Game On
.
Characters belong to Masashi Kishimoto.
.
This Is SasuHina Story!
Alternative Universe! Out Of Character! Unbetaed! Grammatical Errors! Typical Errors! Plot lambat!
You've been warned!
.
And please note that I already got you warned that anything can happen.
.
Inspired by an romance-action novel yang saya lupa judulnya T.T
.
.
.
"Panas sekali! Sial!" Sasuke berkomentar kecut saat menginjakkan langkah pertamanya keluar dari bandara Changi.
Pesawat yang mereka tumpangi mendarat tepat saat tengah hari hingga mau tidak mau mereka harus melawan terik matahari tropis yang tengah berada di singasana tertingginya. Hinata yang juga merasa belum menyesuaikan diri dengan iklim negara itupun merasa gerah, namun lain dengan Sasuke, ia lebih memilih diam.
"Dari semua orang yang ada di muka bumi, kenapa aku harus terjebak bersamamu?!" umpat Sasuke asal, panas yang ia rasakan agak memainkan kontrol emosinya.
"Percayalah, akupun tidak bersyukur bisa mengekorimu," balas Hinata seadanya. Rasanya cuaca Singapura membuatnya benar-benar malas barang untuk berbicara, terasa terlalu membuang tenaga.
Sasuke memutar bola mata kemudian langsung berjalan cepat ke tepi jalan berharap cepat menemukan taksi. Hinata lagi-lagi memilih untuk mengekor. Sinar matahari yang masuk sedikit menerpa gelang perak di pergelangan tangan Sasuke, membuat logam itu terlihat lebih berkilau.
Tanpa memelankan langkah, Sasuke beberapa kali mengipas-ngipasi lehernya sendiri yang sudah mulai berkeringat dengan tangannya. Lengan kaus putih yang sebenarnya sudah pendek itu ia singsingkan lebih tinggi ke bahunya hingga memperlihatkan otot lengan atasnya yang terbentuk sempurna.
Hinata berkedip beberapa kali, mengakui dalam hati bahwa pria di hadapannya memiliki figur yang begitu sempurna dan mempesona bahkan jika dilihat dari belakang.
..
...
..
"Keparat!"
Lagi-lagi Sasuke mengumpat ketika membuka pintu flat yang akan mereka tinggal selama dua minggu kedepan. Kejengkelan begitu jelas terdengar pada suaranya.
"Mereka memberikan kotak sepatu untuk tempat tinggal?! Selama dua bulan?!" Sasuke menyeret kopernya masuk untuk kemudian ia abaikan di tengah ruangan begitu saja. Pria itu kemudian bergegas ke arah jenleda dan membukanya lebar-lebar. "Aku tidak bisa bernapas di sini!"
Hinata hanya menggelengkan kepala pelan. Ia sudah terlalu terbiasa dengan Sasuke yang sepertinya hobi sekali mengkomplain apapun yang dilihatnya. Namun untuk kali ini sepertinya pria itu tidak berlebihan dengan komplainnya. Flat yang mereka tempati memang agak sempit dan panas.
"Setidaknya ini tidak seburuk apartemenmu," gumam Hinata.
"Jangan cari masalah!" Sasuke mendesis, memutar tubuhnya yang semula menghadap jendela. "Kita butuh sebuah kasur," tambah Sasuke yang cukup membuat Hinata terkejut karena pria itu tak memperpanjang perdebatan kali ini.
"Dua," Hinata mengoreksi sebelum berjalan ke bagian dapur. Tidak ada apapun di sana, bahkan meja makan, hanya westafel cuci, sebuah kompor dan kabinet-kabinet penyimpanan yang kosong. Hinata kembali ke ruang tengah kemudian mengedarkan pandangannya dan mendapati dua pintu lain di flat itu selain pintu masuk yang ia yakini merupakan pintu kamar tidur dan kamar mandi. "Sepertinya kita perlu membeli beberapa hal," ujar Hinata kepada Sasuke yang masih menyibukkan diri mengangin-angini dirinya sendiri di depan jendela.
Sasuke menengok ke arah Hinata dengan mata menyipit. "Kenapa kau mengatakan itu padaku? Memangnya aku terlihat seperti orang yang terbiasa berbelanja keperluan bulanan?" Sasuke mencibir.
