Game On

.

Characters belong to Masashi Kishimoto.

.

This Is SasuHina Story!

Alternative Universe! Out Of Character! Typical Errors! And might lead to some twist!

You've been warned!

.

.

SFU (Super Fast Update) *YAYYY! wkwkwk

typo ditanggung pemirsah karena author teladan kita yang satu ini males recheck *slapp :v

.

.

"Kau benar-benar menyusahkan." Naruto melemparkan sebuah sapu tangan yang sebelumnya ia gunakan untuk mengusap darah di wajahnya ke arah Sasuke. "Dasar tolol," racaunya lagi.

Sasuke menggertakkan rahangnya sambil menatap tajam Naruto, namun ia tetap mengambil sapu tangan yang tadi dilempar ke arahnya untuk kemudian ia gunakan untuk membersihkan darah di beberapa lukanya.

"Hanya karena aku tidak terlihat sedang dalam keadaan yang baik, bukan berarti aku tidak akan membalas mulut besarmu," balas Sasuke.

"Kau tidak punya hak untuk balas dendam. Kenapa? Karena aku telah memberikanmu sebuah ciuman kehidupan," sergah Naruto dengan nada kecut. "Malah kau berhutang terima kasih padaku."

"Aku tidak berniat berterima kasih padamu. Egomu akan menggembung tanpa batas jika aku melakukannya," jawab Sasuke enteng.

Naruto menyeringai tipis. "Sungguh, dua kata 'terima kasih' dari mulutmu akan kuanggap cukup. Tapi aku tidak akan memaksa, mungkin kau bisa menunjukkan rasa terima kasihmu itu nanti saat berhadapan dengan agensi. Aku yakin mereka akan sangat marah jika mengetahui hal ini." Naruto berdecak, membayangkan masalah selanjutnya yang harus mereka hadapi.

"Kalau begitu kenapa kita masih di sini?" tanya Sasuke dengan satu alis menukik.

"Aku hanya memberimu waktu lebih lama sebelum nantinya mereka melemparmu kembali ke dalam shard," ujar Naruto enteng, matanya melirik Hinata yang masih berlutut di sisi Sasuke dengan kepala tertunduk.

"Bagaimana bisa kau membawa serta gadis bercepol itu?" tanya Sasuke tiba-tiba setelah keheningan menghampiri beberapa detik.

"Itu karena Tenten peduli kepada Hinata, bukan padamu," jawabnya kemudian berdiri.

"Hei, Wind..." panggil Sasuke dengan suara pelan saat Naruto sudah memunggunginya.

"Apa?" Naruto menengokkan kepalanya ke belakang.

"Terima kasih."

Naruto menyeringai ringan lalu mengibaskan tangannya di udara sebelum berjalan ke tempat mobil mereka diparkirkan, meninggalkan Sasuke kini hanya berdua dengan Hinata.

Sasuke melirik Hinata yang masih tak bersuara, ia mempererat genggaman tangannya pada tangan Hinata yang sejak tadi bertautan untuk mendapatkan perhatian wanita itu. Ia tak tahu di mana mereka sekarang, tak ada tanda adanya pemukiman di sekitar sini. Naruto hanya memilih tempat secara acak yang dikiranya aman untuk berhenti dan sekedar memberikan Sasuke ruang untuk bernapas setelah mereka terburu-buru pergi dari area pergudangan tepat di menit setelah Sasuke sadar.

"Kau tidak dalam keadaan yang baik saat kau datang menyelamatkanku, bukan?" Hinata akhirnya membuka mulut.

Sasuke menundukkan kepalanya sejenak sembari mengambil napas lalu kembali memandang Hinata. Wanita itu terlihat serantakan, terlebih dengan debu juga goresan luka di wajahnya. Dan Sasuke tahu penampilannya pasti tak berbeda jauh dari wanita itu. Mereka memang terlihat terlihat butuh waktu untuk istirahat. Dan bagusnya, Naruto dapat dengan jeli melihat hal itu.

"Aku tidak percaya bisa mendapat serangan seperti itu dua kali dalam seminggu." Sasuke bergumam.

Kening Hinata berkerut. "Apa sebelumnya kau—"

"Tidak," jawab Sasuke cepat, mengetahui apa yang ingin Hinata tanyakan. "Tidak pernah. Aku bahkan tidak tahu bagaimana bisa tubuhku bereaksi seperti itu sekarang." Sasuke menyeringai di sela jawabannya seolah hal yang terjadi padanya bukanlah hal besar. Oniksnya kemudian teralihkan ke bahu Hinata yang terluka. "Kau terluka," lirihnya.

"Kau juga."

"Hinata... aku..." Sasuke menunduk, menjilat kecil bibirnya sendiri. "Saat kau... aku tidak tahu apa... yang harus kulakukan... saat kau—"

"Jangan bicarakan tentang itu lagi, oke," sela Hinata sebelum Sasuke selesai dengan racauan lirihnya. "Kita aman, setidaknya sekarang. Itu yang terpenting," tambah Hinata, tangannya meraih pipi Sasuke, meminta pria itu agar menatapnya lagi. "Kau... meminta bantuan Naruto?" tanyanya mengalihkan topik.

