Main Cast : Chanyeol (25 years old ) X Baekhyun (10 years old)

Other Cast : Kejutan...temukan di dalam nyaa :)

Disclaimer : fic ini pure milik Gloomy Rosemarry aka Cupid KM

.

.

Previous Chapter

BYUUURRRR

"Eottohkkae, tanganku sangat licin rupanya…umm aku tak bisa berenang, jadi tunggu di sini hingga seorang datang arrasseo?"

"Uhmmp! Mmhhh! to—long! Uhmp!" Baekhyun meronta di dalam air, sekeras apapun ia mencoba untuk berenang ke permukaan.

Tali itu terlalu erat menjerat kakinya, menyeretnya semakin dalam ke dasar sungai.

"Ah…tapi sepertinya, tak akan ada satupun yang datang kemari. Bersenang-senanglah di dalam sana anak manis" Kikik wanita itu, seraya menghempas gaunnya, lalu melenggang anggun menuju istana.

Meninggalkan seorang bocah yang masih terjerat di dalam sungai itu.

.

..


Love Of Fallen Leaves

Chapter 5

.

.

"Kau sendirian?" Tanyanya, memastikan

"Nde...Mama (Yang Mulia Ratu)"

Seulgi tersenyum memandang dayang itu dari ujung kaki hingga ujung kepalanya, yakin wanita itu bisa menjadi tumpuannya, memuluskan semua rencana itu.

"Kemarilah" Seulgi menggerakkan telunjuk, memaksa dayang itu lekas mendekatinya lalu berbisik cukup lama di telinga wanita yang jika dilihat semuda dirinya.

Hingga beberapa saat setelahnya, wajah dayang itu terlihat pucat menahan rasa gelisahnya... namun mustahil jika ingin mengelak.

Bagi abdi sepertinya, sangat terlarang mengucap kata tidak. Ia hanya bisa menunduk dan terus berjalan ke depan mengikuti titah sang penguasa.

"Kau mengerti?" Seulgi mengangkat sebelah alis, memperkuat aksen tajam dari kedua matanya.

Sang dayang hanya mampu tertunduk, lalu mengangguk sangat pelan. "N-ne" Gumamnya dengan kedua tangan terkepal kuat-kuat.

"Baguslah... kerjakan tugasmu"

Dayang itu membungkuk, sebelum akhirnya memutar tubuh meninggalkan wanita yang masih memandang punggungnya dengan senyum terpaslukan itu.

.

.

.

.


Tak seperti biasanya, yang kerap melewatkan waktu bermainnya di dalam istana bersama para dayang dan pelayan.

Bocah mungil itu, kini tampak antusias bermain seorang diri dengan ketapel kecilnya, pemberian dari sang Ibu Suri. Ah! tampaknya wanita itu memang tau cara memanjakan Baekhyun.

Lihat saja, wajah serius itu. Sebelah mata menyipit bak handal dalam menaksir target, seiring semakin memanjangnya pelontar ketapel miliknya. Tiga buah persik berwarna jingga kemerahan di atas pohon itu menjadi incarannya kali ini.

"Tuan Muda.."

Hingga tiba-tiba saja Ia mendelik kesal begitu seorang wanita memanggilnya, mengacaukan konsentrasinya saja. Pikir Baekhyun.

Ia menghentak kaki, lalu memutar tubuh demi menatap wanita itu dengan jengkel. "Wae?!" Jeritnya tak bersahabat.

Wanita muda itu tampak tersenyum ramah, lalu mengeluarkan sebuah perahu kertas dari belakang tubuhnya.

"Tuan Muda...anda suka dengan perahu kertas ini bukan?"

Baekhyun mengerjap penuh binar melihat perahu kertas itu, Ia melonjak-lonjak kegirangan.

"Neh! suka! aku sangat menyukainya!"

Wanita itupun terlihat tersenyum makin ramah. "Mari Tuan Muda kita bermain perahu kertas ini di sungai" Bujuk dayang itu, dan benar saja Baekhyun terlihat semakin antusias mengikutinya, begitu Ia mendapatkan perahu kertasnya.

"Ahahahaha" Tawa riang Baekhyun terdengar riuh di sepanjang bantaran sungai, bocah itu begitu aktif...berlari mengiringi perahunya yang mulai mendahului perahu milik dayang itu.

Sementara sang dayang, hanya tertunduk meski nyatanya ia memang turut berlari mengikuti Baekhyun. Tak ada senyum darinya. Merasa hina pada dirinya sendiri. Ia tau benar, Baekhyun sosok periang bahkan sangat manis... terlalu picik jika sampai hati merenggut semua tawa riang bocah itu.

"Mian... jjeongmal mianhae" Gumamnya lirih, hanya mampu terdengar olehnya sendiri

Tapi Baekhyun tak menyadarinya, di balik pohon Ginko itu... sepasang mata tampak mengawasinya.

"Hhahaha kau kalah dayang!" Sesekali Baekhyun meniup-niup perahuya, bahkan mengibas-ngibasnya dengan daun kering. Berharap perahu kertas itu melaju lebih cepat.

Namun begitu keduanya tiba di tepi sungai berpalung dalam. Dayang itu tiba-tiba berhenti tampak ragu dengan pendiriannya, detik itu pula seseorang membekapnya dan menarik tubuhnya ke dalam semak.

"Uhmp!"

.

.

.

Baekhyun tetap berlari seorang diri mengejar perahunya hingga tiba-tiba saja, kakinya memijak sesuatu dan—

ZRAT

Bocah itu kebingungan, begitu sebuah tali menjerat kakinya.

"Da-dayang?"

Baekhyun memutar tubuh hendak menjeritkan protesnya, namun dayang itu tak lagi di belakangnya. Baekhyun menggerutu kesal, ia berjongkok untuk melepas jerat tali itu.

.

.

Namun tanpa terduga...seseorang mendorongnya dari belakang dan—

BYUUURRRR

Seorang wanita terlihat mengibas-ngibaskan tangannya sendiri, memandang puas pada hasil karyanya...membuat air sungai di bawah sana beriak hebat.

"Eottohkkae, tanganku sangat licin rupanya…umm aku tak bisa berenang, jadi tunggu di sini hingga seorang datang arrasseo?"

"Uhmmp! Mmhhh! to—long! Uhmp!" Baekhyun meronta di dalam air, sekeras apapun ia mencoba untuk berenang ke permukaan.

Tapi tali itu terlalu erat menjerat kakinya, menyeretnya semakin dalam ke dasar sungai.

"Ah…tapi sepertinya, tak akan ada satupun yang datang kemari. Bersenang-senanglah di dalam sana anak manis" Kikik wanita itu, seraya menghempas gaunnya, lalu melenggang anggun menuju istana.

Meninggalkan seorang bocah yang masih terjerat di dalam sungai itu.

.

.
.


"Tuan muda, apa anda sudah bangun? "

Seorang dayang tampak melangkah masuk mendekati ranjang Baekhyun, setelah sebelumnya mengetuk daun pintunya.

Ia meletakkan beberapa hidangan di atas meja, lalu tersenyum geli, ketika melihat...gundukan di atas ranjang. Ah sepertinya Baekhyun benar-benar tertidur pulas, hingga bergelut dengan selimutnya seperti itu.

"Tuan muda, lekaslah bangun. Makan pagi anda, sudah siap" Bujuk dayang itu lagi.

"..."

Tak ada sahutan yang terdengar, membuat dayang itu menghela nafas pelan lalu memutar tubuh hendak menyingkap selimut Baekhyun

"Tuan Muda, ini sudah sangat siang. Bangun dan—

Dayang itu mendadak terblalak lebar begitu membuka selimut Baekhyun, namun yang terlihat hanya tumpukkan bantal di dalamnya. Kemana perginya anak itu?

"T-tuan Muda?" Ia berlari panik, menelisik ke setiap ruangan dalam paviliun itu. "Tuan Muda Baekhyun!" Panggilnya lagi semakin kalut kala tak mendapati Baekhyun dimanapun,

menarik perhatian para pelayan dan dayang yang lain, hingga turut menghambur ke dalam.

"Ada apa dengan Tuan Muda?"

"D-dia menghilang!"

.

.

.


-Silla-

"Pihak kami mengaku keberatan Yang Mulia Raja. Jika anda tetap membiarkan anak itu di sini, bahkan hingga memberikan paviliun khusus untuknya"

Pungkas menteri yang sedari tadi berdiri di tengah mimbar dengan beberapa menteri lain yang duduk mengelilinginya, mengeja kalimat demi kalimat yang dianggapnya paling benar.

