Main Cast : ChanBaek *Chanyeol (25 Years Old) / *Baekhyun (9 Years Old)
Other Cast : Yonghwa, Heechul, HunHan, Sooyoung, Je Ni
Disclaimer : Cerita ini, murni milik Gloomy Rosemary
.
.
.
Previous Chapter
Sebelah tangan terulur, ingin menyambut jemari mungil itu...
Ya... tak lama lagi, bahkan... hanya dengan menghitung detik saja... semua mata akan melihat bagaimana sumpah itu tersemat.
Hingga membawa seorang Ratu... yang kelak bertahta untuk Silla.
"KAU TAK BISA MELAKUKANNYA!" Seorang wanita tiba-tiba mengacau dengan pedang terhunus di hadapan Chanyeol.
"AKU!" Kedua mata itu makin memandang nyalang, tak peduli dengan riuh yang mulai menggumam di tengah upacara pernikahan itu. "AKU MASIH SEORANG RATU DI SINI!"
.
.
.
LOVE OF FALLEN LEAVES
CHAPTER 14
Yaoi
Fanfiction
Rated M
.
.
.
Tak seorangpun tau... hari yang semestinya penuh kilau itu akan nyaris berakhir naas.
memang bukan terjadi pada dirinya...
akan tetapi, pedang itu benar-benar terhunus tepat di hadapan sang Penguasa.
Sosok yang begitu diagungkannya, bahkan lebih dari sumber hidupnya sendiri.
Tentu... bukan main lagi semua rakyat Silla mengutuk, wanita di atas altar itu
.
.
"YANG MULIAAAAA" Terdengar teriakan, dan jerit bersahutan dari Silla, tak menginginkan suatu petaka terjadi pada Penguasa Tunggal itu.
Tak pernah terbesit dalam benak mereka, jika seorang wanita yang pernah mulia itu... akan berperangai serendah ini. Bahkan... tindkannya kali ini lebih dari sekedar pemberontakan.
.
.
Seringai terbias tajam dari sudut bibirnya, sesaat membuat gincu merah itu merekah... hingga siapapun yang melihatnya tau, ada kebencian bahkan dendam dari paras cantiknya
Kedua tangannya masih memegang erat pedang bertapis baja itu, tak sebanding dengan jemari lentiknya... hingga membuatnya berjalan oleng bahkan tak seimbang kala menyentak mata pedangnya.
Tak peduli seberapa berat benda itu, Ia tetap tak akan menarik langkahnya, membiarkan amarah itu berkoar akan jati dirinya saat ini yang dianggapnya benar.
"KAU TAK BISA MENYINGKIRKANKU!"
Sepersekian detik yang tersita, membuat beberapa Pria itu terkejut akan hadirnya... membuat lengah hingga memudahkan wanita itu menyeret paksa Baekhyun ke dalam cengkramannya.
"Lepaskan!" Chanyeol mengeras,namun tak bernyali mendekat jika mata pedang itu telah bertengger di leher namja kecilnya.
Sementara Yong Hwa terlihat berontak tak terima seorang mengancam nyawa Putra kecilnya. Bahkan makin kebas, melihat Baekhyun nyaris menangis ketakutan di atas sana. "SINGKIRKAN PEDANGMU DARI PUTRAKU! SIAPA WANITA GILA ITU HAH?! " Geramnya memaksa merangsak ke depan, namun seorang Pria menahan lengannya.
"Jangan bertindak gegabah Yang Mulia" Bisik Sehun, masih menjaga penuh pergerakan Seulgi.
.
.
"JANGAN MENDEKAT! ATAU KUBUNUH ANAK INI!" Teriak Seulgi seraya memandang berang ke sekitar, mengancam semua Pria itu... untuk tak mengambil satu langkahpun mendekatinya, tak terkecuali Penguasa Silla di depannya.
.
.
"A—ahjjuss—
"DIAM!" Bentaknya, membuat Baekhyun berjengit, dan hanya mampu menengadah, mengikuti bagaimana cara pedang itu menekan pangkal lehernya.
Seulgi tertawa keras, melihat raut ciut itu. Namun tatapan bengis itu seakan tak luput membingkai garis matanya... bahkan terlihat menajam begitu melihat perut bocah mungil dalam sanderanya itu.
"K—kau!" Seulgi mengeratkan gigi. "Cenayang apa yang kau gunakan, untuk merebut suamiku?!" Desisnya, di telinga Baekhyun. masih berkilah... seorang namja mustahil mengandung bahkan membuat Penguasa itu bertekuk lutut hanya untuk bocah seperti dirinya.
"SEULGI!" Kembali terdengar teriakan geram dari sosok penguasa Silla itu. Berharap kaki jenjangnya mampu mengikis sekat, namun yang terlihat ia hanya dibuat berdebar...
Begitu tau wanita itu semakin gentar... membidik leher Baekhyun sebagai sasarannya.
"Turunkan pedangmu... aku tak akan menyakitimu jika—
"KAU MENDENGARKU YANG MULIA?!" Sergah Seulgi, menatap nyalang ke depan... seolah tengah melempar perhitungan penuh dari sorot matanya. "JANGAN MENIKAHI ANAK INI! KARENA HANYA AKU SATU-SATUNYA RATU UNTUKMU!"
Semua tampak tercekat,
Merasa... teriakan itu merupakan pungkas dari amarah wanita itu.
Disingkirkan untuk sesuatu yang memang telah terlarang.
Tapi... semua rakyat Silla telah mengetahuinya, seakan telah menjadi rahasia umum... bahwasannya Seulgi terlibat konspirasi bersama mendiang kakaknya. Tak seharusnya wanita itu bernyali berkeliaran di Silla... terlebih mengancam calon pendamping Raja yang tengah mengandung itu.
"Mengapa Dia masih di sini?"
"Wanita itu... bukankah seharusnya dihukum mati?"
Samar terdengar riuh rakyat Silla, membuat Seulgi mendelik tak suka dibicarakan seburuk itu.
"DIAM KALIAN! AKU TAK BERSALAH! AKU TAK MELAKUKAN SALAH APAPUN!" teriak Seulgi , mulai terlihat goyah begitu semua rakyat itu memandangnya sebelah mata. Bahkan melempar cibiran kebencian itu.
"DIA LAH PETAKA SILLA! SINGKIRKAN WANITA ITU!" Lagi... umpatan demi umpatan mulai menggema.
"A—ANDWAE! AKULAH RATU KALIAN! DIAM SEMUA! KALIAN TAK BERHAK MENGATAKAN SEMUA ITU! AKU RATU NEGRI INI!" Jeritnya, semakin goyah. Kedua tangan itu terlihat gemetar... tak ingin mendengar semua perlawanan itu. Bagaimanapun... Ia masih meyakini akan jati dirinya.
Tahta sebagai Ratu hanya miliknya... bukan milik bocah bernama Baekhyun itu.
.
.
Di sela sekat yang gaduh itu... Chanyeol mulai melempar titah tersirat.
Memberi tanda... bagi Sehun untuk mulai mengerahkan beberapa pembidik, di balik altar dan benteng tinggi itu.
Sebelumya Ia memang merasa riskan mengambil keputusan ini, karna Seulgi hanyalah seorang wanita.
tapi... Dia dengan nyata, telah mengancam Baekhyun dan juga bayi dalam kandungan anak itu.
tentu.. Ia tak bisa menutup mata, dan membiarkan pedang itu mengukir cerita lain untuknya.
.
.
.
"Menyingkir dari tanah ini!"
"Kau tak pantas mendapat kebaikan Silla!"
"DIAM! DIAM KALIAN SEMUA!" Seulgi mulai mengacungkan pedangnya pada semua rakyat Silla yang bergumam riuh di bawah itu.
Detik itu pula—
"Lakukan..." Bisik Raja Silla itu lirih, begitu membaca situasi.
Hingga terdengar, lesatan panah. Membidik tepat, wanita yang masih menggila akan tahta itu.
"BOCAH INI TAK BERHAK ATAS—
JAB
"A—aaaahttttt!" Lengkingnya keras,begitu sebuah panah menusuk bahu kanannya. Tak pelak pedang yang sedari tadi terhunus ke depan itu, reflek terlempar dari tangannya.
Tubuh ramping wanita itu lekas merosot, Membuat Baekhyun yang sedari tadi di cekiknya pun turut terduduk dan terlihat tersengal akibat kuatnya cekikkan lengan itu.
"S—sakiit! aaahhtt! sakiiit!" jerit wanita itu histeris.
Seakan tak menyiakan waktu yang tersisa... Chanyeol bergerak cepat menghampiri wanita itu.
Bukan—
Bukan untuk menyelamatkan Seulgi yang kini meraung kesakitan, akan tetapi untuk merengkuh Baekhyun. Dan menariknya paksa dari cengkeraman wanita itu.
