Main Cast : Chanyeol X Baekhyun
Other Cast : Temukan di dalamnya :)
Disclaimer : fic ini pure milik Gloomy Rosemarry aka Cupid KM
Previous Chapter
"Hn... Kau mengandung anakku"
Baekhyun menunduk, menyentuh perutnya dengan kesepuluh jarinya. "Ahjjusi dan Baekhyun memiliki anak?" Tanyanya masih dengan mata tak berkedip menatap perutnya sendiri.
"Itulah yang terjadi padamu saat ini " Jawab Chanyeol seraya menarik dagu Baekhyun dan mencium mesra bibir tipisnya.
"Hmpfthh... Mnh~"
.
.
.
.
"Ahjjussi.."
"Hn.."
"Baekhyun hamil, jadi Ahjjusi tidak akan pergi lagi... ne?"
"..."
.
.
.
Chapter11
Love Of Fallen Leaves
By. Gloomy Rosemary
.
.
.
.
Raja Silla itu tertegun...
seakan terperanjat bisu kala memandang dua mata pias di hadapannya.
Mungkin memang hanya mata dari seorang bocah...
terlampau lugu, bahkan mungkin sama sekali tak memiliki sesumbar atas sosoknya.
Tapi entahlah..
Ia merasa seperti menemukan kelemahannya dari kedua mata anak itu.
Terlebih, melihatnya hampir menangis seperti ini
Ah! Kemana perginya keangkuhan yang selalu diagungkannya itu?
.
.
"Ahjjusi..." Panggil Baekhyun untuk kesekian kalinya, terlihat kecewa... menyadari pria itu sama sekali tak menjawab apapun. Mungkinkah Ahjjusinya tengah enggan berbicara padanya? ataukah sesuatu yang lain membuatnya marah?
Oh sungguh! Baekhyun benar-benar takut... pria itu kembali meninggalkannya.
"Ahjjussi...marah?" Ratap anak itu, mencoba menerka
Kedua tangan mungil yang sempat menyentuh lengan kekar Chanyeol, kini tengah diremasnya sendiri. Masih menunggu... Pria itu mengucap sepatah kata untuknya.
"A—ahjjussi, tidak mau Baekhyun hamil?"
Chanyeol terhenyak, lekas tersadar menyadari Baekhyun seakan menumpukan penyesalan itu untuk dirinya sendiri.
"Tck!" Ia berdecak. sebelum akhirnya, menarik tubuh mungil itu ke dalam dekapannya.
"Darimana kau menyimpulkan pemikiran semacam itu?" Bisiknya seraya mengecup sayang puncak kepala Baekhyun. Membuat anak itu semakin menyusupkan wajahnya ke dalam dekapannya.
Sejenak terdiam, hingga celoteh kecilnya kembali mengguncang pendirian Raja Silla itu.
"Ahjjussi senang Baekhyun hamil?"
"Tentu saja.."
Baekhyun terkikik"Jangan pergi lagi, ne?"
Penguasa Silla itu hanya memejamkan mata. menimang rencana licik yang mungkin dapat Ia lakukan untuk membawa Baekhyun pergi dari tempat ini.
"Ahjjuss—
"Tidak..." Singkatnya, tak pelak membuat bocah itu menengadah dan tersenyum riang saat menatapnya.
"Jinjja? Jinjja?" Baekhyun sedikit mengguncang tubuhnya di atas pangkuan pria itu. Kedua tangan kurusnyapun terlihat menggelayut manja di leher Chanyeol. Menutut jawaban lebih, hingga Ia benar-benar terpuaskan dengan senyumnya sendiri.
Chanyeol mengangguk pelan, sambil mengelus punggung jauh lebih kecil dari miliknya itu.
"Baekhyun takut... Ahjjusi pergi"
Terdengar... hela nafas berat Raja Silla itu. Tak ada jawaban apapun, selain dekapan erat . Senyum dan kerjapan polos Baekhyun semakin menjebaknya, membuatnya berharap, anak itu akan terus seperti itu.
Baekhyun yang tak bisa lepas darinya...
Baekhyun yang selalu melihat hanya padanya...
Tanpa tersentuh oleh kenyataan yang sebenarnya telah Ia putar balikkan.
Semua telah sesuai dengan rencananya.
Membatasi Baekhyun dari dunia luar, mengekangnya... membisikkan semua kata yang jelas menyita pemikiran polos anak itu. Bahkan membuat Baekhyun lupa akan jati dirinya sebenarnya. Terus berulang sampai bertahun-tahun lamanya.
Hingga dunia anak itu hanya berisi tentangnya tanpa terkecuali.
Tentu... Ia tak bisa terima, jika tiba-tiba anak itu berpaling darinya.
"Aku yang sebenarnya merasa takut" Bisik Chanyeol lirih, dan hanya terdengar olehnya sendiri.
Namun tib-tiba Ia berjengit, begitu anak itu bangkit dan memaksa menggelayut di punggungnya.
"Baek—
Ia mendadak diam, melihat Baekhyun terkikik dan menyandarkan kepala nyaman di pundaknya.
"Apa ini?" Gumam Chanyeol seraya mengguncang tubuh mungil itu, sekedar untuk menggoda.
"..." Baekhyun tak ingin menjawab, melainkan hanya menggesekkan hidung kecilnya di bahu Chanyeol lalu tersenyum tersipu.
"Hei.."
"Nnn!" Erang Baekhyun, semakin merangkul erat leher Chanyeol. Tak peduli apapun, Baekhyun hanya ingin bersama dengan pria itu.
"Turunlah..."
"Nnn! Shirreo!" Kekeuh Baekhyun. Sembari mengalungkan kedua kakinya di perut Chanyeol. Hingga dipastikan Chanyeol tak bisa lepas lagi darinya. pikirnya
Raja Silla itu kembali berdecak... Ia memang kerap melihat sikap manja anak itu, tapi entahlah... Baekhyun selalu memberi degup berbeda dengan semua sikap menggemaskan itu.
"Kau tau? tubuhmu itu berat—arght!"
"NNN!" Baekhyun menggigit kuat leher Chanyeol. Mendadak kesal dengan ucapan yang menurutnya tak perlu itu. Sesaat setelahnya, Baekhyun memilih beringsut turun dari punggung lebar Chanyeol.
Tapi—
GREB
Pria itu bangkit berdiri, dan menahan erat tubuhnya. Tak mengizinkannya untuk turun.
"A-ahjjusii!" pekik Baekhyun jengkel. Masih memaksa ingin turun.
"Bukankah kau menginginkanku menggendongmu seperti ini?"
"Baekhyun berat! jadi turunkan—
"Aku hanya bercanda" Kekehnya seraya mengambil langkah, menuruni batuan yang lapang itu.
Anak itu berdengus dengan bibir mengerucut, dan Chanyeol tau... Baekhyun tengah meninggikan egonya kali ini.
"Baiklah ... gigit leherku lagi jika kau marah"
"..." Baekhyun mengerjap, merasa bersalah pada bekas merah di leher Chanyeol. Itu gigitannya!
Anak itu beralih mengusap leher Chanyeol. Lalu mengecupnya bertubi-tubi.
"Mianhae" Bisiknya lirih pada bekas gigitannnya. "Sakit Ahjjussi?" Tanya Baekhyun seraya menyandarkan kepalanya di pundak Raja Silla itu.
Chanyeol menyeringai, merasa picik dengan gerik lugu di balik sikap jenaka bocah itu. Ah! Sial... Ia benar-benar ingin menguasai seluruhnya semua yang ada pada Baekhyun.
"Hn... karena kau hanya mencium leherku saja" Gumam Chanyeol, memancing peluang.
Dan benar saja. Baekhyun terlihat kebingungan, tak ingin Ahjjusinya tiba-tiba meninggalkannya lagi.
Baekhyun sedikit mengangkat tubuh, dan—
'Chupp'
Ia mencium lama pipi kanan Chanyeol. Membuat pria itu stagnan, merasa desir yang berbeda kembali menarik ulur degup jantungnya kala menerima kecupan manis itu.
"Otteyo?" Bisik Baekhyun, sambil memandangi sisi wajah Chanyeol.
Semula... Ia memang berniat membawa Baekhyun berjalan meniti sungai. Mungkin untuk, sekedar mengejar kunang-kunang di luar sana.
Tapi rasanya... terlalu sayang jika melewatkan waktu intimnya bersama bocah itu. Dan jika dirinya ingin berbaik hati pada dayang Goryeo itu, Tidakkah Ia tak memiliki waktu lebih setelah malam ini?
Penguasa Silla itu beralih membawa langkahnya kembali ke dalam, membuat Baekhyun mengerjap tak mengerti. Kemana sebenarnya Pria itu ingin membawanya.
"Ahjjussi? mengapa kembali?" Baekhyun menatap kesekitar. Dan mengernyit tak suka pada suasana gelap itu.
"Ahjjuss—
"Aku hanya ingin berdua denganmu di sini" Sergah Chanyeol. sebelum akhirnya mendudukkan Baekhyun, dan memenjarakannya di antara dinding gua. Hingga Ia benar-benar bisa menantap lekat wajah sayu itu, meski di bawah temaram api penerang.