Raja itu masih saja memejamkan mata, terlalu muak sebenarnya bertahan dalam pertemuan ini, terlebih semua pak tua itu tengah menyinggung, Baekhyun kecilnya. Tentu Ia merasa tak nyaman dengan pembicaraan itu.

"Yang Mulia Raja tentu tak sembarang mengambil keputusan. Pasti ada alasan kuat sehingga beliau membawa anak itu ke Silla, bukankah demikian Yang Mulia Raja?" Sahut Menteri yang lain, mencoba mengungkapkan sisi positif dari keputusan Chanyeol.

"Tapi, anak itu putra dari musuh. Tak seharusnya kita membiarkan—

"Y-Yang Mulia Raja"

Tiba-tiba saja seorang kepala pelayan, mencoba berusaha menyela pertemuan penting itu. Membuat para petinggi kerajaan di dalamnya melempar tatapan menghunus. Merasa tak terima dengan sikap pelayan yang menurutnya tak sopan itu.

Chanyeol terlihat terhenyak, Ia mengenal betul siapa wanita itu. Ya! Kepala Pelayan dari paviliun Baekhyun. Namun dirinya tak bisa begitu saja memutuskan beranjak turun dari singgasana demi menghampiri wanita itu. atau nada sumbang dari cemooh semua pak tua itu yang akan berkoar, apabila Ia tetap memaksa ingin menghampiri pelayan tersebut.

Hingga akhirnya, ia mengutus penasehat kerajaan untuk menghampiri pelayan yang masih bersimpuh penuh gelisah itu.

Chanyeol menajam, melihat dengan seksama perubahan raut pria muda, yang terlihat terkejut kala mendengar bisikan pelayan itu.

"Yang Mulia, pertemuan ini jauh lebih penting dibandingkan pelayan rendahan itu, jadi—

"DIAM!" Sentak Chanyeol, membungkam telak pak tua itu dan membiarkan penasehat sekaligus pria kepercayaanya –Sehun-

menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi.

"Baekhyun menghilang" Bisik Sehun lirih.

Tak pelak, membuat Raja Silla itu bangkit berdiri, dan begitu tergesa beranjak meninggalkan singgasananya...tak peduli seisi ruangan mendadak riuh, bertanya-tanya bahkan menyerukan keberatannya akan sikap sang Raja yang tak selayaknya.

.

.

.

.


"APA YANG SEBENARNYA KALIAN KERJAKAN HAH!"

Lagi, amarah itu kembali menyentak...membuat para dayang dan pelayan di paviliun itu semakin menciut takut. Belum usai kekhawatiran mereka akan kemungkinan Baekhyun diculik, hukuman berat pun semakin terbias jelas dari sepasang obsidian Chanyeol. Tentu rasa takut itu bukan main lagi.

"Mohon ampun Yang Mulia Raja, kami bersungguh-sungguh menjaganya. Dan Ka-kami benar-benar tak melihat orang asing menyelinap masuk ke dalam paviliun ini" Ujar pelayan pria itu berusaha memberi penjelasan.

Dan memang benar apa yang diucapkannya itu, tak ada satupun penyusup yang menyelinap masuk. karna memang, bocah mungil itu sendiri yang diam-diam berjalan mengendap keluar, mengecoh para pelayan dan dayang penjaganya dengan kecerdikannya.

Akan tetapi sepertinya, ucapan pelayan itu hanya percuma. Chanyeol terlihat sama sekali tak ingin tau. Raja Silla itu terlalu diliputi amarah, hingga membuatnya kalut bahkan nyaris tak bisa berpikir jernih. Semua karna Baekhyun, seluruh tempat di istana ini telah Ia telisik dengan baik, namun nyatanya Ia tak menemukan Baekhyun.

Dimana anak itu dan bagaimana kondisinya...benar-benar membuatnya setengah gila.

"CARI! DAN JANGAN PERNAH KEMBALI SEBELUM MENEMUKANNYA!" Sentak Chanyeol sebelum akhirnya, mengibas pakaian agungnya dan berjalan tergesa menuju istana utama. Menarik pasukan dan pengintai terbaiknya...demi mencari bocah mungil itu.

.

.

.


"Ah...tak kusangka, semua rencanaku akan semudah ini"

Seulgi, terlihat berjalan riang menyusuri jalan setapak di istana itu. Sekeranjang buah persik pun bertengger manis di tangannya. Matanya makin membulat penuh binar, begitu melihat siluet Chanyeol tampak berjalan gagah dari gerbang istana. Ah! pemuda itu benar-benar semakin mempesona dan tampan, begitu angin turut mengibaskan surai hitam panjangnya. Tak biasa sekali...Raja menggerai tatanan rambutnya.

Pria itu semakin mendekat, membuatnya kian memasang senyum paling manis darinya.

"Suamiku, apa yang—

"MINGGIR!" Chanyeol mendorong bahu Seulgi, membuat wanita itu terjengkang begitu saja dan menjerit kesal, tak menduga pria itu akan bersikap seperti ini padanya. Beruntung, buah di tangannya tak tumpah begitu saja.

"Yack! Mengapa kau kasar sekali padaku!"

Namun jeritan Ratu Silla itu, seakan tertelan begitu saja. Tatkala dirinya melihat Chanyeol kembali bersama puluhan pria berbusana hitam. Bukankah mereka pasukan terbaik kerajaan ini? Untuk apa mereka semua dikerahkan? Mungkinkah Chanyeol sedang dalam sebuah misi penakluk yang lain?

Seulgi terus bertanya-tanya dalam batinnya. Ia tak tau apapun tentang semua ini, Ia seorang Ratu di sini, seharusnya sebagai Ratu, dirinya dilibatkan dalam rencana yang Chanyeol buat.

"E-eodiga (Kemana)?" Seulgi berusaha mengejar pria itu dengan menarik ujung lengannya.

Tapi lagi-lagi, Chanyeol menyentaknya. Dan lebih memilih menunggangi kuda perkasanya.

Seolah tak ingin kalah, wanita itu kini beralih membentangkan tangan...dan menghadang akses jalan semua kawanan berkuda itu, termasuk Chanyeol.

"Jangan menghalangi jalanku!" Desis Chanyeol sembari mengendalikan kudanya, yang nyaris menyentak Ratu Silla itu.

Seulgi tersenyum licik. "Tidak! sebelum kau mengatakan apa yang sedang kau rencanakan!" Ancam Seulgi setelahnya.

Raja Silla itu hanya melempar smirk tipis. "Kau tau dimana anak itu?" Gumamnya asal, dengan nada rendah yang menusuk.

Seulgi terperanjat hebat, kedua matanyapun tampak mengerjap gelisah. Membuat Raja Silla itu menyipitkan mata, mulai menerka sesuatu yang salah dalam diri wanita itu.

"Kau—

Chanyeol semakin menatap lekat dengan mata menghunus tajam.

"Mengetahui sesuatu di sini?" Lanjutnya lagi, curiga.

Seulgi mendadak tegang. Namun tak cukup bodoh untuk bersikap seceroboh itu.

"Apa yang sebenarnya kau katakan? Di mana anak itu? Tentu saja di pavilunnya bukan? Lihat buah persik ini, aku ingin bertemu Baekhyun untuk memberikan semua buah ini untuknya. Aku tau...Baekhyun pasti menyukainya." ucapnya dengan wajah menggebu-gebu,

"Tapi mengapa kau bertanya seperti itu padaku? Baekhyun tak ada di paviliunnya? Benarkah? Apa yang terjadi huh?" Tanya Seulgi bertubi-tubi, memasang wajah kebingungan dan mungkin panik selihai mungkin.

"..."

Raja itu hanya diam, memancing kerjapan polos dari wanita muda di hadapannya.

"Hmm...Pheya, kau pasti hanya bercanda denganku. Yyaa...jangan melarangku menemui anak itu. Kau tau? aku merindukannya. Walaupun kami sering berteriak, tapi kami memiliki ikatan yang sangat dekat" Yakin Seulgi berujar manis.

"Baiklah...sepertinya aku harus bergegas menemuinya" Seulgi membungkuk hormat sebelum akhirnya melenggang begitu saja meninggalkan Chanyeol, seakan tak tau apapun dan melangkah lugu, menuju Paviliun Baekhyun.

.

.

Chanyeol menggeram pelan, sejujurnya Ia mencurigai Ratu itu. Tapi melihat pembawaanya yang sedemikian lugunya, tampaknya memang Seulgi tak tau perkara hilangnya Baekhyun. Terlebih, sekeranjang persik di tangannya, menunjukkan Ratu itu bertemu dengan petani Silla... sebelumnya.

"HAKK!" ia memilih menarik pelana, memacu kudanya berlari secepat mungkin meninggalkan istana..beserta para pengikutnya.