"A—ahjjussii..." Lirih Baekhyun, seraya melingkarkan kedua lengannya di leher Chanyeol untuk dipeluknya erat-erat. "Baekhyun takut Ahjjussii" Adu bocah itu lagi, tak cukup hanya dengan memeluk leher Pria itu. Tapi Ia pun memaksa menyembunyikan wajahnya di balik dada bidang Chanyeol. Tak peduli apa yang dilakukannya hanya akan menekan perut besarnya sendiri.
Chanyeol terkekeh pelan, sejenak mengecup tengkuk Baekhyun sebelum akhirnya memaksa... tubuh mungil itu agar bersandar nyaman dalam gendongan bridalnya.
"Jangan menekan perutmu.." bisiknya pelan.
Dan Baekhyun hanya mengerjap, lalu kembali meyembunyikan wajahnya...
bocah itu terlalu takut dengan pedang yang sempat terhunus padanya, kembali menyeretnya pada detik dimana Ibunya nyaris menikam dirinya.
.
"Aku akan membawamu pergi dari sini" Lirih Chanyeol lagi, sambil mengecup puncak kepala anak itu.
Namun tiba-tiba...
GREBB
Ia tersendat begitu sebuah tangan mencengkeram kuat ujung pakaian agungnya.
"Y—Yang Muliaa.." Panggil Seulgi terbata, membiarkan air mata itu tetap berlinang kala melihat Pria yang selama ini dicintainya kembali merengkuh bocah itu.
"Tak c-cukupkah kau membunuh kakakku?" Isaknya... tak peduli, darah semakin merembas dari luka di bahu kanannya.
"D-dan kau, i-ingin aku melihatmu menikah d-dengan anak itu?! TAK CUKUPKAH KAU MENYIKSAKU?!" Teriak Seulgi, kembali histeris... bahkan makin menggila melihat Baekhyun menggelayut erat pada leher Chanyeol karna ketakutan.
"LEPASKAN ANAK ITU! KAU SEHARUSNYA MERENGKUHKU! BUKAN ANAK ITU!" Seulgi beringsut-ingsut mendekati kaki Chanyeol dan memeluknya erat. berharap lebih... Pria itu masih memiliki iba untuk berpihak padanya.
"K-ku mohon Yang Mulia... hanya diriku! hanya diriku yang bisa mencintai—
"Bawa wanita ini pergi dari hadapanku" Desis Chanyeol pada akhirnya.
Membuat ucapan yang terdengar dingin itu, turut meremukkan hati... wanita yang kini masih memohon padanya.
"Y—Yang Muliaaa?" Pinta Seulgi sambil menggelengkan kepala kasar. Bahkan semakin berontak begitu melihat beberapa pengawal kekar itu, hendak membawa tubuhnya pergi.
"T—tidak! aku ingin bersama suamiku! jangan menariku! aku tak ingin bocah itu merebutnya dari—
"SEULGI!" Geram Chanyeol
Membuat wanita itu terbelalak dan berhenti meracau kacau.
"Berapa kali kukatakan padamu..." Chanyeol melangkah mendekat. membiarkan wanita itu semakin melihat jelas... bagaimana Ia mendekap Baekhyun dalam rengkuhannya.
"Aku tak memiliki perasaan itu"
Seulgi tertawa hambar. "T-tidak... k-kau hanya belum menyadarinya saja Yang Mulia. Bi-biarkan aku bersamamu lalu—
"Aku hanya mencintai anak ini.. Dan Dia mengandung anakku"
DEG
inilah pungkasnya...
kala ucapan itu kembali di dengarnya, bahkan semakin menggema menyertai langkah Pria itu... berpaling darinya.
Meski dera bertubi-tubi itu menyiksa batin dan tubuhnya. Chanyeol tetap melangkah meninggalkannya... tanpa sedikitpun memberi celah untuk menyambut hati.
"Y—yang Muliaaa" Isak Seulgi, mulai melemas... kala semua pengawal itu benar-benar menariknya untuk berdiri. "Kembali padaku YANG MULIAAAAA! Lebih baik kau membunuhku detik ini juga! dibandingkan aku harus melihatmu menikahinya...aaaahhhhhh!" Racaunya tak terkendali.
"CEPAT BERDIRI!" Sentak seorang pengawal.
"YANG MULIAAAA!"
.
.
.
.
.
.
Selang waktu yang nyaris terenggut cekam itu...
Kini berangsur terajut kembali... menyertai angin sepoi beraromakan bunga soba di penghujung senja itu.
Senyum masih terpatri...
Terlalu menawan kala Ia menyambut jemari lentik itu, menyematkan kata serupa ikrar...
Hingga semua rakyat dan penghuni Silla itu bersaksi... dirinya telah mengikat sosok mungil itu, untuk bertahta dalam hidup dan mendampingi kuasanya.
'Kau terlalu cantik hari ini...' Lirih Chanyeol dalam hati, seraya mencium mesra jemari Baekhyun. Dan hanya terdengar oleh keduanya sendiri.
Bocah itu terkikik... entah terlalu girang ataukah tersipu melihat sebuah cincin giok melingkar manis di salah satu jarinya. Membuatnya menimang jari itu lalu tersenyum riang.
"Ahhjjussi... ini untuk Baekhyun?"
Chanyeol lekas terkekeh pelan, masih saja... Ia dibuat terkesima dengan sikap polos itu. Baekhyun terlalu berharga untuknya... Jauh melebihi intan Silla.
.
.
.
"HIDUP YANG MULIA RAJAAA!"
Dentang dan genderang mulai bersahutan... menyambut petang yang mulai menjelang. namun rasanya suka cita itu tak berakhir begitu saja... mereka – Rakyat Silla- terlalu antusias, merayakan hari yang penuh berkat itu.
Tanpa tau... Raja Silla telah bertolak kembali ke dalam istananya.. tentunya dengan membawa serta Ratu kecil mereka.
.
.
"Pada akhirnya semua ini akan terjadi... Raja menemukan kejayaannya. Dan ini yang kami harapkan" Gumam sosok berparas cantik itu, memandang binar pada langit yang penuh dengan kelip lampion dan kembang api.
Membuat Pria yang sedari tadi memang berdiri di sisinya, mengulas senyum lalu menatapnya lekat. "Tidakkah kau tau artinya?" Ujar Pria itu –Oh Sehun-
Namja cantik itu mengerjap, lalu memandang Sehun tak mengerti. "Apa maksudmu?"
Sehun kembali mengulas senyum lalu memandang langit dengan tangan bersidekap. "Satu tugasku untuk membawa Raja pada kejayaannya, telah kulakukan. Sesuai janjimu... saat itu tiba, Kau bersedia menjadi milikku—
Sehun semakin mengikis jarak. "Luhan..." Bisiknya, begitu menangkap tatapan manik rubah itu.
Luhan terkesiap, dan makin terperanjat begitu Pria itu menariknya menjauhi keramaian... lalu menghimpitnya di sebuah pohon.
.
"S—sehun t—tunggu—
"Aku menunggumu terlalu lama..." Desisnya, sebelum akhirnya menyentuh dagu namja cantik itu... menariknya mendekat, dan membawanya ke dalam sebuah pagutan mesra.
"Mnnh~ Se—humpfthh"
.
.
.
.
~ChanBaek~
"Ahjjussi~..." Panggil Baekhyun seraya memainkan pakaian depan Chanyeol, kala Raja Silla itu membawanya bridal menuju ranjang keduanya.
"Hn..." Gumam Chanyeol begitu merebahkan tubuh mungil itu, lalu menatapnya lekat.
Baekhyun kembali terkikik kecil sambil menggigiti kukunya, entahlah bocah itu medadak berdebar... menyadari Pria itu menatapnya seintens ini.
"Baekhyun dan Ahjjussi menikah?"
Chanyeol mengernyit. Menerka... pertanyaan polos macam apa yang tengah Baekhyun ucapkan kali ini.
"Hmm..." Dehem Raja Silla itu mengiyakan.
"Sudah?" Tanya bocah itu lagi, terlihat antusias menunggu.
"Tentu saja..." Jawab Chanyeol. Ia beralih meraih sebelah tangan Baekhyun lalu menunjukkan jari mungil itu. "Lihat sesuatu yang melingkar di jarimu ini" lugasnya lagi, membuat Baekhyun bersemangat untuk beringsut duduk.
"Baekhyun istri Ahjjussi?" Seolah tak puas dengan satu pertanyaan saja, anak itu kembali menyentak rasa ingin tau dengan kerjapan lugu itu.
Membuat Pria yang kini menahan diri itu semakin goyah, tak sabar ingin segera menerkamnya.
"Tak hanya istri... kau pun telah menjadi Ratu-ku" Bisik Chanyeol, sambil sesekali menggigit telinga Baekhyun.
"Uhnn!" Pekik Baekhyun, sambil memejamkan mata erat... begitu lidah itu mulai bernyali membelai lubang telinganya. "A—ahjuss~" Baekhyun menggigil, bahkan semakin melenguh keras kala bibir tebal itu mengulum penuh telinganya.
