Main Cast : Chanyeol (25 years old ) X Baekhyun (9 years old)
Other Cast : Kejutan...temukan di dalam nyaa :)
Disclaimer : ChanBaek Version, fic ini pure milik Gloomy Rosemarry & Cupid KM
.
.
Previous Chapter
Baekhyun tak mampu berpikir apapun, ia tak tau bagaimana Sooyoung, di mana Ayah dan Ibunya. Namja kecil itu tak tau harus berlari kemana. Mengapa semua berubah menjadi seperti ini?
'Ahjjusii...musseowo (aku takut) selamatkan aku Ahjjusii'
.
.
.
.
Love of Fallen Leaves
Chapter 3
.
.
"Hks..."
Peluh merembas bersama isakkan lirih. Setiap detik terasa menyiksa...kala malam yang pekat turut mengacaukan pandangan dua bocah mungil itu, terkepung di antara pepohonan dan derik serangga malam.
Nafas keduanya tersengal, mengiringi dada yang kian kembang kempis. Namun tak menyurutkan langkah kaki kecil itu, untuk terus berlari...secepat dan sejauh yang mereka bisa.
Sebelum ketakutan akan tertangkap dan mati itu benar-benar menjadi nyata.
"A-aku hhh..hhh ber—hentiii!" rengek Baekhyun seraya menghempas pegangan tangan Kyungsoo, lebih dari sekedar rasa takutnya. Baekhyun benar-benar benci dan menyerah dengan apa yang dilakukannya kini. Baginya, Ia seperti dipaksa memerah keringat di malam yang sedingin ini.
"Kau tak bisa berhenti Baekhyun! Mereka bisa—
Baekhyun tiba-tiba menghentak kaki, merengek kesal dengan mata memerah. Hingga rasa kesal yang memuncak itu, menyulut tangisan kecilnya. "Mengapa kau memaksaku! Appa tak pernah memaksaku!"
"Aku tak menyukainya! Berlari saja sendiri!" Sungutnya lagi sambil berjongkok, memunggungi Kyungsoo
Membuat namja kecil di sisinya itu mendadak geram. Tak taukah Baekhyun, nyawa keduanya kini tengah terancam dan bukan saatnya untuk meninggikan ego dengan sikap manja itu.
Kyungsoo beralih menarik lengan Baekhyun, tak peduli sepupunya itu kembai merengek kesal bahkan berteriak jengkel padanya. Bagaimanapun itu...keduanya harus meninggalkan wilayah istana itu secepatnya. Seperti apa yang dikatakan Sooyoung.
Ia tak memiliki siapapun saat ini,
Kyungsoo tak tau apapun perihal bagaimana keadaan orang tuanya, hanya Baekhyun yang dimilikinya saat ini. Tentu Ia merasa harus menjaga sepupunya itu.
"Kajja pergi! Aku tak akan meninggalkanmu di sini"
"AKU TIDAK MAU!" Teriak Baekhyun sambil menyentak kasar pegangan tangan Kyungsoo, oh sungguh! Ia benar-benar benci seseorang memaksanya terlebih menentang keinginannya.
"Geurrae! Lakukan sesukamu!" Kyungsoo balas mengeras, dan beralih memutar tubuh membelakangi Baekhyun. Menghentak kaki, seolah benar-benar meninggalkan Baekhyun seorang diri...meski nyatanya Kyungsoo tak bersungguh-sungguh melakukannya, hanya berharap menarik rasa takut sepupunya itu dan mengikuti langkahnya. "Aku akan meninggalkanmu!Huh!"
Baekhyun mendelik kesal dengan tangan terkepal erat. Ia benci mengalah dan pantang menekan egonya pada siapapun, dengan nafas memburu...Baekhyun pun balik melakukan hal yang sama. Hingga keduanya kini benar-benar berjalan dengan arah yang saling berlawanan.
"Aku bisa hidup, tanpa mengikutimu!" Gerutu Baekhyun masih dengan berjalan mengentak ke depan, lebih tepatnya kembali ke arah istana. "Aku akan memukul semua Ahjjusii jahat itu!"
"..." Namun tak ada sahutan menyebalkan dari sepupunya itu, membuat Baekhyun mengernyit heran.
"Yya! Kau mendengarku Kyung—
Baekhyun mendadak bisu, begitu menoleh ke belakang dan sepupunya telah menghilang entah kemana.
Baekhyun tergagap, mengedarkan pandangan panik ke segala penjuru hutan. "KYUNGSOO!" Panggilnya ketakutan.
"KYUNGSOOOO!" panggilnya lagi, berharap...sepupunya itu hanya bercanda dan bersembunyi di balik semak.
Namun nihil...
Tak ada siluet apapun yang dilihatnya, Kyungsoo benar-benar menghilang tanpa jejak. Bukankah keduanya hanya berpisah untuk beberapa detik saja?
Mungkinkah binatang buas menerkam Kyungsoo?
Namja mungil itu semakin gemetar menyadari kesendiriannya, kini Ia benar-benar takut mengikuti arah Kyungsoo. Sepupunya menghilang begitu saja, bukan tidak mungkin sesuatu yang menyeramkan telah terjadi.
Baekhyun memilih berlari kembali ke istana, Ia benar-benar tak ingin melihat binatang buas lebih-lebih diterkam dan mati.
Tidak-tidak! Ia tak menginginkan semua ini.
"Hks...Appaaa!"
.
.
.
.
Sementara itu di tempat lain
"Uhmm! Mmm!"
"Ssshh...pelankan suaramu Tuan muda" Bisik seorang pemuda, masih membungkam erat bibir bocah dalam rengkuhannya, beberapa saat yang lalu Ia berhasil menarik tubuh mungil itu dan membawanya untuk bersembunyi di balik semak yang lebat ini. "Lihat...sekawanan musuh di depan sana" Ujarnya lagi, seraya menunjuk banyak pijar berkelip jauh di depannya. "Mereka tak akan segan-segan membunuh,jika melihat kita. Tapi aku tau...jalan keluar dari hutan ini"
Ia tau...Para prajurit Silla tengah berjaga di perbatasan hutan Goryeo.
"J-jongin!" Gagap Kyungsoo, begitu pemuda itu melepas tangannya.
