nythine present

'For me?'

Winkdeep

Park Jihoon

Bae Jinyoung

with Park Woojin

WANNA ONE

.

.

.

"maaf aku tidak pernah sempat menjelaskan kenapa aku dekat dengan Daehwi, aku—"

Beep beep~

Suara nada dering ponsel Jihoon menginterupsi Jinyoung yang tengah bicara.

Mom is calling...

Melihat siapa yang menelponnya mau tak mau Jihoon harus segera menerima panggilan dari ibunya itu.

"maaf, sebentar." Jihoon berjalan sedikit menjauhi Jinyoung.

"iya eomma, ada apa?"

"jihoon-ie, kau lupa ya menjemput kedua adikmu diasrama-nya? Pihak sekolah SeoJun dan SeoEon sudah menelpon eomma tadi."

Jihoon menepuk jidatnya. Ia mengecek jam tangan yang melingkar ditangan kirinya. "maaf eomma aku lupa. Aku akan segera kesana. Sekarang, maaf eomma!"

"hng, kalau begitu cepatlah. Nanti adikmu menangis disana. Hati-hati."

"Baik eomma. Kututup ya." Jihoon mematikan sambungan telponnya. Ia kembali pada Jinyoung yang menatapnya.

"ada apa?" tanya Jinyoung penasaran.

Jihoon mendongak. "aku harus menjemput adikku di asramanya. Aku harus segera pergi." Ia melangkah hendak meninggalkan halaman belakang. Namun tangannya ditahan oleh Jinyoung.

"biar kuantar."

Lelaki yang lebih tua melirik pergelangan tangannya, kemudian perlahan melepaskan jemari yang melingkar dilengannya.

"tak usah. Kau masih harus berlatih. Aku bisa sendiri." Jihoon mencoba tersenyum walau tipis. Jihoon melanjutkan langkahnya memasuki studio untuk meminta ijin pada Woojin akan menjemput adik kembarnya. Dibelakangnya Jinyoung mengekori.

"kau yakin bisa sendiri? Aku akan bicara pada Jonghyun hyung—"

"aniya, kau disini saja. Sudah ya, aku telat. Bye Woojin! Semuanya aku duluan ya!" seru Jihoon sembari berlari kecil meninggalkan studio.

Jinyoung yang masih menyandang status kekasih dari Jihoon hanya menatap punggung sang kekasih. Kekasihnya menghindarinya lagi.

"hyung, ada snack kesukaanmu, kemarilah!" seru Daehwi dibelakangnya yang tengah asyik memakan beberapa camilan bersama Seungwoo dan Daniel.

Jinyoung malah pergi keluar studio tanpa menghiraukan ucapan Daehwi. Dari pintu masuk studio ia bisa melihat Jihoon berdiri dihalte bus sendirian.

Seharusnya aku menemanimu disana.

Batin Jinyoung meringis. Rasanya menyedihkan ketika kekasihnya benar-benar mengacuhkannya, bahkan menghindarinya selama beberapa hari ini. Terlebih lagi sekolah baru memulai liburan. Tidak ada waktu untuk bertemu barang sebentar saja. Setidaknya jika sekolah ia masih bisa melihat keadaan Jihoon walau tidak langsung bertemu. Namun sekarang rasanya sulit. Ia harus datang ke rumah Jihoon jika ia ingin bertemu karena sejak kejadian itu Jihoon sulit dihubungi. Dan diwaktu tidak terduga ia bertemu dengan kekasihnya. Kenyataannya Jihoon malah menghindarinya.

Tidak, tidak. Jihoon bukan menghindarinya, Jinyoung yakin itu. Mungkin sekarang bukan waktu yang tepat untuk bertemu dan bicara baik-baik. Keadaan mereka pun belum membaik. Jinyoung akan mencari waktu yang tepat untuk bicara dengan kekasihnya yang imut itu.

.

"aish, Seojun-ah, Seoeon-ah, maafkan hyungmu ini." Jihoon menggeram sendiri dibawah atap halte bus. Ia gemas menunggu bus yang tak kunjung datang. Padahal baru 2 menit ia sampai di halte.

Tak lama sebuah mobil hitam mengkilap berhenti tepat didepan Jihoon berdiri. Jihoon menyadarinya, namun ia pura-pura tidak melihat dan terus menatap kearah sebelah kanannya.

"Jihoon sunbae!." Suara baritone terdengar dari dalam mobil hitam itu. Otomatis Jihoon menoleh karena namanya merasa terpanggil.

Jihoon menyipitkan matanya menatap seseorang didalam mobil karena tidak begitu jelas dipandangannya.

"Guanlin?" tanyanya memastikan seseorang itu.

Seseorang yang berada didalam mobil itu keluar dari mobil mewahnya dengan senyum kepada Jihoon. Guanlin, adik kelas Jihoon yang duduk dibangku tingkat pertama highschool.

Ia berdiri menjulang disamping Jihoon. Perbedaan tinggi badan mereka sangat kontras.

"sedang apa sunbae disini?"

Jihoon perlu mendongak untuk menatap mata Guanlin. "tentu saja menunggu bus. Kenapa kau turun?"

Lelaki berdarah Taiwan itu mengulum senyum. "tidak apa. Sunbae mau kemana?"

"aku? Aku akan menjemput adikku diasramanya." Ucap Jihoon sembari menunjuk ke arah suatu jalan.

"denganku saja, kebetulan kita searah."

Yang lebih pendek menggelengkan kepalanya. "tidak perlu, Guanlin-ah. Aku tidak mau merepotkanmu." Ujarnya sungkan.

"tak apa sunbae. Aku tidak merasa direpotkan. Ayo!"

Guanlin langsung menarik lengan gemuk Jihoon untuk memasuki mobilnya. Jihoon hanya pasrah dan menerima ajakan yang terdengar memaksa dari Guanlin. Ia duduk disamping Guanlin. Tak lama mobil mewah yang ditumpangi Jihoon melaju yang dikendarai oleh supir pribadi Guanlin.

"aku tidak mengira sunbae punya adik." Ucap Guanlin.

Jihoon tersenyum kecil. "aku punya adik kembar, dan adik sepupu seperti Woojin. Kau tau dia 'kan?"

"ah, Woojin sunbae? Kurasa seluruh sekolah tau dia."

"ehei kau sudah seperti sekolah bertahun-tahun disana saja. Ingat kau baru dua minggu dikorea." Jihoon menahan tawanya.

"perempuan dikelasku banyak membicarakan Woojin sunbae, makanya aku tau."

Jihoon hanya termangut dan terdiam sejenak. "omong-omong, kau mau kemana?"

"aku ada jadwal les privat bahasa. Aku masih harus banyak belajar bahasa korea." Ujar lelaki muda itu. Matanya memandang lurus ke arah jendela mobil.

"tapi kupikir kau sudah cukup lancar. Kau mengerti jika guru menerangkan dikelas 'kan?"

Guanlin terkekeh "tentu saja, sunbae."

Angkuh. Kata pertama yang Jihoon dan mungkin banyak orang ketika melihat Guanlin berjalan dengan kaki jenjangnya. Wajah dan penampilan Guanlin memang tidak sesuai dengan usianya. Iya, awalnya Jihoon mengira Guanlin akan berada diangkatan yang sama dengannya, namun perkiraannya salah. Bahkan Guanlin lebih muda 2 tahun darinya.

Sejak pertama kali Guanlin menginjakkan kakinya ke sekolah barunya yang sekarang, ketika pagi itu ia melirik Jihoon yang merasa malu karena temannya menjadi sorotan beberapa orang didekatnya. Cantik. Kata pertama yang Guanlin ucapkan didalam benaknya ketika bertatapan dengan manik Jihoon. Hanya sedetik namun membuat ia menahan senyumnya. Jihoon sunbae cukup menarik perhatiannya.

Hari kedua Guanlin disekolah barunya ia dipertemukan lagi dengan Jihoon. Bocah yang memiliki tinggi setinggi tiang itu kebingungan ketika berada dikoridor dekat ruang aula. Ketika itu koridor sepi, Guanlin sendiri tertinggal teman-teman sekelasnya. Ia lupa jalan untuk kembali ke kelasnya, ada banyak lorong untuk ke suatu tempat digedung itu. Ia jadi frustasi.

Tapi bak malaikat penolong, Jihoon dan seorang temannya—Joo Haknyeon melintas tak jauh dari Guanlin berdiri. Tanpa ragu Guanlin memanggil kedua seniornya dan mendekatinya untuk dimintai tolong. Kalau bukan pada Jihoon sih Guanlin mana mau meminta tolong seperti ini, lebih baik ia langsung menelpon petugas sekolah dan menjemputnya. Tapi Jihoon itu kelewat menggemaskan, Guanlin semakin ingin dekat dengan seniornya itu.

"sunbae, boleh tidak aku meminta nomor ponselmu?"

.

.

Langit seolah memberi harapan ketika awan kelabu menutupi matahari menjelang sore hari.

Sudah beberapa hari ini, aku merindukan hujan. Awan kelabu dan gemuruh petir hanya memberi harapan palsu.

Tidak ada rintikan hujan hingga malam hari ini. Hanya semilir angin hangat yang berhembus menghempas helaian rambutku.

Aku merindukan hujan. Aku merindukan aroma tanah yang bercampur bulir hujan. Iya, sudah hampir seminggu ini. Apa ia tidak merindukanku?

Hujan dan kau itu sama. Aku selalu menyukainya dan aku selalu merindukannya.

Kau dan hujan itu sama. Sudah seminggu ini hilang, meninggalkan jejak kerinduan dan aku merasa kegelisahan. Kau merasakan itu? Kau ingat itu rain?

Kapan kau akan datang padaku dan menyapaku?—

"menulis apa eum?"

Pergerakan jemari Jihoon terhenti tatkala seseorang bertanya yang cukup mengejutkannya. Ia terlalu berkonsentrasi sampai ia tidak menyadari jika Hyungseob sudah duduk dihadapannya membawa nampan berisi 2 cup ice coffee.

"hanya iseng saja. Aku sedang merindukan hujan." Jihoon mengambil satu minuman yang telah dipesan Hyungseob dan menyedotnya.

Hyungseob tersenyum jahil. "eiy kau merindukan rain ya? Biar kulihat puisimu." Tangan Hyungseon bersiap menggapai buku Jihoon namun dengan cepat sang pemilik memukul tangan Hyungseob. Hyungseob mengaduh kesakitan.

"aku benar-benar merindukan hujan, bukan rain! Jika kau ingin lihat apa yang kutulis, nanti akan ku kirim ke blog-ku." Lelaki gembul itu mengerucutkan bibirnya.

"tapi barusan aku melihat kalimat rain." Ucap Hyungseob masih pada mode jahilnya.

"apa kau tidak merasa aneh? Aku merasa ada sesuatu yang hilang. Perasaanku juga. Aku tau kan jika aku menyukai hujan sebelum aku dekat dengan Jinyoung? Seminggu ini hujan tidak turun, udara terasa sangat panas dan kering, moodku pun tidak sebagus ketika hujan masih mau turun. Dan, hanya kebetulan saja karena sudah seminggu ini Jinyoung-pun tidak mengabariku lagi. Terlebih sekarang sudah liburan." Ujar Jihoon panjang lebar. Hyungseob hanya mengangguk-anggukan kepalanya.

Kedua pemuda itu tengah menikmati malam musim panas disebuah cafe outdoor yang menyuguhi pemandangan malam kota Seoul dari ketinggian. Cafenya tidak terlalu jauh dari rumah Jihoon juga Hyungseob, bisa dibilang pertengahan diantara rumah kedua pemuda bersahabat itu.

"Jinyoung benar-benar tidak mengabarimu?"

Jihoon bergerak gusar. Ia menggelengkan kepalanya. "tiga hari yang lalu ponselku kan rusak. Ia sempat bertanya pada Woojin, tapi setelah itu tidak ada lagi." Ia mencebikan bibirnya sebal.

"ckck ia benar-benar menjadi tega sekarang." Hyungseob menggelengkan kepalanya.

"kupikir itu sifat aslinya. Mungkin." Pemuda itu mengangkat bahunya singkat.

"kau harus membuatnya menyesal, Ji." Ujar Hyungseob seperti serius.

"hm, seperti apa?"

Hyungseob tersenyum menyeringai.

.

.

.

TBC

makin ngebosenin ya?

ada yang masih nunggu cerita receh ini?:( aku lihat review semakin sedikit, sedih akutu:(

ehey winkdeep shipper berbahagia lah akhir-akhir ini banyak winkdeep moment makin gregett

oh iya ada yg mau usul kelanjutannya/cara bikin si baejin nyesel? boleh pm aku ya

Review juseyoo