Main Cast : Chanyeol X Baekhyun

Other Cast : Heechul, Sehun, Jong Dae, Je Ni (Blackpink), Seulgi, Namjoon (BTS)

Disclaimer : fic ini pure milik Gloomy Rosemarry aka Cupid KM

.

.

.

Previous Chapter

Kedua mata coklat itu terbelalak lebar, Sekujur tubuhnya menegang, kala sesuatu yang besar serasa menusuk paksa anusnya. Terlalu sakit! Sangat sakit, hingga membuat Baekhyun menggelinjang dan menjerit memekakkan.

"AAAAHTTTT! AHHH! Hks!"

Chanyeol menggeram tertahan, rektum itu terlalu hebat menjepit ujung penisnya. Terlebih gerakan Baekhyun, semakin memperparah kondisi. Ia beralih merunduk, demi melihat kebawah...dan betapa terkejutnya Ia melihat darah merembas dan menetes hingga pangkal penisnya.

.

.

.

.


Love Of Fallen Leaves

Chapter 7

.

.

"A—Ahjjush..."

Kepalanya menengadah, dengan dada membusung menahan nafas ...tak sempat mengusaikan rintihahnnya. Sedang ... jemari mungilnya terlihat mencengkeram kuat tangan Chanyeol. Memaksa.. Pria itu berhenti menambah perih yang hebat di bagian selatan tubuhnya.

Chanyeol hanya diam tertegun melihat darah segar yang mulai menetes di pangkal penisnya. Akan tetapi rintihan dan sengal nafas yang makin terdengar berat itu, membuatnya lekas tersadar dan beralih merunduk ... mengecup sayang kening Baekhyun.

"Sshh..." Desisnya menenangkan.

Baekhyun menggeleng dengan mata meratap pias. Racauannya seakan tersedak nafas pendeknya, hingga Ia hanya bisa terisak dengan wajah memucat pasi.

Membuat, Raja Silla itu menatap redup, semakin tak tega melihat anak itu seringkih ini di bawahnya. Akan lebih baik, Baekhyun menjerit melampiaskan rasa sakitnya, dibandingkan terisak seakan menahan ngilu seperti ini.

"Bernafaslah perlahan.." Bujuk Chanyeol, masih mencoba peluang.

"Sa—kit ...hks" Rintih Baekhyun lirih, seraya membentur-benturkan kepalanya di ranjang. Chanyeol berdecak, dan bergerak sigap menahan kepala itu. Lalu membelainya sepelan mungkin.

"Aku akan mengeluarkannya, berhentilah menangis" Chanyeol kembali berbisik lirih, mengecup kilat bibir basah itu sebelum akhirnya menarik keluar penis yang baru menerobos setengahnya dari rektum Baekhyun.

"Nghh! hks...A—AHH!" Tapi yang terlihat, Baekhyun kembali meronta, merasakan lapisan rektumnya serasa kembali terkoyak akibat gerakan genital itu.

Namja mungil itu terengah, dengan dada kembang kempis... meski nyatanya penis besar itu telah terlepas dari lubang analnya.

Tubuhnya tiba-tiba ditarik, hingga dirinya bersandar nyaman di dada bidang milik Raja Silla itu. Berulang kali Chanyeol, mengecupi puncak kepala Baekhyun seakan tengah menyampaikan permintaan maafnya.

"Sakit Ahjjusi.." Cicit Baekhyun lirih.

"Aku tau...berhentilah menangis" Gumam Chanyeol sembari menyeka sisa air mata di pipi bocah itu.

Baekhyun hanya mengangguk pelan, lalu merangkul erat perut Chanyeol dan makin menenggelamkan wajahnya dalam dekapan itu.

Sejenak, hanya hening yang mengepung. Hingga ucapan kecil Baekhyun kembali membuyarkan segalanya.

"Masukkan jari Ahjjusi saja, aku tak menyukai benda besar itu" Celoteh bocah 15 tahun itu seraya mendongak menatap Chanyeol

Ah Sial! Pria itu reflek menggigit bibir bawahnya sendiri, tak tahan melihat kerjapan kelewat menggemaskan itu.

Baekhyun menarik-narik pakaian depannya, kembali memaksa pria itu untuk beralih menatap hanya padanya. "Masukkan jari Ahjjusi... Ne?" Rengeknya kali ini dengan , mengalungkan kedua lengannya di leher Chanyeol. Menggelayut manja

"Jariku?"

Baekhyun mengangguk cepat, lalu kembali menyandarkan kepala. Seolah tengah menyembunyikan wajahnya yang memerah. Tapi sedikit reaksi kecil itu, membuat Chanyeol tau... anak itu mulai merasakan perasaan tersipu.

Chanyeol menyeringai, seakan Baekhyun tengah memberinya celah untuk mencicipi sedikit kenikmatan itu. tak masalah... jika bukan 'milik'nya yang menerobos masuk. Menyentuh dan meruam tubuh anak itu, sudah lebih dari cukup memuaskan nafsunya. Oh ayolah... ia terlalu menggilai setiap hal dari Baekhyun.

"Mengapa menginginkan jariku Hn?"

"..."

Namja mungil itu mendadak bersungut. seakan tau... Chanyeol tengah bermain dengan ucapannya. Ia mendadak... mendorong dada pria itu. Menarik selimut lalu menyembunyikam seluruh tubuhnya di balik kain tebal itu. "Jika Ahjjusi tidak mau...tinggalkan Baekhyun sendiri"

Raja Silla itu terkekeh, selalu ada sisi lain dari anak itu yang kerap membuat dadanya berdesir penuh seperti ini. Ah! sejatinya... miliknya masih menegang keras di bawah sana. Tapi melihat Baekhyun speerti ini, rasanya Ia masih mampu menahannya untuk kesenangan yang lain.

Tanpa peringatan pria itu, menarik paksa selimut Baekhyun dan membuangnya asal... tak peduli namja mungil itu berteriak tak terima karenanya.

"Ahjjusiii!"

Chanyeol menyeringai, semakin mengikis jarak hingga membuat Baekhyun beringsut-ingsut ciut ke belakang. "Ahjjusi mau apa?! Jangan memasukkan benda itu! Baekhyun tidak suka!" Racau Baekhyun, begitu melihat smirk yang menurutnya menyebalkan itu.

Pria itu menangkap cepat paha Baekhyun, menariknya ke atas hingga membuat tubuh mungil itu setengah terangkat. Tak ayal... namja manis itu pun berjengit terkejut bukan kepalang.

"A-ahjussi! Apa yang Ahjuss—nghh~ah!"

Desahannya lolos begitu saja, kala pria itu memberikan jilatan pelan di ujung genital mungilnya. Semula Baekhyun tak tau apa yang tengah dilakukan Chanyeol. Karena posisinya yang tertahan dengan kepala di bawah... sungguh menyulitkannya untuk melihat semua, hingga Chanyeol beralih semakin menekuk tubuhnya ke atas, barulah Ia tau... pria itu tengah mencumbu basah genital kecilnya. Menjilat... melumuri seluruhnya dengan saliva hangat itu.

"Eumph~ Jusshii—" Baekhyun memalingkan wajah ke samping, sesekali berjengit...begitu Chanyeol menggoda lubang kecil di ujung genital itu dengan lidahnya.

"AHH!" Baekhyun reflek menjerit dengan mata terbelalak, saat pria itu mengulum genitalnya dan menyedotnya kuat-kuat seakan ingin menghisap habis isinya.

Sontak namja mungil itu menggigil, dengan tubuh menggelinjang resah merasakan perutnya tiba-tiba menegang hebat.

"A-ahjusii! Ah! L-lepas! ...aa-ahhh! K-keluar! Nnn! A-andwaeehh!" Racau Baekhyun kacau, semakin payah memegangi perutnya sendiri.

Chanyeol menyeringai puas, di sela kulumannya. semburat merah yang melengkapi wajah pias itu semakin membuatnya bernafsu, menghisap brutal penis kecil itu "Keluarkan saja...sayang" Gumam Chanyeol semakin menggila merasakan precum bening itu merembas banyak di dalam mulutnya.

"NNH! Tck!..ahs! Ahjjuss—" Baekhyun mencengkeram kuat-kuat kepala ranjang, menyadari klimaks itu semakin mendekat. Hingga jeritannya pecah begitu saja kala dua jari Chanyeol turut menyeruak ke dalam rektumnya, menyertai cairan pekat yang mulai menciprat deras di dalam mulut pria dewasa itu.

"NGAH! AHHH!"

Seakan tak puas melihat bocah itu mendapat orgasmenya, pria itu kini beralih mengangkat pinggul Baekhyun ke atas, benar-benar menekuknya...hingga rektum merah merekah itu terpampang frontal di hadapannya. Sementara Baekhyun hanya terengah, pandangannya masih sepenuhnya berkunang paska mendapat klimaksnya, hingga membuatnya tak sadar... Pria dewasa yang merengkuhnya tengah menelisik rencana lain pada tubuhnya yang payah.

Sejenak kedua obsidian itu tampak menajam, menatap lekat pada rektum yang terlihat berkerut dan berkedut sensual itu. Terlalu menggodanya...terlalu membuatnya menggila. Menggodanya untul mengecup pelan lubang sempit itu, sebelum akhirnya menyergapnya dengan cumbuan basah.

"Eumpfth...mmhahh" Baekhyun menggeliat, dan reflek mendongak. Begitu organ kenyal nan basah itu menggelitik kecil lubang anusnya.

Baekhyun berusaha keras membuka matanya yang pias, detik itu pula wajahnnya memerah padam dengan jantung berdegup liar melihat Chanyeol menjulurkan lidah dan terlihat mengorek rektumnya dengan lidah basah jitu.

"Ugh~ Ahjjussiii...mhn! ah!"

Chanyeol makin lepas kendali melihat tubuh penuh peluh itu kian menggeliat binal dalam rengkuhannya. Libidonya seakan tersulut tiap kali Baekhyun memekik memanggilnya.

Membuatnya semakin bringas menggerakkan lidahnya keluar masuk dalam anus itu, menyisakan salliva yang telah melebur dengan cairan rektum Baekhyun.

"Nik—math...unggh! Ahjuusiihhh...ah! ahnn!" Pikirannya serasa melayang, bahkan kedua tangan ramping itu reflek terangkat ingin menggapai-gapai kepala Chanyeol. "Uh! Ahss...ah! Da—lamh! Lebih dalam Ahjjusii! nghahh!" Rengeknya tak puas.

Tapi Baekhyun sama sekali tak menyadarinya, rengekan nakalnya. Benar-benar menyulut hasrat pria itu.

.

.

Habis sudah kesabarannya, Chanyeol merasa semua ini hanya membuang waktu dan meregang nafsunya saja.

Kepalanya serasa buntu hanya dipenuhi desahan dan aroma tubuh Baekhyun yang kian memikat. Persetan dengan rasa iba itu.

Tidakkah selama ini Ia terlalu lama mengalah pada perasaaannya dan mengabaikan gairahnya? Tidak untuk hari ini. Ia akan benar-benar merenggut semua itu, hanya untuk dirinya sendiri.

Raja Silla itu beralih menurunkan tubuh Baekhyun, membuka lebar kedua kakinya berlawanan hingga mengangkang lebar. Nafasnya makin terdengar tak sabaran, melihat namja mungil itu kembali menggigil ingin dipuaskan.

"Ja—ngan berhentih...hks" Pinta Baekhyun yang mulai terangsang. Tak merelakan Chanyeol menyudahi permainan lidahnya. Oh sungguh...Baekhyun benar-benar menginginkan lidah itu kembali mengisi rektumnya.

Seakan kembali dipecut. Chanyeol menggeram tertahan, menyadari desiran nafsu itu semakin menguasinya. Tak dipedulikan peluh yang terus merembas dari tubuh kekarnya, Ia beralih memposisikan penis tegang sempurnanya di bibir rektum Baekhyun.

Menggeseknya pelan dengan kepala penisnya, menggoda rektum itu hingga makin berkedut hebat.

"Uhm! Ah... Ah—nnn"

"Kau menginginkannya sayang?" Bisik Chanyeol seraya menyergap nipple kanan Baekhyun, dan menghisapnya lembut.

Setiap cumbuan yang diterimanya seakan mengacaukan pikirannya, Baekhyun hanya mengangguk pasrah. Membuat Raja Silla itu menyeringai, sebelum akhirnya mendorong kuat pinggulnya. Melesakkan penis besar itu tanpa sisa.

Tubuh mungil itu kembali melengkung ke atas, menahan ngilu yang luar biasa di bagian anusnya, saat menerima organ asing sebesar itu.

Bibir mungilnya terbuka, ia tak menjerit meski kedua mata itu terbelalak penuh dengan air mata. Terlalu sakit, hingga membuat Baekhyun tak sanggup untuk merintih sekecil apapun.

Chanyol berdecak, raut itu membuatnya tau benar. Ia telah menyakiti bocah itu, dan mungkin sepertinya lebih.

Tapi mustahil mengakhirinya. Ia telah mendapat kesempatan itu, bahkan miliknya telah mengklaim penuh tubuh Baekhyun. Tak ada alasan untuk menariknya kembali, Ia hanya perlu menyentak hasratnya, dan membuat Baekhyun haus akan tubuhnya.

Dengan sigap Ia meraih tengkuk Baekhyun, melumat lembut bibir tipis itu. mencoba mengalihkan konsentrasi Bakhyun dari rasa sakit itu.

"Menjeritlah...jika itu sakit" Bisik Chanyeol masih dengan melumat intens bibir mungilnya.

Samar terdengar isakan namja cantik itu, membuat Chanyeol menggerakkan tangannya meraba perut datar itu, memijitnya perlahan...masih mencoba membuat Baekhyun sedikit rileks karenanya.

"Nn~ah!" Desah Baekhyun pada akhirnya. Begitu Raja Silla itu meremas-remas genital mungilnya. Chanyeol menyeringai puas mendengarnya dan kini beralih mencumbu nipple Baekhyun, dengan tangan tak berhenti menggelitik genital kecil itu.

"Umh! Ahh!"

Satu desahan kembali lolos, meyakinkan Chanyeol mulai mengerakkan pinggulnya. Sedikit menarik penis itu keluar.

"A—AHHHTT!"

Namun belum sempat sepenunnya tertarik, Baekhyun tiba-tiba menjerit kesakitan. Mearasa luka segar itu seakan dipaksa terbuka kembali.

Chanyeol mengerang. Tak ada pilihan lain, Ia mencium cepat bibir itu...membekap penuh setiap jerit dan pekikkan darinya.

"AHMPFHH! MMMPPHH!"

Pinggulnya kembali bergerak, menarik penis itu hingga menyisakan kepalanya saja. Sejenak memberi jeda sebelum akhirnya menghujamkannya kembali ke dalam.

"MMHHMMP!" Tangan mungilnya mencakar kuat lengan kekar itu, berusaha melampiaskan rasa sakitnya. Tapi seolah percuma... pria itu tetap menghujam keluar masuk miliknya. Hingga membuat tubuh mungilnya sesekali terhentak dan tertarik mengikuti gerakan tubuh kekar itu.

.

.

.

"Nnn~ AHHH!" Baekyhyun mendadak menarik paksa kepalanya, membuat ciuman itu terlepas kala kepala penis besar itu berhasil menumbuk prostatnya.

Sesaat Chanyeol stagnan, takjub melihat raut nikmat di sela rasa sakit bocah itu. Membuatnya seolah tak puas kembali menghentak miliknya, menyerang titik kejut itu lagi dan lagi.

Hingga Baekhyun semakin menjerit histeris memanggil-manggil namanya.

"ACKHHH!...A-AHJJUSIIIH!AHH!..Hk~ AGGH!"

"Peluk diriku...Baekhyun" Bisik Chanyeol tanpa menghentikan hentakannya, sebelah tangannya membimbing lengan Baekhyun untuk merangkul lehernya. Sementara bibir tebalnya tampak intens memberi kecupan-kecupan lembut di ceruk leher anak itu.

"AHN! Nhh...A-ahjjusii.."

"Iya sayang?" Bisik Chanyeol, menyamarkan simpul seringai itu di balik panggilan mesranya. Ah sungguh! tak ada yang lebih membuatnya menggila selain hangatnya tubuh Baekhyun.

"Mmmhaah! AHHK! Ah—jjussiii..." Pekik Baekhyun lagi seraya memeluk erat-erat tengkuk Chanyeol. Seakan meminta pada pria itu, kenikmatan yang lebih dari ini.

Darah yang merembas dari rektum yang terkoyak itu, semestinya membuatnya menjerit kesakitan...akan tetapi Raja Silla itu terlalu lihai mengerjai titik kejutnya. Hingga pekikkan kesakitan itu tergantikan dengan jeritan demi jeritan penuh nikmat.

"Panggil namaku...sayang"

"Ahnn!...Ackkh! C-Chanyeol! HAH!...MHAAH!"

.

.

.

.

Rembulan semakin menyingsing di malam yang pekat itu. lilin penerang tak lagi berpendar bias, meredup .. nyaris padam detik itu juga.

namun... sama sekali tak membuat ranjang besar itu berhenti berdecit. Setia... mengiring sosok kekar di atasnya yang masih menghentak penisnya keluar masuk dalam tubuh mungil itu.

"Ssshh...Aghh!" Hingga tiba-tiba saja Ia mendesis, dan membenamkan dalam-dalam miliknya. Menyentak semburan semen itu... jauh ke dalam perut Baekhyun.

"MMN—AAAHH!" Sontak namja mungil itu reflek memegangi perutnya sendiri, seolah sperma panas itu membuatnya sangat penuh dan nyaris tersedak.

"J-jusshi... A—Aaaa" Gagap Baekhyun, seraya menatap Chanyeol panik. Merasa takut, dengan cairan asing di dalam perutnya.

Sementara pria dewasa itu masih mengejang, menikmati desiran nikmat itu saat menyentak klimaksnya dalam tubuh Baekhyun. Pandangannya sesaat berkunang, tubuh anak itu benar-benar membuatnya menggila. Ia beralih menyambar cepat bibir Baekhyun, melumatnya bringas hingga Ia terpuaskan dengan rasa semanis candu itu.

"Ahjjusmphh... Mhhmh...Mpfthh!"

.

.

.

"C-cukup Nnh..Cukup!" Ronta Baekhyun, memaksa pria itu berhenti mengecupi pipi tirusnya.

Chanyeol hanya terkekeh pelan mendengarnya, alih-alih berhenti Ia lebih memilih menggigit gemas puncak hidung Baekhyun. Membuat pemiliknya kembali bersungut jengkel.

"Ahjjusii!" pekiknya terdengar lemah.

Ada alasan lain lagi untuk mengulas senyum menawannya, tak hanya tangisan, tawa dan canda Baekhyun. Jeritan anak itu pun semakin membuat dadanya berdesir hangat.

"Tidurlah...kau lelah bukan?"

Baekhyun menyembulkan kepalanya dari dekapan itu. "A-ahjussi" Cicit Baekhyun lirih

"Hn?"

"K-keluarkan..ugh" Adunya tak nyaman, berulang kali bocah itu menggeliat. Berharap penis besar itu lekas terlepas dari tubuhnya.

namun yang terlihat, semakin Ia melakukan gerakan berlebih semakin ngilu pula perih yang Ia rasakan,membuatnya sesekali meringis kesakitan.

Chanyeol beralih menatap tajam Baekhyun. "Kenapa hn? Biarkan di dalam tubuhmu lebih lama lagi" Desahnya seraya mendekap tubuh mungil itu, membuat Baekhyun memekik menyadari genital besar itu kembali menusuk prostatnya. "Uhnn! A-ahjuussi"

Lama Baekhyun meringkuk dalam dekapan itu, membiarkan Chanyeol menghujani kecupan-kecupan bahkan hisapan kecil di perpotongan lehernya.

"Unh! mmh"

Pria itu terkekeh pelan, melihat bocah mungilnya masih menggeliat gelisah dalam remgkuhannya, seakan Ia tau...Baekhyun memang tengah menahan rasa tak nyaman itu hanya demi dirinya. Ah! betapa picik dirinya kali ini.

Chanyeol beralih bangkit, sedikit menahan pinggul Baekhyun sebelum akhirnya menarik penisnya keluar secara perlahan.

"MMH! Hhh...a-ahh!" Sengal Baekhyun, meremas kuat-kuat surai hitamnya sendiri kala organ keras itu tertarik keluar, diikuti lelehan sperma dari dalamnya.

"Sudah keluar" Bisik Chanyeol seraya mencium mesra pipi Baekhyun."Buka matamu.." Desahnya lagi, dan benar saja... bocah mungil itu mulai mengerjap sayu...saat menatap padanya.

Baekhyun memaksa bangkit terduduk ingin melihat ke bawah, paska Ahjjusinya melakukan sesuatu yang menyakitkan pada anusnya. Walau nyatanya bocah itu tetap mengernyit ngilu.

Namun tiba-tiba Ia memekik terkejut saat melihat analnya sendiri" A-ahjjuusiii...a-apa...apa ini?" tanyanya panik, saat melihat cairan putih kental bercampur bercak darah meleleh keluar dari rektumnya.

"Ahjjusiii!" Jerit Baekhyun lagi semakin panik, merasa cairan itu terus saja merembas keluar... seolah tak pernah habis. Ia mulai kalut menarik-narik selimutnya, ingin menggunakannya untuk menyeka sperma panas itu.

Membuat Chanyeol semakin terkekeh geli melihatnya, tak habis pikir kekasih mungilnya tetaplah semurni ini.

Chanyeol berdecak lirih, sebelum akhirnya menahan tangan kurus itu. "Ada apa hn?" Bisiknya berpura-pura.

"L-lihat ini! Apa yang keluar...hks! Aku—

'Chupp'

Pria itu mengecup cepat bibir Baekhyun lalu menyeringai tajam. "Jika kau perempuan... cairan itu akan membuatmu hamil" Bisiknya seraya menjilat pipi kanan bocah yang kini terbelalak lebar itu.

"M-membuat hamil?"

"Hn...pria memasukkan cairan itu untuk menghasilkan keturunan" Jawab Chanyeol santai, sambil menghempas tubuhnya sendiri di ranjang. sesekali tersenyum tipis melihat anak itu masih mencerna ucapannya. Ah! entahlah... anak itu mengerti apa yang dikatakannya atau tidak.

Benar saja... Baekhyun terlihat antusias melihat ke bawah. Wajahnya bersemu merah kala menyentuh rembasan sperma itu dengan telunjuknya. "I-ini milik Ahjjusi.." Gumamnya lagi, sambil memainkan sperma pekat itu.

Ahjjusinya memang kerap mencumbunya, tapi... melihat sperma kental itu dan dimasukkan ke dalam tubuhnya, adalah pertama kali untuk Baekhyun. Tidakkah 'menghasilkan keturunan' itu berarti hal yang dilakukan oleh sepasang suami istri? Jadi Ahjjusinya dan dirinya...—

Baekhyun kembali menarik selimut, dan digunakannya untuk menutup wajahnya yang memanas. Membuat Chanyeol mengernyit melihat perubahan sikap itu.

"Baekhyun?" Panggilnya cemas,bangkit ingin menyentuh pundak anak itu.

"Apa yang terjadi? Apa kau sakit?" Ujarnya lagi, berusaha menarik paksa selimut Baekhyun. Dan begitu terlepas, Ia mengerjap cepat melihat anak itu menunduk sambil menahan senyum tersipu.

"M-mengapa Ahjjusi melakukannya dengan Baekhyun?" cicit anak itu sambil meremas-remas selimutnya sendiri. Senyum tersipunya pun semakin tak bisa ditahannya lagi.

"B-baekhyun bukan istri Ahjjusi...tapi Ahjjussi mengapa—

"Hahahaha" Chanyeol tertawa keras mendengar celoteh polos itu. Ia mengacak surai hitam Baekhyun, sambil menutup sebelah matanya.

"Baekhyun.." Panggil Chanyeol masih berusaha menahan tawanya, sementara anak itu terlihat antusias dan berbinar kala menatapnya.

"Kau memang bukan istriku. Dan tak akan pernah bisa menjadi istriku... karna kau namja"

DEG

Senyum manis itu mendadak pudar dari bibirnya, entahlah ada rasa sesak saat mendengar ucapan pria itu. Hingga membuat Baekhyun tertunduk, sambil meremas jemarinya sendiri.

"Aku melakukannya, karena aku nyaman denganmu... kau teman tidurku, sayang" Bisik Chanyeol setengah mendesah, lalu tawanya masih saja terdengar... merasa terpingkal dengan sikap yang menurutnya penuh jenaka dari bocah 15 tahun itu. Akan tetapi Chanyeol tak pernah tau, canda itu sedikit banyak telah menyentak hati Baekhyun kecilnya.

Bocah itu beralih berbaring, dan meringkuk...menyembunyikan tubuh kecilnya di dalam selimut tebal. "Hanya Seulgi Noona...istri Ahjjusi"

Chanyeol terbelalak lebar mendengar gumaman kecil itu, Ia meraih cepat bahu sempit itu... memaksa Baekhyun menatap padanya. Dan betapa terkejutnya Ia melihat, air mata telah merembas dari kedua mata indah itu.

"Baekhyun?"

"A-ahjjusi... juga melakukannya dengan Noona. Karna Dia istri Ahjjuss—

GREBB

Baekhyun tersentak, saat tubuhnya tiba-tiba didekap erat oleh pria itu. "Jangan pernah menyinggung tentang wanita itu" Bisik Chanyeol seraya mencium perpotongan leher Baekhyun, menghirup dalam-dalam aroma tubuh yang menguar darinya.

"Karena itu membuatku marah..." Pungkasnya penuh penekanan.

Ia memang sepenuhnya memahami, Baekhyun tau akan dirinya yang telah beristri. Tapi, tidakkah usahanya selama ini tak kurang apapun untuk melugaskan semuanya?

Kehadirannya, setiap waktu yang terlewat bahkan hingga sentuhannya... semua hanya tercurah untuk Baekhyun. Seharusnya Baekhyun mengerti tanpa perlu dijelaskan secara verbal, bahwa hanya anak itu yang bertahta dalam hatinya. Dan bukan Seulgi... bukan Ratu itu yang tak pernah dijamahnya itu.

Tapi hanya Baekhyun

.

.

"Ugh.." Baekhyun hanya diam, dan lebih memilih menghapus kasar air matanya, Ia benci mendengar Chanyeol tak mengelak, jika Seulgi istrinya. Malah... memberi semua kalimat penekanan itu, hanya agar tak membuat pria itu marah.

Tak taukah Raja Silla itu, Baekhyun tengah merajuk dan begitu menginginkan Ahjjusinya hanya untuk dirinya seorang.

"Tidurlah... Dan kenakan pakaian hangat malam ini" Ujar Raja Silla itu, sembari mengeratkan selimut Baekhyun. Lalu kembali memeluknya erat dari belakang.

"... "

Masih saja, tak ada jawaban yang terdengar. Anak itu seakan hanyut dalam rasa kecewanya, dan hanya memejamkan mata. Membiarkan malam yang dingin ini membawanya pada bias mentari esok hari.

.

.

.

.

.


Esoknya

"Tuan muda... Raja dan Ibu Suri telah menunggu anda—

"Aku tau! Tak perlu mengingatkanku!"Sentak Baekhyun tak suka, membuat dayang muda itu membungkam rapat bibirnya.

Lalu tertunduk meski sesekali terlihat mencuri pandang pada Baekhyun yang terlihat kacau mengenakan pakaiannya sendiri, bahkan hanya untuk berjalan pun, Tuan muda kecil itu terlihat lucu, seperti... bayi rusa mencoba untuk berjalan. Ah! apa yang sebenarnya terjadi pada Baekhyun. Masih sepagi ini tapi sudah tertatih seperti itu.

"Tuan muda... izinkan hamba membantu anda untuk berdiri—

"Tck! Aku bisa melakukannya sendiri! Pergi sana!" Kekeuh Baekhyun tak ingin diremehkan. Oh sungguh! ia benar-benar merutuk Ahjjusinya kali ini. Karena Pria itu, Sekujur tubuhnya serasa berdenyut ngilu... terutama pinggul dan..

yah, lubang anusnya.

.

.

Dayang itu tertunduk dengan senyum terkulum. walau sesekali Ia tetap mencuri pandang pada Baekhyun, mengawasi setiap gerakan yang menurutnya terlalu riskan itu

BRUGH

"Arh!"

Dan benar saja dugaannya, Baekhyun jatuh tersungkur di hadapannya. "Tuan muda!" Pekik Je Ni panik, lalu menghambur ... mencoba merengkuh tubuh mungil itu untuk berdiri.

"Ugh! Lepaskan aku!" Jerit Baekhyun kesal, sambil menyentak tangan Je Ni.

"Gwaenchana... gwaenchana, Kajja... berdirilah denganku" Kekeuh Je Ni keras kepala, bahkan sampai melupakan aksen formalnya pada Baekhyun.

"Tidak mau! Lepaskan aku"

"Yya! Kau akan melewatkan makan pagimu bersama Yang Mulia Raja... jika seperti ini! Biarkan aku membantumu" Sentak Je Ni tak sabararan

Baekhyun bersungut kesal lalu bersedekap. "Kalau begitu, gendong aku!" Tantang Baekhyun dengan mata mendelik semenyebalkan mungkin, membuat Je Ni membulatkan mata lebar.

Dan Baekhyun menyeringai menang. "Tch! Kau tak bisa bukan—

"Geurrae!" Seru Je Ni tiba-tiba sambil menyingsingkan kedua lengan gaunnya. "Mari Tuan muda... " Ujarnya lagi sambil berjongkok, lalu menepuk-nepuk punggungnya sendiri, seakan menunjukkan Ia seorang wanita perkasa " Kajja ... naik ke punggungku"

Baekhyun menatap horor Je Ni, lalu merangkak menjauhi wanita itu "Kau gila.."

"Yack! Tuan Muda! Jangan melarikan diri!"

"A—ani... ANIYA!... JE—NI!"

.

.

.


Seorang wanita, terlihat memejamkan mata... menikmati denting demi denting petikan nada pengantar pagi yang bias itu. Sosoknya terlihat anggun, meski tengah menyesap teh herbal miliknya.

"Di mana Baekhyun?" Gumamnya kemudian, usai meletakkan cangkir keramiknya.

Menarik urat tak suka, dari Ratu muda di sisinya. Sial! Ia di sini Seorang Ratu... bukan pengasuh anak tak tau diri itu.

"Ah... Ibu, dibandingkan anak itu—

"Aku tak bertanya padamu" Desis Heechul, sambil melirik sinis Seulgi. "Tapi pada putraku" lanjutnya kemudian, lalu menatap Chanyeol di seberangnya. Membuat Seulgi makin meremas habis rasa geramnya, tak cukup untuk hari ini. Semua benci itu semakin terpupuk kuat setelah melihat apa yang dilakukan Chanyeol pada anak itu beberapa tahun silam. Ya... Ia benar-benar tak melupakannya barang sedikitpun.

"Kurasa dayang pengasuhnya tengah memanggilnya kemari" Ujar Raja Silla itu, sambil mempersilakan dayang menuangkan teh lotus dalam cangkirnya.

Heechul menghela nafas berat" Aku tak sabar ingin melihatnya. Dayang—

"Ahahahaha! Lari lebih cepat Je Ni!"

"Nehh! Tuan Muda!"

Beberapa pasang mata dalam perjamuan makan pagi itu mengernyit heran mendengar seruan rusuh seorang bocah. Mereka tau benar, itu pastilah Baekhyun...ah! keributan apa lagi yang dibuatnya kali ini

Dan betapa terbelalaknya mereka, melihat seorang dayang berlari tergopoh-gopoh dengan seorang bocah menggelayut nakal di atas punggungnya, tertawa lepas seakan Dia tengah menunggangi kudanya. "Ahahahaha... hampir sampai! Ppalli... Ppalli!"

"Ye! Algeseumnidaaaaa!" Sahut Je Ni bersemangat.

.

.

"B-Baekhyun.." Gagap Heechul sambil memegangi pelipisnya sendiri.

.

.

"Kita sampai Tuan Muda" Seru Je Ni kemudian, Baekhyun terkikik geli... dan terlihat girang turun dari gendongan wanita yang masih terengah-engah itu.

Sementara Chanyeol yang telah berdiri di hadapan mereka dengan mata menghunus tajam itu sama sekali tak dihiraukannya.

"Baekhyun.." Panggilnya pada anak yang masih terpingkal kegirangan itu.

Bocah itu melirik. "Aku tidak terlambat makan pagi bukan?" Sahut Baekhyun sembari melenggang meninggalkannya, ingin mendekati Heechul. Namun langkahya mendadak tersendat begitu Chanyeol menarik tangannya.

"Tak seharusnya kau memperlakukan seorang dayang—

"Ah... Tuan muda sama sekali tidak memaksa. Ini benar-benar keinginan dari hamba sendiri Yang Mulia. Lagi pula... tubuhnya lebih ringan dibandingkan dengan yeojja" Ujar Je Ni menggebu.. sempat meninggalkan aksen formalnya, lalu memohon diri dengan kikuk begitu Chanyeol melempar tatapan tajamnya.

"Ahjjusi dengar?... Je Ni sendiri yang mengatakannya" kekeuh Baekhyun sambil melepas pegangan tangan Chanyeol.

"Tapi apa yang kau lakukan itu—

"Semua karena Ahjjusi! Tubuhku sakit karena Ahjjusi me-mpfthhh!" baekhyun terbelalak jengkel begitu Chanyeol tiba—tiba saja membekap bibirnya tanpa alasan.

"Duduk dan makanlah... aku akan mendengarmu setelah makan" Ujar Chanyeol kemudian,saat dirasa... Baekhyun tak lagi meracau.

Bocah mungil itu mendelik kesal, lalu berjalan tertatih mendekati Heechul. Tentunya dengan bantuan Chanyeol

"Halmeonii" Panggilnya manja, begitu duduk di sisi Heechul.

"Baekhyun, apa kau sakit nak?... mengapa cara berjalanmu seperti itu?"

Baekhyun mengerjap, sesaat melirik Chanyeol dan Heechul bergantian. Ia tau... jika mengatakan yang sebenarnya akan membuat Ibu suri itu mengamuk pada Ahjjusinya.

"Ah..aniya. Baekhyun hanya terjatuh..tapi Je Ni dan tabib sudah menyembuhkannya" Ucapnya meyakinkan.

"Jjeongmalyo?"

"Nee..."

Ibu Suri itu menghela nafas, lalu mengelus pelan pipi Baekhyun."Jangan mengulanginya lagi, berlarian seperti itu dengan dayang. Bagaimana jika Dia jatuh dan kaupun turut jatuh eum?"

Baekhyun menggenggam tangan Heechul lalu tersenyum manis. "Neh... Hallmeoni"

Heechul tertegun,ia tau benar... bocah di hadapannya kali ini. Adalah anak yang semestinya tak mendapat uluran tangan darinya. Tapi pembawaan senyum dan tingkahnya, membuatnya semakin jatuh dan luruh.. mencurahkan semua kasihnya untuk Baekhyun. Sekali lagi, Lama dirinya menginginkan kehadiran seorang cucu. dan melihat Baekhyun, sudah lebih dari cukup untuknya.

"Cha... Makanlah" Ujar Heechul sembari mengambilkan beberapa hidangan itu untuk Baekhyun.

Sementara Ratu muda di seberang mereka terlihat memutar bola mata jengah,semua tak berubah... dari awal semenjak kehadiran anak itu, dirinya tetap saja merasa yang paling tersingkir.

'Cih! Apa kau akan memperlakukan Dia seperti ini, jika tau hubungan macam apa diantara Putramu dan anak tak tau diri itu. Wanita tua?' Batin Seulgi picik, sambil mencengkeram kuat buah peach di tangannya, hingga sebagian kuku tajamnya menancap ke dalam.

"Ah Ibu... di hadapan kita saat ini, adalah hasil dari panen petani Silla musim ini. Aku melihat... hasil panen kali ini, meningkat dibandingkan musim lalu" Tukas Seulgi, mencoba menarik perhatian.

Heechul mengangguk dan tersenyum tipis. "Hm... aku bisa merasakan hati dan cinta mereka dari semua hidangan ini"
"Ne..Ibu benar" Ucap Seulgi semanis mungkin. "Apa ibu tau... hidangan apa yang seharusnya kupilih? Karena Ibu tentu mengerti makanan macam apa yang baik untuk kesuburan seorang wanita" Lanjut Seulgi seraya menutup bibir dan tersenyum tersipu.

Chanyeol mendelik curiga dengan cara bicara itu. Menerka... kemana arah pembicaraan ini pada akhirnya.

"Bicara tentang kesuburan. Apa kau tengah hamil saat ini.. menantuku?"

Baekhyun mengangkat wajah, dan menatap Seulgi tajam. Membuat wanita itu kembali mengulas senyum manis palsunya.

"Ah... belum ibu, tapi kami sedang mempersiapkannya"

Heechul memejamkan mata kecewa. "Kalian menikah sudah cukup lama...tapi mengapa hingga saat ini—

Heechul tak mengusaikan ucapannya, dan lebih memilih menghela nafas berat. " Aku sampai lupa... pernah menginginkan seorang cucu!" Sentaknya geram, bahkan rasanya tak sudi menatap Seulgi dan juga Chanyeol. Merasa... selalu di beri harapan palsu oleh sepasang suami istri itu.

"Ibu... ini karena, Yang Mulia Raja tidak menyentuhku" Seulgi mulai berani mengadu, membuat Chanyeol terbelalak lebar. Tak menduga... Seulgi bernyali melewati batas semua ancamannya.

"Apa?!" Heechul mendadak meninggikan intonasinya.

"K-karena itulah Ibu. Hingga saat ini...aku belum mengandung" Seulgi beralih bangkit, dan bersimpuh di kaki Heechul.

"YACK! SEULGI! TUTUP MULUT—

"Diam Chanyeol!" Gertak Heechul, memaksa Raja Silla itu untuk kembali duduk.

"A-aku tidak tau apa yang membuat Yang Mulia Raja berpaling dariku...hks...Tapi Ibu—" Seulgi semakin terisak, dan menggenggam tangan Heechul mencoba menarik simpati.

"Aku pun seorang wanita, aku memiliki perasaan dan juga kesabaran. Bertahun-tahun menyembunyikannya dari semua orang, tapi aku tak tahan lagi. Ibu, kumohon, A-aku mencintai suamiku. Tolong aku Ibu" Racau Seulgi semakin mengiba.

Membuat Ibu Suri itu terenyuh, dan beralih merengkuh pundaknya. "Berdirilah... jangan seperti ini"

Seulgi mengangguk pelan, lalu begitu patuh saat Heechul membimbingnya untuk duduk di kursinya kembali.

Sementara Chanyeol terlihat naik pitam, dan mengepalkan tangan kuat-kuat. Begitu banyak umpatan yang kini berkecamuk dalam dadanya.

"Makanlah... dan berhentilah menangis. Aku akan bicara dengan Chanyeol setelah ini" Ujar Heechul menenangkan. Seulgi kembali mengangguk lemah, lalu setelahnya Ia melirik sinis pada bocah yang sedari tadi menatapnya, lalu menyeringai menang.

Membuat Baekhyun tersulut, hingga—

'KLANK'

"AHH! PANAS! PANAASS!"

Mangkuk besar berisi hidangan kuah panas itu tumpah begitu saja, setelah disentaknya... membuat Seulgi yang tersiram kuah panas... menjerit histeris dan menghentak kaki panik.

"O! Mian! Aku tidak sengaja" Celoteh Baekhyun sambil mengangkat kedua tangan kecilnya, dan mengerjap polos...seolah memang tak tau apapun.

"Baekhyun, berhati-hatilah saat mengambilnya" Tegas Heechul, menatap tajam lalu menjauhkan tangan mungil Baekhyun agar tak terkena sisa kuah panas itu. "Pelayan! bawa Ratu ke kamarnya dan keringkan Dia!"

"Ndee Yang Mulia Ibu Suri"

Ditengah kegaduhan dan jerit panik itu. Chanyeol terlihat mengulum senyum gelinya... Ia tau benar, Baekhyun kecilnya rupanya memang sengaja melakukan semua itu.

"Hhh...Lanjutkan santap pagi ini. Dan Setelah ini, Ibu ingin bicara denganmu Chanyeol~ah"

.

.

.

.


Beberapa Jam Kemudian

"Argh! SIAL! SIAL! SIAL!"

Seulgi berjalan menghentak, di dalam paviliunnya lalu menggeser kasar kamar milik kakanya. Membuat Namjoon yang kala itu tengah berleha... mendadak geram, kesenangannya diusik.

"Apa yang salah denganmu?! Apa kau sudah gila?!"

"Oppa! anak itu mulai berani denganku! Dia benar-benar lancang padaku!"

Namjoon memijit dahinya jengah. Lagi-lagi tentang anak itu... rasanya isi kepalanya nyaris meledak, tiap hari mendengar Ratu Silla itu kembali mengadu mengenai Baekhyun.

"Ada apa lagi dengannya?"

"Oppa seharusnya membunuh anak itu! Semakin lama dia hidup di sini, semakin berbahaya anak itu mengancam kita! Jika Oppa tak segera bertindak, aku akan membayar orang untuk melenyapkannya!"

Namjoon berdecak keras. "Jangan gegabah dengan tindakanmu Seulgi. Kita tak tau... orang macam apa di belakang anak itu. Tak hanya Chanyeol dan wanita tua itu, yang melindunginya. Banyak mata-mata di istana ini. Sekali salah melangkah... habis hidup kita" Tekan Namjoon sedikit menurunkan intonasi bicaranya.

Seulgi meremas kepalanya frustasi, tak peduli apa yang dilakukannya mengacaukan tatanan rambutnya sendiri. "Lalu aku harus bagaimana untuk menyingkirkan anak itu?"

"Berapa kali kukatakan, kau harus mengambil hati wanita tua itu. Buat Dia berpihak padamu. Karena hanya Dia yang berpengaruh besar pada semua rencana kita. Dekati dia... dan rebut hatinya. Maka semuanya akan menjadi milikkmu"

Seulgi mulai terdiam, mengingat kembali potongan waktu di pagi ini. Tidakkah apa yang dikatakannya saat jamuan makan pagi, sedikit banyak menarik perhatian Heechul? Ya... Ia yakin, wanita itu pasti menaruh simpati padanya.

"Dan aku akan mempengaruhi semua menteri, untuk mendesak Ibu Suri. Agar Raja segera mendapat keturunan, tenanglah... tak ada yang tak mungkin di dunia ini" Kekeh Namjoon santai, lalu kembali berleha dengan kaki terangkat di meja.

"Kau benar Oppa... tak ada yang tak mungkin, selama aku yang melakukannya" Yakin Seulgi sambil tersenyum licik.

.

.

Namun di balik paviliun itu, seorang wanita tengah mengendap dengan kening bertaut. Menerka tajam... apa yang sebenarnya tengah di dengarnya di antara dua pemuka kerajaan itu. rasa curiganyapun makin menjadi, dengn penggalan kata sebelumnya .

"Membayar orang untuk melenyapkannya? " Gumamnya dengan mata mendelik tajam. "Anak yang di maksud, mungkinkah Tuan Muda Baekhyun?" Bisiknya lagi, kali ini dengan tangan terkepal.

"Aku tau... kaulah dalang dibalik pembunuhan itu" Desisnya seraya menyeringai, lalu mengendap pergi dari paviliun itu untuk menemui seseorang.

.

.

.

.

Skip Time

"Benarkah apa yang kau dengar itu?" Sehun terlihat mengeras, usai mendengar semua informasi mengejutkan dari wanita muda di hadapannya.

Wanita itu mengangguk pasti."Benar Tuan... kata membunuh dengan membayar orang juga terucap dari Yang Mulia Ratu" Tegas wanita muda itu, dengan mata menatap tajam ke depan.

"Bagus. Tetap awasi pergerakan mereka... dan jangan biarkan Baekhyun seorang diri. Kau harus melindunginya"

Mata-mata itu kembali menunduk, mengisyaratkan titah Sehun adalah perintah mutlak untuknya.

"Bukti yang kita miliki saat ini, belum cukup untuk menjerat mereka" Gumam Sehun seraya meremas kuat, sepotong pakaian pria penuh dengan lumuran darah kering... yang mencoklat usang. Ya... pakaian yang ditengarai milik kerabat sang Ratu .

"Kembalilah... dan pastikan, tak ada seorangpun tau tentang jati dirimu sebenarnya"

"Baik Tuan..." Ujar wanita itu, sebelum akhirnya memohon diri, mengangkat sedikit gaunnya lalu melangkah pergi dengan penuh waspada.

Sehun berjalan pelan mendekati lukisan besar dengan tangan terkepal di belakang tubuhnya. Ia memang diam memandang gurat demi gurat lukisan itu, tapi sejatinya ia tengah menerka semua hal pelik yang terjadi dalam kerajaan ini.

Hingga saat ini, Ia memang masih menyembunyikan semuanya dari Chanyeol maupun Heechul. Tentang... konspirasi yang sebenarnya akan atau mungkin telah dilakukan oleh Ratu dan kakaknya itu. Semula memang terlihat... mereka ingin melenyapkan Baekhyun.

Tapi.. ia yakin, ada hal lain yang lebih besar yang kelak mereka rencanakan di balik semua itu. Tahta... Raja, bukan tidak mungkin akan menjadi incarannya. Ya... setidaknya Ia tau pribadi seorang Namjoon.

Tapi, ia tak akan mengemukakan semuanya... sebelum mendapat semua bukti itu. Tetap membekapnya rapat, karna Seulgi...seorang Ratu. Dan sitri Chanyeol..

Terlalu riskan jika Ia menyentak tuduhan, tanpa bukti yang kuat. Atau dirinya sendiri... yang terjebak karna salah melangkah.

"Tunggu semuanya berakhir... Namjoon"

.

.

.

.

.

.

.


"Aissh! Jangan mengikutiku!" Gerutu Baekhyun begitu menyadari dua sosok tengah mengikutinya di balakang

"Anniya, siapa yang mengikutimu... kami juga ingin membeli sesuatu di sana" Gumam Je Ni, seraya menyeret seorang pelayan pria yang sedari tadi menatap Baekhyun tanpa mata berkedip. Ah sungguh... mengapa Baekhyun secantik ini. "Yeppeohh" Gumamnya tak sadar

"Kajja Jong Dae!"

Baekhyun hanya mendelik kesal pada keduanya, dan lebih memilih berjalan menghentak mendahuluinya.

.

.

.

"Kau... belilah semua pesanan ini, sementara aku mengawasi Tuan muda" Ujar Je Ni begitu keduanya tiba di sebuah pasar besar di tengah Silla.

"Sebanyak ini? Hanya aku seorang yang membelinya?!" Protes Jong Dae tak terima.

"Tck! Ppali..Ppalii!"

Jong Dae berdecak kesal, namun tetap melangkah gontai... mendekati semua kerumunan itu.

.

,

.

BRUGH

"Agh!"

Baekhyun memekik nyeri, saat seseorang menabrak tubuhnya dari belakang. Ia menggerutu jengkel, siap menyentak. Namun urung begitu melihat sosok penabrak itu juga turut terjerembab.

"G-gwaenchan—

"Baekhyun!" Pekik anak itu tiba-tiba, membuat Baekhyun membulatkan mata lebar mendengarnya.

"K-kau mengenalku?"

"Aku Kyungsoo, Apa kau mengingatku?"

"K-Kyungsoo?" Baekhyun mencoba untuk mengingat.

"Ah! Tuan muda apa yang kau lakukan di sini? Hari makin petang... Kajja kembali" Je Ni, bergerak cepat menyeret Baekhyun menjauhi anak itu. Tak peduli sosok semungil Baekhyun itu masih memanggil-manggilnya. Sementara Baekhyun yang masih mencerna dan mengingat sosok yang baru saja dilihatnya hanya mengerjap, tak sadar... Jong Dae dan Je Ni kini beralih membopongnya pergi.

.

.

"Baekhyun! Tunggu! Baek—

"Tuan"

"J-Jongin! aku melihat Baekhyun! Aku benar-benar melihatnya!"

"Apa? Tidak mungkin. Karna Baekhyun Hwangja—

"Tidak! Dia masih hidup!" Jerit Kyungsoo histeris seraya mencengkeram pakaian depan Jongin. "Aku benar-benar melihatnya! Dia Baekhyun! Mereka membawa Baekhyun pergi!"

"Tuan Tenanglah, kau hanya berhalusinasi"

"Jongin ku mohon percayalah padaku! Aku tak salah melihat! Dia Baekhyun sepupuku!"

.

.

.

Dua Minggu Kemudian

~Silla~

"Silla memang tengah di atas angin... Yang Mulia Ibu Suri. Sungguh...suatu anugerah besar, langit telah memberkati kita...dan hanya satu keinginan Langit. Negeri Silla ini... harus segera mungkin mendapat keturunan dari sang Raja. Untuk mempertahankan kejayaan dan kekuatan Silla. Itu yang telah diramalkan" Pungkas seorang menteri, kala memaparkan semua ramalan ahli perbintangan di tengah pertemuan petinggi-petinggi kerajaan itu.

Heechul mungkin berusaha tenang, namun wajah cantik itu sama sekali tak mampu menyembunyikan dirinya tengah resah saat ini. Sesekali ia melirik Chanyeol... tapi pria itu hanya bersedekap dengan mata terpejam.

"Kami membenarkan ramalan itu Yang Mulia...Bintang Yang Mulia Raja saat ini tengah bersinar terang. Raja harus secpatnya mendapat keturunan. Karena jika kita mengabaikan perintah langit. Kami takut... sesuatu yang buruk akan menimpa Silla" Sahut menteri bertubuh gempal.

"Benar Yang Mulia!" Seru beberapa Menteri yang lain bersamaan.

.

Sementara, Ratu di ujung singgasana Raja... terlihat tersenyum puas. Bersorai girang dalam hati... Kakaknya benar-benar tak bermain dengan ucapannya. Dan di sinilah para menteri itu... mendesak Ibu Suri, untuk memaksa Chanyeol lekas mendapatkan keturunan.

"Baik..." Heechul mulai membuka suara. "Raja akan secepatnya mendapatkan keturunan"

Chanyeol mendadak membuka lebar matanya, dan menatap tajam Ibunya.

"Akan kupastikan... Sang Raja, akan mendapat keturunan dalam kurun waktu satu bulan ini" Pungkasnya, dengan mata menuntut penuh perhitungan pada putranya sendiri.

.

.

.

"Tiduri wanita itu, karna dia istrimu"

Chanyeol menghela nafas berat, memandang kosong dinding pembatas kamar dengan ornamen megahnya. Hanya dirinya dan Heechul dalam ruangan besar itu, tapi entahlah... itu terasa sangat sesak dan mencekik.

"Aku tidak bisa Ibu" Gumamnya lirih

"CHANYEOL!" Teriak Heechul meninggi

"Aku tidak mencintainya, kumohon mengertilah"

Heechul memalingkan wajah, seakan tak sudi untuk melihat wajah putranya. "Aku tak peduli kau mencintainya atau tidak. Negri ini hanya membutuhkan keturunan darimu. Dengarkan... jika kau masih mengaggapku sebagai Ibumu" Pungkasnya sebelum akhirnya, melangkah pergi meninggalkan pria yang kini meremas frustasi rambut hitam panjangnya.

"Arghhh!"

.

.

.

.

Beberapa Jam Kemudian

Semilir angin siang itu, semakin terasa semerbak kala angin turut membawa aroma bunga soba dalam setiap sepoinya.

Dan Disanalah Raja Silla itu, berjalan tenang menyusuri tepian dananu dengan seorang bocah yang menggelayut di atas punggung lebarnya.

Ah sungguh, setiap hembusan nafas Baekhyun, terdengar menenangkan. Membuatnya lupa... akan perbincangan pelik antara dirinya dan Ibu Suri beberapa saat lalu.

"Mengapa kau memintaku menggendongmu seperti ini hn?"

Baekhyun hanya mengerucutkan bibir mendengarnya. "Wae? Bukankah Ahjjusi marah jika aku memintanya pada Je Ni?"

"Tck! Dia itu seorang wanita"

"Geurrae, aku akan meminta pada Sehun Ahjjusi saja"

"Aisshh!" Decak Chanyeol seraya mengguncang tubuh mungil itu, membuat Baekhyun terkikik karenanya.

"Jangan melakukan hal-hal seperti ini, selain denganku... arraseo?"

Baekhyun hanya tersenyum sambil mengayun-ayunkan kakinya. Membuat Chanyeol kembali mengguncang tubuh kecil itu karna tak mendapat jawaban

"Yya! Kau mendengarku?"

"Whoaaa! Ahjjusi... Lihat perahu itu!"

Tiba-tiba Baekhyun memekik saat melihat sebuah perahu di tepi danau, Ia begitu antusias menunjuk-nunjuk perahu itu. Hingga membuat Chanyeol oleng karenanya.

Tapi setelahnya ia tersenyum tipis, Chanyeol ingat benar... ia pernah menjanjikan sebuah prahu untuk anak itu. Entahlah Baekhyun ingat atau tidak.
"Ahjjussi... aku ingin menaikinya, Otteyo?" Rengek Baekhyun

"Besok saja"

"Ash! Shirreooo!"

"Besok"

Baekhyun bersungut, tapi setelahnya kembali ceria begitu mendengar ucapan Je Ni. "Geurrae, besok pagi. Sangat Pagi!" Tawar Baekhyun kemudian. "Je Ni pernah mengatakan, danau ini penuh dengan kunang-kunang saat menjelang pagi. Sebelum mata hari terbit! Aku ingin melihatnya Ahjjusii!" Pekik Baekhyun antusias.

"..." Chanyeol hanya diam dengan senyum terkulum, merasa dadanya kembali berdesir hangat mendengar rengekan itu.

"Ahjjusi?"

"Hn?"

"Besok pagi Ne?"

"Hn.."

"Jinjja?... jinjja?"

Sejenak Chanyeol terdiam, lalu setelahnya mengulas smirk tipis. "Cium aku... lalu apapun akan kulakukan untuk—

Chupp

Baekhyun mencium cepat pipi Chanyeol dari belakang, membuat pria itu stagnan. Entahlah untuk sepersekian detik, semilir angin tiba-tiba berhembus... membawa beberapa daun dan petal yang gugur menerpa keduanya.

Begitu manis... begitu mempesona...

Sehangat detak jantungnya yang masih memantul-mantul liar karna anak itu.

"Besok pagi ... Otteyo?" Gumam Baekhyun, usai melepas kecupannya

Lalu merangkul erat leher Chanyeol dan menyandarkan kepalanya di pundak pria itu.

"Baiklah"

Tak pelak, apa yang diucapkannya itu membuat Baekhyun bersorai girang karenanya. Dan melonjak-lonjak di atas gendongan Chanyeol.

.

.

"Ahjjusi.."

"Hn.."

Baekhyun mengeratkan rangkulannya lalu bersandar di pundak lebar pria itu. "Punggung Ahjjusi sangat nyaman" Gumamnya sembari mengulas senyum.

"Kau menyukainya?"

"Ne... Saranghae Ahjjusi"

"..."

Chanyeol terbelalak lebar. Hingga tanpa peringatan Ia menurukan tubuh anak itu, memegang kedua bahu sempitnya, sebelum akhirnya menghimpitnya di sebuah pohon Ginko.

"Dari mana kau belajar kalimat itu hn?"

Baekhyun hanya mengerjap, lalu setelahnya memalingkan wajah dengan rona tersipu. Namun detik itu pula, Chanyeol menahan dagunya... hingga Ia kembali menatap pria dewasa itu.

Wajah putih bak porselain dengan semburat merah di kedua pipi tirusnya...belum lagi bibir mungil yang masih di gigit hingga memerah itu. Ah! adakah yang lebih cantik selain paras bocah manis itu?

Rasanya tak ada...

Hanya Baekhyun yang bisa membuatnya menggila seperti ini, dan semua celoteh manis yang terucap darinya semakin membuatnya hilang akal.

"Ahjjus~Mpfthhh"

Baekhyun membulatkan mata mendapat hisapan kuat di bibir bawahnya, Ia sempat mengerang tertahan. Tapi setelahnya memejamkan mata pasrah... begitu pria itu menekan sedikit dagunya ke bawah, dan melesakkan lidahnya ke dalam.

"Anghhh!"

Membelai langit-langit mulutnya dengan sensual... hingga membuat segalanya meremang. Bahkan kakinya melemas jika saja Raja Silla itu, tak merengkuh pinggangnya.

"Ah—Jjusi~ Mpfth! Mhhhaahh! ah"

.

.

.

Esoknya

"Yang Mulia"

Chanyeol mengernyit, merasakan sentuhan mulai meraba-raba dadanya. Dan begitu membuka mata.. Ia terperanjat hebat. Melihat sesosok wanita berada di atas tubuhnya.

"Kau!" Chanyeol bangkit dan mencengkeram kuat pakaian Seulgi, membuat wanita itu sedikit berjinjit karenanya. "Apa yang kau lakukan dikamarku?!"

Seulgi hanya tertawa lepas, sama sekali tak merasa ciut... bahkan saat pria itu menatapnya tajam. Ia hanya balas menatapnya dengan senyum menggoda.

Membuat Chanyeol kembali mengingat, semua kekacauan yang terjadi beberapa hari terakhir. Semua perubahan sikap Ibunya, tentu karena wanita itu bukan?

"Apa yang kau katakan pada ibuku?! Mengapa kau meracuni pikirannya HAH?!"

Seulgi tersenyum licik, dan membalasnya dengan belaian lembut di pundak Chanyeol. "Wae? bukankah ini suatu yang baik Yang Mulia Raja"

"Beraninya Kau—

"Kau tak akan bisa mengancamku, atau aku akan membuka hubungan terlarangmu dengan anak itu pada Ibu suri"

Chanyeol tergagap dengan mata membulat lebar. Membuat Seulgi semakin bernyali menyentak tangan Chanyeol... menyadari, raut angkuh itu sedikit banyak terkikis oleh rasa paniknya.

"Dan kau tentu tau apa yang akan terjadi pada anak itu. Jika sampai Ibu Suri tau. Ah! bahkan Rakyat Silla akan mengutuk hubungan itu. Mungkin saja anak itu akan dibuang di pengasingan... atau lebih parahnya lagi—

Seulgi beralih menyentuh wajah Chanyeol dan membelainya pelan. "Dihukum mati... hubunganmu itu sangat ter-la-rang" Bisiknya lagi, mengeja penuh penekanan kata di akhir

Chanyeol reflek berjalan gontai ke belakang, dan terduduk lemas di sisi ranjangnya.

"Tapi aku bisa membuat anak itu hidup aman dan tetap di sisimu. Hanya dengan syarat" Tawar Seulgi, membuat Chanyeol yang tengah kacau itu menatap cepat padanya.

"Penuhi semua keinginanku Yang Mulia" Bisiknya tepat di telinga Chanyeol. "Satu hari ini temani aku, lalu tidurlah denganku malam ini" Desahnya lagi, semakin kontras menyimpul seringai tajam di bibir penuh dengan gincu merah itu.

"Bagaimana?"

BRAKK

"Mengapa Ahjjussi lama sekali?! Ahjjusii berjanji menemani Baekhyun pagi ini menaiki perahu itu bukan?!"

Seorang anak mendobrak kamar Chanyeol, lalu berjalan menghentak mendekat. Menarik tangan Chanyeol untuk menaiki perahu di danau. Bahkan ini masih terbilang sangat pagi, mentari saja belum berani menyentak sinarnya. dan anak itu sudah bersemangat seperti ini.

Tapi ada yang salah... tak seperti biasanya, Chanyeol hanya diam tak bergerak sedikitpun. Aneh sekali... biasanya Ahjjusinya akan segera bangkit, lalu memenuhi semua keinginannya.

Seulgi terlihat terkekeh pelan melihat pemadangan itu, Ia beralih mendekati Baekhyun lalu menaikkan dagunya hingga membuat anak itu menatap angkuh padanya.

"Sayang sekali... Pria yang kerap kau panggil Ahjjusi. Tak bisa menmanimu hari ini"

"Mwo? Anniya! Kajja Ahjjussi... jangan dengarkan wanita mengerikan itu!" kekeuh Baekhyun masih terus berusaha menarik tangan Chanyeol untuk lekas berdiri.

Tapi sedetik kemudian, Ia mendadak terbelalak lebar. Begitu Chanyeol melepas halus... pegangan tangannya. "Ahjjusi?"

"Kau lihat? Bahkan... Dia tidak mau denganmu. Karena Yang Mulia Raja sepanjang hari ini akan bersamaku. dan Malamnya, kami akan tidur bersama" Bisik Seulgi lalu terkekeh puas melihat raut anak itu.

"Andwae! Ahjjusi akan tidur bersamaku malam ini! jangan dengarkan wanita ini... Ahjjusi!"

"Oh? ahahahaha... kau lucu sekali Nak. Dengar, aku istrinya. Dan Aku yang lebih berhak tidur dengan suamiku sendiri! Jangan mengusik kami, karna kami ingin mendapatkan keturunan!"

DEG

Baekhyun terbelalak lebar, dan beralih menatap Chanyeol. Berharap, Pria itu meyakinkan dirinya. Bahwa Seulgi hanya berbohong padanya.

"Yang Mulia, aku akan menunggumu di Paviliun Timur. Dan jangan membuatku menunggu terlalu lama" Ujar Seulgi sembari melenggang pergi meninggalkan dua sosok itu.

"A—ahjjusi tidak akan tidur bersama wanita itu. Ahjjusi hanya bersama Baekhyun...ne?" Rengek Baekhyun dengan mata yang terlihat retak karena air mata.

Pria itu menghela nafas berat, di sela pikirannya yang kacau...suara Baekhyun yang terus menerus memanggil dirinya membuatnya menggila. Ia tak tahan...

Membuatnya bangkit berdiri mendekap anak itu. lalu melumat kasar bibir tipisnya.

"Umpfth!...Mmmhah! Ahjusmpfthh"

Ia menarik tengkuk Baekhyun, membuat anak itu semakin berjinjit payah. Tak peduli Baekhyun mencakar tangannya, saat ini.. Ia hanya ingin meresapi rasa Baekhyun lagi dan lagi.

Menghisap kuat saliva namja mungil itu, dari cumbuan basahnya.

"Ughnn!" Mmhhh...MMPH"

.

.

.

Chuupp

Chanyeol memberi kecupan lama di puncak cumbuannya, lalu melepas pagutan itu dengan kening bertaut resah.

"Jangan melewatkan makanmu hari ini" Bisiknya kala menyatukan keningnya dengan kening anak itu.

"Tentu saja tidak. karena Baekhyun selalu makan bersama Ahjjusi" Ujarnya riang.

Pria itu tak menjawab, hanya diam tertegun dan lebih memilih menyeka sisa saliva di sudut bibir Baekhyun. Lama Ia mengamati lekat wajah manis itu, sebelum akhirnya melepasnya lalu pergi begitu saja meninggalkan anak itu.

"Ahjjusi?" panggil Baekhyun heran seraya mengikuti Chanyeol

"Ahjjusssiiii!"

Tapi Pria itu terlalu cepat melangkah meninggalkannya, membuatnya berlari cepat untuk keluar dari istana. Namun betapa terkejutnya Ia melihat Seulgi telah berdiri di depan dengan tangan terulur.

Baekhyun berlari secepat yang Ia bisa, hingga lengan kekar itu benar-benar bisa digapainya.

"ANDWAE! J-jangan pergi!"

Chanyeol berbalik, dan menatap sendu...bocah yang masih kekeuh menahannya itu. Ia mengelus kepala Baekhyun sesaat. Dan tanpa berucap apapun, Ia melepas pegangan tangan kecil itu. Tak ada cara lain lagi, hanya dengan melakukan ini. ia bisa mempertahankan namja cantiknya.

"AHHJUSII!" Tapi Baekhyun kembali merangkul lengannya tak membiarkan Raja Sila itu menyambut Seulgi. "J-Jangan ketempat wanita itu! Jangan tidur dengannya Ahjjusi!"

"Baekhyun—

"ANDWAE! AHJUSSII MILIKKU!"

Jerit Baekhyun histeris, tak bisa membayangkan Chanyeol tidur dengan wanita itu... dan memasukkan cairan putih kental itu ke dalam tubuh Seulgi.

"ANDWAEEE!" Jerit Baekhyun lagi semakin tak terkendali. Ia hanyalah seorang bocah... merasa miliknya yang bergarga serasa direbut darinya membuat perasaanya kacau bukan kepalang. Bahkan air mata itu mulai penuh... mengalir dari pelupuknya.

"Hoaammhhh!" Je Ni yang kala itu baru bangun tidur, cepat-cepat berjalan tergesa keluar. Bahkan Ayam pun belum berkokok, dan Ia sudah mendengar jeritan Baekhyun sekeras ini. Namun mata sipitnya seketika membulat lebar kala melihat kedepan. Tepat pada tiga sosok itu. Tapi hanya sosok Seulgi yang membuatnya mengernyit penuh waspada, membuatnya berjalan cepat ingin mendekati Baekhyun.

"Tuan muda Baekhyun"

.

.

.

"DIAM KAU! DAN LEPASKAN SUAMIKU!" Seulgi memaksa menarik Chanyeol, lalu mendorong tubuh mungil itu hingga terjerembab. Tak pelak Chanyeol berteriak geram melihatnya.

"MENGAPA KAU MENDORONGNYA?!" Chanyeol beralih ingin mendekati Baekhyun, tapi langkahnya tersendat kala wanita itu menahan tangannya

"Jangan mendekati anak itu! atau kau akan menyesal ... aku tak pernah bermain dengan ucapanku Yang Mulia"

"Hks...A-ahjjusiii" Rengek Baekhyun dengat tangan terangkat, berharap pria itu lekas meraihnya. Tapi rasanya Ia hanya terllau berharap lebih. saat menyadari pria itu hanya diam mematung tanpa melakukan apapun.

"Hks... Ahjjusi j-jangan bersama—Umph!" Baekhyun tiba-tiba saja membekap bibirnya sendiri

"Tuan muda, Gwaenchana?" Panik Je Ni, begitu berhasil menahan tubuh Baekhyun.

"Uhn! Umpphh!" Masih dengan membekap bibirnya sendiri, Baekhyun mulai mencengkeram kuat lengan Je Ni. Merasa panik dan tak tahan dengan pening bahkan mual yang hebat itu.

"Tidak, jangan hiraukan anak itu, Dia hanya berpura-pura sakit!" Kekeuh Seulgi, tetap memaksa pria itu lekas berpaling.

Chanyeol menghempas genggaman tangan Seulgi, dan lebih memilih merengkuh tubuh mungil itu.

Detik itu pula—

"Uhmph! Ugh...Hoeekk!"

"B-baekhyun?"

.

.

.

.

To Be Cont...

.

.

Annyeooooooong Chingu Sayaaang

Glooomy Hadir Bawa Chap 7 nyaa ... * saya baru ngeh, kalau update setiap minggu

Hehe NC lumayan panjang, (Sebgai Permintaan maaf, NC kemarin yang dipotong di tengah-tengah)

Hayooo Next Chap bagaimana ituuu?

Sengaja ga saya kasih spoiler _

Besok yang diupdate yang mana dulu ni?

-Love Of Fallen Leaves 8, atau

-Blood On A White Rose 10

Karna updatenya sesuai permintaan Chingu reader

Tak ada Review tak update... hiksss

(Silakan add IG : Gloomy_rosemary)

Seperti biasa, Gloomy akan mencantumkan nama reviewer di chap sebelumnya, untuk:

eenychanpeceye , Dian Rizky226 , LM , LyWoo, restikadena90 , 90rahmayani , Kiyasita, Tiara696 , LittleJasmine2 , Shengmin137 , Asandra735, sjkmcb, Byunexo, Flowerinyou , Adndpwh , AlexandraLexa, jisungswag , bbhyn92 , MinJ7, dwi yuliantipcy , FreakYoll , Mochichek, PRISNA CHO, daeri2124 , Yeolliebee , LightPhoenix614, PureLight26 , isans1, singkirkanTBCplease, Hyo luv ChanBaek, baekkieaerii, metroxylon, Eun810 , chanbaekssi , Ikakaaaaaaaa , chan92, dwi yuliantipcy, narsih hamdan , ChanBaekGAY, mphi, minami Kz, TobenMongryong69 , Park RinHyun-Uchiha , myzmsandraa99 , selepy, Byunsilb , vkeyzia23 , NaBlue, LUDLUD , Lussia Archery , Fallingforyeol , BananaOhbanana , yousee, rima , byuniepark , baekkieaerii , Hyun CB614 , yehethun, deamelatis , Adindapuspa,, babybaekhyunee7 , Jj , Keiko Yummina, jiellian21 , n3208007, dan All Guest

Gomawoooo sudah mereview di Chap sebelumnya,

Jangan lupa review lagi neeeee

...

Annyeeeoooooooooong

Saraaaaaaaaaaaanghaaaaaaeeeeeeeeee