"Ne...syukurlah, aku menemukanmu Tuan muda"
Kyungsoo mengerjap, sempat merasa lega melihat putra pelayannya sekaligus penjaganya itu. namun Ia kembali berontak ingin keluar dari semak, begitu mengingat Baekhyun.
"B-baekhyun! Dia masih di luar...aku—
"Tidak Tuan Muda, maaf aku tidak bisa membiarkanmu keluar"
"Tapi Baekhyun!" Ronta Kyungsoo, memaksa Jongin turut membawa serta sepupunya,
Jongin terdiam, Ia memang sadar...sudah sepantasnya melindungi Baekhyun sebagai Pangeran Mahkota. Akan tetapi, sekawanan musuh itu telah mendekat. mustahil kembali keluar dan mencari Baekhyun
mereka akan benar-benar terbunuh jika sampai para prajurit Silla itu menangkapnya.
Tak ada opsi lain, dirinya dan Kyungsoo harus segera pergi dari tempat itu. "Maaf Tuan Muda, aku tidak bisa menyelamatkan Baekhyun Hwangja" Bisik Jongin, sebelum akhirnya mengangkat tubuh mungil itu, dan membawanya berlari cepat...menyelinap ke dalam sebuah gua . Tak peduli, Kyungsoo meronta dan kekeuh ingin bersama Baekhyun.
.
.
.
.
~Goryeo~
Langkah kecilnya terlihat gontai, menyusuri jalan setapak penghubung Istana. Kobaran api mulai terlihat di depan, Baekhyun tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada Istananya. Mengapa orang menyulut api seperti itu. Meski demikian, namja mungil itu tetap menyeret kakinya...memaksa ingin mencari sang Ayah di dalam sana.
.
.
KLANK...SRATTT
"ARGH!"
Kedua matanya ya terbelalak nanar, saat dirinya telah berpijak di gerbang istana. Baehyun melihat ratusan pengawal terkapar, dengan busur menancap bahkan luka sayatan lebar di tubuh meka. Sebagian terbahak puas kala menebas pedang, dan sebagian lagi mengerang kala darah merembas.
Baekhyun menggigil, inikah yang dinamakan perang itu?
Menyesal, memutar haluan kembali ke istana, bila akhirnya Ia harus melihat semua orang saling beradu pedang, dengan semua lumuran darah itu.
"A-andwaeyo" Namja mungil itu begitu gemetar menggerakkan kakinya ingin kembali berlari ke dalam hutan, Ya...Kali ini Baekhyun berubah pikiran, sepertinya bertemu dengan binatang buas...lebih baik dibandingkan melihat kekacauan yang mengerikan ini.
Namun belum sempat kaki mungil itu mengambil langkah, seorang prajurit asing menghadangnya dengan pedang penuh dengan lumuran darah segar.
"A-AAHHHH!" Sontak, Baekhyun jatuh terjengkang, dan begitu panik beringsut-ingsut menghindar. Memicu tawa renyah dari sosok prajurit besar di hadapannya.
"Hahahaha...Menangislah! Kau tak bisa kemanapun" Prajurit Silla itu masih terbahak, melihat raut pias Baekhyun.
Bunyi lesattan busur dan pedang masih berbaur parau di sekitarnya. Keringat dingin yang menetes di kening, seolah menunjukkan betapa ciut nyali bocah itu saat ini. Bahkan Baekhyun tak lagi bisa membedakan mana jerit kesakitan dan mana tawa kemenangan. Semua begitu telak mengacaukan benaknya. Yang Ia tau...
Sekelompok orang jahat, tengah menghancurkan istananya.
"A-andwae...Hks Pergi!" Baekhyun sempat menyentak di tengah isakannya, namun semua tak berarti ada yang peduli siapa dan sebarapa terhormat dirinya saat ini.
"Pergi Pak Tua!" Pekik Baekhyun lagi seraya, melempari parjurit itu dengan batu-batu di sekitarnya.
Tak ayal apa yang dilakukannya makin menyulut amarah prajurit itu, hingga tanpa segan mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Membuat bocah manis itu reflek menutup kepala dengan kedua tangannya
"Berani kau—
SRATTTT
"Ught~"
Tiba-tiba saja, darah meleleh dari mulut prajurit Silla itu, dan tak berselang lama...Pria itu tumbang tepat di hadapan Baekhyun, begitu seseorang menebas punggungnya.
Seketika itu pula jerit histeris Baekhyun pecah begitu saja. Baekhyun berlari ketakutan, merangsak apapun yang dilaluinya sebelum sempat melihat wajah penyelamat itu.
"Ha-HAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHH!"
.
.
.
Sosok bertopeng itu, mulai menurunkan pedangnya. menatap redup pada raga prajurit yang telah terenggut oleh tangannya. Kendati demikian, tak ada raut bersalah ataupun sesal di balik kedua obsidian itu, merasa...apa yang dilakukannya adalah suatu yang telak bagi pria sepertinya. Meskipun, telah membunuh prajuritnya sendiri.
"Bukankah sudah kukatakan, jangan sekalipun menyentuh anak itu" Desisnya sebelum akhirnya melangkah meninggalkan mayat itu, dan mengejar siluet Baekhyun yang sepertinya memasuki istana utama.
"Anak itu milikku""
.
.
.
KLANK
Dua pedang itu kembali beradu, menciptakan denting melengking seolah tengah berebut keangkuhan dari sang pemilik.
Dan di sanalah Raja Goryeo itu bertahan , menyentak serangan bertubi-tubi dari beberapa pria berbusana hitam legam dengan samurai tajamnya.
Yonghwa kian menajamkan pandangan, menatap penuh awas pada sekelompok pembunuh yang mengepungnya.
Setiap gerakan terbaca dengan sempurna olehnya, bahkan tiga diantaranya berhasil Yonghwa lumpuhkan.
Sebelumnya Ia tak pernah menduga, bahwa semua akan berakhir seperti ini.
Bagaimana musuh membaca rencana hingga menyerangnya tanpa pertanda , sungguh...benar-benar di luar pemikirannya.
namun di balik itu semua, ada satu hal yang membuatnya terlampau putus asa. Ya...hingga detik ini, ia tak tau..dimana dan bagaimana keadaan putra semata wayangnya.
"P-pheyaa"
Panggilan lirih itu membuatnya tersentak, menyadari Seohyun mengikutinya hingga kemari. Musuh tengah mengepung, dan kapanpun bisa saja beralih menyerang Ratu itu.
