"Sasuke Uchiha, atau bisa ku panggil dengan Indra?... Aku, ingin mengajakmu ke Fraksi Pahlawan..." Ucap Cao Cao sembari mengulurkan tangannya.
"..." Mata pemuda Uchiha menatap pemuda dihadapannya tanpa mengubah direksi pandangannya sedikitpun, memaksa objek tatapan untuk menjelaskan maksud kedatangannya, dengan lebih spesifik.
"Seperti tentang tujuan kedatanganmu turun kebumi... Kami bertujuan untuk menunjukan alasan kenapa Kami-sama menyuruh manusia untuk berdiri dihadapan Malaikat dan Iblis!..." Retoris pemuda pemegang tombak longinus.
"Apa yang membuatmu yakin kalau aku akan bergabung denganmu?" Bersamaan dengan kata-kata yang keluar, mata hitam milik pemuda Uchiha itu berubah menjadi ungu dengan pola riak air.
Seakan-akan merespon perkataan pemuda Uchiha itu, sebuah tombak tergenggam di tangan pemuda Cao Cao dengan gagahnya menghunuskan sisi tajamnya keangkasa.
Pemuda yang menggenggam tombak itu menampilkan sebuah seringai, seraya berkata "True Longinus...".
"Hn... jadi... kau memiliki mainan yang bagus ya?... Bagaimana jika mainanmu kuambil?..." Bersamaan dengan kata-kata yang keluar dari mulut pemuda dihadapannya, Cao Cao menyiagakan tombaknya, dia tahu bahwa itu adalah sebuah kata-kata yang berbahaya...
"Banso Ten'in..."
One Who Shines On All
Desclaimer :
Bukan Punya Saya.
Summary :
Keduanya hanyalah seorang manusia, terlahir sebagai manusia. Bukanlah seorang makhluk superior, namun tercipta dengan sempurna. Ada, sebagai harapan terakhir mereka, sebagai penerang jalan di dunia, dalam takdir kejam dunia ini.
Warning :
Segala kekurangan ada disini.
Tolong Bimbingannya, soalnya ini First FanFiction buatan saya \(^ ^'')
Pair ?
Naruto X ... (Ada saran?)
Sasuke X ... (Ada saran?)
No Harem... Tapi, mungkin sih, tapi sebatas mini harem...
Itu pun mungkin...
"Hm... Jadi begitu... Alasan Issei masih hidup adalah kalian mereinkarnasikan Issei, sama seperti kasus yang dialami oleh Asia-chan?" Ucap Naruto yang mengangguk-anggukan sembari melakukan sebuah cubitan kecil di dagu miliknya.
"Yah... begitulah Naruto-san..." Ucap seorang gadis dengan surai crimson sembari menyeruput teh yang sudah disajikan oleh gadis yang berada disebelahnya, "Jadi... bisa kau jelaskan? Apa yang kau lakukan semalam digereja itu?...".
"..." Naruto memasang wajah bosan.
"Jadi... bisa kau jelaskan, Naruto-san?" Ucap Gadis itu sekali lagi.
"Bukankah aku sudah mengatakannya?... sudah kukatakan kalau aku hanya : Aku hanya jalan-jalan lalu diserang..." Naruto tak sedikit pun mengubah mimik wajahnya, bahkan nada yang keluar dari mulutnya terkesan datar.
"Kalau begitu, bisa kau jelaskan kronologisnya?..." Mata gadis itu tak bergerak walau hanya satu jengkal, hanya untuk mendapatkan gambaran yang jelas dari bahasa tubuh yang dilakukan oleh Naruto.
"Yah, baiklah..."
...
"Ayo.." Seru Naruto, dengan seringai diwajahnya.
Naruto kemudian dia menatap kesekitar ruangan sembari menegakan tubuhnya, hingga akhirnya menemukan Sekiryuutei muda yang berdiri mematung, dengan keterkejutan yang sangat kentara memantul dari cahaya bola mata coklat terang miliknya "Issei... bisa jaga Asia-chan?".
"Y-ya.." Jawab Issei yang mencoba untuk sadar dari rasa terkejutnya, matanya menyiratkan kalau ia seperti baru saja melihat hantu—tapi, sayangnya bukan...
Naruto kembali mengarahkan direksi pandangan miliknya kearah gadis gagak—Raynare—sembari kembali menunjukan wajahnya yang menyiratkan emosi-emosi negatif yang bergejolak dalam hatinya.
Yah... namun, hal tersebut tidak benar-benar berlangsung dengan waktu yang lama, karena...
