"Ayo bertarung..."

Itulah yang terdengar oleh telinga Naruto, sebelum sesosok pemuda dengan surai perak tiba-tiba muncul dihadapannya. Mata Naruto melebar, sebuah tinju yang dilepaskan dengan tenaga penuh dilancarkan tepat kewajah miliknya. Meskipun dirinya telah terbungkus oleh aura keemasan, hal tersebut tak menutup fakta bahwa ia tak pernah memiliki pengalaman bertarung dengan makhluk supranatural.

Buagh...

Sebuah pukulan telak mengenai Naruto, membuat sebuah tubuh dengan kepala pirang terbang dan melesat dengan cepat kearah sungai.

Ctas...

Ctass...

Byur...

Terdengar dengan jelas, bahwa ada sebuah benda yang tenggelam kedalam air, dengan kecepatan yang tinggi, hingga dapat menimbulkan riakan air yang cukup besar.

Waktu berlalu dengan cepat, hingga akhirnya sang pelaku dari kejadian ini hanya menatap datar kedepan, seringai diwajahnya perlahan kembali, menjadi bentuk awal datar , lalu mendelikan matanya kesamping, membuatnya dapat melihat sesosok pria paruh baya dengan surai dua warna.

"Azazel, kemana anak itu? Sudah berlalu sekitar dua menit sejak dia masuk ke air..." Tanya Vali, dengan rasa kesal yang kentara diantara kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya.

"Aku pun tak tahu..." Ucap Azazel menggantung sembari menaikan kedua bahunya, lalu melanjutkan dengan sejenak jeda "Yah, aku juga sedikit penasaran... sudah sekitar dua menit sejak dia masuk ke air..."

Blup...

Blup...

Terdengar bunyi dari gelembung yang tercipta dalam air. Seperti saat ketika ada udara yang terlepas dari indra pencium ketika berada di air. Lalu tiba-tiba sebuah tangan menampakan wujudnya dari dalam air... yah... hanya sesaat.

'Apakah dia memiliki semacam kemampuan bernafas dalam air?... mungkinkah dia putra seorang dewa yang memiliki kekuasaan atas laut? seperti poseidon' pikir Vali yang kembali menampilkan sebuah seringai.

"Azazel... apakah kau tahu yang kupikirkan?..." Vali mendelikan matanya pada Azazel, lalu target dari delikan mata mengangguk. Lalu, Azazel menatap kepermukaan air, lalu berkata...

"Ya...sepertinya, memang begitu..." Seringai Vali makin lebar, bersamaan dengan kata-kata yang keluar dari mulut Azazel.

"...dia tidak bisa berenang..."

Krik...

Krik...

Note : Bunyi Jangkrik

.

.

One Who Shines On All

Desclaimer :

Bukan Punya Saya.

Summary :

Keduanya hanyalah seorang manusia, terlahir sebagai manusia. Bukanlah seorang makhluk superior, namun tercipta dengan sempurna. Ada, sebagai harapan terakhir mereka, sebagai penerang jalan di dunia, dalam takdir kejam dunia ini.

Warning :

Segala kekurangan ada disini.

Tolong Bimbingannya, soalnya ini First FanFiction buatan saya \(^ ^ )

Pair ?

Naruto X ... (Ada saran?)

Sasuke X ... (Ada saran?)

No Harem... Tapi, mungkin sih, tapi sebatas mini harem...

Itu pun mungkin...

.

.

Thanatos, In!

.

.

"Engh..." Terdengar sebuah suara memecah keheningan, yang terjadi disekitar pinggiran sungai.

"Hm... jadi, kau sudah bangun?" Terdengar suara seorang paruh baya.

"Ah... Di... Dimana aku?" Naruto mulai membuka sepasang bola sapphire nya dari belenggu kelopak matanya.

"Oh... kau dipinggiran sungai, tadi kau pingsan karena tenggelam..."

"Jadi... aku tenggelam ya... kukira aku tadi akan mati... hahahaha..." Naruto menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal, sembari tertawa garing.

"Hm... kukira... aku mengenal siapa dirimu... dari auramu..." Azazel memegang dagunya sembari memasang pose berfikir, sebelum melanjutkan perkataannya "Kau adalah Ashura..." Terlihat dengan jelas, terbentuk sebuah seringaian yang menunjukan sebuah ketertarikan yang sangat kentara disana... tentu bukan dalam artian Yaoi.

Naruto menegang seketika, matanya melebar seketika, ketika melihat seringai tertarik dari wajah azazel 'Apa dia seorang maho...' pikir Naruto.

Bukankah normal jika akan ada sedikit perasaan jijik dan aneh, ketika seorang pria paruh baya yang tersenyum tertarik kepadamu, dengan Maaf tertarik.

"Oi... oi... berhenti memasang tatapan yang menatap ku jijik, aku ini masih normal..." Tercipta beberapa kedutan diwajah gubernur malaikat jatuh itu.

"Kau tahu... jadi, berhentilah memasang seringai menjijkan itu!" Naruto berdiri dan mengepalkan tangannya dengan erat didepan wajahnya.

"Oke, oke... tenanglah, Ashura atau Naruto?" Tanya Azazel.

"Walaupun aku adalah reinkarnasi dari Ashura... Aku ya... aku, dia ya... dia... kami berbeda..." Tegas Naruto.

"Hm... baiklah, Naruto, kan?... jadi, bagaimana? Mau tak mau, kau harus berurusan dengan dunia supranatural..." Kata Azazel dengan sedikit serius.

"Jadi?... kau akan mengatakan aku harus melatih diriku?... Itu membosankan... lagi pula, kenapa aku harus mempercayai seorang pemimpin dari sosok yang telah membunuhku dan adikku..." Tanya Naruto dengan nada bosan yang benar-benar tersirat dengan jelas didalamnya.

"Kurang lebih begitu... atau... terkecuali... kalau kau kembali mendapatkan ingatan Ashura...".

.

One Who Shines On All

.
"Kakak..." Teriak Issei dari jauh, sembari kakinya yang mulai melangkah dengan cepat, kearah Naruto.

'Kenapa dia berteriak aneh begitu?' Batin Naruto menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi saat ini.

"Kakak, jika kau dihadapkan dengan sebuah pilihan, begini... Melanggar peraturan dan menyelamatkan temanku... atau... Mengikuti aturan yang ada?..." Issei bertanya pada Naruto dengan muka yang sangat serius, yang paling serius yang pernah Naruto lihat.

"Dengarkan ini Ise, ingat bahwa melanggar peraturan berarti kau adalah sampah Ucap Naruto dengan air muka yang serius. Namun, Belum selesai dengan ucapannya, Issei yang melihat itu seketika mengeratkan giginya serta mengepalkan tangannya, langsung menyela perkataan Naruto dengan menggebu-gebu akibat emosi yang memuncak di dalam hatinya.

"Tidak kusangka kau begitu brengsek, sialan!" Teriak Issei dengan mata yang membara, akibat ledakan emosi yang meluap, hingga tak dapat lagi dibendung oleh dirinya.

Ctak...

"Ck... kau tak sabaran... jangan sela omonganku, kau menghilangkan momen kerenku... saat mengatakan hal-hal bijak..." Ucap Naruto sembari mengangkat tangan kanan terkepalnya yang berasap akibat menjitak kepala Issei, lalu kembali serius, sembari mengucapkan "Orang yang meninggalkan temannya adalah lebih rendah dari sampah... Ingatlah itu Issei!"

Mata Issei seketika berbinar, menemukan sebuah harapan, bahwa bukan hanya ia satu-satunya orang yang berpikir seperti ini, mulutnya mulai terbuka ingin mengucapkan sesuatu, namun Naruto mengangkat tangannya untuk menghentikan ucapan Issei.

"Tapi, yang terpenting adalah... jadilah dirimu sendiri... Oh dan juga, aku tahu kau mau berterima kasih dengan ucapanku kan? jangan berterima kasih... karena, aku adalah kakakmu..." Senyum Naruto melebar ketika kata-kata ini terucap dari bibirnya.

"Tidak bukan itu... tapi..." Ucap Issei menggantung, membuat tanda tanya besar dikepala Naruto.

'Eh... jadi apa? apakah ini berhubungan dengan Asia? " seketika lamunan Naruto pecah dengan hal yang keluar dari kata-kata Issei.

"Disekolah tadi, aku..." Mata Issei mencoba untuk menghindari kontak dengan mata Naruto.

Jantung Naruto berdegub kencang, batinnya kalut dengan menerka-nerka dengan apa yang sebenarnya terjadi.

"Aku meninggalkan majalah pornoku di lacimu..."

.

One Who Shines On All

.

Terlihat dengan jelas bahwa ada seorang pemuda yang berada pada usia sekitaran anak SMA rata-rata, tengah berjalan kaki sembari matanya menatap lurus kedepan, tak mengindahkan bahwa sekarang jarum jam tengah menunjuk kearah dimana seharusnya saat ini ia tengah terlelap.

Kaki pemuda itu terus melangkah, hingga akhirnya menghantarkannya pada sebuah bangunan gereja tua, terlihat dari luar bahwa bangunan tersebut kental dengan aura yang tak mengenakan.

Namun, kenapa Naruto kesini? Pikirannya yang terus diusik oleh sikap Issei tadi siang, memaksa Naruto untuk terus mencari tahu apa maksud si bocah coklat itu...

"Menyelamatkan teman... Ya?... "Ucap Naruto kecil, hingga mungkin kata-kata itu dapat dikategorikan sebagai gumaman. Tapi... entah kenapa, hal itu tiba-tiba saja mengarahkannya pada Asia...

Karena tadi pagi ia melihat Asia dan Issei bersama...

Membuatnya memaksa diri untuk tahu apa yang terjadi sebenarnya, apa yang terjadi pada Asia? Hal-hal tersebut membuat kepala Naruto benar-benar diperas untuk berfikir, memikirkan sesuatu yang tak dapat dijawab olehnya. Naruto tahu, kalau hal ini tak dapat ia selesaikan malam ini, mungkin ia tak akan dapat tertidur dengan nyenyak malam ini...

Hingga membuat seorang Naruto seakan tak peduli dengan ketidak nyamanan yang diterimanya dari tampilan yang seakan mengintimidasi dari gereja itu, kakinya melangkah memasuki area disekitar gereja itu.

"Hm... manusia kah?..." Tiba-tiba terdengar suara yang berasal dari balik kegelapan, mau tak mau membuat sang empu dari kepala pirang menoleh.

"..." Naruto memasang wajah datar, mencoba mengamati apa yang berada dibalik kegelapan tersebut.

"Hahaha... kau cukup menarik..." Sosok tersebut keluar dari balik bayang-bayang, mengungkap identitas dari pemilik suara, tiga orang berbeda gender satu pria dan dua wanita yang memiliki masing-masing sepasang sayap gagak.

"Perkenalkan namaku, Dohnaseek... dan yang berada dibelakangku adalah..." Ucap seorang pria paruh baya dengan surai hitam dan mata dark blue, yang tengah mengenakan topi fedora hitam serta pakaian yang mungkin terlihat seperti detective (?).

"Kalawarner..." Ucap seorang perempuan dengan surai yang tergerai kebelakang yang cukup panjang dan sepasang bola mata dengan warna yang sama, dark blue. Dengan pakaian yang sedikit memperlihatkan bagian atas tubuhnya, serta rok yang pendek.

"Mittlet" Terdengar perkataan tersebut dengan cepat, oleh seorang gadis loli dengan pakaian Gothic Lolita.

"Eh... Untuk apa kalian memperkenalkan diri kalian padaku?..." Tanya Naruto bingung.

"Karena... kami akan membunuhmu!..." Kata-kata ini terucap dibibir ketiga malaikat jatuh itu, diiringi oleh tiga buah tombak cahaya yang melesat dengan kecepatan yang sulit untuk dapat ditangkap oleh manusia... yang normal.

Naruto sedikit memiringkan kepalanya, sepertinya dirinya cukup dapat menyesuaikan diri dengan kekuatan baru yang didapatnya.

"Hah... untung saja, aku dulu pernah berlatih bela diri..." Itulah yang terpikir dibatin Naruto, sebelum telinganya mendengar sebuah suara tawa yang menyusuri tiap-tiap rongga pendengaran miliknya.

"Hahahaha... menarik bocah..." Ucap sang pemilik topi fedora hitam, sembari melesatkan tubuhnya pada Naruto.

Naruto yang tak tinggal diam, sontak saja berusaha menjangkau barang apa saja yang dapat tertangkap oleh matanya untuk dijadikan sebuah senjata 'Tongkat kayu? Mugkin cukup' Pikir Naruto, tatkala matanya menangkap objek tersebut lewat sudut matanya, tak ingin membuang-buang waktu, dirinya langsung saja meraih objek yang menarik perhatiannya tersebut.

Namun, sialnya sosok pria paruh baya bertopi fedora itu telah berada dihadapannya seraya menusukan tombak cahaya kearahnya.

Crash...

Meskipun berhasil bergeser, namun tetap saja, tangan kanannya sedikit tertusuk. Yah... walaupun tidak benar-benar fatal, hingga akhirnya merenggut nyawanya... Tapi tetap saja, hal itu menyakitkan baginya.

'Ah sialan, kalau begini... aku benar-benar akan mati...' Pikir Naruto sedikit melayang-layang pada akhir dari pertarungan ini, namun akhirnya dia tersadar, bahwa saat ini ia memiliki kesempatan untuk mengambil tongkat kayu yang sedari tadi mengalihkan direksi matanya.

"Dapat..." Seru Naruto tatkala tongkat kayu tersebut telah berada ditangannya, yah... memang tidak panjang sih... sekitar satu meter kurang lebih... namun, itu lebih baik dari pada tidak sama sekali kan?

"Hah?... Kau mau memakai itu untuk melawan kami? Hahahaha..." Terdengar sebuah suara yang berawal dari tatapan mata tak percaya, yang diakhiri oleh ledakan tawa yang menggelegar memenuhi penjuru tempat tersebut.

"Ya... begitulah..." Naruto menggaruk bagian belakang kepalanya, menandakan bahwa saat ini sebenarnya ia canggung, yah... setidaknya hal ini cukup lucu... tongkat kayu, dipakai untuk melawan makhluk semi-Immortal.

"Kau meremehkan kami?..." Kali ini suara terdengar dari bibir mungil gadis loli.

"Eh?... Aku hanya mencoba mempertahankan diri kok... Jadi... bagaimana kalau kita mulai?" Suara Naruto mulai menjadi serius, aura keemasan mulai membalut tubuhnya, diikuti oleh aliran angin yang sedikit berubah, serta atmosfer yang mulai memberat.

.

One Who Shines On All

.

Mata Naruto melebar, mulutnya tercekat, nafasnya memburu. Gadis yang beberapa hari lalu, bersamanya dan adiknya, kini tengah terbujur kaku...

"A...Asia..." Mulut Naruto terbata, ia tak dapat mempercayai apa yang dilihatnya...

Untuk kedua kalinya...

Orang yang dikenalnya, tewas dihadapannya...

Figur yang sudah dianggapnya sebagai adiknya...

Mata biru sapphirenya menatap kosong kedepan, sembari memeluk tubuh Asia yang terbujur kaku. Tubuh tak berjiwa, mungkin adalah satu-satunya yang dapat mendeskripsikan keadaan Naruto. Matanya terbuka namun tak bercahaya, kusam... tatapan mata itu menyiratkan sebuah rasa sakit yang dialami yang pemilik mata, cairan liquid bening yang tak terbendung pun menetes jatuh...

Tak mengindahkan sedikitpun setiap pasang mata yang menatapnya dengan nafsu membunuh yang tinggi...

Raynare atau yang dikenal oleh Naruto sebagai Amano Yuma menatap terkejut kearah Naruto, bagaimana tidak? Seorang manusia yang dibunuhnya bersamaan dengan adiknya Issei kini tengah berada dihadapannya, tepat dihadapannya! Dirinya bertanya-tanya kenapa hal ini bisa terjadi, pikirannya terus-menerus bertanya kepada dirinya sendiri, namun, sayangnya pikirannya harus kandas ditengah jalan, karena...

Brak...

Suara pintu yang terbuka dengan sangat keras, menyebabkan semua pasang mata menatap kesana...

Issei, nama seorang pemuda dengan surai coklat, menatap kesekitar dalam ruangan demi mengobservasi keadaan sekitar, sebelum dirinya terjun langsung kedalam medan pertarungan. Namun, sesuatu yang bernar-benar diluar ekspektasinya... Kakaknya, berada disana... dan, memeluk gadis pirang yang tengah terbujur kaku...

"Kakak..." Suara Issei serak hanya untuk mengucapkan kata-kata yang tidak lebih dari lima huruf ini, dapat dirasakan bahwa tidak adanya sama-sekali sebuah tenaga yang mengalir didalam lantunan kata-kata itu.

"Issei... maaf... aku tak dapa menyelamatkannya..." Kata-kata itu keluar tanpa sebuah tenaga sama sekali didalamnya, bagaikan air yang mengalir disebuah tempat yang benar-benar pelan...

Issei menatap sepasang manik sapphire kakaknya lekat-lekat, terlihat kusam, bahkan ia tak menemukan secercah cahaya yang dapat masuk kedalam bola mata itu. Hatinya terasa miris melihatnya, bahkan ia tak sedikitpun menyadari sebuah keanehan tentang...

Bagaimana kakaknya bisa masuk kesini...

Perlahan namun pasti, terdengar beberapa langkah kaki, sekali lagi memaksa semua pasang mata yang berada diruangan untuk menatap kearah pintu yang terbuka lebar. Terlihat dengan jelas bahwa yang masuk adalah seorang bishounen dengan surai pirang dan seorang loli dengan surai putih. Seketika ruangan menjadi diam untuk sementara, sebelum sang bishounen angkat suara...

"Naruto-san?... Kenapa kau bisa berada disini?" Ucap si Bishounen pirang.

"... Aku hanya jalan-jalan dan diserang... lalu aku kesini... yah, begitulah..." Ucap Naruto sedikit Aneh , bahkan nada suaranya benar-benar tak jelas, bahkan mungkin mirip seperti orang yang tertekan "Kurang lebih, begitu... Kiba-san" Sambung Naruto.

Kiba terdiam, tak mampu berkata, ia mengetahui dengan baik, bagaimana rasanya kehilangan seorang teman. Mulutnya tercekat, ketika mata mereka bertemu, terlihat dengan jelas bahwa mata kelabu miliknya tenggelam dalam perasaan rasa sakit yang tersirat dalam mata sapphire kusam didepannya.

Koneko yang berada tak jauh dari kiba, mata emasnya menerawang menatap sekitar, memperhatikan keadaan dengan baik. Jujur, dia tahu kalau saat ini, benar-benar situasi yang tak mengenakan. Dia hanya mampu terdiam, dan hanya dapat membuat spekulasi tersendiri, hanya untuk tidak memperkeruh suasana saat ini...

Namun, situasi yang hening tersebut, harus pecah, tatkala sosok yang telah merenggut nyawa Issei mulai buka suara.

"Naruto... kenapa kau masih hidup?" Ucapan Raynare memecah keheningan yang terjadi membuat semua pasang mata menatap kearahnya.

"... Aku tidak tahu... tapi... apakah... kau yang telah membunuh Asia?" Mata sapphire Naruto menatap kosong kearah wajah Raynare.

"Ya!" Raynare mengucapkan kata tersebut dengan tegas, tanpa beban sedikit pun.

Deg...

Perlahan namun dengan pasti, menguar aura keemasan yang menyelubungi Naruto, membuat atmosfer terasa berat, gravitasi pun merespon dengan memperkuat cengkraman pada tubuh mereka untuk menarik kebawah, berbanding terbalik dengan serpihan-serpihan bangunan yang mulai terangkat melawan gravitasi. Para pasang mata di ruangan bawah tanah gereja tua menatap kaget hal itu, merasakan bahwa ada ledakan energi yang menerjang mereka untuk membungkuk.

Naruto, amarah miliknya meledak, seperti balon yang diisi oleh gas helium yang berlebih. Namun, perlahan-lahan matanya mulai terasa menggelap, kepalanya terasa sakit, tak mampu menanggung kemarahan yang meledak seperti ini...

...

Terlihat dimata Naruto, seorang gadis yang memegang erat tangannya namun wajahnya terlihat dengan samar, seraya berkata Ashura-kun, "ayo... cepat cari, kau yang menghilangkannya bukan?...".

Naruto menatap bingung kedepan, tak mengerti dengan situasi yang di tempatinya saat ini, ia tak mengetahui dengan pasti, namun... dirinya merasa bahwa sebelumnya dia tak berada disini... tapi ia tak mengingat apapun tentang itu...

'Apakah ini ingatan dari Ashura?' Pikir Naruto.

"Huft... kenapa diam saja! Ayo cari... kalau bisa... gunakan kemampuan kloning milikmu agar cepat, oke!" Ucap gadis yang sebelumnya menggenggam erat tangan pemuda itu, dengan senyuman indah yang menghiasi wajahnya.

Wajahnya memang samar, tapi senyum indahnya tetap tertangkap oleh mata sapphire pemuda itu, surai pirangnya yang tergerai kebelakang, serta mata yang memiliki iris yang sama seperti miliknya...

"Jadi... barang apa yang hilang?" Naruto mencoba mengikuti alur ingatan yang masuk kedalam kepalanya.

"Pantsu..."

...

Mata Naruto kembali dapat melihat semua hal yang berada disekitarnya, tatapan semua pasang mata diruangan tetap terpaku kepadanya, tak ada yang berubah, kecuali...

Boft...

Boft...

Boft...

Dan begitulah suara yang terdengar bersamaan dengan asap-asap putih yang tiba-tiba menunjukan eksistensinya, dari balik itu semua, muncul makhluk-makhluk seperti Naruto, beberapa Naruto, hingga mencapai jumlah puluhan Naruto...

"Kagebunshin no Jutsu..." Ucap Naruto dengan lantang, bersamaan dengan itu, para klon Naruto telah berbaris dibelakangnya.

Semua pasang mata membulat seketika, mereka kini melihat puluhan Naruto, yang masing-masing dari mereka bermandikan oleh aura keemasan yang terasa suci, namun disaat yang sama juga berisi kekuatan iblis...

"Ayo..." Seru Naruto, dengan seringai diwajahnya...

...

One Who Shines On All

...

Pada kegelapan malam yang berbintang, seorang pemuda dengan surai hitam serta mata yang memilik warna yang sama, mengenakan seragam sekolah, serta tangannya yang beristirahat dengan tenang dalam saku celananya. Menatap kearah rimbunnya pepohonan yang berada didekatnya, yah... saat ini, pemuda itu berada disekitar hutan... matanya menatap kesekitar, mencoba mencari-cari sesuatu...

"Sasuke Uchiha, kan?" Terdengar suara pemuda dari balik kegelapan.

"Hn... siapa kau?" Dengan tenang balas pemuda dengan surai hitam dan mata hitam, yang dipanggil dengan Sasuke itu.

"Perkenalkan... namaku, Cao Cao, pemimpin dari Fraksi Pahlawan..." Seorang pemuda keluar dari balik kegelapan, memamerkan surai dan mata hitam yang sama dengan sosok yang berada dihadapannya. Sosok itu mengenakan pakaian seragam sekolah SMA yang dipadukan dengan bagian bawah seperti pakaian orang cina zaman dulu (gak tau mau jelasin gimana :3).

"Jadi apa tujuanmu kesini?..." Sasuke berkata kembali dengan tenang, namun menyiratkan kewaspadaan yang tinggi.

"Sasuke Uchiha, atau bisa ku panggil dengan Indra?... Aku, ingin mengajakmu ke Fraksi Pahlawan..." Ucap Cao Cao sembari mengulurkan tangannya.

...

TBC... Lagi...

Oke... oke... Kembali ke pojok bacotan Author, Thanatos-san...

Saya sedikit frustasi mau lanjutin gimana...

Hahaha...

Dan, banyak yang harus diperbaiki :3, pas dimasukin di Doc manager, jadi kacau tanda petik kadang ilang dan juga ada kata-kata yang ilang...

Memang sih saya pake Notepad :v

Oke, segitu aja...

...

Dan cuma segini kemampuan saya ngetik, kalo lebih sakit jari saya :v

...

Thanatos, Out!