Akan tetapi, rasa cemasnya membuatnya lengah. Hingga musuh mampu membaca gerakannya dan begitu mudah menebas pedang mengenai paha kanannya.
"Argh"
Sontak Raja Goryeo itu jatuh bersimpuh dan hanya bertumpu pada pedangnya
"PHEYAAAA!" Jerit Seohyun histeris, seraya berlari tergopoh mendekati suaminya.
"Malam ini akan menjadi akhir kekuasaanmu, menyerahlah" Ujar salah seorang pria bersamurai, seraya menghunuskan pedangnya pada sepasang suami istri itu.
"Terkutuk kalian semua!" Pekik Seohyun , membuat beberapa namja itu terkekeh remeh mendngarnya.
Namun tawa itu terhenti, begitu siluet kecil menyita perhatian semua pasang mata dalam ruangan itu.
"A-appa"
Ya, namja mungil yang sedari tadi berlari itu...kini benar—benar menemukan Ayahnya. Entah bagaimana cara Baekhyun berhasil menyelinap dengan selamat diantara kepungan pertumpahan darah itu.
"Appaa!" panggilnya lagi, seraya berjalan mendekat tak peduli keberadaan musuh , dan bahkan sepertinya anak itu tak tau Yonghwa mendapat luka parah.
"Hks...Apppa"
"Baek—hyun" Lirih Yonghwa, menahan sakit
Baekhyun mengusap kasar matanya, terisak hebat kala melihat sang ayah... seolah memang ingin mengadu semua hal mengerikan yang dilihatnya pada sang Ayah.
"Aku takut App—
"Menjauh!"
Langkah bocah mungil itu mendadak tersendat, begitu Seohyun merampas pedang Yonghwa dan menghunuskannya pada putranya sendiri.
"S-seohyun, ja—ngan lakukan i—ni" Ucap Yonghwa terbata, tapi tak berpengaruh apapun pada amarah sang Ratu.
"Seharusnya aku tak pernah melahirkanmu! Seharusnya aku membunuhmu sejak pertama kali aku melihatmu!" Cerca Seohyun, menatap bengis seakan Ia benar-benar ingin melenyapkan apa yang dianggapnya sebagai kutukan itu.
"E-eommaa" Baekhyun terisak, merasa ciut sekaligus terancam dengan pedang yang terhunus padanya.
"Aku akan melenyapkanmu! AKU AKAN MEMBUNUH PETAKA GORYEO!"
.
.
Greb
Tubuh Baekhyun tertarik cepat kebelakang, menghindari ancaman Seohyun.
"Seorang Ibu yang mengerikan" Seorang pria bertopeng tiba-tiba menghadang, dan tersenyum licik pada Ratu yang tak sepantasnya mengangkat pedang. Terlebih pada keturunannya sendiri.
Sementara beberapa sosok bersamurai di belakangnya, tampak bungkam dan hanya tunduk penuh hormat. Seakan memang menyadari pemimpinnya ingin menguasai waktu yang tersisa.
"N-nuguya?!" Sentak Seohyun geram.
Pria bertopeng itu kembali terkekeh, dan beralih mengunci gerakan Seohyun dengan pedangnya.
"NUGUYA!"
KLANKKK
Seohyun terperanjat hebat, begitu pria bertopeng itu menyentak pedangnya dengan mudahnya hingga terlempar jauh.
"Pedangmu benar-benar mengganggu nona" Kekehnya seraya berjalan mendekat, seringaiannya pun makin tersimpul tajam kala menyadari ia berhasil menarik raut ciut wanita di hadapannya.
Ia beralih menatap Yonghwa, berdecak geli melihat Penguasa Goryeo itu tampak tak berdaya di hadapannya.
"Goryeo tak lagi bersinar.." Ujarnya sambil memainkan pedangnya di dada Yonghwa, tak peduli seorang wanita dan namja mungil yang melihatnya kembali berteriak .
"K-kau— Yonghwa mengernyit, merasa tubuhnya makin melemah akibat banyak darah yang menyusut
"Sepertinya memang...langit menghendaki kuasamu sampai di sini saja Byun Yonghwa" Tukasnya lagi, merasa menang atas ucapan yang tak pernah ditelak oleh Raja Goryeo itu.
"Ah~ tapi, kali ini aku ingin berbaik hati padamu" Pria bertopeng itu, merunduk dan memegang bahu Yonghwa.
"Aku tak akan membunuhmu dan istrimu, aku akan membiarkan kalian hidup nyaman di tanahku...asalkan—
ia beralih menegakkan tubuh, lalu menarik tangan Baekhyun hingga berdiri di depannya.
"Anak ini...menjadi tawananku" Pungkasnya, seraya menyeringai tajam. Dan diikuti tawa renyah dari beberapa prajurit silla di belakangnya.
Yonghwa terperanjat, ingin bangkit meraih putranya...namun hanya berbuah sia.
Luka di kakinya buka n main lagi meninggalkan rasa sakit, Ia tak bisa berbuat apapun selain jatuh terjerembab di bawah kaki semua musuh itu.
"Appaaa"Baekhyun menangis dan meronta kasar, begitu pria itu memaksa memisahkannya dari Yonghwa.
"Appa! APPPAA!" Panggilnya pilu
"Baek—Hyun"
"Biarkan kita buang aib itu Pheya...biarkan kita buang kutukan itu!" racau Seohyun seraya memeluk tubuh Yonghwa, menahan pria itu melakukan gerakan lebih demi mengejar putranya yang telah pergi bersama sekawanan musuh itu.
.
.
.
.
.
Sosok bertopeng itu mulai menarik pelana kuda, bersamaan dengannya pula pekikikkannya meringkik keras...membawa bocah mungil itu semakin jauh meninggalkan Goryeo yang telah tumbang.
"APPAAAAA!"
.
.
.
Semilir angin kian berhembus, menyebar aroma bunga soba di tengah musim semi itu. semua memang mengalun dengan semestinya, begitu tenang...begitu hangat.
Kecuali...derap langkah beberapa kuda yang seakan memecah hening di hamparan hijau itu.
"Hks..."
isakkan Baekhyun masih saja tedengar, memang tak sehebat sebelumnya...rasanya Ia terlalu lama menangis dan hanya sesenggukan kecil yang tersisa.
