Game On

.

Characters belong to Masashi Kishimoto.

.

This Is SasuHina Story!

Alternative Universe! Out Of Character! Typical Errors! And might lead to some twist!

You've been warned!

.

.

.

"Kerja bagus!" puji Kakashi.

Hinata dan Sasuke telah kembali ke Jepang. Tetap setelah mereka mendarat, mereka langsung menuju markas Anbu untuk laporan singkat. Dan untuk saat ini, Hinata pribadi merasa lega sudah kembali dari Singapura sehingga ia bisa lebih mudah menghindari Sasuke.

"Kalian benar-benar menyelesaikannya dengan sempurna," Kakashi kembali menyanjung, tersenyum di balik maskernya.

"Tidak ada celah," Konan menambahkan, ia menepuk lengan Hinata.

Hinata hanya merespons dengan senyum kecil. Pikirannya masih dikusutkan oleh momen di mana Sasuke menyelamatkan gadis pirang itu. Hal itu agaknya membuat ia merasa... kurang istimewa. Hinata menghela napas. Apa yang ia pikirkan memangnya? Sasuke juga manusia, pastinya dia juga bisa merasakan apapun kepada orang lain.

"Sekarang orang-orang akan berpikir seribu kali untuk mendukung Akatsuki. Mungkin masih ada yang akan tetap bergabung, namun kebanyakan pasti akan cemas akan keselamatan merek karena peristiwa ini," ujar Kakashi. "Hinata," panggilnya.

Hinata mengangkat kepala, bisa dilihatnya Kakashi memandangnya dengan tatapan melembut. "Ya?"

"Ayahmu pasti bangga, percayalah. Saat dia mendengar tentang misi ini, dia terlihat puas," jelasnya.

"Dia bangga putrinya membunuh ratusan orang?" tanya Hinata lelah.

Sasuke yang juga masih berada di ruangan yang sama mendelik ke arah Hinata namun tak mengatakan apapun.

"Kau menyelesaikan misimu dengan baik, Hinata. Itu intinya," ujar Konan mencoba meluruskan. "Dan, oh... aku tidak percaya kau bisa bertahan selama dua bulan di sana bersama Thunder," Konan melanjutkan dengan bisikan geli.

"Kau sudah berusaha keras dalam misi ini," sambung Kakashi.

Sasuke memutar bola mata, mendengus malas. "Ya, ya. Dan aku hanya duduk menontonnya sambil makan berondong jagung di sana," sindirnya, agak tak terima dengan segala pujian yang diberikan kepada Hinata.

"Tentu saja semua ini tidak akan berjalan lancar jika tidak ada kau, Agen Senior Thunder," Konan membalas dengan senyum lebar. "Dan untuk pertama kalinya, aku sangat berterima kasih padamu."

"Terima kasih?" Sasuke berdecih. "Untuk apa? Apa karena aku tak mengunyahnya hidup-hidup sampai misi ini berakhir?" dagunya berjengit ringan ke arah Hinata. "Percayalah, aku sudah melakukan yang lebih buruk," Sasuke berdiri dari kursinya.

Kening Konan berkerut samar. Sedang Hinata, berusaha tak menampakkan suhu wajahnya yang meningkat.

"Semuanya selesai, bukan? Aku perlu ke suat tempat sekarang," ujar Sasuke lagi.

"Tentu. Kau bisa pergi," respons Kakashi datar.

Hinata menundukkan pandangannya saat ia melehat Sasuke meliriknya sebelum keluar dari ruangan.

"Baiklah... Thunder bukan satu-satunya yang memiliki kesibukan di sini," ujar Konan, menyuarakan basa-basi sebelum ia juga keluar dari sana.

Hinata sendiri masih duduk di tempatnya dalam diam. Ia tak mengerti jelas apakah karena kelelahan atau karena apa yang ia lewati dua bulan terakhir ini yang membuatnya malas untuk bergerak sekarang.

"Hinata?"

"Huh?" panggilan dari Kakashi menarik Hinata kembali dari lamunannya.

"Kau baik-baik saja?"

"Apa Anda pikir saya baik-baik saja, Jenderal?" gumam Hinata.

"Tidak perlu berbicara begitu formal. Kau bisa memanggilku Kakashi seperti yang lainnya di luar suasana formal," ujarnya. Kakashi menghela napas panjang yang tenang sebelum duduk di kursi seberang Hinata. "Kau tahu, saat aku pertama bergabung, aku juga sama bingungnya. Aku tidak tahu jika aku harus membunuh banyak orang," Kakashi memulai dengan nada tenang. "Tapi mereka adalah orang-orang jahat. Mereka memiliki niat yang akan merugikan banyak orang."

"Tapi bagaimana dengan penduduk sipil yang ikut terseret?"

"Akan selalu ada korban sampingan dalah perang, Hinata," jawabnya bijak.

Hinata terdiam, ia melirik ke luar jendela, menatap kegelapan malam untuk beberapa saat. "Soal Sasuke..." dijilatnya bibir bawah sebelum melanjutkan. "Ada seorang gadis, Sasuke tahu gadis itu ada di dalam gedung. Dia terluka dan... Sasuke menyelamatkannya. Saat aku bertanya, dia mengatakan bahwa dia menyelamatkannya karena gadis itu tidak tahu apa-apa."

Kakashi tersenyum di balik maskernya. "Dia tidak benar-benar membiarkan sipil yang tidak bersalah mati atau berniat untuk membunuh mereka. Dia mungkin mengatakan bahwa dia tidak peduli, tapi tanpa sadar, dia juga memiliki prinsip tentang penduduk sipil. Mungkin itulah kenapa dia menghindari masyarakat umum sebisa mungkin," Kakashi menyuarakan opininya.

Hinata diam, tapi ia jelas memberi perhatian terhadap setiap kata yang atasannya itu katakan.

"Dan tentang ayahmu... dia pun sama seperti kita saat pertama terikat di bidang ini. Dia bergabung beberapa tahun sebelum aku masuk. Aku mengenalnya karena kami memang dilatih bersama. Dan aku tahu saat ada yang berubah dari dirinya," Kakashi bercerita tenang, tak memburu-buru apapun. "Tempat ini memang mengubah seseorang, Hinata. Tapi bukan tempat ini yang mengubah ayahmu," ditatapnya mata Hinata dengan tatapan penuh. "Kau lah alasannya. Dia memutuskan untuk menutup semua perasaannya untuk melindungimu."

Tatapan Hinata berubah menerawang. Ada kehangatan yang menyisip dalam dirinya setelah mendengar apa yang Kakashi katakan. Namun egonya terlalu liar dan tak ingin menerima itu.

"Itu bukan alasan. Dia tetaplah seorang ayah," Hinata berdiri. "Omong-omong, terima kasih. Aku harus pergi," tanpa menunggu balasan, Hinata keluar dari ruangan itu.

..

...

..

Malam masih begitu muda untuk Hinata beristirahat meskipun tubuhnya sudah merengek untuk berhenti beraktivitas. Tanpa pemikiran panjang, Hinata pergi ke sebuah klub yang jauhnya hanya beberapa blok dari kawasan Anbu. Rasanya ia ingin minum untuk sedikit mengacaukan kesadarannya.

Tanpa melirik ke kanan kiri, Hinata langsung menuju meja bar sesaat setelah memasuki klub itu. Ia memesan segelas tequila sebagai permulaan dan menenggaknya habis sebelum mengisinya lagi.

"Hey!"

Sebuah tepukan ringan di pundaknya agak membuat Hinata tersentak. Ditengokkannya kepala ke arah samping kanan untuk kemudian ia dapati Yahiko berdiri di sisinya. Hinata menghela napas malas dan kembali mengabaikan pria itu kemudian memesan satu gelas lagi.

"Kau ketularan sikap tidak ramah Thunder, kurasa," Yahiko mencibir setelah mengetahui ia diabaikan.

"Suasana hatiku sedang buruk, aku tidak mau memperburuknya dengan mendebatmu," gumam Hinata hanya cukup untuk didengar Yahiko.

"Oh ayolah... aku hanya ingin mengucapkan selamat atas kesuksesan misimu," Yahiko menyeringai.

"Kau membenciku," ujar Hinata.

"Memang. Tapi tetap saja, sebuah prestasi untukmu menyelesaikan misi sebesar itu mengingat kau adalah anak baru," Yahiko duduk di kursi tinggi di samping Hinata.

"Itu karena agen Thunder. Bukan aku," Hinata kembali menenggak separuh dari tequila barunya.

Tak ada sahutan untuk sejenak. Yahiko memandang dalam sisi samping Hinata beberapa saat sebelum kembali berbicara. "Aku benar membencimu, kau tahu. Karena sebagaimana pun aku menindasmu, kau tidak pernah melawan."

"Aku tidak punya cukup alasan untuk melawan."

"Dengar..." Yahiko terdengar menghela napas. "Kau mungkin berpikir aku bajingan. Tapi aku hanya terlalu... iri. Kau mendapatkan apa yang tidak kami dapatkan," jelasnya.

Hinata terkekeh kosong. "Seperti apa? Tiket instan di agensi?"

Yahiko melambaikan tangannya untuk memanggil bartender terdekat yang bertugas kemudian memesan dua gelas minuman. Entah apa yang dipesannya, Hinata tak sempat mendengarnya dengan jelas. Ia juga tidak peduli.

"Semacam itulah, rasanya menyebalkan. Tapi..." aku Yahiko setelah selesai memesan. "Aku mendengar sedikit cerita tentangmu dan... yah, aku merasa seperti sampah karena terus menghinamu."

Hinata menggigit bibir dalamnya, agak tak nyaman dengan topik yang diangkat Yahiko barusan. Ia benar-benar tak ingin simpati dari siapa pun. "Sepertinya aku harus pulang," gumamnya tepat saat pesanan Yahiko datang.

"Hey, tunggu... aku memesankan satu untukmu, jangan membuatku menyia-nyiakan uangku," protesnya.

Hinata mengurungkan niatnya untuk berdiri, ia menatap Yahiko lama seolah mencari tahu apa maksud sebenarnya pria itu. Namun firasatnya seakan tumpul, seolah alkohol mulai berhasil menyelimuti tiap sarafnya.

"Tinggallah beberapa saat lagi, paling tidak ambil traktiranku," ujar Yahiko ringan sebelum menyesap minuman miliknya.

Ametis Hinata tertuju pada gelas tinggi di hadapannya. Ia masih tak percaya dengan pria bersurai jingga itu. Terlebih ia juga masih belum menemukan makna dari perubahan sikap pria itu malam ini. Ia curiga, tentu. Bisa saja diam-diam Yahiko berniat meracuninya. Siapa yang tahu?

Tapi Hinata yakin gelas minuman untuknya itu belum tersentuh siapa pun kecuali si bartender tadi. Jadi tak mungkin pria itu campur tangan, kan? Hinata memang sudah merasa tubuhnya meringan karena alkohol yang sudah menjalar di sistemnya. Tapi mungkin beberapa tegukan lagi masih bisa ditolelir, bukan?

Pada akhirnya Hinata meraih gelas itu. Tak seperti di awal, kali ini ia menikmati minumannya tanpa tergesa. Tak ada tegukan, hanya beberapa sesapan yang tak ia sangka lebih menenangkannya. Terlalu menenangkannya hingga ia tak sadar telah memperpanjang durasi 'beberapa saat lagi' yang diminta Yahiko. Membuat dirinya tinggal lebih lama dengan lebih banyak gelas yang terisi.

..

...

..

Pagi itu bukanlah satu hal yang pernah terpikirkan oleh Hinata akan terjadi antara dirinya dan Yahiko. Tapi di sanalah ia, meringkuk dalam lingkup lengan kekar yang mengurungnya dari belakang. Tanpa busana, di bawah selimut cokelat yang melindungi mereka dari sinar matahari.

Hinata menghela napas panjang, agak jengkel juga. Ia mencoba melepas dekapan pria di belakangnya dengan cepat kemudian beringsut duduk di sisi ranjang. Ametisnya menyisir ruangan itu, mencari potongan-potongan pakaiannya.

Hinata memungut beberapa yang dekat dengan jangkauannya dan segera memakainya. Baru saat ia mengenakan kausnya kembali, suara serak khas bangun tidur terdengar dari belakangnya.

"Hey," sapa Yahiko.

"Kau mengambil kesempatan terhadapku," balas Hinata ketus.

Yahiko melirik Hinata kemudian menyeringai, tanpa repot-repot mengubah posisi tidurnya. Disapukannya jemari pada sela surai jingganya sendiri. "Aku tidak menerima protes apapun dari mu semalam," ujarnya membela diri.

"Aku mabuk berat. Apa alasanmu?"

Yahiko hanya mengedikan bahunya kemudian menyibakkan selimut sebelum duduk di sisi yang bersebrangan dari Hinata. Hinata mengalihkan matanya, menghindari pemandangan di mata Yahiko baru akan mengenakan celana pendeknya.

"Aku tidak perlu alasan apapun," jawab Yahiko. "Kau cukup seksi dan terlihat kesepian. Dan aku butuh pelepasan," jelasnya singkat.

Kening Hinata berkerut ringan, ingin membalas perkataan pria itu. Namun nyatanya ia memilih diam, tak ingin menciptakan drama berlebih di antara mereka. Bagus jika memang pria itu menganggap semalam sebagai pelepasan singkat. Karena Hinata sendiri tak ingin barang mengingatnya lagi.

"Kuharap kau tidak membesar-besarkan soal ini."

Yahiko melirik ringan ke arah Hinata, mendapati wanita itu tak sedang menatapnya. "Maksudmu tidak perlu ada yang tahu?"

Hinata bergumam menginyakan. "Ini hanya hubungan semalam. Setelah ini kau bisa kembali menjadi dirimu yang brengsek lagi."

Pria itu terkekeh singkat, bibirnya membentuk seringai tajam. Ia merangkak mendekat Hinata, membuat wanita itu berhadapan dengannya kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Hinata. Namun Hinata kembali memalingkan wajahnya sebelum Yahiko benar-benar mendekat.

"Tidak ada ciuman perpisahan, huh?" cibirnya tanpa nada tersinggung. "Baiklah kalau begitu," ia berdiri dari ranjang kemudian berjalan ke kamar mandi.

Hinata menghembuskan napas berat setelah Yahiko menghilang di balik pintu. Ia duduk terdiam, matanya menerawang jendela kamar itu untuk beberapa saat sebelum ia memutuskan untuk memejamkan matanya.

Semuanya terasa salah. Hinata merasa hidupnya kini cenderung bergerak ke arah yang salah. Meledakkan gedung dengan banyak orang di dalamnya, kembali bertemu Neji hanya untuk melihat kematiannya, mengakhiri hubungan dengan pria yang sempat mengacaukan perasaannya, dan barusan ia tidur dengan pria yang menjadi urutan terakhir dari daftar pria yang bisa ditoleransinya.

Dan entah bagaimana caranya, kejadian pagi ini membuatnya teringat beberapa pagi yang ia mulai dengan Sasuke di sisinya, mendekapnya. Hinata merasa merindukan hal itu sejujurnya. Ia merasa istimewa. Seperti Sasuke memang memperlakukannya berbeda.

Yah, Hinata pernah merasa seperti itu. Setidaknya sebelum ia melihat perhatian yang Sasuke berikan kepada wanita lain. Sampai saat itu, Hinata menyadarinya. Bahwa ia sama saja di mata Sasuke. Bahwa ia bukan hal yang istimewa.

..

...

..

Hinata berdiri gelisah di depan pintu apartemen Sasuke. Dua hari terakhir memang Hinata sengaja tak datang ke markas utama Anbu untuk menghindari beberapa hal. Namun dalam dua hari itu ia menemukan batinnya sendiri bergejolak tak nyaman.

Hinata sadar, friksinya dengan Sasuke kini benar membuatnya tak nyaman untuk alasan yang masih samar. Sasuke mengatakan bahwa mereka berakhir pada menit misi selesai. Mungkin memang menurut pria itu semuanya bisa selesai hanya dengan saling menghindari, namun itu tak berlaku bagi Hinata.

Banyak hal yang terjadi, dan banyak hal yang Hinata sadari. Sasuke melakukan kesalahan, namun begitu pula dirinya. Hinata tak ingin mengingkari fakta itu. Mungkin karena itulah ia di sana sekarang. Ia ingin menemui Sasuke dan meminta maaf kepada pria itu.

Hinata ingin meminta maaf karena telah meninggalkannya di gedung kongres hari itu. Maaf karena menudingnya dengan kata monster. Dan yang paling penting, maaf karena tak bisa mengerti pria itu. Sampai saat ini mungkin Hinata masih tak bisa mengerti jalan pikiran Sasuke, namun ia sudah memutuskan untuk berusaha mengimbangi pria itu.

Entah nantinya Sasuke akan sadar tentang kesalahannya atau tidak, berbalik mengatakan maaf kepada atau tidak. Hinata tak peduli. Yang ia tahu mereka masih satu tim, dan permusuhan sama sekali tidak akan membantu jika nantinya mereka kembali mendapatkan misi bersama sebagai partner.

Hinata mengambil napas panjang sebelum mengetuk pintu kayu di hadapannya. Di dalam begitu hening, seakan tak ada siapapun. Namun tak butuh waktu lama sampai daun pintu bergerak dan pintu terbuka.

Hinata mematung sejenak dengan mata melebar, ia bahkan menahan diri untuk tak menjatuhkan rahangnya ketika melihat sosok Sasuke dengan hidung yang lebih memerah di hadapannya.

"Aku terlihat seperti rusa-rusa Santa, aku tahu itu," Sasuke bergumam menanggapi ekspresi Hinata. Suaranya terdengar sengau akibat hidungnya yang agak tersumbat. Sasuke menyandarkan sisi tubuhnya di ambang pintu, tangannya ia silangkan di depan dada. "Apa maumu?" tanyanya.

"Aku... hanya mampir," gumam Hinata.

"Tidak boleh," sela Sasuke cepat dengan ketusnya.

Bukan tersinggung, Hinata tak bisa menahan diri untuk tak tersenyum geli, ia sebisa mungkin menahan kekehannya. Sasuke yang menyadarinya menatap Hinata geram, yang di mata Hinata malah jadi seperti tatapan bocah yang tengah merajuk.

"Maaf. Kau terlihat... lucu," aku Hinata tanpa berniat mengejek sedikitpun.

"Hanya karena aku seorang pembunuh, bukan berarti aku tidak bisa terkena flu," kilahnya.

"Tapi kau..." Hinata menggigit bibir sebelum menyelesaikan kalimatnya karena ia tahu, jika ia lanjutkan, ia mungkin akan mulai tertawa-tawa.

"Bisa kau pergi dan membiarkan aku sendiri saja," Sasuke kembali bersuara, masih dengan nada dongkol.

Hinata sudah bisa mengendalikan dirinya, namun ia masih tersenyum tipis. "Kau yakin kau baik-baik saja?" tanpa sadar, Hinata mengangkat tangannya dan menempelkan ringan punggung tangannya di kening Sasuke sebelum pria itu sadar dan mundur selangkah. "Kau demam."

Sasuke mengalihkan arah tembak oniksnya. "Aku bisa mengurus diriku sendiri," gumamnya.

"Kau bilang kau bahkan tak tahu caranya membersihkan lendir hidungmu sendiri," cibir Hinata sebelum bergerak menerobos apartemen Sasuke tanpa izin sang pemilik.

"Keluarlah, Hinata. Aku tidak memiliki cukup tenaga untuk berdebat denganmu sekarang," protes Sasuke yang masih terdengar menggelikan di telinganya sendiri, berterima kasihlah pada flu yang mengganggu getar suaranya.

"Ada yang ingin aku katakan padamu, tapi pertama... sepertinya kau perlu duduk," Hinata hampir mencapai satu-satunya sofa panjang di tengah ruangan saat Sasuke menangkap pergelangan tangannya.

"Apa maumu?" tanya Sasuke, kembali mengulang pertanyaan awalnya. Rasa geram yang terdengar dari suaranya membuat Hinata berhenti dan berbalik untuk menatap pria itu. "Bukankah sudah kubilang bahwa setelah kita kembali, semuanya selesai. Aku tidak ingin tahu apapun yang berhubungan denganmu dan—" Sasuke menghentikan racauannya ketika melihat ekspresi geli kembali muncul di wajah Hinata.

Hinata menelan salivanya saat Sasuke kembali menatapnya tajam. "Maafkan aku," ujarnya. "Rasanya aku kesulitan menganggapmu serius dengan suara barumu itu," Hinata menggigit bibir menahan senyum konyolnya.

Sasuke semakin dongkol, matanya semakin menyipit tajam, cengkeramannya ia lepaskan hanya untuk membuat tangannya menunjuk ke arah pintu. "Keluar!" geramnya rendah.

"Tidak mau," cicit Hinata, ia menggulirkan manik ametisnya ke arah jendela sesaat sebelum kembali memandang Sasuke. "Karena kau sakit, aku akan menunda pembicaraannya. Tapi tolong, jangan minta aku pergi," ujarnya, tak keras namun terdengar tegas.

Sasuke mengerang sebagai bentuk protesnya. "Jangan pernah berpikir untuk merawatku!" ia kemudian berjalan kesal menuju kamar.

Hinata mengikutinya, namun berhenti tepat di ambang pintu. Ia melihat Sasuke sudah merebahkan dirinya di atas ranjang tunggal di pojok ruangan dengan posisi membelakanginya. "Jadi kau akan pura-pura tidak melihatku di sini?"

Satu menit lebih tak ada respons dari Sasuke. Hinata melihat pria itu diam dalam posisinya, namun jelas pria itu belum terlelap. Hinata menghela napas, merasa bahwa Sasuke berniat mengabaikannya saat ini. Baru saja ia akan kembali ke ruang tengah, ia melihat Sasuke bergerak, mengubah posisi tidurnya menjadi duduk.

Sasuke kembali melemparkan tatapan tajam ke arah Hinata yang masih berdiri di ambang pintu. "Aku benar-benar butuh kau menjauh dariku, Hinata."

Untuk ke yang kesekian kalinya, Hinata menghela napas panjang. Ia menyeret kakinya mendekati Sasuke. Sasuke yang menyadarinya seketika mengerutkan kening, membersut tak suka. Pria itu kembali memalingkan wajahnya saat Hinata semakin dekat.

"Kau menyelamatkan gadis itu," gumam Hinata, entah apa yang membuatnya menyetir percakapan awal mereka dengan topik itu.

"Memang. Dan kau meninggalkanku di sana. Yang merupakan tindakan yang benar," cibirnya.

"Aku salah. Saat itu aku marah. Sungguh, aku harusnya tidak akan pergi meninggalkanmu meskipun kau memintaku. Tapi saat kau kembali untuk menyelamatkannya... aku marah. Aku tidak tahu kenapa, tapi setelah itu aku tidak dapat berpikir jernih, tanpa pikir panjang aku mematikan radio komunikasiku dan pergi dari sana. Aku baru sadar saat sudah berada di luar dan menatap gedung yang sudah mengepulkan asap... kau bisa saja terjebak di sana dan..." Hinata menggigit bibir, tangannya mengepal agar tak bergetar. "Aku tidak tahu apa yang harus kutanggung jika kau tidak kembali," tutup Hinata.

Ekspresi Sasuke jauh lebih tenang kini. "Jadi menurutmu kau boleh saja bertingkah irasional saat marah, sedangkan aku tidak bisa?" sindirnya.

Hinata tahu ke arah mana pertanyaan Sasuke itu. "Ini tidak ada hubungannya dengan apa yang kau lakuakan terhadap Neji," balas Hinata.

"Kenapa tidak?" Sasuke memprotes dengan nada rendah. "Aku juga marah saat itu. Sangat marah," Sasuke mengusap wajahnya keras sebelum menumpukan keningnya di telapak tangan kanannya.

"Apa yang membuatmu marah?"

"Bagaimana denganmu? Apa yang membuatmu marah?!" Sasuke mulai membentak. Ia seketika berdiri dari ranjang namun keseimbangannya seperti menurun, tanpa sadar oleng meski masih dapat menahan tubuhnya agar tetap berdiri.

"Sasuke," Hinata berbisik, didekatinya pria itu. "Duduklah."

"Tidak. Yang aku butuhkan hanya kau pergi dari sini," tangannya mengibas tangan Hinata yang hampir meraihnya.

"Kau terlihat sangat payah. Harusnya kau pergi memeriksakan diri ke dokter," ujar Hinata masih persisten tak ingin mendengarkan perintah pria itu.

"Pergilah, Hinata!"

Hinata mundur selangkah saat Sasuke melemparkan tatapan benci padanya. "Aku minta maaf, Sasuke, untuk semuanya," aku Hinata lirih. "Tidakkah kau melihat bagaimana arti dirimu untukku sekarang? Kau mungkin beranggapan kau tidak memerlukan perhatian atau apapun, tapi aku ingin..." Hinata tiba-tiba menghentikan kalimatnya setelah menyadari apa yang telah ia katakan. Ia berkedip, menelaah lagi kenapa ia mengatakan seolah Sasuke bukan lagi hanya-seseorang-di-luar-sana baginya.

"Aku tidak menginginkan empatimu," Sasuke merespons.

"Selama kita saling menghindar, aku tidak bisa tidak memikirkanmu," Hinata melayangkan arah pandang ametisnya ke arah pintu yang terbuka.

Hening melingkupi kamar itu. Sasuke menatap Hinata yang masih memalingkan wajahnya. Sasuke tidak benar-benar bodoh dengan segala tetek bengek soal perasaan, karenanya meski masih membingungkan, ia tahu ada pengakuan di balik apa yang Hinata katakan.

Setelah beberapa menit saling mendiamkan, Sasuke akhirnya bergumam. "Aku tidak bisa," jawabnya atas pengakuan Hinata.

"Kenapa? Katakan padaku?"

"Karena aku akan selalu menjadi sosok monster itu dan kau selalu membutuhkan seseorang yang mampu memberimu semua hal yang pantas kau dapatkan," Sasuke mengatakannya dengan nada rendah juga wajah yang sedikit ditundukkan.

"Kenapa kau tidak bisa menjadi orang itu?" kali ini Hinata yang menghadapkan fokusnya pada sosok Sasuke.

"Karena aku tidak bisa menggantikan posisi Neji," Sasuke mengeluarkan kekehan pendek yang terdengar begitu kosong.

Hinata menelan salivanya, mencoba meredakan kerongkongannya yang mendadak tercekat. "Kau membunuhnya karena aku mengatakan bahwa aku pernah mencintainya? Kau... marah karena berpikir aku masih mencintainya?"

Sasuke memberi jeda beberapa saat sebelum menjawab. "Itu kenyataannya, bukan? Kau tidak akan pernah memaafkanku karena telah membunuh kekasihmu," desisnya. "Tapi percayalah, aku tidak merasa menyesal sedikit pun karena telah melakukannya."

Hinata berkedip dua kali sebelum kembali mengambil langkah mendekati Sasuke. Ia mendudukkan dirinya di samping pria itu, tangannya terangkat untuk menyapu surai kelam Sasuke yang lembab karena keringat.

Hinata kini sepenuhnya mengerti. Membunuh Neji bukanlah tugas yang harus Sasuke lakukan, namun pria itu melakukannya karena rasa cemburu. Sama seperti dirinya yang marah karena kecemburuannya terhadap Shion.

"Demammu tinggi, Sasuke," bisik Hinata, disibakkannya anak-anak rambut Sasuke yang terlalu menutupi wajah pria itu.

Sasuke masih tak menatap Hinata, namun tangan kanannya ia lingkarkan di pinggul wanita itu. Ia kemudian merasakan saat bibir wanita itu menyentuh ringan sisi lehernya. Tangannya tanpa sadar meremas pinggul Hinata sebelum mendorong wanita itu terbaring di bawahnya.

"Aku tidak pernah berkesempatan untuk melakukannya dengan benar," oniks Sasuke menubruk langsung ametis di bawahnya, mengabaikan kerutan bingung Hinata atas pernyataannya. "Kau kalah taruhan."

"Apa?" Hinata menyuarakan kebingungannya.

"Kita bertaruh, ingat? Jika kita tidak bisa berteman, kau harus melakukan apapun yang aku minta," Sasuke merendahkan tubuhnya hingga lebih menindih Hinata, wajahnya ia benamkan di bahu wanita itu.

