harapan air mata yang menyelimuti korneanya menghilang.

"Tidak. Duduk kembali!"

"Aku tidak bisa," gumam Hinata lirih, ia menggeleng pelan sebelum melangkah keluar mengabaikan perintah sang ayah.

..

...

..

"Oh... akhirnya kelinci kita kembali muncul ke permukaan."

Kening Hinata berkerut samar mendengar kalimat bernada cela itu. Namun ia memilih untuk tak memberikan respon sama sekali atas itu dan terus melanjutkan langkahnya .

"Hei!" kali ini Hinata tahu jelas yang barusan itu merupakan suara Yahiko.

Dan sebagaimanapun Hinata ingin mengabaikannya, Yahiko tetaplah Yahiko yang begitu membencinya. Pria itu lagi-lagi menahan tangannya, menahannya agar tak melangkah lebih jauh.

"Bagaimana selinganmu di Denmark? Apa Yugaku Hidan cukup memuaskanmu?" tanyanya dengan nada menghina sebelum mengeluarkan kekehan. "Sekarang aku tahu bagaimana caramu bekerja. Apa mungkin dengan cara itu juga kau membuat Thunder tunduk padamu?" kekehan Yahiko berubah menjadi tawa. "Sial, padahal kukira Si Manusia Batu itu aseksual," tambahnya.

"Aku tidak punya waktu untuk meladeni omong kosongmu, Yahiko," Hinata menarik tangannya untuk melepaskan diri, namun cengkeraman Yahiko malah mengencang.

Entah dari mana, Tenten tiba-tiba menengahi mereka, mendorong bahu Yahiko. "Berhenti bermain-main, Bodoh!" ujarnya tajam. "Hanya karena Thunder tidak ada di sini, tidak berarti kau bebas menghina Hinata. Dia akan melumatmu hidup-hidup jika tahu perbuatanmu ini!"

Hinata mengedipkan matanya beberapa kali, agak heran dengan apa yang dikatakan Tenten. Kenapa wanita itu berkata seolah antara Hinata dan Sasuke telah terbangun hubungan yang lebih dari sekedar rekan kerja? Apa agen lain juga berpikiran seperti itu? Bagaimana mereka memiliki anggapan seperti itu saat Hinata sendiri masih merasa seperti orang asing di mata Sasuke.

Hinata menggeleng pelan merespon suara kepalanya sendiri, tak mendengar lagi apapun yang diperdebatkan dua orang di hadapannya itu. Hingga kemudian yang ia sadari adalah Tenten yang menepuk lengannya, menggumamkan 'sampai jumpa' padanya sebelum berlalu dari sana.

Beberapa saat setelah Tenten pergi, Hinata memutuskan untuk kembali melangkahkan kakinya. Jadwalnya sore ini kosong, benar-benar berkebalikan dengan kepalanya yang sibuk mengingat dan memikirkan banyak hal. Pada akhirnya, Hinata memilih berjalan ke area asrama para agen yang letaknya berada di sisi paling ujung area Anbu secara keseluruhan.

Hinata sendiri tak memiliki asrama di Anbu, ia tetap memilih tinggal di apartemennya sendiri. Tujuan utamanya pergi ke area itu adalah untuk menemui dan bicara dengan Sasuke. Bagaimanapun caranya, ia tidak akan membiarkan pria itu membuat alasan lain untuk menghindarinya.

Saat memasuki pintu gedung asrama, Hinata berhenti untuk menghadap dua pegawai yang telah berjaga di sana. Ia menunjukkan tanda pengenal dan lencananya. Pegawai itu mengangguk mengerti kemudian memandang Hinata sebentar, menunggu Hinata menyampaikan maksudnya datang ke sana.

"Agen Thunder," hanya dua kata yang Hinata ucapkan namun cukup untuk dimengerti oleh pegawai itu.

"Kau partner barunya itu, ya?" salah satu dari mereka bertanya.

"Ya," jawab Hinata singkat.

Salah satunya kemudian kembali mengangguk pelan sebelum menginformasikan. "Lantai empat, E207."

Hinata menggumamkan kata terima kasih sebelum memasuki elevator menuju lantai yang tadi disebutkan. Sampai di lantai empat, tanpa membuang waktu lagi, ia mencari pintu dengan tulisan E207.

