Game On

.

Characters belong to Masashi Kishimoto.

.

This Is SasuHina Story!

Alternative Universe! Out Of Character! Typical Errors! And might lead to some twist!

You've been warned!

.

.

.

"Ada apa?" Sasuke yang menyadari kediaman tak biasa Hinata bertanya sebelum wanita itu keluar dari mobil.

Hinata yang tak tahu harus menjawab apa hanya diam dan menawarkan seulas senyum tipis kepada Sasuke, kepalanya menggeleng pelan.

"Hinata," panggil Sasuke lagi. "Kau bilang kau mengenalnya, bagaimana bisa?" Sasuke masih berusaha membuat Hinata berbicara.

"Aku tidak mengenalnya," jawab Hinata. "Aku hanya pernah bertemu dengannya. Kau ingat saat di Singapura, aku pernah bercerita soal dihadang oleh seorang pria mabuk? Dia orang yang sama," jelas Hinata.

"Oh," Sasuke bergumam, pandangannya menerawang. "Jadi dia mungkin mengenalimu?"

"Entahlah... saat itu dia mabuk," balas Hinata.

Terdengar helaan napas dari Sasuke. "Tidak apa-apa," ujarnya sambil meraih tangan Hinata. "Apapun yang terjadi, aku selalu di sini. Aku tidak akan membiarkan siapa pun melukaimu," sambungnya datar namun terdengar lembut.

Senyum tipis terbentuk di bibir Hinata. "Aku tahu."

Hinata membalas remasan ringan genggaman Sasuke di tangannya sebelum membuka mobil untuk keluar. Namun belum ia bangkit, Sasuke kembali menariknya untuk memberikan sebuah ciuman di bibir. Hanya lumatan kecil, tak lebih.

"Aku harus pergi membuat laporan," ujar Hinata setelah menarik diri dari ciuman mereka.

Sasuke menghela napas panjang. "Baiklah," ujarnya mengalah.

..

...

..

Hinata memandang beberapa lama nama Caligo yang tertera di laporannya saat ia tengah memeriksa ulang. Ia menghela napas pelan sebelum melanjutkan koreksinya.

Bunyi pintu terbuka terdengar tepat saat Hinata mengklik ikon untuk memasukkan laporannya ke basis data Anbu. Kepalanya menengok ke arah pintu secara refleks hingga kemudian ia menemukan Yahiko masuk dengan seringai yang jelas menghias wajahnya.

"Hei..."

Awalnya Hinata berniat untuk mengabaikannya, namun mendengar sapaan pria itu, Hinata memutuskan untuk berhenti. Dipandangnya Yahiko dengan tatapan ringan yang menyuarakan agar sang pria cepat mengatakan apa yang ingin disampaikan.

"Kau tahu, Hinata, dari banyaknya wanita, aku..." Yahiko mengambil langkah mendekati Hinata. "Rasanya aku... sulit sekali untukku berhenti memikirkanmu."

Hinata menggigit bibir dalamnya kemudian berdiri, wajahnya masih menampakkan ekspresi datar. "Kukira aku sudah jelas mengatakan untuk melupakannya."

"Tidak... dengarkan aku dulu," Yahiko kembali memotong jarak, tapi kali ini setiap langkah majunya dibalas langkah mundur oleh Hinata. "Kenapa kau tidak bisa menyukaiku?"

"Aku tidak punya alasan untuk menyukaimu," gumam Hinata. "Tapi aku juga tidak membencimu."

Hinata mendengar pria di hadapannya mengerang rendah, membuat Hinata semakin waspada. Detik berikutnya, Hinata merasakan lengan atasnya sudah berada dalam cengkeraman Yahiko. Ia menghentak untuk melepaskan diri, namun nampaknya pria di depannya itu sama sekali tak berniat melepaskannya.

"Ini termasuk pelecehan, Yahiko!" protes Hinata tajam sambil terus berusaha lepas. Ametisnya menatap pupil Yahiko, mencari tahu apakah pria itu benar-benar sadar. Namun Hinata tak melihat tanda bahwa pria itu mabuk. Yahiko sepenuhnya sadar, tapi kilat di maniknya seperti memancarkan amarah.

"Jangan khawatir, Hinata," ujarnya rendah. "Tidak akan ada yang tahu, tidak bahkan pacarmu."

"Lepaskan aku, Yahiko!" Hinata beberapa kali melirik kamera pengawas yang terpasang di ruangan itu.

"Oh ayolah, jangan sok suci. Aku menginginkanmu, Hinata," Yahiko semakin merapatkan tubuhnya dengan Hinata.

"Omong kosong!" Hinata mencoba mendorong Yahiko. "Kau melakukan ini hanya untuk balas dendam, bukan? Kau ingin membalas apa yang Sasuke lakukan padamu melalui aku?!" serangnya tajam.

Rahang Yahiko terlihat mengejang, cengkeramannya mulai dirasa nyeri oleh Hinata. "Aku penasaran bagaimana reaksinya jika dia tahu aku menaklukkan gadisnya," geramnya rendah.

Hinata beberapa kali menghentak tubuhnya dan mencoba menendang tulang kering Yahiko. Beberapa kali mencoba, akhirnya ia mendapat celah untuk melarikan diri saat cengkeraman Yahiko mengendur. Tapi sebelum benar-benar menjauh, Yahiko kembali menariknya, kali ini untuk ia desak di dinding.

"Yahiko!" pekik Hinata.

"Tidak akan ada yang mendengar teriakanmu di sini. Ruang pengawasan dijaga oleh teman-temanku. Tidak akan ada yang tahu," bisik Yahiko rendah, satu tangannya sudah bermain di kancing-kancing blus yang dikenakan Hinata.

Hinata merasa jantungnya berdebar keras memukul-mukul rusuknya. Satu tangannya yang tak tertahan secara sempurna terangkat untuk meninju sisi kepala Yahiko, kakinya pun menendang-nendang apapun yang bisa dikenainya.

Berang dengan perlawanan Hinata, Yahiko semakin mendesak wanita itu ke dinding. Kali ini tangan kanannya ia gunakan untuk mencekik leher Hinata.

"Ugghh," erang Hinata saat tekanan di tenggorokannya semakin berat.

"Jangan main-main denganku, Hinata!"

Hinata kembali mengangkat kakinya untuk menghantamkan lututnya di bagian vital Yahiko, namun hal itu nampaknya merupakan langkah yang salah karena hanya akan menambah murka pria bersurai jingga itu. Satu tamparan mendarat di pipi Hinata sebelum tubuhnya berputar hingga kini tubuh bagian depannyalah yang menghimpit dinding.

"Lepaskan aku, Yahiko... kumohon," pintanya rendah.

Hinata merasakan surainya ditarik paksa hingga membuatnya mendongak untuk sekedar mengurangi rasa sakit akibat tarikan itu. Matanya sudah memanas karena air mata yang menimbun saat bibir basah Yahiko mulai menjelajahi lehernya.

Namun semuanya tiba-tiba hilang. Tak ada lagi cengkeraman, sentuhan kasar ataupun paksaan yang menekan Hinata. Masih dengan keadaan setengah sadar, yang Hinata dengar hanya teriakan memekikkan dari belakangnya.

Tak langsung memedulikan sekitar, Hinata jatuh berlutut masih dengan menghadap ke dinding. Napasnya tersengal, setitik air mata lepas dari pertahanannya. Beberapa datik Hinata terdiam, seolah tak mendengar keributan di dekatnya.

Hinata berkedip beberapa kali untuk mengumpulkan fokusnya, ia menghela napas pelan sebelum menengok ke belakang. Sepasang ametisnya melebar saat mendapati Sasuke beberapa kali menghantam perut Yahiko dengan lututnya sebelum memintir lengan Yahiko tanpa menahan diri sedikitpun.

Yahiko kembali berteriak keras saat Sasuke mematahkan lengan kanannya, namun sepertinya itu belum cukup untuk membuat Sasuke berniat menghentikan aksinya. Tendangan Sasuke mendarat keras di sisi tubuhnya hingga pria itu jatuh terjengkang. Dengan cepat Sasuke menahan pergerakan Yahiko dengan menduduki perutnya.

