Game On

.

Characters belong to Masashi Kishimoto.

.

This Is SasuHina Story!

Alternative Universe! Out Of Character! Typical Errors!

You've been warned!

.

And please note that I already got you warned that anything can happen.

.

Inspired by an romance-action novel yang saya lupa judulnya T.T

.

.

.Hinata merasa seluruh darah di tubuhnya naik memenuhi kepalanya, menulikan telinganya, membuat sekitarnya terlihat berputar. Fokusnya masih kepada Neji. Di mata Hinata, pria itu terlihat begitu berbeda namun tetap sama seperti Neji yang ia ingat. Tapi tidak, pria itu bukanlah Neji yang ia kenal. Ia bukan lagi Neji yang Hinata tahu.

"Aquila," suara berat Sasuke menginterupsi keheningan mencekat yang tercipta. "Alias Hyuuga Neji. Tangan kanan bos obat-obatan terlarang yang terkenal, Caligo atau Kawano Adrian," sambungnya tajam dengan mata berkilap.

Sasuke masih terlihat tak terancam, ia tak mengangkat senjatanya meskipun empat pria termasuk Neji tadi telah mengarahkan pistol ke arahnya. Neji sendiri tak begitu fokus kepada pria itu. Ametisnya menatap iris Hinata yang serupa dengannya, begitu pun Hinata yang masih tak bisa memalingkan pandangannya.

"Apa-apaan ini?" tanya Neji lagi, tak mengerti situasi yang mendadak terjadi.

"Ini?" Sasuke menjawab angin-anginan. "Ini adalah sebagian babak di mana kau akan mati tragis," tambahnya dibarengi kekehan kecil, seolah ia tak benar-benar tengah melayangkan ancaman mematikan.

Mendengarnya membuat Hinata sontak menoleh ke arah Sasuke. Ia memandang mata hitam itu, mencoba membacanya. Oniks itu berkilap, terlihat marah. Bahkan murka.

"A-apa yang akan kau... lakukan, Sasuke?" Hinata benar-benar memaksakan lidahnya bergerak untuk mengeluarkan pertanyaan itu. Suaranya terdengar seperti bisikan, dan parahnya juga bergetar.

Sasuke tak menjawab, manik kelamnya masih lekat menatap Neji, seakan hanya mereka berdua yang ada di ruangan ini. Hening itu kemudian terpecah oleh tawa Neji yang keluar tanpa Hinata tahu apa sebabnya.

"Kau tahu, Hinata. Aku tidak pernah menyangka kita akan bertemu lagi dalam situasi seperti ini," Neji menurunkan tangannya yang semula menodongkan senjata. Ia mengambil langkah mendekat yang membuat tubuh Hinata gemetar hebat. Tiga orang lainnya masih mengarahkan mulut pistolnya ke arah Sasuke. "Rasanya aku merindukanmu," sambung Neji tanpa menghentikan langkahnya.

"Aquila, siapa mereka?" salah satu dari ketiga orang itu bertanya dengan nada geram.

"Gadis manis itu... sepupuku," jawab Neji dengan seringai tipis. "Dan satunya lagi, aku tidak tahu."

"Sasuke, ayo pergi," Hinata meraih lengan Sasuke, memohon dengan suara bergetar, namun pria itu malah melangkah maju, semakin melipat jarak dari Neji yang juga mendekat.

"Lepaskan senjatamu, atau aku akan memaksamu melepasnya," desis Neji kepada Sasuke yang malah berefek pada Hinata.

"Tidak bisa. Aku membutuhkan ini untuk membunuhmu, bukan?" Sasuke menjawab dengan kebencian yang kentara di tiap katanya.

"Wah," Neji kembali tertawa, ia kembali menatap Hinata. "Biar kutebak, paman Hiashi menyuruhmu bergabung di pasukan kecilnya, bukan? Dan dia ini... rekanmu?" Neji melirik Sasuke. "Apa yang kau coba lakukan, Hinata? Balas dendam terhadapku?" tanyanya enteng.

Hinata ingin sekali lari dari sana, tapi ia merasa kakinya membatu, tak dapat digerakkan.

"Aquila, kurasa mereka tidak main-main," salah satu rekan Neji berkomentar, memprotes tingkah Neji yang masih terlampau tenang.

"Biarkan mereka mencoba apa yang ingin mereka lakukan," balas Neji tanpa melepaskan pandangan dari Sasuke.

Salah satu rekan Neji berdecak kemudian melempar tatapan tajam ke Sasuke. "Apa mau kalian?!"

"Kukira sudah jelas, bukan? Untuk membunuhnya," Sasuke baru mengacungkan pistolnya, namun hanya sekedar dalam gestur menunjuk ke arah Neji.

"Jika kau berniat membunuhnya, kau harus mencari cara untuk menyingkirkan kami terlebih dahulu!"

Sasuke berdecih rendah kemudian dalam hitungan detik, tiga peluru meluncur dari senjatanya. Dua di antaranya berhasil menembus dua kepala di ruangan itu bahkan sebelum mereka sempat menarik pelatuk pistol mereka. Satu rekan Neji yang tersisa sempat meluncurkan peluru yang masih sempat Sasuke hindari sebelum menyusul kedua temannya dengan timah panas di kepala.

Kejadian yang terjadi tak lebih dari sepuluh detik itu membuat napas Hinata seolah makin terampas. Agak tak percaya dengan kecepatan yang Sasuke sajikan. Keterpukauannya seketika hancur saat ia mendengar dua letusan pistol lagi.

Dilihatnya Neji melepaskan satu pelurunya, namun bidikannya meleset karena rasa kejut di bahunya yang dibuat oleh bidikan Sasuke.

"Neji!" Hinata tanpa sadar berseru histeris namun tak bisa membawa diri untuk mendekati pria itu. Namun begitu, Hinata tetap dapat melihat darah merembes pada kain di bagian bahu Neji. "Tidak! Sasuke, jangan!" serunya lagi saat ia menyadari Sasuke tengah mengarah ke Neji dengan cepat.

Sasuke mengangkat kaki kirinya untuk ia hantamkan ke tangan Neji yang menggenggam senjata, membuat pria itu melepaskan paksa senjatanya. Kemudian tanpa membuat jeda, ia kembali melayangkan kaki kanannya, menghantamkan dasar sepatunya di dada Neji dan membuat pria itu terdorong hingga hilang keseimbangan.

Neji merintih kecil, hanya sebentar kemudian ia mengeluarkan kekehan geli. Tanpa mengangkat tubuhnya dari posisi terlentang, ia melirik Sasuke dan menyeringai ke arahnya. "Tembakanmu meleset," ujarnya.

Sasuke mendekat dan berjongkok dengan satu lutut sebagai tumpuannya di sisi Neji. Moncong M9 di tangannya yang tinggal menyisakan satu butir peluru di dalamnya ia telankan di tepi bibir Neji.

"Aku tidak pernah meleset," balasnya tajam sebelum menarik kembali senjatanya menjauh dari wajah Neji. Sasuke berdiri, namun satu kakinya ia jejakkan di dada Neji, mencegah pria itu untuk bangkit. Disodorkannya M9 yang ia genggam ke arah Hinata. "Habisi dia," Sasuke memandang Hinata yang masih pucat pasi lewat ujung matanya.

Mata Hinata melebar penuh rasa takut, ia menatap Sasuke tak percaya. Benaknya mempertanyakan apa maksud sebenarnya pria itu.

"Hinata," Sasuke kembali memanggil nama Hinata, salah satu kodenya agar wanita itu cepat mengambil alih senjata di tangannya.

"Tidak!" cetus Hinata cepat. "Tidak, Sasuke! Aku... aku... tidak akan..." tolaknya dengan suara bergetar.

Sasuke yang sepertinya tak menyangka akan mendengar penolakan itu seketika mendelik tak suka. "Lakukan, Hinata! Karenanya kau kehilangan kehidupan normalmu beberapa tahun ini!" murkanya, tak mengerti dengan apa yang Hinata pikirkan.

Tawa Neji kembali terdengar di tengah ketegangan yang dibuat Sasuke dan Hinata. "Kau masih mencintaiku, Hinata," ujarnya dengan tawa cemooh.

Sasuke menggertakkan giginya, kakinya lebih menekan dada Neji. Oniksnya kemudian menatap Hinata nyalang. "Kau tidak mau membunuhnya?!"

"Tidak, kumohon, Sasuke," air mata Hinata kini tak lagi bisa dibendung, ia menatap Sasuke balik dengan pancaran memohon. "Apa yang kau pikirkan? Aku tidak menginginkan ini, aku bahkan tidak ingin menemuinya lagi. Apa yang membuatmu berpikir aku menginginkan balas dendam terhadapnya?"

Tangan Sasuke kembali bergerak, tak lagi menyodorkan pistolnya ke Hinata. Namun bukan melepas Neji, ia malah mengarahkan langsung mulut pistolnya ke kepala Neji, mengabaikan permintaan Hinata.

"Bunuh aku, dan Caligo akan memburumu," Neji memperingatkan tanpa perlawanan.

Sasuke masih menatap Hinata, tatapan matanya begitu dingin. Hening menjerat untuk beberapa saat sebelum Sasuke bersuara. "Aku akan menunggu saat itu," Sasuke bergumam menyahut Neji sebelum melepaskan peluru terakhirnya kepada Neji, masih dengan oniks yang tak meninggalkan sosok Hinata.

"Neji!" teriakan Hinata menggaung di ruangan itu.

Segalanya begitu jelas namun begitu kabur dalam waktu yang bersamaan di pengelihatan Hinata. Seketika, seluruh bagian tubuhnya melemas, berbanding terbalik dengan kerja jantung dan aliran darahnya yang terasa semakin cepat.

Hinata menatap Neji yang kini sama sekali tak bergerak. Bagaimanapun, tidak ada hal yang menyenangkan yang bisa didapatkan ketika melihat orang yang pernah menjadi bagian penting di hidupnya meregang nyawa dengan cara yang teramat kejam seperti itu.

Tanpa aba-aba, Hinata mundur dua langkah sebelum berbalik dan berlari meninggalkan tempat itu.

..

...

..

Hinata tak membenci Neji. Ia tak bisa membenci pria itu. Neji memang pernah melukainya, namun tak pernah sedikit pun Hinata menginginkan untuk melihat Neji dibunuh seperti itu. Dan sekarang, rasanya Hinata tak bisa menyingkirkan kejadian berdarah itu dari dalam otaknya.

Sasuke tahu trauma yang dialami Hinata. Namun pria itu tetap melakukan semua ini. Apa yang Sasuke lakukan agaknya membuat Hinata menyesal telah menganggap pria itu memiliki kebaikan di dalam dirinya. Membuat Hinata lagi-lagi kembali memandang pria itu sebelah mata sebagai seorang pembunuh yang kejam.

Tapi kenapa Sasuke melakukannya? Apa karena Hinata? Apa karena pria itu begitu peduli kepada Hinata hingga mampu melakukan itu semua? Namun bukankah banyak cara untuk menunjukkan kepedulian itu.

