[Gempa/Quake's POV]

"Nona Anne, aku ingin kau menjadi fotografer. Aku butuh dokumentasi, dan tenang saja, kau bersama Gempa. Gempa, kau menyamar dan kuminta awasi politikus disana karena rawan sekali penyerangan, jangan lupa bilang jika Nona Anne bersamamu." ujar Komandan. Aku dan Anne mengangguk mengerti.

"Kami siap, Komandan!"

.

.

The Case Solver

"Siap menjalankan misi pertama?"

.

.

Story Line by LyxCrime03

Chapter 06: Steal and Escape.

.

Genre: Fanfiction, Thriller.

.

.

Delove Corp Hall, Delaria City...

07.30 pm...

"Selamat datang..." ucap Sang Tuan Rumah. Aku dan Anne pun masuk, kulihat Anne terlihat menggenggam kameranya dengan gemetar, aku tahu ini pengalaman pertamanya. Aku menepuk bahunya, ia menoleh padaku.

"Tenang saja, 'kay? Jika ada masalah, hampiri aku. Kita tak boleh terlihat mencolok, kau harus segera mengambil gambar." ucapku sedikit berbisik. Anne mengangguk, menepuk bahuku pelan dan mengatakan "semoga berhasil!" lalu pergi.

Seorang pelayan datang tak lama kemudian, menuntunku menuju meja dan menyajikan wiski padaku. Tak lama setelahnya, datanglah Blaze bersama Himaki tak jauh darinya. Semua orang berpaling padanya, dan ia tersenyum lebar nan ramah. Ia melihatku, lalu duduk dikursi yang ada dihadapanku. Pelayan datang dan menyajikan cocktail untuknya.

"Its been a long time, huh?" tanya Blaze sambil tersenyum padaku. Aku terdiam memandang tanganku yang mulai dingin. Blaze terkekeh lalu bersandar pada punggung kursi lalu menoleh pada Himaki yang ada dibelakangnya. "Ada yang ingin kau ucapkan, Himaki?" tanya Blaze. Himaki mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk menghadap lantai.

"Gempa... Perjanjian kita batal." ujar Himaki. Aku terbelalak dan memandangnya, ini begitu cepat dan bagaimana bisa? Blaze menahan tawanya dan memukul pelan meja dihadapanku.

"Ahh... Maaf, itu mengharukan kau tau? Apa kalian berpacaran tanpa kuketahui? Pfftt–" ejek Blaze. Aku mengerutkan alisku dan tanganku mengepal, tiba-tiba Anne datang dan meminta mengambil foto. Oh... Dia datang disaat yang tepat.

"Excuse me, Sir... Can i take some picture?" izinnya. Aku mengangguk.

"Of course!" jawabku dan Blaze bersamaan, kami saling pandang dan memincingkan mata. Anne lalu mengambil foto kami, tersenyum padaku lalu pergi. Aku menghela nafas dan kembali menghadap Blaze yang menyesap cocktailnya.

"Pak! Bapak terlihat pucat... Sebaiknya kita pulang!" ucap seorang gadis yang berjalan bersama Pak Menteri. Kupikir ia asistennya karena membawa berkas dan kotak obat. Kulirik lagi Blaze yang tengah meletakkan gelas cocktailnya.

"Pak Menteri terlihat pucat ya?" ujarnya sambil tersenyum padaku. Senyuman aneh, pasti pertanda sesuatu. Aku menatapanya sinis, "yah... Semoga saja itu bukan ulahmu!" jawabku.

Dan akhirnya acara dimulai pada pukul 08.00 pm. Semua hadirin bersulang dan acara pelalangan dimulai. Ada banyak benda lelangan dan tak kulihat gerak-gerik mencurigakan dari Blaze, ia tampak antusias menjalani acara dan beberapa kali kulihat ia mengajukan harga.

"Patung Ratu Callista yang terbuat dari emas. Sangat cocok untuk pajangan dan penyambut tamu." MC acara berhenti sejenak lalu memandang para hadirin. "Pelelang pertama?" tanyanya.

Lalu seorang wanita menawarkan harga, selanjutnya Pak Menteri, lalu seorang aktris yang sedang populer bulan ini, dan yang terakhir Blaze. Ia menawarkan harga lebih tinggi dibanding siapapun. Palu dihentakkan, dan Blaze berhasil mendapatkan patung itu, ia menyeringai dan sedikit terkekeh.

Ia berbalik menghadapku, "kau tak menawarkan harga?" tanyanya dengan nada sombong. Aku menghela nafas dan menggeleng, "tugasku bukanlah melelang harga." jawabku. Dan kembali Blaze menahan tawanya. "Kau sangat disiplin." pujinya sambil tersenyum miring, dan kembali menghadap ke panggung.