"Mati kau!" geram Sasuke dengan kilat maniknya yang begitu tajam, tinjunya menghujani wajah Yahiko tanpa ampun.

"Sasuke!" Hinata memekik, ia ingin menarik Sasuke namun belum bisa menguasai diri untuk sekedar bergerak mendekat. "Tidak! Hentikan, Sasuke! Hentikan, kumohon!" pecah Hinata yang seketika membuat Sasuke berhenti.

Sasuke melepaskan Yahiko dengan kasar dan segera bangkit. Satu tendangan terakhir di dada ia hadiahkan kepada Yahiko sebelum mendekati Hinata. Sasuke berlutut, menyamakan tingginya dengan Hinata, tangannya langsung menangkup wajah Hinata yang kini tercemar oleh jejak tipis air mata.

"Hinata... hei, Hinata." Sasuke mencoba membuat fokus Hinata yang masih menatap tubuh Yahiko yang meringkuk di belakangnya teralihkan. "Kau tidak apa-apa?" tanya Sasuke saat Hinata sudah memalingkan wajah ke arahnya.

"Sa-sasuke..." panggil Hinata lirih, ametisnya yang menampakkan kekhawatiran yang kental masih menyempatkan diri untuk beberapa kali melirik Yahiko. "Sasuke..." panggil Hinata lagi.

"Tidak apa-apa, aku di sini," balas Sasuke lirih sambil mempertemukan kedua kening dan ujung hidung mereka.

Hinata menggeleng samar, air matanya kembali meluncur. "Sasuke, kau... kau bisa tertangkap." Hinata akhirnya mengungkapkan apa yang membuatnya gelisah. "Mereka akan... akan menghukummu," lanjutnya berbarengan dengan lolosnya isakan pertama.

Dan benar saja, tak lama setelah Hinata mengatakannya, pintu dibuka keras-keras dan beberapa petugas masuk untuk menyeret Sasuke untuk berdiri dan menjauh dari Hinata.

"Tidak! Ini bukan salahnya!" Hinata berteriak saat tiga orang menahan pergerakan Sasuke dengan seorang memasang borgol di tangan pria itu. Beberapa yang lainnya mendekati Yahiko untuk memeriksa kondisinya.

Meski belum pernah merasakannya, Hinata tahu P-shard bukanlah tempat favorit untuk menghabiskan waktu, begitu pun Sasuke. Ia ingat pernah mendengar bahwa Sasuke pernah menjalani masa hukuman beberapa kali di sana dan bagaimana tempat itu tak pernah gagal untuk menyiksanya.

"Tidak apa-apa, Hinata," ujar Sasuke saat melihat Hinata tengah mencoba melawan petugas yang menahannya untuk mendekati Sasuke. "Untuk satu kali ini, aku tertangkap karena melakukan hal yang tidak akan pernah aku sesali," tambahnya sebelum ia diseret keluar dari ruangan itu.

..

...

..

Sekujur tubuh Hinata gemetar gelisah, telapak tangannya yang terasa dingin terus mengeluarkan keringat yang membuatnya tak nyaman. Sudah semalaman ia dikurung di ruangan itu dan yang ada di pikirannya hanyalah tentang Sasuke. Tentang apa yang terjadi kepada pria itu. Hinata cemas, ia takut Sasuke tak memiliki kesempatan bicara untuk membela dirinya sendiri.

Hinata menggigit bibir, kesabarannya sudah menembus batas yang bisa ia tolerir. Kepalannya ia hantamkan dengan gemas di atas permukaan meja sebelum berdiri dari kursinya.

"Biarkan aku keluar!" Hinata berteriak ke arah kamera yang terpasang di sudut ruangan. Ia baru saja akan menggedor pintu saat pintu itu terbuka. "Konan?!" serunya saat Konan masuk dengan wajah lelah.

Konan langsung menutup pintu di belakangnya sebelum menyeret pelan Hinata untuk kembali duduk di kursi yang tersedia. "Apa yang terjadi?" tuntutnya.

"Sasuke tidak bersalah!" Dan itu adalah kalimat pertama yang terpikirkan oleh Hinata.

"Mematahkan tulang hasta, humerus dan membuat cedera tulang selangka pada seorang agen jelas merupakan kesalahan fatal," balas Konan tajam.

"Aku sudah menjelaskan situasinya, Yahiko memaksakan diri terhadapku dan Sasuke menyelamatkanku!" Hinata kembali mengulang kalimat yang semalaman sudah berkali-kali ia ucapkan kepada beberapa petugas yang mengintrogasinya. "Kenapa tidak ada yang mendengarkanku?!"

Ekspresi Konan membeku sesaat, ia menatap Hinata dalam. "Jangan bercanda, Hinata."

"Apa aku terlihat seperti bergurau?" tanya Hinata kental dengan ironi.

Konan menggeleng pelan. "Hanya saja... ini tidak masuk akal, Hinata," Konan menyeret kursi lain dan menempatkannya di samping hadapan Hinata untuk ia duduki. "Aku tahu Yahiko memang bertingkah seperti bajingan, kita tahu itu. Tapi selama ini dia adalah salah satu agen dengan catatan paling bersih. Dan sekarang kau bilang dia mencoba... memerkosamu?" jelas Konan dengan nada bicara yang lebih tenang.

"Intinya Sasuke tidak melakukan kesalahan di sini. Dia tidak seharusnya dihukum," balas Hinata. "Yahiko yang seharusnya ditangkap."

"Yeah... tapi sayangnya Yahiko berada di bangsal perawatan. Terima kasih kepada pacarmu," sindir Konan tajam.

Hinata mengambil napas panjang, ia pejamkan matanya untuk beberapa saat. "Dengar, Konan... aku tahu kau marah. Aku tidak sedang berusaha melindungi Sasuke, aku mengatakan yang sebenarnya terjadi. Apa kau pikir aku akan berbohong perihal hal serius seperti ini?"

Konan kembali menarik mundur tatapan tajam yang ia berikan ke Hinata, ia menghela napas singkat. "Aku hanya tidak mengerti bagaimana... atas alasan apa dia melakukan itu," lirihnya.

Hinata menggigit bibir, sepertinya ia memang harus memuntahkan apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dan Yahiko. "Aku dan Yahiko..." Hinata berhenti sejenak, agak meragu. "Aku tidur dengannya sekali, secara tidak sadar. Dan setelah malam itu dia terus mencoba... menjangkauku. Dan semalam, jika Sasuke tidak datang, dia mungkin sudah mendapatkan apa yang diinginkannya," aku Hinata rendah.

"Apa?!"

"Maafkan aku..." bisik Hinata. "Aku tidak bisa menjelaskan lebih detail, tapi kumohon, Konan... aku butuh bantuanmu." Hinata menatap manik Konan dalam. "Kau mengenal Sasuke, kau menjadi rekan timnya beberapa tahun ini. Aku tahu kau bisa membaca pribadinya meski sedikit. Dan aku yakin kau sadar bahwa dia bukan tipikal yang akan melawan protokol tanpa alasan."

Kening Konan berkerut samar, ia merebahkan sisi wajahnya di permukaan meja, dalam hati menelaah apa yang Hinata katakan. Hening menghampiri mereka beberapa saat sebelum Konan kembali melirik Hinata. "Tapi kenapa Yahiko mengejarmu?" ujarnya pelan, terdengar sendu.

"Itu bukan poin utamanya, Konan," sergah Hinata tak sabar saat Konan terlalu hanyut dalam perasaannya. "Bantu aku untuk bicara dengan Jenderal Hatake."

Konan berkedip kemudian menegakkan duduknya. "Jenderal Hatake tidak akan bisa mengubah apapun, Hinata. Marsekal marah besar karena salah satu agennya terluka untuk hal yang menurutnya sepele. Kau tentu tahu bahwa menyakiti sesama agen sampai ke level itu memiliki hukuman yang sama seperti jika kau membunuh seorang agen, bukan?"

"Apa?!"

"Kita tidak bisa melakukan apapun. Marsekal sudah terlalu murka dan dia tidak akan mempertimbangkan pembelaan dari Kakashi lagi. Peraturan tetap peraturan, Thunder hampir membuat cacat seorang agen secara sadar dan dia harus menerima risikonya," jelas Konan.