"Karena ini bukan hanya untuk keperluanku," Hinata memutar bola mata. "Dan belum terlambat untukmu mencoba berperan seperti masyarakat umum, Senior Agen Thunder," Hinata menekankan panggilannya pada Sasuke.
"Kau mengataiku tidak umum?"
Hinata menghela napas mengingat betapa sensitifnya Sasuke, ia benar-benar harus cermat dalam memilih kata. "Aku lelah, kau lelah, jadi lebih baik kita selesaikan hari ini tanpa perdebatan, oke?" Kita harus cepat menyesuaikan diri di sini untuk bisa melancarkan misi kita, Sasuke," ujar Hinata. "Sekarang sebaiknya kita keluar berbelanja. Aku ingin cepat membersihkan diri lalu beristirahat."
"Kalau begitu mandi saja lalu tidur," uajr Sasuke angin-anginan.
"Aku tidak mau mandi tanpa sabun."
"Kenapa tidak? Apa masalahnya?" alis kanan Sasuke menukik saat bertanya.
Hinata sendiri tak tahu harus menjawab apa, ia menatap Sasuke heran. Sungguh, mungkin hanya Sasuke yang berpikir mandi tanpa sabun dan hidup seperti kecoa dengan makanan siap saji sepanjang umur adalah hal yang normal.
..
...
..
"Kenapa aku jadi membuntutimu seperti ini?" Sasuke mulai menyuarakan kejengkelannya lagi saat mereka berjalan menelusuri bagian alat-alat dapur.
"Tidak masalah jika kau mau jalan di depan sampi mendorong trolinya," jawab Hinata enteng.
"Lupakan saja," desisnya instan. Sasuke terus berjalan agak menunduk mengikuti Hinata, tudung jaketnya ia kenakan di kepala namun matanya tak pernah berhenti melempar tatapan tajam kepada setiap orang yang mereka lewati. "Bajingan," bisiknya pelan namun tajam terhadap orang-orang itu.
"Berbelanja kebutuhan harian tidak membuat manusia menjadi seorang bajingan, Sasuke," timpal Hinata yang mendengarnya. "Omong-omong, bisa tolong kau ambil beberapa botol air mineral dan beberapa hal yang tertulis di sini?" Hinata menyodorkan selembar memo yang bertuliskan beberapa keperluan mereka.
Sasuke langsung mengambil kertas yang disodorkan kepadanya kemudian meremasnya gemas tanpa pikir panjang. "Apa yang kau pikir sedang kau lakukan?" tanyanya tajam kepada Hinata.
Hinata menggigit lidahnya ringan, mencoba tidak menghela napas. Sepertinya ia kembali memilih kata yang salah untuk meminta bantuan pria itu.
"Kau mengantongi semua uang yang kuambil dari ATM kemudian sekarang kau memerintahku? Sudah hampir satu jam ini kau membuatku mengekorimu dan kau sama sekali tidak berniat mendengar apa yang aku katakan! Kau pikir aku tidak bisa membuat keputusan sendiri?!"
"Aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya mencoba mengatur pengeluaran kita selama di sini. Konan juga mengatakan untuk berhati-hati setiap bertransaksi agar kita tidak dicurigai," Hinata beralasan, berharap setinggi mungkin perdebatan mereka tak akan menimbulkan keributan yang mengundang perhatian.
"Oh... dan karena itu kau merasa dirimu cocok untuk berperan sebagai mentri keuangan negara. Kau pikir aku tidak bisa memilih barang yang paling murah?"
"Nah, itu dia... baru beberapa menit yang lalu kau mengambil satu set alat makan tanpa melihat label harganya, dan sekarang kau bilang akan mencari yang paling murah," Hinata tidak mengerti jalan pikiran pria di hadapannya itu, benar-benar tak tertebak. Sasuke terlihat seperti tak mempedulikan apapun, namun sering sekali pria itu meributkan hal kecil seperti ini. "Kau hanya tidak terbiasa dengan kegiatan seperti ini, Sasuke."
"Masalahnya ada padamu! Kau begitu rumit! Kau membuat semuanya menjadi sangat rumit!" balas Sasuke tak mau kalah. "Memang apa bedanya memilih yang ini atau yang itu."
Baiklah, Hinata sepertinya harus kembali ke aturan awal. Bahwa Senior Agen Thunder Yang Agung selalu benar. "Oke... jadi bagaimana? Kau mau memilih semuanya sendiri?"
"Tidak. Aku hanya..." Sasuke mendesis tajam, tangannya mulai mengepal kuat. "Keparat kau!" bukan melanjutkan kalimat awalnya, ia malah mengumpati Hinata kemudian berjalan menjauh dengan langkah lebar yang tergesa.
Hinata menghela napas panjang lagi. Lagi-lagi ia ditinggalkan sendirian oleh Sasuke, sama seperti pada misi-misi sebelumnya.
Hinata jengkel, pasti, sangat malah. Ia tak mengerti bagaimana bisa Sasuke menghancurkan hubungan dan interaksi mereka yang mulai membalik hanya dalam hitungan detik. Tapi Hinata berpikir lagi, mungkin ia juga melakukan kesalahan. Mungkin ia terlalu menganggap Sasuke sudah menerimanya.
Satu yang Hinata sadari kali ini. Hanya karena Sasuke mulai bersikap bebas dengannya, tidak berarti pria itu sudha mengizinkan Hinata masuk ke dalam zona nyamannya. Sasuke masih kokoh mempertahankan dinding yang menghalangi orang lain mengusiknya dan Hinata sendiri tak tahu cara untuk mengikis dinding itu.
Setelah merasa barang pokok yang mereka butuhkan untuk setidaknya seminggu ke depan sudah ia dapatkan. Hinata kembali ke flat mereka. Hinata belum sempat membeli tempat tidur, ia terlalu lelah apalagi dengan katung belanjaan bawaannya yang tak bisa dibilang sedikit.
"Hey..." Hinata menengokkan kepalanya ke sumber suara setelah menutup pintu flat dan mendapati Sasuke berdiri di ambang pintu kamar. "Aku... membeli kasur."
Hinata berkedip beberapa kali memandang pria itu heran. Bukan, bukan heran dengan apa yang dikatakan Sasuke. Yang mengherankan adalah bagaimana Sasuke mengatakannya. Pria itu agak terliat kikuk.
"Baguslah," jawab Hinata sekenanya, sejujurnya ia sangat bersyukur karena itu berarti ia tak perlu beristirahat di sofa.
Hinata meletakkan belanjaannya di ruang tengah kemudian memutuskan untuk menilik kamar tidur. Keningnya berkerut ringan setelah melihat keadaan kamar, ia kemudian memandang Sasuke yang masih setia di tempatnya, meminta penjelasan.
Sasuke hanya balas memandang, namun tak mengatakan apapun. Bibirnya terkatup rapat.
"Hanya satu?" tanya Hinata akhirnya, berharap kali ini Sasuke meresponnya.
"Baiklah... aku salah," aku Sasuke dengan helaan napas keras. "Aku lupa, oke!" tambahnya dengan nada yang memperingatkan Hinata untuk tak menyalahkan pria itu.
Hinata diam, pandangannya kemudian tertuju kepada sebuah queen sized bed yang sudah diposisikan di pojok ruang kamar tidur. Ia menghela napas lelah.
"Baiklah, baiklah. Aku akan tidur di sofa," ujar Sasuke cepat, mungkin menyadari arti helaan napas Hinata yang merupakan protes secara tak langsung.
Hinata agak terkejut mendengar respon dari Sasuke. Ia mengira akan tercipta argumentasi hebat lainnya dari Sasuke karena masalah tempat tidur ini. Tapi ternyata Sasuke mengalah dengan sangat mudah. Hinata bergerak masuk ke kamar dan berhendi di samping tempat tidur, pandangannya sedikit meneliti benda itu.
"Kasur yang bagus," ujarnya sekonyong-konyong.
"Well, bukan aku yang membuat kasur itu... aku hanya membelinya," balas Sasuke.
"Kau benar-benar tidak bisa menerima pujian, ya?"
Sasuke mengedikkan bahu sebelum melangkah menuju kamar mandi tanpa mengatakan apapun.
"Tunggu," satu kata itu cukup untuk membuat Sasuke berhenti dan menengok ke arah Hinata. "Ini," Hinata melemparkan botol sabun cair yang baru dibelinya.
"Aku bisa bertahan hidup tanpa sabun, kalau kau mau tahu," respon Sasuke asal.
"Tapi aku tidak yakin bisa bertahan hidup barang semalam jika seatap dengan seseorang yang mandi tanpa sabun," ujar Hinata enteng.
Lagi-lagi diluar perkiraan Hinata. Bukan membalas kalimatya, Sasuke malah menampakkan seringai dan menggelengkan kepala pelan sebelum kembali pada niatan awalnya menuju kamar mandi.
..
...
..
Tugas utama mereka adalah agar dapat masuk ke dalam pertemuan Akatsuki, tapi bagaimana caranya? Hinata menimbang-nimbang beberapa kemungkinan untuk mereka. Tewasnya Yugaku Hidan di Denmark membuat penjagaan pada kongres kali ini diperketat. Mereka tak bisa lagi menyamar sebagai salam satu donatur.
Baik Hinata maupun Sasuke difasilitasi beberapa sertifikat dengan nama palsu yang akan memudahkan mereka bekerja di beberapa perusahaan menengah. Ia tak mungkin asal memilih perusahaan, karena jelas, Akatsuki tak akan sembarangan untuk acara semacam ini. Ia dan Sasuke perlu masuk ke perusahaan yang cukup memiliki nama untuk mendapat peluang dalam misi kali ini.
Hinata menghabiskan beberapa hari selanjutnya untuk mencari informasi hingga akhirnya ia menemukan beberapa hal. Pertama, ia mengetahui di mana tepatnya kongres akan dilaksanakan. Dan kedua, perusahaan yang mengelola gedung kongres membuka lowongan untuk tim pengawas di bagian teknisi.
Beruntung Hinata juga menguasai teknik komputer. Ia mungkin bisa mencoba bekerja di sana. Jika ia bisa masuk, itu pasti akan memudahkan misi mereka.
Tepat saat Hinata baru akan mencari tahu lebih jauh tentang syarat utama yang dibutuhkan, pintu flat terbuka dan menampakkan sosok Sasuke. Pria itu terlihat lelah. Memang Sasuke keluar sejak mereka selesai sarapan, pria itu juga pasti mencari informasi sepertinya.
Hinata hanya melirik Sasuke tanpa menyapanya. Pria itu seperti bergerak dengan separuh nyawa sebelum kemudian menjatuhkan diri di sofa tepat di samping Hinata. Hinata mengakui bahwa iklim Singapura benar-benar belum bisa beradaptasi dengan tubuhnya yang terbiasa dengan angin subtropis, dan ia berpikir mungkin hal yang sama juga terjadi terhadap Sasuke.
"Aku menemukan beberapa hal tentang gedung yang akan digunakan untuk kongres," Hinata membuka percakapan. Mata Sasuke terpejam, namun ia tahu pria itu mendengarkan. "Mereka juga membuka lowongan untuk tim pengawas, mungkin aku akan mencobanya."
"Baguslah," gumam Sasuke pendek tanpa membuka mata. "Ah, sial! Aku lelah sekali! Hari ini panas sekali!" ia menambahkan gerutuan.
"Kurasa kita memang perlu kipas angin," timpal Hinata dengan nada tenang.
"Tentu, nanti akan kucari. Aku lelah tapi tidak mungkin bisa tidur dengan suasana neraka seperti ini," racaunya cepat.
"Memang hari ini kau melakukan apa saja,?"
"Oh," Sasuke baru membuka matanya namun tetap tak mengangkat sedikitpun tubuhnya dari sandaran sofa. "Aku mendapat pekerjaan. Baru hari ini dan rasanya ingin sekali menghancurkan wajah-wajah orang di sekitarku."
"Benarkah?" Hinata agak terkejut mendengarnya. Bukan terkejut tentang Sasuke yang berhasrat menghancurkan wajah orang asing, lebih karena pria itu dengan cepatnya memposisikan diri. Ia merasa agak tak menyangka Sasuke dapat bergerak secepat itu selain dalam urusan membunuh.
"Hn," gumamnya mengiyakan. "Sebagai salah satu pengawal putri seorang pengusaha yang ternyata pemilik gedung untuk kongres."
"Kau benar-benar... cepat," Hinata berkomentar seadanya karena sejujurnya ia agak kehilangan kata melihat cara kerja Sasuke yang ternyata seperti ninja. Gesit namun tak terdeteksi.
"Yeah... aku mendapat izin untuk masuk dalam kongres nanti. Tapi sekarang, aku harus menjadi babu anak itu," ujarnya dengan nada mengumpat.
"Berapa usianya?"
Sasuke mengedikkan bahu. "Dua puluh? Entahlah..."
Hinata mengangguk pelan. "Sebaiknya kau istirahat sekarang. Sore nanti kita bisa mencari makan atau mungkin juga kipas angin."
Sasuke menghembuskan napas panjang kemudian berdiri dari sofa. Dengn gerakan cepat dan tanpa perhitungan, pria itu melepas kaus yang dikenakannya, tepat di samping Hinata.
Hinata diam-dia menghela napas. Kenapa pria di sampingnya ini tak mengerti juga bagaimana tidakannya barusan berefek pada Hinata? Tentu mereka hanya sekedar partner kerja, namun Hinata juga seorang wanita yang pastinya akan salah tingkah jika menyaksikan pemandangan seorang pria yang cukup berkeringat bertelanjang dada di dekatnya.
"Apa yang sedang kau rencanakan?"
"Huh?" pertanyaan Sasuke tadi berhasil membuat Hinata ditarik keluar dari lamunannya. "Apa?"
"Tim pengawas?" tanya Sasuke yang ternyata terarah ke percakapan awal mereka tadi.
"Uh, ya..." jawab Hinata, masih mencoba mengumpulkan kesadarannya secara penuh. "Aku cukup memahami teknik komputer. Jadi mugkin aku bisa memegang posisi monitoring."
"Kalau ku ingat, kau tidak kuliah di bidang perkomputeran atau semacamnya," timpal Sasuke, menyiratkan pertanyaan dari mana Hinata memahami bidang itu.
"Aku banyak belajar dari..." Hinata berhenti sesaat, tenggorokannya tercekat menyadari nama yang baru saja akan ia ucap. "Seorang teman," lanjutnya, memutuskan untuk tak menyuarakan nama itu. Lagipula Sasuke tak perlu tahu bahwa Neji yang mengajarkannya. Tentu itu bukan informasi penting yang perlu Sasuke ketahui.
Sasuke berdiri memunggunginya, mengaduk-aduk koper miliknya sendiri entah mencari apa. Hinata memandangi punggung tegap itu lagi. Meski ini sudah yang kesekian kalinya, baru kali inilah Hinata menyadari beberapa torehan luka di permukaan kulit punggung pria itu. Kebanyakan sepertinya luka karena tembakan.
"Kau memiliki cukup banyak bekas luka," komentar Hinata tanpa sadar.
Sasuke berbalik menghadap Hinata dan mendapati wanita itu sudah berdiri dari sofa. Pandangannya seperti tertuju pada kaki wanita itu. Hinata berdeham pelan menyadari arah pandangan Sasuke, ia merasa agak canggung mengingat ia hanya mengenakan celana rumahan yang panjangnya tak jauh di atas lutut.
"Ya. Dan aku bertaruh tubuhmu itu... sempurna, tanpa cacat."
Hinata merasa wajahnya memanas mendengar ucapan Sasuke. Terdengar begitu ambigu di telinganya. Namun entah apa yang merasukinya, Hinata malah mengambil langkah mendekat kemudian mengulurkan tangannya untuk menyentuh ringan lengan Sasuke. Sasuke sendiri agak terkejut dengan sentuhan itu, namun ia tak melakukan apapun selain membiarkan Hinata.
Sasuke juga memiliki beberapa bekas luka di lengannya, namun terlihat tak separah bekas luka di punggungnya. Ibu jari Hinata mengusap satu bekas luka di lengan atas Sasuke dengan mata yang menatap lekat.
"Bagaimana mana kau mendapatkannya?" tanya Hinata sekonyong-konyong.
"Aku tidak menghitung berapa atau kapan peluru menembus kulitku saat aku berusaha kabur," Sasuke berusaha menjawab dengan tenang meski suaranya agak bergetar. Bahkan kepalannya mengeras seperti tengah menahan diri.