"Diam.." Ujar pria di belakangnya, terdengar berat dan menusuk.
Baekhyun makin tergugu, menyadari satu kenyataan pahit...dirinya benar-benar terpisah jauh dari Ayahnya dan kini orang asing tengah membawanya entah kemana.
Namja mungil itu mengatupkan kedua tangannya, dan menggosoknya cepat.
"Ahjjusi~..Hks...Musseowo (Aku takut), selamatkan aku Ahjussii" Gumam Baekhyun seraya memejamkan matanya, masih mengingat dengan jelas janji yang pernah terucap dari seorang pria. Tapi mengapa, Ahjjusi itu tak kunjung datang?bukankaah Dia berjanji akan menyelamatkannya kapanpun dirinya merasa takut?
Sementara, sosok bertopeng di belakangnya hanya terdiam dan menghela nafas...menyadari Baekhyun rupanya tak mengenali dirinya.
Ah...topeng yang dikenakannya sepertinya benar-benar menutup jati dirinya dengan sangat apik. Akan tetapi, terlepas dari itu semua...sejujurnya Ia tak mengerti. Mengapa dirinya membawa anak itu bersamanya, yang tak lain putra dari musuhnya. Entahlah, tersemat perasaan yang berbeda kala melihat bocah mungil sejak pertama kali Ia melihatnya.
Dan disinilah pungkas dari semua itu,
Baekhyun akan tetap hidup dan menjadi tawanannya.
.
.
.
.
Beberapa Jam Kemudian
Senyum angkuhnya terkembang sempurna, kala pemandangan Silla terbias di hadapannya. Pria bertopeng itu beralih memperlambat laju kudanya, dan memberi titah yang sama pada semua pengikut di belakangnya.
Hingga kuda-kuda perang itu, berbaur tenang bersama lalu lalang ratusan rakyat Silla, banyak di antaranya bersorai memberi penghormatan dan berbagai bingkisan untuk para prajurit itu atas kemenangannya.
Sesekali Pria itu melirik ke bawah, dan kembali tersenyum tipis melihat bocah mungil itu tampak terkulai di lengannya, Ya...Baekhyun yang kelelahan rupanya terlelap begitu cepat. Tapi biarlah, ini lebih baik dibandingkan melihatnya menangis seperti sebelumnya.
.
.
.
.
"Sebar berita bagus ini pada semua rakyat" Ujar Pria bertopeng itu seraya beranjak turun dari kudanya, sementara Baekhyun yang terlelap masih menggelayut di pundaknya. "Dan nikmati kemenangan kalian"
"Nde Pheya" Sahut para pengawal dan prajurit itu serentak.
Ia melangkah pasti memasuki istana, tersenyum tipis pada semua penghuni kerajaan yang mulai menyambutnya dengan tatapan berbinar dan semua pujian langit untuknya.
Bagi mereka, tak ada yang lebih membahagiakan selain kemenangan sang Raja...langit telah memberkati pria muda itu. Dan membuat hidup mereka semakin di puncak kesejahteraan. Tentu bukan main lagi para penduduk Silla itu mengelu-elukkan Rajanya.
.
.
"Selamat atas kemenangan—
Wanita itu mendadak bungkam, sesaat yang lalu dirinya memang berniat menyambut dengan senyum termanis miliknya, namun urung ia ungkapkan begitu melihat seorang bocah dalam gendongan pria itu. dan sepertinya dia tertidur pulas.
"Anak siapa yang kau bawa itu?"
Wanita itu – Seul Gi- melangkah mendekat, berusaha menuntut jawab pada seorang yang tak kunjung membuka suara. Bahkan terkesan mengabaikannya dengan melenggang menuju kamar dan membaringkan bocah tak di kenal itu di ranjangnya.
"Pheya!" kini, ia mulai meninggikan intonasinya.
Dan...sepertinya memang berhasil membuat pria yang masih mengenakan topeng itu, melihat padanya.
"Tsk..." Decaknya seraya melepas topengnya, Ia menatap tajam wanita cantik itu, Lalu melangkah mendekat untuk meremas pelan pundak Seul Gi
"Suka atau tidak, anak itu akan hidup di sini" Desis Chanyeol, dan menyeringai begitu melihat raut terkejut di sisinya. "Ratu-ku" Lanjut Chanyeol lagi, lalu menarik tangan wanita itu...membimbingnya menuju pintu utama kamarnya.
Seul Gi yang masih tercengang, hanya mengikuti langkah Pria itu dalam diam. Dan begitu pintu kamar tertutup rapat...Ia baru tersadar, Chanyeol kembali mengusirnya dengan cara yang membuai.
"Pheya! Buka pintunya! Tak seharusnya kau membawa anak asing ke dalam istana kita! Siapa anak itu!" Teriak Seul Gi dari luar, seraya menggebrak pintu. Tapi..daun pintu itu tetap bungkam, jangankan terbuka...berdecit pun tidak. "PHEYA!"
Wanita itu berjalan menghentak, terlalu kesal dengan sikap yang menurutnya tak bijak dari Raja Silla itu. Apa lagi sekarang? lebih dari dua tahun semenjak pernikahannya, tak pernah sekalipun pria itu menyentuhnya. Sikap Raja Silla itu sepenuhnya dingin terhadapnya. Sebagai seorang Ratu dirinya tak ubahnya seperti manekin hidup. Hanya dijadikan simbol atau bahkan dimanfaatkan untuk kepentingan Chanyeol semata, ya... demi menjadikannya seorang Raja negri ini.
Tentu bukan main, kecamuk amarah dan dengki dalam dadanya. Pemikiran Sang Raja memiliki wanita lain kian memuncak hingga ke ubun-ubun kala melihat bocah tak dikenal itu.
Mungkinkah...anak itu, putra dari wanita simpanannya? Tapi mustahil!
Chanyeol masih terlalu muda untuk memiliki seorang anak, yang mungkin usianya 9 atau 10 tahun itu. Siapa anak itu sebenarnya?
"Kasim Song!" Jeritnya melengking.
Detik itu pula, seorang pria paruh baya berlari tergopoh-gopoh menghampirinya. "Nde...Mama (yang mulia permaisuri)"
"Cari tau latar belakang anak itu! dan mengapa suamiku membawanya kemari!" Sentaknya tak suka, Kasim Song membungkuk penuh hormat, mengisyaratkan titah itu diterimanya dengan sangat baik.
