Main Cast : Chanyeol X Baekhyun

Other Cast : Temukan di dalamnya :)

Disclaimer : fic ini pure milik Gloomy Rosemarry aka Cupid KM

Previous Chapter

Chanyeol terkekeh. "Bersiaplah untuk menimang seorang cucu. dan aku tak akan membiarkanmu... menggugurkannya lagi" BRAKK

Ujar Chanyeol usai merangsak masuk ke dalam kamar itu, dan menutup rapat pintunya.

"YACKK! BUKA PINTUNYA! KAU PIKIR INI RUMAHMU?!" Yonghwa menggebrak kasar daun pintunya,tak habis pikir pria itu bersikap selancang ini terhadapnya

"PARK CHANYEOL!"


Love Of Fallen Leaves

Chapter 12

.

.

Derap langkah berbaur...dengan nafas beratnyasendiri.

Ia tak pernah menduga, semua akan terasa menggetarkan seperti ini... kala kedua kaki jenjang miliknya benar-benar melangkah mendekati sosok mungil itu.

Memang tak ada senyum... celoteh kecil, bahkan tawa menggemaskan darinya.

Hanya terlihat, paras pucat dengan bibir bawah tergigit. Ah! Ia tau namja kecilnya tengah menahan sakit. Terlihat rapuh... Tapi entahlah, Mengapa hatinya serasa merekah melihat Baekhyun saat ini. Membuatnya ingin berkoar... Bocah itu memang hanya miliknya seorang.

"Nh~ hks"

Samar... terdengar isak kecil darinya, memaksanya lekas meraih tangan mungil itu dan menggenggamnya penuh. Tak dipedulikannya tatapan tabib miliknya dan beberapa penghuni Goryeo. Karena memang... Hanya Bocah itu yang menguasai pandangannya saat ini.

"Ssshh..." Desisnya menenangkan, seraya menyingkirkan surai yang tergerai basah... di sekitar leher dan kening Baekhyun.

"—Jusshii~"

Hanya panggilan samar itu yang sempat di dengarnya. Ia balas menatapnya kembali, tapi anak itu

beralih menunduk dan memegangi perutnya.

Ingin memangku bocah itu, seperti yang kerap ia lakukan saat Baekhyun menangis ... namun Ia merasa riskan, selepas Baekhyun mengalami pendarahan sehebat itu. Membuatnya lebih memilih, duduk di sisinya meski nyatanya Ia benar-benar ingin merengkuhnya.

"Sakit hn?" Bisiknya lirih

Baekhyun mengangkat kepala, menatap pias namun tetap memaksa tersenyum. "T—tidak Ahjjussi~" Ujarnya sambil menggelengkan kepala.

Raja Silla itu mendadak tertegun. Sejatinya Ia tau, Baekhyun tengah berkelit dengan rasa sakitnya, tapi mengapa?

Ia beralih menolah pada tabib di sisinya. "Tak adakah ramuan pereda rasa sakit?"

Tabib Silla itu membungkuk penuh hormat. "Kami membawanya Yang Mulia, Hamba berusaha membujuknya untuk meminumnya. Tapi Tuan Muda Baekhyun selalu menolaknya"

Chanyeol menghela nafas pelan. "Mengapa tak meminumnya. Itu akan meredakan rasa sakitnya?" Tanyanya kemudian

Bocah itu hanya memalingkan wajah, masih menyembunyikan raut itu. Karna suatu yang Ia takutkan. Bagaimana jika setelah meminumnya lalu, darah itu kembali keluar?

Tidak! Baekhyun benar-benar takut, dan ia lebih memilih bertahan dengan rasa sakit seperti ini, meski... itu lebih terasa seperti sesuatu tengah mencabik perutnya.

"Aku di sini... apa yang kau takutkan?" Ujarnya, kali ini mencoba beringsut ke atas ranjang Baekhyun. Akan lebih baik, Baekhyun menangis menjerit sebagai lampiasan rasa sakitnya, dibandingkan merintih dengan tangan terkepal seperti itu.

"A—ahjjusi"

"Hn...?"

Namun tiba-tiba, seorang Pria merangsak masuk. Tak peduli betapa payah dirinya kali ini saat memaksa untuk berjalan.

BRAKKK

"PARK CHANYEOL! BERANINYA KAU—

Penguasa Goryeo itu mendadak terbungkam. Diam mematung, seakan terkunci dalam kemelut batinnya sendiri kala menatap bahkan mendengar dengan lugas, dua sosok di hadapannya.

"Ba—yi?" Lirih Baekhyun seraya menatap Chanyeol. Terlihat was-was, begitu bocah itu sering mengusap dan melihat perutnya sendiri.

Chanyeol mengernyit."Ada apa?"

Baekhyun kembali meneguk ludah, berusaha merangkai ucapannya sendiri. "Ba—yi masih di sini?" Bisiknya setengah berbisik.

"B-bayi Ahjjusi dan Baekhyun ma—sih di sini?" Ulangnya lagi memaksa

Chanyeol tersenyum, entah... darimana datangnya desir itu. tapi jantungnya seakan berkelakar dengan nuraninya, hingga membuatnya berdebar melihat Baekhyun bicara mengenai janinnya. Ah! inikah perasaan menjadi seorang Ayah itu?

"Ya... tentu saja dia masih di dalam perutmu" Lugas Chanyeol sembari menyentuh perut Baekhyun, ada yang berbeda... Ia benar-benar merasa perut bocah itu sedikit membuncit. Namun sesaat kemudian Ia berdecak, melihat Baekhyun kembali meringis nyeri.

"Tak apa..." Bisiknya seraya membelai pipi Baekhyun. "Menangislah jika itu sakit dan minum obatmu"

"Ti—dak Ahjjussi... hks" Kekeuh Baekhyun mencengkeram tangannya sendiri. "B—baekhyun tidak mau Bayi pergi. Ti—dak sakit Ahjjussi" Ucapnya serak, sesekali mencoba bersandar di pundak Chanyeol. Berusaha mencari tumpuan.

Penguasa Silla itu kembali mengulas senyumnya. "Jika Dia pergi aku akan memukulnya"

Sontak ucapannya membuat bocah itu mendadak menegakkan tubuh dan memandangnya nanar. Beberapa detik berselang, hingga akhirnya bulir itu merosot bebas membasahi pipi tirusnya. Tangisan yang sempat di tahannya pun pecah seketika

Entah karena kesal atau memang anak itu menangis kesakitan. yang jelas... itu membuat Chanyeol berdecak lega, lalu membawa tubuh mungil itu ke dalam dekapannya.

"Aku tak berkata sesungguhnya" kekeh Chanyeol, menerka pemikiran lugu namja kecilnya.

"A—ahjjusi! jangan memukulnya!" Jeritnya kesal

Chanyeol kembali tergelak tawa , membiarkan tangan mungil itu berulang kali meninju dada bidangnya. Lalu Ia balas dengan kecupan-kecupan kecil di keningnya. Ah! Ia tak pernah merasakan detak jantung berlebih seperti ini, dan Baekhyun lebih dari sekedar intan Silla untuknya.

"Aku Ayahnya... tentu berhak melakukannya" Candanya lagi, semakin membuat tangan mungil itu menciptakan debaman-debaman halus saat menghantam lengan dan dadanya.

Tapi tanpa keduanya sadari. Sosok yang sedari tadi mematung itu, mulai meregang urat amarahnya sendiri. Berangsur pasrah dan hanya menghela nafas panjang, hingga—

"Yang Mulia.."

Seseorang memanggilnya dari belakang, ingin menyentuh bahunya namun urung dilakukan begitu Yong Hwa beralih memutar tubuh.

"Dimana udara segar di tempat ini?" Ujar Yong Hwa sambil berlalu. "Udara ruangan ini mencekikku" Gumamnya lagi. Membuat Kyuhyun makin mengernyit tak mengerti, bahkan hingga Penguasa Goryeo itu benar-benar beranjak keluar Ia masih mengerjap penuh tanya.

Apa yang terjadi. Ia pikir, Yong Hwa akan menyulut amarah yang lain... karna melihat Raja Silla itu menyentuh putranya seperti itu.

"Aku yakin Dia melihatnya. Tapi mengapa—

"Kyu! Tak adakah air segar untukku?!" teriak Yong Hwa tiba-tiba dari luar.

Tak pelak membuat menteri itu berlari sigap keluar, sebelum Yong Hwa kembali berubah pikiran."Baik Yang Mulia"

"Buka bibirmu"

Baekhyun mengerjap, menatap tak suka butir kecil di tangan Chanyeol... lalu menggeleng cepat.

"Dengarkan aku... ini akan membuatmu merasa lebih baik... jadi—

"Tidak mau Ahjjussi!" Bentak Baekhyun, kali ini sambil tertatih memutar tubuhnya membelakangi Chanyeol.