Hinata menarik kembali tangannya dari Sasuke, sedikit mundur dan menyadari pria itu agak tertunduk. Netranya kemudian meneliti tato yang terukir di sisi perut Sasuke.
"Apa tato itu memiliki arti khusus?" tanya Hinata lagi.
"Tidak," gumamnya. "Mereka tidak berarti apapun. Seperti diriku."
Hinata menghela napas pelan, ia menatap Sasuke dengan senyum sendu. "Aku juga tidak sesempurna yang kau pikirkan, Sasuke." ujaran Hinata membuat Sasuke menatapnya heran.
Hinata berjalan ke arah dapur meninggalkan Sasuke yang terlihat sedang berpikir. Ia kemudian mengulurkan tanganya ke arah kabinet atas untuk mengambil gelas, tak menyadari Sasuke sudah mengikutinya dan berdiri di ambang pintu dapur.
Hinata menuang air putih dan menghabiskannya dalam sekali teguk sebelum menyadari Sasuke menatapnya. "Mau minum?" tawar Hinata.
"Hn," gumamnya tak jelas yang diartikan Hinata sebagai jawaban ya. Membuat Hinata kembali berjinjit untuk menggapai gelas lain dari kabinet yang sama.
Sasuke menatap lekat sosok Hinata dalam diam. Wanita itu mengulurkan tangannya ke atas, membuat kaus ungu yang dikenakannya sedikit terangkat memperlihatkan kulit putih di baliknya. Oniks Sasuke menyipit beberapa saat pada celah yang tak sengaja tercipta kemudian ia berjalan mendekati Hinata setelah kain ungu muda itu kembali menutup kulit wanita itu.
Tangan Sasuke menghentikan tangan Hinata yang baru akan meraih teko kaca di dekatnya. Hinata yang terkejut reflek agak menarik diri. Sasuke tak melepaskannya, malah membuatnya menghadap tepat ke arah pria itu. Hinata menatap pria bersurai kelam di hadapannya dengan mata melebar.
Kemudian, tanpa aba-aba, tangan Sasuke terjulur ke ujung kaus yang dikenakan Hinata dan sedikit menyingkapnya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Hinata, berusaha menjauhkan tangan Sasuke namun pria itu menahan kedua tangannya agar tak menganggu apa yang tengah ia lakukan.
Hinata kemudian menyadari tatapan pria itu terarah pada perutnya yang tersingkap. Terarah pada bekas luka horizontal yang ia miliki di perutnya lebih tepatnya. Oniks hitam itu terlihat berkilat.
Kening Sasuke berkerut, air mukanya membersut. Ia masih menatap bekas luka itu. Jelas sekali Sasuke tahu luka jenis seperti itu merupakan luka yang dibuat secara sengaja.
"Siapa?" desis Sasuke rendah.
Hinata berkedip, bibirnya terbuka dan tertutup beberapa kali sebelum akhirnya ia bersuara. "Neji."
Pandangan Sasuke sontak naik ke ametis Hinata, menatap wanita itu tak percaya. "Kukira dia—"
"Aku tak ingin membicarakannya," Hinata menyela ucapan Sasuke.
Oniks Sasuke kembali mamandang bekas luka itu. "Kelihatannya... menyakitkan," gumamnya rendah kemudian menarik tangannya kembali, membuat kain ungu muda yang Hinata kenakan jatuh menutupi permukaan kulit wanita itu lagi.
Hinata hanya diam menatap mata kelam di hadapannya dengan tatapan menerawang. Sasuke sendiri tak mengucapkan apapun lagi. Yang ia tahu tangan kirinya sudah memposisikan diri di pinggung wanita itu. Sesaat kemudian tangan kanannya yang agak bergetar terangkat, menangkup sebagian wajah putih Hinata.
"Tanganku gemetar," ujar Sasuke rendah, bukan menatap Hinata, maniknya malah menatap tangan kanannya yang bereaksi diluar kebiasaannya. "Kau tahu apa yang akan terjadi jika tanganku bergetar saat aku memegang senjata?" bisiknya sambil memotong jarak wajah mereka. "Aku mungkin akan berakhir dengan melukai diriku sendiri."