"Tak apa... Aku hanya ingin menyentuhmu seperti ini" Bisiknya seraya mengendus wajah tirus itu. Mengecupinya perlahan dari dahi hingga ujung dagunya. Terlihat frustasi, kala Pria itu berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Baekhyun sempat memejamkan mata erat, begitu pria itu mencium kelopak matanya. Lalu mengerjap... merasa tak biasa dengan sikap Chanyeol.
"A-ahjjussi" Baekhyun berusaha menyentuh wajah pria itu."Mmh!" Namun gigitan kecil di ujung telinganya membuatnya berjengit dan meremas lengan Chanyeol.
Lama... Ia membiarkan Pria itu menghirup dalam-dalam ceruk lehernya. Tak ada cumbuan apapun... hanya kecupan kecil dengan sesekali nafas berat darinya. Meski tak terlalu mengerti, tapi Baekhyun tau... ada yang salah dengan sikap penuh hati-hati itu.
.
.
Kedua tangan mungilnya kembali terangkat, mencoba menyentuh wajah tegas yang sedari tadi bersandar di bahu kecilnya.
"Ahjjussi sakit?" Tanyanya kemudian.
Membuat Chanyeol terkekeh lalu beralih menyambut jemari lentik itu, dan menciumnya lama. "Aku hanya merindukanmu" Gumamnya dengan mata terpejam, entah anak itu mengerti atau tidak.
Sejenak Ia hanya merasakan tangan mungil itu mengusap rahangnya. Ah! Ia tau... Namja kecilnya ingin menghiburnya. Tapi perlahan serasa menariknya, hingga Ia bisa merasakan hembusan nafas hangat Baekhyun.
Sesaat ia membuka mata, namun—
Jantungnya kembali berdetak cepat, menyadari anak itu menyatukan bibir keduanya. Tak ada lumatan... hanya sekedar bibir yang saling menempel.
Terasa lugu... namun jauh lebih memikat dibandingkan kecupan apapun.
.
.
"Kau menciumku?" Tukas Chanyeol menahan senyum, usai anak itu menjauhkan wajahnya.
Baekhyun mengangguk cepat dan tersenyum manis. "Uhm! Seperti yang Ahjjusi lakukan pada bibir Baekhyun" Celotehnya seraya menggigit bibir bawahnya.
Chanyeol menunduk untuk tersenyum. Ah! Ia bukan remaja lagi... tapi mengapa semua terasa berbunga Baekhyun hanyalah seorang bocah ingusan.. tapi Ia benar-benar merasa sangat jatuh terpana pada anak itu.
"Bukan seperti itu caranya" Ujar Chanyeol seraya menyentuh dagu Baekhyun, sedikit menekannya hingga bibir tipis itu terbuka, lalu memberinya beberapa lumatan ringan.
"Mnh~.." Lenguh Baekhyun reflek, kedua matanyapun kembali mengerjap seiring dengan gerakan bibir tebal itu.
"Lakukan seperti itu..." Ujar Chanyeol setelahnya, seraya menyeka bibir basah Baekhyun.
Anak itu masih mengerjap, mengingat dengan baik bagaimana bibir tebal itu memainkan bibirnya, sejak dulu... Baekhyun sangat menyukai permainan bibir Ahjjusinya.. terlebih permainan lidahya.
Baekhyun mendadak mendekat, lalu melirik pria dewasa itu. "Mengapa tidak memasukkan lidah Ahjjussi?" Ujarnya polos. Namun terdengar liar untuk Pria di hadapannya.
Raja Silla itu mengalihkan pandangannya, sesekali menghirup dalam-dalam udara di sekitar untuk menjernihkan isi kepalanya. Ah Sial! tak taukan anak itu... Ia sedang menahan diri di sini.
"Setelah kau mahir melakukannya"Jawabnya seadanya, lalu beralih melepas lapisan pertama pakaiannya. Berniat mengenakannya untuk Baekhyun. udara malam ini rupanya sangat dingin. Anak itu mungkin akan menggigil setelah ini.
Tapi semua urung Ia lakukan, begitu Baekhyun menangkup wajahnya, menariknya mendekat ... lalu menekan dagu kokoh miliknya.
"Baek~mpfthh—"
Persis, seperti yang Ia ajarkan. Baekhyun mulai memainkan bibirnya. Tapi bukan lumatan seperti yang Ia lakukan.. melainkan hisapan kuat. seakan anak itu tengah menyesap manisan persik miliknya. Bahkan Ia sampai mengernyit ngilu.. Begitu Baekhyun tanpa sengaja menggigit bibirnya.
.
.
"Mpfuahh!" Pekik anak itu, usai 'mencium' bibir Chanyeol
Ia tersenyum lebar sambil mengerjap antusias. "Baekhyun lebih hebat dari Ahjjusi!" Akunya girang.
Sementara, Raja Silla itu masih mematung... dengan bibir menebal karena hisapan Baekhyun, bahkan terlihat lecet di bagian bawahnya.
Hingga beberapa saat setelahnya, Ia kembali dibuat berdebar ketika Baekhyun kembali mendekatkan wajahnya.
"Mau apa hn?" Ucapnya seraya menangkup pipi Baekhyun, hingga bibir mungil itu terpout lucu.
"Tentu saja bermain lidah dengan Ahjjusi" Jawabnya spontan. Membuat Penguasa Silla itu kembali menghela nafas frustasi.
"Dengar... Kau bukan anak kecil lagi" Chanyeol beralih mendekap tubuh mungil itu, menekan kepalanya hingga bersandar nyaman di dadanya. "Berhenti menggodaku seperti ini. Karena aku tak ingin menyentuhmu saat ini"
Baekhyun mengernyit tak suka, lalu mendongak ingin protes. "Lalu mengapa Ahjjusi tidak menyentuh—
"Demi kebaikanmu" Sergah Chanyeol.
Baekhyun kembali bersungut tak terima. Menduga, wajah pucatnya yang membuat Chanyeol bersikap demikian "Tapi Baekhyun tidak sakit! Ahjjussi bisa—
"Karena aku mencintaimu. Kau tau apa artinya itu hn?"
"..." Baekhyun kembali mengerjap. sesaat membuka bibir ingin menjawab, namun dengan cepat Chanyeol membekapnya, dan memaksanya agar tetap bersandar di dadanya.
"Tak perlu menjawab apapun, karena kau belum mengerti" Ujarnya seraya mengelus kepala Baekhyun. "Tidurlah... itu lebih baik untukmu" gumamnya lagi.
Bocah mungil itu berdengus tak suka, namun tetap memejamkan mata lelahnya. Karna sebenarnya denyut kepalanya masih menyisakan pening untuknya. Namun Baekhyun terlalu antusias dengan kehadiran Pria itu, hingga membuatnya mampu bertahan.
.
.
.
"Kau tak mendengarku?" Ujar Chanyeol sembari membelai kepala bocah yang kini berbaring di pangkuannya. Berulangkali memaksanya memejamkan mata, tapi nyatanya anak itu tetap memandanginya
"Bagaimana jika Ahjjusi pergi saat Baekhyun tidur"
Chanyeol tertawa pelan, terdengar hambar kala memandang mata redup itu. "Tidak, percayalah.."
Baekhyun mengangguk kecil, terlihat tersenyum lalu memejamkan mata.
Namun belum sempat 10 detik berselang, anak itu kembali membuka lebar kedua matanya.
"Kapan kita pulang?" Tanyanya tiba-tiba. Sontak, membuat Raja Silla itu mengernyit.
"Pulang?"
"Uhm! Je Ni... Halmeoni ... Sehun Ahjjussi. Kapan kita pulang? Lalu menaiki perahu di danau?" Ujarnya menggebu, seakan tak sabar ingin bertemu dengan Silla.
Chanyeol tertegun. Mungkinkah anak itu masih tak mengingat apapun... bahkan hingga keluarganya kembali mengambilnya. Baekhyun tak mengingatnya? Termasuk Yonghwa?
"Baekhyun.."
"Neh!" Jawab Baekhyun bersemangat.
"Kau tau siapa Ayahmu?" Tanyanya memastikan.
Detik itu pula, anak itu terbelalak lalu mendadak menggenggam erat tangannya seakan baru mengingat hal pelik.
"A—ahjjusi! ayah di sini! bagaimana jika Ayah membunuh Baekhyun?! Ayah melarang bertemu dengan Ahjjusi"
Chanyeol terhenyak mendengar racauan itu, Ya! Baekhyun memang mengingat siapa Ayahnya... tapi dalam pandangan yang lain. Seperti kalimat yang selalu Ia bisikkan untuk anak itu. Baekhyun hanya mengigat Ayahnya sebagai seorang pembunuh.
"Bawa Baekhyun dan Sooyoung pergi dari sini... Ahjjussi"
Raja Silla itu kembali terdiam kala Baekhyun menyebut nama Dayang itu. Ingatannya mungkin telah kembali akan sosok wanita itu.
Dan... bertahan di Goryeo, bukan tidak mungkin semua ingatan anak itu akan kembali pulih. semua tentang Negrinya.. kerajaan.. dan Ayahnya. Baekhyun akan mengingatnya.
Dan sungguh! Ia tak berharap... Yonghwa mengambil alih semua ingatannya
Bagaimana jika Baekhyun benar-benar berpaling darinya?
.
.
"Ahjjussi!"
Chanyeol tersentak, mendengar pekikkan itu, dan begitu menatap ke bawah Ia dibuat terkekeh pelan melihat anak itu memandangnya dengan tatapan menghunus.
"Kau tak akan meninggalkanku. Karena kau mengandung anakku" Ujarnya tiba—tiba, membuat bocah itu mengernyit tak mengerti dengan pembicaraan yang mendadak berganti topik itu.
Apa hubungannya membawa pergi dirinya dan Sooyoung dengan 'hamil' ?
"Berjanjilah tak akan berpaling dariku... kau mengandung darahku dalam perutmu" Kali ini Chanyeol menatap anak itu tajam. Menyentuh perut Baekhyun dan membelainya pelan.. hingga membuat Baekhyun meremang namun tetap mengangguk cepat.
"N-neh! Ahjjussi"
"Kau mencintaiku?"
"..." semakiin membuatnya tak mengerti. dan Baekhyun hanya menatap lekat sepasang obsidian di atasnya. Menerka, apa yang sebenarnya terjadi pada Ahjjusinya kali ini.
"Katakan kau mencintaiku... Baekhyun" Bisiknya penuh penekanan, sebelah tangannya meraba pipi Baekhyun, memastikan anak itu benar-benar menatap hanya padanya.
"Baekhyun mencintai Ahjjussi" Gumamnya sambil menggenggam tangan yang masih menangkup pipinya.
"Neomu... neomu... neomu... saranghae Ahjjussi"
Chanyeol tertunduk untuk tertawa, berharap ucapan anak itu... bukan sekedar ungkapan suka dari sesuatu yang di senanginya. Dan atas sesuatu yang selalu bersama dengannya.
karena Ia tak butuh berteman dengan perasaan sepihak.
Memiliki Baekhyun seutuhnya... hanya itu yang diinginkannya.
"Benar... tetaplah seperti ini" Bisiknya seraya mencium mesra kening Baekhyun. Membuat anak itu memejamkan mata nyaman karenanya "Tidurlah... lalu aku akan membawamu bersamaku"
.
.
.
.
"Nh! "
"Sshh.." Desisnya menenangkan, begitu sadar... Baekhyun terlihat terusik saat ia mencoba mengangkat tubuh mungilnya.
Dan begitu anak itu kembali pulas, Ia beralih melangkah keluar, menyusuri jalan setapak gua itu. Sejenak mengedarkan pandangan ke sekitar... memastikan tak ada satupun yang mengawasi gerak-geriknya. Lalu berjalan lebih cepat bahkan setengah berlari meninggalkan tempat itu. Persetan kemana perginya Sehun.
Ia hanya ingin membawa anak itu bersamanya.
Ya! Anak itu miliknya...dan ini adalah kesempatan besar untuknya merebutnya kembali.
.
.
.
Di seberang sungai itu, tampak dua ekor kuda hitam tengah merumput untuk menunggunya. Salah satunya memang milik Sehun. Tapi... entah kemana perginya pemuda itu. Ia hanya berharap, Sehun melakukan hal lain yang bisa mengelabui dayang bernama Sooyoung itu. Agar Ia bisa membawa lari Baekhyun tanpa penghalang apapun.
Sebelah tangannya mulai menarik pelana, sementara tangan yang lain terlihat menahan tubuh Baekhyun agar tetap bersandar di dadanya. Beruntung anak itu.. tertidur selelap ini hingga tak menyadari apa yang dilakukannya kini.
"Hyung..."
"A—apa yang ingin anda lakukan?"
Namun semua ambisi tertahan, begitu dayang itu muncul dan membentangkan kedua tangan di hadapan kudanya.
"Aku menghargai kebaikanmu. Tapi—
Chanyeol mulai menatap tajam kedua mata dayang itu. "Biarkan aku membawanya bersamaku" Tegasnya, mencoba melempar perhitungan tersirat dari sorot matanya.
"T-tidak ! anda akan menyesal jika melakukan ini!" Racau Sooyoung, semakin berjalan mendekati Raja Silla itu. "Kau mencintai anak itu bukan? kumohon pikirkan keluarga Baekhyun Hwangja, karena kamipun mencintainya. Kami keluarganya... kumohon jangan lakukan semua ini" Sooyoung bersimpuh, dengan kedua tangan terkatup. Berharap Pria itu tak memaksakan kehendaknya, ah Ya Tuhan... Ia membawanya kemari bukan dengan tujuan semacam ini. Apa yang akan dikatakannya pada Yonghwa kelak? jika Chanyeol tetap membawanya pergi.
Sementara pemuda tinggi yang sedari tadi memandang dalam diam itu,hanya menghela nafas pelan. Sooyoung hanya seorang diri... semestinya peluang ini bisa Ia gunakan, untuk membantu Chanyeol membawa pergi Baekhyun. Tapi melihat pengorbanan Dayang itu, menyisakan simpati yang lain dalam dirinya. Wanita itu menginginkan kebahagiaan pangeran kecilnya.
Sama halnya seperti dirinya, menjaga penuh kesetiaannya untuk Chanyeol.
Ia beralih berjalan mendekat. "Hyung.." Ujarnya seraya menyentuh kuda hitam perkasa itu
"Kita telah berusaha sejauh ini. Bahkan masih setengah jalan untuk membangun kembali negri itu"
Sooyoung mengerjap, mendengar penuturan pemuda itu. mungkinkah mereka yang tengah menata Goryeo saat ini? mendatangkan semua pekerja asing itu dengan semua persediaan makanan yang melimpah?
Mungkinkah Raja Silla itu yang melakukannya?
"Bertahanlah sedikit lagi. Kau cukup tau... apa yang akan terjadi jika tetap membawa anak itu dengan kondisi seperti ini" Lugasnya, berharap Penguasa Silla itu tetap bijak mengambil sikapnya dan tak menyulut penyesalan yang lain.
"A—aku!" Tiba-tiba Sooyoung bersujud. "Aku akan melakukan apapun, agar kau tetap bisa menemui Baekhyun! Dan aku akan berusaha mengambil hati Yang Mulia Yonghwa, untuk bisa menerimamu. Kumohon terima sumpahku ini! kembalikan Baekhyun pada kami"Mohon Sooyoung tak peduli seberapa rendah dirinya kali ini.
"A-aku tau kau, kau memiliki hati yang tulus" Sooyoung mengangkat wajah, dan menatap Chanyeol. "Yang Mulia" Lanjutnya kemudian.
Chanyeol terhenyak, baru kali ini Ia mendengar dayang Goryeo itu memanggilnya demikian. Seakan menganggapnya sebagai Penguasanya.
Sejenak Ia terdiam. Lalu mengamati wajah bocah dalam rengkuhannya... memang tersemat rasa sesal jika melepasnya malam ini. "Kupegang sumpahmu" Gumamnya kemudian, lalu mencium lama kening Baekhyun.
"Terima kasih Yang Mulia..." Sooyoung membungkuk penuh binar
"Biar aku mengantarnya kembali" Ujar Chanyeol seraya menarik penutup kepalanya, hingga jubah hitam itu benar-benar memyamarkan sosoknya.
"Tapi bagaimana jika salah satu dari kami melihat—
Ucapan Sooyoung terhenti begitu Sehun menahan pundaknya, dan mengangguk pelan. Memberi isyarat untuk membiarkan Chanyeol melakukan apapun saat ini. Karna Ia tau... Raja Silla itu penyusup yang hebat, bahkan lihai dalam menyamarkan dirinya.
.
.
.
.
Esoknya
Wanita itu tersenyum sesekali terkikik kala mengais surai hitam bocah yang masih terlelap pulas di ranjangnya. sebelah tangan Baekhyun terangkat di atas kepalanya, dengan bibir yang disesap-sesap kecil seakan terbuai dalam mimpinya. Ah! sangat menggemaskan
Dan Ia tak pernah menduga Pria itu benar-benar membawanya kemari. terlalu takjub siapapun tak menyadari sosoknya. Chanyeol benar-benar lihai menyusup ke dalam kediamannya.
"Pagi ini bangunlah dengan benar. Jangan merasa mual lagi... arrachi?" Bisik Sooyoung sambil merapikan pakaian Baekhyun yang sempat terbuka. Ia menutup bibir, tersipu... melihat bercak kemerahan di leher Baekhyun. "Aissh... pria itu benar-benar gila" Gumamnya, lalu menutup kerah Baekhyun. Menyembunyikan bekas ciuman Raja Silla itu, sebelum Yonghwa melihatnya.
Namun tiba-tiba Baekhyun menggeliat. Membuatnya antusias menunggu anak itu benar-benar membuka kedua matanya.
"Nnh.. –jjussi"
Dan benar saja, Baekhyun membuka kedua mata kecilnya. Sooyoung semakin bersemangat menarik anak itu untuk terduduk, lalu menumpukan bantal yang lain untuk menyangga punggungnya.
Tapi Sooyoung tak pernah tau... Baekhyun kecil itu, tengah memandang visual lain dalam benaknya.
"Cha... apa yang kau inginkan pagi ini, Hwangjjanim?" Ujarnya seraya bersidekap, menumpukan lengannya di ranjang Baekhyun.
"..." Baekhyun masih terdiam, tapi terlihat nanar saat memandang ke sekitar.
Membuat Dayang itu mengernyit panik, menyadari sesuatu yang salah. "Baekhyun?" panggilnya seraya menangkup pipi anak itu.
"Katakan sesuatu, jangan diam seperti ini" Panik Sooyoung seraya menelisik tubuh Baekhyun, memastikan anak itu tak merasakan sakit apapun. Atau mungkinkah, Baekhyun tengah mencari Chanyeol?
Hingga tiba-tiba saja, seorag pria melangkah masuk diikuti Kyuhyun di belakangnya.
"Kau bangun nak?" Ujarnya pelan.
Membuat dayang itu melepaskan tangannya, dan membiarkan Baekhyun melihat Ayahnya. Dan Ia tak berharap, Baekhyun kembali ketakutan saat melihat Yonghwa.
"Ada apa hm? mengapa wajahmu seperti ini?" Gumam Yonghwa lagi, kali ini dengan menyentuh pipi Baekhyun, merasa anak itu hampir menangis di hadapannya.
Tapi Ia mendadak terkejut, begitu Baekhyun memegangi kepalanya... lalu terisak hebat.
"Nghh! Hks.."
"Y-yya.. ada apa dengan putraku? Mengapa Baekhyun kesakitan seperti ini?" Racau Yonghwa panik, seraya memandang bingung pada beberapa sosok di sekitarnya, berusaha menuntut jawab.
"Panggil tabib! cepat—
"A-ayah.." Baekhyun yang masih terisak dalam rengkuhannya itu mulai memanggilnya. Tak pelak membuat Raja Goryeo itu tercekat hebat.
"Mengapa kita di sini? Dimana Istana Ayah?"
DEG
Tak satupun sanggup membuka suara, terlalu dibuat terkejut dengan penuturan anak itu. Terlebih untuk Yonghwa, kenyataan Ia harus menerima Baekhyun yang lupa akan sosoknya kini seakan tertepis. Dan ia berharap ini bukan sekedar mimpi
"Kau mengingat Ayah... Nak?"
Baekhyun yang masih mengernyit pening itu hanya memandang pias Ayahnya. Apa yang terjadi? Tentu saja Baekhyun mengingatnya, Ia selalu bermanja-manja dengan Ayahnya. Tapi mengapa Pria itu berkata demikian?
Tunggu—
Baekhyun terbelalak. Kembali mengedarkan pandangan ke sekitar demi mencari seseorang.
Semua kian membuatnya pening, hingga air mata itu kembali mengalir dari pelupuknya.
Baekhyun tak mengerti...
Semakin ia mengedarkan pandangan ke sekitar, semakin sakit pula denyut hebat itu dalam kepalanya.
Mengapa ia merasa ada sebagian waktu yang hilang darinya? Dan Ia tak bisa menyatukan semua ingatan yang mulai berbaur itu
Ayahnya... Sooyoung... Kyuhyun... Kyungsoo...
kemana Ibunya? Lalu di mana Chanyeol? Di mana Ahjjusinya saat ini?
"A—AAAHH!" Baekhyun menjerit, kedua tangannya pun semakin meremas kuat kepalanya. Baekhyun menangis hebat. Bahkan tak bisa mendengar racauan beberapa orang yang berusaha menyadarkannya.
Semua terlalu menyakitkan, hingga Ia hanya bisa tersengal... lalu melunglai lemas dengan kedua mata terpejam.
"BAEKHYUN!"
.
.
.
.
"Apa yang terjadi?" Pandangannya meredup, tak sampai hati memandang Baekhyun yang kembali seringkih itu saat bersamanya.
"Sepertinya, ingatan Baekhyun Hwangjja. Mulai kembali Yang Mulia" Ujar Kyuhyun, berusaha menenangkan Penguasanya yang terlihat resah, bahkan mungkin putus asa.
"Dia putraku Kyuhyun~ah... tak satupun bisa menyakitinya. Dia satu-satunya harapanku"
Kyuhyun mengangguk, memahami nurani Pria itu sebagai seorang Ayah.
.
.
delapan jam terlampaui.
Baekhyun yang semula jatuh pingsan itu, kini tak lagi berbaring di ranjangnya. Anak itu tengah berdiiri dengan tangan terkepal, memandang dengan tatapan yang siapapun tak bisa mengartikannya.
"Dia menghancurkan Goryeo... Baekhyun"
"TIDAK! AHJJUSI TIDAK PERNAH MELAKUKANNYA!" Jeritnya, semakin menyudutkan dirinya di ujung dinding.
"Lihat...Lihat kaki Ayah" Yonghwa kembali menekankan semuanya. "Pria itu menyakiti Ayah, hingga lumpuh seperti ini"
Baekhyun merosot terduduk, Mengapa Ayahnya membenci Chanyeol? Baekhyun yakin.. Pria itu tak pernah melakukan semua itu. Chanyeol sosok yang baik untuknya, mustahil menyakiti Ayahnya seperti itu.
"Bahkan ibumupun meninggal, karna tak bisa bertahan di tempat ini"
Anak itu semakin hebat menangis, meraung dengan tubuh meringkuk mendapati kenyataan dirinya rupanya telah kehilangan sosok Seohyun.
Tapi sekali lagi... Chanyeol tak mungkin melakukan semua itu.
"Pria itu membawamu pergi dari Ayah. Membuatmu melupakan semuanya... bahkan menghancurkanmu seperti ini" Tegas Yonghwa seraya menatap perut Baekhyun.
"ANDWAEE! AHJJUSSI TIDAK MENGHANCURKAN BAEKHYUN!"
"Janin dalam kandunganmu itu! Pria itu telah menghancurkanmu Nak! Kau tak seharusnya mengandung seperti ini" Yonghwa mendekat, dan merengkuh tubuh yang masih tersengal akibat isakkannya. Ia tau.. apa yang dilakukannya terlalu berlebih menekan anak itu. Tapi... Baekhyun memang harus tau kenyataan yang selama ini terbekap darinya.
"Hks... Ahjjussiiiii"
"Jangan pernah memanggilnya, orang itu tak pernah ada untukmu"
"Ahjjussiiii!"
"Baekhyun Ayah mohon. Ayah akan benar-benar mati jika kau lebih memilih Pria itu"
Baekhyun terbalalak, memandang sesak kedua mata Yonghwa yang terlihat retak karena air mata. Baekhyun tak menginginkan ini, melihat Ayahnya menangis dan memohon padanya seperti ini.
"T-tidak Ayah!" Lirihnya seraya mengusap air mata Yonghwa.
"Hanya kau satu-satunya milikku. Jangan meninggalkanku hanya untuk Pria itu Baekhyun... Ayah mohon" Ia tergugu, semakin tak bisa menahan luka batin itu lebih lagi... jika sampai melihat Baekhyun tetap mengharap Chanyeol.
"Jangan menangis Ayah...Baekhyun tak ingin melihat Ayah menangis" Isak anak itu, seraya memeluk Leher Yonghwa.
"Kau mendengar Ayah?"
"Uhm... Baekhyun sayang Ayah"
"Ayah juga menyayangimu... Putraku"
.
.
.
.
.
"Makanlah sedikit saja" Suara Sooyung terdengar mengiba, membujuk namja kecil yang sedari tadi memandang kosong keluar jendelanya.
Lalu... Ia tersenyum penuh syukur. Melihat Baekhyun membuka bibir kecilnya dan melahap sedikit makanan itu.
"Yah seperti ini. Kau harus tetap makan agar—
"Benarkah Ahjjusi melakukannya? Ahjjusi menghancurkan Goryeo?"
Sooyoung tercekat. Memandang kebas pada raut bocah itu. Dan jikapun Baekhyun bertanya demikian, sungguh! Ia tak akan sanggup menjawabnya. Sooyoung memilih tersenyum lalu mengambil suapan yang lain.
"Benarkah Baekhyun melupakan semuanya karena Ahjjusi?"
Tapi lagi-lagi, suara Baekhyun kembali menggetarkan nuraninya. Ia tau.. anak itu mencoba melugaskan semuanya di sini.
"Hm? Tidak... buktinya kau kembali bersama kami" Ujar Sooyoung mencoba menenangkan.
"..." dan Baekhyun hanya diam, lalu menyudahi suapan Sooyoung.
"Yya... kau belum menghabiskannya, lihat—
"Jika Ayah dan Sooyoung tinggal di sini. jadi benar... Ahjjusi menghancurkan istana Ayah? Ahhjjussi menghancurkan Goryeo?"
Sooyoung semakin panik, mendengar anak itu tetap mengungkit semua itu. Oh sungguh! Ia tak berharap ini akan melukai hati Baekhyun.
"Ah! sepertinya daun Ginko akan berguguran hari ini. Apa kau ingin melihat—
"WAEE?!" Teriak Baekhyun seraya menyentak makanan di tangan Sooyoung."BAEKHYUN BENCI AHJJUSSII!"
"B-baekhyun?"
.
.
.
Silla
"Chanyeol~ah?"
Heechul terlihat tergesa menghampiri Putranya yang baru saja kembali.
"B-benarkan Baekhyun kembali pada Goryeo? Negri yang telah hancur itu?" Ujarnya seraya memegang kedua tangan Chanyeol. Berharap apa yang didengarnya hanya bualan semata.
Pria itu hanya menghela nafas berat, dan berusah melepas genggaman tangan Ibunya.
"Aku lelah Ibu.."
"A—andwae! Baekhyun tidak bisa di sana! Dia mengandung anakmu! Baekhyun milik Silla! Kita harus membawanya kembali Chanyeol!" Cerca Heechul, tak bisa terima.
Chanyeol terkekeh hambar. "Ibu baru mengharapkannya?"
Wanita itu terbelalak. "T-tidak, Ibu selalu mengharapkannya. Ibu menyayangi Baekhyun. Anak itu seperti—
"Lalu mengapa Ibu mengusirnya saat itu?"
"..." Heechul terdiam. Menunduk penuh sesak atas penyesalannya.
"Jika Ibu tak memintaku untuk mengasingkannya. Semua ini tak akan terjadi" Lugasnya, lalu kembali melangkah meninggalkan Ibunya . Dan Heechul hanya menutup bibir, tergugu atas keputusannya sendiri.
Tapi setelahnya Ia kembali mengejar Chanyeol, dan menahan tangan pria itu.
"Kerahkan semua pasukan? kita bisa mengambilnya dengan mudahnya. Goryeo tak memiliki pertahanan apapun lagi bukan?" Bujuknya mencoba peluang.
Penguasa Silla itu kembali menghela nafas, dan memijit pelipisnya pening.
"Ibu.." Panggilnya seraya memutar tubuh untuk menatap Heechul.
"Ibu tak mengerti apapun di sini. Berhenti membujukku melakukan kesalahan yang lain"
"Tapi... Baekhyun—
"Aku yang akan membawanya kembali dengan caraku sendiri. Lebih baik Ibu mencari Seulgi... dan buat wanita itu menyesali perbuatannya"
"..."
.
.
.
.
Malam semakin berangsur pekat, dibalik tirai bertemankan temaram lilin itu. Seorang pria tengah memandang hampa kamar miliknya.
Ia terbiasa bermalam di sini, mendengar deru nafasnya yang berat saat memeluk Baekhyun bahkan saat pertama kali menyetubuhi bocah mungil itu di kamar ini.
Tapi kini.,.. kamar itu terlihat lebih luas dari biasanya, tanpa celoteh dan jeritan menyebalkan anak itu, dan tanpa ruangan yang kacau saat Baekhyun membuatnya untuk berlarian ke sana kemari.
"Aku semakin merindukanmu" Desahnya berat seraya membaringkan dirinya di ranjang berukuran king itu. Masih lekat ia rasakan... bagaiamana lembutnya aroma tubuh Baekhyun. Lebih ranum dari semerbak bunga soba di musim semi.
Kedua obsidian tegasnya mulai terpejam. Tapi Ia tak beranjak untuk terlelap... melainkan, mengais visual sosok mungil itu dalam benaknya.
Tersenyum... saat mengingat tawa kecilnya, dan bagaimana anak itu selalu merengek manja padanya.
Lalu menggigit bibir... kala mengingat Baekhyun mendesah dan memekik penuh peluh, saat Ia mencumbu anak itu dengan hasratnya.
Hingga tanpa tersadar, Ia mendesis nikmat... saat tangannya mengeluarkan genitalnya sendiri. Memijitnya perlahan... seolah Baekhyun tengah memainkannya dengan kedua tangan mungilnya.
"Sshh..." Chanyeol beralih mengocoknya, mengurutnya intens ... semakin liar begitu membayangkan Ia tengah menghujamkan penis besar itu ke dalam tubuh Baekhyun.
.
.
"Ah~.. benar seperti itu sayangh" Lenguhnya sendiri. Tak berteman dengan apapun selain pikiran liarnya akan Baekhyun yang kini tengah menaiki tubuhnya, dan berusaha membuat penis besarnya keluar masuk menusuk rektum kecil itu.
"Baekh—" Ia semakin mempercepat gerakan tangannya, hingga percum bening itu mulai menyeruak keluar, dan mengalir di sela-sela jemarinya.
('Ahjjusiii!')
"AHH!"Chanyeol menyentak tubuh, begitu klimaks itu serasa meletup. Membuat sperma pekat menciprat dan mengotori perutnya sendiri. Ia terengah...takjub, panggilan Baekhyun mampu merangsang sedemikian hebatnya.
Sesaat setelahnya Ia tertawa hambar, seraya menutup matanya sendiri. Menyadari seberapa menyedihkan dirinya kali ini.
"Kembalilah padaku..."
.
.
.
.
Esoknya
Goryeo
"Kau membawa ramuan itu?"
"Ah ye.. Yang Mulia" Ujar tabib itu seraya menuangkan cairan kedalam sebuah cangkir giok. "Tapi apa anda yakin akan melakukan semua ini?" Lanjutnya lagi.
Yonghwa terdiam, memandang lekat pada ramuan hitam pekat di tangan tabib itu.
"Jika untuk kebaikan Putraku. Apapun akan kulakukan" Jawabnya kemudian.
"Tapi Yang Mulia—
"Janin itu hanya membawa penderitaan untuk Putraku. Lebih baik melenyapkannya" Yonghwa beralih melangakah tertatih keluar dari ruangan itu. Memaksa tabib itu mengikutinya dan membawa ramuan itu menuju kamar Baekhyun.
Sementara tabib itu hanya meneguk ludah was-was. Pangeran Baekhyun mungkin akan mengalami pendarahan yang hebat... setelah meminum ramuan ini. Seharusnya Yonghwa tau akan hal ini... tapi mengapa ia tetap memaksanya?
"Yang Mulia, bukankah ada baiknya jika kita menunggu kondisi Baekhyun Hwangjja—
"Tak ada waktu selama itu. Keparat itu bisa saja kembali dan menjadikan janin itu sebagai alasannya. Cepatlah masuk... biarkan Putraku meminumnya" Titahnya, dan tabib itu hanya mengangguk tak ingin mengelak.
.
.
.
"Angkat punggungmu seperti ini" Ujar Sooyoung seraya meletakan sebuah bantal kecil di bawah perut Baekhyun. "Ini lebih terasa nyaman bukan?"
Baekhyun tersenyum lalu menganggukkan kepala kecil. Membuat Sooyoung menghela nafas lega, menyadari Baekhyun tak lagi terlihat kacau dengan ingatan dan keyakinannya sendiri. Setidaknya mengungkit bayi yang tengah dikandungnya, mampu meredam emosi anak itu. Lebih lagi...beruntung anak itu tak membenci janinnya.
"ingat... Jangan berbicara yang tidak-tidak tentang Ayahnya. Bayi ini bisa menangis jika mendengarnya" Bisik Sooyoung.
"Uhm!" Gumam Baekhyun patuh, terlihat polos saat anak itu benar-benar mempercayainya.
"Lusa.. aku akan memberi pesan untuknya, agar kau bisa bertemu dengan Raja Chan—
"Aku tak ingin bertemu dengan Ahjjusi"
"W—waeyoo?"
"..."
Baekhyun hanya memalingkan wajah, penu amarah meski nyatanya anak itu terlihat terpaksa
Sooyoung tersenyum. Lalu mengelus pipi Baekhyun. "Jangan seperti ini. Kau tak harus bersikap sekeras ini, karna Yang Mulia Yonghwa membencinya"
"Tapi Ahjjusi membuat Ayah dan Sooyoung tinggal di tempat ini!"
"Mungkin Dia tak memiliki arah saat itu. Hingga tanpa sengaja menghancurkan apa yang seharusnya dijaganya. Tapi... itu dulu, lihatlah sekarang... Dia berusaha membangunnya kembali" Ucap Sooyoung berusaha membujuk Baekhyun, karna bagaimanapun anak itu tengah mengandung janin Chanyeol. Akan sangat pelik jika sampai Baekhyun beralih membenci ayah dari bayinya.
"..." Baekhyun hanya diam, tetap kekeuh memasang wajah marah itu. meski nyatanya sorot mata itu tak bisa menipu. Baekhyun memang merindukan Pria itu.
.
Semula Sooyoung memang menyayangkan, Pria itu yang mengetahui rahasia Baekhyun bahkan hingga menyetubuhinya.
tapi... semakin Ia mengenalnya.
Semakin yakin, Chanyeol... bukanlah Pria yang selama ini dikenal picik bahkan bengis.
"Dia benar-benar mencintaimu" Bisiknya lirih, hanya terdengar olehnya.
"Cha! kemarikan kakimu... biar aku memijatnya"
.
.
.
"Sooyoung~ah" Panggil Baekhyun tiba-tiba
"Neeee?" Sahut wanita itu masih dengan memijat pelan kaki Baekhyun.
"Bagaimana rasanya jika bayi ini membesar di dalam sini?" Celoteh Baekhyun seraya menepuk-nepuk perut kecilnya.
'Blush'
Sooyoung nyaris tersedak karena terkejut, lalu memandang Baekhyun dengan wajah memerah. Ia belum menikah, tak pernah melakukan hal intim dengan pria manapun, yang bisa membuatnya hamil... lebih-lebih merasakan bayi dalam perut membesar. Ah Sungguh! mengapa Baekhyun bertanya hal semacam itu. Tentu saja Ia tak tau..
"Umm... m-mungkin menyenangkan ahahaha... " Jawabnya kikuk.
"Apa itu akan terasa sakit?" Tanyanya lagi.
"Ah? haha...M-mungkin tidak" Sooyoung semakin kewalahan mencari alasan.
"Darimana bayi itu akan keluar?"
BLUSHH
Habis sudah, Baekhyun membuatnya mematung dengan keringat dingin. Pemikirannya tak sampai pada hal itu. dan Baekhyun yang polos tanpa sengaja memaksanya membayangkan semuanya. Anak itu seorang namja... mustahil melahirkan layaknya Yeojja, Baekhyun hanya memiliki satu lubang... jadi mungkinkah—
"AHAHAHA! Baekhyun Hwangjja... jangan bicara lagi. Jika tak ingin pengasuhmu ini gila"
Baekhyun mengerjap, mengapa wanita itu mendadak tertawa mengerikan seperti itu. Sooyong benar-benar aneh. Mungkin akan lebih baik, jika Sooyoung bertemu dengan Je Ni.
"Sooyoung... aku ingin kau mengenal Je Ni"
"Je—Ni? Apa itu? apa sebuah nama orang?"
"Tentu saja! Je—
"Bawa ramuan itu masuk"
tapi keduanya mendadak diam, begitu Yonghwa datang dengan seorang tabib di belakangnya.
"Ayah... mengapa memanggil tabib kemari?" Ujar Baekhyun kemudian, memandang tak suka pada tabib itu. Oh ayolah, Baekhyun benar-benar membenci semua tabib dan aroma herbal yang dibawanya.
Yonghwa tersenyum lembut, lalu berjalan perlahan dengan penopangnya untuk mendekati Putra kecilnya. Sementara Sooyoung terlihat mendelik curiga pada ramuan hitam yang dibawa tabib itu.
"Tabib Shin, membawa obat untukmu... setelah kau meminumnya, kau akan merasa lebih baik Nak" Ujar Yonghwa semari mengelus kepala Baekhyun, lalu mempersilakan tabib itu untuk mendekat membawa ramuannya.
Dari gerak-gerik Pak Tua itu, Sooyoung tau... tabib Shin terlihat gugup. Mungkinkah ramuan yang dibawanya itu—
"T-tidak.." Liriih Sooyoung.
.
.
"Ayah! Mengapa warnanya hitam? Baaekhyun tidak suka!" Kekeuh anak itu, berusaha mendorong menjauh cangkirnya.
"Karena ini obat, tentu saja seperti ini... cha lekas minumlah. Setelah ini kau bisa bermain-main di luar" Bujuk Yonghwa, lalu kembali membimbing Baekhyun meneguk ramuan itu.
"Tapi Ayah! Ahjjussi tak pernah memaksa Baekhyun , jika—
Anak itu terdiam, ia tau dirinya telah lepas bicara.. memanggil Pria itu di hadapan Ayahnya. Dan begitu menatap ke atas, Baekhyun lekas memeluk leher Yonghwa. Lalu terisak lirih... berharap Ayahya tak menunjukkan raut sedihnya.
"Baekhyun tidak menyakiti Ayah. Baekhyun tak akan mengulanginya lagi"
SLAP
PRANKK
Namun tiba-tiba Sooyoung berjalan oleng, dan menyentak cangkir giok itu... hingga terlempar dan terbuang begitu saja.
"A-ahh Jjeossonghamnida, hamba tak sengaja Uhukk! K-karena batuk ughh!" Sooyoung berpura, terbatuk hebat di hadapan Yonghwa, lalu melirik Baekhyun yang masih menatapnya aneh.
Penguasa Goryeo itu, sempat ingin menyentak murka... tapi Ia bisa memakluminya, dan beralih memberi titah pada tabib itu untuk menuang sisa ramuan itu.
"Tuangkan lagi..."
"Ah... Y-ye Yang Mulia.."
Wanita itu terbelalak lebar, rupanya tabib itu masih menyimpan ramuan yang lain. Ah! Ia tak bisa membiarkan Yonghwa menggugurkan janin itu. Ia kembali terbatuk, seraya memegangi kepalanya..
"A-ah! Kepalaku sakit! Bagaimana ini? O-ommoo!" Sooyoung kembali berjalan terhuyung-huyung, sedikit menghentak kaki... hingga menabrak pak Tua itu. Dan—
PRANKK
Biang ramuan itu benar-benar jatuh, tak menyisakan apapun. Selain raut Yonghwa yang berangsur geram melihat sikapnya.
"SOOYOUNG! APA YANG SEBENARNYA KAU PIKIRKAN?!"
"J-jeosoonghamnida Yang Muliaaa... hamba pu—sing! Ah! Kumbang hitam berputar—putar" Wanita itu bersimpuh lalu bersujud-sujud di kaki Yonghwa.
Tabib itu hanya melirik geli, ia tau.. Sooyoung memang sengaja melakukannya.
"Tabib Shin, bawa ramuan itu lagi untuk—
"Maafkan hamba Yang Mulia, Kami tak memiliki persedian bahan ramuan itu. Membutuhkan waktu dua hari untuk memperoleh dan meraciknya kembali"
Penguasa Goryeo itu hanya menghela nafas berat, tak bisa berbuat apapun jika semua sudah terlanjur seperti ini.
"Baiklah... kembalilah dua hari lagi dengan ramuan itu"
"Baik Yang Mulia..."Sahut Tabib itu, sebelum akhirnya memohon diri.
"Dan Kau Sooyoung" Yonghwa melirik wanita yang masih bersujud memalukan itu. "Obati sakitmu itu, dan jangan melakukan kesalahan yang sama lagi"
"Ah yeeee Yang Muliaaaa"
.
.
.
Sooyoung lekas bangkit, begitu Yonghwa benar-benar beranjak pergi. ia beralih mendekati Baekhyun lalu menangkup wajahnya.
"Dengar.." Tegasnya. "Jangan pernah meminum ramuan hitam dari tabib itu" Lanjutnya lagi seraya menatap lekat dua mata coklat Baekhyun.
"Waeyo?"
"Ramuan itu akan membuat perutmu sakit!"
"Tapi itu obat... Ayah ingin Baek—
"Itu akan menyakiti bayimu. Apa kau ingin kehilangan bayi ini?"
Baekhyun terbelalak, dan menggeleng kasar. "Ti—tidak! Ini bayi milik Baekhyun dan Ahjjuss—
Baekhyun menghentikan ucapannya, merasa ragu untuk memanggil pria itu. Sementara Chanyeol telah meninggalkan luka pada Negrinya.
"Benar! Ini bayimu dan Raja Chanyeol! Jadi jangan pernah meminumnya... arrasseo?"
"Uhm.."
.
.
.
Silla
"Hyung..."
Seorang pria muda, perlahan mendekatinya... membuat Chanyeol yang kala itu tengah bercengkerama dengan petinggi dan para menteri memilih menyela waktunya sendiri, untuk berbicara dengannya. karena Chanyeol tau pasti... Sehun membawa berita penting untuknya.
"Bisakah kau bicara denganku di tempat yang lain?"
Chanyeol melirik kesekitar, lalu setelahnya mengangguk...dan melimpahka kehadirannya pada petinggi kerajaan yang lain.
.
.
"Apa yang ingin kau katakan?" Chanyeol menatap tajam pemuda itu, mendelisik curiga pada raut tak tenang dan terengah itu. Mungkinkah Sehun dari suatu tempat? Dan begitu tergesa saat kembali?
"Dayang Sooyoung memberiku pesan ini, untukmu"
Chanyeol terlihat tersenyum melihat gulungan kain kecil itu, Ia tau pasti isinya...
Pastilah, isyarat lain untuk dirinya bisa bertemu dengan namja kecilnya.
.
.
tapi begitu membukanya, raut Penguasa Silla itu mendadak tegang... bahkan berangsur penuh murka.
' Aku...menggagalkan Yang Mulia Yonghwa menggugurkan janin itu. Lakukan sesuatu... Karena dua hari kedepan tabib kami akan kembali membawa ramuan itu. Mereka ingin kembali menggugurkannya'
"Apa isinya Hyung?"
Chanyeol meremas kuat kain kecil itu. "Dua hari setelah pesan ini di tulis. Berati lusa"
Sehun mengernyit tak mengerti. Hingga tiba-tiba saja Chanyeol berlari, membuatnya turut berlari mengejar Raja Silla itu.
"Hyung?"
"Aku akan menemui Yonghwa... siapkan pasukan pengawal untukku"
"Apa?"
Chanyeol tak berucap apapun, selain menarik pelana kudanya lalu memacu kuda hitam itu, hingga berlari cepat meninggalkan Silla.
Sehun berdecak keras, apalagi yang ingin dilakukan raja itu sekarang. Hingga sebuah kain kusut yang menyita perhatiannya, Chanyeol pasti tanpa sengaja menjatuhkannya... membujuknya untuk membuka kain itu dan membaca isinya.
Sontak... kedua mata itu terbelalak lebar, begitu sadar apa yang membuat Chanyeol mendadak sekalut itu.
.
.
.
.
Esoknya...
"Apa yang kau lihat?" Seorang bocah mungil terlihat merangkak mendekati Baekhyun, lalu mengikuti arah pandang Baekhyun menatap awan yang berarak di atas sana.
"Kau senang tinggal di sini Kyungsoo?" Gumam Baekhyun tiba-tiba.
"Mwo? Tentu saja tidak! Aku ingin istana Goryeo kembali!"
Baekhyun diam tertunduk, ya... ia mengingatnya. Bagaimana Negri Goryeonya kala itu... penuh dengan semerbak bunga. Dan lalu lalang penduduk ramah di dalamnya.
"Ugh! Jika saja Raja mengerikan itu tak membuat perang. Pasti kita masih bisa bermain dan berburu di Goryeo yang indah" Sungut Kyungsoo sambil bersidekap.
"Raja mengerikan? Perang?" Baekhyun mulai menatap lekat sepupunya.
Membuat Kyungsoo melirik bocah manis itu, jangan katakan Baekhyun tak tau akan hal ini.
"Kau ingat hari di mana kita ketakutan melarikan diri saat perang itu terjadi?"
Kedua mata coklat itu menatap tak tentu, tapi setelahnya mengangguk cepat. Baekhyun mengingatnya... Ia dan Kyungsoo menangis dan berlari tak tentu arah, saat semua prajurit itu saling mengadu pedang hingga semua darah menggenang dimana-mana.. ya! Baekhyun mengingatnya.
"N-ne.."
"Raja mengerikan itu yang telah memnbunuh semua prajurit kita. dan menajdikan Goryeo seperti ini" tekan Kyungsoo dengan tangan terkepal.
"Raja mengerikan—
"Raja Silla yang telah menculikmu! Memisahkanmu dari kami bertahun-tahun lamanya! Park Chanyeol!"
Baekhyun tergagap... Tak ingin mendengar semua itu, meski nyatanya Ia tetap mendengarya dengan baik, membiarkan semua ingatan penuh cekam itu tergambar dari sosok yang selama ini dirindukannya bahkan dicintainya.
"Yya! Gwaenchana?" Ujar Kyungsoo panik, begitu melihat Baekhyun tiba-tiba merunduk sambil memegangi leher dan dadanya.
"Ngh...hhh"
"Baekhyun! Ada apa?! Kau tak bisa bernafas?! YACK! Katakan sesuatu!" Racaunya, semakin panik melihat sepupunya tersengal hebat.
"A—aghh!"
"SOOYOUNG! AHJJUSSSIIIII!" Teriak Kyungsoo, sambil membawa kepala Baekhyun agar bersandar di pangkuannya.
"Ada ap—ASTAGA! BAEKHYUN!" Jerit Sooyoung, lalu berlari kalut merengkuh bocah yang masih tersengal dengan wajah memucat itu.
"Apa yang terjadi Eohhh?"
"Aku tak tau, tiba-tiba Baekhyun menjadi seperti ini"
"Panggil Yang Mulia dan Tuan Kyuhyun! CEPAT!"
Bocah mungil itu melompat, dari jendela... mengambil jalan lebih cepat untuk menemukan dua pria dewasa itu.
.
.
"Baekhyun apa yang terjadi? Bernafaslah dengan perlahan" Bisik Sooyoung seraya menggengam tangan mungil yang dingin itu.
Baekhyun menggeleng lemah, berusaha mengais nafas... namun terlihat gagal dan hanya tersengal sesak.
"Ngh...hhh...hks"
"Buka bibirmu! jangan menahannya seperti ini!" Pekik Sooyoung kalut, Tak mengerti bagaimana mungkin anak itu menegang...dengan gigi terkatup kuat seperti ini. mungkinkah sesuatu kembali mengejutkannya?
BRAKKK
Tiba-tiba, seseorang mendobrak pintu kamarnya. Sooyoung nyaris memekik agar sosok yang Ia yakin Kyuhyun atau Yonghwa itu lekas beranjak cepat untuk memanggil tabib.
"TUAN KYUHYUN! CEPAT—
Namun teriakan itu seolah tertelan, begitu melihat seorang pria memaksa mengambil alih tubuh Baekhyun darinya.
Bukan Kyuhyun, bukan pula Yonghwa... tapi—
"Y-yang Mulia... Chanyeol?" Gagapnya terkejut, darimana datangnya Pria itu? mengapa Dia memberanikan dirinya memasuki tempat ini, bagaimana jika Yonghwa tau akan dirinya?
Chanyeol hanya melirik wanita itu, lalu setelahnya melihat kebawah... tepat pada seorang anak yang masih tersengal akibat sesaknya.
Chanyeol berusaha menekan dagu anak itu, memaksa bibir pucat itu untuk terbuka. tapi semua, terlihat semakin parah... begitu Baekhyun sama sekali tak mengihirup udara apapun, seakan-akan anak itu memang lupa dengan cara bernafas.
Ia beralih menyatukan bibir keduanya, membekap penuh bibir mungil yang terbuka itu... lalu meniupkan sebagaian nafas hangatnya.
Sontak...apa yang dilakukannya membuat Sooyoung terperanjat hebat. Lalu berlari terbirit-birit untuk menutup jendela dan pintu, agar siapapun tak melihat keduanya.
"Ughmfth!" Baekhyun terlihat tersedak, namun sama sekali tak menghentikan Chanyeol untuk tetap menghembuskan nafasnya... Hingga semua udara itu benar-benar mengisi paru anak itu.
"Ghmph! mfhhhh"
"Bernafaslah dengan perlahan.." Bisik Chanyeol di sela-sela pagutannya, sejenak menunggu Baekhyun terbiasa lalu kembali meniupkan nafas buatan itu.
Pelan namun pasti... anak itu mulai menenang di bawah rengkuhannya. Membuatnya lekas melepas bibirnya, lalu tersenyum melihat wajah sayu Baekhyun.
"Ahjjus—ssii" Lirih Baekhyun lemas.
Chanyeol tersenyum, seraya menyeka air mata anak itu. "Apa yang pikirkan hn?" Gumamnya... sepenuhnya tau, sesuatu tengah mengusik namja kecilnya hingga berakhir seperti ini.
Namun—
"Lepaskan Putraku!"
Chanyeol tersentak, begitu sesuatu yang dingin menyentuh lehernya... sesaat melirik ke samping, Ia tau... pedang Yonghwa memang telah bertengger di pangkal lehernya.
Ia mengulas seringai, lalu terkekeh pelan. "Tenanglah.." Ujarnya sambil berusaha mengalihkan pedang Yonghwa, tapi pria itu menolak bahkan semakin menekan pedangnya, hingga Chanyeol bangkit dari Putranya.
"Beraninya kau kemari ... Kepart!"
Raja Silla itu menatap langit-langit ruangan itu, lalu menghela nafas berat. "Aku hanya ingin melihatnya"
"Untuk nafsu bejatmu?!"
"Yonghwa kumohon..." Chanyeol beralih menatap Yonghwa, tak peduli pedang itu semakin menggores lehernya... hingga darah perlahan mengalir darinya.
"Aku mencintai Putramu" Pungkasnya, berharap pengakuannya kali ini...sedikit meluruhkan Pria itu. "Dan Baekhyun tengah mengandung anakku"
Yonghwa sempat terperanjat mendengar Pengakuan Raja yang terkenal Angkuh itu, lalu berdecih pelan. "Mengandung anakmu?" Yonghwa beralih menurunkan pedangnya, dan memandang Chanyeol picik.
"Apa kau pikir, seseorang yang telah kau hancurkan ini. Akan menyerahkan Putranya untuk manusia sepertimu?!"
Seakan kembali diseret dalam masa lalu itu. Chanyeol sepenuhnya menyesali... perbuatannya kala itu. Ketamakan dan keangkuhannya yang telah menutup hati dan matanya. hingga menjadikannya pribadi yang bengis.
Tapi... ia menemukan cinta itu.
Di antara puing dan semua daun layu yang berguguran... Ia menemukan cintanya.
ia tak pernah mengharapkan sesuatu segila ini sebelumnya. Baekhyun benar-benar membuatnya putus asa.
"Apa yang kau inginkan dariku? Negrimu kembali?"
Yonghwa kembali berdecih. "Kau menghinaku?! Apa lagi yang bisa kuharapkan dari negri yang telah kau babat habis seperti ini?!"
"Baekhyun menghandung ... anakku. Kau—
"Tidak untuk sekarang ini!" Sergah Yonghwa, lalu beralih menarik Baekhyun untuk mendudukkannya. "Putraku tak akan mengandung janin itu lagi!" teriaknya sambil meraih secangkir ramuan dari tangan seorang tabib.
Membuat Chanyeol dan seorang wanita di seberangnya terbelalak lebar. Mereka tau ramuan macam apa itu.
"YONGHWA!" Teriak Chanyeol geram, memaksa ingin menyentak... tapi beberapa Pria kekar tiba-tiba menahannya.
"Y-yang Mulia, jangan lakukan—
PLAKK
Sooyoung jatuh tersungkur, begitu Yonghwa menamparnya telak. Nafasnya memburu... ia benar-benar tak bisa membiarkan Putranya direnggut lagi kali ini.
"Minumlah.. dengarkan Ayah, Baekhyun"
"BAEKHYUN! JANGAN MEMINUMNYA! YACCK!"
'Gulp'
"Pa—hit... Ayah" Lirih Baekhyun seraya memegangi kepalanya.
"Tak apa... minumlah lagi"
Chanyeol terbelalak... semakin menggila melihat Pria itu memaksa Putranya menegak semua ramuan itu.
"YONGHWA! APA KAU INGIN MEMBUNUHNYA!" Chanyeol berontak. "ARGHH!" Lalu menghempas semua pria yang menahannya itu.
Tapi seolah percuma, hanya tersisa seringai di bibir Yonghwa... kala menyadari Baekhyun begitu mematuhinya.
"Ya! Tentu saja untuk membunuh janin itu. Putraku tak pantas mengandung—
"A—ahtt!" Yonghwa terbelalak begitu mendengar rintihan Baekhyun. Ia kembali menoleh kebelakang...
detik itu pula, jantungnya serasa berhenti berdetak... melihat darah perlahan merembas, membuat ranjang itu merah pekat.
"B-baekhyun.."Chanyeol memaksa merangsak dan merengkuh anak itu. "Mengapa kau meminumnya Hah?! mengapa kau tak mendengarku?!" Racaunya kalut.
"Hhaagh! A—AHTT! SA—KIT!" Jerit Baekhyun seraya meremas perutnya sendiri.
Yonghwa melemas, begitu gemetar...saat menggenggam tangan Putranya. "Apa ini? darah apa ini? APA YANG TERJADI PADA PUTRAKU?!" Teriaknya pada tabib di sisinya.
"Hamba sudah mengatakannya Yang Mulia, Baekhyun Hwangjja akan mengalami pendarahan hebat jika tetap meminum ramuan itu"
"A-apa? tapi mengapa sebanyak ini?! Cepat hentikan darahnya! MENGAPA KAU HANYA DIAM SAJA SHIN!" Yonghwa menarik kerah tabib Shin, dan mengguncangya kasar. Sungguh! Ia benar-benar tak pernah menduga... darah itu akan keluar sebanyak ini. Bagaimana Jika itu mengancam nyawa Baekhyun.
"Hks!... SA—KIT! AHJJUSIII!"
Chanyeol semakin kebas, memeluk namja kecil itu... tak tau harus melakukan apa... sementara kedua tangannya telah penuh dengan darah Baekhyun.
"Baringkan anak itu Yang Mulia"
Hingga tiba-tiba saja, beberapa pria tua datang merangsak. dan memaksa Chanyeol membaringkan Baekhyun. Dan begitu melihat kebelakang... Sehun rupanya yang membawa semua tabib silla itu.
"SIAPA KALIAN?!"
"Yang Mulia... biarkan para tabib Silla itu menyelamatkan Baekhyun Hwangjja"
Yonghwa diam tercekat, mendengar penuturan pemuda asing itu. Siapa dia? tapi pembawaannya yang bijak... sedikit membuatnya tenang dan mungkin percaya. "B-baik... hentikan darahnya!"
Sehun mengulas senyum tipis dan mengangguk mengerti. Setidaknya tak ada penghalang saat ini. Dan berharap usahanya kali ini akan berbuah manis untuk Raja Silla itu.
.
.
"Ugh! Hks... SAKIT!" Baekhyun kembali meronta begitu semua tabib itu memaksa membuka pakaiannya, dan mencoba menusukka banyak jarum kecil di beberapa titik tubuhnya.
Belum lagi, dengan ramuan lain yang dipaksa untuk diminumnya, terasa pahit...bahkan Baekhyun nyaris menyentak mual.
Menelan cairan dengan aroma basa yang kuat itu.
"Titik akupuntur ini... akan menghentikan darahnya. Dan ramuan yang diminum... sebagai penawar dari peluruh yang diminumnya beberapa saat lalu" Gumam Seorang tabib, masih menusukkan beberapa jarum kecil, di pusat peredaran darah bocah mungil itu.
.
.
.
.
"Kau gila!" Gumam Chanyeol, beralih mendudukkan dirinya di sisi Pria yang masih membekap kepalanya sendiri. Sedari tadi ia menununggu di luar, tak memiliki nyali untuk melihat semua tabib itu menghentikan pendarahan Putranya.
"Apa darahnya berhenti?" Racau Yonghwa tiba-tiba, memandang penuh harap pada sosok kekar di sisinya.
"... " Chanyeol terdiam, melihat mata merah itu. Mungkinkah Yonghwa menangis sedari tadi.
"Jika putramu selamat... bersumpahlah untuk menyerahkannya padaku"
Yonghwa terperanjat. saat ini tak bisa menyentak amarah apapun, Karena ia tak tau kondisi Baekhyun dan berharap... darah yang keluar sebanyak itu, tak mengancam nyawa Putra kecilnya.
"Aku hanya bercanda.." Lugas Chanyeol setelahnya, mencoba meluruhkan raut tegang Penguasa Goryeo itu.
Yonghwa merosot. Lalu kembali meremas kasar kepalanya. "Aku hanya membencimu. Tak berharap menyakiti Baekhyun seperti ini"
"..."
Kedua pria itu kembali terdiam, sementara Chanyeol lebih memilih memandang daun yang mulai berguguran di luar sana.
"Bagaimana jika aku menyukaimu... sebagai seorang Ayah" Celetuk Chanyeol kemudian.
membuat Pria di sisinya membulatkan mata lebar, dan memandangnya dengan tatapan bergidik.
"Aku hanya bercanda.."Timpal Chanyeol lagi, sebelum pria itu kembali menggila karena amarahnya.
Yonghwa hanya berdecak, sambil membuang muka. Oh ayolah! Ia dan Chanyeol hanya terpaut usia 4 tahun. Yang benar saja Dia memanggilnya Ayah?
Dan.. Mengapa Ia harus duduk bersanding dengan Pria brengsek ini, bahkan bercengkerama dengannya.
"Tutup mulutmu!"
Hingga tiba-tiba seorang tabib keluar dari kamar itu, membuat Yonghwa beranjak kalut untuk berdiri.
"Bagaiamana dengan Putraku? Darahnya sudah berhenti? Tak ada apapun yang mengancam bukan?"
Tabib itu mengerjap, nyaris tersenyum geli mendegar penuturan Pria yang dirasanya cukup lugu itu.
"Tak ada gumpalan kental yang keluar. Dia masih memilikinya"
Yonghwa mengernyit heran. apa maksud penjelasan itu?
"Bisakah kau mengatakannya dengan bahasa yang kumengerti?"
Chanyeol terkekeh. "Bersiaplah untuk menimang seorang cucu. dan aku tak akan membiarkanmu... menggugurkannya lagi" BRAKK
Ujar Chanyeol usai merangsak masuk ke dalam kamar itu, dan menutup rapat pintunya.
"YACKK! BUKA PINTUNYA! KAU PIKIR INI RUMAHMU?!" Yonghwa menggebrak kasar daun pintunya,tak habis pikir pria itu bersikap selancang ini terhadapnya
"PARK CHANYEOL!"
.
.
.
.
.
T.B.C
Aloohaaa Gloomy hadir Bawa chap 11 nyaaahhh...
mian typo bertebaran, mohon ingatkan neeh.
yah seperti itulah... janinya selamat atau tidak hayooo
review... kalau ga review, ga ada update hehehe
:IG=Gloomy_rosemary
dan untuk:
Takikeii,Ice freya, daeri2124 , LyWoo , Natsumi Shinju, yuanitadian , Tiara696, Freakyducky04, restikadena90 , chanbaekdear6104 , aruni bukan arumi , melia sengga, baby chanbaek , socloverqua, inchan88 , PureLight26, Shengmin137 , CussonsBaekby , Ricon65, Lussia Archery, Eun810 , Sii may c, haruka no hikari, baekielove, Anuchanyeoltegan , Siti855 , sehunluhan0905, , HeeJusy, Park RinHyun-Uchiha , myzmsandraa99 , NaBlue , baek55, baekachu, CB046194 , Asandra735 , MadeDyahD , Cbhs, bee , LightPhoenix614 , Incandescence7 , eunsoobyun pcy , MinJ7, Yeolliebee, ExoPlanet, mons'cbhs'kjd , realbaek21, chan 92, ceciliagata , galuhnoph , booyaamii , Byun Agatha, Adndpwh, Byunsilb , baekkumaa , SMLming , raeheepark6104 , veraparkhyun , fallingforyeol , Markeu Noona , korocbhs6104 , AlexandraLexa, daebaektaeluv, annahkyungie , , Anisya Kinanti, Byunsunny6104 ,jjaeseopj , rosaa , deppsoohh, park yeolna, lupa, Hirahirama, chanbaekssi , ChanBaekGAY, Zhinchan, dwiyuliantipcy , LUDLUD, SNF, byunresa , yousee , xiaolu , n3208007 mimikyuu, Chanbaekssi26, shin rae s , BananaOhbanana , TobenMongryong, selepy, inchan88, Hirahirama, byankai, ocan , pongpongi , ByunniChen , myliveyou , narsih chanbaek3769 , knightwalker314 , hamdan, neemoth19 , zahrazhafira335, minami Kz , Okiniiri-Hime, Baek13erry , HHM , vkeyzia23 , inchan88 , juanie, Nurfadillah, chanbyun0506 , dytdyt, AidakaZi, dan All Guest
terimakasih sudah review di ch sebelumnya, yang belum ditulis... mohon ingatkan Gloomy okay
Saranghaeeeeeee
Annyeooong