Satu helaan napas panjang dihembuskan Hinata sebelum mengetuk pintu meskipun sebenarnya ada tombol bel di sana. Selama menunggu respon, Hinata mendengar beberapa kegaduhan kecil dari dalam, yang menandakan bahwa sang pemilik tak sedang keluar.

Hampir dua menit lamanya Hinata menunggu sampai pintu muncul bertelanjang dada dengan handuk mengalungi tengkuknya. Napasnya terlihat agak tak teratur, surainya basah dan berantakan, wangi sabun yang maskulin juga masih tajam dirasa indra pembaunya.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Sasuke, terlihat agak terkejut.

Hinata tersenyum kecil sebelum menjawab. "Apa kau sibuk?"

Satu alis Sasuke menukik mendengar pertanyaannya direspon balik dengan pertanyaan lagi. "Aku sedang mandi dengan pintu kamar mandi yang terbuka lebar kemudian seseorang mengetuk pintu apartemenku jadi aku memutuskan untuk segera menuntaskan bisnisku itu dan berlari seperti seorang maniak tolol ke sini hanya untuk membuka pintu karena kukira ada hal darurat yang terjadi," jelasnya panjang lebar. "Jadi, menurutmu apa tadi itu terdengar sibuk?"

Hinata tak menjawab, wajahnya agak ia tundukkan sejenak untuk menyembunyikan senyum gelinya setelah mendengar jawaban Sasuke. Setelah dirasa dapat menguasai diri, ia kembali meluruskan pandangannya. Ujung matanya melirik sedikit kondisi apartemen Sasuke. Dan sesuai dugaannya, apartemen pria itu nampak kosong. Hanya ada perabot pokok yang itupun diletakkan dengan asal-asalan.

Ametis Hinata kembali terhubung dengan oniks pria di hadapannya itu. Ia sedikit menggigit bibir karena ragu akan apa yang akan dikatakannya. Namun akhirnya ia memutuskan untuk membuka mulut.

"Mau keluar bersamaku sebentar? Makan, mungkin?" tawar Hinata.

Sasuke hanya diam untuk beberapa saat, oniksnya menyipit seolah membaca apa maksud wanita di hadapannya itu. "Kau yang bayar?" responnya datar.

"Ya," angguk Hinata.

..

...

..

"Maaf," Hinata bergumam rendah, namun cukup untuk didengar Sasuke.

Sepanjang perjalanan menuju restoran hingga makanan pesanan mereka sudah siap disantap, tak ada satupun dari keduanya yang berniat membuka obrolan. Meski aura yang mereka ciptakan bukanlah lagi aura yang menegangkan, namun situasi seperti ini begitu canggung dirasa Hinata.

Sasuke mengangkat wajah, mengabaikan sejenak makanan di hadapannya. Ia menatap Hinata denga tatapan bertanya.

"Maaf," ulang Hinata. "Malam itu bicaraku keterlaluan," sambungnya, merujuk kepada kata-kata yang ia ucapkan tentang ibu Sasuke.

"Lupakan. Itu salahku," respon Sasuke enteng kemudian kembali sibuk dengan pesanannya.

"Tidak... aku tahu aku menyinggung perasaanmu—"

"Aku tidak merasakan apapun," sela Sasuke cepat.

Hinata menghela napas. "Tentu kau juga merasakan sesuatu, Sasuke," gumam Hinata rendah. 'Karena kau juga manusia, hatimu juga bisa tersakiti' tambah Hinata dalam hati.

Sasuke tak membalas, melirik Hinata pun seperti enggan. Pria itu masih fokus dengan steak daging miliknya.

"Kau tidak ingin membicarakannya?" tanya Hinata setelah memastikan Sasuke tak akan buka mulut untuk merespon kalimat yang ia katakan sebelumnya.

"Tidak," jawab Sasuke cepat.

"Kenapa tidak?"

"Kenapa harus? Malam itu... benar-benar memalukan," ujarnya rendah.

"Mungkin karena itulah kita perlu membicarakannya. Agar kita bisa meluruskan semuanya."

Sasuke berhenti, ia meletakkan garpu yang semula ia genggam. Matanya kemudian menatap intens. "Kau tidak mengerti," Sasuke menghela napas.

"Kalau begitu buat aku mengerti," tuntut Hinata rendah.

