Game On
.
Characters belong to Masashi Kishimoto.
.
This Is SasuHina Story!
Alternative Universe! Out Of Character! Typical Errors!
You've been warned!
.
And please note that I already got you warned that anything can happen.
.
Inspired by an romance-action novel yang saya lupa judulnya T.T
.
.
.
"Fish and Chips di sana..." Hinata menunjuk kepada salah satu kios yang ada di dekat taman kota yang jaraknya tak begitu jauh dari flat mereka. "Rasanya enak. Aku mencobanya kemarin."
Sasuke masih diam dengan raut wajah datar namun tetap merespons apa yang Hinata katakan dengan berjalan menuju kios kecil yang ditunjuk Hinata barusan. Hinata menunggu beberapa langkah di belakang Sasuke saat pria itu terlibat percakapan dengan si penjual, percakapan untuk memesan makanan tentu saja.
Sasuke kemudian meletakkan beberapa lembar uang di meja kasir setelah dia bungkus fish and chips tersaji. Ia mengambil bungkus itu dengan dua tangannya dan menyodorkan salah satunya kepada Hinata dan berlalu dari kios itu. Dengan senyum kecil, Hinata menggumamkan terima kasih kemudian ikut melangkah membuntuti Sasuke.
Mereka berjalan dalam diam sambil mengunyah makanan masing-masing, tanpa repot-repot mencari tempat sementara untuk duduk dan menikmati fish and chips mereka. Merasa bosan, Hinata mencoba membuka pembicaraan sebelum ia kehilangan nafsu akan fish and chips favoritnya itu.
"Bagaimana pekerjaanmu?"
"Mengerikan," jawab Sasuke singkat.
Hinata menelan kunyahannya. "Padahal kukira pekerjaan itu cukup cocok untukmu."
"Memang," aku Sasuke, suaranya yang pelan terdengar sangat jelas di gang yang mereka lalui itu. "Tapi sangat tidak menyenangkan saat kau diperbolehkan memegang pistol tanpa benar-benar boleh menggunakannya."
Hinata terkekeh pelan, tentu saja, sangat tipikal Sasuke sekali. Ia kemudian sedikit mengedarkan pandangan, meneliti sekelilingnya dan baru menyadari bahwa mungkin mereka tengah berada di sudut kota. Lagi, mereka sepertinya telah menjadi perhatian beberapa orang berpakaian lusuh juga para wanita malam di sana.
"Aku yakin pasti ada sisi yang cukup menyenangkan dari pekerjaanmu," lanjut Hinata setelah ia berhasil mengalihkan fokus dari sekitarnya.
Sasuke melirik Hinata sejenak sebelum menjawab. "Ya. Bukan hal yang menyenangkan sih, tapi gadis yang aku kawal cukup baik."
"Benarkah?" jawaban Sasuke cukup menarik perhatian Hinata secara berlebih. Karena jelas, menilai seseorang dengan label 'baik' itu sangat bukan Sasuke sekali. "Apa kau berniat untuk mencoba berteman dengannya?"
"Bukan urusanmu, Agen Hyuuga," jawab Sasuke ogah.
"Dimengerti, Senior Agen Thunder."
Untuk beberapa detik, mereka saling memandang dan bertukar senyum ringan tanpa menghentikan langkah. Selanjutnya kembali hening sampai mereka tiba-tiba mendengar jeritan dari gang yang baru saja mereka lewati.
Refleks, Hinata membalikkan tubuh untuk melihat apa yang terjadi dan mendapati seorang pria bertubuh besar tengah menodongkan sebilah pisau tepat di leher seorang wanita. Pria itu mengucapkan beberapa kata berbahasa Mandarin dengan nada tajam. Dan dari yang Hinata tangkap, pria itu meminta uang secara paksa dari si wanita.
Hinata bergidik ngeri mendengar sumpah serapah dan ancaman yang terlontar dari pria itu hingga agak tak menyadari Sasuke yang sudah mengambil langkah untuk pergi menjauh.
"Sasuke," panggil Hinata setelah sadar ketiadaan Sasuke di sisinya. "Kau tidak berniat membantunya?" Hinata berusaha mengejar langkah Sasuke.
"Aku tidak peduli," ujarnya enteng tanpa menghentikan langkah. Hinata kembali menengok ke belakang, kemudian berhenti mengekori Sasuke.
"Hei!" Hinata berseru cukup keras dan sukses membuat penodong tadi memberikan atensi padanya.
Selanjutnya, entah dari mana, Hinata sudah dikelilingi beberapa pria berbadan besar yang tampangnya seperti gerombolan pemotor liar. Mereka menatap Hinata tajam meski jarak mereka tak begitu saling merapat.
"Oh, keparat!" Sasuke mengumpat kesal. "Jangan bertingkah seperti pahlawan saat kau bahkan tidak bisa menyelamatkan seekor kucing," geramnya keras. Tanpa memedulikan apapun, Sasuke mendekati Hinata, memasuki lingkaran orang-orang besar itu kemudian meraih pergelangan tangan wanita itu dan menariknya menjauh, tak peduli dengan tatapan tajam yang diberikan gerombolan itu.
"Lepas!" Hinata memaksa menarik tangannya hingga terlepas dari genggaman Sasuke ketika mereka sudah cukup jauh. Setelah terlepas, ia melangkah kesal mendahului pria itu.
"Apa lagi sekarang?" tanya Sasuke jengah. "Kau marah?"
Hinata berbalik dan mendorong tubuh Sasuke yang memang berjarak tak lebih dari selangkah di belakangnya. "Kalau kau tidak berniat melakukan apapun, setidaknya biarkan aku yang membantunya!"
Sasuke terkekeh kecut barang sejenak sebelum ekspresinya kembali keras. "Kau bercanda atau memang terlalu tolol?!" tanyanya sarkatis. "Kita beruntung karena mereka tidak mengejar kita karena tindakan cerobohmu! Aku tidak boleh tertangkap karena hal yang tidak perlu di negara ini dan itu juga berlaku untukmu!" tuding Sasuke. "Jadi berhentilah melibatkan dirimu dalam masalah!"
Hinata terdiam, menemukan kebenaran dari apa yang Sasuke katakan. Bahwa mereka memang harus menjauh dari masalah.
"Aku tidak berniat untuk mengasihani siapa pun di sini. Jadi jika kau terjebak dalam masalah karena ketololanmu, itu menjadi masalahmu sendiri, mengerti?!" ujar Sasuke final sebelum mengambil langkah lebar dan cepat melewati Hinata.
Butuh beberapa saat untuk Hinata kembali mengumpulkan kesadarannya secara penuh. Ia kemudian mulai mengikuti langkah Sasuke kembali ke flat mereka, beberapa langkah menjaraki dirinya di belakang Sasuke.
Saat mereka tiba di flat, Sasuke langsung masuk kamar, melepas kaus dan ikat pinggangnya kemudian merobohkan diri di atas tempat tidur. Hinata menyusul namun berhenti di ambang kamar.
"Maaf," gumam Hinata, pelan namun yakin masih bisa didengar pria itu.
"Aku tidak peduli," responsnya dengan mata yang sudah terpejam.
"Sasuke..." Hinata menghembuskan napas sebelum melangkah lebih ke dalam kamar hingga ia kini berdiri dua langkah di sisi tempat tidur. "Aku mohon, jangan lagi. Jangan mengabaikanku lagi. Jangan membenciku lagi," pintanya.
Sasuke membuka kelopak matanya, menampilkan iris kelam miliknya kemudian berbaring menyamping dengan satu tangan menopang kepala, ia menatap Hinata. "Kurasa lebih baik jika tetap seperti ini," ujarnya, kali ini dengan nada tenang.
"Tidak. Sudah kukatakan aku ingin kita berteman," sanggah Hinata cepat. "Kau mungkin melihatku seperti rekan yang menyebalkan, tapi itu tidak berarti kita harus saling membenci."
"Entahlah. Aku hanya berpikir akan lebih baik jika memang aku benar membencimu."
Hinata berjalan perlahan ke arah jendela kamar yang entah sejak kapan terbuka. "Aku tidak ingin kau membenciku," gumamnya, ametisnya memandang kegelapan malam di luar sana.
"Terkadang..." satu kata dari mulut Sasuke yang diucapkan dengan keraguan itu membuat Hinata kembali memberikan atensinya kepada pria itu. Hinata melihat kali itu pandangan pria itu tak terarah padanya. "Aku merasa tidak berguna saat kau... menyuruhku melakukan sesuatu. Itu... membuatku marah," ujarnya dengan tatapan dan nada menerawang. "Bukannya aku ingin memimpin atau apa, hanya saja... aku... entahlah, sulit sekali menjelaskannya."
"Aku mengerti. Kau tidak suka diperintah," tebah Hinata.
"Tidak, bukan itu," Sasuke menggeleng, kali ini ia berbaring terlentang, manik gelapnya menatap langit-langit. "Sebagai agen aku selalu menjalankan perintah. Tapi saat kau yang melakukannya... aku tidak menginginkannya. Aku tidak ingin kau menganggapku tidak berguna."
"Hei..." Hinata berkedip beberapa kali. "Aku tidak pernah menganggapmu seperti itu."
"Terserah," Sasuke menghela napas. "Lupakan saja, jangan membicarakan hal ini lagi," putusnya.
"Baiklah," bisik Hinata, ia menatap sosok Sasuke yang masih berbaring sesaat kemudian bergerak hendak keluar kamar.
"Hei..." suara berat Sasuke kembali membuatnya berhenti saat ia sampai di ambang pintu. Hinata berbalik melihat pria itu yang kini sudah terduduk. "Kasur ini cukup besar, kurasa," Sasuke tak memandang ke arahnya, tangan pria itu mengusap-usap ringan tengkuknya sendiri. "Maksudku... kau bisa tidur di sisi sebelah sana," ujarnya hampir menyertai bisikan.
"Oh... tidak perlu, terima kasih."
"Aku tahu tidur di sofa itu sangat tidak nyaman," timpal Sasuke. "Jangan takut, aku tidak akan melakukan apapun. Lagian kau juga tidak sebegitu menariknya sampai membuatku ingin melakukan apapun," jelasnya plus setengah cibiran di kalimat terakhir.
"Sungguh?" Hinata memandang pria itu dengan satu alis terangkat. Ia sebenarnya tak benar-benar mempertanyakan niat asli Sasuke. Ia bahkan tak sempat berpikiran buruk tadi.
"Aku hanya kasihan jika anak manja sepertimu harus tidur di sofa," Sasuke mengatakan itu dengan seringai lebar yang dilihat Hinata begitu menyebalkan.
"Kau menyebalkan," Hinata menyuarakan komentarnya.
"Dan aku akan tetap menjadi orang yang menyabalkan untuk besok, juga seterusnya," Sasuke tertawa kecil. "Tapi malam ini, aku ingin kau tidur di sini... bersamaku."
Pipi Hinata agak memanas mendengar kata terakhir itu. Namun ia mencoba tak acuh. Ia mengedikan bahu sesaat kemudian naik ke tempat tidur. Sebelum berbaring, Hinata mendapati Sasuke berdiri, tahu apa yang akan pria itu lakukan, Hinata segera buka mulut untuk memperingatkan.
"Jangan lepas celanamu!" tegasnya, beberapa hari tinggal bersama, ia sudah menyadari kebiasaan Sasuke yang hanya akan memakai bokser pendek untuk tidur.
Sasuke melirik Hinata dengan tatapan bertanya, membuat Hinata menghela napas memikirkan takdir yang mempertemukannya dengan pria super tak peka seperti partnernya ini.
"Kau sudah melepas kausmu. Setidaknya hargai keberadaanku sebagai wanita di sini dengan tetap bercelana," jelas Hinata.
Sasuke terkekeh renyah, tapi kemudian menurut dan kembali menjatuhkan diri ke ranjang. "Di apartemenku, aku tidur telanjang jika kau mau tahu."
Mata Hinata membelalak mendengar Sasuke menginformasikan pribadi seperti itu dengan entengnya. Ia benar-benar tak habis pikir, manusia gua macam apa pria di depannya ini. Namun Hinata tak membalas ucapan pria itu. Ia membaringkan tubuhnya di tepi tempat tidur memunggungi Sasuke.
"Selamat malam," ujar Hinata.
Sasuke tak menjawab. Hinata hanya merasa ranjang bergerak beberapa kali, menandakan pria itu masih mencari posisi yang nyaman untuk tertidur. Tak sampai lima menit, barulah gerakan di belakangnya berhenti. Hinata melirik ke belakang dan mendapati Sasuke sudah terlelap dengan posisi terlentang.
..
...
..
Beberapa hari ini, Hinata merasakan perubahan tentang sifat Sasuke. Bukan hal yang buruk, malah lebih baik. Belakangan ini Sasuke seperti lebih bisa mengendalikan suasana hatinya sendiri, pria itu sudah jarang memancing perdebatan tak penting. Tapi perlu diingat, jarang tidak sama dengan tidak pernah.
Dengan langkah santai, Hinata berjalan sambil menengadah menatap langit Asia Tenggara yang sebelumnya begitu biru itu menggelap. Ia belum mendapat pekerjaan, interview yang ia incar baru akan digelar beberapa hari lagi. Jadi daripada diam di flat, ia memutuskan untuk melihat-lihat gedung yang akan digunakan untuk kongres, sedikit menjelajah untuk mencari di sisi mana saja pintu masuk dan keluar yang mungkin akan digunakan juga mempelajari situasi di sana.
Suasana petang ini sepi seperti biasa. Hinata berjalan pada gang sempit yang merupakan celah yang diciptakan dua gedung apartemen pinggiran kota. Keadaan ini agaknya kembali membuatnya teringat kejadian tempo hari saat ia melihat penodongan seorang peria terhadap wanita. Sasuke saat itu menolak untuk membantu, namun ternyanta pria itu memiliki alasan yang masuk akal. Dan sekarang, Hinata sadar bahwa ia juga harus lebih berhati-hati dalam mengambil tindakan.
Bicara soal Sasuke. Semalam adalah malam kedua mereka berbagi kamar. Dan tadi pagi Hinata membuka mata dengan Sasuke yang masih terlelap merengkuh tubuhnya dari belakang. Perasaan itu lagi-lagi mendatanginya, membuatnya tak bisa menentukan apa yang harus ia lakukan.
Hinata tak melepaskan diri dari pelukan Sasuke saat itu. Ia memutuskan untuk diam dengan mata kembali terpejam, meski ia tak benar-benar tertidur. Sampai mungkin lima belas menit terlewat, Hinata merasakan pergerakan pada tubuh di belakangnya. Mungkin Sasuke sudah terbangun.
Rengkuhan tangan besar itu terlepas dari tubuh Hinata, namun ia tak merasakan gerakan yang menandakan Sasuke sudah bangkit dari tempat tidur. Itu membuatnya yakin Sasuke masih di belakangnya, entah apa yang pria itu lakukan. Hinata masih diam dengan mata terpejam hingga ia merasakan sebuah tangan menyeka helai indigo yang jatuh di wajahnya.
Dua menit tak merasakan apapun sampai Hinata merasakan helaan napas yang begitu pelan agak menerpa bagian belakang telinganya. Selanjutnya tempat tidur kembali bergerak dan suara pintu terdengar, menandakan Sasuke tak lagi berada di kamar itu. Dan barulah Hinata membuka matanya, memikirkan apa saja yang mungkin pria itu lakukan tadi.
Apapun itu, yang terpenting adalah bagi Hinata mengetahui maksud Sasuke yang sebenarnya. Ia perlu tahu apakah afeksi yang dirasakannya dari Sasuke itu benar murni. Hinata hanya ingin menjaga hatinya, ia sudah terlalu tersakiti karena sebuah kepercayaan. Namun entah apa, ada sebagian dari dirinya yang ingin memberikan kepercayaan itu lagi kepada Sasuke.
Lamunannya tentang semua itu seketika buyar saat secara paksa lengannya diseret ke bagian gang yang lebih gelap. Matanya melebar saat wajah beserta tubuh bagian depannya sudah di desak menghadap dinding bata.
Hinata mencoba menengokkan kepalanya ke belakang dan mendapati seorang pria yang menjadi pelaku penyerangan ini. Pria itu terlihat tak terlalu jangkung, tingginya mungkin tak jauh-jauh dari Hinata, namun Hinata merasa cengkeraman pria itu begitu kuat di pergelangan tangannya.
