Game On

.

Characters belong to Masashi Kishimoto.

.

This Is SasuHina Story!

Alternative Universe! Out Of Character! Typical Errors! And might lead to some twist!

You've been warned!

.

.

.

"Hinata?"

Hinata mengangkat wajahnya untuk melihat Konan masuk ke kamarnya. Ia berkedip cepat, berharap dapat menelan balik air mata yang mengancam namun posisi tubuhnya tetap tak bergerak.

"Ada apa?" Suaranya jelas terdengar bergetar, ia bahkan merasa sesak saat harus mengeluarkan suaranya.

"Kau tidak mengunci pintu depan," ujar Konan.

Hinata sendiri tidak peduli, kemungkinan perampokan adalah hal terakhir yang akan dipikirkannya. Itu pun jika ia sempat memikirkannya. Seluruh isi kepalanya masih dibayangi oleh Sasuke dan hanya Sasuke. Hinata beberapa kali merasakan perasaan sakit di hatinya, tapi yang satu ini... seperti tengah mencoba membunuhnya dari dalam.

Pemandangan terakhir yang dilihatnya sebelum Kakashi berhasil menyeretnya keluar adalah tubuh Sasuke yang menghentak tanpa arti. Jantung Sasuke berhenti, dan Hinata merasakan dirinyalah yang saat itu mati. Apa yang dilihatnya kemarin benar-benar menusuk jiwanya. Begitu menyakitkan hingga Hinata mati rasa akan sakit yang lainnya.

Antara sadar tak sadar, Hinata berjalan ke apartemennya, melupakan jarak yang harus ia tempuh juga mobilnya yang masih terparkir di halaman Anbu. Ia baru menyadari senja sudah terlewat setelah membuka pintu apartemen dan mendapati ruang tengahnya gelap gulita tanpa ada penerangan yang cukup dari jendela yang masih terbuka.

Saat itu Hinata tak sempat memikirkan hal lain. Tidak mengunci pintunya, tidak menutup jendelanya. Ia berlari ke kamar dan menjatuhkan diri di ranjang, membiarkan air mata yang sejak tadi ia tahun juga ikut terjatuh lepas dari permukaan terluar lapisan pelindung ametisnya.

Terakhir kali mereka bersama, sebelum kejadian penyerangan Yahiko, Hinata ingin mengatakan kepada Sasuke bahwa mungkin ia jatuh cinta pada pria itu. Namun saat itu ia sendiri masih meragukannya, masih ada kata mungkin yang ia gunakan sehingga jadilah ia urungkan ungkapannya. Tapi sekarang begini kejadiannya, Hinata menyesalinya, menyesali semuanya.

Hinata menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi . Apa yang Sasuke katakan benar, bahwa Hinata akan menjadi penyebab dirinya terbunuh. Semua karena dirinya yang lemah, yang bahkan tak bisa melindungi diri sendiri.

"Bagaimana kabarmu?" Konan bertanya, sekedar basa-basi untuk membuka suasana baru. Ia mendekat perlahan kemudian duduk di tepi ranjang Hinata, tepat di sisi Hinata yang duduk meringkuk. "Aku mendengar tentang apa yang terjadi pada Thunder kemarin."

Hinata menggigit bibir, cepat-cepat ia memejamkan matanya untuk mencegah cairan yang sama mengalir dari matanya. Konan yang bersimpati meraih Hinata dan memeluknya ringan, diusapnya surai Hinata yang tergerai tak rapi untuk mencoba menenangkan.

Hinata yang merasa mendapat tumpuan semakin menenggelamkan wajahnya di bahu sempit Konan. "Ini... salahku..." isaknya lirih.

"Hinata." Konan masih mengusap lembut surai Hinata hingga punggungnya beberapa kali sebelum sedikit menarik diri untuk menghapus air mata di pipi Hinata. "Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Ini bukan salahmu," yakinnya.

"Tidak." Hinata menggeleng, tak setuju dengan apa yang Konan katakan. Ametisnya kembali ia sembunyikan di balik kelopaknya. "Aku... aku tidak tahu... aku... tidak bisa..." Hinata meracau tak jelas di tengah isakannya.

"Maaf, Hinata." Konan menghela napas prihatin. "Aku tidak tahu kalau... dia begitu berarti bagimu," lirihnya.

"Aku mencintainya, Konan," aku Hinata sendu. "Tapi aku tidak pernah mengatakannya. Dia... dia tidak pernah mengetahuinya." Hinata masih tertunduk melewatkan senyum kecil yang menghiasi wajah ayu Konan.

"Kalau begitu kau harus mengatakannya segera setelah ini, Hinata." Konan meraih tangan Hinata dan menggenggamnya. Hinata yang tak mengerti mengangkat wajah untuk bertatap muka dengan rekannya itu. "Dia masih di sini. Dia hidup," ujar Konan setelah beberapa detik mereka berpandangan.