Seul Gi kembali berdengus dan mengibas gaun berkilau itu, sebelum akhirnya melenggang pergi menuju paviliun miliknya.
karena memang, Raja dan Ratu Silla itu...tak tinggal dalam satu atap yang sama.
.
.
.
Esoknya
~ChanBaek~
"Unh~" Sosok mungil itu mulai menggumam dalam tidurnya, semakin lama semakin menggeleng gelisah dengan keringat dingin merembas dari keningnya. Bahkan kedua tangan kurus itupun tampak menggapai-gapai ke atas. Entahlah...tampaknya Baekhyun tengah memimpikan sesuatu yang buruk.
"Hks...Ngh! Appaa...APPAAA!" Baekhyun berjengit terduduk, namun detik itu pula seorang pria menarik tubuhnya dan mendekapnya erat.
"Ssshh~" Bisik Pria itu –Park Chanyeol- seraya mengelus pelan punggung sempit Baekhyun.
lama ...Chanyeol membiarkan Baekhyun terisak di dadanya, hingga akhirnya bocah mungil itu sedikit menenang dan mulai merasa penasaran dengan sosok yang memberinya pelukan hangat itu.
Ia beringsut menjauhkan tubuhnya, menengadah ke atas dengan kerjapan polosnya.
Dan betapa terkejutnya Baekhyun kala melhiat wajah pria itu. "Ahjjusiiii!" Pekiknya girang, Ia tersenyum lebar, bangkit berdiri ingin melompat-lompat di ranjang.
Namun sesaat kemudian, raut cerah itu berangsur was-was. Baekhyun mengangkat kedua tangannya, dan memaksa menutup mata Chanyeol dengan telapak mungil itu.
"Baekhyun?"
"Hati-hati Ahjjusi~... Namja bertopeng di sini, jangan melihat matanya...dia jahat! sangat jahat Ahjjusi" Celoteh Baekhyun, masih dengan menutup mata Chanyeol. Pandangannya makin mengerjap penuh awas, takut kalau-kalau sosok bertopeng itu datang dan menyerang Ahjjusi-nya.
Chanyeol terdiam, merasa geli dan mungkin sedikit iba melihat sikap Baekhyun yang demikian, haruskah merasa bersalah pada bocah sepolos itu. Ia telah menipunya, membekap rapat semua kebohongan itu dari benak Baekhyun.
"Namja bertopeng?" Ucap Chanyeol seraya menurunkan kedua tangan mungil itu, namun Baekhyun mengelak, dan tetap kekeuh ingin melindungi Chanyeol dari sosok bertopeng mengerikan itu.
"Andwaeyo! Ahjjusi jangan melihatnya...Ahjjusi harus bersembunyi dari—
"Ah! Aku telah mengusir namja bertopeng itu dari sini" Sergah Chanyeol seraya kembali menggenggam kedua tangan kecil itu, kali ini Baekhyun sepertinya terlihat patuh.
Kedua mata kecilnya membulat, merasa takjub dengan ucapan pria dewasa itu. "Jjeongmalyoo?"
Chanyeol mengangguk dengan senyum terpalsukan.
"Ahjjusi mengusirnya? Whoaa…Ahjjusi menyelamatkanku lagi. Jinjja? Jinjja?"
"Hn Baekhyun...tenanglah, tak ada satupun yang kau khawatirkan di sini. Sama seperti yang kukatakan, aku kaan datang menyelamatkanmu di saat kau merasa takut" Chanyeol beralih menepuk-nepuk kepala bocah mungil itu. membuat tawa kecil anak manis itu kembali terdengar dan sejenak melupakan ingatan kelamnya, entahlah kehadiran sosok Ahjjusi-nya benar-benar membuatnya merasa tenang bahkan mungkin aman, tanpa tau...kenyataan di balik senyum pria itu.
.
.
Beberapa Jam Kemudian
"Pelayan! Siapkan air hangat dan pakaian terbaik untuk anak ini " Titah Chanyeol pada beberapa dayang di sekitarnya.
"Alggeseumnida… Pheya"
.
.
.
Baekhyun melihat-lihat ke sekitar, lalu menarik-narik lengan pakaian Chanyeol.
"Ahjjusi…apa ini rumahmu?" Tanya Baekhyun masih mengekor kemanapun Raja Silla itu melangkah.
"Hn…saat ini kau berada di rumahku" Chanyeol berujar pelan, kedua tangannya saling bertaut di belakang tubuhnya, melangkah penuh kuasa…mengamati para pelayan dan dayang itu mengisi kolam pemandian dengan air hangat dan taburan bunga mawar di dalamnya.
"Whoaa…Daeebak, rumah Ahjjussi sangat besar. Seperti istana Appa" Baekhyun menunduk, begitu lirih kala mengucapkan kata terakhirnya. Anak itu kembali ingat akan Ayahnya, bahkan samar-samar kedua manic caramel itu mulai pias menahan tangis.
"Cepatlah mandi, akan kutunjukkan sesuatu yang menarik untukmu" Chanyeol menunduk cepat dan berbisik, seolah memang menyadari perubahan raut Baekhyun.
Dan benar saja, Baekhyun terlihat mengangguk cepat mendengarnya. Bahkan begitu bersemangat ingin menceburkan dirinya ke dalam kolam.
Tapi Dayang dengan cepat menahannya. "T-tunggu Tuan, air ini masih sangatlah panas. kami akan menyesuaikan suhunya untuk anda" Ucap Dayang itu, membuat Baekhyun mendelik dan menghentak kaki kesal.
Sementara Chanyeol yang melihatnya hanya terkekeh pelan, setidaknya Ia sedikit tau tabiat Baekhyun. Cukup menyenangkan melihatnya dan mungkin memang menjadi penawar rasa jenuhnya.
.
.
.
"Pheya…Bukankah tujuan itu telah tercapai. Memanfaatkan anak itu dan melihat Goryeo jatuh di tangan kita. Tapi mengapa anda masih bertekad membawa anak itu ke dalam istana?" Seorang panglima yang sedari tadi setia mengikutinya, mulai membuka suara. Keduanya memang telah meninggalkan kolam pemandian itu, dan kesempatan yang tersisa membuat panglima itu tanpa segan bertanya.
