Main Cast : Chanyeol X Baekhyun
Other Cast : Kejutan...temukan di dalam nyaa :)
Disclaimer : fic ini pure milik Gloomy Rosemarry aka Cupid KM
.
.
.
.
Previous Chapter
"Baekhyun sakit, tapi mengapa Appa tidak datang menjemput Baekhyun?" Tanyanya lagi seraya menoleh ke belakang.
"Baekhyun ingin bertemu App—
"TIDAK! TEMPATMU DI SINI! LUPAKAN ORANG TUAMU! KARNA HANYA AKU YANG KAU BUTUHKAN BAEKHYUN!" Teriaknya kalap.
"A-ahjjusi..hks..."
.
.
Chapter 6
Love Of Fallen Leaves
.
.
.
Dalam sekejap, sepasang mata hazel itu tampak retak...penuh dengan rembasan bening di pelukpuknya. Seremuk, hati bocah yang kini memandang pias dan mungkin kesal pada pria dewasa di hadapannya.
Chanyeol hanya berdecak. Sepenuhnya sadar, ia memang telah melukai hati bocah itu. Sebelah tangannya terangkat hendak menyeka air mata Baekhyun, namun anak itu terlihat menolak dan semakin menangis terisak.
"Ah—jusii ma—rah hks!" Baekhyun mulai berdiri, kedua tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya. Tanda...bocah mungil tengah menahan rasa sedih yang hebat.
Akan tetapi, sepertinya emosi anak itu tak tersampaikan dengan baik... Pasalnya, Chanyeol terlihat tak fokus dan lebih memilih memandangi organ mungil yang terselip di antara paha Baekhyun.
Ia mulai menjilat bibir bawahnya. Ah sial! genital itu benar-benar menggemaskan! jika saja Ia bisa menjilatnya, memasukkan ke dalam mulut dan menyesapnya layaknya manisan persik
Kedua matanya mengerjap antusias, Chanyeol mengulas smirk tipis sebelum akhirnya menggerakkan tangan ingin meraih penis mungil Baekhyun.
"AHJJUSIII!" Bentak Baekhyun, semakin jengkel menyadari Chanyeol diam tak menjawab seakan...tengah mengabaikannya. membuat fantasi Pria itu buyar begitu saja.
Tangan kekarnya yang sebelumnya terangkat ingin menyentuh geniital kecil itu, kini terkepal...dan turun dengan sangat tak rela.
Chanyeol menghela nafas berat. "Baekhyun dengar—
"Ahjjusi mar—ah" Ratap anak itu semakin serak. "Pa—da Baek—hks ...unn"
"Tidak, aku tidak marah"
"Ahjjuss—hks.. i ..Ma—rah" Kekeuh Baekhyun terisak-isak. Dan terlihat tak akan berhenti sebelum Chanyeol mengaku salah.
Raja Silla itu semakin pening melihatnya. apalagi yang bisa dilakukannya kini...melihat anak itu semakin menangis hebat di hadapannya, dan memandangnya dengan tatapan paling tersakiti seperti itu. Seakan dirinya satu-satunya pelaku kriminal di sini.
Ia beralih meraih tubuh kurus itu, membawanya ke dalam dekapannya. tak peduli Baekhyun mungkin masih terisak dan meronta menolaknya.
"Sssh...Berhentilah menangis, aku tidak marah denganmu " Bisiknya seraya mengecupi puncak kepala bocah itu. Berharap cara ini bisa meluruhkan tangisannya.
"Ahjjusi marah! B-baekhyun...ti—dak mau mandi dengan Ahjjusi~" Cicitnya seraya mengucek mata sembabnya. Ia berontak untuk lepas dari pelukan Chanyeol, melompat dari kolam...dan berlari keluar begitu saja. Tak peduli tubuhnya masih telanjang bulat.
Membuat Chanyeol membulatkan mata, tak menduga Bocah mungil itu akan merajuk hingga seperti ini. Ia bangkit ingin megejar.
"Y-yya!Baekhyun! Aissh~"
Namun urung, dan kembali membenamkan dirinya ke dalam air...begitu sadar, dirinya tak berbekalkan pakaian apapun. Yang benar saja, Raja seperti dirinya...meniru Baekhyun berlari telanjang seperti itu.
.
.
.
..
"Hks... Hhaaaa~"
"O-ommona! T-tuan Muda!" Dayang itu terkejut bukan kepalang, begitu seorang anak merangsak keluar. Bukannya apa, mereka memang terbiasa melihat Baekhyun berlari rusuh seperti itu, tapi rasanya kali ini sangatlah tak lazim. Anak itu benar-benar telanjang dengan tangan tak pernah berhenti mengucek matanya sendiri.
Membuat dayang yang lain turut panik mencari-cari kain seadanya, untuk menutupi tubuh anak itu. Oh sungguh! apa yang sebenarnya terjadi...hingga Baekhyun menangis seperti itu.
Tapi Baekhyun terlalu cepat, sementara gaun yang mereka kenakan menyulitkannya untuk berlari. Tak ada pilihan lain, selain menyingsingkannya ke atas. tak peduli...apa yang mereka lakukan bukanlah perilaku yang patut untuk seorang wanita.
Semua demi...Baekhyun.
"T-tunggu Tuan Muda!"
.
.
.
Baekhyun tak peduli, ia terus berlari...seolah tengah melampiaskan suasana hatinya saat ini. hingga tiba-tiba saja langkah mungil itu tersendat begitu seorang wanita mendadak menghadangnya.
"Keributan apa lagi yang kau buat?! Dan—apa ini?" Ia mulai berdecih dengan sebelah alis terangkat .
"Memalukan! berani-beraninya kau merendahkan istana seperti ini!" Sentaknya lagi, seraya menarik lengan kiri Baekhyun. Tak habis pikir bocah itu, bisa berlarian di dalam istananya tanpa menggunakan pakaian apapun.
Baekhyun meronta kasar diseret seperti itu, bahkan Ia makin menangis keras...membuat dayang dan para pelayan tampak iba melihatnya. tapi mereka bisa apa...jika Sang Ratu sendiri yang berperan kali ini.
"J-jumma! Sa—kit! hks!" Jeritnya masih berusaha menyentak tangan wanita itu.
"Jangan mempermalukan Raja dengan sikap tak santunmu ini! Apa kau pikir istana ini tempat bermain untukmu?!" Bentak Seulgi, semakin mempercepat langkahnya. Seakan mengabaikan luka di bahu kiri Baekhyun.
"AHH—JJUSIIII!" Jerit Baekhyun pada akhirnya. Anak itu terus memanggil-manggi sambil menoleh ke belakang, berharap Chanyeol lekas datang dan menyelamatkannya dari wanita mengerikan itu.
"Ibu Suri Tiba!"
Namun seketika, langkah Seulgi tersendat begitu mendengar seruan pengawal di luar, dan makin terhenyak gugup kala Heechul benar-benar melangkah anggun memasuki istananya. Cepat-cepat, Ia merapikan tatanan kepala dan gaunnya, membuat Baekhyun yang memang telah terlepas itu...berlari secepat mungkin darinya. Lalu menghambur menuju Heechul.
.
..
"O-ommo! Baekhyun?" Pekik Heechul begitu menyadari, seorang bocah tanpa pakaian berlari kencang ke arahnya. Ia terlihat kelabakan, bingung harus menangkap anak itu ataukah menghindarinya...hingga Ia reflek membentangkan kedua tangannya lebar-lebar, siap menerima Baekhyun.
Tapi yang terlihat-
Bukannya menghambur ke dalam pelukannya, Anak itu lebih memilih merangkak,menyusup cepat ke bawah gaun besarnya dan bersembunyi di dalamnya.
Tak pelak membuat Ibu Suri itu mematung dengan mata membulat lebar, hingga sedetik kemudian racauannya pecah begitu saja
"Ha—ahhh! Baekhyun! Oh sesanghe! Dayang! Keluarkan anak itu dari sini!E-eottohkke! Eottohkke!" Paniknya masih dengan merunduk seraya menarik-narik gaunnya ke atas.
Para dayang dan pelayan di sekitarnya tak bisa berbuat apapun, dan terlihat ragu ingin mengambil gerakan. Tentu mustahil merogoh gaun Ibu Suri, hanya untuk mengambil bocah itu.
Kepala mereka yang akan menjadi taruhan, karna dianggap melecehkan simbol kerajaan.
,
,
"BAEKHYUN! KELUAR!"
Suasana seketika hening, tak ada satupun yang bernyali membuka suara begitu sang Ibu Suri terdengar menyentak penuh murka.
Semua terlihat tertunduk, tak terkecuali Ratu muda itu...namun, Ia terlihat tersenyum puas.
Yakin, kali ini anak itu akan benar-benar tersingkir setelah ini.
.
.
"Hks.."
Lagi, hanya isakkan kecil itu yang terdengar.
Baekhyun terlihat patuh, dan mulai beringsut keluar dari persembunyiannya.
Kedua tangan mungilnya terangkat, mengucek kasar...mata yang sedari tadi tak pernah berhenti mengeluarkan air. dan Baekhyun membencinya! semakin banyak air mata yang keluar semakin sesak pula dadanya.
Raut yang semula mengeras itu, perlahan luruh melihat tubuh bocah mungil di hadapannya semakin bergetar. Ia memang ingin menyentak marah demi mendisiplinkan anak itu, tapi melihatnya seperti ini...seakan memukul telak nuraninya.
Ibu Suri itu beralih bersimpuh, menyamakan tingginya dengan tinggi Baekhyun lalu menyentuh dagu anak itu.
"Aku memang tak mempermasalahkan kenakalanmu" Ia berujar pelan seraya menatap lekat kedua manik cokelat terang itu. "Tapi, lihat dirimu nak" Heechul beralih meraih kedua telapak tangan Baekhyun. Mendelik cemas, pada tangan yang mulai berkerut kedinginan itu.
"Kau akan sakit, jika seperti ini" Lanjutnya lagi seraya menggosok kedua tangan Baekhyun dan meniupnya pelan, berharap bisa sedikit menghangatkan anak itu.
Tak pelak, apa yang dilakukannya membuat Seulgi terbelalak tak percaya.
terlalu mustahil melihat wanita diktator itu... lumpuh di hadapan bocah ingusan yang tak jelas asal-usulnya.
"I-ibu tapi anak itu telah membuat keributan dengan—
"Dayang, berikan kain hangat untuk anak ini. Jangan biarkan dia menggigil!" Sergah Heechul cepat. dan detik itu pula, seorang dayang mendekat ingin melilitkan kain tebal itu di tubuh Baekhyun.