Memaksa Hinata menyaksikan seseorang yang penah ia cintai mati mengenaskan sama sekali bukan hal yang bisa dibenarkan. Hinata tetap menganggap apa yang Sasuke lakukan merupakan hal yang sulit untuk termaafkan, itu pun jika mungkin bisa dimaafkan.

Setelah menghabiskan seharian untuk menghindari Sasuke, akhirnya Hinata memutuskan untuk kembali ke flat dengan mata sembab dan jiwanya yang seolah kosong. Ia tak tahu harus bagaimana dirinya saat bertemu dengan Sasuke lagi.

Terakhir kali Hinata melihat Sasuke, pria itu seolah merupakan orang lain yang tak ia kenali. Hinata masih tak mempercayai bahwa itu adalah pria yang sama yang beberapa hari terakhir selalu menemani harinya. Semakin Hinata memikirkannya, semakin ia berpikir.

Bahwa apa yang didengarnya benar. Bahwa yang orang-orang katakan benar.

Bahwa Sasuke nyaris tak berbeda dengan monster.

Dengan keraguan besar, Hinata membuka pintu. Ia melihat Sasuke di ruang tengah dengan tubuh berlapis peluh, melakukan push up rutinnya. Saat pria itu menyadari kehadiran Hinata, ia seketika berdiri sambil menormalkan aliran napasnya. Hinata menahan diri untuk tak mundur saat pria itu mendekat. Namun saat jarak Sasuke tinggal tiga langkah darinya, tubuh Hinata lebih terpengaruhi oleh rasa takutnya hingga membuatnya mundur selangkah. Hal itu sontak membuat Sasuke berhenti.

Oniks Sasuke menatap tajam wajah Hinata yang menunduk. "Kau masih mencintainya," desisan rendah Sasuke lebih terdengar seperti umpatan. "Kau tetap tidur denganku saat kau tak merasakan apapun terhadapku!" kelanjutan kalimat Sasuke sukses membuat mata Hinata melebar.

Hinata terdiam beberapa saat, mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya untuk sekedar berbicara. "Begitukah menurutmu? Itukah alasan kau membunuhnya?" tanya Hinata pelan. "Kau berpikir aku mencintainya?"

"Yang kukatakan tidak salah, kan?" Sasuke membalas dengan mudah.

Hinata mengangkat wajah, akhirnya mampu menatap pria di hadapannya. Bibirnya terbuka dan tertutup tanpa kata beberapa kali sebelum ia benar-benar bersuara. "Kau monster, Sasuke," tudungnya rendah.

Sasuke berkedip, agaknya tiga kata itu membuatnya tertegun, namun ia tak sampai memperlihatkan kejut yang ia rasa. "Kau baru menyadarinya?" balas Sasuke di sela gemeletuk giginya. "Tapi baguslah kalau begitu, karena pada akhirnya kita sama-sama menyadari sesuatu," jeda sebelum Sasuke melanjutkan bicaranya. "Bahwa bagimu, aku tidak lebih dari seorang monster. Dan bagiku, kau tidak lebih dari sebuah fantasi bodoh."

"Neji sama sekali tak ada hubungannya dengan kita! Apa kau pernah membayangkan bagaimana tindakanmu itu berefek padaku?!" sanggah Hinata.

"Dia pantas mati!" Sasuke berteriak.

Dua pasang manik dengan warna kontras itu saling terhubung, seolah berkomunikasi tanpa kata.

"Kupikir kau hanya membunuh karena perintah," suara lemah Hinata merambati udara. "Tapi ternyata kau juga membunuh karena balas dendam?" nada bicaranya terdengar sedih.

"Ya. Karena rasanya sangat menyenangkan," Sasuke menyeringai. "Sama seperti saat aku membunuh orang tuaku dulu."

Hinata terkejut dengan apa yang didengarnya. "Kau... apa?"

"Kau tidak tahau apapun tentangku, Hinata," tanpa memberikan jawaban yang pas, mata Sasuke memicing tajam. "Kau tahu, Hinata? Seharusnya aku memang tidak boleh merasakan apapun, seharusnya aku sejak awal melawan obsesiku terhadapmu. Di sini kita adalah agen senior dan junior."

"A-apa maksudmu?"

Sasuke kembali mendekati Hinata, hingga begitu dekat sampai dada mereka hampir bersentuhan. "Kita selesaikan misi ini, setelah itu kita akhiri semuanya."

..

...

..

"Kita akan terperangkap di ruangan ini selama tiga jam," Rose mengatakannya dengan bersemangat tangannya menunjuk-nunjuk seperangkat rangkaian komputer yang mengatur sistem keamanan gedung itu.

"Acaranya masih lima hari lagi. Kenapa kita sudah harus memeriksanya sekarang?" tanya Hinata.

"Kau memangnya tidak dengar?" Jim, salah satu yang juga bertugas untuk mengawasi kongres, bersuara. "Kita bukan hanya mengecek keamanannya sekarang, tapi mulai sekarang. Selama lima hari hingga acara berlangsung. Karena mereka bilang acara ini sangat penting dan... privat."

Hinata hanya mengangguk ringan. Tentu ia tahu soal pertemuan yang akan digelar ini. Ia hanya tak menyangka keamanannya akan disiapkan begitu dini.

"Apa saja yang harus aku lakukan nanti?" tanya Hinata lagi.

"Tidak banyak, mengingat kau anak baru di sini," jawab Rose tanpa sedikitpun berniat melecehkan. "Saat malam acara berlangsung, kau akan ikut berjaga di sini, mengawasi area 2D7."