"Unghh~...A—ahjjussii!"
Namun Baekhyun mendadak mendorong dada Chanyeol, Menatap Pria itu dengan nafas tersengal.
"Ada apa hn?" gumam Pria itu sembari menyentuh dagu Baekhyun. Tak biasa sekali Baekhyun menolaknya seperti ini, tapi dari wajah yang merah itu... Ia tau, sebenarnya bocah itu tengah menahan nafsu.
Baekhyun tersenyum riang, lalu mengusap bibir tebal Chanyeol yang basah dengan jari mungilnya.
"Apa yang dilakukan setelah menikah ... Ahjjussi?" Celotehnya tiba-tiba
Tak pelak, membuat Penguasa Silla itu kembali terkekeh pelan, dan beralih menarik lengan Baekhyun agar terduduk, Ah! Baekhyun selalu ingin tau.
Dan anak itu tentu tak akan puas bertanya... jika belum mendapat semua jawaban yang ingin di dengarnya.
Terlebih... apa yang terjadi di hari ini, memang sesuatu yang baru untuk Baekhyun.
"Seorang Pengantin akan melakukan malam pertama" Lugas Chanyeol, sembari melepas... ikat rambut Baekhyun, hingga tergerai bebas di punggung anak itu.
Baekhyun mengerjap, menimang sesaat kalimat yang sebenarnya masih terdengar asing untuknya.
"Malam pertama?"
"Hn... Malam pertama, seperti yang akan kita lakukan setelah ini sayang" Desah Chanyeol kali ini seraya melepas simpul pakaian Baekhyun, lalu mengendus leher putihnya.
Tapi lagi-lagi cumbuan itu tersendat, begitu tangan mungil Baekhyun kembali mendorong dadanya.
"Apa lagi hm?" Gumamnya kembali tak sabaran. Ia tak mungkin berlaga lugu untuk mengimbangi pemikiran polos namja kecilnya, jika hasratnya sudah memanas seperti ini.
"Malam pertama apa Ahjjussi? " cicitnya lagi, semakin polos kala mata sipit itu mengerjap sambil memiringkan kepala. ah sungguh! tak sadarkah bocah itu ... wajah macam apa yang Ia tunjukkan padanya kali ini?belum lagi dengan bibir bawah yang digigit seperti itu.
Baekhyun terlalu lihai menggodanya, meski nyatanya anak itu sama sekali belum bisa membaca situasi.
Raja Silla itu memijit pelipisnya, mencoba menata hasratnya kali ini... lalu memandang lekat kedua manik cokelat itu. "Kau ingin tau malam pertama?"
Baekhyun tersenyum riang, lalu mengangguk bersemangat. "Uhmm.."
Chanyeol berdecak, betapa ingin memagut bibir tipis itu... dan melumatnya hingga meleleh penuh dalam mulutnya. "Biarkan aku menciummu..." Bisik Chanyeol, menatap penuh nafsu pada bibir kecil itu saat Ia mencoba untuk mendekat.
"Ugh!Ahjjussii! malam pertama itu apa?!" rengek Baekhyun, sambil menatap tajam... sekali lagi, setiap hal akan tetap mengusik benak anak itu. Jika semua pertanyaan tak terpuaskan.
Lagi dan lagi... Raja Silla itu hanya menghela nafas berat, menyadari nafsunya kembali di sedak, oleh pertanyaan yang sebenarnya tak perlu. tapi... Istri mungilnya itu masihlah seorang bocah. tentu ak ada alasan lain untuk memahami betapa polos Baekhyun kecilnya saat ini.
"Baiklah dengar ini baik-baik.." Ujar Chanyeol sembari merebahkan tubuh mungil itu, lalu membuka satu persatu pakaian Baekhyun dengan perlahan.
"Malam pertama... hal yang akan dilakukan oleh Pria sepertiku untuk membuat seorang istri sepertimu hamil" Lugasnya sambil memenjarakan Baekhyun dengan kedua lengan kekarnya. "Kau mengerti sekarang?"
Baekhyun mengerjap berkali-kali, membuatnya yakin... ia bisa memulai cumbuannya kali ini.
Kedua tangannya mulai menggenggam jemari mungil itu, membawanya ke setiap sisi kepala Baekhyun hingga benar-benar saling bertaut pas.
Chanyeol sempat mengulas senyum tipis, sebelum akhirnya memiringkan kepala... ingin mencium bibir seranum cherry itu.
"Ahjjussi~"
Tapi belum sempat kedua bibir itu menempel, Baekhyun kembali membuatnya stagnan.
"Ahjjussiii!" rengek Baekhyun lagi, begitu tau... Chanyeol hanya memejamkan mata dengan tangan terkepal. Membuat bocah itu semakin bernyali mengusap-usap rahang kokohnya. "Ahjjussi mendengar Baekhyun?" Tanyanya lagi.
Tak sadar seorang Raja yang sedari tadi menahan nafsu itu, semakin menggila dengan letupan libidonya sendiri. Sementara... Baekhyun selalu saja menarik ulur... waktu intim keduanya.
Dan ia tak berharap, bocah itu kembali merengek pertanyaan kekanakan yang lain.
"Ahjjuss~
"Hn?" Gumam Chanyeol sambil menyatukan kening keduanya, masih berkilah... Ia mungkin bisa menahan nafsu itu sedikit lebih lama.
Bocah itu kembali terkikik kecil, lalu mengalungkan lengan putihnya di leher Pria yang kini telah bertelanjang dada.
"Baekhyun sudah hamil... jadi tidak bisa melakukan malam pertama bersama Ahjussi?"
Chanyeol membulatkan mata lebar, jadi hanya karena pertanyaan itu Ia merenggang hasratnya selama ini? ah sial! Seharusnya ia megatakan lebih lugas sebelumnya, hingga tak memancing pertanyaan lugu yang lain seperti ini.
"Tentu saja... aku masih bisa melakukannya" Desah Chanyeol, kali ini nyaris habis kesabaran... mengecupi dada mulus tanpa penghalang itu.
"A—ahjussii ...Tunggu...nn~hh" Baekhyun berusaha kembali menolak, tapi seakan tak peduli...Pria itu tetap mencumbunya, menjilat bahkan menghisap intens.. nipple yang telah mencuat tegang.
"Diamlah... dan biarkan aku menyentuhmu" Bisik Chanyeol terdengar berat, karna nafsu.
"Ugh! Ah—jussiiii~ akhh!" Baekhyun menggigil begitu pria itu menyesap kuat sebelah putingnya
namun kedua tangan mungil itu tetap berusaha melepas gengggaman Chanyeol, lalu meraih ke atas.
"Ahjjussi... Baek—hyun hamil, ahn! jika Baekhyun ha—mil lagi ahh...ah!"
"Biarkan saja..." Gumam Chanyeol seadanya seraya membawa lidahnya, menyusuri garis dada Baekhyun. Ia mengangkat lengan anak itu, hingga memudahkannya mencumbu ketiak mulus di bawahnya.
"Aaa~ aah! A—ahjussii!" tak pelak membuat bocah manis itu makin menggelinjang payah. Tapi Baekhyun tetap berusaha menahan Chanyeol.
Memastikan sesuatu yang masih mengusik, bahkan benar-benar mengganggu pikirannya.
"B—bagaimana jika banyak bayi dalam perut Baekhyun ... Ah—jjussi" engah Baekhyun begitu berhasil menangkup wajah tegas Penguasa Silla itu.
Chanyeol terhenyak, celoteh Baekhyun... kembali membuatnya ingin terkekeh detik itu pula, tapi paras sayu dengan bibir basah terbuka karna terengah itu... menyulut hebat nafsu dalam dirinya.
Hingga membuatnya kalap, membuka lebar bibir bocah itu lalu memagutnya basah... memnbiarkan lidah dan salivanya bergumul. Tak peduli Baekhyun menjerit bahkan tersedak ciuman yang terlalu menuntut itu.
"Mnhmm~ ahmfth! ngaah!"
.
.
.
.
Kedua mata itu sesekali terpejam lalu terbelalak ... mengikuti gerakan ogan kenyal yang kini menyeruak liar di dalam lubang analnya.
"Nnh~ ah—jjussiihh! Ackhh..." Baekhyun reflek membuka lebar kedua kakinnya, membiarkan Pria itu mengambil alih tubuh lemasnya... hingga Ia hanya bisa mendesah bahkan memekik pasrah.
Raja Silla itu menyeringai tipis, sempat meninggalkan salivanya di dalam rektum berkedut itu... hingga sebagian meleleh keluar.
"A—ah! J-jjusshii~ Ah!.. nnahhah!" Baekhyun memekik panik, bahkan berusaha menggapai-gapai tubuh Pria itu. Begitu merasakan tubuhnya berangsur panas... bahkan terasa berbeda, kala ibu jari itu tak pernah berhenti menekan-nekan anusnya, tanpa berniat melesakkannya ke dalam.