Pelelangan berlangsung sangat tenang dan tak ada satupun gerak-gerik mencurigakan yang Blaze buat. Akhirnya, barang lelangan terakhir dikeluarkan. Sebuah koper berwarna putih dibuka dan tampaklah sebuah berlian cantik yang dapat membuat setiap orang terpana termasuk Blaze.

"Ukh... Boss, bolehkah aku ke Kamar kecil?" izin Himaki. Ia terlihat sangat ingin buang air kecil.

"Ck... Ya sudah, sana!" jawab Blaze. Himaki mengangguk lalu berlari menuju kamar kecil.

"Pelelang pertama?" tanya MC. Langsung saja mereka berebut menawarkan harga.

Pattss–

"Hah?!"

Lampu padam, para tamu terlihat panik. Lampu menyala beberapa detik kemudian lalu padam kembali, hingga terdengar suara tembakan beberapa kali yang semakin membuat para tamu panik.

Darr! Pshhiiuu... Darr!

Lampu menyala beberapa menit kemudian dan tak padam lagi. Para tamu terpaku melihat MC dan pemilik barang lelangan telah tewas tertembak, begitu pula Pak Menteri. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah...

Berlian yang dijadikan lelangan itu hilang!

"Anne! Ada apa ini?" tanyaku pada Anne lewat telepon genggam.

"Ada sniper yang mengintai kita sedari tadi. Untung saja kau tak tertembak!" jawab Anne, ia terdengar seperti berjalan menaiki tangga.

"Kau ada dimana?" tanyaku.

"Di Ruang pengawas! Oh.. Astaga–!"

"Ada apa?"

"Semua pelayan dan pegawai terbunuh!"

"Apa?!"

-0-0-0-

Siapa? Siapa yang melakukan ini dan untuk apa? Para tamu semakin panik dan suasana menjadi ricuh. Mereka saling menuding satu sama lain, toh... Banyak sekali Mafia disini. Aku pun tak luput dari Blaze yang juga terlihat panik.

Aktingmu memang bagus, Blaze... Namun kau tak bisa menipuku!

Greep!

Aku mencengkram kerah kemeja Blaze, ia terkejut saat aku melakukannya.

"Apa yang kau lakukan?!" bentaknya.

"Kau tak bisa menipuku!" bentakku tak kalah darinya. Semua pandangan tertuju pada kami berdua.

"Apa yang kau maksud?!" bentaknya lagi, berusaha menepis tanganku yang mencengkram kerah kemejanya.

"Kau mencuri berlian itu dan membunuh MC dan pemilik barang lelangan itu!" ujarku. Kini suasana menjadi hening, semua orang terlihat terkejut.

"Hei! Apa buktinya? Sedari tadi aku ada didepanmu! Kau buta, huh?!" bentaknya balik, berusaha membersihkan namanya. Namun itu takkan terjadi, aku memeriksa tubuhnya dan...

Tak ada senjata ataupun berlian itu! Aku kini memandang Blaze tak percaya.

"Lihat? Kini kau yang kupermalukan, Gempa! Opss.. Maksudku, kau mempermalukan dirimu sendiri!" seru Blaze. Beranjak dari Ruangan itu, meninggalkanku dengan perasaan malu.

[Blaze's POV]

Cih... Apa-apaan dia? Jika dia ingin memojokkanku, maka dia gagal kali ini!

Inilah alasanku membenci Gempa! Suka sekali sembarangan menuding orang yang tak bersalah.

Namun kali ini, aku benar-benar bersalah karena akulah dalang dari semua ini. Tapi, siapa serigala yang mau menampakkan bulunya pada domba? Tidak ada!

"Fang, kau dapatkan berliannya?" tanyaku pada Fang lewat ponsel.

"Ya, saya dapatkan Tuan." jawab Fang.

"Bagus... Pastikan kau tak ketahuan, okay?"

"Tenang, Tuan. Solar sudah menghapus rekaman CCTV, atau lebih tepatnya memanipulasi. Kita aman..."

"Bagus. Aku akan pulang sekarang." Aku mematikan ponselku, berjalan menuju mobil yang disana sudah ada supirku yang menunggu. Aku masuk kedalam mobil, memerintahkan supirku untuk mengantarku kembali Ke Markas. Mobil pun melaju.

Sampai di Markas, aku disambut oleh Raile dan Nabila. Mereka terlihat gembira melihatku (oh ya... raile itu buta kan?), mengetahui aku meninggalkan mereka di Mall bersama Fang dan aku belum bertemu dengan mereka lagi setelahnya.

"Papa sudah pulang~~" seru mereka.

Tunggu... 'Papa'?!

To Be Continued...