"A-apa?" Hinata berkedip cepat, menyingkirkan air mata yang mengganggu pengelihatannya. Jantungnya berdetak begitu cepat hingga ia beberapa kali menarik napas untuk menenangkan dirinya.

"Dewa Senapan kita hidup," ulang Konan dengan senyum sumringah. "Mereka menyelamatkannya. Sekarang dia sedang istirahat namun masih dalam pengawasan ketat."

Butuh beberapa detik untuk Hinata bereaksi. Ia terlalu terkejut dengan informasi yang dibawa Konan, pasalnya ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Sasuke kehilangan detak jantungnya.

"Aku harus menemuinya," sergah Hinata cepat, ia berniat bangkit namun Konan menahannya.

"Tidak boleh. Mereka tidak akan membiarkanmu masuk."

"Aku akan meminta bantuan Jenderal Hatake."

"Jenderal Hatake sendiri sedang mencoba menjelaskan diri karena telah membawamu ke P-shard," Konan menghela napas. "Tenang, Hinata. Thunder baik-baik saja. Dia bahkan lebih baik daripada kondisimu sekarang," cibir Konan mencoba mengangkat suasana agar menjadi lebih ringan.

"Bagaimana bisa kau yakin dia baik-baik saja?" tanya Hinata, tak memedulikan perkataan Konan.

"Hinata—"

"Kau sudah melihatnya? Kau sudah bicara dengannya? Apa dia mengatakan sesuatu?"

"Ya Tuhan, tenanglah, Hinata." Konan menghentikan hujanan pertanyaan dari Hinata. "Dia baik-baik saja," ulang Konan penuh penekanan. "Semua menyesal atas apa yang terjadi padanya. Ya, mungkin kecuali marsekal dan ayahmu. Aku tidak berniat untuk menyiram bensin di kobaran api, tapi... kurasa marsekal benar menginginkan agar Thunder tersingkir."

"Apa?"

"Dia bilang, Thunder tidak akan pernah menghentikan sikap dan tingkah buruknya. Dia tidak mendengar apa yang dikatakan Jenderal Hatake dan tetap menuntut hukuman untuk Thunder," jelas Konan kecut.

Hinata ingin mengumpat, tapi ditahannya. Sebagai gantinya ia hanya mengepalkan tangan erat sambil mengutuk marsekal mereka di dalam benaknya. Lalu kemudian bayangan Sasuke kembali mengisi kepalanya.

"Aku melihatnya, Konan... dia sempat mati," gumam Hinata menerawang.

"Tapi sekarang jantungnya kembali berdetak. Itu yang penting." Konan mengusap bahu Hinata.

Hinata memandang Konan dengan senyum tipis, sangat tipis. Dalam dirinya ia merasa luar biasa lega. Hanya satu kerikil mengganjal, yaitu tentang adakah jaminan bahwa kejadian ini tidak akan terulang.

"Mereka akan tetap melanjutkan hukumannya, bukan? Hal ini bisa saja terulang."

"Mungkin. Tapi kau tahu... Thunder mendapat serangan jantungnya bahkan sebelum mereka menyetrumnya," ujar Konan.

"Apa?"

"Kurasa ini lebih karena tempat kurungannya. Kalau menurutku, dia bereaksi di luar batas karena klaustrofobianya memburuk."

"Bagaimana bisa?"

Konan menegakkan tubuhnya, membenarkan posisi duduknya agar lebih nyaman. "Jelas sekali kalian memiliki sesuatu," ujarnya dengan penekanan di kata 'sesuatu'. "Dan Thunder tidak pernah memiliki sesuatu apapun. Tidak ada bahkan seorang teman pun, dia selalu hidup dalam dunianya sendiri tanpa mengerti arti kesepian."

Hinata masih diam menunggu Konan melanjutkan opininya.

"Dan kurasa, setelah kau hadir di dalam hidupnya, kesepian itu... dia mulai mengerti rasanya. Dan hal itu bisa jadi memperburuk klaustrofobia yang diidapnya."

"Aku..." Hinata menjilat kecil bibi bawahnya. "Kuharap dugaanmu salah, Konan."

"Kenapa?" Kening Konan berkerut. "Astaga, Hinata, tidakkah kau sadar betapa romantisnya itu?"

Hinata tertawa hambar. "Apanya yang romantis."

Konan menggeleng sebelum menjawab. "Tentu itu romantis karena secara harfiah, jantungnya berhenti berdetak untukmu."

"Untukku?" lirih Hinata tak yakin.

"Ya. Dan kau tahu apa lagi? Aku yakin dia juga hidup kembali untukmu!" seru Konan penuh semangat. "Orang-orang seperti kita seperti ditakdirkan untuk jauh dari hubungan semacam itu. Tapi kalian... kalian saling memiliki tidak peduli siapa kalian atau apa pekerjaan kalian. Kalian akan selalu bahagia jika bersama, aku dapat melihatnya."

Hinata menatap jendela kamarnya dengan tatapan menerawang. "Tentu, tapi bukan di sini, mungkin di kehidupan lain. Di mana kami bukanlah bidak yang dimainkan untuk saling menghancurkan," gumam Hinata rendah. "Sasuke... dia berhak atas segala kebahagiaan yang ada, tapi aku tidak yakin aku bisa memberinya semua itu."

"Kau gila, ya?" Konan berdecak. "Jika bukan kau, siapa lagi? Jelas aku jauh dari nominasi kandidat yang cocok. Jenderal Hatake? Hmm, dia memang perhatian, tapi aku pikir tidak," ungkapnya dengan nada mencibir. "Buka matamu, Hinata. Dari semua orang yang mampir di hidupnya, Thunder hanya melihatmu, dia mencintaimu."

"Cinta... itu... kata yang terlalu berat untuk disandingkan dengannya." Hinata kembali mengeluarkan tawa hambar yang singkat.

"Kau barusan bilang kau mencintainya," balas Konan, gemas dengan kebimbangan Hinata.

"Benar, tapi..."

"Hinata." Konan menyela ucapan Hinata. "Kalian berdua adalah agen, kalian bisa saja mati di misi selanjutnya. Jadi berhenti menahan perasaan kalian masing-masing!" tengasnya.

Hinata berkedip, menyadari kebenaran dari apa yang Konan katakan. "Aku hanya ingin melihatnya, Konan." Itulah yang pada akhirnya Hinata katakan.

"Kubilang tidak bisa. Dia masih dikarantina, setengah sadar. Jadi sekarang kau harus istirahat," oceh Konan. "Lagipula, pacarmu itu kuat. Aku yakin saat kematian mengancamnya, dia akan menari bebek di hadapan dewa kematian itu sendiri," guraunya renyah. "Jadi jangan cemas, dia akan baik-baik saja. Dia selalu baik-baik saja."

Hinata tersenyum, meski kekhawatiran masih menyebar di dalam tubuhnya, ia lega Konan ada di sana untuknya.

"Dan aku akan mengunjungi Yahiko," tambah Konan. "Mungkin sedikit menghantamkan kepalanya ke dinding atau apalah agar pikirannya terbuka. Mereka mungkin akan kembali mempertimbangkan hukuman Thunder jika ia mau bicara tentang niat Thunder yang sebenarnya ingin melindungimu."

"Terima kasih, Konan," ucap Hinata rendah sembari menawarkan seulas senyum yang kembali dibalas senyuman oleh Konan.

..

...

..

Hinata melangkah keluar dari kamar mandi dibarengi dengan satu helaan napas panjang setelah selesai berpakaian. Benak Hinata masih dipenuhi Sasuke meski kaba tentang kondisi pria itu telah dipastikan. Ada banyak hal yang ia pikirkan. Tentang perasaan leganya, juga tentang kecemasannya. Lega karena Sasuke dapat kembali dan cemas jika peristiwa serupa terulang lagi.

Lamunannya pecah seketika ia menyadari pintu kamarnya yang ia yakin sebelumnya tertutup kini bercelah.

"Hinata."

Sebuah suara secara otomatis membuat Hinata berbalik ke arah sumbernya. Dan netranya melebar kala ia melihat Sasuke berdiri di dekat jendela kamarnya. Pria itu masih terlihat layu juga lelah.

"Sial!" Sasuke bergerak cepat untuk menyergap tubuh Hinata. Kedua telapak tangannya ia tangkupkan di sisi wajah Hinata sebelum memulai sebuah ciuman agresif yang terkesan lambat.

Hinata merasakah sekujur tubuhnya meremang tersiram perasaan lega yang tak terduga. Membuatnya lambat merespons akan apa yang terjadi. Sasuke di depannya, menyentuhnya. Pria itu benar-benar di sana dengan detak jantung yang dapat Hinata rasakan.

"Sasuke," panggilnya lirih ketika bibir mereka terpisah. Tangannya terangkat untuk balas menyentuh wajah Sasuke sebelum kembali mempertemukan bibir mereka. "Sasuke," panggilnya lagi, seolah ingin lebih yakin bahwa ini bukan sekedar fantasinya. Tangan Hinata kemudian jatuh hanya untuk melingkari tubuh besar pria di hadapannya itu, mendepaknya erat. "Aku mencintaimu... aku mencintaimu," pecah Hinata.

"Sial, Hinata. Aku mencintaimu meski aku tidak memahami apa itu cinta. Aku tidak peduli apa artinya. Yang kutahu hanya kau satu-satunya yang aku punya." Sasuke menghujani pipi Hinata yang basah dengan ciuman ringan. "Aku tidak memiliki banyak waktu," ujarnya setelah beberapa menit mencumbu wajah Hinata. "Dokter hanya memberiku waktu satu setengah jam untuk keluar. Dan kudengar aku sempat mati?" tanyanya.

