Main Cast : Chanyeol X Baekhyun
Other Cast : Heechul, Sehun, Jong Dae, Je Ni (Blackpink), Seulgi, Namjoon (BTS)
Disclaimer : fic ini pure milik Gloomy Rosemarry aka Cupid KM
.
.
Previous Chapter
"Hks!"
Baekhyun mengedarkan pandangan bingung. Apa yang terjadi pada semua orang?
"Sshh.." Je Ni bergerak cepat, memeluk tubuh mungil itu
"Aku takut... Je Ni"
"Gwanchana... Berhentilah menangis"
Love Of Fallen Leaves
Chapter 9
.
.
.
.
"Bagaimana keadaannya?"
Kedua obsidian yang semestinya terbias tajam nan angkuh itu, kini nyaris tak berpendar layaknya jati dirinya. Begitu redup, seakan menunjukkan sebuah penyesalan besar tersirat darinya saat memandang wanita yang masih terbaring lemah itu.
Tabib itu menghela nafas sejenak, "Beliau belum sadarkan diri Yang Mulia"
Jawabnya seraya meletakkan lilin aroma terapi, di sebrang ranjang Heechul.
"Aroma dan suasana yang tenang, akan membantunya memulihkan kesadaran dan suasana hati Yang Mulia Ibu Suri" gumam Tabib Choi, sebelum akhirnya memohon diri untuk meninggalkan ruangan megah itu.
Chanyeol terlihat gontai kala mendekati ranjang Ibunya dan terduduk lemas di sisinya. Ia sepenuhnya tau... kenyataan itu terlalu mengguncang perasaan Heechul, hingga berakibat sefatal ini.
Chanyeol beralih meraih tangan Heechul untuk di genggamnya
"Aku... benar-benar tak tau apapun Ibu"
Pria itu kembali menghela nafas sesak. Entah kemana Ia harus menentukan kakinya berpijak, dirinya masih bertahan dalam ruangan ini, menunggu Heechul membuka matanya.
Sementara Ia tau pasti, Baekhyun saat ini tengah memanggil-manggil mencari dirinya. Tapi rasanya... Ia menadadak tak memiliki nyali meninggalkan Ibunya untuk menemui bocah itu.
"Baekhyun..."
.
.
.
.
BRAKKK
"ANDWAEE!" Seulgi menjambak kasar rambut dayang muda itu dan nyaris membentur-benturkannya di lantai jika saja Namjoon tak menahannya. Ia mendadak menggila, begitu mendengar penuturan dayang penyusup miliknya.
"BICARA APA KAU HAH! Hamil?! KAU PIKIR AKU AKAN PERCAYA!?" Ia mencekik dayang itu, dan menyentak tangan Namjoon untuk menyingkir. "Bocah itu tak akan menang dariku! Chanyeol milikku! ANDWAEEEE!" Jeritnya histeris, dan makin tak terkendali jika mengingat Baekhyun, terlebih hubungan Chanyeol dengan bocah itu. Membuatnya semakin naik pitam ingin melenyapkan apapun yang mengusiknya.
"SEULGI!" Sentak Namjoon geram, seraya mencengkeram kedua pundak kurus itu untuk menyadarkannya. "Kendalikan dirimu! Jika orang istana mendengarmu... kita celaka"
"A-ampuun Tuaaan.. Ampuni hambaa" Dayang yang kini berpenampilan acak-acakan itu merangkak dan memeluk erat-erat kedua kaki Namjoon. "Hamba hanya menyampaikan apa yang hamba dengar saat Tabib Choi memastikan kondisi anak itu. Ampuni hamba Tuaan" Mohon dayang itu, mencoba mencari perlindungan dan tak ingin diperlakukan semakin buruk oleh Ratu Silla itu.
Sementara Seulgi yang terengah akibat amarahnya itu mulai melemas dalam pelukan Namjoon dan menangis keras.
"Kau bersungguh-sungguh dengan ucapanmu?"
Dayang itu semakin kekeuh memeluk kaki Namjoon dan mengangguk cepat. "N-nde...b-bahkan Y-yang Mulia Ibu Suri mendadak tak sadarkan diri Tuan" Jelas Dayang itu semakin berhati-hati dengan cara bicaranya.
"Lepaskan aku!" Hingga tiba-tiba saja, Seulgi berontak... berusaha melepaskan diri dari pelukan saudaranya
"Seulgi—
"Biar kubunuh bocah itu!"
"Yya!" Namjoon mengejarnya
"Aku tak akan membiarkan anak itu merebut Chanyeol dariku! aku akan membunuhnya!" Jeritnya seraya menyambar sebilah pisau di meja.
"SEULGI! APA KAU GILA!" Teriak Namjoon seraya menyentak pisau dari tangan Seulgi 'Praank'
"Ya! Aku memang gila! bertahun-tahun aku menunggunya?! Hanya aku yang berhak memiliki Chanyeol! Pria itu milikku OPPAAAA!" Jeritnya frustasi, tubuhnya merosot dan terjerembab di kaki kakaknya, sama sekali tak bisa menerima... jika benar anak itu mengandung darah Chanyeol. Tapi hal gila macam apa yang sebenarnya terjadi saat ini.
" ANDWAEEEEE! Dia Namjaaa! T-tidak Mungkin! AAAAAAAAH!" Seulgi kembali tak terkendali menjambak rambutnya sendiri membuat Namjoon semakin kewalahan mengendalikan Ratu yang masih terguncang itu.
"SEULGI!"
Namjoon merutuk keras, semestinya Ia memang tak peduli dengan perasaan adik perempuannya itu. Karna hanya tahta Sang Raja yang diincarnya. Tapi melihat satu-satunya senjatanya mendadak rapuh seperti ini tentu membuatnya harus memutar otak cepat. Jika Seulgi mendadak gila hanya karena hal ini, maka habislah pemberontakan yang sejak jauh hari di susunnya.
"Tenanglah... secepatnya kita lenyapkan anak itu"
Seulgi menadadak diam, dengan wajah penuh dengan lelehan hitam di pipinya. Ia mengerjap kala menatap Namjoon. "Benar... Oppa akan membunuhnya?" Lirihnya memelas, namun sesekali terkikik hambar.
"Ya... berhentilah seperti ini" Bujuk Namjoon sembari memeluk Seulgi.
Wanita itu pun meluruh dan menganggukkan kepala cepat. "Chanyeol hanya milikku Oppa" Isakknya
Pria itu hanya mengangguk dan mengelus rambut panjang Seulgi. Namun dalam diam Ia menyeringai tajam. 'Ya... milikmu yang cepat atau lambat akan ku lumpuhkan. Kau harus menjadikanku seorang Raja... Seulgi~ah' Batinnya
.
.
.
.
"Ahjjus—sii"
Lagi.. Baekhyun kembali meronta dan memanggil serak. Meski nyatanya tubuh mungilnya telah tersungkur di lantai. Tapi anak itu tetap memaksakan diri, dengan merangkak menuju pintu kamar, tak peduli dayang pengasuhnya masih berusaha mengangkat tubuhnya.
"Tuan muda... ku mohon jangan seperti ini. tubuhmu masih lemah untuk—
"Ahjjussiiii!" Baekhyun menangis, kembali merangkak tertatih ingin menggapai pintu kamar itu dan berlari mencari Chanyeol.
Meski tak tau sebabnya, tapi melihat Chanyeol meninggalkannya tanpa berucap apapun... membuat batinnya mendadak kacau.
Sementara Je Ni hanya memejamkan mata miris melihatnya, Ya... Ia memang sepenuhnya memahami bagaimana perasaan anak itu saat ini.
Selepas jatuhnya Ibu Suri, Raja Silla itu mendadak berubah sikap. Sama sekali tak ingin menatap Baekhyun lebih-lebih menenangkannya seperti yang kerap Dia lakukan pada Baekhyun. Mungkinkah rasa paniknya karna Ibu Suri mendadak pingsan yang membuatnya berubah demikian?
Ah semoga saja...
Karena Ia tak berharap, Raja Silla itu merubah perangainya... selepas Ia tau kenyataan Baekhyun tengah mengandung.
GREB
hingga tiba-tiba seorang pria mengangkat tubuh Baekhyun, membuatnya tersenyum senang, menduga Chanyeol kembali.
Ia benar-benar ingin memekik kata 'Yang Mulia Raja'
Namun urung, begitu melihat pasti siapa pria itu. "T-Tuan Sehun" Gumamnya seraya menundukkan wajah.
"Hks...Ahjjussiiii!" Rengek Baekhyun, kedua tangannya menggapai-gapai di belakang punggung Sehun... berharap bisa keluar dari pintu kamar itu. Tapi percuma, Ia hanya bisa terisak dalam gendongan Pria itu tanpa bisa berlari mencari Chanyeol.
"Ssshh...Raja akan segera menemuimu. Jangan pergi kemanapun" Tenang Sehun, seraya mengelus kepala Baekhyun.
Baekhyun hanya terisak dengan kepala bersandar lemas di pundak Sehun, Ia terlalu lelah menangis dan denyut pening itu semakin membuat tubuhnya melunglai payah..
"Ambil beberapa pakaian Baekhyun. Aku akan membawanya ke tempatku"
"N-ne?" Je Ni mengerjap bingung.
"Karena aku tak yakin, anak ini akan aman di sini" Gumam Sehun lirih, membuat dayang itu mengangguk mengerti. Lalu beranjak cepat mengemas beberapa pakaian milik Baekhyun.
.
.
.
"Jangan melepasnya, arrachi?" ujar Je Ni saat menyimpul kain hitam menyerupai mantel di tubuh Baekhyun. Ia tersenyum lembut melihat anak itu berhenti menangis dan terlihat mengangguk patuh. Sepertinya Sehun memang lihai membujuknya.
"Baekhyun akan bertemu dengan Ahjjusii?" Tanya Baekhyun pada pria yang masih menggedongnya itu, masih mempercayai ucapan Sehun, bahwa pria itu akan membawa dirinya menemui Chanyeol.
"Ya.. tentu saja" Gumam Sehun sembari menarik penutup kepala Baekhyun, hingga nyaris menutup wajah anak itu.
Baekhyun semakin meringkuk patuh, kala pria itu bergegas membawanya keluar dari kamar sang Raja. Membuat dayang yang masih bertahan di belakangnya itu kembali tersenyum getir.
Tak menduga, hal sepelik ini akan terjadi pada bocah lugu itu. Oh sungguh... Baekhyun masih tak menyadari petaka macam apa yang terjadi pada dirinya saat ini. Bahaya semakin mengintainya... tak hanya dari pihak Seulgi. Tapi... mungkin sosok yang selama ini menjadi tempat berlindung paling aman, akan beralih menaruh dusta padanya. Bagaimanapun semua ini, berhubungan dengan kehormatan sang Raja.
Bukan tidak mungkin, kerajaan akan menyingkirkan Baekhyun demi nama baiknya.
.
.
"Buatlah jebakan, seolah Baekhyun memang tengah tertidur dalam kamar ini" Ujar Sehun menyentak lamunan dayang muda itu.
"J-jebakan?"
"Yang Mulia sepertinya tak akan kembali hari ini ... dan awasi setiap pergerakan di sekitar tempat ini" pesan Sehun pada salah satu mata-matanya itu, sebelum akhirnya benar-benar melangkah keluar. Membawa bocah yang masih meringkuk dalam gendongan bridalnya.
Sementara itu di tempat lain
Seorang pria terlihat menerawang sendu pada tanah lapang di luar jendela kamarnya. sejenak Ia terkekeh... terdengar hambar begitu sadar tanah itu bukanlah miliknya seperti dulu. Ya... Goryeo telah berpaling dari kuasanya.
"Yang Mulia.." Seorang pria datang menghampirinya, segelas ramuan herbalpun Ia sajikan untuk Raja yang kini tak lagi bersinar...bahkan mungkin saat ini tak bergelar apapun karna negrinya milik Silla.
"Untuk apa kau membawa minuman itu kemari" Gumam Yonghwa tanpa menatap lawan bicaranya.
"Ramuan herbal ini akan membantu memulihkan kaki Yang Mulia"
Yonghwa tertawa keras.
"Buang saja...itu tak akan merubah apapun. Lihat... kaki kiriku masih saja lumpuh meski betahun-tahun lamanya kau telah memberi obat itu untukku"Yonghwa beralih menatap teduh Pria di sampingnya itu.
"Aku tak memiliki apapun lagi... tahta dan kekuasaan tak lagi kumiliki ... pergilah. Tak seharusnya kau bertahan seperti ini Kyuhyun" Ujar Yonghwa getir, dan semakin menyadari kelemahannya kala mengingat Baekhyun. Ya... Putra kecilnya yang hilang dan lebih dari lima tahun berselang, Ia sama sekali tak tau dimana Baekhyun sebenarnya. Meski rumor mengatakan Baekhyun telah tewas di tangan Raja Silla.
Pria itu tertegun. Berapa kali Raja Goryeo itu memaksanya meninggalkannya, Ia tetap bertahan pada kesetiannya. Semua tak pelak, karna semenjak Ia terlahir... dirinya telah bertopang pada kebaikan Goryeo, terutama Raja Yonghwa.
"Kyuhyun~ah.."
Panggil Yonghwa, membuat menteri itu terhenyak untuk menatapnya.
"Aku akan melakukan apapun untuk langit. Bahkan merelakan diriku mati detik ini juga... jika aku bisa melihat putraku masih hidup" Yonghwa kembali tertunduk, bulir bening mulai merembas dan jatuh ke pangkuannya. Meratapi penyesalannya kala itu... Jika saja Ia bisa membawa Baekhyun pergi. Mungkin dirinya tak akan kehilangan Putra kecilnya itu.
"Yang Mulia..." Kyuhyun turut menunduk, tak sampai hati bahkan terlalu sungkan melihat Raja yang selama ini dihormati dan diagungkannya itu...menjadi serapuh ini.
"Bawa ramuan itu... aku tak perlu meminum—
BRAKKK
"Ahjjusi!"
Keduanya tersentak terkejut begitu pintu di dobrak kasar, dan seorang namja kecil berlari menghampirinya.
"Ahjjusii harus meminum obat ini!" Kekeuh bocah bernama Kyungsoo seraya menyodorkan secangkir ramuan herbal itu untuk Pamannya. Sedari tadi Ia memang bertahan di luar dan mendengar pembicaraan dua pria dewasa itu. "Ahjjusi berjanji akan melakukan apapun untuk langit bukan?! Ahjjusi harus sembuh dan bangkit!" Ucap Kyungsoo menggebu.
"K-kyungsoo?"
"Aku bersumpah! aku melihat Baekhyun! Dia masih hidup... percayalah padaku!"
.
.
.
~Silla~
"Makanlah..." Bujuk Sehun, berusaha menyuapi Baekhyun. tapi anak itu lebih memilih memalingkan tubuh membelakanginya lalu menarik selimut. menjadikan kain tebal itu penutup wajah pucatnya.
"Di mana Ahjjusii?" Gumam Baekhyun lirih, berharap Ahjjusinya yang datang.
Sehun menghela nafas pelan, lebih dari 12 jam lamanya... anak itu bersamanya dan belum makan apapun. ia tak bisa membiarkannya seperti ini sementara anak itu tengah demam tinggi dan—'hamil'
"Dia akan menemuimu... percayalah"bujuk Sehun lagi, seraya menarik pelan pundak Baekhyun.
Dan benar saja, Baekhyun mulai luruh untuk menatapnya, tapi bukan untuk menyantap suapannya melainkan untuk menyakan suatu hal yang entah mengapa membuat dadanya sesak kala melihat wajah anak itu.
"Ahjjusi tidak datang karena membenciku?"
Pria yang selalu menunjukkan aksen dingin itu, mulai tersenyum tipis lalu menyeka air mata Baekhyun dengan ibu jarinya. "Tidak... Dia selalu melindungimu"
Baekhyun menundukkan wajah, terlihat kecewa... lalu kembali memalingkan tubuh dan mendekap erat bantalnya sendiri.
"Dia mencintaimu... Baekhyun" Lirih Sehun sembari mengelus kepala anak yang masih terisak lirih itu.
.
.
.
.
"Ibu.."
Chanyeol tersentak dan begitu tergesa melangkah mendekati wanita yang mulai membuka kedua matanya itu.
"C-chanyeol~ah" Gumam Heechul lirih, namun wanita itu mendadak terbelalak dan memaksa bangkit dengan bertopang pada lengan Chanyeol.
Kedua matanya berusaha menelisik ke sekitar, terlihat gelisah bahkan ketakutan. Hingga setelahnya Ia menangkup wajah Raja Silla itu kala tak menemukan apa yang dicarinya.
"D-dengarkan Ibu" Ujarnya gemetar. "Asingkan Baekhyun. J-jauhkan anak itu dari istana ini" Racaunya panik masih dengan menangkup wajah Chanyeol
Tak pelak membuat Raja Silla itu terbelalak nanar.
"Ibu-
"J-jauhkan Dia darimu! kau harus mendengar Ibumu!" Heechul mulai menjerit. Kembali terlihat kacau... kala mengingat penuturan tabib Choi. Sungguh mustahil anak itu mengandung, dan jika benar. ia tak akan sanggup menerka apa yang akan terjadi pada tahta Putranya.
Heechul semakin histeris, bahkan beberapa kali terlihat memukul punggung pria yang memeluknya itu dengan frustasi. Ia tak pernah sehancur ini sebelumnya, kasih sayangnya yang begitu saja dinodai olah kenyataan itu. Tentu membuatnya merasa dikhianati
Tak cukup hanya kasih sayang saja yang ia curahkan untuk anak itu. Tapi Ia pun mencintainya layaknya Baekhyun terlahir dari garis darah yang sama dengannya. Tapi mengapa semua hal yang dianggapnya petaka ini terjadi?
Bagaimana dengan nama baiknya? Mustahil seorang anak laki-laki memiliki rahim. dan Raja Silla sendiri yang menyetubuhi anak itu?
"Aku ibumu... dengarkan Ibu...Chanyeol~ah" lirih Heechul semakin terisak kala tak meyakini keputusannya sendiri. "Ibu tak akan membiarkanmu hancur. Ibu akan melindungimu"
Sementara Pria itu hanya diam terpaku. entahlah.. kemana Ia melihat pendiriannya saat ini.
Mungkinkah dirinya telah menjadi seorang pengecut?
Mengapa tak satupun kata terucap darinya? dan Chanyeol benar-benar tak mengerti dengan dirinya sendiri.
Raja Silla itu terlalu terkejut. Menyadari putaran takdir itu tengah mempermainkannya. Mendengar suatu yang mustahil hingga respon keras ibunya dan berujung dengan pilihan yang sulit itu.
Ia benar-benar tak tau harus berpegang pada hatinya atau menyerah begitu saja. Tapi—
"Hyung..."
Chanyeol terhenyak, terbangun dari lamunannya begitu seorang pria menepuk bahunya dari belakang. Ia sedikit menoleh, dan terlihat redup saat melihat pria tinggi itu.
"Aku hanya ingin menyampaikkannnya saja, dan berharap kau tak terusik dengan hal ini" Ujarnya merasa sungkan, Ia tak pernah melihat raut Chanyeol sebimbang ini sebelumnya. Tapi Sehun pun merasa tetap harus menyampaikannya pada Penguasa Silla itu.
"Katakan.." Singkat Chanyol.
"Anak itu—
Chanyeol terbelalak. Mungkin benar... Sehun belum mengusaikan kalimatnya. Tapi mendengar nada bicara itu, membuatnya yakin... Baekhyun tak baik-baik saja.
"Terus memanggilmu. Aku tak bisa membujuknya untuk makan... dan sekarang Dia kembali tak sadarkan di—
Sehun berjengit, melihat Raja Silla itu tiba-tiba bangkit berdiri. Lalu berlari begitu saja meninggalkan kamar Ibunya.
Sementara Heechul hanya meringkuk lalu kembali terisak diam. Ia tau, Chanyeol ingin menemui anak itu. Semestinya Ia menahannya... tapi entahlah nuraninya kembali mengiba, begitu mendengar ucapan Sehun.
Sesungguhnya Ia terpukul menyadari Chanyeol benar-benar menjalin hubungan terlarang itu. Tapi dirinyapun tak sampai hati membiarkan Baekhyun tersiksa seorang diri.
.
.
.
"Baekhyun.."
Panggil Chanyeol saat tiba di ambang pintunya, Ia begitu terengah dan tak sabaran ingin melihat anak itu. Tapi raut tegasnya mendadak kebas, saat menyadari ada yang salah dalam kamar ini. Membuatnya melangkah panik mendekati ranjangnya, lalu menyibak kasar selimut itu .
"Baekhyun—
Jantungnya seakan berhenti berdetak, melihat dibalik selimut itu hanya berisi tumpukan bantal. Kemana namja kecilnya?
"BAEKHYUN!" Teriaknya kalap, seraya mengacak ranjangnya... berharap bocah itu masih berada di atas tempat tidur itu. "BAEK—
"Hyung tenanglah"
Hingga Sehun datang dan berusaha menahan dirinya.
"Apa yang terjadi? Dimana Baekhyun?!" Geram Raja Silla itu, hendak mencengkeram kerah Sehun.
"Dia di tempatku"
Chanyeol tercengang... lalu menurunkan tangannya dengan gemetar. Nafasnya begitu terengah.. nyaris tak mampu mengendalikan amarahnya sendiri.
"Demi keselamatannya, aku membawa anak itu ke tempatku" Ulang Sehun lagi, mencoba memperjelas.
Membuat Raja Silla itu kembali gontai melangkah ke belakang.
Sungguh demi apapun itu, Ia benar-benar takut.
Kehilangan Baekhyun...
dan tak lama berselang, ia beranjak membawa langkahya menuju tempat Penasihat sekaligus panglima kerajaan itu.
.
.
.
.
"Baekhyun.." Panggilnya penuh sesal, begitu melihat bocah yang dirindukannya itu benar-benar terbaring pasi di hadapannya. Ia beralih beringsut mendekati ranjang dan merengkuh tubuh mungil itu.
"Bangunlah.."Bisiknya seraya mengelus pipi Baekhyun.
Tapi anak itu tetap terpejam, membuatnya menghela nafas sesak lebih lagi saat melihat bibir anak itu semakin memucat. Tak ada rona kemerahan yang kerap Ia lihat dari wajah menggemaskan itu.
"Hei... kau tak mendengarku?" Panggil Chanyeol lagi. Tetap memaksa membangunkan namja kecil itu. "Aku kemari untuk menemuimu... buka matamu"
Raja Silla itu semakin panik kala tak mendapatkan respon apapun. Ia benar-benar tak mengharapkan semua ini dari bocah itu. Oh ayolah... dimana celoteh menggemaskan dan jeritan rusuh yang kerap memanggilnya itu.
"Bangun" Chanyeol beralih mengangkat punggung anak itu, memaksanya untuk terduduk dan bersandar di dadanya. Apapun akan Ia lakukan, jika bisa membuat anak itu lekas membuka matanya.
"kau sudah memanggil tabib?" Ujarnya pada pria di belakangnya.
"Aku sudah memanggilnya, tapi lihat... tak ada satupun obat yang terminum" Jelas Sehun seraya menunjuk racikan herbal yang masih utuh di meja
Baekhyun sedari tadi tak sadarkan diri, baik tabib maupun Sehun sama sekali tak bisa berbuat banyak untuk meminumkan ramuan herbal itu, karena semua tumpah dengan percuma.
"Berikan obat itu padaku" Titah Chanyeol tiba-tiba, membuat Sehun mengerjap heran tapi tetap mengambilnya untuk Raja Silla itu.
Tak ingin membuang waktu lebih, Chanyeol menyesap ramuan herbal itu, sedikit mengernyit begitu rasa basa mulai menjalar di lidahnya.
Chanyeol beralih menekan dagu Baekhyun lalu dengan gerakan cepat Ia menyatukan bibir keduanya, sedikit mengangkat tengkuk Baekhyun hingga namja mungil itu menengadah dan menegak semua ramuan herbal yang mengalir dari mulutnya.
Sehun sedikit berdehem kaku melihat Chanyeol mencium Baekhyun seperti itu, meseki nyatanya Ia tau Raja itu hanya bermaksud menolong Baekhyun. Tapi entahlah... sedikit interaksi intens yang terlihat membuatnya canggung, ah! Ia tak pernah melihat yang seperti ini sebelumnya.
Sehun berjalan ke sudut kamarnya dan menyalakan lilin penerang, setidaknya Ia tak ingin mengusik Chanyeol saat ini. Lalu beranjak pergi,sepertinya memilih bermalam di ruangan yang lain.
.
.
Raja Silla itu kembali berdecak.
Masih tak ada respon berarti, namun tak membuat pria itu lekas berhenti. Ia kembali menyesap sisa ramuan dalam cawan itu. menampungnya dalam mulutnya lalu membaginya untuk Baekhyun.
Tampak sebagian ramuan itu meleleh mengenai leher Baekhyun, memaksa Chanyeol beralih cepat menekan dagu anak itu, hingga bibir mungilnya terbuka lebih lebar...dan memastikan Baekhyun menelan habis semua obatnya.
"Ugh!"
Namun tiba-tiba Baekhyun tersedak. Dan terbatuk hebat... ramuan herbal yang sebelumnya tertelanpun kembali keluar percuma dari sela bibirnya. "Uhukk! ugh!"
"Sshh.." Bisik Chanyeol, mengecup sayang puncak kepala anak itu lalu mendekapnya erat. Sedikit bernafas lega melihat Baekhyun mulai terbangun, walau dalam kondisi terbatuk payah seperti ini.
"Nghh~ Pa-hit" Baekhyun mengerang nyeri di dadanya, bahkan masih terengah paska batuk hebatnya.
Tapi tatapan pias itu mendadak mengerjap, lalu membulat lebar begitu menyadari pelukan hangat yang sangat dikenalnya itu,
Membujuknya mengangkat kepala ingin melihat ke atas. Lalu—
"Ahjjusii!" Pekiknya antusias.
Namja mungil itu memaksa bangkit dengan merambati lengan Chanyeol. Membuat pria itu berdecak cemas, melihat anak itu tertatih ingin bangkit. "Baekhyun berbaringlah jika—
GREBB
Ucapannya tersendat, begitu sosok mungil itu memeluk erat lehernya, bahkan menumpukan kepalanya yang panas di pundaknya. Dan Ia bisa merasakan bahunya mulai terasa basah... sadar, anak itu menangis.
"Ahjjussi pergi lama sekali"
Chanyeol memejamkan mata, terasa perih mendengar anak itu mulai terisak parau seperti ini. Chanyeol tak berucap apapun, suaranya serasa tertelan sesak, dan Ia hanya mampu mengelus punggung sempit anak itu.
"Ahjjusi benci Baekhyun?"
Raja Silla itu terhenyak, memaksa menjauhkan pundak anak itu untuk menangkup wajah sembabnya, Ia menggeleng pelan berusaha meyakinkan namja kecilnya. "Tidak.." Bisiknya kemudian.
Bocah mungil itu hanya menunduk membiarkan air matanya kembali mengalir membasahi kedua tangan Chanyeol.
"Jika Ahjjusi pergi... bawa Baekhyun pergi juga. Ne?" Rengek Baekhyun sambil kembali memeluk leher pria kekar itu.
"..." Chanyeol kembali tak menjawab dan hanya memejamkan mata, dengan sesekali mencium lengan kecil yang masih melingkar erat di lehernya itu.
'Benarkah... kau mengandung?' Batin Chanyeol, terlihat resah Begitu menduga... sesuatu yang lebih buruk mungkin akan terjadi pada Baekhyun.
.
.
.
"Mmfh~ Mphh" lenguh anak itu, memejamkan mata pasrah kala bibir tebal itu mencumbunya, memainkan bibir dan saliva miliknya hingga sebagian meleleh dari sela-sela pagutan keduanya.
Bunyi kecipak ciuman itu masih terdengar kontras. menyulut nafsu pria itu untuk mengklaim bibir mungil Baekhyun lagi dan lagi...
"Nhhah~ ahhah" Engah Baekhyun begitu pria itu melepas pagutannya.
"Perlihatkan lehermu"Bisik Chanyeol sensual, membuat anak itu meremang lalu menengadah... memperllihatkan leher putihnya untuk Penguasa Silla itu.
"A-ahh" Desah Baekhyun begitu lidah basah itu mulai menggelitik perpotongan lehernya, mencumbunya basah dengan sesekali meninggaklan kissmark
lalu turun menggoda sebelah nipplenya. Membuat anak itu reflek meremas kepalanya dan menekannya, untuk semakin menghisap kuat ujung puting kecilnya.
"Ungh! L-lagi...ahjjuss~" Kepalanya mendongak, saat dua jari panjang itu melesak masuk ke dalam rektumnya. Merasakan dua jari yang mengganjal itu, mulai bergerak-gerak nikmat di dalam anusnya.
"Ackh!" Tubuhnya melengkung, menikmati Raja Silla itu menambah satu jari yang lain, dan menggerakkan keluar masuk tak beraturan bahkan hingga berkali-kali menumbuk titik manis dalam tubuh anak itu.
"Baekh~ " Desahnya saat mencumbu perut anak itu. dadanya sedikit berdesir... menyadari dalam perut itu terdapat gumpalan darahnya. Dan Dia hidup.
Sebelah tangannya terangkat, memijit pelan genital mungil itu sebelum akhirnya mengulumnya di dalam mulutnya. Sesaat menghisapnya lembut... lalu perlahan menguat hingga bisa Ia rasakan precum itu terperas dalam mulutnya.
"Emhh! Ah!...Ah—jjussii!"
.
.
"Anghh!"Baekhyun menjerit. Kala klimaks itu nyaris menyeruak.
Membuat Chanyaol semakin berhati-hati mengerakkan jarinya... tak ingin membuat guncangan berlebih yang bisa berdampak pada kandungan anak itu.
"Ahjussh~impfhhh! Mmmmhh!" Chanyeol mencium mesra bibir anak itu, membiarkannya menghisap dan menggigit bibir tebalnya... kala Baekhyun menyentak klimaksnya sendiri.
Ia menegang, terlalu terangsang ingin meyergap tubuh mungil itu. Tapi—
Melihat Baekhyun yang terengah dengan wajah sepasi itu. Memaksanya untuk menahan diri... Ia tak mungkin sampai hati menyetubuhi kekasih mungilnya. Sementara anak itu seringkih ini.
Terlebih... Baekhyun pun sepertinya telah jatuh terlelap. Karna lelah.
"Maafkan aku..." Bisiknya seraya mengangkat tengkuk Baekhyun, lalu kembali melumat bibir tpis itu hingga merah merekah.
Skip Time
Waktu beranjak dini...
Terlalu senyap dan hanya menyisakan derik serangga malam di luar sana.
Semestinya... memang waktu tidur untuk sang Raja.
Tapi tidak untuk Chanyeol...
Raja Silla itu tetap bertahan, berdiri di tepi balkon... mengamati seorang bocah yang telah terlelap di dalam kamar itu.
Ia tak pernah menduga, meninggalkannya... akan membuat anak itu serapuh ini. Seakan Baekhyun memang tak bisa terlepas darinya.
Lantas..bagaimana jika sesuatu yang tak diinginkan itu terjadi?
Bagaimana jika kerajaan menentangnya?
Dan—Bagaimana jika Ia harus berpisah dengan anak itu?
"Hyung..."
Panggilan itu berhasil menyentak sadarnya, membuatnya menghela nafas. Entah berapa kali dalam sehari ini Ia terhanyut dalam semua prasangkanya sendiri.
Sehun berjalan mendekatinya. Terlihat mencurigakan, begitu pria itu membawa sebuah bungkusan di tangannya.
"Apa yang ada di tanganmu?"
"Aku terpaksa mengatakan semua ini Hyung"
Ujar Sehun tiba-tiba. Mengalihkan pertanyaan Chanyeol. Tak peduli... Raja Silla itu sebenarnya masih kacau dengan batinnya.
"Tapi Yang Mulia Ratu terlibat dalam rencana konspirasi yang akan dilakukan Namjoon. Pria itu menginginkan tahtamu. Jika mereka tau Baekhyun mengandung anakmu. Bukan tidak mungkin mereka akan kembali mencoba membunuh Baekhyun"
Chanyeol terbelalak lebar mendengarnya. Bukan karna rencana konspirasi yang ingin dilakukan Namjoon. Tapi Ia lebih terkejut dengan kalimat terakhir Sehun.
"Apa maksudmu kembali membunuh Baekhyun?"Gumamnya dengan wajah mengeras. Tidakkah itu berarti Seulgi dan kakaknya, pernah mencoba membunuh Baekhyun?
Sejenak Sehun terdiam. Sadar, Ia telah lepas bicara... tapi sebenarnya memang itu yang ingin disampaikannya pada Chanyeol sejak jauh hari
Hanya saja... Ia memang tengah menunggu waktu yang tepat untuk melugaskan semuanya.
dan mungkin ini memang saatnya, Penguasa Silla itu mengetahuinya
Sehun beralih menatap tajam Chanyeol. "Semula, aku tak menduga jika kematian dayang dan hilangnya Baekhyun 5 tahun silam berhubungan dengan rencana Namjoon"
Chanyeol terbelalak tak mengerti. apa hubungannya tahta miliknya dengan semua kasus itu?
"Raja adalah target sebenarnya. Namjoon berharap Ratu Seulgi mengandung anakmu, lalu tahtamu akan terbagi untuk putra mahkota. Karena itu akan menjadi gerbang bagi Namjoon merebut tahta itu. Namun semenjak kau membawa Baekhyun kemari. Rencana yang mereka buat mendadak kacau. Kau sama sekali tak mengalihkan perhatiannmu untuk Sang Ratu, melainkan hanya untuk Baekhyun"
Raja Silla itu menarik raut tegasnya, mulai menerka kemana arah pembicaraan penasihatnya itu.
"Dengan kata lain. Baekhyun adalah penghalang. Sejak itu mereka merombak ulang rencana dengan menyingkirkan penghalang itu... tapi—
Sehun beralih membuka bungkusan di tangannya dan mengeluarkan beberapa potong pakaian yang penuh noda darah kering, bahkan terlihat usang. "Rubah itu memijak jebakannya sendiri" Lanjut Sehun seraya menyeringai
"Pakaian ini—
Chanyeol mengernyit.
"Milik Namjoon, Dia gunakan saat membunuh dayang itu, darah dan keringat yang melekat dalam pakaian ini. Telah terbukti milik keduanya" lugas Sehun, meyakinkan.
"Tapi mengapa membunuh dayang itu?"
Sehun tersenyum, terlihat tajam begitu membaca pergerakan macam apa yang tengah dilakukan Namjoon kala itu. "Dayang itu adalah senjata untuk membunuh Baekhyun. Membujuk anak itu... lalu tanpa sepengetahuan siapapun. Menenggelamkannya di sungai. Tapi menyisakan dayang itu tetap hidup adalah ancaman. Lalu Namjoon membunuhnya untuk menghilangkan bukti"
"Dari mana kau mendapatkan pakaiannya. Kurasa Dia tak sebodoh itu meninggalkan barang seperti ini"
"Hamba merampasnya dari seorang pelayan, yang ingin membakar pakaian itu Yang Mulia"
Tiba-tiba seorang dayang muda menyela keduanya. dan membungkuk penuh hormat... membuat Chanyeol terbelalak lebar. "Kau—
"Je Ni adalah salah satu mata-mata milikku Hyung. Dia yang membantuku menguak kasus ini"
Sejenak Raja Silla itu terdiam. Terlalu takjub dengan pria muda di hadapannya saat ini. Tak menyesal Ia menumpukan semua rasa percayanya pada Sehun. Tak hanya kesetiannya... Tapi Pria muda itu benar-benar dapat Silla andalkan.
"Kau selalu membuatku terkesan ... Oh Sehun"
.
.
.
.
Di Tempat Lain
"Lakukan tugasmu. Buat semua Rakyat Silla mengetahui aib itu... dan meyakini anak itu sebagai kutukan" Desis Namjoon pada seorang ahli perbintangan, memaksa pak tua itu menelan ancaman dan juga titah berbisa darinya. Tentu akan sangat mudah memanipulasi ramalan itu, jika ia memiliki kuasa seperti ini.
"B—Baik T-Tuan"
"Bagus! Lakukan saat ini juga"
.
.
.
Esoknya
"USIR ANAK ITU DARI SILLA!"
"BUANG MALA PETAKA ITU DARI SINI!"
Silla mendadak gempar. Ribuan penduduknya mulai mengepung gerbang istana, saling bersahut dan berteriak. Bahkan beberapa membawa senjata kayu hingga senjata tajam. Mereka telah termakan asumsi yang tengah berkembang di tengah negrinya.
Meyakini, bahwa seorang anak laki-laki tengah mengandung. Dan itu membawa kutukan yang akan membawa wabah mematikan. Dia kutukan.
Kutukan yang masih bersemayam di dalam Istana
.
.
"Apa? apa yang sedang terjadi?!"Seorang menteri terlihat kalut kala melihat keluar dari balkon istana. Membuat Heechul yang kala itu mendengar hiruk pikuk tersebut, memaksa mendekati balkon.
"Ah Yang Mulia, sebaiknya anda jangan di sini karena—
"Apa yang terjadi pada mereka?" Heechul memaksa ingin melihat keluar, dan terbelalak tak percaya melihat semua rakyatnya berjajar seakan ingin menentang.
"KAMI INGIN SELAMAT! USIR ANAK ITU DARI SINI!"
"ANAK ITU AIB SILLA!"
"YA! BUNUH ANAK ITU! BUNUH AIB ITU!"
Teriakan demi teriakan semakin terdengar memekakkan. Membuat wanita itu melangkah gontai, bahkan nyaris terjatuh jika saja Menteri itu tidak menahannya. "Y-Yang Mulia"
Heechul menekan dadanya sendiri. "B—baekhyun" Gumamnya lirih. Ia tak menduga... kabar itu akan tersebar secepat ini hingga terdengar oleh rakyatnya.
Wanita itu bergegas berlari ke dalam istana, demi mencari Putranya.
.
.
.
.
"TIDAK IBU!" Teriak Chanyeol geram. Tak pernah sekalipun Ia menentang keputusan Ibunya, tapi kali ini...Ia tak bisa memenuhi kehendak Ibu Suri itu.
"Chanyeol! Semua ini demi kebaikanmu... demi nama baikmu, Baekhyun harus pergi dari—
"AKU RAJA DI SINI!" Sentak Chanyeol lagi, seraya memegang kedua pundak Ibunya. "Aku yang berkuasa Ibu... Aku tak akan meninggalkan anak itu. Ku mohon mengertilah" Ujar Chanyeol. Semakin merendahkan intonasi bicaranya. Berharap wanita itu memahaminya.
Tapi yang terlihat... PLAKK
"Kau lebih memilih hubungan terlarang itu dibandingkan Rakyatmu?! Dibandingkan Ibumu?!" Jerit Heechul setelah menyentak tamparannya. Ia beralih menarik tangan pemuda itu... di bawanya keluar hingga melihat apa yang terjadi di luar istananya.
Sementara dua sosok di balik pintu itu, tengah memadang picik... terlalu puas melihat semua berjalan di bawah kendalinya.
"Bagus Oppa! Semua rakyat bodoh itu termakan ramalan palsu kita!"
"Tsk! Aku bisa mengendalikan mereka, bukankah itu berarti aku yang sepantasnya menjadi Raja"
.
.
.
"Lihat mereka menentangmu! Mereka ingin melawanmu jika kau mempertahankan anak itu!"
Chanyeol memejamkan mata. Ya... Ia memang tau, maksud dari semua hujatan rakyat itu.
"Aku mencintai anak itu .. Ibu" Lirih Chanyeol. Semakin terdengar putus asa... kala tawa Baekhyun mulai memenuhi benaknya.
Heechul menatap nanar. Ia tak menginginkan semua ini, dan melihat Raja Silla itu mendadak selemah ini hanya karena perasaannya. itu bukanlah Chanyeol! Bukan putranya yang selalu dibanggakannya.
"B-baik—" Heechul tersedak ucapannya, memandang kecewa pada sosok Penguasa itu.
"Kau memang menginginkan negri ini hancur!" Ucapnya semakin tercekat.
"Dibandingkan melihatmu jatuh, aku lebih memilih MATI CHANYEOL!" Teriak Heechul sambil menarik sebuah anak panah dari seorang prajurit lalu mengarahakan ke dadanya sendiri
"I-IBU!"
"Chanyeol~ah" Heechul tetap mengarahkan anak panah itu di dadanya, seraya menatap pias putranya.
"Kau menginginkan diriku mati di sini, atau mengasingkan anak itu?!"
Chanyeol semakin kebas melihat darah mulai merembas dari kulit ibunya yang tergores. Wanita itu benar-benar tak bermain dengan ucapannya.
"HENTIKAN IBU!"
Heechul menggeleng, kekeuh menekan mata panah itu di dadanya. Demi apapun itu... Ia benar-benar tak ingin Putranya jatuh terpuruk. dengan perlawanan dari rakyatnya sendiri.
"Aku mendengarmu! Ku mohon hentikan!" Mohon Chanyeol semakin tak sanggup melihat Ibunya menyakiti diri seperti itu. dan begitu Heechul lengah...Chanyeol merampas anak panah itu lalu membuangnya jauh-jauh.
"Berjanjilah pada Ibu. Berjanjilah Chanyeol"
"..."
.
.
.
"A-ahjjusii!" Baekhyun menoleh panik mencari Chanyeol begitu beberapa dayang itu hendak menariknya untuk berjalan keluar.
"Mari Tuan Muda.." Bujuk salah seorang dayang.
"Aku tidak mau! aku ingin di sini bersama Ahjjusii!" Kekeuh Baekhyun seraya berjongkok. Bibir pucatnyapun terpout kesal. Terbiasa mempertahankan sikap manjanya di saat kesal.
"CEPAT BAWA ANAK ITU KELUAR!"
Tapi teriakan pengawal di luar menyentak beberapa dayang itu, hingga terpaksa menarik Baekhyun untuk berdiri dan mendorongnya berjalan keluar.
"Aku tidak mau! Jangan memaksaku!" Jerit Baekhyun. tapi percuma tubuh mungilnya sama sekali tak bisa melawan . Membuatnya tetap dipaksa ditarik keluar... meninggalkan paviliun itu.
"AHJJUSII!" Teriak Baekhyun berharap Chanyeol datang dan memukul semua dayang itu. Tapi pria itu tak kunjung datang membuatnya semakin menjerit jengkel. "JE NI! SEHUN AHJJUSIIII!" Teriaknya lagi.
"..."
tapi—
Tak satupun datang.
Dan ia tetap terseret mengikuti langkah tergesa semua dayang yang menggenggam tangannya itu.
KREAAAKKK
Hingga pintu gerbang terbuka, Baekhyun reflek memejamkan mata silau... begitu bias mentari menerpa wajah pucatnya.
"DIA ANAK ITU?! DIA KAH KUTUKAN ITU!"
Baekhyun mendadak berjengit, begitu mendengar teriakan riuh di depannya. Dan begitu membuka mata... bocah itu semakin ketakutan melihat ribuan orang memandangnya dengan tatapan penuh benci.
Baekhyun tak suka suasana ini, Ia memutar tubuh ingin kembali... dan di sanalah Baekhyun melihat Chanyeol berdiri di atas balkon Istana. Baekhyun tersenyum riang.
"AHJJUUUSIIII!" Panggilnya antusias, berharap Pria itu lekas turun dan membawanya kembali.
Namun pria itu hanya menatapnya. Lalu memutar tubuh membelakanginya... seakan memang tak pernah melihat dirinya atau bahkan menyadarinya.
"A-ahjjusi?" Gumam Baekhyun tak mengerti. Apa yang terjadi? Apa Pria itu tak mendengarnya? Atau mungkin dirinya memang tak terlihat?
"AHJJUSIIIIII!" Panggilnya lagi. Tapi pria itu tetap memberi punggungnya. Membuat bulir bening itu merosot cepat dari pelupuk matanya.
Baekyun tak bisa lagi memanggil, kala langkah kecilnya mulai tersendat-sendat, begitu dayang itu kembali memaksanya untuk berjalan. Hingga tiba-tiba... beberapa batuan kerikil terlempar ke arahnya. Baekhyun menciut ketakutan... mengapa semua orang dewasa itu berteriak dan melemparinya seperti ini?
.
GREB
Tubuhnya terangkat, begitu seorang pria mengangkatnya bridal. "Sehun Ahjjusii" Gumamnya ketakutan sambil meremas kuat pakaian depan Sehun.
"Pejamkan matamu Tuan muda" Lalu seorang wanita berlari menghampirinya, menutup wajah dan tubuhnya dengan sebuah mantel besar.
Baekhyun tak melihat apapun selain hitam yang pekat. Merasakan Sehun bersama dayang pengasuhnya membawanya berlari di tengah teriakan dan hujatan orang-orang tak di kenal itu.
"A-ahjjusii"
.
.
...
"APA YANG MEREKA LAKUKAN?!" teriak Chanyeol geram begitu melihat semua rakyat itu melempari Baekhyun.
"YACK! HENTIKAN!"
Ia memaksa ingin turun, namun beberapa pengawal menahannya... karena itu akan membahayakan Raja itu.
"JANGAN MENYAKITINYA! HENTIKAAAN!"
.
"AARGGHHH! BAEKHYUN!"
.
.
.
Perbatasan Silla
"Tuan... kita cukup jauh melangkah. Kemana kita membawa Tuan Muda Baekhyun?" Ujar Je Ni, sambil sesekali melirik bocah yang menggelayut pulas di punggung Sehun. Sedikit menghela nafas berat melihat luka gores di pelipisnya, akibat lemparan batu. Ah! Mengapa semua ini harus terjadi. Bahkan Baekhyun tak mengerti apapun dengan semua yang menimpanya.
Anak itu sama sekali tak berbuat salah apapun.
"Ke tempat dari seseorang yang ku kenal. Setidaknya... kita membawanya jauh dari Silla. Yang Mulia Raja tak ingin siapapun menyakitinya" Jawab Sehun sembari menelisik ke sekitar memastikan tak ada yang mengikutinya. Dan Dayang itu hanya mengangguk mematuhinya.
Tapi keduanya sama sekali tak menyadari sesosok pria mengikutinya semenjak Ia melangkah dari istana Silla.
Berjalan mengendap, menyusp semak dan pepohonan. Untuk mengikuti kemana Dia membawa anak itu.
Hingga tak berselang beberapa lama. Keduanya tiba di sebuah desa kecil tepat berada di perbatasan Silla. Terlihat beberapa anak kecil berlarian di halamannya.
Sehun mengendikkan dagu, mempersilakan dayang muda itu untuk melangkah lebih dulu.
"Hunnie..."
Tiba-tiba suara halus menyapa dari belakang, membuat keduanya menoleh cepat.
"Y-yeppeoh" Gumam Je Ni spontan. Dan terlihat kikuk kala namja berparas cantik itu mendekati keduanya.
"Siapa anak ini? Ah! Mengapa wajahnya sepucat ini?! Dia terluka? Cepat bawa anak ini masuk Hunnie!" Ujar namja itu bertubi-tubi. semakin cemas kala melihat luka gores di pelipis Baekhyun.
.
.
.
"Cha... seperti ini lebih baik" Gumam Namja cantik itu, seraya mengikat anak rambut Baekhyun ke atas. Terlihat menggemaskan ...layaknya buah apel.
"Luhan.." Panggil sehun yang sedari tadi mengamatinya merawat Baekhyun.
"Ne..?"
"Bisakah aku mempercayakan anak ini padamu?"
Luhan mengernyit. Terlihat asing dengan raut cemas pria kekar itu. Ia tak pernah melihat Sehun seperti ini.
"Perlu kau ketahui. Anak ini menyimpan beban yang sangat berat. Tapi Dia sangat berharga untuk Yang Mulia Raja" Sehun menatap sendu Baekhyun, dan tersenyum tipis menyadari anak itu rupanya lebih banyak tidur. Membuat Luhan turut mengikuti arah pandangnya.
"Dan Dia sedang mengandung"
"Hm.. mengandung" Gumam Luhan spontan.
tapi kemudian. "APAA?! MENGANDUNG? T-TAPI DIA—
"Ya... hanya seorang bocah, dan namja" sergah Sehun memperjelas. Membuat Luhan kembali menelan rasa terkejutnya.
"Tapi itulah yang terjadi" Lanjut Sehun lagi.
Sejenak Luhan terdiam, lalu beralih menggenggam tangan Sehun. "Aku tak tau hal buruk macam apa yang terjadi pada anak ini dan Yang Mulia Raja. Tapi kau membawanya kemari mungkin untuk keselamatan anak ini. Kau tak perlu mencemaskannya... aku akan menjaga anak ini" Yakin Luhan sambil tersenyum lembut.
"Terima kasih"
.
.
.
"Nnnh~"
Baekhyun menggeliat, terasa tak nyaman begitu kepalanya kembali berdenyut pening.
"Ah! kau terbangun Baekhyun" Luhan berjalan tergesa dan membantu anak itu untuk duduk. Membuat Baekhyun mengerjap bingung, melihat sosok asing itu.
"Kau belum mengenalku"Sahut Luhan cepat seraya meraih jemari mungil Baekhyun. "Namaku Luhan... mulai sekarang aku yang akan menemanimu"
"Dimana Ahjjusi?"
Luhan mengernyit. "Ahjjusi?"
Baekhyun menatap pias, lalu memkasa ingin turun dari ranjang. "Aku ingin bertemu Ahjjusi"
"T-tunggu Baekhyun"
"Hks... aku ingin bertemu Ahjjusi!"
"Baekhyun...perhatikan langkah—
BRUGH
Baekhyun tersungkur, begitu tersandung kakinya sendiri. Tapi anak itu tetap memaksa beringsut bangkit... merangkak mendekati pintu.
Dan begitu membukanya—
BRAKK
Semua terasa asing, ini bukan Istana tempatnya bermain dan berlari...Baekhyun tak mengenal tempat ini. Mengapa dirinya tiba-tiba di sini?
"Hks~ AHJJUSIIIIII!"
.
.
.
~Silla~
DEG
Chanyeol spontan memegang dadanya sendiri, merasakan degupan kencang itu tiba-tiba menyeruak. Rasa yang sama... ketika Baekhyun memanggilnya. Raja Silla itu melangkah keluar membiarkan deru angin malam menerpa wajah tegasnya.
Ia terkekeh hambar, sambil menutup wajah. Bahkan saat anak itu tak lagi di sini pun... Ia masih merasakan kehadirannya.
"Apa kau memanggilku?" Gumamnya serak saat memandang langit malam yang pekat itu."Bersabarlah..."
"Lalu hanya ada kau dan aku Baekhyun~ah" Gumamnya lagi, seakan memang tengah bicara dengan namja kecilnya.
.
.
.
Dua Hari Kemudian
"Sungguh suatu kehormatan. Yang Mulia Raja Memanggilku kemari" Namjoon membungkuk penuh percaya diri dan terlihat bangga, di hadapan semua petinggi kerajaan itu, merasa yakin... Istana akan memberinya penghargaan atas jasanya mengendalikan situasi dan menenangkan semua rakyat Silla.
Chanyeol terkekeh, sedikit menyembunyikan simpul seringai itu di sudut bibirnya.
"Mari bersulang kakak ipar" Ujar Chanyeol dari atas singgasana itu, sambil mengangkat cangkir berisi tuak mahal miliknya. Dan semua orang dalam ruangan itu saling terbahak riuh menyambut Raja, yakin hari ini adalah pesta sebagai ucapan terima kasih sang Raja untuk Kakak Iparnya.
Tentu Namjoon dengan senang hati menjamu dan mengangkat cangkir gioknya sendiri untuk bersulang. Terlalu senang melihat Seulgi, Ibu Suri dan Raja itu tertawa seperti ini. Ah! Semua semakin berjalan di bawah kendalinya.
"Aku memang mengadakan pesta ini, khusus untukmu... Kakak Ipar"
Seulgi melirik Chanyeol lalu tersenyum lebar, merasa yakin... Raja Silla itu telah menerimanya.
"Ah! Aku menghormati kebesaran hatimu Yang Mulia" Jawab Namjoon berpura sungkan.
"Ya... sebuah pesta" Chanyeol menatap tajam pria yang masih terbuai dalam kesenangannya itu. "Untuk mengakhiri muslihatmu"
Semua mendadak hening, seakan tercekat dengan kalimat sang Raja. Hingga beberapa saat setelahnya semua saling betukar pandang, tak mengerti. Apa yang sedang terjadi sebenarnya.
Lalu Namjoon tertawa keras, memecah hening yang canggung itu. "Ah! Yang Mulia memang lihai dalam bercanda"
Chanyeol berdecih. "Tangkap Dia!"
"Chanyeol~ah Apa yang terjadi?" Panik Heechul
Semua mendadak rusuh, begitu ratusan pengawal dan prajurit mengepung. Membuat semua tamu penting itu panik bahkan beberapa berteriak ketakutan.
"A-apa!? Apa maksud semua ini?!" Teriak Namjoon tak terima begitu tangannya dicekal.
"Kau ditangkap atas rencana pemberontakan" Sehun berjalan menghadang dengan pedang terhunus kedepan.
"Pemberontakan? Hahah?! Kalian bercanda?! Aku kerabat Raja... mana mungkin—
BRUGH
Kedua matanya terbelalak begitu melihat seorang pria bersimpuh dengan tangan terikat. "Kami menangkap pemimpin pasukanmu" Lugas Sehun, seraya menjambak kuat rambut pemimpin pasukan ilegal itu. Menunjukkan wajah belurnya kepada Namjoon.
Namjoon meneguk ludah payah, mengapa ini terjadi. Bagaimana mungkin mereka bisa menangkapnya?! dan begitu menoleh ke belakang Ia kembali dikejutkan dengan ratusan pasukan pemberontak dan pembunuh bayaran miliknya telah lumpuh terikat.
"Pembunuhan seorang Dayang 5 tahun silam, dan percobaan pembunuhan Tuan Muda Baekhyun" Ujar Sehun semakin lantang.
"Apa?! Aku tidak—
Ucapan Namjoon bagai tersedak begitu saja, kala beberapa pengawal kerajaan itu menunjukkan pakaian miliknya yang penuh denga noda darah. "Pakaian ini penuh dengan keringat dan darah Dayang itu. Kau terbukti membunuhnya"
"..."
Seulgi mendadak gemetar, tak menduga di hari yang cerah tanpa bocah penganggu itu. Kakaknya tiba-tiba tertangkap basah seperti ini. Ia berjalan tergopoh untuk menghindar...memanfaatkan situasi tegang itu untuk melarikan diri.
"Dan kau terbukti. Mengancam Peramal Shin... untuk memalsukan kesaksian ramalan ahli perbintangan! menyebar rumor palsu di tengah Rakyat Silla!" Suara Sehun kembali memecah semua riuh itu.
Namjoon semakin melemas, di hadapan semua petinggi dan perwakilan rakyat Silla itu... dirinya hancur. Apa yang terjadi? bukankah semua telah berjalan sesuai rencananya?!
"Hukum mati" Pungkas Sehun
"TIDAK! YANG MULIA HAMBA MOHON AMPUNI HAMBA!"
"Bawa Dia" Singkat Chanyeol tanpa sudi melihat pria yang masih meronta memohon padanya itu
"TIDAAAAAAKKKKK!"
.
.
.
Malam telah menjelang, namun tak surut begitu penerang berpendar memenuhi Silla. Menjadi pengiring bagi rakyat menuju Istana, tentu saja untuk mendengar ramalan ahli perbintangan Istana. Setiap bulan, hal ini menjadi ritual penting bagi mereka.
"Kau bisa membaca ramalan itu sekarang" Titah Chanyeol, mempersilakan ahli perbintangan itu memaparkan ramalannya di hadapan ribuan rakyat Silla. "Baik Yang Mulia"
Sejenak Peramal itu melihat kesekitar, terlihat mengangkat wibawa kala memadang bintang di langit. "Silla tengah berbahagia. Semua keberuntungan dan kemakmuran itu tengah berpihak pada Silla. Bintang yang berkelip terang di sisi bintang Yang Mulia Raja, menjadi pengikat semua kejayaan itu"
Tak pelak apa yang disampaikan peramal itu, membuat semua rakyat sila bersorai senang. tak terkecuali para petinggi kerajaan itu.
"Peramal Shin, bukankah selama ini hanya bintang Yang Mulia Raja Saja yang bersinar, lantas apa maksud bintang lain yang berkelip terang itu?" Tanya Heechul, merasa penasaran dengan maksud tersirat peramal itu.
"Bintang lain yang berkelip terang itu adalah Putra dari Yang Mulia Raja. Dengan kata lain... saat ini Istri Yang Mulia Raja tengah mengandung"
Baik Heechul maupun Chanyeol terlihat tergagap mendengarnya. Mereka tau pasti... itu bukanlah Seulgi, bukan Ratu ataupun istri Raja yang dimaksud peramal itu.
Melainkan—
Baekhyun yang tengah mengandung saat ini.
Jadi mungkinkah itu berarti—
Brugh
Heechul jatuh terduduk. Membuat para dayang itu berlari panik menghampirinya. "Y-yang Muliaaa"
"B-baekhyun! A-apa yang telah kulakukan padanya?!" Isak Heechul histeris dengan tangan menutup wajahnya. Ia tak tau jika keraguannya kala itu, akan berujung penyesalan seperti ini. Semestinya Ia mengikuti hati kecilnya, bukan pada keangkuhan atas nama baik keluarganya.
"Baekhyuuun hks...maafkan Halmeonii"
.
.
.
.
"C-chanyeol~ah"
Heechul perlahan mendekat. Terlihat ragu saat melihat Raja yang masih memandang keluar dari balkon istananya.
"Ibu lihat... siapa yang patut Ibu curigai sebenarnya. Ibu memaksaku melepaskannya" Chanyeol beralih melangkah meninggalkan wanita itu. Membuat Ibu Suri itu tertunduk penuh sesal... membenarkan semua ucapan Pria itu.
.
.
.
Esoknya
"Baekhyun?" Luhan terlihat panik mendekati anak itu. Sedari tadi Baekhyun meringis dengan tangan tak pernah berhenti memegangi perutnya sendiri.
"Unghh..."
"Apa kau mual?"
Namja mungil itu menggeleng, lalu kembali merintih tak nyaman di hadapannya.
"Ah... mungkin karena kau terlalu lama berbaring di ranjang" Gumamnya seraya mengelus kepala anak itu. "Ada baiknya jika aku mengajakmu berjalan di luar. Kau tau... udara pagi ini sangat segar" Bujuknya.
Dan benar saja, Baekhyun menatap padanya lalu mengerjap.
"Ahjjusi juga di sana?" Celotehnya kemudian.
Membuat pemuda cantik itu menghela nafas getir. Mungkinkah Baekhyun terbiasa bersama sang Raja... hingga Baekhyun terlihat tersiksa menahan diri seperti ini. Ia tau... anak itu pasti sangat merindukan sosok yang dipanggilnya Ahjjusi itu.
"Hmm... mungkin kau akan menemukan hal menarik" Jawab Luhan mengalihkan perhatian Baekhyun.
Anak itu hanya tertunduk murung, namun tetap mengikutinya... ah ini lebih baik dibandingkan Baekhyun terisak setiap malamnya.
"Cha... berpeganglah padaku, jika kau lelah berjalan"
.
.
.
Detik berganti menit terus berputar menjadi jam, dan tanpa terasa terik mentari mulai menyingsing semua embun pagi itu.
"Kau lelah?"
"Uhm.." Gumam Baekhyun
membuat Luhan beralih membimbing Baekhyun untuk duduk di tepi danau kecil, membiarkannya terkikik kala melihat semua ikan di danau itu.
"Masukkan kakimu ke dalam... mereka akan menari di sekitar kakimu"
"..." Baekhyun mengernyit lalu menatap Luhan tak percaya.
"Coba saja"Bujuk Luhan.
Baekhyun mulai memasukkan kakinya secara perlahan, merendam sebagian kaki ramping itu ke dalam danau.
Pekikkan antusiasnya pun pecah begitu saja. Melihat ikan-ikan kecil itu mendekat lalu menggelitik kakinya... seperti tengah menari. "Ahaahahaha"
"Lihat... mereka sangat lucu bukan?" Kekeh Luhan. sangat antusias melihat tawa manis bocah menggemaskan itu.
.
.
"Luhan Hyung...haus" Rengek Baekhyun seraya mengguncang lengan kurus pemuda itu.
Luhan tertawa lalu mengacak gemas, surai hitam Baekhyun. "Baiklah tunggu di sini... aku akan kembali membawa minuman segar hanya untukmu" Ujarnya setengah bercanda.
