Game On

.

Characters belong to Masashi Kishimoto.

.

This Is SasuHina Story!

Alternative Universe! Out Of Character! Typical Errors! And might lead to some twist!

You've been warned!

.

.

.

"Kupikir ini bukan ide yang bagus," gumam Sasuke saat Hinata menyeretnya masuk ke salah satu pusat perbelanjaan kota.

"Kau tidak suka barang-barang mahal? Aku mengerti tenang saja, banyak barang bagus murah di sini," balas Hinata cepat dan penuh semangat.

"Sok tahu." Sasuke melepaskan tangannya dari genggaman Hinata hanya untuk ia lingkarkan di pinggang wanita itu. "Siapa bilang aku tidak suka sesuatu yang mahal? Kau adalah hal paling mahal dan berharga yang pernah ada. Dan aku menyukaimu," bisiknya di telinga Hinata.

Hinata mendorong wajah Sasuke menjauh, wajahnya merah padam karena afeksi publik dadakan Sasuke. Sasuke terkekeh kemudian membuat jarak baru namun tetap memeluk pinggang wanita itu. Mereka masuk ke salah satu toko pakaian yang cukup besar.

"Kau memakai pakaian hitam hampir setiap saat," ujar Hinata sambil melihat-lihat pakaian yang dipajang di sana.

"Hn."

"Kau perlu mencoba warna lain, yang lebih cerah," tambah Hinata.

"Huh?" Sasuke berhenti. "Kenapa harus?"

"Jiwamu saja sudah suram, setidaknya kau harus mengimbangi penampilanmu dengan warna yang lebih terang," jawab Hinata dengan nada geli.

Kening Sasuke berkerut, matanya menyipit. "Kau semakin berani padaku, huh?"

Hinata mengedikan bahu ringan namun tak menjawab, ia memalingkan dirinya dari Sasuke dan memilah beberapa kaus yang dipajang. Tangannya kemudian menarik sebuah kaus berwarna putih dengan garis biru vertikal memanjang di sisi kirinya.

"Bagaimana kalau ini?"

"Hn." Sasuke terus melirikkan matanya ke kanan dan ke kiri, beberapa kali ia menjilat bibir bawahnya.

Hinata menengokkan kepalanya ke arah Sasuke dan mendapati gelagat aneh dari pria itu. Ia menghela napas, mengerti apa yang terjadi. "Sasuke." Tangannya meraih lengan pria itu. Sasuke yang merasa terpanggil menengok namun tak mengatakan apapun, menunggu Hinata mengatakan maksudnya. "Kau yang menginginkan ini, ingat?"

Sasuke berdeham kemudian tersenyum kecil. "Kau benar. Sepertinya aku memang harus menekan rasa paranoidku sampai kita selesai."

Hinata terkekeh. "Kau membuat berbelanja terdengar mengerikan."

"Memang mengerikan," ujarnya sambil mengedikan bahu.

Hinata menggeleng kemudian memutuskan untuk menyudahi percakapan singkat mereka tadi. "Ini." Disodorkannya kaus yang tadi ia pilih ke arah Sasuke. "Sekarang coba yang ini."

Tanpa kata, Sasuke melepas hoodie dan kaus yang dikenakannya, memamerkan otot-otot tubuh atasnya. Hinata seketika berdecak, ia menepuk keningnya sendiri.

"Apa yang kau lakukan?!" tanyanya.

"Kau menyuruhku untuk mencobanya, bukan?" jawabnya enteng sambil memakai kaus putih yang tadi diberikan Hinata.

Hinata menghela napas, ia melirik sekitarnya dan menemukan sekelompok remaja perempuan yang dengan wajah memerah mencuri pandang ke arah Sasuke sambil beberapa kali berbisik kepada temannya.

"Menurutmu bagaimana?" tanya Sasuke datar setelah ia selesai memakai kaus itu.

Hinata memandang balik Sasuke. Pria itu masih sama tampannya, masih sama seksinya. Bentuk lengan Sasuke tercetak cukup jelas meski separuh tertutup oleh lengan pendek kaus itu. Hinata berkedip, kemudian melirik kumpulan remaja yang sekarang sedang tertawa kecil.

"Buruk," gumamnya singkat kemudian melempar kaus berwarna kuning cerah ke arah pria itu untuk dicoba selanjutnya.

"Aku benci kuning," ujar Sasuke datar. "Warnanya membuatku sakit mata."

Kening Hinata berkerut heran. Alasan apa itu? Memang sejak kapan warna bisa menyakiti mata? Hinata menggeleng kecil kemudian menarik kembali kaus yang tadi ia lemparkan. Ia memilah lagi kemudian memperlihatkannya lagi kepada Sasuke, kali ini dengan warna dasarnya biru gelap.

"Anda bisa menggunakan kamar pas di sana, Tuan," sela Hinata seperti seorang pelayan kepada pelanggannya saat Sasuke akan membuka asal kausnya lagi.

"Kau pikir aku mau masuk ke kamar sempit itu sendirian?" protes Sasuke kemudian hendak melanjutkan kegiatan membuka bajunya. Namun tangannya ditahan oleh tangan Hinata sebelum sempat mengangkat ujung kaus itu.