"Benar, brengsek! Aku melihatnya! Kau..." Kalimat Hinata terpotong, tak mampu untuk meneruskannya tanpa mengingat bayangan menyakitkan itu lagi.

"Tidak apa-apa. Sekarang aku tidak apa-apa." Sasuke baru balas memeluk tubuh Hinata kemudian memberikan satu kecupan singkat untuk sekedar menenangkan. "Dan hal itu bukan alasan untukmu lupa mengunci pintu," tambahnya.

Hinata sedikit cemberut, masih sempat-sempatnya Sasuke mengangkat topik tak penting di tengah situasi haru macam sekarang ini. Dasar memang, perusak suasana sejati.

Sasuke menghela napas. "Aku bersumpah, bajigan itu akan membayar semua ini," umpat Sasuke rendah.

"Tidak," sela Hinata. "Jangan berani-beraninya kau untuk mempersulit posisimu sendiri!"

"Aku tidak bisa melepaskannya begitu saja, Hinata. Dia beruntung sekarang karena aku masih ditahan."

Hinata mengalungkan tangannya di leher Sasuke, membuat wajah pria itu menunduk mendekatinya. "Jangan lagi bertindak gegabah, Sasuke. Aku ingin kau memikirkanku. Apa yang bisa aku lakukan jika kau tidak ada?" jelasnya lirih namun dalam.

"Percayalah, Hinata... aku tidak yakin aku bisa memikirkanmu lebih dari sebanyak aku memikirkanmu sekarang," balasnya dengan senyum tipis, ditatapnya sepasang manik ametis Hinata dengan lembut. "Aku tidak peduli apa yang orang lain pikirkan tentangku. Aku memilikimu yang selalu mencari sisi baik di dalam diriku meski aku selalu berkata bahwa aku tidak memiliki sisi itu. Dan itu merupakan alasan yang cukup untuk membuatku melakukan apapun untukmu."

Mata Hinata kembali berkaca-kaca, kali ini dengan lapisan cairan penuh kebahagiaan.

"Aku ingin kehidupan yang lebih baik untukmu, bersamamu. Aku janji, mungkin suatu hari nanti, saat semuanya selesai... kita akan pergi dan melepas semua yang mengikat kita di sini."

Hinata hanyut dalam tatapan lembut manik gelap yang menyandera pandangannya itu. Kepalanya seakan kosong oleh kata-kata untuk diucapkan. "Aku—"

Baru satu kata tersuarakan, tubuh Hinata terasa seperti terlempar oleh sebuah ledakan yang terdengar sebelum ia sadar ternyata juga mengenainya. Ledakan yang berasal dari jendelanya itu cukup kuat untuk menghancurkan sebagian dinding.

Semuanya terlihat gelap untuk beberapa saat, dan yang selanjutnya Hinata rasakan adalah nyeri di setiap bagian tubuhnya yang sebelumnya terpental. Beberapa bagian tubuhnya terluka karena momentum dengan material ledakan tadi. Ametisnya merekam sekelilingnya yang kini penuh asap, telinganya berdengung tak nyaman.

"Sasuke!" teriak Hinata setelah menyadari Sasuke tak lagi berada dalam jangkauannya. Ia mencoba berdiri namun sakit di bagian perut dan rusuknya sulit untuk diabaikan.

Sebelum Hinata menyadari hal lain, ia merasakan surainya ditarik paksa ke belakang hingga ia mendongak. Hinata meringis kesakitan kemudian kembali mencari sosok Sasuke, mengabaikan siapapun yang menyerangnya.

Dan akhirnya ia melihat Sasuke, pria itu masih berada tak jauh dari tempat mereka berdiri tadi. Hanya saja kini dalam posisi meringkuk memeluk lengan kirinya dan pelipis yang berdarah. Oniks pria itu menatap tajam ke arahnya, namun tidak benar-benar kepadanya.

"Keparat, kau!" teriak Sasuke.

"Kau ingin dia kembali?" Dan suara yang muncul dari belakangnya itu baru menyadarkan Hinata bahwa dirinya kini telah menjadi sandera.

Hinata mengerang saat orang yang menyaderanya semakin kasar menjambak rambutnya hingga memaksanya untuk berdiri.

"Lepaskan dia! Jangan menyentuhnya, kau bedebah!"

"Kau tahu di mana bisa menemukanku," ujar suara yang sama. "Datang dan selamatkanlah dia."

"Kau... kubunuh kau..." Sasuke menggeram tajam dan rendah, ia baru memaksakan dirinya untuk berlutut dan hendak meluncur ke arah Hinata, namun dari belakang sebuah kaki menghantam sisi kepalanya hingga ia kembali tersungkur.

