Game On
.
Characters belong to Masashi Kishimoto.
.
This Is SasuHina Story!
Alternative Universe! Out Of Character! Typical Errors! And might lead to some twist!
You've been warned!
.
.
.
"Oh, Tuhan! Hinata! Cepat keluar sebelum aku menyeretmu dari sana!"
"Beri aku dua menit lagi."
"Kita tidak punya waktu lagi!"
Hinata mencoba menguasai diri agar tak dikuasai rasa panik, ia kembali menekan beberapa rangkai angka yang sudah diprediksi. "Aku masih punya empat kesempatan untuk mencobanya. Aku yakin salah satu sandi itu cocok, Sakura," jelas Hinata melalui radio in-ear-nya yang terhubung langsung dengan milik Sakura.
"Hinata, kau tidak punya waktu untuk mencobanya. Jadi keluar sekarang juga, itu perintah!"
"Aku tidak menerima perintah darimu," balas Hinata masih keras kepala. Tangannya masih sibuk dengan tombol-tombol di sana.
Tak lama setelah mengatakan hal itu, muncul jendela perintah berwarna hijau di layar monitor yang dihadapinya. Tanda akses yang diinginkan Hinata telah terbuka. Tepat saat itu juga alarm peringatan berbunyi nyaring. Hinata dapat mendengar Sakura mengumpati banyak hal di seberang sana.
"Aku mendapatkannya!"
Hinata mengambil hard disk yang awalnya ia hubungkan sebelum berlari keluar ruangan itu. Di lorong menuju menuju pintu keluar, ujung mata Hinata menangkap bayangan yang mengejarnya. Tanpa berpikir panjang, ia langsung mengangkat senjatanya dan melayangkan peluru tepat di kepala kedua orang yang mengejarnya itu.
Semuanya terasa seperti de javu. Seperti misi awal-awalnya dengan Sasuke. Bedanya kali ini ia bisa menargetkan tembakannya dengan lebih akurat.
Di luar, Hinata menghela napas karena sepertinya Sakura juga sudah selesai dengan seluruh urusannya dan sudah menyiapkan mobil mereka untuk kabur.
"Kau benar-benar keras kepala," semprot Sakura seketika Hinata memasuki mobil. Tanpa menunggu balasan Hinata, wanita dengan mahkota merah muda itu segera tancap gas dan pergi dari sana.
"Aku mendapatkannya." Hinata mengacungkan hard disk yang sedari tadi ia bawa.
"Semakin hari kau semakin nekat saja, huh?"
"Kau lupa kalau mentor utamaku sebelumya adalah manusia paling nekat yang pernah hidup di bumi?" Hinata membalas dengan kekehan renyah yang diikuti oleh tawa Sakura.
Hinata memalingkan wajahnya menghadap jendela samping, menikmati gelapnya malam yang kala itu bertemankan dinginnya salju penghujung musim dingin. Dan bicara soal Sasuke, sudah hampir empat bulan semenjak mereka berpisah. Tapi tak sedikitpun kenangan tentang mereka terlihat usang di ingatan Hinata.
"Apa kita masih punya misi lain Minggu ini?" tanya Hinata.
"Hmm... sepertinya tidak, eh, entahlah. Tapi kuharap tidak," jawab Sakura meski agak tak yakin. "Lagipula Minggu ini Konan berulang tahun, bukan? Kita bisa merayakannya kalau jadwal kita kosong," sambung Sakura dengan antusias.
"Aku harap juga begitu," balas Hinata singkat namun sungguh-sungguh. Rasanya ia juga perlu waktu istirahat.
"Omong-omong, belakangan ini apa saja yang kau lakukan di luar kegiatan Anbu?"
Beberapa bulan bekerja sama dengan Sakura membuat Hinata agaknya mengerti karakter wanita itu. Sakura memiliki aura positif dalam pembawaannya, ia suka berbincang dan pandai menyetir obrolan agar tak membosankan. Wanita dengan surai cerah itu juga peka akan sekitarnya meskipun kadang terlalu jujur dalam berkata.
"Tidak banyak. Terkadang aku hanya menghabiskan waktu dengan Konan."
"Menonton anime bersama? Rasanya Konan berniat menularkan virus otak-nya padamu," kekehnya ringan dan disambut dengan senyum geli Hinata yang membenarkan apa yang barusan Sakura katakan.
Sesampainya di gedung Anbu, mereka bergegas ruangan tempat tim mereka biasa berkumpul untuk menyerahkan hard disk yang mereka bawa. Keduanya sudah berkeyakinan bahwa Kakashi pasti berada di sana.
Sakura yang berjalan selangkah di depan Hinata membuka pintu tanpa terlebih dahulu mengetuknya. Perangai santainya kemudian digantikan dengan keterkejutan setelah mendapati tiga orang yang menurutnya asing tengah berbincang serius dengan Kakashi. Hinata yang sedari tadi membuntuti Sakura pun ikut berhenti dengan beberapa pertanyaan di kepalanya.
"Maaf mengganggu. Kami akan kembali lagi nanti." Sakura berucap cepat namun sopan kemudian hendak menutup kembali pintu itu.
"Tunggu!" Seruan Kakashi menghentikan Sakura untuk menutup pintu. Pria bermasker itu kemudian mengangguk, menyampaikan sesuatu yang jelas tersirat kepada ketiga orang asing tadi hingga kemudian ketiganya bangkit dan beranjak keluar ruangan.
Sakura dan Hinata memberi jalan kepada ketiga orang itu untuk keluar sebelum mereka masuk.
"Apa yang para intel lakukan di sini?" tanya Sakura kepada Kakashi bahkan sebelum ia mencapai kursi terdekat.
Kakashi terlihat membenamkan wajahnya sejenak di kedua telapak tangan sambil menghirup udara panjang. Manik yang biasanya tak terbaca itu kini menyiratkan rasa lelah. Tak lama, diangkatnya kepala hingga tatapannya berhadapan dengan kedua anak buahnya itu.
Baru akan membuka mulutnya, niat Kakashi dihentikan oleh bunyi telepon. Ia melirik ke benda itu kemudian ke Sakura dan Hinata lagi. "Tunggu sebentar," ujarnya.
Kakashi mengangkat teleponnya, dan dari jarak mereka, baik Hinata dan Sakura hanya dapat menangkap secara samar apa yang pria itu katakan. Yang jelas gendang telinga masing-masing menangkap kata 'marsekal' dan 'segera'.
"Jenderal, apa yang terjadi?" tanya Sakura lagi tanpa bisa menahan diri setelah Kakashi menutup sambungan telepon.
"Ini tentang Wind dan Thunder."
"Ada apa?" Kini Hinata yang menyahut cepat. "Apa mereka sudah kembali?"
Kakashi memandang Hinata dengan tatapan yang nyaris kosong. "Wind dalam perjalanannya."
"Sasuke?" Hinata merasakan jantungnya berdebar semakin tak terkendali saat Kakashi hanya menyebutkan kode nama Naruto.
Kakashi diam masih dengan tatapan yang sama. Pria itu tak mengatakan apapun yang bagaimanapun diartikan sebagai kabar buruk untuk Hinata. Hinata sendiri masih dalam keterkejutannya, jelas tak siap dengan bagaimana Kakashi merespons pertanyaannya. Kakinya terasa mati hingga mungkin ia akan jatuh terduduk jika saja Sakura tak menahannya.
"Apa maksudmu, Kakashi?" Sakura yang juga sama terkejutnya menuntut penjelasan, ia mulai dengan ke-informalannya, mengatakan secara tersirat agar Kakashi tak sedang dalam situasi yang cocok untuk bergurau.
"Terjadi ledakan besar di markas Akatsuki semalam. Kami telah mendapat konfirmasi soal Wind. Tapi... belum ada kabar mengenai Thunder."
Hinata merasa telinganya berdenging keras hingga menyakiti kepala juga menggetarkan seluruh tubuhnya.
"Lalu?" Sakura menuntut penjelasan lebih lanjut.
"Agen Wind sedang dalam perjalanannya kemari. Kami sudah mengirim orang untuk menjemputnya di bandara."
"Dan Thunder... kalian pikir dia..." Sakura kembali bersuara. Hinata agaknya bersyukur karena wanita itu selalu menyuarakan apa yang ingin ia tertahan di tenggorokannya.
"Belum dipastikan," jawab Kakashi cepat. "Kami... masih belum bisa menemukan jejaknya."
"Tidak mungkin..." Hinata berdesis lirih, namun desisannya itu tak bisa terlewatkan begitu saja di tengah heningnya ruangan yang mencekam itu.
"Maaf, Hinata," gumam Kakashi lemah.
"Jangan bergurau! Ini tidak lucu!" Kendali diri Hinata terlepas, ia memekik tertahan dengan air mata yang nyatanya gagal ia simpan.
..
...
..
Sudah satu bulan sejak Sasuke menghilang. Tak banyak perubahan setelah kejadian itu. Memang suasananya sempat begitu tegang karena berita itu, namun sepertinya di tempat ini tak ada lagi yang merindukan kehadiran Sasuke selain Hinata.
Sasuke pernah mengatakan pada Hinata bahwa ia takut jika akhirnya nanti dia memiliki seseorang yang akan merindukannya saat ia pergi. Dan lagi-lagi Hinata mendapati kecemasan Sasuke yang terbukti menjadi kenyataan. Karena di sini Hinata begitu merindukan sosok pria itu, begitu masih mengharapkannya.
Hinata memandang permukaan dinding di hadapannya dengan tatapan kosong. Ia kembali berdiam diri, membungkus dirinya sendiri di dalam cangkang sempit yang ia ciptakan. Tak masalah, ia memang sengaja menyusutkan dunianya. Ia mengharapkan sesaknya dapat menekan ruang kosong yang kembali muncul di jiwanya.
Hinata merasa hidupnya akan selalu berputar seperti ini. Seperti kebahagiaan tak betah berlama-lama menyertainya dan seperti ia memang pantas mendapatkan setiap rasa sakit yang selama ini ia terima.
Hinata memejamkan matanya, dihirupnya oksigen dalam-dalam, punggungnya ia sandarkan di kepala ranjang. Janji dibuat untuk diingkari. Tepat seperti janji Sasuke padanya untuk kembali yang kini tak terpenuhi.
Hinata kembali menampakkan ametisnya yang masih terlihat tak berjiwa. Ia pernah membaca sebuah ungkapan. Bahwa beberapa cerita hanya tak cocok jika berujung bahagia. Dan mungkin di golongan itulah cerita Hinata dialurkan.
Bayangan-bayangan di benak Hinata runtuh, fokusnya perlahan terkumpul saat ia mendengar bunyi bel apartemen mengisi hening yang setia menemaninya. Ia mengarahkan pandangannya ke ambang pintu kamar yang terbuka. Ia terdiam beberapa saat, membiarkan dering yang terdengar tak sabar itu terus terulang.
Hinata menghela napas sekali sebelum akhirnya beranjak dari ranjang. Ia berdiri dan berjalan perlahan ke luar kamar untuk meraih pintu utama. Dan saat ia membuka pintu, tubuhnya langsung menjadi target peluk si tamu yang tak lain adalah Naruto.
Tak sempat merasakan keterkejutan, Hinata membalas pelukan itu dengan menyentuhkan ringan kedua lengannya di punggung lebar Naruto. Ini pertama kalinya ia berhadapan langsung dengan Naruto sejak pria pirang itu kembali.
Pasalnya Naruto memerlukan perawatan khusus setibanya di Anbu dan setelahnya ia memiliki banyak sesi interogasi atas apa yang selama ini terjadi dalam misinya bersama Sasuke. Belum lagi kekeras-kepalaannya yang menuntut agar ia terlibat dalam misi lanjutan untuk mencari kabar mengenai Sasuke. Jelas membuat pria pirang itu tak memiliki waktu untuk sekedar menarik napas panjang.
"Hinata!" Naruto berseru saat melepaskan pelukan mereka. Hinata diam, namun tatapannya telah menyiratkan bahwa ia menerima sapaan Naruto. "Kami telah menemukannya! Dia... Sasuke masih hidup!" ujar Naruto dengan raut wajah keras.
Hinata tak tahu sejak kapan Naruto memanggil Sasuke dengan nama aslinya. Tapi bukan itu yang penting sekarang. Sekarang yang ia perlukan adalah kepastian dari informasi yang dimuntahkan oleh rekan satu timnya itu.
"Kau bilang..." Hinata bergumam lirih, entah lidahnya bergerak atas kesadarannya atau tidak.
"Selama ini dia hidup," ulang Naruto masih dengan ekspresi kerasnya.
Kening Hinata berkerut. Bukankah itu berita bagus? Tapi kenapa ia merasa Naruto malah menyampaikannya seolah itu adalah bencana baru untuk mereka?
Dan seolah membaca apa yang Hinata pikirkan, Naruto kembali membuka mulutnya.
"Dia bersama Akatsuki. Dia... selama ini dia bekerja bersama Akatsuki," jelas Naruto singkat namun begitu kuat untuk mengguncang Hinata.
..
...
..
"Ini tidak masuk akal!"
Yahiko bukanlah orang pertama yang berteriak sejak rapat besar itu dimulai. Namun entah bagaimana, pria nyentrik bersurai jingga itulah yang terlihat paling histeris dari yang lainnya.
"Aku mulai bisa melihat penjelasan di balik semua ini." Kakashi berdiri untuk mendapat perhatian di tengah situasi yang lumayan kacau itu. "Sejak kita mendapat konfirmasi tentang keadaan Agen... Thunder yang sekarang. Kami mulai menelaah setiap laporan yang melibatkannya."
"Lalu... bagaimana?" tanya salah satu agen.
"Jika kita ingat, misi Singapura yang melibatkan Thunder terlihat sukses. Kita berhasil menghancurkan kongres yang berlangsung." Kini Hiashi lah yang membuka teorinya. "Akatsuki mungkin terlihat terjebak, tapi pada kenyataannya, mereka tetap mendapatkan aliran dana dari beberapa pihak. Saat itu kami masih menyelidiki bagaimana mereka masih dapat membuka pintu-pintu dari pihak luar. Tapi sekarang semuanya masuk akal." Kening Hiashi yang berkerut ringan cukup memperlihatkan emosi pria itu di balik tampang tenangnya.
Hinata melirikkan matanya ke arah sang ayah. Ia cukup terkejut. Ia pikir misi mereka di Singapura sudah bersih. Tapi ternyata ayahnya telah menemukan kejanggalan sejak saat itu.
"Sekarang kita tahu bahwa bajingan itu tidak hanya seorang psikopat, namun juga keparat bermuka dua," komentar salah satu agen.
Hinata menelan salivanya dalam diam. Setiap pertukaran kata yang terjadi di ruangan itu terasa seperti timah panas yang menyerang tepat di ulu hatinya. Rasanya ia tidak bisa memikirkan apapun lagi.
"Kau baik-baik saja?"
Samar-samar Hinata mendengar bisikan Naruto yang tepat berdiri di samping kirinya. Hinata ingin berdecih. Baik-baik saja? Tentu ungkapan itu adalah hal terakhir dari deretan frase yang akan Hinata gunakan untuk menjabarkan kondisinya.
"Dia adalah agen terlatih." Hiashi memotong rantai umpatan terhadap Sasuke yang memenuhi ruangan. "Selama ini kita melatihnya. Atau lebih tepatnya, kita memberikannya kunci menuju kehancuran kita sendiri. Dia mengetahui segalanya tentang agensi ini. Tidak terkecuali kelebihan dan kelemahan kita. Dan harusnya kalian sadar bahwa melempar sumpah serapah padanya sekarang bukanlah jalan keluar melainkan hal bodoh yang sia-sia."
"Dan jika kita melihat rekor yang dibuatnya, sangat memungkinkan bahwa Thunder telah terlatih bahkan sebelum agensi merekrutnya," tabah salah satu jenderal. "Tapi dia tetap bukanlah manusia super. Hanya seseorang yang cukup cerdik dalam memainkan permainannya."
Ruangan itu sekarang jauh lebih tenang. Tenang dalam artinya hening tanpa lemparan kata umpatan. Hinata sendiri masih merasakan gemuruh dalam tubuhnya tak kunjung mereda. Atau bahkan semakin menjadi setiap nama Sasuke tertangkap gendang telinganya.
"Tidakkah kita akan melakukan sesuatu untuk menghentikannya?" tanya salah satu agen lagi.
"Bagaimana? Apa kau mengajukan dirimu sendiri untuk dikirim ke markas Akatsuki untuk mengeksekusi salah satu agen tingkat lima kita yang ternyata merupakan bagian dari mereka?" balas salah satu Jenderal dengan telak.
"Tapi kita tidak bisa berdiam diri. Ini pilihan antara kita menghancurkannya atau kita menunggunya untuk menghancurkan kita," sela Yahiko.
"Tentu kita tidak akan diam." Kakashi yang sedari tadi memerhatikan dalam diam kembali bersuara. "Tapi ini salah satu situasi yang cukup tidak terduga. Dan kita butuh rencana matang untuk menghadapinya."
Marsekal sendiri terluhat mengusap pelan pelipisnya sebelum berbicara. "Untuk sekarang, aku tutup pertemuan ini. Tapi untuk semua agen tingkat empat, kalian harus kembali siang nanti. Pertemuan dibubarkan," tutup marsekal.
Semua agen berbondong-bondong keluar dari aula besar. Naruto menarik Hinata yang tengah dalam antriannya untuk melewati pintu utama. Mejaga wanita itu tetap berada di dekatnya.
"Hinata. Semuanya akan baik-baik saja, bisa jadi intel melakukan kekeliruan," ujar Naruto mencoba untuk meyakinkan Hinata.
"Intel tidak akan mengeluarkan informasi sebelum mereka yakin akan hal tersebut. Mereka sudah mendapat bukti-buktinya, Naruto," gumam Sakura, karena sebagaimanapun ia belum menerima situasi ini, ia tak menginginkan siapapun berpegang pada harapan yang sia-sia.
Mereka akhirnya keluar dari aula itu. Tak lama setelah mereka keluar, Hinata mendapati Konan sudah berada di hadapannya. Konan memang tak terlibat dalam rapat tadi, posisinya sebagai informan tim membuatnya harus menghadiri pertemuan terpisah yaitu pertemuan langsung bersama para intel.
"Konan."
"Hinata..."
"Apa... itu benar?" tanya Hinata, melawan kesulitannya untuk berkata-kata.
Konan menggigit bibir bawahnya, maniknya ia arahkan ke ujung sepatu yang ia kenakan. Dan tanpa harus mendengar jawaban Konan pun, Hinata sudah memastikan segalanya.
"Maaf... Hinata," gumam Konan. "Aku juga tidak mempercayai ini tapi... Thunder... dia terlihat bersama dengan orang-orang dari Akatsuki," ujarnya.
"Itu tidak membuktikan apapun," bantah Hinata lemah.
"Aku mengerti jika kau tidak bisa menerimanya sekarang."
"Tidak, kau tidak mengerti. Aku hampir gila karena semua ini, dan mungkin akan menjadi benar-benar gila jika aku tidak juga mendapat penjelasan yang masuk akal."
Konan menghela napas. "Akatsuki sendiri telah menyatakan bahwa Thunder adalah bagian dari mereka," ujar Konan akhirnya.
"Mungkin dia punya rencana, Konan. Pasti ada alasannya. Mungkin sesuatu terjadi selama dia menjalankan misi itu." Hinata meracau frustrasi. "Mungkin kalian salah menyimpulkan."
"Hinata!" Naruto meraih kedua lengan Hinata dan menggoncangnya ringan. "Tenangkan dirimu!"
"Aku mengerti keadaanmu, Hinata. Tapi kita tidak bisa menyimpulkan apapun lagi kecuali jika ada informasi baru nantinya," jelas Konan.
"Hinata, dia mungkin musuh agensi sekarang. Tapi dia bukanlah musuh kita," ucap Naruto, bukan hanya mencoba meyakinkan Hinata, ia juga berusaha membuat dirinya sendiri yakin dengan apa yang ia ucapkan. "Untuk sekarang ini, cukup percayakan hal itu, oke?"
Hinata diam, ia menghela napas kemudian melepaskan tangan Naruto yang mencengkeram ringan kedua lengannya. Sebenarnya ia cukup berterima kasih dengan apa yang Naruto katakan, hanya saja ia masih belum tahu apa yang harus ia lakukan, apa yang harus ia pikirkan. Jadilah Hinata memutuskan untuk berlalu, meninggalkan rekan-rekannya itu.
Sasuke dipastikan masih hidup. Tapi pria itu bahkan tak memberikan kabar apapun kepada Hinata. Pria itu tak pernah lagi mencoba menghubunginya saat Hinata merasa dirinya perlahan mati. Saat Hinata berpikir bahwa mungkin ia akan kembali menjalani kehidupan kelamnya lagi. Kenapa Sasuke melakukannya? Pria itu pasti memiliki alasan, bukan?
Hinata berlari ke area asrama, air matanya terasa membeku, tak ingin mengalir keluar namun masih begitu mengganggu netranya. Mengabaikan sekitarnya, ia masuk ke dalam kemudian mengunci pintu.
Apartemen Sasuke.
Selama ini Hinata menghabiskan sebagian besar waktunya di sini. Dengan segala kenangan yang tanpa izinnya terus terulang di dalam kepalanya. Sebulan terakhir Hinata berdiam diri di dalamnya, dalam kekhawatiran berharap akan ada kabar yang menyatakan bahwa Sasuke ditemukan, bahwa Sasuke baik-baik saja.
Dan sekarang ia tahu Sasuke baik-baik saja. Tapi kenapa situasi seperti ini yang membuntut di belakang berita baik itu?
Tidak. Sasuke pasti memiliki alasan yang kuat. Sasuke mencintainya. Pria itu tidak mungkin berniat melukainya seperti ini.
..
...
..
'Aku mencintaimu, Hinata. Sangat.'
Benak Hinata terus memutar saat di mana Sasuke menyatakan perasaannya. Hinata sendiri tak pernah memiliki anggapan bahwa apa yang pria itu katakan adalah sebuah kepalsuan. Ia memercayai Sasuke. Ia percaya pria itu mencintainya.
Meskipun apa yang dijelaskan oleh agensinya masuk akal, Hinata tahu Sasuke tak akan mengkhianatinya. Pria itu bahkan membunuh Neji untuknya. Selama ini Hinata memercayai itu.
Dan sekarang ia mendengar Caligo bergabung bersama Akatsuki?
Hinata tahu bahwa Caligo telah mengetahui soal Akatsuki sebelumnya. Tapi apa ini? Bagaimana bisa pria itu memutuskan untuk bergabung bersama Akatsuki? Apa dia melakukannya karena dia tahu sekarang Sasuke berhubungan dengan organisasi itu? Apa dia masih mengejar Sasuke?
Tapi bagaimana jika... bagaimana jika semua ini hanyalah permainan yang sudah dinarasikan? Penyekapan dan semua runtutan kejadian setelahnya. Tentang serangan jantung yang tiba-tiba Sasuke dapatkan. Bagaimana jika itu semua adalah rencana Sasuke agar ia bisa keluar dari shard dan mulai mengeksekusi rencana penyekapan itu?
Bukan hal yang mustahil untuk merangsang detak jantung hingga dapat menyebabkan serangan seperti itu. Tapi jika itu benar, jika Sasuke benar merupakan bagian dari Akatsuki sejak awal, artinya bukan tidak mungkin dia membutuhkan seseorang untuk menjalankan setiap rencananya. Yang artinya bukan tidak mungkin bahwa tidak ada anggota Akatsuki lain di tengah-tengah mereka.
Tapi jika semua itu hanya permainan, apa yang Sasuke dapat dengan menculik Hinata saat itu?
Di atas semua itu, jika Sasuke memang anggota Akatsuki sejak awal, untuk apa ia masuk ke dalam agensi ini?
Hinata merasa ingin menghantamkan kepalanya ke dinding. Ia terus memikirkan segala kemungkinan yang muncul. Kepalanya hampir pecah karena benaknya sendiri namun hingga sekarang Hinata masih tak dapat mendapat kesimpulan berarti.
Kerumitan pikirannya terganggu saat ponselnya bergetar. Hinata berkedip melihat siapa yang menghubunginya. Konan. Untuk apa wanita itu menghubunginya pada jam-jam malam seperti sekarang?
Namun sebelum Hinata sempat mengangkat panggilan itu, telinganya dipekakkan oleh suara ledakan yang mendadak memenuhi udara malam. Dengan keterkejutan penuh, Hinata langsung melesat ke jendela untuk melihat apa yang terjadi. Matanya melebar melihat ledakan itu berasal dari gedung utama. Napasnya tercekat ketika tak lama setelahnya, ledakan kedua terjadi di gedung yang sama.
"Apa yang..." Hinata tak menyelesaikan kalimatnya, ia langsung berlari ke luar apartemen.
Alarm peringatan berbunyi di setiap sudut area, para petugas sudah bersiap di mana-mana dengan senjata di tangan mereka. Hinata terus berlari mengabaikan luapan asap hitam yang membumbung di sekitar gedung.
Hinata memilih masuk melalui pintu belakang yang biasanya minim penjagaan. Tapi malam ini, bukan hanya minim, ia bahkan tak menemukan satu petugas pun berjaga di sana. Alarm peringatan akhirnya berhenti meraung, tanpa memedulikan apapun, Hinata langsung memindai tanda pengenalnya agar mendapatkan akses masuk.
Langkah Hinata melambat saat ia memasuki lobby. Asap dan debu akibat ledakan menghalangi pandangan dan jalur napasnya. Ia masih dapat melihat beberapa orang berlalu lalang untuk menjauh dari tempat itu.
"Hinata!" Hinata mendengar suara Yahiko memanggilnya di tengah keributan itu. Ia memutar tubuhnya, mencari di mana sosok pria itu sekarang. Belum benar-benar menemukan Yahiko, ia sudah merasakan pergelangannya ditarik yang pelakunya tak lain adalah Yahiko. "Kita harus keluar dari sini!"
"Apa yang terjadi?!" tanya Hinata langsung.
"Akatsuki datang," jawab Yahiko singkat, ia kembali menarik tangan Hinata untuk menyeretnya keluar. "Sekarang ayo pergi!"
"Tidak!" Hinata menghentakkan tangannya hingga terlepas dari genggaman Yahiko. "Ayahku masih di dalam!" Dengan itu Hinata kembali berlari melewati tangga darurat. Ia menyingkirkan beberapa agen yang berlari berlawanan arah dengan mendorongnya ke samping.
"Hinata! Apa yang kau lakukan?!" Tenten langsung memekik saat mereka berpapasan.
Hinata tak meluangkan waktu untuk berhenti ataupun sekedar menjawab. Ia terus berlari sampai ia merasakan kakinya ingin terlepas setibanya di lantai sepuluh. Ini mungkin di luar topik, namun Hinata bersyukur Sasuke sering membuatnya berlari mengelilingi area pelatihan dengan banyak putaran yang tak masuk di akal sehingga kini ia masih bisa menguasai dirinya untuk tidak berhenti.
Pendakian Hinata selesai di lantai dua puluh dua, lantai di mana ruangan ayahnya berada. Masih dengan kecepatan yang sama, Hinata melangkah melewati lorong lantai itu. Langkahnya baru melambat saat melihat Naruto berdiri tepat di depan pintu ruangan marsekal yang terbuka.
"Naruto!" panggil Hinata, ia cukup terkejut melihat sinar mata Naruto yang penuh amarah.
Saat jarak mereka tak lagi jauh, barulah Hinata menyadari ada dua orang bermasker yang berdiri waspada di dekat Naruto. Hinata tak memilih untuk menghentikan langkahnya meski salah satu orang bermasker itu mengacungkan senapan padanya. Hinata baru berhenti saat ia tepat berada di sisi Naruto, ia kemudian meluangkan perhatiannya untuk menyisir keadaan di dalam ruangan marsekal.
Pemandangan yang tersaji di depan matanya seakan menyerap jiwa Hinata keluar dari tubuhnya. Membuat Hinata seakan merasakan ribuan pecahan kaca menusuk jantungnya. Sasuke di sana, tangannya menahan tengkuk marsekal yang ditundukkan di atas meja. Di sisi lain, Hinata melihat ayahnya berdiri dengan tiga orang bermasker mengelilinginya. Di dalam sana setidaknya ada lima orang bermasker serupa yang juga lengkap dengan senjata mereka.
"Kau tahu, Marsekal? Aku selalu muak denganmu," umpat Sasuke sebelum mengambil pistol yang ia tempatkan di sabuk bagian belakangnya sebelum melepaskan sebuah peluru tepat di kepala marsekal.
Mata Hinata melebar, ia merasa lututnya lemas. Ia mungkin saja terjatuh kapanpun, itupun jika ia masih memiliki energi untuk sekedar bergerak.
Sasuke kini mengenakan pakaian hitam. Tidak ada yang sederhana dari penampilan pria itu saat ini. Kemeja, mantel tebal, dan tindikan di telinga. Bahkan jika pria itu tak mengenakan semua itu, Hinata akan tetap menyadari bahwa Sasuke yang sekarang ada di hadapannya bukanlah Sasuke yang selama ini ia kenal.
Hinata kemudian melihat Sasuke perlahan mengangkat kepalanya. Dan entah kebetulan atau tidak, oniksnya bertemu tatap dengan milik Hinata.
"Oh," singkat Sasuke.
Oh. Hanya 'oh'? Hanya itu yang pria itu katakan setelah selama ini mereka tak bertemu?
"Sa-Sasuke..." lirih Hinata, tak bisa menemukan kata lain untuk ia ucapkan.
Sasuke menatap Hinata dengan binar mata terhibur. Ia mengeluarkan sebuah kekehan pendek. Disingkirkannya tubuh tak bernyawa marsekal yang tergeletak di atas meja hingga jatuh ke lantai sebelum ia sendiri memosisikan dirinya untuk duduk di atas meja yang sama. Sasuke meletakkan sebatang rokok di antara kedua belah bibirnya dan menyalakannya sebelum ia menghembuskan asap kelabu.
Pikiran Hinata mendadak buntu. Apa itu tadi? Sasuke merokok? Rasanya pemandangan itu terlihat lebih mengerikan baginya daripada saat Sasuke membunuh marsekal.
"Haruskah aku membunuh ayahmu juga untukmu, Hinata?" tanya Sasuke santau di sela seringaian tajamnya. "Dia benar-benar menggangguku. Dan aku tahu kau juga tidak menyukainya, bukan?" Sasuke memainkan pistol di tangannya, memutarnya dan beberapa kali menodongkannya ke arah Hiashi meski jarak mereka tak terlalu dekat.
"Kau keparat! Brengsek!" Naruto mengumpat dengan emosi yang sudah berada di ubun-ubunnya. "Dia mencintaimu dan kau mengkhianatinya seperti ini?!"
Sasuke kembali mengeluarkan tawa renyah atas perkataan Naruto. "Kau tahu, Naruto. Sebenarnya aku cukup baik. Itulah kenapa aku masih membiarkanmu hidup sekarang," ujar Sasuke ringan. "Kau menyelamatkanku satu kali. Yah, bisa dibilang serangan jantung keduaku malam itu benar-benar di luar rencanaku. Jadi... lex talionis*, sambungnya masih dibarengi dengan seringai yang sama.
[*hukum timbal balik]
Hinata masih melum mendapatkan suaranya. Oh, jangankan suara, ia bahkan tidak tahu apa pikirannya masih di dalam otaknya sekarang.
"Aku cukup baik. Tapi tidak terlalu baik untuk terlibat dalam omong kosong yang disebut cinta." Sasuke turun dari meja dan berjalan santai ke arah Hinata dan Naruto. Hinata hampir lupa cara bernapas saat Sasuke berhenti dua langkah di hadapannya. "Kau hanya hadiah sampingan yang aku terima dalam permainan ini, Manis," ujar Sasuke, oniksnya lekat menatap ametis Hinata. "Kau bukan targetku. Kau tahu kenapa?" Sasuke maju satu langkah lagi dan mengangkat tangan kanannya. Dengan ujung jarinya, ia mengusap garis rahang Hinata. "Karena kau bukan siapa-siapa di sini."
Ucapan Sasuke seperti menampar telak Hinata. Tapi dengan itu Hinata merasa kesadarannya kembali terkumpul. Ia menggertakkan giginya, kepalanya mengerat menahan amarah.
"Tapi kuakui, kau memang teman ranjang yang menyenangkan. Bermain denganmu adalah bagian yang paling aku sukai," tambah Sasuke dengan senyum penuh yang terlihat mengerikan. Ia kemudian berbalik menghadap Hiashi. "Jadi, Jenderal Hyuuga... atau bisa kubilang calon Marsekal Hyuuga. Kuperingatkan padamu, halangi jalanku dan aku tidak akan ragu untuk menghancurkanmu. Aku yakin kau tahu jelas bahwa aku tidak pernah main-main, bukan?"
Sasuke mengangkat tangannya, menggesturkan sesuatu dan tak lama setelah sinyal itu, para pria bermasker yang ada di sana bergerak, siap untuk pergi mengikuti jejaknya.
"Oh." Sasuke menghentikan langkahnya sesaat, seolah mengingat sesuatu. "Aku juga akan meledakkan lantai lantai ini. Jadi sebaiknya kalian bergegas keluar saat masih sempat." Sasuke mengedipkan satu matanya ke arah Hinata sebelum keluar dari ruangan itu.
Hinata dapat melihat Sasuke melemparkan satu tatapan tepat ke arahnya sebelum pria itu melewatinya. Sebuah tatapan yang lagi-lagi menghancurkan Hinata dari dalam.
"Apa yang kita lakukan sekarang?" tanya Naruto setelah Sasuke beserta rombongannya menghilang dari jarak pandang mereka.
"Dia membawa ratusan bawahannya lengkap dengan persenjataan. Mereka juga meledakkan gudang persenjataan kita lebih dahulu. Kita tidak bisa menghadapi mereka langsung dengan keadaan sekarang," jelas Hiashi tajam. Pria paruh baya itu segera bergerak untuk keluar. "Kita mundur sekarang!" ujar Hiashi tegas kepada Naruto. Diraihnya pergelangan tangan Hinata sebelum mereka berlari ke salah satu tangga darurat.
Hinata hampir tak menyadari saat sang ayah menarik tangannya untuk berlari. Kepalanya masih dipenuhi pemandangan saat Sasuke menatapnya tadi. Entah kenapa Hinata menyadarinya. Ia menyadari bahwa itu adalah tatapan paling tulus yang pernah Sasuke berikan kepadanya.
Tunggu. Jangan salah artikan kata tulus tadi.
Tulus yang Hinata maksudkan adalah bahwa itulah diri Sasuke yang sebenarnya. Dengan tatapan itulah Sasuke yang asli menatapnya tanpa topeng apapun. Dengan tatapan tajam tak berperasaan itu.
'Aku mencintaimu, Hinata. Sangat.'
Sambil terus berlari, Hinata semakin menggertakkan giginya.
'Aku mencintaimu, Hinata.'
Omong kosong!
.
-END
..
.
Okkkaaayyy... that's the end of the first instalment of this story. And that's the plot twist I've been talkin abt from the begining.
Jadi... seberapa jauh saya melenceng dari ekspektasi kalian? Ada yang sempet nebak kemungkinan ini? Pasti ada dong ya.
Dan sekarang kalian tahu kenapa saya terkesan menghindari cerita dari sudut pandang Sasuke, yeah... bcs, he's the villain. Juga kenapa saya kekeuh bilang kalo sebenernya abah Hiashi cuma mau yang terbaik buat Hinata, bcs he knew something off there.
Mungkin beberapa dari kalian ada yang teriak dalam hati 'NGGA MUNGKIN!', 'INI NONSEN! SASU CINTA MATI SAMA HINA!', 'DARIPADA ENDINGNYA GINI MENDING TENGGELAMKAN SAJA MEREKA DALAM TSUNAMI!', 'DUIT JAJAN GW ABIS!' [oke yang terakhir ini OOT .-.]
Banyak hal yang mungkin menurut kalian 'ngga berdasar', mengingat asam-manis-pait perjuangan yang SasuHina lalui di sini. But that's it. It just a game.
Dan saya ngga menghindari kemungkinan banyaknya pertanyaan yang muncul di benak readers sekalian. It just like: 'Kalo ternyata anu gitu terus waktu anu si anu kenapa anu? Kalo anu gini kok anu gitu sih? Kan anu kalo anu harusnya anu!' [abaikan pemakaian anu yang berlebihan di sini :3]
That's why... kalo kalian masih bersedia mengonsumsi kegilaan yang saya buat... kalian bisa nunggu dan ngikutin second instalment dari cerita ini nanti. (like I said, this chapter just happened to be the end of the first instalment). I might as well ad some new characters tho.
Hmmm... author note-nya udah cukup panjang ternyata.
Tapi satu lagi, last but not least... big pots of thanks for you readers, likers, followers and reviewers yang udah ngikutin Game On sampe ujung gini. You guys bring me such a joy while writing this story. Sorry for this mindfckn plot.
Thank you thank you thank you... and see you again (if you don't mind) ^^
.
p.s untuk yang nanya kenapa Hina ngga hamil aja... there's thing called protection. It's simply as that :v
Bye~~~~
