.

.

.

–0–

"Aku… tidak akan menjadi slave–mu Lagi."

"A–apa…?"

Sakura balas tersenyum yang begitu lembutnya. Sementara ia mendekat dan mendongak untuk memandang wajah bingung sang guru. Satu tangannya berigsut ke depan, meraih tangan Sasuke dan menggenggamnya lembut. Tersenyum lagi. Manis sekali.

"Iya. Karena aku memutuskan, bahwa aku akan menjadi kekasihmu saja, aku akan belajar mencintaimu dan aku akan membuatmu mencintaiku. Kau tahu, aku–" Sakura berbicara terlalu ceria,dan dia telah melupakan bahwa raut wajah datar Sasuke sudah berubah menjadi teramat keras dan begitu kaku tak tersentuh. Ada yang berubah, dan masalahnya saat itu Sakura tengah menunduk menatap kedua kaki mereka yang saling berhadapan, nyaris bersentuhan di kedua ujungnya. Tetapi Sasuke, dia memotongnya. Suaranya lebih berat dan serak karena hal lain. Tetiba mencekal bahu Sakura. Kuat.

"Sebentar. Tunggu. Apa yang kau pikirkan sebenarnya, Sakura? Aku tidak mengerti." Katanya, lamat–lamat sambil mencoba untuk tidak mendesak.

"Eh? Ya… aku memang mencitai Itachi, bahkan sampai sekarangpun, masih… Tapi tenang saja, aku tidak akan meninggalknamu. Tidak akan pernah. Maka dari itu, aku akan mencoba untuk mencintai–"

"–Omong kosong."

"E–eh…?"

Mata Sasuke menggelap. Dia bukan lagi guru kimia yang lucu saat sedang tidur, ataupun si Uchiha yang memiliki seringaian mesum ketika mereka sedang dalam sesi intim. Tidak. Bukan lagi. Karena sekarang, karena pria dewasa yang sedang berdiri dan ganti berwajah pongah merendahkan didepan Sakura ini, adalah seorang Uchiha Sasuke, pria berusia matang dan berwajah kaku disisi ketampanannya yang menyilaukan mata. Kaku dalam banyak hal. Tidak lama dan tidak sebentar pula Sakura mengenalnya, dan sampai detik ini tidak satupun hal pribadi yang Sakura ketahui mengenai Uchiha bungsu ini, sama sekali. Kecuali… perihal Karin dan masa lalunya yang cukup menyedihkan itu. Seketika, Sakura merasa sesak.

"Sasu–"

Sasuke kembali memotongnya. "–Omong kosong, Haruno." Wajahnya berubah menyeramkan. Tidak bersahabat dan begitu angkuh. Sepihak, dia melepaskan genggaman ringkih Sakura ditangannya. "Aku tidak butuh omong kosong seperti itu. Cukup katakan saja kalau kau memang ingin lepas dariku. Aku tidak akan mempersulitmu. Persetan dengan cinta, kau hanya akan membuatku muak jika terus berbicara naïf seperti itu."

Sakura, tentu saja, tidak menyangkanya. Tiba tiba merasa harus panik dan sekali lagi mencoba meraih tangan sang guru.

"Se–sensei! Aku tidak mau lepas darimu! Sungguh, aku masih ingin terus bersamamu!"

"Tidak." Sasuke menggeleng. Kalau dia adalah kebenaran, maka siapapun disekitarnya adalah sebuah kesalahan. Sekalipun, Sasuke yang agung tidaklah pernah salah. Sekalipun, dia tidak mau mengakuinya. Dia sudah lelah dengan kata cinta, itu sungguh memuakkan. Dulu sekali gadis jalang itu juga berbual tentang cinta yang sama, sampai kupingnya panas dan nyatanya itu semua tidaklah lebih dari kepalsuan belaka. Sungguh. Sasuke lelah. Dia tidak mau, dia tidak mau itu. Dia tidak butuh, dia tidak butuh itu. Alah. Baginya yang sarkastis di beberapa situasi ini, ia benar–benar tidak akan membutuhkan cinta lagi setelah sempat dikecewakan, dan tanpa cintapun, ia masihlah dapat meniduri banyak wanita diluar sana. Begitu, pikirnya. Begitu, jalan hidupnya, setelah uang dan ketampanan benar–benar mennetukan segalanya. Jadi jika benar Sakura akan melibatkan perasaan penuh bualan seperti itu, maka tidak perlu Sasuke menunggu untuk ditinggalkan, karena secepatnya, ia akan memninggalkannya.