"Sasuke!" Hinata memekik melihat pria itu kembali terjatuh, matanya melotot ketakutan terlebih saat satu kaki menahan tengkuk Sasuke agar pria itu tak dapat bangkit.

"Jangan khawatir. Aku tidak akan menyentuh gadismu ini," ujar si penyandera sebelum menyeret Hinata pergi dari sana, meninggalkan Sasuke yang berteriak kesetanan di bawah tekanan beberapa komplotan itu yang masih tinggal.

..

...

..

Tak ada objek apapun yang dapat Hinata tangkap di retinanya saat ia membuka mata. Ia terduduk di lantai, dadanya sesak karena tali yang mengikat kuat tubuhnya. Bernapas sudah merupakan hal yang sulit, apalagi jika harus mengusahakan diri untuk lepas.

Keadaan sekitarnya begitu gelap, tanpa cahaya dari segores celah pun, tapi Hinata tahu ruangan itu luas juga kosong. Seperti sebuah gudang yang tak lagi digunakan. Dengan segala nyeri yang di tahannya, Hinata bergerak menggeliat ke belakang hanya untuk menemukan permukaan dinding menyentuh punggungnya.

Kening Hinata berkerut, penuh pemikiran. Jika ditanya di mana dia sekarang, Hinata tak tahu jawabannya. Tapi jika pertanyaannya adalah siapa yang menyekapnya, ia jelas memiliki satu nama.

Tak lama setelah dirinya tersadar, Hinata mendengar bunyi pintu terbuka dan langkah berat kaki-kaki menyebar memenuhi partikel udara.

"Ahh... sudah bangun rupanya," suara yang familiar menyapa gendang telinga Hinata, membuatnya tanpa sadar beringsut menjauh. "Tidak perlu takut, Tuan Putri," pemilik suara itu melangkah semakin mendekati Hinata.

Meski dalam kegelapan, Hinata masih dapati seringai sadis yang ditampakkan sosok itu. Ametis Hinata menantang sepasang manik cokelat yang hampir sejajar dengan level matanya kini. Pekikan tertahan lepas dari tenggorokannya saat satu tangan mencengkeram dagunya.

"Caligo." Hinata menatap Caligo, jarak mereka membuatnya lebih jelas melihat wajah pria itu. Masih terlihat muda, mungkin memang seumuran dengan Neji dan Sasuke.

"Kau tahu namaku?" ujar Caligo dengan pertanyaan yang sebenarnya tak ia butuhkan jawabannya. Diusapnya darah kering yang menodai rahang Hinata. "Tentu kau tahu. Bagaimana tidak? Pacarmu yang suka mencampuri urusan orang lain itu pasti memberitahumu segalanya."

Hinata menghentakkan kepalanya ke belakang, menjauh dari sentuhan Caligo. "Setidaknya dia bukan pengecut sepertimu," umpatnya tajam. "Menyekap orang lain bukanlah permainannya. Dia bertarung, bertatap muka langsung."

"Memang. Dan sangat disayangkan gadis cantik sepertimu terlibat dengan seseorang sepertinya," ujar Caligo dengan nada mengejek.

"Apa yang kau inginkan?" desis Hinata.

Caligo memberikan senyum tipis yang mengerikan, ia kemudian menengok ke belakang, ke arah beberapa pengikutnya. Tal lama setelahnya orang-orang itu keluar tanpa mengatakan apapun.

"Banyak hal sebenarnya," jawab Caligo ringan. "Kau pasti ingat pernah bertemu denganku sebelumnya, bukan? Singapura?" pancing Caligo. "Aku tidak tahu siapa dirimu saat itu, hanya seorang gadis yang tidak sengaja kulewati. Lalu aku melihatmu lagi tengah bersama seseorang yang sepertinya familiar."

Hinata diam, namun matanya masih menatap tajam lelaki di hadapannya.

"Kemudian beberapa orang-orangku tewas, termasuk tangan kananku. Anbu, aku sudah mengira organisasi itu akan menjadi hambatan untukku, terlebih jika harus berhadapan dengan pacarmu," jelasnya tenang. "Aku cukup lama mengenal Hyuuga Neji, cukup lama untuk mengetahui sedikit tentangmu. Dan hal itu membuatku agak tak percaya bahwa kau terlibat. Dan dari informasi yang aku kumpulkan, aku juga tahu bahwa kalianlah yang bertanggung jawab atas ledakan itu."

Hinata merasa dadanya bergemuruh saat topik tentang Kematian Neji diangkat.

"Sekarang katakan padaku, Hinata..." Caligo menggantung ucapannya sejenak. "Seberapa besar sebenarnya kau mencintai Neji."

"Kau tidak akan pernah bisa membayangkannya," jawab Hinata tajam. Ia berkata jujur, memang ada fase dalam hidupnya saat ia mencintai sepupunya itu dengan begitu besarnya.