Chanyeol menghentikan langkahnya sejenak, sedikit menoleh dan melempar smirk khasnya. "Hn…karna anak itu tawananku" Singkatnya begitu saja, lalu kembali melanjutkan langkahnya. Tentu…pria itu tak mampu menyergah atau bahkan bertanya lebih jika sang raja sepertinya memang enggan berbicara.
.
.
.
.
"Ku dengar, dia dari Goryeo" Ujar seorang dayang berbisik dengan para dayang lainnya saat mengusap dan menggosok pelan, kulit Baekhyun dengan air hangat itu.
"ya…aku juga mendengarnya, tapi untuk apa diperlakukan seistimewa ini?" Sahut Dayang yang lain.
Sementara, Wajah bocah yang sedang dimandikannya itu tampak tertekuk kusut. Ia mendengar…bahkan sadar, siapa yang tengah dibicarakan oleh para dayang itu.
"Kau benar….aneh sekali bukan, Dia—
"Aisshh! SAKIT! Bisakah kalian menggosok punggungku dengan benar?!" BYURR
Tiba-tiba saja, Baekhyun memukul air dengan kedua tangannya. membuat air dalam kolam menciprat hingga sebagian mengenai mata para dayang itu.
"A-ahh…sabun masuk ke dalam mataku! Perih! Perih!" Salah seorang dayang tampak menghentak kaki kebingungan, dan memaksa yang lain menyiram matanya dengan air bersih.
"O-otohkkae? gwaenchanayo?" Panik dayang yang lain.
Sementara Baekhyun tampak meringis melihat para dayang itu begitu kacau, Ia kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri sembari memainkan buih dan taburan petal mawar dalam kolam itu. tak peduli dayang di belakangnya masih menjerit histeris. Ah…anak itu rupanya cukup puas, memberi sedikit kenakalannya pada dayang penggosip itu.
Sesaat kemudian, setelah semuanya kembali tenang. para dayang itu kembali masuk ke dalam kolam. dan melanjutkan tugasnya memandikan Baekhyun sebelum tubuh mungil itu menggigil kedinginan.
Tapi kali ini tak ada nada sumbang yang terdengar, dayang-dayang itu terlihat bungkam dan tenang.
Lebih baik memang…Tapi Baekhyun tak puas dengan suasana hening seperti itu. Ia kembali bangkit berdiri sembari berkacak pinggang.
"Buatkan aku perahu kertas! aku ingin bermain di sini"
"N-ne?" Dayang itu tampak tak yakin dengan apa yang di dengarnya.
Baekhyun makin mengerucutkan bibir tak suka. Hingga tiba-tiba saja ia menghentak kaki dan merengek sejadinya, membuat air kolam itu kembali beriak dan sebagian tumpah keluar. Sontak…Semua dayang itu dibuat panik melihatnya, mereka berlari tergopoh mencari setiap bahan yang ada…demi membuat sebuah perahu.
sebelum tangisan anak itu pecah, dan membuat sang Raja murka.
Dan di sinilah, Baekhyun begitu antusias memainkan perahu kertasnya.
.
.
.
"Tuan muda, hari hampir petang sebaiknya lekas—
"Tidak mau!" sergah Baekhyun seraya berenang-renang kecil menjauhi dayang itu.
"Tuan muda, tidak baik berlama-lama di dalam air" Seorang dayang memaksa mengejar Baekhyun dan diikuti dayang yang lain.
Tapi seolah menjadi kesenangannya, Baekhyun lebih memilih berenang ke sisi yang lain…mempermainkan para dayang itu untuk mengejarnya, hingga membuat dayang itu basah kuyup. Tak pelak kikikkan ceria Baekhyun terdengar di setiap penjuru pemandian.
"Tuan Muda!"
"Ahahahahahaha!"
"Tuan Mudaaaa"
.
.
.
.
"Apa? Pangeran mahkota Goryeo?!" Wanita cantik itu tampak mengangkat sebelah alis kala mendengar penjelasan dari kasim kepercayaannya.
"Jadi—
Seul Gi beralih memutar tubuh, "Dia tak memiliki hubungan apapun dengan Raja?" Lanjutnya lagi.
"Benar Mama…menurut berita yang hamba dengar dari para pengawal, anak itu adalah tawanan kerajaan"
Seul Gi mendadak membulatkan mata lebar. "Cih! Tawanan kerajaan? Tapi anak itu diperlakukan seistimewa itu? Jika benar Dia tawanan maka—
BRUGHH
Seul Gi, mendelik tak suka. Begitu seorang anak…tiba-tiba menabraknya. Hingga membuat bocah yang telah kuyup itu terjengkang ke belakang.
Baekhyun mengerjap cepat, senyum riangnya lenyap seketika kala melihat wajah wanita muda di hadapannya. Ia sedikit beringsut ke belakang namun tersendat, begitu tangan wanita itu terulur dan menyentuh dagunya.
"Oh! jadi ini…Pangeran Negri Goryeo itu?" Desisnya pelan, seraya mengulas senyum sinis.
Baekhyun masih terdiam, menerka-nerka siapa sebenarnya wanita asing di hadapannya itu.
"Aku memang belum tau pasti, untuk apa Dia membawamu kemari. Tapi—
"Apa kau juga dayang?" Celoteh Baekhyun tiba-tiba, membuat wanita itu menengakkan tubuh cepat dan menatap geram pada bocah mungil itu. Dayang dia bilang?
"Mwoo?!"
"Kau ingin bermain denganku? Tunggu sebentar" Lanjut Baekhyun lagi, seraya bangkit mengambil sebuah timba kayu lalu—
BYUUURRRRR
Air mengguyur cepat tubuh wanita itu, dari ujung kepala hingga ujung kakinya…sepenuhnya basah. Tak ayal, jeritan jengkel pun terdengar melengking di dalamnya. Kecuali Kikikkan kecil dari seorang bocah yang masih melompat lompat girang ingin bermain itu.
"YYAAAACKKK!"
"T-tuan muda—
Beberapa dayang yang sempat mengejar Baekhyun tampak membulatkan mata terkejut, melihat Sang Ratu tampak kuyup dan kumal. Namun detik itu pula…mereka bersimpuh. Menahan geli sekaligus takut akan dihukum. Karna membiarkan Baekhyun bersikap liar seperti ini.
