Naruto, seorang pemuda empu dari surai pirang jabrik serta sepasang iris biru sapphire. Ia saat ini tengah menatap kedepan, menerawang kembali kilas balik yang terjadi hingga saat ini. Harus diakuinya, semua hal yang telah terjadi berjalan dengan sangat cepat juga benar-benar diluar akal sehatnya.

Merasa seperti sampah, ia tak berguna sebagai kakak, karena tak dapat melindungi adiknya sendiri, serta menatap adiknya yang dibunuh tepat didepan matanya...

Ia masih ingat betul, tentang apa yang telah terjadi pada saat itu...

...

"Mati...".

Mau tak mau, Naruto harus melebarkan matanya tatkala menatap kedepan, yang menyajikan tontonan yang tak pernah ia bayangkan seumur hidupnya...

Adiknya tewas...

Naruto, seorang pemuda bersurai pirang jabrik tengah menatap nanar kedepan seolah tak percaya akan apa yang telah terjadi dihadapannya, yang terjadi pada sang adik, tombak cahaya telah menusuk perut adiknya.

Kejadian itu terjadi dan berlangsung begitu cepat, sepasang iris sapphire miliknya bergetar hebat, melebar, serta memanas, kejadian itu benar-benar tak pernah terbayangkan olehnya, hal yang diluar akal sehat manusia normal.

Namun dengan kemarahan dan kebencian yang terpendam, apa yang mau dilakukan olehnya, dia tak mungkin mengalahkan makhluk superior dihadapannya, pikirannya terus berkecamuk, dilema dengan apa yang akan dilakukan, sebelum akhirnya...

Perlahan namun pasti, sesosok gadis bersayap gagak mulai merubah direksi pandangan matanya, tepat kearah dimana dirinya kini sedang bersembunyi.

Mata Naruto melebar serta bergetar, gagak itu kini tengah tersenyum kearahnya, tak mau ikut meregang nyawa, dirinya secara tak sadar mulai melarikan dirinya dari sana, tak peduli bahwa kini ia tengah memasuki kawasan hutan.

Ironisnya, ia bahkan tak peduli pada adiknya yang tengah terbujur kaku...

Namun, bagai elang yang telah membidik target, gadis gagak itu mengejar pemuda pirang ini, tak peduli sejauh apa kakinya melangkah, gadis itu kini tengah terbang mengejarnya seraya tangannya yang menjinjing sebuah tombak yang sama, yang juga menembus kulit adiknya...

Merasa yakin bahwa targetnya telah masuk kearea serangannya, gadis gagak itu melempar tombak cahaya itu, sama seperti yang dilakukannya pada Issei...

Crash...

Tombak itu, kini telah bersarang di tubuh pemuda yang malang itu, jutaan kupu-kupu bersayap kaca terbang memasuki luka, mengaduk perut si pirang. Kakinya tak mampu untuk membantunya berdiri, matanya di paksa untuk terpejam, memaksanya hanya dapat menerima pilihan untuk menikmati aliran rasa sakit yang menjalar keseluruh tubuhnya...

Hingga akhirnya, dirinya hanya dapat melihat kehampaan yang gelap, sebelum semuanya menjadi putih...

"Naruto, bangunlah..." Tiba-tiba terdengar suara yang bergema, memekakan telinga milik Naruto.

Merasa dirinya dipaksa untuk segera terjaga dari tidur lelapnya, Naruto membuka matanya lalu mengerjapkannya mencoba menyesuaikan keadaan matanya untuk menerima cahaya yang hampir terlampau terang untuk dapat ditangkap oleh matanya, hingga akhirnya dia menangkap gambaran seorang pemuda yang terlihat sedikit lebih tua darinya yang memiliki surai coklat (Saya buta warna, jadi maaf kalau salah).

"Eh... Dimana aku? Dan suara siapa itu? Siapa kau?" Ujar Naruto yang mulai mengoceh tak jelas, dengan tumpukan pertanyaan yang muncul dibenaknya.

"Aku adalah kau... dan kau adalah aku..." Ucap sosok itu menggantung, lalu melanjutkan ucapannya setelah sedikit waktu jeda "Aku adalah Ashura, The Great Sun... Sang putra kedua milik Surga...".

Naruto hanya mencoba untuk diam dan mendengarkan dengan baik, karena dia tak dapat menerima dan mencerna tiap-tiap perkataan sosok didepannya dengan baik. Sungguh, semua hal yang terjadi saat ini diluar logikanya, tak masuk akal... Tidak! Lebih dari itu, bahkan pemuda pirang ini tak dapat menjelaskan apa yang saat ini terjadi.

"Kulihat dirimu dalam keadaan yang sangat menyedihkan, padahal kau adalah reinkarnasiku... yang terakhir..." Perlahan sosok itu mulai mendekati Naruto serta menatap mata Naruto dengan mantap, lalu mengarahkan tinjunya kedepan kearah Naruto (Seperti pas Naruto dan Bee yang lagi bro fist).

"Hm?... Apa maksudmu?" Tanya Naruto dengan penuh tanda tanya.

"Lakukan saja dan jangan banyak protes, lihat dan saksikan apa yang akan terjadi..." Ucap sosok itu kepada Naruto dengan penuh keyakinan dimatanya.

"Yah... Baiklah... Terserah..." Lalu kedua tinju itu menyatu, hingga akhirnya Ashura terserap kedalam jiwa Naruto.

"Argh..." Terdengar teriakan yang menggema keseluruh penjuru ruangan, setelah terserapnya Ashura, perlahan rasa panas menjalar ke kulit Naruto, membuat tubuhnya terasa terbakar oleh sinar matahari itu sendiri.

"Mulai saat ini, kau adalah Manifestasi dari..."

Terdengar suara Ashura yang terdengar disela-sela teriakan Naruto, namun Naruto tak peduli dengan hal itu, rasa sakit yang menjalar keseluruh tubuhnya, telah mengambil semua perhatian otaknya.

"The Great Sun, One Who Shines On All..."

Semua kembali menjadi gelap, sebelum akhirnya mata pemuda itu kembali terbuka, lalu mencoba berdiri dan menatap sekitar, demi mengobservasi keadaan, serta mencari jejak dari sosok gadis gagak yang telah membunuh adiknya dan Hampir membunuh dirinya.

Namun nihil, sang gadis gagak telah menghilang terlebih dahulu dari jarak pandangan yang dapat dijangkau pemuda pirang ini.

"Tch..." Hanya decihan kesal yang dapat dikeluarkan pemuda ini, sembari mengeratkan genggaman tangannya, hingga kuku-kuku miliknya memutih.

Tanpa menyadari bahwa dirinya saat ini tengah terbungkus oleh aura keemasan...

...

Dan kini, ia merasa bahwa dirinya cepat atau lambat akan kembali berurusan dengan hal-hal diluar logikanya kembali, tatkala menatap pendar aura hijau yang keluar ditangan Asia, Asia Argento tepatnya. Dilain hal, dia masih bertanya-tanya kenapa Issei masih hidup saat ini, apakah semua itu hanyalah mimpi belaka?

"Asia-chan, aura hijau apa itu?..." Tak ingin tersiksa dengan ribuan pertanyaan yang menghantui pikirannya, Naruto mencoba untuk bertanya pada gadis pirang yang terlihat cukup—tidak, tapi sangat imut—didepannya.

"Ini adalah berkah dari tuhan, Naruto-san..." Balas Asia cepat, sembari menolehkan kepalanya yang menampilkan senyum indah yang terpatri diwajahnya.

"Begitu ya, Tuhan—Argh..." Tanpa Naruto duga, sang adik menjerit sembari memegang kepalanya ketika selesai menucapkan kata Tuhan, menahan rasa sakit luar biasa yang tengah melanda kepalanya.

"Issei, kau tak apa-apa?..." Naruto segera mengarahkan direksi pandangannya kearah sang adik, dengan kekhawatiran yang sangat kentara memancar disepasang manik sapphire miliknya.

"Y...Ya... Aku baik-baik saja, ta...tapi, aku tidak tahu, kenapa rasa sakit itu, tiba-tiba mencengkram kepalaku..." Ujar Issei jujur.

"Ya... sudahlah lupakan saja... Ayo, Asia..." Naruto melanjutkan langkahnya, tanpa ambil peduli pada Issei yang sedang berlutut sembari memegangi kepalanya, lalu memegang tangan Asia.

"A...Ah... Ba...Baiklah, Na...Naruto-san..." Ucap Asia terbata. Malu, ya... Dia merasa sedikit malu-malu dengan apa yang pemuda Hyoudou pirang itu, lakukan. Dan hal itu terlihat dengan jelas pada wajahnya yang memerah...


One Who Shines On All

Desclaimer :

Bukan Punya Saya.

Summary :

Keduanya hanyalah seorang manusia, terlahir sebagai manusia. Bukanlah seorang makhluk superior, namun tercipta dengan sempurna. Ada, sebagai harapan terakhir mereka, sebagai penerang jalan di dunia, dalam takdir kejam dunia ini.

Warning :

Segala kekurangan ada disini.

Tolong Bimbingannya, soalnya ini First FanFiction buatan saya \(^ ^'')

Pair ?

Naruto X ... (Ada saran?)

Sasuke X ... (Ada saran?)

No Harem... Tapi, mungkin sih...

Banyak yang kasih saran Naruto X Gabriel, niat awal juga gitu sih ~

Tapi saya kepengen masukin Irina :3, menurutku dia itu Kawai ~, ah... dilema...

Soalnya buat FF pake Harem itu susah kayaknya :v, keinget pas maen game Persona aja susah pas mau ngatur S. Link ama cewek-ceweknya :3

Jangan menyarankan Rias, Akeno, Sona, ataupun cewek-cewek iblis terkutuk itu... Sudah terlalu mainstream... Juga no fem version dari para cowok-cowok di kedua anime ini, walaupun fem version, dimata saya itu tetap bernilai "YAOI".


Thanatos, In!

.

.

"Ise..." Ucap Naruto yang memecah keheningan, yang terjadi diantara kedua pemuda itu ketika sedang berjalan bersama kesekolah.

"Apa?..." Respon Issei cepat dengan nada malas yang kentara didalamnya, karena memikirkan yang terjadi sepanjang perjalanan, matanya menatap bosan kepada gadis-gadis yang menatap kakaknya, tanpa sedikit pun menoleh pada dirinya.

"Kenapa kau tadi sedikit gelisah disekitar gereja tua itu?" Naruto langsung to the point, yang seketika mengejutkan batin Issei.

Seketika terjadi perubahan yang sangat jelas pada sang Sekiryuutei zaman ini, wajahnya memucat disertai dengan keringat dingin yang mengalir hebat dari kepalanya, mulutnya terbata, pikirannya kalut dengan berbagai pilihan yang mungkin dapat dipilihnya 'Bagaimana ini? Kasih tahu atau tidak? Hah... Memikirkan ini benar-benar membuatku sedikit sakit kepala—' belum selesai berkutat dengan pikirannya, Naruto telah menyela terlebih dahulu.

"Hahaha... apakah kau teringat dengan dosa-dosa yang tercipta akibat pikiran-pikiran bejatmu itu?" Tawa Naruto pecah ketika mengeluarkan kata-kata ini dari mulutnya.

"Yah, begitulah... Hahaha..." Issei mengangguk, sembari menggaruk bagian kepala belakangnya yang tak gatal 'Huh... kukira kakak mengetahui sedikit tentang dunia supranatural, tapi... aku sedikit merasa bersalah, karena telah mentupi hal besar seperti ini pada kakak...'.

"Kalau kau butuh sesuatu, bilang saja padaku..." Naruto berujar dengan nada datar, lalu pergi meninggalkan Issei yang kini kembali pada melamun, melanjutkan pergulatan otaknya dengan pikirannya.

...

Issei yang ditinggal Naruto mulai kembali dari pikirannya, kesadarannya telah kembali muncul kepermukaan, membuatnya menyadari satu hal, bahwa...

"Sial, aku terlambat..."

.

One Who Shines On All

.

Seorang pemuda bersurai pirang jabrik dengan sepasang iris sapphire, melangkahkan kakinya melewati jalan-jalan diperkotaan yang cukup ramai, oleh orang-orang yang berjalan berlalu lalang. Hingga akhirnya saat mendekati penghujung dari hari, kakinya membawanya kesebuah pinggiran sungai, hanya untuk dapat menatap surya yang tertelan samudera...

"Hey, anak muda... apa yang kau lakukan disini..." Ucap seorang pria paruh baya, dengan surai poni pirang dan sisanya hitam.

Bukan jawaban yang diterima pria paruh baya tersebut, namun hanya sebuah jari telunjuk yang mengacung pada matahari. Sang pria itu, merasakan sebuah aura aneh ketika berhadapan dengan si pirang yang tepat berada didepannya, suci dan panas, tapi dilain hal berisi aura iblis...

Matahari kedua, ya...

Seperti itulah kira-kira gambaran yang dapat melukiskan sosok pemuda pirang jabrik dihadapannya, membuat sebuah rasa tertarik di benak sang pria itu, tentu... bukan dalam artian Yaoi...

"Aku?... Hanya melihat surya yang tenggelam..." Ucap Naruto yang telah hanyut dalam indahnya cahaya matahari kemerahan yang mulai meredup, sebelum akhirnya melanjutkan perkataannya "Oh iya, paman... perkenalkan, namaku Hyoudou Naruto..."

"Aku Azazel..." Balas Azazel menggantung.

Naruto Tahu, bahwa pria itu—Azazel, tepatnya—Belum selesai berbicara, memilih untuk diam dan mendengarkan dengan baik.

"Aku adalah Gubernur Malaikat Jatuh..."

Bats...

Enam Pasang sayap gagak yang berwarna hitam kelam, keluar dari balik punggung Azazel...

Mata Naruto membulat, kembali memanas. Kebencian, kemarahan, serta dendam terpancar dari sorot mata itu. Ingatan tentang yang terjadi, kematiannya serta adiknya oleh sosok gadis gagak yang hanya bersayap satu pasang. Tapi, apa yang akan terjadi jika yang berada dihadapannya enam pasang?...

"Eh... kau terkejut dalam artian lain, apakah pernah terjadi sesuatu diantara dirimu dan malaikat jatuh?" Tanya Azazel, dengan tatapan penuh selidik dan rasa penasaran yan kentara terpatri di wajahnya.

"Gagak dengan sepasang sayap membunuhku, dan adikku... Issei..." Ucap Naruto pelan, namun dapat di dengar dengan jelas oleh sang gubernur malaikat jatuh itu.

"Hoo~ jadi, kau kakak dari Sekiryuutei... dan, kenapa kau masih hidup, jika kau sudah dibunuh?" Dapat dengan jelas terlihat bahwa ada ketertarikan besar pada tiap-tiap kata yang keluar dari mulut Azazel.

"Jati diriku... Aku, mengetahui siapa aku... Namun, tidak dengan kemampuanku..." Respon cepat Naruto.

"Hm... Begitu ya—" Belum selesai mengatakan kata-kata yang telah dia persiapkan di otaknya, sebuah suara menginterupsi perkataannya.

"Azazel, ada apa kau menyuruhku datang kesini?" Pemuda dengan surai perak dengan sepasang sayap mekanik dipunggungnya yang tengah mengangkasa dilangit tiba-tiba memotong pembicaraan yang tengah terjadi.

"Ah, ya... sebaiknya kita bicarakan itu nanti, ketika kembali ke grigori..." Azazel sedikit cemas, ketika menatap sosok pemuda yang baru datang itu, terlihat kalau pemuda itu tengah membaca aliran aura yang tersimpan dalam tubuh sang pemuda pirang.

"Kamu... seperti milik orang itu, namun... lebih terang... Azazel, apakah kau akan melatihnya?..." Tercipta seringai maniak diwajah pemuda perak itu.

"Mungkin... Tapi, kau bilang "seperti milik orang itu", Vali apa ada orang dengan kekuatan semacam ini?" Tanya Azazel penasaran.

"Ya... Begitulah..." Ucap Pemuda perak itu—Vali—dengan nada yang tidak suka, sehingga dapat diketahui kalau dia tidak menyukai siapa orang itu, lalu dia melanjutkan ucapannya sembari menolehkan kepalanya kearahku "Hey, pirang... Perkenalkan, aku Vali, Hakuryuukou terkuat sepanjang sejarah... baiklah... aku sudah memperkenalkan diriku padamu... jadi... " Ucap Pemuda itu menggantung.

Entah kenapa, firasat tak enak mulai menyerang Naruto, dan benar saja...

"ayo bertarung..." Ucapnya sembari merangsek kearah Naruto, terlihat dengan jelas sebuah seringai maniak tercipta diwajahnya.

.

.

.

.

TBC, lagi...

Hahaha, kependekan ya Word nya?

dan juga, gimana menurut kalian? Jelek yah?

Saya sadar kalau FF ini... Rada kacau, atau emang kacau?

Hahaha... pikiran saya itu sering gak jelas,

bahkan orang-orang disekitar saya, dari saya kecil-sekarang, gak ada yang bisa ngerti ama pikiran saya :3

Hm... saya lagi berencana buat kekuatan Naruto sih :3

Ada yang menyarankan kalau buat kekuatannya bertahap...

Bagus juga sih, tapi...

Tapi, jujur! saya gak tahu gimana buat ngedevelop kekuatan seseorang...

Ok... gitu aja sih...

Saran dan Kritik diperlukan...

Tapi, agak kecewa sih kalau review pertama itu isinya Flame :3,

Tahulah, itu first Review, hal yang paling bersejarah di kehidupan Author saya...

Tapi yah, saya udah sering dibully sih disekolah, karena fisik saya yang lemah...

Walaupun saya cowok, nilai olah raga saya, dibawah rata-rata anak cewek :3