"Lalu apa alasanmu membunuhnya?"

"Aku... tidak..." Hinata menemukan dirinya tak mampu meneruskan kalimatnya.

"Aku juga menemukan beberapa hal tentang dirimu. Beberapa tahun ke belakang kau menjadi seseorang yang menarik diri. Kau seperti seekor cacing yang bersembunyi di dalam tanah. Dan seharusnya kau tetap seperti itu. Seperti apa yang Neji inginkan." Ucapan Caligo terdengar rendah dan begitu serius. "Sayang sekali kau tidak pernah mengetahui jika dia selalu bergerak untukmu," tambahnya disertai kekehan pelan.

Kening Hinata berkerut tak mengerti, namun ia tahu merupakan pilihan yang salah untuk menelan apa yang pria itu katakan. "Neji sudah meninggal. Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi tentangnya," bisik Hinata. "Sekarang akulah targetmu. Bunuh aku, apa yang kau tunggu? Lakukan apa yang kau inginkan!"

Hinata tak benar-benar serius dengan ucapan menantangnya itu. Sebelum mengenal Sasuke, mungkin ia akan dengan pasrahnya berjalan ke pelukan dewa kematian. Tapi sekarang, yang ia inginkan adalah agar terus hidup. Yang ia inginkan adalah memiliki lebih banyak waktu bersama Sasuke.

Terdengar kekehan rendah milik Caligo. "Perlu kau ketahui, di sini bukan kau targetnya, Cantik," seringainya kemudian berdiri dari posisi berjongkoknya, membuat Hinata semakin menengadah. "Tapi karena kau juga berpengaruh, kalian akan sama-sama berakhir tragis. Tapi bisa kupastikan, kematian Thunder akan jauh lebih mengerikan karena aku akan menyerahkannya langsung kepada Akatsuki," jelasnya.

"Caligo." Sebuah suara menyela percakapan mereka. "Dia di sini," tambahnya menginformasikan.

Caligo yang semula menengok ke salah satu bawahannya itu kembali memandang Hinata, kali ini dengan tatapan terhibur. "Aku tidak percaya dia benar-benar datang sejelas ini." Caligo mengeluarkan tawa singkat. "Bagaimana menurutmu? Apa ini karena cinta hingga dia dengan bodohnya masuk ke perangkapku?"

"Apa yang kau bicarakan?" tanya Hinata waspada.

Tanpa memberikan jawaban, Caligo menarik Hinata hingga berdiri dan menyeretnya berjalan menyeberangi ruangan. Hinata sempat berpikir untuk melawan, namun jelas sekali itu tidak akan berguna dalam kondisinya sekarang.

Hinata melihat ia diarahkan ke salah satu pintu yang terbuka. Barulah saat itu ia mendapati cahaya yang lebih dari sebelumnya, meski masih begitu remang. Mereka berjalan menelusuri lorong yang terasa lembab hingga sampai ke ruangan lain. Hinata mengedarkan pandangannya, ada banyak pria berbadan kekar yang bersenjata di setiap sudut dan di tengah-tengah ruangan, Sasuke berdiri sendirian.

Hinata ingin menangis mendapati Sasuke di sana. Pria itu masih terlihat begitu layu meski tetap memakai topeng wajah mengintimidasinya. Ia masih mengenakan pakaian yang sama seperti yang siang tadi dikenakannya. Luka yang didapatkan akibat ledakan itu pun tidak terlihat seperti sudah ditangani.

"Apa dia benar-benar berarti bagimu?" Caligo bertanya di sela kekehan gelinya.

"Lepaskan dia," ujar Sasuke kasar namun rendah. Oniks hitamnya masih menatap tajam Caligo.

"Kau benar-benar cerdik. Akatsuki telah mencoba memburumu selama beberapa tahun terakhir tapi kau tetap tidak tersentuh. Tapi sekarang... kami menemukan kelemahanmu" Satu tangan Caligo membelai pelan pipi hingga rahang Hinata sedang tangan lainnya tetap menahan wanita itu agar tak bergerak melawan. Hinata sendiri menyentak, ingin menjauh dari sentuhan itu. "Ini menguntungkanku karena aku juga ingin kau mati."

"Kenapa? Kau dendam padaku karena telah menghabisi anak buahmu?" tanya Sasuke dengan decihan.

"Kau terlalu banyak bicara untuk seseorang yang akan menghadapi kematiannya. Rasanya aku ingin membunuhmu saat ini juga. Tapi Akatsuki menginginkan informasi darimu." Caligo mendorong Hinata kasar hingga wanita itu kini berada di cengkeraman dua anak buahnya. "Aku yakin kau cukup pintar untuk menebak apa yang ingin mereka ketahui. Tentang organisasi tempatmu bekerja, nama marsekal dan jenderal yang bertanggung jawab, juga rencana kalian."

