-Hari keenam-
Mereka malakukan aktivitas sarapan pagi bersama layaknya keluarga pada umumnya.
Munafik.
Kibum menyunggingkan satu senyum miris melihat bagaimana kedua paruh baya di depannya bertingkah. Di satu sisi meja makan, duduk seorang kepala keluarga yang sibuk dengan tab dan segelas kopi pahitnya. Dengan seorang ibu rumah tangga yang sedari tadi sibuk mondar-mandir menyiapkan makanan. Ibunya nampak menikmati momen ini. Tidak sadarkan ibunya, bahwa keadaan keluarga mereka tak lagi sama? Tidak ingatkah ibunya bahwa mereka tidak lagi dapat dikatakan sebuah keluarga sejak surat cerai itu resmi dikeluarkan?
"hyung, aku ingin mengobrol dengan eomma dan appa~" Kyuhyun dari tadi merajuk. Berdiri di dekat Kibum sambil memohon agar Kibum mengatakan pada orangtua mereka tentang kehadirannya. "hyungie.."
Kibum tak merespon. Lagipula dari awal dia sudah memperingatkan Kyuhyun untuk tidak menunjukkan eksistensinya pada kedua orangtua mereka. Lebih baik orangtuanya tidak tau tentang keberadaan Kyuhyun, akan jauh lebih baik jika Kyuhyun juga tidak tau tentang kenyataan pada keluarga mereka.
Aktivitas sarapan dimulai ketika ibunya sudah ikut duduk di kursinya.
"makanlah yang banyak" nyonya Kim tersenyum begitu hangat sambil meletakkan satu lauk di piring Kibum.
Menghasilkan ekspresi keterkejutan dalam diam dari tuan Cho dan Kibum.
Bukan hal yang aneh jika seorang ibu menaruh lauk pada piring anaknya, terlebih jika lauk tersebut merupakan makanan favorit sang anak. Telur setengah matang, adalah makanan favorit Kyuhyun.
"eomma, aku juga mau telur setengah matangnya" Kyuhyun berteriak, menghentak-hentakkan kaki telanjangnya ke lantai. Hingga dirinya mulai marah karena merasa tak dianggap. "Hyung! Kau tidak boleh memakannya. Itu jatahku!" Kyuhyun menampik sendok yang dipegang Kibum hingga terjatuh ke lantai. Meninggalkan suara berdenging di tengah suasa hening sarapan mereka.
Diam beberapa saat hingga Kibum membungkuk hendak mengambil sendoknya yang terjatuh.
"jangan diambil aegiya, eomma akan mengambilkan sendok yang bersih" nyonya Kim mulai beranjak ke dapur untuk mencari sendok yang tersisa. Karena memang sudah tak banyak perabotan makan yang tertinggal di rumah lama mereka.
"anda tidak perlu bersimpati pada saya" Kibum menatap kosong sendok kotor yang ada di tangannya. Berbicara formal pada ayah yang tidak ingin diakuinya sebagai ayah. Kibum tau ayahnya pasti terkejut dengan perlakuan ibu terhadapnya. Bagaimana ibu memberikan makanan favorit Kyuhyun padanya, bagaimana ibu memanggil panggilan manja Kyuhyun padanya.
Nyonya Kim mengganti sendok yang digenggam Kibum dengan sendok bersih, "jja, sekarang kita bisa mulai acara sarapan bersama kita" masih dengan senyum yang terus berkembang, wanita paruh baya itu kembali duduk.
Keadaan kembali tenang. Bahkan Kyuhyun tak kembali merecok. Bocah kecil itu masih membatu di tempatnya berdiri. Menatap terkejut dan tak percaya hingga kalimat 'apa yang sebenarnya terjadi' menjadi buah tanya besar baginya.
Kibum memecahkan kuning telur yang ada di piringnya. Mengakibatkan cairan kental berwarna kekuningan keluar dari dalamnya. Menjikkan. Perutnya sampai terasa mual melihatnya.
Tak mampu berkata apapun, Tuan Cho hanya memandang sedih keadaan keluarga yang ditinggalkannya. Matanya bergulir pada kursi kosong di sisi kirinya. Otaknya mulai berandai, membayangkan akan seperti apa keluarga ini jika anak bungsunya masih menempati kursi makannya?
Meletakkan sendoknya, tuan Cho berhasil membuat atensi ketiga makhluk dihadapannya menatap padanya. Sebenarnya dia tak sengaja melakukannya, hanya untuk mengusir pikiran masa lalu yang tiba-tiba menggerayami otaknya. "aku sudah kenyang. terimakasih atas masakannya" merasa perlu bersifat formal, dia mengucapkan terimakasih. Selanjutnya, atensinya menghilang di balik pintu kamarnya. Tuan Cho merasa perlu menjernihkan pikirannya, dan mendengarkan suara istri serta anak balita selalu menjadi cara jitu di saat seperti ini.
.
Tuan Cho menghentikan mobil sewanya di jalanan sepi tengah ladang. Dia merasa perlu berbicara dengan mantan istrinya diluar rumah.
Nyonya Kim masih menatap kosong luar. Dirinya baru tersadar ketika tuan Cho membuka jendela dari tombol otomatis pengemudi. Angin semilir menerpa wajahnya yang sudah mulai muncul keriput. Matanya menutup merasakannya. Begitu menenangkan.
Tuan Cho menatap sekilas nyonya Kim sebelum tatapannya kembali mengarah pada ladang yang membentang di hadapannya. Begitu hijau dengan daun-daun yang melambai tertiup angin. "kau nampak jauh lebih tenang sekarang"
Nyonya Kim terdiam beberapa saat sebelum kembali membuka matanya dan menjawab "sudah sangat lama sejak semua terjadi"
"kau sudah mengikhlaskan Kyuhyun?" rasanya sudah sangat lama dia tidak mengucapkan nama itu. Membangkitkan kenangan dan ingatan masa lalu. Senyum sehangat matahari Kyuhyun, wajah cerianya, rambut ikal cokelat yang akan bergoyang ketika dia meloncat karena senang, pipi gembilnya, bibir mengerucutnya. Kenapa aku dulu tak menyadarinya. Kyuhyun-
"aku hanya mencoba menerima semuanya. Bahkan sejak sebelum Kyuhyun pergi" Nyonya Kim hanya seorang ibu dan seorang istri yang mencoba tegar, paling tidak ketika dihadapan anak-anaknya. Luka itu masih ada. Dan kembali menganga ketika mantan suaminya mengungkitnya.
Masih teringat dalam rekamnya, bagaimana suaminya mengatakan ada wanita lain yang mengisi hatinya, mengucapkan niatanya untuk berpisah dan membagi hak asuh si kembar. Nyonya Kim bahkan masih ingat bagaimana tuan Cho dengan tenangnya mengucapkan hal itu. Dalam hal ini nyonya Kim merutuki ekspresi datar milik mantan suaminya itu. Dan nyonya Kim lebih merutuki dirinya yang lebih bodoh, dirinya yang biasanya sangat emosional, entah kenapa waktu itu hanya mampu diam. Dia hanya berucap agar tuan Cho memikirkan ulang dan tidak membahasnya di depan anak-anak terlebih dulu. "aku tidak menyangka keputusanku untuk mencoba merelakanmu pergi justru membuatku harus merelakan Kyuhyun pergi". Satu airmata meluncur begitu saja dari pipi putih nyonya Kim.
"maaf.." hingga hanya satu kata itu yang mampu keluar dari mulut tuan Cho. Semua kesalahannya.
"jika saja pagi itu aku tidak hanya tinggal diam-" suara nyonya Kim tercekat di tenggorokan dengan segumpal penyesalan yang mengganjal di dadanya. Airmata sudah bukan hanya menetes satu dua, tapi sudah beranak pinak menjadi aliran sungai di pipinya. Menghasilkan isakan dan tangisan keras dari seorang ibu.
Perlahan, tuan Cho menggiring tubuh bergetar itu dalam pelukannya. Dia paham dia yang memulai luka, dia yang memperdalam luka, dia yang meninggalkan luka itu tanpa diobati, dia juga yang mengorek luka itu lagi. "maafkan aku.."
Tujuan awal tuan Cho mengajak nyonya Kim berbicara adalah meminta wanita yang pernah menemani hari dan hatinya itu untuk menerima kepergian Kyuhyun dan tidak menganggap Kibum sebagai Kyuhyun. Tapi sekarang dia sadar, mantan istrinya itu memang sudah menerima bahwa Kyuhyun pergi, tapi belum sampai pada taraf mengikhlaskan. Terlalu sulit bagi seorang Kim Hanna untuk menanggung semuanya.
.
.
Chapter 5
Lingkaran Besar dan Lingkaran Kecil
.
"twingkel-twingkel little star. Wo ai eng eng bot you are…"
Kyuhyun terus bernyanyi lagu bahasa inggris dengan lirik yang hampir sepenuhnya tidak dia mengerti. Tangannya sibuk menggambar bintang dengan crayon warna-warni pada dinding kamarnya yang bercover birunya langit dan putihnya awan.
"Kyuhyun"
Anak berusia sepuluh tahun itu menoleh mendengar namanya dipanggil. Mata bulatnya menatap tanya hyungnya yang duduk di ujung tempat tidur dan menatap kosong langit malam.
"apa kau akan menghilang setelah perayaan kematianmu besok?"
Kyuhyun terhentak dengan pertanyaan frontal kakaknya. Dia tak pernah memikirkan itu. Beberapa hari ini dia hanya merasa senang. Rasanya seperti mendapatkan permen kapas ketika kau sedang sangat ingin memakannya. Mengangkat bahu, Kyuhyun menjawab pertanyaan Kibum. Gesture yang mengartikan 'tidak tau' dan 'tidak mau tau'.
"one two" Kyuhyun melanjutkan bersenandung. Kali ini dengan lagu dengan nada tak jelas yang dia ciptakan sendiri.
"keluarga kita tak lagi sama" masih dengan menatap kosong langit, Kibum berucap.
Kyuhyun kembali memberikan atensi pada sang kakak. Kali ini dirinya memilih meletakkan crayonnya di lantai dan menggeser sedikit duduknya di lantai untuk menghadap sang kakak.
Namun hingga beberapa saat, Kibum masih terus diam. Kyuhyun kira kakaknya itu akan bercerita tentang keanehan yang dia juga rasakan terhadap perubahan keluarganya. Namun nyatanya kakaknya itu masih betah dalam lamunannya.
Menyerah, Kyuhyun memilih mengambil kembali crayonnya dan kembali menggambar bintang. Ini lebih mengasyikkan daripada menunggu hyung kutubnya itu berbicara. "appa aneh, eomma juga, bummie hyung juga. Appa berubah, eomma juga. Bummie hyung juga berubah"
Kibum masih tak merespon.
Mata Kyuhyun masih memilih memberikan atensinya pada mewarnai bintang.
"Kibum hyung semakin cuek". Kyuhyun tau bummie hyungnya memang sedari dulu cuek, terkesan dingin seperti es. Tapi entah kenapa Kyuhyun merasa cueknya Kibum yang dulu dengan sekarang itu beda.
"kau juga berubah"
Kyuhyun menatap protes Kibum. Dia merasa tidak berubah. Masih menjadi anak imut, terkesan manis dengan setelan piyama bermotif Pikachu yang selalu dia pakai.
"sejak kapan kau memanggilku hyung?"
Menjawab pertanyaan Kibum, Kyuhyun memilih berdiri dan berlari kecil ke depan hyungnya. Berdiri menghadap hyungnya yang sedang duduk di pinggir tempat tidur. "itu karena sekarang hyung sudah tumbuh sanggggggat besar." Kyuhyun merentangkan kedua tangannya, membuat bentuk lingkaran dengan gerakan tersebut. "Hyung sudah menjadi hyungku sekarang"
Dalam diamnya Kibum tersentak. Benar. Mereka sudah sangat berbeda sekarang, sudah tak mempunyai bentuk tubuh seperti sepasang kembar. Jika dihitung umur, mereka seperti kakak adik pada umumnya. Bahkan ketika saat ini, Kyuhyun berdiri di hadapannya (dengan dirinya pada posisi duduk), tinggi Kyuhyun masih kurang dari dirinya.
Naik ke atas kasur, Kyuhyun beranjak untuk duduk di pangkuan Kibum. Mata selelehan caramel itu menatap dalam mata kelam milik Kibum. Kyuhyun tersenyum kemudian melingkarkan kedua tangannya di punggung Kibum –memeluk erat sang hyung-. Kepalanya disandarkan pada bidang dada tegap milik Kibum. Matanya tertutup menikmati kehangatan yang entah bagaimana dapat dia rasakan.
Kibum masih hanya diam. Kyuhyun yang memeluknya terasa begitu nyata, namun juga tak nyata. Perbedaan yang barusaja diutarakan Kyuhyun menydarkan dirinya bahwa adiknya itu memang seharusnya telah lama pergi. Adiknya itu seharusnya hanya dapat dia lihat melalui selembar foto, dapat dia rasakan kehadirannya melalui sepenggal memori.
Kyuhyun sekarang seperti gambar bintang dengan latar langit biru seperti yang bocah itu gambar di dinding kamarnya. Tidak seharusnya berada di tempat yang sama.
"tapi aku masih sangat menyayangimu, hyung."
Hati Kibum berdenyut menenangkan. Perlahan senyum muncul di bibir horizontal milik Kibum.
Kibum ikut memeluk erat Kyuhyun. Meski telah berbeda, kembarannya itu masih akan selalu ada disini. Jadi kenapa dia tadi sempat meragukan Kyuhyun yang mungkin saja akan pergi setelah perayaan meninggalnya besok? Jadi kenapa Kibum sempat berpikir akan jauh lebih baik jika Kyuhyun menghilang?
.
.
Tbc
.
Ada yang merasa aneh dengan chapter ini? Aku hanya mengcopy-paste, sedikit ngetik dari tulisan acak kadul ku dulu. Biarlah. Aku ingin segera menyelesaikan ff ini. Rasanya ingin hiatus ketika melihat penulis-penulis KiHyun yang sudah menghilang.
Jadwal SJ returns tiap senin-jumat jam 9. Mohon jangan me-reup videonya. Tonton langsung melalui situs resmi v-live atau naver. Mendaftarnya mudah, cukup download app v-live, sign up dengan akun fb pun bisa.