.

.

Seulgi menghentikan langkahnya untuk berbalik, begitu menyadari pasukan kerajaan itu telah beranjak pergi. Ia berdecih tak suka. Hanya untuk anak itu, Raja hingga turun tangan sendiri mencarinya, terlebih megerahkan semua pasukan terbaik Silla. Ia yang Ratu di sini. Tapi sepertinya tak lebih berharga dibandingkan dengan anak itu.

"Cih! Cari saja hingga kalian menemukan mayatnya" Lirihnya seraya melirik buah persiknya, merasa beruntung membawa semua buah itu dan menjadikannya alibi untuk melenyapkan rasa curiga Raja.

.

.

.


Siang kian menjelang, terasa menyengat kala terik mentari di atas seakan membakar kulit. Kendati demikian, sosok perkasa di atas kuda hitam itu...sama sekali tak terpengaruh, dan acuh pada peluh yang banyak merembas di keningnya. Beberapa pengkutnya telah Ia kerahkan untuk menyebar dan berbaur di antara penduduk, berusaha mencari jejak terakhir Baekhyun.

Dan di sinilah dirinya, di penghujung jalan setapak yang menghubungkan Silla dengan sebuah sungai besar. Tak hanya pengawal, Beberapa pelayan dan dayang terlihat mengikutinya di belakang...diantara dari mereka berteriak.

saling bersahutan, memanggil-manggil nama anak, yang hingga detik ini belum mereka ketahui keberadaannya.

"TUAN MUDA BAEKHYUN!"

"..."

"TUAN MUDA!"

Seorang pemuda yang turut mengawal pencarian Raja, terlihat menyipitkan mata...berusaha menajamkan pandangannya begitu melihat sebuah benda yang tergeletak di tepian jurang tak jauh di depannya. Ia menghampiri sang Raja dan menunjuk benda kecil itu.

Dan benar saja, Chanyeol terlihat mengerahkan kudanya lebih cepat...membawanya mendekati objek kecil itu.

Ia melompat turun dan begitu tergesa mengambilnya.

"Mungkinkah apa yang kupikirkan ini benar?" Tanya pemuda itu – Sehun-

Ketika menghampiri Chanyeol yang masih menatap lekat-lekat ketapel kecil di tangannya.

"Ya...kau benar, ini milik Baekhyun" Ujar Chanyeol dengan wajah mengeras. ia tau betul...mainan itu milik Baekhyun. Ibunya sendiri yang memberikannya untuk anak itu.

Sehun menghela nafas, memandang redup pada palung sungai yang dirasa cukup dalam itu. Melihat jejak Baekhyun berakhir di tempat seperti ini. Bukan tidak mungkin, bocah itu terperosok jatuh dan hanyut terbawa sungai.

Ah! itu hanya pemikiran buruknya.

Semoga memang bukan hal mengerikan itu yang terjadi pada bocah malang itu. Batin Sehun, masih dengan menatap lekat-lekat ke bawah.

Hingga tiba-tiba saja...

"Y-yang Mulia! Yang Mulia Raja!"

Seorang pria terlihat tergopoh-gopoh berlari mendekati Raja, yang kala itu tengah kacau.

"Hamba...Hhh..Hhh Hamba melihat mayat di sungai Yang Mullia!"

Chanyeol terperanjat hebat, namun tak cukup menghentika pelayan itu untuk mengusaikan kalimatnya.

"Di- Di sana Yang Mulia!" Pungkasnya terengah-engah seraya menunjuk ujung sungai.

Tak bisa dicegah, Ia berlari cepat dan memaksa pelayan itu menunjukkan lokasi penemuan mayat itu.

Oh sungguh! Ketakutan dan amarah itu kian menggila dan melebur menjadi satu. Membuatnya semakin kacau..menduga hal-hal buruk yang mungkin saja terjadi.

"B-Baekhyun.." Gumamnya dengan tangan meremas kuat-kuat ketapel milik bocah mungil itu.

.

.

.

Jantungnya berdebar gila kala melihat mayat yang telah terapung di sungai dengan posisi tertelungkup.

Mayat itu mengenakan pakaian putih, sama persis dengan baju tidur yang dikenakan Baekhyun kecilnya.

Ia masih berdiri kaku di pinggir bantaran sungai itu, sementara pelayan dan beberapa pengawalnya terlihat menceburkan diri, demi melihat identitas mayat itu

"Yang Mulia?"

Pelayan itu kembali memanggil, meminta izin untuk membalikkan tubuh mayat itu. Namun Chanyeol hanya memejamkan mata, terlihat enggan untuk menjawab. Dan tak siap untuk melihat semua kenyataan yang ada.

"Hyung...belum tentu mayat itu Baekhyun" Sehun menepuk bahu Chanyeol, mencoba menenangkan Pria yang tampak pucat itu.

Chanyeol terlihat menarik nafas dalam-dalam, membuka kedua matanya lalu mengangguk pasti. Memberi tanda pada pelayan dan beberapa pengawal itu untuk membalikkan tubuh mayat tersebut.

Sontak...semua pasang mata di tempat itu terbelalak lebar begitu melihat wajah jasad itu.

Dan Chanyeol terlihat goyah nyaris terjatuh kebelakang, jika saja Sehun tak memeganginya.

.

.

Ia terengah, meski tak sepenuhnya tenang...namun kenyataan yang dilihatnya sedikit melegakan dadanya. Ya...itu bukan Baekhyun. Bukan namja kecilnya.

Sehun melirik Raja Silla itu sekilas. "Dari luka yang terlihat, sepertinya wanita itu memang sengaja dibunuh" Gumamnya, begitu melihat luka sayat yang menganga di leher mayat itu.

Chanyeol segera tersadar dan memandang penuh perhitungan kedepan, belum usai ia dibuat kacau dengan hilangnya Baekhyun. Kini semua semakin penat dengan penemuan mayat wanita itu.

.

.

.

"Siapa wanita itu?"Ujar Chanyeol, masih dengan menatap beberapa orangnya yang tengah menarik keluar mayat itu dari Sungai.

"Salah satu dayang di istana ...Yang Mulia" Jawab pelayan

Chanyeol mengernyit. Sesuatu terasa ganjal di sini. Ketapel Baekhyun hingga penemuan mayat itu di sungai ini. Mungkinkah saling terhubung?

Raja Silla itu beralih menatap penasihat kerajaannya. "Bawa mayat itu kembali ke istana dan bentuk pasukan penyelidik. Aku akan tetap melanjutkan pencarianku" Ujarnya kemudian. Membuat Sehun mengangguk mengerti, dan mengerahkan beberapa pelayan dan dayang itu untuk kembali menuju istana.

.

.

.


BRAKKK

Wanita itu menggeser kasar pintu kamar sang kakak. "OPPA! Aku hanya bekerja sendiri dan kau—

Sentakan wanita itu terhenti begitu melihat penampilan pria itu. "O-oppa apa yang terjadi? me-mengapa pakaianmu penuh dengan darah seperti itu?" Gagapnya , terkejut bukan main.

Pria itu hanya berdecih, dan melepas tenang satu persatu pakaian penuh dengan bercak darah itu. "Tentu saja, menghapus jejak dari Ratu yang BODOH!" Bentak Namjoon seraya membanting pakaiannya ke lantai.

"Bagaimana mungkin kau menyisakan saksi seperti itu?! Di mana otakmu sebenarnya?!"

Seulgi terbelalak.

"Oppa, kau me-membunuhnya?"

.

.

.


Sementara itu di tempat lain

"O-ommona! S-suamiku...anak siapa yang kau bawa itu?"

Wanita paruh baya itu, tampak berlari tergesa menghampiri suaminya yang kala itu memang membawa seorang bocah di punggunya. Dari kondisinya sepertinya anak itu tampak tak baik-baik saja, wajahnya begitu pasi dan lemas.

"Berhentilah bertanya, dan bantu aku membawanya ke dalam. Anak ini terluka parah"

"K-kajja...kajja, Ya Tuhan...mengapa Dia bisa mendapatkan luka seperti ini" Ujarnya seraya membuka pintu rumah kayu kecilnya, dan memastikan suaminya melangah hati-hati ke dalam.

.

.

Pria tua itu tampak menyeka keringatnya sendiri selepas membaringkan bocah yang masih kebas di ranjang rotannya. Ia tersenyum, begitu istrinya kembali, membawakannya segelas air putih.

"Jadi...apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya wanita itu, sambil memandang iba sosok mungil yang masih terpejam di seberangnya.

