A/n: disini saya hanya bertugas membuat Fanfic beralur menarik bagi pembaca. Segala hal dalam cerita ini dibuat untuk membuat pembaca menikmati cerita saya dan tak ada satupun unsur menghina.

Jika terdapat kesamaan alur cerita, maka itu ketidaksengajaan.

Tokoh disini adalah Elemental Boboiboy, Fang, Yaya, (oc) Himaki, (oc) AnniSwatCS.

Boboiboy by Monsta studios

AnniSwatCS by Vallor Anemity

"Sisa pulsa anda tidak cukup untuk melakukan panggilan ini. Silahkan... .Bla." Thorn hanya bisa diam seribu bahasa mendengar suara yang sebenarnya tak ia inginkan di telepon.

"M-maaf, Inspektur. Pulsaku habis." ucap Thorn sambil nyengir. Gempa hanya memutar bola matanya dengan malas.

"Huftt... Kenapa harus sekarang habisnya? Cepat isi ulang!" ujar Gempa, sedikit jengkel. Thorn pun segera berlari keluar menuju counter pulsa.

Tak lama kemudian, Thorn kembali. Dengan nafas tersengal-sengal, ia pun menelpon seseorang dan terhubung. Thorn menyerahkan ponselnya pada Gempa.

"Halo?" sapa seseorang diseberang telepon.

"Taufan, apa Anni ada disana? Dia sibuk?" tanya Gempa.

"Oh.. Inspektur Gempa~ Anni-sama ada kok! Dan kami tidak sibuk, bahkan tak ada kerjaan." jawab pemuda bernama Taufan itu.

"Baiklah. Kalian datang ke Mansion Shizen, Ruangan no. 13. Cepatlah!" perintah Gempa. Setelahnya, ia pun menutup panggilan dan menyerahkan ponsel itu pada Thorn kembali.

.

.

The Case Solver

"Siap menjalankan misi pertama?"

.

.

Story Line by Zesvalonic07

Chapter 02: Pembunuh, Kleptomaniak, dan Mafia.

.

Genre: Fanfiction, Thriller.

.

.

Seorang gadis dengan jaket hitam bergaris kuning akhirnya sampai bersama seorang pemuda dengan topi biru bergaris putih dan kuning yang di miringkan.

"Anni, Taufan! Akhirnya kalian sampai." ucap Gempa, sambil tersenyum miring.

"Jadi? Ada apa ini?" tanya gadis bernama Anni tersebut.

Taufan yang baru saja datang, melirik kearah Halilintar dan...

Pandangan pertama awal aku berjumpa~~ (tenonet... Tenoneett..)

Eh? Salah!

Lirikkan matamu menarik hati~ (telolet totelolett...)

Senyumanmu manis sekali~~

Sehingga membuat diriku tergoda~~

#Hacked

#abaikansaja

#biarkankalosalahlirik

Back to the story. Taufan melirik kearah Halilintar, begitu juga sebaliknya.

"Seperti aku kenal dia..." batin Taufan. Dan tiba-tiba Thorn datang dan langsung merangkul Taufan, mungkin mereka sudah lama tak bertemu.

"Taufan~~ kau sehat? Apa kabar~~?" seru Thorn, bersemangat sekali. Mengetahui mereka berdua memang sobat karib.

"Oh.. Iya ya... Aku sehat kok!" jawab Taufan, terbata-bata. Mungkin karena sikap Thorn yang Over itu.

"Ohh... Begitu." gumam Anni saat Gempa telah menjelaskan semuanya. Mereka semua berpencar menelusuri mansion itu untuk mencari bukti.

Beberapa lama mereka mencari, akhirnya Taufan menemukan ponsel korban. Dan hasil autopsi dari Yaya juga sudah sampai ke telinga Gempa, jikalau Korban tewas karena keracunan. Kini Gempa mulai mencurigai Halilintar sebagai pembunuh.

"Cobalah periksa..." ucap Thorn pada Taufan yang tengah menggenggam ponsel korban. Taufan mengangguk lalu membuka ponsel yang tanpa password itu. Mereka menelusuri ponsel itu dan tak menemukan sesuatu yang spesial, namun mereka menemukan sesuatu yang janggal. Mereka pun menunjukkan pada Gempa apa yang mereka temukan di ponsel korban.

"Gempa! Lihat ini!" seru Thorn dan Taufan bersamaan. Hampir membuat telinga Gempa kesakitan. Gempa menoleh dan menautkan alisnya sebagai respon. Taufan pun menyerahkan ponsel tersebut pada Gempa, Gempa melihat apa yang ditemukan dua sejoli ini dan pada akhirnya ia membelalakkan matanya terkejut.

"I-ini... Nomor telepon... H-Himaki? Pembunuh bayaran itu?!" pekik Gempa dengan peluh yang menetes dari pelipisnya. Thorn dan Taufan mengangguk antusias, mereka berdua saling memberi tos atas apa yang mereka dapatkan.

Tanpa pikir panjang, Gempa segera menekan tombol 'panggil' pada ponsel itu. Ya, dia menghubungi si pembunuh bayaran itu.

"Tch... Hei, J*lang! Sudah kubilang jangan meneleponku lagi!" ujar suara dari seberang telepon, itu suara Himaki yang terdengar jengkel. Sebelum Himaki memutuskan panggilan, Gempa segera menyahut.

"Ini aku!" sahutnya. Lama Himaki tak menjawab, selayak membisu.

"Hhh... Apa J*lang itu melaporkanku padamu sehingga kau menghubungiku dengan ponselnya?" tanya Himaki, dengan tawa meremehkan yang terdengar jelas.

"Tidak. Orang yang kau maksud sudah terbunuh keracunan di Mansionnya saat bersama dengan sahabatnya. Kupikir kaulah yang membunuhnya." jawab Gempa dengan nada lebih serius.

"Pfftt– kau pikir aku ini apa? Aku melepaskan J*lang itu dengan jaminan. Jaminan takkan dibunuh olehku jika ia tak menghubungi polisi, terlebih lagi kau! Dan... Apa untungnya aku membunuh gadis sepertinya? Wanita murahan..." jawab Himaki dengan nada santai namun ia tekankan.

"Lalu? Siapa yang membunuhnya? Kau pasti ada hubungannya dengan ini!" bentak Gempa. Anni yang ada didekatnya pun menghampirinya dan memeluk lengannya agar ia tenang.

"Baiklah... Kau memaksaku. Tapi, aku hanya bisa membantumu lewat telepon ini. Jika Bossku menemukanku bersamamu dan membantumu maka ia akan memenggal kepalaku. Tapi, apa keuntunganku membantumu?" Dapat dibayangkan Himaki menyeringai diseberang sana.

"Um... Apa yang kau inginkan?" tanya Gempa. Ia sangat berharap jikalau apa yang Himaki minta takkan menyebabkan korban jiwa.

"Aku ingin 5.000 dollar..."

"Akh... Sial! Kau semakin hebat saja!" keluh seorang pria paruh baya dengan jas hitam beserta kemeja merah terang, juga topi fedora dikepalanya.

"Permainanmu sedikit lebih payah. Apa kau tertekan?" tanya gadis dihadapannya. Pria itu memijat keningnya dan mengangguk. "Apa ini karena anak buahmu?" tanyanya lagi. Pria itu memandang gadis itu.

"Aku berpikir... Berapa hargamu di pasar gelap, huh?" canda pria itu dengan seringai. Gadis itu merona dan membuang wajahnya dengan kesal.

"Jangan main-main!" geram gadis itu.

Tak lama, seorang pemuda berambut ungu tua dan mengenakan kacamata mendatangi kasino itu. Ia berjalan mendekati pria dan gadis tersebut, lalu membungkuk 90° saat berada dihadapan Pria. "Tuan.." ucapnya pada pria itu.

"Kau mendapat barang bagus, Fang?" tanya Pria itu. Pemuda bernama Fang itu mengangguk dan menegapkan kembali badannya seraya mengeluarkan koper besar, ia membuka koper tersebut dan terdapat mahkota tiara dan tongkat tahta. Pria tersebut menyeringai.

"Saya mendapatkan ini dan dokumen-dokumen rahasia yang saya rasa anda memerlukannya, Tuan Blaze." ujar Fang, seraya menutup kembali koper itu.

"Hm... Perintahkan sekretarisku untuk merombak dokumen itu dan jual hasil panenmu ke pasar gelap dengan harga mahal." perintah pria bernama Blaze tersebut. Fang mengangguk dan segera berlalu. Gadis yang berada dihadapan Blaze hanya tersenyum saat melihat percakapan mereka. "Ada apa?" sahut Blaze saat ia memergoki gadis itu tengah memperhatikannya.

"Kurasa kau memiliki pencetak uang yang handal, Tuan. Kau selayak memiliki semuanya, pembunuh bayaran andalan telah menjadi bodyguardmu dan siap membunuh siapapun yang menghalangimu kapanpun dimanapun, kau memiliki Hacker terhebat sebagai otak dari organisasi mafiamu." ujar gadis itu. Blaze hanya tersenyum seraya meneguk anggur mahal yang tersaji dihadapannya.

"Apa kau itu gadis murahan yang haus akan kekayaan?" sarkas Blaze. Gadis itu hanya terdiam sambil tersenyum dan meneguk wiski di hadapannya.

"Apa aku terlihat seperti itu? Aku hanya memujimu saja." jawab gadis itu.

"Yeah... Aku memiliki kaki tangan yang handal dan anak buah yang cukup banyak dan tersebar di Dunia. Asal kau tau, bocah buangan saja akan menjadi senjata terhebatku jika kudidik dia." ujar Blaze, memamerkan semua yang ia miliki. Berusaha membanggakan anak buahnya yang setia.

"Anda memang hebat, Tuan."

To Be Continued...

Im very sorry... Karena chapter kali ini dikit banget.

Padahal lagi semangat nulis, tapi imajinasi mentok ampe situ.

Gimana? Udah kenalan dengan OC Author? Kalian terkejut, hm? Tidak? Baiklah ._.

Oh, ya! Btw... Jika kalian menemukan cerita ini di plagiat, segera hubungi saya. Ada hadiahnya loh... Hehe *smirk*

LyxCrime03 ?