"Semoga berhasil untuk membuatku membocorkannya kalau begitu," balas Sasuke ringan.

Caligo berdecak. "Kau masih sok hebat." Caligo mendekati Hinata yang kanan dan kirinya ditahan oleh dua anak buahnya. "Bagaimana jika kita melakukan sebuah permainan?" tawar Caligo dengan nada tenang.

Setelah Caligo mengatakan hal itu, tanpa aba-aba seseorang menghantam punggung Sasuke dengan ujung sekop, membuatnya jatuh berlutut karena tak siap menerima serangan itu.

"Sasuke!" Hinata bergerak melawan orang-orang yang menahannya meski hasilnya sia-sia.

Baru akan menegakkan kepalanya, Sasuke kembali menerima hantaman di tengkuknya, membuatnya lagi-lagi tersungkur, tertundukkan. Ia tak terlihat seperti akan melawan. Sejujurnya, ia memang tak sedang dalam posisi untuk bisa melawan.

"Hentikan, kalian bajingan!" jerit Hinata, air matanya lolos berbarengan dengan amarahnya yang memuncak. Selanjutnya, yang Hinata sadari adalah dirinya yang dipaksa berlutut di tempat.

"Hinata!" desis Sasuke yang menyaksikan bagaimana mereka memaksa wanita itu. Ia ingin bangkit, jika saja beberapa kaki yang mengelilinginya berhenti menghantam tubuhnya.

"Aku akan memberimu waktu satu menit untuk membeberkan segalanya, Thunder, atau seperti yang gadis ini panggil... Sasuke." Caligo mengambil sesuatu dari saku belakangnya. "Dan setiap sepuluh detiknya, jika aku tidak mendengar apapun darimu atau malah mendengar perlawananmu... aku akan mengukir beberapa luka kecil untuk gadis ini." Diacungkannya benda yang ia ambil tadi dari sakunya yang ternyata merupakan pisau lipat tepat di ujung hidung Hinata. "Kau ingin melihat contohnya?" seringai Caligo.

Tak sampai satu detik, Hinata dibuat memekik keras saat permukaan tajam pisau Caligo menyayat keras bahunya. Namun setelahnya yang Hinata pikirkan hanyalah Sasuke. Diliriknya pria itu tengah diam tak berkedip menatapnya.

"Tidak, aku mohon," pinta Hinata lirih. "Jangan di hadapannya... aku mohon jangan lakukan ini di hadapannya."

Air mata berlomba meluncur membuat jejak sempit di permukaan pipi Hinata. Ia tak peduli betapa terdengar atau terlihat menyedihkannya ia sekarang. Yang terus terlihat di benaknya hanyalah ekspresi Sasuke yang terlihat mati. Dan ia tahu penyebabnya. Setelah menyaksikan peristiwa berdarah yang terjadi terhadap kakak perempuannya, Sasuke tak perlu menyaksikan hal serupa terjadi kepada Hinata.

"Sudah berjalan lima detik." Caligo menginformasikan.

"Berhenti! Berhenti!" teriak Sasuke histeris. "Aku tidak bisa, mereka tidak akan membiarkanku jika aku mengatakannya!"

"Aku yakin kau tidak memiliki pilihan lain, Agen Thunder," balas Caligo tenang.

"Lepaskan... lepaskan dia. Kalian bisa menangkapku, tapi lepaskan dia," ujar Sasuke dengan nada penuh kepanikan.

"Kau bodoh jika berpikiran kau bisa bernegosiasi denganku sekarang."

Caligo baru mengangkat tangannya lagi, hendak melayangkan satu sayatan di tubuh Hinata tepat saat ledakan besar terjadi di setiap sudut ruangan itu. Dan sebelum Hinata menyadarinya, tubuhnya sudah tak lagi ditahan oleh tangan-tangan besar.

Otaknya seperti berhenti bekerja untuk beberapa saat, dan saat ia tersadar, dirinya sudah dikelilingi asap juga debu reruntuhan dengan bunyi tembakan yang saling bersautan mengisi ruangan itu. Hinata mencoba berdiri, masih dengan tubuh terikat. Di tengah kekacauan itu, ia hanya dapat melihat Tenten yang tengah mengarahkan pelurunya ke salah satu anak buah Caligo.

Di tengah usahanya untuk bergerak, Sakura tiba-tiba berlutut di hadapannya, dengan cekatan melepaskan ikatan yang melilit tubuhnya.

"Kita keluar dari sini, Hinata!" seru Sakura sambil membantu Hinata untuk berdiri.

"Sakura!" kejutnya. "Sasuke... di mana Sasuke?"

"Aku tidak tahu, Naruto akan menemukannya," jawabnya. "Ayo!"

Hinata mengedarkan pandangan untuk menemukan pintu keluar, tapi melihat lubang besar yang diciptakan ledakan tadi, sepertinya mereka tak perlu repot-repot mencari alternatif lain. Secepat yang ia mampu, Hinata bergerak ke luar melewati beberapa reruntuhan juga tubuh tanpa nyawa yang bergeletakan.

