"Papa sudah pulang~~" seru mereka.
Tunggu... 'Papa'?!
"Papa? Kau tak apa?" tanya Nabila seraya menarik-narik mantelku. Aku tersadar dari lamunan bodohku, lalu memandang mereka berdua.
"Aku tidak apa-apa. Sebaiknya kalian bermain dengan..." mataku melirik sekitar, mencari anak buahku yang dapat menemani 2 bocah ini bermain. "Michael!" seruku, lalu Michael menoleh dan menghampiriku.
"Ada apa, Boss?" tanyanya.
"Aku ingin kau temani mereka bermain. Jangan membuat kesalahan atau kau tau akibatnya, kan?" ujarku. Michael mengangguk mengerti lalu mengajak Raile dan Nabila pergi ke Taman Belakang Markas. Aku menghela nafas lalu kembali berjalan menuju Ruanganku.
Sampai di Ruanganku, sudah ada Fang, Ice, Solar, dan Himaki disana yang bersenda gurau dengan saling melempar ejekan. Huh... Apakah aku terlantar ke Dunia bocah?
.
.
The Case Solver
"Siap Menjalankan Misi Pertama?"
.
Story line by LyxCrime03
Chapter 07: We're (not) family!
.
Genre: Fanfiction, Thriller
.
.
"Bagus, kalian berhasil." pujiku, aku pun duduk di kursiku. Wajah mereka tampak berseri.
"Terima kasih, Boss!" seru mereka bersamaan.
"Aku mempunyai hadiah masing-masing untuk kalian. Fang, kau boleh memiliki berlian itu, terserah padamu ingin menjualnya atau tidak..," ucapku.
"Terima kasih, Tuan!" kulihat Himaki mengerut kesal. Oh... Dia juga ingin harta.
"Himaki... Kuberi kau imbalan dan... Kurasa kau butuh kendaraan. Kau bisa memiliki mobil BMW itu,"
"Wahh! Terima kasih, Boss!" Himaki membungkuk tanda terima kasih.
"Ice, kuberi kau sniper terbaru dan Voucher Cafe Cocolatte,"
"Thanks, Boss!"
"Solar, akan kubelikan perangkat komputer baru dan Voucher belanja di Shiny Store." ucapku akhirnya.
"Terima kasih banyak, Boss!" Ujar Solar, wajahnya tampak berseri. Untuk seukuran orang yang gila Dunia Maya, Solar adalah tipe yang menjaga penampilannya agar tetap terlihat modis. Baju yang dikenakannya pun produk baru, dan kacamata surya bening berwarna jingga itu juga sulit didapat.
Mereka satu persatu keluar dari Ruanganku. Namun aku mencegah Ice untuk pergi karena masih ada hal yang harus ia lakukan untukku.
"Ada apa, Boss?" tanya Ice.
"Aku minta, kau didik 2 anak yang baru kuadopsi dari panti asuhan itu. Didik mereka cara menggunakan senjata yang baik dan benar." perintahku. Ice mengangguk paham.
"Kapan itu?" tanyanya.
"Besok kau bisa melakukannya." jawabku. Ice kembali mengangguk lalu pergi meninggalkan Ruanganku.
[07.30 am]
"Morning, Boss!" sapa Himaki. Sambil mengasah belatinya. Aku berdeham sebagai jawaban lalu duduk dikursi untuk sarapan.
Seperti biasa, Kopi panas langsung disajikan pelayanku dan sebuah koran baru langsung diberikan.
"PENCURI BERLIAN ATAU SHADOW THIEF KEMBALI MELAKUKAN AKSINYA!"
Itulah Headline koran berita hari ini. Aku hampir tertawa membacanya, namun kupikir itu bukanlah hal yang harus ditertawakan. Aku membalik halaman Koran.
"Kami pun tak bisa melacak keberadaan pelaku." ujar salah seorang Inspektur dari The Case Solver, Gempa.
Tch... Mendengar namanya saja sudah membuatku memanas seperti ini.
"Himaki.." panggilku pada Himaki yang berada disampingku. Ia pun menoleh padaku sambil menautkan alisnya.
"Ya?" sahutnya. Aku memberikan koran itu padanya.
"Buang koran ini dan panggil Dr. Mamoru!" perintahku, singkat, padat, dan jelas. Himaki mengangguk, mengambil koran itu lalu bergegas membuangnya ketempat sampah. Setelahnya ia kembali berlari menuju Ruang Kerja Dr. Mamoru.
Tak lama kemudian, ia kembali bersama Dr. Mamoru.
"Ada apa, Boss?" tanya Dr. Mamoru. Aku menyesap kopiku perlahan. Himaki pun turut pergi karena ia tahu ini adalah masalah yang tak harus ia terlibat.
"Kau tau bocah laki-laki buta itu?" tanyaku.
"Maaf, Boss... Saya tidak tau." jawabnya. Hampir membuat tanganku reflek menyiramnya dengan kopi panasku. Aku menghela nafas supaya tenang.
"Tanyakan pada Michael, dia tau bocah itu. Kuminta kau operasi mata sebelah kirinya saja. Mengerti?" perintahku dengan nada sedikit jengkel. Dr. Mamoru mengangguk mengerti lalu pergi.
"Ukh.." ada apa ini? Tubuhku tiba-tiba merasa tidak enak dan kepalaku pusing.
[Normal/Author's POV]
Piipp... Piipp... Piipp...
Jam beker berbunyi nyaring. Dengan setengah sadar, Gempa mematikan jam beker yang sudah menunjukkan pukul 08.00 am itu.
"Sial... Kejadian tadi malam membuatku demam..." gumam Gempa, seraya duduk ditepi kasur dengan sedikit mengantuk.
Bruk...
Ia kembali terbaring dikasurnya.
-0-0-0-
"Thorn, apa hari ini Gempa sudah bangun?" tanya Anni seraya membawa parsel buah dan beberapa makanan untuk Gempa sarapan nantinya.
"Um... Aku belum melihatnya, ia akan terlambat mungkin..." jawab Thorn, seraya menuangkan air panas untuk membuat kopi. Anni mengangguk mengerti lalu berjalan menuju Kamar Gempa, ia memutar kenop pintu kamar Gempa yang ta terkunci itu lalu masuk.
Anni meletakkan parsel buah itu diatas meja. Lalu melangkah diam-diam menuju ranjang Gempa untuk membangunkan Gempa. Ia mengguncang tubuh yang tertutup selimut tebal itu.
"Ungghh!" Gempa melenguh sesaat lalu menukar posisi tidurnya. Anni bertolak pinggang dengan apa yang Gempa lakukan. "Oh, ayolah... Ia tak boleh terus menerus seperti ini!" batin Anni. Ia lalu menarik selimut Gempa dan melihat Gempa yang mengginggil dan wajahnya yang merah. Anni langsung menutup mulutnya dengan telapak tangannya karena terkejut.
"G-Gempa! Kau tak apa-apa?" tanya Anni, khawatir. Ia pun menempelkan punggung tangannya kedahi Gempa. Ia terkejut mengetahui suhu tubuh Gempa yang amat panas itu. Anni langsung berlari keluar mencari bantuan.
Tak lama kemudian, ia kembali bersama Yaya. Yaya pun memeriksa Gempa dengan stetoskop dan tak lupa dengan termometer. Setelah selesai, ia berbalik menghadap Anni yang panik.
"Hanya gejala Panas dingin. Ia terlalu stress karena pekerjaan. Ia harus istirahat beberapa pekan." ujar Yaya, seraya meletakkan obat berbentuk pil diatas meja. Ia pun berlalu meninggalkan Kamar Gempa.
Anni menghela nafas lalu mendekati Gempa yang terbaring diatas ranjang. Ia lalu menyisir rambut Gempa dengan halus.
"Gempa..." gumam Anni. Wajahnya terlihat khawatir.
"Andaikan Blaze disini... Andaikan saat itu kita tidak mengalami kecelakaan–" gumaman Anni terhenti karena Gempa menggengam tangannya.
"Anni... A-apa... Aku.."
"Hmh... Dia mengigau." batin Anni saat Gempa kembali tidur dengan tenang.
Anni tahu betul apa yang sebenarnya terjadi pada Gempa dimasa lalu. Ia turut menjadi saksi mata.
Dulu, Gempa, Blaze, dan Anni adalah 3 sejoli yang selalu bersama dan melakukan tugas bersama. Namun, karena suatu tragedi menyebabkan Gempa hilang ingatan, walaupun tidak parah. Tapi, berbeda dengan Blaze, ia lupa akan segalanya. Lupa akan apa yang terjadi padanya, keluarganya, pekerjaannya. Yang ia ingat hanyalah namanya.
Dikambing-hitamkan oleh seseorang, Blaze dituding menjadi penyebab tragedi itu. Bisa kau bayangkan saat kau amnesia total, dan kau dituding seperti itu? Siapa yang takkan sakit hati?
Blaze pun kabur, kabur entah kemana. Komandan Kokoci memerintahkan seluruh anggota The Case Solver untuk tak mengungkit masalah itu lagi dan tak boleh seorangpun mengatakan hal ini pada Gempa.
"Aku menyesal, Gempa... Hiks–"
To Be Continued...
Sialan, habis keren nyolong(?) permata kok jadi sedih gini sih?
/diamlah. Ini bagianku!/
Tapi ini Thriller! Bukan angst!
/tutup mulutmu! Berisik!/
Gahh! Freakin' Owner!
Silahkan tinggalkan Bintang (vote), Comments, dan share cerita ini jika berkenan.
/or you will die! Hahaha!/
Oh... Crazy Owner! -_-
LyxCrime03/Himema-Chan.