Naruto masih ingat, apa yang terjadi ketika dirinya dihadapkan dengan tiga ekor gagak, sebelum sampai kesini...
... Note : Flashback dalam flashback...
"Eh?... Aku hanya mencoba mempertahankan diri kok... Jadi... bagaimana kalau kita mulai?" Suara Naruto mulai menjadi serius, aura keemasan mulai membalut tubuhnya, diikuti oleh aliran angin yang sedikit berubah, serta atmosfer yang mulai memberat.
Tangan Naruto yang menggenggam tongkat kayu direntangkannya ke samping tubuhnya, lalu mencoba untuk mengalirkan aura keemasan yang membalut tubuhnya, ke tongkat yang berada dalam genggaman, hingga akhirnya tombak tersebut menjadi seperti tongkat emas.
Gulp...
Para pasang mata yang dimiliki oleh para gagak sedikit melebar, menyadari sebuah tekanan aura yang melebihi milik mereka bertiga, mulai membuat mental mereka sedikit menurun.
Swush...
Tanah yang dijadikan Naruto menjadi sedikit retak, tatkala kakinya mencoba melangkah maju—mungkin lebih cocok disebut melompat—dengan kecepatan yang tak pernah ia bayangkan. Namun... alih-alih mencoba menuju mereka, dirinya malah terus melesat hingga akhirnya menabrak dinding gereja.
'Ah... sialan, kekuatan ini benar-benar sulit untuk kukendalikan...' Pikir Naruto, yang mulai menyadari bahwa kekuatan miliknya hanyalah menjadi sebuah amplifier fisiknya yang harus dikendalikan secara manual.
"Pfft... Hahahaha, kau bahkan tak dapat mengendalikan kekuatan milikmu sepenuhnya... dan kau berharap dapat mengalahkan kami?" Seru gagak berfedora hitam, sembari tertawa dengan girangnya.
"Kalau begitu, ayo Dohnaseek, kalawarner... sekarang giliran kita yang menyerang..." Gagak Loli dengan cepatnya melesat kearah pemuda pirang, kedua temannya yang melihatnya langsung merespon untuk melakukan tindakan yang sama.
Naruto yang menabrak dinding gereja hingga akhirnya setengah tubuhnya tertanan kedalam dinding, mencoba untuk melepaskan tubuhnya dari jeratan dinding... Walaupun akhirnya terlepas dari belenggu dinding yang menahannya, matanya harus melebar ketika tiga buah Light Spear sudah berada didepan matanya.
Naruto mencoba untuk mencoba menahan ketiga tombak itu, dengan mengayunkan tongkat kayu yang sudah dia perkuat dengan aura emas miliknya...
Tap...
Keempat senjata saling bertabrakan, menimbulkan kilatan-kilatan percikan api. Naruto mencob
Naruto mencoba untuk menahan ketiganya, namun apalah daya... dia hanya sendirian. Hingga, perlahan namun pasti, ujung ketiga light spear yang ditujukan kearahnya, mulai mendekat.
Melihat masing-masing tombak mereka mendekati target, para gagak tak dapat untuk menahan seringainya, walaupun hanya sebentar.
Naruto mencoba memutar otak, demi mendapatkan sebuah solusi yang dapat dilakukannya saat ini... Naruto terus mencoba mencari jalan keluar, hingga pada akhirnya ujung ketiga tombak itu telah benar-benar mendekati dirinya.
"Tamatlah riwayatmu, manusia..." Gagak bergender perempuan dengan surai dark blue yang sedari tadi diam, mulai angkat bicara.
'Ah, benar juga, tembok dibelakangku sudah berlubang... tapi... gagak laki-laki itu kurasa akan menang banyak... ah tidak apa-apa lah... lagi pula, mungkin aku akan dapat melihat pantsu kedua gadis gagak itu...' Pikir Naruto sedikit nista, sembari sedikit mendorong tongkat kayu yang berada digenggamannya. Setelah dirasa jarak yang diperlukan cukup, Naruto dengan cepat menggeser tubuhnya sedikit kesamping.
Para gagak yang tak menyadari rencana milik Naruto, hanya dapat melebarkan matanya, sembari mengutuk sang pria blonde yang baru saja melakukan hal ini pada mereka. Yah... mereka sekarang sedang terperangkap dalam lubang di dinding yang tadi disebabkan oleh Naruto.
Sebuah lubang yang ukurannya tidak besar, di isi oleh tiga ekor gagak...
