nythine present
'For me?'
Winkdeep
Park Jihoon
Bae Jinyoung
WANNA ONE
.
.
Jihoon berjalan bergandengan dengan sang kekasih dengan hati yang bahagia. Menghabiskan waktu bersama kekasih disebuah taman hiburan memang sangat menyenangkan. Itulah yang dirasakan Park Jihoon. Dengan tangan kanan menggenggam gagang permen kapas berwarna pink dan tangan kirinya merangkul lengan kurus sang kekasih, Bae Jinyoung. Sesekali ia menyuapi permen kapasnya pada Jinyoung. Wajah yang selalu menampakkan tanpa ekspresi kini terlihat cerah dan banyak tersenyum.
Setelah menaiki beberapa wahana bermain dari yang santai hingga ekstrem mereka beristirahat dan hanya berjalan-jalan disekitar taman hiburan yang cukup luas.
"senang tidak?"
Jihoon menoleh dan mengangguk. "tentu saja!" senyumnya mengembang lebar membuat Jinyoung tidak tahan melihatnya. Ia mencubit pipi tembam Jihoon dengan gemas.
"Baejin-ie! Sakit tau." Jihoon memasang wajah cemberut dengan bibir mengkerucut.
"habisnya kau menggemaskan." Lelaki kurus itu mengusak surai Jihoon. Ia mendekatkan kepala lelaki yang lebih pendek darinya untuk bersandar dibahunya.
"ayo kita duduk, tidak lelah seharian berjalan?"
Jihoon menggeleng. "tidak, selagi aku bersamamu."
Jinyoung semakin gemas saja pada kekasihnya ini. Ia memeluk erat Jihoon tidak peduli pengunjung lain memperhatikan mereka. Ia hanya ingin memeluk Jihoon.
"kita harus duduk. Aku tidak mau kau kelelahan."
Akhirnya Jihoon menyetujui usul kekasihnya dan duduk dibangku taman yang ada disisi jalan. Mereka langsung berhadapan pada sebuah wahana carousel yang lumayan besar. Tentu saja mereka sudah mencobanya.
"YA!"
Kedua orang itu menoleh ke belakang ketika seseorang berteriak entah pada mereka atau bukan, tapi teriakan itu membuat keduanya mengalihkan atensi mereka.
Jihoon langsung ketakutan ketika melihat siapa yang berteriak itu. Seorang lelaki dengan wajah menahan emosi yang kentara. Ia menatap Jihoon tajam. Jihoon yakin orang itu berteriak padanya.
Seseorang itu mendekat pada Jihoon. Mereka saling berhadapan dan bertatap muka. Jihoon masih duduk dibangku dan seseorang itu berdiri menatap tajam.
"apa yang kau lakukan dengan Jinyoung hyung?!" ujarnya tidak sabaran.
Manik Jihoon bergerak-gerak kebingungan sekaligus takut. Ia sudah menggenggam erat jemari Jinyoung disampingnya.
"mau apa kau?" balas Jihoon dengan pelan.
Lelaki itu menyeringai kemudian menarik Jinyoung ke sampingnya. Sontak Jihoon membulatkan matanya. Ia masih menggenggam Jinyoung.
"sudah kubilang jangan kembali lagi pada Jinyoung. Kau sudah mengabaikannya. Jinyoung hyung tidak suka diabaikan!" bentaknya pada Jihoon. Jihoon ingat Daehwi lebih muda darinya. Berani sekali bocah ini. Tapi nyali Jihoon sedang menciut sekarang.
Daehwi melepas paksa ngenggaman Jihoon pada jemari Jinyoung.
"hajima!"
"Jinyoung hyung tidak membutuhkanmu lagi." Daehwi melengang membawa Jinyoung menjauh dari Jihoon. Dengan sengaja lelaki yang lebih tinggi dari Jihoon itu menyenggol bahu Jihoon sarkas.
"Baejin-ie!"
.
.
.
.
.
.
"Baejin-ie!"
Jihoon membuka matanya dan mendapati dirinya tengah didalam kamarnya. Nafasnya tersengal dan dahinya sedikit berkeringat.
