Game On

.

Characters belong to Masashi Kishimoto.

.

This Is SasuHina Story!

Alternative Universe! Out Of Character! Typical Errors! And might lead to some twist!

You've been warned!

.

.

.

"Hinata!"

Hinata berhenti dan membalikkan badan untuk kemudian menangkap sosok Tenten berlari kecil ke arahnya.

"Hai, Tenten," sapanya dengan senyum tipis.

"Bagaimana kabarmu?" sambung Tenten setelah jaraknya sudah cukup dekat dengan Hinata.

"Seperti biasa... atau baik, mungkin?" bahu Hinata mengedik ringan.

"Kau terlihat lebih... berbinar. Ada apa? Menemukan sesuatu yang menarik belakangan ini?" Tenten terkekeh renyah, membuat rona di pipi Hinata agak menebal. "Bercanda, jangan diambil serius. Tapi benar, kau terlihat lebih berseri hari ini," tambah Tenten.

"Aku merasa seperti hari biasanya," kilah Hinata.

"Sudahlah," Tenten mengibaskan tangannya, gestur untuk Hinata agar tak mencari alasan. "Omong-omong, kau ada misi lagi?"

"Saat ini kosong," jawab Hinata seperlunya.

Sejujurnya, Hinata agak tak mengikuti berita di agensi karena dua hari terakhir Sasuke menahannya agar tak keluar apartemen pria itu. Dan tadi pagi Sasuke akhirnya melepaskannya setelah Hinata menunjukkan pesan singkat dari Konan yang mempertanyakan keabsenan tanpa alasannya.

"Bagaimana denganmu?" tanya Hinata balik.

"Aku baru selesai semalam," balas Tenten. "Dan perlu tahu saja, Yahiko benar-benar menyebalkan beberapa hari terakhir."

"Bukankah dia selalu begitu," gumam Hinata angin-anginan.

"Memang. Tapi belakangan ini dia seperti sedang jengkel terhadap sesuatu. Suasana hatinya kacau dan itu mempersulit pekerjaanku sebagai partnernya," cibir Tenten kecut. Hinata hanya mengangguk, tak memberi opini lebih lanjut. "Oh ya, lalu apa saja jadwalmu untuk hari ini?"

"Aku punya tiga jam latihan tanding kemudian menemui ay... maksudku jenderal Hyuuga hari ini," Hinata menghela napas.

"Tiga jam?" Tenten menengok ke arah Hinata, agak terkejut pasalnya rata-rata durasi latihan tanding dalam satu hari hanya sembilan puluh menit, dua jam paling lama.

Hinata mengangguk sebagai jawabannya. "Rupanya Sasuke membuat laporan bahwa keahlian tandingku masih sangat di bawah rata-rata," jelasnya masam.

"Akan jadi hari yang berat, huh?"

"Mungkin," bisik Hinata.

"Hmm... bagaimana jika nanti malam kau ikut denganku dan Konan? Semacam minum sedikit atau apalah," tawar Tenten. "Tapi, yeah... sayangnya Yahiko akan ikut," cibirnya.

"Uh... sepertinya tidak. Aku sudah memiliki rencana lain, maaf."

"Baiklah, tidak apa-apa. Tapi jika kau berubah pikiran, beri tahu aku, oke?" Tenten menghentikan langkahnya di pertigaan koridor, membuat Hinata juga otomatis berhenti, sadar mereka memiliki tujuan yang berbeda.

Hinata kemudian mengangguk, mengiyakan ucapan Tenten. Ia berdiri diam beberapa saat menunggu Tenten lepas dari pandangannya sebelum kembali melangkah ke ruang latihan.

Setibanya di tujuan, Hinata tak melihat siapa pun di sana. Ia melirik jam di pergelangan tangannya kemudian menghela napas. Padahal dirinya datang terlambat tiga menit, namun syukurlah karena kelihatannya Sasuke lebih terlambat dari pada dirinya sehingga pria itu tak akan memiliki alasan untuk menghukumnya.

Hinata berjalan ke salah satu sisi ruangan, sekedar untuk mempersiapkan diri. Dilepasnya sepatu juga jam tangan yang ia kenakan, surainya ia kuncir tinggi secara asal sebelum melakukan beberapa perenggangan dasar.

Sekitar empat menit setelahnya barulah Sasuke muncul dari balik pintu dengan seringai khas milik pria itu.

"Kau terlambat," komentar Hinata datar.

"Hn," pria itu menutup kembali pintu sebelum menguncinya.