"Umh!" Baekhyun mengangguk patuh lalu kembali mengayun kakinya di dalam air, menggoda semua ikan-ikan kecil yang tengah bermain bersamanya itu.
.
"Pangeran..."
Namun suara seseorang tiba-tiba membuatnya berjengit.
Baekhyun menoleh dan mengerjap pada sosok itu. Tapi siapa yang dipanggil?
Pangeran siapa yang dimaksud itu.
Pria itu tersenyum lalu berjalan mendekati bocah yang masih kebingungan di hadapannya.
"Ahjjusi mencari pangeran? tapi di sini tak ada pangeran. Aku tak melihatnya" Ujar Baekhyun sambil mempoutkan bibir.
"Kaulah pangeran itu"
Baekhyun kembali mengangkat wajah, memandang curiga pada sosok berwajah pucat di hadapannya.
"Kau siapa?"
"Baekhyuuuunnnn!"
Baekhyun mendadak membulatkan mata, begitu mendengar suara seorang bocah. Siapa yang mengenalnya di tempat seperti ini? dan semakin merasa tak asing begitu bocah itu benar-benar muncul di hadapannya. Dia sosok yang Ia tabrak kala itu, tapi mengapa anak itu di sini?
"Ah! Aku benar-benar tak salah lihat! Dia memang Baekhyun!" Jerit bocah itu dengan mata membulat penuh binar. "Kyuhyun Ahjjusi! Lihat! Dia memang Baekhyun! Seharusnya kau mempercayaiku sejak dulu!" Omel Kyungsoo seraya berkacak pinggang.
Pria bernama Kyuhyun itu hanya tersenyum mengiyakan, lalu beralih menatap Baekhyun. "Aku mengikuti dua sosok yang membawamu kemari... Pangeran"
Seakan dihadapkan dengan suatu hal yang asing, Baekhyun terlihat menciut ketakutan. Ia benar-benar tak mengenal dua sosok itu barang sedikitpun. Tapi mengapa mereka mengetahui namanya.
Ya! tak satupun tau... Seulgi yang mendorong Baekhyun di sungai kala itu. Sebenarnya meninggalkan cidera di kepala Baekhyun. Hingga sebagian memori masa kecilnya perlahan terhapus... hanya Chanyeol dan kesehariannya di Silla yang mungkin tersimpan.
"S-siapa kalian?"
Kyuhyun mengernyit. Raut Baekhyun tak berbohong. Anak itu benar-benar tak mengenalinya. Mungkinkah suatu kecelakaan terjadi hingga membuat anak itu lupa ingatan?
"Yyaa! kau melupakanku?! aku yang selalu bermain bersamamu! Kau selalu merebut mainanku!" Pekik Kyungsoo
Membuat Baekhyun terbelalak kesal. "Anniyaa! Kau yang selalu merebut mainanku! Kyungsoo!"
DEG
Baekhyun reflek menutup bibir. Merasa ia kerap menyerukan racauan kesal itu untuk seseorang. Tapi siapa?
"Yya! apa ini? kau mengingatku! Aiiissshh jangan berpura-pura tak mengenalku!"
"T-tapi aku tak mengenalmu"
"Mwo? Kau baru saja memanggil namaku!"
Baekhyun membulatkan mata."Kau Kyungsoo?"
"Tentu saja Aku Kyungsoo!"
sementara Kyuhyun terlihat memijit pelipisnya, racauan dua bocah itu seakan kembali membawanya ke masa lampau. Dimana jeritan Baekhyun dan Kyungsoo kerap memenuhi Goryeo.
"Pangeran... Yang Mulia sangat merindukan anda"
"Y-yang Mulia?"
"Ayahmu pabbo!" Sergah Kyungsoo. Semakin tak tahan ingin menggulat namja kecil itu, ah Ia rindu bermain dengan Baekhyun.
"Ayahku?" Baekhyun memegang kepalanya, kembali mengingat bisikan Chanyeol kala itu.
"Tapi ayahku seorang pembunuh"
Kyungsoo menganga lebar mendengarnya, gurauan macam apa lagi yang kini dikatakan Baekhyun. Sebelumnya lupa akan dirinya dan kini menganggap Ayahnya seorang pembunuh.
"Hei! kau bermimpi? Tak sepantasnya kau memanggil Ayahmu yang sedang sakit pembunuh!"
Kyuhyun menghela nafas, menahan tangan Kyungsoo untuk tak menyudutkan Baekhyun, karena Ia tau...anak itu sama sekali tak berbohong saat ini.
"Kajja... pulang. Kami semua menunggumu" Bujuk Kyuhyun pada anak itu.
Sementara Baekhyun masih mencerna ucapan Kyungsoo beberapa saat yang lalu. "A-ayah?"
"Ya, Dia menantimu... Yang Mulia sangat menyayangimu"
.
.
.
.
"Baekhyun.. lihat apa yang ku ba—
Semua buah itu mendadak berjatuhan dari tangannya. Luhan terbelalak gemetar melihat siluet seseorang membawa Baekhyun pergi. Siapa Dia? Mungkinkah pria itu menculik Baekhyun dan mencelakainya?
"T-Tunggu! LEPASKAN ANAK ITU!" Teriak Luhan seraya mengejar pria tinggi itu.
.
"BAEKHYUN! TUNGGU!"
.
.
.
To Be Cont~...
.
.
Next Chapt
"Di mana Baekhyun?" Sehun mengguncang bahu ramping itu, merasa tak tenang dengan mimik wajah namja cantik itu.
"LUHAN!" Bentak Sehun.
"Keluarganya membawanya kembali" Lirih Luhan dengan wajah tertunduk.
"A-apa?"
"Maafkan hamba Yang Mulia"
.
.
"Yong Hwa...Ku mohon"
"Jauhi Putraku"
"Tapi Baekhyun mengandung anakku!"
.
.
.
.
Halooohaaaa annyeeonng Chingu sayaaaaang, Gloomy hadir bawa ch 9. (T_T was-was takut dihapus lagi sama ffn)
IG : Gloomy_rosemary
Okeh sesuai permintaaan terbanyak, yang update ini duluan wehehe.
Clear ya masalahnya Namjoon, Ehh~ tapi Seulgi gimana tuh,
.
Yeayy akhirnya Baek kembali kepda ayahnya! (berita bagus atau buruk?)
Ok! Gloomy mau bagi-bagi cokelat nih (seriusan!) jawab pertanyaannya
-Berapa usia Raja Silla?
Reviewer yang beruntung akan diumumkan di update an berikutnya. (Jgn lupa cek PM)
Ok seperti biasa, Gloomy akan mencantumkan setiap nama reviewer di ch sebelumnya.
LightPhoenix614, Dian Rizky226 ,Shantisolekah9, AlexandraLexa , Sattriaananta , Byunsilb c , Shengmin137, Glowy'sBae , CussonsBaekby , yuanitadian99 , restikadena90 , ChanChuBaek , 90Rahmayani , Adndpwh , dwi yuliantipcy , AidakaZi , Macchiato Chwang , momomay , Tiara696 , lee da rii , raeheepark6104, , SMLming, korocbhs6104, deppsoohh, LyWoo, baekkumaa, chanbaek3769, cutie31 , Dyeo0102 , isfahunnie , jeyjong , aruni bukan arumi , Salsabila505 , knightwalker314 , MadeDyahD , Freakyducky04, shantisolekah9, Keiko Yummina, chanbaekssi , Lussia Archery , shin rae s , chanxlatifaxbaek , PRISNA CHO , BananaOhbanana , Zyumi , Anisya Kinanti , daeri2124, lula, knightwalker314 , bee , gajah cantik , inchan88 , Yeolliebee, MinJ7, selepy , Bbuing521, inspirit7starlight , Eun810 , chan92 , lovebaekhyun , viantika , juanie , mons'cbhs'kjd , yehet98 , korocbhs6104, Ricon65 , realbaek21, yousee , viaCBHS, lee da rii , socloverqua , Novianti , Incandescence7 , park yeolna , fttrn, LUDLUD, metroxylon, veraparkhyun , Park RinHyun-Uchiha, kamiliya, booyaamii , shinshiren , n3208007 , galuhnoph, babybaek , Bbuing, ByunniChen, yulis443 , len , CHANBAEK , pongpongi, Ocan , veraparkhyun, jjaeseopj , Viyomi , meliarisky7, babybyunbee , ChanBaekGAY , xiaolu, annayanna, vkeyzia23, yousee , taikuda, beepeonyy , daebaektaeluv , SNF, sehunluhan0905 , Aerellia, e-elia , annahkyungie , aruni bukan arumi , narsih hamdan , Baek13erry , PeterChan , dan All Guest
Gomawoooooo sudah review di ch sebelumya, yang belum di sebutin ingatkan gloomy yaa
Annyeeeooong
Saraaaaaaanghaaaaaaaaaaaaaaaaaaaeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee
