Game On

.

Characters belong to Masashi Kishimoto.

.

This Is SasuHina Story!

Alternative Universe! Out Of Character! Typical Errors! And might lead to some twist!

You've been warned!

.

.

.

Sebagian dari diri Hinata menanti sosok Sasuke akan muncul dari balik pintu, namun dalam waktu yang bersamaan sisi dirinya yang lain berharap untuk tak bertemu pria itu, setidaknya untuk saat ini. Saat segalanya terasa lebih rumit dari apa yang pernah Hinata alami.

Setelah malam itu, Hinata merapal pada dirinya sendiri untuk bersikap seperti biasa kepada Sasuke. Meyakinkan diri bahwa memang begini seharusnya. Bahwa ia harus lepas dari perasaan apapun yang mulai ia rasakan terhadap pria itu. Meski sangat jelas baik Hinata maupun Sasuke terlalu berpikir keras tentang perasaan mereka dan sama sekali tak membuat segalanya lebih mudah.

"Di mana Thunder? Tidak biasanya dia terlambat?" Naruto bertanya nyaring tepat setelah memasuki ruangan dan menyadari keabsenan Sasuke di sana.

"Memang tidak biasa," Kakashi mengetuk-ngetukkan ujung pulpennya di permukaan meja kaca. "Dia sakit," lanjutnya.

Bola mata Naruto seakan ingin keluar dari rongganya, mulutnya ternganga menampakkan ekspresi tak percaya. "Kau sedang melucu, kan?!"

"Sayangnya tidak, Agen Wind," ujar Kakashi lagi. "Tapi sudahlah, lagi pula tidak terlalu mengejutkan jika melihat jadwalnya beberapa bulan ke belakang," Kakashi menghela napas.

"Dasar memang tidak sayang badan. Siapa minta dia untuk terus mengambil misi dan mengabaikan jatah istirahatnya," ocehan Konan menimpali. "Dan karena Sakura sedang dalam misi solonya, artinya kalian harus bekerja sama memantau aktivitas Akatsuki," tambahnya.

"Periksa tablet kalian," titah Kakashi.

"Intel kita melaporkan bahwa setelah insiden Singapura, Akatsuki mulai menyebarkan anggotanya untuk merekrut tikus-tikus jalanan," Konan mulai menjelaskan setelah Naruto dan Hinata sudah fokus pada tablet mereka. "Kalian tahu lah, preman, penyelundup, pengedar dan sebangsanya."

"Kalian akan bertanggung jawab untuk misi kali ini," ujar Kakashi sembari berdiri dari kursinya. "Wind, kau harus mengawasi setiap pergerakan anggota Akatsuki yang nampak, tapi tidak perlu mengambil tindakan langsung. Misi kali ini murni pengintaian dan harus tersembunyi."

"Dimengerti," Naruto mengangguk tegas sebelum menengok ke arah Hinata di sampingnya. "Kau terlihat tidak nyaman," komentarnya.

Satu kedipan sebelum Hinata mengangkat wajahnya dan mengusahakan seulas senyum. "Tidak, aku biasa saja."

"Kupikir kau tidak suka bekerja denganku," balas Naruto dengan senyum lebarnya.

"Baiklah, kalian akan mulai siang ini," Konan memotong percakapan basa-basi rekan timnya itu. "Dan laporannya harus sampai di tanganku pukul delapan malam nanti.

"Tenang saja, Hinata akan membuatnya," ujar Naruto enteng.

Hinata diam-diam menghela napas dan menggeleng samar. Tentu saja, tidak Sasuke atau Naruto, semua agen senior pastinya memiliki hobi melimpahkan pekerjaan yang membosankan kepada bawahan mereka.

"Kalau begitu, kalian boleh keluar," setelah mendapat izin dari Kakashi, Hinata segera mengejar Naruto yang keluar terlebih dahulu.

"Apa kita perlu membawa senjata?" tanya Hinata dan Naruto kembali tersenyum padanya. Jujur saja, Naruto mungkin satu-satunya agen selain Konan yang sering tersenyum padanya.

"Seorang agen harus membawa setidaknya satu pistol untuk berjaga-jaga," jawab Naruto tanpa memudarkan senyum di wajahnya. "Sampai jumpa siang nanti," ujarnya lagi sebagai salam perpisahan.

"Baiklah," Hinata bergumam dan melihat Naruto mengambil arah yang berbeda dengan dirinya.

Hinata menghela napas setelah pria bersurai pirang itu tak terlihat. Bukan Hinata tak nyaman bekerja dengan Naruto, hanya saja ia merasa canggung. Bekerja dengan seseorang selain Sasuke membuatnya merasa canggung. Hinata menyandarkan punggungnya di dinding koridor, matanya terpejam sesaat sembari beberapa kali mengambil napas panjang. Benaknya masih dilingkupi oleh Sasuke.

Sasuke. Pria yang memintanya bercinta kemarin malam. Tapi kenyataan bahwa pria itu melakukannya hanya sebagai upacara perpisahan mereka seperti menampar keras Hinata. Dan Hinata sadar saat itu Sasuke yang memang sedang dalam kondisi yang tak stabil karena demam yang mungkin menjadi pemicu pria itu memutuskan untuk melakukannya dengan Hinata tanpa pikir panjang.

Hinata berkedip, memikirkan sekejam apapun cara Sasuke dalam menyelesaikan sesuatu, Hinata tak memiliki hak apapun untuk menghakiminya. Selama bertahun-tahun, seperti itulah Sasuke hidup. Lalu kemudian Hinata, yang bukan siapa-siapa Sasuke datang dan mencoba mengubah kehidupannya? Tentu semuanya tak bisa berjalan secepat itu.

Terlebih ini tentang Sasuke, pria yang benar-benar nol dalam pengalaman tentang ketertarikan ataupun rasa cinta sebelumnya. Pria yang tak pernah membiarkan siapa pun masuk ke zona pribadinya.

"Hinata!" suara Konan mengusik lamunan Hinata. Hinata mengangkat kepalanya dan mengirimkan senyum kecil yang tulus ke wanita itu.

"Hey."

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Konan.

"Bukan apa-apa," Hinata mengedikan bahu ringan.

"Oke... kalau begitu, bagaimana kalau kita sarapan bersama? Kau belum makan, kan?" Konan menautkan lengannya di lengan Hinata dan menyeretnya untuk berjalan. "Kau tahu, aku ingin sekali melihatmu dan Thunder beraksi. Tapi sial... sejak kalian kembali aku sama sekali belum melihat kalian berinteraksi," Konan mulai meracau bebas. "Tapi eh... aku melihat kau beberapa kali menatapnya, lho," seringainya jahil, cukup membuat wajah Hinata memanas.

"Apa maksudmu, sih?" Hinata terkekeh gugup, seolah ingin memberi tahu Konan bahwa apa yang barusan wanita itu katakan merupakan sebuah lelucon baginya.

"Oh, ayolah... aku suka sekali melihat kalian," balas Konan bersemangat. "Kalian adalah OTP terbaik yang pernah ada!"

"Apa?" Hinata mengerutkan keningnya.

"OTP," ulang Konan.

"Apa itu?"

"Astaga," Konan memutar bola matanya. "Lupakan saja."

Saat mereka tiba di kantin, Konan segera berjalan menuju bagian roti isi yang ternyata tinggal menyisakan sebungkus saja. Belum sempat ia mengambil bungkusan terakhir itu, Yahiko muncul di hadapannya dan mengambil makanan yang sudah ia targetkan sebelumnya.

"Halo, bocah," ujar pria bersurai jingga itu sambil mengusak rambut Konan .

"Hei!" Konan memekik protes. "Aku datang duluan!"

"Sayangnya aku yang mengambilnya duluan," Yahiko melempar seringai menyebalkannya.

"Kekanakan," Hinata berkomentar rendah, membuat kepala Yahiko seketika berputar untuk menghadapnya.

Yahiko selangkah mendekat ke arah Hinata dengan seringainya. " Kau tahu, Hinata..." ujarnya dengan nada seolah akan mengatakan hal yang menarik. "Di masa lampau, banyak orang-orang membarterkan diri mereka sendiri demi makanan," lanjutnya dengan nada rendah.

"Lalu?" Konan mencibir meski kata-kata Yahiko tak benar-benar dipahaminya.

"Masih banyak makanan yang tersedia di sini. Kami tidak perlu menukar apapun untuk apapun," Hinata membalas Yahiko dengan tampang datar yang sebenarnya menyimpan kedongkolan. Tapi Hinata tahu, pria itu hanya akan semakin terhibur jika ia terpancing dalam permainan katanya.

Yahiko kembali melangkah mendekat hingga jaraknya tak kurang dari satu langkah di depan Hinata. "Kau tahu bukan itu yang ku bicarakan, bukan?" seringainya, ia meraih tangan Hinata dan meletakkan roti isi kemasan yang semula ia ambil di tangan wanita itu sebelum berjalan melewatinya.

Hinata menghela napas panjang yang berat, seperti berusaha melepaskan rasa dongkolnya lewat udara yang ia hembuskan. Ia kemudian mengembalikan perhatiannya kepada Konan yang tengah menatapnya heran.

"Kenapa dia memberi makanannya padamu? Bukannya kau seperti... korban bully-nya?"

"Entahlah," Hinata bergumam kemudian memberikan roti isi di tangannya kepada Konan. "Untukmu saja, aku tidak lapar. Sampai jumpa nanti malam," dengan segera Hinata segera melangkah keluar area kantin, namun terhenti kembali oleh panggilan Konan.

"Tunggu!" Konan mengejar. "Hey, kenapa dia seperti itu?" tanyanya lagi, kepalanya masih berkabut kebingungan.

"Apa yang kau maksud, Konan?"

"Jangan berpura-pura. Aku hampir dimasukkan di divisi intel kalau kau mau tahu. Aku tahu saat seseorang tengah menyembunyikan sesuatu," Konan berargumentasi mutlak.

Hinata menggeleng samar. "Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan."

"Sejak kapan kau berteman dengan Yahiko?" tanyanya lagi, kini tanpa berbasa-basi.

"Aku tidak berteman dengannya."

"Sungguh?" Konan mendesak.

"Benar."

"Oh," satu suku kata penyelesaian yang diucapkan Konan berkebalikan dengan raut wajahnya yang masih menuntut penjelasan.

Hinata menatap Konan beberapa saat sebelum ia berdecak. " Baiklah," ujarnya. "Aku memang pernah berbincang dengannya, hanya sebentar," aku Hinata.

"Apa yang kalian bicarakan?"

Ametis Hinata memandang Konan dalam. "Kau benar-benar menyukainya, ya?"

"A-apa?" Konan mendadak salah tingkah.

Tatapan mata Hinata melembut. "Untuk saat ini, jangan berharap terlalu besar darinya."

"Huh?"

"Dia pernah mengatakan padaku bahwa dia sudah memiliki seorang kekasih," gumamnya.

Hinata tahu ia tak seharusnya mencampuri urusan orang lain. Tapi melihat binar di mata Konan seperti melihat bayangan dirinya. Penuh pengharapan akan apa yang sulit didapatkan. Dan mungkin Hinata bisa membuat Konan terhindar dari nyeri yang akan ditimbulkan oleh harapan itu.

"Apa? Kapan dia mengatakannya?" gencar Konan lagi, masih belum lepas dari rasa bingungnya. "Aku tahu tentang itu, tapi buat apa dia menceritakannya padamu?"

"Jika kau sudah tahu, kenapa kau masih mengharapkannya?" tanya Hinata spontan.

Konan berkedip dua kali sebelum membuka mulut. "Aku..." gantungnya.

Hinata yang sedari tadi memandang rekannya itu mengerti arti binar mata Konan. Tentu wanita itu juga tak memiliki kuasa untuk menentukan ke mana hatinya mengiblat.

Seketika tatapan Hinata pada wanita bersurai biru itu melembut. "Aku mengerti," potong Hinata pelan dan tulus. "Maaf," tambahnya sambil menepuk pelan lengan Konan sebelum pergi dari sana.

..

...

..

"Kita sudah menyisir seluruh area itu," gumam Hinata di dalam mobil, di sampingnya, Naruto tengah terfokus pada jalanan meski gaya menyetirnya terlihat santai. "Tidak ada apa-apa di sana."

"Tebakanku adalah karena Akatsuki akhirnya terbangun, mereka tidak lagi bersantai setelah pengeboman di Singapura kemarin. Peristiwa itu pastinya membuat mereka mengubah cara main mereka agar lebih sunyi dan tidak terdeteksi," Naruto beropini panjang.

Hinata mengangguk samar, tatapannya masih ke luar jendela mobil. Suasana kota yang masih sibuk terlihat semrawut karena turunnya hujan. "Apa kau pikir mereka kali ini mengubah lokasi aktivitas mereka."

"Jika aku jadi bagian dari mereka, sudah pasti aku akan melakukannya."

"Aku masih tidak mengerti. Mereka tahu memiliki banyak musuh, tapi kenapa mereka mengadakan kongres di tempat yang terbuka?" Hinata menyandarkan tubuhnya di kursi penumpang.

"Tidak ada yang tahu bahwa itu adalah kongres yang digelar organisasi radikal. Para tamunya pun bagian dari mereka, jadi mereka berpikir tidak akan ada yang salah dengan kongres terbuka. Ditambah tingkat keamanannya... kau sendiri tahu bagaimana ketatnya sistem penjagaan saat itu," Naruto kembali menyuarakan kesimpulannya.

"Kau benar... Sasuke harus menjalani beberapa pemeriksaan dan pelatihan untuk menyusup ke tim pengamanan. Dan kurasa tidak ada pegawai yang direkrut tahu tentang agenda sebenarnya," Hinata menimpali dengan gumaman.

"Benar, kan..."

Hinata kembali mengangguk kecil, ia kemudian menghela napas panjang, Tatapannya lurus menembus kaca depan mobil. "Harusnya aku bawa laptop atau sesuatu. Aku bisa mulai menulis laporan sekarang," gerutunya rendah.

"Tenang saja, masih ada cukup banyak waktu," Naruto terkekeh. "Kau seperti Sakura, selalu mempersiapkan segala sesuatunya terlebih dahulu."

Ujung bibir Hinata sedikit terangkat, ia melirik Naruto yang masih fokus pada jalanan di depannya. "Aku penasaran bagaimana cara kerja kalian. Tapi kelihatannya kalian tim yang efisien."

"Dia selalu memastikan semuanya agar selalu efisien, juga efektif," jawab Naruto dengan nada mencibir yang tak berarti. "Terkadang itu menyulitkanku, terlebih dia itu rewel. Tapi yah... kadang aku merindukannya kalau terlalu lama berpisah," Naruto lagi-lagi tertawa.

Hinata yang tertarik dengan apa yang dikatakan Naruto menengokkan kepalanya ke arah pria itu. "Sebagai partner, huh?" tanyanya, namun jelas mereka tahu Hinata tengah menggoda apa yang barusan Naruto katakan.

Naruto menengok sebentar hanya untuk mengirim seringai singkat ke arah Hinata. Ia memutuskan untuk tak membalas Hinata, namun tetap bersuara. "Tapi aku agak iri denganmu, Hinata," akunya. "Dari semua orang di agensi, hanya kau yang bisa mengubah Thunder."

Kening Hinata berkerut. "Mengubah? Percayalah padaku, Naruto, butuh lebih dari satu abad untuk bisa mengubahnya," bantahnya.

"Tapi sungguh... aku berpapasan dengannya beberapa malam lalu. Dia yang lama akan menyapaku dengan hinaan terburuk yang pernah tercipta di alam semesta. Tapi saat itu dia hanya mengatakan 'Hei, Wind' kemudian terus berjalan," Naruto menjelaskan.

"Sungguh?"

Naruto mengangguk kemudian melirik Hinata sekilas. "Aku tidak tahu apa yang terjadi di antara kalian, tapi Sakura mengatakan bahwa mungkin rumor itu benar."

"Rumor?"

Naruto kembali mengangguk. "Rumor bahwa kau dan Thunder bersama," kekehnya tanpa berniat mengejek. Hinata sendiri yang merasa wajahnya langsung berpaling. "Tidak apa-apa, aku tidak akan menghakimi."

"Bukan seperti itu," Hinata bergumam cepat untuk menyela Naruto, namun malah dibalas tawa yang lebih keras dari pria itu.

"Kubilang tidak apa-apa, Hinata. Percayalah, dia butuh seseorang seperti mu di hidupnya. Kurasa kau bisa membawa angin baik padanya," ujar Naruto ringan namun serius. "Jadi jika kalian memang bersama, pastikan dia tidak akan lepas lagi dari mu," Naruto melirik Hinata penuh arti.

Hinata menyandarkan sebelah sisi kepalanya di kaca jendela mobil, ia yakin wajahnya sudah berubah warna karena malu sekarang. Dan sungguh ia berharap Naruto berhenti membicarakan hal itu dengan entengnya.

"Kami... tidak seperti itu," cicitnya lagi.

Naruto menghela napas panjang yang terdengar samar. "Baiklah jika kau berkata begitu."

Selanjutnya tak ada kata yang tertukar hingga mereka tiba di area markas.

"Aku akan membuat laporan di perpustakaan jika kau mencariku," ujar Hinata memberitahukan sebelum keluar dari mobil.

"Oke, sampai jumpa kalau begitu."

Hinata segera keluar dari mobil dan berlari membelah hujan ke teras gedung meskipun tubuhnya tetap basah saat ia tiba di bawah lindungan atap gedung. Hinata menghela napas, berdiri sejenak di dekat ambang pintu masuk, sekedar untuk meluruhkan bulir-bulir air dari pakaiannya agar tak terlalu membasahi lantai di dalam.

Barulah setelah dirasa cukup, Hinata berjalan masuk. Ia bergerak menuju area penyimpanan senjata terlebih dahulu untuk mengembalikan pistol yang tadi ia bawa, setelahnya ia mengarah ke perpustakaan yang berada di lantai empat.

Tak butuh waktu lama untuk Hinata menyelesaikan laporannya hari ini, toh tak banyak hal yang terjadi tadi siang. Langit masih terlalu terang, membuatnya enggan untuk segera pulang. Pada akhirnya ia memutuskan untuk memakai komputer perpustakaan untuk sekedar melihat-lihat.

Ketertarikan Hinata muncul seketika saat melihat dokumen yang berisi tentang detail biografi para agen Anbu. Dengan segera, Hinata mencoba membukanya, namun yang berikutnya muncul adalah jendela perintah untuk memasukkan kata sandi.

Hinata menggigit bibir, memandang layar di hadapannya. Ia menghela napas kemudian diam beberapa menit hingga teringat sesuatu. Ditegakkannya posisi duduk sebelum mengambil ponsel di saku belakang celananya untuk menghubungi Konan.

"Hinata?"

"Emm, Konan... apa kau sibuk?" tanya Hinata cepat.

"Tidak juga. Aku sedang menonton anime. Ada apa?"

"Bisa beri tahu aku kode akses yang kau miliki untuk dokumen bersandi di komputer perpustakaan?"

"Hah? Untuk apa?" Konan bertanya dengan nada bingung.

"Ini penting. Kumohon," rajuk Hinata.

"Umm... kau tidak sedang berniat menyeretku dalam masalah, kan?" selidiknya.

"Tidak akan, aku berjanji."

"Beritahu aku dulu untuk apa kau membutuhkannya."

Hinata menghela napas sebelum menjawab. "Aku hanya ingin melihat beberapa hal tentang Sasuke."

"Oh... baiklah," jawab Konan mudah, membuat Hinata agak tak percaya meski mengharapkan jawaban itu. "Tapi ini karena kalian adalah OTP favoritku," jelasnya pendek. "Dan ingat, jangan coba-coba membuatku terseret dalam masalah apapun," tambahnya memperingatkan.

"Aku janji," sahut Hinata, mencoba meyakinkan.

"Sandinya BK88307-052-14TO," Konan mengejakannya sedang Hinata langsung mengetikkannya di jendela perintah yang sedari tadi muncul di layar komputer.

"Terima kasih," ujarnya sebelum memutuskan sambungan.

Dokumen itu terbuka dengan sandi yang diberikan Konan, seketika beratus berkas yang berisi dokumen-dokumen penting juga pendukung muncul di hadapan Hinata. Ada beberapa pilihan untuk mengklasifikasi dokumen itu dan Hinata langsung memilih penyaringan dokumen agen berdasarkan tingkatannya mengingat pasti agen yang sudah mencapai tingkat lima tak akan sebanyak agen pada tingkat lainnya.

Setelah melakukan filter untuk agen tingkat lima, beberapa berkas yang masing-masing memiliki nama yang berbeda terpampang. Tak banyak nama yang muncul, mungkin tak sampai angka lima puluh, dan Hinata tanpa sadar menahan napasnya sejenak ketika melihat nama sang ayah terselip di antara nama-nama itu.

Hinata menggeleng sama, kembali memfokuskan dirinya untuk menemukan apa yang sejak awal ia cari. Digulirnya layar beberapa kali hingga ia menemukan nama ' Uchiha Sasuke' di salah satu berkas yang muncul sebelum mengklik ikon berkas itu.

Selanjutnya Hinata mencoba membuka beberapa dokumen yang ada di dalam berkas itu. Hanya beberapa yang bisa ia akses, sisanya memerlukan sandi lain yang berbeda dengan yang Konan berikan, mungkin karena sifat dokumennya yang terlalu pribadi.

Beberapa yang bisa Hinata lihat hanyalah identitas pribadi, catatan hidup, progres selama di Anbu juga rekor kriminal yang disalin resmi dari kepolisian. Hinata membaca cepat tiap paragraf yang tersaji, tak berniat meluangkan lebih banyak waktu untuk meneliti. Beberapa paragraf tak berefek apapun namun ada sebagian lagi yang membuat keningnya berkerut saat membacanya.

'Penyiksaan secara fisik... ibu kandung terlibat prostitusi... ayah kandung pemabuk yang terlibat beberapa kali kasus pemerkosaan juga kekerasan.'

Hinata menggigit bibirnya yang entah sejak kapan bergetar, telinganya terasa berdenging tak nyaman namun ia tetap tak menghentikan kegiatan membacanya. Hingga ia menemukan satu fakta lagi.

'Kakak perempuan.'

Hinata berhenti sejenak, kelopak matanya melebar. Ia tak pernah tahu Sasuke memiliki seorang kakak perempuan. Tapi lagi, memang apa yang diketahuinya tentang pria itu?

Hinata kembali melanjutkan bacaannya tentang kakak Sasuke yang ternyata telah meninggal dunia itu. Jantungnya seakan diremas saat membaca apa yang terjadi pada mereka.

'Uchiha Akemi.'

Masa kecilnya sama seperti Sasuke yang mendapatkan siksaan fisik dari orang tuanya. Dijual ke rumah pelacuran pada usia lima belas tahun dan tewas dibunuh pada usia delapan belas tahun oleh ayahnya sendiri.

Hinata merasa napasnya tersendat, air matanya meluncur tanpa ia sadari saat mengetahui bahwa Sasuke yang saat itu masih berusia dua belas tahun menjadi saksi atas peristiwa itu, ia di sana menyaksikan kejadian itu. Saat sang ayah menikam kakak perempuannya hingga kehilangan nyawa.

'Diadopsi oleh salah satu panti asuhan setelah ayah dan ibunya yang juga mati dibunuh secara misterius... pembunuh tak terungkap hingga kasus di tutup.'

Hinata menutup mulutnya dengan tangan, terlalu tertegun. Ia ingat Sasuke pernah mengatakan tentang ia yang membunuh orang tuanya. Inikah maksudnya? Pembunuhan pertamanya? Bahkan saat usianya belum mencapai tiga belas tahun.

Hinata kembali menggigit bibirnya keras, matanya yang memerah terlihat tergenangi lapisan bening yang sengaja ia bendung. Dihempaskannya punggung di sandaran kursi setelah menutup semua dokumen yang tadi ia buka. Hinata duduk terdiam beberapa saat sebelum beranjak menuju toilet.

Berhadapan dengan refleksinya sendiri, Hinata berdiri menunduk di depan salah satu wastafel toilet. Ia membasuh wajahnya beberapa kali kemudian kembali terdiam, tenggelam dalam benaknya sendiri.

Sasuke. Pria itu telah melihat terlalu banyak kesakitan dan darah bahkan sebelum menginjak masa remaja. Dan jika dibandingkan dengan semua itu, luka Hinata sama sekali tak terlihat parah. Hinata menatap cerminan dirinya sendiri, diam beberapa saat kemudian mengambil napas panjang sebelum memutuskan untuk keluar.

Tak peduli dengan hujan yang semakin deras di luar sana, Hinata bertekad untuk bertemu dengan Sasuke sekarang. Ia berjalan cepat menembus serangan air langit menuju area asrama para agen. Hinata tak peduli apapun, ia hanya merasa bahwa ia butuh melihat Sasuke sekarang juga.

Baru netranya dapat menangkap teras dan pintu masuk gedung asrama, melalui ujung pandangannya Hinata mendapati sosok Sasuke, duduk tertunduk di bawah pohon berukuran sedang yang sama sekali tak melindungi pria itu dari cipratan air yang datang.

Hinata mengubah arah jalannya, langkahnya semakin cepat mendekati Sasuke hingga ia berhenti di hadapan pria itu. Sasuke yang menyadari kehadiran seseorang di hadapannya segera mengangkat wajah dan berdiri ketika mengetahui orang itu adalah Hinata. Ekspresinya agak terkejut, seperti memang sama sekali tak memperkirakan kedatangan Hinata.

"Kau masih sakit, apa yang kau lakukan di tengah hujan seperti ini, idiot!" buka Hinata, agak berteriak karena kesal dengan tingkah bodoh Sasuke, juga untuk menyaingi irama yang hujan ciptakan.

Raut terkejut Sasuke tak bertahan lama sebelum kembali ke wajah datarnya, ia memalingkan pandangan dari Hinata. "Itu... bukan urusanmu," desisnya.

Selanjutnya, tanpa aba-aba, Hinata menubruk tubuh Sasuke untuk didekapnya erat. Butuh waktu beberapa saat sebelum akhirnya Hinata merasakan lengan Sasuke ikut melingkar di tubuhnya, membalas pelukannya.

Hinata menyandarkan sebelah sisi kepalanya di dada Sasuke, menikmati detak jantung pria itu. Sedangkan Sasuke hanya menyamankan diri dengan menumpukan pipinya di ujung mahkota Hinata. Cukup lama mereka seperti itu tanpa ada pertukaran kata.

"Aku tidak peduli," hingga Hinata agak melonggarkan pelukannya, ia berujar, nyaris berbisik. Membuat Sasuke yang mendengar ikut melonggarkan pelukannya dan memfokuskan diri memandang wajah Hinata, menunggu wanita itu untuk melanjutkan. "Kita mungkin akan berakhir dengan membunuh satu sama lain, tapi aku tidak peduli," Hinata baru mengangkat wajahnya untuk kemudian bertemu tatap dengan oniks sayu Sasuke. "Aku memberimu izin untuk menyakitiku... tapi jangan memintaku menjauh."

Sasuke menghela napas pendek, dipertemukannya kening mereka sambil kedua telapak tangan besarnya menangkup sisi wajah Hinata. "Kau yang pertama memintaku untuk menjauh," kilahnya.

Hinata tersenyum sendu. "Tidak lagi," bisiknya sebelum berjinjit untuk meraih bibir Sasuke ringan dengan bibirnya.

Kecupan ringan itu berubah menjadi begitu menghangatkan di tengah hujan saat Sasuke memutuskan untuk membalasnya, memberi tekanan lebih untuk keduanya saling nikmati.

Hinata sedikit menarik diri, wajahnya menengadah untuk mempertemukan ametisnya dengan manik kelam Sasuke. "Maaf, Sasuke," bisiknya.

"Jangan bicara lagi," balas Sasuke kemudian mengecup bibir Hinata singkat sebelum menarik manita itu untuk mengikutinya masuk ke dalam gedung menuju apartemennya.

Setibanya di apartemen, Sasuke kembali melekatkan dirinya pada Hinata. Tanpa repot menyalakan lampu terlebih dahulu, tangan Sasuke sudah menyamankan diri, melekat di permukaan kulit punggung Hinata di balik kemejanya yang basah.

"Kau masih demam," gumam Hinata saat baru menyadari suhu tubuh Sasuke.

"Jangan merusak suasana," bisik Sasuke sebelum menghujani bibir Hinata dengan banyak kecupan ringan, tangannya bergerak perlahan melepas kancing-kancing kemeja wanita di hadapannya.

Setelah berhasil melepaskan kemeja yang Hinata kenakan, Sasuke kembali melingkarkan lengannya di pinggang wanita itu, wajahnya ia benamkan di ceruk leher Hinata untuk memberikan cumbuan di sana. Perlahan ia melangkah mendorong Hinata menuju kamar.

Sasuke melepas kaus basah yang menempel di tubuhnya juga membuka sabuk yang ia kenakan setelah dijatuhkannya Hinata di atas ranjangnya. Tak butuh waktu lama hingga ia merangkak ke atas ranjang, bergabung bersama wanitanya.

Hinata merasa lemas saat kembali merasakan tubuh Sasuke menindihnya, namun ia masih dapat melempar tangannya untuk menangkup punggung pria itu. Seketika suhu tinggi kulit Sasuke menjalar, dirasakan oleh ujung syarafnya. Namun itu tak membuatnya menghentikan apa yang mereka lakukan.

"Uhhh..." desahan itu lolos dari bibir Hinata saat Sasuke menyesap dalam permukaan lehernya, membuat nadinya berdenyut semakin cepat.

Ciuman basah Sasuke berlanjut ke tulang selangka hingga dadanya tanpa peduli bra yang masih melindungi sebagian tubuh Hinata. Sasuke tetap tak bersuara sepanjang aksinya, dan itu membuat Hinata agak bertanya-tanya tentang apa yang ada dalam pikiran pria itu.

Sasuke melepaskan diri dari Hinata hanya untuk meraih dan melepas celana wanita itu. Hinata yang merasa terlalu terekspos tanpa sadar menggerakkan kaki untuk menutup diri, namun gagal saat tangan Sasuke menahan pahanya. Hinata menggigit bibir agak gugup sambil memalingkan wajah, menghindari tatapan intens oniks Sasuke.

Sasuke kembali menindih Hinata, dibuatnya wanita itu agar memandang ke wajahnya sebelum ia pertemukan bibir merasa dalam ciuman penuh gairah. Satu tangan Sasuke menuntun tangan Hinata menuju celananya, mengisyaratkan pada Hinata untuk membantunya melepas kain itu.

Entah bagaimana keduanya melucuti pakaian masing-masing yang masih tersisa tanpa melepaskan cumbuan mereka. Yang Hinata sadari hanyalah bahwa ia terlalu tenggelam dalam nikmat yang diberikan jemari Sasuke di bagian intimnya. Desahannya terus mengalun menemani napas berat yang Sasuke hembuskan.

Sasuke mengeluarkan jemari Hinata, meninggalkan sensasi kekosongan sesaat di bawah sana. Ia mengangkat kepalanya namun tetap menghubungkan keningnya dengan kening Hinata. Mata mereka beradu, mencampur berbagai artisan binar yang terpancar.

"Aku menginginkanmu," bisik Sasuke.

Ametis Hinata masih bertahan dalam tatapan Sasuke, tangannya mengusap punggung telanjang pria itu. "Kenapa aku, Sasuke?" tanyanya dengan senyum kecil.

Sasuke mengecup ujung hidung Hinata sebelum menjawab. "Kau menanyakan hal yang masih kupertanyakan pada diriku sendiri," akunya.

"Lupakan," balas Hinata. "Aku ingin bersamamu, tidak peduli siapa dirimu," kali ini Hinata yang meraih bibir Sasuke, memulai kembali kegiatan mereka dari jeda yang tercipta. Hingga yang selanjutnya Hinata rasakan adalah sesuatu yang mencoba menyusup masuk ke dalam celah sempit miliknya.

"A-aahhh..." tubuh Hinata mengelijang akibat nyeri juga nikmat yang menyerangnya.

Sasuke mengerang rendah menahan diri untuk tak kehilangan kontrol di bawah nafsunya. Ia bergerak perlahan sebagai awalan. Tangannya ia tautkan dengan tangan Hinata, netranya tak meninggalkan wajah ayu wanita di bawahnya.

..

...

..

"Hanya ada ini," Sasuke kembali ke kamar hanya dengan mengenakan celana pendek membawa beberapa bungkus protein bar. Hinata yang melihatnya menahan senyuman. "Kenapa?" Sasuke mempertanyakan ekspresi Hinata sambil merangkak naik ke ranjang.

"Tidak apa-apa," jawab Hinata masih dengan ekspresi yang sama.

"Pasti ada sesuatu," selidik Sasuke. "Kau selalu menunjukkan ekspresi itu setiap kali kau mengejekku di dalam benakmu. Matamu terlihat tengah menghakimi."

"Menghakimi?" kening Hinata berkerut ringan, ia menyandarkan punggungnya di kepala ranjang saat Sasuke duduk berlutut di depannya dengan kedua kaki memerangkap kakinya. "Aku tidak pernah mengejekmu seperti itu," protes Hinata, membiarkan tangan Sasuke mengusap pinggangnya yang tertutup kaus Sasuke yang ia kenakan.

"Benarkah?" Sasuke meragukan. "Tapi kau pasti pernah berpikir jelek tentangku, bukan?"

"Hmmm... mungkin," Hinata memasang ekspresi berpikir. "Tapi bukan ejekan. Malah aku lebih sering memujimu."

"Sungguh?" Sasuke menyeringai untuk kemudian dibalas anggukan oleh Hinata. "Pujian seperti apa?" Sasuke beringsut semakin mendekat, tangannya sudah berpindah, kini memainkan pangkal paha Hinata.