Hinata berkedip dua kali. "Apa perlu pintunya dikunci?" tanyanya dengan mata menyipit.

"Bersiap di area, Agen Hyuuga," titah Sasuke tanpa menjawab pertanyaan Hinata.

Kening Hinata berkerut ringan namun ia tetap bergerak menuju matras latihan. "Jadi sekarang kita bermain fase senior-junior lagi?"

"Kita akan berduel, Agen Hyuuga. Jangan banyak protes," telunjuk Sasuke menuding ringan ke arah Hinata. "Ambil posisi," Sasuke mengambil langkah ke arah matras sambil melepas kaus hitamnya.

Hinata tanpa sadar menemukan dirinya lagi-lagi melirik tato di perut samping Sasuke. Hanya beberapa detik sebelum ametisnya kembali fokus ke wajah pria itu. Sasuke terlebih dulu naik di atas matras pendek itu, jemarinya menyapu surai kelamnya ke belakang agar tak terlalu menghalangi pengelihatannya.

"Dan karena kau masih amatir, aku hanya akan mengambil posisi bertahan," manik hitamnya menatap Hinata dengan gelombang penuh tuntutan kepada wanita itu agar segera masuk ke area yang sama.

Kedua alis Hinata naik sedikit mendengar kalimat berbumbu provokasi dari Sasuke. Satu hembusan napas cepat ia ambil sebelum tangannya bergerak membuka jaket ungu muda yang ia kenakan dan menjatuhkannya ringan di lantai. Sasuke mengangkat satu alisnya meski masih dengan raut wajah datar melihat wanita di hadapannya kini hanya mengenakan singlet hitam sebagai lapisan terluar atasannya.

"Tanpa senjata?" tanya Hinata singkat sembari melangkah ke atas matras.

"Tentu, bocah."

Kening Hinata kembali berkerut. "Bocah?"

Sasuke hanya mengedikan bahu. "Seorang agen harus bisa menjadikan kepalannya sendiri sebagai senjata. Jadi berhenti bicara dan tunjukan padaku pukulan terbaikmu," tuntut Sasuke.

Tanpa aba-aba, Hinata melayangkan kepalan tangan kanannya dari samping setelah memiliki jarak yang cukup untuk mengenai Sasuke. Namun gerakannya terhenti saat pria itu dengan cepat menangkap dan memintir tangannya untuk kemudian ia kuncikan di punggung Hinata.

Hanya beberapa detik Sasuke mengunci pergerakannya. Selanjutnya pria itu melepaskan Hinata, membuat Hinata kembali ke posisi bersiapnya.

Sasuke berdecih kemudian mengeluarkan kekehan merendahkan. "Sepertinya kau butuh sedikit motivasi," ujarnya di sela seringaian tajam yang ia ciptakan.

Hinata menghela napas. "Kau tahu aku tidak mungkin menang melawanmu, Sasuke," kilahnya.

"Memang, itu mustahil," Sasuke masih belum menghapus seringainya. "Tapi setidaknya kau bisa mencoba untuk melawanku. Ck... bahkan anak kucing bisa lebih kasar darimu."

Hinata memberengut. "Aku pernah menjatuhkanmu."

"Ya, ya terserah," Sasuke memutar bola matanya. "Untuk sekarang bagaimana jika kita bertaruh lagi?" tawar Sasuke.

Hinata diam dengan tatapan menyelidik, menunggu apa yang selanjutnya pria itu sampaikan.

"Jatuhkan aku satu kali saja, dan kau berhak memintaku melakukan apapun," telunjuk Sasuke teracung, menegaskan perkataannya. Tapi kau berhutang satu ciuman padaku setiap kali aku menjatuhkanmu," seringainya.

Kening Hinata berkerut ringan, ia mencium sesuatu yang terselubung dalam taruhan ini. "Apa niatanmu?" tanyanya terang-terangan.

"Tidak ada niat khusus, Sayang," kekehnya ringan.

Butuh beberapa detik hingga akhirnya Hinata mengangguk, mengiyakan tawaran pria itu. Detik selanjutnya, Hinata bergerak maju, terus menerus mencari celah untuk setidaknya mendaratkan satu pukulan pada Sasuke. Namun tentu, pria itu masih dengan mudahnya menghindar.

Serangan tanpa jeda Hinata coba sampai fokusnya terbelah karena napas yang terengah. Sasuke mengambil kesempatan itu untuk menangkap kedua kepalan tangan Hinata, memutar tubuh kemudian mengunci tangannya di tenguk wanita itu sendiri.

"Aku terlalu meremehkan kegigihanmu," ujar Sasuke tepat di belakang telinga kanan Hinata, mengirimkan sensasi remang di tengkuk wanita itu saat napasnya menyapu permukaan kulit di sana. "Tapi kelihatannya kau begitu bersemangat untuk memperbudak ku."

Sekuat tenaga Hinata menarik dirinya untuk lepas dari Sasuke. Setelah kunciannya terlepas fokus Hinata tertumpu pada tangan kiri Sasuke yang menjadi targetnya. Tapi sebelum serangannya mengenai Sasuke, pria itu menandang betisnya, tak terlalu kuat sampai menyakitinya namun cukup kuat untuk menghancurkan keseimbangannya hingga membuatnya terjatuh.

Dengan setiap helaan napasnya yang memberat, Hinata memandang Sasuke yang berdiri di di hadapannya dengan senyum kemenangan. Hinata menghela napas panjang sebelum akhirnya berdiri kembali.

"Kau berhutang satu ciuman," ujar Sasuke sembari meringsut lebih dekat.

Hinata meletakkan telapak tangan kanannya di pipi Sasuke saat jarak mereka tak lebih dari selangkah. Ia baru akan mendekatkan wajahnya ke wajah Sasuke, namun pria mundur satu langkah menghindarinya.

"Aku belum mengatakan padamu di bagian mana aku menginginkan ciuman itu."

"Apa?" Hinata bertanya bingung.

Tanpa menjawab satu kata tangan yang Hinata layangkan, Sasuke memutar tubuh wanita itu agar membelakanginya namun tetap menjaga jarak mereka tetap dekat. Hal selanjutnya yang Hinata sadari adalah satu kecupan ringan bersama sapuan napas hangat mendarat di bahu kirinya yang terbuka.

"Sa-sasuke," Hinata berujar rendah dengan kelopak mata melebar, suhu tinggi seketika menyerang wajahnya. "Orang lain... bisa saja masuk," gumamnya.

"Melewati pintu yang terkunci itu?" kini Sasuke menumpukan dagunya di bahu Hinata. "Memang memungkinkan walaupun tipis. Jadi jika kau tidak mau orang lain melihat, jangan jatuh lagi," bisiknya di telinga Hinata sebelum melangkah mundur.

Beberapa detik lamanya Hinata membelakangi Sasuke yang tepat dua langkah jaraknya dari tempatnya berdiri. Kediaman mereka berakhir saat Hinata tiba-tiba berbalik dan melayangkan tinjunya langsung ke arah wajah Sasuke yang lagi-lagi bisa pria itu hindari hanya dengan sedikit gerakan menggeser.

Detik berikutnya mata Hinata yang entah kapan terpejam kembali terbuka hanya untuk mendapati dirinya yang kembali jatuh dan Sasuke yang mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri. Hinata menerimanya, ia mengandalkan tarikan tangan Sasuke untuk berdiri.

Sasuke yang sengaja menambahkan tenaga lebih dari seperlunya dalam tarikan itu membuat tubuh Hinata tertarik keras hingga menubruk tubuhnya setelah wanita itu berdiri. Tangan kanannya masih bertaut dengan tangan Hinata sedang tangan kirinya ia letakkan di pinggul bawah wanita itu.

Hinata menggigit bibir bagian dalamnya karena kedekatan mereka, juga karena tangan kiri Sasuke yang bergerak pelan menemui bokongnya.

"Apa aku pernah bilang padamu betapa terobsesinya aku dengan bokongmu?" Sasuke menyeringai enteng.

"Kendalikan dirimu, Senior Agen Thunder," Hinata membalas ucapan kurang senonoh dari Sasuke. Sasuke tak menjawab, malah semakin mempertajam seringainya sebelum Hinata merasa bokongnya diremas. "Sasuke!" ametisnya melotot kepada pria di hadapannya.

"Kau berhutang satu ciuman lagi," ujar Sasuke malah mengingatkan tentang taruhan mereka.

Hinata menghela napas. "Sekarang di mana kau ingin kucium?"

Tangan Sasuke terangkat ke wajah Hinata, ibu jarinya ia gunakan untuk mengusap lembut ujung bibir wanita itu. Oniksnya tak henti melakukan kontak pada objek yang ibu jarinya ia sentuh. "Aku... akan mengatakannya nanti," jawabnya dengan senyum tipis.

"Kenapa nanti? Tidak bisa sekarang?"

"Karena kita tidak akan bermain di area PG-13 lagi saat melakukannya," Sasuke menepuk ringan pipi Hinata.

"Huh?"

Sasuke terkekeh melihat ekspresi Hinata. "Ada beberapa kamera yang terpasang, Hinata," Sasuke menunjuk ke beberapa sudut di ruangan itu.

"Apa?" Hinata jelas terlihat terkejut. Bodoh, bagaimana bisa selama ini ia tak menyadarinya, tentu saja mereka pasti punya kamera pengintai di mana-mana. "Lalu... kenapa kau—"

"Menciummu?" Sasuke menyela pertanyaan Hinata. "Aku tidak begitu peduli, seisi agensi sudah banyak menggosip tentang kita. Aku hanya tidak ingin semakin membagi hal yang seharusnya menjadi privasi."

Hinata menggigit bibir bawahnya. "Aku dalam masalah," gumamnya rendah lebih pada diri sendiri.

"Oh, ayolah. Jangan terlalu dipikirkan," komentar Sasuke. "Sekarang kau sebaiknya fokus untuk menghadapiku," tambahnya lengkap dengan seringaian.

..

...

..

Hingga akhir sesi latihan, Hinata sepertinya sudah kehilangan hitungan soal berapa kali ia dijatuhkan oleh Sasuke. Hinata mengakhiri latihan kali itu dengan wajah tertekuk karena kekalahan telaknya meskipun sebenarnya ia sudah jelas sadar bahwa menang melawan Sasuke adalah hal yang mustahil. Tapi tetap saja, tak ada yang suka rasanya kekalahan.

"Kau akan menemui ayahmu sekarang?" tanya Sasuke sambil mengenakan kembali kausnya.

Hinata bergumam mengiyakan. "Sepertinya akan ada banyak hal yang akan ia katakan padaku," jelas Hinata.

"Kuharap latihan hari ini cukup membantumu berkembang," ujar Sasuke sambil menyeringai.

"Membantu? Kau tidak mengajariku apa-apa hari ini. Yang kau lakukan hanyalah menggerayangi tubuhku," protes Hinata kecut meski tak benar-benar keberatan.

Sasuke mengedikan bahu. "Kau juga tidak menolakku."

Hinata hanya menggeleng pelan, lekung bibirnya ia tahan agar tak menampakkan senyum geli atas apa yang baru saja mereka perdebatkan. Dan tanpa mengucapkan salam selamat tinggal, ia berjalan keluar ruang latihan. Langkah Hinata terhenti ketika tubuhnya menghantam tubuh lain yang lebih besar.

"Yahiko," ujar Hinata terkejut, ia langsung mengambil tiga langkah mundur untuk memberi jarak.

"Hai," sapa pria dengan surai jingga itu, air wajahnya ringan seperti senang akan pertemuannya dengan Hinata. "Kukira kau tidak masuk lagi hari ini," lanjutnya.

Netra Hinata menyipit, mengetahui ada yang hendak pria itu sampaikan. Jadilah ia memutuskan diam menunggu Yahiko kembali bersuara.

Yahiko yang sepertinya dapat mengartikan tuntutan di mata Hinata menghela napas, kemudian melangkah mendekat. "Malam ini... kau mau keluar... maksudku... denganku?"

"Huh?" Hinata ternganga, tak habis pikir.

"Yah, aku... bosan," ucapnya dengan tatapan terpalingkan dari Hinata. "Jadi kupikir kita bisa... menghabiskan waktu... bersama."

Hinata menghembuskan napas panjang yang kasar. Ia sempatkan diri melirik ke pintu ruang latihan, memastikan apakah Sasuke sudah keluar atau belum. Setelah tak melihat tanda-tanda hadirnya Sasuke, ia kembali memandang Yahiko.

"Bukankah sudah kubilang malam itu adalah kesalahan dan aku tidak ingin mengungkitnya lagi?" tegas Hinata tajam dengan suara rendah. "Aku bukan objek untuk mengusir rasa bosanmu." Hinata hendak pergi dari sana, namun tangan Yahiko menahan pergelangannya.

"Ayolah, Hinata... malam itu memang kesalahan. Aku juga tidak berniat lebih. Hanya saja... aku merindukan tubuhmu."

Mata Hinata melebar mendengarnya. "Keparat, kau!" Ia menghentak tangannya agar terlepas dari cengkeraman Yahiko. "Lepaskan aku!"

"Kenapa sekarang kau bertingkah berlebihan seperti ini," protes Yahiko tanpa mengendurkan cengkeramannya.

Namun tak lama setelahnya, Hinata merasakan tangannya terbebas. Ia mendapati Sasuke di sana, menghentak paksa tangan Yahiko agar melepaskannya sebelum mendorong pria bersurai jingga itu hingga mundur beberapa langkah.

"Jaga tanganmu sebelum aku sendiri yang menghancurkannya," ujar Sasuke datar namun tajam setelah menempatkan diri di antara Hinata dan Yahiko.

"Ohh..." Yahiko menyahut dengan nada mencibir. "Pacarmu ternyata cukup protektif, ya?"

"Hentikan, Yahiko," sela Hinata, jelas mengetahui gelagat Yahiko yang berniat memprovokasi Sasuke.

"Aku sudah menduganya, kau membiarkanku menyentuhmu karena dia tidak cukup memuaskanmu, ya?" ujar Yahiko kepada Hinata, seakan Sasuke tak ada di sana. Ia kemudian beralih pandang ke sosok Sasuke. "Oh, Bung... padahal aku menyimpan ekspektasi besar terhadapmu," tambahnya dengan nada cemooh.

"Apa maksudmu?" Sasuke membersut rendah. Hinata merasakan kakinya melemas, tak siap jika Sasuke mendengar apa yang akan Yahiko katakan selanjutnya meskipun itu hanyalah omong kosong.

"Kau tidak tahu, Thunder?" respons Yahiko, berpura-pura terkejut. "Bukankah Hinata begitu luar biasa? Rasanya tidak adil jika hanya kau yang boleh mencicipinya. Lagipula dia bukan gadis polos yang suci. Aku selalu membayangkan berapa banyak lelaki yang berlutut untuknya."

Oniks Sasuke yang nyalang menatap Yahiko berubah arah pandang kepada Hinata sesaat setelah ia menelaah apa yang Yahiko sampaikan. "Kau... tidur dengannya?" geramnya.

"Sasuke...aku... aku bisa jelaskan," ucap Hinata terbata, seakan tatapan Sasuke menghalangi tiap kata yang mengantri untuk keluar dari mulutnya.

Di tengah ketegangan itu, suara decakan Yahiko terdengar. "Kau benar-benar beruntung, Thunder. Aku sungguh berharap akulah yang menjadi partnernya. Karena mungkin aku akan memiliki lebih banyak kesempatan untuk mendengarnya mendesah da—"

Racauan Yahiko terpotong seketika kepalan Sasuke mendarat di wajahnya. Seperti tak cukup satu pukulan, Sasuke kembali melayangkan tinjunya sebelum menendang perut Yahiko.

"Sasuke! Hentikan!" Hinata maju untuk menahan Sasuke. Diraihnya lengan kaus Sasuke, namun kemudian pria itu malah menangkap tangannya dengan cengkeraman yang begitu kencang.

"Aku tidak marah dengan keparat ini. Aku marah padamu, Hinata!" umpatnya tajam, mengabaikan kerutan di kening Hinata akibat menahan sakitnya cengkeraman Sasuke.

"Aku bersumpah, Sasuke... itu tidak disengaja." Hinata mencoba menjelaskan, namun Sasuke keburu menyeretnya dari sana, meninggalkan Yahiko yang meringkuk di lantai.

Sasuke menarik Hinata kasar menuju apartemennya. Hinata sendiri diam selama dirinya ditarik paksa karena satu huruf saja ia gumamkan untuk sekedar membela diri, Sasuke akan semakin mempererat cengkeramannya.

Sasuke juga seperti tak peduli tatapan penuh tanya para petugas dan agen yang mereka lewati. Bagitu pula Hinata, rasanya saat ini tak ada yang lebih penting baginya selain mencari cara tentang bagaimana menjelaskan semuanya kepada Sasuke.

Hinata dapat melihat bahwa Sasuke tak menganggap enteng tentang apa yang terjadi antara dirinya dan Yahiko. Sejujurnya, ada perasaan senang mengetahui Sasuke marah kepadanya seperti ini, bagaimanapun itu mengartikan bahwa Hinata bernilai lebih di mata pria itu, bukan? Hanya saja Hinata tetap tak bisa lari dari ketakutan saat melihat kemurkaan Sasuke tadi.

Setelah memasuki apartemen, Sasuke dengan cepat menutup pintu dan menguncinya kemudian tanpa membuang waktu kembali menyeret Hinata ke kamarnya. Dengan satu tangan, ia menarik kerah pakaian Hinata untuk kemudian didorongnya hingga punggung wanita itu membentur dinding. Hinata terengah, tubuhnya bergetar di bawah tatapan oniks Sasuke yang begitu mengancam.

"Sa-sasuke," Hinata mencoba bersuara, namun lidahnya seperti mengkhianatinya.

"Katakan!" tuntut Sasuke keras.

"Itu... malam itu hanyalah... kesalahan. Aku... aku tidak sadar."

Sasuke sedikit melonggarkan cengkeramannya namun tetap menatap dengan tatapan yang sama tajamnya. Ia diam, menunggu Hinata menjelaskan lebih lanjut.

"Aku... banyak hal yang mengganggu pikiranku dan aku minum terlalu banyak. Saat itu kita... sepakat untuk berpisah, kita... kau menjauh," aku Hinata rendah.

Sasuke mendorong Hinata hingga terduduk di atas ranjang, sorot matanya menerawang namun terlihat berpikir. Detik berikutnya ia mengerang, jemarinya ia sapukan kasar di sela surai kelamnya. "Jadi ini karena ku lagi, huh?" cetusnya tajam, lebih kepada diri sendiri.

"Tidak, Sasuke. Tidak," Hinata menggeleng, ia meraih lengan Sasuke yang berdiri di depannya. "Aku yang bersalah," aku Hinata.

Rahang Sasuke terlihat tegang, tatapannya nyalang seolah ingin menyakiti wanita di hadapannya. "Persetan denganmu!" umpatnya sebelum ia menyerang Hinata, memaksakan sebuah ciuman kasar terhadap wanita itu.

"Sa-sasuke," desis Hinata terkejut.

"Dia menyentuhmu." Sasuke menangkup wajah Hinata agar tetap bertatapan dengannya. "Kau membiarkannya menyentuhmu, bukan?!"

"Sasuke... kumohon, aku salah... aku... itu sama sekali tidak berarti apapun," racau Hinata terbata.

"Kau membiarkannya menyentuhmu, bukan?!" ulang Sasuke, kali ini berteriak.

Hinata terdiam untuk beberapa detik saat ia melihat ekspresi wajah pria di hadapannya. Amarah juga nafsu kental menopengi ekspresi Sasuke, dan Hinata tak tahu tindakan apa yang akan Sasuke lakukan terhadapnya dalam kondisi itu.

Hinata ketakutan, namun ia memilih diam karena satu alasan. Karena saat ini ia tahu Sasuke bukan hanya sekedar marah. Pria itu cemburu. Dan dengan tak rasionalnya, alasan itu membuat Hinata bersedia mengalah tentang apapun yang akan Sasuke lakukan terhadapnya.

Dan hari itu keintiman mereka diulang kembali. Dengan intensitas yang lebih ekstrim. Sentuhan Sasuke begitu kencang, keras namun masih terasa hangat seperti sebelum-sebelumnya. Sasuke bermain kasar, namun Hinata masih mengetahui bahwa lelaki itu belum kehilangan kendali diri sepenuhnya.

"Kau harusnya meminta maaf, kau tahu?" ujar Sasuke tanpa menghentikan invasinya terhadap tubuh Hinata, napasnya terdengar berat namun tiap katanya terdengar stabil.

"Maafkan aku." Hinata tak bisa memikirkan balasan lain selain mengucapkan apa yang Sasuke perintahkan, ia terlalu tenggelam dalam rasa sakit dan nikmat yang dihadiahkan Sasuke.

"Dan..." Sasuke menunggu Hinata melanjutkan.

"Hal itu ohh... ti-tidak eumm... tidak akan... terulang," tambah Hinata di sela desahannya.

"Ada lagi?" bisik Sasuke deduktif sembari menurunkan tempo gerakannya.

"Kumohon... ahh..."

"Hn?"

"Ja-jangan berhenti... kumohon."

Sasuke menyeringai sebelum kembali melahap bibir Hinata. Satu tangannya menuntun kaki Hinata untuk melingkari pinggangnya tanpa menghentikan pergerakan mereka. Keduanya saling menelan erangan juga desahan yang keluar dari mulut masing-masing akibat ciuman intens itu.

Entah berapa lama mereka bergulat Hingga akhirnya bersama mencapai puncak kenikmatan mereka. Hinata mengambil napas panjang untuk mengatur detak jantungnya yang menggila akibat kegiatan mereka tadi. Sedang Sasuke menjatuhkan dirinya hingga menindih Hinata tanpa melepaskan penyatuan mereka terlebih dahulu.

Sasuke menghujani kecupan ringan di bagian tulang selangka dan leher Hinata sebelum membenamkan wajahnya di ceruk leher wanita itu. Hembusan napasnya hangat dirasa indra peraba Hinata. Hening mengambil kendali selama beberapa saat.

"Berjanjilah satu hal padaku," ujar Sasuke masih dengan wajah terbenam di leher Hinata.

Hinata menggigit bibir bawahnya, menahan erangan saat Sasuke menggigit kecil kulit lehernya. "Apapun," jawabnya.

"Jangan membuatku murka lagi. Jangan membiarkan orang lain menyentuhmu lagi."

"Aku berjanji," bisik Hinata sembari tersenyum kecil.

Sasuke mengangkat tubuhnya sedikit. Satu tangannya menumpu tubuh sedang tangan lainnya meraih wajah Hinata dan mengusapnya lembut. Oniks dan lavender masing-masing saling terhubung. "Aku... tidak ingin kau... dengan orang lain," bisik Sasuke rendah.

"Tidak akan." Hinata balas mengusap lembut pipi Sasuke.

Keduanya terus saling menatap sampai Sasuke kembali mengikis jarak wajah mereka dan mempertemukan bibir mereka dalam satu ciuman yang lebih lembut namun tak kalah intens.

..

...

..

"Kenapa kita kemari?" tanya Hinata saat ia untuk yang kedua kalinya berjongkok di tempat yang sama dengan dalih pengintaian. "Aku dan Naruto sudah memeriksa tempat ini sebelumnya, Sasuke. Dan tidak ada apapun. Naruto berkata kemungkinan mereka sudah pindah markas," jelasnya.

Sasuke seperti terlalu fokus menyisir keadaan dengan binokuler yang dibawanya hingga Hinata ragu apakah pria itu mendengar apa yang ia katakan atau tidak. Namun sebelum Hinata merasa benar-benar diabaikan, Sasuke bersuara.

"Naruto salah, dia bodoh seperti biasanya. Akatsuki tidak mungkin mengubah kebiasaan mereka begitu saja," ujarna dengan nada mencibir meskipun sebenarnya ia tak berniat seperti itu. Dan Hinata tahu begitulah cara bicara Sasuke.

Hinata menghela napas. "Kalau menurutmu tempat ini merupakan area vital, kenapa agensi tidak melakukan apapun terhadap tempat ini?"

"Karena belum ada bukti," jawab Sasuke. "Aku yakin tempat ini menyimpan banyak hal, namun kita belum menemukan apa itu. Jadi sekarang lebih baik kau fokus dan berhenti mengalihkan perhatianku," desis Sasuke.

Kening Hinata berkerut ringan. "Mengalihkan perhatian? Aku bahkan tidak melakukan apapun." Dan ya, sedari tadi Hinata memang hanya berjongkok di samping Sasuke.

"Mengalihkan perhatian yang kumaksud adalah dengan membuatku bergairah dengan suara serakmu," balasnya frontal.

Hinata mendengus mendengar kalimat Sasuke yang lagi-lagi gagal mengalami filtrasi. "Aku mulai flu, Sasuke. Tebak salah siapa itu?"

"Aku tidak berniat menularkannya padamu," jawab Sasuke enteng.

Hinata memutar bola matanya malas, tak berniat memulai perdebatan tak berarti dengan pria itu.

"Sttt..." Tiba-tiba Sasuke mendesis, mengisyaratkan agar Hinata tak bersuara.

"Aku bahkan tidak mengatakan apapun."

"Shhuushh..." desisnya lagi.

Tak mendapat penjelasan, Hinata memutuskan untuk memeriksa apa yang terjadi. Ia mengangkat binokulernya dan mengarahkannya ke arah pandang Sasuke. Di ujung sana beberapa orang memasuki sebuah ruangan pada gedung yang berbeda dari tempat mereka bersembunyi.

"Siapa mereka?" tanya Hinata.

"Aku tidak tahu."

"Apa mereka orang-orang baru?"

"Kubilang aku tidak tahu," Sasuke berdecak tak sabar. "Ini bukan bagianku. Terakhir kali aku kemari adalah saat usiaku tujuh belas."

"Lalu kenapa kau mendapat misi ini?" Hinata mengangkat alis heran.

"Kakashi mungkin berpikir aku sudah membunuh cukup banyak orang bulan ini, jadi dia melimpahkanku tugas pengawasan."

Hinata mengangguk kecil tanpa sadar, ia kembali fokus terhadap orang-orang itu. Seluruhnya ada lima orang dan mereka terlihat larut dalam pembicaraan yang serius. Lalu kemudian beberapa lagi terlihat memasuki ruangan yang sama. Salah satu di antara mereka seketika menarik perhatian Hinata.

"Sasuke," panggil Hinata pelan.

"Hn?"

"Aku tahu orang itu," jelasnya pendek tanpa menunjukkan secara spesifik objeknya.

Sasuke melirik Hinata sebentar sebelum kembali menatap orang-orang itu. "Biar kutebak, dia juga mantan pacarmu yang juga berandalan?" cibirnya.

"Sasuke!" Hinata mendesis protes. "Orang yang memakai topi dan jaket kulit cokelat itu, aku pernah bertemu dengannya," jelasnya kembali ke topik awal.

Sasuke diam selama beberapa detik, fokusnya terarah kepada orang yang paling mendekati penggambaran Hinata. Kerutan samar di keningnya memudar ketika mengingat sosok itu.

"Dia teman mantan pacarmu," ungkapnya singkat.

"Huh?"

"Caligo. Atau nama aslinya Kawano Adrian," Sasuke melirik ke arah Hinata. "Dia kawanan mantan pacarmu," lanjutnya rendah.

Kening Hinata berkerut, menyadari siapa yang Sasuke maksud. Dalam kepalanya berkecamuk banyak hal. Mereka tengah mengintai pergerakan Akatsuki, tapi Sasuke mengatakan salah satu dari orang-orang itu adalah kawanan Neji. Apa maksudnya? Apa mungkin sebelumnya Neji juga berhubungan dengan Akatsuki?

Hinata menggeleng samar, mengumpulkan fokusnya kembali. "Apa... yang dia lakukan di sini?" tanya Hinata akhirnya.

"Kau sudah dengar bukan tentang Akatsuki yang mulai merekrut tikus jalanan?" balas Sasuke.

Hinata kembali tenggelam dalam benaknya, kembali menemui nama Neji meski hanya di dalam kepalanya mau tak mau membuatnya mengingat hari itu. Lalu kemudian ia berkedip akan satu hal. Satu kalimat yang Neji ucapkan yang membawa nama Caligo.

"Sasuke..." panggil Hinata.

"Hn."

"Neji pernah bilang Caligo... Caligo itu akan memburu kita jika kau..." Hinata bergumam setengah sadar, ia tak menyelesaikan kalimatnya namun tahu bahwa Sasuke mengerti apa yang hendak ia sampaikan.

Sasuke memberikan perhatiannya kepada Hinata, ia tarik tubuh Hinata hingga posisi mereka berhadapan. Satu tangannya mengangkat wajah Hinata yang tertunduk.

"Hinata," panggilnya, mencoba merusak tatapan menerawang di lavender Hinata. "Kau pasti tahu aku akan membunuhnya bahkan sebelum dia mendekat selangkah ke arahmu, bukan? Jadi jangan mencemaskan apapun," ujar Sasuke meyakinkan.

Hinata balas menatap oniks Sasuke yang terlihat teduh di bawah sinar bulan. Sejujurnya ia tak takut jika keberadaan Caligo mengancamnya. Tak terlintas di benaknya akan gagasan itu. Yang ia takutkan adalah Sasuke. Pria itu terbiasa untuk menantang bahaya yang datang, dan Hinata tak siap jika bahaya itu kembali membuat mereka terpisah.

Jadilah Hinata hanya mengangguk, mengiyakan apa yang Sasuke katakan.

.

to be continued...

..

.

Setelah 350 tahun terjajah(?)... akhirnya update juga.
Ngga panjang sih, tapi karena aku harus pisah ranjang lagi sama leptopku *sobs* jadi aku update sekarang aja daripada nunggu sampe minggu depan lagi wkwk.
Tapi cukup ya cukup... penuh SasuHina nich hhaha :v

And btw, lusa Sasu ultah yaa... syedih juga kayaknya ngga bisa nyajiin yang special bday gitu buat cogans ku yang satu ini *sorry, Sas... gw sok sibuk* :3

Tebar cinta buat readers setia yang udah jamuran nunggu chapter ini... seeyaa and keep review yaa :*