A/n: Warning! Banyak unsur kekerasan, kata-kata kasar, pembunuhan, dan kejahatan lainnya. So... ThisisThriller!

"Baiklah... Kau memaksaku. Tapi, aku hanya bisa membantumu lewat telepon ini. Jika Bossku menemukanku bersamamu dan membantumu maka ia akan memenggal kepalaku. Tapi, apa keuntunganku membantumu?" Dapat dibayangkan Himaki menyeringai diseberang sana.

"Um... Apa yang kau inginkan?" tanya Gempa. Ia sangat berharap jikalau apa yang Himaki minta takkan menyebabkan korban jiwa.

"Aku ingin 5.000 dollar..."

"A-apa?! Itu banyak sekali!"

"Ohh... Kau yang bertanya padaku dan kini kau bernegosiasi? Baiklah, 500 dollar dan kau tak boleh menangkapku atau mengawasiku selama satu tahun! Bagaimana?"

"Licik sekali kau!" geram Gempa, ingin sekali ia membanting ponsel itu. Namun sayangnya, itulah satu-satunya penghubung antara dirinya dengan Himaki yang entah kini berada dimana.

"Gempa, sudahlah! Lebih baik kita selesaikan ini sendiri dan jangan mengorbankan harga dirimu!" ujar Anni, berusaha menenangkan Gempa yang tampak stress dengan semua penawaran Himaki yang jumlahnya selangit itu.

Asal kalian tau, 1 dollar = 3 Ringgit. 500×3=1500 Ringgit Malaysia. Jumlah yang kemungkinan cukup banyak dan hampir saja membuat Gempa pingsan ditempat.

"Hei... Aku melakukan negosiasi ini karena iba denganmu dan untuk diriku sendiri. Jika bossku tau dan komandanmu juga tau, kita semua dalam bahaya! Namun jika kau batalkan, aku akan datang ke Rumahmu dan menguliti kulitmu juga mengambil organ tubuhmu lalu kujual ke pasar gelap karena sudah membuang waktu santaiku!" ancam Himaki lagi tanpa ampun.

"B-Baiklah.." akhirnya mereka sepakat. Gempa kini menyesal telah menelpon Himaki. Namun Anni berusaha menenangkannya dan mengatakan bahwa itu semua bukanlah kesalahannya, namun hanya karena Himaki terlalu serakah... Itu saja.

.
.
The Case Solver
"Siap menjalankan misi pertama?"
.
.
Story Line by LyxCrime03/Zesvalonic07
Chapter 03: Negosiasi
.
Genre: Fanfiction, Thriller.
.
.

"Bagus, kepalaku bertambah pusing..." keluh Gempa, seraya duduk di sofa yang berada di Mansion tersebut. Anni masih berusaha menenangkan Gempa sedangkan Halilintar sedari tadi hanya bungkam disana.

Oh, Halilintar... Malang sekali nasibmu, nak...

Taufan pun berlari keluar Mansion untuk mencari aspirin untuk Gempa dan Thorn menyusulnya. Gempa masih memijat keningnya, berharap sakit kepala yang ia rasakan akan segera hilang.

"Anni..." panggil Gempa dengan lirih. Anni berdeham sebagai respon, dan menatap Gempa dengan khawatir.

Asal kalian tau, Anni itu .ehem Gempa. Mereka telah menjalin hubungan sejak beberapa bulan lalu (maafkan aku para fans Gempa sekalian T_T #dikeroyok).

"Bisakah kau antar Halilintar ke Kantor, dan menyuruh seseorang menginterogasinya?" tanya Gempa, dengan suara yang berat. Anni mengangguk, ia tau jika Gempa sedang stress jika memikirkan uang.

Anni bangkit lalu menghampiri Halilintar, berbicara dengannya dan mengajaknya ke Markas The Case Solver. Halilintar mengangguk setuju dan langsung mengikuti Anni.

Tak lama berselang setelah Anni dan Halilintar pergi, datanglah seorang gadis dengan jaket biru yang kebesaran namun masih terlihat modis dikenakannya. Ia memasuki Mansion dan bertatap muka dengan Gempa.

[Gempa/Quake's POV]

"Siapa kau?" tanyaku, sambil masih memegangi kepalaku yang terasa berputar-putar di Udara.

"Aku orang khusus yang dikirim Himaki kemari, Namaku Alice. Ia sudah berjanji membantumu dan meringankan royalitinya." ucapnya. Aku tak percaya bahwa Himaki akan segini pedulinya, dia tipe yang menepati janji. Pantas saja Mafia itu tak melepaskannya.

Gadis itu terlihat canggung. Mungkin dia kebingungan, Himaki pasti langsung memungutnya dan memerintahnya. Huftt... Bagaimanapun The Antagonist itu memang kejam.

Dan tak lama setelah itu, Taufan dan Thorn datang sambil bersenda gurau. Membuatku bertambah pusing. Taufan terkejut saat melihat Alice, begitu juga Thorn. Tanpa banyak bicara, Taufan memberiku sebungkus Aspirin. Aku memandangnya yang tersenyum padaku sesaat.

Thorn pun juga menghampiriku dengan segelas air putih di genggamannya. Ia memberikan segelas air putih itu padaku.

"Terima kasih.." ucapku, lirih. Mereka berdua mengangguk bersamaan.

Aku meminum satu pil aspirin dan meneguk air putih yang diberikan Thorn.

"Inspektur!" seru Taufan tiba-tiba, hampir membuatku menyemburkan air putih yang masih tersimpan dimulutku. Aku meneguk air putih itu dengan cepat dan memandang Taufan dengan tatapan kesal.

"Apa?" sahutku, ketus.

"Siapa gadis itu?" tanya Taufan, seraya menunjuk Alice dengan jempolnya.

"Kenapa kau tak berkenalan dengannya? Kau kan... Supel." jawabku. Taufan mengembungkan pipinya kesal.

"Tidak penting!" umpatnya.

Tririingg...

Tiba-tiba ponsel korban berbunyi, dan sebuah pesan masuk. Aku membuka pesan itu.

Untuk Gempa-

Aku mengirim seorang gadis dan jangan berpikir macam-macam, 'kay?

Aku mengirimnya sebagai perantara antara aku dan kau untuk menyelesaikan kasusmu. Dan... Bukankah kau punya detektif sexy itu? Kemana dia? Haha... Aku hanya bergurau.

Kini, biarkan dia mengeksplorasi TKP. Dia kupungut dari bar malam, dan dia bersedia membantuku. Bossku belum mengetahui apapun tentang ini, jadi kita akan rahasiakan ini atau nyawa kita akan terancam!

Himaki Tsu-

Setelah membaca pesan singkat itu, aku melirik kearah Alice yang tengah melihat sekeliling. Dari tampangnya, ia bukanlah sembarang wanita. Jika Himaki benar memungutnya dari Bar Malam, kuyakin itu bohong. Ia lebih terlihat seperti perempuan rumahan yang gila video game.

"Excuse me, sir... Bolehkah aku menyarankan sesuatu?" ujarnya padaku. Membuat Taufan dan Thorn terlihat tidak nyaman. Aku mengangguk mengiyakan. "Sebaiknya anda melakukan penelitian dengan makanan ini. Hasil autopsi mengatakan jika korban keracunan, bukan? Mungkin karena makanan ini..." usulnya, usul yang brillian.

"Thorn, ambil sedikit makanan dan minuman itu untuk sample penelitian dan berikan pada Yaya agar diteliti!" perintahku pada Thorn, dan ia pun segera melakukan tugasnya.

"Tak ada tugas untukku?" tanya Taufan dengan mata berbinar.

"Kau disini saja agar tak ada salah paham!" jawabku. Taufan menghela nafasnya dan duduk disampingku.

[Halilintar/Thunderstorm's POV]

Mual menghampiriku, saat melihat Ying tersungkur ke lantai saja sudah membuatku mual bukan main. Dan sekarang aku berada didalam mobil Mercy ini bersama dengan seorang gadis yang tengah mengemudi sambil sesekali melirikku lewat kaca spion depan.

Kenapa kau lakukan ini, Thundy?

Untuk apa? Adikmu?

Petir... Nama adikku terngiang-ngiang dibenakku. Kini ia dirawat di Rumah sakit karena leukemia. Kami hanya tinggal berdua, dan aku tak punya cukup uang untuk biaya perawatannya.

"Bunuh Ying dan akan kuberikan uang berapapun yang kau minta!" seruan pria itu juga seperti berlari-lari dipikiranku.

Maafkan aku, Ying... Aku sahabat terburuk yang pernah ada.

Ckiittt! Tiba-tiba gadis itu membanting setir. Membuat mual perutku.

"T-tunggu!" ujarku, dan gadis itu berhenti. Ia menoleh kearahku yang tengah menutupi mulutku yang siap memuntahkan isi perutku.

"K-kau kenapa? Apa aku membuatmu mabuk kendaraan? Maaf... Aku pengemudi yang buruk.." ujarnya dengan nada penyesalan. Aku menggeleng sambil melambaikan tangan kananku pelan sebagai tanda bahwa aku tidak apa-apa. Ia lalu memberiku kantong plastik hitam, aku tau maksudnya. Aku menerima kantong plastik itu dan memuntahkan semua isi perutku kedalam kantong plastik itu.

"L-lanjutkan saja... Aku baik-baik saja..." lirihku, sambil menyeka bekas muntahan yang menempel dimulutku dengan tisu. Gadis itu masih memandangku lama, lalu ia berbalik dan kembali melaju.

"Kenapa? Aku tak ingin-"

"Kau tak ingin? Baiklah...Habisi dia!"

Dia memerintah anak buahnya untuk menghajarku. Tak ada pilihan lain... Jika aku mati, maka adikku akan...

"A-aku bersedia! Aku bersedia!" ujarku setengah menangis kala itu.

"Kau ahli farmasi paling bagus di Kota ini. Kau mendapat beasiswa bukan? Maka dari itu aku memberimu tugas ini. Aku memberikan jaminan padamu, kau takkan dipenjara." ujarnya lalu pergi dengan anak buahnya.

Bingung... Nanti aku akan diinterogasi. Jika aku ketahuan, aku harus bilang apa? Aku diperintah oleh seseorang? Aku bisa mati dihajar habis-habisan olehnya... Berbohong? Aku akan dipenjara, namun aku sudah mendapat jaminan...

Tanpa sadar aku menitikkan air mata. Gadis itu melirik kearahku dan melihatku menangis dalam diam seperti ini.

"Are you okay?" tanyanya, aku menyeka air mataku dan mengangguk. "But... You're crying! Apa yang terjadi? Ada hal yang menyedihkan?" tanyanya lagi. Aku menggeleng.

"Aku baik-baik saja... Hanya sedikit gugup."

To Be Continued...

Im so sorry again... vallor, forgive me please...

Dan Fans Halilintar, daku minta maaf udah nistain dia disini...

Halilintar: kalo di cerita lu, gua selalu dinistain, Thor!

Maaf, Hali... Maaf!

Otakku hanya berpikir kalau itu adegan yang bagus dan dramatic... Jadi kutulis... Mumpung ada ide, nih! Lagian... Nanti Hali juga gak bakal dipenjara karena ditolong Ice.

Yup! Ice! Dia akan muncul...

Tetep stay tune, guys~~