"Kau ingin bertahan dengan rasa sakit seperti itu?"

Baekhyun meringkuk memeluk perutnya sendiri. ya! itu lebih baik baginya... dibandingkan melihat ramuan asing itu kembali menyakiti perut dan bayinya.

"Baek—hyun tidak mau... ba—yi sakit" Gumamnya tersendat-sendat

Chanyeol tertegun, sadar rupanya Baekhyun memiliki pemikiran semacam itu... mungkinkah anak itu menerka dirinya seperti Yong Hwa?

Ia beralih melirik tabib dan beberapa orang di dalam ruangan itu, memaksa mereka untuk segera beranjak meninggalkannya, dan benar saja... semua terjadi sesuai titah tersiratnya.

Lepas... suasana menjadi hening. Ia memilih memandang bocah mungil yang masih meringkuk membelakanginya itu.

Baekhyun tak terlalu mencolok, anak itu hanya mengenakan selapis pakaian putih... memperlihatkan tengkuk dan sebagian paha mulusnya.

Membuatnya terlihat mempesona, meski nyatanya paras itu tetaplah pucat.

"Bayi itu akan tetap di dalam sini" Chanyeol merangkul perut Baekhyun. "Walau kau meminum obatnya" Lanjutnya lagi kali ini sambil mengecupi tengkuk Baekhyun.

"Bahkan mungkin Dia akan tertawa... melihatmu tak merintih kesakitan"

Kedua mata coklat itu mengerjap, seakan menimang ucapan yang dirasanya terlalu sayang untuk diabaikannya.

"Jjeongmalyo?" Tanyanya sambil menoleh menatap Chanyeol.

Ah! bibir tipis itu...mengapa terlihat semanis ini. Membuatnya ingin menyesap dan melumatnya habis.

"Mendekatlah..." Bisiknya seraya mengusap tengkuk Baekhyun.

Sesaat Baekhyun tampak mengerjap. Namun tetap patuh mendekati wajah pria dewasa itu.

Banyak hal yang ingin Baekhyun tanyakan, namun mendadak tak terungkap begitu bibir tebal itu menempel lalu menyesap bibir bawahnya.

"Mmh~.."

Samar Ia melenguh lirih. Bukan layaknya pagutan dalam... dan penuh hasrat... namun hanya lumatan lembut. Hingga membuat anak itu perlahan tenang sambil memejamkan matanya.

"Tidurlah..." Bisik Chanyeol begitu melihat Baekhyun menguap kecil sambil mengucek matanya.

Bocah yang masih memejamkan mata dengan bibir basah itu hanya menggumam dan mengangguk pelan.

Terlihat enggan untuk menggeser tubuh dan hanya bersandar nyaman di lengan Chanyeol,menjadikan lengan kekar itu sebagai bantalnya

"Kau belum meminum obatmu..."

"..." Tak ada jawaban, Baekhyun lebih memilih meringkuk bulat dalam rengkuhan Chanyeol.

Dan Chanyeol tau... jika Baekyhun sudah terkunci dalam posisi seperti ini. Anak itu akan sulit untuk di bujuk.

Ah! Baiklah Ia tak ingin memaksa...

setidaknya ini lebih baik, melihat lelap itu mampu menawar rasa sakitnya.

Lama Ia menunggu, tak ingin mengusik... namun hanya sekedar memandang wajah yang terpejam berat itu.

Dalam diam, Ia mulai menerka... ada sebagian dari dirinya yang telah berpaling.

Bukan!

Bukan pada anak itu...melainkan pada keangkuhan yang perlahan terkikis dalam pribadinya.

ya.. Ia sadari itu, kehadiran Baekhyun dan setiap hal kecil dari anak itu. mampu merubah semua dunianya. Sebelumnya ia hanya meyakini, Baekhyun hanyalah salah satu dari obsesinya.

namun waktu yang berselang... membuatnya sadar, Anak itu lebih dari hidupnya.

"Ingatkah kau..." Raja Silla itu kembali merunduk mendekati telinga Baekhyun. "Daun yang gugur kala itu... membawamu padaku" Lanjutnya lagi, kembali tersenyum seakan tak pernah puas... memberi senyum hangatnya untuk mentari senja yang perlahan menyeruak dari balik jendela kayu itu.

.

..

.

Beberapa Jam kemudian

Dua pasang obsidian saling beradu.

Tak terdengar sepatah katapun dari masing-masing pemiliknya, namun temaram lilin penerang di antara keduanya. Seakan mampu melugaskan... ada kehendak lain dalam mata itu.

Dan dua pria tinggi di belakang keduanya , hanya bisa berdiam diri mengawasi apa yang kelak terjadi di antara penguasa itu.

"Kau anggap semua ini lelucon?"

Salah seorang darinya mulai membuka suara, terdengar berang... namun tetap bertahan dengan kharisma dalam dirinya.

Chanyeol memandang lekat... Ia tau, dirinya sebagai seorang Raja... tak sepantasnya mendapat cerca semacam itu. Namun, Ia pun menyadari posisinya saat ini.

Pernah menyulut api dan penyesalan... hingga berbuah kebencian dari sosok pria di hadapaannya,tentu tak semerta mendapat hormat di mata Yong Hwa.

"Tidak..." Singkatnya, masih dengan menatap lekat wajah Penguasa Goryeo itu.

Yong Hwa berdecih. Merasa muak.. melihat pria yang sebenarnya musuh itu. Kini benar-benar berbicara tanpa penghalangpun dengannya.

"Kau menghancurkan hidupku!"

"Aku tau..." Sahutnya tenang.

"Dan kau melakukan hal yang sama pada Putraku! Kau menghancurkan—

"Tunggu.." Sela Chanyeol membuat Raja Goryeo itu bungkam.

"Bedakan antara dirimu dan Baekhyun" Gumamnya sambil menegakkan tubuh. "Aku tidak mencintaimu... tapi aku mencintai Putramu. Jadi aku tak melakukan hal yang sama" Jelasnya tanpa beban sedikitpun.

"Jadi bedakan itu" Lanjutnya lagi, seakan tak puas menyulut urat jengkel Raja bernama Yong Hwa itu.

"YACK! KAU BERMAIN-MAIN DENGANKU?!" Teriak Yong Hwa. Kesal pada akhirnya.

Chanyeol berdecak, lalu kembali bersandar pada kursinya. "Tidak.. tenanglah" Ujarnya pelan

Masih dengan nafas terengah itu Yongh Hwa mulai meremas kepalanya sendiri. "Mengapa kau lakukan semua ini padanya? Apa kau tau takdir apa yang telah kau buat HAH?!"

Raja Silla itu melirik, Ah! sungguh... Ia tak pandai merangkai kata untuk meluluhkan hati Pria seperti Yong Hwa. Akan lebih baik jika beradu pedang saja.. dibandingkan dengan semua hal yang bertele-tele seperti ini.

Tapi sekali lagi...

Ia tau posisinya saat ini, bukan dalam hak melakukan kekerasan semacam itu. karna Yong Hwa...

Calon 'Ayah mertuanya'. Pikir Chanyeol

"Mengapa kau selalu mengulang pertanyaan yang sama? Apa kau pikir aku tak bosan mendengarnya?"

Yong Hwa terbelalak geram. "APA?!"

Raja Silla itu mengerang frustai. "Baiklah... tenangkan dirimu!"

"Mengapa aku lakukan semua ini padanya? Tentu saja karena aku menggilai Putramu... Aku mencintainya. Lalu, Takdir apa yang telah kubuat?" Chanyeol menghela nafas panjang. sebelum akhirnya kembali memandang Yong Hwa.

"Aku menghamilinya. Dia mengandung anakku. Dan Aku Ayah dari bayinya. Takdir itu... Baekhyun pengantinku" Ujaranya percaya diri sambil menunjuk sebuah kamar, tepat pada bocah yang masih terlelap di dalamnya.

Sekali lagi, ucapan itu kembali membuat kedua matanya memerah menahan amarah."K-kau—

"Bersikaplah dewasa...tak lama lagi kau akan menimang seorang—

"TUTUP MULUTMU KEPARAT!"

Sehun yang sedari tadi mengawasi itu, memutuskan untuk melangkah mendekat dan menyetuh bahu Chanyeol. "Hyung... jangan semakin menyulut amarahnya. sampaikan apa yang menjadi tujuan kita" Bisik Sehun, mencoba membujuk.

"Bagaimana bisa menyampaikannya?! kau lihat... Pak Tua itu sama sekali tak mengerti bahasaku!" Protes Chanyeol setengah berbisik, merasa tak sabaran menghandapi Yong Hwa.

"APA KAU PIKIR AKU TAK MENDENGARNYA?!" Teriak Yongh Hwa lagi, sambil berdiri menggebrak meja.