"Biarkan aku saja" Sela Heechul mengambil alih. Membuat Seulgi makin meradang melihatnya
"Mengapa kau menangis dan berlarian seperti itu eum?"
"Hks... a—ahjjus—
"Baekhyun..."
Tiba-tiba saja seorang pria berjalan tergesa menghampiri keduanya, membuat Heechul mendelik tajam pada pria yang telah berbusana lengkap itu.
"Apa yang kalian lakukan padanya?!" Sentak Heechul, masih merasa...tangisan Baekhyun ulah dari sepasang suami istri itu.
Langkah Chanyeol tersendat, ia menatap Heechul dan Baekhyun bergantian...mencoba mencerna situasi yang ada.
Hingga akhirnya ia mulai terkekeh pelan. "Sepertinya Ibu menduga yang tidak-tidak di sini"
"Rupanya kedatanganku kemari memang ada benarnya. Aku memang ingin mengunjungi Baekhyun selepas pemulihannya" Ucapnya kesal seraya mengelus punggung anak yang masih memeluk erat lehernya itu.
"Tapi tak kusangka, kalian memperlakukannya begitu buruk. Tak memberinya pakaianan dan membuatnya menangis seperti ini. Jika tak menyukainya, biar Baekhyun tinggal bersamaku!"
"TIDAK!" Sergah chanyeol tak terima, seraya berjalan menghentak mendekati ibunya.
"Kau salah paham ibu! Baekhyun tetap tinggal bersamaku!" Ujar Chanyeol seraya menarik lengan Baekhyun, hingga kini beralih dalam gendongannya.
Baekhyun meronta, dan menjerit keras karna dipaksa seperti itu. Berulang kali Ia memukul-mukul punggung Chanyeol. Tak suka...dan tak ingin dekat dengan Ahjjusinya itu.
"Yya! Berikan Baekhyun padaku! Kau semakin membuatnya menangis!" Kekeuh Heechul, memaksa mengambil Baekhyun dari gendongan putranya.
Telah lama Heechul ingin menimang seorang cucu. ia sangat menyukai anak kecil. Dan melihat Baekhyun... tentu lebih dari apapun menyita seluruh perhatiannya, tanpa peduli latar belakang anak itu.
"Aish! Tidak Ibu!"
"A—AAAAAAAA!" Baekhyun menjerit
"CHANYEOL!"
Membuat semua pasang mata di sekitarnya tampak mengerjap kikuk dan saling melempar pandang. Melihat keributan yang sebenarnya dibuat oleh pemuka kerajaan itu sendiri. Dan Seulgi yang muak, lebih memilih menghentak pergi.
"Baekhyun.." Panggil Chanyeol di sela-sela usahanya menghindari Heechul yang masih mencoba keras merebut bocah manis itu.
"Ti—dak mau Ahjjusii!" Baekhyun tetap meronta, kedua tangannya terlihat menggapai-gapai ingin meraih Heechul. Tak ayal, pria yang masih menggendongnya itu makin meradang tak terima.
"Baekhyun dengarkan aku!"
"Hks...Hal—meonni!" Pekik Baekhyun lagi.
"Chanyeol! Jangan memaksanya seperti itu! Berikan anak itu padaku!"
"Argh!" Chanyeol tak ingin mendengar, Pria itu tetap memaksa mendekap Baekhyun lalu di bawanya pergi begitu saja dari hadapan Ibunya. Tak peduli Baekhyun makin menangis memekakkan.
"Chanyeol!" Panggil Heechul masih ingin mengejar putranya, cemas...kalau-kalau raja Silla itu semakin membuat Baekhyun ketakutan.
"..." Tak ada jawaban, selain derap langkah yang semakin cepat meninggalkannya. Ya! Chanyeol memang berlari, seakan tak ingin siapapun menyentuh namja kecilnya.
Heechul menghela nafas berat dan menyerah. Ia tau...Chanyeol bukanlah pribadi yang mudah begitu saja menyerahkan apa yang telah menjadi tekadnya.
"Baiklah! Tapi...anak itu tetap akan berada di bawah pengawasanku!" Seru Heechul. meski tau...tak akan mendapat jawaban apapun dari Putranya itu.
.
.
.
BRAK
Pintu terbanting keras, bersamaan dengan itu pula. Seorang pria tinggi tampak memasuki ruangan itu dengan bocah yang tak pernah berhenti terisak dan menjerit dalam dekapannya.
"Baekyun ti—dak suka Ahjjusi! Baek—unh hks..ben—ci Ahjjus~
BRUGH
Baekhyun terperanjat, begitu tubuhnya serasa terlempar di atas ranjang dengan seorang pria yang kini telah menindihnya. "Ahjjusiiii!" pekiknya seraya mendorong-dorong dada Chanyeol dengan kesal. Merasa...setiap rengekan bahkan jeritannya hanya diabaikan begitu saja oleh pria itu.
mata bulatnya tak sebinar biasanya, penuh dengan bulir bening yang siap jatuh dari pelupuknya.
Chanyeol sadari itu, membuatnya menghela nafas berat...berusaha menekan egonya sendiri. Ah sungguh! ia benar-benar menyerah melihat Baekhyun seperti ini, bahkan rasa-rasanya anak itu sama sekali tak ingin mendengarnya.
"Aku menyesal...maafkan aku" tegasnya seraya mengangkat sebelah tangan, seolah tengah membuat sumpah pada namja kecil itu.
Baekhyun yang semula meronta, kini terlihat mengerjap padanya sambil sesekali mnegucek matanya sendiri. "Ahjjusi ma—rah" Rajuknya, masih mengungkit sikap Chanyeol beberapa saat lalu.
"Tidak—
"Ahjjusi marah! Baekhyun benci Ahjjusi marah!" kekeuh Baekhyun, sekali lagi... terlihat tak akan berhenti sebelum Chanyeol mengakuinya.
Sesaat, Chanyeol hanya diam mengamati anak itu terengah-engah karna emosinya sendiri. Namun diluar itu semua, Ia merasa jeritan kesal Baekhyun seakan mengusik batinnya sendiri.
Ah! apa yang salah? itu hanyalah rengekan dari seorang bocah ingusan. Tapi mengapa...Ia seolah terpedaya dan merasa kehilangan seperti ini.
"Jadi..hukuman apa yang sepantasnya kau berikan untukku hn?" Chanyeol baralih menyentuh dagu Baekhyun.
Tapi anak itu sepertinya tak menangkap maksudnya, itu bukanlah jawaban yang diinginkan Baekhyun.
yang Baekhyun inginkan hanyalah...Chanyeol mengakui salahnya.
Anak itu kembali meronta, menyentak apapun yang bisa digapai tangan kurusnya. "Appa! hks..APPAAA!"
SRATT
"Ugh~
Chanyeol tiba-tiba mengerang seraya meneyentuh bibirnya sendiri, sesaat ia melirik Baekhyun yang tampak terkejut. Lalu setelahnya beralih duduk dan menyeka bercak darah di bibir bawahnya, bekas cakaran Baekhyun.
"A—ahjjusii" gagap Baekhyun, merasa bersalah bahkan mungkin takut melihat darah di sudut bibir Chanyeol, Ia tau...tangannya sendiri yang tanpa sengaja melukainya. Perlahan Ia bangkit terduduk, dan mulai takut-takut meraba pundak Chanyeol. "Ahjjusiii" Panggil Baekhyun lagi,semakin panik kala melihat Chanyeol sama sekali tak merespon.
"Ahjjus—
"Hn.." Gumam Chanyeol sembari menarik tubuh mungil itu kedepan, hingga kini berada dalam pangkuannya
Dengan posisi itu, Baekhyun dapat melihat wajah tegas itu lebih jelas. Namun, tatapannya terlihat nanar begitu menyadari darah masih merembas di sudut bibir Chanyeol.
"P-piii (darah)" Gumam Baekhyun, bermaksud ingin menyentuh bibir Chanyeol. Namun Raja Silla itu menahannya dengan menggenggam jemari kecilnya.
"Ahjjusi...apa itu sakit?"
Sejujurnya Ia ingin terkekeh melihat kerjapan polos itu, tapi sepertinya ada yang bisa sedikit ia manfaatkan dari rasa panik itu.
"Seperti yang kau lihat...bibirku berdarah dan ini sangat sakit" Ujarnya ...menipu.
Dan benar saja, kedua mata kecil itu kembali berkaca-kaca. Baekhyun menggeleng kasar sebelum akhirnya merangkul erat leher Chanyeol.
"M-mianhae...Ahjjusi. Baekhyun ti—dak pukul Ahjjusi...Mianhae"
Chanyeol menyeringai menang dalam senyumannya. ia mengelus pelan punggung anak itu, lalu mencium lama ceruk lehernya.
"Ini sangat sakit Baekhyun, saat kau mengatakan kau ingin bersama Ayahmu... benar-benar sangat sakit"
Baekhyun makin mengeratkan rangkulan lengannya. "Ahjusi jangan sakit. Mianhae Ahjussi"
"Kau ingin meninggalkanku bersama Ayahmu?"
Baekhyun menggeleng kasar."Tidak Ahjjusi...Baekhyun bersama Ahjjusi"
"Berjanjilah...kau selalu bersamaku Baekhyun"
Bocah mungil itu menjauhkan kepalanya demi melihat wajah Chanyeol lebih jelas. Dengan senyum manisnya Ia mulai mengangguk cepat. "Neh!" Sahutnya antusias, begitu merasa...anggukan kepalanya membuat pria dewasa itu senang mendengarnya.
"Kau pintar Baekhyun" pujinya seraya membawa namja kecil itu kembali dalam dekapannya. sangat erat...seolah tak rela tubuh mungil itu tiba-tiba lenyap dari rengkuhannya.
Lama..Ia mempertahankan posisinya, terbaring di ranjang king size itu dengan seorang anak yang masih menyandarkan kepalanya di dada bidangnya.
Baekhyun memang tak melakukan apapun, hanya diam mengerjap sambil mengelus dada Chanyeol. Percaya... jika apa yang dialkukannnya akan mampu membuat Chanyeol merasa lebih baik.
Hingga tiba-tiba saja, pria itu membisikkan kalimat yang meruntuhkan kerinduannya akan sosok seseorang.
"Ayahmu...tak pernah melepaskan pedangnya"
Baekhyun terperanjat dan reflek meremas pakaian depan Chanyeol. Baekhyun kembali mengingat detik di mana Ibunya membunuh dayang itu dan menghunuskan pedang tajam padanya. Sangat mengerikan...
hingga membuat bocah itu semakin menenggelamkan kepalanya dalam pelukan Chanyeol.
Chanyeol menyadari rasa ciut itu, tapi Ia hanya menyeringai..dan kembali melanjutkan semuanya hingga yakin...muslihatnya benar-benar mengikat namja mungilnya.