"Lalu kalian? Apa kalian juga... akan di sini?"

"Tentu," Jim membenarkan. "Aku sendiri mengambil untuk bagian lantai utama," ujarnya bangga sebelum berdiri.

Diam-diam Hinata menelan liurnya. Tidak. Bagaimanapun ia tak boleh menganggap siapa pun, termasuk Jim dan Rose sebagai teman. Ia tidak boleh membuat perasaannya sendiri terbebani saat nanti pada akhirnya ia harus menyelesaikan misinya yang juga berpotensi membunuh mereka.

"Untuk sekarang, kau hanya perlu memastikan semuanya berfungsi baik," ujar Rose ramah. "Dan kau sudah tahu bukan apa yang harus kau lakukan jika ada sesuatu yang janggal terlihat?"

Hinata mengangguk lagi. Ia kemudian menyandarkan punggungnya ke kursi, memandang monitor dengan tatapan kosong. Rose bilang dia hanya perlu mengawasi area 2D7 sebagai pekerjaan pemulanya. Batinnya mencemooh, jika saja mereka tahu bahwa Hinata berencana meledakkan seluruh bagian gedung. Yang berisi hampir dua ratus orang di dalamnya.

Hinata menghela napas, menggeleng pelan. Ia tidak boleh bersimpati. Orang-orang itu bekerja untuk Akatsuki. Jika Hinata ragu sedikit saja, ia akan gagal dan Akatsuki akan terus berkembang. Menghancurkan kongres kali ini akan menghancurkan sebagian dari Akatsuki. Tapi bagaimana dengan petugas kebersihan juga keamanan yang dipekerjakan? Apa mereka juga bersalah?

Hinata mencoba menyingkirkan beban pikirannya itu. Ia menegakkan diri, melirik ke arah pintu kemudian memfokuskan diri pada komputer di hadapannya setelah memastikan keadaan aman. Dengan beberapa kode retas yang ia dapatkan, ia mengakses seluruh kamera yang aktif di gedung itu.

Tidak ada yang diperbolehkan menelusuri gedung itu bahkan sejak dua Minggu sebelum kongres dilaksanakan, itu membuat Hinata tak sempat mengamati lebih jauh medan misinya. Namun dengan posisi barunya ini, tentu ia tak perlu berkeliling gedung untuk mengamati hal-hal yang ia butuhkan.

"Dua di timur dan tiga di selatan," Hinata bergumam, ametisnya begitu fokus. Jika lantai dasar diledakkan terlebih dahulu, artinya mereka harus cepat untuk keluar sebelu seluruh gedung runtuh. Hinata menimbang-nimbang banyak hal untuk memilih titik keluar. Tingkat penjagaan, akses yang diperlukan, kemungkinan jangkauan dan lainnya hingga akhirnya ia memutuskan. "Pintu keluar 3K4," gumamnya lagi pada diri sendiri.

..

...

..

Saat Hinata memasuki flat, ia sudah disambut dengan sosok Sasuke yang duduk di lantai, ditemani berbagai peledak di sekelilingnya. Hinata dengan cepat kembali menutup pintu dan menguncinya. Ia melangkah kecil mendekat kemudian berjongkok, sekedar mengamati beberapa rakit peledak di jangkauannya.

Namun kegiatannya itu terhenti saat Sasuke tiba-tiba melempar tatapan tajam tanpa kata ke arahnya. Hinata menarik kembali tangannya dari rakitan yang ia sentuh, menebak mungkin Sasuke salah mengiranya sedang memeriksa ketepatan rakitan pria itu. Padahal Hinata tahu jelas Sasuke pastinya ahli dalam merakit bom lebih dari siapapun.

"Mereka tiba pagi ini?" Hinata bertanya, namun Sasuke hanya kembali sibuk dengan rakitan selanjutnya.

Sudah sekitar seminggu Hinata dan Sasuke tidak saling berbicara tanpa salah satunya melempar cercaan atau merendahkan yang lainnya. Hinata benar-benar mencoba untuk tidak memperbesar perselisihan mereka, namun upayanya tidak berarti karena Sasuke malah seperti terus memancing cekcok di anatara mereka.

Tiga hari silam mereka kembali membuat keributan besar, setelah itu Hinata memutuskan untuk diam, tak sedikit pun berusaha menjangkau Sasuke. Dan baru hari inilah Hinata kembali buka mulut untuk sekedar berkomunikasi dengan Sasuke .

Belakangan Sasuke juga disibukkan dengan segala uji coba untuk bisa masuk ke tim keamanan tambahan pada saat kongres nanti. Dan saat ia kembali, pria itu langsung menjatuhkan diri dan menutup kesadarannya menuju alam mimpi.

Hinata agak tak menyangka Sasuke bisa seegois ini setelah apa yang mereka lalui bersama beberapa Minggu terakhir. Hinata mau saja memaafkan Sasuke, namun pria itu terlihat seperti tak ingin dimaafkan. Malah, Sasuke bertindak lebih brengsek dari sebelumnya dan terus mendorong Hinata menjauh.

Hinata berpikiran mungkin mereka sama-sama butuh waktu. Tapi jika keadaan ini ia biarkan terus-menerus, ada sesuatu yang membuat Hinata cemas bahwa nantinya ia akan kehilangan Sasuke selamanya.

"Jadi begini akhirnya, Sasuke?" Hinata menghembuskan napas panjang yang terdengar lelah saat lagi-lagi Sasuke terlihat tak berniat menjawabnya.