"Sensei, Kumohon!" Sakura meninggikan gema suara paniknya. Sedang Sasuke tetap pada keteguhannya, mencoba acuh dan meninggalkan. Melepaskan genggaman mereka.

"Haruno, aku sudah tidak ingin bersamamu lagi. Kau puas? Aku akan pergi sekarang. Secepatnya aku akan mencarikan sebuah tempat tinggal untukmu. Tidak perlu cemas, aku yang akan menanggung semua biayanya. Berlakulah selayaknya kita tidak pernah terlibat seperti ini sebelumya, aku mengharapkanmu. Selamat tinggal."

Dan kemudian, Uchiha itu berlalu dengan langkah tegasnya. Begitu kuat dan menghentak di permukaan. Suaranya bahkan sampai membayang, terdengar jelas di pendengaran Sakura dan matanya yang mulai temaram. Berembun tertutupi oleh pilunya yang sudah hendak mencair. Sementara itu, wajahnya benar–benar menampilkan raut yang syok. Teringat akan sesuatu, dia mengejar langkah kuat itu dengan langkah berantakannya. Sekali lagi mencoba merayu, sekali lagi mencoba meraih tangannya. Dapat. Dia menggenggamnya erat–erat. Sasuke menghela napas lelah dan menoleh untuknya. Sedikit.

"Uchiha Sasuke!" Menjerit, parau. Penuh keteguhan.

Sasuke menatapnya. Datar. "Apa? Ah, atau kau mau uang? Tentu, sebutkan saja jum–"

Sakura memotongnya. "–Aku berbohong. Aku tidak mencintainya, tidak lagi. Mungkin ini terlalu cepat, tapi aku mencintaimu! Aku mencintaimu, secepat itu, secepat yang tidak dapat kuduga. Sungguh, Aku mencintaimu!"

"Tidak. Haruno, dengar–" tetapi balasan yang didapatinya, seperti yang diduga, sungguh sangat mengecewakan. Ah, sudahlah. Kalau tahu seperti ini, lebih baik sedari awal Sakura diam saja. Pendam terus perasaan itu sampai berkarat dan membuatnya irutasi. Biarkan saja. Dia memang bodoh. A ah. Bodoh. Dasar bodoh. Karena kebodohannya yang dirasa super itulah, Sakura tertawa sedikit ditengah lelehan air matanya. Tangan Sasuke juga masih dicekalnya kuat–kuat, supaya tidak pergi, supaya tidak segera meninggalkannya.

"Tidak, Uchiha. Kau yang dengar. Di kafe dekat pinggiran kota, tempat biasa aku dan Itachi berkencan saat dulu, besok sore, aku akan menunggumu. Sungguh, aku akan menunggumu. Jika kau tidak datang, maka aku akan terus menunggumu di hari berikutnya, sampai kau datang dan mau berbicara denganku. Dan jika kau mau menerima perasaanku, aku akan ada disana untuk menunggumu. Pukul 4 sore, aku akan menunggumu. Ada yang ingin aku bicarakan, sungguh sangat penting. Nama kafe itu adalah–"

"–Aku tidak akan datang."

Sampai bertahun–tahun kemudian, ada yang menyesal diantara mereka….

–0–

Suatu saat nanti, kau akan menyadarinya. Bahwa aku, dimatamu, dulu sekali, adalah eksistensi yang tak disadarimu. Sampai kau menyesal, dan kau menginginkanku dengan rasa itu.

.

.

.

.

.

.

.

.

Besoknya, seperti yang dia janjikan, dia akan masuk dan mengajar seperti biasanya. Tetapi sedikit melenceng dari yang dia duga, Sakura tidak ditemukan dimanapun. Sebenarnya Sasuke tidak ingin ambil pusing, tetapi dia benci jika harus bersikap egois seperti itu. sebagai tanggung jawab atas pekerjaannya, kepada teman terdekat yang sering bersama Sakura, dia menanyakan alasan apa yang sekiranya membuat Sakura tidak masuk hari ini, dan si Yamanaka manis menjawab dengan gelengan bingung.

"Saya tidak tahu, Sensei. Tidak biasanya Sakura begini, tapi mungkin besok dia sudah akan masuk."

"Oh… begitu ya… Baiklah, Yamanaka. Terima kasih atas informasinya."

Tetapi berhari–hari kemudian, kehadiran Sakura di kelas itu sudah bagaikan mitos saja. Teman–temannya banyak yang tidak peduli, lantaran ternyata Sakura itu orangnya tidak sering bergaul di kelas. Paling–paling hanya Yamanaka Ino yang di awal menangis terus, atau Uzumaki Naruto yang mencoba untuk terlihat tenang tetapi selalu bertanya padanya dengan panik, tentang apakah Sakura baik–baik saja atau tidak. Selebihnya, Hinata yang mencoba mentembunyikan banyak hal dan Shikamaru yang semakin hari semakin merindu.

Banyak yang prihatin, sebagian juga tahu bahwa Sakura itu yatim piatu yang di adopsi oleh paman dan bibinya yang kurang bersahabat. Di bagian itu, ada bagian dari diri Sasuke yang merasa bersalah dan sebagian lainnya merasa bahwa itu bukanlah kesalahannya. Tetapi bagaimanapun, rasa penasaran mengalahkan ego si kucing.

Sore itu, di minggu ke 3 setelah terakhir kali dia melihat Sakura, Sasuke pergi mengunjungi pinggiran kota, hendaknya mencoba satu persatu kafe yang berada di sana. Karena hari itu adalah hari sabtu yang basah dan libur, jadi dia pergi sekitar jam dua dan sampai satu jam setelahnya. Dia berkendara dengan sangat lambat karena masih diselimuti oleh keraguan. Begitu banyak keraguan. Tetapi sampai di kafe ke 6 dan dia melihat batas kota, tidak ada seorangpun yang bersurai merah jambu terlihat di matanya. Yang pada akhirnya Sasuke menyerah setelah menertawakan dirinya, lalu dia masuk ke mobil dengan sekaleng sup hangat yang baru saja ia beli. Pukul 4 kurang, baru saja dia hendak menyantap makanan instan tersebut, yang dicarinya terlihat berjalan dengan sangat pelan dari arah yang begitu lelah dan pucat. Badannya tidak terlihat kurus, tetapi dia tidak terlihat sehat dengan tubuh berisi itu. Sakura mengenakan sebuah coat musim dingin berwarna coklat susu, syal ungu tua yang melilit lehernya, sebuah rok merah sebatas lutut berlipit, kaus kaki sebatas betis berwarna hitam, dan sepatu sekolahnya. Sebentar–sebentar, dari jauh, Sakura akan berhenti dan menyeka peluhnya, meski hari begitu dingin dan udara terasa begitu menusuk untuk memaksa seseorang berhangat–hangat diri di rumah. Ini memang belum memasuki musim dingin, tetapi musim paska semi biasanya sering hujan, dan itu sangatlah tidak terduga. Seperti Sasuke yang kini tengah terhanyut memperhatikan setiap gerak–gerik dari Sakura yang sudah lama tidak dilihatnya itu, Mungkin seperti nostalgia, pikirnya. Dan dia belum mencari wanita lain untuk dijadikan sebagai penghangat ranjang penggantin setelah kemarin baru saja meninggalkan Sakura.

Masih, belum.

–0–

Karena besoknya hari minggu, dan itu adalah hari libur kedua dalam sepekan, jadi Sasuke yang saat itu merasa tidak ada kerjaan memutuskan untuk pergi ke pinggiran kota, sekitar pukul 3. Masih seperti kemarin, dia memacu mobilnya dengan kecepatan yang sangat santai. Bahkan juga masih sempat untuk mampir di beberapa konbini, untuk membeli macam–macam snanck dan minuman soda.

Satu jam kemudian, dia sampai di tempat yang sama dengan yang kemarin. Membuka minumannya, hanya perlu menunggu sebentar sampai yang ditujukan terlihat dari kejauhan. Hari ini, ternyata, Sakura masih mengenakan pakaian yang sama dengan yang kemarin. Bedanya, wajahnya terlihat semakin pucat saja.

Sampai dua bulan, Sasuke terus melanjutkan apa yang telah dia lakukan seperti dua hari ini. Di setiap pekannya, hari sabtu dan minggu, dia akan datang ke pinggiran kota pada pukul 3, dan dengan membawa banyak sekali makanan ringan untuk menemaninya di dalam mobil. Tidak lama, hanya sampai matahari tenggelam dan Sakura akan keluar dari kafe yang didatanginya, sampai Sakura tidak terlihat di ujung jalan itu, barulah Sasuke akan pulang. Dan kemudian merenung lama di apartemennya yang masih dia huni sendirian. Entah kenapa, masih tidak bisa mencari pemanas ranjang yang lain. Tidak biasanya dia seperti ini. Sungguh sangat aneh dan menyebalkan. Dia tidak suka itu.

–0–

Tetapi, suatu hari, ada kalanya Sasuke merasa merindu dengan kehadiran sosok pink itu. Diluar nalar, padahal, mereka bukanlah pernah tinggal dalam jangka waktu yang lama. Padahal, mereka masihlah sangat baru dalam relasi 'saling mengenal' dan 'saling membutuhkan' itu. Kadang kala Sasuke merasa muak dengan dirinya, dan di hari berikutnya, ia dengan rasa yang menyebalkan itu membereskan semua barang–barang Sakura yang trtinggal di sana, di rumahnya, dan dipisahkan di tempat yang sudah sangat jarang ia kunjungi, bahkan tidak pernah sama sekali selama beberapa bulan ini; Ruang Bermain.

Yang tidak diduga adalah, Ayahnya menelpon setelah bertahun–tahun tidak pernah menghubunginya lagi, kecuali melalui beberapa orang suruhannya, pria tua itu hanya akan menyampaikan beberapa pesan dengan cara kuno tersebut. Lantaran aneh, Sasuke mengangkatnya.

"Ya, Ayah?"

'Ah, Sasuke. Langsung pada intinya saja, ayah ingin menawarkan beberapa pilihan padamu.'

Dia menyender pada pagar pembatas balkon di apartemennya, menerawang ke arah pohon Sakura yang berada tidak cukup jauh dari sana, sedang berguguran kelopaknya. Ini sudah memasuki musim gugur. Mendekati musim dingin yang pastinya akan sangat melelahkan untuk dilalui sendirian.

"Ya, tentu. Katakan saja."

'Salah satu perusahaan cabang Uchiha di London memiliki masalah dengan pemimpinnya. Aku ingin kau pergi ke sana dan mengambil kuliah bisnis, sembari kau menjadi pemimpin disana. Aku akan mempercayakannya kepadamu, karena aku mengetahui potensimu. Terserah kau ingin menerima yang mana, apakah itu kepercayaanku, atau mimpimu menjadi seorang guru. Tetapi jika kau menolaknya, aku akan ganti mempercayakan ini pada kakakmu. Akhir–akhir ini kami memang sering bertemu.'

Kali ini, Sasuke dihadapkan pada pilihan yang sangat sulit.

Entah kenapa, yang langsung terpikirkannya saat itu adalah, bahwa dia tidak akan bisa lagi mengintip Sakuranya di setiap akhir pekan, dan entah mengapa, dia mulai merasa kesepian tanpa sebab yang jelas, hanya dengan memikirkannya saja.

"Aku… mungkin akan menerimanya…"

Tetapi bagaimanapun, menurutnya saat itu, yang terpenting adalah dia, pada akhirnya, mendapatkan kepercayaan sang ayah juga.

'Bagus. Aku akan sangat menghargainya jika begitu.'

0–

.

.

.

Bentuk cintaku… tidak memerlukan wujud.

.

.

.

.

–0–

Bertahun–tahun kemudian.

.

Di suatu sore hari yang cerah, pemuda itu meregangkan tubuhnya setelah cukup lama berdiri tegak di hadapan seorang wanita, yang akhirnya, memperbolehkan juga dirinya untuk ikut duduk di kursi panjang milik taman kota itu. Dia mengeluh. Yang paling sakit adalah kakinya.

"Uwah… Pinggangku…"

"Bicara apa kamu ini? Memangnya sudah berapa umurmu, hm?" wanita cantik di sisinya membalas, dengan sarkasme meskipun suaranya terlampau lembut. Dia menarik telinga si pemuda.

"Aw–aw! Maafkan aku, Mama, sungguh!"

"Salah kamu sih, kenapa harus merencanakan ini dibelakang Mama? Kamu pikir Mama sudah siap apa? Dasar anak nakal!"

"Iya–iya! Aku janji tidak akan begini lagi! Mama lepaskan dong, sakit loh!"

Di taman itu, di dekat pinggiran kota, Haruno Sakura duduk bersanding dengan sang putra, yang di tahun ini, sudah berusia sekitar 15 tahun. Namanya Haruno Noctis, lahir pada malam hari yang begitu cerah saat ia baru menginjak usia 17 tahun. Tidak apa. Bukan masalah. Sebaliknya, Sakura sangat tenang. Ia senang. Meskipun harus banting tulang dua kali lipat lebih ekstra untuk biaya persalinannya, tapi dia sungguh sangat senang dengan kehadiran Noctis disisinya itu. Karena 15 tahun yang lalu, Noctis adalah seorang bayi lelaki yang begitu manis dan menggemaskan. Berbeda dengan sekarang, dia adalah seorang pemuda tampan yang sepintas benar–benar terlihat seperti kopian sang ayah. Hanya saja, poninya sedikit lebih panjang dan bagian belakang rambutnya tidak semencuat sang ayah. Dia kini sedang kesakitan, memegangi telinganya yang baru saja disakiti oleh sang Mama.

Kesalahannya, memang. Sudah mencari tahu terlalu banyak tentang masalalu sang ibu, sampai bahkan dengan beraninya menghubungi mereka satu–persatu untuk kemudian dipertemukan dengan sang ibu sekarang, di tempat ini. Bukan karena jahil apalagi mau sok menjadi pahlawan, Noctis hanya merasa lelah dengan rasa kesepian yang selalu terpancar di mata sang ibu. Dan kalau kalau mempertemukannya kembali dengan sang sahabat lama bisa mengobati luka itu, Noctis akan dengan senang hati melakukannya, bahkan dengan resiko kehilangan kuping sekalipun.

"Mama jangan marah, ya?" Noctis berkedip manis, terlihat sangat menyakitkan di mata Sakura, karena itu terlihat seperti Sasuke yang tengah melakukannya. Agak… aneh. Tapi sangat lucu dan menggemaskan. Sakura menggeleng, lantas menjepit pipi pucat anaknya dan menariknya kuat–kuat sampai merintih. Dia tertawa, Noctis kemudian menyenderkan kepalanya di bahu sang ibu, sambil berkali–kali dirinya mengusap pipinya yang berdenyut sakit. Sakura melihat dan kembali tertawa. Terakhir, dia memeluk putranya dengan sayang. Mengacak rambutnya.

"Jagoan Mama ini…"

"Um. Mama–"

"–Sakura? Kau kah itu?"

"Eh?"

Dari arah belakang, suara lembut yang sangat familiar terdengar oleh keduanya, sejenak memotong apa yang hendak dibicarakan oleh si tampan Noctis. Begitu menoleh, Sakura terkejut dan yang membuatnya terkejut juga ikut terkejut dalam luapan bahagia. Itu, disana, Hinata berdiri dengan coat musim dinginnya. Begitu cantik dan tampak lebih dewasa, menawan, dan dirindukan. Sakura spontan bangkit, entah mengapa merasa begitu antusias setelah 15 tahun belakangan ini. Tidak siasia, Noctis berpikir begitu sambil ikut tersenyum, simpul. Tetapi dia tidak ikut menoleh. Hinata cepat–cepat mendekat, menyapa keduanya dengan suka cita.

"Sakura–chan… Hisashiburi! Ah… rindunya…" Dia memeluk Sakura. Keduanya seperti teletubies. Lalu setelah lepas, atensi Hinata beralih pada Noctis yang diam memandang keduanya. Jika tidak sedang berduaan saja dengan Sakura, sikap Noctis akan berubah 100% sama seperti ayahnya. Dia hanya akan diam dan membuat ekspresi setenang mungkin. Tapi kini, di wajah tenangnya itu, ada sedikit rona bahagia yang tampak jelas.

Hinata melihatnya, agak heran sedikit, lalu membungkukkan badannya dengan sopan.

"Hisashiburi mo, Sasuke–kun. Kamu sampai duluan ya? Kenapa tidak bilang kalau sudah di sini?" Di lain pihak, Noctis mulai kebingungan dengan beberapa hal, sementara Sakura mulai agak terganggu dengan kesalahpahaman ini. Sebagai pembenaran, Noctis mengangkat kedua tangannya kearah Hinata seolah menyerah.

"Ah, tidak. Begini, bibi. Aku tidak tahu kalau aku ini akan semirip itu dengan si Sasuke tersebut, tapi… Aku Noctis, anaknya Mama." Sambil ia menunjuk kearah Sakura, yang kini sedang mencoba kembali tersenyum.

Seperti yang di duga, Hinata terkejut sampai wajahnya berantakan. Berkali–kali ia melihat kearah Noctis dan Sakura secara bergantian, dan kini kenyataan mulai menamparnya keras. Ia sangat… tidak percaya.

"Sakura–chan… apakah dia… "

"Anaknya Sasuke." Sakura melanjutkan ucapan setengah itu dari Hinata. Dan dia juga mengangguk. Tetapi yang tidak diduga, adalah reaksi Noctis yang ternyata sebelas duabelas dengan Hinata. Keduanya sama–sama merasa bahwa hal itu sangatlah tidak terduga.

"Kenapa bisa… Bukankah Sasuke– sungguh… Aku tidak mengerti…"

"Tunggu, Ma. Apa Mama serius? Kenapa Mama tidak pernah bilang soal itu sebelumnya?" Noctis tiba tiba menanggalkan ketenangannya, berdiri menghadap Sakura. Dia merasa tidak percaya. Tapi, ada masalah lain yang (mungkin) lebih serius dari itu…

Sementara itu Sakura menyerah dengan situasinya, dia mengangguk untuk sang sulung, anak satu–satunya.

"Iya. Agak sulit memang untuk mengatakannya, tapi dialah orang yang selama ini selalu kita tunggu di kafe itu setiap sore. Yah, meskipun sudah 15 tahun, jelas itu artinya dia tidak akan mau berbicara dengan Mama, apalagi kalau dia juga mencintai Mama, kan? Tetapi meski begitu, Noctis, Mama benar–benar berharap kalau kamu masih mau menjadi 'kita' untuk tetap menunggunya, ya?"

"Wah… itu agak tak terduga. Tapi masalahnya, sepertinya aku juga mengundang orang itu untuk datang kemari. Selain Yamanaka Ino dan Uzumaki Naruto, aku juga mengundang Uchiha Sasuke. "

"A–apa?!"

"Sa–sakura–chan?"

0–

.

.

.

Sedikit saja, tolong lihat aku. Bukan sebuah khayalan, apalagi keajaiban. Hanya, tolong lihat aku. Tolong lihat aku, sebagai aku.

.

.

.

Atmosfer di ruangan sederhana itu terasa mencekik. Ber 4 dengan nona Yamanaka yang baru saja selesai menginterogasi 3 orang lainnya di dalam ruangan itu, mereka duduk melingkar mengelilingi sebuah meja bundar besar yang berada di tengah–tengah. Sementara Noctis tidak pernah mau jauh–jauh dari Sakura, Ino justru mulai memancarkan aura persaingan yang ketat untuk dapat terus menyender pada Sakura. Mereka memang sangat lucu, tetapi situasi mereka sesungguhnya sedang sangatlah serius. Ino masih di sisi kiri Sakura, duduk terlampau dekat dan menyenderkan kepalanya pada bahu sang sahabat. Selesai menangis. Selesai membenci kenyataan. Dan di sisi kanan, Noctis melakukan hal yang serupa. Dia sepertinya tidak menyukai bibi Ino, yang kini terlihat sangat jelas ingin merebut sang Mama.

"Noct, sudah mengkonfirmasikan perubahan tempat janjian pada paman Naruto?"

"Sudah, Ma. Tapi, apa Mama yakin, tidak mau bertemu Sasuke itu?"

"Kau ingin kuliah dimana, Sakura?" Ino menginterupsi, Ino yang masih dengan suara paraunya. Dia mencoba mengalihkan perhatian Sakura dari pertanyaan menyakitkan Noctis itu. Hinata di depan mereka, tersenyum di balik gelas Kochanya.

"Tokyo. Dokter."

"Dokter?" Hinata yang menyahut, Sakura mengangguk sambil tersenyum cukup antusias.

"Um. Aku tergerak dengan dokter yang waktu itu menangani kelahiran begitu baik, dan karenanya, Noctis bisa diselamatkan. Sungguh aku sangat bersyukur dengan jasanya waktu itu. jadi aku juga ingin menolong orang sepertinya."

"Lalu kenapa sekarang kau tidak kuliah saja? Bukankah usahamu itu sudah bisa menghasilkan uang yang cukup untuk berkuliah, kan?" Begitu, kata Ino. Tapi Sakura menggleng untuknya.

"Entah kenapa, aku merasa masih ingin menunggunya di kafe itu. Meskipun percuma, tapi aku sudah terlalu biasa untuk terus melakukan itu. " dia tersenyum. Senyumannya mengambang.

"Hinata." Sakura memanggil. Yang disebutkan mendongak.

"Ya?"

"…Sasuke…pergi?" kali ini, suaranya yang mengambang.

"Dia hanya panik. Dia berkali–kali dikecewakan. Kurasa suatu relasi takkan pernah bisa dijalaninya. Kau mengerti kan, Sakura?"

"…Untuk sekarang, tidak."

Hinata tersenyum.

Lalu, suara bel yang ditekan kemudian terdengar.

"Sakura–chan. Kurasa itu bukan Naruto–kun. Dia pasti akan menelponku sebelum sampai disini. Dia sudah berjanji." Suara Hinata agak panik mengatakan kebenarannya, lalu mereka semua spontan menoleh kearah si pemuda yang seolah tak tahu apa–apa. Tapi akhirnya, dia menjawab.

"Aku ingin bertemu ayahku."

0–

.

.

.

Akan tetapi, hatiku menangis. Sekali saja, tolong dengarkan arti perkataanku. Sedikit lagi, kau akan melihat mimpi putih itu di sudut senja. Di kafe yang tua dan aku akan selalu menunggumu. Untuk mengatakan, bahwa aku–

mempunyai buah cinta kita di rahimku.

.

.

.

.

AN:

Hai!

Sedikit informasi, saya ini sebenernya bukan Reese resek, tapi saya ini tetangganya, dan termasuk salah satu dari 100 cewe yang dia PHPin (cie elah).

Sebut saja saya 'Mawar'.

Serius. Udah berapa abad coba dia nelantarin fanfic ini? Bahkan saat terakhir kali daku bertanya kapan dia apdet, dia malah dengan wajah polos nan sok gantengnya itu menjawab "Njir. Lupa. Itu ceritanya yang begimana ya thong?" kan sadieezzz abiezzzz!