Setelah mereka keluar, Hinata mendapati Naruto yang juga tengah melangkah menjauh dari tepat kejadian dengan memapah serta Sasuke yang tak sadarkan diri.

"Naruto!" seru Hinata sambil mendekat.

"Kita harus cari tempat yang aman," responsnya terkesan terburu-buru. Mengabaikan Tenten dan Sakuran akhirnya bergabung.

"Apa yang terjadi?" Hinata mempertanyakan keadaan Sasuke. Pria itu tidak terlihat terluka parah secara fisik.

Naruto tak menjawab langsung, malah terus berjalan sambil menyeret Sasuke hingga ke satu gang yang diapit dua bangunan cukup tinggi. Dengan cepat namun hati-hati ia merebahkan Sasuke di tanah.

"Sepertinya dia mendapat serangan lagi." Barulah Naruto menjawab, ia memeriksa denyut nadi dan detak jantung Sasuke. "Sial!" umpatnya.

"Apa?" Hinata merasa kembali di serang teror.

Tanpa memberikan respons lebih jauh terhadap Hinata. Naruto membuka mulut Sasuke yang mengejang dan memasukkan telunjukkan.

"Brengsek!" umpat Naruto lagi saat jarinya tergigit kuat oleh gigi Sasuke. Tapi setidaknya ia tahu rekannya itu masih merespons. Tanpa membuang waktu, Naruto menumpukan telapak tangannya di dada Sasuke dan menekannya kuat-kuat. "Bangun kau, keparat!" racaunya lagi. "Sakura!" panggilnya tiba-tiba setelah ingat bahwa wanita itu lebih ahli dalam hal seperti ini.

Sakura tersentak, masih berdiri di sisi Hinata yang berlutut di seberang Naruto. Ia memandang Naruto dengan tatapan ragu. "Naruto... dia... berdarah," gumamnya, kalimat patahnya merujuk ke darah yang mengalir di ujung bibir Sasuke.

Naruto naik pitam seketika, ia menggeram tajam ke arah Sakura, mengelurkan umpatan pendek untuk wanita itu sebelum kembali memfokuskan diri memompa dada Sasuke. Tanpa pikir panjang, Naruto membuka mulut Sasuke, dan beberapa kali memberikannya napas buatan.

"Bangun, brengsek!" Kali ini Naruto menghantam rusuk Sasuke dengan tinjunya, terlihat begitu gemas.

Hinata sendiri merasa tak berguna, ia tak dapat melakukan apapun untuk membantu Naruto menyelamatkan Sasuke. Ia hanya memandang wajah tenang Sasuke yang berkebalikan dengan ekspresi Naruto yang luar biasa berantakan. Hinata meringis saat Naruto memukul-mukul dada Sasuke, ia berpikir Naruto bisa saja menghancurkan rusuknya jika terus begitu.

Namun sebelum sempat memprotes, satu tarikan napas panjang terdengar dilakukan oleh Sasuke. Oniksnya terbuka lebar, bibirnya tak juga tertutup dan terus membantu memasok udara ke dalam dadanya, seakan tak pernah cukup meraup oksigen di sekitarnya.

"Ya Tuhan." Naruto menghela napas, ia menjatuhkan dirinya hingga terduduk ke belakang.

"Sasuke!" Hinata membantu Sasuke yang terlihat ingin mendudukkan dirinya kemudian langsung memeluk pria itu erat.

"Apa aku... melewatkan... sesuatu?" Dengan napas berat, Sasuke menggumam lirih di telinga Hinata.

"Aku bersumpah akan membunuhmu lagi jika tadi kau mati." Naruto menendang sisi paha Sasuke sebelum berdiri dan mendekati Sakura. "Apa itu tadi?!" bentaknya kasar.

"Ma-maaf..." Sakura mundur tanpa sadar. "Kau tahu... rumornya. Aku hanya... aku tidak ingin darahnya..." Sakura terbata hingga tak bisa meneruskan kalimatnya, namun Naruto lebih dari mengerti apa maksud wanita itu.

"Persetan denganmu!" teriak Naruto lagi. "Kau benar-benar berniat membiarkannya mati untuk alasan tolol itu?!" geramnya, tak memedulikan ekspresi Sakura yang terlihat menyesal.

Hinata sendiri tak memedulikan apapun yang mereka perdebatkan. Yang ia tahu adalah Sasuke sekarang aman di pelukannya. Masih hangat dan bernapas.

.

to be continued...

..

.

Updatenya cukup cepet kan yaaa hhaha *berbangga diri *plakk :v

Anyway this fic has 3 more chapters to go... ada yang udah bayangin endingnya? :3

A lot thanks for you and see you guys... till we meet again on next chap :*