"Tindakanku sangat memalukan, bukan?" ujar Sasuke rendah. "Aku hanya... entahlah... rasanya aku tidak dapat mengendalikan diriku sendiri hingga... melakukan itu padamu," Sasuke mengalihkan pandangannya dari ametis Hinata. "Tapi kau perlu tahu aku sama sekali tidak berniat mengambil kesempatan dalam kesempitan malam itu," jelasnya.

Hinata diam sebentar, agak terkejut juga mendengar Sasuke bersedia memberi penjelasan pendek kepadanya. "Aku memang sempat mengira kau berniat mencari kesempatan," ujar Hinata. "Maaf sudah berpikiran seperti itu."

"Hal itu tidak akan terulang. Aku bersumpah," manik gelap Sasuke kembali menghubungkan diri dengan tatapan Hinata.

"Jangan membuat janji yang tidak bisa kau tepati," gumam Hinata sebelum menyantap dimsum pesanannya.

Tak ada respon, Hinata hanya mendengar helaan napas dari pria itu. Ia juga melewatkan Sasuke yang menatapnya.

Hampir sepuluh menit berlalu dalam keheningan, tiba-tiba dehaman Sasuke memecah suasana. "Kau bisa memakai lidi-lidi itu?" tanyanya asal.

Hinata memandang Sasuke yang menunjuk ke arah sumping yang tengah Hinata genggam. "Sumpit? Kau tidak bisa?" kening Hinata berkerut ringan, satu kejutan kecil lagi dari Sasuke.

Sasuke menggeleng pelan. "Aku bahkan tak tahu caranya membersihkan hidungku sendiri saat flu. Yang aku tahu hanya cara untuk membunuh dengan tembakan."

Hinata berkedip dua kali, agak tak menyangka Sasuke bisa mengangkat obrolan basa-basi seperti ini. "Kau tau... aku pernah mendengar rumor dari agen lain kalau kau pernah membunuh tiga orang dengan satu peluru."

"Itu bukan sekedar rumor," Sasuke menyeringai sebelum menyesap jus jeruknya.

"Apa?" mata Hinata melebar. "Bagaimana bisa?"

"Maaf saja, tapi aku tidak membeberkan caraku bekerja," Sasuke kembali memasukkan sepotong daging ke mulutnya. "Tidak tanpa bayaran tentu saja."

"Katakan harganya kalau begitu," tantang Hinata.

"Harganya terlalu mahal untukmu, Manis," seringai kembali muncul di wajahnya. Sasuke menusuk beberapa brokoli dari piringnya kemudian memindahkannya ke piring Hinata.

"Kau harus makan makanan sehat sesekali," Hinata menyarankan.

"Hanya karena aku bersikap baik dan menerima ajakanmu malam ini, tidak berarti kau bebas mengatur menu dietku."

Hinata tersenyum kecil. Sasuke tetaplah Sasuke. Malam ini pun pria itu sama sekali tak merubah karakter aslinya. Hanya entah mengapa, kali ini Hinata merasa lebih ringan atas kebersamaan mereka sekarang. Hinata tak merasakan ketegangan yang biasanya mereka ciptakan setiap kali bertemu.

"Kau benar," Hinata kembali bersuara setelah jeda beberapa saat. "Harusnya aku tidak pergi bersamanya malam itu."

"Ya, aku memang selalu benar," Sasuke menjawab tanpa menyelesaikan kunyahannya terlebih dahulu.

"Terima kasih," ujar Hinata.

"Untuk?"

"Karena telah menolongku."

Sasuke menelan makanannya, menyesap lagi jus jeruknya sebelum menjawan. "Aku tidak menolongmu malam itu. Aku di sana karena itu adalah misiku."

"Tapi kau menunda eksekusi itu untuk memberiku waktu, bukan? Agar aku bisa mencoba melakukan sesuatu?"

Sasuke diam.

"Aku... senang kau memberiku kesempatan itu, Sasuke," Hinata tersenyum tulus tetap ke arah Sasuke saat mengatakan hal itu. "Mungkin kau memang tidak seburuk apa yang orang lain pikirkan."

"Aku ini jahat. Orang-orang benar tentang pemikiran mereka terhadapku. Jadi berhenti mengatakan bahwa aku orang baik, oke," sanggah Sasuke, mulai risih dengan pandangan Hinata. "Kenapa kau tidak bisa bersikap seperti yang lainnya? Kenapa kau begitu membingungkan? Kau membuatku jengkel setiap waktu tapi aku tidak bisa melakukan apapun terhadapmu! Pada akhirnya kau membuatku terlihat seperti seorang idiot yang kebingungan!"

Hinata tahu jelas Sasuke tengah menahan diri agar tak berteriak. Sejujurnya ia tak mengerti sebagian besar dari apa yang barusan Sasuke katakan. Hinata yakin dirinya bertingkah biasa terhadap Sasuke, seperti yang lainnya. Lalu apa yang membuat pria itu seakan beranggapan bahwa Hinata memperlakukannya dengan cara yang berbeda?

Hal itu cukup membingungkannya. Nmaun demi menjaga agar emosi pria itu tetap dalam kontrol, Hinata memilih untuk tak memperpanjang topik itu hingga mereka menyelesaikan makanan masing-masing.

"Kau tidak perlu merasa bingung," saat mereka berjalan menuju area parkir, barulah Hinata kembali berbicara dengan nada yang rendah. "Beberapa hal sebenarnya begitu sederhana, hanya mungkin pandanganmu lah yang membuatnya menjadi rumit."

"Aku tahu itu," balas Sasuke tanpa menghentikan langkah. "Tapi kali ini aku yakin seratus persen bahwa kau sangat rumit dan sangat membingungkanku."

Hinata menghela napas. "Jangan memandangku seperti itu. Baru saja tadi kita mengobrol ringan tanpa saling menyumpahi. Itu artinya kita bisa menjadi teman, Sasuke."

"Aku tidak mau berteman denganmu, mengerti? Aku bahkan tidak ingin kau dekat-dekat denganku," ujarnya tajam.

"Kenapa?" Hinata menghentikan langkahnya.

Sasuke ikut berhenti kemudian menghadapkan diri ke arah Hinata. Ia menatap ke dalam mata Hinata sebelum menjawab. "Karena sesuatu meyakinkanku bahwa kau akan menjadi alasan yang bisa membuatku terbunuh," Sasuke sama sekali tak mengalihkan oniksnya dari Hinata.

Jawaban Sasuke sempat membuat napas Hinata tercekat barang sesaat. Ametisnya menatap balik Sasuke. "Kau tidak pernah peduli tentang kematian. Kau tidak pernah takut mati, Sasuke," ujarnya lebih seperti bisikan.

"Ya, kau benar. Aku tidak peduli tentang hidup ataupun mati. Jadi jangan memberiku alasan untuk mulai peduli akan semua itu," Sasuke berbalik, hendak melanjutkan langkahnya menuju mobil. Namun tangan Hinata meraih lengannya, menahannya untuk tetap diam di sana.

"Hentikan, Sasuke," bisik Hinata. "Hentikan perasaan apapun yang mulai kau rasakan untukku. Apapun itu."

Sasuke kembali menghadap Hinata, ia menatap wanita itu dengan tatapan frustasi. "Kau kira aku tidak mencobanya? Aku mencobanya! Aku sebisa mungkin tidak mau melihatmu tapi aku tidak bisa menghentikan diriku sendiri! Kau..." Sasuke menjeda tudingannya, barang untuk mengambil napas. "Kau tahu? Ini salahmu! Kenapa kau selalu muncul di hadapanku setiap aku aku merasa cukup meyakinkan diri bahwa kau bukanlah apa-apa kecuali fantasi gila yang muncul sesaat?! Ini salahmu! Kau lebih buruk daripada sayuran!"

Entah untuk yang keberapa kalinya dalam satu hari ini Hinata menghela napas karena perkataan Sasuke. Tangannya melepas lengan Sasuke, kepalanya menunduk ringan.

"Kau tidak pernah merasakan perasaan apapun kepada orang lain, bukan?"

"Kalau maksudmu rasa benci, kau salah, aku merasakannya kepada setiap orang."

"Kau tahu yang aku maksudkan, Sasuke," gumam Hinata.

Sasuke diam-diam menggigit lidahnya sendiri. "Tidak," Sasuke menjawab bersama dengan satu hembusan napasnya. "Itulah mengapa yang sekarang aku rasakan begitu brengsek, begitu mengerikan!"

"Kau terjebak bersamaku. Itulah kenapa kau merasakannya," Hinata mencoba meyakinkan Sasuke, juga dirinya sendiri. "Jika kau diberi pilihan lain, jika kau tidak terikat sebagai partnerku, kau mungkin tidak akan seperti ini, kau tidak akan tertarik padaku."

"Jangan menyanjung dirimu sendiri. Aku tidak tertarik padamu," sanggah Sasuke.

"Kau berbohong."

"Kau terlalu percaya diri," balas Sasuke lagi.

"Kau pasti sudah membunuhku jauh-jauh hari sebelum ini jika kau tidak tertarik padaku."

Seperti Hinata telah mengatakan jawaban yang begitu mutlak, Sasuke kembali bungkam. Pria itu tak lagi menatap sepasang atemis di hadapannya. Tangannya ia selipkan di saku celana. Kepalanya agak menengadah memandang ringan langit yang mulai menjingga.

"Kau tidak seperti yang lainnya," Sasuke berujar tanpa mengalihkan arah pandang awalnya. "Kau seperti melihat sesuatu dalam diriku yang tidak orang lain lihat. Kau melihat sesuatu dalam diriku yang bahkan tidak dapat aku sadari."

Tatapan mata Hinata melembut meski air wajahnya tetap datar. "Berhenti berpikir bahwa kau adalah satu-satunya orang yang buruk, Sasuke. Setiap orang memiliki cacat. Aku pun sama."

"Kau... cacat, huh?" Sasuke berhenti memfokuskan netranya pada langit senja, memberikan atensinya lagi pada Hinata. "Cacatmu itu... apa itu tentang Hyuuga Neji? Kau bilang dia adalah sepupumu. Dan dari yang ku dengar... kau dilarikan ke rumah sakit setelah pertemuan terakhir kalian," entah apa yang membuat Sasuke mengangkat nama Neji lagi, ia sendiri tak mengerti.

"Kau benar-benar ingin tahu?" tanya Hinata.

"Ya..." Sasuke menjilat bibir bawahnya. "Aku... sebenarnya banyak hal tentangmu yang ingin aku tahu," jawabnya jujur.

"Ya, mungkin juga kau hanya penasaran," gumam Hinata. "Rasa penasaran itulah yang membuatmu tertarik padaku. Dan mungkin yang kau tahu, kau tidak akan merasa tertarik lagi padaku."

"Kita lihat nanti."

Hinata mengangguk. "Aku akan menceritakannya jika kau berhenti mengabaikanku," Hinata menjanjikan. "Dan lagi, jika kita bisa bertahan selama satu minggu pertama di Singapura tanpa mencoba saling membunuh, aku akan mengatakannya padamu. Apapun yang kau ingin ketahui tentangku."

Sasuke menyeringai, cukup percaya diri bahwa ia dapat menyanggupi syarat itu.

"Dan satu lagi," tambahan kalimat Hinata membuat Sasuke menukikkan satu alisnya penuh antisipasi. "Aku ingin kita bertaruh," Hinata menantang.

"Oh... tentang apa?"

"Aku bertaruh bahwa kita bisa berteman meskipun kau menganggap pertemanan adalah hal yang tabu."

Sasuke terkekeh sejenak. "Teman? Kau dan aku? Sial... sampai kapanpun tidak akan terjadi."

"Jadi... berani bertaruh?"

"Baiklah," Sasuke menyeringai.

"Jika aku menang, kau harus berlari mengelilingi area Anbu hanya dengan mengenakan celana bokser," kali ini Hinata ikut menyeringai kecil.

Sasuke memutar bola mata, seperti sedang membayangkan hal yang baru dikatakan Hinata. "Sepertinya itu akan menjadi hiburan yang bagus untuk para agen. Setuju," Sasuke mengangguk-anggukkan kepala. "Dan jika aku yang menang, kau harus melakukan apapun yang aku katakan."

"Seperti?"

Sasuke tertawa lagi. "Aku tidak akan membeberkannya sekarang, Manis. Jadi?"

Hinata mengangguk. "Tidak masalah."

.

to be continued...

..

.

Maaf kalo banyak nemu typo... chap ini ngga sempet di reread hhuhu, masalah waktu dan mood [baca:males] *plakk -_-
Tapi kayanya segimanapun di reread, yang namanya typo selalu lengket sama saya wkwk

Ngga papa yaaa... jangan nyerah ngepoin fic ini ggr typo yaa~~~ :3

Thank you readerss~~ see ya in next chap, byeee...