Hinata hampir kehilangan kata mendengarnya. "Tapi itu tidak adil. Yahiko yang terlebih dulu menyerangku."

"Tapi kita tidak memiliki bukti. Semua kamera di perpustakaan mati dengan alasan pemeliharaan."

"Yahiko mengatakan mereka adalah teman-temannya," ujar Hinata dengan nada menerawang.

Kelopak mata Konan menyipit. "Itu masuk akal, mereka bisa jadi merencanakannya."

"Kalau begitu, biar aku bicara langsung dengan marsekal."

"Memang apa yang ingin kau katakan? Dia tidak akan mendengar, Hinata. Yang dia tahu bahwa Thunder mematahkan lengan Yahiko dan harus ada hukuman untuk itu."

"Kenapa tidak ada yang mau mendengarkanku?!" Hinata mengerang gemas.

"Mungkin karena ayahmu," Konan bergumam rendah, agak ragu saat mengatakannya.

"Huh? Kenapa?" tanya Hinata seperti tak mendengar jelas apa yang Konan katakan.

Konan menghela napas. "Entahlah. Kami baru saja mengadakan pertemuan dan Jenderal Hyuuga mengusulkan hukuman langsung, tanpa percobaan pengadilan. Dia beralasan bahwa Thunder sudah melakukan hal yang sama berulang kali."

Kepalan tangan Hinata mengeras di sisi tubuhnya, informasi dari Konan sungguh membungkamnya. "Apa aku boleh keluar sekarang?" Hanya itu yang akhirnya Hinata tanyakan.

"Ya," balas Konan pelan. "Maaf, Hinata," sambungnya sebelum Hinata sempat berdiri dari kursinya. "Tidak ada yang bisa kita lakukan kecuali Yahiko mengakui yang sebenarnya."

Hinata menggeleng pelan, menyuarakan kata 'tidak apa-apa' dengan gestur tubuhnya kemudian melangkah ke arah pintu. Gerakannya terhenti lagi sebelum membuka pintu itu.

"Apa yang mungkin terjadi di P-shard?" tanyanya pelan tanpa membalikkan tubuh.

Konan mengambil sedikit waktu untuk bernapas sebelum menjawab. "Beberapa hal, mereka memiliki tingkatan hukuman yang berbeda dan Thunder... terakhir kali dia di sana, dia sudah mendapat tingkat tertinggi."

Hinata menengok ke arah Konan yang menatap permukaan meja. "Ba-bagaimana?"

"Aku tidak tahu detailnya, tapi terakhir kali dia masuk, mereka menggunakan... kejut listrik. Aku tidak tahu apakah mereka akan menggunakannya lagi," jawab Konan hati-hati. "Dan Thunder akan ditahan dalam ruang sempit... kandang... atau apalah mereka menyebutnya. Yang kutahu, Thunder mengidap klaustrofobia. Jadi , empat bulan di dalam sana mungkin akan seperti neraka baginya."

"Empat... bulan?"

Konan mengangguk. Dan tanpa memotong waktu lebih lama, Hinata melangkah tergesa menuju ruangan sang ayah di lantai dua puluh lima.

"Agen Hyuuga, ada yang bisa saya bantu?" tanya sekretaris ayahnya ketika melihat Hinata datang. Namun Hinata yang sedang tak dalam suasana hati yang baik mengabaikannya dan langsung menerobos masuk.

"Ayah!" panggil Hinata, mencoba untuk tak berteriak.

Sang ayah yang mendengarnya mengangkat wajah, memperlihatkan raut yang tak terbaca. "Ada yang kau butuhkan?" tanyanya tenang.

"Aku perlu kau menghentikan semua kegilaan ini!" Hinata berhenti tepat di depan meja Hiashi, tanyannya ia tumpukan di tepiannya.

"Itu bukan wewenangku," jawabnya ringan.

Hinata membuka mulut tak percaya setelah mendengarnya. Ia tahu ayahnya ikut andil dalam proses peradilan Sasuke, dan sekarang pria itu berkata bahwa ini bukan wewenangnya? Omong kosong!

