Main Cast : Chanyeol (25 years old ) X Baekhyun (9 years old)

Other Cast : Kejutan...temukan di dalam nyaa :)

Disclaimer : fic ini pure milik Gloomy Rosemarry aka Cupid KM

.

.

.

Previous Chapter

"Angh…"

Kedua tangan mungilnya menggapai ke atas, mencari-cari sesuatu yang bisa diremasnya.

Tengkuk Chanyeol menjadi satu-satunya pegangan paling nyaman, Baekhyun meremasnya bahkan menarik surai hitam Raja Silla itu, sebagai reflek lampiasan rasa nikmat yang berbeda.

"Uhmp~ A-Ahjjusii"


*Warning! Fic ini berate M, Mengandung konten dewasa, mohon untuk dikondisikan :)

Chapter 4

Love Of Fallen Leaves

.

Derik serangga malam semakin nyaring terdengar, mengiringi malam yang kian berangsur pekat di atas sana. Nyala api, tak pernah surut berpijar di setiap sudut istana. Menjadi pemandu, bagi siapapun yang memang terjaga.

Tak ubahnya dengan seorang pria, di balik tirai berlapis sutera itu. Ia masih terjaga dan terlihat menawan, meski di bawah temaram cahaya lilin sekalipun.

Tak ada satupun yang menduga, apa yang tengah dilakukannya detik ini. Pembawaanya yang begitu agung, mampu mengecoh siapapun yang melihatnya. Tanpa melihat sisi lain dari dirinya.

Ya...dan di sinilah dirinya. Mencumbu seorang bocah mungil, yang masih memiliki pemikiran begitu dangkal.

Ia menikmatinya, Dan dan tak dipungkirinya...menyentuh bocah itu. Membuat sesuatu dalam drinya berdesir hebat. tanpa peduli, apa yang dilakukannya adalah sesuatu yang terlarang bagi seorang Raja sepertinya.

"Angh~..ahh" Sosok kecil itu mulai melenguh, reflek meraba-raba bantal di bawahnya mencari pegangan begitu lidah pria itu berusaha menerobos semakin dalam hingga menyentuh telaknya.

Chanyeol menyeringai di sela pagutannya, menyadari tubuh mungil itu bergetar di bawah kungkungannya. Membujuknya merencanakan pergerakan yang lain setelah ini.

"~Jushi...mpfth...ahjus—mph" Mata Baekhyun membuka dan memejam, begitu pria itu menyedot kuat belahan bibirnya bergantian. Ia tak tau apa-apa kala itu, yang Baekhyun tau...Ahjjusinya sangat pandai bermain dengan bibirnya. hingga membuat...jutaan kupu-kupu kecil seperti bertebaran di dalam perutnya.

"Buka bibirmu lebih lebar sayang" Bisik Chanyeol masih dengan mengecupi mesra dagu mungil yang telah penuh dengan lelehan saliva keduanya.

Bocah mungil itu mengerjap, meski terengah...namun Ia terlihat begitu patuh membuka bibir mungilnya. Membuat Pria kekar itu menyergapnya cepat...membekap penuh bibir kecilnya, bahkan menghisapnya kuat-kuat, hingga lidah dan saliva Baekhyun terhisap masuk ke dalam mulutnya.

"Ugh—hngg~" Baekhyun terbelalak merasakan sensasi lain dalam mulut Chanyeol. Kedua tangan kecilnyapun semakin aktif mencakar-cakar bantalnya sendiri, sebelum akhirnya tangan besar Chanyeol menggenggam dan membuatnya saling bertaut pas.

Persetan! jika apa yang dilakukannya kini gila...

mencumbu seorang bocah di bawah umur, dan laki-laki pula.

ia tertarik, dan libidonya meningkat ratusan kali lipat dengan menyentuh bocah itu seperti ini.

Jauh berbeda, saat melihat Seulgi telanjang bulat di hadapannya. Ah! Chanyeol ingat betul...malam pertamanya berakhir naas, Ia menahan mual yang hebat melihat wanita itu melucuti pakaiannya sendiri satu persatu, lalu muntah begitu saja...saat Seulgi berusaha menyentuhnya dengan dua gundukkan di dadanya.

Sial! Ia benar-benar muak mengingat malam mengerikan itu. Bahkan tiap kali melihat permaisurinya itu, hanya trauma yang tersisa. Hingga membuatnya...enggan bahkan tak sudi hidup dalam atap yang sama. Satu yang Raja Sila itu ketahui dari dirinya,Ia tak akan terangsang dengan wanita.

Seulgi tak lebih dari simbol untuknya, suka atau tak suka...Wanita itu harus tau, ia tak bisa menerimanya. Dan jikapun ingin meninggalkan istana ini...sejak jauh hari, di awal pernikahan keduanya. Chanyeol telah mempersilakannya tanpa kekangan apapun. Karna sejatinya, pernikahan itu hanya ikatan politik semata, demi menjadikannya Seorang Raja. Dan Seulgi...mendapat kejayaan dalam pihaknya.

"Kau pintar Baekhyun" Bisik Chanyeol sambil menggigiti daun telinga Baekhyun.

"Nnh~ Ohh...mmh" Baekhyun menggeliat, semakin memiringkan kepalanya...seakan merengek pada pria itu untuk mencumbu lebih daun telinganya.

Jemari panjangnya tak lagi menggenggam tangan Baekhyun, melainkan kini telah bersarang di dalam pakaian menyerupai kimono itu...lalu membelai lembut perut hangat Baekhyun.

membuat bocah mungil itu makin menggeliat keenakan, disentuh atas dan bawah seperti itu. "Eumhh...e—nak ahjjusi mmh" Cicitnya lirih, seraya menarik-narik pakaian Chanyeol tak peduli...jika panas tubuhya makin meningkat dan kepala berdenyut pening.

"Kemarilah, naik ke tubuhku" Chanyeol berbaring di sisi Baekhyun, lalu menarik tangan kecil nan lemah itu. Membujuknya untuk bergeser posisi, menaiki tubuhnya.

Baekhyun bangkit, namun—

"Hks.." ia terlihat terisak, begitu pening dikepalanya semakin menjadi. Akan tetapi...mendengar Chanyeol bicara demikian, membuatnya pantang untuk mengelak. Baekhyun tetap memaksa merangkak naik dan menduduki perut pria perkasa itu. Kedua tangannya terlihat bergetar saat bertumpu pada dada Chanyeol, menunjukkan tubuhnya memang dalam keadaan tidak baik-baik saja.

Chanyeol menyeringai, tangannya bergerak menyentuh paha mulus di kedua sisi pinggulnya itu, lalu merabanya ke atas...hingga kimono Baekhyun mulai tersingkap.

"Mhh~ah" Baekhyun kembali mendesah, namun kedua mata sipit itu tetap menatap pias ke arah Chanyeol.

Seringaian itupun makin terulas tajam di sudut bibirnya, demi apapun itu...Baekhyun benar-benar terlihat menggoda jika dilihat dari sisi seperti ini. Ia beralih menyentuh tengkuk Baekhyun, memaksa bocah mungil itu merunduk mendekatkan wajahnya.

"Cium aku Baekhyun" Ucap Chanyeol kemudian.

Baekhyun mengernyit. "Cium Ahjjusi?"

"Seperti yang kulakukan pada bibirmu" Jelasnya...sambil mengelus wajah memerah karena demam itu.

Baekhyun mengangguk polos, Ia sedikit beringsut ke atas dada Chanyeol, lalu—

'Chup'

Satu kecupan lugu, mendarat cepat di bibir tebalnya. Chanyeol terkekeh pelan...ah apa yang sebenarnya ada dalam pikirannya kali ini, hingga mengerjai bocah semurni itu. sejatinya, Baekhyun adalah tawanannya...putra dari musuh yang seharusnya Ia asingkan.

Akan tetapi pembawaan bocah mungil itu, mampu membuainya hingga bertingkah segila ini. tak salah...jika para dayang menyebut Baekhyun tawanan spesial untuk Raja Sila itu.

Chanyeol beralih menangkup wajah bulat itu, merasa tak puas dengan hanya satu kecupan saja.

Menarik wajah Baekhyun mendekat, lalu melumat bringas bibir mungilnya...hingga membuat belahan ranum itu terlihat membengkak akibat perbuatannya.

"Hmmh...mhhah..ahjuss~mpfth"

..

Chanyeol mengernyit heran, begitu menyadari kepala Baekhyun terasa begitu berat menekan wajahnya. ia putuskan untuk menyudahi pagutan bibir itu, dan begitu melepasnya—

"nnh~"

Bocah mungil itu lunglai kesamping dan bersandar nyaman di ceruk lehernya.

"Kau tidur Baekhyun?" panggil Chanyeol seraya mengelus punggung sempit bocah yang tertidur tengkurap di atas tubuhnya itu.

Sang Raja Silla menghela nafas pelan, satu kepentingan masih terabaikan di bawah sana. Ah sial! miliknya masih menegang keras. sementara bocah kecil itu sudah tertidur seperti ini.

Tunggu!

Chanyeol seakan menampar telak pemikirannya.

Pikiran macam apa yang baru saja terlintas? tidakkah ia baru saja berharap ingin merasakan tubuh Baekhyun?

Chanyeol bergegas, mengangkat tubuh Baekhyun dengan pelan lalu membaringkannya senyaman mungkin di ranjangnya. sejenak...pria itu menatap lekat bibir tipis yang minta dikecup itu. Tapi lagi-lagi Chanyeol hanya menghela nafas berat, lalu menyeka sisa saliva di bibir Baekhyun dengan ibu jarinya.

"Berada di dekatmu, cukup membuatku gila" Gumamnya seraya bangkit mendudukkan tubuhnya dan memandang penuh iba pada miliknya yang masih berkedut di bawah sana.

Chanyeol beralih melangkah menuju pemandian, di sisi paviliun itu. Tempat yang cukup rahasia untuk seorang Raja menghabiskan waktu mandinya.

tapi Raja Silla itu tidak melewatkan waktunya untuk mandi...

melainkan melakukan ritual lain demi, memanjakan miliknya yang menegang sempurna karena Baekhyun.

"Ssshh~ Ahh" Desisnya, masih dengan mengocok genital besar itu naik turun...fantasinya kian melambung, merangsang lebih hebat lagi semua birahi itu kala membayangkan wajah Baekhyun yang mendesah nikmat di bawahnya.

"Baek~ahh" Gerakan tangan itu makin tak terkendali, meremas dan mengurut tanpa jeda. Wajah Baekhyun menjadi perangsang tersendiri untuknya. hingga—

"AH!"

Tubuh kekar itu menengang, begitu semburan sperma hangat menyeruak keluar dan sebagian menetes ke dalam kolam pemandian.

Chanyeol terengah, lalu terkekeh hambar..

Dirinya yang sudah tak waras lagi atau apa?

Hingga Ia terangsang seperti ini hanya karena bocah bernama Baekhyun itu.

.

.

.

"Dia sudah tertidur, nyalakan lilin aroma dan pastikan anak itu tidak terjaga malam ini" Ujar Chanyeol pada beberapa dayang dan pelayan di luar pintu paviliun.

"Baik Yang Mulia Raja" sahut para dayang dan pelayan itu, lalu begitu Chanyeol mengambil langkah pergi...mereka menghambur cepat ke dalam, mematik lilin dan menggerai semua tirai hingga dipastikan suhu ruangan menjadi semakin nyaman untuk Baekhyun.

.

.

.


"Biarkan aku masuk!" suara seorang Yeojja terdengar melengking tak suka, begitu seorang pengawal terlihat menghadang langkahnya.

"Maaf Yang Mulia Ratu, hamba diperintahkan menjaga pintu ini dan melarang siapapun masuk selama Raja pergi, tak terkecuali Yang Mulia Ratu" Tukas pria itu seraya menunduk penuh hormat.

"Apa kau bilang? Jadi Suamiku tak ada di dalam kamarnya? Kemana Dia?" Sentak Seulgi, makin kesal setelah mendengar Chanyeol pergi semalam ini, pemikiran akan Raja memiliki wanita lain di luar sana pun semakin menggila memenuhi benaknya.

"Sesuatu yang mendesak, telah memanggil Yang Mulia Raja meninggalkan tempat ini"

"Cih! Mendesak apanya? Apa seorang gisaeng menggodanya—

"Kurasa, aku tak mengundangmu untuk perjamuan makan malam"

Seorang pria, tiba tiba muncul dan melangkah tenang...mendekati Ratu yang masih mendelik tak suka itu.

"Diundang atau tidak, aku bebas melangkah kemanapun di tempat ini, karena aku Ratu dan aku istrimu!"

Chanyeol terkekeh sinis, Ia melirik pada sang pengawal dan seolah mengerti...Pengawal itu memohon diri untuk pamit, meninggalkan Raja dan Ratu itu dalam perbincangan yang dianggap penting.

"Aku harus kembali menjelaskan hal penting di sini" Ujarnya dengan mata menghunus tajam. "Seulgi~ah...bukankah sudah ku katakan, aku tak bisa menerimamu...terlebih mencintaimu. Dan kata istri—" Chanyeol menggantungkan kalimatnya seraya menyingkirkan petal sakura di puncak kepala Seulgi.

"Kau lebih berhak menjadi Istri pria lain, dibandingkan dengan Pria sepertiku" Lanjutnya seraya melenggang santai ke dalam kamarnya, dan menutup rapat-rapat pintu itu.

Menyisakan seorang wanita dengan tangan terkepal kuat di kedua sisi tubuhnya, dan jangan lupakan mata memerah menahan semua amarah itu.

"Kupastikan kau akan bertekuk lutut padaku..Park Chanyeol!"

.

.

.

.


Esoknya

Pagi itu, dayang dan para pelayan begitu tergesa namun tak sembarang untuk melangkah. Mereka tengah disibukkan dengan perjamuan makan pagi, semua tentu beralasan begitu Ibu suri yang memberi titah akan santap pagi di istana utama. Seperti biasa,hanya jamuan antar keluarga saja.

Tak terlalu resmi, tapi juga tak bisa dibilang sederhana...karna begitu banyak jenis santapan mewah yang tersaji di atas meja berbentuk persegi panjang itu.

Tapi rasanya, ada yang berbeda di perjamuan kali ini, begitu sesosok bocah mungil terlihat mengikuti Raja Sila memasuki ruangan megah bertapis logam mulia itu.

ya...bocah yang telah sembuh dari demamnya itu-Baekhyun- tak pernah melepaskan genggaman tangannya di ujung pakaian Chanyeol, mengekor kemanapun raja Silla itu melangkah. Dan Chanyeol hanya membiarkannya, ia tak keberatan Baekhyun melekat padanya seperti ini...tak peduli pakaian agungnya mungkin bisa saja kusut akibat remasan tangan Baekhyun.

"Duduk di sini" Ujar Chanyeol seraya membimbing bocah manis itu untuk duduk di sebuah kursi, tapi Baekhyun mengerucutkan bibir, terlihat mengelak.

"Tidak mau Ahjjusi, Baekhyun duduk di dekat Ahjuss—

"Sssh..." Sergah Chanyeol seraya menatap tegas bocah mungil itu. Kali ini Ia berharap, Baekhyun menjaga sikapnya di hadapan Ibu Suri.

Entahlah, apa motif Raja Silla itu membiarkan Baekhyun ikut dalam perjamuan makan pagi itu, Baekhyun hanyalah anak asing. Bukan tidak mungkin, Ibu Suri akan murka jika melihat Baekhyun nantinya.

tapi...Ia merasa memang harus membawa serta anak itu.

.

Baekhyun menghela nafas lesu, dan berjalan malas...duduk di meja kedua dari posisi Chanyeol.

Tapi paras murungnya berangsur cerah, begitu Baekhyun melihat butir buah anggur terlihat menjuntai. Menarik perhatian bocah itu

Baekhyun memetik lima buah anggur itu..lalu menggulirkannya di atas meja...hingga beradu, layaknya tengah bermain gundu.

"Baekhyun...itu makanan, tidak untuk dimainkan" Suara Chanyeol di ujung meja, membuat Baekhyun kembali mempoutkan bibir kecilnya. Ia meraup semua buah anggur itu lalu melemparnya asal ke arah dayang yang sedang menyiapkan teh bunga krisan di sebrangnya.

"Ah! Aww!" Pekik dayang itu kelabakan, nyaris menumpahkan teh itu. Bahkan beberapa anggur yang dilempar Baekhyun, masuk ke dalam cangkir yang seharusnya disajikan untuk Ratu Seulgi.

"Baekhyun"

"Ugh! Arraseo!" Sahut Baekhyun kesal, seraya melipat tangan di atas meja lalu menyembunyikan wajahnya.

Chanyeol menopang dagu, dan menatap Baekhyun dengan senyum tersimpul, sejujurnya ia tak pernah merasa terhibur seperti ini sebelumnya, melihat wajah menggemaskan dan penuh jenaka itu...seakan membuat angin semi berhembus tenang di sebagian pribadinya yang keras dan terkenal angkuh itu.

Hingga tiba-tiba saja, senyum menawan itu pudar begitu seorang wanita terlihat berjalan anggun mendekati meja perjamuan itu.

Seulgi tersenyum manis, begitu matanya menangkap siluet Chanyeol telah menempati meja agungnya. Namun...detik itu pula Ia mengernyit dan menatap Chanyeol penuh tuntutan, begitu meilhat bocah asing itu turut duduk di meja yang sama.

"Mengapa anak ini di sini?" Tanyanya tak suka.

Chanyeol hanya meliriknya sekilas, lalu membuang muka ke arah yang lain. "Seperti ini kah sikap seorang Ratu, datang setelah Raja menempati mejanya. Hn...mengesankan sekali" Ada nada sindiran dalam kalimat itu,

membuat Seulgi menarik nafas dan berdengus tak enak hati namun juga kesal.

"Paviliunku cukup jauh dari istana, aku terlambat karna Raja sendiri yang membuatnya" Balas Seulgi penuh dengan sindirian.

Chanyeol melempar smirk. "Lebih baik dibandingkan memberimu rumah pohon di belakang istana" Lirihnya entah di dengar atau tidak.

"Pheya...kau belum menjawabnya, mengapa anak ini di sini, dia tak seharusnya—

"Wiiiiii"Baekhyun tiba-tiba merangkak memanjat meja...lalu menunjuk-nunjuk antusias sebuah gumpalan hitam legam di dada Seulgi.

tak pelak, Ratu Silla itupun dibuat naik pitam melihat sikap lancang itu.

"A-apa? Apa yang ingin kau lakukan hah?"

KRRIII...KRRI

Seulgi mengerjap bingung mendengar suara asing menyerupai serangga itu.

"Kau suka bermain dengan serangga?" Tanya Baekhyun seraya menekan-nekan kepala serangga itu.

Sontak, Seulgi melihat kebawah tepat di dadanya...dan menatap horor begitu menyadari seekor serangga besar dan hitam bertengger di dadanya.

"YYYAAAIIKKHHH!" Jeritnya histeris seraya menghentak-hentak kaki jijik. kedua tangannya tampak terkibas kesana kemari tak beraturan, berharap serangga musim semi itu lekas terbang.

"BUANG SERANGGA MENJIJIKKAN INI! AIHH! MENJIJIKKAN!" pekik Seulgi makin melengking, Ia terus menerus meronta namun tak satupun mendengar, bahkan sang raja hanya menatapnya acuh. Hingga seorang dayang mengulurkan tangannya lalu membantu menyingkirkan serangga khas musim semi itu dari gaun indahnya.

"Jangan dibunuh!" Teriak Baekhyun begitu melihat dayang ingin menumbuk serangga itu dengan sebuah batu. Ia berlari mendekat lalu menggenggam erat tangan sang dayang. "Jangan membunuhnya...Dia ingin hidup, ku mohon" Pinta Baekhyun dengan mata mengerjap.

Membuat dayang itu tergagap, melihat wajah mengiba namun menggemaskan itu.

"B-baik Tuan muda" Ucap dayang seraya melepas serangga itu, hingga kembali terbang menuju pepohonan.

"Mengapa kau tak membunuhnya?! Bocah itu bukan yang membawanya kemari?!" Sentak Seulgi seraya menunjuk Baekhyun.

"T-tidak Yang Mulia Ratu...sepertinya serangga itu hinggap saat Ratu berjalan di halaman istana" Ujar sang dayang berusaha membela Baekhyun.

"APA?! Tidak mungkin! Anak itu pasti yang membawanya kemari!"

Chanyeol menggeram pelan, mendengar semua kekacauan yang terdengar berisik. ini masih terlalu pagi untuk mendengar semua nada sumbang dari mulut Ratu itu. Ia menggebrak meja, dan menatap wanita yang masih menggebu-gebu ingin memperkarakan Baekhyun.

"Berlebihan! itu hanya serangga...tak bisakah kau menjaga sikapmu di sini?"
"Tapi...anak itu—

"Ibu Suri tiba!"

Seruan penjaga menyentak seisi ruangan itu. Seulgi cepat-cepat merapikan tatanan gaun dan rambutnya lalu, memposisikan dirinya seanggun mungkin di mejanya, sebelum kedatangan mertuanya itu.

Sementara Baekhyun terlihat patuh mengikuti bimbingan dayang untuk turut duduk di kursi perjamuan itu, bersebrangan dengan posisi Seulgi.

berulang kali Seulgi melempar deathglare padanya, tapi Baekhyun hanya membalasnya dengan kerjapan polos miliknya. Berpikir sepertinya wanita itu sedang sakit mata.

.

.

.

"Ah...kalian sudah tiba rupanya" Ibu Suri terlihat berjalan perlahan lalu duduk di posisi ujung, bersebrangan dengan Chanyeol, hingga kini Raja Silla dan Ibu Suri itu saling duduk berhadapan

"Suatu kebanggan melihat anda terlihat mempesona di setiap harinya. Langit senantiasa memberkati Yang Mulia Ibu Suri" Seulgi terlihat manis menyampaikan salam dan pujanya. Membuat senyum wanita paruh baya itu terulas penuh kharisma.

"Terima kasih menantuku, semoga langit senantiasa memberkatimu pula" kekehnya, seraya menatap anggun ke depan.

namun pandangannya tersita cepat, begitu melihat seorang bocah tak jauh di depannya.

"Siapa anak ini?" Ujarnya tenang.

Ruangan itu seketika hening. Hanya Seulgi yang terlihat menyeringai menang, yakin bocah itu tak lama lagi akan segera terdepak dari istana ini.

Baekhyun mengerjap, merasa menjadi pusat perhatian kali ini. ia menoleh kesamping tepat pada Ibu Suri itu, lalu tersenyum polos.

Bocah itu terlihat melonjak turun dari kursinya, lalu berlari kecil ke arah Ibu Suri —Park Heechul

"Baekhyun...Byun Baek—hyun" Eja Baekhyun seraya mengetuk-ngetukkan dua telunjuknya.

Heechul mengerjap, sesaat terpesona pada wajah menggemaskan bocah itu. "Baekhyun? Baekhyunnie? itu namamu nak?"

"Uhum, Halmeoni" Sahut Baekhyun, seraya menganggukkan kepala cepat.

Suasana seketika kembali hening. "Mengapa kau memanggilku Halmeoni?"

Seulgi kembali menyeringai, sementara sang raja terlihat ragu ingin menarik Baekhyun menjauh sebelum hal yang tak diinginkan terlanjur terjadi.

"Karena rambut Halmeoni semuanya putih"

Seulgi makin tertawa riang dalam batinnya, kembali yakin Baekhyun akan celaka kali ini. Berbeda halnya dengan Chanyeol yang terbelalak. Sial..Baekhyun mengucapkan kata yang tak seharusnya. Ia segera bangkit dari kursinya. lalu—

"Ahahaha...manis sekali anak ini" Ujar Heechul seraya menepuk-nepuk kepala Baekhyun, membuat Raja Silla itu kembali mendudukkan dirinya. "Ya..ya..ya, panggil aku Halmeoni..aku lebih suka kau memanggilku seperti itu Baekhyunie. Ah...bagaimana ini, aku terlihat tua dengan rambut putihku ini"

"Yeppeosseo (You were beautiful)" Sahut Baekhyun cepat

"Benarkah?"

"Neh! Neomu ..neomu yeppeosseo"

Tapi tak sesuai ekspektasi mereka. Bukannya nada membentak atau bahkan delik sinis penuh amarah, malah yang terlihat wanita itu tertawa senang...bahkan begitu antusias mengelus kepala Baekhyun. Seolah memang terpikat pada bocah berparas manis itu.

"Kau benar-benar pintar memuji rupanya" Ucap Heechul gemas seraya mencubit pelan dagu Baekhyun. "Cha...kembalilah duduk, dan nikmati santap pagi ini" Lanjut Heechul lagi, sambil menatap Baekhyun teduh.

"Halmeoni, Baekhyun duduk di dekat Halmeoni...ne?"

Baekhyun sedikit merengek, sembari memegang lengan wanita paruh baya itu.

"Hm ada apa Baekhyun?"

Baekhyun melirik Seulgi sekilas, dan tatapan 'Mau apa kau?!' Kembali Ia lihat dari wanita muda itu. Membuat Baekhyun bergidik lalu menatap sang Ibu Suri.

"Ahjjuma itu, menatapku seperti ini—" Baekhyun membulatkan matanya lebar-lebar, menirukan Seulgi.

"Aku tidak ingin tertular sakit mata seperti Ahjjuma" Rajuknya berusaha merayu.

"Yack! Kau—

Heechul melirik Seulgi, membuat wanita itu seketika bungkam dan menelan bulat-bulat rasa jengkelnya.

"Hm...Kau boleh duduk di dekatku, Baekhyun" Ujar Heechul sambil tersenyum ramah. Detik itu pula bocah mungil itu kembali menuju mejanya, lalu menarik-narik kursi besarnya...membuat decit memekakkan yang sangat mengganggu.

Apa boleh buat...

Chanyeol memutuskan untuk turun tangan, meletakkan kursi itu di sebelah Ibunya lalu mengangkat Baekhyun hingga terduduk nyaman di atasnya.

"Gomapta Ahjjusii"

Chanyeol diam tertegun, menatap tanpa berkedip senyum manis dari pemilik bibir tipis itu. Ya bibir yang beberapa hari ini kerap di klaimnya.

Sementara Seulgi terlihat berdecak masam, apa-apaan Raja itu. Memperlakukannya seistimewa itu...mungkinkah Chanyeol berniat mengangkatnya sebagai putranya? mengingat sebagai istri, Chanyeol sama sekali tak pernah menjamah tubuhnya.

Maldo Andwae! Jika seperti itu...Dia yang akan terdepak dari istana ini.

.

.

.

Santap pagi itu, berlangsung tenang...mungkin hanya suara sumpit Baekhyun yang terdengar berdenting-denting, karena memang anak itu belum begitu mahir menggunakan sumpitnya.

Hingga tiba-tiba saja, suara Ibu Suri kembali memecah suasana itu,

"Setelah kemenanganmu, mengapa kau menjadi pendiam seperti ini...Puteraku"

Chanyeol meliriknya sekilas, sebelum akhirnya menyimpul seringai di sudut bibirnya. "Apa yang sebenarnya ingin Ibu sampaikan, hingga berkunjung kemari"

Seolah mendengar lelucon segar, Ibu Suri itu tertawa renyah mendengarnya. "Chanyeol~ah...kau benar-benar tak pernah berbasa-basi dengan Ibumu. Baiklah—"

Heechul mulai menarik nafas, lalu menatap dua pasangan di hadapannya. sementara sebelah tangannya tampak mengelus pipi Baekhyun.

"Hampir dua tahun semenjak pernikahan kalian. Aku tak mendengar tanda-tanda menantuku akan mengandung"

Seulgi terbelalak nyaris tersedak. Begitu gugup akan...topik pembicaraan itu. Bagaimana mungkin Ia hamil...jika Chanyeol saja tidak mau menyentuhnya.

"Sebagai Raja, Puteraku harus memiliki keturunan untuk menguatkan tahtanya. Apa Kau dalam keadaan mandul...menantuku?"

Wanita muda itu terperanjat dan menggeleng kasar. "A-animida! aku tidak mandul dan kandunganku cukup sehat... Ibu Suri"

Heechul menyeringai. "Benarkah? Lalu apa yang terjadi di sini?"

Seulgi tampak panik meremas-remas jemarinya sendiri. "I-itu karena Raja tidak—

"Memang belum saatnya, langit memberi anugerah itu padaku" sergah Chanyeol, dan mendelik Seulgi tajam penuh ancaman, sebelum wanita itu bicara terlalu jauh.

"Hmm...jika memang seperti itu, lantas apa gunanya menantuku di sini?"

Seulgi makin panik mendengarnya, bahkan keringat dinginpun kian merembas di keningnya "I-ibu—"

"Bukankah...akan lebih baik, jika kau meminang seorang selir. Yang bisa memberimu keturunan...Chanyeol~ah?" Heechul kembali melirik Seulgi, dan menyeringai penuh sindiran pada wanita muda itu.

Seulgi, beranjak bangkit dari kursinya lalu bersimpuh di hadapan Heechul. "I-ibu! beri aku kesempatan...aku akan menjamin dalam waktu dekat ini, aku akan mengandung. Kupastikan Kami akan segera mendapat keturunan Ibu"

Heechul hanya tersenyum...terlihat anggun namun sarat akan kekejaman di dalamnya. Ah siapapun di negeri Silla ini tau...Heechul sesungguhnya peribadi yang licik dan ambisius.

Dan tentunya sikap yang Raja Chanyeol miliki...menurun banyak dari Ibunya.

"Kuterima permohonanmu...menantuku, tepati janjmu itu...jika tidak—"Heechul menggantungkan kalimatnya, lalu menatap Seulgi dan Chanyeol bergantian.

"Gelar Ratu itu...sebaiknya lekas kau tinggallkan. Lagipula pihakmu tak memiliki apapun selain bergantung pada Silla" Lanjut Heechul kemudian, lalu beralih memandang Baekhyun dan menyeka sisa makanan di pipi bocah itu. "Aissh...perhatikan cara makanmu ini Chaggi, ahahaa manis sekali...anak siapa kau sebenarnya?" Tawa Heechul yang memang menyukai anak kecil, tentu Ia sangat antusias mengamati Baekhyun seperti ini.

Membuat Seulgi makin menggeram tak suka pada bocah itu, dan begitu dirinya menatap Chanyeol. Raja Silla itu hanya melempar pandangan ke lain arah, seraya memejamkan mata menikmati denting klasik yang mengalun indah dari pemain gayageum itu.

Jika seperti ini, tidakkah dirinya...yang menjadi orang asing di sini?

Bukan bocah bernama Baekhyun itu?!

'Kau benar-benar hama kecil...bocah!' Batin Seulgi masih dengan mengepalkan tangan kuat.

.

.

.


Siang itu, Raja Sila tampak gelisah mengedarkan pandangannya...berjam-jam lamanya ia tak melihat Baekhyun berlarian disekitarnya. Entahlah...Ia merasa ada yang hilang tanpa melihat Baekhyun sedetik saja. Hingga Ia putuskan untuk melangkah menuju paviliun yang Ia sediakan untuk Baekhyun. Barangkali bocah itu memang bermain dengan para dayang di sana.

.

"Di mana anak itu?"

Pelayan itu begitu tergopoh mendekati Chanyeol lalu menunduk hormat. "Tuan muda sedang berbaring di kamarnya, Yang Mulia"

Chanyeol mengernyit. Ini masih terbilang siang, dan berbaring di cuaca sepanas ini...tentu sangat mengherankan. Dan lagi, bukankah demam Baekhyun sudah mereda?

"Apa anak itu demam lagi?"

Sembari mengiringi langkah Chanyeol yang hendak menuju kamar Baekhyun, pelayan itu kembali menjawab dengan kepala tertunduk. "Tuan muda hanya mengeluhkan nyeri diperutnya, tapi kami sudah memberinya ramuan herbal untuk meredakannya"

Ucapan Pelayan itu kembali membuat Chanyeol menautkan keningnya. "Kalian tidak memberinya sembarang makanan bukan?" Tukas Chanyeol penuh penekanan. membuat pelayan itu serba salah ingin menjawabya.

"Ti-tidak yang mulia, terakhir kali Tuan muda makan bersama di perjamuan ...dan hingga siang ini Tuan muda belum menyentuh makanan apapapun"

Chanyeol menghela nafas, lalu berallih berjalan tergesa...memasuki kamar Baekhyun.

.

.

"Baekhyun?" Panggilnya begitu membuka pintu, dan melihat namja mungil itu terbaring di ranjang dengan wajah pucat. Kedua tangan kecilnya pun tampak meremas-remas perutnya sendiri.

"Ahjjusii!~ ukh" Lirih Baekhyun, dan saat merasakan nyeri di perutnya Ia kembali meringkuk.

"Ada apa? perutmu sakit?"

"Umh.." Sahut Baekhyun sambil memejamkan mata. "Sa—kit Ahjjusi"

Chanyeol berdecak melihatnya, tak tega melihat bocah itu kembali seperti ini. kemarin demam dan sekarang, sakit perut. Benar-benar bocah malang yang ringkih, mungkinkah karna anak itu terpisah dari kedua orang tuanya?

Ah! Omong kosong!

Mungkin memang Baekhyun dalam kondisi tidak prima saja.

Ia berniat membuka baju Baekhyun, bertahan di suhu sepanas ini dengan pakaian tebal tentu membuat anak itu tidak nyaman bukan.

"Kemarilah...buka bajumu, kau berkeringat sangat banyak" Gumam Chanyeol seraya memudarkan simpul pakaian Baekhyun lalu melepasnya perlahan...hingga bocah itu hanya mengenakan celana dalam saja.

Namun betapa terkejutnya Raja Silla itu, begitu melihat noda menyerupai darah terbercak di celana dalam berwarna putih gading itu.

Keringat dingin mengucur, Chanyeol mengingat apa yang dilakukannya semalam. Mungkinkah Ia memasukkan jarinya ke dalam anus bocah itu tanpa sengaja, hingga membuatnya berdarah seperti ini? Ataukah...lebih parah, Ia memasukkan penisnya kedalam?

Tidak! Ia tak mengingatnya dengan baik.

"Baekhyun, apa anusmu terasa sakit?" Tanya Chanyeol frontal, ah sungguh Ia benar-benar panik detik itu.

Baekhyun mengerjap, masih dengan menggeliat tak nyaman karna nyeri diperutnya. Baekhyun tau mengapa Chanyeol bertanya demikian, tentunya karna darah yang sedikit merembas di lubang anusnya. Baekhyun sudah terbiasa dengan itu, sejak beberapa bulan yang lalu. Ayah, Ibu dan Soyoung pengasuhnya juga tau akan hal ini.

"Tidak Ahjjusi~ Perutku yang sakit" Ucap Baekyhyun polos seraya menggelengkan kepalanya.

"Tapi...kau berdarah" Chanyeol masih menatap cemas ke bawah, meski tak banyak tapi bercak itu cukup membuatnya panik bukan kepalang, Tentunya karna masih merasa...dirinya menyetubuhi bocah di bawah umur itu semalam.

Baekhyun kembali menggeleng. "Setiap bulan, Baekhyun selalu seperti ini. Sooyoung selalu mengusapnya dengan kain hangat, lalu menepuk-nepuk perut Baekhyun seperti ini" gumam Baekhyun seraya mengelus-elus perutnya sendiri, menirukan apa yang selalu dilakukan pengasuhnya sebelumnya.

Chanyeol mengerjap bingung mendengarnya. Setiap bulan Dia bilang? Mungkinkah memang, Baekhyun memiliki sakit tertentu?

Dan lagi—Soyoung? Dia...pengasuh wanita yang selalu mendampingi Baekhyun kemanapun bukan?

Tapi, melihat bagaimana cara bicara Baekhyun, hal ini sepertinya terkesan biasa dan bukan hal yang menakutkan untuk bocah itu.

Apa yang sebenarnya terjadi pada anak itu?

Chanyeol menghela nafas berat. Sepertinya memang, semalam Ia tak sengaja memasukkan jarinya kedalam. Pikir Raja Silla itu, menduga secara rasional penyebab pasti mengapa Baekhyun berdarah seperti itu.

Ia beralih berjalan menuju pintu, dan membukanya sedikit. "Siapkan air hangat dan kain bersih untukku" Titahnya, tanpa membuka pintu kamar itu, tentunya Ia tak ingin jika sampai para dayang mengintip ke dalam dan melihat kondisi Baekhyun.

Para dayang itu saling melempar pandang kebingungan, membuat Chanyeol berdecak. "Anak itu sepertinya kembali demam, aku hanya ingin meluruhkan panas tubuhnya" jelas Chanyeol kemudian.

"Ah Ndee...Yang Mulia Raja" Sahut Dayang itu, sebelum akihirnya berjalan tergesa...menyiapkan perintah sang raja.

.

.

.

Beberapa Saat Kemudian

Chanyeol melangkah mendekat, dan duduk di sisi ranjang bocah mungil yang masih menggigit kuat bibir bawahnya.

Ia sedikit menarik pinggul Baekhyun mendekat, "Aku akan membuka celana dalammu...bertahanlah sebentar, arrasseo?"

Anggukan kecil itu, menjadi tanda untuknya menarik cepat celana dalam Baekhyun...hingga polos seutuhnya.

Raja Silla itu meneguk ludah payah, begitu melihat kulit kelewat mulus dan genital mungil yang terselip di antara pahanya. Membuat wajahnya seketika memanas, tak habis pikir...Ia kembali terangsang, melihat tubuh bagian bawah bocah itu.

"Angkat kakimu, dan tahan seperti ini" Ucap Chanyeol seraya menekuk kaki Baekhyun ke atas, lalu membimbing tangan mungil itu untuk menahan kedua pahanya sendiri.

Tak bisa dicegah...jantungnya memantul berkali-kali lipat lebih cepat, begitu melihat kerutan lubang anus Baekhyun. Dan sedikit darah yang terlihat merembas lalu menetes turun mengenai pantat bocah itu, semakin mengacaukan logikanya.

"Ahjjusiii" Panggil Baekhyun tiba-tiba.

Chanyeol terkesiap, panggilan itu seakan menampar telak segala fantasi dan pikiran mesum dalam kepalanya. Ia berdehem, sebelum akhirnya menegakkan tubuhnya dan tersenyum ramah pada Baekhyun.

"Ahjjusi lama sekali" Gerutu Baekhyun, yang mulai merasa pegal...menahan kakinya sendiri agar terangkat seperti itu.

Chanyeol terkekeh, sebelah tangannya mengambil alih menahan paha Baekhyun sementara tangan lainnya terlihat meremas kain hangatnya. Lalu menempelkannya secara perlahan di anus Baekhyun.

"Uuu~ Akh! Panas" Baekhyun menggelinjang kepanasan, begitu kain basah itu menyentuh rektumnya.
"Hn? Suhu air ini terlalu panas untukmu?"

Baekhyun mengangguk cepat, dengan mata berkaca-kaca.

Chanyeol kembali stagnan melihatnya, demi apapun itu ia benar-benar ingin membenturkan kepalanya detik itu juga melihat wajah Baekhyun seperti ini. Terlalu menggemaskan tapi menggoda dalam waktu yang bersamaan.

"Tahanlah sedikit" Gumam Chanyeol seraya meniupkan udara hangat di atas lubang anal itu, membuat Baekhyun semakin menggeliat-geliat kecil merasakan tiupan nafas Chanyeol
"Mh! geli Ahjjusii"

'

.

"Mh~..ah! Ahjjusii" Baekhyun mendesah...kala kain itu kembali mengusap rektumnya, menyeka darah yang masih sedikit merembas dari dalamnya. Oh sungguh! saat Sooyoung yang melakukannya dulu, Ia tak pernah memekik-mekik seperti ini, bahkan tidak terasa geli sediktpun. tapi mengapa jika Ahjjusinya yang melakukannya menjadi berasa berbeda sekali, membuat perutnya turut mengeras karena tegang.

Chanyeol berdehem...masih berkonsentrasi penuh, melakukan kegiatannya...atau jika tidak, ia akan benar-benar lepas kendali dan berakhir dengan menyerang lubang anal itu.

Tapi desahan-desahan Baekhyun benar-benar mengganggu fokusnya, Ia kembali tegang dengan hanya mendengar lenguhan bocah mungil itu.

Dan lagi, jika anak itu semakin vokal. Bukan tidak mungkin...semua dayang akan mendengarnya. Ia kembali memaksa Baekhyun menahan pahanya sendiri, lalu memasukkan telunjuknya ke dalam mulut Baekhyun. "Hisap jariku..." Titahnya, sebelum akhirnya kembali menyeka anus Baekhyun dengan kain hangatnya.

"Urmh...Mmh! Jushiimphh~"

Nafas Raja Silla itu begitu memburu, tak pernah puas dengan hanya satu atau dua usapan saja. Rektum yang berkedut dengan sedikit bercak kemerahan itu, benar-benar hebat untuknya. Terlebih lidah Baekhyun yang memblit jarinya, benar-benar terasa lembut.

Membujuknya menyentuhnya lagi dan lagi, kali ini tanpa kainnya...melainkan tergantikan dengan jemari panjangnya. Bahkan Ia mulai menusuk-nusukkan jari manisnya ke dalam anus Baekhyun, tak peduli...jika seperti ini, bukan tidak mungkin darah Baekhyun akan menjerit kesaitan.

"Mpfuahh! ah!...Ahn"

Tapi sebenarnya...Raja Silla itu tak tau. Baekhyun tengah memasuki masa datang bulannya. Dan itu terjadi setiap bulannya, sejak beberapa bulan yang lalu. Rahim yang tumbuh dalam tubuh anak itu..adalah penyebabnya. Namun tak selayaknya seorang Yeojja...menstruasi itu terbilang singkat bahkan hanya berlangsung beberapa jam saja dalam sehari dan tak banyak darah yang keluar.

Tabib Goryeo, biasa menyebutnya datang bulan kering. Karna sejatinya...Baekhyun seorang anak laki-laki. Tentu siklus yang terjadi jauh berbeda dan terbilang langka. Kendati demikian, perkembangan rahimnya jauh lebih pesat dibandingkan dengan anak perempuan pada umumnya.

.

.

"Hhha...hhh..Hhh"

Chanyeol terlihat terengah-engah mengatur nafasnya, sejak beberapa menit yang lalu ia mengusaikan kegiatannya membersihkan tubuh Baekhyun.

ia menatap redup keranjang. Dan bocah itupun telah terlelap karena terlalu lelah mendesah..

Tapi Ia terengah bukan karna lelah mengurus semua itu. Melainkan pada usahanya menahan diri. Untuk tak menyerang Baekhyun deti k itu juga.

Ia berjalan gontai menuju pemandian rahasia di belakang paviliun Baekhyun, berniat memanjakan miliknya yang kembali menegang hebat. Begitu memastikan tak ada lagi darah yang merembas, dan telah mengganti pakaian Baekhyun dengan yang lebih bersih.

.

.

.


"Aku tidak mau tau! Apapun caranya buat Raja menyentuhku malam ini!"

Seorang wanita yang sedari tadi uring uringan itu, kini kian menyalak penuh amarah pada beberapa dayang dan tabib miliknya.

Sementara seorang pria tak jauh di seberangnya tampak terkekeh pelan melihatnya.

"Tch! Dibandingkan menghabiskan energi untuk marah, lebih baik kau gunakan otakmu untuk berpikir" Sindirnya seraya melahap buah anggur di hadapannya dengan kaki terangkat di atas meja.

Seulgi balik menatapnya gerah. "Oppa! kau terlalu banyak bicara! Aku tak pernah melihat usahamu di sini. Kau makan dan tidur nyaman di istana ini karena diriku! Tutup mulutmu jika kau hanya bisa—

"Tck! Berisik! Aku yang membantu menjadikanmu seorang Ratu! Dan sebagai imbalannya kau tentu harus menunjang hidup kakakmu ini bukan, aku tau kuncianmu, rahasia busukmu itu aku sangat tau...jadi, jangan coba-coba menentangku, adikku manis ahahahaha" Gelak Namjoon masih dengan melahap semua anggur di depannya

"Hmph!" Seulgi hanya menatap tajam, memandang satu-satunya saudaranya itu selayaknya musang yang licik.

Seulgi kembali berjalan mondar mandir di dalam ruangan itu, berpikiir keras...agar malam ini Chanyeol menyetubuhinya tanpa alasan atau penghalang apapun. Tak peduli jika itu dengan mantera apapun.

"Kuberi tahu kau satu trik jitu untuk melumpuhkannya" Gumam Namjoon tiba-tiba, membuat Seulgi menoleh cepat padanya.

"Apa itu?"

Namjoon menyeringai "Tidak Cuma-Cuma, ada harga yang harus kau bayar untuk ini. Beri aku jabatan di istana ini, menjadi menteri tak masalah untukku"

Wanita itu kembali menggeram kesal, tak percaya ia memiliki saudara licik seperti ini. "Argh! Baiklah! Katakan apa rencanamu!"

Namjoon melirik saudara perempuannya itu. "Buat dia mabuk, dengan tuak atau masukkan ramuan perangsang saja ke dalam makanannya, lalu setelahnya maanfatkan situasi yang ada dengan menyelinap ke dalam kamarnya. Dan...Bbang—

Namjooon menepuk tangan. "Kau mendapatkan Rajamu itu hahaha"

Seulgi terlihat tersenyum lebar. "Ramuan perangsang? ahahaha kau benar-benar cerdik Oppa!" Tawanya kegirangan.

.

.

.

.

.


"Unh~" Baekhyun terlihat mengerjap, lebih dari lima jam lamanya ia tertidur lelap. Nyeri diperutnya pun tak ia rasakan lagi, ah Ahjjusinya benar-benar hebat menyembuhkannya. Ia beralih bangkit terduduk, sesekali mengusap-usap rambutnya hingga semakin kusut dan ikal khas seorang yang baru bangun tidur.

Lalu menoleh ke kanan dan ke kiri. "Ahjjusiii~ " Panggilnya, berharap pria itu berada di dalam ruangannya.

Tapi kamar itu tetaplah senyap tak ada siapapun kecuali dirinya.

'Krruuuu'

Baekhyun menundul dengan bibir mengerucut begitu mendengar bunyi perutnya, ah! ia lapar...sangat lapar.

Baekhyun beralih beringsut turun, lalu menyeret langkah kaki kecilnya keluar kamarnya. Mata bulan sabitnya mengerjap begitu membuka pintu dan melihat para dayang dan pelayan itu tampak tertidur pulas di lantai.

Baekhyun berjongkok dan menusuk-nusuk pipi dayang itu dengan telunjuknya. Berharap wanita itu lekas bangun dan mengantarnya menuju istana utama.

"Dayang...aku lapar"

Plak

"Umhh Nya—muk"

Tapi Dayang itu menampar pipinya sendiri, lalu berguling ke sisi yang lain...melanjutkan tidurnya.

Baekhyun mempoutkan bibir melihatnya, ia beralih bangkit tak ingin mengganggu tidur semua dayang itu. Jadi Baekhyun putuskan untuk berjalan seorang diri, paling tidak...Ia telah hafal jalan menuju istana utama.

.

.

"Jangan sampai siapapun melihatnya" Seorang wanita bertudung kain sutera, terlihat menyerahkan semacam bungkusan kecil pada dayang dapur itu.

"Baik Yang Mulia" Bisik Dayang yang telah disuap itu, lalu memohon diri dengan cepat.

Sang wanita menyeringai puas, sebelum akhirnya menyelinap di balik kegelapan.

.

.


Baekhyun berlari-lari kecil di sepanjang koridor istana, sebenarnya malam belum terlalu larut. Namun karna awan mendung di langit membuat malam kian terlihat pekat, dan menyamarkan siluet tubuh mungilnya. Hingga membuat bocah manis itu leluasa berlarian, menyelinap ke setiap pintu-pintu yang ada...tanpa disadari oleh penjaga ataupun pelayan istana.

Dan jikapun ada dayang yang melihatnya, mereka hanya bergidik lalu berjalan untuk menghindar secepat mungkin. merasa...jika itu adalah bayangan arwah penasaran dalam istana.

ah! semua tentu beralasan, karna Baekhyun hanya menggunakan piyama putih polos yang menyerupai terusan hingga menutup setengah kakinya.

"Dayang..." Panggil Baekhyun, begitu melihat dua dayang melintas di balik persimpangan jalan.

"K-kau dengar itu? mungkinkah di tempat seperti ini ada suara anak yang memanggil?" Bisik dayang itu ketakutan

"T-tidak mungkin! mustahil seorang anak berkeliaran semalam ini"

"Jadi itu apa?"

"P-ppali...Ppalli, pergi dari tempat ini"

Baekhyun mengerjap tak mengerti, melihat dayang itu tiba-tiba berlari tersungkur-sungkur seperti itu.

Namun rasa penasarannya teralihkan, begitu Baekhyun mencium aroma masakan. Senyum manisnya terukir begitu saja, bocah riang itu melompat-lompat kecil mengikuti aroma lezat itu.

hingga...berakhir di sebuah pintu, dimana..di dalamnya adalah singgasana sang Raja.

Para dayang dan pelayan terlihat lalu lalang keluar masuk ruangan, dan sibuk dengan tugas mereka. Mereka harus sigap dan tepat waktu menyiapkan makan malam Chanyeol. Hingga tak menyadari kehadiran, sosok mungil di antara mereka

.

.

Baekhyun berjinjit, kedua tangan mungilnya terlihat meraba-raba meja penuh dengan sajian makanan itu. Dan—

Dapat!

Ia berhasil meraih hidangan ayam di atasnya, kedua mata cokelat itu berbinar terang. Tergiur dengan aroma lezat masakan itu, ia menariknya lalu membawanya ke bawah meja...kain yang menjuntai di sekeliling meja itu, membuat siapapun tak menyadari dirinya tengah lahap memakan hidangan itu.

"Mashitta!" Pekik Baekhyun antusias seraya mengecupi rempah yang melekat di tangannya.

Tapi rasanya hanya ayam saja tidak akan cukup, oh ayolah...ia hanya makan di pagi saja.

Baekhyun kembali merangkak keluar dari kolong meja. lalu berjinjit mengamati semua makanan yang ada dengan mata berbinar, dan masih saja para dayang yang sibuk itu tidak menyadari dirinya.

Hingga bibir mungil itu membulat lucu, begitu matanya menangkap sebuah makanan yang mencolok dan menarik perhatiannya. 'Manisan plum'

Baekhyun sedikit melompat, dan hupp!

Manisan plump itu, telah berada dalam tangkupan tangan mungilnya. Baekhyun terkekeh...lalu melompat-lompat girang keluar dari tempat itu sembari melahap satu persatu manisan plump di tangannya.

.

.

"Aku melihat seorang anak kecil"

"Huh?kapan?dimana?

"D-dia keluar menuju pintu itu"

"Tck! kalian terlalu banyak berhalusinasi...cepat selesaikan tugas kalian. Yang Mulia Raja tak lama lagi tiba" Kepala dayang terlihat menegur para dayang itu.

.

.

Masih saja, Baekhyun melangkah riang dengan kepala tak pernah berhenti menggeleng ke kanan dan ke kiri kala menikmati manisan plump itu, Sepertinya makanan manis itu benar-benar memanjakannya. hingga tiba tiba saja Baekhyun berhenti, dan terlihat terhuyung memegangi dinding...saat merasakan denyut pening yang mendadak.

Dadanya memanas, Baekhyun reflek memegangi dadanya sendiri hingga membuat semua manisan plump ditangannya berjatuhan di lantai.

"Uhn~" Baekhyun merosot terduduk sementara mulutnya masih penuh dengan manisan plump, panas yang berbeda itu seakan menjalar ke perutnya . Dan semakin lama...serasa berdenyut-denyut di daerah kemaluannya.

"U-uhh!" Bocah mungil itu menggeleng, tak mengerti dengan perubahan tubuhnya itu, hingga begitu lugu meremas-remas genitalnya sendiri dari luar. "Ah! mmh! Mpphl" Pekiknya sambil menggesek kasar kemaluannya.

.

.

"Pastikan bangunkan anak itu, Dia terlalu lama tidur. Aku ingin makan bersama—

Titah Raja Silla itu tersendat, begitu melihat bocah yang ingin ditemuinya itu. Berada tak jauh dari hadapannya, dan terduduk dengan nafas tersengal-sengal. "Baekhyun!" Panggilnya seraya berlari cemas, menduga...sesuatu yang buruk menimpa namja kecil itu.

"Apa yang kau makan?!" Chanyeol mengeras, dan mengguncang tubuh mungil itu, memaksa Baekhyun lekas mengeluarkan sesuatu dalam bibirnya.

"Nghh.."

Tapi sepertinya memang terlambat, bocah itu telah menelannya habis. Dan kini menyisakan tubuh menggeliat tak nyaman, dengan peluh yang merembas.

Chanyeol menautkan kening, dan begitu melihat beberapa manisan plump yang tersebar di bawah Baekhyun. Ia berdecak keras, Chanyeol tau, manisan itu selalu tersedia dalam jamuan makan malamnya.

Tak salah lagi, seseorang sepertinya berniat mencelakainya kali ini. Dan Baekhyun tanpa sengaja memakannya sebelum dirinya.

"PELAYAN! BUANG SEMUA MAKANAN MALAM INI! CEPAT!" Teriak Chanyeol lantang, hingga terdengar sampai ke ruangan singgasana...tempat dimana para dayang menyiapkan makan malam sang Raja.

"B-baik Yang Mulia.."

.

.

.

Chanyeol bergegas cepat membopong tubuh Baekhyun,

Mengangkatnya bridal, dan di bawanya untuk berlari secepat mungkin menuju kamar terdekat. Kamar yang memang seharusnya diperuntukkan untuk Tamu. Tak di pedulikannya para dayang dan penjaga yang menatapnya heran, seakan penasaran dengan apa yang terjadi pada bocah dalam gendongan sang raja. Keselamatan Baekhyun lebih penting dari apapun, menduga...Baekhyun sepertinya menelan racun.

"TABIB! PANGGIL TABIB KEMARI!" Teriaknya lagi sebelum akhirnya, membanting pintu kamar itu.

.

.

"Dengar, jangan tutup matamu mengerti? Bertahanlah dan genggam tanganku seperti ini" Ujar Chanyeol seraya menggenggam erat tangan mungil Baekhyun. Berulang kali Ia merutuk, tabib tak kunjung datang menghampirinya.

"Uhn~ ahh!"

Chanyeol mengernyit. Ada yang salah di sini.

Ia tak mendengar rintihan atau bahkan raungan kesakitan dari seorang yang selayaknya menderita keracunan, tapi ...anak itu malah mendesah dan terlihat menggeliat binal di bawahnya.

"Baekhyun?" panggilnya tak mengerti.

"Eumh...pa—nash Ahjjussii...ah! nghh! ga—tal" Desah Baekhyun lagi seraya menggosok genitalnya sendiri. Bocah itu tak bisa mendeskripsikan sensasi yang berdenyut hebat pada kemaluannya, yang Baekhyun tau...itu gatal. dan terasa nikmat saat ia menggosoknya lebih.

Seakan mencerna situasi, pria itu hanya stagnan. Hingga detik berikutnya Ia beranjak mendekati pintu kamarnya, membukanya lalu berteriak keras. "JANGAN IZINKAN SIAPAPUN MEMASUKI RUANGAN INI! KOSONGKAN TEMPAT INI! DAN KALIAN—BERJAGALAH DILUAR!" Titah Chanyeol pada beberapa penjaga itu.

"Baik Yang Mulia"

.

BRAKKK

Chanyeol menutup rapat-rapat pintu itu, mengunci...dan menggerai semua tirai yang ada. Hingga sepenuhnya gelap.

Suasana memang senyap, hanya hembusan nafas Baekhyun yang terdengar berat.

Ia berjalan menghampiri bocah itu, dan menyeka semua keringat yang merembas di keningnya.

Pandangannya menajam. Chanyeol tau...Baekhyun baru saja menelan perangsang. Semua reaksi dan geliat tubuh bocah itu yang membuatnya sepenuhnya yakin.

"Uhn~ Ah!...hks..Ahjjusii mmh" Baekhyun mulai terisak, putus asa dengan rasa panas yang berbeda itu, Kedua tangan kecilnya terlihat menggapai-gapai ke atas. Meminta Chanyeol lekas menyembuhkannya.

Chanyeol berdehem, meneguk ludah yang terasa kering di tenggorokannya. Ia menangkap tangan Baekhyun...menggenggamnya sebelum akhirnya menyingkap pakaian Baekhyun ke atas.

Jantungnya berdebar melihat cairan bening tampak merembas dari celana dalam Baekhyun. Meski diam, tapi Ia cukup takjub..bocah kecil itu bisa terangsang seperti ini.

Tapi kali ini, Ia hanya ingin membantu Baekhyun. ya...ia bersumpah tak akan melakukan hal lebih...selain membebaskan bocah malang itu dari efek ramuan itu.

Chanyeol beralih menarik turun celana dalam Baekhyun, membuat genital mungil penuh dengan precum itu mencuat di hadapannya.

Birahinya sejatinya kembali tersulut, Tapi Chanyeol berusaha menahannya. Ia menyentuh genital kecil itu dan memijit-mijitnya pelan.

"NN! Ah! L-lagi Ahjjusi!"

reaksi luar biasa ia lihat dari tubuh penuh peluh itu, membuatnya bersemangat memijit dan mengurut penis mungil itu.
"Mmh! ah! Lagi!...Hks! Lagi Ahjjusiiii!" rengek Baekhyun, tak terpuaskan dengan sentuhan Chanyeol, rasanya...gatal itu semakin menjadi saja.

Chanyeol menghela nafas pelan, Ia kembali mengurut lebih cepat. Tapi lagi-lagi Baekhyun menangis..bahkan berontak tak ingin disentuh seperti itu.

"Hks! Ti—dak mau! Lebih ce—pat ahjjusi!"

Chanyeol kembali meneguk ludah, ah sial! tenggorokkannya benar-benar terasa kering kali ini. tapi tangisan Baekhyun benar-benar menyulutnya.

Chanyeol kembali memegang pangkal genital mungil itu, tanpa peringatan memasukannya ke dalam mulutnya lalu menyedotnya kuat.

"NNNN! A—AH!" Tubuh kecil itu terlihat terangkat, melengkung ke atas mengikuti hisapan Chanyeol.

Chanyeol menyeringai melihatnya, Ia sedikit mengangkat pantat Baekhyun...menyibak belahannya, lalu menggesek-gesek rektum kecil itu dengan telunjuknya.

"Eumhhh! NNh! Ahjuss~ AHHH!" Baekhyun seketika menegang, begitu pria itu melesakkan jari telunjukknya ke dalam rektumnya.

Menggerakkannya keluar masuk dengan perlahan, hingga membuat tubuh kecil itu makin menggelinjang keenakan.

"Mhhah! Ah! La-gih! mmh! Jussii—AHHH!" Baekhyun meremas kuat kepala ranjang, begitu pria itu menggerakkan telunjukknya kasar, perih memang...namun hisapan kuat yang menyedot genitalnya membuatnya terlena dan hanya mendesah-desah payah.

..

.

.

"A—ACKHH!"

Baekhyun kembali menyentak dengan tubuh menggigil, kala sesuatu serasa merembas banyak dari genital kecilnya, membuat Raja Silla itu menggeram nikmat, begitu merasakan cairan asin serasa mengalir ke dalam mulutnya.

Tak ada sperma, hanya cairan bening dan mungkin seni Baekhyun yang keluar. Chanyeol terkekeh begitu melepas hisapannya. Ia menyeka bibirnya sendiri, dan menatap takjub pada namja kecil yang masih terengah-engah dengan bibir terbuka.

Ia cukup tergiur melihatnya, dan berakhir dengan menyergap bibir Baekhyun ...lalu melumatnya mesra.

"Mmh~ mphh"

.

.

.

"A—sin" Cicit Baekhyun saat Chanyeol melepas pagutannya.

Raja Silla itu terkekeh. "Itu cairan milikmu" Gumamnya seraya menarik tubuh mungil itu ke dalam dekapannya.

Namja mungil itu mengerjap, tapi sedetik kemudian Ia mulai menguap kecil"Baekhyun mengantuk...Ahjjusi"

"Tidurlah" Gumam Chanyeol sambil mengelus kepala Baekhyun.

Usapan lembutnya, membuat kedua mata indah itu meredup sayu...lalu tertidur pulas begitu saja.

Tanpa tau, sosok yang masih mengelusnya penuh sayang itu. Kini masih mengocok genital besarnya seorang diri.

Hingga—

"AHH! Ssshhh" Ia berhasil mencapai klimaks, membuat spermanya menciprat di perut Baekhyun dan sebagian tubuhnya.

Raja Silla itu, menghela nafas berat lalu semakin menarik Baekhyun ke dalam pelukan hangatnya.

"Cepatlah besar...agar aku tak merasa berasalah saat menyentuh tubuhmu" Gumamnya sambil mengecup puncak kepala Baekhyun.

entahlah, apa yang dirasakannya kini.

Tapi Chanyeol menyadari...Ia memiliki perasaan yang meletup-letup untuk bocah itu, sejak kapan itu tumbuh...Chanyeol sama sekali tak mengetahuinya.

Kedua matanya membuka lebar, begitu sadar akan suatu rahasia.

Jika suatu saat Baekhyun tau, apa yang telah Ia perbuat pada negerinya...

Akankah anak itu, masih memanggilnya riang? dan tersenyum menggemaskan padanya?

Chanyeol kembali menghela nafas berat. Semua itu teralu mengeruhkan kepalanya. Ia lebih memilih memejamkan mata...dan bermalam di kamar itu. Bersama Baekhyun kecilnya.

.

.

.

Sementara itu di tempat lain

"Pheya...Aku tau tubuhmu bergairah malam ini, biar aku memuaskan—

Wanita itu mematung, begitu memasuki kamar Chanyeol dan melihat beberapa pelayan pria serta dayang tampak menatapnya heran. Mereka tengah disibukkan dengan kegiatan bersih-bersih kamar Raja. Namun seorang wanita tiba-tiba saja, mendesah desah dengan suara tak jelas memasuki ruangan itu.

"YACKKK! MENGAPA KALIAN SEMUA DI SINI? DI MANA RAJAKU?!"

.

.

.


Esoknya

"MWORRAGOOO?! Raja menghabiskan malam dengan bermalam di paviliun bocah itu?!"

Lagi, suara Seulgi kembali pecah memenuhi paviliunnya begitu mendengar informasi dari kasimnya.

Belum habis rasa kesalnya akibat kegagalan semalam, karna Chanyeol membuang semua makanaannya, dan pagi ini ia kembali di buat jengkel dengan berita itu.

"Siapa anak itu sebenarnya?! Mengapa dia diperlakukan sangat khusus! Mantera apa yang dimiliki anak itu?! Tak hanya Raja! Ibu suri pun menyukainya! ARHH!"

"Anak?" Namjoon terdengar menyela.

"Ya! Raja membawa anak tak tau diri itu kemari!"

Pria itu terlihat mengernyitkan dahi. "Perhatikan gerakanmu, kau terlalu lengah Seulgi. Jika sampai Chanyeol menjadikannya bagian dari istana ini. Bukan tidak mungkin kita yang akan tersingkir"

Seulgi mengeras mendengarnya, merasa ada benarnya semua ucapan kakaknya itu.

"Bunuh...sebelum dibunuh" Gumam Namjoon dengan penekanan kata di akhir. Membuat kedua mata indah wanita muda itu terlihat berkilat penuh ambisi.

.

.

.

.

.


"Tuan Muda...anda suka dengan perahu kertas ini bukan?" Seorang dayang terlihat menyodorkan sebuah perahu kertas untuk Baekhyun, yang memang pada saat itu...tengah antusias memainkan ketapelnya.

Baekhyun mengerjap penuh binar melihat perahu kertas itua, Ia melonjak-lonjak kegirangan.

"Neh! suka! aku sangat menyukainya!"

Wanita itupun terlihat tersenyum ramah. "Mari Tuan Muda kita bermain perahu kertas ini di sungai" Bujuk dayang itu, dan benar saja Baekhyun terlihat semakin antusias mengikutinya.

.

.

.

"Ahahahaha" Tawa riang Baekhyun terdengar riuh di sepanjang bantaran sungai, bocah itu begitu aktif...berlari mengiringi perahunya yang mulai mendahului perahu milik dayang itu. Tapi Baekhyun tak menyadarinya, di balik pohon Ginko itu...sepasang mata tampak mengawasinya.

"Hhahaha kau kalah dayang!" Sesekali Baekhyun meniup-niup perahuya, bahkan mengibas-ngibasnya dengan daun kering. Berharap perahu kertas itu melaju lebih cepat.

Namun begitu keduanya tiba di tepi sungai berpalung dalam. Dayang itu tiba-tiba berhenti...tapi Baekhyun tetap berlari mengejar perahunya hingga tiba-tiba saja, kakinya memijak sesuatu dan

ZRAT

Bocah itu kebingungan, begitu sebuah tali menjerat kakinya.

"Da-dayang?"

Baekhyun memutar tubuh, namun dayang itu tak lagi di belakangnya. Baekhyun menggerutu kesal, ia berjongkok hendak melepas jerat tali itu.

Namun tanpa terduga...seseorang mendorongnya dari belakang dan—

BYUUURRRR

"Eottohkkae, tanganku sangat licin rupanya…umm aku tak bisa berenang, jadi tunggu di sini hingga seorang datang arrasseo?"

"Uhmmp! Mmhhh! to—long! Uhmp!" Baekhyun meronta di dalam air, sekeras apapun ia mencoba untuk berenang ke permukaan.

Tali itu terlalu erat menjerat kakinya, menyeretnya semakin dalam ke dasar sungai.

"Ah…tapi sepertinya, tak akan ada satupun yang datang kemari. Bersenang-senanglah di dalam sana anak manis" Kikik wanita itu, seraya menghempas gaunnya, lalu melenggang anggun menuju istana.

Meninggalkan seorang bocah yang masih terjerat di dalam sungai itu.

.

.

.

.

.

TBC

Next Chapter

"Y-yang Mulia! Yang Mulia Raja!"

Seorang pria terlihat tergopoh-gopoh berlari mendekati Raja, yang kala itu tengah kacau.

"Hamba...Hhh..Hhh Hamba melihat mayat di sungai Yang Mullia!"

.

.

.

"B-baekhyun..."

.

.

Haloooo Halooo

Annyeooong, Gloomy Hadir membawa chapter empat-nya

Bagaimana Chingu? Dilanjutkan atau tidak ini?

Salam kenal neee semuanya yang sudah bersedia membaca ff ini hehe...

Kalau respond banyak, janji update hari rabu..

Oh iya voting yah...

Yang update selanjutnya FF ini dulu atau Blood on A white Rose Ch 8 dulu?

Dan untuk:

restikadena90, 90Rahmayani, LittleJasmine2c, light195,Shengmin137, chanbaekssi,CussonsBaekby, baekkieaerii, LyWoo, stuffk7, babybaekhyunee7,Jung Minjii, mphi, Park RinHyun-Uchiha, wafflecoklat, Chel VL, light195, chanbaekaegi,bbhyn92, myzmsandraa99, FlashMrB, LUDLUD, Byunsilb, bbhyn92, minami Kz, Ervyanaca, Bubblelights, Eun810, metroxylon, Lussia Archery, puppy0461,Whitetan, selepy, n3208007, barampuu, tannurfr, stuffk7, jiellian21, Macchiato Chwang, dan All Guest

Terima kasih sudah mereview...di chap kemarin

Gloomy akan menyertakan nama reviewer di setiap Chapnya

Mohon reviewnya, Glum tunggu

.

.

Annyeooooonggggg

SARANGHAAAAAAAEEEEEEEEEEE