"Entahlah Joo hyun~ah...saat aku pergi mencari ikan. Aku melihat seseorang terjatuh ke dalam sungai. Rupanya memang anak ini. Sepertinya ada yang ingin melenyapkannya" Ujar Pak tua itu –Shindong-, berulang kali Ia menghela nafas berat. Tak sampai hati melihat bocah malang itu, nyaris terenggut nyawanya. Entahlah siapa yang begitu biadab ingin membunuh anak semanis itu.

Wanita itu mengangguk mengerti, Ia beralih mendekati Baekhyun berniat mengganti pakaian basahnya.

Namun betapa terkejutya Ia, ketika melihat luka gores yang mengoyak bahu putih Baekhyun. Itu bukanlah sekedar luka gores biasa.

"Bukankah kita masih memiliki persediaan ramuan herbal?"

Joo Hyun memandang suaminya redup. Ya, memang masih memiliki tapi hanya sedikit, dan ia tak yakin...cukup untuk menyembuhkan anak itu atau tidak.

Harga ramuan herbal dewasa ini semakin tak terjangkau. Jangankan untuk membeli ramuan herbal, membeli kebutuhan pangannya pun Ia nyaris tak mampu. Keluarganya sangat miskin, dengan enam anak di dalamnya.

Tentu kehadiran Baekhyun semakin menambah bebannya. Akan tetapi nalurinya sebagai Ibu, membuatnya berbesar hati. mengesampingkan semua pemikiran itu, demi menolong anak yang terbaring tak berdaya itu.

"Ne...Masih. Lekaslah pulih nak" Ujarnya lirih seraya menyeka darah di bahu Baekhyun dengan perlahan.

.

.

.


~Silla~

Lima hari berselang, namun kabar akan keberadaan Baekhyun sama sekali tak terdengar. Pencarian itu hingga kini masih berlanjut, tapi tetap saja...hasilnya nihil.

Semua membawa pengaruh besar pada kepribadian Chanyeol, tak seperti hari-hari sebelumnya yang penuh dengan kharisma. Raja Silla itu, mendadak begitu keras bahkan nyaris tak tersentuh. Rakyat merasakannya. Semua akses ditutup, tak ada satupun yang diizinkan keluar ataupun masuk dari wilayah Silla. Hilangnya Baekhyun tentu menjadi alasan dibalik sikap kerasnya .

.

.

.

"Apa anda pernah melihat anak ini?" Pria muda itu tampak menunjukkan sektsa wajah Baekhyun di hadapan penjual buah-buahan itu. tapi sayang...wanita itu hanya menggeleng.

membuat Sehun tersenyum ramah, lalu beranjak ingin pergi.

.

.

"Ku mohon Tuan, beri aku ramuan itu...apa semua ikan ini tak cukup untuk menukarnya?"

"Ya! Harga herbal ini jauh mahal dibandingkan semua ikanmu itu. Pergilah...kami harus melayani pembeli yang lain"

.

Akan tetapi pembicaraan dua pria tua di seberangnya menarik perhatiannya, Sehun beralih diam dan memandang dengan seksama dua pria yang masih beradu kehendak itu.

.

"Tapi nyawa anak itu jauh lebih penting, ku mohon sekali ini saja...langit akan membalas kebaikanmu jika kau menolong anak itu...ku mohon Tuan"

"Anniya...pergilah. Aku tak ada waktu denganmu" Ujar penjual itu, tetap pada pendiriannya.

"Berikan herbal itu untuk Tuan ini, berapapun harganya...akan kubayar" Seorang pria muda tiba-tiba menyela, membuat penjual itu tergagap melihatnya. Dilihat dari penampilannya, Pria muda itu pastilah orang kerajaan. Mungkinkah Dia diutus untuk menyidak?

"N-nde Tuan...ba-baiklah"

.

..

Shindong tersenyum lebar begitu bungkusan herbal itu benar-benar di tangannya, ia menatap pamuda tinggi di hadapannya dan membungkuk penuh syukur.

"Terima kasih Tuan, pak tua sepertiku tak mampu memberikan apapun untuk membalas kebaikanmu"

Sehun tersenyum. "Sepertinya Paman sangat membutuhkan obat itu. Apa anak anda sakit?"

Shindong terlihat menghela nafas panjang. "Lebih tepatnya seorang anak yang kutemukan beberapa waktu lalu. Kondisinya semakin parah, tapi keluarga miskin seperti kami tak bisa berbuat banyak" Ujarnya penuh sesal.

"Baiklah Tuan, aku harus segera bergegas pulang. Dan membawa herbal ini untuknya" Shindong kembali membungkuk penuh hormat, sebelum akhirnya membawa langkahnya pergi.

.

.

"Tunggu Paman"

Namun langkahnya tersendat, begitu pria itu kembali memanggilnya.
"Anda menemukan seorang anak?" Tanyanya penuh dengan raut serius, berharap...dugaannya kali ini benar. Sehun berjalan mendekat, lalu menunjukkan sketsa di tangannya. "Apakah anak ini?"

Shindong terbelalak lebar. "Be-benar Tuan! Benar Anak ini!" Sahutnya tergagap, dengan perasaan bercampur aduk. Satu sisi ia merasa takjub, anak yang ditemukannya adalah bagian dari kerajaan. Satu sisi Ia merasa takut, kalau-kalau kerajaan menjatuhi hukuman padanya. karena membiarkan kondisi anak itu semakin parah. Demi apapun itu, semua karena ia tak mampu.

.

"Bawa aku ke rumahmu untuk melihatnya"

"B-baik Tuan"

Sehun terlihat menggerakkan sebelah tangannya, dan detik itu pula...sesosok pria pengintai keluar dari persembunyiannya. Ia membisikkan beberapa pesan untuk Raja, sebelum akhirnya mengikuti Shindong.

.

.

.

Langkahnya terlihat tersendat, begitu waspada kala memasuki rumah kayu yang tampak menyerupai gubuk kecil, terlihat rapuh begitu banyak celah-celah yang tampak di sekitarnya. Mungkin hujan di musim berikutnya, akan dengan mudahnya melantahkan rumah kayu itu.

Tapi...di sanalah Ia melihat seorang anak yang selama ini dicarinya dan mengacaukan pikiran Raja, tengah terbaring lemah, dengan tubuh sepenuhnya pucat.

"Saat aku menemukannya, kaki anak ini telah terjerat tali ... Tuan"

"Apa?"

BRAK

"Di mana Anak itu? Di mana Baekhyun?!"

Seorang pria tiba-tiba saja merangsak masuk. Membuat keluarga kecil itu semakin menciut, bahkan bersimpuh sujud di hadapannya. itu benar-benar Raja Silla yang datang ke dalam rumah kecilnya.

Chanyeol melirik keluarga itu sesaat. Tapi tatapan nyalangnya hanya tersita kedepan...tepat pada sosok mungil yang terbaring di atas ranjang rotan itu.

"Baekhyun?"

Chanyeol berjalan gontai mendekati Baekhyun. Sosok yang beberapa hari ini serasa mencekik akal sehatnya. Ia nyaris tak tidur..hanya karna memikirkannya.

Dan melihatnya benar-benar nyata seperti ini, membuatnya tak mampu lagi mengulas...betapa hebat semua perasaan itu.

Tak dipedulikannya lagi semua pasang mata dalam ruangan itu. Chanyeol hanya mengikuti perasaannya, mendekap penuh namja kecil itu ke dalam pelukannya.

"Nnh~ hks"

Samar-samar terdengar rintihan dan isakkan Baekhyun, membuat Raja Silla itu makin mendekapnya erat dan mengecupi berkali-kali ceruk lehernya yang terasa panas.

Tatapannya meredup, begitu menyadari tubuh ringkih itu menggigil. Belum lagi...tubuhnya pun semakin kurus.

"Baekhyun.." Panggilnya lagi seraya mengelus pipi tirus itu.

Baekhyun mengernyit, terasa berat saat menggerakkan kelopak matanya. Tapi Ia mendengar suara yang benar-benar dikenalnya, membuatnya memaksa diri untuk membuka mata.
"Ah—jussi" bibir pucat itu pun mulai menggumam lirih.

Chanyeol menatap teduh seraya menggenggam tangan mungil itu, seolah tengah mengungkapkan bahwa dirinya memang di sini bersama namja kecilnya.

"Sa—kit..." Gumam Baekhyun lagi, sebelum akhirnya makin mengernyit merasakan nyeri yang hebat di bahunya. "Ngh~ Hks"

Chanyeol tersentak, menyadari banyak darah yang merembas dari bahu Baekhyun. Ia menelisik kalut pakaian Baekhyun dan begitu menyingkapnya, kedua obsidian itu semakin terbelalak nanar melihat luka terbuka yang telah melebam di bahu bocah mungil itu.