"Bagaimana bisa kau melakukannya?" geram Hinata rendah. "Kalian... kalian memperlakukannya seperti anjing! Kalian menggunakannya saat kalian butuh lalu sekarang kalian memperlakukannya seperti dia tidak memiliki nilai sama sekali!"

"Kau tidak perlu mengatakannya, kami tahu jelas bagaimana bernilainya dia bagi agensi."

"Lalu kenapa kau tidak membiarkanku bicara?" Nada bicara Hinata melunak.

"Aku tidak perlu pernyataan apapun darimu."

"Tidak! Kau perlu tahu bahwa Sasuke—"

"Menyelamatkanmu saat Yahiko menyerangmu?" Hiashi memotong kalimat Hinata untuk ia lanjutkan sendiri.

"Kau... tahu?" Hinata membeku, dalam dirinya ada hasrat untuk mencekik pria yang selama ini ia panggil ayah itu. Jika Hiashi mengetahui yang sebenarnya, kenapa tetap tak ada pembelaan sedikit pun untuk Sasuke?

"Ya. Agen Thunder menceritakannya padaku secara pribadi saat dia tertangkap semalam."

"Lalu kenapa kau tidak melakukan apapun terhadapnya?!" todong Hinata.

"Sudah kubilang itu bukan wewenangku," ulang Hiashi tajam. "Sekarang, keluar!" titahnya.

"Tidak."

"Kubilang keluar!"

"Tidak sampai kau menjelaskan semuanya. Aku tahu kau mengusulkan hukuman langsung terhadap Sasuke," balas Hinata tak kalah tajam. "Kenapa? Apa kau menghukumnya karena aku? Karena aku lagi-lagi mengecewakanmu?"

Dua pasang ametis itu saling bertemu. Hiashi menatap putrinya lama, seolah mencari sesuatu di manik yang serupa dengan miliknya itu. Hening yang mencekam sempat memenuhi ruangan sebelum Hiashi menjawab.

"Aku tidak menghukumnya, Hinata. Aku menghukummu."

Hinata kehilangan kata, dua kata terakhir yang diucapkan sang ayah seperti memaksa air matanya untuk mendobrak pertahanannya. Namun tidak, ia tak ingin membuat Hiashi semakin menganggapnya tak berguna dengan memperlihatkan air matanya.

"Kau... mengerikan," lirih Hinata.

"Aku memerintahkanmu untuk menjadi partner kerjanya, tidak lebih. Aku mengatakan padamu untuk menjauh dari skandal yang mungkin terjadi. Kau seharusnya bisa lebih cerdas untuk tidak melibatkan perasaanmu di sini," ujar Hiashi, masih setenang sebelumnya. "Sekarang karena kau, Agen Thunder menanggung semuanya."

"Kau tahu?" Hinata menggertakkan giginya. "Aku tidak peduli jika kau lagi-lagi menyalahkanku, kau selalu melakukannya dan hatiku sudah tidak bisa lebih terluka lagi karena kata-katamu," lanjut Hinata dengan nada suara yang mengambang namun beraroma kebencian. "Kau adalah satu-satunya keluarga yang aku miliki, tapi aku lebih memilih berdiri di sisi Sasuke dan menyebutnya sebagai keluarga daripada menyebutmu ayah. Dan jika sesuatu terjadi pada Sasuke... aku bersumpah tidak akan membiarkanmu begitu saja."

Hiashi menegakkan tubuhnya, menatap Hinata dengan tatapan yang tak berubah. "Kau sadar kau tengah mengancam ayahmu untuk lelaki yang bahkan belum kau kenal lama?"

"Ayah? Kau masih menyebut dirimu ayahku?" Hinata terkekeh pahit. "Apa kau merasa masih bertingkah sebagai seorang ayah? Aku bahkan tidak mengingat terakhir kali kau berkata tanpa merendahkanku."

Di balik topeng tenangnya, otot punggung dan rahang Hiashi mengejang, namun ia tak mengatakan apa-apa untuk membalas tiap kalimat yang Hinata katakan.

"Kau berubah menjadi orang asing bagiku setelah kau pergi meninggalkan kami," tambah Hinata rendah sebelum berbalik melangkah keluar dari ruangan itu, masih dengan air mata yang mengancam terjatuh.

..

...

..

"Jenderal," panggil Hinata saat mendapati Kakashi keluar dari ruangannya.

"Oh, Hinata," Kakashi menyapa balik dengan senyuman di balik maskernya, namun Hinata dapat mendengar nada lelah dari pria itu. "Ada apa?"

Hinata melangkah untuk lebih mendekat. "Sasuke..." Suaranya bergetar. "Aku... aku ingin menemuinya."

Kakashi terdengar menghela napas, tangannya menyentuh lengan atas Hinata, menggestur agar Hinata mengikuti langkahnya. "Aku tidak yakin itu bisa dikabulkan. Agen yang tidak memiliki kepentingan dilarang keras masuk di dalam shard," jelasnya.

"Aku tahu tapi..." Hinata tak tahu apa yang harus ia katakan. "Kumohon, Jenderal. Ini sudah dua hari... kumohon biarkan aku melihatnya," pinta Hinata.

"Aku hampir tidak memercayai akan ada seseorang yang peduli terhadapnya sampai seperti ini," gumam Kakashi namun masih bisa didengar oleh Hinata. "Tapi ayahmu mengatakan—"

"Aku tidak peduli apa yang ayah katakan," potong Hinata cepat. Ia hanya ingin melihat Sasuke sebelum status kejiwaannya berubah menjadi tak waras.

Dalam benaknya, ada sudut yang membenarkan ucapan Hiashi, bahwa ini adalah kesalahannya. Bahwa sasuke terjebak di situasi ini karenanya. Dan ia juga membuktikan apa yang pernah Sasuke katakan sebelumnya. Bahwa ia hanya akan menjadi kelemahan pria itu, bukan kekuatan untuk membantunya.

"Aku tahu ayah tidak menginginkanku mendekati Sasuke, terlebih mengunjunginya di P-shard. Tapi aku hanya ingin melihatnya sebentar, Jenderal."

Kakashi diam menatap Hinata, terlihat menimbang-nimbang. Hingga akhirnya...

"Baiklah," ujar Kakashi dengan satu helaan napas panjang. "Aku akan membawamu ke lantai tiga puluh. Tapi aku ingatkan, di sana adalah area penghukuman... jangan histeris di dalam sana."

Hinata menelan salivanya sendiri, membayangkan betapa menyeramkannya di sana sampai Kakashi memperingatkannya. Namun akhirnya ia mengangguk.

"Sepertinya aku harus berhadapan dengan ayahmu lagi setelah ini," gumamnya sambil memindai kartu identitas pada elevator khusus yang hanya akan berhenti di lantai-lantai tertentu.

Hinata berkedip dua kali saat pintu elevator terbuka di lantai yang mereka tuju. P-shard. Berbeda dengan lantai lain, sisi dinding terluar lantai ini bukanlah kaca meski masih terdapat di gedung yang sama. Tempat itu terlihat seperti penjara, hanya berlipat lebih mencekam dengan banyaknya petugas yang berjaga di setiap sisi dan barisan pintu besi, bukan sekedar jeruji.

Tidak mengejutkan, mengingat yang mereka tahan di sini adalah para agen yang terlatih. Mereka tidak mungkin memasang keamanan standar di sini.

"Agen dilarang masuk." Seorang petugas menghadang saat mereka akan memasuki pintu utama.

"Biarkan... dia bersamaku." Kakashi membuka mulut.

Penjaga itu memandang skeptis ke arah Hinata namun akhirnya membiarkannya lewat setelah Kakashi selesai memindai kartu identitasnya lagi. Ada banyak pintu tertutup terlihat setelah Hinata melangkah masuk, dan setiap pintunya dipasangi satu pemindai identitas.

Hinata seketika mengingat apa yang Konan katakan padanya. Apa mungkin pintu-pintu itu yang Konan maksud dengan 'kandang'?

"Konan mengatakan kalau Sasuke akan ditahan di... kandang?" tanya Hinata saat menyadari Kakashi tak melangkah ke area di mana pintu-pintu itu berjejer, malah arah sebaliknya. Jika apa yang Konan informasikan benar, harusnya mereka mengunjungi salah satu pintu itu, bukan?