Jeda yang cukup lama membuat Hinata beranggapan mungkin kali ini ia hanya akan berakhir bermonolog lagi, tapi ternyata Sasuke merespons. "Aku sedang duduk dengan berkilo-kilo peledak di sini. Jangan memancingku," ujarnya.

Hinata memandang Sasuke yang masih sibuk dengan rakitannya, benar-benar terlihat seperti seorang anak yang sibuk dengan mainannya pikir Hinata.

"Aku mengerti. Kau mencoba menjauhiku, dan jelas itu berhasil. Aku membuatmu marah, aku sadar. Tapi apa harus sampai seperti ini?" inginnya Hinata menambahkan kalimat yang meminta Sasuke agar tak kekanakan seperti ini, namun ia tahu pria itu pasti akan semakin murka jika Hinata mengatakannya.

Sasuke meletakkan rakitannya dan memberikan Hinata sedikit atensinya. "Tidak ada gunanya lagi membicarakan hal ini. Sebaiknya siapkan dirimu dan kita selesaikan misi ini. Setelah itu, kita kembali seperti awal. Saling menganggap sebagai orang asing."

"Tapi kita bukan orang asing, apapun yang terjadi nyatanya kita sudah saling mengenal lebih jauh dari yang orang lain pikirkan. Jika kau menganggap aku bisa dengan mudah me—"

"Kau sendiri yang secara jelas mengatakan bahwa aku seorang monster, Hinata!" Sasuke memotong argumentasi Hinata dengan suara meninggi. "San aku tidak menyangkalnya karena itu memang benar!"

Hinata menelan ludah, berusaha melegakan kerongkongannya yang tiba-tiba tercekat. "Saat itu aku marah, Sasuke. Apapun yang aku katakan saat itu benar-benar di luar kendaliku. Kau tahu masa laluku, dan harusnya kau paham bahwa aku tidak ingin mengaitkan diriku lagi dengan masa laluku itu."

"Aku semakin membencimu," Sasuke menatap Hinata dalam. "Aku bukanlah seseorang yang peduli dengan apa yang ada di sekelilingku. Aku bukan orang yang mempertimbangkan kembali keputusanku karena opini orang lain. Dan malam itu... saat kau memintaku untuk tidak membunuhnya..." Sasuke menghela napas. "Aku kembali mempertimbangkan niatku."

"Apa?" Hinata nyaris berbisik.

"Kau membuatku sempat ragu untuk membunuhnya," aku Sasuke rendah. "Dan aku tidak pernah ragu atas keputusanku sebelumnya. Lagi-lagi kau membuatku bingung. Tapi pada akhirnya aku membunuhnya, kenapa? Karena aku tidak ingin memberimu kesempatan untuk mengendalikanku."

Hinata menggigit bibir bawahnya. Tidak, tidak sedikitpin ia berpikir untuk mengendalikan Sasuke. Kepala Hinata tertunduk sesaat sebelum kembali ia hadapkan langsung ke wajah Sasuke.

"Kenapa kau mematikan segala emosi dan perasaanmu, Sasuke?" tanya Hinata rendah.

"Tidak semua. Aku masih merasakan kebencian dan amarah. Itulah kenapa aku murka saat tahu ternyata kau masih mencintai bajingan yang mencoba membunuhmu dan malam menyebutku sebagai monster."

"Aku... maaf. Aku tidak bermaksud berkata begitu."

"Tapi nyatanya itu sudah terjadi. Kau secara gamblang mengatakannya," Sasuke menumpukan duduknya ke belakang dengan dua tangan menyokong tubuh. "Aku mulai merasakan sesuatu padamu, sesuatu yang bahkan tidak kurasakan kepada ibuku sendiri. Tapi aku sadar sesuatu itu salah," Sasuke menatap Hinata kosong.

Hinata diam, bibirnya seolah dibungkam oleh kata-kata yang ia dengar.

"Sudahlah," Sasuke menghela napas. "Cukup fokuskan dirimu pada permainan ini. Jika kau teralihkan, kau akan terjatuh," pandangannya kemudian teralih, atau mungkin sengaja dialihkan. "Aku jatuh beberapa kali karena mu. Tapi tidak lagi. Tidak akan pernah lagi."

..

...

..

"Tiket pesawatmu," Sasuke melempar enteng tiket pesawat dan paspor Hinata di atas meja sebelum menghempaskan diri di sofa. "Kita pergi jam setengah sebelas besok malam. Pertemuannya akan dimulai jam—"

"Tujuh. Aku tahu," Hinata menginterupsi, ia kemudian memperlihatkan Sasuke beberapa bagian gedung yang ia retas dari perangkat ruang pengawas. "3K4. Pintu ini yang akan kita gunakan sebagai jalan keluar setelah lantai dasar diledakkan. Bomnya akan diledakkan tepat pukul delapan," Hinata menyodorkan radio in-ear kepada Sasuke.

"Kau harus berhenti si sini," tangan Sasuke meraih layar tablet yang pertama Hinata sodorkan, jemarinya bergerak untuk memperbesar sisi lantai dua. "Di lantai ini keamanan lebih tinggi karena para petinggi mereka akan menghabiskan lebih banyak waktu di sini. Aku butuh setidaknya lima belas menit untuk memosisikan bom yang ada, juga tambahan sekitar satu menit untuk menyingkirkan petugas yang mungkin muncul. Kau akan bergerak di lantai tiga. Lantai dasar dan dua bagianku," jelas Sasuke panjang lebar.