Hembusan napas hangat Sasuke yang menyapu kulitnya membuat Hinata memejamkan mata erat, sebusa mungkin menetralkan napasnya yang seakan tersendat. Dengan gerakan seringan kapas, Sasuke menyentuhkan bibirnya pada bibir tipis wanita di hadapannya itu. Sangat ringan tapi berefek luar biasa kuat untuk keduanya.
Hinata tak menarik diri, tak mendorong Sasuke, tak juga membalas perlakuan lelaki itu. Ia seakan kehilangan nyawanya, tak bisa memaksakan diri untuk melakukan apapun bahkan ketika ia menyadari Sasuke agak lebih menekan ciumannya pada bibir bawah Hinata.
"Sasuke..." Hinata membisik pelan namun seperti lebih dari cukup untuk menyadarkan pemuda itu. Sasuke segera melepaskan bibirnya dan tersentak mundur selangkah.
"Brengsek!" Sasuke mengumpat lebih kepada dirinya sendiri, tangannya mengusap wajah keras-keras. "Sial!" diaturnya irama napas yang tak beraturan kemudian melirik Hinata. "Aku... akan mencari kipas angin," ujarnya konyol sebelum keluar dari dapur. Dengan cepat ia mengambil kaus yang semula tergeletak di sofa dan memakainya kemudian bergegas keluar flat.
Sasuke menghembuskan napas frustasi. Dia, Uchiha Sasuke, agen pembunuh kelas kakap, berjalan tersandung-sandung hanya karena mendapatkan ciuman pertamanya.
Hinata sendiri masih berdiri terdiam di dapur. Masih berusaha memproses apa yang barusan terjadi dengan tubuh dan pikiran yang seolah lumpuh.
..
...
..
"Hai."
"Selamat pagi. Ada yang bisa kubantu?" seorang resepsionis bertanya dengan senyum ringan yang kemudian Hinata balas dengan senyum yang sama.
"Aku ingin menanyakan soal perekrutan tim pengawas di sini."
"Oh, tunggu sebentar," resepsionis itu membuka satu laci dan mengambil beberapa lembar berkas lalu menelitinya sejenak. "Bagian apa yang Anda cari?" tanyanya.
"Monitoring," jawab Hinata.
Resepsionis itu mengangguk kemudian memberikan salah satu lebar-lembar berkas itu kepada Hinata. "Akan ada interview minggu depan. Semua yang Anda butuhkan tertulis di sini."
"Terima kasih banyak," Hinata melayangkan senyum kecil sebelum keluar dari gedung.
Hari itu tak sepanas hari-hari sebelumnya. Entah karena tubuhnya yang sudah cukup beradaptasi, atau mungkin karena hujan cukup lebat yang datang semalam.
Bicara soal semalam, Hinata mempertanyakan kemana saja kira-kira Sasuke semalaman. Ia sama sekali tak melihat pria itu pulang, namun ia sempat melihat Sasuke saat pagi hari ketika pria itu hendak pergi lagi untuk bekerja.
Mereka benar-benar belum saling melempar sapaan sejak malam di mana Sasuke menciumnya. Terhitung sudah dua hari dan Hinata benar-benar berharap Sasuke berhenti mencoba melarikan diri. Mereka berciuman, memang, lalu apa yang pria itu pusingkan?
Yang Hinata sadari selanjutnya adalah ia selalu memikirkan Sasuke setelah malam itu. Dan itu benar-benar menganggunya. Akan lebih mudah untuknya jika Sasuke berhenti bersembunyi dan kembali bertatap muka dengannya seperti biasa.
Hinata membuka pintu flat dan mendapati tempat itu masih kosong. Dengan hembusan napas panjang, Hinata membawa dan mendudukkan dirinya di sofa. Dirogohnya tas selempang yang ia bawa untuk mengambil kartu SIM yang baru ia beli. Tentu saja untuk keperluan melamar pekerjaannya di sini, ia butuh nomor ponsel baru untuk sementara waktu.
Di tengah keheningan, ia mengingat percakapan terakhir dirinya dengan Sasuke. Hinata saat itu menanyakan apakah Sasuke ingin bertukar tempat tidur mengingat sudah dua malam pria itu mengalah dan tidur di sofa. Sasuke tak menjawab secara verbal, pria itu langsung berjalan menuju kamar dan merobohkan di atas kasur kemudian terlelap.
