Darrr!
Bunyi tembakan mengiringi malam kala itu. Bunyi tembakan yang berasal dari sebuah gedung IT.
"Misi sukses..," ucap seorang pemuda bersurai pirang, memasang seringai kejam, sebuah pistol yang berasap nampak digenggamnya.
Setelah membersihkan jejak, pemuda itu lalu keluar dari gedung dengan melompat dari jendela lantai 15. Melompat keatap bangunan lainnya bak seorang ninja, tanpa sedikit pun rasa khawatir dalam hatinya.
"Berhenti disana!" sebuah suara menghentikan gerakan pemuda itu.
"Mungkin kami sudah terlambat menyelamatkan targetmu... Tapi kami takkan terlambat tuk menangkapmu, Himaki!" ujar seorang pemuda berseragam polisi lengkap dengan berbagai tanda pangkat yang menempel diseragamnya, ia juga memakai topi berwarna hitam-kuning yang di terbalikkan.
"Yah... Sepertinya aku ketahuan ya, Gempa..," jawab si pemuda pirang, yang dipanggil dengan nama "Himaki" itu.
"Kali ini takkan kubiarkan kau kabur!" ucap pemuda yang mirip dengan pemuda pertama, hanya saja ia bermanik emerald.
"Hahaha! Coba tebak, sudah kesekian kalinya kalian mencoba menangkapku, namun kalian gagal bukan? Setiap hari para pejabat itu mati... Kota Delaria akan hancur sedikit demi sedikit! Kalian itu hanya sekelompok remaja yang SOK kuat! Yang SOK berani menghadapi kami yang nyatanya memiliki derajat yang lebih tinggi dibanding kalian!" ujar Himaki, panjang lebar.
"Diam kau! Perkataanmu sebusuk perlakuanmu, tau!" bentak pemuda bermanik emerald, geram.
"Hahahahaha! Lucu sekali! Dasar bocah!" ejek Himaki, membuat pemuda bermanik emerald itu semakin geram.
"Tenanglah, Thorn.. Dia hanya ingin membuatmu semakin kesal," ucap Pemuda dengan topi terbalik bernama Gempa pada pemuda bermanik emerald bernama Thorn tersebut.
"Ck... Bisakah kita mempercepat semua ini, Kapten? Aku mulai kesal dengan dia!" jawab Thorn sambil menunjuk kearah Himaki.
"Ups! Sepertinya waktuku terkuras oleh kalian! Sebaiknya aku pergi sekarang sebelum Boss datang dan mungkin dia akan menghajar kalian! Bye~~" Himaki lalu melompat dari atap sebuah apartemen yang sejak tadi menjadi tempatnya dan dua pemuda itu bertikai.
"Hei! Tunggu kau!" seru Thorn, berusaha mengejar.
"Sudahlah, Thorn.. Biarkan dia kabur..," cegah Gempa, seraya menggenggam lengan Thorn dan mengajaknya kembali menuju Markas.
"Kau gila ya?! Kita sudah melepas target kita, Kapten! Ini tak bisa dibiarkan!" bantah Thorn.
"Tapi lihatlah posisi kita! Kita berada ditempat seperti ini dan pasti akan terjadi pertumpahan darah! Sebaiknya kita kembali ke Markas dan menunggu saat yang tepat untuk menangkap Himaki dan geng mafianya. Dan lihat dirimu... Kau menjadi berbeda, tak seperti biasanya." ujar Gempa, Thorn mendengus kesal dan terpaksa ia menurut perintah Sang Kapten.
.
.
The Case Solver
"Siap Menjalankan Misi Pertama?"
.
Story line by LyxCrime03
Chapter 1: Selimut Hitam
.
Genre: Fanfiction, Thriller
.
.
Delaria City, tahun 3017...
Seorang pemuda duduk dihadapan laptop yang menyala, tampak ia sedang bercengkerama dengan seseorang melalui laptop tersebut.
Gempa, Boboiboy Gempa. Itulah namanya, polisi yang sudah sering dikenal orang banyak karena jasanya dan disegani lawan maupun kawan. Ciri khasnya adalah topi Hitam dengan motif Kuning keemasan yang selalu ia pakai secara terbalik. Ia memakai topi itu sejak ia bertemu dengan Taufan dan Thorn yang wajahnya amat mirip dengannya. Untuk mengantisipasi adanya kekeliruan, ia kini memakai topi itu kemanapun ia pergi.
"Hey... Jangan lupa pulang kampung nanti! Kasian Ochobot... Dia merindukanmu." ucap seorang kakek dari layar laptop. Ya, Tok Aba, kakek dari Gempa.
Gempa meringis lalu menjawab, "Ah... Nanti jika ada waktu luang, Gempa akan pulang kesana. Namun... Sekarang bukan saatnya, Tok!" dan jawabannya membuat Tok Aba sedikit gelisah.
"Tapi, hati-hati disana. Jika pulang kemari, bawalah jodoh! Atok sudah lama ingin menimang cucu nih!" ujar Tok Aba, Gempa hanya bisa kembali meringis mendengarnya. Mengetahui Gempa belum mempunyai pacar alias Jom- Single! Ya.. Single!
"Baiklah... Terserah Atok sajalah. Nah, Gempa-"
Tok... Tok... Tok...
"Gempa, ada kasus baru untukmu!" ujar seseorang dari balik pintu. Gempa yang mendengarnya pun segera meminta izin pada Tok Aba untuk pergi dan mematikan sambungan komunikasinya.
Ia segera bergegas menuju pintu dan membukanya, dan tampaklah seorang pemuda yang mirip dengan Gempa, hanya saja pemuda tersebut bermanik emerald.
"Misi baru? Apa itu?" tanya Gempa pada pemuda itu, tanpa basa-basi.
"Kau tak memintaku untuk masuk terlebih dahulu, begitu? Atau sekedar menyuguhkan green tea?" keluh pemuda dihadapan Gempa itu, To The Point dan akan selalu begitu. Kurasa...
Gempa sadar akan perbuatannya dan kemudian ia pun mempersilahkan pemuda itu untuk masuk. Pemuda itu masuk dan duduk diatas karpet berwarna hitam.
"Kau mau minum apa, Thorn?" tawar Gempa. Thorn mendongakkan kepalanya menghadap Gempa yang masih berdiri.
"Um... Tidak usah, deh! Langsung saja kita bahas ini." tolak pemuda bernama Thorn tersebut, seraya membuka map coklat yang ia bawa sedari tadi. Gempa yang mendengar tolakkan Thorn pun ikut duduk diatas karpet, dan melihat apa yang akan Thorn jelaskan padanya.
"Ada pembunuhan di Mansion Shizen di Ruangan no. 13." ujar Thorn selanjutnya. Gempa hanya ber'oh' ria.
"Kenapa kau tak meneleponku saja?" tanya Gempa. Thorn menghela nafas seraya memutar bola matanya.
"Aku sudah telfon... Tapi kau tak jawab." ucap Thorn, memasang datface.
Gempa akhirnya memakai seragam polisinya, dan bergegas bersama Thorn menuju TKP. Sampai di TKP, terlihat disana seorang pemuda bermanik ruby yang mengenakan topi berwarna hitam bergaris merah menyala. Berdiri didepan Ruangan no. 13 itu.
"Oh... Syukurlah kalian cepat datang!" ujar Pemuda itu dengan senyuman masam dan raut wajahnya tampak khawatir.
"Siapa kau?" tanya Thorn. Always to the point.
"Aku Halilintar. Akulah yang menelpon polisi tadi." jawab pemuda bernama Halilintar tersebut.
"Boleh kami memeriksa TKP?" tanya Gempa. Halilintar mengangguk mengiyakan, seraya membuka pintu Ruangan. Bau menyengat tercium dari dalam Ruangan tersebut.
Gempa dan Thorn saling pandang saat mencium aroma menyengat. Seperti bau Durian, tapi ada juga bau amis darah. Gempa masuk kedalam ruangan, dan menemukan sampah mangkuk plastik es krim Durian diatas meja makan bersama dengan botol soda dan peralatan tulis, serta korban yang tergeletak di lantai dengan mulut yang mengeluarkan darah.
"Halilintar, apa hubungan anda dengan korban?" tanya Thorn, seraya mengeluarkan notes kecil dari dalam sakunya.
"A-aku hanya sahabatnya!" jawab Halilintar. Thorn memasang datface.
"Kukira kau pacarnya." gumam Thorn, seraya menulis perkataan Halilintar.
"Apa? Pacar?"
"Ah? T-tidak... Lupakan itu."
"Thorn, bisa kau panggilkan Yaya?" pinta Gempa. Thorn mengangguk lalu merogoh sakunya dan mengambil ponsel, setelahnya ia pun menghubungi Yaya yang dimaksud oleh Gempa.
Kini, Gempa yang menanyakan hal tentang korban.
"Siapa nama korban?"
"Ying."
"Umur?"
"20 tahun."
"Kuliah, ya? Kalian sekelas?"
"Iya. Kami berjanji untuk buat tugas bersama. Namun, malah jadi begini..."
"Baiklah... Kami akan menyelidiki dahulu apakah ini ketidaksengajaan atau pembunuhan." ucap Gempa akhirnya, walaupun ia sedikit curiga dengan Halilintar.
Tak lama ambulans datang, dan muncul juga seorang gadis paruh baya dengan hijab berwarna merah jambu juga mengenakan jas dokter.
"Yaya! Akhirnya kau datang. Tolong bawa korban menuju Rumah Sakit dan Autopsi." perintah Gempa pada gadis bernama Yaya tersebut. Yaya mengangguk lalu segera menyuruh beberapa pria yang berpakaian serba putih dan memakai masker untuk mengangkut mayat korban kedalam ambulans.
"Kami akan memberikan hasil autopsi dalam beberapa jam." ucap Yaya, ia pun pergi menyusul pria-pria tadi menuju ambulans. Saat Yaya sudah memasuki ambulans, ia pun berlalu.
"Pstt... Inspektur Gempa!" bisik Thorn. Jarang-jarang ia memanggil Gempa dengan panggilan 'Inspektur'. Gempa yang merasa terpanggil pun menoleh pada Thorn.
"Ada apa?" sahutnya.
"Dulu, guruku pernah mengatakan jika Durian dimakan bersamaan dengan soda, maka bisa menyebabkan kematian! Seperti racun ular begitu." jelas Thorn. Gempa ber'oh' ria, sembari melipat tangan didepan dada bidangnya.
"Tapi, kita harus selidiki dulu. Bisa saja ini jebakan. Hm... Hubungi Detektif sekarang." perintah Gempa akhirnya. Thorn kembali mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Sisa pulsa anda tidak cukup untuk melakukan panggilan ini. Silahkan... .Bla." Thorn hanya bisa diam seribu bahasa mendengar suara yang sebenarnya tak ia inginkan di telepon.
"M-maaf, Inspektur. Pulsaku habis." ucap Thorn sambil nyengir. Gempa hanya memutar bola matanya dengan malas.
To Be Continued...
Haloo! Apa kalian menikmati cerita saya? Jika iya, mohon tinggalkan jejak dengan memberikan komentar seunik mungkin dan kritik yang membangun kelancaran cerita ini.
Thanks,
Zesvalonic07
Note: Boboiboy Daun disini diganti jadi Boboiboy Thorn. Entah kenapa, tapi lebih nyaman pakai Thorn. Walaupun artinya sama-sama tanaman, jadi nggak masalah kan?