Tanpa pikir panjang Chanyeol kembali merengkuhnya dan mengangkatnya bridal. Lalu melangkah tergesa ingin cepat-cepat membawa Baekhyun kembali ke istanannya.

"Beri pak tua itu lima petak ladang dan bangunkan rumah yang layak untuknya" Gumam Chanyeol begitu berhenti di hadapan Sehun.

"Baik Hyung"

.

.

.

.


~Silla~

.

"Sepertinya, benturan dengan bebatuan tajam yang menyebabkan luka ini ...Yang Mulia" Ujar tabib, menatap miris dan juga iba pada anak yang masih tengkurap, memeluk erat perut Raja Silla itu.

Baekhyun tak pernah berhenti menjerit kesakitan, tiap kali tabib itu menyentuh luka di bahunya dengan sesuatu yang dingin namun terasa membakar. Ia meronta, bahkan kaki kecilnya tak pernah berhenti menjejak ranjangnya tapi tetap saja...semua percuma, jika Chanyeol menahan semua gerakkannya. Membiarkan Tabib itu melakukan sesuatu yang menyakitkan di bahunya.

"Hks... Ahjjusi~! SAA—KIIT! AAAAAA!"

"Sssh...sakitnya hanya sebentar, biarkan tabib menyembuhkanmu" Bisik Chanyeol menenangkan, seraya mengelus kepala bocah mungil itu.

Baekhyun yang semula menyembunyikan wajahnya, kini beralih menengadah dan menatap Raja Silla itu dengan tatapan pias.

"Kakek itu ja—hat! Baekhyun sa—kit.. hks!...Usir Kakek itu Ahjjusii! U-uhh hks" Rengek Baekhyun seraya menunjuk-nunjuk sang tabib. Berharap Ahjjusinya benar-benar mendengarnya, dan lekas mengusir pergi pria tua yang dianggapnya kejam itu.

Chanyeol terlihat diam tertegun, sebelum akhirnya memberi isyarat pada tabib untuk berhenti sejenak. Lalu mengangkat anak itu ke dalam pangkuannya sendiri. Hingga membuat Baekhyun sedikit bersandar nyaman di lengan kanannya.

"Baekhyun" Panggilnya pelan. tak pelak membuat bocah yang sedari tadi menangis itu, mengerjap padanya. Sesekali masih terdengar isakkan lirih darinya, tapi melihat Ahjjusinya memandangnya teduh seperti ini setidaknya Baekhyun sedikit menenang.

"Sakit Ahjjusi" Adu Baekhyun lagi, sambil melirik tabib. Bagaimanapun, Baekhyun benar-benar menginginkan pak tua itu lekas pergi.

"Jika tidak diobati, itu akan semakin sakit"

Baekhyun menggeleng kasar, seraya meremas pakaian depan Chanyeol. "Usir kakek itu Ahjjusi...T-tidak mau! Baekhyun tidak mau"

Sesungguhnya Ia bukanlah pribadi yang lihai untuk bersabar, tapi entahlah...melihat Baekhyun seperti ini serasa menggerakkan sisi lain dari dirinya. Ia tersenyum, lalu mengusap surai Baekhyun ke atas. Menyeka keringat dingin yang masih merembas di kening anak itu.

"Di danau, sebuah perahu telah kusiapkan untukmu. itu milikmu...kau bisa menaikinya kapanpun kau mau ...Baekhyun"

Bak sebuah mantera... Baekhyun terlihat antusias mendengarnya. Meski pucat...namun binar ceria itu tak bisa disembunyikan dari mata hazelnya. "Jin—jja?"

"Tentu saja...pernahkah aku berbohong padamu?"

Baekhyun menggeleng cepat, baginya Ahjjusinya tak pernah berbohong. Pria itu selalu datang menyelamatkannya, saat dirinya merasa takut, ya selalu dan selalu.

Itu yang Baekhyun yakini hingga detik ini.

"Milik Baekhyun?" Tanya Baekhyun, memastikan.

"Hn...hanya untukmu"

Anak itu tersenyum, lalu melonjak ingin bangkit. Namun tiba-tiba saja Ia menjerit kesakitan. Lupa...jika luka di bahunya, akan menyisakan nyeri yang tajam walau hanya digerakkan sedikit saja.

"A-AHH! Hks..unh"

Baekhyun kembali menangis Membuat Raja Silla itu berdecak cemas, dan makin mengeratkan rengkuhannya. "Lihat, jika hanya dibiarkan akan semakin sakit. Bukankah kau ingin segera bermain di luar...Baekhyun?"

Masih dengan menangis sesenggukan, Baekhyun menatap pria itu dan mengangguk pelan.

Detik itu pula, Chanyeol tersenyum dan reflek mengecup kilat keningnya. Membuat tabib di hadapannya mengerjapkan mata kikuk.

'Chup'

"Sekarang,biarkan tabib mengobatinya. Hanya sebentar...kau bisa menahannya bukan?"

tak ada sahutan, Baekhyun lebih memilih menenggelamkan kepalanya di dada Chanyeol dan meremas kuat-kuat pakaian Raja Silla itu.

Chanyeol menganggapnya sebagai sebuah persetujuan, ia beralih menatap sang tabib, mengisyaratkannya untuk melanjutkan tugasnya.

Kain tipis penuh dengan baluran herbal itu kembali menyentuh luka terbukanya, tak ayal bocah manis itu kembali menjerit memilukan. Dan meronta dalam dekapan Chanyeol. Luka itu bukan main lagi menyisakan rasa perih, ibarat luka yang telah layu karna terlanjur di diamkan selama beberapa hari tanpa penanganan yang semestinya.

"AAAAA! SA—KIT! Hks...Ah—jusiii~...Sa—kit"

.

.

.

.

.

"Jika tidak melakukan gerakan berlebih, luka di bahunya akan pulih selama 2 pekan ke depan Yang Mulia" Ujar sang tabib, begitu usai mengemas semua sisa pengobatannya.

Chanyeol sedikit mengernyit, menatap ragu pada bocah yang telah terlelap damai di ranjangnya. Yang benar saja dua pekan, itu waktu yang cukup lama...terlebih untuk Baekhyun. Ia tau benar, anak itu sangatlah aktif. Tak bisa diam walau hanya sebentar saja.

"Baiklah. Kau bisa kembali ke tempatmu" Ucap Chanyeol setelahnya, seraya beringsut ke atas ranjang mendekati Baekhyun.

Menyisakan raut canggung dari tabib itu, selama beberapa saat yang lalu Ia melihat suatu yang ganjal dari gerak-gerik Raja itu.

Memperlakukan anak itu, dengan sikap yang sangat berbeda. Bukan sikap kasih dari seorang ayah, atau seorang kakak. Melainkan itu terlalu berlebih...di matanya, lebih terlihat seperti Raja itu tengah memuja kekasihnya.

"Ah...hanya perasaanku saja" Gumam tabib itu lirih, begitu melangkah keluar...meninggalkan ruangan sang Raja.

.

.

.

.


Dalam heningnya ruangan itu, kedua obidiannya seakan tak jemu memandang lekat, sosok mungil yang kini telelap pulas di sisinya.

Sedikit sesak memang, kala melihat tawa dan candaan rusuh yang kerap terdengar...kini lenyap begitu saja dari wajah menggemaskan itu.

Ia mengambil jemari kecil itu, menimangnya sesaat sebelum akhirnya menciumnya lama. Sadar...semakin hari, semakin lugas...Baekhyun menggerakkan sisi lain dalam dirinya. Ya, Ia tak masalah...jika saat ini, Baekhyun menjadi kekasih kecilnya.

"Bagaimana bisa kau menghilang di hari itu, dan mendapat luka seperti ini?" Bisiknya seraya membelai surai hitam anak itu.

Raja Silla itu memang belum mengambil tindakan apapun setelah semua hal yang terjadi, satu yang Ia yakini pasti. Seseorang telah dengan sengaja mencelakai Baekhyun bahkan sepertinya ingin melenyapkannya. Tapi siapa?

Mungkinkah salah satu menteri?

Pihak Seulgi?

ataukah...Ibu Suri sendiri yang ingin melenyapkannya?

Semua masih menjadi tanda tanya besar untuknya. Tapi Ia telah menyerahkan semua penyelidikan itu pada Sehun. Setidaknya...hingga Baekhyun benar-benar kembali pulih.

"Unh~"

Tiba-tiba saja Baekhyun mengernyit. Sepertinya genggaman tangannya sedikit mengusik tidur anak itu. ia beralih menepuk-nepuk kepalanya, namun yang terlihat bocah itu malah membuka mata dan mengerjap kearahnya.

"Ahjjusi..." Panggilnya pada sosok di sisinya yang tengah menopang kepala dengan sebelah tangannya itu.

"Hn? tidurlah kembali"

Namja mungil itu hanya diam, lalu terlihat mengedarkan pandangan ke sekitar...seolah tengah mencari seseorang. "Kakek jahat itu sudah pergi?" Gumamnya memastikan.

Chanyeol terkekeh, lalu menyamankan posisinya demi menatap lebih lekat bocah kelewat manis itu. "Sudah"

"Ahjjusi mengusirnya?"

"Hn...sesuai permintaanmu. Aku mengusirnya" Balasnya, mengimbangi pemikiran lugu Baekhyun.

Baekhyun terkikik senang mendengarnya, namun tiba-tiba saja Baekhyun mendadak mengerjapkan mata, baru menyadari... ruangan yang dilihatnya saat ini bukanlah ruangannya sendiri.

"Ini Kamarku" Ucap Chanyeol, begitu menangkap pemikiran sosok mungil itu.

"Sampai luka di bahumu benar-benar sembuh, kau akan tetap tidur di sini... bersamaku" Lanjut Chanyeol lagi seraya menyisihkan anak rambut yang menjuntai di pipi Baekhyun. Lalu sedikit memiringkan tubuh Baekhyun, hingga dipastikan anak itu tak terlalu menekan bahunya sendiri.

Baekhyun kembali tersenyum manis, dan mengangguk patuh..

membuat Raja Silla itu lagi-lagi tertegun melihatnya.

Begitu menggemaskan, hingga rasa-rasanya...jika bisa, Ia ingin melahap semua yang ada dalam diri bocah itu, Ah! Ia kembali menggila.

Seharusnya memang Ia menahan diri, tapi...mustahil tak menyentuh Baekhyun sehari saja. Itu telah menjadi suatu yang mutlak untuknya. Paska...dirinya telah mengetahui perasaan dan ketertarikannya.

Bocah itu semakin beringsut masuk ke dalam pelukannya, meringkuk...bersiap untuk kembali memejamkan matanya.

"Baekhyun...dimana ciuman selamat malam untukku?"

Masih saja ia menggoda, seakan mengabaikan...anak itu masih terbilang lemah untuk dicumbunya. Tapi bagaimana lagi...hasratnya tentu tak bisa ditepis. Entahlah, Ia benar-benar selalu menggila bila di dekat Baekhyun.

Baekhyun mulai membuka mata, seolah terbiasa... Baekhyun mulai menaikkan wajahnya demi mendekati bibir tebal pria dewasa itu.

Membuat Chanyeol tersenyum antusias, takjub...anak itu mengerti bahasanya dengan sangat baik. Ia merunduk...menyambut gerakkan kecil itu. dan-

Chup

satu kecupan manis berhasil mendarat di bibir Ahjussinya.

Cepat-cepat Baekhyun kembali meringkuk, dan menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Chanyeol, merasa tugas menciumnya ...memang telah selesai. Ia terpejam.,...bersiap untuk kembali tidur.

Raja Silla itu mengerjap cepat, paska mendapat kecupan kilat namja mungilnya

'Arh! tak cukup!' batinnya seraya menaikkan dagu Baekhyun, lalu tanpa peringatan mengklaim bibir pucat itu.

"Mphft~"

Baekhyun terbelalak, namun tak sempat untuk menyerukan protesnya. Ciuman itu terlalu mendadak..bahkan nyaris menyedak nafasnya sendiri.

"Mhng~ahh" Tubuhnya sedikit terlonjak, begitu pria itu memaksa melesakkan lidahnya ke dalam mulutnya.

Kedua matanya kembali membuka dan memejam, tak siap menerima permainnan lidah yang terasa penuh di bibirnya yang mungil. Terlebih posisi menyampingnya kini semakin menyulitkannya untuk bernafas. Ia menggelengkan kepala, berusaha melepas pagutan itu...sebelum dirinya benar-benar kehabisan nafas.

Chanyeol mengernyit, sadar Baekhyun sepertinya tak nyaman. "Ada apa?" Tanyanya semakin tak sabaran ingin kembali megklaim bibir tipis yang telah memerah itu.

Baekhyun hanya menyentuh bibir tebal pria itu sembari mengerjap beberapa kali. "Sesak Ahjjusii. Mengapa lidah Ahjjusi sangat besar?"

Chanyeol stagnan, mungkin merasa malu pada dirinya sendiri setelah mendengar pernyataan kelewat polos itu. Ah!...lihat perbuatannya pada bocah yang belum memasuki masa pubertas itu. Tentu bagi anak seusia Baekhyun, semua hal terasa menarik untuk dipertanyakan.

"Lidah Baekhyun sangat kecil" Ujar bocah itu lagi sambil menjulurkan lidahnya keluar, tanpa tau pria dewasa di sisinya semakin kepayahan menahan diri, ingin menyergap bibirnya.

"Karena aku pria dewasa" Jawab Chanyeol. Entahlah...anak itu puas atau tidak mendengarnya.

Sejenak bocah itu menggigit bibir bawahnya, terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu. "Kapan Baekhyun dewasa, dan memiliki lidah seperti Ahjjusi?"

Chanyeol terkekeh dan membenturkan pelan kening keduanya. Tak menduga...semua yang didengarnya dari bocah itu akan terasa menggetarkan seperti ini. Ah! itu hanya celoteh polos, tapi entah mengapa begitu hebat menyentak dunianya yang penuh dengan ambisi dan kepicikan.

Ia tak pernah tersenyum dan tertawa sebelumnya. Tidak! Sebelum bertemu dengan Pangeran mahkota Goryeo itu.

"Tak lama lagi. Akupun menunggunya" Bisiknya seraya membawa kepala Baekhyun untuk bersandar nyaman di dadanya. "Dan saatnya nanti, kau akan mengerti lalu sepenuhnya menjadi milikku...Baekhyun" lanjutnya, samar, terlihat seringaian tipis di sudut bibirnya. Entah apa yang terlintas, namun...satu hal yang pasti. Baekhyun menjadi ambisi besar dalam dirinya.

.

.

.


Esoknya

"Siapapun yang melakukannya, akan lebih baik jika lekas menyerahkan diri. Karena cepat atau lembat kami akan menemukan pelakunya. Dan bersiaplah menerima hukuman yang lebih berat, atas menghilangkan nyawa seseorang"

Seluruh pasang mata yang tampak berkumpul di luar halaman istana itu, tampak semakin riuh setelah mendengar penasehat kerajaan tengah menyampaikan pesan Raja. Tak sedikit dari mereka yang saling melempar asumsi. Mereka memang tau...seorang dayang istana telah ditemukan tewas terbunuh. Semua bermula dari hilangnya seorang anak dalam kerajaan itu. Tapi apakah ada kaitannya? dan siapa pembunuh itu?

semua masih menjadi simpang siur, dan sumber ketakutan. Karena bisa saja, pembunuh itu masih berkeliaran di sekitarnya.

"Kami mohon cepat tangkap pembunuh itu Tuan! Kami takut...nyawa kami akan turut terancam"

Sehun terlihat berdehem mendengar seruan dari pria paruh baya itu. Terlepas dari perkara hilangnya Baekhyun. Sesungguhnya apa motif pembunuhan itu belum terlalu kentara. Akan tetapi..,.sudah dipastikan akan menyulut keresahan rakyat Silla.

"Segera melapor pada kerajaan, jika kalian melihat sesuatu yang mencurigakan" Pungkas Sehun, sebelum akhirnya berbalik meninggalkan gerbang istana itu. Dan mempersilakan panglima kerajaan mengatur kondisi yang ada di tengah masyarakat.

.

.

"Jika memang ada kaitannya, kita bisa mencari informasi dari anak itu. Barangkali...Dia mengetahui sesuatu. Karena insiden itu terjadi di sungai yang sama" Ujar Sehun pada kepala penyelidik kerajaan, yang sejak kemarin mendampinginya.

Sementara itu, di balik sebuah pintu besar. Seorang pria terlihat menatap sekelompok penyelidik itu dengan tangan terkepal. Memang belum terendus, akan tetapi...anak itu selamat dan kembali ke dalam kerajaan. Bukan tidak mungkin, dirinya akan terancam setelah ini.

.

.

"Brengsek! Anak itu tidak mati!" Geram Namjoon, seraya menggebrak meja.

"O-oppa...eottohkkae, aku takut Oppa! B-bagaimana jika mereka menemukan, bahwa kita yang—

"Tutup mulutmu Seulgi! Jangan ceroboh! Dan bersikaplah sewajarnya di hadapan mereka. Aku akan mencari jalan keluar dan mengelabui semua petinggi bodoh itu, termasuk Chanyeol"

Desis Namjoon, memandang dengan tatapan bengis.