"Kenapa begitu?" Hinata berkedip saat Sasuke menyatakan ia mengambil porsi lebih banyak, terlebih keduanya merupakan yang terjauh dari pintu keluar.

"Karena aku lebih cepat daripada mu," jawab Sasuke. "Dan kita akan meledakkannya pukul setengah delapan," tambahnya."

"Itu tidak mungkin, Sasuke!" Hinata mengiyakan pernyataan pertama Sasuke, namun ia menyanggah rencana pria itu yang memajukan waktu bergerak mereka.

"Kau keluarlah terlebih dahulu. Aku akan meledakkan dua lantai di bawah, selama itu, tahan ledakan di lantai tiga. Setelah aku keluar, barulah kau hancurkan seisi gedung, mengerti?"

"Itu artinya kau harus bergerak sangat cepat," protes Hinata.

"Aku memang cepat."

"Sasuke, jalan keluar yang bisa kita gunakan hanya ada di lantai tiga. Jika kau terlambat sedikit saja saat aku meledakkannya, kau akan terjebak," Hinata berargumen.

"Artinya aku akan membunuhmu sebelum aku mati jika kau membuatku terperangkap," mata Sasuke memicing.

..

...

..

"Kau bisa dengar aku?" Hinata bergumam setelah mengaktifkan radio in-ear-nya yang terhubung langsung dengan milik Sasuke. Ametisnya tak meninggalkan monitor sedetikpun.

"Ya. Kau sudah memegang kendali kameranya?" balas Sasuke sambil melangkah mengawasi sekitarnya.

"Aku hanya akan meretasnya selama lima belas detik tiap lantai. Mereka akan curiga jika lebih lama dari itu."

"Itu lebih dari cukup."

Hinata mengetikkan beberapa karakter di keyboard sebelum beberapa monitor yang mereka perlu tutup termanipulasi gambarnya. Ia memainkan jemarinya sambil menggigit bibir karena gelisah. "Sasuke?" panggilnya, namun tidak ada jawaban.

Sepuluh detik sebelum Hinata kembali memperbaiki keadaan monitor seperti semula, barulah Sasuke mengirim sinyal padanya lagi. "Semuanya sudah terpasang. Sekarang aku harus masuk sebagai petugas keamanan. Sumpah, aku benci kemeja dan dasi!" ocehnya.

Hinata tak merespons banyak selain menghela napas lega, ia kemudian mengaktifkan kembali kamera yang diretasnya tepat sebelum Rose masuk.

"Hey, kau baik-baik saja?" tanya wanita itu.

"Ya," Hinata mengangguk cepat. "Kau juga akan di sini semalaman, bukan?"

Rose mengangguk. "Acaranya dimulai lima belas menit lagi. Rasanya aku mual sekali melihat banyaknya keamanan yang berkeliaran," kekehnya.

"Aku juga," Hinata bergumam. "Umm, Rose?"

"Kenapa?"

"Kau terlihat tidak sehat."

"Benarkah? Aku memang agak tidak enak badan."

Hinata mengangguk. "Kau sudah ke dokter? Seharusnya kau istirahat saja."

"Tidak apa-apa, hanya sedikit lelah," Rose tersenyum tulus. "Aku akan mengambil izin besok."

"Pulanglah, sungguh," Hinata mencoba meyakinkan. Tentu ia tak bisa menyelamatkan seluruh rekannya, namun entah apa yang membuatnya begitu kukuh ingin menyingkirkan wanita itu dari gedung ini. "Sebentar lagi yang lain akan tiba, kami bisa mengatasinya."

"Baiklah, aku akan coba minta izin. Hati-hati, Mia," ujar Rose kepada Hinata sebelum keluar ruangan.

"Apa yang kau coba lakukan?" Sasuke bertanya lewat in-ear.

"Bukan apa-apa," gumam Hinata cepat. "Kau sudah masuk?"

"Ya. Kerjakan bagianmu dan cepatlah keluar. Ada beberapa hal yang harus kuperiksa. Kita akan bertemu sesaat lagi di janitor lantai tiga."

"Baiklah," Hinata seketika memfokuskan diri pada perangkat komputer di hadapannya lagi. Ia kembali meretas seluruh monitor yang ada untuk menampilkan rekaman lima menit yang lalu untuk pengecoh ringan.

Hinata keluar dari ruangan itu sebelum pengawas yang lain sempat masuk. Seluruh bagian gedung terlihat ramai, Hinata melirik setiap lantai dari lantai dua. Ada petugas keamanan yang berjaga di setiap lantai, namun kelihatannya penjagaan lantai tiga tak seketat dua lantai di bawahnya. Hinata berdiri di sisi teralis lantai dua, menunggu beberapa saat sampai pembawa acara naik ke podium barulah ia bergerak.

"Sasuke?" panggilnya.

"Di mana kau?"

"Aku sedang menuju ke sana," Hinata berjalan secepat mungkin namun di waktu yang bersamaan sebisa mungkin menjauhi perhatian-perhatian yang mungkin akan jatuh kepadanya. Setibanya di tangga menuju lantai tiga, Hinata di hadang oleh beberapa petugas.

"Monitoring," Hinata menunjukkan pengenalnya hingga membuatnya lolos. "Ada banyak orang di sini, Sasuke," Hinata bergumam lewat in-ear-nya sembari meniti tangga.

"Aku tidak peduli. Mereka bukan orang-orang baik," balas Sasuke.

Hinata menarik napas dalam-dalam, berusaha meredam kata hatinya yang membuatnya ragu. Ia akhirnya bertemu dengan Sasuke di salah satu koridor, dan benaknya bertanya-tanya, bagaimana bisa pria itu terlihat begitu tak terpengaruh dengan semua ini.