"Hn," gumam Sasuke membenarkan. "Aku tidak tahu Haruno dan... uhh..."

"Tenten," ujar Hinata memberi tahu saat mendapati raut Sasuke yang terlihat sedang mengingat-ngingat.

"Ya, dia... aku tidak tahu Haruno dan Tenten akan ikut serta," ulangnya. "Aku juga tidak tahu kalau mereka berencana meledakkan tempat itu. Tapi harus kuakui, itu rencana yang cukup bagus." Sasuke mengedikan bahunya.

Hinata tersenyum kecil menatap pria di hadapannya itu. Namun senyum tak bertahan lama saat bayangan tadi kembali tergambar di kepalanya.

"Kau hampir mati... lagi. Dan sekarang aku melihatnya dengan sangat jelas," bisik Hinata, tangannya tanpa sadar semakin meremas tangan Sasuke. "Sasuke... aku... aku tahu ini terdengar begitu dangkal tapi... aku tidak tahu bagaimana jika aku benar-benar kehilanganmu."

"Hinata, Hinata." Selanjutnya Hinata malah mendengar kekehan singkat Sasuke. "Percayalah, yang paling kuinginkan sekarang adalah mati sebelum dirimu karena... aku tahu ini terdengar egois tapi... aku tidak ingin hidup jika kau tidak ada." Lagi-lagi Sasuke mengatakannya seolah itu adalah hal yang lumrah.

"Lebih baik kita tidak membicarakan soal Kematian saat kita masih bisa menikmati hidup ini," potong Hinata.

"Yah, mungkin kita bisa mengesampingkan topik itu sejenak," ujar Sasuke disertai hembusan napas panjang. Ia tumpukan kepalanya di bahu Hinata. "Aku tidak ingin kembali," gumamnya.

"Tapi kita tidak bisa lari begitu saja, Sasuke," balas Hinata.

"Aku tahu."

Hinata menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan, disapukan pandangannya di area sekitar. Malam itu cerah, bintang menyebar acak tanpa penghalang untuk dilihat. Hinata berharap ia bisa memiliki lebih banyak waktu seperti ini bersama Sasuke.

Hinata kemudian melirik ke arah mobil yang mereka gunakan, tak terlalu jauh namun juga tak terlalu dekat dengan tempatnya dan Sasuke sekarang. Dari tempatnya, Hinata dapat melihat Tenten yang sudah duduk manis di kursi belakang juga Naruto dan Sakura yang masih berdiri di luar, keduanya terlihat seperti sedang memperdebatkan sesuatu.

"Mereka berdebat lagi?" gumam Hinata yang seketika membuat Sasuke mengangkat kepalanya dari bahu wanita itu untuk sekedar melihat apa yang Hinata komentari.

"Cekcok dalam rumah tangga," jawabnya separuh mencibir.

Netra Hinata menyipit menatap Sasuke yang kembali menyandarkan kepala di bahunya. "Bagaimana bisa kau membuat lelucon tepat setelah apa yang terjadi?"

Sasuke mendengus lalu kembali menegakkan posisi duduknya kemudian menghadap Hinata. "Kau baik-baik saja. Aku masih hidup dan masih di sini bersamamu. Untuk sekarang, itu cukup bagiku," jawab Sasuke, tangannya mengusap lembut pipi Hinata. "Aku hanya ingin kau aman. Tapi sepertinya aku tidak bisa menjauhkanmu dari bahaya sebelum semuanya berakhir."

"Apa—"

"Apa kita bisa kembali sekarang?" Naruto menginterupsi tiba-tiba sebelum Hinata sempat mengucapkan kata lebih banyak. Pria itu masih terlihat kesal.

Hinata mengangguk kemudian berdiri, diikuti oleh Sasuke. Mereka bertiga melangkah santai menuju mobil.

"Bagaimana perasaanmu?" tanya Tenten yang langsung keluar dari dalam mobil setelah melihat Hinata mendekat. Hinata hanya membalas pertanyaannya dengan senyum kecil. "Sepertinya agensi akan menyambut kita dengan kemurkaan," lanjutnya.

"Kenapa begitu?" tanya Hinata yang kemudian menyadari perubahan ekspresi wajah Sasuke. "Ada apa?"

"Kita bertindak di luar protokol. Terlebih melibatkan tiga ledakan," jelas Sasuke singkat sebelum membuka pintu di samping kursi kemudi.

"Kurasa kau sebaiknya duduk di belakang lagi," ujar Naruto kepada Sasuke kemudian melirik Hinata yang ada di belakang rekannya itu.

"Huh?" Kening Sasuke berkerut tak terima.

"Kurasa memang sebaiknya begitu," sambung Hinata yang mendapatkan sinyal dari Naruto. Sepertinya pria itu masih ingin menjaraki diri dengan rekan merah mudanya.