.

.

.


Satu minggu telah terlampaui.

Belum ada perkembangan mengenai perkara pembunuhan. Dan Selama itu pula, Baekhyun tak pernah lepas dari pengawasaan sang Raja

Banyak pihak yang berdecak heran, dan mungkin mengajukan keberatan.

Akan tetap seolah menulikan pendengarannya, Chanyeol tetap pada pendiriannya. mengutamakan kepentingan namja mungilnya di atas yang lain, selama tidak mengusik pemerintahannya. Semua memang masih berjalan dengan semestinya, bedanya hanya...Ia lebih kerap menghabiskan waktunya bersama Baekhyun selama masa pemulihan bocah mungill itu.

.

.

.

"Tuan Muda...waktunya mandi, sebelum air—

"Tidak mau! Kalian semua kasar!" Seru bocah yang masih mengenakan perban di bahu kirinya, Ia berjalan menghentak untuk menghindar, sesekali memalingkan wajah tiap kali dayang itu berusaha membujuknya dengan beberapa mainan yang ada.

"Tapi Tuan Muda, hari semakin petang. K-kami berjanji...akan menggosoknya dengan pelan"

"TIDAK MAU!" Jerit Baekhyun lagi, tak peduli dayang itu semakin kehabisan akal untuk membujuknya. Hingga tiba-tiba mereka dikejutkan dengan kedatangan seorang pria, tak tanggung-tanggung semua dayang itu terlihat bertekuk lutut, menunduk penuh hormat padanya.

Baekhyun yang melihatnya pun tersenyum lebar, lalu menghambur cepat...memeluk perut pria tinggi itu. "Aku ingin mandi dengan Ahjjusi" Serunya riang, membuat para dayang itu membulatkan mata kebingungan. Terlebih saat melihat Raja itu memandang dengan tatapan mengunus tajam.

Sejenak Chanyeol hanya diam menatap lekat bocah mungil yang masih memeluk perutnya itu, membuat dayang semakin menciut bersiap ingin menarik Baekhyun untuk menjauh.

Namun tiba-tiba saja—

'HUP'

Baekhyun terkikik kegirangan, begitu tubuhnya terangkat dan bersandar nyaman dalam gendongan Raja Silla itu.

"Kau ingin mandi bersamaku?"

"Neh!" Baekhyun menganggukkan kepala cepat.

"Baiklah.." Chanyeol melenggang santai, meninggalkan tempat pemandian itu.

Membuat para dayang menundukkan kepala tersipu, seolah tengah melihat adegan seorang Ayah muda dengan putranya...sangat manis sekali.

Tanpa tau...fakta yang sebenarnya.

.

.

.

Namja mungil itu begitu antusias ingin menceburkan dirinya ke dalam kolam pemandian, begitu melihat Chanyeol telah lebih dulu berendam di dalamnya. Namun gerakannya tertahan begitu Chanyeol memegangi sebelah tangannya,

"Jangan melompat, masukkan kakimu dengan perlahan" Ujarnya, cemas kalau-kalau anak itu melompat begitu saja tanpa pikir panjang, Luka di bahunya belum sepenuhnya pulih.. jika terlalu banyak gerakan bukan tidak mungkin luka itu akan kembali terbuka.

Baekhyun sedikit mempoutkan bibir, tapi tetap patuh mengikuti ucapan Ahjussinya.

.

.

Kepulan uap air berbaur dengan aroma petal mawar yang tersebar di permukaan air kolam itu, menjadi kenikmatan tersendiri baginya, terlebih melihat Baekhyun telah duduk tepat di hadapannya.

Anak itu masih berbekalkan pakaian lengkap, karena Ia masuk begitu tergesa...tak sabar ingin mengikutinya untuk berendam di kolam hangat itu.

"Berbaliklah" Bisik Chanyeol, pada bocah yang masih antusias mengumpilkan puluhan petal mawar itu dalam tangkupan tangannya.

Baekhyun mengangguk, lalu memutar tubuhnya membelakangi Chanyeol. Tanpa melepas semua petal mawar itu.

Tatapannya meredup sayu, melihat kain sutera basah itu menempel lekat di tubuh Baekhyun. Mengikuti lekuk tubuh namja mungil itu.

Ia merunduk, menghirup dalam-dalam aroma tubuh Baekhyun dari ceruk lehernya, membuat bocah itu menggeliat karenanya. "Mmh..geli Ahjjusi"

Chanyeol mengulas smirk khas miliknya, Ia beralih menyentuh sisi pakaian Baekhyun lalu menariknya turun secara perlahan, memperlihatkan pundak putih...dan punggung mulusnya. Kedua matanya terlihat menajam penuh hasrat, seakan turut melucuti pakaian Baekhyun.

Ia sedikit menjilat permukaan bibirnya sendiri, merasa takjub...tubuh ramping itu, benar-benar terlihat mempesona. Membujuknya untuk kembali merunduk dan menjilat pelan bekas luka yang sebelumnya telah ia lepas perbannya.

"Akh!" Baekhyun memekik dengan kepala menengadah, merasakan sensasi lain dari jilatan yang terasa pedih namun terselip nikmat itu.

"Mh...aah..a-ahjuusii~" Tangannya meraba-raba ke belakang ingin menjangkau pria itu. Namun detik itu pula, Chanyeol memalingkan wajahnya ke samping...dan meraup cepat bibirnya. Mencium bocah itu dari belakang.

Baekhyun melenguh tertahan, ia tak bisa mengelak apapun selain pasrah. Pria kekar itu mengklaim penuh isi dalam mulutnya. "Uhmpft...Mmhh..Mphh"

Lama...Baekhyun terjebak dalam cumbuah penuh hasrat dari pria dewasa itu. Tubuhnya tak lagi membelakangi Raja Silla itu, melainkan menempel erat di dada kekar itu dan menerima hisapan dan lumatan-lumatan semakin intens. Terlebih kepulan uap yang kian menjadi, semakin mengaburkan nafas berat keduanya. Dan membuat cumbuan Raja Silla itu semakin penuh gairah.

"Nhaah~...ahnnnnn~" Baekhyun memejamkan mata erat, begitu Chanyeol memaksa menarik lidahnya keluar dan menghisapnya kuat-kuat.

"Bibirmu sangat nikmat...sayang" Bisik Chanyeol, masih dengan mengecupi dagu Baekhyun dan terus turun menyusuri leher namja kecil itu.

"Hhh...mh...ahn..mmh" Baekhyun hanya bisa tersengal dan mendongakkan kelapanya, membiarkan Raja Silla itu mencumbu lebih dirinya. Ia tak tau apapun...selain, apa yang dilakukan Ahjjusinya membuat perutnya berdesir. Dan itu benar-benar menyenangkan untuknya.

Hingga tiba-tiba saja, Baekhyun menunduk ke bawah dan mengerjap cepat. Begitu tangannya tanpa sengaja memegang sesuatu yang besar namun keras.

"Sssh Ah!"

dan makin mengerjap tak mengerti kala melihat Chanyeol tiba-tiba saja mendesah.

"Remas lagi sayang" Desis Chanyeol semakin menengadahkan kepala nikmat, tiap kali tangan kecil itu serasa membelai dan memijit miliknya di dalam air.

"Ahhjusi ini apa?" Tanyanya frontal seraya menarik keluar benda besar itu, hingga muncul di permukaan air.

Chanyeol kembali mendesah, sebelum akhirnya melumat cepat bibir Baekhyun. membungkam pertanyaan yang kelewat polos itu. Ah sial! Ia benar-benar tak menduga, Baekhyun akan menemukan miliknya dan memegangnya selugu itu

"Itu milikku, manjakan dia Baekhyun" Gumam Chanyeol, seraya mengulas seringai tajam ketika menyadari baekhyun tampaknya semakin antusias...mengamati genital besarnya.

"Memanjakannya?" Bocah itu tak berhenti mengerjap

"Mainkanlah sesukamu" Tukas Chanyeol seraya membelai pipi Baekhyun. Lalu membimbingnya memegang genitalnya dengan dua tangan sekaligus.

Baekhyun tak tau apa maksudnya, ia hanya mengikuti nalurinya meremas penis besar itu...lalu menggerakan tangannya turun.

"Ssh Ah! benar...seperti itu sa—yangh"

Bocah mungil itu terhenyak melihat Chanyeol memejamkan mata, dan terlihat senang dengan apa yang dilakukannya. Membuatnya bersemangat mengulang gerakan itu...naik dan turun sambil meremas-remasnya.