Tanpa menunggu jawaban atas pertanyaannya sendiri, Sasuke menyerang rahang Hinata, mencumbunya seperti tak akan ada matahari terbit untuk ditunggu esoknya. Hinata tak bisa menahan erangannya saat Sasuke juga melibatkan tangannya untuk menjelajahi tiap inci permukaan kulitnya.

"Sasuke" cicit Hinata sambil mendorong Sasuke untuk melepaskan ciumannya. Tak mendapat respons dari si pria, Hinata menangkupkan kedua tangannya di wajah pria itu agar dapat menariknya menjauh.

"Hn," protes Sasuke dalam gumamannya.

"Kita harus bicara," ametisnya menatap oniks berkilat milik Sasuke tanpa melepaskan tangkupan tangannya di wajah pria itu.

"Aku tidak mau," Sasuke menghela napas samar dan melepas satu tangan Hinata dari wajahnya. "Tidak ada hal baik yang terjadi saat kita saling bicara."

"Bukan berarti kita harus diam selamanya," sanggah Hinata lembut.

"Tidak, Hinata. Kau tidak tahu bagaimana aku... aku bahagia sekarang," racaunya kacau. "Kau adalah hal terbaik yang pernah muncul di hidupku. Dan seperti yang kau katakan, aku juga tidak peduli jika nantinya kau menyakitiku atau membunuhku. Aku ingin tetap denganmu karena tanpamu rasanya lebih buruk daripada neraka."

"Sasuke," Hinata berusaha menyela.

"Aku ingin bersamamu. Jangan tanyakan padaku alasannya karena aku sendiri hampir gila mencari jawabannya. Aku hanya... aku tidak tahu..." nada bicara Sasuke merendah. "Aku merasa butuh dirimu."

Jeda panjang mengikuti pengakuan Sasuke. Hinata diam, namun ametisnya tetap menatap lembut wajah pria di hadapannya itu. "Kurasa kau benar," gumam Hinata sebelum mendorong Sasuke dari dirinya, tak cukup kuat untuk membuat Sasuke terbaring, namun cukup untuk membuatnya melepaskan diri.

Setelah tak lagi terkurung oleh tubuh Sasuke, Hinata beringsut mendekat untuk duduk berhadapan di pangkuan pria itu. Tangannya kemudian melingkari leher Sasuke untuk didekapnya, wajahnya ia benamkan di ceruk leher Sasuke.

Hinata merasakan tangan Sasuke mengusap surai panjangnya yang tergerai, pria itu menumpukan kepalanya di kepala Hinata tanpa benar-benar membebaninya, bibirnya beberapa kali mengecup daun telinga Hinata.

"Katakan padaku, pujian seperti apa yang kau berikan?" tanya Sasuke, kembali ke topik yang sebelumnya terputus.

Jemari Hinata bermain dengan anak rambut di tengkuk Sasuke. Ia kemudian mengangkat kepalanya untuk memandang pria itu. "Seringnya tentang fisikmu."

"Aku sudah menduganya," Sasuke menyeringai ringan. Ia merasakan tangan Hinata mengusap luka bekas peluru di bahu kirinya namun tak mencoba menghentikannya, malah menikmati setiap sapuan wanita itu. "Ini rekor," ujarnya.

Hinata mengerutkan kening tak mengerti, namun masih menyamankan tubuhnya di pangkuan Sasuke. "Rekor apa?" tanyanya tanpa melepaskan sandarannya dari si pria.

"Kita bersama di atas satu ranjang seharian tanpa seks liar," jawabnya enteng.

Hinata mengangkat kepalanya kemudian menyentil bibir Sasuke. "Kau harus mencoba untuk lebih mengendalikan lidahmu.

Sasuke terkekeh renyah, didorongnya Hinata hingga berbaring. "Kukira kau suka saat aku bicara kotor," godanya.

"Tidak setiap saat," balas Hinata.

Sasuke tersenyum simpul, ia merendahkan wajahnya untuk mengecup kening Hinata kemudian hidung, hingga bibirnya. "Bagaimana kalau sekarang? Apa ini waktu yang tepat?"

"Demammu baru mereda, Sasuke," Hinata beralasan logis untuk menanggapi maksud yang Sasuke sampaikan.

"Terima kasih padamu. Sudah kubilang aku harus berkeringat," Sasuke kembali menampakkan seringainya sebelum mencoba melaksanakan apapun niatan yang ada di kepalanya saat itu.

.

to be continued...

..

.

Finally chapter 13... maafkan diriku yang terbuai suasana lebaran sampe ngulur waktu buat update *plakk hhuhu

Oh ya, fyi, buat yang nemu akun instagram skyrans, itu bukan personal acc ku, ngga ada hubungannya sama sekali sama aku... kebetulan aja namanya sama :v

Anyway, selamat lebaran... and thanks for sticking with this story :3
Seeyaa...