"Hm?" Gumam Chanyeol setengah terkekeh, terlalu menikmati bagaimana tubuh mulus itu menggeliat panik di bawahnya, ah! mungkin frustasi, tak mendapat sentuhan selayaknya darinya.
Baekhyun mendadak bangkit, lalu memegang erat tangan Chanyeol.
"Hks... tubuh Baek—hyun! ahn! m—masukkanh i—tu... ahjjus—siihh" Rengeknya, seraya mendorong-dorong tangan kekar itu, agar melesakkan jarinya ke dalam.
Chanyeol terhenyak, membiarkan aliran darah itu berdesir deras melihat...bagaimana wajah anak itu kala menahan hasrat seperti ini. Terlalu manis... bahkan sangat menggoda. dan bocah itu—
Hanya miliknya seorang.
Raja Silla itu beralih menyentuh dagu Baekhyun, sedikit menariknya mendekat lalu mencium bibirnya mesra.
"Kau tau perasaanku?" bisiknya seraya menyeka air mata anak itu, lalu memandangnya teduh.
Seakan menjadi kebiasaaan, saat ia tak mengerti... Baekhyun mengerjap berulang-ulang. Membuat bocah yang kini menggigil minta di manjakan itu semakin terlihat menggemaskan di matanya.
"Setiap hal darimu benar-benar membuatku gila..." Bisiknya lagi, kali ini beralih mencium kening Baekhyun. Membuat bocah itu reflek memejamkan mata.
"Dan aku... mencintai bocah sepertimu—" Chanyeol menatap lekat mata bening itu, menguncinya dalam hasrat yang lain. Hingga dipastikan anak itu mengerti... dirinya yang tak bisa menahan diri lagi.
"Baekhyun..." Pungkasnya, sebelum akhirnya merebahkan tubuh mungil itu, dan membuka lebar kedua kakinya berlawanan arah.
Cukup untuk rektum yang telah berkedut, penuh dengan lelehan salivanya... ia rasa, tak perlu menyiakan waktu berlebih untuk menyetubuhi bocah manis itu.
Chanyeol, beralih mengeluarkan genital besar yang telah menegang hebat sedari tadi. Sedikit mengurutnya... hingga urat-urat keras itu semakin terpahat jelas.
Perlahan, Ia mendekati si kecil... membimbing tangan mungil itu untuk mengalung di lehernya. memastikan bocah itu tak membuat gerakan berlebih saat Ia menyentak penetrasinya.
"Pejamkan matamu..." Bisiknya seraya menggesek kepala penis itu di bibir rektum Baekhyun.
Namja mungil itu mengangguk patuh, memejamkan mata erat... hingga perlahan ia bisa merasakan sesuatu yang besar bahkan keras... mulai membelah anus sempitnya.
"S—SAKITH! AHT!" Baekhyun menengadah, sesekali menggeser posisi... berusaha menemukan titik nyamannya. tapi tetap saja... berkalipun penis besar itu merasukinya, Baekhyun tetap merintih kesakitan... seolah anus itu memang kembali menyempit ketat.
Hingga kecupan – kecupan kecil di wajahnya mampu membuainya. Membuat Baekhyun spontan menarik leher Pria itu, lalu mencium bibir tebalnya.
Sejenak Chanyeol tertegun, melihat bagaimana bocah itu berusaha mengalihkan rasa sakitnya... membuatnya membalas lumatan bibir itu lebih intens lalu kembali mendorong sisa miliknya hingga benar-benar terbenam seluruhnya.
"AGH! AH—!" Baekhyun kembali mengejang, dengan sari menciprat dari ujung genitalnya, namun sesaat setelahnya jeritan tenor itu menciut lirih... begitu Ia mulai menggerakkan penisnya keluar menyisakan kepalanya saja.
Lalu—
JLEBB
"NNN~ AHHH! AHN!"
,
Ranjang mulai berdecit... seiring dengan hentakan kuat pemiliknya. Membuat Baekhyun kecil itu, memekik bahkan menjerit histeris... kala benda besar itu berulang kali memompa rongga tubuhnya tanpa jeda. Hingga bisa Ia rasakan, bagaimana perut besarnya mengejang tiap kali Pria itu memberinya letupan sperma.
"ACKHH! A—AHJJUSSIIII! AH! AHH!"
.
.
.
.
Sementara itu di tempat lain
"Biarkan aku saja yang membawanya!" Je Ni memaksa mengambil alih cawan berisi air hangat itu untuk Baekhyun.
"Tidak! hahaha... ini tugasku! biar aku saja yang membawanya!" kekeuh Sooyoung, sambil kembali merebut air itu. Tak habis pikir... semenjak Ia menginjakkan kaki di Silla, dayang bernama Je Ni itu... selalu mengusik pekerjaannya. tak taukah Je Ni... hanya dirinya dayang pengasuh terbaik untuk Baekhyun.
"Aisshh... kau tidak tau apa yang diinginkan Tuan Muda!" kekeuh Je Ni
"Tentu saja aku tau! Aku pengasuhnya! Aku yang memahami Hwangjjanim!" Seru Sooyoung tak ingin mengalah.
.
.
Dan terus berlanjut hingga keduanya tiba di depan kamar sang Raja.
Sooyoung menghentak kaki, sesekali pula Ia mendorong Je Ni dengan lengannya. "Aku!" Serunya tetap memaksa berjalan lebih cepat mendahului wanita itu
Membuat Je Ni membulatkan mata jengkel, tak ingin diremehkan oleh pendatang baru seperti itu.
"YACK! Kau—
"Ahnn! aahh... Ah—jjussiii! La—gi! aah! ackhh!"
.
"AAHHHH! Mpfth! mmphh!"
Keduanya mendadak stagnan, begitu mendengar desah dan mungkin lengkingan binal seorang bocah yang dikenalnya.
"K-kau mendengarnya?" Gumam Je Ni kemudian.
"N—ne..." gagap Sooyoung membuat air dalam cawan itu berguncang karena gemetar. Sejenak Ia merasa tak rela namun juga berdebar, mendengar bocah mungil yang selalu diasuhnya .. mendesah sekeras itu. Bahkan decit ranjang yang samar teredengar itu membuatnya yakin, Raja Silla tengah menyetubuhinya sangat kasar.
"K—kalau begitu , kau saja yang membawanya!" Seru Sooyoung kemudian, seraya menyerahkan paksa cawan airnya.
"Apa?! Tidak mau! kau saja!" Kekeuh Je Ni tak terima lalu mengejar langkah Dayang Goryeo itu hendak menjauhi Kamar Raja Silla.
.
"Apa yang kalian lakukan di sini?!" Hingga tiba-tiba seorang pengawal menggertak dari belakang.
"Raja tak mengizinkan siapapun mendekati tempat ini... hingga malam ini berakhir!" Sentaknya lagi.
Membuat dua wanita itu serempak berbungkuk. "M—maafkan kami!" Lalu setelahnya berlari terbirit, sebelum pengawal mengerikan itu kembali menghadiknya keras.
.
.
.
.
Esoknya..
.
"Tidak mau!"
Pipi menggembung dengan bibir mengerucut kesal, mengawali paginya... yang entah mengapa membuat sang Raja kebas, bahkan berdecak frustasi
Ia beralih meraih buah persik di tangan Baekhyun lalu menggantinya dengan yang baru. "Cobalah yang ini" Ujarnya, sambil mengambil satu yang berwarna merah ranum untuk bocah mungil itu.
"Ahjjussi yang memakannya lebih dulu" Sungut Baekhyun sambil bersidekap, tak ingin mendapat buah yang terlalu manis. tak pelak sikapnya itu membuat beberapa pelayan yang memang berjaga, tanpa tersenyum tersipu
"Hn...?"
Membuat Chanyeol mengerjap tak mengerti
"Ahjjussi makan buah itu!" Rengek Baekhyun nyaris terisak karena kesal. Tak pelak membuat Chanyeol cepat-cepat menggigit persik itu. Baru menangkap maksud, jika Baekhyun meminta mencicipinya terlebih dahulu.
"Otteyo..?" Celoteh Baekhyun sambil mengguncang lengan Chanyeol, kala melihat raja Silla itu terlihat mengunyah buah persiknya.
"Hm... cobalah, kau mungkin akan menyukainya" Gumamnya seraya membantu bocah mungil itu ... menggigit sisa buahnya.
dan benar saja... Baekhyun terlihat patuh menggigitnya,
mengerjap kala mengunyahnya... hingga tiba-tiba bocah itu kembali menjerit memekakkan.
"Terlalu manis Ahjjussii! Baekhyun tidak suka ini!" Baekhyun menggerutu, sambil membuang buahnya.
Tak banyak yang Baekhyun lakukan selain, duduk merosot di lantai... lalu menyandarkan kepalanya di ranjang, Meremas tepian ranjang , seakan ingin menunjukkan betapa kesal dirinya kali ini pada Ahjjussi tampan itu.