"Berapa kali... kau melakukan hal seperti ini?" tanya Hinata rendah saat mereka akhirnya berjalan bersisian.

"Aku tidak menghitung berapa bom yang pernah aku ledakkan," jawabnya acuh tak acuh sambil membuka salah satu pintu ruang penyimpanan. Diambilnya sebuah tas dari sana kemudian ia bebankan kepada Hinata.

"Waktu kita tidak banyak. Tim pengawas akan segera menyadari ada sesuatu yang salah dengan fungsi kamera pengintainya," jelas Hinata.

"Kalau begitu ayo bergerak."

"Kau yakin memiliki cukup waktu untuk menghadapi petugasnya juga?" tanya Hinata, agak cemas.

"Cukup pikirkan bagianmu," hanya itu yang Sasuke katakan sebelum mereka kembali berpisah.

Sasuke dengan cepat kembali ke lantai bawah sedang Hinata menuju sisi paling sepi di lantai tiga di mana kemungkinan petugas yang lewat begitu minim. Sasuke membuat satu pengendali untuk setiap lantainya, namun untuk memastikan pengendalinya bekerja, masing-masing harus digunakan di lantai yang telah ditentukan.

"Aku tahu kenapa kau memberiku lantai tiga. Hanya ada penjaga di pintu keluar, bukan?" tebak Hinata, kembali lewat in-ear-nya. Hinata tahu di ujung saja, Sasuke menyeringai kecil mendengar ujarannya itu.

"Kau tetap harus melewati mereka," cetus Sasuke.

Hinata berjongkok, ia mengambil pengendali peledak di lantai tiga dari tas yang Sasuke berikan. Ia menggigit bibir gugup. "Sasuke, kau siap?" tanya Hinata, menunggu aba-aba dari Sasuke sebelum mulai mengatur pengendali itu.

"Belum. Aku sudah memastikan untuk lantai pertama. Cepat keluar sebelum kau—Shion!" ucapan Sasuke terpotong oleh seruan pria itu sendiri.

"Sasuke?" Hinata memanggil pria itu saat mendapati ada kejanggalan di sana.

"Kyo!"

Oh, Hinata ingat sekali suara ini. Gadis yang pernah menjadi bos Sasuke. Hinata mengaktifkan waktu hitung mundur pada bom di lantai tiga kemudian berdiri dengan tangan menggenggam erat pistolnya.

"Apa yang kau... ya ampun. Ternyata ini kenapa kau berhenti jadi pengawal ku," tawa Shion kembali terdengar.

"Apa yang kau lakukan di sini, Shion?" tanya Sasuke cepat.

"Aku tidak tahu kau juga dilatih untuk menjadi tim keamanan di sini," ujar Shion tanpa menjawab Sasuke.

"Tidak. Hanya untuk acara malam ini. Keamanan tambahan. Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Sasuke lagi. Hinata menggertakkan gigi mendengar percakapan itu dari in-ear-nya.

"Ayahku salah satu kontributornya. Dan aku suka pesta seperti ini."

"Apa yang kau lakukan, Sasuke! Kau membuang-buang waktu," Hinata menahan seruannya.

"Oh, hey," Sasuke masih tak membalas Hinata. "Bisa kau keluar dari sini, Shion?"

"Apa? Kenapa?"

Hinata mulai bisa menebak apa maksud Sasuke. Dan tebakannya itu sama sekali tidak menenangkannya sedikitpun.

"Mau makan malam? Maksudku... jam jagaku selesai setengah jam lagi. Bagaimana jika kita keluar? Atau memang kau memiliki kepentingan di sini?" Sasuke mencoba mempersuasi.

"Oh, tidak!" Shion membalas cepat. "Maksudku, tentu aku mau. Aku tidak peduli dengan pesta ini," ujarnya bersemangat.

"Tinggalkan dia, Sasuke!" Hinata benar-benar tidak bisa menahan dirinya.

"Bagus kalau begitu. Ada restoran bagus di ujung jalan. Pergilah sekarang," titah Sasuke. "Tunggu aku di sana, aku akan mencoba keluar lebih awal," tambahnya.

Untuk beberapa saat, Hinata tak mendengar apapun lagi.

"Dia tidak seharusnya di sini," Sasuke berujar pada in-ear, kali ini kepada Hinata.

"Apa pedulimu?! Kau bilang padaku untuk fokus dalam permainan ini. Sekarang kau sendiri yang teralihkan. Apa masalahmu?!" cetus Hinata cepat, juga ketus. Namun tak ada jawaban dari seberang sana. Hingga Hinata sadari, ternyata Sasuke mematikan radio komunikasinya itu. "Sial!"

Hinata berlari ke teralis lantai tiga kemudian menyisir pandangannya ke bawah. Sasuke tidak terlihat di manapun. Ia kembali ke tempat persembunyian awalnya tadi. Baru saja Hinata akan bersender ke dinding, alarm peringatan berbunyi. Refleks ia menilik jam tangannya, sudah hampir tujuh menit sejak ia mengacaukan sistem monitoring.

"Keluar sekarang juga!"

Hinata cukup terkejut dengan perintah dadakan itu. Rupanya Sasuke sudah mengaktifkan kembali in-ear-nya.

"Di mana k—" ucapan Hinata terpotong oleh suara ledakan di lantai dasar. Teriakan menggema seperti suara guntur saat api mulai menjalari lantai itu. Tanpa melirik sedikit pun pemandangan horor di bawahnya, Hinata berlari secepat mungkin ke arah pintu keluar. "Sasuke!" panggilnya lagi.