Selesai dengan urusan ponselnya, Hinata kembali terdiam, tak tahu harus melakukan apa. Pandangan ametisnya mengedar ke seluruh sudut ruangan tanpa tahu target yang akan dipandang. Desahan panjang kemudian kembali terdengar di tengah keheningan. Hinata memutuskan untuk beristirahat, ia rebahkan dirinya di sofa dengan mata terpejam yang akhirnya mengantarnya ke alam mimpi.
Entah berapa lama ia tertidur, yang pasti Hinata terbangun dengan cara yang sangat tidak elit. Debaman pintu terbuka membuatnya agak terlonjak. Hinata mengedip-ngedipkan matanya, memfokuskan pandangannya dan melihat Sasuke masuk. Ia kemudian menoleh ke arah jam di meja kecil di sudut ruangan. Pukul tujuh malam.
"Sasuke," panggil Hinata sambil berdiri dari sofa.
"Aku tidak ingin membicarakannya," jawab Sasuke cepat, seakan tahu apa yang akan keluar dari mulut Hinata. Ia menarik dasi yang melilit kerah kemejanya dengan tak sabaran dan melepas dua kancing teratas kemejanya.
"Baiklah, kita tidak perlu membicarakannya," tentu Hinata tahu apa yang Sasuke maksud. "Hanya saja... berhenti mengabaikanku," lanjutnya.
Sasuke berhenti kemudian menatap tajam ke arah Hinata yang juga balas menatapnya.
Hinata merasa mereka perlu berbaikan dan berteman, benar-benar berteman. Ia ingin Sasuke memperlakukannya seperti biasa, tak seperti sekarang. Saat ini Hinata terlalu dibuat bingung oleh sikap pria itu. Memang kelihatannya mereka seperti kucing dan anjing yang tak pernah bisa sepakat, namun Hinata merasa Sasuke tanpa sadar memperlakukannya lebih dari itu.
Katakanlah Hinata terlalu percaya diri, tapi itulah yang dirasakannya. Dan itulah kenapa ia bersikeras untuk membuat Sasuke berteman dengannya. Agar pria itu berhenti melakukan sesuatu yang mempengaruhi perasaannya. Agar Hinata bisa menghindari perasaan yang nantinya malah tak bisa ia kendalikan.
Kenapa? Karena bagaimanapun Hinata merasa ia tak siap untuk merasakan hal itu lagi. Hinata merasa tak siap untuk memberikan kepercayaannya lagi.
Ia tahu Sasuke merupakan tipikal pria yang jujur dengan perasaannya. Masalahnya adalah Sasuke tak mengerti dan tak menyadari arti dari apa yang dirasakannya itu. Dan akan lebih baik jika Hinata bisa menyudahi semuanya bahkan sebelum pria itu menyadarinya.
Kedua iris yang kontras itu masih saling terhubung. Hinata melihat bibir Sasuke sedikit terbuka seperti ingin menyuarakan sesuatu. Beberapa saat hingga pria itu akhirnya menghapus keraguannya, ia menarik napas dalam kemudian berbicara.
"Setelah mandi aku ingin keluar, mencari makan malam," ujar pria itu rendah. "Kau mau..." Sasuke tak menuntaskan kalimatnya, ia yakin wanita di hadapannya itu mengerti.
Hinata mengangguk sebagai respon nonverbal.
"Baiklah," Sasuke ikut mengangguk kemudian masuk ke kamar mandi.
Hinata menatap pintu kamar mandi yang tertutup beberapa saat sebelum kembali menjatuhkan bokongnya di atas sofa. Ia menggeleng, tak pernah mengerti sikap Sasuke. Lagi-lagi suasana hati pria itu berubah drastis dalam waktu singkat. Menit pertama ia seperti menghindari Hinata seperti menghindari penyakit, kemudian ia mengajak Hinata keluar bersamanya.
Entahlah, yang pasti Hinata berharap semuanya akan menjadi lebih baik.
.
to be continued...
..
.
Percakapan yang di italic itu cuma sekedar negasih kalo itu dialog bahasa asing. Menyesuaikan mengingat mereka si Singapura sekarang hhehe...
Btw ngga kerasa udah chap 7, tapi mereka belom ngapa-ngapain waaksss :v
Keep reading keep reviewing guyss... see ya in next chap...
Toodless :3