Pada akhirnya, dengan mantra "Nyet, gue laporin nih ke nyokaplo, kalo anak baeknya ini ternyata buat fanfic mesum yang bahkan temanya sangat dewasa sekali, padahal elunya masih ingusan plus bau amis, kalo lo ga apdet secepetnya juga! Gue penasaran ma kelanjutannya, coeg!" tapi amat disayangkan, selain lupa ingatan, ternyata reese resek ini juga punya otak yang lumayan (licik)

"Dek. Abang juga bisa laporin ke mamahmu loh, kalo anak baeknya ini baca fanfic begituan. Ih. Omes."

Setelah saya paksa dia dengan kekerasan selama beberapa waktu, akhirnya, dia nyerah dan baca tu 3 chapter fanficnya sambil terus mencoba mengingat bagaimana jalan ceritanya, tapi dia malah jadi makin pusing dan saya bahagia. Pada akhirnya, chapter ini dan dua chapter mendatang (Sampai chap final) kami pikirkan berdua, dan malah banting stir jadi kek gini :'D maksudnya ya gitu, biar cepet tamat. Soalnya tu anak bodoh malah lupa sama jalan ceritanya sendiri, kan kezel saya :'v

Jadi, maapkeun kami ya, kalo ceritanya malah jadi (makin) anjlok gini, hehe!

Btw, chap ini nih idenya hampir semua dari aku (makanya berasa cewe banget yah), terus yang buat naskah kasarnya selama setengah jam itu Reese resek, dan yang ngetik sama buat karangan ini ya aku juga :'D mari kita bunuh reese sama–sama, yok! Dia jadi agak konslet otaknya setelah kemaren juara satu berturut–turut tuh nilai ujiannya!

Oy, songong lu mpret!

Oh. Atu lagi. Pasti pada berasa semua ya? Iya, ada nama Karin beberapa kali kesebut jadi yang tukang ngejek, pas adegan Sakura di sekolah pertama kali, dan yang seterusnya. Itu sebenernya kesalahan Reese, taulah, kan seharusnya Karin itu udah modar. Itu sebenernya karena Reese yang sok–sok an mau ganti ponakan Sakura yang awalnya itu Karin, tapi diganti jadi shion. Dan dia gantinya gak bener, oy!

OYE! SEBAGAI PERMINTAAN MAAF REESE UNTUK READER SEMUA YANG UDAH DI PEHAPEIN SAMA DIA, REESE (KAYANYA) JANJI BAKAL APDET CEPET DAN BAKAL NGELANJUTIN ARC CERITA INI DI JUDUL FANFIC BARU BIAR CERITANYA LEBIH NYAMBUNG, SETELAH FANFIC INI KELAR NANTINYA! TENANG, TINGGAL 2 CHAPTER LAGI!

Dan sebagai hadiah kedua, kami juga bakal open Q&A seputar fanfic ini, reese yang resek, saya yang gahool (uhuk canda) dan yang lebih penting, tentang next fanfic yang bakal kami buat (jie ileh)

Rencananya sih, kami mau buat cerita yang masih berbau dewasa. Tapi bingung, kan ini hadiah tuh buat readernya sensei or master?, jadi kalian sebenernya bisa nentuin tuh genre atau garis besar ceritanya kek mana.

Semisal, "Thor, ceritanya tentang cinta segi banyak gitu, terus sasukenya detektif efbi–ai, dan kalo sakuranya itu adalah cewe yang harus dia lindungin."

Nah, kek gitu. Kalo untuk Q&A nya, missal, "Thor jelek, situ jomblo? Ngenes gak?" atau "itu sasukenya bakal minta jadian gak ya? Noctis dari final fantasy xv kan? Dasar gamer lu!" dan lain lain,

Okeh. Sekian aja dulu deh ya, dedek capek.

Babay! Review ya! (InsyaAllah, sabtu/minggu kami bakal apdet, kalo paket ga keburu krisis ya!)