Mungkin, inilah yang dimaksud Naruto dengan "gagak laki-laki itu kurasa akan menang banyak"...
Mata Naruto menangkap warna kuning dan hitam yang tersingkap di rok kedua gadis gagak itu, seketika membuat wajahnya memanas, serta jangan lupakan darah yang mulai menetes melewati rongga hidungnya "Ah... hm jadi warnanya pink—" Ucap Naruto sembari membuat anggukan kepala "eh... tidak-tidak Naruto, fokus lah pada tujuanmu!" Ucap Naruto pada dirinya sendiri.
'Pink? Apa maksudnya?' Pikir Kalawarner dan Mittlet, mereka berdua mencoba-coba mencari tahu apa maksud pemuda kuning itu 'Jangan-jangan?...'.
"Sialan kau Manusia, cepat lepaskan kami!... atau kau akan kubunuh!" Teriak Kalawarner dan Mittlet secara serempak.
"Ah... maaf-maaf, kurasa aku tidak bisa... lagipula, kurasa kalau dalam posisi itu, kalian takkan bisa membunuhku" Dan benar saja, posisi mereka saat ini adalah setengah tubuh mereka tertanam kedalam dinding.
"Oi... Dohnaseek, kenapa kau diam saja?..." Ucap Kalawarner, sembari mengarahkan direksi pandangannya pada yang bersangkutan, Mittlet pun ikut menoleh kepada sosok yang berada di tengah-tengah antara dirinya dan Kalawarner.
"a-a..." Terlihat dengan jelas bahwa muka Dohnaseek tengah memerah, disertai dengan aliran sungai-mini yang tercipta dari darah yang mengalir dari rongga hidung miliknya.
"Hahahaha... sekarang keadaannya sudah berbalik... eh?" Seringai Naruto melebar, namun sayang... ketiga gagak itu tak dapat melihatnya, karena posisi kepala milik mereka berada di sisi lain dinding.
"Ah... tolong ampuni kami..." Secara serentak ketiganya mencoba untuk memohon kepada Naruto, bahkan Kalawarner mengatakan "Kau boleh melakukan apapun padaku, kalau kau mau melepaskanku...".
'Apapun?... Tidak-tidak!, ah Issei sialan... dia sudah mencemari otakku...' Pikir Naruto yang meneteskan darah segar dari hidungnya sembari menggelengkan kepalanya "Yah... maaf, tapi kurasa aku harus menghabisi kalian sekarang juga..." Naruto mengeluarkan dengan kata-kata yang menyiratkan nada yang... katakanlah, sok cool...
... Note : End flashback dalam flashback
'Ah... apakah akan berakhir seperti itu juga?... Jika mempertimbangkan dengan tanpa adanya kemajuan yang berarti dalam pengendalian kekuatanku...' Pikir Naruto, sembari kembali menolehkan kepalanya kepada para bunshin miliknya, dengan pandangan tidak yakin... Naruto mencubit dagunya sembari mulai berfikir, apa hal yang paling efektif untuk dapat dilakukan oleh para makhluk tiruannya agar bisa mengalahkan gadis gagak, serta para pengikutnya...
"Argh... sial..." Naruto Frustasi sembari mengguncang-guncangkan kepalanya dengan kedua tangannya.
Krik...
Krik...
Waktu terus berlalu, membuat Issei yang sedari tadi diam dalam sebuah keterkejutan yang terekam dengan jelas diraut wajah mesum miliknya, mulai mencoba untuk memberanikan dirinya untuk angkat suara.
"Kau gila ya, kakak?" Issei hanya mampu menatap bingung kakaknya, sembari wajahnya yang memerah, karena menahan malu akibat hal yang ditimbulkan oleh kakaknya...
Ironisnya, Issei bahkan melupakan apa yang terjadi pada Asia...
"Diam kau, bocah mesum..." Naruto menolehkan ke direksi dimana sang adik berada, tepat sebelum kembali menuju Raynare dan para bawahan, pengikut, atau apalah itu "Jadi, ayo kita lanjutkan..."
...
"Yah begitulah, yang terjadi... lalu, kalian datang dan dengan seenaknya melemparkan sebuah bola sihir untuk memusnahkan mereka" Ucap Naruto dengan aura yang mengatakan bahwa ia merasa "Masa Bodo" dengan hal itu "Hm... apa itu namanya? Power of Destruction ya? Ah yah... itu kan?" Lanjut Naruto sembari memutar matanya dengan bosan.