"Tapi Hinata—"

"Sasuke," sela Hinata tegas sebelum Sasuke sempat protes.

"Oh baiklah." Sasuke memberengut, namun mengalah dan masuk ke kursi belakang. Beberapa Saat setelahnya, Sasuke menengok ke kanan dan kirinya hanya untuk mendapati Tenten dan Sakura. "Kenapa kau duduk di depan?" protes Sasuke lagi saat menyadari Hinata duduk di depan dan tengah sibuk memasang sabuk pengamannya.

"Sudahlah, Thunder... kita harus segera kembali sekarang," balas Sakura cepat.

Perjalanan kembali ke markas Anbu cukup panjang dan melelahkan, terlebih dengan kondisi mereka sekarang. Beberapa kali Hinata melirik Sasuke yang duduk di belakang dan kini mendapati pria itu telah terlelap. Begitu juga dengan dua rekan lainnya.

"Apa yang terjadi antara kau dan Sakura?" Hinata bertanya kepada Naruto dengan suara pelan.

Naruto menghela napas sebelum menjawab. "Bukan apa-apa sebenarnya. Hanya sesuatu yang agak... kekanakan."

"Apa itu karena—"

"Thunder sekarat saat itu," desis Naruto, tak membiarkan Hinata menuntaskan ucapannya. "Dan Sakura dengan mudahnya mundur hanya karena kabar burung yang didengarnya."

"Kabar burung?"

"Mereka bilang bisa jadi kalian... uhh... terinfeksi... kau tahu lah."

"Dari mana datangnya omong kosong itu?" Hinata mendesis tak terima.

"Konyol, bukan? Tapi masalahnya... kalian berdua memiliki reputasi yang tak biasa di agensi. Terlebih kau setelah peristiwa Yugaku Hidan itu," jelas Naruto.

"Aku tidak melakukan apapun dengan orang itu."

"Aku tahu. Tapi tidak yang lain. Apalagi belakangan ada kabar kau juga berhubungan dengan Yahiko," Naruto menjeda sejenak ucapannya untuk mengambil napas. "Mereka semakin melihatmu seperti—"

"Jalang?" sela Hinata cepat, nadanya masih terdengar kecut.

"Tidak, tidak seperti itu," balas Naruto mencoba menahan amarah Hinata yang sudah bisa dirasakannya. "Tapi... yeah... umm..." Naruto kesulitan mencari kata yang tepat. "Pokoknya kau membuat mereka berpikir kau ini berpotensi... kau tahu lah."

"Aku baru tahu agensi kita diisi oleh para penggosip berotak sempit seperti mereka," cibir Hinata lagi. "Apa yang membuat mereka merasa memiliki hak untuk menghakimi seperti itu?"

Naruto terkekeh mendengar omelan rendah Hinata, ia kemudian berhenti setelah mendapatkan tatapan tajam dari wanita itu.

"Aku pribadi tidak menghakimimu atau apa. Malah sama sepertimu, aku juga berpikir mereka terlalu memiliki pandangan yang sempit. Terlalu dangkal mengambil kesimpulan seperti itu. Apa yang Sakura lakukan..." Naruto menghela napas. "Benar-benar tindakan tolol meski ia beralasan atas pencegahan atau segala tetek bengeknya." Ucapan Naruto terdengan tulus, bukan hanya sekedar untuk menenangkan Hinata. "Aku penasaran apa dia juga akan seperti itu jika aku yang berada di posisi Thunder," tambah Naruto lirih.

"Apa kalian..." Hinata bertanya hati-hati, namun berhenti saat melihat Naruto menggeleng.

"Kami hanya begitu akrab," jelasnya singkat. "Tapi setelah malam ini... aku tidak tahu bagaimana pertemanan kami nantinya."

Hinata menghela napas, ia mengalihkan pandangannya ke luar jendela. "Maaf," gumamnya. "Aku terus saja membawa masalah kepada setiap orang."

"Aku sudah bilang aku tidak menghakimimu, Hinata. Terlebih menyalahkanmu," balas Naruto tegas masih dengan suara yang rendah.

"Tapi memang begitu, bukan? Ayahku, Sasuke, kau... dan yang lainnya."

"Aku tidak tahu bagaimana hubunganmu dengan ayahmu. Tapi untuk Thunder... aku tidak melihat dia menganggapmu sebagai beban," jelas Naruto tulus. "Aku dapat melihat betapa berharganya kau di mata keparat itu," Naruto melirik Sasuke yang terlelap dari kaca spion. Dia mencintaimu, Hinata. Kalau tidak, dia tidak akan memohon padaku untuk membantunya. Dan aku juga dapat melihat kau mencintai dia sama besarnya."

Hinata lagi-lagi menghela napas. "Sayang sekali perasaan seperti itu dianggap tabu dalam pekerjaan ini," gumam Hinata.

"Kau benar," respons Naruto, setuju dengan apa yang Hinata katakan.

..

...

..

"Tahan dia!"

Perintah marsekal tadi adalah hal pertama yang menyambut mereka setibanya di markas besar Anbu. Jelas sekali terlihat pria yang telah melampaui separuh abad usianya itu tengah murka, kerutan di wajahnya semakin tajam dibarengi dengan amarahnya.

"Tidak. Dia baru saja mendapat serangan jantung lagi." Naruto menginterupsi dengan cepat.

"Tahan mereka semua atas keterlibatan mereka."

"Tunggu!" Kakashi muncul bersama Konan yang mengekorinya kemudian menempatkan diri di antara anak buahnya dan para petugas yang dibawa marsekal. "Yahiko sudah memberi pengakuan," jelasnya singkat.

"Ada apa, Jenderal Hatake?" marsekal mempertanyakan dengan tajam.

"Yahiko memberikan keterangan baru, jadi kita bisa mulai mengadakan rapat untuk mendiskusikan perihal Agen Thunder," jelas Kakashi. "Untuk Agen Wind dan yang lainnya, mereka telah menuntaskan kemungkinan geng jalanan yang bekerja sama dengan Akatsuki di bawah perintahku."

Marsekal menyilangkan lengan di dadanya. "Itu tidak—"

"Saya yang bertanggung jawab atas misi kali ini," sela Kakashi. "Agen Tenten dilibatkan karena Agen Thunder tidak dapat melaksanakan misi seperti biasa. Tapi ternyata dia memutuskan untuk ikut turun tangan. Ini adalah tim saya, Marsekal. Itu artinya apapun yang terjadi merupakan tanggung jawab saya," tegasnya lagi.

"Tetap saja, Agen Thunder seharusnya masih dalam pengawasan!"

"Saya sudah mengatakan bahwa Yahiko sudah memberikan pernyataan baru, Benar bukan, Konan?" Kakashi melirik Konan yang berdiri di sampingnya.

"Benar. Dan sesuai peraturannya, melihat fakta baru yang didapat, pinalti terhadap Agen Thunder dapat ditarik," ujar Konan menjelaskan. "Lagipula Agen Thunder terlibat untuk membantu. Dan Saya yakin keberhasilan misi ini lebih penting daripada menekan Agen Thunder mengingat informasi terbaru intel kita yang menyebutkan bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk memutuskan koneksi terbaru Akatsuki."

"Jadi ini semua sudah menjadi rencanamu?" Marsekal memandang Kakashi dalam-dalam. "Termasuk meminta dokter mengizinkan Agen Thunder keluar?"

"Benar. Itu adalah bagian dari rencananya." Kakashi mengangguk. "Seperti Anda ketahui, peran Agen Thunder di setiap misi tim kami sangat besar. Saya harap besok perihal pembebasan Agen Thunder sudah dapat diselesaikan. Dan jika Anda ingin rincian tentang misi ini, Konan bisa memberikannya kepada Anda. Untuk sekarang, Saya ingin tim Saya mendapat pemeriksaan medis," tutupnya. "Ayo," Kakashi berujar kepada timnya agar bergerak mengikutinya ke bangsal medis. "Aku ingin laporannya berada di mejaku besok pagi, Agen Wind," tambah Kakashi sebelum mereka melangkah terlalu jauh dari kepungan marsekal.

Naruto mengangguk tanpa memperlambat langkahnya mengekori Kakashi. Semuanya menutup mulut, memasang tampang datar yang tak terbaca hingga mereka tiba di lorong yang menghubungkan gedung utama dengan bangsal medis.

"Terima kasih, Ka-Jenderal," gumam Sasuke rendah namun masih dapat didengar oleh orang-orang di sekitarnya.

"Jangan kira aku tidak akan menuntut penjelasan yang sebenarnya dari kalian," balas Kakashi dengan nada tenang. "Kali ini aku menyelamatkan nasibmu, Thunder. Jangan berharap hal itu bisa terulang."

"Yang benar kau menyelamatkan nasib kami semua, Jenderal," koreksi Sakura.

"Hinata!"

Sebuah suara berat terdengar dari ujung lorong, membuat Hinata juga yang lainnya otomatis menghentikan langkah dan berbalik. Dan di sana, ia mendapati sang ayah tengah berjalan cepat mendekatinya.

"Apa yang terjadi?" tanya Hiashi langsung setelah jaraknya tak lebih dari tiga langkah di hadapan Hinata.

"Dia hampir terbunuh. Itulah yang terjadi!" Sasuke menyela tajam, menempatkan diri di depan Hinata untuk berhadapan langsung dengan Hiashi.

"Menyingkir! Kau tidak memintamu berbicara," ujar Hiashi tenang namun tajam.

"Katakan padaku, Jenderal Hyuuga. Apa kau melakukan sesuatu untuk menyelamatkan putrimu?" Sasuke terdengar murka, ia tak memedulikan formalitas kepada atasannya itu. "Aku sudah mengatakan padamu bahwa Hinata disekap. Aku bahkan memberimu alamatnya. Tapi apa kau mengirimkan setidaknya satu orang ke sana?!"

"Kau yang bertindak gegabah. Kau tahu benar butuh proses untuk mengirimkan satu tim, melaksanakannya tanpa persetujuan marsekal merupakan pelanggaran protokol," jelas Hiashi masih sama tenangnya.

"Persetan dengan protokol!" Sasuke berteriak. "Dia putrimu dan kau masih mendahulukan peraturan-peraturan sialan itu?!"

"Hentikan, Thunder!" Kakashi berujar, ia dan Naruto menahan Sasuke saat pria itu hampir maju untuk menyerang Hiashi. "Bawa dia, Wind," titah Kakashi pada Naruto.

Naruto mengangguk dan menyeret Sasuke dari sana, kembali ke tujuan awalnya masuk ke bangsal medis. Kakashi selanjutnya berbalik ke pada anak buahnya yang lain, meminta mereka juga melanjutkan langkah mereka. Ia sendiri mengikuti di belakang setelah mengangguk ke arah Hinata, meninggalkan wanita itu untuk setidaknya bicara sedikit dengan ayahnya.

Hinata menatap Kepergian mereka sejenak sebelum kembali menghadapkan dirinya ke arah Hiashi. Pria itu masih menopengi dirinya dengan raut yang tenang, namun Hinata tahu ayahnya itu menunggunya mengatakan sesuatu.

"Aku lelah," gumam Hinata sebagai pembuka. "Jika kau belum menyadarinya, kuberitahu bahwa lengan kiriku terkena luka bakar, dadaku sesak dan sendiku nyeri. Dan aku tidak butuh kau memperburuk keadaanku dengan kata-kata penuh kekecewaanmu terhadapku. Kau bicara soal protokol, tapi kau membiarkan Neji bebas malam itu. Bukankah itu juga melanggar aturan utamanya?" Hinata menghela napas kemudian menunduk. "Apa yang harus aku lakukan? Aku adalah putri biologismu tapi kau seperti lebih memfavoritkan keponakanmu. Jadi katakan padaku, apa yang harus kulakukan, Ayah?" tanya Hinata lemah, namun tanpa menunggu Hiashi menjawab, ia segera memutar tubuhnya dan berlalu, menyusul rekan-rekannya.

..

...

..

Apartemen Hinata tak terlihat sehancur apa yang dibayangkannya. Hanya lubang besar dan reruntuhan yang berserakan di dalam kamar tidur. Beruntungnya, saat kejadian pengelola apartemen langsung bertindak menghubungi berbagai bantuan termasuk pemadam, jadi api hasil ledakan itu tak terlalu menyebar.

Kakashi lagi-lagi turun tangan untuk memberi penjelasan kepada kepolisian tentang kejadian ini dengan mengatakan bahwa hal ini sudah direncanakan selama seminggu terakhir. Hinata merasa lega karenanya.

Hinata berdiri di ambang pintu kamarnya, memandang sekeliling. Ia menimbang-nimbang apakah ia harus meninggalkan tempat itu. Tempatnya tumbuh, tempat segala kenangan tentang ibu bahkan ayahnya saat mereka masih bersama, tempat ia menghabiskan masa remajanya bersama Neji.

Memang tak seluruh kenangan itu terasa manis. Tapi bahkan kenangan pahit yang ia alami di sana tak lagi ingin ia lupakan. Kenangan buruk yang tak lagi ia takuti karena kini ia memiliki Sasuke yang menggantikan semua itu dengan kenangan baru yang lebih berharga.

"Hinata?"

Lamunan Hinata runtuh saat ia mendengar namanya dipanggil, ia menengok ke arah pintu masuk dan melihat seorang wanita paruh baya yang selama ini menjadi asisten rumah tangganya. "Selamat sore, Bibi Chiyo," sapa Hinata ramah.

Bibi Chiyo berjalan mendekati Hinata dan terkejut saat melihat wanita yang sudah dianggapnya sebagai anak itu memiliki luka di beberapa bagian wajahnya. "Keadaanmu terlihat... buruk, Nak."

"Aku baik-baik saja, Bibi. Hanya memar dan luka kecil," jelas Hinata, tangannya meraba rahang kanannya yang ditempeli plester. "Bibi pasti terkejut ketika mendengar tentang semua ini."

"Tentu saja. Apalagi setelah itu kau menghilang tanpa kabar. Aku hampir histeris kalau saja polisi idak mengatakan bahwa kau sudah dalam perawatan," balas bibi Chiyo sungguh-sungguh.

Hinata tersenyum kecil kemudian memandang lagi kekacauan di apartemennya. "Kurasa Bibi tidak mungkin membereskan semuanya sendiri."

"Tenang saja, aku kenal beberapa orang yang bisa membereskan semuanya."

"Tidak... tidak perlu," tolak Hinata halus. "Sepertinya ini waktunya untukku pindah."

Bibi Chiyo mengerutkan keningnya yang sudah terlanjur berkerut karena usia. "Kau benar-benar yakin akan pindah?"

Hinata mengangguk. "Lagipula tempat ini terlalu luas untuk kutinggali sendiri." Hinata menghela napas samar kemudian merentangkan tangannya untuk memeluk bibi Chiyo. "Sebelumnya terima kasih karena sudah terus memerhatikanku, dan maaf jika aku banyak melakukan kesalahan kepada Bibi. Setelah ini Bibi tidak perlu datang lagi," ujar Hinata di pelukan wanita paruh baya itu.

"Tidak apa-apa," bibi Chiyo menepuk lembut punggung Hinata dan mengelus surainya. "Tapi jika ada yang kau butuhkan, jangan sungkan untuk bertanya padaku."

"Terima kasih, Bibi. Untuk semuanya."

..

...

..

Hinata menghabiskan waktunya dengan berdiri di balkon apartemennya setelah bibi Chiyo pamit. Ia seperti ingin menikmati waktu tenangnya sendirian mengingat belakangan ia kembali menggeluti agenda hariannya di Anbu. Bedanya, kini Sasuke tak lagi menjadi mentornya. Bukan tanpa alasan tentu.

Tiga hari yang lalu, Sasuke bersama Naruto mendapat panggilan untuk diskusi darurat. Hinata sendiri tidak tahu tentang apa itu, Sasuke pun belum mengatakan apapun padanya. Dan sejak hari itu, kesibukan Sasuke meningkat hingga intensitas pertemuan mereka berkurang.

Hinata tak mengeluhkan soal itu. ia sudah paham situasi yang melingkupinya. Semua yang terjadi mengajarkannya untuk terus menerima dan menikmati apa yang terjadi hari ini mengingat mereka tak memiliki jaminan apakah akan ada hari esok untuk mereka.

Hinata menatap air jernih di bawahnya. Meski berada di kawasan perkotaan, apartemen ini memiliki pemandangan yang menyenangkan di halaman belakangnya dengan kolam yang cukup luas dan taman yang begitu terawat.

Melihat kubangan air bening yang permukaannya berkilap memantulkan cahaya matahari itu membuat tubuh Hinata haus akan bayangan segarnya partikel-partikel air yang membugkusnya. Dan jika ia pikirkan lagi, mungkin ini akan jadi kali terakhir Hinata menikmati suasana apartemen ini. Dengan senyum kecil, ia memutuskan untuk mengambil pakaian renang juga jubah mandinya sebelum meluncur ke bawah.

Setelah mengganti pakaiannya di ruangan yang telah disediakan dan sedikit merenggangkan tubuhnya, Hinata perlahan menenggelamkan diri di dalam kolam itu. Kontaknya dengan air membuat beberapa luka kecil di tubuhnya sedikit bereaksi, tapi ia tak terlalu memedulikan hal itu. Ia terus bergerak dari ujung ke ujung kolam.

"Ini tidak adil."

Sebuah suara yang jelas Hinata kenali sebagai suara Sasuke agak membuatnya terkejut. Dengan cepat ia memutar kepalanya dan melihat pria itu berdiri di tepian kolam. Sasuke tersenyum lebar kepadanya, kedua tangannya ia masukkan ke saku celana.

"Kau menikmati waktumu dengan berendam di sini sedangkan aku setengah mati menghadapi pekerjaanku," lanjut Sasuke.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Hinata tanpa merespons ungkapan Sasuke. "Kukira kau harus menghadiri rapat penting dengan Jenderal Hatake." Hinata bergerak di dalam air mendekati tepian di mana Sasuke berdiri.

Ujung bibir Sasuke yang membentuk senyuman perlahan turun, namun air wajahnya masih sama seperti tadi. Ia berjongkok saat Hinata sudah berada di depannya. "Baru saja selesai. Dan aku tidak menemukanmu di agensi, jadi kupikir kau di sini. Tapi aku tidak menyangka akan menemukanmu main basah-basahan seperti ini," seringai Sasuke tipis. "Boleh aku bergabung?" tanyanya.

Hinata mendengus geli, namun tak keberatan dengan itu. "Terserah kau saja."

Setelah jawaban Hinata, Sasuke kembali berdiri kemudian melepas kaus putih yang dikenakannya. Tangan kemudian beralih berkutat di sabuknya sebelum melepas serta celana panjangnya, menyisakan bokser yang ujungnya jatuh tak jauh di atas lutut. Ia meletakkan pakaiannya di sebuah kursi malas tanpa melipatnya rapi-rapi kemudian menceburkan diri ke dalam kolam.

Ia mendekati Hinata yang entah sejak kapan sudah berada di sudut kolam. Diraihnya pinggang wanita itu sebelum ia putar tubuh kecilnya hingga mereka saling berhadapan.

"Yahiko dalam masalah besar. Tapi setidaknya pikirannya sudah terbuka," ujar Sasuke membuka percakapan.

"Konan bisa jadi sangat persuasif sepertinya," komentar Hinata.

"Oh. Sebenarnya Wind yang membuatnya mengaku."

"Huh?" Hinata memiringkan kepalanya, ia ingat Konan juga mengatakan akan berusaha membuat Yahiko mengaku.

"Dia menahan dan mendekatkan gergaji mesin yang aktif di tangan Yahiko yang tidak cidera kemudian jadilah keparat itu mengatakan segalanya," jelas Sasuke

Hinata tertawa kecil membayangkan bagaimana Naruto mengancam Yahiko. "Naruto bisa jadi teman yang baik bagimu jika kau membiarkannya, kau tahu," respons Hinata.

"Dia menyukaimu, masih sebagai partner kerja kurasa. Dia tidak ingin melihatmu terluka," ujar Sasuke rendah. "Dia hampir menggila saat mendengar soal perlakuan Yahiko terhadapmu."

Hinata berkedip beberapa kali. "Kau menggurau," balasnya, agak tak mempercayai apa yang dikatakan Sasuke.

"Sungguh."Sasuke menyeringai. "Aku tidak terkejut. Kau memang seperti itu, seperti magnet... kau terus mengikat orang lain tanpa sadar."

Hinata kembali terkekeh. "Kau terdengar seperti penyair." Hinata mengalungkan lengannya di leher Sasuke.

Sasuke mendekatkan wajahnya kemudian mengecup rahang Hinata, beberapa kali. "Kau benar," gumamnya di sela kecupan yang ia berikan.

"Hmm?" gumam Hinata, menunggu Sasuke melanjutkan.

"Wind bisa saja menjadi temanku jika dia tetap menjaga jaraknya denganmu dan tidak menyentuhmu."

Hinata menarik wajahnya dari hujan kecupan yang Sasuke berikan. Ia menggeleng pelan. "Kau terlalu memikirkan yang tidak-tidak."

"Aku tidak bercanda," sela Sasuke. "Kubilang kau ini seperti magnet, kau bisa membuat orang lain menjadi terlalu dekat denganmu, dan itu berarti berita buruk bagiku." Sasuke lagi-lagi menampakkan seringai khasnya. "Omong-omong bagaimana apartemenmu?" tanya Sasuke.

"Sebenarnya... aku berniat untuk pindah," gumam Hinata, ia mengangkat tagannya hingga menangkup pipi Sasuke dan mengusap pelan memar yang masih tertinggal di sana.

"Ke mana?"

"Hmm..." Hinata menarik tangannya hingga jatuh di dada Sasuke. "Bagaimana jika ke tempatmu?"

"Apartemenku yang sempit itu? Kau yakin? Tempat tinggalmu yang sekarang bahkan sepuluh kali lebih besar dari milikku," ujar Sasuke.

"Semakin sempit ruangnya, semakin tipis jarak di antara kita." Hinata meraih dan melumat pelan bibir bawah Sasuke. "Aku mencintaimu, Sasuke," bisiknya.

Di dalam air, tangan Sasuke melingkari pinggang Hinata dan menarik wanita itu agar lebih dekat dengannya. Kepalanya ia miringkan untuk mempermudah aksesnya melanjutkan ciuman yang Hinata mulai. Bibir mereka bergerak pelan, namun begitu sensual. Beberapa lama mereka melakukannya, tak memedulikan keadaan sekitar.

"Hinata," bisik Sasuke saat bibir mereka terpisah, ibu jarinya mengusap sebagian area permukaan di punggung Hinata yang terbuka. "Berjanjilah kau tidak akan melupakanku," tambahnya, hembusan napasnya hangat menerpa indra peraba Hinata.

"Kenapa kau mengatakannya?" tanya Hinata, namun Sasuke tak menjawab langsung dan malah kembali menyatukan bibir mereka. Kali ini, pergerakan bibir Sasuke lebih agresif dan menuntut, pria itu juga dengan tak sabarnya meminta Hinata membuka mulut agar lidahnya dapat mengambil bagian dalam kegiatan mereka itu.

"Oh, rasanya aku benar-benar menginginkanmu," erang Sasuke di sela ciumannya.

"Kita berada di tempat publik, Sasuke. Kukira kau tidak suka terlalu membagi privasi kepada khalayak," balas Hinata.

"Hn," gumam Sasuke mengiyakan. "Mungkin lain kali." Sasuke kembali mencumbu Hinata. Mereka saling berbagi keintiman selama beberapa menit sampai Sasuke sedikit menarik diri. Ia pertemukan keningnya dengan kening Hinata. "Aku mencintaimu, Hinata. Aku mencintaimu," bisiknya.

"Sasuke."

"Aku mencintaimu," ulang Sasuke.

Hinata yang merasakan ada yang berbeda dari nada bicara Sasuke mulai bertanya. "Ada apa?"

Sepuluh detik hanya diisi oleh keheningan, seperti Sasuke tengah mempersiapkan jawabannya di dalam hati.

"Aku..." Sasuke akhirnya bersuara. "Aku dan Wind... mendapatkan misi."

"Hanya kau dan Naruto?" tanya Hinata heran, tentu saja, karena ia masihlah partner tetap Sasuke. "Misi macam apa?"

"Ini misi tingkat lima," jawab Sasuke.

"Jadi kau... akan pergi? Tanpa aku?"

Sasuke mengangguk. "Mereka menemukan markas Akatsuki, kami akan mencoba menerobosnya. Jika semuanya berjalan sesuai rencana, kami akan pergi selama enam bulan."

"Apa? Enam bulan?"

"Kami memburu petinggi juga pemimpin mereka. Ini satu-satunya kesempatan untuk menghancurkan akar penggerak Akatsuki, Hinata," jelas Sasuke mencoba membuat Hinata mengerti.

"Tapi kau akan kembali, bukan?" bisik Hinata lirih, kini kening mereka telah terpisah, namun masih berhadapan dengan jarak yang begitu dekat. Sasuke diam dan hanya menjilat bibirnya mendengar pertanyaan Hinata. "Kau tidak boleh pergi," ucap Hinata tajam setelah lama tak mendengar jawaban Sasuke.

"Hinata..."

"Kau bahkan tidak yakin apakah kau bisa kembali!" sela Hinata masih sama tajamnya.

"Kau harus mengerti, Hinata."

"Kalau kau tetap harus pergi, bawa aku bersamamu juga," tantang Hinata, ametisnya kini sudah terlapisi air mata.

Sasuke menggeleng. "Bahkan jika mereka mengajukanmu untuk terlibat, aku akan menolaknya," ujar Sasuke lembut, diusapnya pipi Hinata kemudian dikecupkannya kening wanita itu. "Aku ingin kau aman, Hinata."

Satu butir air mata mengalir turun dari mata kanan Hinata. "Tapi kenapa kau tidak bisa meyakinkanku bahwa kau akan kembali?" tanya Hinata lagi dengan suara bergetar.

"Yang kali ini kami hadapi adalah inti dari Akatsuki, Hinata. Bukan sekedar kongres cabang mereka seperti yang lalu-lalu. Mereka terlalu kokoh untuk dihentikan secara hukum. Satu-satunya cara adalah menghentikan pusat pergerakan mereka secara diam-diam. Dan kau tahu akan jadi bencana jika kami tidak cukup diam dalam bergerak," jelas Sasuke panjang lebar.

"Sasuke..." Hinata menggigit bibir, menahan isakannya.

"Jangan khawatir. Aku punya alasan untuk tetap hidup sekarang. Sebuah tujuan. Seseorang untuk pulang," Sasuke menangkup wajah Hinata dengan kedua tangannya dan menawarkan senyum kecil yang meyakinkan kepada wanita itu. "Aku tidak akan bertindak ceroboh seperti dulu. Aku ingin bersamamu, Hinata."

Hinata membuka dan menutup mulutnya, namun tak menyuarakan apa-apa.

"Lagipula aku tidak pergi sekarang. Masih ada satu bulan lagi," terang Sasuke sambil mengusap air mata Hinata dengan bibirnya. "Jadi temani aku selama sebulan ini, mengerti? Aku ingin melakukan hal-hal normal bersamamu. Bukan sesuatu yang melibatkan tembakan ataupun ledakan. Sesuatu normal seperti berkencan di taman, memakan es krim atau menonton film. Sesuatu yang pasangan normal lain lakukan."

Hinata menatap Sasuke dalam-dalam, memercayai setiap kata yang pria itu ucapkan untuk meyakinkannya. Ia berkedip sekali, membiarkan air mata terakhirnya jatuh.

"Kau tahu, Hinata?" tanya Sasuke lagi tanpa benar-benar menginginkan jawaban Hinata. "Lagipula kukira Kematian sudah bosan mengancamku. Jadi kau tidak perlu cemas," candanya dengan kekehan kecil.

Hinata memaksakan seulas senyum kecil sebelum membenamkan wajahnya di dada Sasuke. Ia menarik napas panjang kemudian menghembuskannya perlahan. Beberapa kali ia lakukan hal serupa di pelukan Sasuke.

Hinata mencoba untuk memahaminya. Ia harus menerima semua tuntutan yang dibebankan kepada Sasuke. Yang ia cintai kini adalah seorang agen pembunuh, bukan pria dengan pekerjaan sembilan-lima seperti umumnya. Salah satu dari mereka mungkin akan mati terlebih dahulu bahkan sebelum mereka sadari. Tapi Hinata telah membulatkan pilihannya untuk tetap memilih Sasuke. Mereka saling memiliki dan itulah yang terpenting sekarang.

.

to be continued...

..

.

DUA CHAPTER LAGI GUYYSSSS~~~~ AND I HAVE NO CHILLS TO BE CALM RIGHT NOW! PENGEN CEPET-CEPET SELESAIIIII~~~~ *capslockkeinjekgajah*

So I guess I'm ready to throw the bomb for the next (also last) two chapters... mudah-mudahan kalian juga siap saya gantung lagi seperti di cerita-cerita saya sebelumnya *ketawa setan

Udah deh, bye :*