Penguasa Silla itu hanya berdecak... lalu mendekati bocah yang masih bersungut menyembunyikan wajahnya.
Ia terkekeh pelan, anak itu tak juga meluruh... menggodanya untuk sedikit menarik pakaian Baekhyun...hingga membuat tengkuk itu terekspose. "Jangan marah ..." Bisiknya seraya menggigit gemas tengkuk bocah itu.
"Ugh!" Baekhyun memilih menarik-narik selimutnya... lalu ia gunakan untuk membenamkan wajah kesalnya. tak peduli.. selimut mahal itu, kini menjuntai di lantai.
"Memang tak seharusnya memakan buah masam sepagi ini ... tak baik untuk perutmu" Bisiknya sambil mengelus kepala Baekhyun, mencoba menenangkan anak itu.
Tapi Baekhyun tetap bersikukuh tak ingin mengalah.
"Kemarilah... aku akan membawamu berkeliling di taman istana" Bujuknya mencoba peluang.
Baekhyun mengerjap di balik selimutnya, lama ia meremas-remas kain tebal itu... sebelum akhirnya menengadah, menatap Chanyeol
"Taman?" Gumamnya kemudian.
Chanyeol mengulas senyum tipis. "Hn... banyak dari tempat ini, yang ku tata ulang hanya untukmu" Lugasnya kemudian sambil menyentuh hidung mungil itu.
"Di sana hanya ada bunga.." Gumam Baekhyun, lalu kembali membenamkan wajahnya... merasa tak tertarik
"Sebuah sampan... dan kicau kenari di atas air yang beriak tenang" Chanyeol mencoba menyentuh dagu baekhyun agar melihatnya. "Kau tak ingin mencobanya bersamaku?" Lanjutnya lagi, begitu berhasil menarik perhatian bocah manis itu.
"Sekarang Ahjjussi?" Serunya mendadak bersemangat.
"Tentu saja... sayang"
Raja Silla itu beralih menyambut jemari lentik itu, membimbingnya untuk berdiri.. dan melangkah keluar dari kamar keduanya
.
.
.
"Ahjjussi, berenang di air ... ne?"
Chanyeol membulatkan mata lebar. "Untuk apa?"
"Menangkap ikan.." Kikik Baekhyun, sebelum akhirnya merengek ingin pria itu mengangkatnya bridal.
"Tidak untuk saat in—
"Ahjjussii!"
"..."
.
.
.
Malamnya...
"Ugh..." Baekhyun mendadak memiringkan tubuhnya, begitu merasakan pergerakan kecil di dalam perutnya. Membuat Raja Silla yang memang telah tertidur itu mulai terbangun... dan berdecak cemas.
"Baekhyun?" Panggilnya seraya menepuk pelan pipi anak itu.
"U—uh... Ahjjussi" Gumam Baekhyun sambil beringsut-ingsut mendekat, lalu meminta tangan besar itu menyentuh perutnya.
"Ada apa hn? kau merasa tak nyaman?"
Baekhyun mengangguk cepat, lalu kembali mendesis... merasakan sesuatu yang masih berdenyut itu.
Membuat Raja Silla itu terdiam, kandungan Baekhyun memasuki usia 7 bulan tak mungkin bukan... jika ini saatnya.
Ia beralih menyibak selimut, membiarkan perut yang besar itu bertahan dengan sehelai kain tipis saja.
Sejenak Ia mengamati... sebelum akhirnya mengusap pinggul Baekhyun lalu memberi kecupan lembut di bawah perutnya.
tak pelak membuat bocah itu menggeliat dan terpingkal karena terlalu menggelitik,
"Nn~ ahahaha... ge—li .. Ahjjussi" kikiknya manja
Tapi tetap tak membuat Pria itu jemu, memberinya kecupan-kecupan mesra.
.
.
"G-gatal Ahjjussii.." Hingga suasana jenaka itu mendadak gerah... begitu tangan mungil Baekhyun mulai menggosok sesuatu di tengah selangkangannya.
"Baek—
"Ugh! di sini ga—tal ahjjusiii!" Rengeknya, semakin kasar menggesek genital di balik celana itu.
Membuat Chanyeol berdecak, dan menahan tangan mungil itu
"Ahjjussiii!" tak pelak, namja kecil itupun memekik jengkel di tahan seperti itu, sementara miliknya masih berkedut gatal.
"Ssshh..." Desis Chanyeol menenangkan, sambil menurunkan celana itu...sejenak mengamati selapis kain yang telah kebas karna precum. Lalu melepas simpulnya dengan giginya.
"Mnnh~" membuat Baekhyun menggigil... kala genital itu mulai terbebas.
kedua tangannya mulai meremas bahu Chanyeol, memaksa bangkit ... ingin melihat kebawah. Namun—
"Ahjuss—Mm~ahhh!" Tubuh mungil itu kembali terhempas di ranjang dengan tagan terkepal ... begitu Chanyeol menghisap kuat ujung genitalnya.
Menyesapnya berulang-ulang bahkan hingga melahapnya, tanpa sisa ke dalam mulut yang panas.
Tak peduli... rintihan hebat, pendamping mungil itu... memanggil-manggil dirinya.
"NNH! AHJJUSSIIII~ !"
.
.
Slurp
Pria itu terlihat puas menjilat ujung bibirnyam begitu menegak habis cairan manis yang menyentak kuat ke dalam mulutnya.
Sejenak mengangkat wajah untuk melihat Baekhyun, namun yang terlihat anak itu... telah tertidur pulas. Selepas klimaksnya.
Memaksa dirinya mengulas senyum tipis
Ini memang lebih baik, dibanding melihat Baekhyun... berkali-kali terbangun karna perutnya.
Jika saja, anak itu tak sedang berbadan dua. Mungkin tak cukup dirinya mencumbunya hingga sampai di sini.
Tapi Baekhyun terlalu berharga, dan perasaan itu... bukan sekedar pemuas nafsu.
Raja Silla itu memilih meniup lilin penerang, membiarkan ruangan beraroma peluh yang memikat itu... sepenuhnya gelap. Hingga Ia benar-benar terpejam memeluk istri mungilnya, hingga pagi menyentak esok hari.
.
.
"Yang Mulia Ibu Suri ... sebaiknya anda lekas bersistirahat" Seorang dayang mendekat, lalu meletakkan secangkir teh herbal di mejanya.
Wanita itu tersenyum lalu menggeleng pelan. "Tidak... aku belum usai dengan kesenangan ini" Gumam Heechul, kembali merajut benda di tangannya... hingga samar mulai terlihat rajutan baju mungil.
"Rajutan yang sangat indah Yang Mulia" Puji dayang itu sembari membungkuk.
Heechul menutup bibir untuk tersenyum. "Benarkah? ah! aku mulai tak sabar... ingin melihat cucuku memakai ini" Gumamnya sambil memandang langit di luar.
.
.
.
Pagi itu, Baekhyun tengah tertegun memandang pantulan pohon persik dari sebuah danau. Terlihat menenangkan begitu dedaunan yang kering mulai gugur dan sebagian jatuh menerpa kepalanya.
Ia tersenyum manis...
Namun, senyum itu tak semerta bertahan... kala bocah itu kembali mengingat apa yang sempat terjadi saat upacara pernikahan itu.
Wanita itu... Seulgi
mendadak Ia ingin tau apa yang terjadi pada wanita itu, Baekhyun yakin benar... Seulgi terluka saat itu.
"Apa kau baik-baik saja" Gumamnya sambil bertolak dari tepi danau itu, lalu membawa langkah mungilnya ke sebuah tempat, dan bocah itu tau... Seulgi tertahan di dalamnya.
.
.
"Y-yang Mulia, mengapa anda seorang diri di sini? Bagaimana jika Raja tau-
"Ssshh..." Desis Baekhyun, lalu beralih menepuk-nepuk perutnya sendiri. "Jangan berisik, atau dia akan bangun" Celotehnya, seakan menunjukkan pada pengawal itu... bayinya sedang tertidur di dalam.
"Ah... y-yee" Gugup Pengawal itu seraya membungkukkan badan.
"Aku ingin melihat Seulgi Noona... bisakah paman mengantarku?"
pengawal itu terbelalak. "T-tapi"
"Paman... kumohon"
Tak bisa dicegah, kerjapan polos itu terlalu berharga untuk di sentak. Ia mengalah... dan memilih membimbing Baekhyun menuju jeruji, tempat di mana wanita itu tertahan.
.
.
"Hamba akan mengawasi dari sini Yang Mulia" Lirih pengawal itu, memberi sekat pada Baekhyun untuk berjalan ke depan.
Dan di sanalah... wanita itu meringkuk. membenamkan wajah di balik lengan kurus yang terlihat rapuh.
"Noona.." Panggil Baekhyun kemudian
membuat wanita itu lekas mengangkat wajah, namun betapa berang tatapan itu... begitu melihat Baekhyun.
Ia berontak lalu mencengkeram teralis penjara. "UNTUK APA KAU KEMARI?! KAU PUAS MELIHATKU SEPERTI INI HAH!" Jerit Seulgi sambil mengoyak tralis itu.
Membuat pengawal itu bergerak sigap, menjauhkan Baekhyun dari jeruji itu.
"Tidak apa paman.." gumam Baekhyun lalu... beralih melepas pegangan pengawal itu. untuk mendekati Seulgi.
Baekhyun memang takut, bahkan terlalu takut... tapi bocah itu merasa, air mata yang mengalir dari wajah Seulgi. tak mengungkapkan semuanya...
Ia melihat... bukan amarah
tapi... hanya luka yang terbias dari mata wanita itu.
"N-noona..." Gumam Baekhyun, kedua tangannya terlihat gemetar... namun tetap terangkat ... memberanikan diri menyentuh wajah wanita itu.
"J-jangan menangis Noona" Bisik Baekhyun sambil menyeka air mata Seulgi. Membuat wanita itu tergugu.. bahkan semakin menangis hebat.
"M-mengapa!? mengapa kau datang padaku?! Pergilah!" Pekik Seulgi
Namun tangan mungil itu tetap menangkupnya, menyeka setiap air mata yang merembas... tak peduli berapa kali Seulgi menyentaknya pergi.
"Wajahmu kotor... jika menangis. Berhentilah menangis Noona" Baekhyun beralih menggunakan lengan bajunya... untuk menyeka wajah basah itu. membersihkan setiap debu yang menempel di wajah Seulgi.
Beberapa detik yang terlewat membuat Seugli sadar, anak itu tak mendengarnya... bahkan semakin erat menempel padanya.
Apa anak itu gila?
Tapi-
tak ada yang menyentuhnya penuh kasih seperti ini sebelumnya...
tak ada yang menyeka air matanya sebelumnya,bahkan mendengar setiap jerit sakitnya... sama sekali tak ada yang mendengarnya bahkan meski itu keluarganya sendiri, tak ada yang pernah mengulurkan tangan untuknya..
Hanya anak itu...
Hanya bocah bernama Baekhyun itu... yang bersedia melakukan semua itu untuknya. memberinya husapan lembut, bahkan membelainya seakan dirinya, sosok yang dikenal anak itu.
"Kau berhenti menangis Noona..."
Baekhyun tersenyum riang, anak itu beralih menelisik saku pakaiannya... lalu meletakkannya di tangannya.
"Baekhyun suka buah ini... Noona pasti menyukainya" Ucap Baekhyun, tak jemu mengulas senyum cantiknya.
"Makanlah Noona... aku akan mengunjungimu lagi, esok hari" Pesan Baekhyun, sebelum akhirnya... melangkah keluar dari ruang yang pengap itu.
Meninggalkan Seulgi...
Yang mulai tertegun memandang buah persik ditangannya...
"Baekhyun..."
.
.
,
Semua itu terus berulang, Baekhyun yang kembali mengunjungi ruang tahanan itu tanpa sepengetahuan siapapun. Dan anak itu... selalu membawa sesuatu yang berbeda untuk wanita yang ingin di lihatnya itu.
.
"Noona..."
Seulgi terkesiap, mendengar panggilan riang itu.
"Baekhyun, mengapa kau kemari lagi"
Bocah itu hanya terkikik, "Aku memang selalu mengunjungi Noona"
wanita itu menatap tajam, tapi setelahnya menghela nafas dan mulai menyentuh kepala Baekhyun.
"Mengapa kau sebaik ini padaku" gumamnya.
Tapi Baekhyun sepertinya tak mendengar, dan lebih antusias mengambil sesuatu dari balik sakunya.
"Bunga Soba?" Gumam Seulgi heran.
"Aku sering melihat Noona memetik bunga ini..."
Seulgi tertegun... nyatakah apa yang dilihatnya kini. Dirinya yang kala itu penuh dengan rasa bengis dan dendam untuk anak itu. Namun dibalas dengan tawa dan perhatian semanis ini?
"Kau memperhatikanku?"
"Uhm!" Jawab Baekhyun antusias.
membuat Seulgi turut mengulas senyum... "Terima kasih Baekhyun..."
.
.
"Kembalilah... sebelum Raja dan para Dayang mencarimu"
Bocah itu mengangguk, lalu beranjak cepat untuk bangkit berdir.
"Perhatikan langkahmu! jangan sampai terjatuh Baekhyun!" Cemas Seulgi, melihat anak itu terlalu ceroboh berlari dengan perut sebesar itu.
"Noona... bermainlah bersamaku, jika Noona bebas nanti" Sayup-sayup terdengar celoteh anak itu dari luar.
Membuat Seulgi berdecak, lalu menghirup tenang bunga soba... yang baru saja Baekhyun bawakan untuknya.
"Anak yang manis..."
.
.
.
Minggu demi minggu berselang... tanpa satupun tersadar , dua bulan telah terlampaui.
Seakan tak lekang... kebahagiaan Silla sepertinya kian berbinar di setiap harinya. Dua negri yang menyatu itu, kini telah membuktikan kearifannya.
Hingga hanya menyisakan senyum dari setiap penduduk Silla dan Goryeo itu.
.
Secerah senyum namja yang kini tengah bersenda bersama dua orang dayang di belakangnya.
"Apa kalian tau... seperti apa bayiku nanti?" Ujar Baekhyun tiba-tiba, seraya memutar tubuh. Membuat kedua dayang itu mendadak beku.
"A—ah, mungkin dia bayi yang cantik ... secantik dirimu" Seru Sooyoung menggebu, berharap membuat bocah itu memberi senyum menggemaskan untuknya.
"Anniyaa! Aku yakin... Dia bayi yang tampan. Kelak akan berkuasa seperti Ayahnya" Sahut Je Ni, sambil mengangguk yakin .
Sooyoung mendelik"Akan lebih menyenangkan jika Bayi itu seperti Baekhyun"
"Bayi itu seharusnya seperti Yang Mulia Chanyeol, jika besar nanti Dia bisa menjaga Baekhyun" kekeuh Je Ni, tak ingin asumsinya dipatahkan.
Sementara Baekhyun hanya mengerjap, menoleh ke kanan dan ke kiri... mengikuti bagaiman cara dayang itu saling melempar debat.
"Hwangjjanim ... kau sangat menyukai setiap hal yang terlihat indah. Seperti bunga ini misalnya" Ujar Sooyoung seraya menyematkan sekuntum mawar putih di telinga Baekhyun. "jadi aku yakin.. bayi yang kau lahirkan kelak, mungkin yeojja... ah! atau namja kecil yang cantik" Lanjutnya, sambil memandangi Baekhyu n dengan mata mengerjap antusias.
"Tidak! tidak!" Je Ni mulai menyela. Lalu membuang bunga di telinga Baekhyun. "Bayi yang kau lahirkan nanti, akan menjadi Pria perkasa" Ujar Je Ni sambil menepuk-nepuk lengannya sendiri. "Dengan begitu, Dia bisa melindungi dirinya sendiri... dan lebih penting melindungi dirimu. Dia akan lihai membawa pedangnya sendiri. Percayalah padaku" Yakinnya bersemangat. Merasa... dirinya yang memang terlatih bela diri, bahakan dipercaya sebagai mata-mata itu. Mengharuskan... bayi Baekhyun kelak, tumbuh menjadi namja yang kuat.
"Apa kau berharap Pangeran mahkota bertarung dengan pedangnya?!" Sentak Sooyoung tak terima.
"Tentu saja... seorang Pria Silla harus mahir menggunakan senjatanya!"
"Lalu bagaimana jika Bayi itu Yeojja?"
Je Ni berdecak. "Tetap saja... Dia pun harus mahir bela dir—
"A—AH!"
Tiba-tiba saja, Baekhyun menjerit seraya memegangi perutnya... bahka terlihat tertatih ingin duduk di tanah.
"W-wae? Baekhyun?" Gagap Je Ni, berusaha memegangi lengan namja mungil itu
Baekhyun menggeleng kasar, kedua tangannya pun terlihat pasi... karena terlalu kuat meremas rerumputan di bawahnya.
"S—sakit! hks! SAKIT!" teriaknya
Dua dayang itu terbelalak lebar bahkan panik bukan kepalang begitu melihat banyak air merembas dari selangkangan bocah itu.
"ASTAGA! BAEKHYUN! D-dia melahirkan!B—bagaimana ini! Aku harus bagaimana?!" Pekik Sooyoung kalut seraya merengkuh tubuh mungil itu agar bersandar di pangkuannya. Tak peduli air yang merembas itu, semakin membuat kebas gaunnya.
"A-apa kau yakin?" Gugup Je Ni
"LIHAT! LIHAT KETUBANNYA PECAH! AH! YA TUHAAAAAN!" Pekik Sooyoung lagi, sambil menyeka keringat Bocah yang masih merintih kesakitan itu.
"Hks! S—sakiiithh!"
Je Ni memilih bangkit. "A-aku akan memanggil tabib untuk—
"Baekhyun!" Hingga tiba-tiba saja, seorang Pria datang... lalu begitu panik mengambil alih bocah mungil itu dari rengkuhan Sooyoung.
"Y—yang Mulia, s-sepertinya ini saatnya"
Kalimat itu yang sempat di tangkapnya, sebelum dirinya benar-benar membawa lari Baekhyun ke dalam istananya.
"A—ahjjussii..hks! Sa—kith! ahjjussiii"
"Jangan menutup matamu... tetaplah terbangun. Kau mendengarku Baekhyun?"
"Hks..."
.
.
.
Pintu terbanting kasar, begitu Pria itu mendobraknya paksa.
Pakaian agungnya telah kebas, dipenuhi air ketuban namja kecil itu... namun Ia tetap menyentak waktu, lalu membaringkan Baekhyun di sebuah ranjang.
Sementara beberapa Pria Tua berbusana putih di belakangnya, tampak memohon diri untuk turut memasuki ruangan besar itu.
"Hks... SAA—KITH! AH—JJUSSII!" Masih saja, namja mungil itu menangis di sana...
Membuat Chanyeol, tak bisa sedikitpun menghela nafas tenang... ia terlihat gemetar, namun tetap memaksa menggengam tangan yang dingin itu, agar Baekhyun tetap terjaga.
Dan membiarkan semua tabib itu, mengambil alih situasi.
Bergerak cepat, melepas satu-persatu pakaian Baekhyun. Lalu menutup tubuh mungil telanjang itu dengan sehelai selimut hitam yang tipis.
"Tarik nafas dalam... Yang Mulia" Ujar seorang tabib, seraya menekuk kaki Baekhyun, lalu membukanya secara perlahan. Membiarkan air itu perlahan kembali merembas... bahkan mulai terlihat bercak darah.
Raja Silla itu beralih beringsut ke atas ranjang, sedikit menahan tubuh Baekhyun hingga anak itu bersandar nyaman di dadanya. "Kau mendengarnya? tarik nafasmu sedalam mungkin" Bisiknya tepat ditelinga Baekhyun. Ia kembali menggenggam tangan mungil yang kebas itu...meski nyatanya dirinya sendiri terlihat tegang.
Sepersekian detik Baekhyun yang masih mendengar itu, mulai mengangguk... dan mematuhi bisikkan Pria itu, Meski berulang kali tersedak isakannya sendiri. Membuat Chanyeol tersenyum, lalu mencium puncak kepala Namja mungil itu. Berusaha meyakinkan... Baekhyun tentu mampu melalui semua ini.
.
.
Sementara itu, seorang Pria yang bertahan di luar kamar itu... hanya mampu terduduk lemas sambil memegangi kepalanya sendiri.
"Anda bisa menemaninya di dalam Yang Mulia" Bujuk Sehun
"T-tidak! Tidak! Putraku akan melahirkan di sana! Tidak! aku tidak bisa melihatnya!" racaun Yong Hwa ketakutan, tak sanggup jika harus melihat Baekhyun menangis kesakitan dengan semua darah itu,
ya! Kembali mengingat... bagaimana semua darah kental itu merembas, saat ia mencoba menggugurkan janin Baekhyun.
"B—biarkan aku di sini! Ku mohon... pastikan Putraku selamat di dalam sana!" Panik Yong Hwa, sambil mendekap kepalanya sendiri
membuat Sehun hanya menghela nafas pelan, dan memilih menemani Pria yang masih tak bernyali menata perasaanya cemasnya sendiri.
.
.
Setiap menit terus berulang,membuat sebagian tabib itu menyeka keringat gugup... menghadapi situasi yang sebenarnya baru untuk mereka. Terlihat mustahil... tapi itu memang benar adanya, kala seorang bocah lelaki... tersengal hebat, dengan air ketuban yang merembas. Layaknya tanda seorang wanita... yang bersiap untuk bersalin. namun memang bukan suatu yang mengherankan... karna memang mereka telah mengetahui dalam diri Baekhyun yang istimewa... bahkan telah terbaca oleh ramalan Silla sejak jauh hari.
Tentu... detik demi detik ini, akan sangat berharaga untuk Silla...
Menanti, seorang bayi... yang kelak akan membuat bintang Raja Silla, kian bersinar terang.
Hingga tiba-tiba
"A—AAHTTT!" Baekhyun tersentak, dan menjerit keras... begitu sesuatu di dalam perut itu seakan terdorong. Dan menyisakan sakit yang meranjam.
"Anda bisa mendorongnya... Lakukan lagi Yang Mulia.." Bujuk tabib itu, semakin berdebar... melihat rektum bocah itu memerah karna darah yang merembas.
"Hks.. SA—KITH! ! INI SAKIT!" Baekhyun menangis keras sambil menggelengkan kepala kasar, bahkan wajahnya pun berangsur memucat pasi.
"Kau bisa melakukannya..." Bisik Chanyeol seraya menyeka keringat Baekhyun. "Sayang.." lanjutnya lagi sambil mengecup kening bocah itu.
Baekhyun terisak, namun melihat Chanyeol menatap seredup itu... membuatnya berontak. Lalu kembali menarik nafas dalam, sebelum akhirya mengejan hebat.
"NNNNNHHHH! Hhhahh...Hhah!"
"Benar seperti itu, lakukan lagi Yang Mulia!" Seru tabib itu, kala melihat sesuatu yang hitam mulai menyembul, Mereka tau... itu rambut halus sang bayi.
"Hks! SA—KITH! T-TIDAK MAU! INI SAKIT! AHJJUSSIII!" Jerit Baekhyun sambil mencengkeram tangan Chanyeol. Berharap Pria itu tau... Ia benar-benar kesakitan, saat mengejan seperti itu.
"Lakukan lagi Yang Mulia, anda hampir—
"JANGAN MEMBERIKU PERINTAH! HKS! INI SAKIT! SANGAT SAKIT! Hks! KALIAN PER—GI!" jerit Baekhyun, menghardik keras semua tabib itu.
"Ssshh..." Desis Chanyeol sambil menyentuh dagu Baekhyun agar menatap kedua matanya. "Kau tak ingin melihat bayi itu?"
Baekhyun tergugu, membuat Chanyeol menyeka air mata yang mengalir hingga ia bisa melihat mata coklat yang bening itu.
"Baek—hyun ingin hks.. me—lihatnya Ahjju—ssii" Isaknya terbata-bata. "T-tapi ini sa—kit Hks..."
Chanyeol memaksa mengulas senyum, meski nyatanya itu terlihat getir. ia memang.. tak bisa melihat Baekhyun merintih kesakitan seperti ini.
"Jika kau tak melakukannya itu akan semakin sakit" Chanyeol kembali menyeka keringat Baekhyun. "Lakukan lagi... demi diriku, dan bayi yang ingin kau lihat itu"
Sedikit bisikkan yang menguatkan itu, kembali membuat Baekhyun menarik nafas dalam lalu—
"NNNNH! AHT! Hks..." membuatnya mengejan, tanpa berhenti melepaskan cengkeramannya di genggaman Pria itu, sebagai lampiasannya.
"Kepala sang bayi sudah keluar Yang Mulia.." Seru tabib yang lain, mencoba memberi tanda
"Kau bisa melakukannya, sayang"
"Hks... NNNNNNN! S—sakith!"
"Ku mohon... Biarkan aku melihat Anakku... Baekhyun"
Baekhyun mendengarnya, menjadikan kalimat Pria itu... sebagai pecut untuknya mengakhiri semuanya. Tak peduli, nafasnya yang kian memendek karna terlalu tersengal itu. Bahkan berulang kali pula, Ia menggeleng kesakitan.
"NNNNNNNHH! AAAHH! Hks...hhh.."
"Lakukan lagi yang Mulia... jangan berhenti. Dorong bayi itu lebih keras" Ucap Tabib, tak berharap Baekhyun kelelahan. dan menahan Bayi yang telah terlahir hingga pangkal perut itu.
"Tidakkah kau ingin meninangnya bersamaku?"
"NNNNNNNNNNNHHHH!" Baekhyun mengejan lebih hebat dari sebelumnya, membuat darah semakin banyak merembas, namun detik itu pula... tangisan seorang bayi pecah dan menggema memenuhi kamar besar itu.
Tak pelak, tangisan bayi yang menggema hingga keluar itu... membuat siapapun yang mendengar berjengit dengan tatapan penuh binar.
"Selamat... Anda memilki seorang Putra, Yang Mulia Raja.."
Tak terkecuali seorang Pria yang masih merengkuh tubuh lemas... bahkan nyaris terpejam itu.
"Kau melakukannya... kau benar-benar berhasil melakukannya Baekhyun" Bisik Chanyeol sambil mengcup kening Baekhyun bertubi-tubi.
"Hks..." baekhyun terisak lemah, semua masih menyisakan sakit yang meranjam untuknya... bahkan Ia tau tubuhnya yang lemas itu sama sekali tak mampu menahan sadarnya lagi.
Hingga sebuah lumatan , menyambut bibir pucatnya... ia tau, bahkan sepenuhnya sadar... Chanyeol tengah menciumnya lembut saat ini.
"Jangan pejamkan matamu... tetaplah terbangun" Bisikkan lirih itu yang sempat di dengarnya dari sela-sela lumatan lembut itu.
"Mnnhh~" Rintih Baekhyun.
Sementara ia merasakan sesuatu yang dingin bahkan tajam... serasa menembus rektumnya. Entah apa yang dilakukan semua tabib Silla itu.
yang Baekhyun tau hanya lumatan bibir Raja Silla itu, lalu benar-benar membuatnya terpejam tanpa geming.
.
.
.
.
Beberapa jam berselang...
Namja mungil yang sedari tadi terpejam itu, tak kunjung membuka mata...
Tak sekacau penampilan sebelumnya dengan peluh dan darah yang merembas.
Anak itu terlihat manis dengan balutan kain putih bersih,dan jangan lupakan rambut hitam panjang yang tergerai itu.
Baekhyun tak sekedar indah untuk di pandang, tapi Dia memang satu-satunya yang tercantik di tanah Silla.
"Bangunlah..." Bisik Chanyeol, sambil mencium lama jemari lentik itu. Sedari tadi Ia terjaga... menunggu namja cantik itu lekas membuka mata, meski nyatanya petang nyaris menembus dini hari.
Tak berteman dengan siapapun, selain bayi kecil yang kini terlelap di sisi istri mungilnya. Dan Ia masih berbekalkan pesan sang tabib...
Tak ada yang perlu dicemaskan dari mata indah yang terpejam itu. karna Baekhyun... hanya terlalu lelah.
"Nnh~..."
dan benar saja... 5 jam penantiannya, mulai tertebus.
Terlihat jemari lentik itu mulai bergerak kecil, membuatnya kembali menyanmbutnya dan menggenggamnya erat.
tak sabar melihat Baekhyun mungil itu benar-benar membuka matanya.
"Bulan bersinar sangat terang malam ini... bangunlah dan mari melihatnya bersamaku" Ujarnya setengah berbisik.
membujuk, namja manis itu lekas mengerjap... berusaha membiasakan diri dengan temaram lilin penerang.
"Ahjjussi.." Panggilnya serak, begitu membuka mata... dan sosok Pria itu yang memenuhi pandangannya.
"Hn..." Gumam Chanyeol, sambil mencium mesra kening Baekhyun.
Sejenak, Baekhyun menghela nafas tenang mendapat sentuhan lembut. Hingga tiba-tiba anak itu terbelalak begitu menyadari satu hal.
"A—ahjjussi... di mana bayi—
"Sshh, pelankan suaramu" Bisik Raja Silla itu sambil menyentuh bibir Baekhyun.
"Jangan membuatnya terbangun" Ujarnya lagi, kali ini dengan membimbing Baekhyun agar melihat ke sisinya... tepat pada seorang bayi mungil yang terlelap pulas itu.
Baekhyun terbelalak. Ia mencoba menegakkan tubuh, meski sesekali mendesis karena nyeri... tapi Ia tetap memaksa mengambil jari-jari mungil itu.
"A—ahjjussii! Dia anak Ahjussi?" Lirih Baekhyun, sambil menggerakkan jari mungil itu.
Membuat Penguasa Silla itu terkekeh, lalu kembali mencium mesra pipi Baekhyun. "Dia putra kita " Bisiknya lagi, menyita perhatian sosok cantik itu untuk menatap kedua obsidiannya.
"Terima kasih..." Pungkasnya, seraya mengecup bibir tipis itu.
Sepersekian detik Baekhyun tertegun, lalu tersenyum sangat manis. "Uhm..." Gumamnya sambil menyentuh wajah tegas Pria itu.
Semilir angin, masih berhembus di luar sana... sebagian udara lembab perlahan membawa daun yang gugur. Membuat desah seresah... seirama dengan detak jantung itu.
Hingga lambat laun, kedua bibir itu saling mendekat... lalu bertaut lembut. Tak menyisakan lumatan yang menuntut... melainkan hisapan mesra. Sebagai bentuk... betapa besar Ia mencintai bocah mungil kini memberinya keturunan bahkan mengukuhkan jati dirinya sebagai penguasa itu.
Ia terlalu mencintai Baekhyun... dan segala tentang bocah manis itu...
.
.
"Mnh~ ..."
.
.
Baekhyun mendorong pelan dada Chanyeol. membuat Penguasa Silla itu... begitu berat hati melepas ciumannya.
"Ahjjussi..."
"Hn..."
Chanyeol tersenyum sambil menyeka sedikit saliva di sudut bibir Baekhyun.
"Mengapa Bayi tidak mirip Baekhyun?" Celoteh bocah itu, sambil memandangi bayinya. "Dia memiliki hidung besar, seperti Ahjjussi" Pekiknya kemudian, sambil memijit-mijit hidung mungil bayi itu. Tak pelak... jerit tangis bayi itu mendadak pecah memekakkan.
"A—ahjjussiii!" membuat Baekhyun terbelalak panik, namun tetap tak melepas tangannya dari hidung bayi mungil itu.
"HAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"
"Jangan menekan hidungnya seperti itu"
"Hks! Ahjjussiiii!"
"Y—yaa... jangan menangis" panik Chanyeol, semakin bingung siapa yang harus direngkuhnya... sementara Baekhyun mulai menangis ketakutan karna tangis bayinya sendiri.
"HAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"
"Ah—jjussiiiiiiiiiiiiiii... hks!"
.
.
.
.
.
.
.
.
..To be cont...
FIN
Atau...
Sequel?
,
,
Yoohoo, Gloomy hadir membawa Chap end nya.
eh end atau belum yaaa...
-Masih ada yang rindu Baekhyun dengan Ahjjussi?
-atau ada yang penasaran bagaimana Chanyeol ngurus dua bocah cengeng dan manja di Silla?
Yap...silahakan vote jika ingin sequelnya.
Gloomy akan senang hati, membuat kisah Baekhyun bersama Raja Silla dan Pangeran kecilnya (bayangin aja bayinya Jackson)
Hanya saja Gloomy ga tau nama koreanya Jackson itu apa hehehe
.
.
IG : gloomy_rosemary
.
Yap kemudian, untuk:
LyWoo , ParkBaek267, kykykykykyk, JY01 , restikadena90 , IpahPyromaniac , byun minyoung , korocbhs6104, Chanyeolliee , Innocent Vee , Sparkbyunb, MeAsCBHS, veraparkhyun , Tiara696 , Yana Sehun, lee da rii , dytdyt , Riinnchan, yuanitadian , Poppy20, byunlovely, ByunSoo614 , channiebaek, socloverqua, dwi yuliantipcy , Hunnieh , Flowerinyou, Shengmin137, byun minyoung, derpwhiteboy , bejigurl , Retyass, Anuchanyeoltegan, Chanchan , Aisyah6104, TanClouds, Yeolliebee , bbhyn92 , Dsianz610494, AdisKMH, Byunsilb, ChaNeul , blankyoss , zahrazhafira335, Ray Umyeong , gajah cantik, LightPhoenix614 , baekachu, Jusniati EXO-L, dayahbyun, PureLight26, Incandescence7 , EvieBeeL , selepy, Loey761, YvkariKim, Markeu Noona , dianarositadewi4 , daebaektaeluv , luv110412, Sparkbyunb , khakikira, vryeol , minami Kz, BananaOhbanana, TobenMongryong , Park RinHyun-Uchiha, AlexandraLexa, istiqomahpark01, RatedMLovers614 , Nimas736 , sehunluhan0905, pongpongi , YuRhachan, baekbygirl, 270492 , Keiko Yummina , ChanBaekGAY , bblossom614 , elisabethlaurenti12399 , babymaghfiroh, Elputry , jeyjong , meliarisky7, B , stirhma, Whitetan, bbysmurf , bee, CB046194 , narsihamdan , Marshamallow614 , MadeDyahD, jakun nya baek , urib61, yousee, SMLming, vhyo3107 , eito8, sintaexolsinta1, daeri2124, phikhachu, alietha doll, chanbaek , PRISNA CHO, BaekHill , isnadhia, fitri azaly , aeriaa, korocbhs6104 , inchan88 ,Sobyeoool , Hyo luv ChanBaek , metroxylon, yellowfishh14, yun minyoung, Marsmallow , ,hulas99, Baby Loey, Nurul Qamariahsyarif, handahunkai, ChanBaek3769, dan All Guest
Terima kasih sudah review, ingatkan gloomy pabila ada yang belum tercantum. Biar bisa direvisi.
Okaaaay...
Saranghaaaaeeee
Aaaannnyeeeeeooooooooooonggggggggggggggggggg