"hanya mimpi?"
Rupanya Jihoon hanya bermimpi. Mimpi buruk ketika Daehwi telah membawa kekasihnya pergi dan membencinya. Mimpinya tidak sepenuhnya mimpi. Ia pernah mengalami kejadian ketika ia dan Jinyoung bermain ditaman hiburan. Tapi dulu Jinyoung belum mengenal Daehwi. Daehwi belum hadir diantara mereka.
Jihoon mendudukan tubuhnya diatas ranjang. Tempat disampingnya kosong. Biasanya Woojin tidur disampingnya. Tapi pagi ini lelaki bergingsul itu tidak ada ditempatnya. Sepagi ini Woojin sudah bangun?
"Woojin-ah?" panggilnya dengan suara sedikit meninggi.
"aku sedang mandi!" balas Woojin didalam kamar mandi yang terdapat dikamar Jihoon.
Jihoon kembali meringkuk diatas ranjang. Ia terus terbayang mimpinya. Ini bukan pertama kalinya ia mimpi buruk tentang Jinyoung dan Daehwi. Kedatangan Daehwi dari Amerika saja sudah menjadi mimpi terburuk yang tidak pernah Jihoon sangka.
Dipertengahan semester ada seorang murid baru pindahan dari Amerika dikelas Jinyoung. Jinyoung tidak peduli, tentu saja. Ia lebih baik memandangi lapangan dari jendela ketimbang mendengarkan celotehan Shim sonsaengnim dan si anak baru itu. Lee Daehwi nama si anak baru itu. Dan kebetulan sekali Daehwi mendapat bangku disamping meja Jinyoung dibelakang.
Daehwi kelewat ramah. Ia selalu bertanya entah itu penting atau tidak pada Jinyoung. Jinyoung risih, padahal ada banyak orang dikelasnya dan kenapa hanya ia yang ditanyakan selalu oleh Daehwi. Jika ditanya begitu Daehwi akan menjawab 'karena Jinyoung lah ketua kelas'. Ia akan meminta mengantar berkeliling sekolah karena ia belum begitu hafal tempat-tempat disekolah barunya yang cukup luas tersebut. Untunglah kekasih Jinyoung membolehkannya mengantar Daehwi untuk berkeliling.
Entah kenapa semakin hari Daehwi malah semakin dekat pada Jinyoung. Jinyoung pun perlahan menerima Daehwi sebagai temannya walaupun Daehwi sedikit berlebihan. Jihoon sudah tau siapa Daehwi, Jinyoung sendiri yang menjelaskannya pada sang kekasih.
Awalnya Jihoon percaya pada Daehwi karena Jihoon telah mengenal Daehwi untuk menjaga Jinyoung karena hampir sekitar sebulan Jihoon sibuk dengan urusan sekolah yang akan mengadakan acara pentas besar-besaran. Jihoon hampir melupakan Jinyoung sebagai kekasih karena kesibukannya. Apa ia salah melonggarkan sebentar hubungannya dengan Jinyoung? Ia tidak tau jika Daehwi akan masuk begitu saja pada hubungannya sampai ia sering melihatnya melakukan skinship yang tidak biasa. Bahkan ia pun jarang sekali melakukan itu pada kekasihnya sendiri.
Jihoon kesal tentu saja. Jinyoung akan memilih makan siang bersama Daehwi ketimbang dengan Jihoon. Jihoon hanya menerima dengan sabar dan tidak terlalu memusingkannya.
Namun dibulan ke 3 semenjak Daehwi dekat dengan Jinyoung Jihoon tidak tahan lagi. Daehwi yang selalu memanjakan Jinyoung menjadi lupa diri jika Jinyoung sudah memiliki kekasih. Jinyoung pun menjadi agak cuek dengan Jihoon. Berdebat bukanlah gaya Jihoon—terkecuali dengan Woojin. Jadilah ia menunggu jawaban saja dari sang kekasih yang tengah menggantungkannya. Mau bagaimana pun Jihoon masih menyayangi Jinyoung.
"aku tidak bisa melupakanmu, Baejin-ah." Gumam pemuda bertubuh mungil itu. Ia beringsut didalam selimutnya.
Pintu kamar mandi membuka dan Woojin keluar dari sana—sudah lengkap dengan setelan kaus merah berlengan putih dan celana jeans yang sobek dibagian lututnya. Meskipun rambut kemerahannya masih berantakan tapi Woojin terlihat tampan.
"kau kenapa?"
Jihoon menoleh. "kau mau kemana?"
Woojin mengusak rambutnya yang sedikit basah dengan handuk sembari bercermin.
"aku bertanya."
Jihoon menghela nafasnya. "aku bermimpi Jinyoung lagi." Wajah Jihoon kembali murung lagi.
"kau masih ingin bersamanya, Jihoon-ah."
"aku bertanya." Jihoon mengikuti gaya bicara Woojin sebelumnya. Lelaki bergingsul itu memutar matanya.
"lupakan. Aku ada janji dadakan dengan para Hyung. Dan berlatih dance sebentar mungkin."
Jihoon bangkit dari ranjangnya. "aku ikut!" pasalnya sudah hampir 4 hari ia mengurung diri dikamar dengan Woojin. Jenuh juga, sih. Ia butuh udara segar dan melupakan sejenak tentang hubungannya.
Woojin berkacak pinggang dan menatap malas kakak sepupunya itu. "aku tidak mau membawa manusia bantet sepertimu, belum mandi pula. Aku buru-buru—"
"aku akan cepat!" Jihoon melesat memasuki kamar mandi tak lupa membawa handuk pinknya.
"terserah lah. Aku tunggu dibawah lima menit jika tidak aku pergi." Woojin menyambar jacket jeansnya dan keluar dari kamar.
.
Sebuah ponsel hitam tipis berdering diatas nakas. Seketika seluruh isi kamar seorang pemuda bermarga Bae dipenuhi kebisingan nada dering ponselnya. Sebuah panggilan telepon masuk di ponselnya.
Jinyoung menyambar ponselnya dan menggeser tombol hijau diponselnya.
"yeoboseyo, hyung!" terdengar suara riang dari si penelpon.
"hng, kenapa?" balasnya singkat. Jinyoung duduk tepi ranjangnya. Keadaannya sudah rapi dengan kemeja kotak-kotak tidak dikancing dengan kaus putih over size sebagai dalamannya. Serta jeans biru melekat pada kakinya yang jenjang. Tak lupa tataan rambutnya yang membuat dirinya semakin tampan dan mempesona.
"apa hari ini ada acara? Aku sedang ingin makan bingsoo."
"sebentar lagi aku akan pergi ke studio. Daniel hyung meminta para hoobaenya berkumpul."
"Daniel hyung? Aku ikut boleh ya? Setelahnya kan kita bisa lanjut membeli bingsoo!"
Menolak ajakan Daehwi adalah hal yang sia-sia. Mau menolak sekeras apapun Daehwi akan ngotot dan memaksa. Jinyoung sudah hafal itu.
Setelah kejadian 'terciduk'nya Daehwi mendatangi rumah Jinyoung oleh Jihoon tidak ada perubahan dari Daehwi. Daehwi malah tidak merasa aneh ketika Jinyoung sering terdiam yang sebenarnya tengah memikirkan Jihoon. Entah Daehwi itu terlalu polos atau tidak peka. Yang jelas ia sudah melupakan kejadian sore hari ketika Jihoon meninggalkan rumah Jinyoung dengan tangisan.
"sepertinya akan lama, Daehwi-ya. Lain kali saja—"
"baiklah, aku menyusul!"
Pip-
Sambungan telepon Daehwi terputus secara sepihak. Jinyoung menghela nafasnya. Padahal ia belum menyelesaikan ucapannya tapi lelaki yang sudah ia anggap sebagai adiknya itu telah mematikan teleponnya.
Sebenarnya Jinyoung takut terjadi sesuatu jika Daehwi benar datang ke klub teman sebangsanya. Teman-teman yang juga satu sekolah dengannya itu sudah tau jika ia tengah renggang dengan kekasihnya. Akan menjadi bahasan panas jika Daehwi datang.
Jinyoung bangkit dari duduknya dan menarik tas ransel hitam kulitnya. Ia keluar dari kamarnya dan tidak lama ponselnya kembali didatangi penelpon.
"Jinyoung-ah, kau dimana?" tanya seseorang diseberang
"aku baru keluar rumah. Ada apa?"
"baiklah aku jemput kau dihalte, tunggu disana."
Sambungan telpon terputus sebelum Jinyoung menyetujuinya. Seungwoo—kakak tingkat Jinyoung, dua tahun diatasnya dan sekarang ini sudah lulus dari highschool. Seungwoo biasa membawa kendaraan pribadi jika akan berkumpul dengan para adik tingkatnya. Rumahnya yang searah dengan Jinyoung membuat ia sering mengajak Jinyoung untuk pergi bersama. Lumayan juga sih, Jinyoung jadi irit ongkos.
"ada apa dengan orang-orang. Mereka mematikan teleponnya sedangkan aku belum selesai bicara. Huh." Lelaki itu bermonolog. Ia mengunci pintu gerbang rumahnya kemudian menuju halte yang dijanjikan Seungwoo.
.
Jihoon berjalan ogah-ogahan padahal tempat tujuannya dengan Woojin hampir sampai. Dan Woojin sudah memasang wajah kesal karena saudaranya yang sangat menyebalkan. Ia pasti kena amuk para hyungnya.
Ponsel Woojin bergetar disaku celananya tanda panggilan masuk. Ia segera mengangkatnya.
"Ya, kau dimana?" Woojin sudah hafal apa yang akan ditanyakan seseorang ditelpon.
Woojin menghela nafasnya. "sebentar lagi aku sampai. Jika aku tidak bersama si bantet aku tidak akan telat datang. Tunggu lah sebentar, aku akan menyeretnya." Lelaki bergingsul itu melirik Jihoon dibelakangnya.
"siapa?" tanyanya dengan lesu.
Woojin mematikan sambungan teleponnya dan menarik lengan gemuk Jihoon. "gara-gara kau aku pasti kena marah, palli!"
"Ya, kakiku sakit! Pelan-pelan Woojin!"
"Barusan Jinyoung telpon, mereka sudah menunggu." Woojin menyeret Jihoon dengan langkah yang terhentak. Jika ia tidak sayang pada Jihoon, ia akan meninggalkannya sekarang. Tapi karena ketika turun dari bus kaki Jihoon terkilir dan tidak lama dari situ lelaki berpipi tembam itu hampir terjatuh ke kubangan air ditrotoar Woojin tidak tega meninggalkan sepupu kesayangannya itu. Jadi pagi ini Jihoon sudah dapat kesialan 2 kali.
Tunggu, Jinyoung?
"Jinyoung? Bae Jinyoung?!" jihoon menghentikan langkahnya membuat Woojin semakin kesal.
"apa masalahnya dengan Jinyoung? Dia juga anggota kami, kan." Woojin mendengus.
Iya bukan masalah dengan Woojin, tapi masalah dengan Jihoon. Ia sedang tidak ingin bertemu dengan Jinyoung. Ia masih ingin menghindari Jinyoung. Sudah 4 hari ia maupun Jinyoung tidak saling mengabari. Jihoon hanya ingin memberi Jinyoung waktu untuk berpikir tentang hubungan mereka.
"aku ingin pulang saja!" Jihoon menarik tangannya namun Woojin semakin menariknya. Jadilah mereka saling tarik-menarik lengan Jihoon dipinggir jalan. Jihoon merengek ingin pulang dan Woojin kesal ingin segera sampai.
"ayolah kita harus cepat, Jihoon. Setelah aku setor muka nanti kuantar kau pulang! Aku janji."
Jihoon melunak, ia mengangguk lemah dan pasrah ketika Woojin kembali menyeretnya agar segera sampai distudio atau klub tempat Woojin dan teman-temannya berkumpul.
Jantung Jihoon mulai berdegup kencang ketika sudah sampai diparkiran studio. Disana terparkir sebuah mobil civic putih yang terlihat mewah dan disampingnya 2 buah motor sport. Ah rasanya kaki Jihoon yang sedikit sakit menjadi lemas ketika pintu studio Woojin buka. Ia ingin kabur sekarang juga. Salah dirinya sendiri yang ngotot ingin ikut ke studio klub bersama Woojin. Ia tidak ingat jika kekasihnya juga satu golongan dengan Woojin.
Jihoon memejamkan matanya ketika ia dan Woojin memasuki studio. Beberapa lelaki berkumpul duduk melingkar disana. Mereka langsung menyambut Woojin dengan tatapan berbeda.
"Hyung, akhirnya kau datang juga."
"oh dengan siapa kau? Jihoon-ie?"
Perlahan Jihoon membuka matanya. Ia melihat sekumpulan lelaki didepannya. Ia menunduk menyembunyikan wajahnya. Ia juga melihat Jinyoung disamping lelaki bersurai hitam lembut.
Mati saja, Park Jihoon.
"maaf terlambat. Apa aku tertinggal jauh?" ujar Woojin yang bergabung dengan teman-temannya yang duduk dilantai studio. Otomatis Jihoon pun ikut duduk disamping sepupunya.
"tidak, kami baru akan mulai. Senang sekali ada Jihoon disini." Ucap lelaki bernama Jonghyun—ketua dan tertua disana. Tentu saja Jonghyun mengenal Jihoon karena Jihoon kadang kali ikut berkumpul seperti sekarang. Tidak heran sih kehadiran Jihoon ditengah-tengah para lelaki keren dan berbakat seperti ke 8 orang distudio ini. Terkadang Jihoon menemani Jinyoung ketika mereka masih baik-baik saja.
Jihoon mendongak dan meringis pada Jonghyun. Dan sekali lagi Jihoon melirik Jinyoung yang juga tengah menatapnya dalam.
"baiklah, hari ini aku mengumpulkan kalian karena ada hal penting yang akan aku bicarakan. Aku mendapat tawaran kontes dance akhir bulan ini. Kategori dancenya ada dance cover dan free style dance. Jadi, ada yang berminat menjadi kandidat?" ujar Jonghyun panjang lebar menjelaskan. Beberapa dari mereka termanggut seperti Samuel, Seungwoo dan Jinyoung.
"hyung, apa satu orang dapat mengikuti dua kategori sekaligus?"
"tidak bisa, satu orang hanya dapat memilih satu kategori. Kuharap dari kalian ada yang ikut. Ini prestasi dan jika kita memenangkannya, hadiahnya lumayan juga."
Para lelaki berbeda usia itu ber-oh ria.
Setelah hampir 1 jam berdiskusi, kedelapan pemuda itu—minus Jihoon—memastikan siapa yang akan mengikuti kontes tersebut. Dengan hasil kandidat dance cover: Jonghyun, Jinyoung, Seungwoo, Woojin, Sewoon, dan Youngmin. Sisanya free style dance: Samuel, Daniel dan Jihoon—yang masih diambang keraguan. Sebenarnya Jihoon bukan anggota mereka, tapi mereka akui dance popping Jihoon hampir setara dengan skill Seungwoo.
Knock knock!
Suara ketukan pintu studio membuat seluruh orang didalam studio menoleh kearah pintu. Tak lama kemudian pintu tersebut terbuka dan muncul seorang pemuda bersurai madu.
"annyeong, semua!" sapanya ceria.
Bagaikan petir disiang bolong, hati Jihoon berdenyut mengingat siapa orang tersebut. Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini.
Daehwi berjalan mendekati kumpulan pemuda tersebut dengan menengteng 2 buah kantung plastik berisi makanan ringan. Jika dilihat Jinyoung sekarang, wajahnya pucat pasi ketika melihat kedatangan Daehwi. Bagaimana tidak, kekasihnya juga hadir disini.
"hei bocah ini. Tau saja apa yang kita butuhkan." Ujar Seungwoo yang sudah fokus pada makanan yang dibawa Daehwi.
Jonghyun bangkit dari posisi duduknya. "baiklah kita break sebentar, nanti kita lanjutkan dengan latihan." Ia melangkah menjauhi menuju toilet disudut ruangan.
Jihoon kini hanya diam menundukkan kepalanya. Rasanya ia ingin enyah saja dari sini. Kali ini Jihoon mengambil keputusan yang salah. Sekalinya ia keluar rumah dan begini jadinya. Sedikit banyak ia menyesal.
"Jihoon-ie." Panggil suara baritone Bae Jinyoung.
Otomatis Jihoon mendongakan kepalanya.
"bisa kita bicara sebentar?"
Jihoon berpikir sejenak dan mengangguk ragu. Kemudian ia berdiri dan mengikuti Jinyoung yang keluar dari studio namun dari pintu yang berbeda dengan pintu utama. Tepatnya pintu keluar menuju halaman belakang studio. Mereka duduk disebuah bangku kayu panjang.
"sudah memutuskan jawabannya?" tanya yang lebih tua.
"aku... Aku tidak bisa."
.
.
.
Dua minggu sebelumnya
"woah, woah! Si pangeran Taiwan itu pindah kemari!"
"omo, dia benar-benar tampan."
"dia sangat seperti pangeran!"
Bisik-bisik beberapa siswi membuat Jihoon dan sahabatnya Hyungseob penasaran. Baru sampai disekolah sudah heboh begini.
Sebuah mobil hitam mewah terparkir didepan lobi sekolah dan seorang pemuda tinggi keluar dari mobil mewah itu. Wajahnya terlihat asing bagi Jihoon dan Hyungseob. Mungkin siswa pindahan.
"permisi, ada apa ini?" tanya Hyungseob pada seorang siswi berambut ikal.
"sunbae tidak tau? Guanlin pindahan dari Taiwan bersekolah disini." Jawab si siswi.
Hyungseob dan Jihoon saling menatap. Hyungseob mengangkat bahunya. "Guanlin siapa? memangnya dia anak pemilik sekolah ini." ujar Hyungseob asal.
"Benar sunbae, orang tuanya donatur terbesar untuk sekolah ini."
Hyungseob tercengang mendengar penuturan adik kelasnya itu. Padahal ia hanya asal bicara, kenapa ucapanya hampir benar.
Jihoon menyikut lengan Hyungseob. "jaga ucapanmu, bagaimana jika kau salah bicara." bisik Jihoon.
Dilihat dari penampilannya cukup terlihat berkelas. Guanlin si pangeran anak donatur terbesar untuk sekolah itu turun dari mobil hitam mewah, sepatu yang ia pakai terlihat mahal begitupun tas ransel yang ia sampirkan dipunggung tegapnya, tubuhnya yang tinggi, tampan dan ekspresi dingin sedingin es. Sungguh boyfriend-able ya?
"ey, dia terlihat angkuh, eh." Bisik Hyungseob pada Jihoon. Hyungseob malah ikut bergosip seperti siswi centil yang mengagumi ketampanan Guanlin.
"hanya perasaanmu saja, Seob. Dia hanya pendiam mungkin."
Hyungseob mendelik. "kau bahkan belum mengenalnya." Hyungseob tak sadar jika ia bersuara cukup keras. beberapa siswi yang mengerubuni mobil Guanlin melirik padanya termasuk Guanlin yang hendak melangkah memasuki gedung sekolah.
Jihoon menyubit lengan Hyungseob. "Seob, semua orang melihat kearah kita!" bisik Jihoon penuh penekanan. Jihoon merasa tatapan Guanlin sangat menusuk. Iya, Guanlin menatap Jihoon persis dimata.
Bibir Guanlin tertarik sedikit ke atas. Jihoon melihatnya seperti smirk bukan senyuman.
Ish ada apa dengan orang itu?!
.
.
.
.
tbc or no?
.
Ada Guanliiiiin hahahaha-
sorry for slow update, karena banyak tugas sekolah ide jadi suka mentok, hehe.
Review juseyooo