"Dia membunuh terlalu banyak...di luar sana" Bisiknya lagi.
"A-appa"
"Ya...Ayahmu dengan pedangnya, membunuh siapapun di hadapannya. Tak cukup Ibumu...kau pun ingin di bunuhnya...Baekhyun"
GREB
Tak bisa dicegah, anak itu semakin menggigil takut mendengarnya. Bak sebuah mantera yang menjerat...Baekhyun begitu mempercayai setiap kata yang terucap. Hingga membuat anak itu semakin merangkak naik dan memaksa Chanyeol memeluknya lebih erat. Berusaha mencari perlindungan.
"Kau melihat semua mayat itu bukan?"
Chanyeol menaikkan dagu Baekhyun, memaksa membawa anak itu kembali pada ingatan di mana perang itu melantahkan Goryeo. Banyak prajurit terkapar tanpa nyawa...dengan genangan darah yang merembas di bawahnya.
Baekhyun mengangguk cepat, membenarkan apa yang sempat di lihatnya sebelum pria bertopeng membawanya pergi dari Ayahnya.
"Mereka semua mati...karena Ayahmu"
Baekhyun menggeleng, masih tak percaya ayahnya seorang pembunuh. "T-tidak Ahjjusi"
"Ayahmu seorang pembunuh ...Baekhyun"
"Hks.."
"Dia ingin membunuhmu"
"A-ahjjusii"
"Ssshh... tenanglah, kau aman bersamaku. Hanya aku yang akan melindungmu" Seringai itu semakin tajam terulas di sudut bibirnya, beruntung anak itu sepolos ini...hingga dengan mudahnya terbekap dengan bualannya.
Setidaknya, Baekhyun memendam ingatan mengerikan akan sosok Ayahnya untuk saat ini.
Tak buruk untuknya, karna memang...Ia sendiri yang sebnarnya ingin memisahkan Baekhyun dari orang tuanya. dan membuat Baekhyun lupa jika mereka pernah ada untuknya.
"Kemarilah...lebih baik kau menyembuhkan luka di bibirku Baekhyun" Bujuk Chanyeol kemudian pada anak yang masih menggelayut di atas tubuhnya.
Dan benar saja, Baekhyun terlihat menegakkan tubuhnya...memandang ragu ke bawah sebelum akhirnya menganggukkan kepala pelan.
"Lupakan rasa sedihmu. Mereka tidak pernah ada untukmu...Sayang" Bisik Chanyeol sambil menyeka rembasan bening di sudut mata Baekhyun.
Pelan namun pasti, Ia menyentuh tengkuk Baekhyun...memaksanya untuk merunduk mendekati bibir tebalnya. "Hanya aku...yang kau butuhkan"
"Uhmp~ Mphh.."
Baekhyun terpejam cepat, begitu pria itu menyergap bibir tipisnya. Memberinya lumatan-lumatan lembut...tak terlalu menuntut namun cukup hebat membuat namja mungil itu melenguh karenanya.
"Hnn~"
"Buka bibirmu" Bisik Chanyeol di tengah lumatannya, lidahnya bergerak lihai menggelitik sela bibir Baekhyun. Membujuknya untuk sedikit terbuka lebih lebar.
Tapi rasanya, anak itu hanya bergeming...mungkin kesedihannya membuatnya begitu pasif seperti ini.
Tak ada opsi lain lagi, Ia tengah bergairah mencumbu anak itu malam ini..
Chanyeol memaksa menekan dagu Baekhyun, lalu melesakkan lidah basahnya ke dalam. tak peduli anak itu mulai meronta sesak karenanya.
"A-angh! hnggg"
.
.
.
.
.
Esoknya
Langkah kecilnya terlihat riang mengikuti para dayang yang kala itu tengah disibukkan dengan tugas harian mereka. Sesekali ia melompat-lompat, mencari perhatian. tapi yang terlihat semua wanita berbusana sama itu hanya tersenyum lalu kembali mengabaikannya.
Ah bukan seperti ini!
Baekhyun hanya ingin bermain!
Anak itu kembali aktif merangsak para dayang, tak sedikit dari mereka yang limbung bahkan nyaris jatuh karenanya.
"Aku ingin itu!"
"N-ne"
Baekhyun bersorai riang, selepas mendapatkan buah berry dari dayang itu. Tapi Ia hanya menyesapnya sedikit lalu membuangnya begitu saja. Merasa bosan...Baekhyun kembali berlari mendekati dayang yang lain.
"Dayang! aku ingin ini!"
Sang dayang tampak terbelalak, lalu berusaha menjauhkan piring berisi potongan buah segar itu dari Baekhyun. "A-ah jangan yang ini... hamba akan membuatkan yang lain untuk anda, Tuan muda" Bujuknya pada Baekhyun.
Tapi Baekhyun sepertinya tak terima, dan tetap menunjuk piring yang di bawa dayang itu. tatapannya menghunus tajam, memaksa...bahwa keinginnnya tak bisa ditelak begitu saja. "Anniyo! Baekhyun ingin yang itu!" Kekeuhnya.
Wanita muda itu terlihat meneguk ludah payah. ah bagaimana ini...Ratu telah menunggu hidangan buah segar kesukaannya. Tentu ia tak bisa memberikannya pada Baekhyun, atau Ratu akan murka dan menjatuhinya hukuman.
"B-baik Tuan muda, Dayang Tae akan membuatkannya untuk—
"Ash! Shirreoo...aku hanya ingin yang itu!" Rengek Baekhyun kali ini dengan melompat-lompat ke atas berusaha menggapai piring berisi potongan buah segar itu.
"T-tuan muda...ah! Hati-hati Tuan—
PRANKKK
namun terlambat... Ia limbung karena menahan gerakan Baekhyun hingga piring yang dibawanya jatuh dan pecah begitu saja.
Menarik perhatian beberapa pasang mata di sekitarnya. Dayang itu nyaris memekik takut, karna menjatuhkan hidangan sang Ratu. Tapi...ia lebih memilih merengkuh Baekhyun, dan menariknya menjauhi semua pecahan beling , sebelum melukai bocah mungil itu.
"Apa yang kalian kerjakan?!" Seorang wanita tiba-tiba datang dan menyentak keras begitu mendengar kegaduhan itu. membuat kepala dayang berjalan tergopoh-gopoh mendekatinya.
"Maafkan kami yang Mulia Ratu, kami tidak sengaja—
Ucapan kepala dayang itu terhenti begitu, Seulgi mengangkat sebelah tangannya. "Diam Dayang Song" Desisnya sebelum akhirnya melirik pada bocah di hadapannya. "Sepertinya aku tau...biang kegaduhan ini"
Dayang muda yang sebelumnya merengkuh Baekhyun, kini terlihat bersimpuh dan bersujud di hadapannya. "Mohon ampun yang Mulia Ratu...hamba benar-benar bersalah, tidak berhati-hati membawanya"
Sementara Baekhyun hanya mengerjap melihatnya, lalu beralih memandang Seulgi dengan tatapan yang berbeda, mengamati dengan lekat dari ujung kepala hingga ujung gaun wanita itu. Merasa tak asing
"Kau—
seulgi melangkah lebih dekat, lalu memegang dagunya. Ia terkekeh sinis kala melihat kerjapan polos Baekhyun.
"Mengapa kau tak turut bersujud seperti dayang ini? Bocah sepertimu lah biang dari semua kekacauan ini!" Ujarnya sambil membuang wajah Baekhyun.
"Noona sungai" Gumam Baekhyun tiba-tiba, tak menghiraukan hardikan Seulgi. Tapi Ia lebih terfokus pada gaun yang dikenakan wanita itu. Ya..Baekhyun merasa tak asing dengan pakaian putih dengan sematan berlian itu.
"M-mwo?" Seulgi reflek berjengit ke belakang. Tapi Ia tetap tertawa sinis, berusaha menyembunyikan raut gugup itu dari wajah cantiknya. Ah...mungkin saja Ia hanya salah dengar. Karena mustahil Baekhyun melihatnya saat di sungai kala itu.
"Ahjjuma... Noona yang disungai itu. Mengapa Ahjjuma tidak mendengar, saat Baekhyun jatuh di sungai?"
'PLAKKK'
Hempasan tangan itu benar-benar mengenainya, membuat paras manis Baekhyun memaling ke kanan karna kerasnya tamparan.
Sejenak, semuanya berubah menjadi hening.
hingga tangisan memekakakn Baekhyun memenuhi ruangan megah itu, berbaur dengan teriakan histeris Ratu Silla.
"Aaaaaaaaaa!"
"BERANI KAU LANCANG PADAKU! UCAPAN MACAM APA YANG KAU TUDUHKAN PADAKU!"
"Hks Haaaaaaa~!"
"HENTIKAN TANGISANMU!" Seulgi menarik lengan Baekhyun, membuat tubuh mungil itu terseret dan memicu pekikkan cemas dari dayang di sekitarnya. "Kau pikir bualan tangsianmu itu akan berguna!" Sentak Seulgi sambil menghempas tangannya, hingga membuat Baekhyun terjengkanng...beruntung seorang dayang bergerak cepat menangkapnya.
Nafasnya semakin memburu, tak terima dan tersinggung akan ucapan Baekhyun beberapa saat yang lalu. Ia menaikkan wajahnya, menyingsing keangkuhan itu lebih tinggi lagi hingga tak ada satupun yang berani menentangnya.
tapi satu hal yang disembunyikan Ratu Silla itu, ia benar-benar merasa ciut dan takut saat ini.
"Apa yang—
Seorang pria tampan terlihat terbelalak lebar melihat Baekhyun menangis menjerit dalam dekapan seorang dayang. Ia berjalan begitu tergesa untuk mendekat. menduga sesuatu yang buruk sepertinya terjadi pada anak itu.
"Sshh Ulljima" Bisik Chayeol sembari mengambil alih tubuh Baekhyun ke dalam pelukannya.
namun betapa terkejutnya Ia melihat pipi Baekhyun tampak memerah. Sejenak Ia terdiam, hingga sesaat kemudian tatapannya beralih menghunus pada Seulgi.
"Kau menamparnya?!" Sentaknya pada wanita muda itu.
Seulgi hanya berdecih, merasa geli dengan sikap yang menurutnya berlebihan itu.
"Aku berhak melakukannya! Atas ucapan tak pantas anak itu!"
Chanyeol mengepalkan tangan. Tak habis pikir dengan sikap angkuh wanita itu. kata tak pantas macam apa yang mampu diucapkan bocah sepolos baekhyun, hingga Dia sampai hati menamparnya seperti ini.
