-Hari kelima-

"kau tau Kyu, orang luar sangat menyukai masakan Korea. Meraka juga mengkreasikan jajangmyeon. Lain kali kau harus ikut denganku berkeliling dunia…"

Changmin bercerita panjang lebar sepanjang perjalanan mendaki bukit belakang sekolah mereka dulu, dengan Kyuhyun yang bersemangat mendengarkan. Mendengarkan cerita dunia seperti membaca buku cerita yang tidak mempunyai ending. Dan bagi Kyuhyun itu sangat-sangat menyenangkan.

"Kibum hyung.." Minho memanggil Kibum yang berjalan di sampingnya tanpa menoleh. "apa Kyuhyun hyung benar-benar ada disini?"

Kibum diam menanggapi Minho. Memandang Kyuhyun yang berjalan beriringan dengan Changmin. Dia meyakini dengan sepenuh hatinya, Kyuhyun sungguh ada disini, bersama mereka. Tapi Kibum juga paham bukan hal yang mudah meyakini sesuatu yang abstrak. Terlebih Kibum mengatakannya secara mengejutkan, secara dadakan meminta mereka untuk mendaki bukit karena Kyuhyun menginginkannya.

"aku sebenarnya masih belum percaya. Tapi melihat betapa Changmin hyung terlihat antusias, aku rasa tidak ada salahnya mempercayai apa yang hyung ucapkan." Minho mengatur nafas, lama tak mendaki membuatnya mudah payah. "apa Kyuhyun hyung sudah memaafkanku?"

Kibum tersentak masih dalam diamnya. Pertanyaan Minho padanya, lebih patut menjadi pertanyaan Kibum untuk dirinya sendiri. Apa Kyuhyun sudah memaafkannya?

Kibum kembali mendalami tatapannya pada bocah kecil yang berjalan beberapa meter di depannya. Kyuhyun tersenyum sangat lepas. Mungkinkah wajah seperti itu menyimpan dendam?

"Minho ya" Kibum berhenti berjalan. "untuk saat ini, bisakah kita hanya menerima dan menikmatinya?" Kibum tersenyum untuk pertama kalinya setelah sekian lama.

"wuah.. Hyung, Kibum hyung! Palli! Itu rumah kita, hyung! Rumah kita kelihatan kecil dari sini" kyuhyun berteriak dari atas bukit. Melambaikan tangannya memanggil Kibum hyungnya yang masih berjalan mendaki.

Kibum tersenyum semakin lebar, langkahnya mulai dipercepat untuk mencapai puncak. "Kyunnie, hati-hati. Jangan berdiri di pinggir. Kau bisa terperosok"

"apa dia sedang berjalan di pinggir, Kibum? Kyuhyun! Wah, kau sangat berani sekali sekarang, ya.." Changmin ikut berteriak. Meneriaki sembarang arah karena memang dia tidak bisa melihat posisi Kyuhyun.

Dan Minho yang mengamati serasa melihat dua interaksi remaja gila. Haruskah dia juga ikut gila untuk bisa menikmati momen ini?

Minho tersenyum begitu lebar, tanpa harus berpikir keras dia sudah menemukan jawaban atas pertanyaannya sendiri. "yah, Kyuhyun hyung! Tunggu aku!"

.

"aku akan segera berangkat ke India. Kalian tau, makanan disana terkenal sangat pedas dan wanita disana terkenal sangat eksotis. Bukankah itu perpaduan yang menakjubkan?"

Kyuhyun, Kibum dan Minho hanya tertawa menanggapi Changmin. Semakin dewasa nyatanya otak Changmin semakin miring.

"aku juga harus kembali ke Seoul untuk menyiapkan debutku. Kyuhyun hyung, aku berjanji akan menjadi boyband setenar Super Junior."

"hem!" Kyuhyun menjawab dengan yakin. Minho pasti akan menjadi penyanyi terkenal seperti boyband favoritnya.

Langkah mereka berhenti di perempetan gang. Perjalanan sehari mereka akan sampai disini.

"apa kita sungguh akan berpisah?" Minho tentu tak rela. Berpisah lagi setelah sekian lama akhirnya dapat kembali berkumpul.

Changmin menjitak kepala Minho. "pabbo, jangan membuat suasana menyendihkan. Kyuhyun, tunggu aku. Akan kubawakan makanan yang jauh lebih enak daripada jajangmyeon kesukaanmu." Changmin menunjuk arah samping Kibum, berbicara seolah Kyuhyun berdiri disana.

"dia ada didepanku, Chang" Kibum menanggapi Changmin yang nampak bodoh, menghasilkan kembali gelak tawa.

" Dan kau Kibum, kau akan menjadi batu jika lebih lama lagi menjadi pemalas"

"hem" Kibum membalasnya dengan malas.

Keadaan kembali diam. Meski mulut mereka tak bersuara, saling berdalih untuk tidak bersedih namun masing-masing jelas paham apa yang dirasa.

"jja, sampai ketemu di liburan berikutnya" Changmin akhirnya membuka suara,

"hem, sampai jumpa lagi" Minho menimpali.

Mereka saling tersenyum sekali lagi.

Changmin memutar tubuhnya, berjalan lurus dari perempatan menuju rumahnya. Meski tak rela perpisahan memang selalu menjadi hal yang harus dilalui. Karena dengan perpisahan, Changmin yakin akan ada sebuah pertemuan baru.

Minho berbelok ke kanan. Berjalan mundur karena setengah hatinya masih ingin lebih lama lagi untuk bersama. Dia tidak begitu yakin liburan berikutnya –yang entah kapan- mereka masih bisa bertemu. Tapi untuk tinggal pun dia tak bisa, jadwal latihannya sudah disusun padat dan tidak dapat diatur ulang. Selamat tinggal, hyung. Hingga kalimat menyerah dan perpisahan terucap dalam hatinya. Memutar langkahnya, Minho mulai berjalan lurus. Entah hari ini nyata atau tidak, Minho tak ingin memikirkannya dan akan dia simpan sebagai ingatan. Seperti kesalahan masa kecil yang pernah dia buat.

Kibum beralih mengamati Kyuhyun yang tersenyum begitu lebar, melambai-lambaikan tangannya melepas kedua sahabat mereka.

"ayo pulang" Kibum menjulurkan tangannya.

Dan Kyuhyun menyambut tangan yang sekarang jauh lebih besar darinya tersebut. "ayo pulang, Kibum hyung"

.

.

Chapter 4

Melawan logika

.

Kibum berjalan ditemani cahaya lampu jalan yang temaram. Tangannya saling dikaitkan di balik tubuh dengan punggung yang sedikit membungkuk. Seperti sedang menggendong, tapi terlihat tak sedang menggendong.

"kibum hyung," cicitan terdengar dari mulut mungil Kyuhyun yang sedang menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang hyung. Matanya tertutup, antara mengantuk dan menikmati gendongan ala piggy bag dari orang yang sangat dirindukannya. "Changmin, Minho.." Kyuhyun menggantungkan kalimatnya. Sekedar untuk menghirup wangi Kibum yang dia rasa sudah berubah. "aku ingin terus bermain dengan kalian sampai kita tua nanti"

"ya" satu kata dengan nada menggantung keluar dari mulut Kibum. Meski tak yakin, Kibum hanya perlu memaksakan diri untuk percaya bahwa mereka akan selalu bersama. Melupakan kalimat 'sampai kita tua' yang berarti 'tumbuh tua bersama' yang diucapkan Kyuhyun.

Hingga langkah Kibum terkejut. Pandangan di depannya seolah melawan kepercayaan yang barusaja mulai Kibum bangun.

Merasa ada yang aneh, Kyuhyun mengangkat kepalanya dari bahu sang sang hyung. Menatap Kibum yang ekspresinya mulai mengeras dengan sorotan tajam menghadap tepat ke depan. Mengikuti arah pandang itu, Kyuhyun menatap teras rumah mereka. Disana berdiri dua orang yang juga sangat dia rindukan.

"eomma! Appa!" Kyuhyun meloncat dari gendongan Kibum. Berlari menghambur untuk memeluk tubuh penuh kehangatan milik orangtua mereka. Tentu tanpa eomma dan appa mereka rasa dan lihat.

Sedang Kibum masih diam membantu. Jangankan untuk memeluk, untuk mendekati salah satu diantara merekapun dia enggan. Tanpa sadar Kibum telah mengepalkan kedua tangannya, begitu kuat hingga buku-buku telapak tangannya memutih.

"hyungie..hiks" suara isakan Kyuhyun tiba-tiba terdengar di telinga Kibum.

Ingatan itu, seolah menampar Kibum tentang kenyataan bahwa hari-harinya bersama Kyuhyun beberapa waktu ini adalah imajinasi yang dia bangun.

"hahaha. Lihat, bahkan Kibum meragukanmu, Kyu. Hahaha."digantikan suara gelak tawa dari seorang lelaki paruh baya.

Kedatangan seseorang itu, seolah menyadarkannya tentang kesalahannya. Kesalahan hingga menghilangkan-

Kibum bahkan tak berani berpikir lebih jauh tentang 'kehilangan'. Untuk itu Kibum memilih untuk berjalan mundur dan mulai berlari menjauh. Bersama dengan hujan di musim panas yang tiba-tiba turun, dia berharap dapat melupakan semuanya. Dan ketika hujan nanti berhenti, Kibum akan menemukan kebahagiannya kembali.

.

.

Tbc

.

Kalian punya akun facebook atau naver kan? Jangan lupa vote suju di .com. Kita perlu masuk sepuluh besar untuk ikut tahap selanjutnya. Warning: peringkat sekarang masih turun naik antara posisi ke-10,11 dan hanya tersisa 3 hari sampai voting di tutup.

Ah, bahkan Eunhyuk mengatakan 'ELF sudah tua' jadi tak masalah jika kita sudah tidak bisa voting (gaptek). Haha. Inilah yang terjadi ketika fans dan idol sudah tumbuh tua dan dewasa (serta menggila) bersama.