Game On
.
Characters belong to Masashi Kishimoto.
.
This Is SasuHina Story!
Alternative Universe! Out Of Character! Typical Errors!
You've been warned!
.
And please note that I already got you warned that anything can happen.
.
Inspired by an romance-action novel yang saya lupa judulnya T.T
.
.
.
Semuanya berlanjut tanpa ada yang mencoba menghentikan. Sasuke yang benar-benar tak bisa menahan dirinya lagi dari menginginkan Hinata, dan Hinata sendiri yang membiarkan dirinya terbakar oleh percikan nafsu yang mereka buat sendiri.
Untuk Hinata, seharusnya Sasuke bukanlah siapa-siapa. Seharusnya yang perlu ia lakukan hanyalah memastikan pria itu tetap pada perannya sesuai dengan apa yang sang ayah kehendaki. Tapi sekarang agendanya, agenda mereka, membelok ke jalan yang sama sekali tak mereka duga. Dan mereka berdua tak peduli.
Keduanya telah melewati banyak hal dan terus-menerus menyangkal tentang perasaan mereka tidak akan membuat keadaan lebih baik. Jadi, ya. Hinata telah menentukan pilihannya malam ini. Jika Sasuke memilihnya, ia tak akan melepaskan pria itu. Dan jika malam ini Sasuke menginginkan untuk menguasai dirinya, ia bersedia memberi pria itu apa yang diinginkannya.
Dengan kepala menengadah, mata terpejam dan kedua tangannya yang ia selipkan di sela surai kelam Sasuke, Hinata mencoba menahan diri untuk tak mengeluarkan lenguhan berlebih. Hinata menyerahkan dirinya kepada Sasuke. Ia memberikan kesempatan kepada pria itu untuk menyentuhnya dengan cara yang diingini pria itu sendiri.
"Hinata..." Sasuke bernapas di tengah sapuan bibirnya di leher Hinata, mengirimkan sensasi geli yang membuat Hinata meremas surai pria itu lebih kencang.
Tangan Sasuke yang semula bermain di balik kaus Hinata kini mulai meningkatkan permainannya. Dengan cekatan, ia mengangkat dan melepas kaus yang Hinata kenakan. Bibirnya yang terpaksa melepaskan diri dari permukaan kulit Hinata kembali melekat dengan segera seakan mereka adalah dua kutub magnet yang berbeda.
Ciuman basah Sasuke mulai menjalar ke tempat lain mengingat lebih banyak kulit tubuh Hinata yang kini terekspos. Rahang, leher, bahu, selangka hingga kini mulutnya berada di salah satu pangkal payudara Hinata. Seakan tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, tangan kiri Sasuke ikut bekerja, bermain di sisi yang lainnya meski gundukan kenyal itu masih terlapisi bra. Hinata sendiri beberapa kali tak bisa menahan erangannya saat tangan besar mulai meremas gemas buah dadanya.
Tangan kanan Sasuke yang sedari tadi memang lengket di punggung Hinata, tanpa Hinata sadari juga sudah beraksi melepas kait bra miliknya. Membuat pakaian dalamnya itu menggantung longgar di depan dadanya.
Sasuke menarik lepas benda yang menurutnya mengganggu itu, membuat Hinata kini benar-benar bertelanjang dada kemudian kembali menikmati hasil kerjanya. Mulut yang sebelumnya hanya ia mainkan di pangkal payudara Hinata kini bisa bereksplorasi lebih sampai pada ujung dada wanita itu yang sudah menegang.
"Uhh... Sasuhkeee..." Hinata mengerangkan namanya saat lidah basah Sasuke menyapu ujung buah dadanya, mengirimkan gelenyar nikmat yang sulit tertahan.
Setelah beberapa kecupan, hisapan dan gigitan, Sasuke memutus kontak bibirnya dari kulit Hinata lagi hanya untuk kemudian melumat bibir si wanita kembali. Ciuman kali ini jelas memiliki level yang berbeda dari sebelumnya, begitu membakar dan penuh hasrat. Sasuke memiringkan wajahnya dan menahan tengkuk Hinata lagi, menariknya lebih dalam pada ciuman mereka. Lidah mereka beradu hebat. Hinata kewalahan dengan keagresifan pria yang tengah merengkuhnya ini. Jika tak mengingat siapa lawan mainnya itu, Hinata tak percaya jika ini merupakan pengalaman pertama bagi Sasuke.
Hinata melontarkan rengekan rendah yang langsung diterima mulut Sasuke saat satu tangan pria itu perlahan menyusup masuk ke dalam celananya. Sasuke sendiri sama sekali tak melepaskan bibir Hinata dari bibirnya selama itu tak diperlukan.
"Ahhh..." Hinata sontak melepas kontak bibir mereka, terkejut saat merasakan jemari Sasuke yang menyentuh bibir kewanitaannya di bawah sana.
"Kau menyukainya?" bisik Sasuke seduktif, ia mengecup lama ujung bibir Hinata sambil dua jarinya mengusap bagian sensitif wanita itu.
Hinata menggigit bibirnya, menahan diri dari segala sensasi yang menyerangnya secara bertubi-tubi.
"Aku menginginkanmu," bisik Sasuke lagi, dengan nada yang tak kalah menggoda.
Hinata mengalungkan tangannya di leher Sasuke sebelum bergumam. "Malam ini... aku milikmu, Sasuke."
Sasuke mengeluarkan tangannya dari celana Hinata kemudian menegakkan tubuhnya sebelum berdiri, mengangkat Hinata juga yang sejak awal berada di pangkuannya. Gerakan Sasuke sontak membuat Hinata melingkarkan kedua kakinya di pinggang pria itu agar tak terjatuh. Sasuke terus menghujani leher Hinata dengan kecupan hingga yang Hinata sadari selanjutnya, ia telah dibaringkan di atas tempat tidur.
Sasuke merangkak menggoda di atas Hinata, dan Hinata bersumpah itu adalah pemandangan paling seksi yang pernah dilihatnya.
"Kau... terlihat begitu... seksi," komentar Sasuke jujur tanpa meninggalkan ametis Hinata saat tangan Hinata bekerja melepas sabuk yang ia kenakan.
Kemudian tanpa aba-aba, Hinata membalikkan posisi mereka dan mendudukkan diri di pinggul Sasuke. Sasuke yang sadar tertawa pelan atas aksi wanita itu.
"Apa yang kau inginkan, Manis?" tanya Sasuke menggoda, ia membiarkan Hinata duduk di atasnya sedang ia sendiri berbaring di ranjang.
Hinata tak menjawab, hanya tersenyum kecil. Tangannya mulai menjelajahi perut Sasuke yang terbentuk sempurna. Dimulai dari ukiran tato Sasuke, untuk beberapa saat telapak tangan halus Hinata bermain di ukiran tinta hitam itu, membuat Sasuke beberapa kali menghembuskan napas panjang. Sentuhannya berlanjut ke pusar dan terus naik hingga ke dada pria itu. Ia juga beberapa kali merasakan bagian kelelakian pria itu yang mengeras menyentuh bokongnya karena beberapa gerakan yang tak disengaja.
"Kau sudah sangat keras," ujar Hinata dengan senyum jahil.
Sasuke mendudukkan dirinya sehingga ia berhadapan dengan Hinata. "Dan kau akan bertanggung jawab atas hal itu sebentar lagi," seringainya sebelum membanting tubuh Hinata agar kembali berada di bawahnya. "Aku adalah seniormu. Akulah yang harusnya berada di atasmu," Sasuke menjauhkan diri dari Hinata dan turun dari ranjang hanya untuk melepas seluruh pakaiannya.
Hinata diam-diam menelan salivanya melihat Sasuke berdiri tanpa sehelai benang pun di hadapannya. Apalagi dengan milik pria itu yang terlihat mencolok dan begitu siap. Dengan cepat ia mengalihkan pandangannya. Tentu ia tahu apa yang akan mereka lakukan selanjutnya, namun ia tetap tak bisa tahan dengan pemandangan seperti itu barang untuk waktu yang lebih lama.
Sasuke kembali merangkak di atas ranjang, meraih garis pinggang celana Hinata dan menariknya lepas beserta celana dalamnya. Ia terpaku sejenak menyadari Hinata yang kini sama telanjangnya dengan dirinya.
Sasuke kembali menindih Hinata, namun tetap menahan berat tubuhnya agar tak membebani wanita itu. Ia menatap Hinata yang terpejam dengan napas memberat karena nafsu. Tanpa mengalihkan tatapan dari wajah Hinata, tangan Sasuke menyapu ringan tiap inci tubuh wanita itu. Gerakannya terhenti saat telapak tangannya meraba permukaan kulit yang agak tak rata.
Sasuke menengok ke tempat di mana tangannya menyentuh. Bekas luka Hinata. Ia menatap diam bekas luka itu untuk beberapa saat dengan tatapan yang sulit diartikan. Hinata yang merasa luka lamanya disentuh membuka mata dan mendapati Sasuke terdiam.
"Sasuke," panggil Hinata, pelan namun sukses untuk membuat Sasuke kembali memandang wajahnya.
Tanpa kata lagi, Sasuke kembali melahap bibir Hinata dengan rakus. Tangan kanannya menyusup ke bawah punggung Hinata, seakan dengan itu ia bisa membuat jaraknya dan Hinata yang sudah tipis itu semakin menipis. Ciuman Sasuke berpindah ke rahang, telinga, leher dan seterusnya.
Hinata mendesah keras saat tangan Sasuke yang lainnya membuat kontak langsung dengan kewanitaannya, agak memainkan pusat ujung syarafnya. Pekikan tertahan kemudian keluar dari bibir tipisnya saat satu jari Sasuke menginterupsi liang kewanitaannya. Hinata menggigit bibir, memejamkan mata juga mengerutkan kening, berusaha menahan dirinya agar tak terbakar lebih dari ini.
Sasuke sendiri menekankan bibirnya pada pundak Hinata, sekaan mencoba menahan keluar erangan yang sudah sampai di tenggorokannya. Jemarinya berhenti setelah beberapa kali bergerak keluar masuk. Ia mengangkat kepalanya memandang wajah Hinata.
"Apa aku menyakitimu?" tanyanya penuh keraguan.
Hinata menggeleng sebagai respons di tengah kepayahannya. "Tidak apa-apa."
Sasuke mendekatkan wajahnya ke arah Hinata, mengecup ujung bibir wanita itu. "Aku tidak ingin menyakitimu," ujarnya yang hanya disambut anggukan oleh Hinata. Setelah anggukan itu, Sasuke memaksakan satu jari masuk untuk menemani jari tengahnya yang seperti sudah menemukan rumahnya di dalam milik Hinata.
Hinata melengkungkan tubuhnya ke depan, tak tahan dengan sensasi baru yang datang. Memang ini bukan kali pertama untuknya, namun tetap saja, sudah bertahun-tahun sejak terakhir kali ia berhubungan intim dan agaknya itu membuatnya harus beradaptasi ulang.
Sasuke melepaskan invasinya dari dalam diri Hinata, oniksnya kemudian menatap ametis wanita itu dengan tatapan yang penuh ungkapan. Selama beberapa saat, keduanya meling bertatapan dalam diam, seolah cukup untuk keduanya berinteraksi.
Menit berikutnya mulut bereka kembali bersatu. Tangan kanan Sasuke meraih tangan kiri Hinata yang awalnya meremas kain seprai kemudian menggenggamnya erat. Sedang tangan kirinya mencoba membuat Hinata membuka kakinya agak lebar.
"Ahhh..." pekikan Hinata kembali terdengar saat wanita itu kembali merasakan sesuatu menyusup di celah intimnya, merenggangkan dirinya di bawah sana. Irama napasnya terlanjur tak beraturan, tangan kirinya mencengkeram erat tangan Sasuke yang menggenggamnya.
Sesuke berhenti sejenak memberi kesempatan untuk Hinata untuk terbiasa dengan kehadirannya. Kening basahnya ia sentuhkan pada kening Hinata. "Kau... tidak membenciku, bukan?" tanya Sasuke rendah.
"Aku bukan tipikal wanita yang akan menyerahkan diriku sendiri pada orang yang aku benci," jawab Hinata.
Jawaban itu seperti menghapus keraguan yang dirasakan Sasuke. Setelah dirasa cukup, Sasuke mulai menggerakkan pinggulnya yang direspons dengan lenguhan panjang wanita di bawahnya. Tangan kanan Hinata yang semula meremas kain seprai, beralih ke pundak pria itu.
"Sangat... sesak, sial!" Sasuke mendesis, menciumi leher Hinata tanpa menghentikan gerakan pinggulnya.
Erangan nikmat juga suara permukaan kulit yang beradu mengisi ruangan itu. Kalimat dengan bumbu kata kotor beberapa kali keluar tanpa kontrol penuh pikiran mereka. Yang mereka tahu saat itu hanyalah kenikmatan hasil penyatuan mereka berdua. Sensasi yang mereka dapat terlalu hebat untuk dirasa menjadi kenyataan.
Hinata sendiri masih tak percaya, bahwa di antara semua orang yang dikenalnya, ia berakhir bersama seorang pria yang dikenal kasar dan tak memiliki belas kasih. Tapi siapa peduli, yang ia tahu, Sasuke sekarang menyentuhnya, merengkuhnya begitu lembut seolah ia adalah kristal rapuh.
Semuanya terasa ringan, tanpa beban sampai Hinata lupa untuk mengingatkan pria itu mengenai pelepasannya. Hinata terlalu tenggelam untuk sekedar memberitahukan Sasuke untuk melepaskan hasrat tertingginya di luar. Ia terlalu terbius hingga membiarkan cairan hangat pria itu mengisi dirinya.
Dengan napas yang sama sekali berantakan, mereka terdiam menikmati sisa-sisa fantasi yang baru mereka raih. Sasuke lagi-lagi merobohkan diri, memerangkap Hinata di bawahnya namun tetap menahan berat tubuhnya sendiri. Ia membenamkan wajah di leher berpeluh wanita itu, menghirup aroma memabukkan yang dihasilkan dari sampo juga hormon seksualnya.
"Hinata..." bisiknya, tangannya bergerak merengkuh tubuh sintal di bawahnya.
Hinata tersenyum kecil, tangannya ia selipkan di sela surai pria itu yang kini lembab karena keringat. "Kalau kuingat lagi, malam ini adalah pertama kalinya kau memanggilku dengan nama kecilku."
"Hn," Sasuke hanya bergumam dan tak melakukan apapun selama beberapa saat. "Sepertinya setelah ini kita akan menjadi tetangga yang menganggu," Sasuke mesih menenggelamkan wajah di ceruk leher Hinata, dikecupnya sesekali permukaan kulit di sana.
Hening mengisi keadaan sementara deru napas mereka berangsur normal. Sasuke terlihat masih betah dengan posisinya.
"Sasuke?" panggil Hinata, memastikan pria itu belum terlelap di atasnya.
"Hn,"
"Berjanjilah kau akan tetap di sini saat aku bangun besok," bisik Hinata.
Sasuke mengangkat tubuhnya hingga penyatuan mereka terlepas. Ia menyentuh dagu Hinata, menahannya agar mereka saling bertatap. "Kau satu-satunya hal baik yang pernah muncul di hidupku, Hinata," bisiknya rendah. "Apa itu cukup untuk menebus sebagian perlakuan burukku padamu?"
Hinata mengangguk. "Sebagian," tegasnya. "Kau masih perlu melakukan banyak hal untuk benar-benar kuampuni," candanya sebelum tubuhnya kembali masuk ke dalam pelukan Sasuke.
..
...
..
Sinar matahari pagi yang sudah terasa terik jatuh terpantul pada punggung Hinata. Matanya terkejap beberapa kali menyesuaikan sinar yang masuk ke retinanya. Kondisi tempat tidur yang berantakan juga aroma seks yang samar masih menggantung di kamar itu seolah memperingatkannya kejadian semalam.
Sasuke di sampingnya sudah tersenyum padanya dengan kelopak mata yang masih setengah menggantung. Menandakan bahwa pria itu pun baru saja terbangun dari lelapnya. Perasaan lega menyerbu dada Hinata mengetahui pria itu mendengarkannya, menepati janji yang diberikannya.
Tidak ada yang diragukan lagi, apa yang terjadi semalam adalah hal yang nyata. Bagaimana Hinata menyerahkan dirinya, bagaimana Sasuke menyentuhnya, bagaimana pria itu menghancurkan dinding keraguan yang Hinata pertahankan selama beberapa tahun terakhir.
"Selamat pagi," suara Hinata terdengar serak di telinganya sendiri, di sisi lain, Sasuke malah melebarkan cengirannya.
"Aku tidak pernah menerima sapaan itu dari orang lain. Apalagi di ranjang," Sasuke memiringkan tubuhnya agar menghadap ke Hinata. "Aku... tidak terbiasa... dengan hal seperti ini."
Hinata tertawa kecil. "Ya, kau harus banyak belajar untuk membiasakan diri dengan banyak hal."
Sasuke meraih pergelangan tangan Hinata, membuat wanita itu terperangkap di bawahnya lagi. "Jangan mengejekku. Aku benar-benar hampir gila hanya untuk mencari tahu tentang semua... yang aku rasakan ini," desisnya dengan kedua tangan menahan pergelangan tangan Hinata di sisi kepala.
"Aku tidak mengejek," Hinata membela diri. Sebisa mungkin ia menahan diri untuk tak memalingkan wajah karena malu. Bagaimanapun, posisi mereka saat ini mengingatkannya akan kegiatan semalam.
"Bagaimana?" Sasuke berbisik, matanya menerawang menuju ametis Hinata.
"Apanya yang bagaimana?"
Tercipta jeda barang beberapa saat sampai Sasuke menjawab. Matanya masih tak teralihkan dari target pandang awal. "Bagaimana bisa aku merasakan... ini."
"Jelaskan 'ini' yang kau maksud," Hinata tersenyum.
"Ini ya ini..." jawab Sasuke frustrasi. "Aku. Kau. Seks. Bangun dengan sapaan. Dan adrenalin mengerikan ini."
"Bagaimana kalau kujawab daya tarik?"
Sasuke berdecih pelan. "Kau benar-benar terlalu percaya diri. Barusan kau ingin mengatakan bahwa aku tertarik padamu?" separuh alisnya menukik.
"Tidak juga. Tapi kau pernah bilang belakangan ini kau sering bermasturbasi karena aku," Hinata menahan senyum gelinya.
Oniks Sasuke terlihat lebih jelas saat kelopak matanya melebar. "Gila! Kapan juga aku mengatakannya?!" sangkalnya.
"Berhenti menyangkal, Sasuke. Berhenti lari dari semua ini," ucapan Hinata melembut. "Kau bahkan tidak lari dari serbuan peluru, tapi kau malah gugup setengah mati jika itu menyangkut tentang atraksi seksual?"
"Jika itu menyangkut tentang kau," Sasuke mengoreksi, satu kalimat yang sepertinya cukup untuk membuat Hinata bungkam.
Mata mereka terikat satu sama lain untuk beberapa menit hingga napas masing-masing terasa memberat. Hinata merasa saat itu jantungnya berdetak di atas kecepatan rata-rata, namun ia juga tahu bahwa jantung Sasuke tak lebih tenang darinya.
"Tidak bersiap untuk kerja?" Hinata memutus hening yang tercipta karena kediaman mereka tanpa memutus kontak mata.
Sasuke tak melempar respons verbal, ia mendekatkan wajahnya ke wajah Hinata, menargetkan bibir wanita itu. Empat lima lumatan ia berikan sebelum kembali menarik diri.
"Mungkinaku bisa mengambil izin hari ini," jawab Sasuke akhirnya.