"Teriaklah dan aku akan menggorok lehermu," ancam pria itu dalam bahasa Inggris dengan aksen yang agak aneh.
"Tolong lepaskan. Aku tidak memiliki apapun, aku tidak membawa sepeserpun," ujar Hinata dengan nada yang ia jaga tetap tenang.
"Kau tahu bukan hanya itu yang aku inginkan, Manis," Hinata merasa hembusan napas pria itu menerpa tengkuknya. "Kau bukan warga asli sekitar sini, bukan? Apa yang kau lakukan petang hari seperti ini sendirian?"
"Aku tidak mengerti apa maksudmu," balas Hinata.
Pria itu memutar paksa Hinata, membuat mereka berhadapan. Yang jelas merupakan celah untuk Hinata melawan. Belum sempat pria itu kembali menghimpitnya di dinding bata, Hinata sudah mengangkat lututnya dan menghantamkannya di antara dua paha pria itu.
Pria itu mundur dua langkah disertai teriakan murka dan umpatan-umpatan lain. Tanpa mengulur banyak waktu, Hinata kembali bergerak melayangkan beberapa tinjuan di dada dan wajah pria itu sebelum melayangkan tendangan yang menghantam sisi kiri si pria.
Pria itu ambruk namun terlihat masih sadarkan diri. Hal ini dengan cekatan dimanfaatkan Hinata untuk kabur. Hingga beberapa blok jauhnya barulah Hinata berhenti, ia menyandarkan tubuh di dinding sambil mengatur napas. Pandangannya menyapu waspada meyakinkan diri bahwa ia tak lagi dikejar.
Hinata menghela napas. Jika saja ia seperti Sasuke, mungkin pria tadi sudah mati pada detik pertama pria itu menyentuhnya. Tapi tidak, Hinata bukan Sasuke. Ia memilih lari daripada harus bertindak lebih yang berpotensi menghilangkan nyawa pria itu. Sekarang Hinata memang bagian dari agen pembunuh. Namun cukup baginya membunuh karena perintah. Hinata tak ingin membunuh orang lain karena dirinya sendiri.
Setelah kerja paru-paru dan jantungnya sudah cukup normal, Hinata segera kembali ke flat. Setibanya di sana, ia langsung menuju dapur mencari air minum untuk meredakan dahaganya. Belum satu gelas ia habiskan, suara debam pintu terbuka yang cukup keras terdengar. Ia meletakkan gelasnya kembali dan berjalan ke ruang tengah.
Langkahnya terhenti melihat Sasuke di sana. Pria itu terlihat kacau dengan postur sempoyongan juga surai dan pakaiannya yang Berantakan. Dengan tangan kiri yang menenteng hoodie, Sasuke terlihat kesusahan melepaskan sepatunya.
"Sasuke?" Hinata menatap tak percaya.
Wajah Sasuke terangkat saat pria itu merasa namanya disuarakan. Ia kemudian mendapati Hinata menatapnya. Tatapan heran wanita itu dibalasnya dengan mata menyipit sebelum ia abaikan kembali. Sasuke kembali atas usaha melepas sepatunya. Hingga setelah alas kaki berwarna biru gelap itu terlepas, ia langsung berjalan menuju kamar melewati Hinata.
Saat pria itu melewatinya, barulah Hinata sadar bahwa pria itu tengah mabuk. Aroma alkohol begitu jelas masuk ke indra pembaunya. Hinata kemudian memutuskan untuk mengikuti Sasuke, namun cukup sampai di ambang pintu kamar.
"Kau... mabuk," ujarnya masih tak percaya.
"Haha, terima kasih telah memperjelasnya, Nona Genius," racau Sasuke, ia menjatuhkan asal hoodie-nya kemudian menjatuhkan diri di atas ranjang. "Bukan salahkuuu..." ujarnya dengan nada yang terdengar seperti orang merajuk.
Hinata benar-benar mematung dibuatnya. Ia ingat betul bagaimana Sasuke benar-benar menghindari alkohol saat di Denmark. Dan ia juga ingat Sasuke mengatakan padanya bahwa pria itu memang tidak suka mengonsumsi cairan itu.
"Aku bisa jelaskan sebelum kau mengomel seperti seorang jalang manis yang berhasil membuat hidupku berantakan," racau Sasuke dengan mata sayu, telunjuknya mengacung di udara selama beberapa detik. "Mereka merayakan ulang tahun bedebah itu. Dan aku mencoba sampah cair yang warnanya seperti air kencing yang mereka sebut tequila. Hanya sedikit, sedikit sekali," Sasuke menggesturkan ibu jari dan telunjuknya, menggambarkan kesedikitan yang ia maksud. "Tapi kemudian aku merasa cairan itu sudah menjadi sahabat lamaku," Sasuke tertawa tak jelas.
Hinata diam, tak tahu harus bereaksi seperti apa. Mungkin memang seharusnya ia membiarkan Sasuke hingga pria itu sadar dengan sendirinya. Ia berniat berbalik, namun Sasuke menghentikannya.
"Tunggu! Aku belum selesai," Sasuke membersut kesal, membuat Hinata menghela napas dan memilih diam di tempatnya. "Minuman itu seperti berteman denganku. Tapi kau tahu apa?" Sasuke melanjutkan racauannya. "Aku membencinya! Kau tahu kenapa? Karena minuman itu sama sepertimu!" Sasuke menudingkan telunjuk ke arah Hinata.
"Kau... sebaiknya kau istirahat," gumam Hinata.
Hinata masih tak bergerak dari tempatnya, ametisnya masih menatap Sasuke dengan sisi lainnya itu. Hinata menggigit bibir. Ia tak tahu apakah Sasuke memiliki kepercayaan, namun jelas sekali ia tahu bahwa pria itu memegang erat prinsip dalam hidupnya.
Dan malam ini, melihat Sasuke seperti ini. Sesuatu mengatakan kepada Hinata bahwa pria itu perlahan menghancurkan prinsip hidupnya satu per satu dan itu karena dirinya.
"Kau tahu apa lagi? Harusnya aku sudah membunuhmu jauh-jauh hari," suara parau Sasuke kembali melingkupi ruangan.
"Tapi kau tidak melakukannya," respons Hinata rendah.
"Karena kau sangat mengganggu, menyebalkan, keparat!" balas Sasuke cepat. Selanjutnya hening selama beberapa menit sampai Sasuke kembali bicara. "Aku tidak membunuh mereka karena aku gila."
Hinata mengangkat alis bingung dengan topik baru Sasuke yang sama sekali tak berhubungan dari pembicaraan sebelumnya. Ya, Hinata juga tidak mengekspektasikan pembicaraan konstan mengingat keadaan Sasuke sekarang.
"Mereka tidak cukup bagus untuk bekerja denganku. Tingkat tiga. Apa yang bisa diharapkan?Sebagian dari mereka tertangkap hingga membuatku harus membunuh mereka. Sebagian lagi terluka parah dan aku hanya membantu mereka keluar dari rasa sakit yang mereka rasakan," ucapan Sasuke membuat Hinata paham dengan dengan arah pembicaraan mereka yang baru. "Tapi kalau kau tanya. Tidak, aku tidak merasa menyesal. Aku tidak peduli. Mereka bukan siapa-siapa bagiku. Dan kau juga seperti itu pada awalnya, tapi..." Sasuke menghentikan racauannya tiba-tiba, ia menatap Hinata dari posisi berbaringnya.
Hening kembali mengisi ruangan. Hinata tak beranjang meski kakinya sudah agak merasakan pegal karena berdiri sejak tadi.
"Tapi sekarang..." beberapa saat berselang hingga suara Sasuke kembali menyapa indra pendengaran Hinata. "Aku tidak bisa membayangkanmu terluka. Aku ingin kau... aman. Dan itu membuatku takut," nada bicara pria itu melembut. "Aku takut suatu hari nanti aku akan melakukan kecerobohan yang akan membunuhku saat aku akhirnya memiliki seseorang yang aku rindukan. Aku tidak menginginkan itu. Aku..."
"Sasuke..." Hinata mencoba menyela.
"Aku membencimu!" sambung Sasuke, kini dengan setengah berteriak. "Aku gila karena mu. Kau benar-benar tidak sehat untuk jiwa! Apa kau tahu berapa kali aku bermasturbasi dalam sehari karena mu belakangan ini?! Kurasa harusnya aku tidur di kamar mandi saja agar tidak perlu bolak-balik menuntaskan urusanku itu," Sasuke bersungut sebal.
Setelah itu, Hinata tak mendengar apapun lagi dari Sasuke. Ia mendekat dan menyadari hembusan napas pria itu yang begitu teratur, ya, Sasuke sudah terlelap. Hinata beranjak kembali ke dapur, ia butuh air untuk membasahi kerongkongannya yang kembali mengering.
Segelas air habis dalam seteguk. Hinata lalu berdiri diam, tangannya ia tumpukan di konter dapur dengan kepala tertunduk. Ucapan Sasuke tadi begitu menjelaskan apa yang dirasakan pria itu. Dan itu membuat kepala Hinata pening.
Hinata pernah disakiti, ia pernah melewati hari-hari berat yang mengenalkannya kepada kesakitan. Dan Hinata sadar bahwa Sasuke pun tak jauh berbeda. Selebihnya, Hinata sadar bahwa Sasuke pun sama manusianya dengan dirinya, dengan yang lainnya.
Hanya karena pekerjaan pria itu adalah membunuh, tidak berarti orang lain boleh melihatnya sebagai seorang monster. Hinata tak yakin ada orang lain yang tahu tentang sisi lain Sasuke yang barusan ia lihat. Sasuke sama seperti Hinata, mereka sama-sama membangun dinding tebal untuk melindungi diri mereka sendiri. Sasuke juga mungkin pernah mengalami masa lalu yang sulit.
Bedanya adalah... bahwa Sasuke selalu ingin terlihat kuat dan tanpa celah.
Setelah membasuh tangannya di wastafel, Hinata kembali ke kamar tidur. Ia duduk di tepi ranjang, menatap Sasuke yang terlelap untuk beberapa saat sebelum berdiri lagi. Dimatikannya lampu kamar kemudian kembali beranjak ke sofa.
Hinata membaringkan diri di atas sofa, ia kemudian menenggelamkan wajahnya pada bantal yang sudah disediakan di sana. Otaknya berpikir keras. Jika ia berniat untuk merespons apa yang Sasuke rasakan, ia harus memastikan perasaannya kepada pria itu juga murni dan nyata. Hinata tidak bisa bertindak ceroboh yang nantinya berakhir menyakiti hati salah satu atau bahkan mereka bedua.
Masalahnya adalah... apakah ia bisa membiarkan hatinya untuk merasakan perasaan itu lagi?
..
...
..
Lagi-lagi, Sasuke tak nampak di flat mereka saat Hinata terbangun pada pagi harinya. Entah bagaimana, hal itu sedikit banyak mempengaruhi suasana hati Hinata. Rasanya hari ini ia malas melakukan apapun hingga ia berakhir hanya dengan memainkan tabletnya seharian ini.
Hinata menghembuskan napas panjang, kepalanya dipenuhi oleh Sasuke dan hanya Sasuke. Ia kemudian meletakkan kembali tablet di genggamannya ke atas meja sebelum menyenderkan tubuhnya di punggung sofa.
"Apa yang telah kau lakukan padaku, Sasuke," bisiknya pada diri sendiri dengan mata terpejam.
Hanya selang beberapa detik, Sasuke masuk ke dalam flat. Hinata yang agak terkejut dengan suara pintu terbuka refleks menegakkan posisi duduknya, ia lalu melihat Sasuke berdiri diam di dekat pintu yang sudah kembali tertutup.
Keduanya seperti mematung namun tatapan dua pasang manik yang berwarna kontras itu saling mengunci satu sama lain. Sasuke terlihat lelah, jelas. Dan Hinata terlihat sama lesunya, entah mengapa, mengingat ia tak melakukan apapun hari ini.
Dengan kaki yang agak bergetar dan bumbu keraguan, Hinata berdiri kemudian mengambil langkah mendekati Sasuke. Hal berikutnya yang disadari Hinata adalah, ia sedikit berlari dan langsung menubruk Sasuke, berjinjit menyatukan bibir pria itu dengan bibirnya.
Hinata merasa kakinya kehilangan kekuatan untuk berdiri saat bibir Sasuke membalas ciumannya dengan intensitas yang lebih dalam. Tangannya mencengkeram erat kain pakaian Sasuke saat tangan pria itu menangkup wajahnya tanpa melepaskan tautan bibir mereka.
"Sasu..." Hinata menyebut namanya sembari mengambil napas di tengah ciuman mereka.
Tak ada balasan verbal dari Sasuke. Yang pria itu lakukan selanjutnya adalah memperdalam ciuman mereka dengan melibatkan lidahnya yang memaksa masuk ke dalam rongga mulut si wanita. Telapak tangan besarnya meninggalkan wajah Hinata hanya untuk perlahan turun dan menyamankan diri di pinggang ramping Hinata. Entah sadar atau tidak, ia kemudian bergerak menuntun Hinata. Sasuke mendudukkan diri di atas sofa dan memosisikan Hinata di pangkuannya tanpa sedetik pun melepaskan bibir wanita itu.
Hinata mengalungkan tangannya di leher Sasuke saat pria itu mulai memiringkan wajah untuk mendapat sudut yang lebih nyaman untuk ciuman mereka. Hinata tenggelam. Ciuman Sasuke begitu kasar, agresif dan terkesan terburu, namun ia merasa tak keberatan dengan semua itu.
Sasuke memisahkan diri saat merasakan gigi Hinata menggigit pelan bibir bawahnya. "Hinata..." ia mendesah pelan, sorot matanya penuh kebimbangan.
"Tidak," Hinata menyela sebelum pria itu sempat mengatakan apapun. Masih pada posisinya di pangkuan Sasuke, ia menangkup wajah pria itu dan menatapnya dalam. "Aku tidak akan membiarkanmu kabur lagi malam ini," bisiknya.
Tangan kiri Sasuke terangkat dan mendarat di punggung tangan Hinata yang menangkup wajahnya, ibu jarinya bergerak mengucap pelan sedangkan tangan kanannya masih bertengger ringan di pinggang wanita itu.
Sasuke membawa satu tangan Hinata yang semula ditangkupnya ke dada. "Apa yang telah kau lakukan padaku?" bisik Sasuke.
Hinata menggigir bibir, tak menjawab. Ametisnya kini beralih menatap tangannya yang Sasuke posisikan di dada pria itu sendiri.
"Jangan lakukan ini," tambah Sasuke masih dengan bisikan rendah yang parau. "Aku mungkin tidak akan bisa menghentikan diriku sendiri kali ini," ibu jarinya kembali mengusap pinggang Hinata yang masih terbalut pakaian.
"Kalau begitu tidak perlu... kau tidak perlu menghentikan dirimu," wajah Hinata mendekat, ia menyentuhkan kening dan ujung hidung masing-masing.
Oniks Sasuke menatap manik ametis yang terlampau dekat itu dengan napas memberat. Beberapa saat hingga ia membiarkan keinginan menguasai dirinya. Diraupnya kembali bibir Hinata dengan gerakan lambat namun bertenaga.
Persetan dengan apapun. Yang ia tahu ia sangat menginginkan Hinata saat itu.
.
to be continued...
..
.
Fast up guyyss... bikos minggu depan saya ngga yakin bakal on time, so... here you are.
An yeap... Hinata ngambil langkah duluan karena kita bener-bener ngga bisa ngandelin cowok macem Sasuke buat urusan pdkt kayak gitu *kena chidori* :v
Ngomong-ngomong soal next chap, I'm a bit nervous. If you follow my stories, kalian pasti sadar kalo saya ngga bener-bener gamblang setiap masukin mature content *ini dusta kayanya :v*. Tapi belakangan, ada bisikan iblis[?] yang ngehasut saya bikin something hawt yang lebih detail dari yang biasa saya buat, is that ok?
Anyway, saya ada niat ngegantung kalian di ujung chap ini... berhasil ngga? wkwk *ditimpuk berjamaah :v
Thank you guys... Keep reading and ofc review is still and always be welcomed...
See yooww, byee~~~