"Dimana nuranimu, menyakiti bocah sepertinya. Dan kau masih menganggap dirimu seorang ratu?!" Tapi Ia enggan merenggang waktu hanya untuk berdebat dengan wanita itu, dan lebih memilih melenggang pergi. Menenangkan baekhyun lebih penting dan berharga untuknya dibandingkan beratatapan dengan wanita cantik itu.
"P-pheya! Tapi anak itu yang memulainya! Dia menuduhku dengan—
Seulgi mengepalkan tangan kesal. Pria itu benar-benar pergi meninggalkannya tanpa sudi mendengarkan sepatah kata darinya.
"Arh! Pengacau!" Pekiknya sebelum akhirnya berjalan menghentak menuju paviliunnya sendiri.
.
.
.
.
'Chup'
"Masih sakit?' Tanya Chanyeol usai mengecup pipi kiri Baekhyun, tepat pada bekas tampran Seulgi.
Baekhyun yang masih berada dalam gendongan pria itu hanya menggeleng dan terkikik geli mendapat kecupan-kecupan kecil itu.
Hingga tiba-tiba saja Baekhyun memekik antusias, tapi membuat Chanyeol mendengus kesal mendengarnya.
"Halmeoniie!"
Wanita itu terkekeh pelan, dan membawa langkahnya semakin cepat mendekati keduanya. Tak dipedulikannya beberapa dayang yang berusaha keras membawa payung demi mengawalnya
"Untuk apa Ibu kemari?" Ujar Chanyeol jengah.
Heechul mendelik, tapi setelahnya tersenyum lalu megusap kepala Baekhyun dengan gemas.
"Menemui Putraku, apa itu sebuah kesalahan Chanyeollie?"
Chanyeol berdecak mendengarnya, sangat ajaib sekali sang Ibu Suri begitu sering datang berkunjung. Tidakkah selama ini wanita itu kemari jika ada sesuatu yang diinginkannya saja. Tapi apa sekarang?
"Ah...Geurrae, sejujurya aku kemari karena Baekhyun, Bukan untuk Raja selicik dirimu" Ketus Heechul masih dengan memandang penuh antusias pada bocah dalam gendongan Chanyeol
"Aku tak peduli" Sergah Chanyeol kemudian.
Seakan mendengar gurauan kecil. Ibu Suri itu terkekeh pelan.. Terlihat anggun meski mentari semakin bersinar terik di atasnya.
"Biarkan Baekhyun bersamaku hari ini" Ujarnya tanpa berbasa-basi.
Chanyeol menoleh dan menatap tajam, seolah tak terima dengan ucapan Ibunya. Baekhyun terbiasa bersamanya, sungguh tidak mungkin Ia merelakan Baekhyun beralih bersama sosok selicik dirinya itu.
"Ibu bercanda? Aku—
"Bukankah sudah kukatakan sebelumnya. Anak itu di bawah pengawasanku...meski tinggal bersamamu"
Tegasnya sambil menatap lebih lekat pria muda di hadapannya.
"Setiap hari menjelang petang. Anak itu akan bersamaku...aku akan mengajarkannya banyak hal. Tata krama dan sastra, Baekhyun akan mendapat semua bimbingan itu"
Chanyeol menghela nafas berat mendengarnya.
"Kau terlalu sibuk untuk mendidik anak itu bukan, jadi...Biarkan Ibu yang melakukannya. Lagi pula... aku tak ingin anak itu mendapat perlakuan lebih buruk lagi di sini" Lanjut Heechul, begitu menyadari Chanyeol ingin mengelaknya.
"Ibu..kau salah jika menganggapku—
"Aku tau apa yang terjadi sebelumnya. Istrimu menamparnya bukan?"
Raja silla itu kembali berdecak lidah, rasanya semakin tak ada celah untuk menyela tutur kata Ibunya. Heechul terlalu lihai membuatnya bisu dalam waktu cepat
"Biarkan anak itu bersamaku hari ini"
chanyeol terlihat melirik ibunya sekilas, merasa ragu jika harus membiarkan Baekhyun bersama Ibunya. Siapapun tau...Ibu Suri itu memiliki tabiat yang licik. Tapi sepertinya melihat interaksi Baekhyun dan wanita itu, tak ada yang perlu dicemaskannya. Ibunya sepertinya sangat menyukai anak itu.
"Bukankah menjelang petang?...dan ini belum saatnya, Ibu" ujar Chanyeol sambil melangkah pergi, meninggalkan Ibunya.
"Berjanjilah kau akan membawanya padaku"
Seru Heechul, Ia memang dengan sengaja merencanakan keputusan itu. Disamping karna menyukai anak itu, semua pun Ia lakukan demi kepentingan Chanyeol. Setidaknya dengan Baekhyun bersamanya, Chanyeol bisa lebih mengutamakan pemerintahannya, tanpa terusik dengan setiap hal yang terjadi pada Baekhyun.
.
.
.
"O-Oppa! Anak itu melihatku! Anak itu menyadari diriku saat di sungai! apa yang harus kulakukan?!"
"Mustahil Dia melihatmu. Hentikan khayalan bodohmu itu, lebih baik kau pikirkan cara agar Chanyeol menghamilimu Seulgi" Gumam Namjoon sembari mengangkat sebelah kaki ke meja, lalu menyantap buah plump di hadapannya.
Ratu Sila itu hanya mengepalkan tangan kuat-kuat, sejujurnya ia teramat mencemaskan ucapan Baekhyun beberapa waktu lalu. Mungkinkah benar, baekhyun melihathya ataukah anak itu hanya ingin megancamnya saja?
"Oppa! Bagaimanapun caranya kita harus melenyapkan anak itu dari istana ini!"
"Tck!"
"Dia penghalang antara diriku dan Chanyeol! Aku bersumpah...anak itu pembawa petaka untuk kita Oppa!"
.
.
.
Malamnya...
"Kau lihat semua buku-buku ini Baekhyun?"
Bocah mungil itu mengangguk cepat, matanya mengerjap mengikuti bagaimana sosok cantik itu mengitari dirinya lalu duduk dengan anggun di hadapannya.
"Halmeoni, buku ini sangat jelek" Celetuk Baekhyun sembari mengetuk-ngetuk sebuah buku tebal di hadapannya
Heechul hanya tersenyum lembut mendengarnya, lalu beralih mengelus wajah anak itu.
"Cha...bukalah, setidaknya kau harus mengenali satu dari semua buku ini sebelum aku mengajarkan bagaimana cara membacanya"
Tak ada keluhan. Baekhyun tetap membukanya walau nyatanya ia terlihat malas dan bosan.
Ah! bermain lidah bersama Ahjjusinya sepertinya lebih menyenangkan dari pada semua ini.
"Hallmeoni, di mana Ahjjusi?"
"Hmm...belum waktunya untuk mencarinya Baekhyun"
Ujar Heechul, tanpa mengalihkan tatapannya dari buku tebal yang di pegangnya.
Baekhyun melengos, dan beralih menyandarkan kepalanya di meja sambil membolak balikkan lembar demi lembar buku itu.
"Halmeoni.."
"Hmm?"
Baekhyun kembali mendesah berat. "Hallmeoni.."
"Ne...Chaggi?"
Tapi Baekhyun batal merengek dan kembali menatap bosan pada buku bersketsa dengan beberapa huruf asing di tangannya.
"Haalmeooniiii!"
TAP
Heechul menutup bukunya sendiri, lalu memandang anak yang sedari tadi memanggilnya tanpa alasan itu.
"Belum waktunya Baekhyun" Ujar Heechul datar lalu kembali berkutat pada bukunya. Ia melirik bocah yang menggerutu itu, dalam diam ia tersenyum...merasa gemas dengan wajah menahan kesal di depannya.
Memang lebih dari 5 jam lamanya Ia berkunjung menemui Chanyeol, dan melewatkan waktu bersama Baekhyun di dalam paviliun khusus ini. Heechul tak keberatan, karna ia memang memiliki tujuan melakukan semua hal ini.
Sejatinya Ia memang tau siapa Baekhyun, bagaimana dan dari mana anak itu berasal. Heechul sepenuhnya tau. Sungguh mustahil bagi wanita agung sepertinya menutup mata akan kehadiran anak asing dalam wilayah kekuasaannya.,
Semula, Ia memang menentang, akan tetapi menyadari anak itu menyita perhatian Putranya dan menjadi ambisi dalam diri Chanyeol. Ia mulai mengambil sisi lain dari pemikirannya.
Tak masalah baginya. Selama Chanyeol bersahaja dan tetap berkuasa dalam tahtanya... Ia tak mempermasalahkan anak itu berkeliaran di sisi Chanyeol. Terlebih, semenjak kehadiran Baekhyun. Ia merasa Chanyeol lebih lihai mengendalikan egonya, dan bersedia menatap bahkan mendengarkannya sebagai seorang Ibu.
Tak ada ruginya membiarkan anak itu di sini, sebaliknya,...Ia pun semakin menyukai bocah berparas manis itu
Heechul beralih melirik jam pasir di sisinya dan menarik simpul senyum begitu menyadari, ini tiba waktu untuknya kembali.
"Baekhyun...sepertinya—
Heechul terhenyak tak melanjutkan ucapannya. Tatapannya berangsur meredup teduh begitu melihat anak itu jatuh terlelap dengan pulasnya di atas bukunya.
Ia bangkit mendekati anak itu, mengelus pelan kepalanya sebelum akhirnya berjalan menuju kamar Baekhyun demi menyiapkan ranjang dan suasana yang nyaman untuk Baekhyun. Tak perlu dayang atau pelayan, ia lebih suka melakukan semua ini sendiri. Sama seperti halnya yang pernah Ia lakukan untuk Chanyeol semasa kecil.
.
.
Tiba-tiba saja sesosok bayangan mulai menyelinap masuk ke dalam paviliun Baekhyun. Tak ada satupun yang menyadarinya, baik dayang maupun pelayan seakan terkecoh dengan gerakan kilatnya.
Sama halnya dengan sosok asing dengan penutup muka itu, tak menyadari jika Baekhyun tak sendiri, Ia berjalan mengendap dan menyelinap begitu lihai hingga benar-benar mendekati bocah yang masih terlelap di atas mejanya.
Sebilah belati terangkat tinggi-tinggi, menyentak silau dari ujung mata pisau yang siap menikam leher Baekhyun. Hingga—
PRANKK
Lilin penerangan itu jatuh begitu saja, membuat pria pembunuh itu terperanjat terkejut dan menoleh cepat ke sumber suara.
"SIAPA KAU?!" Jerit Heechul, sambil merambati meja di sisinya ingin meraih apapun yang bisa dijadikannya senjata. Meski nyatanya ia tampak gemetar. "PELAYAN! PENGAWAL!" Teriak Heechul lagi, tak pelak pria asing itupun semakin panik dibuatnya.
ia bisa celaka jika pengawal datang dan mengepungnya di sini. Ah sial! mengapa wanita itu bisa berada di tempat ini?! bukankah Baekhyun hanya tinggal seorang diri dan dijaga oleh dayang dan pelayan saja?
"PENGAWAL!"
BRAKKK
Pria itu memutuskan untuk merangsak keluar, menerjang pintu paviliun hingga membuat celah besar di sela sekatnya. Baekhyun yang mendengar suara gaduh itu mendadak terlonjak. bahkan nyaris terjengkang dari kursinya jika saja Heechul tak menangkapnya dan memeluknya erat.
"H-halmeon—
"Sshh...semua baik-baik saja Baekhyun" Bisik Heechul lirih, jantungnya berdebar dua kali lipat lebih cepat begitu melihat pisau belati yang tergeletak di bawah keduannya. seseorang ingin melenyapkan anak itu, Mungkinkah pelaku yang sama yang mencelakai Baekhyun di sungai? Tapi mengapa?
Mengapa anak ini menjadi incarannya?
"Yang Mulia.. anda baik-baik saja?" para pelayan berhamburan ke dalam, merasa sesal atas peristiwa buruk yang sempat di alami wanita itu.
"Aku baik-baik saja, tapi bagaiman—
.
.
"KEPUNG PENYUSUP ITU!"
Heechul tersentak, begitu mendengar suara ricuh di luar. Cepat-cepat Heechul memerintahkan para abdi itu untuk membawa Baekhyun ke dalam. lalu Ia putuskan untuk mendekati suara gaduh dari pedang yang beradu itu.
"Arghh!"
Pria itu meraung, begitu tebasan pedang Sehun mengenai kakinya. Secepat itu pula tubuhnya limbung dan bersimpuh di hadapan pemuda yang masih menghunuskan pedang padanya.
"Ikat! Cepat!" Titah Sehun, bersamaan dengan itu pula beberapa pria kekar yang lain memasung tubuhnya tanpa bisa berkutik.
"Siapa Dia?" Gumam Chanyeol membuat para pengawal itu saling menyingkir, membuat sekat bagi Raja Silla itu untuk berjalan mendekat.
"Penyusup Paviliun Utara" Sahut Sehun tanpa mengalihkan hunusan pedangnya.
Chanyeol terbelalak lebar mendengarnya. Bukan Hanya Baekhyun di dalam paviliun itu, Ibunya pun berada di dalamnya.
Ia meradang dan bergegas ingin menuju paviliun demi melihat keduanya, namun seketika itu langkahnya tersendat begitu melihat Heechul terlihat berjalan menghampirinya.
"Ibu.." lirih Chanyeol sembari menyambut lengan wanita itu.
"Gwaenchana..." Tenang Heechul seraya menyentuh wajah Chanyeol "Dia—" Heechul beralih menunjuk pria yang bersimpuh dihadapan Sehun.
"Dia ingin membunuh Baekhyun" Lanjutnya lagi seraya meremas eart-erat lengan Chanyeol.
"BUKA PENUTUP WAJAHNYA!" Geram Chanyeol. Menduga, sosok itu pula yang pasti mencelakai Baekhyun dengan menenggelamkannya di sungai. Dan tak menutup kemungkinan, dia pembunuh dayang istana.
ZRAT
Penutup wajah itu terkoyak dan terhempas kasar, membuat setiap pasang mata di bawah temaram cahaya api itu terbelalak lebar, kala melihat wajah sesungguhnya dari sang pembunuh itu.
"Siapa kau sebenarnya?" Sentak Chanyeol, lebih berarti untuk siapa penyusup itu berkerja sebenarnya.
Pria itu hanya berdecih sesaat, membuang ludah bercampur darah dalam mulutnya. "Aku—
"Dia mata-mata Goryeo! Lihat lambang Goryeo yang tersemat di pakaiannya! Sudah kuduga! Dia Pembunuh itu!"
Sergah Namjoon tiba-tiba, membuat semua perhatian kini tertuju padanya tak terkecuali pria penyusup itu yang kini memandangnya geram.
"Karna Goryeo hancur, mereka ngin menuntut balas dengan membunuh Raja?! Dia pasti pembunuh dayang istana itu, Karna mengetahui rencananya. Bukan tidak mungkin pula Penyusup itu yang mencelakai Baekhyun!" tuduh Namjoon tanpa bisa ditelak.
Pria itupun berontak, merasa Namjoon telah begitu licik menjebaknya dengan melempar prasangka dan mengkhianati dirinya. "Keparat Kau Namjoon! Arrggghh!" Ia memaksa mengoyak jeratan tali itu, bangkit dan menghunus pedang ingin menyerang Namjoon, tapi naas...busur panah telah lebih dulu menembus jantungnya. Sebelum ia menyerang anggota keluarga Istana.
"Ughtt~.. K-kau akan han—cur, Nam—joon! Aght~"
Pria itu terkapar dan tewas tanpa menyisakan sepatah kata apapun. Membuat Chanyeol memejamkan mata, sejujurnya Ia tak menginginkan Penyusup itu mati begitu saja tanpa meningalkan bukti lugas dari semua kasus itu.
Raja Silla itu beralih mendekati Sehun dan Namjoon yang telah berdiri di sisinya. ''Selidiki, benarkah Penyusup itu pembunuh yang kita cari selama ini" Ucapnya seraya menepuk pundak Sehun.
"Baik Hyung..." Jawab Sehun sebelum akhirnya memerintahkan para pengawal untuk menyeret mayat penyusup itu.
.
.
"Bagaimana bisa kau tau bahwa Dia seorang mata-mata Goryeo?" Tanyanya penuh curiga, membuat Namjoon mengalihkan pandangan lalu setelahnya terkekeh pelan.
"Ah...Yang Mulia Raja, Jangan menduga aku tak melakukan hal apapun di istana ini. Akupun bisa kau percaya sebagai mata keduamu. Penyusup itu...mengincarmu, dia akan membunuh satu persatu orang terdekatmu sebelum menangkapmu. Ingatlah...apa yang telah kau perbuat pada Negri anak itu. Mereka ingin menuntut balas" Namjoon sedikit mengangkat dagu, menyingsing rasa percaya dirinya di hadapan Raja Silla itu.
"Dengan kepiawaianku mengawasi gerak-gerik mencurigakan di istana ini. Tentunya kau bisa sepenuhnya mengandalkanku Adik Ipar" Lanjut Namjoon lagi, kali ini dengan berbisik di telinga Chanyeol.
Raja silla itu hanya memandang dengan raut stoic miliknya. menyembunyikan perasaan gelisah yang mendadak membuatnya sesak. Ia berdehem pelan, sebelum akhirnya melangkah pergi menuju paviliun Baekhyun. Meninggalkan Namjoon yang kini tersenyum puas bahkan menang akan rencananya.
Begitu pula dengan sesosok wanita di balik pohon besar itu, Ia nampak terkikik ...tak menduga, Kakaknya akan secerdik ini mengelabui semua orang. Bahkan Chanyeol pun tak luput dari permainan muslihatnya.
"Bagus Oppa! Kupikir kau akan membunuh anak itu tapi rupanya semua beralih haluan hahahaha...dengan ini...aku bisa bernafas lega. Pembunuh itu telah tertangkap, aku yakin semua orang akan percaya akan bukti yang kita buat" Kekehnya seraya memandang picik pada mayat pembunuh palsu itu. Lalu melenggang pergi, di tengah kegelapan.
Dan begitulah kasus itu berlarut ...terbekap dalam sandiwara itu hingga hambar dan pudar begitu saja.
Pembawaan Namjoon dan segala bukti yang ia tunjukkan benar-benar lihai menjerat rasa percaya itu. Ia terlalu matang merencanakan semuanya, hingga alasan di balik hancurnya Goryeo mampu mengecoh Chanyeol.
.
.
.
Dalam diam Ia mulai melangkah pelan memasuki bilik pintu penuh dengan temaram lilin. Pandangannya meredup, sesaat merasa hangat namun terselip gelisah kala memandang bocah yang kini terlelap di atas pangkuan seorang dayang.
Atas kasus hilangnya Baekhyun hingga pembunuhan Dayang itu, sejatinya Ia tak mempercayai Namjoon. Ia sepenuhnya tau, pria itu bak seekor rubah dalam pribadinya.
Akan tetapi –" Ingatlah...apa yang telah kau perbuat pada Negri anak itu. Mereka ingin menuntut balas"
Kalimat itu terus menggema, seakan menghantui benaknya.
Jika saja Ia bisa melenyapkan masa lalu itu, bahkan dari ingatan Baekhyun sekalipun. Sungguh! apapaun akan ia lakukan untuknya. Ya...jika saja Ia bisa menghapusnya.
Bukan!
Bukan karna Ia takut sisa Goryeo yang ingin menuntut balas. Akan tetapi Ia terlalu resah mereka mengambil Baekhyun darinya.
Atau bahkan jika sampai Baekhyun tau apa yang telah ia perbuat dan beralih meninggalkan dirinya. Ya, hanya itu yang menjadi ketakutan terbesar dalam batinnya.
"Y-yang Mulia Raja" Gagap Dayang begitu baru menyadari kehadiran Raja Silla itu.
Chanyeol mengangkat sebelah tangan, memberi isyarat pada dayang itu untuk tetap tenang dan tidak mengusik tidur Baekhyun.
Ia kembali melangkah mendekat, sebelum akhirnya mengambil alih tubuh Baekhyun dalam gendongannya dengan sangat hati-hati.
"Chanyeol~ah—
"Seseorang ingin membunuhnya" Sergah Chanyeol begitu Heechul tiba-tiba menghampiri dirinya. Membuat wanita itu tertunduk. Dibandingkan dengan kenyataan seseorang ingin mencelakai anak itu, Ia lebih takut jika Chanyeol yang terluka.
"Sudah kukatakan Ibu, jangan membawanya terlalu jauh dariku. Dan..terlalu berbahaya Ibu di sini tanpa pengawasanku. Mengapa Ibu keras kepala sekali" Lanjutnya lagi setengah bercanda, saat melalui Ibunya, sadar...akan keresahan wanita itu.
Heechul berdecak kesal, namun tetap merangkul lengan kekar Chanyeol dan menyandarkan kepalanya. Wanita itu hanya diam, tak banyak bicara seperti biasanya selain memejamkan mata sambil mengikuti langkah Chanyeol. Apapun itu...Ia masi terkejut bukan main, atas apa yang dilihatnya beberapa saat lalu. Kenyataan seseorang ingin membunuh Baekhyun di depan matanya sendiri.
.
.
.
.
Langkahnya terlihat riang, melenggang anggun menuju ruangan pribadi milik sang Raja. acap kali Ia menyesap bibir, merekahkan gincu merah yang kini terulas di bibir tipisnya.
Secangkir teh beraoma krisan yang ranum pun kini bertengger manis di tangannya. Yakin, apa yang dilakukannya kali ini akan memukau Chanyeol.
Ia membuka pintu dengan perlahan dan tersenyum semanis mungkin.
"Suamiku—
Namun, matanya mendadak terbelalak nanar. membuat teh krisan yang di bawanya tumpah begitu saja.
"K-kau! Kau mencium anak itu?" Gagapnya seraya menunjuk ke depan, tepat pada seorang pria yang tengah menyesap bibir seorang bocah yang terlelap di bawahnya.
Teriakan itu membuatnya mendelik tajam, Chanyeol bangkit dan memandang Seulgi dengan tatapan yang sepenuhnya dingin.
"k-katakan! Apa yang kulihat hanya lelucon darimu Pheya!"
Chanyeol terdiam, membiarkan wanita itu membenturkan semua asumsinya. "D-dia anak kecil! Na-namja! Bagaimana mungkin kau serendah—
"TUTUP MULUTMU!" Chanyeol bangkit meradang dan berjalan mendekati Seulgi.
Membuat wanita itu terlonjak dan menciut takut. Meskipun Ia tau, Chanyeol tak pernah bersikap lembut padanya. Tapi ini pertama kalinya Raja Silla itu semarah ini bahkan membentaknya kasar.
"Dengar!" Chanyeol mencekik leher Seulgi, mendorongnya ke belakang hingga membentur dinding. Secangkir teh krisan yang dibawanyapun jatuh di bawah keduanya.
"Ughh!"
"Jika bibir ini berani melacur atas apa yang kau lihat saat ini" Chanyeol terkekeh licik sambil menekan pipi Seulgi. "Aku tak akan segan-segan merobeknya, bahkan jika perlu membabat dua mata indah ini dengan senang hati...Yang Mulia Ratu" Ancamnya dengan senyum menawan yang terpalsukan.
Seulgi terbelalak nanar mendengarnya. Dan meronta sebelum akhirnya Chanyeol menghempasnya hingga membuatnya terjerembab di lantai dan terbatuk hebat.
"Ugh! uhukkk!"
"Jangan pernah sekalipun mengusikku. Jika kau ingin tetap hidup di istana ini" Ancam Chanyeol lagi dengan sebelah tangan terjulur mengambil cangkir yang tampak retak itu.
"Hks!" Seulgi terisak, membekap bibirnya sendiri kala mengangkat wajah namun tak cukup bernyali untuk menatap wajah pria itu.
"Pergi, sebelum aku berubah pikiran membunuhmu" Desis Chanyeol setelahnya, membuat wanita itu terlonjak dan begitu kepayahan bangkit untuk berlari meninggalkan kamar megah itu.
.
.
Beberapa Saat Kemudian
"Ahjjusi~" Panggil Baekhyun begitu membuka mata dan mendapati dada bidang berada tepat di hadapannya. bocah itu tau...Ahjjusinya tengah bersamanya kali ini. Tapi kapan Chanyeol menjemputnya? Bukankah beberapa saat yang lalu...Ia bersama dengan Heechul?
Chanyeol yang masih setengah terlelap itu hanya menggumam, dan semakin menarik tubuh anak itu ke dalam dekapannya"Hn.."
"Ahjjusi~...Baekhyun tidak suka semua buku itu" Baekhyun menyembulkan kepalanya dari balik lengan Chanyeol demi menatap Pria itu, meski nyatanya ia hanya bisa menatap dagunya saja. "Baekhyun tidak suka belajar dengan Hallmeoni...Tidak suka!" Rengek Baekhyun lagi seraya menjejak kaki.
Chanyeol hanya tersenyum mendengarnya, dan mengacak asal surai hitam Baekhyun. "Hnnn~"
"Ahjjusi jangan Hnn! Ahjjusi dengarkan Baekhyun!"
"..."
"Bangun! Ahjjusiii!"
"..."
"Ahjuusiiiii!"
.
.
.
Beberapa Tahun Kemudian...
Waktu seakan memanjakannya, bocah lugu nan menggemaskan yang kerap berlarian rusuh itu. Kini telah tumbuh menjadi remaja belia yang begitu mempesona.
Banyak yang terkecoh, dengan hanya melihat sekilas paras cantiknya. Terlalu indah...bahkan mungkin mampu membuat siapapun jatuh terpana karenanya. Lima tahun rupanya waktu yang cukup mengesankan untuk melihat semua perubahan itu.
"Hhhh.." Ia terlihat menghela nafas pelan, meletakkan kuas kecilnya untuk kemudian menopang dagu dan melihat awan yang berarak di atas sana.
"Bukankah ini sudah waktunya" Gumam Baekhyun pada dirinya sendiri seraya mengusap perutnya. Ia melirik ke kanan dan ke kiri, dan tersenyum kecil saat menyadari tak ada seorang pun di dalam perpustakaan besar itu.
Tangan lentiknya terlihat menyusup ke bawah, meraba-raba bawah pantatnya dengan was-was.
"Ahh...syukurlah" Bisiknya lega, begitu apa yang dicemaskannya belum terjadi.
"Aku harus secepatnya kembali ke kamarku sendiri" Ujarnya sembari bangkit dan memungut beberapa buku sastra di hadapannya untuk dikembalikan lagi.
Ya...ini memang memasuki periode bagi Baekhyun, mendapatkan siklus datang bulannya. Dan...namja cantik itu sepenuhya memahaminya. Kapan dan bagaimana pertandanya...Baekhyun tau benar akan tubuhnya.
Hanya berlangsung beberapa jam saja, tapi dalam masa itu Ia memang harus mengurung dirinya di kamar hingga siklus itu selesai.
Baekhyun terbiasa melakukannya semenjak kecil. Tak ada satupun yang mengetahuinya hingga detik ini, kecuali pria yang kerap di panggilnya 'Ahjjusi'
.
.
.
Sosok kekarnya terlihat begitu bias, melangkah pasti menyusuri jalan setapak di sepanjang istana megah itu. Tampak lalu lalang di hadapannya, namun secepat kedipan mata...semua lalu lalang itu membungkuk penuh hormat padanya.
Ia menyungging sebuah seringaian sebagai balasannya, merasa puas...kuasanya tetap bersahaja hingga detik ini.
"Di mana anak itu?"
"Tuan muda...sedang di dalam perpustakaan istana, Yang Mulia. Kami tidak diperkenankan masuk untuk menjaganya di dalam"
Chanyeol terkekeh pelan mendengar penjelasan pelayan itu. Ia tau benar tabiat Baekhyun...tak ingin diusik oleh siapapun. Saat berkutat dengan kesenangannya.
"Baiklah...aku yang akan mengusiknya" desis Chanyeol lirih dan hanya terdengar olehnya sendiiri. Ia mengangkat sebelah tangannya, memberi isyarat pada semua pengawal dan pelayan itu untuk berjaga jauh di luar. sebelum akhirnya melangkah menuju perpustakaan itu.
.
.
.
"Satu buku lagi!" Ujar Baekhyun bersemangat ingin mengembalikan buku itu ke tempat semula.
KRIETT
Namun tiba-tiba Ia terbelalak mendengar pintu perpustakaan terbuka, membuatnya kembali terduduk, dan membuka ulang bukunya.
Bertingkah seolah tengah disibukkan dengan kegiatan belajarnya.
"Yeppeosseo (You're beautiful)" Bisik Chanyeol tiba-tiba, seraya merunduk dan mengecupi telinga Baekhyun
"Mangapa Ahjusii kemari? Aku harus belajar!" Sungutnya tak suka, seraya mendorong dada pria yang masih ingin mengendus lehernya itu.
"Tch! Tutup saja! Bagaimana mungkin buku seperti ini membuatmu mengacuhkan Raja setampan diriku huh?" Godanya, sambil berusaha menutup buku berguratkan huruf china itu.
"Aissh! Ahjjuss—Mpfth..nghh" Baekhyun kekeuh mengelaknya, namun sayang...Pria itu terlalu cepat merengkuh tengkuknya dan meraup penuh bibir mungilnya
Membuat namja berusia 15 tahun itu hanya mendesah pasrah dalam permainannya. Baekhyun tak memungkiri Raja Silla itu begitu mahir memainkan lidahnya di dalam mulutnya.
Tangan besar itu terlihat bergerak turun, meraba penuh gairah tubuh ramping yang masih berbalutkan pakaiannya. Tak dipedulikannya tempatnya bertandang kali ini, kepalanya hanya dipenuhi aroma tubuh namja cantik itu.
Tiga hari tak melihatnya, membuatnya menggila dan haus ingin menyentuh setiap jengkal tubuh putih menggoda itu.
"Ngh~ Hhh...anghhh! NGHH!" Baekhyun mendadak menjerit tertahan, begitu tangan Chanyeol menysup ke bawah ingin meraba pantatnya. Terlalu riskan membiarkan pria itu menyentuh bagian itu, di saat Ia menadapat periodenya.
Baekhyun memukul-mukul pundak Chanyeol dengan panik, membuat Raja Silla itu mengerang dan melepas ciumannya dengan sangat terpaksa.
"Ada apa?!" Ujarnya kesal, sambil kembali ingin mendekatkan wajahnya.
Tapi Baekhyun menangkup rahang tegas itu, dan menjauhkannya secepat mungkin. "T-tidak Ahjjusi! Jangan sekarang!" Panik Baekhyun sambil menggelengkan kepalanya.
"Tsk! Apanya yang tidak sekarang? Aku hanya mencumbumu dan sedikit bermain dengan tubuhmu. Ayolah... jangan menarik ulur denganku" Bisik Chanyeol sensual seraya menjilat perpotongan leher Baekhyun. Tak seperti sebelumnya, yang kerap menyimpan ragu saat mencumbu bocah itu. Kini Ia lebih frontal bahkan semakin berani menyampaikan hasratnya...di saat Baekhyun telah mengerti apa artinya sebuah cumbuan dan sentuhan tubuh di antara keduanya. Ya...semua tentu karena Baekyun telah beranjak remaja,dan ia tak harus menahan diri lagi. Terlebih... esok adalah hari dimana anak itu genap berusia 15 tahun.
Chanyeol kembali menyeringai tajam, lalu bergerak cepat melepas simpul pakaian Baekhyun. "Tiga hari tak bertemu, bukankah kau merindukanku sayang?"
"Ugh! Ahjjusi!" Bentak Baekhyun berusaha mendorong tubuh Chanyeol dan begitu berhasil, Ia melompat menghindar lalu kembali menutup rapat pakaiannya yang sempat terbuka.
"Mengapa Ahjjusi tak pernah mendengarkanku! Lagipula ini perpustakaan! Bagaimana jika seseorang masuk?!" Teriaknya kesal, seraya berjalan menghentak...ingin keluar.
"Yya! –
"Jangan mendekatiku! dan jangan mengikutiku!" Baekhyun berbalik dan menunjuk Chanyeol dengan telunjuknya. Ia melirik pria itu sinis, lalu setelahnya kembali menghentak kaki meninggalkan Raja yang masih mengerjap akan sikapnya.
Chanyeol terkekeh lalu berdecak selepas perginya Baekhyun. "Ada apa dengan anak itu...Tck!"
Ia beralih merapikan pakaiannnya sendiri sembari berjalan cepat , keluar dari perpustakaan itu. Bukan pribadinya, jika Ia hanya berdiam diri tanpa mengejar sosok cantiknya.
Tentu saja! Ia ingin bermain dengan Baekhyunnya lebih lama lagi.
"Kau benar-benar menggoda...sayang"
.
.
.
Nafasnya begitu memburu, mencoba berjalan secepat mungkin menuju kamarnya. Hingga tak memperhatikan langkanya sendiri dan—
BRUGH
Baekhyun nyaris terjengkang, begitu dirinya menabrak seorang pelayan muda di sisi taman istana itu.
"Yackk! Kau menabrakku!" Pekik Baekhyun jengkel. tak sadar..dirinyalah yang bersalah di sini.
Membuat pria tinggi itu, menoleh padanya...namun detik itu pula Ia diam terpana begitu melihat wajah Baekhyun. Semakin Baekhyun menyentak marah, semakin memikat pula paras cantiknya.
"Apa yang kau lihat!?" Sentak Baekhyun tak bersahabat.
"Yeppeoh"
"M-Mwo?!" Baekhyun berdecak kesal mendengarnya, ia mengambil alih sapu pelayan itu lalu—
"Makan mata mesummu itu huh! Sungutnya seraya menyambar kaki pelayan itu dengan sapunya berulang-ulang. membuat pria itu memekik-mekik kesakitan
"A-ah! J-josseong hamnida Tuan muda. Aww!"
"Huh!" Kesal Baekhyun lagi seraya membanting sapunya, Ia melirik Pelayan yang masih meringis itu...tak habis pikir pria itu bernyali menggodanya.
Sementara seorang pria yang sedari tadi mengikutinya, hanya terkekeh pelan melihat tingkah uring-uringan itu. Menggemaskan sekali...pikirnya
.
.
.
"T-tuan Muda, ada daun di kepala—
"BIAR SAJA! AKU TAK PEDULI!" Sahut Baekhyun, seraya menghentak kaki melalui dayang istana itu. Membuat sang dayang tampak mengerjap terkejut.
BRAK
Pintu terbanting, namja cantik itu terlihat berjalan menghentak memasuki kamarnya dengan kesal. Hingga membuatnya lupa...untuk mengunci pintu.
bibir mungilnya terlihat masih menggerutu, sementara kedua tangan lentiknya terlihat melepas simpul pakaiannya sendiri,
Rasa kesalnya semakin memuncak, begitu melihat bercak darah dalam pakaiannya. Membuatnya cepat-cepat mengambil kain hangat untuk membasuhnya ...seperti yang biasa ia lakukan selama ini.
.
.
"Ugh~" Rintihnya begitu perutnya berdenyut nyeri. Baekhyun beralih membaringkan tubuhnya di ranjang, tentunya dengan sebuah handuk hangat yang menjadi alasnya.
Suasana begitu hening dan tenang, setidaknya ia bisa memejamkan mata dan tidur hingga siklus itu berhenti.
Akan tetapi, belum sempat memejamkan mata...Ia kembali dikejutkan dengan kedatangan Pria yang benar-benar tak ingin dilihatnya di saat-saat seperti ini.
"Ahjjusi! Biarkan aku sendiri!" Gerutu Baekhyun seraya menarik selimut hingga sebatas kepala.
Chanyeol terkekeh mendengarnya, tetap berjalan mendekat, memaksa menarik selimut Baekhyun...bahkan menindih tubuh mungil itu.
"Ahjuss—
Chupp
Baekhyun mendelik kesal mendapat kecupan kecil itu.
"Mengapa kau menjadi semarah ini padaku? Kemana perginya bocah polos itu hn?" Ujar Chanyeol ingin menggoda.
"Aku ingin tidur! jangan menggangguku"
Chanyeol mengernyit, Ia beralih menelisik ke sekitar dan menghela nafas begitu menyadari suatu hal. "Kau mengalaminya lagi?" Tanyanya kemudian.
"Setiap bulan! Dan Ahjjusi tau itu...jadi jangan bertanya lagi!" Sahutnya ketus.
Pria itu hanya memijit pelipisnya. Ia memang tau perubahan emosi Baekhyun, tiap mengalami 'hal itu' "Hhh... Seperti perempuan saja"
Baekhyun kembali mendelik kesal mendengarnya, tak habis pikir Raja itu semakin membuatnya jengkel seperti ini"Aku namja! NAMJA! Aku hanya sedang sakit saja! Ahjjusi pergilah!"
Seolah mengabaikannya, Chanyeol lebih memilih menahan tangan Baekhyun di kedua sisi kepalanya.
"Aku akan memanggil tabib, untuk memastikannya" Bisiknya seraya mengecup kening Baekhyun.
Tapi namja cantik itu mengelak, dan menahan kuat tangannya. "T-tidak Ahjussi! Jangan memanggil Tabib!"
Chanyeol tak menjawab selain tersenyum dan mengelus pipi Baekhyun. Tidakkah ini terlalu lama...membiarkan Baekhyun menyimpan penyakit aneh itu? Semula Ia berpikir...penyakit itu akan sembuh dengan sendirinya.
Tapi janggalnya...Itu tetap berulang di setiap bulannya.
Dan menuruti keinginan bocah itu untuk merahasiakannya dari siapapun, sepertinya akan beresiko besar. Bagaimana jika itu sebuah penyakit yang berbahaya?
Tidak!...Tidak!
Ia tak akan membiarkan Baekhyun bertahan seorang diri dengan penyakit semacam itu.
"Tidurlah—
"Bukankah Ahjussi berjanji untuk merahasiakannya dari siapapun!" Teriak Baekhyun seraya bangkit terduduk. Apapun itu...Baekhyun masih memegang kuat ucapan seorang dayang pengasuh yang tak Ia ingat namanya. Bahwa apa yang terjadi pada tubuhnya adalah sebuah rahasia besar, dan terlarang bagi siapapun untuk mengetahuinya. Jika tidak, semua akan berakhir petaka untuknya.
"..." Chanyeol tetap diam dan lebih memilih melenggang pergi, tetap pada pendiriannya ingin memanggil tabib. Bagaimanapun menuruti keinginan anak itu, bukanlah suatu yang baik untuk Baekhyun.
"Ahjjusi!"
Baekhyun semakin panik melihat sikap Chanyeol, Ia mengedarkan pandangan ke sekitar. Berpikir keras untuk menahan Chanyeol.
Namja cantik itu lekas menyingkap selimutnya, memperlihatkan tubuh mulus...tanpa kain penutup apapun
"Ngh! A-ahjjusi..." Desahnya ragu, seraya mendongakkan kepala. Yakin cara ini akan melumpuhkan Chanyeol
Membuat Chanyeol stagnan, dan memutar tubuh dengan perlahan.
"Ahjjusii~"
Panggil Baekhyun lagi, sambil memandang penuh sayu.
Tak bisa dicegah...Chanyeol benar-benar berjalan kembali mendekatinya, beringsut ke atas ranjang dan menyergap leher putih, yang terekspose hanya untuknya itu.
"Nnh~ ah...ahnn"
"Kau semakin pintar menggodaku hn?" Bisik Chanyeol seraya menjilati perpotongan leher Baekhyun. Sebelah tangannya meraba dada kanannya, menekan-nekan bagian lembut yang tampak mencuat tegang karna rangsangannya.
"Nn~hah...hhah! Ahjjusi~"
"Mendesahlah hanya untukku...sayang"
Chanyeol beralih membawa lidahnya turun menyusuri perut Baekhyun. Menjilat bagian itu begitu lama...dan memainkan lubang kecil di tengahnya.
Tak pelak membuat Baekhyun menggelinjang karenanya. "A—ahh! C-cukuphh Ahjjusih! Nghh"
Chanyeol menyeringai menyeringai mendengarnya, Ia beralih menyusupkan kedua tangannya ke bawah pinggang Baekhyun dan mengangkatnya. Hingga membuat tubuh ramping itu melengkung ke atas.
"A-ahjjusi" Baekhyun terbelalak panik, Ia berusaha bangkit untuk melihat apa yang dilakukan Pria itu. Tapi posisinya dengan kepala di bawah menyulitkannya untuk bergerak lebih. Dan hanya pasrah mendesah kala pria itu, menggigiti dan menghisap bagian bawah perutnya.
Meninggalkan bekas hisapan merah matang di atasnya
"AH!" Jerit Baekhyun nyeri, begitu Chanyeol kembali membuat tanda merah di garis selangkangannya.
Percum bening mulai merembas dari ujung genitalnya. menyulut birahi pria itu untuk berbuat lebih lagi.
Tanpa peringatan, Raja Silla itu menyergap genital yang telah memerah itu...mengulumnya bahkan mengeratnya di dalam mulut dengan giginya.
"A-AH! Ahjjusi! Ngh! C-cukuphh! AHH!" Baekhyun semakin panik merasakan perutnya menegang hebat, memang bukan sekali ini Ia melakukan cumbuan ini bersama Chanyeol. Tapi rasanya kali ini sangat berbeda, Chanyeol terlalu kuat menghisap genitalnya, seakan ingin memerah habis cairan di dalamnya. "J-jusshii! AH! Ahn! AHHHH!"
Tubuhnya semakin melengkung ke atas, menyentak klimaks...dan membiarkan cairan kental itu melesak masuk ke dalam mulut Chanyeol.
Raja Silla itu mengulas smirk usai meneguk habis, cairan yang terasa manis bak nektar ranum untuknya. Tatapannya menajam, memandang penuh nafsu pada tubuh yang terengah di bawahnya. Satu hal yang ia sadari. Baekhyun telah beranjak dewasa...tak terhitung berapa kali ia mencumbunya, menyesap dan mengulum penis kecil itu. Tapi ...baru kali ini, Ia merasakan cairan pekat nan kental tercecap di lidahnya.
Bukan lagi precum...tapi itu benar-benar sperma yang menetes.
"Hebat.." Gumamnya seraya menjilat sudut bibirnya, menyesap sisa sperma yang masih tertinggal
Chanyeol beralih mengambil beberapa bantal di sisinya, dan Ia letakkan di bawah pantat Baekhyun. Sementara namja cantik itu hanya terpejam dengan dada kembang kempis paska orgasmenya, tak mampu lagi menyadari apa yang ingin dilakukan Chanyeol setelah ini. entahlah, tak pernah sekalipun Baekhyun merasa seperti ini.
Bukankah Ia kerap melakukan hal ini dengan Ahjjusinya? Tapi mengapa Ia selelah ini, terlebih ujung genitalnyapun terasa memanas.
"Kurasa...aku tak perlu menahan diri lagi" Bisik Chanyeol seraya melepas satu persatu pakaian agungnya.
"Hhh...hhh...hh" Baekhyun masih terengah, memandang pudar pada sosok kekar yang kini telah menyisihkan handuk di bawahnya, dan membuka lebar kedua kakinya.
"Kau telah merekah sayang..." Chanyeol kembali merunduk, melumat mesra bibir merah yang telah terbuka itu. Ibarat kuncup mawar yang selama ini digenggamnya. Bunga itu benar-benar mekar merekah menyentak penantiannya selama ini.
"Mfthh~...Mmm" Baekhyun melenguh tertahan, merasakan lidah itu meninggalkan bibirnya dan kini beralih menjilati dada kananya, melumuri nipple ranum itu dengan salivanya.
"Ssh~ Ah!" Pekiknya dengan tubuh berjengit, begitu Chanyeol menyesap kuat nipplenya. Terus berulang di dada kirinya, hingga membuat lapisan lembut itu sepenuhnya membengkak merah.
Baekhyun meremas surai hitamnya sendiri. Menyesal ia menggoda Chanyol..tapi Ia terlalu menggila dengan sentuhan-sentuhan yang pria itu berikan untuknya. Terlalu menjerat...hingga melumpuhkan isi kepalanya. Tak ada yang bisa dilakukannya...selain mendesah dan melenguh penuh nikmat.
"A-ahjjusi...nhh~ n-nikmath ahjjus—Nnnnh" desahnya manja, kala Chanyeol menggigiti garis selangkangannya.
Sebelah tangannya kembali memebentangkan kedua paha Baekhyun, dan menyeringai lebar menyadari darah itu telah berhenti merembas.
tampaknya siklus itu telah berakhir...membuatnya semakin bersemangat membawa cumbuannya semakin turun ke bawah.
Ia melumuri dua jarinya dengan salivanya sendiri, dan—
"Agh! AH! nnahhh!" Baekhyun terlonjak dengan dada membusung, begitu jemari panjang itu melesak masuk dalam sekali gerakan. Menusuk prostatnya.
"Bukankah ini nikmat sayang?" Ujar Chanyeol sensual seraya menarik keluar masuk dua jarinya, menggoda bocah mungil itu lagi dan lagi, hingga memekik payah di bawahnya.
"Ah! ...hhh! Hahh! Annghh!"
"Benar...mendesahlah lebih lagi" Chanyeol memperlambat gerakan tangannya, menggoda anak itu...hingga mencakar-cakar dadanya.
"A—ahjjusii~ hks! C-cepath! Ngh!" Rengek Baekhyun, dengan pinggul bergerak naik turun.
Chanyeol terkekeh pelan melihatnya. Terlalu puas menggoda namja kecilnya seperti ini. "Ah...kau menyukainya?" Bisik Chanyeol masih menggoda Baekhyun dengan gerakan lambannya.
Baekhyun mengangguk cepat, perutnya menengang keras...dan ia merasa jutaan kupu-kupu kecil semakin hebat menggelitknya di dalam sana. tapi gerakan itu...benar-benar tak membuatnya cukup.
"Ahjjusiii! hks...nn!" Baekhyun menggeleng frustasi, dan kembali menggerakkan pinggulnya sendiri demi mendapatkan tusukannya.
"Kau menginginkannya?"
Baekhyun memandang pias, dengan kepala mengangguk cepat, berharap Chanyeol menggerakan jari itu lebih cepat.
"Sesuatu yang lebih dari jariku, apa kau menginginkannya?" Goda Chanyeol lagi, libidonya semakin memuncak melihat Baekhyun menggeliat-geliat tak nyaman di bawahnya.
"N-neh! Uhnn...J-jebalh Ahjjusii!" Rengek Baekhyun, tanpa sadar Ia telah terjebak.
Chanyeol menyeringai puas mendengarnya, Ia beralih mencabut paksa dua jari panjangnya. Membuat namja cantik itu mendesah tak terima bahkan nyaris menangis karenanya.
"Ahjjusiii~" Rengek Baekhyun lagi, dengan kedua tangan terangkat ingin menggapai-gapai Chanyeol.
'Chupp'
Baekhyun sedikt terlena mendapat kecupan lembut itu. Kedua matanya terpejam...membiarkan pria itu mengklaim lebih, bibir ranumnya. "Mmh~"
"Aku akan memberimu pengalaman pertama...yang tak pernah kau lupakan" Gumam Chanyeol tepat di bibir Baekhyun. Membuat namja cantik itu membuka mata, dan mengerjap tak mengerti mendengarnya.
Chanyeol tersenyum tipis, dan mencium lama kening Baekhyun. "Terlalu lama menunggu untuk semua ini Sayang" Ujarnya seraya menarik kedua kaki Baekhyun hingga bersandar di kedua pundaknya.
Baekhyun masih mengerjap, bahkan hingga pria itu menggesekkan kepala penisnya di rektumnya...ia masih menatap pria itu tak mengerti. Apa yang sebenarnya ingin dilakukan Chanyeol, sementara Ia masih menginginkan jari panjang itu kembali bersarang di lubang analnya.
"Ahjjussi! Masukkan jari Ahjjusi~Mppfth!" Baekhyun mengerang kesal,
Bukannya memenuhi keinginannya, pria itu malah kembali menciumnya dan tak pernah berhenti menggesek bibir rektum dengan sesuatu yang terasa basah itu. Ah! Baekhyun tak peduli, Ia hanya ingin jari Chanyeol kembali menusuk analnya.
"Mmhh! Ahjjus—
JLEBB
Kedua mata coklat itu terbelalak lebar, Sekujur tubuhnya menegang, kala sesuatu yang besar serasa menusuk paksa anusnya. Terlalu sakit! Sangat sakit, hingga membuat Baekhyun menggelinjang dan menjerit memekakkan.
"AAAAHTTTT! AHHH! Hks!"
Chanyeol menggeram tertahan, rektum itu terlalu hebat menjepit ujung penisnya. Terlebih gerakan Baekhyun, semakin memperparah kondisi. Ia beralih merunduk, demi melihat kebawah...dan betapa terkejutnya Ia melihat darah merembas dan menetes hingga pangkal penisnya.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
Next Chap
"Aku tau...kaulah dalang pembunuhan itu"
.
"Buatlah Wanita tua itu berpihak padamu"
.
Baekhyun berlari secepat yang Ia bisa, hingga lengan kekar itu benar-benar bisa digapainya.
"ANDWAE! J-jangan pergi!"
Chanyeol berbalik, dan menatap sendu...bocah yang masih kekeuh menahannya itu. Ia mengelus kepala Baekhyun sesaat. Dan tanpa berucap apapun, Ia melepas pegangan tangan kecil itu. Tak ada cara lain lagi, hanya dengan melakukan ini. ia bisa mempertahankan namja cantiknya.
"AHHJUSII!" Tapi Baekhyun kembali merangkul lengannya tak membiarkan Raja Sila itu menyambut Seulgi. "J-Jangan ketempat wanita itu! Jangan tidur dengannya Ahjjusi!"
"Baekhyun—
.
"ANDWAE! AHJUSSII MILIKKU!"
.
.
"Apa kau mengingatku? Aku- Kyungsoo"
.
.
.
Enggggg Innggg Engggg...
(Jgn Banting Gloomy krn TBC di tengah ah..ah)
Hehehe Gloomy muncul lagi, bawa Chap 8 nyaah...
Gimana Chinguya? Ada NC kan mhehehe...
Baek 15 tahun.. si Chan masih pedo? kekeke~ setidaknya Baek dah remaja yah :)
Ah iya...pilihan terbanyak rupanya Love Of Fallen Leaves
Jadi ini dulu yang update.
Pembunuhnya ternyataaa masih meraja lela yah. Penasaran Chap selanjutnya?
Hehehe ...Revieeew Jusseyooooh
Jika ingin chap depan update Asap.
Semakin banyak yang respon, semakin semangat Gloomy lanjutin ceritanya.
Eiyy...besok Blood on A white Rose dulu ya yang update?
Bagaimana?
Seperti Biasa Gloomy menyertakan nama reviewer di setiap chapnya, untuk:
Flowerinyou , gloriadelafenni , restikadena90, 90Rahmayani , Tiara696, Byunsilb, daeri2124 , wafflecoklat, Park RinHyun-Uchiha, Shengmin137, narsih hamdan, History27, babybaekhyunee7, Fearless Soldier , Yuth girsang , baekpie461 , chanyeolisbaekk , PRISNA CHO , PureLight26 , MinJ7, yehethun, pcy134 , baekkieaerii, ChanBaekGAY , Byun Icha368 , bbhyn92, metroxylon, foxesbitch , 90rahmayani , Eun810, LyWoo, light ma fire, jiellian21 , deamelatis , yuesen98, YuRhachan , pinkeury , myzmsandraa99 , Hyun CB614 , istiqomahpark01 , praapraa , Macchiato Chwang , FlashMrB , Lussia Archery, sheyeol , chanbaekaegi, dwi yuliantipcy , via, LUDLUD , fifa4321, light195 , vkeyzia23 , yousee , rubby , xxxx , chanbaekssi, minami Kz, Ikakaaaaaaaa , mphi , Deer Baekbee, BananaOhbanana, selepy, nurhidayani137 , ZazaChanBaek , Name parknichan , vava1487 , byunbaekra , Dilhae, rimadwi, baekby , Nh21, byunbaekhill, Seoglyu Yeowang, NaBlue, Ryuuki621 , RealNa, iliu , baekkumaa, Siti409 , n3208007 , wtf , ay, dan Para Guest
Hks Gomawooo neomu neomu gomawooo atas respond yang diberikan, Gloomy benar-benar bahagia membacanya huhuhu
Mohon Reviewnya lagi,.
Annyeong...
SARANGGGGGHAAAAAAEEEEEEEEEEEEE