"Apa alasanmu?" timpal Hinata setengah mencibir.
"Sakit."
"Kau sangat sehat, Sasuke," Hinata terkekeh kecil.
"Itu hanya alasan yang aku buat," sahut Sasuke. "Aku hanya... ingin di sini... untuk hari ini," tambahnya dengan tatapan mata yang menerawang.
Hinata lagi-lagi tertawa kecil, lengannya ia kalungkan di leher Sasuke yang masih di atasnya. "Kau benar-benar memiliki cara yang aneh untuk memberi tahu seseorang bahwa kau peduli kepada mereka. Kau ini bengis, kasar, sembrono... seperti yang orang lain katakan," komentar Hinata.
Alis Sasuke menukik mempertanyakan. "Tidak ada yang mengataiku begitu. Kau yang bilang."
"Yang benar tidak mengatakannya tepat di depan wajahmu. Karena mereka tahu kau akan menghadiahi satu timah panas langsung ke kepala mereka. Kau juga jahat, temperamental, cukup posesif, bukan pendengar yang baik dan mentor yang buruk," Hinata tersenyum lebar melihat ekspresi Sasuke saat mendengarnya. "Tapi tidak berarti itu semua membuatmu tidak berhati. Keadaan membawa kita ke tempat di mana kita berada sekarang," kalimat Hinata melembut, ibu jarinya mengusap tengkuk pria di atasnya.
"Aku benci bagaimana kau bisa menjabarkan semua kepribadianku," balas Sasuke yang lebih menyerupai bisikan.
Hening beberapa saat sebelum Hinata membuka mulutnya, menanyakan hal yang seperti tak sejalur dengan apa yang mereka bicarakan sebelumnya. "Apa yang kita lakukan, Sasuke?" ujarnya rendah.
Butuh lima detik untuk Sasuke meresponsnya. "Kenapa kau membiarkanku melakukannya?" meski respons itu malah berupa pertanyaan balik untuk Hinata.
Hinata berkedip kemudian menatap oniks berkilap itu. "Mungkin karena aku melihatmu sebagai seorang lelaki. Seorang lelaki yang mau memberiku apa yang aku butuhkan."
Sebelah tangan Sasuke menangkup sebagian wajah Hinata, mengusap tulang pipinya lembut. "Dan apa itu yang kau butuhkan?"
"Semacam afeksi nyata?" jawab Hinata dengan nada menebak-nebak.
"Percayalah, Aku tidak hanya akan memberikan hal itu padamu," Sasuke tersenyum lebar. "Aku tidak memiliki banyak orang di hidupku dan aku benar-benar seorang idiot jika sudah menyangkut hal seperti itu. Tapi aku orang yang memiliki loyalitas tinggi. Jadi jika kau memang bersedia memberiku kesempatan... aku akan menunjukkan padamu bahwa di luar segala cacat yang aku miliki, aku bisa menjadi cukup pantas untuk mendapat kesempatan itu."
"Kau bicara seperti seorang motivator sejati," Hinata tertawa sejenak sebelum kembali serius. "Setiap orang memiliki kesempatan, Sasuke. Kekurangan seseorang tidak akan membuat kesempatan itu musnah dari dirinya."
"Jadi... kita sepakat. Kau harus menerimaku untuk lebih mengenalmu meskipun menurutmu aku menyebalkan dan sebagainya," seringai Sasuke.
Hinata mengangguk geli. "Lagipula aku sudah cukup terbiasa dengan sikap menyebalkanmu."
..
...
..
Terhitung tiga hari sudah sejak pembicaraan serius mereka. Setelah itu hampir setiap malam mereka luangkan untuk seks dan hanya seks. Mereka bahkan tak begitu peduli soal makan malam atau sejenak meluangkan waktu untuk mandi sore. Malah Hinata agak curiga bahwa Sasuke mulai menjadikan kegiatan panas mereka ini sebagai hobi baru. Tapi lagi, ia sendiri tak mengeluhkan apapun soal ini.
Seperti pagi ini. Sasuke yang seharusnya bersiap untuk pergi untuk pekerjaan samarannya malah mengganggu tidur Hinata dengan memainkan jemari panjangnya pada milik wanita yang tengah tidur menelungkup itu.
"Uhh..." masih dengan setengah kesadarannya, kening Hinata berkerut akibat invasi dadakan pada area intimnya. Wajahnya ia benamkan pada bantal, berharap dapat menahan sensasi yang menyerangnya.
"Sial! Kau sangat seksi bahkan saat masih setengah terlelap," Sasuke terkekeh kecil tepat di belakang telinga Hinata, sungguh cukup untuk membuat bulu kuduk wanita itu meremang. "Pagi," lanjut Sasuke dengan sapaan. Tangan satunya melebarkan kaki Hinata guna mempermudah pergerakan tangan lainnya yang masih bermain pada milik wanita itu.
Hinata memiringkan kepalanya ke samping, matanya berkedip beberapa kali untuk sekedar menjernihkan pandangan. Dan ia menemukan Sasuke tepat di sampingnya, menatapnya dengan oniks berkilap dan jemari yang bergerak perlahan timbul tenggelam di dalam dirinya.
"Kau brengsek!" protes Hinata. "Aku aahh... aku masih mengantuk," lanjutnya di sela desahan ketika ia merasakan ujung jari pria itu menyapa titik paling sensitif di dalam dirinya.
Sasuke tidak menjawab, malah mempercepat gerakan tangannya. Ia pertemukan bibir Hinata dengan bibirnya dan memberinya beberapa lumatan. "Tapi kau menyukainya," bela Sasuke seadanya.
"Ahh... ahh... Sasuuh..." Hinata mendesah liar, gerakan jari di dalam kewanitaannya yang semakin cepat membuat titik sensitifnya semakin sering dijangkau pada tiap tusukannya.
Sasuke menambah satu jarinya, hingga total tiga jari yang mempermainkan kewanitaan Hinata tanpa memperlambat gerakannya sama sekali. Hinata ingin mengubah posisi tidurnya, ingin bisa menyentuh pria itu, namun Sasuke menahannya.
"Jangan menyentuhku," titah Sasuke yang seketika membuat tangan Hinata berhenti meraih-raih, sebagai gantinya, Hinata meremas bantal yang ia gunakan. Beberapa kali kegiatan panas yang mereka lewati cukup untuk membuat Hinata menyimpulkan sesuatu yang baru tentang Sasuke. Bahwa pria itu tampaknya lebih senang mendominasi saat di atas ranjang.
"Teruslah mendesah," ujar Sasuke dengan nada yang memberat karena nafsu.
"Sasukee... aku..."
"Keluarkan..." ujar Sasuke seakan tahu apa yang akan dikatakan Hinata. Gerakan tangannya semakin ia percepat untuk membantu wanita itu mencapai puncak kenikmatannya.
"Aahhh..." nafsu yang mengekang Hinata seakan meledak, membasahi jemari pria di sampingnya. Belum ia kembali dari puncak kenikmatannya, ia melihat Sasuke menyeringai sebelum pria itu melumat bibirnya.
Keduanya kemudian memisahkan diri. Sasuke masih menatap Hinata sedangkan wanita itu memejamkan matanya, mengatur kesadarannya untuk kembali stabil. Beberapa menit hingga Hinata mendudukkan diri di atas ranjang kemudian berdiri perlahan.
"Kau seharusnya sudah berangkat."
"Aku sakit," jawab Sasuke sambil menepak bokong Hinata yang kebetulan sedang membelakanginya.
Hinata refleks mendelik tajam namun pria itu hanya nyengir enteng. Hinata menggeleng pelan sebelum mulai melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. "Aku kesulitan berjalan, tahu!"
"Kalau begitu jangan berjalan. Tetaplah di ranjang," jawab Sasuke enteng.
Hinata memutar bola matanya. "Dua hari lagi aku harus melakukan interview. Kau sebaiknya tidak menghancurkan tubuhku sebelum itu."
Sasuke tertawa renyah kemudian mengekori Hinata yang keluar kamar. Ia menunggu di sofa saat Hinata mengambil waktunya untuk mandi. Tidak sampai lima belas menit, wanita itu kembali dengan pakaian utuh dan duduk di sisinya.
"Omong-omong soal hari," Sasuke membuka percakapan. "Sudah lebih dari seminggu kita tinggal di sini," lanjutnya.
Hinata menelan ludah, ia jelas tahu ke mana arah pembicaraan ini, namun entah kenapa ia memilih untuk berpura-pura tak mengerti. "Jadi?" dan hanya itu yang dikatakannya.
"Kita belum memangsa satu sama lain. Maksudku... tidak dalam hal itu, kau tahu. Karena yah, kita memang sudah memangsa satu sama lain beberapa hari belakangan," Sasuke melirik ke arah wanita di sampingnya. "Tapi aku berhasil mengendalikan diri dari membunuhmu dan kau juga berhasil menahan diri dari menuangkan bubuk racun tikus di sup tomatku. Jadi..." Sasuke menjeda panjang, membuat Hinata menengok ke arahnya terlebih dahulu sebelum melanjutkan kalimatnya. "Ceritakan padaku tentang masa lalumu dengan si Neji ini."
Hinata memejamkan mata dan menghempaskan punggungnya di punggung sofa. "Itu bukan hal penting yang perlu kau ketahui, Sasuke."
"Aku perlu tahu, Hinata!" nada bicaranya mulai menuntut. "Aku ingin kau tahu bahwa aku tidak sekedar bermain-main. Aku hanya merasa perlu tahu apa yang telah kau lalui."
"Ini hanya akan membebanimu, Sasuke," Hinata menghela napas.
"Tidak. Kau bukan beban untukku," oniksnya memicing tajam. "Aku tahu yang kita lakukan selama ini hanya sekedar... seks. Tapi aku benar tidak ingin kau menghalangiku untuk mengenalmu! Dan bagaimana aku bisa mengetahuinya jika kau bungkam!" ujarnya berapi-api.
"Yang kita lakukan... kita sama-sama tidak menyadari persisnya, tapi semua ini bisa jadi hanya ketertarikan seksual. Apa yang kau ingin ketahui itu... bukan hal yang mudah kuceritakan kepada... katakanlah... sekedar teman tidur," sungguh Hinata sangat berhati-hati saat menjawabnya.
"Sekedar teman tidur?" Sasuke menyeringai miris. "Oh gila. Memangnya apa yang aku harapkan? Kau pastinya masih memandangku sebagai pembunuh gila yang tidak mengerti apapun tentang perasaan," sindirnya.
"Bukan seperti itu!" sanggah Hinata.
"Kau tidak mempercayaiku. Tidak pernah mencoba untuk mempercayaiku," sela Sasuke, matanya menatap ametis Hinata dalam.
"Aku pernah disakiti, Sasuke! Dan aku tidak menginginkan untuk merasakannya lagi. Itulah kenapa aku ragu tentang..." Hinata menghela napas sebelum kalimatnya benar-benar rampung. "Hubungan kita... bisa saja berubah menjadi lebih berarti dalam. Dan jika itu terjadi, aku tidak akan mungkin mampu jika nanti aku kehilangan lagi," lanjutnya dengan mata terpejam. "Bukan karena aku tidak mempercayaimu, Sasuke."
Sasuke tak merespons apapun, namun Hinata tahu pria itu masih di sisinya, tak pergi ke mana pun. Tiga menit berselang sebelum Hinata kembali bersuara.
"Hyuuga Neji adalah sepupuku," Hinata membisik, seolah tak sanggup mengatakan lebih keras lagi.
Jeda beberapa detik kembali menahan respons Sasuke. "Apa dia... masih hidup?"
"Ya."
Sasuke mengerutkan keningnya tak mengerti. "Aku... memeriksa identitasnya. Tidak ada informasi lain selain sekolah menengah yang dia masuki. Jadi kupikir dia... mati."
"Ayahku," Hinata menghela napas. "Dia pasti menghapus detail latar belakangnya."
"Kenapa?"
"Rasa bersalah, mungkin?"
Hinata menatap jendela kamar yang sudah terbuka, mengabaikan tatapan Sasuke yang menuntutnya untuk melanjutkan apapun yang harusnya dilanjutkan. Dan seperti tahu apa yang Sasuke inginkan, Hinata mulai bercerita.
"Hidupku agak rumit, Sasuke. Saat aku berusia dua belas tahun, ayah pergi meninggalkan kami. Kami pikir ini berhubungan dengan pekerjaannya meskipun saat itu kami sama sekali tidak tahu apa sebenarnya yang dia kerjakan. Yang kami tahu ayah adalah seorang jurnalis, seperti yang selalu ia katakan pada kami," pandangan ametis Hinata mulai menerawang, mengingat masa lalunya. "Tapi kemudian ayah menceraikan ibu. Saat itu ibu benar-benar merasa hancur. Kami selalu berpikir kami memiliki hidup yang sempurna, ibu bahkan aku bahkan sama sekali tak pernah menyandingkan keluarga kamu dengan perceraian. Hidup kami sama sekali tidak sama setelah ayah pergi."
Sasuke memilih untuk menyandarkan tubuhnya di sofa, ia hanya mendengarkan Hinata tanpa mengomentari apapun. Hinata juga tak keberatan dengan itu.
"Tapi ibu dan ayah tetap berhubungan baik meski telah bercerai. Dia masih beberapa kali menemui kami. Hingga saat aku lima belas tahun, ayah membawa Neji pada kami. Putra kakak kembarnya. Dia tiga tahun lebih tua daripada aku. Aku ingat terakhir kali aku bertemu dengannya adalah saat aku berusia empat tahun," Hinata menggigit bibir, mencoba menangkis apapun perasaan yang saat itu mencoba menggerogoti hatinya. "Sampai sekolah menengah atas, Neji tinggal bersama kami. Selepas itu ayah memberikannya apartemen pribadi, tapi dia tetap masuk ke sekolah yang sama denganku. Semuanya mengalir begitu saja sampai... perasaan kami berkembang. Menjadi sangat indah. Saat itu aku mencintainya... sangat. Saat itu kami masih begitu muda dan ceroboh, tapi kami benar-benar memiliki pandangan untuk masa depan kami bersama. Dia adalah yang pertama untukku. Pertama dalam segala hal. Yang aku tahu dia mencintaiku lebih dari cintaku padanya. Yang aku tahu dia bahagia ketika aku bahagia. Ayah mengetahui hubungan kami, namun Neji sangat keras kepala dan mengabaikan apa yang dikatakannya. Dia tidak pernah meninggalkanku."
Sasuke memejamkan mata, ia memutar otak. Jika seperti itu keadaannya kenapa Hinata berakhir seperti sekarang? Kenapa Hinata mengatakan Neji melukainya?
"Barulah saat dia masuk perguruan tinggi, semua berubah. Dia mulai liar. Masuk ke dalam kelompok jalanan, memakai obat-obatan dan melakukan... hal buruk lainnya. Dia berhenti sekolah, terbat banyak kasus kekerasan juga... pemerkosaan. Dia berubah menjadi seseorang yang tidak aku kenali. Aku memohon padanya untuk berhenti, tapi dia tidak mendengarnya. Sampai aku mengancamnya, aku katakan padanya bahwa aku tidak ingin menemuinya sebelum dia berhenti," kening Hinata berkerut ringan, ada rasa sakit yang seakan menggores hatinya ketika mengingat masa itu. "Aku kembali menemuinya pada ulang tahunku yang ke dua puluh. Saat itu Neji bersama rekan gangnya, aku tidak peduli. Aku memintanya untuk kembali. Tapi Neji hanya memintaku pergi, pergi dari hidupnya, bahwa dia tidak peduli apapun tentangku lagi. Saat itulah aku merasa duniaku hancur."
"Hinata..." Sasuke menyela, namun Hinata seperti tak mendengarnya.
"Aku memberontak marah, ingin memukulnya. Hingga terakhir yang aku sadari teman-temannya menahanku. Mereka hampir... menyakitiku namun Neji menghentikannya. Dia menghentikannya bukan karena ingin menyelamatkanku. Dia menghentikan teman-temannya karena dia sendirilah yang akan melukaiku. Dia mengatakan bahwa aku menyedihkan, tidak berguna dan dia muak denganku. Hatiku sangat sakit mendengarnya, sangat sakit sampai aku terlambat menyadari dia sudah menggoreskan mata pisaunya di perutku. Dia mengatakan padaku untuk enyah dari hidupnya, dan mengancam akan melukaiku lebih dari itu jika aku kembali ke hadapannya lagi."
"Hinata..." Sasuke memanggil Hinata lagi saat melihat air mata jatuh dari mata kiri wanita itu.
"Detik selanjutnya ayahku datang bersama seseorang. Menyelamatkanku. Tapi ayah membiarkan Neji pergi lagi malam itu. Aku dilarikan ke rumah sakit dan setelah aku kembali tersadar, aku mendengar ayah mengirim Neji ke Singapura," Hinata mengangguk-anggukkan kepalanya samar, mencoba melepas bayangan masa lalu yang muncul di kepalanya. " Setelah itu aku merasakan trauma yang luar biasa. Aku menolak untuk keluar. Aku bahkan tidak ingin bertemu ibuku. Aku terlalu tenggelam pada rasa sakitku karena Neji hingga melupakan fakta bahwa aku memiliki ibu yang ingin melihatku tersenyum. Hingga ibu meninggal, barulah aku menyalahkan diriku sendiri karena tidak berada di sisinya saat dia membutuhkanku. Aku semakin menarik diri dari dunia luar hingga kehidupan luar terasa asing bagiku."
Setelah Hinata selesai mengatakannya, ia baru menyadari pipinya yang basah. Dengan cepat ia mengusap jejak yang ditinggalkan air matanya kemudian melirik Sasuke. Manik kelam pria itu menatap lekat dinding di hadapannya, warna wajahnya hilang seperti darah telah dihisap keluar darinya. Selebihnya, pria itu terlihat datar, tanpa ekspresi.
"Kenapa ayahmu melepaskannya?" tanya Sasuke di sela gertakan giginya.
"Sudah kubilang, ini tentang rasa bersalah dan tanggung jawab," jawab Hinata rendah. "Ayah Neji, paman Hizashi terbunuh karena mereka menyangka paman adalah ayah. Itulah awal kenapa ayah membawa Neji. Dia merasa bertanggung jawab atas Neji."
Sasuke memaksa Hinata menghadap wajahnya, telapak tangannya menangkup wajah Hinata ringan. "Bagaimana bisa kau mempercayai orang lain lagi setelah itu?"
"Banyak orang baik di luar sana, Sasuke. Aku hanya kebetulan memilih orang yang salah."
Sasuke berkedip sekali dan Hinata melihat manik hitam itu mendadak kosong. Pria itu melepaskan tangkupan tangannya dari wajah Hinata kemudian menghembuskan napas keras sebelum berdiri dari sofa.
"Aku ingin keluar," ujarnya pelan.
"Ke mana?"
Sasuke membuka dan menutup bibirnya beberapa kali sebelum menjawab. "Aku butuh udara segar," bisiknya namun cukup untuk didengar Hinata. "Kau tidak perlu menungguku. Rasanya aku hanya butuh untuk meluruskan pikiranku," ujarnya sebelum keluar, meninggalkan Hinata yang menatap punggungnya lekat hingga ia menghilang di balik pintu.
.
to be continued...
..
.
Sorry aja kalau diluar ekspektasi... saya ngga bisa kayanya buat detailed m content yang lebih dari ini. Even this make me feel like a sinner already wkwk~~~ And sorry for taking you so long... real life matter is being a pain in the *ss lately hhuhu
Anyway thanks udah nungguin yaa... keep reading keep reviewing, see you in the next chap...
Toodleesssss~~~ :3
