.
.
The Case Solver
"Siap menjalankan misi pertama?"
.
.
Story Line by LyxCrime03
Chapter Bonus 01: Fang's Past
.
Genre: Fanfiction, Thriller.
.
.
[Normal/Author's POV]
Nama aslinya Pang, seorang anak laki-laki dengan rambut yang berantakan berwarna ungu tua. Mempunyai kakak bernama Kaizo.
Menghabiskan waktu untuk bermain dan bergembira bersama keluarga adalah kesukaannya. Jadi, pada saat itu ia dan keluarganya pergi mengunjungi sebuah Mall yang terbesar di Kuala Lumpur.
"Jalan-jalan~~" serunya sambil menggenggam erat tangan kakaknya, Kaizo.
Mereka bermain, berbelanja, makan siang bersama-sama dalam satu ikatan yang hangat. Mereka sangat bahagia. Tentu saja, Ayah Pang adalah Jenderal Militer yang jarang sekali bisa meluangkan waktunya, sedangkan ibunya adalah seorang Pegawai pemerintah. Pang sangat bahagia bisa menghabiskan waktu seharian bersama satu keluarga kecilnya.
Namun kebahagiaan dan kehangatan itu tak bertahan lama. Saat Ibu Pang tengah mengantri untuk membayar belanjaan, tiba-tiba peluru melesat menembus kepalanya. Ibu Pang langsung ambruk menghantam lantai, membuat Pang dan Kaizo panik. Dan begitu juga yang lainnya, satu-persatu pengunjung mulai diserang dan tewas ditempat. Kaizo langsung menarik Pang untuk bersembunyi dibalik meja kasir.
"Abang... A-apa yang t-terjadi?" tanya Pang sambil terisak. Darah mengotori baju dan sepatu yang dikenakannya. Kaizo mengusap rambut dan pipi Pang dengan lembut, berusaha membuat adiknya merasa nyaman.
"Sshh... Jangan menangis. Kita akan selamat, okay?" ujar Kaizo seraya memeluk adiknya.
Bukan hanya bunyi tembakan, namun bunyi ledakan juga terdengar. Pang semakin khawatir dan hampir terkena gejala panik jikalau tak ada Kaizo disana.
Hingga malam hari, mereka masih bertahan. Pang sudah tertidur dipangkuan Kaizo, namun Kaizo tak turut tertidur. Ia lalu keluar dari meja kasir itu untuk mencari bantuan. Ia berjalan cepat menuju pintu keluar Mall yang disana sudah ada banyak mobil polisi. Ia begitu bahagia melihat itu, namun ia tak membawa Pang bersamanya karena ia tak ingin membahayakan Pang jikalau ia tertembak nantinya.
Saat ia keluar dari Mall, lampu sorot helikopter mengarah padanya dan tangannya ditarik oleh seseorang.
"Hei! Apa yang kau lakukan didalam sana?! Ayo!" Kaizo ditarik masuk kedalam mobil polisi untuk dievakuasi. Ia bahkan belum sempat mengatakan jika Pang masih ada didalam sana, sendirian tanpa dirinya. Bagaimana jika ia terkena Hyperventilasi?
"Pak! Tapi–"
"Sudah! Ayo ikut kami! Kau harus diperiksa!" tukas petugas kepolisian lagi. Dan baru Kaizo sadari bahwa yang sebenarnya terjadi adalah, serangan teroris.
Mobil melaju menuju Markas The Case Solver yang belum pernah Kaizo lihat sebelumnya. Ia dituntun masuk menuju Ruang pemeriksaan. Ia diperiksa kesehatan badan dan Rohaninya, dan semuanya normal. Tak ada gangguan sedikitpun juga tak ada tanda-tanda teroris dalam dirinya. Kaizo dinyatakan aman dan ia diperbolehkan Istirahat di Markas hingga besok pagi.
"A-abang..." gumam Pang, ia terbangun dari tidurnya dan tak menemukan keberadaan Kaizo disana. Ia terkejut dan panik. Ia mengintip keluar dan satu tembakan hampir menembus kepalanya jikalau ia tak kembali sembunyi dibalik Meja Kasir yang terbuat dari besi tebal itu.
Ia meringkuk ketakutan, air mata berjatuhan dari matanya, membasahi pipinya. Isak tangis meramaikan suasana hening disekitarnya.
Tap... Tap... Crakk...
Ia mendengar suara langkah kaki yang semakin membuatnya ketakutan. Samar-samar ia melihat seorang pemuda masuk, mengenakan kemeja merah dan mantel hitam serta topi fedora.
"Hm... Sepi ya?" gumamnya. Isakkan Pang semakin kuat karena ketakutan. Hingga pemuda itu mendengar isakkannya karena suasana yang begitu hening. Pemuda itupun menghampiri meja kasir itu dan melihat keberadaan Pang yang meringkuk ketakutan disana.
"B-bagaimana bisa?" batin pemuda itu yang tak lain adalah Blaze. Ialah dalang dari semua serangan ini. Ia pun menghampiri Pang yang terlihat trauma.
Iba, Blaze pun memeluk Pang dengan hangat. Membuat Pang merasa nyaman dan tanpa ia sadari, Pang pingsan dipelukkannya. Blaze lalu membawa Pang menuju Markas The Antagonist, merawatnya hingga Pang tersadar.
Awalnya, Blaze ingin menjual Pang ke Pasar Gelap. Namun, tanpa sengaja ia melihat Pang diam-diam menipu anak buahnya, Ice, dan mengambil dompet Ice tanpa sepengetahuannya. Melihat itu, Blaze langsung membatalkan rencananya menjual Pang, ia merawat Pang, memberi makan dan minum, serta pakaian.
"Hei... Kau tak perlu mengambil dompet milik Ice." ucap Blaze sambil berjongkok menyetarakan tingginya dengan Pang. Pang terlihat terkejut saat Blaze mengetahui tindakannya.
"Bagaimana kau tau?" tanya Pang. Blaze terkekeh lalu memeluk Pang.
"Siapa namamu?" tanya Blaze setelah ia melepas pelukannya.
"Namaku Pang." jawab Pang, Blaze hampir tertawa saat mendengar nama Pang. Ia menghela nafas lalu menepuk bahu Pang pelan.
"Kau memiliki kehidupan baru, namamu akan kuganti menjadi 'Fang'. Bagaimana? Itu lebih keren." ujar Blaze dan Pang mengangguk setuju.
Beberapa lama tinggal bersama Blaze, akhirnya Blaze memutuskan untuk membawa Fang pergi menuju Berlin dimana Fang bisa menuntut ilmu lebih baik disana. Toh... Bagus bukan, jika Blaze mendapat tenaga kerja gratis dengan ilmu yang bagus pula?
Fang menuntut ilmu di Berlin selama beberapa tahun dan akhirnya ia lulus S2 jurusan bisnis. Ia kembali ke Malaysia, bertemu dengan Blaze kembali. Melepas rindu dan mulai bekerja untuk Blaze sebagai 'Shadow Thief'.
"Adikku masih ada disana!" seru Kaizo, hampir menangis. Petugas kepolisian yang mendengarnya pun saling pandang, lalu mereka segera berhamburan menuju Mall itu lagi. Walaupun kasus ini sudah ditutup.
Dari pagi hingga malam, mereka mencari keberadaan Pang. Namun mereka tak menemukannya dimanapun bahkan dimeja kasir itu. Kaizo sempat khawatir, namun Gempa saat itu datang dan menenangkan Kaizo. Berkata jika Pang pasti baik-baik saja, namun Kaizo merasa jika Pang memang sudah tiada.
Setiap hari Kaizo selalu berdoa akan keselamatan Pang. Selalu berdoa agar suatu hari nanti ia akan bertemu lagi dengan adiknya.
Terlepas dari kejadian itu, Kaizo bergabung dengan The Case Solver untuk adiknya. Ya, ia masih inginkan yang terbaik bagi dirinya dan juga adiknya. Ia bekerja dibagian Interogasi berkat pendidikan psikologi juga forensik miliknya. Ia menginterogasi para kriminal yang datang dan pergi tiap harinya. Kaizo sangat bersyukur atas pekerjaannya dan juga atas karunia hidupnya.
Namun, ia belum juga bertemu dengan adiknya. Dan tak yakin lagi apakah masih ada jalan untuk mereka bertemu kembali nantinya?
Namun Gempa selalu mengatakan jikalau ia juga kehilangan saudaranya akibat kecelakaan. Namun ia tak mengingat apapun, tapi ia yakin jika suatu hari nanti ia akan ingat dan bertemu dengan saudaranya itu. Kaizo pun juga berpikir hal yang sama.
"Aku akan berjuang untuk adikku." kukuhnya.
End of Bonus Chapter 01.