"Aku di lantai dua," suara Sasuke terdengar terengah, pria itu pasti tengah berlari.

Apapun usahanya, Hinata tak bisa menenangkan debaran jantungnya. Asap dan teriakan mengisi udara, membuatnya bergidik hebat. Hinata mengeratkan genggaman di senjatanya. Dibukanya satu pintu kemudian ia keluar dari sana sebelum ledakan selanjutnya terdengar.

"Aku hampir sampai di pintu keluar," Hinata menginformasikan di sela engahan napasnya.

"Aku akan segera—oh, sial!"

"Ada apa?" Hinata berhenti. "Sasuke?!" Jantungnya berdetak semakin liar seperti ingin mendobrak rusuknya. "Sasuke?!" panggilnya lagi.

"Shion masih di sini," ungkapnya.

"Apa?!" Hinata sama sekali tak mengerti jalan pikiran Sasuke. "Sasuke, apa yang kau lakukan?!"

Sasuke tidak menjawab untuk beberapa detik sebelum bergumam. "Dia terluka."

"Banyak orang terluka di sini!" Hinata merasa ingin mengumpat.

"Tunggu."

"Sasuke! Apa yang kau lakukan!" Hinata berteriak.

"Beri aku beberapa menit. Aku... akan membawanya keluar."

"Ini tidak lucu, Sasuke! Tinggalkan dia!"

"Keluarlah duluan. Aku akan menyusul."

Hinata tak yakin apakah tindakan Sasuke kali ini membuatnya marah atau kecewa. "Persetan denganmu!" ia mematikan sambungannya dengan Sasuke kemudian kembali menuju ke luar.

Sama sekali tidak ada petugas keamanan yang berjaga. Kemungkinan besar, Sasuke jugalah yang sudah menuntaskan mereka untuk membersihkan pintu keluar. Hinata meraih tangga belakang dan mulai turun dari sana, hati dan otaknya masih mati-matian merutuki Sasuke.

Sasuke benar-benar gila. Hinata sudah memperingatkan, tapi terserah saja jika dia memilih anak gadis itu. Hinata benar-benar mencoba mengabaikan perasaan jengkel yang menyerangnya.

Hinata sudah sampai di bawah, ia kemudian menjauh dari gedung itu. Menyaksikan dengan jarak aman bagaimana kepulan dan kobaran mengacaukan area itu. Sirine ambulans dan pemadam terdengar bahkan dari tempatnya.

Hinata melirik jam tangannya. Jika Sasuke belum juga keluar, pria itu bisa terperangkap di dalam. Hinata menghembuskan napas, menenangkan diri. Digenggamnya pengendali bom di tangan kiri. Tangan kanannya bekerja untuk mengaktifkan kembali radio in-ear yang menghubungkannya dengan Sasuke.

"Sasuke?"

Tidak ada jawaban.

"Sasuke? Sasuke?!" Hinata mulai panik. Apa yang telah ia lakukan? Ia baru saja meninggalkan rekannya meskipun sadar bahaya yang mengancam Sasuke.

Kemudian, tiba-tiba seseorang merampas pengendali bom dari tangannya. Hinata berbalik dan refleks mengangkat senjatanya. Namun tepat sebelum Hinata menarik pelatuk, orang itu—yang ternyata Sasuke—kembali merampas senjata di tangannya.

Sasuke terlihat kacau, wajahnya yang berpeluh agak tercoreng jelaga, tiga kancing kemejanya tak terpasang. Kemudian ledakan ketiga terdengar, lantai atas gedung di belakang Hinata hancur saat Sasuke menekan pengendalinya untuk memotong waktu hitung mundur.

"Misi sukses," Sasuke menyeringai ke arahnya seolah baru mengerjakan hal yang remeh.

Seringaian Sasuke kembali menyulit amarah yang Hinata rasakan sebelumnya. Tanpa berpikir dua kali, Hinata mengangkat tangannya dan menampar keras pipi Sasuke, membuat pria itu mengerang pelan namun tak membalas.

"Dari semua orang, kau memilih menyelamatkannya!" Hinata tidak terlalu tahu apa yang katakan, mulutnya hanya mengatakan apa yang membuatnya dongkol setengah mati tadi.

"Dia tidak tahu apa-apa," Sasuke mengusap pipinya.

"Begitu juga sebagian orang di sana! Banyak orang tidak bersalah yang terlibat!"

"Aku tidak peduli dengan mereka."

"Dan kau peduli padanya?" nada suara Hinata merendah.

"Lumayan. Aku cukup mengenalnya," jawab Sasuke.

Hinata terdiam, tak tahu harus mengatakan apa lagi.

"Sudah selesai?" tanya Sasuke. "Kita harus mengejar pesawat," Sasuke meletakkan pistol yang tadi ia rebut dari Hinata di bagian belakang sabuknya sebelum memulai langkah pergi dari sana.

.

to be continued...

..

.

Ini kayanya longest chapter I've ever write. Hampir 5k panjangnya hhaha. Puas banget bikin sepanjang itu, semoga kalian juga cukup puas bacanya.

Sorry neji-nii... cuma kupinjem sebentar. Karena emang ngga ada yang bisa ngehentiin sasu (mungkin) ._.

Anyway, dialog miring saya buat karena komunikasi mereka kepisah, mudah-mudahan ngga bikin bingung buat dibayangin

Dan lagi lagi lagi thanks readers masih stay tune nunggu fic ini hhaha... see ya on next chap :3