"Berlian apa maksudmu?" tanya Blaze.

"Berlian... Diva of Diamond, Tuan." jawab Fang. Seketika Blaze tersenyum, lalu menuang kembali wine kegelasnya.

"Hm... Kita akan mendapatkan permata itu. Namun kita takkan melelang harga..."

"Kita akan mencurinya..." sambung Blaze. Wajah Fang kini berseri. "Dan... Antar aku ke Panti Asuhan, Fang." Blaze berdiri lalu berjalan keluar dari Ruangan dan disusul oleh Fang.

.

.

The Case Solver

"Siap menjalankan misi pertama?"

.

.

Story Line by LyxCrime03

Chapter 05: Kamuflase

.

Genre: Fanfiction, Thriller.

.

.

Diluar, terdapat Himaki dan Ice yang tengah mengobrol atau lebih tepatnya bertikai. Blaze yang melihat Himaki langsung menghampirinya dan membuat pertikaian diantara kedua belah pihak terhenti.

Tanpa aba-aba Blaze langsung menampar pipi Himaki hingga terjatuh kesamping, Himaki tampak terkejut saat tiba-tiba Boss-nya menampar pipinya dengan begitu kuat. Ia bangkit kembali seraya mengelus pipinya yang berbekas merah.

"B-Boss..."

"Kau tau apa salahmu, Himaki?!" bentak Blaze, Himaki langsung tersentak.

"A-apa itu..?"

"KAU MEMBUAT PERJANJIAN DAMAI DENGAN GEMPA, HAH?!" gertak Blaze. Ia kini memukul perut Himaki hingga ambruk merintih kesakitan.

"Maaf... Maafkan aku, Boss! Uhukk–" Himaki meminta maaf, namun Blaze memalingkan wajah dan berjalan menuju lobby. "Jika kau masih ingin hidup, bantulah Ice menyelamatkan Halilintar! Jikalau gagal, aku tak segan membunuhmu dan juga Ice!" tegas Blaze, dan ia pun berlalu.

Blaze masuk kedalam mobil, disusul oleh Fang. Blaze lalu memerintah supir untuk membawanya menuju Panti Asuhan terdekat, dan mobil pun melaju.

[Blaze's POV]

Menyadari pengkhianatan Himaki membuatku sadar bahwa aku harus menyiapkan pasukan lebih. Aku memutuskan untuk mengadopsi beberapa anak di Panti Asuhan, dan membiarkan Ice melatih mereka.

Aku ingat, aku juga melakukan hal yang sama pada Himaki dan Himeko. Himeko adalah adik Himaki, saat itu aku memungut mereka yang tengah lari dari kejaran para lintah darat. Aku memungut mereka, memberi makan dan pakaian, memberi tempat tinggal, memberi 'pelajaran' untuk mereka. Namun Himeko tak bisa lebih lama belajar membunuh karena ia memiliki suatu penyakit, karena itulah aku menjadikan dirinya sebagai sekretaris pribadiku. Sedangkan Himaki sudah nyaman sebagai Pembunuh bayaran, karena ia memang haus harta.

"Apa ini karena Himaki, Tuan?" tanya Fang. Aku mengangguk.

Aku juga ingat saat aku menemukan Fang. Kala itu terjadi serangan teroris disalah satu Mall ternama di Kuala Lumpur. Saat itu terjadi, ia terlihat meringkuk ketakutan dibalik meja kasir suatu toko sambil terus bergumam "kakak... Kakak.." dan matanya terlihat kosong. Aku mendekapnya hangat lalu membawanya ke Rumah, merapikan dirinya, dan kubawa ia ke Berlin (Ibukota Jerman).

Aku mengetahui bakat mencuri yang ia miliki saat kulihat ia mendekati salah seorang anak buahku dan diam-diam mengambil dompetnya yang tebal. Lalu, aku tertarik dengannya, tertarik dengan trik tipu daya yang ia miliki. Dan kini, ia bukan lagi pencuri dompet orang di pasar, melainkan pencuri berlian dan benda-benda berkilau yang membuatnya ingin memilikinya.

Mobil berhenti didepan bangunan bernuansa putih. Aku turun dari mobil disusul oleh Fang. Kami pun masuk kedalam bangunan tersebut dan menuju meja resepsionis.

"Aku ingin mengadopsi anak." ujarku. Resepsionis itu menoleh padaku lalu tersenyum.

"Oh, ya! Silahkan... Lewat sini." ia lalu menuntunku menuju Taman belakang dimana banyak anak-anak tengah bermain disana. Resepsionis itu membuka pintu yang terbuat dari kaca dan teralis itu, mempersilahkan aku dan Fang untuk masuk.

Aku melihat banyak sekali anak-anak, menoleh kekanan dan kiri mencari anak yang tepat. Yang dapat membuatku merasa bahwa anak itu adalah pilihan yang tepat, dan akhirnya aku menemukannya. Aku menghampiri seorang anak laki-laki yang tengah duduk di ayunan dan seorang anak perempuan yang tampak sedang mengobrol dengan anak laki-laki diselingi tawa mereka.

"Hai.. Siapa nama kalian?" tanyaku, berusaha tersenyum dan ramah dihadapan mereka. Awalnya mereka terlihat takut, namun tak lama si perempuan menjawab,

"A-aku Nabila Azzahra dan laki-laki disebelahku bernama Raile Vincent." jawab si perempuan bernama Nabila itu. Hm... Nama asia yang tak asing di telingaku. Namun saat kulihat si laki-laki, ia hanya memandang ke sembarang arah dengan tatapan kosong. "Maaf... Tapi Raile buta sejak kecelakaan yang menimpa dirinya dan keluarganya." jelas Nabila. Aku mengangguk mengerti lalu menoleh pada Fang, Fang juga turut menoleh padaku.

Aku menarik tangan Fang menuju tempat yang lebih sepi untuk berunding dengannya. Kurasa 2 anak tadi cocok untukku, namun si laki-laki buta itu...

"Apa yang bisa dilakukan laki-laki buta untukku?" tanyaku pada Fang. Ia tampak berpikir.

"Kita bisa meminta Dokter Mamoru untuk mengoperasikan matanya agar bisa normal kembali." usul Fang. Tapi kupikir itu akan memakan biaya cukup banyak.

Ah... Persetan dengan biaya! Toh... Uangku juga akan kembali lagi padaku nantinya.

"Baiklah... Kita akan mengadopsi mereka. Siapkan surat-suratnya!" perintahku, Fang mengangguk lalu bergegas menuju resepsionis untuk mengambil surat adopsi. Sedangkan aku menunggu dimobil.

Tak lama kemudian, Fang kembali bersama anak-anak itu. Mereka lalu masuk kedalam mobil dengan sedikit rasa canggung. Itu normal, bukan?

Setelah semuanya duduk (dan tak ada satupun yang membuka mulut), aku menyuruh supir untuk mengantar kami menuju Mall terdekat untuk mencari beberapa pakaian anak-anak dan juga mencari pakaian formal untuk dipakai di pelelangan itu. Supir mengangguk lalu segera melaju menuju Mall.

"Kami belum mengenal dirimu. Siapa kau?" tanya Nabila seraya memandangku. Aku terkekeh.

"Namaku Blaze, dan yang itu Fang." jawabku pada Nabila. Tapi kulihat Raile hanya diam sedari tadi. "Ada apa dengannya?" tanyaku pada Nabila, namun ia malah memgendikkan bahu pertanda bahwa ia tak tau. Aku menepuk bahu Raile dan ia menoleh padaku.

"Ada apa?" tanyaku

"U-um... Tidak... Aku tidak apa-apa." jawabnya canggung seraya memegang tongkat penuntunnya dengan kuat seperti takut akan sesuatu. Namun... Kurasa ia cukup 'baik-baik saja'.

Mobil parkir di Basement Mall. Kami pun keluar dari mobil dan berjalan menuju kedalam Mall, Nabila dan Raile terlihat bingung kenapa aku mengajak mereka kemari.

"Kalian bebas memilih apa yang kalian mau. Pakaian? Mainan? Makanan? Bebas.." ujarku. Walaupun Nabila dan Raile pada akhirnya hanya saling pandang.

Triliiingg...

Ponselku berbunyi dan sebuah pesan masuk.

Untuk Boss–

Kami berhasil menyelamatkan Halilintar. Namun... Sepertinya dia menggila.

Himaki Tsu–

Halilintar? Gila? Bagaimana bisa? Aku hanya menyuruhnya membunuh Ying dengan racun dan bukan dengan senjata. Sial... Pasti terjadi kesalahan.

"Fang... Jaga anak-anak. Ada urusan sebentar!" ujarku pada Fang.

"Tapi..."

"Fang!"

"Baiklah..."