.
.
"KAU! BERANI-BERANINYA BERSIKAP LANCANG DENGANKU?!"
Teriak Seul Gi geram, sambil menarik kasar tangan Baekhyun.
"Keributan apa yang kalian lakukan?"
Seorang Pria tampak melangkah mendekat, dan mengernyit heran melihat kekacauan di depannya. Tampak Baekhyun hanya mengenakan sebuah handuk basah yang melilit di perutnya, dan Seul Gi terlihat basah kuyup, benar-benar tak mencerminkan pribadi seorang Ratu.
Apa mereka tengah mandi bersama?
"Kau lihat! Apa yang telah anak ini perbuat terhadapku!"
Chanyeol mengamati dengan seksama penampilan wanita itu. "Hn…kau basah kuyup" Ujar Chanyeol santai, membuat emosi wanita itu makin menjadi-jadi.
"Hanya itu?! Dia menyiramku dengan air! Aku tak menyukai anak ini! Kembalikan saja dia…atau kurung—
"Tsk! Pergilah keringkan tubuhmu. Penampilanmu sangat kacau, merusak mataku" Sergah Chanyeol seraya mengibas-ngibaskan jemari panjangnya.
Tak peduli, wanita itu terlihat memerah menahan semua amarah dan diabaikan seperti ini. "Hmph!"
Seul Gi, mengangkat ujung gaun basahnya, memutar tubuh lalu menghentak kaki meninggalkan tempat itu. Meski nyatanya, sesekali Ia nyaris terpeleset…karna lantai yang basah.
.
.
Sesaat kemudian, Chanyeol beralih memandang Baekhyun. Dan berdecak melihat bocah itu tampak pucat, karna sepertinya terlalu lama bermain di air.
"Baekhyun" Panggilnya seraya menunduk, menyamakan tingginya dengan bocah mungil itu.
"Ne Ahjjusi~…" Sahutnya riang.
"Aku tak pernah mengizinkanmu bermain-main hingga seperti ini. Berhenti…dan biarkan para dayang mengeringkan tubuhmu" Tegasnya, membuat bocah mungil itu mempoutkan bibir kesal. Namun cukup patuh mendengarkan ucapan Chanyeol, dengan melangkah lesu mendekati semua dayang itu.
.
.
.
Malam itu….para dayang dan pelayan kembali dibuat panik. Baekhyun yang semula tenang, kini kembali rusuh meronta.
Semua yang tak sesuai dengan keinginannya, akan dihempas begitu saja…hatinya sedang tak menentu kali ini. kerinduannya akan sang Ayah dan pengasuhnya –Sooyoung- kian menjadi, membuat anak itu menangis dan merengek.
"Tuan Muda… lihat semua perahu kertas ini, apa—
"Tidak suka! Aku tidak mau! Buang semuanya! Hks Appaa!"
.
.
.
"P-Pheya" Seorang pelayan pria tampak tergopoh menyambut kedatangan sang Raja, yang memang sengaja datang berkunjung, untuk menemui Baekhyun.
"Ada apa? Di mana anak itu?"
"J-josseonghamnida Pheya, kami tak bisa menenangkannya"
"…."
Chanyeol mengernyit, lalu memutuskan untuk melangkah ke dalam paviliun itu.
Raja Silla itu kembali berdecak, melihat ruangan Baekhyun tampak kacau….banyak benda berserakan di bawahnya. Ia beralih mendekati Baekhyun yang masih meronta kesal bahkan berguling-guling di atas ranjang.
"Baekhyun—
Chanyeol terdiam, begitu memegang tangan Baekhyun. Pandangannya menajam, dan Ia mulai bergerak cepat menyentuh dahi anak itu.
"Dia demam" Ujarnya kemudian, membuat semua pelayan dan dayang itu makin menunduk.
"Bawa ramuan pereda demam kemari"
.
.
"Ahjjusii~…Appa, aku ingin bertemu Appaa" Rengek Baekhyun, seraya menarik-narik pakaian Chanyeol. Tatapannya begitu pias, karna panas tubuhnya dan juga rasa sedihnya.
Chanyeol berdehem, sebelum akhirnya memerintahkan para dayang dan pelayan itu untuk keluar. Membiarkan dirinya hanya berdua saja dengan bocah yang masih terisak itu.
.
.
"Minumlah.." Chanyeol, berusaha menarik tubuh mungil itu untuk terduduk, tapi Baekhyun menggeliat dan kembali meronta di atas ranjang, hingga nyaris membuat ramuan di tangan pria itu terlempar.
"NGH!"
"Dengar Baekhyun"
"Aku ingin bertemu Appa…Hks" namja mungil itu mengelak, dan lebih memilih memukul-mukul ranjang dengan kesal.
"Kau tak ingin mendengarku?"
Baekhyun terdiam, dengan mata pias itu Ia mulai menatap sosok pria di atasnya. "Ahjjussi~ Bawa Appa ke sini" Rengeknya seraya menggelengkan kepala.
Raja Silla itu beralih, beringsut ke atas ranjang…dan memenjarakan tubuh mungil itu di antara kedua lengannya. "Aku tak bisa membawa Ayahmu kemari"
"Waeyoo?" Baekhyun mengerjap cepat, membuat bulir bening itu lolos cepat dari pelupuknya.
"Hn…aku hanya tidak bisa melakukannya" Ujarnya seadanya.
"Bawa Baekhyun pulang…Ahjjusi~" Rengek Baekhyun lagi, mencoba opsi lain yang mungkin bisa terkabul.
Pria tampan itu hanya tersenyum mendengarnya, dan mengusap air mata Baekhyun dengan ibu jarinya. Sepertinya demam anak itu, turut membuat perasan Baekhyun tak mementu. "Akupun juga tak bisa melakukannya"
"Hks" Baekhyun kembali terisak, merasa keinginannya ditelak begitu saja. Entahlah, dadanya merasa sesak dan membuat air bening itu tak kunjung berhenti keluar dari matanya. Lebih lagi…kepalamya makin berdenyut pening.
"Buka bibirmu" Ucap Chanyeol tiba-tiba.
Baekhyun menggeleng, dan terlihat lesu mendengarkan Chanyeol. "Baekhyun pusing, tidak mau bermain lidah" Ujar anak itu, seakan cepat menangkap maksud Chanyeol.
Namun Raja silla itu hanya terkekeh mendengarnya, sesuatu serasa berdesir halus dalam dadanya kala mendngar celoteh kelewat polos itu.
Mungkin kali ini tak semudah biasanya, untuk membujuk Baekhyun. Ia beralih menyentuh tengkuk Baekhyun, dan mengangkatnya…membuat namja mungil itu sedikit menengadah.
"Pusing?"
Baekhyun mengangguk. "Uhm…sangat sakit Ahjussi" Gumamnya, memukul-mukul kepalanya sendiri.
"Sshh…" Desis Chanyeol seraya menahan tangan mungil itu. "Karna kau terlalu lama bermain dengan air, jangan mengulangnya lagi. Arrasseo?"
"…."
Tak ada jawaban berarti, namja mungil itu hanya mengangguk namun tetap dengan air mata yang masih mengalir di sudut matanya. entahlah rasanya, panas tubuhnya serasa menjalar ke dalam matanya.
"Sekarang buka bibirmu…aku akan mengusir rasa sakit itu"
Seolah patuh dan memang mendengar, Baekhyun mulai membuka sedikit bibirnya. memperlihatlan rongga mulut yang terlihat memerah karna demamnya.
Sejenak, Pria tampan itu menghela nafas….lalu meminum cairan asing dalam sebuah cangkir sebelum akhirnya menyatukan bibir keduanya, dan membagi ramuan dalam mulutnya.
"Mph! Mhmm!"
Ia mengernyit, begitu menyadari Baekhyun tampak memukul-mukul lengannya. Karna tersedak ramuan itu…Tapi Ia tetap bersikeras, memagut bibir mungil itu lebih dalam…bahkan memaksanya terbuka lebih lebar, hingga di pastikan Baekhyun benar-benar meneguk semua ramuan itu.
.
.
"Pa—hit Ahjjusii" Gumam Baekhyun seraya menjulurkan lidahnya, apa ini? permainan lidahnya dengan Ahjjusinya tak seperti biasanya yang terasa manis.
Kali ini benar-benar pahit, sangat pahit!
"Hn…pahitnya hanya sebentar" Bisik Chanyeol, seraya menekan dagu lancip itu. Lalu kembali mencium Baekhyun, Menyusupkan lidahnya ke dalam…dan memainkan saliva yang terasa panas di dalam bibir mungil itu.
"Ngh~..mhmm"
"Buka bibirmu lebih lebar" Bujuk Chanyeol di sela-sela pagutannya.
Baekhyun mengerjap sesaat dan begitu patuh membuka bibirnya, membiarkan Pria itu leluasa menghisap lidahnya, menariknya keluar dan memainkannya begitu intens. Hingga saliva keduanya semakin banyak merembas di sudut bibir Baekhyun.
"Angh…"
Kedua tangan mungilnya menggapai ke atas, mencari-cari sesuatu yang bisa diremasnya.
Tengkuk Chanyeol menjadi satu-satunya pegangan paling nyaman, Baekhyun meremasnya bahkan menarik surai hitam Raja Silla itu, sebagai reflek lampiasan rasa nikmat yang berbeda.
"Uhmp~ A-Ahjjusii"
.
.
.
.
.
Tebe ceee
.
Next Chapter
"Apa yang kau makan?!" Chanyeol mengeras, dan mengguncang tubuh mungil itu, memaksa Baekhyun lekas mengeluarkan sesuatu dalam bibirnya.
"Nghh.."
Tapi sepertinya memang terlambat, bocah itu telah menelannya habis. dan kini menyisakan tubuh menggeliat tak nyaman, dengan peluh yang merembas.
.
.
"Ngh! ah! Ga—tal Ahjjusii" Rengek Baekhyun, memaksa tangan Chanyeol lekas bergerak menyentuh genital mungilnya, yang terasa membengkak di dalam sana.
Chanyeol mengernyit menahan nafsu. Tapi apa yang sebenarnya dimakan anak itu, hingga membuatanya bereaksi seperti ini.
.
.
"Ackhh!" Tubuh mungil itu menggigil, begitu Chanyeol benar-benar memasukkan genital mungil itu kedalam mulutnya. Menghisapnya pelan, dan memainkannya di dalam dengan lidahnya. seolah organ kecil itu terasa nikmat layaknya manisan.
.
.
BYUUURRRR
"Eottohkkae, tanganku sangat licin rupanya…umm aku tak bisa berenang, jadi tunggu di sini hingga seorang datang arrasseo?"
"Uhmmp! Mmhhh! to—long! Uhmp!" Baekhyun meronta di dalam air, sekeras apapun ia mencoba untuk berenang ke permukaan.
Tali itu terlalu erat menjerat kakinya, menyeretnya semakin dalam ke dasar sungai.
"Ah…tapi sepertinya, tak akan ada satupun yang datang kemari. Bersenang-senanglah di dalam sana anak manis" Kikik wanita itu, seraya menghempas gaunnya, lalu melenggang anggun menuju istana.
Meninggalkan seorang bocah yang masih terjerat di dalam sungai
'Ahjjusi musseowo'
.
.
.
.
.
Annyeoonngggg….Gloomy datang membawa Chapter 3 nya,
Bagaimana Chinggu, masih layak dilanjutkan atau tidak.
Review Jusseyoo :) jika ingin membaca kisah selanjutnya hehe
*FF Blood on A White Rose, sedang proses, mohon ditunggu :)
Dan untuk:
90Rahmayani, restikadena90 , gloriadelafenni , Shengmin137 , kyukyu , Eun810 , lily kurniati77 , Byunsilb, ceceshii , Jung Minjii , kyuhyunsqueen , CBZAAY , VlnChuu, LUDLUD , CussonsBaekby , Sakura Bee , Hyun CB614 , LyWoo , angelaalay , jiellian21, dwi yuliantipcy, BaekkiChannie , istiqomahpark01 , Ervyanaca , vava1487, Zahra427 , Bubblelights, barampuu, Hyo luv ChanBaek, Siti409, Galaxy Aquarius , valsxid , dan All Guest
Terima kasih banyak untuk reviewnya,
jangan lupa review lagi neeee
Saranghaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaeeeeeeeee
