Main Cast : Chanyeol X Baekhyun

Other Cast : Heechul, Sehun, Jong Dae, Je Ni (Blackpink), Seulgi, Namjoon (BTS)

Disclaimer : fic ini pure milik Gloomy Rosemarry aka Cupid KM

.

.

.

(ATTENTION : Sya Post Ulang FF ini, karena entah mengapa FFn menghapus Chapter terakhirnya, mungkinkah terlalu vulgar sehingga dilaporkan? T_T Mianhae)

.

.

Previous Chapter

"Uhn! Umpphh!" Masih dengan membekap bibirnya sendiri, Baekhyun mulai mencengkeram kuat lengan Je Ni. Merasa panik dan tak tahan dengan pening bahkan mual yang hebat itu.

"Tidak, jangan hiraukan anak itu, Dia hanya berpura-pura sakit!" Kekeuh Seulgi, tetap memaksa pria itu lekas berpaling.

Chanyeol menghempas genggaman tangan Seulgi, dan lebih memilih merengkuh tubuh mungil itu.

Detik itu pula—

"Uhmph! Ugh...Hoeekk!"

"B-baekhyun?"

.

.


Love Of Fallen Leaves

Chapter8

.

.

.

Chanyeol bergerak sigap ingin membopong tubuh mungil itu, namun Baekhyun meronta turun dan lagi-lagi—

"Ughmmh... Hoekkh! Nghh!"

Tubuh mungilnya semakin lemas, bahkan melunglai pasi dalam rengkuhan Raja Silla itu. Jangankan untuk terisak, sekedar menghela nafaspun... Baekhyun seakan tak sanggup.

Tapi apa daya...

Tubuh lemahnya kembali menyentak dan terbatuk payah, kala mual yang hebat itu kembali menyedaknya.

"Uhmph! Ughh..Hoekkh...nnhhh"

Membuat Raja Silla itu semakin kebas melihat bocah itu, mendadak seringkih ini di hadapannya. Berulang kali Ia menyeka bibir pucat itu dan memijit tengkuknya pelan, namun sama sekali tak meringankan apapun.

Namja kecilnya tetap saja tersedak mual, bahkan keringat dingin semakin merembas banyak di sekujur tubuhnya.

"Sa—kit Ahjju~ Uhmphh!"

"T-tuan muda?!" Pekik Je Ni begitu melihat Baekhyun kembali muntah, bahkan hingga mengenai pakaian Chanyeol. Ia bergerak panik ingin mengambil alih tubuh Baekhyun dari rengkuhan Chanyeol. Tapi Raja Silla itu menolaknya, alih-alih menyerahkannya Ia malah semakin mendekap anak itu... seakan tak ingin siapapun menyentuhnya.

"Y-yang Mulia...biarkan hamba—

"Berlebihan!" Suara Seulgi mendadak menyentak, terdengar semakin sinis saat menyadari baik Chanyeol maupun dayang pengasuh itu, seakan tak menghiraukan dirinya. Dan hanya terpaku pada bocah ingusan yang merepotkan itu. Pikirnya

"Dia sakit karena ulahnya sendiri! mengapa kalian memperlakukannya seolah-olah—

Racauan kesal Ratu itu tertelan begitu saja, ketika melihat Chanyeol kembali bangkit dengan membawa anak itu lalu melangkah mendekatinya.

"Menyingkir dari hadapanku" Desis Chanyeol dingin, membuat ratu Silla itu kembali terkekeh sinis merasa diremehkan. Tapi... tatapan menusuk itu terlalu mencekiknya, hingga... sama sekali tak ada sekecap katapun yang terucap darinya selain gerak tubuh menghindar, mengikuti titah itu.

"Pergilah untuk memanggil tabib" Ujar Chanyeol setelahnya pada dayang yang sedari tadi mengekor di belakangnya.

"Baik Yang Mulia.."

"Pastikan, wanita itu tak mengikutiku" Gumam Chanyeol lagi, sebelum akhirnya benar-benar melangkah pergi, kembali menuju istana utama.

"N-ne?" Tanya Je Ni tak mengerti. Wanita siapa yang dimaksud?

Tapi begitu menoleh ke arah Ratu yang masih memanggil-manggil Chanyeol itu. Ia mulai menyeringai lebar.

"PHEYA!" Ratu itu, sedikit menyingsingkan gaunnya..hendak berlari mengejar Chanyeol.

"Pheeya—

Seulgi mendadak membulatkan mata lebar penuh amarah, begitu dayang itu menghadangnya dengan kedua tangan terbentang.

"Menyingkir!" Pekiknya murka.

Je Ni menggeleng mantab, bersikukuh tetap menghadang Ratu Silla itu.

"Ini perintah! menyingkir dari hadapanku Dayang bodoh!"

Je Ni kembali menggeleng sembari meringis. "Sayang sekali, aku di pihak Yang Mulia Raja" Sahutnya tanpa aksen formal sedikitpun.

Seulgi menatapnya tajam, bahkan dengan tangan terangkat ingin menamparnya. "Beraninya Kau-

"Silahkan Yang Mulia" gumam Je Ni, balas menajamkan sorot matanya.

Seakan menemukan titik lemahnya, dayang itu kembali menyeringai... meniru persis bagaimana Chanyeol mengancam wanita itu dari tatapan menusuknya.

Benar saja,

Ratu Silla itu menurunkan tangannya, merasa dirinya terlalu terancam jika hanya menghadapi dayang itu seorang diri. Ia beralih membuang muka "Hmph!"

Lalu berjalan menghentak kaki menuju paviliunnya sendiri. "lihat saja... kalian akan hancur ditanganku" Gumamnya masih dengan melangkah menjauh, memendam umpatan dan sumpah serapah dalam batinnya yang panas.

.

.

.

.


"Ahjjusiii~ hks!"

Lagi... Baekhyun kembali memanggil Chanyeol. Meronta dan terisak hebat kala menyadari, bukan Chanyeol yang membawa tubuhnya. Dirinya kini berada dalam gendongan seorang tabib. Berulangkali anak itu mencoba melompat, namun Pak tua dan seorang asistennya itu terlampau kuat menahan tubuhnya yang kecil.

"Ahjussiiiii!"

"Tenanglah Tuan Muda... Yang Mulia Raja akan segera kembali"

Tenang Tabib itu seraya menyeka keringat dingin yang masih merembas di kening Baekhyun.

Tapi anak itu tak ingin mendengar, tetap meronta bahkan semakin menangis dibuatnya.

"Hks! AHJJUSIIIIIII!"

.

.

.

.

.


"Berjagalah di pintu depan, dan pastikan tak ada satupun yang memasuki tempat ini" Ujar Chanyeol pada beberapa pengawal yang memang sedari tadi berjaga di luar kamarnya.

"Baik Yang Mulia" Sahut para pengawal itu serentak, lalu beranjak mengikuti titah sang Raja.

Chanyeol menghela nafas pelan, mungkin terasa berlebihan... menjaga ketat wilayahnya, sementara tabib hanya memeriksa seorang bocah 15 tahun itu.

tapi Ia memiliki alasan tersendiri, bukan karena Baekhyun yang tiba-tiba mendadak sakit dan muntah di pagi ini. Ah... itu bisa Ia asumsikan anak itu salah makan atau memang cuaca yang membuatnya demikian.

Tapi sebenarnya, alasan itu lebih berdasar pada... hal yang kerap dialami Baekhyun tiap bulannya.

Ya, Ia tau benar, Baekhyun setiap bulannya selalu mengalami kondisi yang selayaknya terjadi pada seorang perempuan. Seperti... datang bulan.

Dan itu benar-benar memancing keras rasa ingin taunya, meski bertahun lamanya Ia ingin memastikannya. tapi anak itu selalu menolak... bahkan mengancam dengan hal-hal kekanakan yang ajaibnya tak bisa Ia tentang.

Tentu kesempatan memanggil tabib kali ini, menjadi peluang besar untuknya... memastikan Baekhyun benar dalam kondisi baik-baik saja, ataukah anak itu memang mengidap suatu penyakit, yang awam tak pernah mengetahuinya.

"Ahjjusiii...!"

Chanyeol mengernyit begitu mendengar panggilan samar anak itu, ah.. Ia tau, Baekhyun mungkin menangis bahkan mengamuk di dalam sana. karna tak menemukan dirinya dimanapun.

Raja Silla itu beralih menutup rapat pintu itu,lalu melangkah menuju kamarnya... tak menyisakan apapun di luar, selain bias mentari yang mulai menyeruak di ufuk timur.

.

.

.

PRANKK

"Ahh... Tuan Mudaaa, anda bisa terluka jika seperti ini"

Panik Tabib itu begitu melihat Baekhyun menghempas perkakas ramuan herbalnya, lalu begitu tergesa memunguti pecahan keramik itu. "Mingyu... pegangi Tuan Muda dengan benar" Ujar Tabib itu lagi pada anak didiknya yang sedari tadi terpana melihat Baekhyun.

Sementara Baekhyun tetap meronta ingin turun dari ranjang, meski nyatanya ia kembali terisak karena pening yang hebat itu.

"Ahjjus—

"Ssshhh..." Tiba-tiba sepasang lengan kekar menarik tubuhnya lalu mendekapnya erat. Tak pelak membuat Baekhyun berjengit ingin menjerit, namun begitu tau siapa yang memeluknya. Anak itu beralih semakin menyusupkan kepalanya ke dalam dan meringkuk , tanpa berhenti memanggil-manggil pria itu.

"J-jangan pergi Ahjjusi" Isak Baekhyun di tengah rintihan peningnya.

"Aku tidak pergi kemanapun" Bisik Chanyeol seraya melepas ikat rambut Baekhyun, membuat surai hitam itu tergerai sebatas bahunya.

Hingga beberapa saat setelahnya, Ia membaringkan tubuh kecil itu di ranjangnya dan kembali berbisik lirih

"Biarkan tabib memeriksamu, aku akan—

Baekhyun bangkit lalu mencengkeram erat ujung pakaian Chanyeol, tak menginginkan pria itu beranjak darinya barang sedikitpun.

"Baekhyun.." panggil Chanyeol mencoba memberi pengertian, tapi Baekhyun tetap menggeleng kasar...dan makin mencengkeram kuat pakaian agung itu, Tak peduli... itu akan membuatnya kusut. Bagaimanapun, Ia masih tak menginginkan Ahjjussinya pergi bersama wanita itu.

"Hks.."

Anak itu terisak, kembali membuatnya sesak begitu air mata lolos...mengalir di parasnya yang pucat.

Jika seperti ini, Ia hanya bisa menghela nafas pasrah...dan beralih menarik kursi kecil di sisinya, lalu menggenggam jemari mungil itu.

"Lihat... aku tak pergi kemanapun,bukan?" Ujar Chanyeol setelah mendudukkan dirinya tepat di sisi ranjang Baekhyun.

Sejenak menunggunya, senyumnya terulas tipis begitu melihat Baekhyun perlahan luluh dan kembali membaringkan tubuhnya, walau nyatanya jemari mungil itu tetap tak ingin melepaskan genggaman tangan keduanya, malah... Baekhyun kembali menambah tangan yang lain untuk menggengam tangan besar itu.

Tabib Choi terlihat tertegun, tak menduga...melihat sisi lain dari pribadi Raja yang terkenal angkuh itu.

Mungkinkah sikap penuh kasih ini watak sebenarnya dari sang Raja?

Tapi mustahil... siapapun tau, Raja Silla itu memiliki hati yang dingin bahkan tak tersentuh.

"Kau bisa melakukan tugasmu.." Tukas Chanyeol kemudian, membuat Pria Paruh Baya itu tersentak dari lamunannya.

"Ah.. Baik Yang Mulia" Sahut Tabib seraya membungkuk penuh hormat.

.

.

.

.

Detik berganti menit...

Terus berulang,hingga hampir tiga jam lamanya Ia menahan rasa pegal itu. Hanya untuk mengamati dengan seksama bagaimana tabib itu menjalankan tugasnya. Sesekal ia melihat Pak Tua merajut raut tak pasti dengan tangan tak pernah berhenti menyeka peluh dengan sapu tangannya sendiri.

Tak bisa dipercaya, memeriksa bocah sekecil itu haruskah selama ini? gerutunya dalam hati.

Sementara Baekhyun telah terlelap pulas, tapi ia enggan beranjak atau bahkan melepas pegangan tangan Baekhyun karna itu hanya akan membuatnya terbangun dan kembali menangis.

'

'

"Hhhh..." hela nafas panjang tabib paruh baya itu mengakhiri semuanya.

"Apa hasilnya? Kau tau apa yang terjadi pada anak ini bukan?" Cerca Chanyeol, sedikit merendahkan intonasinya.

Tabib itu kembali menghela nafas, dan memandang Chanyeol dengan tatapan yang sulit diartikan. "Mohon ampun Yang Mulia, Hamba belum bisa memberi jawaban apapun mengenai kondisi Tuan Muda Baekhyun"

Chanyeol mengernyit, terlihat tak mengerti bahkan nyaris menyentak tak terima dengan jawaban semacam itu."Apa?! Hanya memeriksanya saja kau tak bisa melakukannya? Aku hanya ingin tau apa yang sebenarnya dialami anak ini setiap bulannya!"

Tabib itu kembali membungkuk "Mohon kebesaran hati Yang Mulia Raja, izinkan hamba memastikan apa yang hamba lihat dengan rekan tabib yang lain. Karena—

Tabib itu menyela ucapannya sendiri dengan memandang Baekhyun getir. "Apa yang Tuan Muda alami setiap bulannya, sepertinya berhubungan dengan rasa mualnya di pagi ini. Beri Hamba waktu satu pekan untuk memastikannya" Tukasnya penuh hati-hati. sejatinya Ia telah mendapatkan jawaban itu, tapi rasanya terlalu riskan jika dirinya sendiri yang menyimpulkannya. Butuh pendapat dari tabib Silla yang lain untuk menyamakan analisanya kali ini. Karena bagaimanapun, Ia tak bisa memberikan sembarang jawaban untuk Sang Raja, atau nyawanya yang akan dipertaruhkan.

Chanyeol semakin tak mengerti dengan cara bicara yang menarik ulur waktu itu. AH! Apa hubungannya kala itu dengan pagi ini?

Ia kembali menghela nafas berat dan mungkin kecewa, tapi mendengar Tabib kepercayaan yang tak pernah meleset dengan hasil analisanya itu. Membuatnya memilih opsi lain untuk menekan rasa angkuhnya.

"Tiga Hari" Chanyeol menatap tajam. "Aku tak bisa menunggu selama itu. Tiga hari..kesempatan yang kuberikan untukmu"

Tabib itu kembali bersimpuh. "Baik Yang Mulia, untuk saat ini Tuan Muda Baekhyun hanya membutuhkan cukup makan dan istirahat"

Sesaat memberi hormat, tabib itu memohon diri bersama Mingyu meninggalkan kamar mewah itu. Tapi seketika langkahnya tersendat begitu Chanyeol kembali memanggilnya.

"Jika, kau sampai mengatakan jawaban serumit itu. Bahkan hingga meminta waktu padaku, mungkinkah... anak ini mengidap suatu penyakit yang berat?" Gumam Chanyeol, masih terusik dengan perasaan cemasnya.

Tabib itu menggeleng, namun juga tak memberi jawaban yang membuatnya puas. selain kalimat ambigu..yang semakin membuatnya resah.

"Ampuni Hamba Yang Mulia, hanya bisa mengatakan hamba akan mencari rekan tabib Silla yang dapat dipercaya dan menjaga apa yang kami lihat nanti. Dan, akan lebih baik jika Yang Mulia Sendiri yang mengetahui semua ini"

"..." Chanyeol terdiam.

Terbekap dalam ucapan Tabib yang dirasanya bertele-tele itu. Ia beralih mengisyaratkan pada tabib itu untuk pergi, sebelum dirinya semakin dibuat merasa jengah dengan ahli anatomi dan herbal itu.

.

.


Beberapa saat setelahnya

,

,

"Kau memanggilku Hyung?"

Seorang pria muda terlihat berjalan penuh kharisma, mendekati Raja yang kala itu tengah mengamati suasana luar dari balik jendela kamarnya.

"Di istana ini, hanya kau satu-satunya orang yang kupercaya" Ujar Chanyeol masih berdiri membelakanginya, dan menatap sendu pada dahan Ginko yang mulai melambai diterpa angin.

Sehun diam dan hanya melirik seorang bocah yang terlelap pulas di ranjang Raja Silla itu. Ah! Ia sudah terbiasa melihat Baekhyun kerap tidur di sini.

"Dan kau tau itu" Lanjut Chanyeol lagi, menarik perhatian Sehun untuk mengalihkan pandangan padanya.

"Lalu apa yang ingin kau sampaikan?" Ujarnya terdengar dingin, namun itu memang aksen miliknya pada siapapun tak kercuali pada Raja Silla itu.

"Awasi siapapun yang berada di dekat anak ini"

Sehun sedikit berdehem, tanpa diperintahpun... sebenarnya Ia memang sudah mengawasinya. Menjaga Baekhyun dan tentu saja Raja Silla itu. Bahkan pergerakan licik Istrinyapun tak luput dari pengawasannya.

"Beberapa saat yang lalu, aku memanggil Tabib Choi kemari untuk memastikan kondisi Baekhyun"

Sehun kembali menautkan kening. "Dia sakit? Apa yang terjadi padanya?"

Pertanyaan yang sama seperti miliknya. Raja Silla itu hanya berdecak, "Entahlah. Pak Tua itu mengulur waktu seolah membodohiku, seakan apa yang terjadi pada anak ini adalah rahasia besar untukku. Tapi Aku tak bisa sepenuhnya percaya padanya. Perintahkan pada orangmu untuk mencermati pergerakannya, sampai Dia kembali dengan jawabannya"

"Baik Hyung..."

Chanyeol memejamkan mata lalu tersenyum, sebelum akhirnya memutar tubuh untuk mendekati Penasihat sekaligus Panglima kerajaannya itu.

"Aku bertaruh banyak pada kesetiaanmu" Ucap Chanyeol sembari menepuk pundak Sehun, seolah menyampaikan rasa terima kasih itu secara tersirat.

Sehun hanya menundukkan kepala, sebelum akhirnya memohon diri dan beranjak pergi. Demi menjalankan titah itu, dan mencari tau... alasan macam apa yang membuat Tabib Choi ragu pada analisanya sendiri. Karena itu...jarang bahkan sama sekali tak pernah terjadi.

.

.

.


Esoknya

Mentari benar-benar bersinar terang, sebagian biasnya terlihat menelusup masuk dari celah kamar itu. Hingga mengenai wajah seorang bocah mungil yang masih bergelung di bawah selimut tebalnya.

"Umnhh~" Lenguhnya tak nyaman, seraya menjejak selimutnya. Berharap kain berat itu lekas menyingkir... karena itu benar-benar membuatnya gerah.

"Uhhh! Ugh!" Baekhyun semakin menggerutu sebal dengan tangan menarik-narik selimut itu, meski kedua mata sipit itu masih terpejam.

"Ngh!" Baekhyun menyerah, selimut itu tetap melekat erat di tubuhnya, hingga Ia hanya bisa berteriak—

"Ahhjjusssiiiiii!"

.

.

Chanyeol mendadak bangkit terbangun karena terkejut mendengar jeritan itu. Tapi setelahnya Ia mendesah nafas berat seraya memijit pelipisnya , sadar... Baekhyun hanya dibuat rusuh dengan selimutnya sendiri.

Keringat yang merembas dengan kening bertaut jengkel itu membuatnya tau... anak itu kepanasan. Ah ya... matahari rupanya bersinar sangat cerah hari ini. Tak mengherankan jika anak itu merasa gerah setelah tidur panjangnya.

Ia beralih beringsut mendekati anak itu, menyibak surai hitamnya ke atas sebelum akhirnya menarik pelan selimut tebal itu.

menyisakan pakaian putih yang terlihat kebas karena keringat.

.

.

.

"Ah—jussi" Gumam Baekhyun begitu terbangun karena gerakan pria itu.

"Hn... Biar aku melepas pakaianmu, kau berkeringat sangat banyak" Ujar Chanyeol sembari menyeka leher Baekhyun dengan sebuah kain kecil.

Anak itu sempat diam tertegun, menyadari Ahjjusinya masih bersamanya hingga Ia bangun dari tidurnya. Baekhyun sangat senang, membuatnya menganggukkan kepala cepat dan tersenyum manis "Neh! Ahjjusii"

Chanyeol hanya terkekeh pelan melihat tingkah jenaka anak itu, Ia menarik pelan tubuh kurus itu hingga terduduk, lalu kembali membuka sisa pakaian yang masih tersangkut di lengannya. Sempat Ia terhenyak menyadari dadanya kembali berdsir kala melihat penampilan Baekhyun saat ini, rambut tak tertata dan terlihat acak-acakan khas bangun tidur itu, benar-benar membuatnya terlihat semakin menggemaskan.

.

.

"Kau tidur lama sekali hn?"

Baekhyun hanya mengerjap, lalu lebih memilih menjatuhkan kepalanya yang masih terasa berat di dada bidang Raja Silla itu.

"Ahjjusi... Baekhyun lapa—Uhmph!" Baekhyun tiba-tiba membekap bibirnya sendiri, dengan mata membulat lebar menyadari mual yang hebat itu kembali menyedaknya.

"Tentu saja lapar. Sejak kemarin tak memakan apapun" Kekeh Chanyeol seraya menjauhkan tubuh mungil itu demi melihat wajahnya, namun betapa terkejutnya Ia melihat Baekhyun gemetar dengan bibir dibekap sendiri.

"Baekhyun.. Kau mual?"

Anak itu hanya mengangguk cepat dengan mata memerah bahkan terlihat rembasan bening dipelupuknya. Membuat Chanyeol bergerak cepat membopong tubuh kurus itu, untuk dibawanya menuju kolam pemandian di seberang kamarnya.

.

.

.

"Umhh!Hoekk! hhh...hh"

Chanyeol kembali berdecak cemas,berulang kali Ia mencoba memijit tengkuk Baekhyun...membiarkan anak itu mengeluarkan biang mualnya, meski nyatanya itu hanya cairan bening.

"hhh...hh Ahjjus—iihh...hh" Sengal Baekhyun sambil menggeleng tak sanggup, kedua tangannya terlihat lunglai namun dengan cepat Raja Silla itu menangkapnya, dan mengangkatnya ke atas pangkuannya sendiri.

"Masih mual?" Bisik Chanyeol seraya membasuh bibir mungil itu dengan air bersih.

Baekhyun hanya menggeleng lemah, kedua matanya terpejam...berharap pening itu lekas hilang.

"Setelah ini, aku akan membawamu untuk makan" Ujarnya kemudian, namun dalam diam ... sebenarnya Ia tengah merutuk. Semakin tak sabar, Tabib itu segera memberinya kejelasan akan penyakit yang diderita anak itu.

Oh sial! Ia benar-benar tak tahan melihatnya seperti ini setiap pagi. Menangis tanpa bisa terisak, dan hanya tubuhnya saja yang seakan menyuarakan rasa sakit itu.

Lebih baik jika Ia tau penyakitnya, lalu segala cara akan dilakukan untuk menyembuhkannya. Bahkan jikapun penyembuh itu harus menyebrang batas negeri, itu tak akan masalah untuknya.

.

.

.

.

Beberapa Saat Kemudian...

.

.

"Makanlah.."

Baekhyun kembali membuang muka, menjauhi suapan makanan yang sedari tadi menunggu untuk di lahapnya.

Raja Silla itu kembali berdecak, memang hanya dirinya dan Baekhyun saja di ruangan ini. Semestinya Ia menikmati waktunya bersama namja kecil itu, seperti yang kerap Ia rasakan saat di dekat Baekhyun. Tapi entahlah semua terasa sukar dan membuatnya sesak, melihat Baekhyun sulit di bujuk untuk melahap makan paginya kali ini.

"Bukankah kau yang merengek makanan ini pada Dayang?" Ucap Chanyeol masih berusaha menyuapkan makanan tersebut untuk bocah di atas pangkuannya itu.
"..." Baekhyun tak menjawab, selain kepala menggeleng ke kanan dan ke kiri. sedetik kemudian anak itu mulai melirik makannannya, namun bukan untuk disentuh lalu dimakan melainkan mendorongnya semakin menjauh hingga Ia tak bisa lagi mencium aroma hidangan itu.

Tak pelak membuat Raja Silla itu mengernyit heran melihat reaksi yang asing itu, tak biasanya Baekhyun menolak makanan kesukaanya seperti ini.

"Kenapa?" Tanyanya seraya menaikkan dagu Baekhyun.

Seolah dibuat tak nyaman, raut anak itu berangsur masam. Kembali tak ingin menjawab dan lebih memilih memainkan handuk kecil ditangannya, menggulung dan melipatnya menjadi karakter binatang.

"Baekhyun, aku tak menyukai sikapmu yang seperti ini" Lugasnya pada bocah itu. Tak ayal, Baekhyun menatapnya cepat dengan pandangan sepenuhnya pias, hingga sesaat kemudian anak itu memilih beringsut-ingsut turun dari pangkuan Chanyeol. Lalu duduk di sisi bawah ranjang dengan memeluk lututnya sendiri.

Chanyeol hanya memandangnya diam, benar atau tidak...ia mulai menyadari perbedaan dalam sikap Baekhyun. Jika biasanya anak itu selalu terlihat antusias, ceria dengan sikap rusuhnya, frontal jika tidak menyukai suatu hal bahkan pembuat onar. Tapi kini?

Jangankan tertawa...

Tersenyumpun... sama sekali tak dilihatnya dari anak itu. Dan Ia benar-benar tak bisa menebak apa yang tengah Baekhyun inginkan saat ini, hingga mendadak pendiam dengan sikap mudah tersinggung seperti itu.

Raja Silla itu beralih bangkit, meletakkan santap pagi itu di meja lalu melangkah mendekati Baekhyun.

Sejenak mengamati Baekhyun yang masih menyembunyikan wajahnya di balik lipatan lengannya itu. "Baekhyun?" Panggilnya mencoba peluang.

Tapi anak itu tetap kekeuh menyembunyikan wajah darinya.

Ah! Ia mengalah...

Rasanya lebih memilih Ibunya menghardik dan memukulnya bertubi-tubi dibandingkan melihat Baekhyun mendadak pasif tanpa suara seperti ini.

"Biar kulihat... apa kau sakit?" Ujarnya seraya menyusupkan kedua tangannya dilipatan lengan Baekhyun, hendak mengangkatnya.

Namun lagi-lagi, Baekhyun mendorong tangannya dan merangkak ke sisi yang lain. Menjauhinya...

Ia terkekeh pelan. sseperti melihat seorang bocah yang tengah merajuk kesal.

Ah! Baekhyun memang masih bocah, mungkin sikap labilnya yang seperti ini memang umum terjadi pada bocah seusianya. Ia kembali mendekat dan menepuk-nepuk kepala kecil itu.

"Baekhyun?" Panggilnya lirih

"..."

"Sayang?" Panggilnya lagi lebih mesra

Dan benar saja, panggilan kecilnya itu ...membuat Baekhyun mengangkat wajahnya. meski sembab...tapi anak itu terlihat lucu kala mencoba mengerjap padanya.

"Makanan itu membuat mual... Ahjjusi!" Aku Baekhyun. Sambil membuang asal handuk kecil yang sedari tadi diremasnya. "Baekhyun benci, jika Ahjjusi tidak menyukai sikap Baekhyun!" Racaunya lagi, hingga Ia puas menyentak rasa kesal itu.

"Hn.. "

"Dengarkan jika Baekhyun bicara" Tukasnya, berlaga dewasa

Membuat Chanyeol tergelitik untuk meraih cepat anak itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Hingga Baekhyun hanya bisa menatap ke bawah, ke arah matanya

"Uh—Ahjjusi!" Pekiknya terkejut. Namun mendadak terdiam begitu menyadari tatapan intens itu. Hingga tiba-tiba saja, tubuhnya serasa dijatuhkan ...namun—

Chupp

Keduda mata coklat itu terbelalak, tapi setelahnya mengerjap beberapa kali. "Mmhh~ mpfuhhm"

Lenguhnya, kala pria itu semakin memiringkan kepalanya, berusaha memperdalam ciuman itu.

"Uhmh...NNH!" Pekik Baekhyun tertahan, begitu merasakan tangan Chanyeol meremas-remas pantatnya. Bahkan semakin menaikkan pahanya hingga dirinya menggelayut di perut pria kekar itu.

Baekhyun nyaris limbung, jika saja dirinya tak merangkul erat lehar Chanyeol. Dan membiarkan pria itu menikmati bibirnya dengan posisi seperti ini.

"Mfhh..jussih!... ah!..mmh"

.

.

.

.

Sebelah kakinya kembali terangkat, dan mengalung pas di pundak pria yang kini mencumbu rakus garis selangkang namja manis itu. Baekhyun tak lagi tertahan dalam gendongan Raja Silla itu seperti sebelumnya, melainkan...terbaring di sisi ranjang dengan sebelah kaki menjuntai ke bawah lantai. Beberapa kali Baekhyun memekik ngilu, begitu Ia menggigiti dan menghisap paha dalam itu...hingga meninggalkan bekas merah matang di kulit putihnya.

"Akh!.. Ah!" Baekhyun kembali terlonjak saat Raja Silla itu kembali menyedot kuat selangkangnya, menambah kissmark yang lain di bagian selatan tubuh Baekhyun. Nafasnya semakin memendek dan menggigil begitu lidah basah itu mulai menggeliat mendekati lubang anusnya.

"Nn~ ah!... Ahjjusii!" Baekhyun reflek bangkit terduduk dan meremas-remas kepala Chanyeol. Melampiaskan rasa nikmatnya, saat bibir tebal itu menghisap kuat lapisan rektumnya.

Ia menengadah dengan bibir setengah terbuka, melepaskan desahan demi desahaan yang terdengar binal di ruangan megah milik Penguasa Silla itu.

"Ackkh!" Kedua kakinya spontan mengatup, menjepit kepala Chanyeol yang masih melesakkan lidahnya keluar masuk dalam rektum yang telah membengkak merah itu.

Seakan tak puas mendengar pekikan namja mungilnya, Chanyeol beralih menusukkan jari telunjuknya ke dalam. membuat Baekhyun tiba-tiba membusung dan menjerit... merasakan telunjuk panjang itu menusuk tepat prostatnya. "Ahjjusiihh!"

Chanyeol menyeringai mendengarnya, semakin bernafsu mengerjai lubang anal itu, dengan menambah dua jarinya. Menggerakkannya zig zag dan menusuk tak beraturan... tak peduli Baekhyun kembali menghempas tubuhnya diranjang dan semakin menggelinjang di bawahnya.

Tak ingin menyiakan kesempatan, pria itu merangkak ke atas lalu mencium bibir setengah terbuka itu, memainkan saliva keduanya yang banyak merembas dan memaksa bocah mungil itu menelannya.

"Mmghh~...Uhmpfthh...hnggg"

.

.

perutnya menegang. Baekhyun terbelalak panik merasakan sekujur tubuhnya seakan tersengat. Ia mengerang tertahan... tapi pria itu sama sekali tak mendengarnya, terus menerus memainkan tiga jari panjangnya di dalam, seakan meremas habis cairan rektumnya. Hingga membuat anak itu hanya bisa mengangkat tangannya, menggapai-gapai udara kosong di atasnya seakan mencari pegangan.

"GHMPFHHHH!"

Dan Baekhyun klimaks begitu saja, lalu lunglai di bawah kungkungan pria itu.

Sementara Chanyeol masih menikmati bibir Baekhyun, menghisapnya bergantian...atas dan bawah, seakan bibir lembut itu hanya satu-satunya candu memikat untuknya. Sesekali lidahnya menggoda masuk ke dalam, memaksa menarik lidah Baekhyun untuk keluar.

tapi rasanya... Baekhyun sudah terlalu lemas dibuatnya. Hingga tak merespon apapun selain melenguh lirih dengan mata terpejam.

Ia berusaha menahan diri, dengan mengakhiri pagutan itu. Namun... tatapannya berangsur redup, begitu melihat tubuh anak itu. membuatnya reflek memgang kedua sisi pinggang Baekhyun. "Kau semakin kurus" lirihnya, dan mungkin hanya terdengar olehnya sendiri.

Seharusnya Chanyeol tau, anak itu bukan dalam kondisi di mana Ia bisa mencumbunya seperti ini paska...dua hari berturut-turut, Baekhyun selalu merasakan mual dan muntah.

Ah! bahkan Baekhyun belum menyantap apapun semenjak kemarin.

.

.

.

"Ahjjusi.."

Ia terhenyak begitu Baekhyun memanggilnya lirih, membuatnya kembali merunduk dan mengais surai hitam anak itu. "Hn?"

"Persik.." Gumam Baekhyun masih dengan mata terpejam. "Buah persik ... Ahjjusi" Ia berusaha bangkit dengan bertumpu pada lengan Raja Silla itu. "Baekhyun ingin memakannya"

Sejenak, Chanyeol terlihat mengernyit. Apa lagi sekarang?

Mendadak ingin memakan buah persik di hari yang masih sepagi ini?

Sikap pasang surut itu, benar-benar semakin tak dimengerti olehnya. Atau mungkin, dirinya yang belum terbiasa menghadapi sikap semacam ini.

"Ahjjusi tidak mau menemani Baekhyun?!"

Ah! dan lagi sikap mudah marah ini. Ia terkekeh lalu mengecup cepat bibir semerah cherry itu, mencoba merayunya.

'Chupp'

"Apapun akan kulakukan untukmu, berhentilah marah seperti itu" Ujar Chanyeol sembari menyimpul pakaian Baekhyun hingga kembali tertutup rapat.

Anak itu hanya berdengus, sembari memalingkan wajahnya yang kemerah-merahan itu. lalu beringsut-ingsut turun ingin segera berlari keluar.

"Mau kemana?"

Tapi Ia gagal melompat, begitu Chanyeol menahan lengannya.

"Memetik buah persik bersama Ahjjusi" Celotehnya

"Di sini saja, biar dayang yang membawa buah persik itu—

"Shirreo!" Sergah Baekhyun dengan tangan terkepal. kedua matanya kembali berkaca-kaca, membuat Raja Silla itu kembali memijit pelipisnya, tau... pertanda apa setelah ini.

"Baekhyun hanya ingin buah Persik di dekat danau itu!" Pekiknya lagi, sambil menghentak kaki.

Lihat... benar dugaannya, anak itu mulai menangis dan menjerit memekakkan seperti ini. Apa yang salah? Mungkinkah karena pengaruh masa pertumbuhannya, yang membuat sikap Baekhyun mendadak kontras seperti ini. Yakin Chanyeol

"Ssshh... Baiklah kita kesana, berhentilah menangis"

"Hks!"

.

.

.

.


Jong Dae menggaruk kikuk belakang kepalanya."Ah Tuan Muda...di sana hanya tersisa sedikit buah persik, lebih baik kita pergi ke kebun—

"Shirreo!" Sungut Baekhyun tetap memandang tanpa berkedip dua buah persik di dahan tertinggi dari pohon itu. Benar-benar tak sabar ingin segera menyantapnya.

Sementara Chanyeol hanya menghela nafas sembari mengelus kepala Baekhyun. "Petik buah itu untuknya" Titahnya pada pelayan muda itu.

Jong Dae meneguk ludah payah, sejenak Ia melihat temannya yang kain Xiumin dan Je Ni di belakangnya. Dan keduanya hanya bersiul sambil memainkan kerikil, berpura-pura tak melihatnya.

"B-baik Yang Mulia..."

Jong Dae kembali meneguk ludah payah, oh sungguh! Pohon persik itu sangatlah tinggi... Ia bahkan tak yakin akan memetiknya dengan selamat.

Tapi dirinya bisa apa? Selain patuh memanjat pohon itu dengan gemetar meski sesekali nyaris tergelincir karna tak mahir memanjat.

"Tenang Jong Dae...sudah sampai dahan keempat, hanya tinggal enam dahan lagi" Tenangnya pada dirinya sendiri, masih merangkul erat-erat batang besar itu tanpa bergerak sedikitpun.

"Siapa yang menyuruhnya memanjat pohon itu?!"

Tiba-tiba lengkingan Baekhyun menyentaknya di atas pohon itu. membuatnya menoleh kebawah dan mengerjap tak mengerti pada sosok mungil di sisi sang Raja. Ya Tuhan... jangan katakan Baekhyun menginginkan hal lain setelah ini.

"Tentu saja memetik buah untukmu, bukankah kau yang menginginkannya?" Chanyeol berujar pelan, sambil menatap teduh anak yang mulai mengerucutkan bibirnya itu.

"Aku ingin Ahjjusi yang memetiknya, bukan Dia!" Seru Baekhyun tak terima seraya menghentak kaki. "TURUN!" Jeritnya lagi seraya menunjuk Jong Dae yang masih menggelayut di atas pohon.

Sementara Pria di atas pohon itu hanya membentur-benturkan jidatnya sendiri. "Mengapa tak mengatakannya sedari tadi Tuan Mudaaa?" Gumamnya frustasi memikirkan cara untuk turun setelah ini.

"Apa bedanya? Siapapun yang memetik buah itu asal kau bisa memakannya...sama saja bukan?" Tukas Chanyeol mencoba menenangkan.
"..." Baekhyun tak menjawab, selain berjalan menghentak menjauhinya, lalu menghempas pantat di bawah pohon Ginko dengan tangan bersidekap menahan kesal.

"Biar aku saja yang memetiknya Hyung" Sela Sehun, yang kala itu tanpa sengaja melintas dan menyadari keributan kecil di tepi danau itu.

Chanyeol hanya berdehem mempersilakannya, sementara dirinya berjalan mendekati bocah yang masih bersungut dengan bibir mengerucut lucu itu.

"Hentikan sikap kekanakanmu itu.." Ucapnya begitu berdiri tepat di depan Baekhyun.

Sesaat anak itu melirik ke atas, tapi setelahnya memutar tubuh membelakanginya ... sama sekali tak ingin melihat Ahjjusinya kali ini.

Raja Silla itu kembali menutup mata dengan sebelah tangannya, merasa riskan dengan ucapannya sendiri. Memaksa Baekhyun berhenti bersikap kekanakan, tapi kenyataanya Baekhyun memang masihlah seorang bocah.

Ia beralih merunduk ingin menyentuh kepala anak itu, berniat menarik kembali ucapannya. "Baekhyun dengar—

"Y-yang Mulia, Tuan Sehun berhasil memetik buah Persik ini"

Tiba-tiba Je Ni menyela mendekat, sembari menyerahkan buah persik yang telah matang sempurna untuk Raja Silla itu.

"Lihatlah... ini buah yang kau inginkan sedari tadi" Chanyeol mengelus punggung kecil itu, Baekhyun melihat buah persik di tangannya.

Baekhyun masih mendelik tak suka, ia mengambil buah itu dari tangan Chanyeol lalu—

'Byurrr'

Melemparkannya begitu saja ke tengah danau. Tak pelak membuat Je Ni terbelalak panik, takut... kalau-kalau Chanyeol menyentak anak itu.

"Baekhyun hanya ingin Ahjjusi yang memetiknya!" Kekeuh Baekhyun tak ingin ditentang. "Bukan Sehun Ahjjussi!" Jeritnya lagi sambil menjambak rerumputan di bawahnya. Kedua matanyapun semakin memerah penuh dengan bulir bening di pelupuknya.

Sepersekian detik, suasana itu mendadak hening...

Siapappun tau, Raja Silla itu pasti akan membentak murka...jika seorang berani bersikap lancang terlebih membuatnya geram. Dan anak itu... sepertinya terlalu melampaui batas.

Je Ni bergerak hati-hati ingin merengkuh Baekhyun, mengantisipasi sentakan Raja Silla itu. Tapi yang terlihat... sama sekali jauh dari ekspektasi mereka.

Tak ada sentakan atau bahkan teriakan penuh murka yang biasa mereka lihat dari sosok penguasa itu.

Chanyeol terlihat tenang, bahkan menatap teduh bocah manis yang seharusnya terlihat menyebalkan itu.

"Baiklah.."Gumam Chanyeol, sebelum akhirnya bangkit menyingsingkan pakaian agungnya hingga memperlihatkan kedua tangan kekar itu.

.

.

"Hyung... kau tak harus melakukan semua ini" Tahan Sehun, begitu Raja itu hendak memanjat pohon persik di hadapannya.

Chanyeol terkekeh. Ia tau... Seorang Raja sepertinya memang tak seharusnya melakukan hal konyol seperti ini. Tapi entahlah... dirinya sendiripun merasa takjub, bisa bertahan dengan kesabaran itu bahkan melakukan apapun hanya untuk bocah itu. Seakan benar-benar melupakan pribadi dan jati dirinya yang sebenarnya.

dan jika bertanya mengapa?

Ia sendiri tak yakin, mampu menjawabnya dengan lugas.

"Akan sangat merepotkan jika sampai anak itu menangis menjerit"

Hanya alasan tak berdasar itu yang diucapkannya, lalu benar-benar memanjat Pohon persik di hadapannya.

Dan Sehun tau, jawaban itu bukanlah inti dari alasan sebenarnya Sang Raja bersedia bersikap seperti ini.

Sejak Chanyeol membawa anak itu ke Silla... sejujurnya Ia menyadari perasaan yang berbeda dari Raja Silla itu untuk Baekhyun.

Dan semakin lama semakin jelas... terlihat dari sorot matanya dan bagaimana cara pria itu memperlakukannya, lebih berharga dari intan permata Silla.

.

.

.

.


Beberapa saat kemudian

Sesekali terdengar kikikkan kecil darinya . Anak itu menggerakkan kepala ke kanan dan ke kiri... terlihat antusias saat menyesap sari persik yang digigitnya. Dirinya tak lagi berada di luar... melainkan kembali menghabiskan waktu di dalam kamar, tentunya hanya dengan Raja Silla itu.

"Puas sekarang?" Ujar Chanyeol seraya mengguncang pahanya, membuat seorang anak yang berada dipangkuannya itu turut terhentak.

Baekhyun tak menjawab dan hanya terkikik senang, masih dengan mengunyah lahap buah persiknya, hingga nyaris menghabiskan lima buah sekaligus.

Entahlah... Baekhyun terlihat menikmati cara makannya di atas pangkuan Raja Silla itu.

"Manis?"

Baekhyun mengerjap dengan bibir terisi penuh, tapi setelahnya mengangguk cepat. Bahkan semakin lahap, menggigit buah yang terlihat besar di tangannya.

Membuat Chanyeol kembali berdecak gemas melihatnya. Menolak makan paginya, dan kini terlihat girang melahap buah yang sebenarnya setengah masam itu.

Lama Ia memandang lekat, bagaimana cara anak itu menikmati persiknya. Hingga tangannya reflek terangkat menyentuh dagu itu.

Bibir yang semakin merah merekah dan terlihat basah itu, kembali mengacaukan akal sehatnya.

Ia menarik tengkuk Baekhyun untuk merunduk mendekati wajahnya. Sedikit menjilat bibir yang masih tersisi penuh dengan lumatan persik itu. "Biarkan aku mencicipinya juga.." Bisiknya, sebelum akhirnya benar-benar menyesap bibir Baekhyun. Bahkan sesekali menghisap lumatan buah di dalam mulut yang masih menggembung itu.

"Uhmm~..Mffhhh"

.

.

.

"Mmnh~ Jussimphhf" Baekhyun mengerjap, begitu merasakan tubuhnya serasa terangkat, membuat buah di tangannya jatuh begitu saja. Tapi pria itu tak melepas pagutan basahnya, bahkan hingga dirinya dibaringkan di ranjang pun. Pria itu masih menyergap bibirnya rakus, melumatnya penuh nafsu... hingga Baekhyun memekik kala gigi keduanya berbenturan.

Chanyeol beralih membawa lidahnya turun, menjilati perpotongan leher anak itu. Kedua tangannya pun terlihat tak ingin diam... melucuti satu persatu pakaian Baekhyun hingga sepenuhnhya polos di bawahnya.

.

.

"Ssh! Ahh.." Pekik Baekhyun sedikit tersentak, begitu Raja Silla itu menyesap kuat nipple kirinya. Membuatnya memerah bengkak seperti yang terjadi pada nipple kanannya, menghisap kuat puttinng susu itu... seakan tengah menyusu dengan rakus.

"Umhh!..Ahjjuss—Akkh!"

"Nikmat eum?" Desah Chanyeol di sela cumbuannya,

Bocah mungil itu setengah tak sadar menganggukkan kepalanya, pipinya terlihat merona kala melirik kebawah dan melihat kedua nipplenya terlihat mencuat merah dengan ujung mengkilap karena saliva.

"A-ahh! AHH!"

Tapi jeritannya kembali melengking, begitu tangan besar pria itu menangkup dadanya dan meremas-remasnya ... bahkan sesekali menjepit ujung puting kecilnya. Memelintirnya tak beraturan hingga membuat air matanya merembas karena perih.

"Apa yang kau rasakan hn?" Bisik Chanyeol masih dengan meremas-remas nipple anak itu, seakan memang tengah menggodanya.

Baekhyun yang masih menengadah dengan mata terpejam itu, berusaha memusatkan konsentrasinya untuk mendengar Chanyeol. "Nghah! Ge—lih! b-banyak kupu-kupu! ahh! Di perut Baek—hyunn~Unghh!"

Walau nyatanya kalimat yang terucap dari bibir mungil itu terdengar kacau dan tersendat-sendat.

Menyulut seringai tajam dari pria di atasnya, seakan semakin tak tahan ingin membuat Baekhyun kembali menjerit payah di bawahnya.

ia beralih menggerakkan lidah basahnya ke bawah, melumuri perut mulus itu dengan salivanya... dan atau bahkan meninggalkan bekas kissmark di sekitar pusar anak itu.

Rasanya... Ia benar-benar tak pernah menyesal, menghabiskan waktu nya di dalam kamar ini. Jika dirinya bisa mencicipi dan memiliki aroma tubuh anak itu. Ya... semua dari Baekhyun terlalu membuatnya menggila. Seolah Hanya anak itu...yang menjadi satu-satunya ambisi untuknya.

.

.

.

"Biarkan aku memasukimu hari ini"Chanyeol kembali mengecup mesra pipi anak itu.

Tapi Baekhyun mengerjap bingung, dan terlihat asing dengan ucapannya.

"Memasukki Baekhyun?" Tanyanya seraya menatap Chanyeol polos. "Seperti apa Ahjjusi?"

Chanyeol terkekeh mendengar celoteh polos itu, ah! mungkinkah baik-baik saja mencumbu bocah sepolos ini. Tapi... Ia terlanjur menodainya kala itu.

"Seperti yang kulakukan saat itu. Memasukkan cairan ke dalam tubuhmu" Jawabnya, masih mengingat bagaimana reaksi anak itu setelah keduanya bersetubuh.

Baekhyun kembali mengerjap, Ia ingat benar... bagaimana cairan putih pekat itu merembas keluar dari anusnya. Ya! Cairan yang bisa membuat hamil. Dan itu milik Ahjjusinya.

"Ah! Ahhjjusi..."Panggil Baekhyun tiba-tiba seraya beringsut mendekati telinga Chanyeol.

"Bagaimana jika Baekhyun nanti hamil?" Bisiknya sepelan mungkin.

Membuat tawa pria itu lepas seketika. "Ahahahaha!"

Tak pernah menduga, kekasih mungilnya selalu bertingkah penuh jenaka seperti ini. Ia menyukainya... sangat-sangat menyukai sisi polos bocah itu.

"itu tak akan terjadi.." Gumamnya masih dengan setengah terkekeh. Ia beralih membawa tubuh anak itu untuk kembali berbaring di ranjangnya.

"Waeyo?"

Sejenak... Raja Silla itu hanya memandang lekat wajah menggemaskan di bawahnya, lalu mencium lama keningnya. "Karena kau seorang anak laki-laki" bisiknya,sebelum akhirnya membawa kepalanya ke bawah mendekati anus Baekhyun.

Dan, anak itu hanya diam... sedikit raut kecewa memang terlihat darinya. Tapi melihat Pria itu menyentuhnya selembut ini, membuatnya kembali menghela nafas tenang.

.

.

.

.

"Buka kakimu lebih lebar.." Bisik Chanyeol begitu memposisikan kepalanya di antara dua kaki Baekhyun.

Anak yang masih menyilangkan kedua tangan di dadanya itu mengangguk patuh, lalu membuka kakinya lebih lebar untuk Chanyeol. Hingga pria itu benar-benar bisa menatap rektum yang telah berkedut basah di hadapannya.

Menjilatnya pelan dan sesekali melakukan gerakan menusuk ke dalam lubang anal itu.

"Mnn~ Ah!" Baekhyun hanya bisa memiringkan wajah dengan jari tergigit, saat lidah pria itu semakin bringas membuat anusnya benar-benar terasa lembab dan basah.

Chanyeol sedikit menggeram, ia tak puas dengan posisi seperti ini. Merangsangnya merengkuh paha anak itu, lalu menekuknya ke atas...

Membuat rektum bak kuncup mawar itu, semakin terpampang frontal di bibirnya.

"A-ahjjusii!" panik Baekhyun tak nyaman.

Tapi pekikkannya seakan tersedak, begitu pria itu kembali mencumbu rektumnya... menambah sensasi lengket yang lain di bawah sana.

"Uh!...nnnh~ Ahh—mmh"

Pikirannya serasa buntu, nafasnya pun seakan berat dan memendek...kala semua ilusinya hanya dipenuhi dengan aroma tubuh Baekhyun. libidonya tersulut dalam hitungan detik, dan Ia menyadari...reaksi hebat itu, hanya muncul saat dirinya menyentuh Baekhyun seperti ini.

Sesaat Ia menyeringai, sebelum akhirnya membuka bibir... membiarkan salivanya keluar dan menentes banyak mengenai rektum Baekhyun.

Lama Ia membiarkan cekungan kecil itu terisi penuh dengan ludahnya, menjadikannya pelumas untuk lubang yang terlihat sempit itu.

"Agh! AHH!" Pekik Baekhyun, begitu dua jari panjang dan besar itu melesak ke dalam anusnya.

Berulang kali bergerak keluar masuk, menghasilkan bunyi kecipak saliva di dalamnya.

.

.

"Ahh! nghh! AHJJUSII!" jerit Baekhyun, saat jari itu berhasil mengenai titik kejutnya.

Chanyeol berhenti, dan beralih mengecup bibir manis itu.

"Saatnya memasukkan milikku.." Bisiknya seraya menarik dua jarinya keluar.

Ia kembali membuka kaki Baekhyun, lalu memposisikan penis besarnya tepat pada bibir rektum yang telah basah akibat salivanya sendiri.

Satu dorongan kuat,

"A—AAAA—"

Dan anak itu mulai membusungkan dada, ia tau Baekhyun akan kembali menjerit kesakitan saat penetrasi itu. Tapi sebelum itu terjadi, Ia merunduk dan mencium cepat bibir anak itu. Membekap setiap jeritan yang mungkin melengking darinya.

"ARHMMHH! MMHH!" Benar saja, Baekhyun menjerit tertahan dalam pagutannya , kala dirinya tetap memaksa melesakkan sisa penisnya ke dalam. Membuat anak itu reflek mencakar punggungnya

Tak mengherankan Baekhyun masih menjerit kesakitan, karena memang baru dua kali ini ia menyetubuhinya.

.

.

"Mfhh...Mhhah!hks...HMMFH!"

Chanyeol membelai pipi halus itu, membujuknya untuk melepaskan tangannya dari bibir mungil itu.

"Buka matamu sayang.." Bisiknya masih dengan menggerakkan penis besarnya keluar masuk.

Baekhyun yang terhentak lemas itu hanya memandangnya pias. "Sa-kith! Ugh! hks... AHT!"

Raja Silla itu tersenyum tipis melihatnya, sedikit mengangkat pinggul Baekhyun lalu—

BLESH

Ia menghujam titik yang tepat, hingga membuat Baekhyun reflek menengadah dengan bibir terbuka lebar. "AHHH!"

"Kau akan menyukai ini... Sayang"

"NNAHH! AH!...Nn... Jusshi~ ACKHH!"

.

.

.

.

.

Decit ranjang masih saja terdengar, begitu setia mengiringi gerakan tubuh seorang pria kekar yang masih menggagahi bocah terlampau mungil di bawahnya.

Peluh keduanya merembas, membuat kebas ranjag marun yang kini menjadi peraduan keduanya.

"NNh~... AH!...nghh! aahh!"

"Menakjubkan Kkhh" Erang Chanyeol begitu klimaks ketiganya semakin mendekat.

Ia menguatkan hentakkannya, tak peduli lengkingan Baekhyun semakin memekakkan memenuhi kepalanya.

Satu gerakan penuh dan...

"Sssshhhh..." Desisnya nikmat, kala sperma panasnya kembali menyeruak ke dalam rongga perut itu.

"AHH! nnghh~ A-ahjuusii! P-perutku! AH! Mmmh~"

"Hn... ada apa dengan perutmu" Bisik Chanyeol masih menyentak banyak semennya.

"P-panas...ugh! P-penuh Ahjjusii...nnghh" Racau Baekhyun panik, sembari memegangi perutnya sendiri. merasa asing dengan semburan bertubi-tubi di dalam perutnya.
"Karena kau menerima spermaku" Bisik Chanyeol, sambil menggigit mesra leher Baekhyun. Membiarkan penis besarnya, puas menyentak sarinya ke dalam tubuh anak itu.

"A—Ah! .. Ahjjusii"

.

.

.

.


Esoknya...

PLAKKK

"Ah!"

Wanita muda itu jatuh tersungkur begitu tamparan keras Ibu Suri benar-benar mengenai wajahnya.

"I-Ibu—

"BERANINYA KAU BERSIKAP LANCANG!" Teriak Heechul semakin meradang, tak terima wanita itu menuduh putranya sendiri menjalin hubungan terlarang dengan seorang anak yang dikenalnya.

Seulgi bangkit merangkak dan memeluk kaki Heechul , tak peduli tatapan masam dari beberapa dayang di sekitarnya.

"Tapi Ibu, aku melihatnya dengan mata dan kepalaku sendiri. Ibu harus percaya kepadaku. Ku Mohon Ibu" Mohon Seulgi, semakin memeluk erat kaki Ibu Suri itu.

"Lepaskan! Dan jangan menyentuhku dengan bualanmu!" Hardik Heechul seraya menghentak kaki, membuat pegangan Seulgi terlepas begitu saja.

"Aku lebih mempercayai putraku dibandingkan dengan benalu sepertimu!" Sentaknya, sebelum akhirnya melangkah menghentak kaki meninggalkan wanita muda yang masih terjerembab itu.

.

.

.

Sejenak, Ratu yang tertunduk itu terlihat menyeka rembasan air matanya. Namun terlihat palsu begitu senyum liciknya terulas tajam dari bibir penuh gincu itu. "Benalu kau bilang?" gumamnya sinis saat melirik pintu yang telah terutup rapat.

"Lihat... sampai kau menyadari rahasia busuk di antara Putramu dan bocah itu. Apa kau masih bernyali meremehkanku... wanita tua?" Desisnya seraya bangkit berdiri, dan menyingkirkan beberapa helai rambut yang menjuntai di pipinya.

"Siapa yang benalu. Aku... ataukah bocah itu?"

.

.

.


Amarahnya yang meradang itu membuat , langkahnya menghentak tak tentu. Heechul tau... seharusnya tak memikirkan ucapan itu terlalu berlebih. Karna Ia mengenal dengan baik Putranya sendiri. tapi tetap saja... kalimat Seulgi seakan tak pernah lekang melekat dalam benaknya.

Tidak! Tidak!

Channyeol tak pernah mengecewakannya! Ia Ibunya dan Ia yang paling mengenalnya dengan baik. Terlebih anak itu.

Ia telah menganggap Baekhyun lebih dari sekedar cucunya sendiri. Dan perlakuan khusus Chanyeol pada anak itu, tak lebih dari sekedar sikap kasih seorang ayah pada putranya. Ya! Chanyeol tak pernah mengecewakannya barang sedikitpun .

"Dayang Song" Panggil Heechul pada seorang dayang yang sedari tadi setia mengikutinya.

"Ah ye... Yang Mulia"

"Aku ingin menuju Istana utama" Ujarnya sembari menghela nafas. Semua amarahnya membuatnya rindu ingin melihat Chanyeol dan anak itu. Hanya mereka yang bisa membuatnya tenang.

"Baik Yang Mulia" Jawab dayang itu sebelum akhirnya memohon diri, memanggil para dayang yang lain untuk mengawal Ibu Suri itu.

..

.

.


"Hks!"

Rengek Baekhyun seraya menggulingkan tubuh Kesamping, sama sekali tak ingin meihat dayang muda itu. Kala dirinya kembali dibuat kesal dengan Je Ni yang memaksanya menyuapkan makanan untuknya

"Oh Jebal! kemarin kau hanya memakan buah persik saja Tuan Muda, kumohon sekarang makanlah" Bujuk Je Ni lagi seraya berjalan ke sisi ranjang yang lain, tak menyerah hingga Tuan muda kecilnya itu melahap makan paginya. Tapi Baekhyun kembali menggeleng dan mendorong-dorong makanannya menjauh saat mencium aroma makanan itu.

Entahlah itu benar-benar membuatnya mual.

"Ngh! Aku tidak mau!" rengek Baekhyun semakin menjerit.

"Baekhyun?"

Je Ni berjengit dan membungkuk dalam, begitu Ibu Suri itu tiba-tiba datang dan melangkah masuk.

"Mengapa anak ini di sini?" Tanyanya heran, Chanyeol memberinya paviliun khusus. dan melihatnya tidur di sini tentu sangat tidak biasa.

"Ah... Karena Tuan Muda tengah sakit, Yang Mulia Raja menginginkannya untuk merawatnya di sini"

"Sakit?"

Heechul mendadak berjalan tergesa mendekati Baekhyun, dan betapa terkejutnya ia kala merasakan suhu tubuh anak itu sangatlah tinggi.

"Baekhyun, kau demam nak?"

"Ngh~ Hal—meoni" Rajuk Baekhyun begitu melihat Heechul. Ia beringsut-ingsut memeluk perut wanita itu lalu menyusupkan kepalanya yang berat ke dalam rangkulannya.

Membuat Ibu Suri itu berdecak tak tega melihatnya, lalu mengecup pelan puncak kepala Baekhyun "Sssh Gwaenchana Chaggi" Bisiknya menenenangkan.

"Ambil kain dan air hangat untukku"Titahnya pada dayang muda itu, berniat meredakan panas tubuh Baekhyun.

"Baik Yang Mulia.."

.

.

.

.


Sementara itu di tempat lain...

.

.
"Apa yang ingin kau sampaikan?" Raja Silla itu terlihat tenang menyesap teh herbal dalam cangkir gioknya, menunggu pemuda di hadapannya menyampaikan maksud awal dari kedatangannya, tentu dengan senang hati Ia menyambut pemuda kepercayaannya itu.

Sehun terlihat menghela nafas riskan. tapi rasanya terlalu beresiko jika ia menyembunyikan nya terlalu lama. Siapapun tak akan tau... pergerakan macam apa yang akan Namjoon lakukan setelah ini.

Dan seseorang harus menghentikannya.

"Apa yang kusampaikan, berhubungan dengan Yang Mulia Ratu"

Chanyeol mengernyit. "Seulgi?"

"Sesuatu yang harus kau ketahui dari—

"Yang Mulia... Tabib Choi ingin bertemu dengan anda" Seorang Pengawal tiba-tiba menyela, menarik cepat perhatian Chanyeol. Karena memang... Ia sangat menunggu kedatangan tabib silla itu.

"Bisakah kita lanjutkan ini nanti?"

"Baik Hyung" Gumam Sehun, lalu mengawal Chanyeol menghampiri Tabib itu.

.

.

.

.

"Kau datang dengan jawaban itu?"

"Ah Ye..Yang Mulia, kami akan memastikannya hari ini" Tabib paruh baya itu membungkuk sungkan, namun tetap berjalan mengikuti langkah panjang Raja silla di depannya.

.

.

"Baik... masukla—

Chanyeol stagnan, begitu membuka pintu kamarnya dan melihat Ibunya tengah merengkuh Baekhyun di dalam sana.

"Ibu di sini?" Gumamnya sedikit was-was, hendak menyembunyikan kedatangan beberapa tabib di belakangnya itu.

Heechul yang kala itu tengah menyeka tubuh Baekhyun dengan handuk hangatnya, berdecak dan beralih menatap Chanyeol kesal.

"Chanyeol~ah, mengapa kau tak mengatakan apapun jika Baekhyun sakit? Ah! Di belakangmu itu, bukankah tabib Choi?"

Ah! mustahil menyembunyikannya. Ibunya terlanjur di sini dan melihat kedatangan tabib-tabib itu.

"Mohon ampun Yang Mulia, jika kedatangan kami kurang tepat. Kami akan kembali di hari—

"Tidak... Tidak, tentu saja kau datang di waktu yang tepat Tabib Choi. Masuklah... dan sembuhkan anak malang itu" Ujarnya setengah mengiba, bermaksud bercanda.

Sang Tabib hanya diam, tampak ragu ingin melangkah. Sejak di awal, Ia hanya mengharapkan Sang Raja saja yang mengetahui perihal maksud kedatangannya kemari.

Ia beralih mendekati Chanyeol. "Yang Mulia Raja, sepertinya semua ini terlalu riskan. Lebih baik kami memberi jawaban itu saat—

"Jawaban?" Tapi Sayang, Heechul mendengarnya. "Jawaban apa yang kau maksud?" Tanyanya penuh selidik.

Chanyeol berdecak, sebenarnya tak masalah membiarkan Ibunya tau perihal penyakit yang diderita Baekhyun. Mengingat, wanita itu sangat menyanyanginya. Tapi raut tabib itu, seakan menunjukkan... isyarat yang lain.

"Ibu... sebaiknya Ibu kembali, dan biarkan tabib Choi—

"Tidak! Aku tetap di sini dan melihat apa yang dilakukan Tabib itu. Dan apa maksud jawaban yang kalian bicarakan di sini?" Tegas Heechul seraya mendudukkan dirinya di sisi ranjang Baekhyun. Merasa sesuatu tengah disembunyikan tabib itu di sini.

"Tak apa, biarkan Dia tau" Ujar Chanyeol, masih belum mengerti hal pelik macam apa yang tengah diisyaratkan tabib itu.

"Tapi Yang Mulia—

"Ibuku menyanyaginya, kurasa Ia berhak tau.. apa yang terjadi pada anak itu"

Tabib Choi menghela nafas pasrah, jika Raja sendiri yang memintanya demikian. Lalu Ia bisa apa? selain melaksanakan segala titahnya.

.

.

.

"Lakukan denga hati-hati, jangan menyakitinya" Ujar Heechul dengan tangan bersidekap, namun sesekali ia mengelus pelan...kepala anak yang telah tertidur itu.

"Baik Yang Mulia" Ujar tabib Choi seraya memberi isyarat pada rekannya yang lain untuk melepas pakaian Baekhyun, dan hanya menyisakan sehelai kain yang menutupi organ vital anak itu.

Sementara Sehun, terlihat berjalan mendekati Chanyeol

"Hyung, tidakkah kau membaca raut tabib itu?" bisiknya mengingatkan. Entahlah, Ia seperti merasa Tabib itu ingin melindungi Chanyeol dari suatu yang genting, terlihat dari bagaimana cara Ia mengulur waktu kala melihat Heechul.

Chanyeol mengernyit, dan menatap tajam pria paruh baya yang masih menjalankan tugasnya itu.

"Biarkan Dia menyelesaikan tugasnya" Gumam Chanyeol, dan Sehun hanya mengangguk menyetujuinya.

.

.

"Tunggu! haruskan membuka pakaiannya seperti itu?! anak ini hanya demam!" Protes Heechul tak terima melihat Baekhyun terbangun dan ketakutan kala para tabib itu, menekan beberapa titik aku puntur di tubuhnya.

"Bisakah Ibu tenang dan melihatnya saja?" Tegas Chanyeol, tentu Ia tak menginginkan Ibunya itu mengacaukan semua konsentrasi tamu pentingnya.

"Ugh!" Baekhyun berjengit, begitu tabib itu menekan perutnya... memejamkan mata, seolah seperti mencari-cari sesuatu di dalamnya.

hingga beberapa saat setelahnya tabib itu terbelalak, lalu meminta rekannya yang lain untuk memastikannya. Reaksi yang sama...Ia mengangguk pasti, membenarkan apa yang mereka yakini.

.

.

.


"Kau bisa menyimpulkan jawaban itu sekarang?" Ujar Chanyeol penuh penekanan,

Tabib Choi sempat melirik ketiga rekannya yang lain, dan begitu mendapat anggukan pelan. Ia mulai bernyali menatap Chanyeol.

"Kami telah menyimpulkannya... dan sepenuhnya memahami dengan apa kami kerjakan Yang Mulia"

"Baiklah... apa hasilnya?" Tukas Chanyeol tak ingin bertele-tele.

.

.

"Tuan Muda Baekhyun—

Tabib itu kembali melirik kesekitar, entahlah akan menjadi lebih baik atau tidak setelah ini.

"Tengah mengandung"

.

.

Hening... tak satupun terbangun dari rasa terkejut itu, kecuali debaman meja yang membanting tubuh seorang wanita.

BRAKKK

Seperti tertikam lecutan tajam. Ibu Suri itu semakin melemas dan tergagap di bawah lantai yang dingin itu. ('Y-yang Mulia Raja menjalin hubungan dengan anak itu. Aku melihatnya dengan mata dan kepalaku sendiri Ibu')

Terbekap dan dihantui ucapan yang semestinya sama sekali tak dipercayanya.

"I-ibu" Chanyeol yang tersadar, bergerak cepat merengkuh tubuh Ibunya.

"A-andwae! K-katakan...Tabib itu hanya membodohiku! Chanyeol~ah katakan Tabib itu bercanda!" Racau Heechul seraya menangkup pipi Chanyeol.

"Baekhyun seorang anak laki-laki" Racaunya lagi, terkekeh hambar. "Baekhyun tak mungkin memilki rahim! Chanyeol~ah...katakan pada Ibu, semua itu tidak benar!"

"Ibu... tenanglah" Bisik Chanyeol seraya mendekap tubuh wanita itu.

Tapi Heechul mengelak, masih ingin menangkup wajah putranya. "D-dan kau tak mungkin menjalin hubungan dengan anak itu. Ibu mempercayaimu. Katakan Chanyeol~ah Tabib itu hanya bermain-main dengan ucapannya"

Ya... semestinya Ia meyakini apa yang diyakininya. Tapi mengapa dadanya terasa begitu sesak hingga air mata itu yang mulai merembas dari pelupuknya. Semuanya seakan meremas ulu hatinya, kala Raja Silla itu hanya diam tanpa mengucap apapun.

"Mengapa kau hanya diam?! Jawab Ibu Chanyeol!"Jeritnya tak terkendali

"JAWAB! Nggh~" Hingga tiba-tiba saja Ia melunglai lemas...dan jatuh tak sadarkan diri.

"I-Ibu?!"

.

.

.

.

.

.

"Hks!"

Baekhyun mengedarkan pandangan bingung. Apa yang terjadi pada semua orang?

"Sshh.." Je Ni bergerak cepat, memeluk tubuh mungil itu

"Aku takut... Je Ni"

"Gwanchana... Berhentilah menangis"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

To Be Cont~~~~~~~

.

.

POST ulang, Tiba-tiba lenyap T_T

Jika contentnya terlalu vulgar, mohon maaf sekali

.

.

Halooohaaa... HAPPY BAEKHYUN DAAAAAYYY

Gloomy datang lagi, bawa Chapter 8 nyaa...

OMG...terkuak sudah T_T

Hiks...bagaimana nasib Baekhyun setelah Ibu Suri Tau? (Sengaja ga kasih spoiler hehehe)

*Iyah Je Ni blackpink kkk~

*Silahkan invite IG Gloomy = Gloomy_rosemary

Okk... mau lanjut next chap?

Atau saya lanjutin Blood on A whit Rose ch 11 dulu?

*Reviiew neeeee... ga review, gloomy tidak mau update huhuhu

Dan seperti biasa, gloomy akan mencantumkan setiap nama reviewer di chap sebelumnya, untuk:

Asandra735 , LightPhoenix614 , Dian Rizky226, Flowerinyou , realbyuneexo , restikadena90, CussonsBaekby, 90Rahmayani , MadeDyahD , minchanbaek , LOVECHBA6104, inchan88 , Byunsilb , LyWoo, LUDLUD , Shengmin137 , AlexandraLexa, daeri2124 , baekpie461 , Cxxxxy , Tiara696, , knightwalker314, Glowy'sBae c, metroxylon, mphi , e-elia, Park RinHyun-Uchiha, Salsa764 , yousee , Eun810 , , moontae, EXO Love EXO, Candra, CHANBAEK, Yeollibaek, xiuminnie09 , Chanbaek Numero Uno , Azurekkaka, meliarisky7, Adndpwh , Hest CHY , donggo, chan92, MinJ7 , Baek13erry , nura0929 , selepy, aruni bukan arumi , Mr Loey , vkeyzia23 , byunbaekra, anuchanyeoltegan, BananaOhbanana , Gloria D Fenni , intantriayuni, lee da rii , fttrn, n3208007, dwi yuliantipcy c, sjkmcb, Fallingforyeol, myzmsandraa99 , inspirit7starlight , Baek04 , yehethun , minami Kz, Macchiato Chwang , pongpongi , viantika, xiaolu, rimaaaa , CY PARK, PRISNA CHO , isans1, narsih hamdan , Lussia Archery , shin rae s , Parkbyun-ssi , babybyunbee , Keiko Yummina , Anisya Kinanti , uwti , babybaek, Zyumi , jffaith, myliveyou , dan All Guest

Gomawoooooo sudah mereview di chap kemarin

Saraaaaanghhhhhhhaeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee

Annyeeeeeooooongggggggggg