[Normal/Author's POV]

"Apa Ying sudah mati?" tanya Blaze. Sambil bermain-main dengan kursi putarnya. Seorang pemuda dengan kacamata surya transparan berwarna jingga itu membungkuk 90°.

"Sudah, Tuan. Sudah kudengar kabarnya dan sudah kulihat mayatnya, Halilintar baru saja mengirim foto mayat itu tadi pagi." ucap pemuda itu. Blaze menyeringai.

"Bagus, Solar..."

"Tapi, kini ia berurusan dengan Case Solver, Tuan..." sambung pemuda bernama Solar itu dengan sedikit ketakutan. Blaze berdiri dari kursinya, membawa gelas berisi wine lalu menghampiri Solar. Ia lalu menuangkan wine itu ke kepala Solar, membuat rambutnya lengket akibat wine itu dan Solar hanya diam tak bergeming.

"Panggilkan Ice, sekarang!" perintah Blaze, Solar mengangguk lalu segera bergegas pergi.

Solar adalah otak dari segala perusahaan Blaze. Hacker? Ya, benar sekali.

.
.
The Case Solver
"Siap menjalankan misi pertama?"
.
.
Story Line by LyxCrime03
Chapter 04: save my soul, please!
.
Genre: Fanfiction, Thriller.
.
.

"Sudah dapat hasilnya?" tanya Gempa pada Thorn yang baru saja kembali ke TKP.

"Tak ditemukan apapun didalam makanan tersebut, Inspektur Gempa!" jawab Thorn. Gempa mulai kembali berpikir.

"Bagaimana menurutmu, Alice?" tanya Gempa pada Alice. Ia mulai mendekati meja makan yang masih terdapat alat tulis dan buku-buku disana. Gempa dan yang lain mulai berpikir bahwa ini hanyalah kecelakaan karena Ying memakan es Krim Durian dengan soda.

"Racun... Serbuk!" seru Alice tiba-tiba. "Ada serbuk racun dipulpen ini, lalu di buku juga!" ujar Alice sambil menunjukkan sebuah pulpen berwarna kuning dan buku tulis.

Gempa menghampirinya dan meraba-raba buku itu, mengusap-usap sedikit dan benar. Terdapat serbuk halus tertempel dibuku juga pulpen.

"Menurutmu?" Gempa dan Alice saling pandang.

"Kusimpulkan begini, mereka belajar dan otomatis korban memegang alat tulis itu. Sebelum belajar, mereka membeli es krim dan soda. Mungkin saat memakan es krim, korban menjilat tangannya yang sudah terdapat racun disana. Mungkin yang meminum sodanya adalah Halilintar, Ying tak meminumnya. Ini adalah taktik pengecohan. Bagaimana menurutmu?" Alice mengutarakan Analisis yang masuk akal.

"Racun sianida kah?"

"Bukan. Ini lebih seperti racikan sendiri."

"Kurasa kita tau siapa pelakunya sekarang, hm?"

Halilintar dan Anni berjalan menyusuri lorong. Dihadapan mereka kini terlihat sebuah Ruangan, Anni membuka pintu Ruangan dan terdapat seseorang disana. Seorang pemuda tinggi dengan rambut ungu kemerahan dan helm(?).

"Kaizo!" panggil Anni, pemuda itu menoleh dan tersenyum.

"Hai Anni~~ bawa pemuda itu untuk duduk, kita akan bicara bertiga." perintah Kaizo. Anni pun mempersilahkan Halilintar untuk duduk disebuah kursi kayu, disusul oleh Anni dan Kaizo yang juga duduk di kursi lainnya.

"Hai, kau tampak gugup..." ujar Kaizo pada Halilintar. Sedari tadi Halilintar hanya bisa diam seakan mulutnya sudah dijahit permanen, tangannya tak jua berhenti gemetaran.

"A-aku mengaku!" seru Halilintar, menahan tangis yang sudah ia bendung. Tangannya semakin gemetaran. "Aku mengaku sudah membunuh Ying! Aku melumuri pulpen dan Buku Ying dengan racun yang kubuat sendiri!" seru Halilintar, air mata membasahi pipinya. Kaizo dan Anni saling pandang, mereka bahkan belum menanyakan apapun pada Halilintar dan ia sudah mengaku sambil menjerit seperti itu.

"Dari tampangmu, sepertinya kau diperintah?" tanya Kaizo. Halilintar menggeleng.

"Tidak! Aku... Aku membunuh Ying karena... Karena ia telah... Um... Telah... Karena orang tua Ying yang membuat keluargaku menderita! Dia tak lebih dari seorang jalang!" Halilintar kembali menjerit lalu terkekeh pelan selayaknya kehilangan akal sehat.

"Tangkap saja aku... Tangkap saja... Aku membunuhnya... Aku membunuhnya... Hahaha... Aku membunuhnya!" jerit Halilintar lagi. Dari air matanya ia terlihat sedih dan menyesal, namun dari tawa dan ucapannya ia terlihat... Senang? Atau sesuatu yang lain?

"Sebaiknya kita antar dia ke psikiater." bisik Kaizo pada Anni. Anni mengangguk setuju. Kaizo lalu berdiri, menyeret Halilintar keluar dari Ruangan.

"Yaa! Kau akan membawaku ke Penjara kan? Hahahaha!" suara Halilintar juga bergema memenuhi lorong.

Anni mengeluarkan ponselnya, mencari nomor Thorn disana dan menekan tombol 'panggil'. Tak lama kemudian, Thorn mengangkat panggilannya.

"Thorn, bisa aku bicara dengan Gempa?" tanya Anni. Lalu terdengar bunyi gemerisik dan seruan Thorn yang memanggil Gempa.

"Ya, Anni. Kami sudah menemukan Pelaku dan analisis." ujar Gempa.

"Aku juga sudah selesai. Dan tampaknya Halilintar tertekan, ia diperintah seseorang sepertinya. Namun ia tak mengaku." ujar Anni.

"Memang, Halilintar yang membunuh Ying. Sekarang dia dimana?"

"Kaizo membawanya ke Psikiater untuk dirawat. Supaya ia bisa berpikir jernih kembali dan bisa diinterogasi lanjutan."

"Baiklah. Setelah keadaannya membaik, kita akan menjalankan interogasi dan sidang untuknya. Mission Complete!"

"Ada apa, Tuan Blaze?" tanya seorang pemuda dengan jaket biru panjang dan Topi yang hampir menutupi matanya. Blaze berputar-putar di kursi putarnya.

"Aku ingin kau selamatkan Halilintar, Ice." ujar Blaze, menatap langsung mata biru pemuda bernama Ice itu.

"Apapun untukmu..."

Kringg...

Telepon yang ada didekat Blaze berbunyi. Blaze mengangkat telepon itu dan betapa terkejutnya ia mendengar suara Gempa diseberang sana.

"Hai, Blaze... Apa kau yang memerintahkan Halilintar membunuh Ying?!" bentak Gempa. Membuat Blaze mengerut kesal.

"Jangan membentakku atau Himaki akan membunuhmu!"

"Aku tak yakin... Himaki dan aku sudah membuat perjanjian damai selama setahun. Hehe.."

"Sialan!"

Blaze menutup telepon dengan membantingnya. Raut wajah kesal terlihat diwajahnya dengan jelas.

"Oya, Ice! Seret Himaki kesini!" perintah Blaze. Membuat Ice terbelalak.

"Ada apa ini, Tuan? Ada yang salah?" tanya Ice. Kini Blaze menggebrak meja kerjanya.

"Bukan urusanmu! Bawa Halilintar dan Himaki kemari atau kuseret kau ke tungku perapian!" Ice meneguk air liurnya saat dibentak dan diancam seperti itu.

"B-baik, Tuan..." Ice pun bergegas keluar dari Ruangan. Lalu berganti dengan Fang yang datang dengan senyuman yang terlukis diwajahnya.

Fang membungkuk 90°, "Tuan.." ujarnya. Seraya kembali menegapkan tubuhnya.

"Ada apa, Fang? Kuharap kau punya berita bagus." sahut Blaze, seraya kembali duduk di kursinya.

"Akan diadakan acara pelelangan rahasia di Gedung Delove Corp. Anda diundang untuk hadir disana." ucap Fang. Blaze menautkan alisnya pertanda ia tak tertarik. "Barang lelangan ada uang kuno, berlian dan permata lainnya, anggur termahal, dan lain sebagainya." sambung Fang, berdoa agar Blaze lebih simpatik.

"Berlian apa maksudmu?" tanya Blaze.

"Berlian... Diva and Angel of Diamond, Tuan." jawab Fang. Seketika Blaze tersenyum, lalu menuang kembali wine kegelasnya.

"Hm... Kita akan mendapatkan permata itu. Namun kita takkan melelang harga..."

"Kita akan mencurinya..."

To Be Continued...

Haii! Sorry kalo kali ini nggak seru dan dikit banget!

Btw... Kok Blaze kejam banget yak? OOC banget yak?

Haha... Biar seru.. Biarkan dia berakting dengan serius.

Blaze: kau monster, Thor! T_T masa' ganteng-ganteng begini kejamnya minta disantet(?).

Kan mafia pada ganteng, Blaze...

Blaze: kenapa bukan Hali aja yang jadi?

Hali nggak pantes ._. #disetrum

Tuk.. Tuk... *noleh kebelakang* *ngeliat aura suram dari para tokoh*

Halilintar: Author...

Aww... Shit..

Fang: kenapa abangku baik, kok aku malah pencuri gini?!

Halilintar: sedih amat sih jadi gua! Thor, tanggung jawab ama kita semua!

Ice: sebenarnya aku malas mengatakan ini. Tapi... Author harus tanggung jawab dengan nasib kita di cerita ini!

*glup* *poker face*

Solar: Blaze! Kenapa aku disiram Wine?! Hancur imageku!

Blaze: salahkan Authornya!

Kabooorrrr! *kabur dari amukan massa*

Gempa: Tetep stay tune ya!