Para pemilik pasang mata yang hadir diruangan hanya mampu memasang wajah datar, dengan keringat dingin yang mengalir deras dari pelipis mereka.
"Jadi... bisa kau jelaskan siapa dirimu? Atau tepatnya kau itu apa?" Bersamaan dengan kata-kata yang keluar dari bibir mungil milik gadis bersurai Crimson, atau yang kita kenal dengan Rias Gremory, atmosfer ruangan perlahan-lahan mulai berubah.
"Aku Naruto Hyoudou, dan yah... pertanyaan macam apa itu? Aku ini jelas Manusia...".
"Jadi... kekuatan apa yang kau miliki itu?..." Perkataan dengan nada yang menyiratkan ketertarikan yang kentara, keluar dari bibir mungil milik gadis Crimson.
"Aku tak bisa menjawab pertanyaan yang tidak ku ketahui jawabannya..." Naruto mengangkat bahu miliknya.
"Jadi... apa yang kau lakukan di wilayah kekuasaan Gremory?" Tatapan penuh selidik dilancarkan Rias kepada pemuda pirang yang duduk diseberangnya.
"Eh... bumi adalah wilayah iblis? Aku tak pernah mendengar hal itu sebelumnya... dan kenapa aku berada disini? Aku memang tinggal disini!" Kekesalan yang kentara terdengar keluar seperti letusan gunung berapi.
"Tunjukan kesopananmu pada, Buchou—" Pemuda Bishounen yang sedari tadi diam, mulai angkat suara, tatkala mendengar nada tak sopan yang keluar dari bibir pemuda pirang yang berada dihadapan mereka.
"Cukup, Kiba!" Sebuah tangan disertai dengan ucapan yang dilakukan oleh gadis dengan surai Crimson, menginterupsi perkataan yang dilancarkan Kiba "Jadi kau belum mengenal dunia supranatural dengan baik? Begitu, kah?" Ucap Rias yang mencoba untuk menenangkan suasana yang sempat memanas, sembari kembali memfokuskan direksi matanya pada pemuda bermata Sapphire.
Objek dari direksi seluruh penghuni ruangan hanya mampu terdiam, sembari melakukan tatapan kembali, mencoba mendengarkan maksud dari makhluk-makhluk yang menatapnya, lalu perlahan mulai menganggukan kepalanya.
"Baiklah, kalau begitu aku akan mejelaskannya padamu...".
.
One Who Shines On All
.
Terlihat sesosok pemuda yang mengeratkan genggaman tangan miliknya pada tombak yang di genggam olehnya, matanya terfokus kepada sosok yang berdiri dihadapannya sembari mengacungkan tangannya yang terbuka kedepan...
"Bansho Ten'in..." Sebuah suara dikeluarkan oleh pemilik mata dengan pola riak air.
Swush...
Cao Cao, tanpa mengetahui apa yang terjadi saat ini. Tubuhnya seolah-olah terpaksa—atau mungkin memang tertarik?—di tarik menuju ke direksi dimana tangan yang terbuka itu berada, tak mau mengalami hal yang dikenal dengan nama "Kematian'', dia menghunuskan tombak miliknya, seraya mengatakan "Longinus Smasher...".
Sebuah Laser dengan kecepatan tinggi mencoba untuk menghantam tubuh Sasuke, namun pemuda Uchiha itu tak bergeming "Gakidou...".
Mata Cao Cao melebar tatkala matanya melihat serangannya dapat ditelan mentah-mentah oleh tangan pemuda dihadapannya...
Grep...
Kepala Cao Cao mendarat dengan selamat di tangan milik Sasuke, merasa panik Cao Cao berusaha untuk mencoba mendaratkan mata tombak miliknya pada Sasuke...
.
One Who Shines On All
.
"Oh jadi begitu ceritanya... lalu, apa untungnya kalian menceritakan ini padaku?" Tanya Naruto yang puas mendengarkan "Pelajaran" sejarah Supranatural.
"Aku, ingin mengajakmu menjadi Peerageku..." Tanpa Basa-basi Rias mengatakan tujuannya.
"..." Naruto terdiam, menatap datar wajah cantik yang berada dihadapannya.
Tentu saja hal ini membuat Issei membelalakan matanya, ia tak mau kakaknya juga ikut terseret dalam dunia Supranatural. Yah... sebenarnya Naruto memang sudah masuk kedunia Supranatural, tapi tetap saja, ia tak akan terima akan hal itu.
"Buchou, aku tak akan membiarkanmu menyeret Kak Naruto ke dunia Supranatural!" Teriak Issei yang memecah keheningan yang ditimbulkan oleh diamnya Naruto.
"Bukankah Naruto sudah terseret kedunia Supranatural?..." Balas Rias cepat.
"Tapi—" Belum selesai mengucapkan kata-kata yang telah memenuhi kepalanya, ucapan Issei terinterupsi oleh kata-kata Naruto.
"Apa untungnya bagiku?..." Ucap Naruto yang memandang lurus kedepan.
"Tunggu Kak—" Ucap Issei yang lagi-lagi terpotong oleh tangan Rias.
"Semua keinginanmu akan terkabul seperti, kekuasaan, harta, dan wanita..." Senyum kemenangan tercipta di bibir rias.
"Ahahaha... sudah kuduga kau akan berucap begitu..." Tawa renyah Naruto pecah bersamaan dengan kata-kata yang keluar dari bibir Naruto.
"?..." Muncul tanda tanya besar dikepala para penghuni ruangan.
"Jadi? Apa jawabanmu?" Tanya Rias penasaran, dan sedikit jengkel dengan kalimat yang keluar dari mulut Naruto sebelumnya.
"Tentu tidak..." Naruto menyilangkan kedua tangannya didadanya.
Brak...
"Kenapa?..." Teriak Rias sembari menggebrak meja. Jujur... dia merasa malu, dengan apa yang dilakukan pemuda dihadapannya. Dia merasa seperti di "PHP" oleh pemuda pirang itu.
"Bahkan Kami-sama tahu, siapa yang lebih superior diantara makhluk-Nya..."
.
One Who Shines On All
.
Naruto serta Issei, dan jangan lupakan Asia-chan! berjalan beriringan bersama ketika pulang sekolah, sehabis berurusan dengan hal-hal berbau Supranatural, tak ada yang mau angkat suara, hingga menciptakan sebuah kesunyian diantara kedua bersaudara itu.
"Kakak..." Issei mulai angkat suara, memecahkan keheningan yang telah berlangsung dengan cukup lama diantara mereka.
"Apa, Issei?" Jawab Naruto sembari memutar matanya bosan, matanya melirik kesamping melihat Asia yang sedang berjalan dibelakang Issei.
"Tentang malam itu, kekuatan apa yang kau gunakan?... Apakah itu semacam Sacred Gear?" Tanya Issei dengan mata yang memancarkan sebuah rasa penasaran yang kentara.
"Bukan" Jawab Naruto cepat.
"Jadi, apa Naruto-san?" Bukan Issei yang menjawab, melainkan suara feminim yang keluar dari bibir mungil milik gadis bermarga Argento.
'Ah... bagaimana caraku untuk menjelaskannya?' Pikir Naruto, matanya melirik kepada pasangan muda-mudi yang berada dihadapannya, terlihat dengan jelas mata mereka yang bersinar dengan rasa ingin tahu.
"Ini adalah kekuatanku, karena aku terlahir sebagai diriku..." Ucap Naruto yang kebingungan untuk mencari jawaban, tentu hal ini sulit dimengerti oleh kedua sosok yang berdiri dihadapannya. Namun, secara berpikir logis, jawabannya dapat dibenarkan, karena... dia terlahir sebagai reinkarnasi Ashura.
"Kakak, bisa kau jelaskan dengan lebih jelas?" Balas pemuda dengan surai coklat, sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Yah, kurang lebih begitu... Oke!" Balas Naruto, sembari memberikan tatap yang seolah-olah mengatakan "Bertanya lagi, akan kubunuh!".
"Ah... I-iya, baiklah" Keduanya mengangguk dengan rasa takut.
...
...
...
TBC, lagi...
Ugh...
Chapter kali ini bener-bener pendek...
Maaf, buat up yang lama...
Juga buat yang minta chapnya dipanjangin...
Yah gimana ya, Sekolah udah dimulai...
Dan yang menyedihkan, PC saya rusak...
Terpaksa pake laptop punya abang saya, itupun sering dia bawa pas kerja. Pas dia pulang kerja, mau saya pake buat ngetik... itupun susah :v, saya orangnya pemalu, jadi gak bisa ngetik kalo dia nggak tidur, ataupun yah... dia lagi keluar tanpa bawa laptopnya :v...
Pake Laptop papa saya... kurasa nggak deh...
Ok, ok...
Segitu aja sih :v
Oh dan yang terpenting, Kritik dan Saran diperlukan... kalo bisa sih Foll dan Fav juga ~
Thanatos, Out~