Aku pun berbalik dan pergi. Walaupun Nabila terdengar memanggil namaku dengan kebingungan, namun aku takkan menoleh kebelakang. Aku berjalan dengan cepat menuju Basement dan menemui supirku, masuk kedalam mobil dan memerintahkan supirku untuk mengantarku kembali ke Markas dengan cepat. Akhirnya mobil melaju.

Sampai di Markas, aku langsung disambut anak buahku. Dan saat aku berjalan menuju Ruanganku, kulihat Halilintar meronta, melompat-lompat, dan tertawa layaknya orang kehilangan akal sehat.

"Hahahaha! Aku membunuhnyaaa! Hahahaha... Saat polisi datang, mereka sangat konyol! Hahahaha!" serunya. Terlihat Ice dan Himaki kewalahan sambil menahan dan mencengkram lengan Halilintar agar tidak kabur.

Lalu Dr. Mamoru dengan tergopoh-gopoh berlari sambil membawa suntikkan yang terdapat obat tenang didalamnya. Ia cepat-cepat menghampiri Halilintar yang semakin menggila dan menyuntikkan obat itu, perlahan Halilintar ambruk dan tidur. Tenang.

"Maafkan kami, Boss.." ujar Himaki seraya menundukkan kepala menghadap lantai marmer. Aku mengetuk-ngetuk jariku pada meja kerjaku, bertopang dagu memandang Himaki dan Ice dihadapanku.

"Kalian berhasil walaupun dengan 'sedikit' masalah. Baiklah, misi kalian selanjutnya adalah mengawalku saat acara pelelangan nanti malam di Gedung Delove Corp. Jaga sikap kalian agar tak terlalu mencolok, aku akan meminta Fang mencari baju formal untuk kalian." ujarku dan mereka menghela nafas lega. Bahkan kulihat Himaki hampir ingin bersujud.

"K-Kami akan melakukan yang terbaik, Boss!" ujar mereka bersamaan. Aku mengerutkan alisku.

"Himaki... Satu peringatan, jika kau berani menghubungi Gempa tanpa seizinku lagi, bahkan membuat kontrak dengannya lagi, aku takkan segan mencincang tubuhmu dan akan kuberi untuk makanan anjing penjaga." sinisku pada Himaki. Ia mengangguk gugup.

Mereka pun keluar dari Ruanganku. Aku menghela nafas lalu bersandar pada punggung kursi. Membuka ponsel, lalu menghubungi Fang.

"Halo, Tuan?"

"Ya. Bisa kau carikan baju untuk Himaki dan Ice? Kau tau ukurannya kan? Baju formal! Dan jangan berlama-lama di Mall!" ujarku.

"Baik, Tuan. Saya mengerti."

[Gempa/Quake's POV]

Aku berlari dengan cepat menuju Ruang Komandan seraya membenarkan tata letak topiku. Sampai didepan Ruangan, kuputar kenop pintu dan masuk. Sudah ada Komandan dan seorang gadis disana.

"Kau terlambat, Gempa.." ujar Komandan. Aku meneguk ludah gugup lalu mengangguk.

"Maaf, Komandan Kokoci!" ucapku meminta maaf sambil membungkukkan badan.

"Sudahlah! Tak apa.. Dan, mari kita lanjutkan, Nona Anne." dan Komandan pun berpaling dariku ke gadis disebelahku yang kudengar bernama Anne.

"Sebaiknya anda memberitahu Gempa terlebih dahulu." ujar Anne seraya menoleh padaku. Apa yang ingin ia beritahu padaku?

"Gempa... Akan ada acara pelelangan rahasia di Gedung Delove Corp. Aku ingin kau dan Nona Anne menyamar dan menjaga keamanan disana karena kuyakin akan banyak Mafia yang mencoba merengut barang lelang tanpa memberi harga lelang." jelas Komandan. Aku mengangguk mengerti.

Komandan lalu membuka laci mejanya dan mengeluarkan 2 pasang baju, yang satu baju yang tampak seperti reporter dan yang satu lagi baju jas formal. Komandan lalu memberikan kami baju itu, aku mendapatkan Jas dan Anne mendapat baju reporter.

"Nona Anne, aku ingin kau menjadi fotografer. Aku butuh dokumentasi, dan tenang saja, kau bersama Gempa. Gempa, kau menyamar dan kuminta awasi politikus disana karena rawan sekali penyerangan, jangan lupa bilang jika Nona Anne bersamamu." ujar Komandan. Aku dan Anne mengangguk mengerti.

"Kami siap, Komandan!"

To Be Continued...