"Aku temani," usul Hinata kemudian mendorong Sasuke menuju area kamar pas. "Kau bisa menakuti orang lain dengan luka-lukamu itu," tambah Hinata dengan alasan yang sebenarnya hanya dibuat-buat. "Tidak perlu mengunci pintunya. Aku berdiri di sini dan kau bisa melihat kakiku meski pintunya tertutup," ujar Hinata setelah berhasil mendorong Sasuke ke dalam salah satu bilik.

Bukan menutup pintu biliknya, Sasuke malah menarik serta Hinata yang berdiri di ambang pintu. Dengan cepat didesaknya Hinata di salah satu sisi bilik sebelum kakinya menendang pintu agar tertutup.

Detik selanjutnya, mulut mereka telah saling beradu. Tangan Sasuke meraba punggung Hinata di balik pakaiannya sedang Hinata diam membiarkan dan menikmati apa yang dilakukan pria itu.

"Pasangan normal tidak melakukan hal ini," bisik Hinata disertai kekehan geli setelah bibirnya terlepas dari serangan bibir Sasuke. Sasuke berdecak mendengar komentar Hinata namun tak membantah. "Cepat coba pakaianmu lalu kita keluar. Kukira kau tidak suka berada di ruang sempit," tambahnya separuh mencibir.

"Beda cerita jika kau di sini." Sasuke menjawab enteng sambil melepas kaus yang ia kenakan dan mencoba yang baru.

Hinata mengamati sebentar kemudian mengangguk. "Aku suka, kita ambil yang ini," putusnya sepihak.

Setelah Sasuke kembali mengenakan kaus dan hoodie-nya, Hinata membuka pintu dan keluar yang kemudian diikuti oleh Sasuke. Hinata melirik tajam gerombolan anak remaja yang ternyata masih berada di sekitar mereka. Anak-anak itu terlihat seperti sengaja menunggu di sana, jelas dengan bagaimana mereka terlihat kembali bisik-bisik heboh setelah Sasuke keluar.

Lirikan Hinata yang menyipit ke arah mereka agaknya disadari salah satunya, dan akhirnya oleh semua anak gadis itu. Tapi bukan memalingkan wajah, Hinata malah meraih tangan Sasuke untuk digenggamnya kemudian mengirimkan senyum tipis yang lebih terlihat seperti seringai ringan ke arah para remaja tanggung itu.

"Wow," ungkap Sasuke singkat sambil menyematkan tudung hoodie-nya di kepala dengan tangan yang tak digenggam Hinata.

"Apa?" tanya Hinata ringan, seakan tak terjadi apapun.

"Dasar kau rubah betina, kau melakukannya dengan sengaja, bukan?" ujar Sasuke, bukan dengan nada mengejek namun malah terhibur.

Hinata mendelik ringan. "Kau benar-benar jeli, Agen Thunder."

Sasuke tertawa singkat. "Kau benar-benar seksi saat kau cemburu."

"Cemburu? Kenapa juga aku cemburu?" kilah Hinata.

"Aku juga menyadari anak-anak itu memerhatikanku, kau tahu."

Hinata tak menjawab, ia memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan rona merah yang menodai pipinya dengan berusaha terlihat sibuk mengamati jajaran pakaian lain. "Kau mau mencoba beberapa celana? Sepertinya aku terlalu sering melihatmu memakai jeans itu." Hinata mencoba membelokkan topik awal mereka.

"Kenapa kita tidak mencari sesuatu untukmu saja?" usul Sasuke. "Rasanya aku ingin melihatmu berpenampilan seperti... seperti... uh... lebih wanita?" Sasuke melanjutkan dengan skeptis, agak bingung memilih kata yang tepat.

"Kau mau bilang selama ini aku terlihat seperti laki-laki?" protes Hinata.

"Bukan itu maksudku, saat di Denmark... di sana kau berpakaian dan berpenampilan formal," ujar Sasuke sedikit menjelaskan apa yang ada di kepalanya.

"Maksudmu dengan gaun dan make-up?" tanya Hinata sambil menahan senyuman.

"Hn." Sasuke bergumam pendek mengiyakan kemudian beringsut melipat jarak di antara mereka. "Kau terlihat sangat menawan malam itu." Sasuke separuh berbisik, tangannya menyusup ke dalam kaus Hinata dan bermain di sekitar pinggangnya.

"Kita sedang berada di tempat umum, Sasuke," ungkap Hinata setelah kembali dari keterkejutan singkatnya. "Aku yakin kau tahu tidak ada pasangan normal yang melakukan hal seperti ini di tempat umum."

Sasuke berdecak. "Menjadi normal itu membosankan, kalau begitu." Tangan Sasuke masih betah melakukan kontak langsung dengan kulit Hinata. Tangan kirinya masih melingkar di pinggang wanita itu sedang tangan kanannya kini beralih ke depan, mengusap bagian perut Hinata.

"Sasuke!" protes Hinata saat Sasuke menyentil pelan pusarnya. Ia mendorong Sasuke hingga terlepas darinya kemudian berbalik memunggungi pria itu.

Hinata kembali mendengar kekehan pendek Sasuke. Pria itu nampaknya belum menyerah hingga kini ia merasakan Sasuke berdiri di belakangnya dengan tangan bertengger di pinggulnya. Sasuke menumpukan kepalanya di bahu Hinata dan beberapa kali mengusap ceruk leher wanita itu dengan hidungnya.

"Apa aku sudah pernah mengatakan betapa terobsesinya aku dengan bokong dan perutmu?" Sasuke memberi satu kecupan singkat di leher Hinata.

"Astaga, Sasuke! Aku heran bagaimana bisa ada lelaki yang horny sepanjang waktu sepertimu," cibir Hinata, tangannya mendorong wajah Sasuke di bahunya.

"Sungguh, Hinata? Kau menyalahkanku? Memangnya kau tidak sadar bahwa dirimulah yang terus merusak mental polosku?" Sasuke menuding Hinata tanpa benar-benar menyalahkan wanita itu. Sungguh, dalam hatinya pria itu tertawa geli. "Aku masih perjaka dan belum mengerti apapun sebelum aku mengenalmu. Sekarang kau di sini, yang ada di pikiranku hanyalah—"

"Jangan lanjutkan," potong Hinata sambil menepuk pelan bibir Sasuke dengan tiga ujung jemarinya. Ia mengambil beberapa pakaian yang tadi dipilihnya dan memberikannya kepada Sasuke. "Ini. Sekarang bayar," singkatnya dengan wajah yang terlihat kesal.

..

...

..

Hinata berdiri di dalam antrian salah satu loket bioskop dengan Sasuke yang masih setia mengekorinya. Mereka berakhir di sana karena Sasuke yang mendadak menghentikan langkahnya saat mereka melewati area gedung bioskop ketika hendak mencari restoran untuk makan siang keduanya.

Sasuke tak berkata banyak, ia hanya melirik Hinata dan wanita itu langsung mengerti apa yang Sasuke mau. Hinata tersenyum kecil, menyembunyikan perasaan gelinya ketika melihat ekspresi datar yang coba Sasuke tunjukkan.

Hinata menanyakan sesuatu kepada Sasuke tanpa menengok ke arah pria itu, keningnya kemudian berkerut ringan setelah beberapa detik tak juga mendengar sahutan dari Sasuke. Hinata akhirnya menengok, mengalihkan perhatiannya ke Sasuke dan menemukan pria itu agak tertunduk sambil memasang wajah kesalnya.

"Ada apa?" tanya Hinata.

Sasuke tak menjawab, tak juga meluruhkan tampang masamnya. Hinata menghela napas, memutuskan untuk menanyakannya nanti mengingat ia sudah berada di antrian depan.

"Aku benci mereka," desis Sasuke saat mereka berjalan menuju salah satu kursi tunggu di area bioskop itu.

Hinata menoleh ke arah Sasuke. "Siapa?"

"Anak-anak muda itu." Sasuke melirikkan matanya ke arah sekelompok remaja yang masih berada di dalam antrian.

"Ada apa dengan mereka?" Hinata mengambil kursi kosong di salah satu sudut ruangan, tak jauh dari pintu teater film yang mereka pilih.

"Mereka menggosip tepat di depan objek yang mereka gosipkan," ujar Sasuke gemas namun geram.

"Memangnya apa yang mereka katakan?" Hinata masih sangat tenang, ia sudah terbiasa dengan hal seperti itu di masyarakat.

"Banyak hal. Tentangku juga kau. Dan aku tidak menyukainya."

"Sekarang kau mulai peduli dengan apa yang orang lain katakan, Sasuke?"

"Tidak. Kenapa juga aku harus peduli?" bantah Sasuke. "Aku tidak peduli dengan apa yang mereka lakukan selama mereka belum mengarahkan moncong pistol di antara kedua mataku."

Hinata menghela napas, perkiraannya tentang Sasuke yang mungkin mulai peka dengan sekitarnya kembali ia pendam. "Kita hidup di tengah-tengah berjuta masyarakat, Sasuke. Kau tidak bisa selamanya berdiri dengan prinsip individualismu itu."

"Aku punya kau, aku tidak butuh mereka," sela Sasuke cepat. Hinata tersenyum mendengar jawaban itu. "Mereka harusnya mengurus hidup mereka sendiri daripada mengomentari hidup orang lain."

"Sasuke..."

"Aku benci mereka. Itu final," sergah Sasuke lagi. "Mereka beruntung sekarang aku tak membawa senjata." Sasuke mengambil salah satu gelas kola yang sebelumnya Hinata beli dan menyeruputnya cepat.

Hinata tertawa kecil, kepalanya menggeleng. "Mereka hanya anak remaja, Sasuke. Kenapa juga kau memandang mereka seperti mereka adalah ancaman negara."

"Ah, itu dia... sekarang aku tahu golongan masyarakat yang paling aku benci dibandingkan golongan lainnya."

Hinata kembali menggeleng mendengar jawaban Sasuke, namun ia berhenti berkomentar. Netranya kini menyapu sekelilingnya sebelum memerhatikan kelompok yang tadi menjadi objek pemicu kekesalan Sasuke. Beberapa menit tak ada yang berbicara.

"Sasuke," panggil Hinata akhirnya tanpa memandang lawan bicara.

"Hn."

"Apa kau pikir gadis-gadis itu menarik?" tanya Hinata yang terdengar seperti gumaman. Hinata tak tahu apa yang ada di pikirannya, pertanyaan itu tiba-tiba saja muncul.

Hinata tak menunjuk ke arah siapa pun dengan tangannya, namun tatapan mata wanita itu yang terfokus membuat Sasuke tahu siapa yang ia maksud. Di sana duduk tiga orang gadis dengan pakaian kasual yang terkesan glamor.

Sasuke kembali mencurahkan perhatiannya ke arah Hinata, keningnya berkerut. "Kenapa kau menanyakan itu?"

"Kau juga berpikir mereka menarik, bukan?" tanya Hinata lagi, kini ametisnya menatap oniks Sasuke.

"Hinata... Hinata." Sasuke terkekeh pelan. "Biar kukatakan sesuatu padamu,"ucap Sasuke, ia merapatkan dirinya dengan Hinata dan mencondongkan wajahnya hingga bibirnya bertemu dengan telinga wanita itu. "Ya, aku akui mereka memang menarik," bisiknya rendah. "Tapi bisa kupastikan milikku yang di bawah sana hanya akan bereaksi karena mu." Sasuke mengecup telinga Hinata singkat.

"Oh, kau benar-benar..." Perempatan imajiner muncul di pelipis Hinata, ia mendorong wajah Sasuke menjauh. Harusnya ia tahu untuk tidak membahas masalah yang berhubungan dengan atraksi lawan jenis di tempat publik bersama Sasuke.

..

...

..

"Ini menjijikkan! Bau dan warnanya seperti air kencingku saat demam." Sasuke mendorong segelas besar penuh bir menjauh dari hadapannya, wajahnya tertekuk tak suka.

Kali ini mereka berada di salah satu restoran cepat saji untuk memenuhi jam makan siang mereka yang sempat tertunda karena jadwal nonton film dadakan mereka.

Omong-omong soal menonton film, Hinata masih dibuat kesal karenanya. Pasalnya Sasuke benar-benar menghiraukannya. Bukan, bukan karena pria itu begitu tenggelam karena film yang mereka tonton. Lebih karena Sasuke yang tertidur tepat setelah menghabiskan satu boks besar berondong jagung yang mereka beli.

Padahal agenda menonton sendiri merupakan permintaan Sasuke. Film yang mereka pilih pun sesuai dengan apa yang Sasuke kriteriakan yaitu bukan film yang mendayu-dayu yang akan membuatnya mengantuk. Hinata memilih film yang didominasi Action di sebagian besar plotnya. Namun tetap saja, nyatanya Sasuke tetap kalah oleh lelapnya.

"Ayolah, ini tidak seburuk yang kau pikirkan," bujuk Hinata, ia mengambil gelas bir miliknya dan menyesapnya sedikit.

"Tidak, terima kasih," balas Sasuke, teguh akan pendiriannya.

"Cobalah, Sasuke. Untukku, oke?" Hinata meluncurkan binar-binar memohon dari sorot matanya.

Sasuke berkedip dua kali melihat ekspresi Hinata, keningnya berkerut. Pandangannya berpindah-pindah dari wajah Hinata ke bir di atas meja, begitu terus selama beberapa kali. "Pasti rasanya mengerikan."

Mata Hinata menyipit, ia kemudian meraih gelas bir yang dipesan untuk Sasuke dan menariknya lebih jauh dari jangkauan Sasuke. "Wow... aku tidak mengira Senior Agen Thunder yang agung ternyata mudah sekali dikalahkan oleh bir," cibirnya memprovokasi.

Sasuke membalas tatapan Hinata dengan tajam. Ia merebut paksa gelas yang ditarik Hinata. "Kau akan kuhukum nanti karena berani merendahkanku seperti itu," ujar Sasuke sebelum menenggak bir dari gelas yang ia genggam.

Mata Hinata melebar tak percaya. "Sasuke... kau harusnya..."

Sasuke setengah membanting gelas yang ia genggam ke atas meja setelah menelan hampir separuh dari isinya. Wajahnya tertekuk karena rasa yang menyapa lidahnya. "Menjijikkan!" komentarnya.

Hinata menekan senyum kecil melihat wajah Sasuke. "Rasanya tidak seburuk yang kau bayangkan, bukan?"

"Aku ini seorang agen," Sasuke bergumam dengan suara rendah. "Aku harus menjaga tubuhku agar tetap sehat."

"Kau makan camilan dari mesin penjual setiap hari, bagian mana dari itu yang merupakan 'menjaga kesehatan'?" sanggah Hinata. "Lagipula minum sesekali tidak akan berpengaruh apa-apa, Sasuke."

"Mungkin kau benar," gumam Sasuke lagi, tangannya kini kembali mengangkat gelas bir untuk ia nikmati kembali. "Lagipula ada hal yang belum aku coba," ujarnya sebelum mengalirkan cairan dengan kadar alkohol rendah itu ke tenggorokannya.

"Apa itu?" tanya Hinata saat Sasuke masih menenggak minumannya.

Sasuke menjauhkan mulut gelas dari bibirnya, diletakkannya wadah beling itu di atas meja. Oniksnya menatap Hinata intens lengkap dengan seringai ringan yang sudah sangat Hinata hafal. "Seks saat mabuk," jawabnya enteng.

Hinata mendadak merasa wajahnya memanas. Ia benamkan wajahnya di kedua tangannya yang terlipat di atas meja. Sungguh ia tidak mengerti, bagaimana bisa pria itu menjembatani segala pembicaraan mereka menuju hal-hal yang bertemakan seks.

..

...

..

Sudah tiga puluh menit sejak tenggakan bir pertama Sasuke, dan sudah hampir tiga gelas bir yang ia habiskan. Sekarang pria itu benar-benar sudah kehilangan kendali dirinya sendiri. Dan yang bisa Hinata lakukan adalah menatap pria di hadapannya dengan pandangan tak percaya, tak tahu harus apa, rasanya ia agak merutuki dirinya yang tadi mendorong Sasuke untuk minum. Sebenarnya tiga gelas bir bukanlah asupan yang terlalu kuat, Hinata hanya tak menyangka saja Sasuke memiliki toleransi alkohol serendah ini.

"Sudah cukup, Sasuke. Itu yang terakhir," ujar Hinata tegas.

"Tidak!" Sasuke menolak, separuh histeris, menjadikan mereka pusat perhatian di restoran cepat saji itu. "Kau sendiri selalu ingin lebih dan lebih dan selalu mendesah sampai mendapatkan lebih. Sekarang aku yang ingin lebih! Aku mau lagi!" Sasuke menuntut dengan raut memberengut dan tatapan sayu.

Hinata mengusap wajahnya, berharap menghilang saat itu juga.

"Permisi, apa ada masalah?" seorang pelayan muncul menanyakan keadaan.

"Tidak," jawab Hinata yang kemudian disela oleh Sasuke.

"Ya!" Sasuke mendongak ke arah si pelayan. "Bilang padanya untuk melebarkan kakinya!" Sasuke menudingkan telunjuknya ke wajah Hinata, namun ia masih wajah cemberutnya sendiri masih berhadapan dengan pelayan tadi. "Dia tidak mengerti masalahku! Aku selalu kesusahan setiap ingin memasukinya," lanjut Sasuke, kali ini dengan nada sedih, seolah tengah menceritakan kepahitan hidup yang dialaminya. (-_-")

"Baiklah, haha..." Hinata memotong dengan tawa gugup yang dipaksakan, dengan wajah merah menahan malu, ia mengalihkan perhatian si pelayan. "Bisa aku minta tagihannya sekarang?" tanya Hinata, berusaha setenang mungkin.

Hinata menghela napas setelah mendapat anggukan dari pelayan itu. Ia kemudian kembali memandang Sasuke yang masih meracau kacau juga bertingkah abnormal. Beruntung mereka memilih meja di pojok ruangan, jadi meskipun beberapa kali memancing perhatian, mereka tak benar-benar menjadi pusatnya.

"Ibuku pernah bilang kalau aku bukan anak ayahku, aku tanya kenapa begitu dia malah menjawab karena dia bahkan tidak tahu aku anaknya dengan siapa!" Sasuke tertawa terbahak-bahak setelah mengatakannya, telapak tangannya ia pukul-pukul ringan di permukaan meja.

Hinata menghela napas, mencoba tetap tenang dan menghiraukan Sasuke selagi menunggu tagihannya datang. Dan setelah seorang pelayan yang sama datang dengan tagihan mereka, ia langsung menaruh uang di meja tanpa menilik berapa yang harus ia bayar.

"Simpan kembaliannya,"ujar Hinata kemudian menyeret Sasuke keluar dari sana.

"Hinata... sayang?" gumam Sasuke.

"Apa?" jawab Hinata cepat dengan nada menggerutu, ia tengah kesusahan menuntun Sasuke yang benar-benar mabuk sekarang.

Restoran cepat saji yang mereka kunjungi berada di lantai dasar dan memiliki akses pintu keluar langsung dari gedung pusat perbelanjaan. Hinata bersyukur karena itu membuatnya tak perlu menyeret Sasuke di tengah kerumunan orang yang berlalu lalang di dalam sana. Mereka kini sudah berada di area parkir, memang masih ada beberapa orang di sana, namun tak sebanyak di dalam gedung.

"Dari satu sampai sepuluh... berapa banyak kau menyukaiku?"

Itu adalah pertanyaan asal yang kesekian dari Sasuke. Awalnya Hinata berniat mengabaikannya, namun ternyata hal itu malah semakin membuat Sasuke menggila. Jadilah Hinata ikut menjawab asal apa yang pria itu tanyakan.

"Sepuluh," jawabnya tanpa pikir panjang, tubuhnya beberapa kali terhuyung karena tak kuat menahan keseluruhan berat Sasuke.

"Aku juga!" Sasuke membalas dengan antusias kemudian mengecup pipi Hinata. "Tapi kurasa sembilan saja. Biar kau jadi enamnya." Lagi-lagi Sasuke terbahak, membuat Hinata semakin kesulitan memapahnya.

Hinata memutar bola matanya jengah, kepalanya terus ia tundukkan untuk menghindari perhatian orang sekitar yang mungkin sudah memerhatikan mereka.

"Diam, Sasuke!" desis Hinata.

"Ya Tuhan! Lihat-lihat dong, Hinata! Yang kau sentuh itu pantatku!" Sasuke menyuarakannya seperti anak gadis yang tak terima kena senggol.

Seketika, semua mata yang ada di sekitar mereka tertuju tepat ke arah mereka. Beruntung mereka sudah sampai di tempat mobil Hinata diparkirkan.

"Ingatkan aku agar tidak membiarkanmu mencium aroma alkohol sedikit pun!" Hinata mendorong Sasuke masuk di kursi penumpang kemudian membanting pintu sebelum bergerak ke kursi kemudi.

Beberapa petugas yang berjaga di area asrama Anbu membelalakkan mata ketika melihat kondisi Sasuke saat mereka tiba di sana. Benar-benar tak menyangka bahwa pria itu mabuk. Tapi setidaknya, Sasuke cukup kelelahan dengan segala tingkahnya tadi sehingga kini ia diam dalam papahan Hinata.

Hinata membantu Sasuke mencapai apartemennya, yang seminggu terakhir juga menjadi tempat tinggal Hinata. Ia menendang pelan pintu apartemen Sasuke hingga tertutup sebelum kembali menyeret lelakinya itu ke kamar.

Tanpa ragu, dihempaskannya tubuh Sasuke di atas kasur. Hinata melepas sepatu yang Sasuke kenakan, setelahnya ia juga berusaha melepas hoodie Sasuke, membayangkan pasti tak nyaman tertidur dengan kondisi seperti itu. Namun gerakannya terhenti saat tiba-tiba Sasuke mengerang.

"Berhenti meraba-raba tubuhku, dasar jalang!" umpat Sasuke masih dengan mata terpejam.

Hinata menghela napas kesal, ia berdiri dengan tangan di pinggang kemudian menendang sisi matras. "Terserah kau saja!"

Ia meninggalkan Sasuke yang masih beberapa kali mengerangkan racauan dan tak henti-hentinya bergerak di atas tempat tidur. Hinata menggeleng pelan dengan senyum tertahan. Ya, dirinya memang dibuat kesal dengan Sasuke versi mabuk hari ini. Tapi bukan kesal yang benar-benar kesal karena bagaimanapun ia menikmati setiap detik yang dilaluinya bersama Sasuke.

Dan oh... Hinata mendapat satu kesimpulan baru tentang kencannya dengan Sasuke hari ini.

Yaitu mutlak sudah bahwa Sasuke adalah jenis pria terburuk untuk di ajak berkencan di tempat umum.

..

...

..

"Aku tahu ini misi yang sangat penting. Tapi kenapa kau tidak bisa menambahkan aku untuk ikut?" Hinata mencoba bernegosiasi dengan Kakashi.

"Hinata, aku tidak bisa mengambil risiko lebih di misi ini. Terlalu banyak yang terlibat akan semakin memunculkan hawa keberadaan mereka. Lagipula, kau belum cocok untuk misi seperti ini," jelas Kakashi dengan pemilihan kata yang begitu halus.

"Jelasnya, menambah orang lain dalam misi ini hanya akan menjadikan beban untuk mereka berdua, Hinata," tambah Sakura.

"Misi ini bisa dibilang misi mentah, kami bahkan tidak memiliki detail kegiatan yang harus mereka lakukan di sana," sambung Konan. "Itulah mengapa mereka diberi waktu yang cukup panjang. Untuk mempelajari situasi di sana sebelum akhirnya memutuskan apa yang harus mereka lakukan. Yah... itu pun kalau mereka bisa menahan diri untuk tidak membunuh satu sama lain."

"Itu dia, bukankah sejak awal akulah yang ditunjuk untuk menjadi rekan Agen Thunder? Kenapa tiba-tiba berubah?" tanya Hinata lagi.

"Ini bukan rencana tiba-tiba, Hinata," Kakashi menghela napas ringan. "Rencana ini dibuat sudah hampir tiga tahun. Tapi saat itu, Agen Thunder masih belum bisa bersikap koperatif. Dia sama sekali tidak bisa bekerja sama dengan partnernya. Tapi misi ini bukanlah hal yang bisa dia selesaikan sendirian."

"Agen Wind adalah satu-satunya agen yang bisa mengimbangi Thunder. Tapi melihat cekcok keduanya saat itu, rasanya mustahil untuk mengeksekusi misi ini. Thunder dengan pengendalian emosinya yang lemah dan Wind dengan ketidak-sabarannya. Kami menunjukmu dan Sakura untuk mengimbangi kepribadian mereka." Konan menahan penjelasannya untuk mengambil napas. "Kami lebih bisa 'mengendalikan' Wind lebih dahulu karena ternyata Sakura cocok menjadi rekannya. Dan soal Thunder, kau tahu sendiri kami baru membuatmu bergabung tahun ini, dan melihat perkembangan yang ada, kami pikir Thunder sudah cukup siap untuk misi ini. Kami sudah bicara dengannya dan dia pun menerima untuk bekerja sama dengan Wind," tutup Konan.

Hinata menelan salivanya, mencoba membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba terasa kering. Jadi ini maksud ayahnya saat mengatakan bahwa Sasuke lah yang akan menjadi pemeran utamanya. Jadi ayahnya memutuskan untuk menarik Hinata terlibat untuk mengisi sapetak kosong puzzle yang akan menuntun mereka menuju eksekusi misi ini.

"Aku mengerti," Hinata mengangguk lemah.

"Jangan khawatir. Kita juga tidak akan berdiam diri saja di sini," ujar Sakura antusias, memberikan semangat.

"Ya, aku memang sudah menyusun agenda lain untuk kalian berdua Agen Haruno, Agen Hyuuga," Kakashi mengonfirmasi, ia memberi aba-aba kepada Konan untuk memberikan Sakura dan Hinata tablet berisi detail misi mereka. "Kalian akan mulai beberapa hari setelah Thunder dan Wind pergi."

"Pelaku teror publik. Empat bulan terakhir dipenjarakan di penjara pusat dan akan dipindahkan ke Rusia pada tanggal yang tertera. Kita akan adu cepat dengan salah satu organisasi gelap. Mereka dibayar untuk mengacaukan perpindahan dan membebaskan pelaku. Dan kita harus mencegah hal itu terjadi," jelas Konan.

"Organisasi gelap? Siapa?" tanya Sakura sambil menelaah tiap informasi di tablet itu.

"Organisasi Meiko. Detailnya ada di halaman belakang. Ada pertanyaan lagi?" tanya Konan.

Kakashi mengangguk setelah memastikan tidak ada pertanyaan yang terlempar. "Kalau begitu kalian bisa keluar," ujarnya.

Konan dan Sakura mendahului keluar ruangan itu, meninggalkan Hinata dan Kakashi. Hinata yang sadar kemudian mendongakkan wajahnya yang semula tertunduk hingga menghadap ke atasannya itu.

"Terima kasih, Jenderal Hatake. Untuk semuanya," ucap Hinata tulus. "Karena telah memerhatikan kami. Kau... sudah seperti ayah bagiku," lanjutnya lirih.

Kakashi tersenyum tipis di balik maskernya. "Ayahmu menarikmu ke sini dengan alasan yang kuat, Hinata, percayalah. Dia lebih memilih kau terlibat di sini daripada melihatmu terus mengurung diri. Mulailah beranggapan positif tentangnya," saran Kakashi sambil menepuk pelan bahu Hinata. "Dan omong-omong, jangan katakan ini pada Thunder... tapi kau benar. Aku tidak memiliki anak. Dan selama ini, aku sudah menganggap Thunder seperti anakku sendiri. Aku senang kau bisa membuatnya melunak, Hinata."

Kakashi kemudian berlalu keluar ruangan ini. Hinata menatap punggung pria itu mengecil dengan senyum terima kasih di wajahnya.

..

...

..

"Apa kesan pertamamu saat bertemu denganku?" Sasuke menyuarakan pertanyaan itu dengan suara rendah. Bibirnya menyapu bahu telanjang Hinata. Mereka kini berbaring bersama dengan Sasuke yang memeluk Hinata dari belakang, di bawah selimut tanpa sehelai benang pakaian menghalangi kontak fisik mereka setelah sesi bercinta yang cukup panjang.

"Sebelum atau sesudah kau bicara?"

"Hmm... sebelum?"

"Kupikir kau... terlihat normal," buka Hinata. "Maksudku, kau tidak terlihat seperti apa yang kubayangkan."

"Memangnya seperti apa yang kau bayangkan?"

"Seseorang yang lebih... besar dan mengerikan, sepertinya?" jawab Hinata tak terlalu yakin.

"Hn," respons Sasuke sambil mengendus tengkuk Hinata. "Dan setelah aku bicara?"

"Hmm... bagaimana ya?" Hinata kelihatan seperti tengah mengingat-ngingat, padahal ia jelas tak melupakan pertemuan pertamanya dengan Sasuke saat itu. "Kau mengira aku sebagai petugas kebersihan, kemudian mengatakan bahwa kau alergi gadis berambut panjang dan kau menyebutku marmut." Hinata menyebutkan satu per satu.

Sasuke tertawa renyah, ia mengangkat tubuhnya sedikit dan menumpukan berat badannya di satu lengan. "Baiklah, sepertinya aku memang memiliki mulut yang brengsek."

"Tidak diragukan lagi," timpal Hinata.

Sasuke kemudian kembali memeluk Hinata, kali ini lebih erat hingga Hinata memintanya melonggarkan pelukannya. "Apa kau tahu apa yang kupikirkan saat pertama kali melihatmu?" tanya Sasuke.

Hinata menggeliat di pelukan Sasuke, berusaha membalik tubuhnya agar bisa berhadapan dengan pria itu. "Tidak," jawabnya setelah Sasuke membiarkan Hinata berganti ke posisi yang wanita itu inginkan.

"Aku berpikir bahwa kau... sangat seksi."

"Bohong." Hinata memotong.

"Tidak. Sungguh. Dan itulah kenapa aku begitu membencimu," jelas Sasuke pendek.

"Kau membenciku karena aku terlihat seksi?" Hinata mengerutkan keningnya.

"Hn. Karena kau lebih seksi daripada aku."

"Oh ayolah, Sasuke. Aku tahu kau tidak peduli tentang penampilanmu saat itu," sanggah Hinata.

"Memang. Tapi saat itu... aku benar-benar merasa begitu. Aku sendiri tidak mengerti," akunya, jemarinya mengusap pipi Hinata. "Dan itu menambah alasan kenapa aku semakin tidak menyukaimu. Kau mulai membuatku kebingungan."

Hinata tersenyum mendengarnya, karena siapa sangka semua alasan kenapa Sasuke membencinya itu malah menjadi magnet yang mendekatkan mereka.

"Kau ingat hal pertama yang kukatakan padamu?" tanya Sasuke lagi.

Hinata berkedip dua kali. "Hmmm... entahlah. Kenapa?" jawabnya jujur.

"Tidak." Sasuke menggeleng pelan. "Haya saja aku ingat hal pertama yang kau ucapkan padaku."

"Huh? Sungguh?"

"Hn."

"Apa yang kukatakan?"

Sasuke menatap ametis Hinata untuk beberapa detik sebelum merapatkan jarak wajah mereka dan memberikan satu ciuman ringan di bibir Hinata.

"Kau menyebut namaku," jawabnya.

Hinata sempat berpikir, yang ia ingat ia baru mengetahui nama asli Sasuke setelah membaca data singkat pria itu yang disediakan oleh Konan. Lalu kapan yang Sasuke maksud tadi?

Topik itu tiba-tiba hilang dari benaknya saat Sasuke kembali memberikan ciuman yang lebih intens di bibirnya. Hingga entah sejak kapan, Hinata mendapati dirinya kembali berada di bawah kungkungan lengan kekar Sasuke.

"Sasuke," lirihnya di sela ciuman mereka. "Berjanjilah... berjanjilah kau akan kembali padaku."

Sasuke tersenyum. "Hinata, kau tahu aku memang akan selalu kembali padamu." Hinata mengalungkan lengannya di leher Sasuke dan menariknya mendekat hingga kening mereka bersentuhan. "Jangan khawatir, Hinata. Aku sudah bilang bukan kalau aku tidak akan bertindak ceroboh?"

Hinata mengangguk pelan, ia menutup kelopak matanya, menyembunyikan genangan yang mulai terkumpul di lapisan terluar korneanya. Hinata pernah mendengar, jika kau telah menghabiskan banyak waktu bersama seseorang, ada kalanya kau menginginkan waktu untuk berpisah meski hanya sementara. Dan yang Hinata rasakan benar-benar sebaliknya, saat ini ia menemukan kebahagiaannya bersama Sasuke. Dan tak sedetik pun Hinata menginginkan pria itu lepas dari pandangannya.

Hinata menghela napas kemudian membuka kembali kelopaknya, menampilkan ametis teduh miliknya. "Tidakkah kau ingin mengatakannya?"

Sasuke tersenyum, mengerti apa yang Hinata maksud. Ia mengusap pelan wajah Hinata dengan satu tangannya sebelum menjawab. "Kau ingin aku mengatakannya?"

"Hmm." Hinata mengangguk sebagai penegasan jawabannya.

"Baiklah." Dikecupnya kening Hinata oleh Sasuke. "Aku mencintaimu, Hinata. Sangat."

Mereka kembali berpelukan. Sasuke merendahkan tubuhnya namun tetap tak menjatuhkan beratnya kepada Hinata, membiarkan wanita itu menyembunyikan wajah di ceruk lehernya.

"Aku mencintaimu," gumam Hinata, membalas kalimat yang Sasuke katakan sebelumnya.

Enam bulan. Periode yang cukup panjang namun tak sedikit pun Hinata membayangkan perubahan drastis yang akan terjadi.

Enam bulan. Hinata akan menunggu selama itu tanpa menyadari bahwa ia akan kehilangan Sasuke selamanya.

.

to be continued...

..

.

Selamanya... selamanya... selamanya (diulang biar dramatis .-.)

Oke, saya tahu kalian readers udah mulai was-was dan banyak menebak-nebak (hingga kemungkinan terburuk) untuk chapter terakhir nanti. But if you don't mind, please bear with me till the end, would you? *.*
Tekan prasangka kalian dulu, oke?

Until then, see ya ^^