"Yang Mulia... perkenankan hamba untuk menyampaikan maksud dari Raja kami" Sehun mencoba mengambil alih, membungkuk penuh hormat hingga Yong Hwa memutuskan kembali menduduki kursinya.

Sementara Chanyeol hanya berdengus sambil bersidekap.

"Kami sadar... akan kesalahan masa lalu yang telah Silla perbuat pada Goryeo. Tapi di sini, kami mencoba mengembalikan apa yang hilang dari—

Yong Hwa tergelak dalam tawanya. "Kau pikir itu akan mungkin? dengar anak muda... semua yang telah kalian renggut, mustahil untuk kembali"

"Meski tak sama... tapi kami akan berusaha mengembalikan kejayaan Goryeo. Membangun apa yang telah hancur, menjamin roda perekonomian Goryeo kembali berjakan dan bahkan memberi perlindungan lebih untuk penduduk Goryeo tanpa terkecuali.

"Tapi—

"Yang Mulia... saat ini penduduk Goryeo, memang sangat membutuhkan penopang. Tanpa semua bantuan yang datang... mereka tak akan mampu bertahan meski hanya 1 bulan ke depan" Ujar Kyuhyun tiba-tiba, tak bermaksd untuk meninggikan munafik.

Ia tau benar... Silla telah menghancurkan negrinya, hingga terjebak dalam kondisi dimana penduduknya mengalami kelaparan. Tapi jika menolak semua ini, keadaan akan semakin genting dan memburuk

"Kau dengar? semua saling menguntungkan bukan? Kau mendapat negrimu kembali dan aku menadapat Baekhyunku" Sela Chanyeol kembali terlihat tak sabaran.

Yong Hwa yang sebelumnya terlihat terkesima mendadak berang. "Aku tak akan menjual Putraku untuk Raja Gila seperti dirinya!" Serunya sambil bangkit lalu berlalu meninggalkan ruangan itu, tak ayal membuat Chanyeol terbelalak tak terima ditinggalkan seperti itu, bahkan Ia belum mendapat kepastian apapun.

"Kau masih beperikir seperti itu? tak cukup jelaskah apa yang kusampaikan padamu?!" Serunya berharap Yong Hwa kembali menarik mundur langkahnya.

Namun penguasa Goryeo itu terlihat semakin mantab mengacuhkannya.

"Yong Hwa!"

"Baiklah! Aku akan bermalam di sini! Kau dengar itu?!"

Malam kian berangsur pekat,

tak sedikitpun membujuknya untuk sekedar memejamkan mata, meski nyatanya kelopak itu terlihat lelah menahan kantuk.

Satu hal memang benar-benar membuatnya terusik, hingga membuatnya terjaga seperti ini.

namun Ia juga merasa tak memiliki jerih apapun untuk menyentak kehendaknya.

Dan hanya diam berdiri di balik jendela , mengamati sosok yang kini duduk menunggu putranya dalam ruangan hangat itu.

"Yang Mulia... anda membiarkan Raja Silla bermalam di sini?" Pria yang sedari tadi begitu setia terjaga bersamanya itu, mulai tergoda untuk bertanya.

"Apa kau pikir, setelah aku melarang dan mengusirnya... Manusia itu akan menyingkirkan batang hidungnya dari sini? Tch! Dia lebih rekat dibandingkan benalu"

Kyuhyun nyaris tersedak, dan hanya menunduk menyembunyikan senyum geli yang tiba-tiba muncul itu.

Entahlah... Ia hanya merasa, mengapa Yong Hwa mengerti pribadi Raja Silla itu.

"Yang Mulia.. ada baiknya jika anda beristirahat terlebih dahulu, biar hamba yang menjaga—

"Tidak! aku akan tetap terjaga di sini. Jangan sampai keparat itu menyentuh Putraku yang berharga" kekeuhnya sambil bersidekap, dan menatap tajam lurus kedepan.

.

.

Beberapa menit berselang, Kyuhyun kembali mendekat berniat sekedar menawarkan teh herbal untuk Penguasa Goryeo itu.

Namun yang terlihat..

Ia dibuat menghela nafas, begitu mendengar dengkuran keras Yong Hwa... dan Raja itu benar-benar tertidur dalam posisi duduk.

Memaksanya beralih memanggil Sooyoung untuk membawa selimut hangat, dan membuat Yong Hwa tertidur senyaman mungkin.

Membiarkan suasana tenang itu tetap terjaga hingga pagi menjelang...

"Sepertinya, Dia... tidak memiliki niat buruk apapun Yang Mulia"

.

.

.


'SRATT' 'KLANK'

Lesat panah berbaur dengan pedang yang beradu. Memerah semua jerit dan raung kesakitan itu seakan menyihir setiap orang menjadi haus darah... Penuh hasrat ingin membunuh dengan tebasan tajam itu.

"LAARIII BAEKHYUN!"

Lagi, teriakan tak bertuan itu kembali mengejarnya... Entah siapa... Tapi terus memaksanya untuk berlari secepat yang Ia bisa.

"LARI! MEREKA SEMUA AKAN MEMBUNUHMU! LARI!"

Baekhyun menggigil ketakutan, setiap penjuru seakan berputar... Hingga membuatnya jatuh tersungkur.

BRUGH

"Hks... APPAAAA!" Anak itu mulai menjerit, memandang nyalang ke sekitar... Jeritannya pun makin histeris begitu tiba-tiba langit berangsur pekat. Dan di sanalah semua serdadu penuh lumuran darah itu mengepungnya.

"Hks... APPAA!" Baekhyun kembali meronta dalam tangisannya, semua terlalu cekam. Mengapa dirinya hanya seorang diri di sini? Di mana Ayahnya... Sooyoung? Kyuhyun? Dan pria itu-

"AHJJUSSIIIIII!" Baekhyun kembali berteriak,yakin... pria itu selalu datang...kapanpun ia merasa ciut.

Namun setiap jeritnya seakan percuma,begitu semua serdadu itu makin mendekat. Dan dirinya hanya bertahan seorang diri di tanah yang amis itu, kembali tersedak jeritannya sendiri...kala menyadari semua sosok yang mendekat nyaris tak memiliki tubuh yang utuh.

"AAAHHHHHH!" Bukan main lagi... Betapa takut dirinya kali ini.

Meringkuk menyembunyikan kepala di balik kedua lengan kurusnya pun akan percuma... Jika erang dan raungan mengerikan itu tetap mengejarnya... Mengepungnya tanpa bisa mengais celah.

"Hks...A—Appaa! Ahjjussiii!"

TAP

Seorang datang mendekat... Tak tersadar olehnya... Tidak, sebelum tangan sosok itu terulur menyentuh kepalanya.

Membuat Baekhyun terkesiap."A-ahjjusi..." gumamnya yakin, tanpa melihatIa mencoba bangkit... Ingin melonjak dan merangkul sosok yang diyakininya sebagai Chanyeol itu.

Namun... Semua kembali tertepis.

Tak sekecap katapun terucap, diam membisu dengan tangan terkepal... Kala sosok bertopeng itu merunduk mendekatinya.

'Ahjjusi! Jangan melihat... Ada namja bertopeng...Dia jahat Ahjjusii!'

Kalimat itu kembali terngiang, ...

Kalimat yang pernah ia ucapkan kala raja Chanyeol menyelamatkannya, dan membawanya lari dari namja bertopeng yang membunuh semua prajurit Goryeo.

"P-pergi..." Baekhyun menggigil, tergagap kala melangkahkan kaki ingin menjauhi sosok itu.

Tapi pria bertopeng itu kembali mendekat... Tak terpengaruh sedikitpun pada jerit berangnya.

"AH! PERGII!" Baekhyun terjengkang, beringsut ketakutan dengan sikunya... Kala pria itu mengulurkan tangan ingin menyentuhnya.

"Baekhyun..." panggil sosok itu.

Bocah itu menggeleng... Semakin kasar memaksa tubuh kecilnya menjauhi sosok mengerikan itu. Tak terbaca apa gerakannya... Yang Baekhyun tau, Ia tak ingin pedang penuh lumuran darah itu turut menebas tubuhnya seperti yang persis tejadi pada semua prajurit Goryeo

"AHJJUSIIII! AHJUUUSSIIII!" teriak Baekhyun putus asa... Berharap Chanyeol lekas datang dan membawanya lari.

"AHJJUSS—

Tubuh mungilnya terlonjak. Tersedak payah oleh jeritannya sendiri... Begitu topeng terbuka... Dan sosok di baliknya menatap tajam dengan seringai terpatri.

Sontak semua ingatan itu kembali berbaur...

K-kyungsoo...'

'Dia! Raja Silla itu yang menculikmu dari kami! Membuat perang dan membunuh Goryeo! DIA RAJA SILLA ITU!'

Berpusar tanpa henti...

Memaksanya menangis tanpa bisa terisak...

"Pada akhirnya... Kau tau siapa diriku"sosok dengan visual Chanyeol itu mulai berbicara

Pedang terhunus... Membuat setiap darah kental yang terbalur, menetes mengenai wajah Baekhyun.

"Baekhyun..."

Semua hitam.. Tak berpendar cahaya sedikitpun. Dan tak terdengar kelakar dari harI yang mengerikan itu. Semua seolah terdengar bisu untuknya...

Selain,

Nafas berat darinya dan debaman tubuh kecil menghantam tanah...

'GASP'

.

.

Baekhyun bangkit terduduk. "HHAAHH! HH!..Hhh.." terengah payah... Dengan tangan terkepal erat... Hingga membuat semua jari lentik itu kian memucat pasi.

Peluh yang merembas di sekujur tubuhnya, menunjukkan betapa hebat penggalan mimpi itu menyentak alam bawah sadarnya.

Membawa lekat, bayangan semua sosok dalam mimpi itu, bahkan hingga sampai dirinya membuka lebar matanya seprti saat ini.

Mengapa semuanya terlihat begitu nyata untuknya... Seakan itu adalah penggalan ingatan dengan rahasia yang terkuak di dalamnya.

Baekhyun mengerjap nanar menyadari... Tampaknya dirinya hanya seorang diru di malam yang pekat ini, namun bocah itu mendadak berjengit begitu tangan mungilnya menyentuh sesuatu

Dan begitu menoleh...

Air mata itu... Spontan lolos dari pelupuk matanya.

Sejak kapan pria itu di sini dan terbaring di sisinya seperti ini, bahkan sebelah tangannya pun masih merangkul perutnya.

"A-ahhjusi" lirihnya seraya menyentuh tangan kekar yang melingkar di perutnya itu. Ia tak ingin menangis dan lemah seperti ini, hanya saja...Ketakutan dan rasa cekam itu yang memaksanya terisak seperti ini. Baekhyun hanyalah seorang bocah... Tak tau dan tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi saat ini. Ia hanya tau... Pria itu sosok pelindung dan penuh kasih ... Tapi mengapa mimpi dan semua ucapan yang pernah didengarnya... Bertolak jauh dari sosok Chanyeol?

"Ahjjusi.." panggil Baekhyun lagi... Terdengar serak kala pria itu hanya mengernyit, tanpa membuka matanya..

"Hnnn" gumam Chanyeol tak sadar, sambil mengeratkan rangkulannya di perut Baekhyun, seolah tengah menarik bocah itu semakin ke dalam pelukannya. Ah sungguh! baginya ini adalah malam terindah sejauh ini,

Ia bisa tertidur nyaman dan memeluk namja kecilnya seperti ini, tanpa gangguan sedikitpun dari Yong Hwa. "Baek—hyunnn" gumamnya lagi tanpa sadar.

Baekhyun masih mengerjap gemetar...Ia benci terisak seorang diri. Terlalu takut menerka...semua pemikirannya sendiri.

" A—hjjusi bukan namja bertopeng itu! Katakan Ahjjusi bukan Nama jahat itu...neee?" rengeknya serak sambil mengguncang lengan Chanyeol. Tapi pria itu sama sekali tak bergeming, tetap terbuai dalam lelap hebatnya.

Membuat bocah itu semakin tersudut, tak mendapat kepastian akan pemikirannya sendiri. Ia mulai beringsut, melepas pelan lengan yang masih merangkulnya itu. Entah apa yang terlintas dalam benaknya, Baekhyun hanya merasa Ayahnya, Kyungsoo dan Sooyung akan semakin tersakiti jika melihat dirinya berada sedekat ini dengan Pria itu.

Tidakkah Kyungsoo dan Ayahnya sangat membeci Chanyeol?

Ya... berulang kali Baekhyun mendengar berita sumbang akan sosok Penguasa Sillla itu.

Dan semua ingatan yang berangsur pulih, membuat anakn itu semakin goyah akan bisikan hatinya sendiri.

Baekhyun kembali beringsut menjauh... untuk berbaring di sisi ranjang yang lain.

Di manapun itu, asal... Ayahnya tak melihat dirinya berada dekat dengan Chanyeol. Karena itu akan menyakiti hati Ayahnya. Ya... Itu yang kini diyakini bocah mungil itu.


Esoknya

Ia berdecak pelan … terlalu gemas melihat namja kecil itu meringkuk di sisi ranjang… nyaris terjatuh jika melakukan sedikit saja gerakan.

Sejenak mengamati wajah menggemaskan itu, sebelum akhirnya mendekat lalu mengangkatnya secara perlahan. Tak banyak yang Ia lakukan selain mencium mesra pipi Baekhyun. Mengartikan kecupan hangat itu lebih dari sekedar perasaan terdalamnya, sesekali ia melirik ke sekitar… memastikan taka ada pengganggu ataupun Yong Hwa di sana… lalu kembali mencuri kecupan manis di bibir bocah itu. Ahh! Mengapa mendadak berdebar …

Hanya menciumnya…

Dan jantungnya serasa menggila seperti ini.

"Jangan jauh-jauh dariku" gumamnya, lalu kembali terpejam sambil mendekap Baekhyun kecilnya.

Namun Raja Silla itu tak pernah tau... hari yang cerah mendadak semasam ini. kala Baekhyun benar-benar membuka kedua matanya.

.

.

.

Benar-benar tak seperti biasanya...pagi yang seharusnya hangat dengan senyuman kecil Baekhyun. Kini terasa terik, begitu raut namja mungil itu berangsur semakin murung.

Tak jelas apa yang dipikirkannya kali ini, tapi... mereka semua yang melihatnya tau. Baekhyun tengah merubah sikapnya pada Penguasa Silla itu.

"Ada apa? Mengapa bersikap seperti ini?" Ujar Chanyeol heran, masih berusaha menyentuh bahu kecil itu.

Baekhyun tak menyahut, dan lebih memilih menarik bantal untuk dipeluknya erat-erat.

Sementara seorang dayang di sisinya hanya menghela nafas pelan, dan lebih memilih merapikan pakaian Baekhyun yang banyak tersingkap akibat tidurnya.

"Dia ingin bicara denganmu..." Bisik Sooyoung, sedikit membuat celah dari bantal tebal itu.

Namja mungil itu menggeleng, lalu kembali menenggelamkan wajahnya. sama sekali tak ingin diusik.

"Hei... aku di sini sepanjang hari hanya untuk menemanimu" Canda Chanyeol, berharap namja kecil itu beralih menatapnya, bukankah Baekhyun selalu merengek agar dirinya tak pergi meninggalkannya? lalu apa yang terjadi kini?

"Baek—

"Pergi Ahjjusi!" seru Baekhyun tiba-tiba dari balik bantalnya,

tak pelak membuat Penguasa Silla itu terbelalak lebar mendengarnya. oh ayolah! Ia tau bagaimana Baekhyun... dan sikap semacam ini tentu bukan Baekhyun kecilnya.

Chanyeol tertawa pelan. "Ah! kemana perginya bocah yang menangis kemarin hm? Benarkah kau menginginkanku pergi—

"NE! PERGI AHJJUSI!" Teriak Baekhyun lagi, kali ini lebih keras. dan mampu membuat penguasa Silla itu terdiam telak.

Namun tak satupun tau, di balik bantal itu... Baekhyun kembali terisak. Terlalu sedih mengucap kata sekejam itu. dan bocah itupun sepenuhnya tau, tak seharusnya berkata demikian.

"Baekhyun, aku benar-benar tak menyukai sikapmu yang seperti ini. Bangun... dan katakan apa yang sebenarnya mengganggumu" Tegas Chanyeol,sedikit meninggikan nada bicaranya.

Dan benar saja... dengan mata sembab itu, Baekhyun mulai bangkit terduduk. Menatap tajam meski sesekali bulir bening merosot cepat dari pelupuknya.

"Per—gi Ahjjussi!" Isaknya terbata.

"Ada apa?! aku tau.. ini bukan kalimat yang ingin kau katakan padaku" Chanyeol memegang pelan kedua bahu kecil itu, sedikit meremasnya,hingga tatapan Baekhyun hanya terkunci padanya.

"A—ahjjusii. Namja bertopeng itu?"" isak Baekhyun terbata.

Chyanyeol diam tercekat. Apa yang terjadi? mungkinkah seseorang mengatakannya? tapi meskipun seseorang melakukannya, Baekhyun tetaplah kekasihnya yang polos... tak akan percaya pada siapapun kecuali dirinya.

"Kau hanya mendengarku. Jangan melihat selain diriku" Bujuk Chanyeol, tersenyum sambil menyentuh wajah mengeras itu.

"AHJJUSI MENGUSIR APPA! AHJJUSI MENGHANCURKAN ISTANA BAEKHYUN!" Jerit Baekhyun tiba-tiba.

Chanyeol terbelalak lebar..

Inikah... yang terbaca oleh Baekhyun? Tidak!

Ketakutannya tak mungkin terjadi, Baekhyun tak pernah berpikir sejauh itu,

Tidakkah beberapa hari yang lalu semua masih baik-baik saja, bahkan hingga semalam pun... anak itu tetap merengek manja padanya.

Pagi ini... mungkin sesuatu yang salah terjadi. Anak itu pasti demam atau semacamnya.

"Kemarilah, biar kulihat apa kau sakit" Ujar Chanyeol, seraya menarik lengan itu mendekat bermaksud memastikan suhu tubuhnya, namun yang terjadi—

"PERGI AHJJUSII!"

Bentak Baekhyun terengah, membuat setiap pasang mata dalam ruangan itu makin terperanjat terkejut.

"B—baekhyun Hwangjja... jangan seperti ini. Apa yang terjadi eum?" Sooyoung mendekat, berniat menangkup pipi tirus itu. Tapi belum sempat menyentuhnya anak itu kembali menjerit dengan tangan terkepal.

"A—appa dan Sooyoung tinggal di tempat seperti ini. karena AHJJUSII!" Baekhyun kembali histeris, sesaat meremas bantalnya lalu melemparnya ke arah Chanyeol. "B—baekhyun tidak bi—sa melihat Eomma...karena Ahhjusi" Isaknya makin tergugu, menyadari Ia telah kehilangan sosok Ibunya.

Chanyeol terdiam, baru kali ini Ia merasa hilang kata... hanya di hadapan bocah sekecil itu.

Ia benar-benar terjebak bisu, menyadari sesak dan sesal itu serasa melebur dalam dirinya.

Ah! Ia bisa saja mengabaikannya, dan menganggap celoteh anak itu sebagai lelucon lugu... lalu membuat asumsi yang lain untuk mengelabui pikiran polos itu, seperti halnya yang selalu Ia lakukan kala itu.

Tapi kini... rasanya Ia tak berdaya melakukannya.

Seolah jeritan anak itu benar-benar menjadi titik lemahnya.

"Ahaha... Tidak, tidak seperti itu Hwangjjanim. Aku senang tinggal di sini... lihat semua pepohan di luar, semuanya sangat menyejukkan . Tak ada yang salah dengan tempat ini" Canda Sooyoung sembari membuka lebar-lebar jendela kamar Baekhyun. Memaksa namja mungil itu melihat keluar... tepat pada semua dahan yang tertiup angin pagi. "Dan... jangan bicara seperti itu. Biarkan Yang Mulia Ratu tenang di sana... Dia pergi karena sakit, seharusnya Baekhyun berdoa untuknya" Ujar Sooyoung lagi sambil melepas ikat rambut Baekhyun hingga tergerai bebas di punggung sempitnya.

"Bukankah benar begitu... Yang Mulia Chanyeol?" Lirik Sooyoung pada pria di seberangnya.

Chanyeol masih membisu, menatap kosong tanpa geming sedikitpun. Hingga tiba-tiba saja Pria itu bangkit lalu berlalu begitu saja meninggalkan Baekhyun.

"Y—yang Mulia?" Sooyoung berjengit, memanggil pria itu. Tapi yang terlihat Chanyeol tetap melangkah meninggalkan kamar itu. "Yang Mulia Chanyeol?!" panggilnya lagi, berharap pria itu kembali.

BRAAKKK

.

Pintu tertutup rapat, mengunci semua panggilan miliknya, Ah sungguh! Ia benar-benar tak berharap Chanyeol merubah sikapnya seperti ini. Tidakkah Dia yang paling mengerti Baekhyun.

"Aishh! apa yang terjadi sebenarnya?" Gusarnya seraya menghentak kaki.

Sesaat wanita itu berdengus, lalu beralih menatap Baekhyun.

Namun betapa terkejutnya Ia ... begitu melihat anak itu menangis, sambil mencengkeram selimutnya sendiri.

"B—baekhyun?" Panggilnya penuh iba, seraya merengkuh bocah itu, lalu membawa kepalanya agar bersandar di pundaknya.

Tak terdengar sahut kecil darinya, Baekhyun hanya menggelengkan kepala... Tanpa sedikitpun bernyali mengangkat wajah dari dekapan dayang itu.

"Sshhh..." desis Sooyoung berusaha menenangkan, berulangkali mengusap lembut kepala anak itu. Mungkin tak merubah apapun, tapi setidaknya Ia memahami bocah mungil itu.

"Jika alasan ini, karena sikap Yang Mulia Yong Hwa terhadapnya... Kau tak harus melakukan ini Hwangjjanim" bisiknya sambil menyeka keringat yang mulai merembas di tengkuk Baekhyun.

"..." Baekhyun tetap diam, membiarkan semua perasaan remuk itu meloloskan air matanya. Baekhyun tak mengerti mengapa Chanyeol yang tiba-tiba pergi itu membuat dadanya sesakit ini.

"Sa—kit Sooyoung" lirih Baekhyun.

"Apa? katakan dimana yang sakit? perutmu sakit?" panik Sooyoung, sambil menjauhkan pelukannya lalu menelisik tubuh mungil itu.

"Di sini sakit Sooyoung" Gumam Baekhyun lagi sambil memegangi dadanya. Ia hanya memandang wanita itu sekilas lalu kembali meringkuk di ranjangnya.

"..." Sejenak dayang itu terdiam, menyadaria betapa miris dua hati yang dilihatnya kini. Tak terjangkau... meski nyatanya keduanya saling menginginkan satu sama lain.

"Kembalilah...jangan meninggalkannya seperti ini" Gumam Sooyoung lirih saat memandang pintu yang tertutup rapat itu.

.

.

.


"YONG HWA!"

Pria itu nyaris terlonjak begitu seseorang tiba-tiba berteriak, mengacaukan santap paginya kala itu.

Lalu berdecak, saat tau siapa yang datang kali ini. "Tch! aku berharap kedatanganmu ini... untuk mengucap salam perpisahan—

"APA YANG KAU KATAKAN PADANYA?!" Sergah Chanyeol tiba-tiba, tak ingin berbasa-basi. Karena memang semua terlalu kacau untuknya.

Yong Hwa mengernyit, sempat menahan murka melihat sikap tak pantas Raja Silla itu."Apa maksudmu?!"

"Kau—" Chanyeol terengah... tak tau harus mengutarakan dari mana, tapi Ia benar-benar tak bisa terima Baekhyun yang tiba-tiba menolaknya seperti itu. "Kau mengatakan semuanya padanya? Anak itu tak bisa tanpa diriku! mengapa kau membuatnya membenciku HAH?!" geramnya ingin mencengkeram kerah Raja Goryeo itu, namun tertahan begitu Sehun menghadangnya.

"Hyung... kendalikan dirimu, jangan mempersulit keadaan saat ini"

Yong Hwa yang sedari tadi berusaha mencerna amukkan itu, kini berlahih terkekeh pelan. sepertinya Ia tau apa yang terjadi saat ini. Mungkinkah ingatan Putranya telah kembali?

"Pada akhirnya kau akan menuai semuanya" Kekeh Yong Hwa sambil meletakkan cangkir gioknya. "Putraku... bukan lagi bocah yang selalu kau butakan pikirannya hingga menjadi sepolos itu. Ingatannya mungkin telah kembali... ini akan menjadi mudah untukku memisahkaannya darimu. Jika Baekhyun telah menyadari siapa kau sebenarnya" Lanjutnya lagi sambil memutar tubuh membelakangi Chanyeol. Memandang lepas... semua dedaunan yang mulai berguguran di luar sana.

Chanyeol mengepalkan tangan kuat. Ia tau... sejatinya menemui Yong Hwa tak akan memberi ketenangan apapun untuk hatinya. Mungkin pria itu akan semakin terpingkal melihatnya nyaris terpuruk seperti ini. Tidak!

Ia tak mungkin kehilangan Baekhyun kecil yang selalu merengek padanya itu.

"Anak itu tengah sakit Hyung, Dia tak mengerti apa yang tengah diucapkannya" Bisik Sehun, berusaha menenangkan.

Hingga tiba-tiba seorang dayang datang menyela... terlihat terengah dan panik kala menatap dua penguasa di dalam ruangan itu.

"Y—yang Mulia" Ujar dayang itu. Entah ditujukan kepada siapa... tapi matanya menatap kedua penguasa itu bergantian.

"Ada apa?.. mengapa kau berlari seperti itu?!" Seru Yong Hwa, cemas jika itu berhubungan dengan Putra kecilnya.

"B—Baekhyun Hwangjja... terjatuh, saat memaksa ingin berjalan keluar dan—

"APA?!" Teriak Yong Hwa murka. "BAGAIMANA KAU MENJAGANYA HAH?!"

Chanyeol tak berucap apapun. Raja Silla itu memilih berlari menuju kamar Baekhyun, tak tau apa yang terlintas dalam benaknya.

Ia hanya takut... sesuatu yang tak diinginkan seperti kemarin, kembali terjadi.

,

.

BRAKKK'

"BAEKHYUN!"

Namja kecil itu terlonjak, membuat buah apel di tangannya terjatuh begitu saja karena terkejut.

dan makin membulatkan mata lebar, begitu pria itu mendekapnya erat.

Apa yang terjadi? Mengapa Ahjjusi itu mendadak bersikap seperti ini?

"Di mana yang sakit?" Chanyeol mulai merenggangkan dekapan itu untuk menatap bocah mungil itu. Tapi Baekhyun hanya hanya mengerjap bingung, tanpa ringis apapun.

"Perutmu sakit?" Tanya Chanyeol sambil menyingkap pakaian Baekhyun.

Anak itu menggeleng, lalu menyentak tangan Chanyeol dari perutnya. Lalu menatapnya kesal.

"Benar?.. perutmu tidak sakit?"

"..." Baekhyun mengangguk pelan, membuatnya menghela nafas lega. Tapi tak berselang lama, Pria itu kembali menelisik bagian tubuhnya yang lain.

"Kaki yang sakit?" Chanyeol beralih mengangkat sebelah kaki anak itu, memastikan tak ada memar di sana. Dan Baekhyun kembali menggeleng.. bahkan semakin bingung dengan sikap tak biasa itu.

"Ahjuss—

"Dimana hn? Wajahmu? kepalamu?" Raja Silla itu menyentuh wajah Baekhyun, memalingkannya ke kanan dan ke kiri. Masih cemas... anak itu mendapat luka atau memar di tubuhnya.

"AHJJUSSI!" teriak Baekhyun jengkel.

"Apa? kau jatuh dimana?"

"BAEKHYUN TIDAK JATUH!" Jeritnya gusar.

"Kau terjatuh?"

"TIDAK!"

Chanyeol mengerjap. "Tidak?" Ujarnya seraya menegakkan tubuh.

"..." Tak ada jawaban selain mata mendelik tajam.

Lama... Ia memandang wajah Baekhyun, barulah Ia sadar... tak ada raut kesakitan apapun. Membuatnya menutup mata dan terkekeh pelan. Yakin... Dayang itu telah menipunya.

Sejenak, Ia kembali memandang paras manis itu... sebelum akhirnya meraih tangan mungilnya dan digenggamnya penuh.

"Aku—"Ujarnya seraya menyingkirkan anak rambut yang menjuntai di pipi Baekhyun. " Meninggalkan istanaku sendiri, hanya untuk bersama denganmu di sini" Lugasnya, entah anak itu mengerti maksud hatinya atau tidak.

"Apapun yang kau inginkan akan kupenuhi. Tapi kumohon jangan berpaling dariku" Ucapnya lirih, kali ini sembari membawa kepala Baekhyun agar bersandar di dadanya.

"Jangan membenciku... Baekhyun" Tekannya, begitu merasakan Baekhyun ingin menolak pelukannya. "Ku mohon..."

Bocah itu terdiam, membiarkan tangan besar Chanyeol membelai kepalanya berulang-ulang.

"Ahjjusi..." Gumam Baekhyun

Membuat Chanyeol tertegun, seakan benar-benar merindukan panggilan lirih itu. Ah! Ia terlalu lama menunggu Baekhyun memanggilnya seperti ini. Dan berharap... anak itu tak kembali mengungkit kesalahannya di masa lalu.

"Hn...? Apa yang kau inginkan... kataka—

"Burung.."

Raja Silla itu mengernyit heran. "Burung?" Ulangnya memastikan.

"Baekhyun ingin menangkap burung di luar" jelas Baekhyun sambil menunjuk keluar jendelanya

Sepersekian detik Ia mengerjap, tak banyak yang Ia tau dari perubahan sikap bocah itu.

Tapi setidaknya, Baekhyun tak kembali menyentak untuk menolaknya seperti beberapa saat yang lalu.

"Baiklah... naik punggungku" Chanyeol beralih menepuk punggung lebarnya.

"Tangkap yang banyak... nehh?" Baekhyun mendadak ceria, kala bergelayut di punggung kekar itu.

"Berapapun yang kau minta akan kulakukan..." Chanyeol mencium pelan lengan mungil yang melingkar di lehernya itu.

'kekasihku...' Gumamnya dalam hati, seraya beranjak ringan, membawa namja mungil keluar dari kamarnya, melompat melalui jendela di sisinya.

.

.

.

Sementara itu di tempat yang sama...

"Kau seharusnya tak membiarkannya berjalan seorang—

Gerutu kesal Raja Goryeo itu mendadak terhenti, begitu membuka pintu dan mendapati kamar putranya kosong. "Baekhyun?" Panggilnya kalut seraya mengacak selimut dan menelisik kolong ranjang di bawahnya.

"BAEK—

"Mohon maaf Yang Mulia" Gumam Sooyoung sambil tertunduk menahan senyum.

"Baekhyun Hwangjja tengah bermain bersama Raja Silla" Lanjutnya seraya melirik keluar jendela dan melihat dua sosok di tengah padang rumput yang lebat itu.

"Apa?! Lalu apa yang kau katakan padaku? Baekhyun terjatuh bukan?!"

Sooyoung terkikik. Tak menjawab apapun selain kaki menghentak karena antusias. Ah sungguh! ia tak pernah menduga... rencananya, mengecoh Chanyeol akan berbuah semanis ini, lihat... anak itu tak lagi menyentak marah pada Chanyeol. Bahkan keduanya benar-benar pergi bersama menuju hamparan rumput ilalang dan bunga soba di luar. Karena sejatinya Ia tau, Baekhyun tak bisa terpisah jauh dengan Raja Silla itu.

"Mengapa kau hanya tertawa? Bagaimana dengan Putraku?!"

Sooyoung terdiam, berpikir keras... bagaimana cara meredam amukkan Yong Hwa setelah ini. Karena mustahil Ia mengatakan, jika itu hanya muslihatnya agar Chanyeol menemui Baekhyun. Dan memperbaiki suasana diantara keduanya.

"SOOYOU—

"Ah! Hamba mendengar petuah dari Yang Mulia Ratu. Agar Baekhyun Hwangjja tetap bersama Raja Silla itu"

"Apa? Seohyun?" Yong Hwa mengernyit tak percaya mendengar dayang itu berbicara mengenai mendiang istrinya.

"Neh! Ratu Seohyun mengatakan...Baekhyun Hwangjja harus menikah dengan Raja Silla" Lanjut Sooyoung mengarang.

"APA?!"

Sooyoung meringis sambil mengangkat sedikit ujung gaunnya. "H—hamba hanya menjalankan perintah Yang Mulia Ratu"

"MUSTAHIL MENDIANG ISTRIKU—

Lagi, Ia kembali terbungkam bisu... begitu memutar tubuh dan dayang itu telah melarikan diri entah kemana.

"KYUHYUN! PANGGILKAN CENAYANG UNTUKKU!"

.

.

.

.


"Di mana Ahjjusii?! Tidak ada burung yang mendekat!" Gerutu Baekhyun sambil mencabuti rerumputan di sisinya karena kesal, tak ada seekor burungpun yang mendekati jebakannya.

Chanyeol hanya meliriknya, lalu berdecak gemas melihat anak itu berulang kali mengerucutkan bibir mungilnya. Tak lagi terlihat pucat... namun merah merekah, seranum buah cherry.

"Kemarilah.." Ujar Chanyeol sambil menarik lengan Baekhyun agar mendekat. "Pelankan suaramu dan biarkan sepoi angin ini membawa burung itu mendekat" Bisiknya seraya menunjuk seekor burung kecil, di balik seresah rumput.

Dan benar saja—

Baekhyun mengerjap antusias melihat pergerakan kecil mendekati jebakan miliknya.

"Ahjjusi! tarik Ahjjusi!" Seru Baekhyun tak sabaran, meminta Pria itu lekas menarik talinya. "Cepat Ahjjusii!"

Dan—

HUP'

seperti yang diharapkannya... jebakan itu terkatup, memerangkap seekor burung kecil di dalamnya. Tak pelak membuat Baekhyun berlari riang mendekatinya, tanpa peduli...perutnya belum sepenuhnya pulih.

"Yyaa! jangan berlari seperti itu!" Seru Chanyeol gusar, seraya mengejar namja kecil itu.

"Ahjjusi! lihat burung ini! Baekhyun menangkapnya!" Celotehnya antusias, seraya menangkup burung kecil itu dan menunjukkannya pada Pria di sisinya.

Chanyeol terkekeh . "Kau menyukainya?" gumamnya, tak jemu menatap wajah menggemaskan itu.

"Neh! " Sahut Baekhyun cepat. "Baekhyun bisa membawanya pulang?" Tanyanya, sambil berulang kali mengelus kepala makhluk kecil di tangannya.

Tapi Baekhyun tak sadar... Pria dewasa itu sedari tadi menahan hasratnya untuk menyentuhnya lebih, dan semua semakin menggila kala Ia mengerjap bahkan berbicara selucu itu.

"Ahjuss~mpfthhh" Baekhyun terbelalak lebar, begitu pria itu menciumnya telak. Melumatnya intens hingga terdengar kecipak saliva dari keduanya

"Nnnh~" Bocah itu kembali melenguh, kala Chanyeol mendorongnya secara perlahan hingga terbaring nyaman di atas rerumputan.

"Mpfh—Ahjjumpfthh"

"keluarkan lidahmu.." Bisik Chanyeol di sela-sela pagutannya.

Baekhyun mengerjap, dan terlihat patuh membuka bibirnya... namun belum sempat Ia mengeluarkan lidah kecilnya.

Raja Silla itu tampak tak sabaran menyergapnya, menghisapnya kuat... hingga lidah kecil itu tertarik keluar.

"Mhh—hnggg! NNH!" Baekhyun terlonjak dengan tubuh menggigil, merasakan banyak saliva miliknya terhisap keluar. Tubuhnya meremang hebat, dengan hanya sentuhan bibir itu... membuatnya terlena hingga tak menyadari burung yang sempat tertangkap, lepas dari tangannya.

Satu jilatan pelan di bibir tipis itu, mengakhiri pagutan basahnya...

Ia tersenyum puas, melihat namja kecil itu terengah payah di bawahnya.

Terlalu lama Ia menahan hasrat, sampai-sampai membuatnya gila jika tanpa menyentuh ujung jarinya sedikit saja. Dan jika bukan karena nuraninya... Mungkin dirinya akan benar-benar menyetubuhi anak itu detik ini juga.

Namun hati itu menahannya...

Baekhyun belum sepenuhnya pulih, tentu Ia tak bisa begitu saja lepas kendali...atau—

dirinya sendiri yang menyesal.

"Ngh!"

Namun... kedua lengan mungil yang menarik –narik pakaiannya sendiri karena gerah itu, mengacaukan pikirannya dan bahkan mungkin kembali menyulut hasratnya

"Pa—nas Ahjjusi!" Rengek Baekhyun masih berusaha membuka pakaiannya sendiri, panas di luar cukup terik. Dan Chanyeol membuatnya bertahan di udara sepanas ini... dengan tubuh setengah tertiindih. Tentu bukan main lagi, peluh yang merembas dari tubuhnya.

Chanyeol berdecak, Ia berusaha menahan diri di sini... tapi anak itu seakan bermain api dengan birahi miliknya. Ah! bagaima jika Ia lepas kendali dan menyerang bocah ringkih itu.

"Sssh! jangan membukanya" Chanyeol kembali menutup rapat Pakaian Baekhyun, sempat Ia meneguk ludah payah kala melihat nipple anak itu.

"PANAS AHJJUSI!" Jerit Baekhyun jengkel, kembali menyentak tangan Chanyeol dan berharap seluruh pakaiannya tertanggal. Oh sungguh! tak taukah Raja Silla itu... dirinya bak mandi keringat saat ini.

Baekhyun tak ingin mendengar apapun lagi. Sikap Chanyeol terlalu menyebalkan untuknya, Ia memaksa bangkit lalu—

SRAT...SRAT

Anak itu begitu cekatan melepas satu persatu pakaiannya, hingga hanya menyisakan sepotong kain penutup genital mungilnya.

"Baek—

Pria itu tergagap. Kemana lagi, Ia harus membuang semua pikran liar itu... jika tubuh mulus, penuh kilap peluh itu benar-benar menggoda untuk di cumbu.

Terlebih...garis selangkang, yang nyaris tak tertutup itu... membuatnya semakin menggila tak mampu menahan birahinya sendiri.

"AHJJUSSII!" Anak itu mulai menjerit, dan Ia hanya bisa memantung memandanginya menghentak kaki seperti itu.

"BURUNGNYA LEPAS! SEMUA SALAH AHJJUSI!" Teriaknya lagi, sambill merangkak.. menelisik semak disekitarnya, demi mencari makhluk mungil itu. Tanpa tau... geliat dari tubuh nyaris telanjangnya, semakin membuat Pria dewasa itu menegang parah.

"AHJJUSSIII!"

Pria itu terengah, namun tetap mengambil pakaian namja kecil itu... membawanya mendekat untuk kembali dikenakannya di tubuh Baekhyun.

"Kau lihat perutmu?" Ujarnya seraya menarik pinggang Baekhyun.,.. mendekat.

Bocah itu mengerjap, lalu menunduk untuk melihat perutnya.

"Apa yang berbeda?" Tanya Chanyeol kali ini sembari, memasukkan tangan kanan Baekhyun ke dalam lengan pakaiannya sendiri.

"..." Baekhyun terdiam, meski sebenarnya tau...perutnya memang membuncit saat ini.

"Jangan biarkan Dia kedinginan"

Bocah itu tertegun, Ia tau benar apa maksud Chanyeol kali ini. Lalu mengangguk patuh... saat Raja Silla itu menyematkan satu persatu pakaiannya, hingga kembali tertutup utuh.

Sejenak Ia memandang wajah Baekhyun, lalu menyentuh tengkuknya untuk dibawanya mendekat.

Chupp'

Ia mengecup pelan bibir mungil itu

"Kau tau..." Bisiknya seraya menyeka bibir Baekhyun. "Aku terlalu mencintai bocah sepertimu" Lanjutnya lagi, masih tak jemu memandangi wajah yang kini makin mempesona begitu angin menerpa surai hitamnya.

"..." Baekhyun tertunduk. Merasa asing dengan debaran yang tiba-tiba berdetak keras di dada kirinya.

"Kita pulang?" Chanyeol merunduk... demi mengamati wajah yang tertunduk itu.

Baekhyun beralih mengangkat wajah, ingin kembali menggerutu kesal karena tangkapannya yang lepas. Tapi urung Baekhyun lakukan...begitu tangan besar itu menggengam jemari kecilnya. Membuatnya mengangguk patuh mengikuti langkah Pria dewasa itu.

"ingin aku menggendongmu?" Tawar Chanyeol seraya mengulurkan tangannya, tapi Baekhyun menghindar seraya menggelengkan kepala.

"Baekhyun ingin berjalan bersama Ahjjusi" Lirihnya, dan Chanyeol hanya berdehem menyetujuinya... setidaknya semua yang mengalir saat ini. Benar-benar membuatnya tenang. Beruntung untuknya... Ia terbiasa menahan hasrat itu.

"Ahjjusi..."

Panggil Baekhyun begitu keduanya, melangkah di bawah pepohonan Ginko... sepoi angin yang berhembus membuat daun-daun kekuningan itu mulai berjatuhan di sekitarnya. membujuk senyum Raja Silla itu terulas hangat... menikmati waktunya.

"Hn..." Gumamya, sambil memainkan jemari mungil itu dalam genggamannya.

"Ahjjusi mengapa memakai topeng itu?"

DEG

Chanyeol stagnan, tak berharap anak itu kembali mengungkit semuanya di sini.

Tak ada jawaban, membuat Baekhyun menengadah demi menatap wajah gugup Pria itu.

Chanyeol mendadak bersimpuh, lalu memegang kedua lengan Baekhyun. Tak sekcap katapun terungkap... Pria itu hanya memandang Baekhyun nanar.

"Ahjjusi... mengapa menghancurkan istana Appa?"

Raja Silla itu tertunduk. "Baekhyun..." Bisiknya serak.

"Aku menyesalinya..." Ungkap Pria itu. "Aku benar-benar menyesalinya.."

Wajah tegas itu kembali tertunduk, begitu kontras dengan pribadinya... kini Ia terlihat ciut...tak berharap bocah itu kembali menyentak dan menolaknya, terlebih membencinya.

Ia tak pernah menduga sebelumnya, bocah mungil yang sempat ingin dijadikannya tawanan bahkan budak pemuas nafsu itu.

Benar-benar mengubah semua hidupnya, membuatnya takluk bahkan takut akan kata kehilangan.

"Apa yang ingin kau tuntut...dari semua penyesalan itu? Aku bersedia melakukannya"

Baekhyun hanya diam, membuat Pria itu semakin kebas dengan perasaannya sendiri. Ia tau... Baekhyun bukan lagi kekasih kecilnya yang lugu seperti dulu.

Anak itu... mungkin sedikt demi sedikit mulai menyadari jati dirinya.

tapi bagaimana dengan perasaan Baekhyun terhadapnya?

"Kau bisa menarik pedangku—tebas kakiku jika kau ingin menuntut balas atas Ayahmu Baek—

"Saranghae... Ahjjusi"

Chanyeol terbelalak lebar mendengarnya, ia mengangkat wajah demi menatap anak itu dan—

Chup'

Ia kembali dibuat tergagap, begitu Baekhyun mencium keningnya.

"Jangan berbuat jahat lagi... ne?" Ucap bocah itu sambil mengulas senyum manis. "Jangan sakiti Ayah dan Sooyoung lagi"

Tak bisa ditepisnya... semua terlalu meluap untuknya.

Hingga dirinya mendekap tubuh mungil itu, Ia masih tak sanggup untuk berkata-kata.

Hanya mampu menghirup dalam-dalam tengkuk anak itu, meresapi aroma tubuh yang membuatnya tenang bahkan selalu merindu.

"Tidak.." Bisik Chanyeol. "Aku akan menjaganya..."

Baekhyun terkikik kecil, lalu mengusap-usap kepala yang masih bersandar di dadanya itu.

"Menjagamu...dan Putraku yang tumbuh di dalam perutmu" Lanjut Chanyeol lagi, semakin tak ingin melepaskan pelukannya.

"Ahjjusi...terlihat kecil jika seperti ini" Celetuk Baekhyun, masih antusias mengusap kepala Pria yang bersimpuh ..untuk mendekapnya itu.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

beberapa saat setelahnya

"Hidup bersama?"

Baekhyun mengerjap, lalu kembali bersandar di punggung Pria yang menggendongnya itu.

"Hn... aku akan membawamu untuk hidup di Silla" Gumam Chanyeol, mengulas senyum kala berjalan menyusuri tepian danau.

"Menikahlah denganku.." Lanjutnya lagi, sedikit melirik namja kecil di belakangnya.

"..." Baekhyun terdiam. Tidakkah dirinya baru saja mendengar kalimat penting di sini? atau... Ia hanya salah mendengar.

"Menikah?"

Chanyeol terkekeh.."Ya..."

"Dengan Ahjjussi?"

"Hn..."

Baekhyun kembali diam, menerka... mugkinkah semua itu terjadi. Sejenak anak itu mengedarkan pandangan ke sekitar, dirasa sepi... Baekhyun kembali merangkul leher Chanyeol dan berbisik lirih.

"Menikah dengan Ahjjusi untuk menjadi 'istri'?" Lirihnya.

Ada alasan lain, untuk tersenyum kala mendengar celoteh polos itu. Ah! Ia benar-benar menyukai Baekhyun kecilnya yang lugu.

"Hn...tentu saja, bukan sekedar selir untuk—

"Tapi Ahjjussi bilang... Baekhyun tidak bisa menjadi istri, karena namja"

Chanyeol beralih menghentikan langkahnya. Senja... sepertinya mulai menjelang.

Tampak daun yang berguguran itu, terlihat semakin memikat dengan cahaya yang kemerahan .

"Kau mengandung anakku... tentu saja menjadi istriku...bahkan Ratu untukku dan rakyatku" Lugas Chanyeol, sebelah tangannya yang tak menahan tubuh Baekhyun mulai terulur untuk menangkap, sehelai daun yang gugur.

"Seperti daun ini..."

Baekhyun mengerjap, begitu Pria itu menunjukkan daun Ginko untuknya...

"Kau membuatku jatuh... mencintaimu"

Tak ada celoteh lain yang terucap, Baekhyun hanya menggesekkan hidungnya di punggung Chanyeol menyembunyikan wajahnya yang tersipu. Anak itu tak tau banyak tentang ungkapan hati...

Tapi ia memang merasa... menerima banyak cnta dari sosok penguasa itu.

"Uhmm"

Cukup lama... Ia menghabiskan waktu di luar bersama namja kecilnya, hingga tak menyadari waktu telah merajut petang.

Dan bocah itu, masih begitu antusias bersenandung lirh di atas punggung kekarnya.

Tampak seorang wanita di ujung sana, berjalan menghampirinya... Ah! Ia terlalu banyak berhutang budi padanya. Dan seorang pria di belakangnya itu?

Membuatnya berdecak malas, yakin Pria itu akan kembali mengamuk dan banyak bicara setelah ini.

"Ahjjussi..."

"Hn..."

"Apa Baekhyun akan memakai pemerah bibir saat menikah?"

Chanyeol tersedak tawanya sendiri, sedikit menoleh ke belakang tepat pada bocah yang masih mengerjap menunggu jawaban darinya.

"Bahkan tanpa semua riasan itu... kau tetap yang paling cantik di mataku dan Silla"

.

.

.

T.B.C

.

.

.

.

Next Chap

"Aku tak ingin mersetuinya"

Wanita itu mengeras, sempat ingin menyentak Penguasa Goryeo itu. "Tapi-

"Baekhyun satu-satunya pewarisku! Bagaimana mungkin aku menyerahkannya pada kalian!" sentak Yong Hwa

"Tuan muda... jangan seperti ini" Bisik Je Ni, mencoba membujuk.

"Ugh! Tidak mau!" Jerit Baekhyun, tetap memaksa bertahan di atas pangkuan Raja Silla itu. Tak peduli semua tatapan petinggi kerajaan tertuju padanya.

"Ahjjusii! usap perut Baekhyun!" Rengeknya, seraya mengguncang lengan kekar itu. Memaksa Raja itu lekas mengelus perutnya yang besar.

"Ahjjussiii!"

"Sshh... Aku akan melakukannya, tenanglah"

Allohaaa Gloomy hadir lagii bawa chapter 12

ah lama tak berjumpa, maaf minggu minggu kemari sempat drop karena pekerjaan sampai ga bisa up ff.

Tapi sekarang... yey! Baekkie dan Yeol Ahjjusi akhirnya hadir menemani Chingu readers semuaaa.

Jangan lupa review neeee

Karena Review = Semangat buat Gloomy

besok minggu yang update Love Sick... okay

-IG: gloomy_rosemary

oh iyaaa

jangan lupa mampir ke akun ade aku yang satu ini: loeybee614

kali aja/barangkali suka sama ff nya -My Mistake dan Baek2

Jangan lupa mampirr dan membaca ffnya yahh...setelah membaca jangan lupa review neee... Love You

Dan seperti biasa, Gloomy akan menyertakan nama reviewer di chap sebelumnya,

Untuk:

Marshamallow614, Aisyah304 , Ice Freya , veraparkhyun, ByunSoo614 , restikadena90, Tiara696 , Sparkbyunb , baekbygirl , yuanitadian, AdisKMH , 270492, hunhanshin, LyWoo , socloverqua , Chanbaek769 , Shengmin137, 90Rahmayani, AlexandraLexa , baekpie461, luv110412 , dyeo0102 , isnadhia , vhyo3107, Chanchan , Jusniati EXO-L , bee , inchan88, lee da rii, Anuchanyeoltegan, dytdyt, chan92, baekachu, dinda94, Incandescence7 , bbhyn92, BaekHill , Nimas736 , aruniaruni , myzmsandraa99 , chanhyunie , Jeyjong, Fitri MY , Eun810 , ambar istrinya suho, LightPhoenix614 , vryeol, baby baek , Alivia625 c, Mutmainnah, park yeolna , Annisa Lee , daebaektaeluv , TobenMongryong , sehunluhan0905 , yehet98, anggitasativa , Byunsilb , khakikira, Okiniiri-Hime , ChanlovesBaek , LUDLUD , elfueki , YvkariKim , Hunnieh , Elfina832 , daeri2124 , Si imay, Parkbyun-ssi , sintaexolsinta1, yousee , fallingforyeol , monscbhs , byankai , Park RinHyun-Uchiha, Riinnchan , nisahyun, CB046194 , Yana Sehun94 , n3208007, selepy, KIMCHIJIGAE, honeybabies61 , Anisya Kinanti , dianarositadewi4 , indiv 321 , Keiko Yummina , Chanbaek137, Ju , Poppy20 , BananaOhbanana, Markeu Noona , Yeolliebee , meliarisky7, metroxylon, littlebyun, Dodio347 , zahrazhafira335 , xxjjwwminorealllpcy , Yana Sehun94 , Chanbaekaddict , babybyun06 , Aisyah6104, IpahPyromaniac , Bekuni458, baek55, byunlovely, fani , Byunee04 , Ghinaenaa , vkeyzia23 , Chanbaekshipper , jakun nya baek , iitanakemamake , yellowfishh14, reall pdl , minami Kz , narsih hamdan, Nurfadillah, anonin, dan All Guest

Terima kasih sudah menyempatkan untuk revieww

jangan lupa review lagi nee...

Saraaaanghaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaeeeeeeeeee

AAnnyeeeeeooooooooooooooooooooooooooooooooongggg