Air wajah Hinata terlihat datar, namun ia menggigit bibirnya. "Apa artinya aku gagal berteman denganmu?" Hinata merasa sesak saat menanyakannya. Mereka bukan teman, mereka bukan apa-apa.

"Hn," Sasuke bergumam mengiyakan. "Aku tidak bisa memilikimu dalam hidupku, Hinata. Aku tidak pantas untuk itu. Aku adalah seseorang yang kejam, dan akan selalu begitu. Aku menyakiti orang lain hanya untuk membuat diriku aman. Dan aku mungkin juga akan menyakitimu suat hari nanti. Jadi kurasa kau memang benar..." Sasuke terdengar menghela napas sebelum melanjutkan kalimatnya. "Kita harus menghentikan apapun yang mulai kita rasakan," suara Sasuke terdengar lemah, seakan memang pria itu sudah mencapai limitnya untuk sekedar berbicara.

Hinata merasa hatinya banjir oleh air mata yang ia coba telan kembali. Ia perlu pergi dari hadapan Sasuke jika tak ingin menangis di hadapan pria itu sekarang. "Kau harus istirahat," ujarnya, berusaha untuk tak terdengar terlalu bergetar.

Hinata mendorong Sasuke, menggulingkannya hingga tak lagi berada di atasnya. Dan baru saat ia mencoba untuk berdiri dari ranjang, tangan Sasuke mencengkeram lengannya.

"Kau... kalah taruhan," tudingnya dengan napas memberat. "Kau harus melakukan... apa yang kukatakan."

Hinata menghela napas mengalah. "Apa yang kau inginkan?"

"Biarkan aku bercinta denganmu," ujarnya tanpa melepas cengkeramannya. "Bukan hanya seks. Jika kau tidak bisa menerimanya, setidaknya berpura-puralah untuk menerimanya."

Hinata bungkam, jantungnya memukul rusuknya keras-keras, matanya melebar menatap Sasuke. Hinata hanya bisa terdiam saat Sasuke mendekatkan wajah hingga kening mereka bersentuhan kemudian menangkupkan satu telapak tangannya di tengkuk wanita itu.

"Kau sakit, Sasuke," ujar Hinata.

"Hn," Sasuke bergumam, ibu jarinya mengusap sedikit area di tengkuk Hinata. "Orang-orang juga bilang begitu."

"Tidak, maksudku kau sedang demam."

"Artinya aku butuh untuk berkeringat," jawabnya dengan bisikan rendah. "Kau bisa membantuku berkeringat, Hinata," tangan lainnya menyusup ke balik kaus di bagian punggung Hinata, menyapu ringan permukaan kulit di sana, membuat Hinata bergidik.

Hinata menggigit bibir bawahnya, mencoba mengatur irama napasnya saat Sasuke begitu dekat dengannya. "Kenapa... sekarang?" tanya Hinata hati-hati.

Lama Sasuke tak menjawab dan Hinata tahu ia tak akan mendapat jawaban dari mulut pria itu. Namun ia menyadari satu hal, satu dugaannya. Bahwa ini adalah yang terakhir. Sasuke meminta untuk yang terakhir kalinya.

"Aku tidak bisa berpikir. Otakku rasanya lemah sekali yang artinya aku tidak perlu berpikir," racau Sasuke sembari mengecup ujung bibir Hinata.

Beberapa menit terlewatkan tanpa keduanya bertukar kata. Hinata membiarkan Sasuke menghujani wajahnya dengan ciuman-ciuman ringan. Beberapa menit berlalu dalam hening hingga Hinata memecahnya.

"Lalu apa setelahnya? Kita benar-benar selesai?"

"Hn," jawab Sasuke singkat sebelum melanjutkan niatnya terhadap Hinata. Terjaga menemani malam bersama wanita itu.

.

to be continued...

..

.

Hmmm, akhirnya bisa update juga walaupun ngga sepanjang chap kemarin hhaha :3

Maaf saya jadi jarang reply review, alesannya klasik lah... tapi saya seneng baca review yang masuk, they keep me buat ngga males-malesan lanjutin ngetik wkwk.
Oh ya... buat yang nyari saya di wattpad, saya available kok, usernamenya sama '
skyrans' ^^

Thanks for sticking with me minna~~~ see yaa...