Kakashi mengangguk. "Terdengar kejam... aku tidak bisa melakukan apapun tentang itu," ujarnya tanpa memperlambat langkahnya. "Tapi untuk sekarang, aku yakin dia berada di sana." Kakashi menunjuk salah satu pintu yang mereka tuju.

Ada lampu indikator berwarna merah tertempel di atas pintu itu, mungkin sinyal yang diartikan sebagai 'dilarang masuk'. Tapi sepertinya Kakashi tak begitu acuh, ia dengan santainya membuka pintu itu, membuat Hinata tak memiliki pilihan lain selain membuntut di belakangnya.

"Apa yang terjadi?!" Kakashi secara tiba-tiba setengah berteriak setelah mereka memasuki ruangan yang mirip seperti ruang operasi itu. Hinata tersentak kaget saat Kakashi kemudian berlari kecil lebih ke dalam.

"Jenderal?!" salah satu petugas yang memakai jas panjang berwarna abu-abu agak tertegun dengan kehadiran Kakashi.

Hinata yang menyadari keributan tak wajar itu mencoba mencari tahu. Beberapa orang yang berpakaian seperti dokter mengelilingi sebuah ranjang tinggi. Hinata mencoba melongok hanya untuk mendapati tubuh Sasuke terbaring di sana tanpa pergerakan. Seolah ada yang memutus jalur napasnya, Hinata merasa dadanya tiba-tiba sesak. Waktu di sekitarnya seperti berhenti, seperti jantungnya yang juga ia rasa tak berdetak.

"Sial! Apa yang sebenarnya terjadi?!" tuntut Kakashi kepada salah satu orang yang berdiri di sampingnya.

Hinata masih melihat Sasuke sama diamnya di tengah keributan itu. Ada beberapa kabel elektrode terpasang di tubuh dan pelipisnya. Dua orang yang berdiri berhadapan di sisi tubuhnya mencoba menekan dada telanjangnya.

"Dia mendapat serangan jantung," seseorang menjawab singkat, terlalu menyibukkan diri untuk menyiapkan defibrilator untuk Sasuke.

Hinata masih terpaku di tempatnya berdiri, tak melepaskan pandangannya dari gemingnya Sasuke. Tidak sampai sebuah suara monoton yang begitu melengking terdengar dari salah satu alat di sana. Hinata perlahan menoleh ke sumber suara dan mendapati sebuah monitor yang menampakkan garis lurus.

"Jantungnya... berhenti," gumam Hinata tanpa sadar.

Kakashi yang mendengar gumaman itu seakan tersadar, ia melupakan telah membawa serta Hinata kemari. Ia bergegas menghampiri Hinata yang masih mematung menatap monitor itu.

"Sial!" umpatnya. "Kita keluar, Hinata." Kakashi mencoba menarik Hinata keluar.

"Tidak," Hinata menghentak lengannya yang ditarik Kakashi, ametisnya beralih menatap wajah tenang Sasuke di atas ranjang.

"Ayo, Hinata." Kakashi kembali mencoba menarik Hinata.

"Tidak! Tidak!"

Kakashi yang terus mendapat perlawanan dari Hinata mendekap erat wanita itu dari depan untuk menyeretnya keluar.

"Clear!" teriak seseorang yang memegang defibrilator sebelum mendaratkan permukaan benda itu ringan di dada Sasuke. Hinata melihat tubuh Sasuke tersentak, namun nampaknya stimulasi yang diberikan tak cukup untuk mengubah garis lurus di layar monitor sana. "Siapkan lagi!"

"Sasuke!" jerit Hinata sebelum Kakashi berhasil menyeretnya keluar.

.

to be continued...

..

.

Tenang... kisah mereka ngga berhenti di sini, masih ada beberapa chapter lagi kok :3

Dan yang kemaren pada nanyain abah Hiashi, tuh orangnya nongol... jangan didemo ya, deep down dia peduli kok sama Hinata *.*

Much love for you guys, thank you for sticking with this story and... seeyoowww