"Mh..baek—ssh"

Chanyeol masih mendesis penuh nikmat. Hanyut dalam sentuhan yang sepenuhnya polos namun menjerat itu. ia membuka sebelah matanya lalu menyentuh bibir Baekhyun.

"Manjakan Dia dengan bibirmu...Baekhyun" Bisiknya penuh gairah, membuat namja mungil itu berhenti untuk menatapnya.

Raja Silla itu semakin tak sabaran melihatnya, ia membimbing kepala Baekhyun untuk merunduk mendekati kepala genitalnya. "Kecup dan jilat" Bisiknya lirih. membuat Baekhyun menangguk patuh lalu mengecup pelan ujung genital yang telah mengeluarkan precum itu, lalu menjilatnya kaku.

'Chup'

Baekhyun mengernyit, merasa asing dan tak biasa dengan rasa genital itu. ia menatap ke atas ingin bertanya, namun urung... begitu Raja Silla itu mengecup kilat bibir bawahnya.

"Masukkan ke dalam mulutmu"

Sebenarnya Baekhyun masih ingin protes, tapi melihat Ahjjusinya menatap redup dan terlihat menahan sakit seperti itu, membuatnya tak memiliki opsi lain, selain memasukkan benda besar itu, ke dalam mulutnya...walau hanya berhasil ujung kepalanya saja.

"Sshh..He—bat" Tubuhnya semakin menengang, terasa memanas...begitu rangsangan itu tak kunjung memanjakan libidonya. hangatnya mulut Baekhyun terlalu sayang untuk di diamkan begitu saja.

Ia memegang kepala Baekhyun, lalu..

Blesh

Melesakkan genitalnya dalam sekali hujam, hingga menyedak kerongkongan Baekhyun. Membuat bocah mungil itu terbelalak...dengan pipi menggembung terisi penuh.

"Uhmp...urmh! ummh!"

Kedua tangan kecil itu terlihat meronta, menekan-nekan perut Chanyeol. nafasnya terasa sesak...dan Ia benar-benar kesulitan untuk mengais nafas.

Meski demikian, pria itu tak kunjung berhenti...terus menerus menggerakkan miliknya keluar masuk. melampiaskan hasrtanya yang selama ini tak terpenuhi, dan membayangkan mulut mungil itu...adalah rektum yang selama ini diincarnya.

"Ah! Kau pin—tar sayang...sshh"

.

.

"Uhmp...Mhmp! URMMMM!" Baekhyun semakin terbelalak lebar begitu pria itu memepercepat gerakannya, dan—

"SSH! AH!"

Jutaan benih miliknya, melesak masuk...menyentak beberapa kali hingga memenuhi perut bocah manis itu. sebagian tak berhasil tertampung dan menetes ke dalam air kolam. Ia mendesis nikmat...lalu menarik keluar penisnya.

Detik itu pula...Baekhyun terbatuk hebat, dan begitu tersengal mengatur nafasnya sendiri.

"Uhuk! ukh...ngh! Uhk"

Seolah baru tersadar, Chanyeol merengkuh cepat tubuh mungil yang masih tersedak spermanya itu. Ia menyeka sisa sperma yang masih meleleh di sudut bibirnya, lalu membekapnya cepat dengan ciumannya.

Berusaha...meniupkan nafas hangatnya untuk anak itu. Hingga dipastikan mengisi parunya, dan membuatnya kembali tenang.

"Ssh...Mianhae" Bisiknya seraya membawa tubuh mungil itu kedalam pelukannya.

Baekhyun masih terengah, namun tak sehebat beberapa saat lalu. Ia hanya mampu bersandar dengan bibir setengah terbuka, masih berusaha keras untuk bernafas.

"Ahjjusi...Baekhyun tidak menyukai benda ini" Gerutunya seraya memukul kesal genital Chanyeol. "Dia jahat! Baekhyun tidak mau bermain dengannya lagi!" Lanjutnya lagi, tanpa tau...benda besar yang dipukulnya itu kembali mengeras dan tegang.

Chanyeol hanya berdecak keras, dan menepuk jidatnya sendiri. Tak menduga Baekhyun masih saja menjebaknya dengan sikap polos itu. ah entahlah setelah ini, masih bisakah ia menahan diri untuk tak menyerang namja kecil itu. Setelah kesempatan datang berulang kali padanya.

.

.

Ia menghela nafas dalam-dalam, sebelum akhirnya memutar tubuh Baekhyun membelakanginya. Lalu membasuh tubuh mungil itu..dengan air hangat.

Melakukan hal yang memang semestinya dilakukan untuk memandikannya.

.

Hingga tiba-tiba, pertanyaan Baekhyun kembali memecah hening di dalam kolam pemandian itu.

"Ahjjusi, kapan Appa menjemput Baekhyun?"

DEG

Tapi kali ini bukan pertanyaan polos yang terdengar, melainkan suatu perkara yang membuat waktu serasa mencekiknya. Sungguh! Ia benar-benar tak ingin mendengarnya. Dan jika bisa... apapun akan dilakukannya untuk menghapus ingatan Baekhyun akan orang tuanya..

"Baekhyun sakit, tapi mengapa Appa tidak datang menjemput Baekhyun?" Tanyanya lagi seraya menoleh kebelakang.

"Baekhyun ingin bertemu App—

"TIDAK! TEMPATMU DI SINI! LUPAKAN ORANG TUAMU! KARNA HANYA AKU YANG KAU BUTUHKAN BAEKHYUN!" Teriaknya kalap.

"A-ahjjusi..hks..."

.

.

.

.

.

.

To Be Cont...

.

.

Next chapt...

"K-kau! Kau mencium anak itu?"

Chanyeol terdiam, membiarkan wanita itu membenturkan semua asumsinya. "D-dia anak kecil! Na-namja! Bagaimana mungkin kau serendah—

"TUTUP MULUTMU!"

.

.

.

.

Waktu seakan memanjakannya, bocah lugu nan menggemaskan yang kerap berlarian rusuh itu. Kini telah tumbuh menjadi remaja belia yang begitu mempesona.

Banyak yang terkecoh, dengan hanya melihat sekilas paras cantiknya. Terlalu indah...bahkan mungkin mampu membuat siapapun jatuh terpana karenanya.

.

.

"Mangapa Ahjusii kemari? Aku harus belajar!" Sungutnya tak suka, seraya mendorong dada pria yang masih ingin mengendus lehernya itu.

"Tch! Tutup saja! Bagaimana mungkin buku seperti ini membuatmu mengacuhkan Raja setampan diriku huh?" Godanya, sambil berusaha menutup buku berguratkan huruf china itu.

"Aissh! Ahjjuss—Mpfth..nghh"

.

.

.

Annyeoooong..Gloomy hadir bawa Ch 5 nyaaa.

Wah karena masih menunggu respond, updatenya g jadi rabu kemarin. Dan sesuai permintaan...yang update pilihan terbanyak

*Hayo siapa yang ceburin Baekhyun? Dayang atau Seulgi?

*Baekhyun mati engga? Mayatnya siapa itu? Baekhyun atau bukan?

Udah terjawab di Chapter ini yah... :)

*Ada yang penasaran dengan Chapter besok?

Ok seperti biasa, pilih ini lanjut...atau Blood on a white rose?

Kalau mau update dua-duanya. Jangan lupa kasih revieew hiihhi

Gloomy update sesuai respond/review teman-teman. Kalau banyak...rajin updatenya.

Dan untuk:

restikadena90, gloriadelafenni, daeri2124 , leeminoznurhayati , CussonsBaekby , 90Rahmayani , park kkuma, YuRhachan , lily kurniati 77 , narsih hamdan , CBZAAY , Shengmin137, Lussia Archery, Byunsilb , LittleJasmine2 , metroxylon, rima , meilyn, PRISNA CHO, Tiara696, RealNa, Ervyanaca , Flowerinyou, yehet98 , MinJ7 , Fearless Soldier , CyBH614 , mphi , babybaekhyunee7, Risty629 , Eun810 , baekkieaerii , selepy , nurhidayani137 , yousee, LUDLUD , bbhyn92 , Lee Na Rin, fifa4321, inspirit7starlight, Park RinHyun-Uchiha , istiqomahpark01 , Find who am i , n3208007, vava1487,byuniepark , Hyun CB614 , dwi yuliantipcy , Radit452, youngdil , minami Kz , Guest04 , jisungswag, Aya, chanbaekaegi , siumin66, barampuu, dan All Guest

Gomawoo untuk reviewnya, Gloomy akan selalu mencantumkan nama reviewer di setiap Chapnya :)

Jangan lupa review neee...

Annyeooooooooooooonggggggg

Saranghaaaaaeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee